Anda di halaman 1dari 109

Kompilasi berita Media

oleh HH

ntuk anda yang ingin berjuang menentang keserakahan sekelompok kecil orang
kaya yang didukung negara guna merusakkan ibu pertiwi, kami

siapkan

kompilasi sejumlah pemberitaan media yang kiranya memberikan anda

informasi dasar. Tentu anda sendiri bisa melakukan sport di dunia maya untuk
mendapatkan lebih banyak lagi dan syering dengan rekan-rekan anda. Dari referensi
yang diberikan pada daftar kepustakaan hasil studi tentang tambang, anda bisa telusuri
segala informasi yang bisa anda cari sendiri. Anda tentu membutuhkan investigasi yang
jauh lebih sistematik, agar anda tahu apa yang sedang anda perjuangkan.
Bahan terbagi atas 3 bagian:
1) Hasil studi tentang tambang, khususnya tambang biji besi di Sikka & Ende.
Termasuk dalam kelompok ini juga data dari pihak pemerintah tentang potensi
tambang
2) Berita Media tentang pro-kontra pertambangan biji besi di Sikka
3) Berita Media tentang pro-kontra tambang biji besi di wilayah lain di Flores
Catatan. Gambar-gambar yang dimuat dalam laporan hasil studi, tidak semuanya dapat
dicopy. Karena itu, anda tidak akan mendapatkannya secara lengkap.
Selamat membaca.
Wairklau, 19 April 2012
HH.

INVENTARISASI DAN EKSPLORASI MINERAL LOGAM


DI KABUPATEN SIKKA DAN KABUPATEN ENDE PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
KERJASAMA DIM KORES FASE I, TAHUN
ANGGARAN 2003
Oleh :
Franklin
SUBDIT. MINERAL LOGAM

ABSTRACT
The geology of the survey area consists of Miocene volcanics of Kiro Formation and Tanahau
Formation and intrusive of granodiorite and quartz diorite, Pliocene Laka Formation, and
Quaternary volcanics. Based on whole chemistry result of four volcanic rocks from this area
indicates the rocks belong to calk-alkaline tholeitic type.
Most of base metal mineralization was hosted in andesitic to dacitic tuff of Kiro Formation and
Tanahau Formation and intrusive of granodiorite with the occurrences of structure controlled
epithermal type and porphyry (?) mineralization. The structures controls indicate based on
Photogeological study using satellite imagery revealed the prominent direction of NNW to NNE in
the distribution of lineaments and fracture traces in the whole survey area. The mineralization of the
area appears to have a closed relation with NW-SE and NE-SW fault systems.
Indications of primary gold and base metal mineralization were caught at several places in the
survey area. The indications are; occurrence of gold in pan concentrates, distribution of quartz
floats, and outcrops of quartz veins. 21 samples of quartz vein and disseminated wall rocks were
collected from all over the survey area and provided for assaying. The analytical rock results for
copper are high values (2%), but gold were disappointing showing very low values (50 ppb).
The fluid inclusion data of the Sikka-Ende area indicate that the main base metal (Cu-Pb-Zn) and
gold mineralization was led by the boiling coupled with later cooling and dilution of ore fluids. The
inclusions are divided into high temperature type and low temperature type, and are the result of
different processes of mineralization. In the mineralization process, the temperature of formation
was estimated as 320 C in the early stage and 170 C in the late stage, and the pressure of
formation was estimated as 10 to120 bars.
Through the geochemical soil prospecting 4 gold/base metal anomalous zones were defined as
follows,
1) Au-Cu-Mo anomaly around Lowo Deba and Ag-Pb-Zn anomaly, NE extension of Lowo
Deba at block A in Wai Wajo area
2) Cu-Pb-Zn anomaly between Diang Gajah and Lia Kutu-Ghera at block C in Wai Wajo area
4

3) Au-Ag-Cu, Pb-Zn, and Mo anomaly in Lowo Polu-Lowo Pelongo in Magepanda area


4) Au-Ag, Cu-Zn and Pb-Mo anomalies in Keli Ndati and Kogogamba in Ratenggo area.

SARI
Geologi daerah penyelidikan disusun oleh batuan gunungapi Miosen Formasi Kiro dan Formasi
Tanahau, granodiorit dan diorit kuarsa,Batuan sedimen Formasi Laka Pliosen serta batuan
gunungapi Kuarter.Batuan gunungapi di daerah ini termasuk tipe kalk-alkalin toleitik
Mineralisasi di daerah ini umumnya ditemukan pada tufa andesitik Formasi Kiro dan tufa dasitik
Formasi Tanahau serta terobosan granodiorit yang menunjukkan tipe epitermal dan porfiri? serta
dikontrol oleh struktur. Berdasarkan studi fotogeologi, struktur yang dominan serta berhubungan
dengan mineralisasi adalah NW-SE dan NE-SW. Indikasi emas dan logam dasar ditemukan
dibeberapa tempat pada pendulangan, urat kuarsa apungan dan singkapan. Dari 21 conto batuan
yang dianalisis menunjukkan kandungan tembaga yang cukup tinggi (2%) sementara emas hanya
menunjukkan kandungan 50 ppb.
Studi inklusi fluida pada empat conto urat kuarsa di daerah penyelidikan menunjukkan mineralisasi
Cu-Pb-Zn dan Au terbentuk pada zona boiling dan mempunyai dua temperatur pembentukan
mineralisasi yaitu yang bertemperatur rendah (170 C) dan bertemperatur tinggi (320 C) serta
tekanan formasi diperkirakan antara 10 sampai 120 bar.
Geokimia prospeksi conto tanah di daerah ini menunjukkan ada empat zona anomali logam dasar
dan emas yaitu
1) Anomali Au-Cu-Mo sekitar Lowo Deba dan anomali Ag-Pb-Zn, ke arah NE Lowo Deba
pada blok A di daerah Wai Wajo
2) Anomali Cu-Pb-Zn antara Diang Gajah dan Lia Kutu-Ghera di blok C daerah Wai Wajo
3) Anomali Au-Ag-Cu, Pb-Zn, dan Mo di Lowo Polu-Lowo Pelongo daerah Magepanda
4) Anomali Au-Ag, Cu-Zn and Pb-Mo di Keli Ndati dan Kogogamba daerah Ratenggo.

1. PENDAHULUAN
Salah satu kegiatan yang, telah dilaksanakan oleh Proyek Inventarisasi dan Evaluasi Bahan
Galian Mineral Indonesia pada T.A. 2003 ini diantaranya melakukan inventarisasi dan
eksplorasi mineral logam di Wilayah Penugasan Pertambangan (WPP) yang tertuang
dalam SK Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor : 290/KEP/HK/2002 tertanggal 11
November 2002 terletak di daerah Kabupaten Sikka dan Ende, NTT.
Kegiatan eksplorasi ini dalam rangka realisasi kerjasama teknik bilateral antara
Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Republik Korea yang masing-masing
diwakili oleh Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral (DIM) dan Korea Resources
Corp. (KORES/Korea). Kerjasama tersebut tertuang dalam Nota Kesepahaman (MOU)
yang pada tanggal 7 Juni 2002 telah ditandatangani antara Dirjen Geologi dan Sumber
Daya Mineral dengan KORES dan ditindaklanjuti oleh penandatanganan Scope of Work

antara Direktur Inventarisasi Sumber Daya Mineral dengan KORES pada tanggal 13
Agustus 2002.
Daerah tersebut dipilih karena berdasarkan hasil penyelidikan terdahulu menunjukkan
adanya mineralisasi yang cukup potensial serta mengingat endapan logam dasar dan
logam mulia terutama emas merupakan salah satu komoditi andalan bagi pertumbuhan
ekonomi nasional, maka penyelidikan ini penting untuk membantu pemerintah daerah
setempat dalam rangka usaha menginventarisasi potensi sumber daya mineral di
daerahnya masing-masing.

1.1 Lokasi Daerah Penyelidikan


Daerah kegiatan inventarisasi dan eksplorasi secara administratif termasuk ke dalam
wilayah Kabupaten Sikka dan Ende (Gambar 1dan 2) dengan luas wilayah kerja 77.250
Ha.

2. GEOLOGI REGIONAL
Pulau Flores terbentuk pada kala Cenozoik yang merupakan bagian dalam busur
gunungapi Banda berkomposisi kalk-alkalin dan masih aktif sampai saat ini. Busur ini
terbentuk cukup luas akibat subduksi kerak samudera Indonesia ke arah utara. Bentuk
pulau Flores sekarang ini telah berubah menjadi suatu lengkungan ke arah timur akibat
tubrukan dengan tepi benua Australia New Guinea.
Analisis stratigrafi (Gambar 3) dan magmatik memperlihatkan bahwa Pulau Flores
merupakan suatu pulau yang muda yang diperkirakan terbentuk pada Miosen Tengah Oligosen Atas (Hendaryono, 1998). Daerah Flores barat ditempati cukup luas oleh lava
basaltik andesitik dan breksi yang berselingan dengan tufa pasiran serta pasir tufaan dari
Formasi Kiro (Tmk) dan Formasi ini menjemari dengan batuan gunungapi tua(Tlmv)
Miosen bawah sebagai batuan tertua di Flores barat. Di atas Formasi ini diendapkan
selaras Formasi Tanahau Miosen Awal (Tmt) terdiri dari lava riolitik, breksi, tufa dan tufa
kaca. Kedua Formasi ini diterobos oleh granodiorit Miosen Tengah (Tmg). Berikunya
diendapkan Formasi Laka (Tmpl) Miosen Ahir Pliosen terdiri dari perselingan tufa
dengan batupasir tufaan, batugamping pasiran dan batupasir tufaan. Kedudukan Formasi
ini menjemari dengan Formasi Waihekang (Tmpw). Di atas Formasi ini diendapkan
batuan gunungapi Kuarter (Qtv), terdiri dari lava, breksi dan aglomerat. Satuan batuan
termuda adalah aluvium dan endapan pantai (Qac) terdiri dari kerakal, kerikil, pasir dan
lumpur serta diendapkan tidak selaras di batuan yang lebih tua.

2.1 Tektonik dan Struktur Regional


Sejarah tektonik Pulau Flores dimulai dengan adanya penunjaman lempeng Samudera
Hindia ke arah utara timurlaut di bawah paparan Sunda yang menerus ke arah timur
dari Sumatra dan Jawa sekitar 10 juta tahun yang lalu, membentuk busur kepulauan dan
Busur Banda. Aktivitas gunungapi yang berhubungan dengan busur tersebut membentuk
komposisi batuan terutama andesitik dan basaltik (Gambar 4).
6

Perpindahan yang cepat lempeng Australia/PNG ke arah utara menyebabkan tubrukan


dengan bagian timur busur banda yang terjadi pada 3 juta tahun yang lalu, menghasilkan
dua formasi busur kepulauan yaitu busur dalam yang membentuk jalur magmatik dan
busur luar yang membentuk jalur kepulauan.
Struktur yang terbentuk selama penunjaman lempeng samudera mempunyai kesamaan
arah dengan terbentuknya struktur sebelum dan sesudah tubrukan dengan lempeng
Australia yaitu NW SE dan NE SW yang berpasangan dan sejajar dengan busur E W,
sementara N S kemungkinannya merupakan patahan normal.

2.2 Mineralisasi
Sebagaimana telah dibahas oleh para pakar Geologi terdahulu (J.A. Katili,1975;
Hamilton,1970; J.C. Carlile & Mitchelle,1994), rangkaian gunung api yang berasal dari
busur magmatik Sunda-Banda yang membujur dari P. Sumatera, P. Jawa, Kepulauan Nusa
Tenggara Timur dan berakhir di Kepulauan Banda, merupakan tempat kedudukan
mineralisasi logam mulia dan logam dasar yang sangat potensial di Indonesia (Gambar 5).
Tipe cebakan mineralisasi logam yang terbentuk pada kedua lingkungan busur ini adalah
berbeda. Tipe Epitermal bersulfida rendah (low sulphides epithermal type) umumnya terjadi
pada lingkungan pengendapan Kontinen, seperti yang ditemukan di Sumatera dan
sebagian Jawa-Barat serta sebagian di Jawa-Tengah. Sedangkan ke arah Indonesia bagian
timur (Jawa-Timur, Kepulauan di Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Banda) yang
umumnya telah dipengaruhi oleh pengendapan busur-kepulauan, banyak ditemukan
mineralisasi tembaga dan emas tipe porfiri dan tipe epitermal bersulfida tinggi seperti
yang ditemukan di Batu Hijau (P.Sumbawa) di daerah P. Lombok, P. Sumbawa dan P.
Wetar dan indikasi mineralisasi logam dasar ( massive sulphide ) bentukan laut dangkal di
P. Flores.

2.3 Penyelidik Terdahulu


Daerah Wai Wajo telah diselidiki oleh Direktorat Sumberdaya Mineral pada tahun 1999
dan tahun 2002 (Franklin, dkk), sedangkan daerah Ratenggo diselidiki pada tahun 2000
(Akih Sumpena, dkk).
Hasil penyelidikan menyimpulkan bahwa daerah Wai Wajo mengindikasikan adanya
zona-zona mineralisasi logam dasar di sejumlah tempat seperti Lowo Mego, Lowo Diang
Gajah, Lowo Ghera, Lowo Soko dan Lowo Pelongo. Indikasi ini ditunjang oleh hasil
analisis kimia batuan yang menunjukkan kandungan terbaiknya untuk logam Cu: 98480
ppm; Pb: 114 ppm; Zn: 18980 ppm; Mn: 2129 ppm; Mo: 20 ppm; Au: 530 ppb; Ag: 12 ppm
dan As: 530 ppm. Sementara itu hasil dari paritan uji sepanjang 50 meter di Lowo Deba
menunjukkan kadar terbaiknya 1 m @ 50 ppb Au; 6980 ppm Cu dan di parit uji Lowo
Diang Gajah menunjukkan kadar terbaiknya untuk 1 m @ 28 ppb Au dan 9391 ppm Cu.
Dari hasil geokimia tanah yang diambil pada punggungan dan spur-spurnya di daerah
Feondari dan sekitarnya pada tahun 2002, disimpulkan bahwa ada zona anomali logam
dasar dan emas di sekitar Lowo Deba, Feondari dan Lia Kutu (lowo Diang Gajah) dengan
nilai latar belakang Au: 3 ppb dan Cu: 28,7 ppm.
7

Untuk daerah Ratenggo, berdasarkan hasil penyelidikan tahun 2000 menyimpulkan


adanya indikasi mineralisasi logam dasar dan emas berdasarkan hasil analisis kimia dari
penyontoan endapan sungai aktif dan batuan di sejumlah tempat seperti di Wologai dan
Lowo Lise Ratenggo yang menunjukkan kandungan unsur dari sedimen sungai Cu: 90
ppm; Au: 20 ppb, dan dari batuan Cu: 0.024 %; Au: 0.44 ppm.
Berdasarkan hasil-hasil temuan tersebut, maka zona-zona mineralisasi dan zona-zona
anomali sedimen sungai seperti yang telah disebutkan di atas menjadi target untuk
ekplorasi yang lebih detail seperti misalnya geokimia tanah bersisitem atau geokimia
tanah pada punggungan dan spur-spurnya.

3. HASIL PENYELIDIKAN
Dari enam formasi batuan dan batuan terobosan yang menyusun daerah penyelidikan,
hanya tiga jenis batuan yang memegang peranan penting sebagai tempat kedudukan
mineralisasi dan zona prospek endapan logam dasar beserta mineral ikutannya.
Ketiga jenis batuan tersebut adalah tufa andesitik Formasi Kiro, tufa lapili dasitik Formasi
Tanahau dan batuan terobosan granodiorit(Gambar 6 - 8)
Tufa andesitik yang dominan menutupi daerah penyelidikan umumnya telah mengalami
ubahan dan pemineralan. Hasil studi petrografi menunjukkan batuan ini telah mengalami
gejala deformasi yang diduga akibat tektonik atau disebabkan oleh terobosan batuan beku
granitik granodioritik, sehingga beberapa mineral menunjukkan gejala retakan-retakan
yang diisi oleh mineral mineral lain seperti karbonat dan aktinolit serta beberapa mineral
telah terubah antara lain plagioklas terubah menjadi karbonat lempung serisit dan
opak mineral (KWA 1/p; KWA 2/p dan KWB 1/p).
Akibat adanya tektonik dan terobosan batuan beku tersebut, menyebabkan batuan ini
termineralisasi dan dari hasil pengamatan lapangan menunjukkan tufa andesitik
tersilisifikasi mengandung pirit, kalkopirit, galena, sfalerit seperti pada conto KWA 2/A,
KWA 4/A, KWA 12/A, KWB 1/A dan KWC 5/A. Hasil analisis kimia conto-conto
batuan tersebut menunjukkan kandungan terbaik Cu: 1147 ppm dan Au: 52 ppb.
Urat-urat kuarsa sering ditemukan memotong batuan tufa andesitik ini, dan terbentuknya
urat-urat tersebut diduga diakibatkan oleh adanya patahan geser sinistral atau dextral
yang membentuk jog-jog dilasi yang berfungsi sebagai perangkap mineralisasi berarah
timurlaut baratdaya seperti yang diukur di Lowo Deba. Hasil analisis conto urat-urat
tersebut menunjukkan kandungan logam terbaiknya untuk Cu: 1577 ppm dan Au: 20 ppb
(KWA 13/A).
Hal yang sama juga ditemukan pada tufa dasitik Formasi Tanahau. Pada satuan batuan
ini, ubahan yang berkembang baik terutama klorit, epidot dan kalsit serta di beberapa
tempat dijumpai serisit, kaolinit dan kuarsa. Zona ubahan tersebut pada umumnya terisi
oleh mineralisasi pirit, kalkopirit, sfalerit dan galena (KWC 6/A).

Di daerah Ratenggo (Keli Ndati), dijumpai mineralisasi dasitik yang terbreksikan dengan
diameter 25 30 meter dan panjangnya 150 200 meter. Zona mineralisasi ini
mengandung dominan pirit dan bercak-bercak kalkopirit serta galena. Sementara itu di
daerah Mageapanda di Lowo Pelongo, tufa lapili dasitik yang telah diterobos oleh
granodiorit dan diterobos lagi oleh dyke andesit dan basalt telah menghasilkan zona
mineralisasi yang intensif dan zona tersebut juga terbentuk akibat dipengaruhi oleh dua
struktur patahan geser sinistral yang membentuk jog-jog dilasi. Pengamatan lapangan
menunjukkan panjang zona ini hampir 250 meter dengan lebar kurang lebih 100 meter.
Mineralisasi yang teramati pada batuan ini antara lain pirit dominan, sedikit kalkopirit,
sfalerit dan pirrotit.
Granodiorit yang ditemukan di daerah Wai Wajo dan Magepanda umumnya telah
terubah dan pada bagian yang mengalami ubahan ditemukan mineral serisit, kaolinit dan
klorit serta dipotong oleh urat kuarsa magnetit kalkopirit. Ubahan serta pemineralan
yang terjadi kemungkinannya disebabkan oleh dyke-dyke andesit dan basalt yang
menerobos batuan granodiorit ini. Hasil analisis kimia dari conto batuan ini menunjukkan
kandungan Cu: 1480 ppm dan Au: 32 ppb (KWC 1/A).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Formasi Kiro dan Formasi Tanahau serta
batuan terobosan granodiorit merupakan tempat kedudukan mineralisasi dan zona
endapan logam dasar logam emas yang prospek serta tempat-tempat kedudukannya
umumnya dikontrol oleh struktur patahan timurlaut baratdaya atau patahan normal
utara timurlaut.
Mineralisasi di daerah penyelidikan umumnya ditemukan pada batuan gunungapi
Formasi Kiro, batuan gunungapi Formasi Tanahau dan batuan intrusi yang telah terubah
(Gambar 10 14)). Batuan Formasi Kiro yang termineralisasi tersebut paling umum
dijumpai pada satuan tufa andesitik yang telah tersilisifikasi, sedangkan pada satuan
batuan lainnya seperti lava andesitik atau batupasir tufaan sangat jarang ditemukan.
Sementara itu di batuan Formasi Tanahau, satuan batuan termineralisasi yang umum
dijumpai yaitu pada tufa dasitik serta tufa breksi/lapili dasitik tersilisifikasi. Satuan ini
menjadi tempat kedudukan mineralisasi disebabkan sifat-sifat fisik dan sifat kimianya
yang dimungkinkan masuknya larutan hidrotermal yang berekasi dengan batuan samping
selanjutnya mengendapkan mineral-mineral logam pada temperatur dan tekanan yang
sesuai. Hal yang sama terjadi di batuan intrusi seperti yang teramati di granodioritik.
Tempat-tempat kedudukan mineralisasi ini umumnya pada zona-zona ubahan, seperti
pilik, propilik, advanced argilik dan argilik yang terjadi karena pengaruh larutan
hidrotermal yang naik bersama-sama intrusi granitik granodioritik atau disebabkan juga
oleh pengaruh dyke-dyke andesitik basalt yang terbentuk akibat adanya strukturstruktur patahan geser sinistral dan dextral berarah timurlaut baratdaya serta utara
timurlaut.
Pemineralan yang terbentuk pada satuan batuan tersebut di atas dikontrol oleh patahan
yang umumnya adalah tipe tersebar, pengisian rekahan dan urat-urat kuarsa. Hasil
pengamatan lapangan mineral-mineral yang umum ditemukan adalah pirit, kalkopirit,
sfalerit, galena dan oksida besi.
9

Hadirnya mineral-mineral sekunder ini semakin memperkaya kandungan logam, dan


kondisi tersebut mencerminkan mineralisasi yang telah terbentuk kemudian dipengaruhi
oleh adanya sirkulasi air meteorik yang membawa unsur-unsur seperti Cu yang
kemudian bereaksi membentuk mineral ubahan yang kaya akan unsur/logam tembaga
seperti yang ditemukan di blok A dan blok C dengan hasil analisa conto batuan KWC
1/A yang mengandung Cu: 19480 ppm dan Au: 32 ppb dan KWA 12/A, Cu: 1147 ppm
dan Au: 3 ppb.
Urat-urat kuarsa yang ditemukan di lapangan umumnya terbentuk memotong batuan tufa
andesitik, tufa breksi/lapili dasitik dan granodiorit dengan dimensi bervariasi yaitu lebar 1
2 cm sampai 2 meter dan arah umumnya mengikuti arah patahan geser.
Hasil analisis kimia conto-conto urat tersebut, mengandung logam Cu yang cukup
siknifikan seperti pada conto KWA 13/A, Cu: 1577 ppm dan Au: 20 ppb, KWA 4/A, Cu:
1374 ppm dan Au: 52 ppb.
Studi mineragrafi pada conto urat (KWA 5M; KWA 3M dan KWA 7M)
menyimpulkan mineral-mineral yang ditemukan pada conto tersebut terdiri dari pirit,
kalkopirit, kovelit, kalkosit dan oksida besi diperkirakan masiih terbentuk dalam kisaran
tipe epitermal atau mungkin mendekati zona epitermal bawah.
Studi inklusi fluida pada conto urat KWW 4RF telah menyimpulkan bahwa di daerah
penyelidikan (utamanya di blok A, Wai Wajo) proses pembentukan mineralnya
mempunyai dua tipe yaitu mineralisasi temperatur rendah diwakili oleh Ag Pb Zn dan
mineralisasi temperatur tinggi diwakili oleh Au Cu Zn Mo. Yang masih menjadi
pertanyaan adalah ketidak hadiran logam emas pada pengamatan mineragrafi, apakah hal
tersebut disebabkan oleh kecilnya kandungan emas pada batuan/urat kuarsa ataukah zona
mineralisasi emas di daerah penyelidikan ini sudah sampai pada tingkat paling bawah,
sehingga yang tersisa adalah zona mineralisasi logam dasar? (Gambar 9).
Berdasarkan data geokimia tanah yang telah diolah menyimpulkan bahwa daerah
Ratenggo, Wai Wajo dan Magepanda menunjukkan adanya anomali logam dasar diikuti
oleh logam emas. Hal ini didasarkan dari hasil perhitungan kombinasi unsur-unsur logam
melalui pendekatan statistik (Gambar 7).
Dari penyontoan sistem grid di blok A, B dan C memperlihatkan adanya perbedaan
kombinasi unsur-unsur terutama di blok B, sementara perbedaan kombinasi antara blok A
dan C tidak begitu kontras. Perbedaan tersebut diduga terkait oleh kondisi geologi dan
struktur yang terbentuk di daerah tersebut.
Analisis statistik di blok A dan C memperlihatkan kedua daerah tersebut merupakan zona
prospek logam dasar serta emas dan itu ditunjukkan dari hasil analisis kima batuan yang
menghasilkan kandungan tembaga cukup tinggi yang berasal dari tufa dan batuan intrusi
serta urat kuarsa yang berasosiasi dengan kedua batuan tersebut.
Di daerah Ratenggo, hasil perhitungan statistik mengasilkan anomali gabungan unsurunsur yang masih bersifat regional. Meskipun demikian hasil analisis urat kuarsa telah
10

mengarakan adanya zona anomali logam dasar yang berasosiasi dengan logam emas
seperti yang ditemukan di Keli Ndati dan Kogogamba. Jadi kedua daerah tersebut perlu
diusulkan untuk diselidiki pada penyelidikan selanjutnya. Situasi yang sama juga di
jumpai di daerah Magepanda seperti di Lowo Pelongo dan Lowo Polu yang
mengindikasikan adanya zona mineralisasi sulfida berdasarkan hasil uji statistik yang
menghasilkan anomali gabungan unsur-unsur logam dasr. Mineralisasi ini diduga terkait
dengan intrusi granodiorit dan kembali diterobos oleh intrusi retas andesit

3.1 Daerah Prospek


Dari hasil penyelidikan Eksplorasi Mineral Logam yang telah dilaksanakan di daerah
Wilayah Penugasan Pertambangan Wai Wajo Kabupaten Sikka dan Ratenggo Kabupaten
Ende ini telah ditemukan indikasi mineralisasi logam di beberapa tempat yang patut
untuk ditindaklanjuti. Daerah atau tempat-tempat tersebut antara lain (Gambar 15) :
Daerah Ratenggo :

Gn. Keli Ndati, mineral utama pirit tersebar dan pengisian rekahan/retakan, beberapa
kalkopirit dan sfalerit pada batuan dasit terbreksikan. Ubahan yang terbentuk antara
lain propilitik dari kumpulan (klorit, epidot, kalsit, kuarsa) di beberapa tempat
ditemukan ubahan argilik (serisit, klorit, kuarsa). Panjang zona mineralisasi
diperkirakan 200 250 meter.
Kogogamba, mineral pirit dan sedikit arsenopirit bersama urat-urat kuarsa halus pada
batuan induk tufa dasitik. Tebal urat 1 2 cm pada zona setebal 1 1,5 meter berarah U
200 T/90, tersingkap 10 meter. Ubahan yang terbentuk klorit, epidot, kuarsa serta
limonitik kuat.

