Anda di halaman 1dari 4

MODEL MATEMATIKA EPQ (Economic Production Quantity)

DENGAN VARIASI SET UP COST


(Studi Kasus Pada PT. Mitra Agung Raharja, Surabaya)
Lailiyatur Rosyidah, Marsudi
Jurusan Matematika, F.MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia
Email: lailiyatur.rosyidah@gmail.com
Abstrak. Pengendalian persediaan digunakan untuk menentukan kebijakan dan mengawasi tingkat persediaan.
Permasalahan dari persediaan adalah bagaimana menentukan jumlah produksi optimal dengan biaya total
persediaan yang minimum. Dalam artikel ini, dibahas tentang model persediaan EPQ dengan variasi set up cost.
Model ini mempertimbangkan hubungan antara set up cost dan lama proses produksi. Hubungan antara set up cost
dan lama proses produksi ini dapat dipelajari dari fakta me mburuknya persediaan hasil produksi dalam berbagai
industri. Fungsi biaya dari model ini terbukti konveks dan didapat solu si optimal. Untuk menginterpretasikan
solusi dari model ini, diberikan contoh perhitungan dari data perusahaan. Hasil perhitungan menu njukkan bahwa
terdapat hubungan antara set up cost dan lama proses produksi, sehingga keduanya memiliki dampak yang
signifikan pada kuantitas produksi dan biaya total produksi. Hubungan dari set up cost dan lama proses produksi
adalah berbanding terbalik. Artinya ketika proses produksi berlangsung cepat maka set up cost semakin rendah,
hal ini menyebabkan kuantitas dan biaya total produksi mengalami penurunan, dan begitu juga sebaliknya.
Kata Kunci: model EPQ, perencanaan produksi, set up cost, periode produksi.

1. PENDAHULUAN
Model EPQ (Economic Order Quantity) merupakan suatu metode yang digunakan untuk
mempertimbangkan jumlah produksi dan jumlah permintaan hasil produksi. Sejak model matematika
EPQ diperkenalkan, tampak bahwa model tersebut masih diterima secara luas oleh banyak industri.
Terlepas dari penerimaan tersebut, banyak modifikasi model EPQ untuk mencocokkan dengan situasi
kehidupan nyata. Maghfiroh (2011) telah menurunkan model EPQ klasik yang memperbolehkan
adanya kekurangan (backorder) untuk menghindari terjadinya kerugian dalam proses produksi. Selain
itu asumsi untuk menurunkan model EPQ klasik adalah biaya pemesanan dan persiapan (set up cost)
tetap (Lee dan Rosenbalt, 1987). Namun, untuk proses produksi yang berjalan lama ditemukan fakta
bahwa proses produksi memburuk karena penyimpanan yang terlalu lama (Darwish dan Ben-Daya,
2007).
Berbeda dengan Lee dan Rosenbaltt (1987), dalam penelitian ini ditambahkan
yang
merupakan faktor dari set up cost ( ). Dalam penelitian ini berupa pertimbangan dalam menentukan
set up cost dan lama proses produksi untuk menghindari ketidaksempurnaan hasil produksi yang
mengakibatkan kerugian bagi perusahaan itu sendiri. Model EPQ dengan variasi set up cost ini
merupakan bagian dari artikel Darwish (2008).
2. METODOLOGI
Solusi optimal dari model ini diperoleh dengan menurunkan fungsi
terhadap
agar
diperoleh periode produksi
yang optimal. Selanjutnya menentukan kuantitas produksi
,
siklus persediaan
, dan total biaya produksi (
) optimal. Dalam penelitian ini digunakan
nilai dengan increment 0,05 dan 0,1. Input perhitungan EPQ dengan variasi set up cost adalah
tingkat permintaan dan produksi, biaya penyimpanan
, set up cost minimum dan maksimum,
serta periode produksi maksimal. Output perhitungan EPQ dengan variasi set up cost adalah
periode produksi, kuantitas produksi, siklus persediaan, dan total biaya produksi optimal.
3. ASUMSI
Batasan-batasan masalah yang menjadi asumsi dasar dalam artikel ini yaitu sebagai berikut.
1. Jumlah permintaan per satuan waktu
adalah konstan dan jumlah produksi tiap satuan waktu
diketahui secara pasti, dengan
.
2. Data yang digunakan dalam artikel ini adalah data historis di PT. Mitra Agung Raharja mulai dari
Januari 2012 sampai dengan September 2012.

