Anda di halaman 1dari 16

I.

Judul Percobaan

: Penentuan kadar glukosa darah

II. Hari, Tanggal Percobaan : Kamis, 13 November 2014


III. Tujuan Percobaan

: Menentukan kadar glukosa dalam darah

IV. Dasar Teori


Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya
oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada
darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein)
yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat
terikatnya molekul-molekul oksigen. Bagian cairan dalam darah disebut
dengan plasma darah yang terdiri dari 90% H2O dan 10% komponen terlarut.
Salah satu komponen organik non protein utama dalam plasma darah adalah
glukosa.
Glukosa memiliki rumus empiris C6H12O6 yang juga dapat ditulis
sebagai (CH2O)6 dan memiliki berat molekul 180,18. Glukosa adalah suatu
aldoheksosa, karena memiliki gugus aldehid, lima atom karbon dan satu
oksigenya membentuk cincin (cincin piranosa).

Gambar 1 struktur glukosa


Glukosa merupakan salah satu jenis karbohidrat penting dan termasuk
dalam kelompok gula reduksi. Glukosa dapat digunakan untuk mereduksi ion
kupri menjadi kupro dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton bebas.
Sehingga reaksi ini dapat digunakan sebagai dasar dalam penentuan kadar
gula darah atau glukosa.
Glukosa darah akan mereduksi ion Cu2+ dalam suasana basa, yang
hasil reduksinya akan bereaksi dengan arsenomolibdat menghasilkan warna
hijau kebiruan. Larutan ini diukur absorbansinya pada panjang gelombang
maksimum yaitu 660 nm karena warna hijau memiliki rentang panjang

gelombang pada 610-750 nm.. Dengan menggunakan persamaan LambertBeer menyatakan:

Dimana: A: Absorbansi (serapan cahaya)


k: Koefisien ekstinksi molar larutan
l: Tebal kuvet
C: Konsentrasi sampel
Berdasarkan hukum Lambert-Beer, serapan cahaya berbanding lurus dengan
konsentrasi.
Dalam analisis absorbansi, metode yang digunakan adalah UV-vis
dimana lat ini biasanya digunakan untuk analisis kimia kuantitatif dan
terkadang juga kualitatif. Prinsip kerja spektofotometer UV-vis didasarkan
pada fenomena penyerapan sinar oleh spesi kimia tertentu di daerah ultra
lembayung (ultraviolet) dan sinar tampak (visible). Konsentrasi glukosa darah
merupakan faktor yang sangat penting untuk kelancaran kerja tubuh. Kadar
normal glukosa dalam darah adalah 70-0 mg/100mL. Keadaan dimana
glukosa berada dibawah 70-90 mg/100mL disebut hipoglisemia, sedangkan
diatas 90 mg/100mL disebut hiperglisemia. Hormon insulin berfungsi untuk
merangsang pengubahan glukosa ke glikogen untuk disimpan dalam hati dan
merangsang oksidasi glukosa untuk tujuan respirasi dalam sel. Sehingga
apabila kadar glukosa terlampau rendah, kurang dari jumlah normal, sel alfa
pada kelenjar Langerhans akan mensekresikan lebih banyak hormon
glukagon, kadar glukosa dalam darah akan naik, proses ini akan berlanjut
sehingga kadar glukosa dalam darah berada pada jumlah normal.

V. Alat dan Bahan


Alat:
Spektronik 20

1 set

Sentrifuge

1 set

Tabung reaksi

7 buah

Water Bath

1 set

Gelas ukur 10 mL

1 buah

Gelas Kimia 100 mL

2 buah

Pipet ukur 10 mL

1 buah

Propipet

1 buah

Pipet tetes
Bahan:
Larutan Cu alkalis
Larutan Ba(OH)2 0,3N
Larutan ZnSO4.7H2O 5%
Larutan standar glukosa 1mg/L
Pereaksi arsenomolibdat
Aquades

VI. Alur Percobaan


1. Deproteinasi filtrat darah
0,1 mL darah yang oxalated
Dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge
yang berisi 1,90 mL aquades
Diaduk hingga merata
+1,5 mL Ba(OH)2 0,3N
Diaduk hingga merata
+1,5 mL ZnSO4.7H2O 5%
Diaduk hingga merata
Didiamkan selama 5 menit
Disentrifuge selama 10 menit
Didekantasi
Filtrat