Daerah Wai Wajo :

Wolo Desa/Lowo Deba, mineral utama pirit tersebar dan pengisian rekahan/retakan,
beberapa kalkopirit, galena, sfalerit, kovelit dan bornit pada batuan tufa andesitik
tersilisifikasi. Di beberapa tempat ditemukan kontak tufa andesitik tersilisifikasi
dengan urat kuarsa termineralisasi pirit, kalkopirit, galena, sfalerit. Lebar urat 1 2
meter, berarah U 85 T/79. Ubahan yang teramati adalah, argilik, propilitik dan pilik.
Panjang zona mineralisasi 700 800 meter.
Desa Lia Kutu/Lowo Diang Gajah, mineral kalkopirit, bornit, covelit, malakit sedikit
galena dan pirit dalam bentuk tersebar serta stockwork pada granodiorit yang telah
mengalami ubahan serisit ( kaolinit, K-felspar, kuarsa sekunder dan magnetit). Panjang
zona mineralisasi diperkirakan 150 200 meter.
Desa Lia Kutu/Lowo Mera, mineral pirit, kalkopirit, bornit, kovelit, sedikit galena dan
sfalerit bersama-sama urat-urat halus pada breksi andesitik, lava andesitik yang telah
mengalami ubahan serisitik (kaolinit, kuarsa). Panjang zona mineralisasi diperkirakan
500 600 meter.
Desa Ghera/Lowo Sanga, mineral pirit dan kalkopirit sedikit galena tersebar dalam
breksi andesitik yang telah mengalami ubahan klorit, epidot, pirit dan granodiorit
yang telah mengalami ubahan serisit, kaolinit, kuarsa. Panjang zona mineralisasi
diperkirakan 400 500 meter.
11

Desa Ghera/Lowo Dagegoge, mineral pirit sedikit kalkopirit, galena bersama urat
kuarsa arah U 310 320 T; U 110T/80 pada batuan granodiorit yang telah mengalami
ubahan serisit, kaolinit, klorit. Mineral pirit, kalkopirit bersama urat kuarsa berarah U
45 50T/65 pada batuan tufa breksi andesit yang telah mengalami ubahan klorit,
epidot, kalsit. Mineral pirit, kalkopirit tersebar dalam granodiorit yang telah
mengalami ubahan serisit, kaolinit, kuarsa. Panjang zona mineralisasi diperkirakan 400
500 meter.

Daerah Magepanda :

Lowo Magepanda, mineral arsenopirit, pirit sedikit kalkopirit dan sfalerit dalam
bentuk tersebar dan pengisian rekahan pada tufa lapili dasitik, tufa andesitik yang
telah mengalami ubahan klorit, epidot, kuarsa dan granodiorit serta breksi andesit
yang telah mengalami ubahan serisit, kaolinit, kuarsa. Panjang zona mineralisasi
diperkirakan 200 250 meter dengan lebar kurang labih 90 100 meter.
Lowo Polu, mineral arsenopirit, pirit sedikit kalkopirit dalam bentuk tersebar dan
mengisi rekahan pada dasit, tufa dasitik yang telah mengalami ubahan klorit, epidot,
kalsit, kuarsa sedikit serisit dan kaolinit. Panjang zona mineralisasi diperkirakan 400
500 meter.

Zona-zona mineralisasi tersebut dapat dilihat pada gambar 7. Daerah-daerah lainnya


meskipun menunjukkan adanya indikasi mineralisasi namun tidak begitu kuat
dibandingkan zona-zona mineralisasi yang telah disebutkan di atas; kalaupun ada yang
menarik, zona tersebut masuk dalam kawasan hutan lindung atau hutan konservasi

4. KESIMPULAN
Kompilasi data dan informasi serta interpretasi landsat citra mengenai geologi dan sumber
daya mineral telah dilakukan selama berlangsungnya eksplorasi mineral fase pertama di
daerah Sikka dan Ende. Di samping itu pemetaan geologi regional dan penyontoan
geokimia tanah untuk melokalisir daerah zona mineralisasi dan anomali untuk
penyelidikan fase berikutnya juga telah dilakukan.
Hasil yang diperoleh pada fase pertama ini menunjukkan adanya indikasi tembaga, timbal
dan seng yang prospek serta didukung oleh munculnya indikasi zona anomali logam
dasar dan logam mulia di batuan gunungapi, batuan terobosan serta batuan piroklastik
Tersier di daerah penyelidikan. Data-data untuk mendukung indikasi tersebut telah diuji
melalui analisis kimia pada conto urat kuarsa, batuan termineralisasi, studi inklusi fluida
dan pemetaan zona alterasi yang berhubungan dengan struktur geologi serta analisis
kimia tanah berikut uji statistiknya. Dengan hasil-hasil tersebut dapat disimpulkan serta
diidentifikasikan beberapa zona prospek antara lain :
a)
b)
c)
d)

Prospek Keli Ndati untuk mineralisasi tembaga dan seng pada zona alterasi
Prospek Kogogamba untuk mineralisasi tembaga dan seng pada zona alterasi
Prospek Lowo Polu untuk mineralisasi tembaga pada zona alterasi
Prospek Magepanda/Lowo Pelongo untuk mineralisasi tembaga dan seng pada
zona alterasi
12

e) Prospek Wolo Desa/Lowo Deba untuk mineralisasi tembaga, timbal dan seng pada
zona alterasi
f) Prospek Lia Kutu/Ghera untuk mineralisasi tembaga, timbal dan seng pada zona
alterasi
Kalkopirit dan sfalerit kerap ditemukan di dalam urat kuarsa di daerah penyelidikan
tetapi anomali geokimianya relatif rendah. Untuk anomali tembaga telah terdeteksi di Lia
Kutu Ghera dan potensi tembaganya cukup tinggi.
Berdasarkan hasil pembahasan potensi bahan galian di Kabupaten Ende dan Kabupaten
Sikka, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Hasil inventarisasi dan evaluasi data sekunder yang dituangkan dalan peta digital (GIS)
sebaran lokasi mineral dan tabel sumberdaya mineral, maka sebaran titik lokasi
keterdapatan bahan galian mineral logam dan non-logam untuk tiap kabupaten diperoleh
hasil sebagai berikut :

Jumlah lokasi potensi bahan galian di Kabupaten Ende sebanyak : 44 titik lokasi,
yang terdiri dari :
o Mineral Logam sebanyak : 2 titik lokasi
o Mineral Non Logam sebanyak : 42 titik lokasi
Jumlah titik lokasi potensi bahan galian di Kabupaten Sikka sebanyak : 8 titik
lokasi, yang terdiri dari :
o Mineral Logam sebanyak : 2 titik lokasi

Mineral Non Logam sebanyak : 6 titik lokasi

Daftar pustaka
1. Ahrens, L.H., 1954. Lognormal distributions of the elements. Geochim. Cosmochim.
Acta 5, p. 49 73.
2. Bandi, S.Djaswadi, S.L.Gaol. 1994, Laporan Pendahuluan Penyelidikan Mineral Logam
di Daerah Wolowaru Kab. Ende, Flores - Nusa Tenggara Timur. Proyek Eksplorasi
Bahan Galian Logam, SubDirektorat Eksplorasi Mineral Logam, Direktorat
Sumberdaya Mineral Bandung.
3. Budhi Priatna, et.al, 2000, Laporan Eksplorasi Geofisika Mineral Logam di Daerah Wai
Wajo, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, TA. 2000, Direktorat Sumber
Daya Mineral Bandung.
4. Franklin dkk, 1999, Eksplorasi Logam Mulia dan Logam Dasar di Daerah Wai Wajo
dan Sekitarnya Kabupaten SIKKA Nusa Tenggara Timur. Proyek Eksplorasi Bahan
Galian Mineral Indonesia. SubDirektorat Eksplorasi Mineral Logam, Direktorat
Sumberdaya Mineral, Bandung.
5. Franklin dkk, 2002, Inventarisasi Endapan Molibdenum dan Logam Dasar Serta
Mineral Logam Ikutannya di Daerah Wai Wajo Kabupaten SIKKA Provinsi Nusa
Tenggara Timur, Proyek Eksplorasi Bahan Galian Mineral Indonesia. SubDirektorat
Eksplorasi Mineral Logam, Direktorat Sumberdaya Mineral, Bandung.

13

6. Hamilton, W.B., 1979, Tectonics of the Indonesian region. Prof.Paper 1078,


U.S.Geol.Surv. Washington, DC, 345 pp.
7. Hendaryono, 1999, Geologie de Iile de Flores . Apports a letude de la geodynamique
de larchipel indonesien oriental. 200 p. ISBN 2-904431-21-7. Resume Francais,
indonesien.
8. Katili.J.A., 1975, Volcanism and plate tectonics in the Indonesia Island arc,
Tectonophysics, 26,p 165 188.
9. J.C, Carlile; A.H.G. Mitchelle, 1994, Journal of Geochemical Exploration 50. 91 - 142 pp.
10. N.Suwarna,S.Santosa, Koesoemadinata., 1990, Geologi Lembar Ende 1:250.000, Nusa
Tenggara Timur., Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung.
11. 11. PT.Nusa Lontar Mining, 1987, Contract of Work, First Relinquishment Report,
Nusa Tenggara Timur, Indonesia (9757).
12. Sumpena, A. dkk, 2000, Eksplorasi Mineral Logam Mulia dan Logam Dasar Daerah
Rotenggo dan Sekitarnya Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur. Proyek Eksplorasi
Bahan Galian Mineral Indonesia, SubDirektorat Eksplorasi Mineral Logam, Direktorat
Sumberdaya Mineral, Bandung.
13. Tudor, A, 1999, First Relinguishment Report and Upgrade from general Survey Period
to Exploration Period, Internal Flores Barat Mining (FBM) report.
14. Tukey, J.W., 1977. Exploratory Data Analysis. Addison-Wesley, Reading, Mass. 506 pp.
15. Van Bemmelen, R.W., 1949, The Geology of Indonesia. Vol.IA, 1st Edition.
Govt.Printing office, The Hague, pp 104-136.

14

PENYELIDIKAN ENDAPAN PASIR BESI


DI DAERAH PESISIR SELATAN ENDE -FLORES
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Bambang N. W
Sub Dit. Mineral Logam
SARI
Pasir besi merupakan salah satu bahan baku dasar dalam industri besi baja
dimanaketerdapatannya di Indonesia banyak dijumpai di daerah pesisir seperti di pesisir
Jawa, Sumatera,Sulawesi dan Nusatenggara.
Salah satu indikasi adanya pasir besi tersebut yaitu tetdapat di daerah pantai selatan Ende,
Nusa Tenggara Timur.Penyelidikan yang telah dilakukan oleh tim eksplorasi dari
Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral tahun 2006 diketahui ada empat sektor
sebaran pasir besi yang dianggap cukup luas. Empat sektor tersebut terdapat pada Desa
Rapo Rindu, Bheramari, Ruku Ramba dan Ondorea. Darisegi pembentukannya endapan
pasir besi di daerah ini memiliki umur relatif muda. terbentuknyaendapan ini diduga
adalah dari pelindihan dan pencucian yang berjalan secara intensif, dibeberapalokasi
ditemukan adanya gundukan pasir besi dengan konsentarsi magnetit tinggi.
Hasil analisis laboratorium fisika mineral terhadap sampel-sampel pasir besi
tersebut menunjukkan menunjukkan nilai derajat ( MD) berkisar 10 % hingga 50 .
Sedangkan hasil analisis kimia menunjukkan nilai Fetotal tertinggi mencapai 37,10 % dan
terendah 4,43%. Secara umum kadar(Fe total) berkisar 10 hingga 25%.
Berdasarkan hasil studi lapangan (survey permukaan dan pemboran ) dan analisis
laboratoriumdiketahui endapan pasir besi tersebut mengalami penurunan kadar ke arah
barat (Sektor Ondorea)sedangkan kearah timur mengalami peningkatan kadar (sektor
Rapo Rindu, Bheramari, Ruku Ramba).
Model sebaran endapan pasir besi di pesisir selatan Ende adalah melensis dimana ke arah
barat,kandungan magnetitnya berkurang dengan bertambahnya pasir karbonat (berwarna
putihkecoklatan) sedangkan kearah timur kandungan magnetitnya bertambah hal ini
diperkuat denganhasil analisis laboratorium.
Beberapa faktor yang menyebabkan pola sebaran lapisan di satu daerah berbeda
denganlainnya :

Batuan induk, sebagai sumber untuk terbentuknya endapan pasir besi.


Faktor fisika - kimia seperti suhu, erosi dan transportasi sungai, arus laut bawah
laut dan sungai sebagai media transportasi dan akumulasi material.

Faktor topografi (kemiringan), berperanan penting tempat akumulasi pasir besi

Hasil perhitungan diketahui sumber daya hypotetik seluruhnya sebesar 57.134.358,4 ton
konsentrat.
15

PENDAHULUAN
Pasir besi sebagai salah satu bahan bakuutama dalam industri baja dan industri alatberat
lainnya di Indonesia, keberadaannya akhir-akhir ini memiliki peranan yang sangat
penting. Berbagai permintaan dari berbagai pihak meningkat cukup tajam.
Potensi dan sebaran pasir besi di Indonesia banyak di jumpai di berbagai pulau seperti di
pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Kalimantan, Sulawesi, kawasan Nusatenggara,
Kepulauan Maluku. Namun demikian sejauh ini kegiatan eksplorasi dan inventarisasi
berkaitan dengan endapan besi tersebut belum dilakukan secara menyeluruh, dan
sistimatis.
Berdasarkan kejadiannya endapan besi dapat dikelompokan menjadi tiga jenis.Pertama
endapan besi primer, terjadi karena proses hidrotermal, kedua endapan besi laterit
terbentuk akibat proses pelapukan, dan ketiga endapan pasir besi terbentuk karena proses
rombakan dan sedimentasi secara kimia dan fisika.
Salah satu potensi endapan besi (pasir besi) yang dijumpai di Kepulauan Indonesia di
antaranya terdapat di Pantai selatan Ende ,Flores, Nusa Tenggara Timur di mana secara
geologi keterdapatan ini sangat dimungkinkan
Hasil penyelidikan tinjau yang di lakukan di beberapa tempat di pesisir selatan Sikka dan
Ende menunjukkan nilai kadar Fetotalnya mencapai 63% dengan TiO2 1%. Rata-rata kadar
Fetotal nya diatas 56% dengan TiO2 <2%, (Bambang N.W., 2005).
Daerah kajian endapan pasir besi secara geografis terletak antara 121,45 ~ 121,65BT dan
8,80 ~ 8,85 dan secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan
Ende,Kabupaten Ende, Flores. (Gambar 1)
Maksud dari kajian ini adalah untuk mengetahui gambaran global keberadaan potensi
sumber daya pasir besi di daerah pantai selatan Kabupaten Ende, Flores yang diharapkan
dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi investor yang berminat untuk terjun dalam
usaha di bidang pertambangan khususnya pasir besi.

Gambar
1.
Lokasi
daerah
penyelidikanPasir besi di Pesisir
selatan Ende

16

Metoda
Metoda penyelidikan yang dilakukanya itu penyelidikan lapangan antara lainpemetaan
geologi permukaan, pengukuran dengan menggunakan alat ukur TO, pemboran
menggunakan hand auger serta sampling untuk analisis laboratorium.

Penyelidikan Lapangan
Pemetaan permukaan bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh hubungan antarageologi
dipermukaan dan sebarannya denganpembentukan endapan pasir besi di daerahtersebut.
Pengamatan dilakukan terutama padadaerah pantai dan sekitarnya.
Pengukuran (dengan teodolit jenis TO) dilakukan untuk membuat baseline dan crossline
titik-titik pemboran. Tujuannya adalah untuk menentukan penempatan posisi titik bor.
Penentuan posisi titik pertama sebagai acuan dalam pengukuran dilakukan dengan GPS.
Pemboran dilakukan pada daerah pantai mengandung pasir besi dengan interval panjang
(baseline) 400 meter dan lebar (crossline) 200 meter. Pekerjaan pemborandilakukan dengan
bor tangan (hand auger) jenis Doomer yang dilengkapi dengan casing 2,5 inchi.
Metoda preparasi hasil pemboran adalah sbb : conto-conto pasir besi yang terletak diatas
permukaan air tanah diambil dengan sendok pasir (sand auger) jenis Ivan 2,5inchi,
sedangkan conto pasir besi yang terletak di bawah permukaan air diambil dengan bailer.
Conto diambil untuk setiap kedalaman1,50 meter atau kurang dan dibedakan antara conto
dari horizon A (diatas permukaan airtanah), conto horizon B (antara permukaan airtanah
dan air laut) dan conto dari horizon C (yang terletak di bawah permukaan air laut).
Reduksi conto di kerjakan dengancara increment berdasarkan J.I.S. ( Japanese Industrial
Standard ), dimana conto asli ditampung ke dalam baki kayu berukuran 90 x60 x 2 cm.
Pertama conto dari kedalaman tiap1,5 m atau kurang diaduk-aduk hingga homogen,
kemudian diratakan sampai setinggi permukaan baki, setelah itu conto dibagi-bagi
menjadi beberapa bagian yang sama. Dari tiap bagian masing-masing diambil setengahnya
dengan sendok increment berukuran 3 cm x 3 cm x 2 cm. Proses increment ini dilakukan
empat lima kali, hingga diperoleh conto seberat sekitar 2 kg. Sisa terakhir dari proses
increment tiapkedalaman dari satu lubang bor tersebut dikumpulkan untuk dijadikan
sebagai conto komposit. Increment juga diberlakukan pada conto tersebut.
Pekerjaan Laboratorium
Tahap berikutnya adalah pemisahan fraksi magnetit dari non magnetit dilakukan dengan
magnet batang 300 gaus secara berulang-ulang sebanyak 7 kali untuk mendapatkan
konsentrat yang cukup bersih. Setelah konsentratnya diperoleh, dilakukan penimbangan.
Dengan membandingkan berat konsentrat dan berat asal, maka didapat nilai MD
(magnetic degree), dengan menggunakan rumus :
Berat konsentrat
MD = ------------------------- -- X 100
% Berat asal

17

Untuk mengetahui kualitas kandungan besi kadar pada tiap sampel pasir besi tersebut
dilakukan analisa unsur Fe2O3, Fe3O4, Fetotal, TiO 2 dan H2O terhadap sampel yang
sudahmenjadi konsentrat.
Adapun endapan pasir besi yang dimasukan ke dalam perhitungan sumber daya terukur
adalah yang mempunyai MD > 7% untuk kuat magnet 300 gauss. Sumber daya terukur
total dihitung dengan cara menjumlahkan sumber daya tiap lubang bor. Sumber daya
konsentrat tiap lubang dihitung dengan rumus

C = (L X t) X MD X SG

Keterangan :
C =
L =
t =
MD =
SG =

Sumber daya dalam ton


Luas areal pengambilan bor dalam M
Tebal endapan dalam meter
Magnetic Degree dalam %
Berat Jenis

Geologi
Menurut N. Suwarna, dkk (1990) geologi di daerah penelitian dan sekitarnya adalah
sebagai berikut :
Formation Kiro (Tmk)
Merupakan batuan tertua yang terdapat didaerah ini, berumur Miosen Awal, terdiri
breksi, warna kelabu tua-kelabu muda, komponen andesit, basal, berukuran 0,5 5cm,
lava, bersusunan andesit- basal, kelabu muda ~ kehijauan dan kehitaman, porfir,sebagian
terkersikan, terkalsitkan dan terkhloritkan, kekar lapis, sebagian bersisipan breksi, tufa
pasiran dan batu pasir tufaan,sisipan warna kelabu, berlapis 25 50 arah jurus barat lauttenggara, tebal satuan sekitar 1000 meter 1500 meter. Batuan ini tersebar terutama di
sekitar Kali Kiro, Desa Walogai, Keli Wumbu, dan Mbotu Mapolo, sebagiandijumpai
dipantai selatan Ende. Formasi ini ditumpangi secara tidak selaras diatasnya oleh Formasi
Nagapanda.
Formasi Nangapanda (Tmn)
Terdiri dari batu pasir, batu tufa berlapis,dan breksi. batu pasir, hijau, halus ~
kasar,menyudut tanggung membundar, padat, berlapis baik.; Breksi, merupakan breksi
vulkanik, bersifat andesitik-basaltik, dengan ukuran komponen bervariasi dari beberapa
cm hingga 30 cm. Tebal singkapan mencapai 30cm. Formasi ini membentuk morfologi
yang cukup kasar dengan ketebalan diperkirakan sekitar 2000 meter dan menjemari
dengan Formasi Kiro di bagian timur.

18

Formasi Tanahau (Tmt)


Lava, breksi. Lava, berkomposisi dasitik, setempat struktur bantal. Breksi terdiri dari
komponen bersifat dasitik dengan semen tufa pasiran terkersikkan dan termineralkan.
Batuan Intrusi
Diorite (Tdi), dasit (Tda), dan andesit(Ta) berumur Miosen Bawah, diorite kuarsa(Tmd)
and granodiorit (Tg) Miosen Tengah. Intrusif sebagai stok, retas dan sill, pad abeberapa
tempat dibuktikan dengan sifat sirkular kecil. Batuan intrusi andesit lokal terdapat di
pantai selatan Ende.
Product Volcanik tua (QTv)
Satuan ini adalah produk dari active volcanoes G. Beliling, Tedeng, dan Todo dibagian
barat Flores, di bagian tengah Flores, terutama terdiri dari sisipan breksi, lava dan tuff
dengan dominant andesit ~ basal, umur Pliosen.
Product Volcanik muda (Qhv)
Secara tidak selaras menumpangi satuan yang lebih tua, terutama terdiri dari material
vulkanik yang tidak terkonsolidasi G. Wai Sano sebagai hasil erupsi, terdiri dari lahar,
breksi, lava, bomb, lapilli, tuff, tuff pasiran dan pumice, komposisi andesit-basal berumur
Holosen.
Endapan Teras pantai (Qct)
Satuan ini secara tidak selaras menumpangi satuan lebih tua, terdiri dari sisipan
konglomerat dan batu pasir kasar agak sedikit karbonatan, umur Holosen.
Endapan Aluvial dan endapan pantai (Qa)
Terdiri dari material rombakan sungai karena pengangkatan terdiri dari kerikil, kerakal
dan pasir, terutama terjadi pada sungai besar dekat pantai berupa endapan teras.

Struktur Geologi
Struktur geologi yang dijumpai di daerah pesisir selatan khusunya Ende adalah lipatan,
sesar dan kelurusan. Arah struktur timurlaut-baratdaya, beberapa memiliki arah
baratlaut-tenggara. Batuan yang mengalami perlipatan secara kuat pada Formasi
Nangapanda dengan kemiringan perlapisan dari 15~ 50. Struktur terjadi pada Formasi
Kiro dan Nangapanda yang merupakan formasi tertua. Sumbu lipatan sinklin yang
memiliki arah baratdaya timurlaut.
Selain struktur lipatan di kawasan ini juga ditemukan struktur sesar. Jenis sesar yang
berkembang adalah sesar normal dan sesar geser. Sesar normal berarah baratlaut-tenggara
dan timurlaut baratdaya. Sesar ini terdapat pada batuan Miosen dan Plio Plistosen,
19

diperkirakan terjadi pada Plistosen. Sesar geser teramati pada Formasi Kiro dan Formasi
Nangapanda. Gambaran umum geologi serta urut-urutan stratigrafi regional dapat dilihat
pada gambar 2 dan gambar 3.
Gambar 2. Peta geologi regional daerah Flores

Gambar 3 Stratigrafi regional daerah penyelidikan

20

Mineralisasi
Pembentukan endapan pasir besi memilikiperbedaan genesa dibandingkan
denganmineralisasi logam lainnya. Pembentukanpasir besi adalah merupakan produk
dariproses kimia dan fisika dari batuan yangmenengah hingga basa atau dari
batuanbersifat andesitik hingga basaltik. Proses inidapat dikatakan merupakan gabungan
dariproses kimia dan fisika.
Di daerah pantai selatan Kabupaten Ende,endapan pasir pantai di perkirakan berasaldari
akumulasi
hasil
desintegrasi
kimia
danfisika
seperti
adanya
pelarutan,
pengahncuranbatuan oleh arus bawah laut, pencucian secaraberulang ulang, transportasi
danpengendapan.
Menurut Subandoro dan Pudjowaluyo(1972) di Pulau Flores secara umum terletak pada
busur batuan vulkano-plutonik yangmasih aktif mirip dengan Pulau Jawa dimanaendapan
besi mengandung titan ditemukansepanjang pantai selatan. Agaknya batuanvolkanik
Flores adalah merupakan sumberutama pasir besi pantai yang ada sekarang.