3. Tingkat kedatangan bahan baku diketahui secara pasti, sehingga tidak terjadi kekurangan bahan
atau backorder.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Model EPQ klasik dapat dikembangkan dengan menambahkan set up cost yang
merupakan fungsi dari panjang proses produksi ( ). Secara matematis dapat dinotasikan
sebagai berikut:
{

(1)

Dengan adalah faktor dari set up cost ( ). Parameter


adalah konstanta positif yang dapat
diartikan sebagai set up cost dari model EPQ klasik (
). Sementara adalah panjang proses
produksi yang memerlukan set up cost maksimum (
) yang sekaligus menjadi batas
maksimal/batas atas dari set up cost.

Gambar 1. Perilaku

untuk nilai

yang berbeda

Gambar 1 menjelaskan bahwa set up cost meningkat dengan bertambahnya periode


produksi. Tetapi, kenaikan tersebut tidak signifikan setelah proses produksi mencapai waktu ,
dimana fungsi
cekung dan meningkat untuk
. Selain itu, kecekungan fungsi
menunjukkan bahwa dibutuhkan biaya lebih untuk mengatur proses produksi ketika
proses produksi itu sendiri berjalan dengan waktu tambahan. Di sisi lain ketika
, fungsi
cembung dan meningkat dengan bertambahnya . Hal ini menyebabkan bahwa kenaikan
pada set up cost akan lebih signifikan ketika waktu proses produksi meningkat. Perusahaan
tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa ketika
akan membutuhkan set up cost yang
lebih minimum. Model ini sangat cocok ketika dibutuhkan penyesuaian dalam hal bahan, mesin
dan juga hasil produksi.
4.1 Model Matematika EPQ dengan Variasi Set Up Cost
Total biaya produksi persatuan waktu adalah jumlah dari set up cost dan biaya simpan (holding
cost), secara matematis dapat ditulis:
(2)
{

Untuk mendapatkan nilai minimal dari persamaan (2), maka harus menurunkan persamaan
tersebut terhadap , sehingga didapat hasil sebagai berikut
(3)
{

Solusi optimal didapat ketika turunan pertama dari persamaan (3) bernilai nol. Oleh karena itu,

141

didapat periode produksi optimal sebagai berikut


(

(4)
{

Suatu fungsi dengan variabel tunggal bersifat stricly convex jika


ehingga untuk
membuktikan fungsi
bersifat stricly convex dan mempunyai nilai minimum, harus menurunkan
persamaan (2) sampai orde kedua dan mensubstitusikan persamaan (4) ke turunan kedua fungsi
tersebut, sehingga didapat
(

Untuk

dan tingkat produksi

tingkat permintaan

, jelas bahwa

dan

adalah suatu fungsi yang bersifat stricly convex dan mempunyai nilai minimum.
Model EPQ dengan variasi set up cost ini adalah menentukan solusi optimal dengan
mempertimbangkan set up cost dan lama proses produksi. Set up cost didapat dengan
mensubstitusikan persamaan (4) ke dalam persamaan (1). Solusi yang didapatkan adalah
(

Setelah didapatkan satu periode produksi dan set up cost yang optimal, maka kuantitas produksi
optimalnya
adalah
, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut
(

Siklus persediaannya

adalah

(( )

Untuk mendapatkan nilai minimal total cost


adalah mensubstitusikan nilai
persamaan (2). Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut.
(

ke dalam

4.2 Studi Kasus


Untuk mendapatkan gambaran secara numerik model matematika EPQ dengan variasi set up
cost, dilakukan studi kasus pada PT. Mitra Agung Raharja. Data yang digunakan adalah
5
5
. Dengan satuan waktu yang digunakan pada

142

data produksi dan permintaan adalah tiap kuartal, sedangkan jumlah unit hasil produksi adalah tiap
satu unit. Perhitungan dilakukan dengan software Delphi 2010. Hasil perhitungan dengan increment
5 dan
disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Periode, Kuantitas, Siklus Persediaan, dan Total Cost Optimal
0
0,05
0,1
0,15
0,2
0,25
0,3
0,35
0,4
0,45

