Anda di halaman 1dari 19

Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510

Pendahuluan
Dalam kehidupan seorang manusia akan mengalami proses bertumbuh dan
berkembang. Masa-masa tumbuh kembang ini dipengaruhi oleh berberapa faktor yaitu, faktor
biologis, faktor kognitif, faktor sosial, dan faktor lingkungan. Yang semua faktor ini akan
menentukan

bagaimana

seorang

manusia

itu

dalam

masa

pertumbuhan

dan

perkembangannya. Bila dalam masa pertumbuhan ada faktor-faktor yang tidak terpenuhi
maka hasil pertumbuhan anak dapat terganggu dan menjadi tidak semestinya.
Seorang anak dalam banyak hal bergantung kepada orang dewasa, misalnya mengenai
makanan, perawatan, bimbingan, perasaan aman, pencegahan penyakit dan sebagainya.
Sebuah organ yang tumbuh berarti organ itu akan menjadi besar, karena sel-sel dan jaringan
diantara sel bertambah banyak. Selama pembiakan, sel berkembang menjadi sebuah alat
(organ) dengan fungsi tertentu. Pada permulaannya, organ ini masih sederhana dan fungsinya
belum sempurna. Lambat laun organ tersebut dengan fungsinya akan tumbuh dan
berkembang menjadi organ yang matang, seperti organ yang diperlukan orang dewasa. Untuk
pertumbuhan dan perkembangan yang optimum diperlukan berbagai factor misalnya
makanan harus sesuai dengan keperluan anak yang sedang tumbuh. Penyakit infeksi akut
maupun kronis dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga
pencegahan penyakit menular merupakan hal yang penting, disamping diperlukan bimbingan,
pembinaan, perasaan aman dan kasih sayang dari ayah ibu yang hidup rukun, bahagia
sejahtera dalam lingkungan yang sehat.
Dari skenario yang di dapat, menyatakan Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun datang
ke Poli Psikiatri Anak dan Remaja dengan keluhan mendapat surat teguran dari wali kelasnya
karena selalu membuat onar dikelas/ tidak bisa diam di kelas.

PEMBAHASAN
A. Perkembangan Anak

Faktor Biologis
Pertumbuhan dan perkembangan termasuk suatu proses yang berubah-ubah,
pembentukan jaringan, pembesaran kepala, tubuh serta anggota badan lain seperti
tangan dan kaki, peningkatan yang drastis dalam kekuatan dan kemampuan untuk
mengendalikan otot-otot yang besar maupun kecil, perkembangan hubungan sosial,
pemikiran dan bahasa, serta munculnya kepribadian. Terbukanya proses-proses
tersebut dan interaksinya tergantung pada kondisi biologis dan fisik anak tersebut dan
lingkungan sosialnya. Model biopsikososial sudah diterima keberadaannya yaitu
dengan mengenal pentingnya kekuatan dari dalam maupun dari luar. Misalnya tinggi,
yaitu suatu fungsi genetika dari si anak , kebiasaan makan dan pemberian nutrisi.
Pengaruh biologis pada perkembangan meliputi faktor- faktor genetika.
Pematangan fisik dan saraf mendorong anak untuk maju dan membuat batasan yang
rendah untuk tumbuhnya berbagai macam kepandaian. Usia saat anak dapat berjalan
sendiri, rata-rata sama diseluruh dunia, meskipun frekuensi latihan setiap anak
berbeda.

Perubahan-perubahan

pematangan

dapat

juga

menciptakan

suatu

kemampuan untuk masalah-masalah tingkah laku pada waktu yang dapat diramalkan.
Contohnya, penurunan pertumbuhan dan jam tidur saat usia 2 tahun umumnya
menyangkut tidak adanya nafsu makan dan menolak untuk tidur siang.1
Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, secara umum digolongkan
menjadi 3 kebutuhan dasar :
1.

Kebutuhan dasar fisik-biomedis (ASUH) yang meliputi pangan gizi sebagai


kebutuhan terpenting. Perawatan kesehatan dasar, antara lain imunisasi,
pemberian ASI, penimbangan bayi/anak yang teratur, pengobatan kalau sakit, dan
lain-lain. Selain itu papan/pemukiman yang layak, higene perorangan, sanitasi
lingkungan, sandang, kesegaran jasmani, dan rekreasi juga menjadi hal yang
penting.

2.

Kebutuhan emosi/ kasih sayang (ASIH), pada tahun-tahun pertama kehidupan,


hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu/pengganti ibu dengan anak
merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik
fisik, mental maupun psikososial. Berperannya dan kehadiran ibu/penggantinya
sedini dan selanggeng mungkin, akan menjalin rasa aman bagi bayinya. Ini

diwujudkan dengan kontak fisik (kulit/mata) dan psikis sedini mungkin, misalnya
dengan menyusui bayi secepat mungkin segera setelah lahir. Kekurangan kasih
sayanag ibu pada tahun-tahun pertama kehidupan mempunyai dampak negative
pada tumbuh kembang anak baik fisik, mental maupun social emosi.
3.

Kebutuhan akan stimulasi mental (ASAH), stimulasi mental merupakan cikal


bakal dalam proses belajar pada anak. Stimulasi mental ini mengembangkan
perkembangan mental psikososial: kecerdasan, ketrampilan, kemandirian,
kreativitas, agama, kepribadian, moral-etika, produktivitas, dan sebagainya.