HASIL PENYELIDIKAN
Dalam penyelidikan lapangan diperolehdata sbb :

Jumlah titik pemboran sebanyak 45 titik.


Jumlah kedalaman pemboran adalah 111,6 meter.
Jumlah conto terambil sebanyak 90 conto.

Berdasarkan pada kriteria kelayakanpengukuran dan titik pemboran, penyelidikan di


kawasan ini di lakukan pada empat sektor yaitu :
1. Sektor Rapo Rindu, pengukuran dan pemboran dilakukan di daerah Rapo Rindu,
km 18 arah barat Kota Ende. Hasilnya 14 titik ; 8 titik baseline dan 6 titik crossline
2. Sektor Bheramari, pengukuran dan pemboran dilaksanakan di sebelah timur Rapo
Rindu 14 km arah barat Kota Ende. Hasil pemboran 6 titik : 3 titik baseline dan 3
titik crossline
3. Sektor Ruku Ramba, Pengukuran dan pemboran dilakukan, km 10 arah barat Kota
Ende. Hasil pemboran 9 titik ; 5 titik baseline dan 4 titik crossline
4. Sektor Ondorea, terletak di bagian barat daerah penyelidikan, tepatnya di km 23
arah barat Kota Ende. Hasil pemboran 14 titik ; 7 titik baseline dan 7 titik crossline.
Penyelidikan laboratorium diperoleh hasil sebagai berikut :
MD berasal dari lokasi OR 7/A1 sebesar 52,17%, ASG 3,84. Sedangkan MD terendahter
dapat di lokasi RA8/B yaitu sebesar 2,59 , ASG 2,74 terdapat pada lokasi RA8/B.
Nilairata-rata MD umumnya berkisar 10 % ~ 30 %.Untuk masing-masing sektor nilai
tertinggidan terendah sbb :

21

Secara keseluruhan nilai rata-rata dari sektor Rapo Rindu MD 20,84 % dan ASG 3,245;
Bheramari MD 20,68 % dan ASG 3,19; Ruku Ramba MD 20,69 % dan ASG3,15 dan sektor
Ondorea memiliki MD 13,75% dengan ASG 3,193.
Nilai Fetotal tertinggi dan terendah untuk masing-masing sektor :
Sektor Raporindu Fetotal nilai tertinggi 22,35% dan terendah 4,43%; Bheramari Fetotal nilai
tertinggi 22,69% terdapat pada BM2/B dan terendah 9,23% pada BM 1/A1. Ruku Ramba
Fetotal nilai tertinggi 31,39% terdapat pada lokasi RR 3/2/A2 dan terendah 10,86% terdapat
pada lokasi RR 1/2/B. Sedangkanuntuk sektor Ondorea Fe total nilai tertinggi37,10 %
terdapat pada OR7/A1 dan nilaiterendah 8,92 % pada OR 5/2/A1.
Adapun nilai Fetotal rata-rata masing-masing sektor ; Raporindu 23,96 %,Bheramari 15,37
%, Ruku Ramba 18,14%dan Ondorea 19,74 %.
Nilai TiO2 pada umumnya menunjukkan dibawah 2%, kecuali di beberapa lokasi seperti
di BM2/2/A2 TiO2 = 2,35%, RA 4/A1= 2,27%, RR3/2/A2 TiO2 = 2,52%, OR 7/A1TiO2 = 4,97%,
OR6 /A1 = 3,41%, dan OR7/2/A1 = 5,22% dari hasil analisis menunjukkan nilai TiO2 diatas 2
banyak terdapat di sektor Ondorea atau sektor OR. Gambaran sebaran masing-masing
sektordapat dilihat pada Gambar 4 7. Perhitungan potensi dilakukan dengan metoda
Area of influence dengan prinsip bahwa satu lubang bor memiliki daerah pengaruh
jarak terhadap lubang bor di sampingnya, hasil perhitungan disajikan dalam tabel-1.

Gambar 4
Peta Lokasi Hasil Pemboran Sektor I Rapo Rindu (RA)

22

Gambar 5
Peta Lokasi Hasil Pemboran Sektor II Bhera Mari (BM)

Gambar 6
Peta Lokasi Hasil Pemboran Sektor III Ruku Ramba (RR)

23

Gambar 7
Peta Lokasi Hasil Pemboran Sektor IV Ondorea (RA)

Beberapa gambar & tabel tidak bisa dicopy

PEMBAHASAN
Dari hasil survey lapangan dan analisis laboratorium diketahui di sepanjang pantai selatan
Kabupaten Ende empat daerah atau sektor yang dianggap paling memungkinkan untuk
terbentuknya akumulasi endapan pasirbesi yaitu sektor Rapo Rindu, Bheramari, Ruku
Ramba dan Ondorea. Pada sektor 1(Rapo Rindu/RA), ketebalan lapisan kaya besi magnetit
terdapat pada RA6, mengalami menipis pada RA5 dan RA4. Pada RA2 ketebalan lapisan
mengandung besi magnetit mulai menebal kembali. Sedangkan ke arah barat (RA7 dan
RA8) terjadi menipis lapisanmengandung magnetit secara drastis.
Ke arah timur yaitu pada sektor Ruku Ramba, pola perlapisan yang mengandung pasir
besi magnetit dari RR1~ RR5 mengalami menebalan, ini terutama terlihat terutama pada
titik bor RR5. Ketebalan lapisan mengandung magnetit di sektor ini mencapai 3,2 meter.
Sedangkan di sektor Ondorea penipisan lapisan terjadi ke arah barat ditandai dengan
adanya deplesi lapisan pasir magnetit serta meningkatnya lapisan pasir kuarsa/gamping.
Ciri fisik dipermukaan ditandai dengan warna putih yang dominan.
Hasil analisis laboratorium umumnya menunjukkan bentuk garis linier baik pada sektor
Rapo rindu, Ruku ramba maupun Ondorea. Ini menunjukkan hubungan sejajar antara

24

kandungan nilai pasir magnetit dengan Fe Total nya. Dimana jika kandungan pasir
bermagnet di suatu daerah dominan maka nilai derajat secara otomatis kemagnetan tinggi.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan pola sebaran lapisan di satu daerah berbeda
dengan daerah lainnya (melensis misalnya). Faktor-fkator / parameter tersebut diataranya :

Batuan induk, merupakan sumber asal untuk terbentuknya endapan pasir besi.
Faktor penghancuran fisika - kimia seperti suhu, erosi dan transportasi sungai, arus
laut bawah laut dan sungai sebagai sebagai media transportasi dan akumulasi
material.
Faktor topografi (kemiringan), memegang peranan penting sebagai tempat
akumulasi endapan pasir besi disuatu tempat (basin).

Jadi adanya bentuk dan pola sebaran endapan pasir besi yang berbeda antara satu daerah
dengan daerah lain dimana terjadi pengayaan misalnya, ini sangat di tentukan oleh
faktor/parameter tersebut diatas. Sebagai contoh di sektor Rapo Rindu akumulasi pasirbesi
relatif lebih banyak dibandingkan dengans ektor lainnya. Tetapi sebaliknya di sektor
Ondorea pasir besi berkurang ke arah baratdengan meningkatnya pasir dari batuan
karbonat. Gambaran global polapembentukan tersebut dapat dilihat pada gambar
dibawah ini (Gambar 9).

KESIMPULAN
Keterdapatan endapan pasir besi dikawasan pesisir selatan Kabupaten Ende diperkirakan
merupakan endapan yang terbentuk dari akumulasi hasil disintegrasi fisika dan kimia
batuan vulkanik tua didaerah ini yang bersifat, dari kisaran dasitik hingga basaltik.
Secara fisik endapan pasir besi di daerah pesisir selatan Ende relatif muda dimana
prosesnya diduga dari pelindihan dan pencucian yang berjalan cukup secara
intensif sampai sekarang sehingga di beberapa lokasi menghasilkan konsentrat magnetit
yang tinggi.
Model endapan pasir besi yang terdapat dipesisir selatan Ende diperkirakan
bentuk melensis dimana ke arah barat, kandungan magnetitnya berkurang dengan
bertambahnya pasir karbonat (berwarna putih kecoklatan) sedangkan kearah timur
kandungan magnetitnya bertambah hal ini diperkuat dengan hasil analisis laboratorium.
Hasil gabungan data pemboran dan analisis laboratorium diketahui potensi endapan pasir
besi berurutan dari yang besar terdapat pada sektor Rapo Rindu, Bheramari,Ruku Ramba
dan Ondorea dengan jumlah sumber daya hypotetik seluruhnya sebesar 57.134.358,4 ton
konsentrat.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak Direktur, serta semua pejabat
terkait dilingkungan jajaran Pusat Sumber Daya Geologi yang telah memberikan bantuan
25

kepada kami berupa kesempatan, dorongan dan saran sehingga terwujudnya tulisan ini.
Koreksi dan saran kami nantikan guna penyempurnaan tulisanini.

DAFTAR PUSTAKA
Bambang N. Widi., 2005, Laporan HasilPenyelidikan Tinjau Endapan Pasir Besi di
Kabupaten Sikka, Nusa TenggaraTimur. PT. Ever Mining.
Bambang W., Kisman, A. Said, Soepriadi,Budiharyanto, 2005, Eksplorasi Logam Besi di
Pesisir Selatan Kabupaten Ende,Provinsi Nusa Tenggara Timur, Direktorat Inventarisasi
Sumber DayaMineral, Bandung.
Bandi, S.Djaswadi, S.L.Gaol, 1994, LaporanPendahuluan Penyelidikan Mineral Logam di
Daerah Wolowaru Kab. Ende,Flores - Nusa Tenggara Timur , DirektoratSumberdaya Mineral,
Bandung.
Franklin dkk., 1999, Eksplorasi Logam Mulia dan Logam Dasar di Daerah Wai Wajo dan
Sekitarnya Kabupaten SIKKA NusaTenggara Timur , Direktorat Sumberdaya Mineral,
Bandung.
Suwarna N., S. Santosa, S. Koesoemadinata.,1990,Geologi Lembar Ende 1:250.000, Nusa
Tenggara Timur , Pusat Penelitiandan Pengembangan Geologi Bandung.
Subandoro dan Pudjowaluyo, 1978, Iron Sand Occurrences In The Coastal Areas of Flores,
Mineral Resources In AsianOffshore Areas , CCOP , Singapore.
Van Bemmelen, R.W., 1949, The Geology of Indonesia. Vol. IA,1st Edition . Govt.Printing
office, The Hague, pp 104-136

26

EKSPLORASI PASIR BESI


DI KABUPATEN MANGGARAI
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Franklin
Kelompok Program Penelitian Mineral Logam

S A R I
Kabupaten Manggarai merupakan salah satu daerah yang dilalui oleh jalur magmatik
Sunda Banda yang secara tidak langsung implikasinya merupakan salah satu tempat
kedudukan mineralisasi logam yang potensil salah satunya adalah pasir besi. Hasil
penyelidikan yang telah dilakukan di daerah Nangarawa seluas 3 Km x 40 m sejajar garis
pantai, ketebalan rata-rata lapisan pasir yang mengandung besi 2,23 m, persentase
kemagnetan 5,65 % dan berat jenis 3,11 telah menghasilkan sumber daya terunjuk sebesar
343.300 ribu ton pasir besi. Sumber daya ini masih dimungkinkan bertambah lagi
mengingat belum seluruhnya diselidiki terutama ke arah barat. Apabila hasil analisis
kimia menunjukkan kadar besi total kurang lebih 56 % Fe, maka potensi sumber daya
pasir besi di daerah ini cukup prospek untuk dikembangkan mengingat permintaan pasar
yang jatuh pada kisaran angka tersebut cukup banyak.

PENDAHULUAN
Makalah ini merupakan penjabaran serta interpretasi data lapangan yang mencakup data
geologi, dan pemboran di daerah Nangarawa Kabupaten Manggarai Flores Nusa Tenggara
Timur yang di perkirakan merupakan daerah potensi endapan pasir besi.
Hasil penyelidikan ini didasarkan pada studi kuantitatif pada batuan dan karateristik
mineral seperti misalnya melalui pemetaan geologi, analisis ayak serta komparasi data
hasil penyelidikan tahun 2005.
Penyelidikan yang telah dihasilkan ini bukan dimaksudkan untuk dipakai sebagai
perbandingan terhadap keterdapatan endapan pasir besi beserta mineral ikutannya di
daerah-daerah lainnya.
Daerah penyelidikan terletak pada koordinat UTM 245.578,2 mN dan 9.020.206,6 mE
dengan luas kurang lebih 343.300 meterpersegi (Gb.1). Penerbangan domestik tersedia dari
Bandung/Jakarta ke ibukota kabupaten Manggarai dan dilanjutkan dengan kendaraan
roda empat ke Desa Nangarawa kurang lebih tiga jam.

PENYELIDIK TERDAHULU
27

Daerah Nangarawa telah diselidiki secara sistematik oleh Direktorat Sumber Daya Mineral
pada tahun 2005 (kerjasama antara Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral ~ DIM
dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai) yang difokuskan pada inventarisasi sumber
daya alam termasuk di dalamnya logam dasar dan logam mulia. Hasil inventarisasi
menunjukkan kadar magnetit (Fe3O4)= 41%, piroksen = 42,5%, kuarsa= 11,5%, olivin= 3,5%
dengan perkiraan endapan pasir besi lebar 300 meter dan panjang 3 kilometer.
Berdasarkan data dan informasi tersebut, maka pada tahun 2006, daerah tersebur kembali
diselidiki dengan metoda eksplorasi pemboran.

Hasil Penyelidikan
Morfologi :
Kondisi fisik daerah ini sebagian besar terdiri dari pegunungan dan perbukitan dengan
kemiringan lebih dari 40 (70,45% dari total luas wilayah), sedang daerah yang agak
landai kurang dari 15 persen. Di antara perbukitan yang agak landai, masyarakat setempat
membuka areal persawahan, perladangan, perkebunan dan padang peternakan.
Berdasarkan ketinggiannya luas wilayah yang mempunyai ketinggian > 1000 m mencapai
12,67%, ketinggian 500 1000 m 32,40%, ketinggian 100 500 m 40,62% dan 0 100 m
14,29%. Dari peta DEM dan kenampakan 3 dimensinya serta dari citra dan topografi,
daerah pegunungan dijumpai di bagian tengah (foto 1 dan 2).
Litologi - Batuan Hasil Gunungapi Tua (QTv)
Satuan ini merupakan hasil kegiatan gunungapi aktif seperti G. Watueri serta G. Bajawa di
Flores Tengah yang terutama terdiri dari perselingan breksi, lava dan tufa dengan
komposisi utama andesit sampai andesit-basaltik. Di daerah penyelidikan satuan ini
menutupi bagian tengah sampai kedataran yang lebih rendah dan satuan ini berumur
Pliosen (Gb.2).
Undak Pantai (Qct), Satuan ini menutup secara tidak selaras batuan yang lebih tua dan
diendapkan hanya pada lembah besar Nangarawa. Satuan ini terdiri dari perselingan
konglomerat dan batupasir kasar, sedikit gampingan.
Endapan Pantai dan Aluvial (Qa), Endapan pantai dan alluvial Kuarter mengisi lembahlembah sungai terutama pada sungai-sungai besar Nangarawa dan undak yang terangkat.
Satuan ini terdiri dari bahan-bahan yang kurang padat dan kompak yang berasal dari
aliran sungai dengan ukuran bervariasi dari bongkah sampai lempung (Foto 3).
SUMBER DAYA
Luas Daerah Pengaruh : Panjang pantai 3000 meter, Lebar rata rata 70 meter, jarak
antar titik bor pada sumbu panjang 200 meter dan sumbu lebar 40 meter, maka luas daerah
pengaruh = 343,300 meter persegi.

28

Penentuan Persentase Kemagnetan (MD) : Persentase kemagnetan ditentukan dengan


membagi berat konsentrat yang dihasilkan dari pemisahan magnet dengan conto lapangan
yang telah direduksi hingga menjadi 100 gr kemudian dikalikan 100 %, maka diperoleh
harga MD atau dengan rumus dapat digambarkan sebagai berikut: MD = Berat
Konsentrat/Berat conto hasil reduksi x 100 %. MD rata-rata yang diperoleh di lapangan
adalah = 5,65 %

Pengukuran Dan Perhitungan Berat Jenis Pasir Besi : Analisis dilakukan dengan cara
conto asli (crude sand) seberat 100 gram dimasukkan ke dalam air yang diketahui
volumenya di dalam gelas ukur. Untuk memudahkan perhitungan ditetapkan volume 200
cc, apabila kenaikan air menjadi A cc, maka volume pasir yang dimasukkan = A 200 cc.
Jadi Berat jenis = 100/(A 200) gram/cc. Hasil perhitungan menunjukkan Berat Jenis ratarata adalah = 3,11 ton/m3.

Sumber Daya Pasir Besi : Penentuan potensi endapan pasir besi dilakukan dengan
metoda daerah pengaruh dengan menggunakan formula C = (L x t) x MD x SG
C = sumber daya dalam ton
L = luas daerah pengaruh dalam m2
t = tebal rata-rata endapan pasir besi dalam meter
MD = prosentase kemagnetan dalam persen
SG = Berat jenis dalam ton/m3

Berdasarkan formula tersebut sumber daya pasir besi di daerah Nangarawa dapat di
tentukan yaitu :
Luas daerah pemboran = 343.300 m2, Tebal rata-rata endapan pasir = 2,23 m, MD rata-rata
= 5,65 %, SG rata-rata = 3,11. Jadi sumber daya pasir besi adalah C = 343.300 m2 x 2,23 m x
5,65/100 x 3,11 ton/m3 = 134.520,20 ton.

Potensi Logam Besi : Berdasarkan hasil analisis kimia kadar besi daerah Nangarawa
adalah : %, maka potensi logam besi di Nangarawa adalah :

KESIMPULAN
Hasil penyelidikan yang telah dilakukan di daerah ini seluas 3 Km x 40 m sejajar garis
pantai, ketebalan rata-rata lapisan pasir yang mengandung besi 2,23 m, persentase
kemagnetan 5,65 % dan berat jenis 3,11 telah menghasilkan sumber daya terunjuk sebesar
343.300 ribu ton pasir besi. Sumber daya ini masih dimungkinkan bertambah lagi
mengingat belum seluruhnya diselidiki terutama ke arah barat (masuk kecamatan
Borong). Apabila hasil analisis kimia yang sedang dalam proses menunjukkan kadar besi
total kurang lebih 56 % Fe, maka potensi sumber daya pasir besi di daerah ini cukup
prospek untuk dikembangkan mengingat permintaan pasar yang jatuh pada kisaran angka
tersebut cukup banyak. Namun jika sebaliknya yang terjadi, maka sumber daya tersebut
29

dapat dipakai sebagai tambahan basis data daerah sambil menunggu perkembangan
teknologi yang dapat mengolah bijih besi dengan spesifikasi kadar yang lebih rendah.
ACUAN
Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Manggarai, 2003: Laporan Akhir
Inventarisasi dan Evaluasi Bahan Galian Mineral di Daerah Kabupaten Manggarai,
provinsi Nusa Tenggara Timur.
Franklin et.al., 2002, Joint Cooperation on Metallic Mineral Exploration in TebedoDalong-Bolol, Manggarai, NTT, DMRI-Kores.
Pemerintah Kabupaten Manggarai, 2001, Manggarai dalam angka 2001, Manggarai.

30

POTENSI TAMBANG
http://www.nttprov.go.id/bkpmd/web/index.php?hal=pottambang
Sektor pertambangan dan energi di NTT belum memberikan sumbangan yang signifikan
terhadap perekonomian, hal ini disebabkan karena potensi sector pertambangan dan
energi yang ada di beberapa wilayah belum dikelola secara maksimal. Hampir di semua
wilayah di NTT potensi bahan galian A dan B (mineral dan logam) seperti nikel, emas,
tembaga, timah, pasir besi serta bahan galian C lainnya. Potensi energi terbarukan seperti
matahari, angin, mikro hidro untuk pembangkit energi skala kecil memiliki potensi untuk
dikembangkan, potensi panas bumi di Mataloko dan Ulumbu serta daerah-daerah lainnya
di pulau flores memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi pembangkit tenaga listrik
skala sedang dan besar.
a. Potensi Pertambangan Umum Bahan Galian C
1). Barit
Barit terjadi karena berasosiasi dengan batu lempung. Digunakan untuk lumpur
pengeboran, industri cat, kertas dan plastic. Lokasi di Kabupaten Lembata dengan
cadangan diperkirakan sebesar 62.500m3.
2) Aragonit
Terjadi karena bersaosiasi dengan batu gamping. Berwarna coklat bening, bersifat
transparan, kristalisasi, kondisi stabil dan berubah menjadi kalsit. Digunakan untuk bahan
industri kosmetik. Lokasinya di Kabupaten Kupang dengan cadangan 7.360.562m3
Kabupaten Kupang
- Cadangan : 7.360.562 m2
Kabupaten Sumba Timur
- Cadangan : Tidak terdeteksi
3) Batu Gamping
Merupakan batuan pospat yang sebagian besar tersusun oleh mineral kalsium karbonat
(CaCo3). Digunakan untuk bahan baku terutama pembuatan semen Portland, industri
keramik, obat-obatan, dall. Lokasi terbanyak di Kabupaten Manggarai dengan cadangan
5.558.771.299m3
Lokasi dan Cadangan Bahan Galian Batu Gamping
No

Kabupaten

Cadangan

1.

Kupang

3.575.260.000 m2

2.

TTS

41.233.125 m2

3.

TTU

186.928.000 m2

4.

Belu

2.279.400.000 m2

5.

Alor

319.605.000 m2

6.

Lembata

262.380.000 m2
31

7.

Flores Timur

8.

Sikka

54.690.000 m2

9.

Ende

7.698.000 m2

10. Ngada

7.470.000 m2

37.000.000 m2

11. Manggarai

5.558.771.299 m2

12. Sumba Barat

4.708.606.782 m2

13. Sumba Timur

3.704.907.916 m2

Data : Dinas Pertambangan Provinsi NTT


.
4) Batu hias/warna
Merupakan batuan sediment Zeolin yang berwarna hijau pucat hingga coklat pucat
dengan bentuk butir membulat tanggung yang diendapkan di daerah pantai sebagai
proses abrasi dan transportasi. Digunakan untuk ornament dan taman. Lokasinya di
Kabupaten Alor terbanyak dengan cadangan 26.000.000 m3

Lokasi dan Cadangan Bahan Galian Batu Warna


No

Kabupaten

Cadangan

1.

Kupang

10.359.750 m2

2.

TTS

5.967.360 m2

3.

Alor

26.000.000 m2

4.

Ende

270.000 m2

5.

Sumba Timur

12.500 m2

Data : Dinas Pertambangan Provinsi NTT


5) Batu Sabak
Berasal dari serpih atau lempung, berbutir halus dan kecil, umumnya berwarna abu-abu,
hitam, ungu dan merah. Digunakan untuk papan tulis, bahan atap dan trotoar. Lokasinya
di Kabupaten Sumba Timur, cadangan sebesar 616.605.800 m3
6) Batu setengah permata
Merupakan mineral yang terbentuk secara alamiah, jarang ditemukan atau langka, keras
indah dan tahan terhadap reaksi kimia. Keindahannya berkaitan erat dengan sifat-sifat
optis dari batuan itu sendiri seperti daya dispersi (permainan warna). Lokasinya terdapat
di Kabupaten TTU dengan cadangan sebesar 148...750 m3
7). Bentonit

32

Merupakan bahan galian yang terdiri dari lempung monmorilonit, mempunyai sifat
mengembang apabila terkena air atau basah. Digunakan sebagai bahan pemutih/pemucat
minyak kelapa, sebagai lumpur penahan lubang bor agar tidak runtuh, lokasi bahan galian
di Kabupaten Ngada dengan cadangan sebesar 10.000 m3

8). Dolomit
Disebut juga kapur magnesium (magnesium limestone), terjadi apabila beberapa unsure
kalsit (Ca) dalam batu gamping di ganti oleh magnesium (mg), dengan susunan kima
CaMg (Co 3)2 Dolomit merupakan bahan pembuat semen, bahan refraktori dalam tungku
pemanas/tungku pencair, bahan pupuk (unsure Mg) dan pengatur Ph tanah,
pengembangan dan pengisi cat, plastik dan kertas. Lokasinya terdapat di Kabupaten TTS
dengan cadangan 14.976.000 dan Manggarai dengan cadangan 350.000.000 m3
9). Feldspar
Merupakan pembentuk batuan seperti granit dan diorite, berwarna putih keabu-abuan,
hijau muda, dan kuning kotor. Digunakan untuk bahan porselin dan bedak penggosok,
sebagai fluk dalam industri keramik, gelas dan kaca, sebagai bahan pembuat semen, bahan
refraktori dalam tungku pemanas/tungku pencair, bahan pupuk (unsure (Mg) dan
pengatur Ph tanah, pengembangan dan pengisi cat, plastik dan kertas.