0,6885
0,6643
0,6387
0,6118
0,5835
0,5538
0,5226
0,4900
0,4558
0,4201

464758,00
471980,07
479039,27
485863,92
492367,58
498446,10
503974,11
508800,73
512744,41
515586,65

3,44
3,32
3,19
3,06
2,92
2,77
2,61
2,45
2,28
2,10

1,7213
1,6607
1,5968
1,5296
1,4589
1,3846
1,3066
1,2249
1,1394
1,0503

929516,00
920361,14
910174,61
898848,25
886261,64
872280,68
856755,99
839521,21
820391,05
799159,30

0,5
0,55
0,6
0,65
0,7
0,75
0,8
0,85
0,9
0,95

0,3830
0,3446
0,3049
0,2643
0,2231
0,1816
0,1404
0,1004
0,0625
0,0283

517064,33
516860,25
514591,36
509793,66
501902,12
490221,93
473882,44
451749,07
422209,11
382419,19

1,92
1,72
1,52
1,32
1,12
0,91
0,70
0,50
0,31
0,14

0,9575
0,8614
0,7624
0,6608
0,5577
0,4539
0,3510
0,2510
0,1564
0,0708

775596,49
749447,36
720427,91
688221,44
652472,75
612777,41
568658,92
519511,43
464430,02
401540,15

Dari Tabel 1 terlihat bahwa periode produksi tercepat adalah ketika bernilai 0,95 dengan
periode produksi 0,0283 atau selama 2,547 hari, kuantitas produksi sebanyak 0 unit dan total cost
sebesar Rp 404.540,15. Sementara itu untuk periode produksi terlama adalah ketika bernilai 0
dengan periode produksi 0,6885 atau selama 61,97 hari, kuantitas produksi sebanyak 3 unit dan total
cost sebesar Rp 929.516,00. Hasil perhitungan memperlihatkan bahwa semakin kecil nilai maka
total cost semakin tinggi karena kuantitas barang yang dipesan dan diproduksi juga semakin banyak.
Sebaliknya, semakin besar nilai maka total cost semakin rendah karena kuantitas barang yang
dipesan dan diproduksi juga semakin kecil.
5. KESIMPULAN
Model EPQ dengan variasi set up cost ini diformulasikan untuk masalah persediaan dengan
lama periode produksi yang berbeda-beda, tergantung dari nilai yang merupakan faktor set up cost.
Dari ilustrasi penerapan pada PT. Mitra Agung Raharja dari model ini dapat dianalisis bahwa hasil
lebih signifikan dengan increment
. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa nilai increment
yang besar cocok untuk skala produksi kecil dan set up cost yang tinggi, sedangkan nilai
increment yang kecil cocok untuk skala produksi besar dan set up cost rendah. Selain itu, dari
tabel terlihat bahwa semakin besar nilai maka periode produksi akan semakin cepat. Oleh karena itu
set up cost juga semakin kecil, sehingga kuantitas produksi semakin sedikit dan total cost juga
semakin kecil. Hal ini bisa disesuaikan lagi dengan kebutuhan produksi.
6. UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis berterima kasih kepada Drs. Marsudi, MS., Dr. Isnani Darti, SSi., MSi, dan Kwardiniya
A., SSi., MSi. atas segala bimbingan, saran, dan kesabaran yang telah diberikan selama penulisan
artikel ini. Selain itu, penulis sangat berterima kasih kepada HJ. Miinah (Mama) dan H. Mukromin,
SE. (Ayah), Adik-adik, dan seluruh keluarga besar penulis, serta teman-teman semua atas segala doa,
bantuan, dan motivasi yang tidak pernah habis diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Darwish, M.A. dan Ben-Daya, M., (2007), Effect of inspection errors and preventive maintenance on a
two-stage production inventory system, International Journal of Production Economics, 107(1),
hal. 301313.
Darwish, M.A., (2008), EPQ Models With Varying Set Up Cost, International Journal of Production
Economic, 113, hal. 297-306.
Lee, H.L. dan Rosenblatt, M.J., (1987), Simultaneous determination of production cycles and
inspection schedules in a production system, Management Science, 33(9), hal. 11251136.
Maghfiroh, R.E., (2011), Model Matematika EPQ (Economic Production Quantity) dengan Backorder,
Skripsi, Universitas Brawijaya, Malang. Indonesia.

143