Residu

Dilakukan uji biuret (3 tetes)


Filtrat darah bebas protein

2. Penentuan kadar glukosa darah


1 mL filtrat darah bebas protein
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
+1 mL pereaksi Cu alkalis
Dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit
Dimasukkan ke dalam air dingin
+1 mL pereaksi arsenomolibdat
Diaduk hingga merata
Diukur absorbansinya dengan spektronik 20
Pada panjang gelombang 660 nm
Absorbansi

3. Pembuatan kurva standar


1 mL glukosa 0,02 mg/mL; 0,04 mg/mL;
0,06 mg/mL; 0,08 mg/mL
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi berbeda
+1 mL pereaksi Cu alkalis
Dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit
Dimasukkan ke dalam air dingin
+1 mL pereaksi arsenomolibdat
Diaduk hingga merata
Diukur absorbansinya dengan spektronik 20
Pada panjang gelombang 660 nm
Absorbansi masing-masing
larutan

4. Larutan Blanko
1 mL aquades
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
+1 mL pereaksi Cu alkalis
Dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit
Dimasukkan ke dalam air dingin
+1 mL pereaksi arsenomolibdat
Diaduk hingga merata
Diukur absorbansinya dengan spektronik 20
Pada panjang gelombang 660 nm
Absorbansi

VII.Hasil Pengamatan
No.
1.

Prosedur Percobaan

Hasil Pengamatan

Deproteinasi filtrat darah


0,1 mL darah yang oxalated
Dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge
yang berisi 1,90 mL aquades

Dugaan/Reaksi

Sebelum:
Darah = merah kental.
Aquades = tidak berwarna.
Ba(OH)2 = tidak berwarna.
ZnSO4.7H2O = tidak berwarna.

- Filtrat darah yang dihasilkan bebas


protein.

Sesudah:
Darah + aquades = merah encer.
Darah + aquades + Ba(OH)2 = larutan
berwarna merah.
Darah + aquades + Ba(OH)2 +
ZnSO4.7H2O = larutan keruh.
Didekantasi = filtrat darah (tidak
berwarna) + residu ( darah yang
mengendap).
Diuji biuret = larutan keruh.

- Ba(OH)2 : untuk mengendapkan


albumin.

- Ketika diuji biuret: tidak berubah


menjadi ungu (Adanya protein).

Diaduk hingga merata


+1,5 mL Ba(OH)2 0,3N

Diaduk hingga merata


+1,5 mL ZnSO4.7H2O 5%
Diaduk hingga merata

Didiamkan selama 5 menit

Disentrifuge selama 10 menit


Didekantasi
Filtrat
Dilakukan uji biuret (3 tetes)
Filtrat darah bebas protein

Residu

- ZnSO4.7H2O untuk mempercepat


pengendapan.

Kesimpulan
Filtrat darah bebas
protein, dibuktikan
dengan tidak terjadinya
perubahan warna
menjadi ungu ketika
penambahan biuret.

2.

Penentuan kadar glukosa darah


1 mL filtrat darah bebas protein
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Sebelum:
- Cu alkalis = larutan biru jernih.
- Arsenomolibdat = larutan kuning.

+1 mL pereaksi Cu alkalis
Dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit
Dimasukkan ke dalam air dingin

+1 mL pereaksi arsenomolibdat
Diaduk hingga merata

Diukur absorbansinya dengan spektronik 20 pada panjang gelombang 660 nm


Absorbansi

3.

Pembuatan kurva standar


1 mL glukosa 0,02 mg/mL; 0,04 mg/mL;
0,06 mg/mL; 0,08 mg/mL
Dimasukkan

ke

Sesudah:
Filtrat darah + Cu alkalis:
Sampel 1 = biru muda keruh (+).
Sampel 2 = biru muda keruh (++).
Dimasukkan air mendidih = terbentuk
endapan.
Dimasukkan air dingin = endapan
makin banyak.
Ditambah arsenomolibdat :
Sampel 1 = hijau (+).
Sampel 2 = hijau (++).
Diuji UV-Vis:
Absorbansi sampel 1 = 0.568
Absorbansi sampel 2 = 1.400

Sebelum:
- Larutan glukosa = tidak berwarna
- Cu alkalis = larutan biru jernih.
- Arsenomolibdat = larutan kuning.

dalam tabung reaksi

berbeda
+1 mL pereaksi Cu alkalis

Sesudah:
- Larutan glukosa + Cu alkalis = larutan
biru keruh.
- Dimasukkan air mendidih = larutan

- Cu alkalis mereduksi glukosa.