Lokasi dan Cadangan Bahan Galian Feldspar


No

Kabupaten

Cadangan

1. Ende

2.000 m2

2. Sumba Timur
3. Manggarai

5.340.000 m2
456.462.499 m2

Data : Dinas Pertambangan & Energi Provinsi NTT


.
10. Gipsum
Terbentuk sebagai akibat evaporasi (penguapan) air laut, berwarna putih bening dengan
sedikit pengotoran, kuning, abu-abu, merah dan jingga. Digunakan sebagai bahan
campuran semen Portland, bahan pengisi dan penetral keasaman tanah. Cadangan bahan
galian Gipsum paling banyak terdapat di Kabupaten Kupang, Alor, Flores Timur (daratan
Flors pada Umumnya) dan Kabupaten TTU.

Lokasi dan Cadangan Bahan Galian Gipsum.


No

Kabupaten

1.

Kupang

2.

TTU

Cadangan
11.214.800 m2
6.000 m2
33

3.

Alor

4.

Flores Timur

1.179.125 m2
182.850 m2

Data : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTT


11). Kalsit
Merupakan mineral dengan senyawa CaCo3, terdapat dalam bentuk kristal, banyak
ditemukan di daerahsebaran batu gamping, dapat juga ditemukan dalam urat (Vein
mineral) dalam gua kapur (Stalakit dan Stalagmit), mata air panas (sebagai travertine)
dalam cangkang binatang koral, siput dan tiram (moluska), berwarna putih dan kuning,
karet dan alat-alat optik. Cadangan bahan galian kalsit banyak terdapat di Kabupaten
Kupang sebesar 8.656.875 m3
12) kaolin
Merupakan massa batuan yang tersusun oleh mineral berukuran lempung dengan kualitas
tinggi dan dengan kandungan besi yang rendah, dan berwarna putih. Digunakan dalam
industrik keramik, cat, kosmetika, pasta gigi, detergen, farmasi, pestisida dll. Cadangan
bahan galian kaolin banyak terdapat di kabupaten alor sebesar 2.550.000 m3
13) lempung
Terjadi sebagai hasil pelapukan dari batuan asalnya (residual clay) ataupun karena proses
transportasi dan diendapkan (sedimentary clay). Digunakan sebagai bahan baku dalam
pembuatan semen portland dan dalam industri keramik, batu tahan api dll. Cadangan
bahan galian ini banyak terdapat di kabupaten sumba timur sebesar 4.238.608.698 m3
14) Oker
Merupakan endapan mineral yang berasosiasi dengan air panas dan banyak mengandung
besi sehingga berwarna merah. digunakan sebagai zat perwarna dalam pembuatan cat dan
tinta, industri kater dan kertas,
.Permadani, tegel, bahan plastik serta sebagai bahan untuk logam dan gelas. Cadangan
bahan galian oker banyak terdapat di Kabupaten Sumba Timur sebesar 2.534.614.750 m3.
15) Pasir Kuarsa
Merupakan mineral sebagai bahan pembentuk batuan bersifat asam seperti granit
berwarna putih bening, putih susu dan ungu (amethyst). Digunakan sebagai bahan dalam
industri gelas/kaca, optic, keramik dan abrasit. Lokasi galian ini terdapat di Kabupaten
Alor, dengan cadangan sebesar 1.250.000 m3.
16) Perlit
Merupakan batuan yang terbentuk karena magma kental mencapai permukaan dingin dan
membeku secara cepat dan berhubungan dengan suasana cair. Digunakan sebagai bahan
34

bangunan ringan (agregat konstruksi, campuran plester atau bangunan beton), bahan
isolator, bahan saringan, bahan pengisi, bahan pembawa dan sebagai bahan peredam
bunyi. Lokasi bahan galian ini terdapat di Kabupaten Lembata, dengan cadangan sebesar
17.370.000 m3.
17) Silika
Merupakan mineral yang mengisi urat-urat pada batu gamping dengan warna abuabusampai coklat kotor dan merupakan pecahan konkoidal. Digunakan dalam industri
metalurgi (refraktor), silikon, keramik, bahan abrasive dan permurnian logam. Lokasi
cadangan bahan galian silica banyak terdapat di Kabupaten Manggarai sebesar 518.150.000
m3.
18) Toseki
Merupakan hasil ubahan hidrotermal dan batuan tufa, berwarna putih agak kompak.
Digunakan sebagai bahan baku dan campuran keramik, refraktor, isolator, dll. Cadangan
bahan galian toseki ini banyak terdapat di Kabupaten Manggarai sebesar 13.365.000 m3.
19) Tras
Terbentuk sebagai hasil pelapukan bahan muntahan gunung api seperti abu, tuf, dan pasir
siliko. Digunakan sebagai bahan pembuatan batako dan bahan urugan, Cadangan bahan
galian ini banyak terdapat di Kabupaten Manggarai sebesar 387.023.000 m3.
20) Zeolit
Merupakan nama sekelompok mineral almino silisic acid yang mengandung unsur logam
alkali seperti Al, Si, O, Na, K, Ca, dan Mg. Digunakan sebagai bahan bangunan dan
ornament, pembuatan semen puzolland dan semen portland, bahan agregat ringan, bahan
pengembang dan pengisi dalam industri kertas, karet dan plastik, sebagai pupuk dan
makanan ternak, untuk mencegah pencemaran lingkungan dll. Potensi terbesar ada di
Kabupaten Ende dengan cadangan sebesar 29.705.000 m3.
21) Andesit
Merupakan batuan intermediate yang dihasilkan oleh pendinginan magma pada
permukaan bumi ataupun yang dihasilkan oleh aktifitas gunung api seperti lava atau
sebagai fragmen-fragmen pada batuan vulkanik, anglomerat dan lain-lain. Digunakan
untuk pembuatan jalan/jembatan, untuk pondasi bangunan ataupun sebagai material
konstruksi lainnya. Potensi bahan galian andesit di NTT terbesar terdapat di Kabupaten
Lembata dengan cadangan diperkirakan sebesar 73.735.000 m3.
22) Basalt
Terjadi kare4na pembekuan di permukaan bumi yang merupakan aliran lava atau
bongkah, berwarna hitam digunakan sebagai bahan agregat dan pondasi bangunan.
35

Potensi ini banyak terdapat di Kabupaten Sumba Timur sebesar 307.020.000 m3.
23) Batu Apung
Merupakan bahan yang dihasilkan oleh letusan gunung api afusir yang kaya akan silica
atau buih kaca alam (rock froth), berwarna abu-abu terang hingga putih. Digunakan untuk
bahan baku pembuatan ampelas untuk logam, montar dan beton, bata ringan, bahan tahan
api, filter bahan cat, pasta gigi dan lain-lain. Bahan galian ini banyak terdapat di
Kabupaten Lembata sebesar 22.425.000 m3.
24) Batu Pasir
Marupakan batuan endapan klasik yang disemen dengan tuf, berwarna putih kekuningan,
dan berbutir halus. Digunakan sebagai bahan penggosok (abrasive). Lokasi bahan galian
ini terdapat di Kabupaten Kupang dengan cadangan sebesar 9.308.250 m3.
25) Dasit
Merupakan batuan beku yang mengalami proses pendinginan/pembekuan magma relative
dekat dengan permukaan bumi (merupakan batuan intrusi dengan tubuh magma yang
besar), berbutir halus dan tekstur holokristalin. Digunakan sebagai bahan bangunan.
Bahan galian ini banyak terdapat di Kabupaten Flores Timur sebesar 41.091.900 m3.
26) Diorit
Merupakan batuan beku dalam yang mana mengalami proses pembekuan magma di
bawah permukaan sebagai akibat terobosan magma, berwarna abu-abu, tektur
holokristalin dan berbutir halus. Digunakan untuk bahan bangunan ubin/lantai, dinding
dan ornament. Lokasi galian ini banyak terdapat di Kabupaten Sumba Timur dengan
cadangan sebesar 2.639.319.165 m3.
27) Fuller Earth
Merupakan jenis bahan galian yang digunakan untuk campuran semen, yang
diagenesanya merupakan hasil dari pelapukan batu gamping yang mengalami proses
pemadatan, tidak kompak dan bersifat lepas-lepas. Digunakan untuk campuran sewmen.
Lokasi bahan galian ini terdapat di Kabupaten Manggarai dengan cadangan sebesar
132.300.500 m3.
28) Granodiorit
Merupakan batuan beku dalam yang mengalami pembekuan magma di bawah
permukaan bumi (intrusi magma), berwarna putih keabuan, holokristalin, tersusun atas
mineral kwarsa feldspar. Potensi bahan galian ini terdapat di Kabupaten Sumba Timur
dengan perkiraan cadangan sebesar 317.500.000 m3.
29) Granit
36

Merupakan batuan terobosan yang bersifat asam, berbutir kasar hingga sedang, berwarna
terang (keabuan, kecoklatan dan kemerahan) terjadi sebagai hasil pembekuan magma di
bawah permukaan bumi dengan temperature yang stabil. Digunakan untuk bahan baku
pembuatan tegel, batu hias dll. Potensi bahan galian granit terdapat di Kabupaten Sumba
Timur dengan perkiraan cadangan sebesar 343.227.666 m3.
30) Marmer
Terbentuk sebagai proses malihan dari batuan gamping atau dolomite, dengan sifat fisik
keras, padat, kristalin, berwarna putih, merah (teroksidasi oleh fe), berwarna hijau
(mengandung serpentin) dan berwarna hitam (mengandung karbon). Digunakan untuk
dinding bangunan, lantai dan ornament lainnya. Potensi ini terdapat di Kabupaten
Manggarai, TTS dan TTU dengan cadangan sebesar 1.896.393.126 m3.
31) Sirtu
Merupakan campuran material lepas yang berukuran pasir, kerikil dan kerakal.
Digunakan untuk bahan bangunan pada campuran beton, material pondasi bangunan,
pengeras jalan dll. Potensi dan cadangan galian ini banyak terdapat di Kabupaten Sumba
Timur dengan cadangan sebesar 20.789.852 m3.

32) Tufa
Merupakan batuan piroklasik (hasil gunung api) yang terdiri dari pasir dan abu yang
mengalami pemadatan, terdiri atas fragmen gelas dan berbutir halus. Digunakan untuk
kerajinan jambangan, vas bunga, pembersih minyak bumi kasar. Potensi galian ini banyak
terdapat di Kabupaten Kupang dengan cadangan sebesar 149.400 m3.

37

Bahan Galian Golongan B


http://distambenprovntt.com/index.php?page=BahanB
Bahan galian Golongan B (Vital) yang berpotensi di Propinsi NTT adalah :
No
1.

Bahan Galian
Emas

Kabupaten
TTS, TTU, Lembata, Sikka, Ngada, Manggarai Barat, Sumba Barat,
Sumba Timur

2.

Mangan

Kupang, TTS, TTU, Manggarai

3.

Pasir Besi

Lembata, Sikka, Ende, Ngada, Sumba Barat

4.

Tembaga

TTS, TTU, Belu, Alor, Lembata, Ende

5.

Timbal

Alor, Lembata, Sumba Timur

KETERANGAN :
EMAS
1. Terdapat di Desa Bijeli, Kecamatan Molo Selatan, Kabupaten Timor Tengah
Selatan.
2. Terdapat di Noel Toko, Kecamatan Miamafo Barat, Kabupaten Timor Tengah
Utara.
3. Terdapat di Kecamatan Buyasuri, Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Lebatukan,
Kabupaten Lembata (Luas 358.203 Ha).
4. Terdapat di daerah Papang, P. Lainjawa, Wolo Besi, Wai Dewas, Lodo, Wae Teo,
semenanjung Ontok dan Hunut, Menganumba, Poselik, Kuli Boko dan Mbay,
Kabupaten Ngada.
5. Terdapat Di Tanah Darru, Kecamatan Umbu Ratunggai dan Lamboya, Kecamatan
Walakaka, Kabupaten Sumba Barat.
6. Terdapat di Pegunungan Masu, Kecamatan Nggongi, Kabupaten Sumba Timur.
MANGAN
1. Sungai Taemaman dekat Kampong Fatukoko, Fatu tuminu, Kecamatan Molo
Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
2. Oe Ekam, Oe Bake, Kolbano dan Baboin, Kecamatan Amanuban, Kabupaten Timor
Tengah Selatan.
3. Terdapat di Bonleo dan Noemuti, Kecamatan Miamafo Barat, Kabupaten Timor
Tengah Utara.
PASIR BESI
1. Terdapat di Desa Beur dan Gunung Kedang, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten
Lembata.

38

2. Terdapat di Pantai Utara dengan areal Kecamatan Talibura Kecamatan Paga


(Kandungan Fe : 5- - 94%), Kabupaten Sikka.
3. Terdapat di Sebelah Teluk Bamu Wilayah Desa Riung, Kecamatan Riung dan Wolo
Besi, Wolo Mbopo dan Wolo Rinding, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.
4. Terdapat di Pantai Utara Mamboro, Desa Wendewa dan Manuwalu, Kecamatan
Mamboro, Kabupaten Sumba Barat.
5. Terdapat di Pantai Selatan Pantai Nangakeo, Desa Bheramari, Kecamatan
Nangapanda, Kabupaten Ende.
TEMBAGA
1. Terdapat Fatukole, Fatu Noelsusu, Sebot, Kecamatan Molo Utara, Kabupaten Timor
Tengah Selatan
2. Terdapat Fatukas, Kecamatan Molo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
3. Terdapat Sungai Noel Baun Daerah Nipol, Kecamatan Amanuban Timur,
Kabupaten Timor Tengah Selatan.
4. Terdapat Noel Uapnas dan Noel Bam (Teas), Kecamatan Amanatun Selatan,
Kabupaten Timor Tengah Selatan.
5. Terdapat Pantai Utara antara Desa Hadaweka dan Laramatang P. Lomblen,
Kecamatan Labatukan, Kabupaten Lembata.
6. Terdapat Waipue Point dan Longohoni, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata.
7. Terdapat di Wolowaru, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende.
8. Pantai Utara Dualek, Baikatan, Busumuit, Baburlapan, Kecamatan Tasifeto Timur,
Kabupaten Belu.
9. Pantai Utara Bineboma, Waisunak, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu.
10. Pantai Utara Turanin, Raimea, Waekuli, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu.
11. Abbor, Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Belu.
12. Terdapat di Sungai Bomara, Sungai Brakbuku (Wakapair), Kecamatan Alor Barat
Daya, Kabupaten Alor.
TIMBAL
1. Terdapat di Hulu sungai W. Rango, Kecamatan Labatukan Pulau Lomblen,
Kabupaten Lembata.
2. Terdapat 2 Km ke arah Tenggara Balauring, Kecamatan Omesuri Pulau Lomblen,
Kabupaten Lembata.
3. Terdapat di Lailunggi, Ujung Selatan Bagaian Barat Pulau Sumba, Kecamatan
Tabundung, Kabupaten Sumba Timur. T
4. Terdapat di Atnatang Buku, Desa Ombay, Kecamatan Pantai Timur, Kabupaten
Alor.

39

Sumber Daya Alam Provinsi NTT


http://www.indonesia.go.id/en/regional-government/east-nusa-tenggara-province/naturalresouces.html
Menurut informasi, pada tahun 2006 terjadi peningkatan hasil panen, Peningkatan luas
panen dan produksi diikuti oleh peningkatan produktifitas usaha, kecuali pada kedelai.
Secara umum, kondisi ini menunjukkan terjadinya ekstensif kasi pertanian tanaman
pangan yang disertai perbaikan metode clan teknologi pra panen. Dengan demikian,
diharapkan kecenderungan perluasan areal panen yang disertai dengan perbaikan
teknologi pertanian terus berkelanjutan sehingga menyediakan bahan pangan utama tidak
hanya untuk konsumsi rumah tangga (food crops) melainkan juga bagi aktifitas yang
mendatangkan uang tunai bagi petani (cash crops).
A. Pertanian
Produksi sub sektor tanaman pangan merupakan produksi utama bagi ketahanan pangan,
pada umumnya dan kesejahteraan petani pada khususnya, karena bagi mayoritas keluarga
petani, ketersediaan pangan serta kebutuhan hidup penting lainnya bergantung pada
apakah produksi pangannya cukup untuk konsumsi keluarga dan untuk diperjual belikan
guna memperoleh uang tunai. Terkait dengan hat tersebut, berbagai upaya dan
kecenderungan perbaikan yang perlu ditingkatkan melalui program pemerintah dan
masyarakat, produksi tanaman yang di hasilkan di provinsi ini adalah sumber karbohidrat
(padi, jagung, kacang-kacang umbi-umbian) dan sumber protein nabati (sayur dan buah).
Jika pada 2004, lima sayuran dengan produksi tertinggi adalah sawi, terung, bawang dan
tomat, maka pada 2005 kacang tanah menduduki peringkat pertama, dan tomat produksi
tertinggi. Selain sayur mayur, buah-buahan merupakan penyumbang utama protein nabati
serta mineral-mineral yang penting untuk kesehatan tubuh.
Secara agregat, sebelas komoditi buah-buahan yang dipantau memperlihatkan produksi
yang positif dimana peningkatan produksi dari tahun 2004 ke tahun 2005 adalah 39,50%.
Peningkatan produksi terendah adalah sirsak (12,18%), sedangkan jeruk (63,74%). Kondisi
ini merupakan perbaikan produksi buah-buahan di Nusa Tenggara Timur.
Selain ini, provinsi ini juga sedang melakukan menggalakkan pengembangan apel jenis
Rome beauty yang berasal dari Timor Tengah Selatan, Pengembangan diharapkan dapat
mengembalikan daya produksi apel sehingga suplai apel yang selama dua dasawarsa
dimonopoli apel luar Nusa Tenggara Timur dapat diganti dengan produk lokal.
B. Kehutanan
Luas hutan adalah 1.808.990 hektar atau setara 30,34% luas daratan merupakan dampak
deforestasi dimana eksploitasi hasil hutan dalam bentuk kayu berpacu terlalu cepat
dibandingkan upaya-upaya reboisasi dan rehabilitasi hutan. Ekploitasi hasil hutan kayu,
arang dan pohon mencapai 86.620,77 meter kubik, hasil hutan non kayu, kulit dan daun
mencapai 29.777.185 ton, dan hasil perburuan (madu) 23.604 liter.
40

C. Kelautan dan Perikanan


Sub sektor perikanan dan kelautan merupakan penyumbang protein hewani untuk
konsumsi lokal masyarakat Nusa Tenggara Timur, pasar nasional bahkan pasar luar negeri
untuk jenis ikan tertentu. Sub sektor perikanan mengalami penurunan kinerja yang
signifikan ditandai oleh penurunan tangkapan ikan laut sebesar 87,90% dan ekspor
58,73%, serta penurunan potensi produksi dan produksi perikanan darat.
D. Peternakan
Sub sektor peternakan merupakan penyumbang protein hewani untuk kebutuhan
masyarakat lokal maupun masyarakat di luar Nusa Tenggara Timur. Tujuh jenis ternak
menunjukkan perkembangan populasi netto sebesar 1,87%, Kenaikan tertinggi di
sumbangkan oleh kambing (3,85%) dan babi (3,37%), sedangkan pertumbuhan negatif
disumbangkan oleh domba, perkembangan pengeluaran ternak, perdagangan antar pulau
sapi sebagai ternak niaga utama mengalami penurunan sebesar 19,47%, sekalipun secara
agregat pengantar ternak besar mengalami pertumbuhan sebesar 7,94%. Akan hasil
pemotongan ternak, secara agregat terjadi kenaikan sebesar 1,89%. Jika dibandingkarn
antara pengantar pemotongan, terlihat bahwa pemotongan sapi mengalami lonjakan yang
lebih besar daripada pengantarpulauannya, hal ini menunjukkan daya serap daging sapi
untuk pasar lokal mengalami peningkatan.
E. Perkebunan
Usaha tani tanaman perkebunana memiliki keunggulan tersendiri karena tahun
produksinya yang panjang. Dalam kurun waktu 2004-2005, secara agregat terjadi
pertambahan luas areal tanaman produktif sebesar 11,94%, dan pertambahan produksi
sebesar 9,97%. Namun demikian, data menunjukkan bahwa terjadi sedikit penurunan luas
panen untuk tanaman kopi, asam, dan lontar; tetapi untuk kopi dan asam, tidak diikuti
dengan penurunan produksi. Penurunan produksi justru terjadi pada tanaman lain yakni
kapuk dan tembakau.
F. Pertambangan dan Energi
Sub sektor pertambangan dan penggalian belum menjadi penyumbang dominan dalam
pendapatan regional karena sejauh ini didominasi oleh komoditas bernilai rendah yakni
batu karang, sirtu, pasir, batu pecah, batu gelondongan, batu warna dan batu kapur untuk
kebutuhan konstruksi lokal. Potensi 2,79% pada 2005. selain deposit bernilai rendah,
terdapat pula eksplorasinya panas bumi untuk pembangkit energi listrik di Flores,
penambangan marmer di Timor dan penambangan biji besi di Sumba. BPS
memperkirakan bahwa total ekspor NTT untuk batuan dan biji besi sekitar 43 ribu ton
dengan nilai ekonomi 1,15 juta dolar Amerika.
Eksplorasi panas bumi untuk pembangkit energi listrik telah sampai pada tahapan
implementasi, sehingga diyakini akan meningkatkan daya dorong sub sektor
pertambangan terhadap peningkatan energi dan listrik. Kendala yang dihadapi usaha
penambangan deposit marmer adalah tingginya investasi, dan risikonya serta lemahnya
41

diplomasi sosial ekonomi antara masyarakat adat, pemerintah dan perusahaan


penambang, mengakibatkan berhentinya dua buah tambang marmer di daratan Timor.
Untuk penambangan biji besi di Sumba, kendala yang dihadapi adalah rendahnya skala
usaha yang diterapkan sehingga tidak mencapai skala yang ekonomis.
Sumber: Indonesia Tanah Airku (2007).

42

POTENSI PERTAMBANGAN KABUPATEN ENDE

I. PENDAHULUAN
Kabupaten Ende sebagai salah satu daerah yang terletak di pulau Flores memiliki banyak
sekali Potensi Pertambangaan Bahan Galian Logam maupun Bahan Galian Non Logam
yang tersebar di seluruh Kecamatan dan Desa / Kelurahan.
Sebaran Potensi Pertambangan Bahan Galian Logam maupun Bahan Galian Non Logam
yang dimiliki, telah diidentifikasi melalui Kegiatan Survey dan Pemetaan Logam oleh
Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Ende yang bekerja sama dengan Direktorat
Inventarisasi Sumber Daya Mineral Bandung pada Tahun Anggaran 2006 serta Kegiatan
Survey dan Pemetaan Bahan Galian Non Logam oleh Dinas Pertambangan dan Energi
Kabupaten Ende yang bekerja sama dengan Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral
Bandung pada Tahun Anggaran 2003.
Hasil kegiatan tersebut adalah informasi tentang Jenis Pertambangan Bahan Galian Logam
dan Bahan Galian Non Logam, Lokasi keterdapatannya serta deposit dan kualitasnya telah
didapat melalui hasil Analisa Kimia, XRD, Analisa Petrografi, Poles Batuan dan Analisa
Keramik. Kiranya Informasi yang disajikan ini dapat memberi nilai tambah bagi Kegiatan
Pengusaha melalui Investor yang ingin melakukan Kegiatan Pertambangan di Kabupaten
Ende.

II. POTENSI PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN LOGAM


1. ENDAPAN PASIR BESI
a.

LOKASI SEBARAN

Sebaran Pasir Besi di Kabupaten Ende terdapat disepanjang pantai selatan yang
memanjang dari Desa Pangamuna Kecamatan Nangapanda sampai Desa Wolotopo
Kecamatan Ndona dengan berbagai karakteristik baik fisik maupun kandungan kimia
mineralnya.
Lokasi lokasi yang cukup potensial untuk dikembangkan dengan berbagai tujuan
produksi sesuai karakteristik pasir besinya adalah :

Pantai Pangamuna Kec. Nangapanda


Pantai Waturaja Kec. Nangapanda
Pantai Nangalala Kec. Ende
Pantai Nangaba Kec. Ende
Pantai Paupanda Kec. Ende Selatan
Pantai Wolotopo Kec. Ndona

43

b.