Faktor Perkembangan Kognitif


Perkembangan bahasa terjadi paling cepat antara usia 2 dan 5 tahun.
Perbendaharaan kata bertambah dari 50-100 kata sampai 2000 lebih. Susunan kalimat
meningkat dari telegrafi kalimat dua- dan tiga-kata sampai penggabungan semua
aturan tata bahasa pokok. Perbedaan yang penting antara percakapan, produksi suara
yang dapat dimengerti, dan bahasa mendasari tindakan mental. Bahasa mencakup
fungsi penerimaan maupun pengukapan.
Kemahiran bahasa tergantung pada lingkungan maupun faktor intrinsik. Cara
bagaimana orang dewasa mengarahkan anak, bagaimana mereka bertanya dan
memberi perintah, luasnya mereka terlibat pada pengajaran bahasa dengan harapan
untuk kemampuan berbahasa bervariasi dari budaya ke budaya. Anak-anak tidak
hanya meniru ucapan orang dewasa. Lebih tepatnya, mereka meringkas aturan tata
bahasa yang rumit dari bahasa sekitarnya dengan membuat hipotesis lengkap dan
memodifikasinya terus menerus.1,2
Bahasa adalah barometer yang kritis dari perkembangan kognitif maupun emosi.
Retardasi mental mungkin mula-mula menjadi jelas pada bicara yang tertunda pada
kira-kira usia 2 tahun, meskipun tanda-tanda yang lebih awal telah dilupakan. Anak
yang diperlakukan dengan kejam, di acuhkan, dikorelasikan dengan bahasa yang
tertunda, terutama kemampuan untuk menyampaikan keadaan emosi. Sebaliknya,
penundaan demikian dapat turut menimbulkan masalah perilaku, sosialisasi dan
pelajaran. Bahasa memainkan peran penting dalam pengaturan perilaku yang mulamula melalui pemahaman anak terhadap permintaan dan batas-batas orang dewasa
dan kemudian melalui percakapan pribadi dimana anak-anak mengulangi larangan
orang dewasa yang pertama kali didengar dan dijiwai. Bahasa juga memungkinkan
anak mengungkapkan perasaan, seperti marah atau frustasi tanpa melampiaskannya.

Buku bacaan anak-anak juga penting untuk menstimulasi perkembangan anak,


karena akan menambah kemampuan berbahasa, berkomunikasi, serta menambah
wawasan anak terhadap lingkungan sekitarnya.
Periode prasekolah dapat disamakan dengan stadium praoprasional Piaget
(pralogika), ditandai oleh pemikiran ajaib, egosentris dan pemikiran yang didominasi
oleh kesadaran. Egosentris mengacu kepada ketidakmampuan anak untuk mengambil
pandangan lain dan tidak berarti egois.
Selama periode prasekolah, bermain ditandai dengan penambahan kompleksitas
khayalan, dari tulisan-tulisan sederhana yang meniru pengalaman-pengalaman umum
seperti belanja meletakkan bayi-bayi ditempat tidur (usia 2 atau 3 tahun) ke skenario
yang lebih luas mencakup kejadian tunggal seperti pergi kekebun binatang atau pergi
berwisata (usia 3 atau 4 tahun). Gerak maju yang sama dalam hidup bermasyarakat
bergerak dari hubungan sosial yang sempit bersama teman-teman selama bermain ke
permainan kelompok seperti membangun bersama menara-menara dari balok-balok,
mengatur peran bermain dan membagi tugas yang berbeda-beda.
Bermain memungkinkan anak mengalami kemenangan menyelesaikan teka-teki,
berlatih peran orang dewasa, meniru peran penyerang bukan korban, meniru kekuatan
super, dan mendapatkan hal-hal yang ditolak dalam kehidupan nyata. Menggambar,
mewarnai, dan aktifitas artistik lain adalah bentuk permainan yang menunjukkan
kreatifitas.
Bermain bagi anak, juga bukan hanya sekedar mengisi waktu luang saja, tetapi
melalui bermain anak belajar mengendalikan dan mengkoordinasi otot-ototnya,
melibatkan perasaan, emosi dan pikirannya. Sehingga melalui bermain anak-anak
mendapat berbagai pengalaman hidup. Manfaat lain dari bermain apabila dilakukan
bersama orang tuanya maka akan meningkatkan keakraban antara anak dan orang tua.
Mendidik anak harus berarti memberi pengertian tentang kebiasaan yang baik dan
memperlakukannya dengan kasih sayang. Hal demikian dapat dicapai dengan selalu
memberikan contoh yang baik dan berwibawa. Di dalam keluarga yang tentram,
bahagia dan sejahtera, pendidikan tidak akan mengalami kesukaran. Kewibawaan
yang berlebihan akan menyebabkan anak menjadi penakut dan merasa kurang dari
anak lain, sedangkan kewibawaan yang kurang dapat menjadikan anak tidak disiplin
dan asosial.
Dasar pendidikan untuk anak adalah:

1. Membiasakan untuk melakukan sesuatu pada waktu-waktu tertentu dan teratur,


misalnya bangun, makan, tidur siang, tidur malam. Kebiasaan, demikian berarti
menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2. Perasaan sejahtera dan aman. Orang tua tidak perlu selalu bermain atau sibuk
dengan anak. Hendaknya anak diberi kebebasan untuk bermain sendiri. Anak
sebagaimana layaknya setiap orang memerlukan kebebasan.
3. Memberikan kesibukan pada anak merupakan salah satu cara mendidik anak yang
baik. Hal ini dimaksudkan agar anak jangan merasa kesal dan bosan. Yang penting
ialah agar anak dapat mendapat kesempatan sendiri. Bila salah hendaknya jangan
diejek, tetapi dibimbing. Bila baik hendaknya diberi pujian. Bila anak sedang
membuat sesuatu, hendaknya jangan diganggu dan bila misalnya tiba waktu untuk
makan, maka hendaknya kepada anak diberikan cukup waktu untuk menyelesaikan
kesibukan itu dahulu.
Perasaan takut dapat timbul karena khayalan anak terlalu besar, atau karena
merasa diancam atau ditakut-takuti. Hendaknya rasa takut jangan dianggap ringan,
jangan diperbesar danjuga janganlah anak diejek. Mencegah dan memperbaikinya
ialah dengan memberikan penerangan agar supaya anak merasa aman tentram dalam
lingkungan keluarganya. Anak tidak boleh diremehkan, harus banyak dipuji pada
waktunya, agar mengenal dirinya sendiri.2

Faktor Sosial
Model perkembangan anak sekarang ini, mengenali akan pentingnya pengaruh
yang datang dari luar hubungan antara anak dan ibu. Pengaruh-pengaruh ini dapat
dibayangkan sebagai suatu kontribusi ketingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah
dari hubungan ibu dan anak. Fungsi keluarga sebagai suatu sistem, baik dengan lebih
atau kurang keras menetapkan batas-batas, subsistem, tugas-tugas dan aturan-aturan
untuk berinteraksi. Didalam sistem keluarga, fungsi-fungsi dalam sistem yang lebih
luas dari suatu keluarga besar, subbudaya, budaya dan social masyarakat adalah
bergantian.
Perangsangan yang datang dari luar anak atau diistilahkan dengan stimulasi.
Stimulasi merupakan hal yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Anak
yang banyak mendapat stimulasi yang terarah akan lebih cepat berkembang
dibandingkan dengan anak yang kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi.
Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangan
5

anak. Berbagai macam stimulasi seperti simulasi visual, verbal, auditif, taktil, dan
lain-lain, dapat mengoptimalkan perkembangan anak. Perhatian dan kasih sayang juga
merupakan stimulasi yang penting bagi awal perkembangan anak, misalnya dengan
mengajaknya bercakap-cakap, membelai, mencium, dan bermain.
Pada saat ini di Indonesia telah dikembangkan program BKB (Bina Keluarga dan
Balita)

untuk

anak-anak

prasekolah

yang

bertujuan

untuk

menstimulasi

perkembangan anak sedini mungkin, dengan menggunakan APE (alat permainan


edukatif). APE adalah alat permainan yang berfungsi untuk mengembangkan berbagai
aspek perkembangan anak antara lain motorik, bahasa, kecerdasan, dan sosialisasi.
Karena bermain, mengajak anak berbicara, dan kasih sayang adalah makanan yang
penting untuk perkembangan anak.3
Erickson meninjau perkembangan kepribadian dari segi psikososial tertentu yang
harus diatasi oleh anak itu agar dapat melewati stadium selanjutnya dengan atau tanpa
konflik. Ia membagi stadium perkembangan manusia, 5 masa berhubungan dengan
usia anak yaitu:
1. Stadium basic trust vs mistrust infancy
Dalam mansa ini sangat penting adanya methering process yang penuh kehangatan
dan konsisten, karena hal ini akan member landasan rasa puas, aman dan kepercayaan
kepada orang tua dan rasa toleransi terhadap frustasi. Tidak adainnya mothering
process akan merupakan dasar ketidak percayaan dan insecurity dalam masa
selanjutnya.
2. Stadium Autonomy vs shame and doubt
Pada masa ini teradapat 2 hal yang penting yaitu motilitas dankontrol fungsi tubuh.
Anak mulai mengeksplorasi dunia luar dengan aktifitas motorik dan dari pengalaman
itu ia akan belajar mengontrol dorongan implusifnya untuk bertindak; suatu sense of
autonomy mulai terbentuk. Konflik akan terjadi bila orang tua menghalangi aktifitas
motorik si anak dan menuntut agar anak jadi penurut. Bersamaan dengan itu biasanya
timbul masalah toilet training. Bila hal ini dilakukan terlalu dini, waktu anak masih
belum sanggup untuk mengatur sfingter karena secara fisiologis memang belum bisa
dan anak dihukum atau dipermainkan maka anak tersebut akan bereaksi dengan 2
cara, yaitu ia akan menjadi takut pada orang tua dan akan selalu berusaha agar tidak
dimarahi dengan menjadi sangat bersih, sangat rapih dan penurut atau sebaliknya ia
marah dengan cara menjadi jorok, keras kepala dan tidak dapat dipercaya. Dengan
demmikian orang tua menanamkan perasaan malu dan ragu-ragu dalam diri anak.
6