O

OH

HO

OH

Kadar glukosa sampel


darah Ruwanti adalah
15,75 mg/100 mL dan
untuk sampel darah Via
sebesar 38,77 mg/100
mL.

OH

+ Cu2+(aq) Cu2O(s)
- Arsenomolibdat melarutkan endapan
Cu2O.
Cu2O(s) + Mo6+(aq) + 4H+(aq) 2Cu2+(aq) +
Mo5+(aq) + H2O(l)
- Dimasukkan ke dalam air mendidih
agar reaksi berjalan cepat dan larutan
menjadi homogen.
CH 2OH

- Cu alkalis mereduksi glukosa.


O

OH

HO

OH

OH
CH 2OH

+ Cu2+(aq) Cu2O(s)

Diperoleh persamaan y
y = 3,615 x 0,001
dengan R2 = 0.9931.

Dimasukkan ke dalam air mendidih selama


20 menit

Dimasukkan ke dalam air dingin


+1 mL pereaksi arsenomolibdat
Diaduk hingga merata
Diukur absorbansinya dengan spektronik
20 pada panjang gelombang 660 nm
Absorbansi masing-masing larutan

4.

Larutan Blanko
2 mL aquades
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
+ 2 mL pereaksi Cu alkalis

Dimasukkan ke dalam air mendidih


selama 20 menit
Dimasukkan ke dalam air dingin
+ 2 mL pereaksi arsenomolibdat

Diaduk hingga merata


Diukur absorbansinya dengan spektronik
20 pada panjang gelombang 660 nm
Absorbansi

biru jernih.
Dimasukkan air dingin = larutan biru.
Ditambah arsenomolibdat:
Standar 0,02 mg/mL (+).
Standar 0,04 mg/mL (++).
Standar 0,06 mg/mL (+++).
Standar 0,08 mg/mL (++++).
Absorbansi standar 0,02 = 0.075.
Absorbansi standar 0,04 = 0.142.
Absorbansi standar 0,06 = 0.205.
Absorbansi standar 0,08 = 0.295.

- Arsenomolibdat melarutkan endapan


Cu2O.
Cu2O(s) + Mo6+(aq) + 4H+(aq) 2Cu2+(aq) +
Mo5+(aq) + H2O(l)
- Dimasukkan ke dalam air mendidih
agar reaksi berjalan cepat dan larutan
menjadi homogen.
- Kurva standar untuk menentukan
konsentrasi atau kadar glukosa darah
dengan persamaan y = ax + b.

Sebelum:
Aquades = larutan tidak berwarna.
Cu alkalis = larutan biru jernih.
Arsenomolibdat = larutan kuning.
Sesudah:
Aquades + Cu alkalis = larutan biru
jernih.
Dimasukkan ke dalam air mendidih =
larutan biru.
Dimasukkan ke dalam air dingin =
larutan biru.
Ditambah arsenomolibdat = larutan
hijau kekuningan.
Diuji UV-Vis = Absorbansi 0.