KUALITAS DAN CADANGAN

Kualitas Pasir Besi di Kabupaten Ende bervariasi pada berbagai lokasi sepanjang pantai
selatan, dengan kandungan Besi berkisar 20 % - 70 %, Titanium 1 % - 11 %, Hematit 1 % - 7
%. Sedangkan cadangan terduga pada masing masing lokasi berkisar 240.000 m belum
termasuk cadangan bawah lautnya. ( data di ambil dari laporan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Pusat Sumber Daya Geologi Bandung
MINERAL LOGAM
Dari hasil Survey dan Pemetaan Potensi Pertambangan Sumber Daya Mineral Logam di
Kabupaten Ende yang dilakukan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Ende
yang bekerjasama dengan Badan Geologi Pusat Sumber Daya Geologi Bandung pada
Tahun Anggaran 2006 2007, terdapat beberapa indikasi mineralisasi yang ada di
Kabupaten Ende yang merupakan daerah prospek yang perlu ditindaklanjuti dintaranya :

Zona daerah potensi mineralisasi Mn Fe ( Mangan Besi ) di daerah perbatasan


antara Kecamatan Maukaro dan Kecamatan Ende, arah sebarannya baratlaut
tenggara yang diduga pada batuan gunungapi formasi kiro.
Zona daerah potensi mineralisasi Tembaga di hulu sungai Enggasena, desa
Mbotutenda, Kecamatan Ende ditunjukan hasil analisa kimia float batuan berkadar
46.560 ppm.
Zona daerah potensi Besi disekitar Desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur, diduga
daerah kontak antara granodiorit dengan batuan gunung api, hasil analisa kimia
biji besi disini menunjukan kadar yang cukup signifikan yaitu Fe total 68.79 %
Zona mineralisasi Tembaga di bukit Kelindati, Desa Kebesani, Kecamatan Detukeli
dengan ditunjukan hasil analisa kimia batuan berkadar 14.880ppm Cu.
Zona daerah potensi mineralisasi Cu ( Tembaga ) di Tanjung ngalubu, Desa
Aewora, Kecamatan Maurole, dengan arah sebaran barat timur pada batuan
gunung api formasi kiro dan formasi tanahau.

POTENSI PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN NON LOGAM


Berdasarkan hasil Survey dilapangan, secara umum terdapat 16 Potensi Bahan Galian Non
Logam dan diantaranya terdapat 5 Jenis Bahan Galian Unggulan, yang merupakan
kosentrasi Tugas Dinas Pertambangan dan Energi kabupaten Ende kedepan untuk
menyelidiki secara lebih rinci.
16 jenis Bahan Galian Non Logam adalah sebagai berikut :
1. Granit
9. Felspar
2. Zeolith
10. Pasir Kuarsa
3. Tras
11. Bentonit
4. Lempung
12. Batu Gamping
5. Andesit
13. Gipsum
6. Sirtu
14. Osidian
7. Toseki
15. Pasir
8. Kaolin
16. Kuarsit
44

Bahan Galian tersebut tersebar di 60 lokasi pada 17 Kecamatan di Kabupaten Ende.


Uraian singkat masing masing Bahan Galian Non Logam berdasarkan kualitas dan
deposit sebagai berikut :
1). Granit.
Secara Administrasi Bahan Galian Granit terletak di Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan
Wolojita.

Kualitas : Secara umum digunakan sebagai bahan bangunan dan batu hias
(Ornamental stone )

Deposit : Sumber daya hipotetiknya mencapai 100.000.000 ton

Analisa Petrografi : Plagioklas (20%), Kuarsa (25%), Ortoklas (18%), Hornblende


(5%), Biotit ( 5%), Mineral Opak (2%), Lepung ( 13%), Karbonat (5%), Serisit (3%),
Epidot (1%) dal Klorit (3%).

2). Zeolith.
Bahan galian Zeolith terdapat diwilayah Kecamatan Nangapanda, disebelah selatan
sampai
utara
daerah
Kecamatan
Maukaro
Kabupaten
Ende.
Lokasi Endapan Zeolith terdapat di :

Khekakado Desa Bheremari


Aefua, Puu gawa Desa Ondorea
Tendarea, Raporendu, Rukuramba, Kecamatan Ende
Nabe dan Nggemo Desa Nabe, Kecamatan Maukaro
Kualitas :

Zeolith berguna untuk bahan bangunan dan ornamen semen puzzolan, Bahan agregat
ringan, Bahan pengembag dan pengisi tapal gigi, Bahan penjerni air, limbah dan kolam
ikan, Makanan ternak, Pemurni gas metan, gas alam dan gas bumi, Penyerap zat ( logam ),
Eacun dan lain lain.

Deposit :

Sumber daya hipotetik endapan zeolith masing masing lokasi adalah :

Kecamatan Nangapanda 13.002.500 ton


Kecamatan Ende 1000 ton
Kecamatan Maukaro 2000 ton
Analiasa Petrografi

Mineral gelas (25%), Kuarsa (25%), Zeolith (34%), Lempung (15%)

45

SiO2
CAO
MgO
H2O

Analisa Kimia
: 71.60 76.90 % AL2O3 : 10.12 12.43 %
Fe2O3 : 1.65 2.69 %
: 0.76 2.28 %
NA2O : 0.86 2.14 %
K2O : 0.95 4.09 %
: 0.19 0.47 %
MnO
: 0.03 0.04 %
TiO2
: 0.17 %
: 1.59 2.50 %

3). Tras.
Lokasi Tras terdapat di Kampung Wologai Tengah, Kecamatan Detusoko serta Desa
Onelako, Kecapatan Ndona.

Kualitas.

Untuk endapan pembuatan Portland Puzzolan Cement dan


Pembuatan Semen tras Kapur.
Untuk Bahan Bata Cetak ( batako )
Untuk campuran pembuat beron ringan serta campuran plester.
Untuk pembuatan genteng beron ringan.

Deposit.

Sumber daya hipotetik diperkirakan :

Wologai Tengah, Kecamatan Detusoko 2.000.000 ton


Desa Onelako, Kecamatan Ndona 500 ton

4). Lempung.
Bahan Galian Lempung terdapat di Desa Kebesani, Kecamatan Derukeli, dan Desa
Onelako, Kecamatan Ndona.

Kualitas.
o Untuk Pembuatan Keramik struktur seperti bata, genting dan gerabah.
Deposit.

Sumber daya hipotetik diperkirakan :


o
o

Desa Kebesani, Kecamatan Detukeli 25.000 ton


Desa Onelako, Kecamatan Ndona 2.000 ton
Analisa Kimia

SiO2 : 37.8 % AL2O3 : 27.58 % Fe2O3 : 16.54 %


CAO : 0.02 % NA2O : 0.43 % K2O : 0.14 %
TiO2 : 0.17 %
P2O5 : 0.18 %
5). Andesit.
Terdapat di Desa Toberabu II Kecamatan Ende sepanjang 15 20 KM.
46

o
o
o
o
o
o

Ndetundora I Kecamatan Ende


Sokoria Kecamatan Ndona Timur
Onelako Kecamatan Ndona
Loboniki Kecamatan Maurole
Tetandara Kecamatan Ende Selatan
Kecamatan Nangapanda
Kualitas :

Sebagai bahan untuk bangunan dan batu hias ( ornamental stone )

Deposit :

Sumber daya hipotetik sekitar 7.000.000. ton

Analisa Petrografi :

Mineral gelas (5%), Kuarsa (3%), Piroksen (15%), Lempung (17%), Klorit (18%), Plagioklas
(50%), Mineral Opak (2%).
6). Sirtu.
Sirtu adalah singkatan dari pasir dan batu karena komposisi ukuran yang tidak seragam.
Sirtu terdapat dibeberapa daerah antara lain :
o
o
o
o
o
o
o
o

Sungai Lowo Lise, Desa Watuneso, Kecamatan Lio Timur


Mbuliwaralau, Kecamatan Wolowaru
Tendaleo, Kecamatan wewaria
Wolojita
Tanali, Kecamatan Wewaria
Wolotopo, Kecamatan Ndona
Roworena, Kecamatan Ende
Kotabaru
Deposit

Sumber daya hipotetik sirtu di masing masing kecamatan adalah :


- Kecamatan Lio Timur sebesar
200.000. ton
- Kecamatan Ndona sebesar
500. ton
- Kecamatan Ende
500. ton
- Kecamatan Kota Baru sebesar
500. ton
- Kecamatan Wolojita sebesar
150.000. ton
- Kecamatan Wewaria sebesar
200.000. ton
7). Toseki
Toseki atau batuan kuarsa-serisit terdapat didaerah Liabeke, Kecamatan Lio Timur,
Kamubheka, Paupanda Desa mautenda Kecamatan Wewaria, Kecamatan Maurole, dan
Saga, Kecamatan Ndona Timu.
47

Kualitas :

Sebagai bahan baku dan campuran keramik, refraktori, isolator dan


lain lain
Bahan adonan badan keramik

Deporit

Jumlah sumber daya hipotetik dari masing masing kecamatan adalah :


- Kecamatan Lio Timur sebesar
600.000 ton
- Kecamatan Maukaro sebesar
100 ton
- Kecamatan Wewaria sebesar
5.000.000 ton
- Kecamatan Maurole sebesar
7.100 ton
- Kecamatan Ndona Timur sebesar 500.000 ton

Analisa Kimia:

SiO2 : 71.40 75 %
AL2O3 : 12.83 13.17 %
Fe2O3 : 1.68 3.75 %
CAO : 0.93 1.40 %
K2O : 0.95 2.18 %
MgO : 0.44 1.30 %
MnO : 0.06 0.08 % TiO2 : 0.20 - 0.40 %
SO3 : 0.00 %
Na2O : 2.57 %
P2O5 : 0.17 0.17 %
H2O : 0.62 1.80 %
8). Kaolin
Terdapat didaerah kawasan Mutubusa Desa Sokoria, Kecamatan Ndona, Kopo Onr,
Kecamatan Wolowaru, Detusoko Kecamatan Detusoko.

Kualitas.
Bahan industri keramik, kertas, karet, plastik dan cat, terutama untuk bahan
keramik halus.
Deposit

- Kecamatan Ndona Timur sebesar 750 ton


- Kecamatan Wolowaru sebesar
250 ton
- Kecamatan Detusoko sebesar
800 ton

Analisa Kimia

SiO2 : 74.30 93.50 % AL2O3 : 3.16 15.78 %


CaO : 0.00 0.34 %
Na2O : 0.43 3.45 %
MgO : 0.00 %
MnO : 0.01 %
H2O : 0.58 1.51 %
P2O5 : 0.13 0.17 %

Fe2O3 : 0.00 1.25 %


K2O : 0.00 1.09 %
TiO2 : 0.41 1.48 %
SO3 : 0.00 %

9). Felspar.
Terdapat didaerah Wolosoko, Kecamatan Wolowaru, Maubasa, Kecamatan Ndori.

Kualitas

48

Digunakan untuk industri gelas / kaca, industri keramik, industri karet dan cat sebagai
pengisi.

Deposit.

Jumlah sumber daya hipotetik dari masing masing kecamatan adalah :


- Kecamatan Wolowaru sebesar
- Kecamatan Lio Timur

2.000.000 ton
500 ton

Analisa Kimia.

SiO2 : 37.80 58.40 % AL2O3 : 14.77 15.74 %


CaO : 2.22 14.53 % Na2O : 0.43 1.29 %
TiO2 : 0.21 0.49 % P2O5 : 0.15 0.16 %

Fe2O3 : 1.71 7.86 %


K2O : 0.00 1.36 %

10). Pasir Kuarsa.


Terdapat didaerah pantai Mausambi Kecamatan Maurole, Pantai Maujawa dan Tou
Kecamatan Kotabaru.

Kualitas.

Digunakan untuk industri gelas, optik, keramik dan abrasit.

Deporit.

Kecamatan
Maurole
- Kecamatan Kotabaru sebesar

sebesar
3.000. ton

2.000.

ton

Analisa Kimia.

SiO2 : 68.70 %
AL2O3 : 11.80 % Fe2O3 : 6.38 %
CaO : 3.81 % Na2O : 2.14 % K2O : 0.68 %
TiO2 : 0.53 %
P2O5 : 0.19 %
11). Bentonit.
Terdapat didaerah Paupanda, Kecamatan Wewaria.

Kualitas.
o Digunakan untuk Lumpur Pemboran, Pencegah kebocoran dalam
bangunan sipil basah dan campuran pembuata cat, lateks dan tinta cetak.
o Bahan penyerap, zat perekat dan pekt makanan ternak.
Deporit.

Sumber daya hipotetik

500. Ton
49

Analisa Kimia.

SiO2 : 64.80 %
AL2O3 : 12.18 % Fe2O3 : 2.43 %
CaO : 1.39 % Na2O : 1.29 % K2O : 1.36 %
TiO2 : 0.34 %
P2O5 : 0.16 %
12). Batu Gamping.
Terdapat didaerah Kecamatan Nangapanda.

Kualitas.

Digunakan untuk bahan mentah semen, karbit, sebagai imbuh dalam pembuatan soda
abu, penetral keamanan tanah, pupuk, industri keramik, bahan bangunan, bahan
ornament, pengembang dan pengisi industri cat, kertas, karet, plastik, kosmetik dan lain
lain.

Deporit.

Dumber daya hipotetik sekitar

500 ton

Analisa Kimia.
SiO2 : 2.83 %
CaO : 52.74 %
TiO2 : 0.00 %
MnO : 0.02 %

AL2O3 : 0.60 %
Na2O : 0.01 %
P2O5 : 0.06 %
H2O : 0.44 %

Fe2O3 : 0.33 %
K2O : 0.04 %
MgO : 0.68 %
SO3 : 0.00 %

13). Gipsum.
Terdapat di Maubasa Desa Ndori, Kecamatan Ndori, tersingkap didaerah sekuas 10 m2

Analisa Kimia.

SiO2 : 6.97 %
AL2O3 : 1.29 %
CaO : 29.79 %
Na2O : 0.20 %
H2O : 13.53 % SO3
: 38.88 %

Fe2O3 : 1.22 %
K2O : 0.14 %

14). Obsidian.
Terdapat di Tanjung Laja Desa Mausambi, Kecamatan Maurole.

Kualitas.

Untuk bahan penggosok, bahan saringan

Analisa Kimia.
50

SiO2 : 66.30 %
CaO : 2.03 %
TiO2 : 0.46 %

AL2O3 : 14.56 %
Na2O : 3.43 %
H2O : 2.49 %

Fe2O3 : 2.48 %
K2O : 2.32 %

15). Pasir Vulkanik.


Terdapat di Sokoria, Kecamatan Ndona Timur.

Kualitas.

Untuk campuran pembuat beton dan plester

Deporit.

Dumber daya hipotetik sekitar

200 ton

16). Kalsit.
Terdapat didesa wonda, Kecamatan Ndori

Kualitas.

Bahan pembuat bata refraktori, bahan abrasive, penggosok, industi gelas dan keramik.

Analisa Kimia

SiO2 : 0.30 %
AL2O3 : 0.33 %
Fe2O3 : 0.02 %
CaO : 53.50 %
Na2O : 0.01 %
K2O : 0.02 %
P2O5 : 0.07 %
HD
: 43.44 %
Dari 16 jenis Bahan Galian Non Logam hasil survey tersebut terdapat 5 jenis Bahan Galian
Unggulan di Kabupaten Ende adalah sebagai berikut :
- Zeolith
13.000.000. ton
- Granit
100.000.000. ton
- Tras
2.000.000. ton
- Toseki
6.100.000. ton
- Felspar
2.000.000. ton
GAMPING KRISTALIN
o

Sumber Batu Gamping Klastik yang mengalami proses metamor sehingga terjadi
perubahan tekstur komposisi mineral menjadi batuan bertekstur metasedimen (
terubah sebagian menjadi batuan malihan / marmer )

Berdasarkan klasifikasi kuat tekan untuk lantai dan dinding menurut Standart
Industri Indonesia ( SII ), maka Gamping Kristalin Nangapanda layak untuk
dijadikan bahan keramik lantai atau dinding.
o Kuat tekan untuk lantai 856 kg /M2
51

o
o
o
o
o
o

Kuat Tekan untuk dinding 600 kg /M2


Ketahanan Aus untuk lantai 0.150 kg /M2
Ketahanan Aus untuk lantai 0.150 kg /M2
Penyerapan Air maksimum untuk lantai 0.75 kg /M2
Penyerapan Air maksimum untuk dinding 0.75 kg /M2
Kekekalan Bentuk : Tidak cacat

PENUTUP
Demikian informasi yang dapat diberikan dengan harapan apabila ada investor berminat
mengembangkan usaha dibidang Pertambangan Bahan Galian Logam maupun Non
Logam dapat diinformasikan kembali pada Dinas Pertambangan dan Energi kabupaten
Ende.
Semoga informasi singkat ini dapat bermanfaat bagi investor dan masyarakat Kabupaten
Ende ke depan.
Ende,
Mei 2008
Kepala Dinas
Pertambangan dan Energi Kabupaten Ende
Drs. Ag. Thom R. Benge
Pembina Tk. I
Nip. 010 234 238

52

53

Izin Tambang Terkait Politik


Rabu, 22 Februari 2012 | 02:51 WIB
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/02/22/02512569/Izin.Tambang.Terkait.Polit
ik
Jambi, Kompas - Maraknya penerbitan izin tambang batubara diduga terkait politik lokal,
yaitu suksesi dan akhir masa jabatan kepala daerah di Jambi. Hasilnya, lebih dari 600 izin
dengan skala keluasan 198 hektar ke bawah terbit dalam empat tahun terakhir.
Anggota Komisi Tetap Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Provinsi Jambi, Husni
Thamrin, mengatakan, izin tambang batubara marak dari tahun 2009 hingga 2011 pada
wilayah Kabupaten Sarolangun, Tebo, Bungo, Batanghari, dan Muaro Jambi.
Praktik pemberian izin tersebut bersamaan dengan momentum akhir masa jabatan dan
suksesi kepala daerah. Selama rentang waktu itu, pemilihan bupati berlangsung pada
lima daerah terkait, ujar Husni di Jambi, Selasa (21/2).
Ia menjelaskan, proses pemberian izin tambang batubara pada skala keluasan di bawah
198 hektar lebih mudah. Pemohon tidak perlu menyertakan dokumen analisis mengenai
dampak lingkungan (amdal), tetapi hanya dokumen upaya kelola lingkungan dan upaya
pemantauan lingkungan. Proses perizinan juga nyaris tak terpantau pemerintah provinsi.
Provinsi tidak mendapat laporan sama sekali mengenai izin yang diberikan di daerah,
tutur Husni.
Kemudahan proses itulah yang mendorong bupati-bupati lama dan para calon petahana
menerbitkan izin memperkuat dukungan ataupun pendanaan. Sebagaimana diketahui,
Sukandar (Bupati Tebo), Abdul Fattah (Bupati Batanghari), dan Sudirman Zaini (Bupati
Bungo) merupakan petahana.
Pasca-pemilihan umum kepala daerah, menurut Husni, ternyata tidak ada lagi izin baru
tambang batubara yang terbit. Ini menguatkan bahwa pemberian izin diduga sangat
terkait suksesi pilkada, ujarnya.
Sukandar mengatakan, setelah terpilih sebagai kepala daerah enam bulan lalu, dirinya
mendapati ada penerbitan 60 izin baru tambang batubara. Izin keluar dalam rentang
waktu satu tahun terakhir dan ditandatangani bupati terdahulu. Saat izin itu keluar,
Sukandar masih menjabat sebagai wakil bupati dan tidak berwenang menandatangani
penerbitan izin. Pemberian izin sepenuhnya wewenang bupati.
Sejak menjadi Bupati Tebo, ia baru satu kali mengeluarkan izin peningkatan status
eksplorasi menjadi eksploitasi. Karena semua persyaratan telah dipenuhi investor,
ungkapnya.

54

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Jambi Azwar Effendi mencatat,
hingga saat ini ada 386 izin usaha pertambangan (IUP) di Provinsi Jambi, 261 IUP di
antaranya untuk kegiatan eksplorasi, sedangkan 125 IUP lain telah berproduksi.
Lembaga pengawas
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengatakan, pemerintah tengah
berupaya mencari celah hukum untuk mendorong kontrol yang lebih ketat pada
pemberian izin tambang di kota/kabupaten. Celah itu berupa lembaga pengawas di tingkat
provinsi. Masih ada celah yang sedang kami cek. Harus ada lembaga di provinsi yang
mengawasi sehingga tidak bisa diterbitkan izin di kabupaten/kota tanpa ada inspektur
tambang. Jadi, harus ada inspektur tambang jika mau mengeluarkan izin, kata Jero
Wacik.
Pemerintah bertekad untuk merapikan tambang-tambang yang bermasalah di seluruh
Indonesia. Banyak sekali tambang yang bermasalah. Kami sedang berupaya memperbaiki
peraturan-peraturannya, ujar Jero Wacik.
Sekretaris Perusahaan PT Aneka Tambang (Antam) Bimo Budi Satriyo, kemarin, di Jakarta,
mengklaim, Antam selalu mengacu pada amdal, RKL dan RPL, serta praktik
pertambangan yang terbaik (mining best practice).
Selektif
Bupati Ende Don Bosco M Wangge, Selasa, menyatakan, izin tambang yang dikeluarkan
oleh Pemkab Ende dilakukan secara selektif dengan memperhatikan aspek kelestarian
lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Kami memberikan izin tambang secara
selektif, seperti di daerah Wololele A yang kaya akan potensi emas, begitu juga di Boafeo
di Kecamatan Maukaro yang memiliki kandungan mangan. Walau banyak perusahaan
yang berminat, izin tidak kami berikan sebab itu di daerah hulu, kata Don Bosco. Saat ini
Pemkab Ende mengeluarkan 20 IUP untuk komoditas mangan, batuan zeolit, galena,
galian C, bijih besi, dan pasir besi.
Pemkab Tasikmalaya, Jawa Barat, menahan permohonan izin baru bagi penambangan
pasir Galunggung dan pasir besi karena memicu bencana longsor dan banjir. Kepala Dinas
Pertambangan dan Energi Kabupaten Tasikmalaya H Miscbah menyatakan, hanya ada
satu perusahaan tambang pasir besi yang beroperasi. Pada 2011, Pemkab Tasikmalaya
menolak 40-an pengajuan izin baru.
Warga desa nelayan di pantai selatan Kabupaten Blitar, Jawa Timur, juga mengeluhkan
penambangan pasir besi yang merusak lingkungan dan tak memberikan kontribusi
ekonomi bagi warga.
Merusak pesisir
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Nusa Tenggara Timur Herry Naif di
Kupang, kemarin, menyatakan, IUP No 184/HK/2011, tanggal 4 April 2011, yang diberikan
55

kepada PT Skyline Flores Adijaya untuk usaha pertambangan pasir besi dan SK No
67/HK/2010, tanggal 4 April 2010, yang diberikan kepada PT Greenlife Bioscience, sangat
meresahkan warga. Warga pesisir pantai Sika, dari Paga sampai wilayah Doreng
Mapitama, mendesak pemerintah setempat agar membatalkan izin itu. Mereka sangat
khawatir lahan pertanian mereka hilang, kata Naif tentang ancaman kerusakan pesisir
pantai Sika sepanjang 10.000 hektar.
Tuntutan serupa muncul dari warga di Pulau Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, dan
Desa Degeuwo, Kabupaten Paniai, Papua. Kondisi lingkungan Bangka makin rusak parah
akibat maraknya pertambangan timah. Keresahan warga bertambah karena pertambangan
makin meluas ke lautan. Hutan yang ada di Bangka hanya tinggal 10 persen, kata
Isnaini, konsultan lingkungan di Bangka.
Warga Desa Degeuwo, Kabupaten Paniai, meminta agar tambang emas di pinggiran
Sungai Derewo ditutup. Ketua Aliansi Intelektual Suku Wolani, Moni, dan Mee Thobias
Bagubau mengatakan, pertambangan tak memberikan manfaat bagi penduduk. Bupati
Kabupaten Paniai Naftali Yogi berjanji akan menertibkan penambangan di Degeuwo lagi.
Saat ini ada tiga perusahaan yang mengantongi izin usaha tambang di Degeuwo.
(NIT/ITA/IRE/ODY/JOS/KOR/SEM/CHE/ATO/EVY)

56

SK Tambang tidak Bisa Dibatalkan


Diposting oleh : Administrator - Sabtu, 25 Februari 2012 - 11:39:35 WIB
http://www.victorynewsmedia.com/berita-655-sk-tambang-tidak-bisa-dibatalkan.html
DESAKAN berbagai komponen di Sikka agar pemerintah mencabut izin eksplorasi
mineral logam pasir besi dari PT Skyline Flores Adijaya, tidak menggoyahkan sikap Bupati
Sosimus Mitang. Bupati menegaskan, SK bernomor 184/HK/2010 tersebut tidak akan
dibatalkan.
SK itu tidak akan dibatalkan karena baru dalam tahap penjajakan atau penelitian, tegas
Bupati Sosimus kepada Wartawand di Gedung DPRD Sikka, Jumat (24/2) usai menghadiri
sidang paripurna pendapat akhir frak si.
Bupati menjelaskan, eksplorasi itu adalah sebuah uji coba yang diberikan kepada
pengusaha untuk meneliti apakah di pantai selatan Sikka ada kandungan pasir besi atau
tidak. Sekarang sampel pasir besi yang telah diambil sementara diteliti oleh tim
independen dari ITS Surabaya. Setelah itu investor menggelar hasilnya kepada pemerintah
dan DPRD Sikka. Jadi belum bisa dikatakan tutup atau batal pemberian izin eksplorasi
itu, jelas Bupati. Menurutnya, dari hasil penelitian itu, pemerintah akan mengkaji apakah
dibatalkan. Sangat tergantung dari hasil presentasi dengan pemerintah, DPRD dan
masyarakat tentang keuntungan dan kerugian hadirnya tambang, terhadap masyarakat,
pemerintah maupun pengusaha. Pemerintah juga akan mempertimbangkan segala aspek
tambang, tegasnya. (yns/P-1))

57

Selektif Terbitkan Izin Investasi


Senin, 27 Februari 2012 11:19 WITA
http://kupang.tribunnews.com/read/artikel/74373/editorial/salam/2012/2/27/selektifterbitkan-izin-investasi
DALAM lima tahun terakhir tercatat 99 investor atau pengusaha yang telah mengantongi
izin usaha di sejumlah kabupaten/kota di wilayah Nusa Tenggara Timur, hanya lima
investor yang benar-benar menanamkan modalnya di lima kabupaten/kota di NTT, yaitu
Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Ngada, Sikka dan Sumba Barat. Sedangkan 94 investor
lainnya tak ada kejelasan pengembangan usahanya di daerah ini. Begitu warta koran ini
pekan lalu. Persoalannya, terutama tanah dan infastruktur.
Persoalan itu sebetulnya masalah klasik yang terlalu sering dikeluhkan kalangan
pengusaha, baik pengusaha yang sudah merealisasikan usahanya maupun mereka yang
masih akan mengembangkan usahanya di NTT setelah mendapat izin persetujuan
investasi dari pemerintah daerah. Karena itu, tidak heran jika di NTT cukup banyak "PT
Akan" atau "Perseroan Terbatas Akan".
Persoalan menonjol adalah masalah lahan usaha yang diklaim masyarakat sebagai tanah
ulayat, belum ada pembebasan oleh pemerintah dan juga belum ada kesepakatan nilai
ganti rugi. Pengklaiman lahan oleh kelompok masyarakat ini bukan hanya terhadap
investor baru yang mau membuka usahanya, tetapi juga terhadap pengusaha yang mulai
dan sudah merealisasikan usahanya. Dan, kelompok investor yang mengalami masalah
seperti ini akhirnya memilih hengkang dari NTT dan memindahkan ekspansi usahanya ke
daerah lain yang dianggap lebih nyaman dan aman untuk investasi.
Salah satu contoh kasus di Kabupaten Sikka, meski pemerintah daerah sudah
mengeluarkan izin usaha, tapi izin usaha yang dikeluarkan Bupati Sikka itu justru menuai
masalah. Elemen masyarakat di Sikka menolak invetasi pertambangan mineral pasir besi
dan pabrik pupuk di daerah itu dengan alasan akan merusak kawasan hutan. Selain itu,
lahan di lokasi tambang merupakan tanah ulayat yang belum mendapat restu dari pemilik
tanah.Gangguan seperti inilah yang membuat pengusaha asal luar NTT memilih untuk
berinvestasi di daerah lain yang menurut mereka lebih nyaman dan aman, walaupun
sudah mengantongi izin usaha di NTT.
Ada beberapa kemungkinan sehingga investor tidak merealisasikan pengembangan
usahanya. Pertama, bisa saja karena masalah lahan investasi dipersoalkan masyarakat
ketika usaha yang dikembangkan mulai berjalan. Kenyataan itu sering terjadi selama ini.
Kedua, masalah medan usaha atau topografi wilayah yang kurang didukung oleh
ketersediaan infrastruktur jalan dan energi listrik untuk kebutuhan usaha. Ketiga, NTT
hanya menjadi daerah izin investasi lalu investor menjaminkan izin usaha itu pada bank
untuk kemudian mengembangkan usahanya di daerah lain.
58

Faktor lainnya investor dipersulit pejabat pada instansi tertentu. Seperti yang disampaikan
oleh salah seorang pengusaha di Kota Kupang, Fredy Ongkosaputra, bahwa pejabat justru
mempersulit investor dalam pengurus administrasi usaha, sehingga

pengusaha

membatalkan rencana investasinya di NTT.