3. Stadium initiative vs guilt


Kemampuan anak lebih besar, ia lebih banyak berhubungan dengan dunia luar
ermaisuk ayah dan saudara-saudaranya. Terbuka kesempatan bagi si anak untuk
berhubungan dengan dunia sekitar dan mulai timbul inisiatif untuk menyelesaikan
sendiri masalah sederhana yang dihadapinya. Ia mulai berkompetisi dengan
saudaranya untuk mendapat kedudukan pertama dimata orang tua, mulai sadar bahwa
ia dan saudaranya yang lain harus membagi perhatian orang tua, juga mulai timbul
perasaan cemburu, iri dan perasaan bersalah. Persaingan ini menimbulkan fantasi
kebesaran dan juga kemudian rasa takut akan disakiti, diserang oleh orang lain.
Pengertian perbedaan seksual mulai ada dan dasar identifikaasi seksual mulai
terbentuk, demikian pula identifikasi dengan orang tua. Bersamaan dengan hal
tersebut, dorongan inisiatif, perasaan cemburu dan marah serta pembentukan ego
menjadi lebih sempurna. Bila dalam pergolakan ini anak ditekan oleh orang tuanya,
maka akan timbul perasaan benci dan perasaan takut akan disakiti. Anak tersebut
kemudian akan mengadaptasikan rasa takutnya dengan menjadi murung, pengunduran
diri dan akhirnya internalisasi dari larangan untuk ekspresi perasaan marah.
4. Stadium industriousness vs sense of inferiority
Sosialisasi anak lebih luas laagi dengan orang luar keluarganya. Pengaruh mereka
memungkinkan kesempatan identifikasi lagi yang dapat menghambat, mengubah dan
menambah tingkah laku yang telah terbentuk sebelumnya; juga kesempatan
memperoleh ketrampilan makin luas. Keinginan anak untuk berhasil dalam belajar,
berbuat dan berkarya sangat besar, tetapi bila ia gagal maka akan terbentuk perasaan
inferior dan inadekuat. Identifikasi lebih banyak pada orang tua dengan jenis kelamin
yang sama, jadi perlu sekali hubungan erat dengan mereka atau substitute agar si anak
lebih menetapkan maskulinitas atau feminitas. Dalam masa ini juga cita-cita mulai
terbentuk.
5. Stadium identity formation vs diffusion
Di dalam masa ini termasuk masa pubertas, saat maturasi alat kelamin terjadi. Secara
emosional banyak terjadi variasi besar antara alam perasaan, pandangan dan
hubungan. Dependensi kepada orang tua dan keinginan untuk kembali kepada masa
anak, terbentur kepada keinginan dan kemampuan untuk menjadi independent
sehingga menimbulkan konflik. Dorongan instingual yang makin besar, harus
disesuaikan dengan larangan keluarga dan masyarakat. Ia sangat prihatin terhadap
penilaian dirinya oleh orang lain dan bagaimana ia melihat dirinya sendiri. Ia sedang
7

dalam masa pembentukan suatu identitas diri, yang identitas niologis dan
psikologisnya harus disesuaikan dengan pekerjaan, keluarga dan peran sosial.

Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan anak.
Lingkungan

yang

cukup

baik

akan

memungkinkan

dicapainya

potensi

genetik/bawaan/bakat anak. Lingkungan yang kurang baik akan menghambat


pertumbuhan, sehingga potensi bawaan/bakat tidak dapat dicapai. Lingkungan
meliputi aspek fisis, biologis, dan social yang lazimnya disebut lingkungan
fisikobiopsikososial. Aspek-aspek tersebut tidak berdiri sendiri- sendiri, melainkan
berkaitan satu sama lain.3,4
Lingkungan fisikobiopsikososial tersebut dapat berupa:
1. Orang tua yang hidup rukun dan harmonis. Persiapan jasmani, mental, social yang
matang pada saat membina keluarga. Mempunyai pekerjaan tetap, dengan tingkat
ekonomi/ kesejahteraan yang cukup. Mempunyai cukup waktu untuk memperhatikan,
membimbing dan mendidik anak. Tinggal dirumah dan lingkungan yang sehat.
Suasana damai dalam dan kasih sayang dalam keluarga sangat penting alam tumbuh
kembang anak. Interaksi orang tua anak merupakan suatu proses yang majemuk yang
dipengaruhi bayak factor, yaitu kepribadian orang tua, sifat bawaan anak, kelahiran
anak yang lain, tingkah laku setiap anggota keluarga, interaksi antar anggota keluarga,
dan pengaruh luar.3
2. Didaerah perkotaan maupun didaerah pedesaan diciptakan keadaan yang cukup baik
dalam segi-segi kesehatan, misalnya pengetahuan keluarga mengenai kesehatan,
penyebaran fasilitas kesehatan. Geografis, misalnya sumber alam dan komunikasi.
Demografis, misalnya komposisi penduduk menurut umur, kebijaksanaan keluarga
berencana, penyebaran penduduk, urbanisasi dan transmigrasi. Social ekonomi,
misalnya kesempatan kerja/lapangan kerja, tingkat pendapatan, perumahan, dan
lingkungan hidup. Psikokulturil, misalnya pendidikan sekolah, dirumah dan diluar
sekolah, kebiasaan, kepercayaan, tradisi, sikap terhadap masalah kesehatan.
Kebijaksanaan

politik

pemerintah,

misalnya

perencanaan

perkembangan/pembangunan ekonomi, kesejahteraan anak.


3. Pendidikan dirumah, sekolah dan luar sekolah serta luar rumah untuk pembinaan
perkembangan emosi, social, moral, etika, tanggung jawab, pengetahuan, ketrampilan
dan kepribadian.
8

Dengan demikian harus disadari bahwa lingkungan fisikobiopsikososial yang cukup


baik merupakan kebutuhan pokok anak untuk pertumbuhan dan perkembangan yang
sebaik-baiknya. Kebutuhan pokok ini sebaiknya dipenuhi segera dan tidak dapat ditunda.
Penundaan pemenuhan kebutuhan pokok hampir pasti akan menghambat pertumbuhan dan
perkembangannya.3,4
Faktor Resiko
1. ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder)
ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik pada
kebanyakan anak-anak dan seringkali berlanjut sampai dewasa. Ada dua aspek utama
dalam ADHD. Yang pertama adalah kesulitan untuk memusatkan perhatian dan kebiasaan
hiperaktif (perilaku yang tidak bisa diam). Dan yang kedua adalah impulsif (kesulitan
untuk menunda respon / dorongan untuk melakukan / mengatakan sesuatu dengan tidak
sabar).5
Gejala ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder)
Tanda dan gejala kesulitan untuk memusatkan perhatian yang dapat terjadi :

Sering gagal dalam memberikan perhatian pada hal-hal yang detil ataupun
ketidakpedulian jika berbuat kesalahan dalam berbagai aktivitas.

