Anda di halaman 1dari 3

daya dukung sumber daya air wilayah dengan pendekatan tapak air

Pendahuluan
Dewasa ini eksploitasi sumber daya air dilakukan secara besar-besaran. Dampak yang
dihasilkan adalah semakin berkurangnya sumber-sumber mata air yang berkualitas. Secara
umum bentuk eksploitasi yang berlebih dilakukan oleh kegiatan industri-industri tertentu.
Tidak jarang limbah kegiatan industri dibuang langsung ke badan sungai tanpa dilakukan
penyaringan terlebih dahulu. Akibatnya, sungai menjadi tercemar dan tidak bisa
dimanfaatkan lagi oleh masyarakat untuk minum, mandi bahkan menjadi air yang berkualitas
rendah bagi irigasi tanaman.
Tinjauan Pustaka
Sumber air atau mata air adalah air tanah yang keluar secara alami ke permukaan
tanah, kualitas dan jumlahnya tidak terlalu dipengaruhi oleh musim. Ketersediaan sumber air
harus dijaga dan dilestarikan sehingga pemanfaatan dan keberadaannya berlangsung lama.
Air yang tersedia dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat pada suatu wilayah untuk berbagai
macam keperluan sehari-hari seperti irigasi pertanian, untuk minum, mencuci dan
sebagainya. Pada cakupan satu negara, jumlah mata air yang tersedia dan pemanfaatannya
akan berbeda. Salah satu model yang digunakan beberapa ahli hidrologi untuk
mengidentifikasi jumlah serta daya dukung dari sumber daya air yakni dengan pendekatan
tapak air. Tapak air didefinisikan sebagai jumlah volume air untuk memenuhi kebutuhan
penduduknya. Setiap negara punya tapak air yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan
penduduknya yang tergantung dari kesejahteraannya, baik penduduk dengan rata-rata
ekonomi rendah, menengah atau ekonomi tinggi berpengaruh terhadap pola dan daya
konsumsi terhadap sumber daya air. Tapak air dari sebuah negara didefinisikan sebagai
volume air yang diperlukan untuk memproduksi barang dan jasa untuk dikonsumsi oleh
penduduk dari negara itu.
Pembahasan
Ruini et al (2013) menjelaskan mengenai konsep tapak air adalah sebagai indikator
penggunaan sumber daya air baik secara langsung dan tidak langsung. Kemudian Ruini
menambahkan bahwa konsep ini dapat diaplikasikan untuk keperluan bisnis pertanian untuk
menganalisa tentang tingkat produktivitas serta kebutuhan tanaman terhadap air. Hoekstra
(2005) memperkenalkan konsep tapak air ini sebagai salah satu alat membantu menghitung

jumlah penggunaan sumber daya air secara langsung ataupun tidak langsung yang digunakan
untuk memproduksi suatu barang dan jasa. Tapak air dikenal dalam satuan volume per unit
masa (m3/ton or litre/kg), unit per time (m3/month, m3/year), atau unit per energy (m3/MJ,
m3/GJ). Dalam penelitiannya yang berjudul The water footprint of sugarcane and cassava in
northern Thailand, Kongboon (2012) menyebutkan bahwa analisa tapak air terdiri dari
komponen yakni ketersediaan blue, green, dan grey water. Blue water menggambarkan
keberadaan air di permukaan atau di bawah permukaan dalam satu daerah tangkapan air.
Green water lebih fokus kepada air huja yang dievaporasikan selama tanaman tumbuh. Grey
water footprin adalah volume dari air bersih yang terasimilasi dengan air limbah sehingga
diketahui standard dari kualitas airnya.
Di Indonesia, Daerah Aliran Sungai (DAS) suatu sungai yang mengalir dari hulu ke
hilir melalui melalui beberapa kecamatan, kabupaten, provinsi memilki peranan nyata dalam
setiap pemenuhan kebutuhan masyarakatnya. Penggunaan sumber-sumber air domestik terdiri
dari penggunaan air untuk pertanian, industri dan sektor domestik.Total volume air yang
digunakan untuk sektor pertanian dihitung berdasarkan volume total panen yang dihasilkan
sama dengan kadar air virtual. Kadar air virtual (m3/ton) dari tanaman utama dihitung
berdasarkan kebutuhan air tanaman. Kebutuhan air tanaman untuk setiap tanaman dihitung
menggunakan metodologi tertentu yang dikembangkan oleh FAO.
Konsep Tapak Air : Kaitannya dengan daya dukung terhadap kebutuhan manusia
Orang memanfaatkan air untuk minum, memasak dan mencuci, tetapi bahkan lebih
untuk memproduksi hal-hal seperti makanan, kertas, pakaian katun, dll. Total volume air
tawar yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa yang dikonsumsi oleh individu,
pebisnis atau pemanfaatan oleh suatu negara harus diketahui jumlahnya. Dalam suatu kasus
pemanfaatan total volume air yang digunakan untuk produksi pertanian, termasuk curah
hujan efektif dan air irigasi. Pada umumnya, produk-produk tanaman telah menurunkan
volume air virtual daripada hasil ternak. Misalnya, volume air virtual rata-rata total jagung,
gandum dan padi adalah 900, 1300 dan 3000 m3 / ton masing-masing, sedangkan volume air
virtual daging ayam, babi dan daging sapi adalah 3900, 4900 dan 15500 m3 / ton masingmasing. Nilai-nilai yang dapat dihitung ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi dalam
pemanfaatan air secara bijaksana agar kelestarainnya dapat terjaga. Konsep tapak air ini
memiliki indikator berbasis alur penggunaan air yang dapat dihitung sehingga memberikan
informasi berapa jumlah air yang dikonsumsi dan alokasi yang tersedia.

Daftar Pustaka
Hoekstra, A.Y., Hung, P.Q., (2005). Globalization of water resource: international virtual
water
flows in relation to crop trade. Global Environment Change 15 (1), 45-56.
Kongboon, R dan Sate Sampattagul. 2012. The water footprint of sugarcane and cassava in
northern Thailand. Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineer,
Chiang Mai University
Ruini L et al. 2013. Water footprint of a large-sized food company : The case of Barilla pasta
Production. Water resource and Industru 1-2 (2013) 7-24