Agar ke depan tidak ada lagi investor yang hengkang atau tidak merealisasikan
pengembangan usahanya di NTT setelah mendapat izin, maka hal penting yang harus
diperhatikan oleh pemerintah daerah adalah pemberian atau penerbitan investasi harus
selektif. Selektif di sini, antara lain pemerintah daerah perlu menginvestigasi lebih jauh
tentang pengusaha bersangkutan sekaligus profil perusahaannya, dan komitmennya
untuk menanamkan modalnya di daerah ini.
Pemerintah daerah juga, terutama instansi yang berurusan dengan perizinan investasi
harus profesional dalam bidang investasi. Selain itu, pemerintah daerah harus
memperhatikan serius pengadaan infrastruktur dasar seperti jalan raya dan penerangan
listrik di daerah-daerah sasaran investasi. Ketersediaan infrastruktur dasar yang memadai
akan memudahkan investor untuk mengembangkan usahanya di daerah- daerah di
wilayah NTT. Juga pemerintah daerah perlu turun tangan menyelesaikan konflik lahan
antara masyarakat dengan investor. Sebab, selama ini ada sejumlah kasus lahan di lokasi
pengembangan usaha investor yang dipersoalkan oleh masyarakat, investor sendiri yang
berhadapan dengan masyarakat tanpa pendampingan dari pemerintah setempat.*

59

Diskusi Pertambangan Pasir Besi di Kabupaten


Sikka
[WalhiNews] 05 March 2012
Permasi dan LMND Kupang Selenggarakan Diskusi
http://millis-saja.blogspot.com/2012/03/walhinews-diskusi-pertambangan-pasir.html

Menyikapinya adanya Surat Keputusan Pabrik dibarengi dengan Surat Keputusan Bupati
akan adanya Tambang, yakni: SK. No. 67/Hk/2011 tanggal 2011 tentang Pembangunan
Pabrik Pupuk kepada PT. Greenlife Bioscience dan SK Nomor 184/Hk/2010 tertanggal
31 Juli 2010 tentang Pertambangan Biji Besi kepada PT. Skyline Flores
Adijaya
seluas
10.000
(sepuluh
ribu
hektare)
di
sepanjang
pesisir
pantai selatan, yang meliputi 8 Kecamatan yakni: Paga, Mego, Tanawawo, Lela, Bola,
Waiblama, Mapitara, Doreng), Perhimpunan Mahasiswa Sikka (Permasi) Kupang dan
LMND menyelenggarakan diskusi seputar permasalahan tersebut dengan tema:
"Pertambangan Pasir Besi di Sikka: Berkah atau Petaka". Diskusi yang menghadirkan
puluhan anak Sikka dari berbagai organisasi kemahasiswaan di Sekretariat Permasi
dengan menghadirkan dua nara sumber yakni Kornelis Moa Nita dan Herry Naif. Kornelis
(Pemred Mingguan Berita Suara Flores) menyoroti pertambangan dari apek media. Bahwa,
akhir-akhir ini ada kemajuan di dunia Media bahwa banyak kasus lingkungan menjadi
topik aktual yang santer dibicarakan. Ini adalah sesuatu yang perlu diapreseasi berbagai
pihak. Selain itu, diskusi soal pertambangan tergantung dari pemimpin. Banyak pemimpin
yang ada di NTT kurang peduli dengan lingkungan. Karena itu, jualan sumber daya alam
terus dilakukan tanpa mempertimbangkan berbagai media.
Sedangkan Herry (Direktur WALHI) menyoroti pertambangan dari aspek lingkungan,
sosial-budaya, politik dan kesehatan. Mengawali pertemuan itu diungkapkan mengenai
tentang konsep pengelolaan sumber daya alam masyarkaat sikka. Bahwa sejak dahulu
orang sikka punya kepedulian yang sangat tinggi, dimana ada kawasan opidun kare
dunan (Kawasan larangan) Opidun kare taden (Kawasan cadangan, Nian Kuben Namang
Pare (Kawasan kelola rakyat) Reping goit raen rahat (Kawasan kemiringan di atas 60 derat
tidak boleh diganggu), dan lian puan wair matan (Kawasan mata air). Dalam seminar itu
juga diungkapkan mengenai beberapa hal mengapa adanya pertambangan, Pertama,
Pragmatisme Pemerintahan dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah melalui
pertambangan adalah leading sector ketimbang pertanian, peternakan dan
pariwisata.Kedua, Biaya demokrasi di Indonesia mahal, sehingga ada proses perjudian
antara pemodal dan calon penguasa. Ketiga, Keterdesakan ekonomi berakibat pada
penggadaian Sumber-sumber Penghidupan Rakyat (tanah, hutan, air) untuk kepentingan
modal. Kempat, ketidakpahaman rakyat tentang apa itu pertambangan dan dampakdampaknya? Kelima, Lemahnya kekuatan kelompok peduli lingkungan dan civil society
(Mahasiswa, LSM, Pers dll). Keenam, akses dan kontrol rakyat terhadap sumber-sumber
penghidupan diserahkan pada negara, tanpa berpandangan bahwa itu adalah hak warga
negara dalam memenui kebutuhan hidupnya. Ketujuh, akses informasi publik terhadap
60

pertambangan masih sangat minim terutama dampak-dampak sebuah pertambangan.


Kedelapan, kearifan lokal dalam pengelolaan Sumber Daya Alam ditinggalkan.
Setelah mendengarkan presentasi dari kedua nara sumber dilakukan diskusi tanya jawab
tentang pertambangan. Dari hasil diskusi itu para mahasiswa bersepakat menolak adanya
pertambangan. Salah satu peserta (Remigius Nong) secara tegas menyatakan penolakan
terhadap pertambangan tersebut. Karena itu dia mengajak para mahasiswa untuk
memikirkan bagaimana strategi penolakan. Dan dia menyatakan bahwa dalam waktu
dekat kami akan melakukan Diskusi seputar pertambangan di Paga (daerah pusat
pertambanga) dengan melibatkan berbagai pihak. Kita mau tahu mengapa pemkab sikka
mengeluarkan SK tersebut. Oleh karena itu kami mengharapkan dukungan dari kawankawan semua.

61

Pertambangan Pasir Besi di Sikka: Berkah atau Petaka


http://rumahalir.or.id/2012/03/05/pertambangan-pasir-besi-di-sikka-berkah-atau-petaka/
Kupang, RumahAlir.or.id Menyikapinya adanya Surat Keputusan Pabrik dibarengi
dengan Surat Keputusan Bupati akan adanya Tambang, yakni: SK. No. 67/Hk/2011 tanggal
2011 tentang Pembangunan Pabrik Pupuk kepada PT. Greenlife Bioscience dan SK Nomor
184/Hk/2010 tertanggal 31 Juli 2010 tentang Pertambangan Biji Besi kepada PT. Skyline
Flores Adijaya seluas 10.000 (sepuluh ribu hektare) di sepanjang pesisir pantai selatan,
yang meliputi 8 Kecamatan yakni: Paga, Mego, Tanawawo, Lela, Bola, Waiblama,
Mapitara, Doreng), Perhimpunan Mahasiswa Sikka (Permasi) Kupang dan LMND
menyelenggarakan diskusi seputar permasalahan tersebut dengan tema: Pertambangan
Pasir Besi di Sikka: Berkah atau Petaka. Diskusi yang menghadirkan puluhan anak Sikka
dari berbagai organisasi kemahasiswaan di Sekretariat Permasi dengan menghadirkan dua
nara sumber yakni Kornelis Moa Nita dan Herry Naif. Kornelis (Pemred Mingguan Berita
Suara Flores) menyoroti pertambangan dari apek media. Bahwa, akhir-akhir ini ada
kemajuan di dunia Media bahwa banyak kasus lingkungan menjadi topik aktual yang
santer dibicarakan. Ini adalah sesuatu yang perlu diapreseasi berbagai pihak. Selain itu,
diskusi soal pertambangan tergantung dari pemimpin. Banyak pemimpin yang ada di
NTT kurang peduli dengan lingkungan. Karena itu, jualan sumber daya alam terus
dilakukan tanpa mempertimbangkan berbagai media.
Sedangkan Herry (Direktur WALHI) menyoroti pertambangan dari aspek lingkungan,
sosial-budaya, politik dan kesehatan. Mengawali pertemuan itu diungkapkan mengenai
tentang konsep pengelolaan sumber daya alam masyarkaat sikka. Bahwa sejak dahulu
orang sikka punya kepedulian yang sangat tinggi, dimana ada kawasan opidun kare
dunan (Kawasan larangan) Opidun kare taden (Kawasan cadangan, Nian Kuben Namang
Pare (Kawasan kelola rakyat) Reping goit raen rahat (Kawasan kemiringan di atas 60 derat
tidak boleh diganggu), dan lian puan wair matan (Kawasan mata air). Dalam seminar itu
juga diungkapkan mengenai beberapa hal mengapa adanya pertambangan, Pertama,
Pragmatisme Pemerintahan dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah melalui
pertambangan adalah leading sector ketimbang pertanian, peternakan dan
pariwisata.Kedua, Biaya demokrasi di Indonesia mahal, sehingga ada proses perjudian
antara pemodal dan calon penguasa. Ketiga, Keterdesakan ekonomi berakibat pada
penggadaian Sumber-sumber Penghidupan Rakyat (tanah, hutan, air) untuk kepentingan
modal. Kempat, ketidakpahaman rakyat tentang apa itu pertambangan dan dampakdampaknya? Kelima, Lemahnya kekuatan kelompok peduli lingkungan dan civil society
(Mahasiswa, LSM, Pers dll). Keenam, akses dan kontrol rakyat terhadap sumber-sumber
penghidupan diserahkan pada negara, tanpa berpandangan bahwa itu adalah hak warga
negara dalam memenui kebutuhan hidupnya. Ketujuh, akses informasi publik terhadap
pertambangan masih sangat minim terutama dampak-dampak sebuah pertambangan.
Kedelapan, kearifan lokal dalam pengelolaan Sumber Daya Alam ditinggalkan.
Setelah mendengarkan presentasi dari kedua nara sumber dilakukan diskusi tanya jawab
tentang pertambangan. Dari hasil diskusi itu para mahasiswa bersepakat menolak adanya
pertambangan. Salah satu peserta (Remigius Nong) secara tegas menyatakan penolakan
62

terhadap pertambangan tersebut. Karena itu dia mengajak para mahasiswa untuk
memikirkan bagaimana strategi penolakan. Dan dia menyatakan bahwa dalam waktu
dekat kami akan melakukan Diskusi seputar pertambangan di Paga (daerah pusat
pertambanga) dengan melibatkan berbagai pihak. Kita mau tahu mengapa pemkab sikka
mengeluarkan SK tersebut. Oleh karena itu kami mengharapkan dukungan dari kawankawan semua.
Herry Naif ( Direktur Walhi NTT)
heribertus naif <herrynaif@yahoo.com

63

Bupati Didesak Cabut SK Tambang


Diposting oleh : Administrator - Selasa, 13 Maret 2012 - 14:31:28 WIB
http://www.victorynewsmedia.com/berita-1893-bupati-didesak-cabut-sk-tambang.html
Sikka
FORUM Masyarakat Peduli Lingkungan (Formalin) mendesak Bupati Sikka mencabut izin
eksplorasi pasir besi kepada PT Skyline Flores di delapan kecamatan di wilayah selatan
Kabupaten Sikka. Desakan ini disampaikan Formalin ketika melakukan aksi damai di
Gedung DPRD Sikka, Senin (12/3). Selama dua jam berorasi, Formalin meminta untuk
berdialog dengan anggota DPRD Sikka.
Karena tidak ada pihak DPRD yang mene mui, mereka menerobas masuk ke ruang sidang
utama DPRD Sikka. Mereka kemudian diterima anggota DPRD Paulus Nong Susar, Yeny
Kabupung, Agus Pora, dan Alfridus Melanus Aeng.
Dalam pernyataan sikap Formalin, yang dibacakan Petrus Sandro Ikeng, antara lain,
mendesak Bupati Sikka untuk segera mencabut SK No. 184/HK/2010 tentang Persetujuan
Izin Uaha Pertambangan Eksplorasi Mineral Logam Pasir Besi kepada PT Skyline Flores
Adijaya. Formalin juga meminta DPRD Sikka untuk segera membekukan SK Bupati Sikka
tersebut. Formalin menyerukan kepada DPRD Sikka untuk lebih produktif dalam fungsi
control dan fungsi pengawasan terhadap penyelenggara pemerintah tanpa tersubordinasi
dan terkooptasi dengan jaringan penguasa.
Forum ini memberikan batas waktu 5 x 24 jam, jika Bupati Sosimus Mitang tidak segera
mencabut SK No. 184/HK/2010, maka mereka akan menduduki lokasi pertambangan tanpa
batas waktu.
Dalam dialog tersebut Paulus Nong Susar selaku pimpinan sidang menyampaikan,
pihaknya sudah mengagendakan pada Banmus tanggal 17 Maret mendatang untuk
membahas SK Bupati yang memberikan izin eksplorasi kepada PT. Skyline Flores Adijaya.
Sekarang kami yang hadir ini belum bisa menjanjikan mendukung SK Bupati atau tidak.
Karena setiap keputusan adalah keputusan lembaga, yang akan dibahas oleh ke 30
anggota DPRD Sikka, ujarnya.
Sebelumnya Bupati Sikka Sosimus Mitang mengeluarkan SK No. 184/HK/2010 kepada PT
Skyline Flores Adijaya untuk eksplorasi pasir besi di 8 kecamatan bagian selatan
Kabupaten Sikka, dan SK No. 67/HK/2011 kepada PT. Greenlife Bioscience, bergerak
dalam pengolahan pupuk hayati. (nus/E-1)

64

GEMPITA: Tolak Tambang!


Tuesday, March 20, 2012 8:24 AM
http://www.inimaumere.com/feeds/posts/default?orderby=updated
Aksi penolakan terkait ijin pertambangan di pantai selatan Kabupaten Sikka terus
berlanjut. Sabtu (17/3), elemen mahasiswa yang bergabung dalam Forum Gerakan Aliansi
Masyarakat Peduli Tambang ( GEMPITA ) Sikka menggelar aksi penolakan izin ekplorasi
yang dikeluarkan Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang lewat Surat Keputusan (SK)
184/HK/2010. Izin ekplorasi penambangan tersebut meliputi Kecamatan Paga, Mego Lela,
Bola, Doreng, Mapitara, Waigete dan Tanarawa. Aksi Gempita yang terdiri GMNI Cabang
Sikka, LMND Eskot Kota, PRD Sikka, FORMALIN, FPPP Paga, FMPPS Sikka
membentangkan spanduk penolakan di kantor DPRD Sikka. Dalam aksi damai tersebut
mahasiswa memaparkan pernyataan sikap mereka. Gempita menolak keras pemberian
ijin ekplorasi di wilayah selatan Kabupaten Sikka yang meliputi 8 kecamatan dengan luas
tambang 10 ribu hektar kepada PT. Skyline Flores Adijaya.
Gempita menilai pemberian ijin tersebut tidak sesuai dengan amanat Undang-undang
Nomor 27 tahun 2007

tentang Pengelolaan wilayah Pesisir dan Pulau-pulau terkecil.

Gempita menduga pemberian ijin tersebut syarat akan kepentingan.


Penolakan oleh kelompok masyarakat dan berbagai elemen mahasiswa menjadi topik
hangat diberbagai media lokal dan forum diskusi pemuda Sikka di jejaring social. Usai
kasus bansos yang masih dalam penyelidikan, kembali masyarakat Sikka dikejutkan oleh
perijinan pabrik pupuk di Paga lewat SK. No. 67/Hk/2011 kepada PT. Greenlife Bioscience
dan tambang biji besi di sepanjang pesisir pantai selatan Kabupaten Sikka lewat SK Nomor
184/Hk/2010 kepada PT. Skyline Flores Adijaya .
Sosimus yang diminta tanggapannya terkait adanya protes dari elemen masyarakat dan
mahasiswa di Sikka seperti dalam pemberitaan di Floresstar (19/3) menegaskan, pihaknya
juga tidak ingin masyaralat Sikka dan lingkungan daerah tersebut terkena limbah sehingga
perusahaan pupuk di Paga harus dihentikan guna dikaji mengenai analisa dampak
lingkungan (Amdal).
"Kalau tidak sesuai dengan perizinan keberadaan dua perusahaan yang ada di Sikka yang
melakukan aktivitas ekplorasi biji besi dan perusahaan pupuk akan diberhentikan. Yang
jelas kalau tidak sesuai dengan perizinan kita akan hentikan. Saya sudah minta dinas
teknis untuk menghentikan semua kegiatan tersebut dan jangan ada kegiatan dilapangan
sebelum ada pengkajian lebih dalam.Saya juga tak ingin lingkungan Sikka rusak," kata
Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitan, Sabtu (17/3/20/1012) seperti ditulis harian Floresstar
(19/3).

65

"Untuk perusahaan pupuk di Paga yang bernama PT. Green Life Bio Sciense yang
bergerak dibidang pupuk, ijin yang kami berikan merupakan ijin lokasi dan IMB guna
mendirikan mess bagi karyawannya. Selanjutnya kini ada dermaga lalu penggusuran
lahan. Itu yang kami minta untuk dihentikan. Kalau ada aktifitas harus ada lapor bukan
dikaji ijin lalu dilapangan ada kegiatan lain lagi tanpa izin. Buat dermaga itu harus ada
izin dari Kementerian Perhubungan RI. Supaya tidak ada kepentingan banyak yang masuk
dalam masalah ini maka itu saya sudah perintah hentikan aktivitas perusahaan pupuk di
Paga. Kita kaji secara baik biji besi di Sikka dulu," kata Sosimus.
Mengenai PT. Skyline Flores Adijaya yang bergerak di usaha eksplorasi pertambangan
mineral biji besi di Sikka, Bupati Sosimus pun menegaskan
aktivitasnya dan menunggu proses pemaparan hasil kerja

akan menghentikan

perusahaan yang ingin

memaparkan potensi dan penelitian tentang biji besi yang mereka teliti.
"Untuk kepentingan masyarakat dan kebaikan bersama, dua aktivitas perusahaan itu di
Sikka akan kami hentikaan sehingga jangan ada kepentingan lain masuk lalu masyarakat
yang dirugikan," kata Sosimus.
Wakil Bupati Sikka, dr. Wera Damianus, M.M saat dengar pendapat dengan DPRD Sikka
juga mengatakan kalau pemerintah akan mengkaji dua SK tentang kegiatan dua
perusahaan di Sikka.
Pengkajian akan dilakukan dalam rangka melakukan merevisi keberadaan dua
perusahaan jika menyalahi aturan tentu akan menjadi bahan pertimbangan bagi
pemerintah.
Mengenai SK yang menurut DPRD Sikka siluman dan meragukan, wabup mengatakan SK
itu tidak siluman tapi pemerintah tidak menyampaikan SK itu kepada DPRD Sikka saja.
Sementara dalam dengar pendapat di DPRD Sikka, Sabtu (17/3/2012) siang, yang dipimpin
Ketua DPRD Sikka Rafael Raga beberapa anggota DPRD Sikka menolak keberadaan
perusahaan tambang dan pupuk di Sikka.
DPRD Sikka seperti dikuti dari floresstar, meminta Pemkab Sikka mengkaji dua SK yang
memberikan izin dua perusahaan itu melakukan aktivitas di Sikka.
****************

66

Warga Paga Terbelah soal Tambang Pasir Besi


Diposting oleh : Administrator - Rabu, 28 Maret 2012 - 12:43:28 WIB
http://www.victorynewsmedia.com/berita-2984-warga-paga-terbelah-soal-tambang-pasirbesi.html

MASYARAKAT Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka terpecah antara yang menerima atau
menolak investasi tambang pasir besi dan pabrik pupuk hayati di wilayah mereka.
Sebanyak 25 warga mendatangi DPRD Sikka, Selasa (27/3),. Mereka mendesak pemerintah
segera menerbitkan izin operasional bagi PT Skyline Flores Jaya dan Green Life Bio Science
untuk berinvestasi di bidang pertambangan pasir besi serta mendirikan pabrik pupuk di
Paga.
Bulan lalu, puluhan warga bersama tokoh adat dari wilayah yang sama, juga datang
menemui DPRD Sikka untuk mendesak pemerintah menghentikan sementara aktivitas
tambang pasir besi dan pendirian pabrik pupuk. Warga yang datang Selasa, menamakan
diri Aliansi Pendukung Pembangunan Paga (APPP). Mereka mendesak pemerintah
mempercepat proses izin dan memberikan rekomendasi kepada kedua perusahaan itu
untuk segera beroperasi. Mereka meminta DPRD Sikka menyikapi pro kontra soal
investasi tersebut secara arif.
Ketua APPP, Herminegildus Beo mengatakan kehadiran kedua perusahaan tersebut
membawa perubahan dan kesejahteraan pada masyarakat. Kami berharap dan berjuang
agar investor tetap eksis dan berinvestasi di Paga. Kami tidak rela perusahaan itu angkat
kaki karena kehadirannya membawa perubahan dan kesejahteraan bagi kami, kata Beo.
Mereka diterima berdialog dengan Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga dan Wakil Ketua, Felix
Wodon, serta dua anggota dewan. Rafael Raga mengatakan dewan akan mengkaji
pendapat dari dua kelompok masyarakat, yakni yang menolak dengan yang menerima
kehadiran investor.
Dalam waktu dekat kami menyurati pihak perusahaan dan pemerintah agar
mempresentasekan profile kedua perusahaan itu, sehingga kami bisa mengambil
keputusan bersama, katanya.(yns/D1/P-2)

67

Formallin Desak Bupati Sikka Cabut


SK Pertambangan
http://fdpms.wordpress.com/2012/04/05/formallin-desak-bupati-sikka-cabut-sk-pertambangan/
5 April 2012
FDPMS News- BUPATI Sikka segerah cabut SK. 184 HK/2010 tentang Izin Usaha
Pertambangan (IUP) Eksplorasi Mineral Logam Pasir Besi kepada PT Skyline Flores
Adijaya di kabupaten Sikka.
Demikian salah satu poin penting yang disampaikan oleh Forum Masyarakat Peduli
Lingkungan (FORMALIN) Sikka dalam aksi damai Senin, 12/03/2012. Masa FORMALLIN
bertolak dari perempatan TK. Pantirini menuju Polres Sikka, Bogor, Jln Anggrek, Eltari
dan menuju kantor DPRD Sikka. Dalam perjalanan peserta aksi melakukan orasi secara
bergantian dengan menggunakan satu buah pengeras suara. Tampak beberapa anggota
Polres Sikka sementara berjaga-jaga dan menertibkan kendaraan yang lewat.
Yoseph Ngaga atau akrab dipanggil Yoga Wora, Ketua FORMALIN dalam orasinya
menjelaskan bahwa perhatian pertambangan akhir-akhir ini sedang terfokus pada belahan
bumi NTT. Hal ini disebabkan karena kandungan sumber daya alam yang sangat
potensial dan kualitas tinggi. Masyarakat NTT sepertinya sedang bermandikan hujan
berkah menuju kesejahteraan setelah sekian lama menatap bongkahan batu bisu yang tak
bernilai, batu kotor yang diinjak-injak, tiba-tiba berubah wujud menjadi uang. Mimpi dan
iklim usaha yang sehat tidak menjadi sesuatu yang penting untuk dipedulikan akan tetapi
hal yang diprioritaskan adalah memenuhi kebutuhan hari ini dengan mengorbankan
kerusakan lingkungan hidup yang permanen, hilangnya sumber air, memotong
keberlangsungan hidup generasi yang akan datang, sampai pada kehilangan nyawa akibat
tertimbun tanah dan bebatuan.
Demikian pula yang terjadi di bumi Nian Sikka sekarang ini, marak dengan desas desus
mengenai SK Bupati SIKKA 184 HK 2010 tentang persetujuan Izin Usaha Pertambangan
(IUP) eksplorasi mineral logam pasir besi kepada PT Skyline Flores Adijaya yang adalah
fakta yang menyengsarakan rakyat dan menimbulkan persoalan horisontal dikalangan
masyrakat Sikka. Tegasnya.
Lebih lanjut, Yoga Wora menggambarakan bahwa pendirian PT Green Life Bioscince
hanyalah sebagai tameng untuk membungkus sejuta kekilafan dibalik Pasir Besi. Rakyat
kecil bagaikan kerbau di cocok hidung, dimana para pemangku kepentingan telah
menawarkan jasa rakyat dengan tipuan rupiah. Tipuan lain berupa jaminan untuk
memperoleh lapangan pekerjaan layak sehingga ekonomi masyarakat seputar wilayah
pertambangan semakin meningkat atau masyarakat akan meningkat kesejahteraanya.
Pengusaha dan pemerintah kabupaten tidak pernah menjelaskan kepada semua
masyarakat akan dampak dari tambang itu sendiri.