Sering memiliki masalah dalam mempertahankan perhatian pada pekerjaan atau


ketika bermain.

Tidak mendengarkan ketika berbicara secara langsung.

Susah mengikuti petunjuk yang diberikan dan sering gagal dalam menyelesaikan
tugas sekolah ataupun tugas-tugas lainnya.

Sering gagal dalam hal pengaturan tugas maupun aktifitas lainnya.

Menghindari atau tidak menyukai tugas-tugas yang membutuhkan upaya mental


secara terus menerus seperti halnya tugas sekolah maupun pekerjaan rumah.

Sering kehilangan sesuatu yang sedang dikerjakan, seperti buku, pensil, mainan,
ataupun peralatan lainnya.

Mudah bingung.
Sering lupa.

Tanda dan gejala hiperaktif (perilaku yang tidak bisa diam) dan kebiasaan impulsif
(kesulitan untuk menunda respon / dorongan untuk melakukan / mengatakan sesuatu
yang tidak sabar) yang dapat terjadi :
9

Sering gelisah.

Sering meninggalkan kursi di kelas atau pada situasi lain yang mengharapkan ia untuk
duduk.

Sering berlari atau memanjat, bertingkah secara berlebihan, atau jika ia remaja akan
merasa gelisah secara berkelanjutan.

Sulit untuk bermain dengan tenang.

Selalu merasa harus pergi.

Berbicara secara berlebihan.

Menjawab secara berlebihan sebelum pertanyaan yang diberikan selesai dikatakan.

Sulit untuk menunggu giliran.

Sering

mengganggu

orang

lain

dalam

pembicaraan

atau

permainan.

Kebiasaan ADHD bisa berbeda pada anak perempuan dan anak laki-laki :

Anak laki-laki lebih terlihat hiperaktif, sedangkan pada anak perempuan sering
memperlihatkan kealpaan.

Pada anak perempuan yang kesulitan dalam memberikan perhatian sering tenggelam
dalam imajinasi, tetapi pada anak laki-laki bertingkah tanpa tujuan atau selalu
bermain.

Anak laki-laki cenderung kurang mau mengalah terhadap guru atau orang dewasa
lainnya, sehingga kebiasaan itu sering menjadikannya terlihat menonjol.

Penyebab ADHD pada Anak


Berubahnya fungsi dan anatomi otak
Untuk sementara, penyebab pasti dari ADHD masih menjadi misteri. Pengamatan
terhadap otak mengungkapkan perbedaan penting pada struktur dan aktifitas otak pada
orang normal dan orang dengan ADHD. Sebagai contoh, berkurangnya aktivitas pada
area di otak yang mengontrol aktivitas dan perhatian.
Keturunan
ADHD cenderung menurun dalam keluarga.
Ibu yang merokok, penggunaan obat-obatan dan zat beracun lainnya.
Wanita hamil yang merokok memiliki peningkatan risiko memiliki anak dengan ADHD.
Alkohol atau obat-obatan yang digunakan ketika hamil juga dapat menurunkan aktivitas
dari sel saraf yang menghasilkan neurotransmitter . Wanita hamil yang terkena racun dari
lingkungan, seperti polychlorinated biphenyls (PCBs), juga memungkinkan untuk
10

memiliki anak dengan gejala ADHD. PCBs merupakan kimia industri yang digunakan
secara luas sejak 1970an.
Anak-anak yang terkena racun lingkungan.
Anak-anak pra sekolah yang terkena racun tertentu memiliki peningkatan risiko terkena
ADHD.
Pemeriksaan Fisik
1.Pemeriksaan Tiroid: dapat menunjukkan gangguan hipertiroid atau hipotiroid yang
memperberat masalah.
2.Tes neurologist (misalnya EEG, CT scan) menentukan adanya gangguan otak organic
3.Tes psikologis sesuai indikasi : menyingkirkan adanya gangguan ansietas,
mengidentifsi bawaan, retardasi borderline atau anak tidak mampu belajar dan mengkaji
responsivitas sosial dan perkembangan bahasa
4.Pemeriksaan diagnostic individual bergantung pada adanya gejala fisik (misalnya ruam
, penyakit saluran pernapasan atas, atau gejala alergi lain,infeksi SSP)
Cara Pencegahan
Tidak ada cara untuk mencegah ADHD. Tapi juga ada beberapa langkah yang mungkin
dapat menolong untuk mencegah penyebab ADHD dan memastikan anak-anak anda
sedapat mungkin sehat secara fisik, mental, dan emosional :

Saat hamil, hindari segala sesuatu yang dapat membahayakan perkembangan janin.
Jangan minum minuman beralkohol, merokok atau menggunakan obat-obatan.

Lindungi anak-anak anda dari polutan dan racun, termasuk asap rokok, kimia industri
dan pertanian, dan kimia cat (pada beberapa gedung tua).