H2O(l) + Cu2+(aq) Cu(OH)2

Larutan blanko
digunakan sebagai
pembanding
Absorbansi blanko 0

VIII. Analisis dan Pembahasan


Deproteinasi Filtrat Darah
Pada tahap ini bertujuan untuk memperoleh filtrat darah yang bebas
protein dari sampel yang berupa darah oxalated.
Mula-mula 0,1 mL atau 2 tetes darah oxalated yang berwarna
merah kental dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge yang telah berisi 1,9
mL aquades kemudian diaduk hingga merata. Penambahan aquades pada
percobaan ini bertujuan untuk mengencerkan sampel darah yang digunakan
sehingga albumin yang terkandung dalam darah akan larut oleh aquades.
Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi
oleh panas dan biasanya terdapat dalam serum darah. Lalu ditambahkan 1,5
mL larutan Ba(OH)2 0,3N yang berupa larutan tidak berwarna dan diaduk
hingga merata yang kemudian dihasilkan larutan berwarna merah.
Penambahan larutan Ba(OH)2 berfungsi untuk memberikan suasana basa,
protein akan terdenaturasi menjadi bentuk primernya sehingga albumin
mengendap. Kemudian ditambahkan 1,5 mL larutan ZnSO4.7H2O 5% yang
berupa larutan tidak berwarna lalu diaduk. Setelah penambahan ZnSO4,
larutan menjadi lebih keruh (terdapat endapan). Pada penambahan ZnSO4
5% berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat terjadinya reaksi
pengendapan albumin oleh Ba(OH)2. Lalu didiamkan selama 5 menit agar
terbentuk endapan albumin secara sempurna. Karena berat jenis yang lebih
besar dari berat jenis glukosa yang akan dianalisis, maka pemisahan
selanjutnya dilakukan

dengan sentrifuge

selama 10 menit

untuk

mengendapkan protein. Pengendapan ini bertujuan untuk memisahkan


protein dari glukosa karena akan mengganggu pengukuran. Lalu didekantasi
dan diperoleh filtrat darah yang bebas protein, kemudian untuk memastikan
apakah filtrat tersebut masih mengandung protein, maka dilakukan uji
biuret. Filtrat tersebut ditambahkan 3 tetes biuret yang berupa larutan biru
jernih. Setelah ditambahkan biuret, tidak terjadi perubahan warna namun
menjadi agak keruh. Hal ini menunjukkan bahwa filtrat tersebut bebas
protein.

Penentuan kadar glukosa darah


Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar glukosa darah
yang terdapat pada filtrat bebas protein dari percobaan pertama.
Mula-mula 1 mL filtrat darah bebas protein dimasukkan ke dalam
tabung reaksi lalu ditambahkan 1 mL pereaksi Cu alkalis yang berupa
larutan biru jernih, dihasilkan larutan biru muda keruh untuk sampel darah
Ruwanti dan biru muda keruh (+) untuk sampel darah Via. Penambahan Cu
alkalis disini berfungsi sebagai pereduksi glukosa dalam sampel. Hal ini
sesuai dengan prinsip uji Tauber yang akan memberikan hasil positif
(larutan biru) pada larutan yang mengandung monosakarida (glukosa). Ion
kupri (Cu2+) akan direduksi oleh gula menjadi kupro (Cu+) dan mengendap
sebagai Cu2O (kuprooksida). Berikut reaksi yang terjadi
O

OH

HO

OH

OH
CH 2OH

+ Cu2+(aq) Cu2O(s)

Kemudian dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit


untuk mempercepat reaksi oleh Cu alkalis, sehingga terbentuk endapan.
Kemudian dimasukkan ke dalam air dingin dan diperoleh endapan yang
lebih banyak. Setelah itu ditambahkan 1 mL pereaksi arsenomolibdat yang
berwarna kuning jernih dan diaduk hingga merata, dihasilkan larutan
berwarna hijau untuk sampel darah Ruwanti dan larutan berwarna hijau (+)
untuk sampel darah Via. Larutan menjadi berwarna hijau karena larutan
mengandung asam laktat dan ion Cu2+. Selain itu endapan yang terbentuk
akibat penambahan Cu alkalis larut. Penambahan pereaksi arsenomolibdat