68

Sekretaris FORMALIN, Petrus Sandro Ikeng menjelaskan dalam orasinya bahwa hal ini
merupakan jebakan dasyat yang dibuat oleh para penguasa dengan mengolkan
kepentingan prekrutan tenaga kerja. Oleh karena itu, Bupati harus segera cabut
SK.184/HK/2010 ini karena dinilai hanya untuk menyengsarakan masyarakat. Sandro juga
menegaskan bahwa pernyataan bupati sikka SK Tambang tidak bisa dibatalkan karena
masi dalam tahap penjajakan atau penelitian adalah pernyataan yang tidak
mempertimbangkan segala aspek kehidupan manusia. Jangan keluarkan pernyataan yang
prematur atau cepat-cepat dengn tidak ada nilai tambah sama sekali, suara keras Sandro
saat berorasi.
Namun sayang, kedatangan FORMALIN hanya diterima oleh empat orang wakil rakyat,
Paulus Nong Susar, Yeni Kabupung, Agus Pora, dan Alfridus Melianus Aeng. Dalam
dialog bersama para wakil rakyat, sebelumnya salah satu peserta aksi membacakan
pernyataan sikap dihadapan forum sidang DPRD Sikka. Dialog antar anggota forum dan
anggota DPRD terlihat a lot karena ada peserta aksi yang bernada keras mempertanyakan
soal kehadiran anggota dewan yang sangat sedikit padahal hari Senin merupakan hari
kerja yang efektif.
Paulus Nong Susar yang memamndu jalnya dialog ini menyampaikan bahwa asiprasi dari
FORMALIN akan disampaikan kepada pimpinan DPRD Sikka dan akan diperjuangakn
lebih lanjut. Secara pribadi anggota dewan yang hadir menolak keras pertambangan yang
hadir di kabupaten Sikka karena hanya menimbulkan masalah baru di Sikka.
Kedatangan Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FORMALIN) Sikka meminta kepada
DPRD Sikka untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan atas kasus pertambangan
di kabupaten Sikka. Berikut pernyataan yang merupakan seruan FORMALIN Sikka.
Pertama, mendesak BUPATI SIKKA untuk segerah mencabut SK.184/HK/2010 tentang
persetujuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi Mineral Logam Pasir Besi kepada
PT Skyline Flores Adijaya. Kedua, meminta DPRD Sikka untuk segera membekukan
SK.184/HK/2010 tentang persetujuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi Mineral
Logam Pasir Besi kepada PT Skyline Flores Adijaya. Ketiga, menyerukan kepada DPRD
Sikka untuk lebih produktif dalam memainkan peranannya sebagai fungsi Kontrol dan
Fungsi Pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan tanpa tersubordinat dan
terkooptasi dengan jaringan penguasa. Keempat, mendesak pihak kepolisian untuk segera
tangkap Saudara Sosimus Mitang selaku Bupati Sikka dan Saudara Muhamad Rafik selaku
Pimpinan Perwakilan PT Skyline Flores Adijaya yang sudah melakukan pembohongan
publk. Kelima, mendesak pihak penegak hukum untuk menegakkan kembali superemasi
hukum dengan menggunakan hati nurani, berorientasi kepada kepentingan rakyat tanpa
memandang bulu. (Red).

69

70

Tambang Biji Besi di Riung berpuncak dengan


Pemblokiran Lokasi Tambang oleh Warga
http://anggaokta.student.umm.ac.id/2010/01/30/tambang-biji-besi-di-riung-berpuncakdengan-pemblokiran-lokasi-tambang-oleh-warga/

Kabupaten Ngada adalah sebuah salah satu kabupaten di daratan Flores. Secara historis
Kabupaten ini terdiri dari 3 suku besar, yakni Suku Ngada, Nagekeo dan Riung.
Kabupaten ini terkenal subur dan merupakan dapur Flores. Malah hasil kopi petani sudah
masuk sampai pada pasaran internasional. Dan, kabupaten ini hampir memiliki kondisi
ekologi yang mirip dengan wilayah Manggarai, yang masih memiliki keseimbangan
ekologi.
Kini, Kabupaten Ngada dimekarkan lagi menjadi 2 wilayah otonom yakni kabupaten
Ngada dan Nagekeo. Kabupaten Ngada masih melingkupi Riung dan Ngada. Dari
pantauan, demokrasi di wilayah ini memiliki dinamika yang sangat tenang tidak sepeti
wilayah Flores lainnya.
Di kabupaten Ngada, ada kasus Cagar Alam Watu Ata yang sedang diadvokasi LAPMAS
(anggota WALHI) sudah pada tingkat pembentukan forum multi pihak kehutanan
(Masyarakat Adat, Dinas Kehutanan, LSM). Tujuannya adalah agar adanya pengelolaan
yang berpihak pada rakyat dalam kawasan dengan memperhatikan aspek keseimbangan
ekologi, serta melibatkan para pemangku kepentingan.Gambaran Umum tentang Wilayah
Kasus Tambang Riung
Riung adalah salah kecamatan di Kabupaten Ngada yang letaknya berbatasan dengan
Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Manggarai Timur. Sebagian besar masyarakat
Kecamatan Riung bermata pencaharian sebagai petani di daerah pengunungan dan
nelayan di daerah pesisir.
Kecamatan Riung cukup diandalkan oleh Pemerintah Kabupaten Ngada, sebab daerah ini
sangat terkenal dengan Taman Laut Tujuh Belas Pulau dan Biawak Varanus Riungensis.
Biawak ini hampir sama dengan komodo, namun ia memiliki postur tubuh yang lebih
kecil dibanding dengan Komodo. Riung juga sering dikunjungi para wisatawan baik dari
dalam negri maupun asing untuk mengunjungi daerah pariwisata tersebut. Memang,
Riung belum memiliki nama yang terkenal seperti Taman Nasional Komodo, namun
daerah ini memiliki Potensi Pariwisata yang bisa diemban.
Akhir-akhir ini , Masyarakat Riung mulai resah dengan kebijakan PEMDA yang ingin
menjadikan Riung sebagai areal pertambangan biji besi. Ada 4 (empat) titik yang akan
dijadikan lokasi tambang; yakni Gunung Mbopok, Rendeng, Lowun dan Mbongbilang.
Luas areal yang akan ditambang kurang lebih 1.395 hektare. Ada dua desa (Latung dan
Sambinase) dan dua kelurahan (Kel. Benteng Tengah dan Kel.Nangamese) yang sedang
71

berada di lokasi. Selain itu lokasi ini juga adalah lokasi Cagar Alam yang harus dilindungi
oleh siapa saja (Pos Kupang, 19 Januari 2010).
Beberapa fakta diungkap warga bahwa Pemerintah Kabupaten Ngada telah memberi ijin
penyelidikan kepada empat investor antara lain:
2004 PT. Bina Sempurna
2005-2006 PT. Lasindo
2007 PT. Kharisma
2009 PT. Graha Kencana Perkasa
Respon Warga dan Para Pihak
Menyikapi kasus ini, PERISAI (anggota WALHI NTT) mengadvokasi kasus tersebut.
Ahmad Lezo (anggota Dewan Daerah) yang pernah dilaporkan mencemarkan nama baik
Pemerintah Kabupaten Ngada, dimana Ahmad Lezo mengusir para pegawai Dinas
Pertambangan Kabupaten Ngada yang mengunjungi lokasi untuk diadakan sosialisasi
tentang pertambangan. Kini, Persatuan Riung Sariwu (PERISAI) masih tetap
mengadvokasi kasus tersebut.
900 Warga Desa Latung, Kecamatan Riung Barat dan Wolomese (Kabupaten Ngada) telah
memblokir lokasi tambang besi di gunung Mbopong (15/01/2010). Warga siaga di lokasi
tambang dengan senjata tambang berupa tombak, parang, busur dan anak panah. (Pos
Kupang, 16 Januari 2010).
WALHI NTT telah berkoordinasi dengan Ahmad Lezo untuk beberapa informasi
diharapkan informasi-informasi terbaru akan diperoleh untuk kepentingan Advokasi dan
Kampanye public.

72

Musyawarah Warga Desa Latung

Kontroversi Pertambangan Biji Besi di Riung


Oleh Frans Anggal
http://frans-anggal.blogspot.com/2010/07/musyawarah-warga-desa-latung.html
Acara perdamaian adat rambu rangke masyarakat Riung Seriwu yang diprakarsai dan
difasilitasi Bupati Ngada Piet Yos Nuwa Wea di Riung, Sabtu 26 Juni 2010, tidak dihadiri
warga Desa Latung. Pada hari itu, warga Desa Latung menggelar Musyawarah
Masyarakat Tolak Tambang, yang dihadiri masyarakat Wangka, Ngera, Ria, Lengkosambi,
serta JPIC OFM Indonesia dan Walhi NTT (Flores Pos Senin 5 Juli 2010).
Sesepuh adat Hironimus Kasang mengatakan, musyawarah di Latung digelar tidak untuk
menandingi rambu rangke yang diprakarsai dan difasilitasi bupati. Sebab, musyawarah
sudah direncanakan dari jauh hari. Jadi, Kegiatan kami jangan dinilai sebagai upaya
pemboikotan kegiatan rambu rangke.
Sebagai boikot rambu rangke, jelas tidak. Tapi sebagai tandingan rambu rangke,
kenapa tidak. Malahan, perlu . Sebab, kalau mau jujur, rambu rangke yang diprakarsai
dan difasilitasi bupati itu tidak murni perdamaian adat. Malahan bukan perdamaian,
kalau dilihat dari posisi pemrakarsa, fasilitator, dan pesertanya, sebagaimana diulas
Bentara Flores Pos Jumat 2 Juli 2010.
Pemrakarsa dan fasilitatornya, bupati: pendukung tambang. Tokoh adat yang hadir, dari
suku Wua, Lio, Niki, Kraeng, dan Baar: pendukung tambang. Tokoh politik yang ikut
menyaksikan, Ketua DPRD Kristoforus Loko: pendukung tambang. Semua mereka saling
cocok. Tak ada cekcok. Maka, tidak ada yang perlu diperdamaikan. Dengan demikian,
ajang itu bukan rekonsiliasi antar-pesengketa tambang, tapi konsolidasi antar-pendukung
tambang.
Dalam konsolidasi itu , bupati dan ketua DPRD terdepan. Keduanya bawakan sambutan.
Isinya sama: membantah isu yang beredar. Bahwa, rambu rangke bukan ajang
peresmian ekplorasi pertambangan biji besi di Riung (Flores Pos Kamis 1 Juli 2010). Secara
verbal, isu terbantahkan. Tapi secara substansial, tidak. Sebab, kalau bukan peresmian, itu
ajang apa? Perdamaian? Tidak juga. Itu ajang konsolidasi, langkah menuju peresmian,
suatu ketika.
Karena itu ajang konsolidasi pendukung tambang, maka wajar, sah, bahkan perlu barisan
tolak tambang konsolidasikan diri. Dalam konteks inilah, pada hari yang sama di tempat

73

berbeda, warga Desa Latung menggelar Musyawarah Masyarakat Tolak Tambang. Jelas,
ini tandingan terhadap rambu rangke.
Secara moral, yang dilakukan warga Desa Latung itu terhormat. Mereka jujur. Ajang itu
mereka namakan lugas: Musyawarah Masyarakat Tolak Tambang. Mereka tidak
berkamuflase. Mereka tidak bikin rambu rangke yang bukan rambu rangke. Mereka
tidak memperalat apalagi memperkosa ritus adat adiluhung demi memenuhi dahaga
politik kekuasaan elite kabupaten. Mereka tidak rela rambu rangke direndahkan dari
tuntunan menjadi sekadar tontonan
Riung semestinya bersyukur punya kelompok kecil masyarakat seperti ini. Ketika daerah
sudah dipimpin para oportunis, sejarah toh masih memberi peluang. Dan peluang itu ada
pada mereka yang disebut disiden. Mereka habitus kecil yang masih berpikir rasional
dan sedang berusaha mengorganisasi diri. Daya tahan mereka harus didukung. Di sinilah
peran Gereja, JPIC, LSM, dan lain-lain elemen civil society.
Berharap pada wakil rakyat? Dalam kasus di atas, harapan itu sirna. Pada Musyawarah
Masyarakat Tolak Tambang di Desa Latung, tak satu pun anggota DPRD hadir. Sebaliknya
pada rambu rangke di Riung. Ketua DPRD hadir dan bawakan sambutan. Isinya sama
dengan sambutan bupati. Sama-sama membantah sebuah isu. Koq sama, ya? Akur banget!
Bentara FLORES POS, Selasa 6 Juli 2010

74

Senjakala Bupati Nuwa Wea (Kontroversi


Pertambangan Biji Besi di Riung)
oleh BENTARA pada 10 Juli 2010 pukul 23:47
http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=118792728167014

Bupati Ngada Piet Yos Nuwa Wea menegaskan, acara perdamaian adat rambu rangke
antar-masyarakat Riung Seriwu yang difasilitasi pemkab bukan ajang peresmian ekplorasi
pertambangan biji besi di Riung sebagaimana diisukan di tengah masyarakat.
Rambu rangke digelar di halaman kantor camat Riung, Sabtu 26 Juni 2010. Ditandai
penyembelihan kerbau jantan merah oleh bupati. Hadir, para petinggi pemerintah, DPRD,
polres, dan para tokoh adat (Flores Pos Kamis 1 Juli 2010).
Yang menarik di sini bukan isi pernyataan bupati. Pernyataannya benar. Tanpa dikatakan
pun, rambu rangke jelas bukan peresmian pertambangan. Itu perdamaian adat.
Mengapa pernyataan itu dilontarkannya, itu yang menarik.
Jauh sebelum rambu rangke digelar, isu sudah beredar. Bupati akan resmikan ekplorasi
pertambangan biji besi di Riung pada atau melalui rambu rangke. Isu ini santer di
kalangan masyarakat tolak tambang. Terutama pada masyarakat adat Ria-Latung yang
tanah adatnya akan dijadikan objek.
Isu bukanlah berita. Sebab, isu itu tanpa verifikasi. Kendati demikian, isu selalu mudah
dipercaya. Terutama pada masyarakat yang telah terkondisikan untuk mudah
mempercayainya. Pengondisian bisa melalui berbagai cara, yang oleh Reuel L Howe
dikategorikan sebagai perintang komunikasi. Bisa berupa bahasa, citra, kecemasan, bela
diri, dan maskud berlawanan.
Pada kasus rambu rangke, yang menjadi perintang utama yang menyebabkan acara adat
itu di-salah-isu-kan adalah dua hal ini. Citra bupati dan kecemasan masyarakat. Di
kalangan masyarakat adat Ria-Latung, bupati telah tercitra sebagai pendukung tambang.
Tahun 2009, ia memberi izin kuasa pertambangan kepada PT Graha Kencana Perkasa
untuk eksplorasi bahan galian biji besi dan mineral serta pengikut lainnya. Masyarakat
adat Ria-Latung menyatakan menolak. Mereka akan melawan tambang sampai titik darah
penghabisan.
Kendati demikian, masyarakat adat Ria-Latung cemas juga. Sebab, selain harus melawan
keputusan seorang bupati yang notabene punya aneka kekuatan, mereka harus
berhadapan dengan masyarakat adat lain yang justru mendukung tambang. Suk
u Wua, Lio, Niki, Kraeng, dan Baar. Hak atas tanah (bakal) lokasi tambang pun
diperebutkan melalui klaim-mengklaim.

75

Dalam kondisi seperti inilah rambu rangke digelar. Fasilitatornya bupati yang notabene
pendukung tambang. Tokoh adat yang hadir pun berasal dari suku-suku pendukung
tambang. Jadi, hadirinnya sudah cocok satu sama lain sebelum rambu rangke digelar.
Sudah akur sebelum berdamai. Kalau sudah akur, apa yang mau perdamaikan? Tidak ada,
bukan?
Kalau tidak ada yang diperdamaikan maka yang digelar bukanlah perdamaian. Bukanlah
rekonsiliasi. Bukanlah resolusi konflik. Tapi, konsolidasi. Mengompak-kuatkan barisan
pendukung tambang. Dalam konteks pro-kontra, menguatkan yang pro sama dengan
melemahkan yang kontra. Ini bentuk lain dari pemecah-belahan masyarakat.
Dalam medan makna seperti itulah tersiar isu, rambu rangke yang difasilitasi bupati
merupakan ajang peresmian ekplorasi pertambangan. Isu seperti itu salah, tapi tidak bisa
dipersalahkan. Ia hanya konsekuensi logis dari apa yang dilakukan bupati. Yang kita
sesalkan, justru di pengujung masa jabatannya, bupati menorehkan luka baru. Sebuah
catatan buruk di senjakala kekuasaan.
Bentara FLORES POS, Jumat 2 Juli 2010

76

Tambang & Risiko Asimetri Informasi


Posted Thu, 19/08/2010 - 12:16 by itaibnu
http://www.batukar.info/komunitas/articles/tambang-risiko-asimetri-informasi
Oleh Ferdy HasimanKAMIS, 19 AGUSTUS 2010 | 00:20 WIB
BEBERAPA tahun terakhir, investasi berskala raksasa mulai digelontorkan ke Propinsi
NTT. NTT bukan hanya dikenal dengan tambang mangan di Pulau Flores, tetapi kaya
akan biji emas, dan biji besi. Tambang emas dan biji besi ini terdapat di Sumba Barat dan
Sumba Timur. Bukan hanya itu, di Blok Rote dan Blok Sabu, terdapat potensi minyak dan
gas (migas) yang cukup besar untuk dieksplorasi. Tak pelak lagi, raksasa-raksasa nasional
dan multinasional pun saling berebut-rebutan mendapat lahan garapan untuk
menambang. Raksasa nasional yang familiar dikenal publik, misalnya, PT Merukh
Enterprise. Merukh Enterprise adalah anak usaha PT Pukuafu Indah yang memiliki 20
persen saham di PT Newmont Nusa Tenggara (NTT). Sementara perusahaan-perusahaan
lokal di Pulau Flores hampir pasti tidak dikenal track-record-nya. Selain pemain lokal,
raksasa-raksasa multinasional, seperti Rio Tinto (Listing Bursa Teronto), San Miquel
(Philipina) atau Salgacoar Mining (India). Singkatnya, NTT menjadi primadona baru bagi
investor tambang pada tahun-tahun belakangan ini. Pertanyannya adalah mengapa
perusahaan-perusahaan itu dengan mudah berekspansi ke Propinsi NTT? Paradigma
pembangunan Penetrasi raksasa tambang di NTT hampir tak terbendung.
Soalnya, pemerintah di NTT telah memilih paradigma ekonomi yang berpihak pada
investasi skala raksasa. Paradigma investasi berskala raksasa ini memang sudah mulai
diperkenalkan sejak Washington Conssensus (WC) pada tahun 1990-an. Isi WC adalah
liberalisasi, privatisasi, dan deregulasi. Liberalisasi adalah minimalisasi peran negara
dalam pasar. Negara-negara atau yang diwakili Pemda NTT wajib membuka diri terhadap
investasi. Semua beban dalam bentuk tarif, pajak, royalti, harus ditiadakan. Sementara
privatisasi adalah pengalihan perusahaan-perusahaan negara ke tangan pihak swasta.
Segala bentuk jaminan sosial mulai dari jaminan kesehatan, pendidikan, jaminan bagi
penganggur atau pekerja ditiadakan. Secara ringkas, tiga agenda ini menghendaki agar
pemerintah keluar dari pasar. Tiga agenda di atas merupakan pintu masuk bagi
berkembangnya investasi asing. Tolak ukur investasi yang dikehendaki dalam WC adalah
investasi berskala raksasa, seperti pertambangan. WC percaya investasi berskala raksasa
dapat mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan di negara-negara berkembang,
tak terkecuali di NTT.
Dengan masuknya raksasa-raksasa tambang NTT secara eksplisit telah memaklumatkan
paradigma pembangunan yang diadopsi dari WC. Soalnya logika pemerintah
mengatakan, NTT adalah daerah yang gersang dan tidak memungkinkan untuk
tumbuhnya sektor pertanian, perikanan dan industri mikro-kecil lainnya. Atas dasar itulah
tulisan Ignas Ladjang "Kegaduhan Seputar Masalah Tambang" semakin mengokohkan
posisi pemerintah lokal mengadopsi pilihan pembangunan NTT berskala raksasa. Sektor
mikro-kecil di mata pemerintah terbukti tidak memberi kontribusi apa-apa pada
penerimaan daerah. Apalagi dengan otonomi daerah dana APBD untuk pemda semakin
mengecil. Mengecilnya dana APBD membuat pemda harus mencari jalan untuk mengatasi
defisit anggaran. Maka, satu-satunya jalan paling mudah mendapat dana adalah membuka
diri terhadap investasi berskala besar, melalui sektor pertambangan. Lazimnya, sebelum
77