Selalu konsisten, buat batasan dan konsekuensinya secara jelas dari kebiasaan yang
ditanamkan pada anak anda.

Ambil rutinitas kebersamaan anda dengan anak anda dengan ekspektasi yang jelas
termasuk halnya waktu tidur, pada pagi hari, saat makan, saat memberikan tugastugas yang sederhana, dan saat untuk menonton.

Hindari hal lain yang anda kerjakan ketika berbicara dengan anak anda, buat kontak
mata ketika memberikan petunjuk, dan puji anak anda setiap waktu setiap hari.

11

Berkerjasama dengan guru dan pengasuh untuk mengidentifikasi masalah sejak dini.
Jika anak anda mengalami ADHD atau kondisi lain yang mengganggu belajarnya dan
interaksi sosialnya, penanganan secara dini dapat menurunkan dampak dari kondisi
tersebut.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ADHD merupakan penatalaksanaan multidisiplin jangka panjang,
yang memerlukan evaluasi berulang-ulang untuk menilai efektivitas dan menilai ada
tidaknya masalah baru. Rencana pengobatan harus dibuat secara individual, tergantung
gejala dan efeknya terhadap kehidupan sehari-hari. Gejala inatensi, impulsivitas clan
hiperaktivitas biasanya menunjukkan respons dengan pengobatan, sedangkan gejala
perilaku memerlukan modifikasi lingkungan. Psikoterapi mungkin diperlukan untuk
mengatasi masalah hubungan interpersonal sekunder. Terapi psikiatrik clan medis sangat
penting bila ada ko-morbiditas.
Pasien mempunyai hak untuk mendapat pendidikan seperti anak lain, tetapi disesuaikan
dengan keadaannya. Kekurangan dalam bidang akademis, sosial, dan olahraga
mernerlukan penanganan khusus karena ti dak menunjukkan respons terhadap pengobatan
atau modifikasi perilaku.5
Pemberian

informasi

terhadap

pasien,

orang

tua,

dan

guru

merupakan bakupenatalaksanaan. Penerangan meliputi gejala, fungsi yang terganggu,


etiologi, pengobatan, efek dan efek samping obat, perjalanan penyakit dan prognosis,
penatalaksanaan perilaku. Beberapa mitos harus dijelaskan misalnya efek paradoksal dari
stimulan, ketakutan bahwa obat akan membuat ketergantungan dan bahwa ADT-3D tidak
hilang dengan pubertas.

Farmakologi
1.Methylphenidate rnerupakan obat yang paling banyak diteliti dan paling baik untuk
mengurangi hiperaktivitas dibandingkan stimulan lain. Sayang masa kerja methylphenidate

12

hanya sekitar 6 jam, yang menyebabkan obat harus diberikan 2 kali per hari atau lebih. Jenis
obat yang digunakan adalah Ritalie.
2. Dextroamphetarnine mempunyai masa kerja lebih panjang dan lebih murah. Kerugian
dextroamphetarnine

adalah

risiko

gagal

tumbuh lebih besar

dan

kemungkinan

penyalahgunaan lebih besar.


3. Stirnulan dengan masa kerja panjang digunakari bila gejala sering muncul di malam hari
atau sore hari. Yang banyak digunakan adalah Ritalin-SR (sustained release), Dexedrine
Spansule(dextroamphetamine), Cylert(pemoline), Adderall (campuran garam amphetamine),
Desoxyn Gradumet (methamphetamine). Concerta, suatu preparat baru tampaknya
menjanjikan efek terapi yang lebih baik.
4. Pengobatan dimulai dengan dosis kecil dan di titrasi tiap minggu tergantung respons dan
efek samping. Pengobatan setelah makan mengurangi anoreksia. Pasien tanpa hiperaktivitas
sudah bereaksi terhadap dosis rendah. Frekuensi pemberian tergantung keadaan. Dosis
methylphenidate adalah 0,3-0,7 mg/kg per dosis, dibulatkan menjadi 2,5 atau 5 mg terdekat.
5. Kadang-kadang diperlukan kombinasi obat yang mempunyai masa kerja panjang dan
pendek.
Komplikasi
1.Diagnosis sekunder-gangguan konduksi, depresi, dan penyakit ansietas

2.Pencapaian akademik kurang, gagal disekolah, sulit membaca dan mengerjakanaritmatika


(sering kali akibat abnormalitas konsentrasi )
3.Hubungan dengan teman sebaya buruk ( sering kali perilaku agresif dan kata-kata yang
diungkapkan )
4.IQ rendah / kesulitan belajar ( anak tidak duduk tenang dan belajar )5.Resiko kecelakaan
( karena impulsivitas )
6.Percaya diri rendah dan penolakan teman-teman sebaya ( perilakunya membuat anak-anak
lainnya marah )
Prognosis

13

Sebanyak 30-80% kasus tetap menunjukkan gejala ADHD pada masa adolesen dan sebanyak
65% kasus sampai dewasa. Riwayat keluarga ADHD, gangguan psikososial dan komorbiditas
dengan gangguan konduk, mood dan ansietas meningkatkan risiko menetapnya ADHD.
Delikuensi atau personalitas antisosial pada masa adolesen atau dewasa terlihat pada
pemantauan 25-40% anak dengan ADHD. Penderita ADHD dilaporkan mempunyai
kecenderungan mencoba narkotika dan mengalami adiksi pada masa adolesen.
Kasus-kasus yang memperlihatkan tingkah laku agresif terhadap orang dewasa, IQ yang
rendah, hubungan dengan kawan yang buruk, dan menetapnya gejala ADHD mempunyai
prognosis yang kurang baik.
2.