tersebut bertujuan agar Cu2O dapat larut kembali, dimana ion Cu+
teroksidasi kembali menjadi ion Cu2+. Berikut reaksi yang terjadi
Cu2O(s) + Mo6+(aq) + 4H+(aq) 2Cu2+(aq) + Mo5+(aq) + H2O(l)
Endapan perlu dilarutkan karena pada pengukuran menggunakan
spektrofotometer UV-Vis tidak boleh terdapat endapan pada sampel karena
akan mengganggu penyerapan pada saat pengukuran. Penentuan kadar
selanjutnya akan dilakukan dengan cara spektrofotometri dimana absorbansi
berbanding lurus dengan konsentrasi. Untuk mengukur absorbansinya
menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 660 nm
karena warna hijau memiliki rentang panjang gelombang pada 610-750 nm.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa absorbansi glukosa yang diperoleh
dari filtrat darah Ruwanti adalah 0.568 dan filtrat darah Via sebesar 1.400.
Hasil pengukuran ini kemudian digunakan untuk menghitung kadar glukosa
dalam darah.
Pembuatan kurva standar
Pada percobaan ini bertujuan untuk untuk membuat kurva standar
dan akan diperoleh kurva yang memiliki persamaan regresi untuk digunakan
sebagai penentuan kadar glukosa darah pada percobaan kedua.
Mula-mula larutan glukosa 0,08 mg/mL; 0,06 mg/mL; 0,04 mg/mL;
0,02 mg/mL dibuat dari pengenceran larutan glukosa 0,1 mg/mL dengan
menggunakan rumus pengenceran berikut
M1 x V1 = M2 x V2
Untuk perhitungan pengenceran dapat dilihat pada lampiran
perhitungan. Kemudian diambil 1 mL untuk tiap larutan standar lalu
dimasukkan ke dalam tabung reaksi berbeda lalu ditambahkan 1 mL
pereaksi Cu alkalis yang berwarna biru jernih. Penambahan Cu Alkalis
mengakibatkan ion kupri (Cu2+) akan direduksi oleh glukosa menjadi kupro
(Cu+) dan mengendap sebagai Cu2O (kuprooksida).

Berikut reaksi yang terjadi


O

OH

HO

OH

OH
CH 2OH

+ Cu2+(aq) Cu2O(s)

Kemudian dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit


untuk mempercepat reaksi. Kemudian dimasukkan ke dalam air dingin.
Setelah itu ditambahkan 1 mL pereaksi arsenomolibdat yang tidak berwarna
dan diaduk hingga merata. Dihasilkan larutan berwarnan hijau dimana
warnanya semakin pekat untuk larutan standar dengan konsentrasi yang
lebih tinggi. Larutan menjadi berwarna hijau karena larutan mengandung
asam laktat dan ion Cu2+. Selain itu endapan yang terbentuk akibat
penambahan Cu alkalis larut. Penambahan pereaksi arsenomolibdat tersebut
bertujuan agar Cu2O dapat larut kembali, dimana ion Cu+ teroksidasi
kembali menjadi ion Cu2+. Berikut reaksi yang terjadi
Cu2O(s) + Mo6+(aq) + 4H+(aq) 2Cu2+(aq) + Mo5+(aq) + H2O(l)
Lalu diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis
pada panjang gelombang 660 nm karena warna hijau memiliki rentang
panjang gelombang pada 610-750 nm. Berikut hasil pengukuran yang
diperoleh
Konsentrasi Larutan standar (mg/mL)

Absorbansi

0,02

0.075

0,04

0.142

0,06

0.205

0,08

0.295

Salah satu nilai aborbansi sampel darah, yakni sampel darah Via
(1,400) tidak memasuki rentang nilai absorbansi standar (0,075-0,295). Hal
ini bukanlah masalah karena sebenarnya nilai standar yang mengikuti nilai
sampel darah sehingga nilai standar dapat dirubah namun sampel tidak.
Kurva kalibrasi:

grafik konsentrasi vs absorbansi


0.35
0.3

y = 3.615x - 0.0015
R = 0.9931

absorbansi

0.25
0.2
absorbansi

0.15

Linear (absorbansi)

0.1
0.05
0
0

0.02

0.04

0.06

0.08

0.1

konsentrasi

Nilai

absorbansi

yang

diperoleh

berbanding

lurus

dengan

konsentrasi. Dari kurva diatas diperoleh persamaan y = 3,615 x 0,001


dengan R2 = 0.9931. Kemudian dari nilai y tersebut dapat dihitung kadar
glukosa pada masing-masing sampel darah dengan mensubstitusi absorbansi
yang didapat ke dalam y. Dari perhitungan, diperoleh kadar glukosa darah
untuk Ruwanti sebesar 15,75 mg/100 mL dan untuk Via sebesar 38,77
mg/100 mL. Kadar gula darah tersebut sangatlah rendah dan bisa dikatakan
hipoglisemia, yang mempunyai kadar gula darah dibawah 70-90 mg/100 ml.
Untuk perhitungan perolehan kadar glukosa darah dapat dilihat pada
lampiran perhitungan.
Larutan Blanko
Pada percobaan ini bertujuan untuk membuat larutan blanko
sebagai pembanding, untuk menentukan nilai kandungan glukosa murni,