Depresi
Anak yang mengalami depresi dapat menimbulkan efek merugikan pada kehidupan
dirinya sendiri. Cara paling mudah untuk melindungi kehidupan anak yang sedang
depresi adalah mendeteksi secara dini gejala depresi pada anak, lalu memberikan
penanganan agar kehidupannya terselamatkan.5
Berikut ini adalah tanda-tanda apabila seorang anak mengalami depresi:
1. Uring-uringan atau gampang marah, ini adalah gejala yang paling umum dari orang
yang depresi. Bahkan dalam beberapa kasus sering terjadi ledakan amarah.
2. Merasakan sakit atau nyeri yang samar-samar, apabila seorang remaja merasakan
sakit kepala, sakit perut, dan keluhan lain yang tak nampak secara fisik penyebabnya dan
tak menunjukkan masalah medis. Maka kemungkinan si anak mengalami depresi.
3. Peka terhadap kritik, seseorang yang sensitif terhadap kritikan terkadang normal.
Akan tetapi bila seorang remaja terlalu marah ketika dikritik, bisa jadi remaja tersebut
sedang mengalami depresi.
4. Berkumpul dengan kenalan-kenalan baru, jika seorang remaja menjauhi teman-teman
lama, keluarga dan sahabat kemudian lebih sering berkumpul dengan komunitas yang
baru dikenalnya, ada kemungkinan si anak sedang depresi. Depresi pada anak
membawa efek buruk dalam kehidupannya bahkan dapat menghancurkan kehidupan
remaja dan sangat sulit untuk dipulihkan.
Berikut ini adalah berbagai dampak buruk anak yang depresi:

14

1. Bermasalah di sekolah, energi yang rendah menyebabkan sulit berkonsentrasi untuk


menerima pelajaran. Nilai rendah, tingkat kehadiran buruk, dan tidak sanggup
mengerjakan tugas-tugas sekolah.
2. Perasaan rendah diri sangat dominan, mengalami gangguan makan, bahkan anoreksia.
3. Kecanduan game computer dan surfing internet sebagai mekanisme pelarian.
4. Penyalahgunaan zat, seperti kecanduan alkohol atau pun obat-obatan terlarang.
5. Sering berperilaku ceroboh, seperti kurang hati-hati dalam berkendara, sering ceroboh
meletakkan benda-benda tidak pada tempatnya. Sehingga potensial menyebabkan
bencana.
6. Kekerasan menjadi sifat dominan dalam kehidupan sehari-hari, timbul rasa kebencian
pada seseorang.
7. Mencederai diri sendiri, mulai dari menarik rambut sendiri sampai menyayat nadi
sendiri.
8. Dalam tahap ekstrim, sering melontarkan komentar-komentar tentang kematian dan
muncul hasrat untuk bunuh diri. Oleh karena itu depresi perlu dideteksi lebih dini agar si
anak tidak terlanjur mengalami dampak buruknya.
3.

Retardasi Mental
Retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak
lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya ketrampilan selama masa
perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh,
misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Menurut The American
Association on Mental Deficiency (AAMD), definisi retardasi mental mencakup dua
dimensi

utama

yaitu

perilaku

adaptif

dan

kecerdasan.

Retardasi

mental

didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana fungsi intelektual umum dibawah rerata
normal disertai dengan kekurangan atau hendaya dalam perilaku adaptif yang muncul
pada periode perkembangan.
Terdapat dua model pendekatan yang dipakai yaitu model pendekatan biomedik dan
pendekatan sosiokultural. Dari pendekatan biomedik lebih menitikberatkan pada
perubahan-perubahan dasar pada sistem otak, sedangkan pendekatan sosiokultural
menyotroti fungsi-fungsi sosial dan adaptasi secara umum untuk mengikuti norma-norma
yang berlaku. Beberapa istilah yang dipakai untuk retardasi mental adalah
keterbelakangan mental, lemah ingatan, cacat mental, tuna mental. Istilah asing yang
15

sering digunakan adalah mental deficiency, oligophrenia, amentia, dan mental


subnormality.
Penyebab: 25% dari penderita retardasi mental disebabkan oleh faktor biologik. Yang
paling sering terdapat adalah kelainan kromosom atau metabolisme seperti pada
sindroma down, phenil keton uria dan ibu yang banyak minum alkohol sewaktu hamil.
Pada retardasi mental yang etiologinya faktor biologik, perbandingan jumlah penderita
antara golongan sosial ekonomi tinggi dan rendah adalah sama, tidak ada peningkatan
prevalensi pada anggota keluarga kecuali bila disebabkan oleh karena kelainan genetik
seperti phenilketonuria. Untuk 75% sisanya tidak didapatkan faktor biologik. Retardasi
mental tanpa etiologi biologik dapat dikaitkan dengan berbagai jenis deprivasi
psikososial seperti deprivasi stimulasi, sosial, bahasa dan intelektual (PPDGJ II, 1983).
Taraf kekurangan intelektual biasanya ringan, diagnosis biasanya ditegakkan pada waktu
masuk sekolah, lebih banyak terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah dan sering
terdapat pola keluarga dengan taraf retardasi mental yang sama dengan orang tua atau
saudara.5
Ciri-ciri retardasi mental

Ciri utama retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual. Lama sebelum
muncul tes formal untuk menilai kecerdasan, orang dengan retardasi mental dianggap
sebagai orang yang tidak dapat menguasai keahlian yang sesuai dengan umurnya dan
tidak bisa merawat dirinya sendiri.