karena nilai larutan blanko mempunyai nilai tersendiri yang terkandung


dalam glukosa. Sehingga untuk memperoleh nilai glukosa murni harus
dikurangi dengan nilai larutan blanko. Larutan blanko tidak mengandung
protein ataupun glukosa. Perlakuan dalam pembuatan larutan blanko sama
halnya dengan pembuatan larutan standar ataupun pembuatan larutan
sampel, tetapi yang membedakan adalah zat yang diberi perlakuan adalah 2
mL aquades.
Mula-mula 2 mL aquades dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu
ditambahkan 2 mL pereaksi Cu alkalis yang berwarna biru jernih, dan
dihasilkan larutan biru jernih. Berikut reaksi yang terjadi
H2O(l) + Cu2+(aq) Cu(OH)2
Kemudian dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit.
Kemudian dimasukkan ke dalam air dingin. Setelah itu ditambahkan 2 mL
pereaksi arsenomolibdat yang berwarna kuning dan diaduk hingga merata
dan dihasilkan larutan berwarna hijau kekuningan, lebih pudar dari warna
larutan standar 0,02 mg/mL. Lalu diukur absorbansinya menggunakan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 660 nm karena warna
hijau memiliki rentang panjang gelombang pada 610-750 nm dan diperoleh
absorbansi 0.

IX. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
1. Filtrat darah yang digunakan dalam sampel telah bebas dari protein yang
ditandai dengan tidak terjadinya perubahan warna menjadi ungu pada saat
pengujian biuret.
2. Dengan pembuatan kurva kalibrasi larutan standar menghasilkan
persamaan regresi : y = 3,615 x 0,001 dengan R2 = 0.9931.
3. Kadar glukosa darah untuk sampel darah Ruwanti sebesar 15,75 mg/100
mL dan untuk sampel darah Via sebesar 38,77 mg/ 100 mL.

DAFTAR PUSTAKA
Anna Poedjiadi, 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit UI-Press: Jakarta.
Dhiena. 2012. Analisis protein. http://id.scribd.com/doc/95629531/AnalisisKadar-Glukosa( diakses pada 18 November 2014)
Fessenden, JR & Fessenden, JS. 1986. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga.
Jakarta: Erlangga.
Lehninger, A. L. 1995. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.
Tim. 2012. Petunjuk Praktikum Biokimia. Surabaya: UNESA Press

JAWABAN PERTANYAAN
1. Tentukan kadar glukosa darah dalam mg glukosa/100 mL darah!
Jawab:
Sampel darah Ruwanti
y = 3,615x 0,0015
0.568 = 3.615x 0,0015
x = 0,1575 mg/mL = 15,75 mg/100 mL
Sampel darah Via:
y = 3,615x 0,0015
1.400 = 3,615 x - 0,0015
x = 0,3877 mg/mL = 38,77 mg/100 mL
Jadi, kadar glukosa darah untuk sampel darah Ruwanti sebesar 15,75 mg/100
mL dan untuk sampel darah Via sebesar 38,77 mg/ 100 mL.

2. Apa fungsi proses pendidihan pada percobaan diatas?


Jawab:
Fungsi proses pendidihan untuk mempercepat reaksi ion Cu+ yang direduksi
oleh gula menjadi ion kupro (Cu2+) dan mengendap sebagai Cu2O.
3. Jelaskan peranan hormon insulin dalam proses pengaturan kadar glukosa!
Jawab:
Hormon insulin berfungsi untuk merangsang pengubahan glukosa ke glikogen
untuk disimpan dalam hati dan merangsang oksidasi glukosa untuk tujuan
respirasi dalam sel. Sehingga apabila kadar glukosa terlampau rendah, kurang
dari jumlah normal, sel alfa pada kelenjar Langerhans akan mensekresikan
lebih banyak hormon glukagon, kadar glukosa dalam darah akan naik, proses
ini akan berlanjut sehingga kadar glukosa dalam darah berada pada jumlah
normal.