Selain intelegensinya rendah, anak dengan retardasi mental juga sulit menyesuaikan
diri dan susah berkembang.Keterampilan adaptif antara lain adalah keahlian
memperhatikan dan merawat diri sendiri dan mengemban tanggung jawab sosial
seperti berpakaian, buang air, makan, kontrol diri, dan berinteraksi dengan kawan
sebaya.

Penanganan

Pemeriksaan fisik anak secara lengkap dan mengobati kelainan/penyakit yang


mungkin ada.

Psikolog untuk menilai perkembangan mental terutama kognitif anak.

Pekerja sosial untuk menilai situasi keluarga bila dianggap perlu.

16

Setelah dilakukan penilaian, dirancang strategi terapi, mungkin perlu dilibatkan lebih
banyak ahli. Misalnya ahli saraf anak bila menderita epilepsy, palsi serebral dll.
psikiater bila anak tersebut menderita kelainan tingkah laku ; fisioterapis untuk
merangsang perkembangan motorik dan sensorik ; ahli terapi bicara serta guru
pendidikan luar biasa.

Penatalaksanaan
Untuk mendiagnosa redartasi mental dengan tepat, perlu diambil anamnesa dari orang
tua dengan teliti mengenai kehamilan, persalinan dan perkembangan anak.
Bila mungkindilakukan juga pemeriksaan psikologik, bila perlu diperiksa
juga di laboratorium, diadakan evaluasi pendengaran

dan bicara. Observasi

psikiatrik dikerjakan untuk mengetahui adanya gangguan psikiatrik disamping


redartasi

mental.

karakteristik,

Tingkat

kecerdasan

melainkan

keterampilan spesifik yang

intelegensia

harus
berbeda.

bukan

satu-satunya

dinilai berdasarkan sejumlah besar


Penilaian tingkat

kecerdasan

harus

berdasarkan semua informasi yang tersedia, termasuk temuan klinis, prilaku adaptif
dan hasil tes psikometrik. Untuk diagnosis yang pasti harus ada penurunan
tingkat kecerdasan yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan adaptasi
terhadap tuntutan darilingkungan sosial biasa sehari-hari. Pada pemeriksaan
fisik pasien dengan redartasi mental dapat ditemukan berbagai macam perubahan
bentuk fisik, misalnya perubahan bentuk kepala: mikrosefali, hidrosefali, dan
sindrom down. Wajah pasien dengan redartasi mental sangatmudah dikenali
seperti

hipertelorisme,

lidah

yang

menjulur

keluar,

gangguan

pertumbuhangigi dan ekspresi wajah tampak tumpul.


Anak ditempatkan di kelas/sekolah yang sesuai dengan taraf kemampuannya yang
terbatas itu, sekolah anak dengan kebutuhan khusus. Serta edukasi dan support orang tua
untuk dapat menerima kondisi anaknya yang demikian ini.
Komplikasi
1.Gangguan konsentrasi/hyperaktif.
2.Gangguan kejang.
3.Konstipasi (karena penurunaan motilitas usus akibat obat-obatan, dan kurang
mengkonsumsi makanan berserat dan cairan).

17

Prognosis
Prevalensi retardasi mental dari dari populasi umum sekitar 1-3%. Rasio laki-laki dan
perempuan yaitu 1,5:1. Sekitar 85% dari seluruh kasus merupakan kasus Ringan.
Edukasi Pada Orangtua
Sebagai seorang dokter sebaiknya kita mengurangi kecemasan orang tua dengan cara :
-Menyakinkan bahwa gangguan yang diderita anak tersebut umumnya memiliki
prognosis yang baik atau buruk.
-Memberikan informasi mengenai cara

yang

harus

dilakukan

untuk

dapat

mengendalikan anak tersebut.


-memberitahukan penanganan yang harus dilakukan dan pencegahan yang baik
sejak dini.
-Pemberian obat untuk mencegah yang efektif tetapi harus diingat adanya efek
samping obat.

18

PENUTUP
Tumbuh kembang seorang manusia sejak konsepsi sampai dilahirkan tidak lepas dari
faktor-faktor diatas. Seperti yang sudah diuraikan bahwa faktor biologis memiliki peranan
penting dalam pertumbuhan tubuh anak dan bagaimana penilaian terhadap pertumbuhan
tersebut sehingga dapat diketahui pertumbuhan tersebut berjalan normal atau mengalami
gangguan. Demikian juga dengan faktor kognitif yang berhubungan dengan perkembangan
cara berpikir anak, faktor sosial dan lingkungan juga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
perkembangan anak, manusia sebagai mahkluk sosial akan banyak sekali berhubungan baik
dengan lingkungan maupun orang sekitarnya. Sehingga jika ada faktor-faktor yang tidak
terpenuhi dengan baik maka pertumbuhan dan perkembangan seseorang akan terganggu.

DAFTAR PUSTAKA
1. Welsby PD. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis. Jakarta: EGC; 2010.h.181-3.
2. Wahab AS. Ilmu kesehatan anak nelson. Edisi ke-15. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

EGC; 2000.
3. Johnston DHD. Dasar-dasar pediatri. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;

2008.h.145-75.
4. Soedjiningsih. Tumbuh kembang anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;

2000.h.127.
5. Schwartz MW. Pedoman klinis pediatri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;

2005.h.283-312.

19