investasi besar itu datang, pemerintah harus memenuhi persyaratan yang harus dipenuhi
agar investasi berjalan aman. Persyaratan itu berupa liberalisasi pasar. Dengan adanya
liberalisasi pasar, pemerintah tidak memiliki kewajiban lagi menagih pajak, tarif, upah
harus ditekan, izin konsesi harus dipermudah dan sederet aturan lain yang ramah
terhadap investor (investor friendly). Semua persyaratan ini saya kira sudah dipenuhi
Pemerintah NTT dan itu adalah sebuah pilihan yang sangat berisiko bagi kesejahteraan
NTT ke depan.
Mengapa berisiko?
Ekonom J Stiglitz jauh-jauh hari berpesan, penetrasi asing dan investasi berskala raksasa
sangat rentan terjadi asimeteri informasi. Asimetri informasi adalah informasi yang tidak
sejajar diterima pelaku pasar. Itulah mengapa menjalankan bisnis di negara berkembang
seperti Indonesia, apalagi NTT, sangat sulit. Soalnya informasi tidak dapat diterima
dengan sempurna, karena umumnya di Indonesia, tak terkecuali di NTT, berkembang
praktek bisnis yang tidak jujur. Menurut Stiglitz, asimetri informasi tidak akan terjadi
tanpa ada asimetri kekuasaan. Artinya kekuasaan lebih memberi akses mudah kepada
investor daripada rakyat miskin. Akses mudah dari pemerintah itu berupa pemberian
supervisi dan aturan hukum lainnya. Akibatnya, pemerintah menjadi tidak transparan
terhadap warga. Akibat ketidaktranspranan ini, aksi protes warga di NTT merebak.
Merebaknya aksis protes ini karena warga tidak pernah mendapat pemahaman sempurna
berupa sosialisasi bagaimana baik-buruknya sektor pertambangan.
Memang dalam pemberitaan media, pemerintah telah melakukan MoU dengan investor
secara transparan. Namun, dalam MoU itu rakyat tidak pernah dibeberkan secara
mendetail informasi seputar sektor pertambangan itu. Akibat asimetri infomasi, aksi
protes pun merebak. Protes warga muncul ketika mesin-mesin raksasa menggerus hak
ulayat masyarakat adat. Namun, kesadarannya serba terlambat. Keterlambatan kesadaran
ini bukan tanpa sengaja karena pemerintah sengaja menyembunyikan data dan informasi
lengkap seputar pertambangan pada saat melakukan MoU dengan investor. Melihat
realitas di atas, saya kira, masuknya investasi pertambangan di NTT justru merusak
tatanan demokrasi pada tingkat lokal. Demokrasi memang kelihatan berjalan namun
demokrasi yang mengabdi kepentingan bisnis. Risiko lebih lanjut terjadinya aktivitas
pemburu rente dan korupsi di tingkat lokal meluas. Belum lagi jika melihat track record
perusahaan yang berkiprah di NTT. Memang untuk perusahaan asing yang berkiprah di
NTT sangat mudah dilacak pembukuannya, karena perusahaan-perusahaan itu tercatat di
bursa Australia atau bursa Toronto. Namun hampir semua KP lokal di NTT sangat sulit
dilacak neraca keuangannya. Karena semua KP adalah perusahaan privat. Lantas
bagaimana publik mengakses informasi ke perusahaan-perusahaan itu? Berapa kapasitas
produksi, berapa penjualan perusahaan setiap tahun, sehingga publik bisa mengetahui
secara pasti berapa yang masuk ke PAD daerah dari sektor tambang.
Selain itu publik semakin sulit melacak siapa pemilik KP, apakah raksasa bisnis dari
Jakartakah atau pebisnis tingkat lokal. Karena sulit dideteksi, total aset perusahaan itu
pun sulit diketahui. Maka, mereka semakin dibebaskan dari pembayaran pajak ke negara.
Semuanya ini menjadi informasi yang sangat susah diakses. Asimetri informasi inilah yang
memungkinkan pemda memiliki ruang untuk korupsi. Korupsi terjadi ketika akses dan
sumber informasi ditutup rapat. Itulah nasib sebuah negara dan daerah yang telah
78

menjalankan resep liberalisasi pasar. Dengan kondisi carut-marut seperti ini, apa yang
harus kita lakukan? Tambang bukan solusi Saya kira tambang bukan solusi membangun
ekonomi NTT ke depan. Tambang tidak dapat memberdayakan partisipasi warga lokal.
Partisipasi warga lokal ini, menurut hemat penulis, menutut pemerintah untuk memahami
lebih bijaksana arti demokrasi ekonomi. Demokrasi ekonomi dibangun berdasarkan
prinsip subsidiaritas dan solidaritas. Subsidiaritas artinya pemerintah memiliki kewajiban
membantu masyarakat lemah, jika mereka tidak sanggup memenuhi kebutuhan hidup.
Sementara apa yang dapat dikerjakan masyarakat tidak boleh diintervensi pemerintah.
Demokrasi ekonomi ini menuntut pemerintah untuk responsif bahwa membangun daerah
NTT bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab
bersama. Cara seperti apa? Partisipasi warga akan terealisasi jika pemerintah memiliki
kehendak politik menggerakkan ekonomi mikro-kecil. Gerakan ekonomi mikro-kecil harus
dibangun mulai dari pembangunan infrastruktur publik agar memudahkan rakyat
mengakses ke pasar. Lebih jauh lagi, rakyat harus diupayakan untuk dapat mengakses ke
sumber dana (bank) agar dapat mengembangkan usaha. Dengan gerakan seperti itu,
pertumbuhan ekspor NTT ke depan bisa meningkat, budaya saving dan income
masyarakat pun terus meningkat. Semuanya itu akan berjalan jika ditopang dengan tata
kelola pemerintahan yang baik (good governance). Gerakan ekonomi sektor riil ini sudah
dikembangkan di negara-negara maju, seperti Jerman. Di Jerman, pemerintahnya sekarang
mulai menggerakkan Mittelstand. Mittelstand adalah gerakan pembangunan sektor riil,
seperti industri manufaktur dan industri kecil lainnya. Gerakan seperti ini semakin
mengokohkan Jerman menjadi negara paling sukses menerapkan Ekonomi Pasar Sosial
(EPS). Akhirnya tulisan ini ditujukan kepada publik di NTT, agar lebih cermat dan kritis
memahami tulisan Ignas K Lidjang. Tambang bukan sebuah berkah bagi rakyat miskin,
tetapi lebih sebagai kutukan. *
Peneliti pada Indonesia Today, Jakarta & Penekun Masalah Neoliberalisme
Sumber:
http://pos-kupang.com/read/artikel/51725/editorial/opini/2010/8/19/tambangrisiko-asimetri-informasi

79

Leviathan Yang Menghibur


posted by Kristo,OFM Opini Friday, January 14th, 2011
http://www.formaddantt.com/leviathan-yang-menghibur/36/

Animo pemerintah daerah (Pemda ) NTT terhadap tambang sangat besar. Pemda begitu
optimis, tambang membawa berkah bagi jutaan rakyat NTT. Berbagai Peraturan daerah
(Perda ) pun di rancang untuk memuluskan investasi pertambangan dan menarik minat
investor untuk berinvestasi ke NTT. Pertanyaanya, benarkah tambang untuk rakyat?
Hanya Menghibur Rakyat
Pola pembangunan yang mengandalkan modal besar atau investasi asing kerap disebut
trickle-down-effect (efek-tetesan-ke-bawah). Prinsipnya adalah pemerintah tidak perlu repotrepot mengeluarkan budget untuk pembangunan infrastruktur publik karena hanya akan
menyebabkan defisit anggaran dan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Untuk itu,
pemerintah tidak perlu menagih pajak pada orang kaya, karena uang orang kaya
berdampak pada tetesan ke bawah, melalui investasi. Investasi serentak akan menampung
tenaga kerja dalam jumlah masif.
Model pembangunan trickle-down-effect terlihat pada obesesi pemda menarik masuk
perusahaan-perusahaan tambang. Perusahaan-perusahaan ini siap mengelolah Blok Migas
di blok Sabu dan Blok Rote. Mengelolah areal pertambangan biji besi dan emas di Sumba
Barat dan Sumba Timur dan mengeksplorasi mangan di daratan Flores dengan lahan
garapan cukup luas. Untuk itu, Pemda sibuk melakukan propaganda pro tambang dan
membangun opini ke masyarakat bahwa tambang menyejahterakan rakyat. Opini publik
terlihat dari beberapa penulis yang mewakili Pemda. Mereka mengupas sisi-sisi positif
sektor pertambangan tanpa sebuah data yang terukur dan berilusi, jika tambang di
dikelola secara profesional akan bermanfaat bagi rakyat.
Mereka membandingkan keberhasilan tambang di beberapa belahan dunia, seperti
tambang modern di kota Perth, Australia. Mereka lupa, tambang di Australia sudah
terkanalisasi dan upah di perusahaan pertambangan itu rata-rata mencapai 69.000 dollar
AS. Pemain tambang di Perth dikuasai raksasa pertambangan BHP Billiton, Rio Tinto,
produsen Migas Chevron dan Woodside Petrolium. Meskipun demikian, pemerintah
Australia tetap memiliki saham di perusahaan tambang, sehingga sistem regulasinya
berjalan baik.
Membandingkan model pembangunan yang sukses, ideal, di negara lain untuk
dicangkokan di NTT disebut Zlavoj Zizek (2004) sebagai structure of fantasy. Model
tambang yang mereka angkat dari negara lain tentu hanyalah sebuah ketakjuban
memandang sebuah model tambang. Apa yang mereka fantasikan belum tentu sukses jika
diterapkan di NTT. Seolah-olah semua negara atau daerah mengalami problem yang sama.
Model pembangunan sektor pertambangan di Perth, belum tentu cocok jika diterapkan di
NTT. Kita memang tidak kekurangan konsep di atas kertas. Yang kurang adalah kejujuran
80

dan kebersihan nurani. Akibatnya pelaksanaan investasi tambang menjadi masalah. Dari
segi regulasi saja, disparitasnya sangat jauh. Mayoritas perusahaan tambang di Indonesia,
tak terkecuali di NTT samasekali belum menjalankan amanat UU Minerba No.4 tahun
2009. Padahal dalam UU itu mewajibkan setiap KP/IUP melakukan reklamasi, sanksi
administrasi bagi pelanggar, pelibatan masyarakat lingkar tambang dan sederetnya.
Pemda boleh saja berkilah, tambang memiliki dampak positif bagi NTT, karena
pemerintah akan menerima royalty dari pendapatan perusahaan. Merujuk ke aturan
umum, bagian pemerintah daerah hanya sekitar 7,5 persen dari royalti yang diserahkan
perusahaan pertambangan, sedangkan sisanya dinikmati pemerintah pusat. Pemda lupa
membuat kalkulasi bahwa secara akuntasi, rakyat sebenarnya lebih banyak menanggung
cost daripada benefit.
Dengan itu, janji-janji kesejahteraan rakyat dari tambang tak lebih sebagai leviathan yang
menghibur. Istilah leviathan adalah percikan filosofis Thomas Hobbbes. Hobbes
mengatakan, negara sama dengan leviathan atau monster raksasa yang menakutkan.
Dalam Leviathan ia mengatakan, secara umum kekuasaan manusia adalah sari pati segala
sarana yang dipakainya untuk meraih tujuan-tujuan di masa depan. Maka, hakikat
kekuasan seperti rasa lapar dan saling memangsa-satu sama (homo homoni lupus ). Namun
dibalik individu alamiah ini bertenggerlah kepentingan-kepentingan individu berjuis yang
ingin mengejar kepentingan diri. Individu-individu ini bersembunyi dibalik keputusan
pemerintah dan bahkan hadir dalam wajah penulis yang sangat antusias dengan tambang
dan memberi gambaran ideal tentang tambang rakyat.
Menurut mereka tambang rakyat perlu dibenahi mulai dari sisi manajemennya. Beberapa
penulis di Koran ini dan Wakil Gubernur NTT menganjurkan agar masyarakat lingkar
tambang menjadi pemagang saham (shareholder). Manajemen seperti itu khas yang anjuran
para manajer perusahaan dan penggagas neoliberalisme yang sekarang mendapat hujatan
banyak pihak. Bukankan manajemen tambang yang demikian sebagai upaya privatisasi
perusahaan-perusahaan pada tingkat lokal? Mereka lupa membangun manajemen
tambang seperti ini hanya memperparah masalah korupsi di NTT. Investor kerap memiliki
strategi state-capture (kiat menyandra aparat publik ). Anjuran mereka tentu tidak
sepenuhnya salah, namun pembagian saham perushaan tambang ke masyarakat di tengah
keroposnya akuntabilitas dan transparansi badan publik menimbulkan monopoli. Maka,
menerapkan gagasan neoliberalisme tanpa adanya jaring pengaman sosial, seperti
pendidikan hanya membuat rakyat tetap menderita. Soalnya dibalik proyek itu terbersit
proyek antropologis, manusia harus kompetitif, produktif dan rakyat NTT harus menjadi
entrepreneurship (wirausahawan).
Akibat langsung yang terlihat dengan mata telanjang bisa kita saksikan pada rakyat sekitar
lingkar tambang. Rakyat NTT yang tidak berpendidikan dan tidak memahami dunia
teknis pertambangan harus menjadi buruh kasar dengan imbalan upah rata-rata Rp 25.000
(pekerja perempuan) dan Rp 30.000 (pria). Semua itu sudah termasuk transportasi,
makananan ataupun urusan kesehatan lainnya. Bukankah dengan cara seperti itu,
perusahaan-perusahaan itu akan mendulang benefit besar, sementara cost harus
ditanggung mahal oleh para buruh.

81

Dengan pertimbangan itu, saya mengajak publik agar kritis menanggapi berbagai wacana
pro-tambang di media. Lihat saja lagak para penulis pro-tambang yang sok menjadi
dokter. Dokter yang dapat memberi obat penyembuhan dan memberikan pertolongan
dalam bentuk sikap bersahabat. Seolah-olah rakyat bisa dimanipulasi dengan janji
kesejahteraan dan menyulap ekonomi NTT menjadi lebih sejahtera. Lebih konyol lagi, para
penulis pro-tambang dan pemerintah menghubungkan begitu saja secara eksak bahwa
investasi tambang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekian persen.
Menurut saya, mereka bagaikan dokter yang hanya memberi obat penenang, karena
memang rakyat sedang putus asa akibat beban hidup terlalu tinggi. Mereka lupa,
perusahaan-perusahaan tambang rentan berprilaku spekulatif dan ponzi. Investor
berwatak ponzi adalah investor yang mengandalkan pinjaman tanpa equitas memadai
untuk membayar utang. Risikonya, barangkali untuk jangka pendek belum terasa, namun
dalam jangka panjang bukan tidak mungkin, jika sesekali pemodal raksasa itu mengalami
sakit parah karena beban utang, justru yang terkena getahnya adalah perekonomian NTT.
Banyak fakta telah berbicara kepada kita. Pada saat krisis menerjang, perusahaan
bermodal besar itu justru banyak memangkas karyawan dalam jumlah besar. Justru yang
menyelamatkan ekonomi kita secara nasional adalah sektor UMKM. Secara nasional,
populasi UMKM mencapai 50,7 juta atau 99,9% dari total usaha di Indonesia. Jumlah
penyerapan tenaga kerja UMKM mencapai 91,8 juta atau 97,3% dari PDB. Pada skala lokal
NTT, pertumbuhan ekonomi pada medio 2009 yang mencapai 4,8 persen itu justru
ditopang UMKM (sektor pertanian, pariwisata, kehutanan dan koperasi)? Pemerintah
memang mengklaim sektor UMKM sudah ditopang sistem perbankan yang sehat, namun
tetap saja ketimpangan terus terjadi. Buktinya, meskipun jasa perbankan, seperti BRI, Bank
NTT, Bank BNI, Bank Mandiri dan BPR Lugas Ganda, telah beroperasi di sana, namun
rakyat tetap sulit mendapat akses kredit.
Minimnya akses kredit karena dibatasi oleh ketiadaan agunan. Bank umumnya tidak mau
memberikan kredit untuk modal awal usaha, tetapi hanya untuk usaha yang telah
berjalan. Usaha yang dimaksud adalah kegiatan usaha non-pertanian. Kegiatan usaha
bidang pertanian dianggap sebagai usaha ekonomi yang kelayakan kreditnya sangat
rendah, sehingga sangat sulit bagi petani untuk mendapatkan kredit untuk budidaya
pertanian atau usaha lainnya. Kondisi itu akan diperparah dengan munculnya sektor
pertambangan. Dengan adanya investasi tambang di NTT, UMKM yang praktis memberi
kontribusi ke pertumbuhan ekonomi akan ditinggal pergi sektor perbankan. Akibatnya,
pertumbuhan ekspor mandek, budaya saving melemah dan income masyarakat terus
merosot. Lantas bagaimana seharusnya membangun NTT?
Ekonomi Berbasis Kawasan
Pemerintah diharapkan dapat merancang model pembangunan solutif yang mampu
merangkum kondisi lokal. Alasannya konteks sosial, politik dan budaya sangat dekat
dengan ekonomi riil, seperti pertanian, perikanan atau peternakan. Sektor-sektor ini justru
memberi peluang bagi penyerapan tenaga kerja dan secara perlahan dapat meredam
gelombang urbanisasi besar-besaran warga NTT ke kota-kota besar atau ke negara lain,
seperti Malyasia. Pembangunan sektor riil perlu juga memperhitungkan potensi setiap
82

daerah. Maka pembangunan ekonomi berbasis kawasan menjadi penting, karena daerah
di NTT memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Manggarai misalnya, sebagai salah satu daerah sentra pertanian di pulau bunga. Tetapi
area persawahan di sana hanya dapat panen dua kali setahun, inipun seringkali
mengalami gagal panen. Bagi kebanyakan petani, hasil produksi padi sering tidak cukup
untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai pada musim panen berikutnya. Mereka
harus membeli kekurangan bahan pangan tersebut dari hasil penjualan tanaman
perkebunan atau ternak babi dan ayam. Selain untuk membeli bahan pangan, hasil
tanaman perkebunan biasanya juga digunakan untuk pembiayaan lainnya, seperti
pendidikan anak dan pembangunan rumah, serta untuk biaya-biaya adat. Untuk mengisi
kekurangan itu, pemda seharusnya memfasilitas tanah, irigasi untuk proses pertanian
rakyat.
Hal yang sama bisa diterapkan di daerah-daerah lain yang memiliki potensi untuk
mengembangkan peternakan atau pariwisata. Lalu bagaimana carannya? Sisihkan Rp 1015 miliar APBD per tahun untuk proyek percontohan, pertanian, peternakan atau
perikanan. Berbuatlah dari hal-hal kecil membangun perekonomian rakyat dan bukan
tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan nasib rakyat NTT akan berubah. (Ferdy
Hasiman)
Short URL: http://www.formaddantt.com/?p=36

83

Surat Terbuka Kepada Pemerintah Kabupaten


Ngada, NTT
Kamis, 08 September 2011 21:11 Ditulis oleh Hans Obor
DARI ERHIMPUNAN PEMUDA MAHASISWA NGADA JAKARTA (PPMNJ)
http://www.nttonlinenews.com/ntt/index.php?option=com_content&view=article&id=1064
9%3Asurat-terbuka-kepada-pemerintah-kabupaten-ngadantt&catid=35%3Aekonomi&Itemid=54
Bupati, Wakil Bupati beserta jajaran pemangku jabatan eksekutif di Kabupaten Ngada
yang kami hargai, mencermati janji kampanye Pilkada Bupati dan Wakil Bupati terpilih
serta visi dan misi terutama point pertama misi Bupati dan Wakil Bupati terpilih kami
melihat bahwa Pemerintah Kabupaten Ngada pro lingkungan dan menolak Tambang.
Hal ini pula yang selama ini melekat dalam pikiran dan hati terdalam masyarakat Ngada.
Karena budaya masyarakat Ngada sangat menghargai alam, sehingga upaya
pertambangan sudah ditentang oleh masyarakat.
Catatan kami tanggal 3 Juni 2009 di Aula Kantor Camat Riung saat sosialisasi oleh PT.
Graha Kencana Perkasa, masyarakat secara tegas menolak kehadiran tambang.
PERISAI (Persekutuan Riung Seriwu) sebagai representasi dari masyarakat Riung - tanah
ulayat/kesukuan yang berpotensi tambang - dalam surat resmi tanggal 23 Desember 2005
telah secara tegas menolak tambang di Tanah Riung.
Tanggal 6 Juli 2011 Rembuk Nasional Masyarakat Adat Riung di Tado yang dihadiri oleh
seluruh tetua adat se daratan Riung serta kepala-kepala desa, dan tokoh-tokoh masyarakat
Riung, secara tegas menolak segala bentuk pembangunan yang merusak lingkungan di
Riung termasuk Tambang.
Namun sungguh sebuah Penipuan dan Pembohongan Kepada Masayarakat ketika saat ini
Bupati dan Wakil Bupati telah dengan sengaja dan sembunyi-sembunyi mengizinkan
pertambangan
di
Riung
dengan
mengeluarkan
SK
Pertambangan
No.82/KEP/DESDM/2010 tanggal 25 Oktober 2010 kepada PT. Laki Tangguh Indonesia
untuk explorasi Biji Besi seluas 12.319 Ha dan 18.603 ha.
Kebohongan dan niat kotor ini semakin menjadi-jadi ketika Pemerintah Kabupaten Ngada
merencanakan membangun Pelabuhan Bongkar Muat skala besar di Golo Ite Riung (Pos
Kupang, Senin 18 Juli 2011), yang jelas-jelas adalah wilayah Cagar Alam Laut 17 Pulau
Riung. Sementara hanya berjarang + 20 KM sudah ada pelabuhan bongkar muat Marpokot
di Mbay. Resiko kerusakan Taman Laut dan Terumbu Karangnya sudah pasti tak
terelakan. Asset wisata bahari exotic sengaja akan dihancurkan oleh rencana pemerintah
kabupaten yang kaget-kagetan ini.

84

Berdasarkan point-point diatas bersama seluruh kekuatan Masyarakat Ngada,


Perhimpunan Pemuda Mahasiswa Ngada Jakarat (PPMNJ) menuntut kepada Pemerintah
Kabupaten Ngada untuk :
1. Mencabut segala bentuk perijinan tambang yakni: SK No. 65/KEP/EKONOMI/2005
tanggal 21 Mei 2005 kuasa eksplorasi kepada PT. Merukh Flores Coal; SK
No.135/KEP/DESDM/2009 tanggal 1 Juni 2009 kuasa eksplorasi kepada PT. Graha Kencana
Perkasa dan yang terbaru adalah SK No.82/KEP/DESDM/2010 tanggal 25 Oktober 2010
kuasa explorasi kepada PT. Laki Tangguh Indonesia.
2. Menyatakan sikap secara terbuka tertulis dan berkekuatan hukum kepada masyarakat
dan para investor bahwa Tambang Mineral (Galian A, B) tidak diperkenankan di Ngada.
3. Menghentikan rencana pembangunan dermaga bongkar muat di Riung.
4. Stop segala bentuk pembohongan terhadap Masyarakat.
5. Jika ke-empat point diatas tidak diindahkan oleh Pemerintah Kabupaten Ngada sampai
tenggang waktu selambat-lambatnya 30 September 2011, PPMNJ mengajak seluruh
masyarakat Ngada untuk mengajukan mosi tidak percaya kepada Bupati dan Wakil
Bupati, karena sudah dengan sengaja membohongi, mencederai dan mengingkari janji
kampanyenya.
Jakarta, 6 September 2011,
PERHIMPUNAN PEMUDA MAHASISWA NGADA JAKARTA (PPMNJ)
Ketua, BRUNO WANGGOL; Sekretaris, APRIANUS ANGELO ZENGE DOE

85

Tambang Pasir Besi Mengancam Jalan Negara


Samuel Oktora | Nasru Alam Aziz | Selasa, 13 Desember 2011 | 17:15 WIB
http://regional.kompas.com/read/2011/12/13/17150739/Tambang.Pasir.Besi.Mengancam.Jal
an.Negara
ENDE, KOMPAS.com -- Aktivitas tambang pasir besi di kawasan Nangaba, Desa
Rukuramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, dikhawatirkan
dapat meningkatkan ancaman abrasi yang dapat merusak badan jalan negara. Area
pertambangan itu terletak di daerah pesisir dan relatif dekat dengan badan jalan negara
yang menghubungkan Ende-Nagekeo.
"Kami memang tidak mempunyai kewenangan soal kegiatan tambang itu. Kewenangan
kami hanya meliputi badan dan bahu jalan selebar 9 meter. Namun kalau sampai badan
jalan ambles atau longsor karena abrasi, kami akan ajukan keberatan kepada perusahaan
tambang," kata Kepala Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah IV, OH Tambunan,
Selasa (13/12/2011) di Ende.
Manajer PT Grand Victory Resources, Zulkifli DM ketika dikonfirmasi mengatakan,
kekhawatiran itu terlalu berlebihan. Sebab, kata dia, jarak bibir pantai hingga badan jalan
negara relatif jauh, yakni sekitar 100 meter.

86

Eksplorasi Pasir Besi di Ende Akhirnya


Dihentikan
Samuel Oktora | Agus Mulyadi | Kamis, 15 Desember 2011 | 20:29 WIB
http://regional.kompas.com/read/2011/12/15/2029162/Eksplorasi.Pasir.Besi.di.Ende.Akhirn
ya.Dihentikan
ENDE, KOMPAS.com - Dua perusahaan tambang pasir besi yang beroperasi di
Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, akhirnya bersedia menghentikan
sementara kegiatan eksplorasi.
Kedua perusahaan itu adalah PT Grand Victory Recources, yang memiliki Izin Usaha
Pertambangan (IUP) eksplorasi pasir besi periode 2010-2015. Mereka mendapatkan
Wilayah IUP seluas 132 hektar (ha) di Kecamatan Ende Utara, Ende, dan Nangapanda.
Perusahaan tambang lainnya, CV Rahmad Raya, yang juga mengantongi IUP eksplorasi
dengan WIUP seluas 5,726 ha, di Desa Nggorea, Kecamatan Nangapanda.
"Kami menerima surat dari Dinas Pertambangan beberapa hari lalu, sehingga kami baru
dalam minggu ini menghentikan kegiatan," kata Manajer PT Grand Victory Recources,
Zulkifli DM, Kamis (15/12/2011), di Ende.
Sebelumnya, perusahaan asal Surabaya, Jawa Timur, itu tak mengindahkan surat imbauan
dari Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Ende. Surat tersebut dikeluarkan 19
Oktober 2011, yang isinya meminta perusahaan tambang menghentikan sementara
kegiatan eksplorasi mereka.
Imbauan tersebut dikeluarkan, sehubungan dengan mencuatnya pro dan kontra di tengah
masyarakat menyangkut tambang pasir besi.
Pemerintah Kabupaten Ende pada 2010 telah mengeluarkan 20 IUP, termasuk izin
eksplorasi pasir besi.
Namun 20 IUP tersebut oleh sejumlah kalangan dianggap ilegal, karena Pemkab Ende
mengeluarkan izin tambang itu mengacu pada Perda Kabupaten Ende No 28 Tahun 2002
tentang Pertambangan.
Semestinya IUP yang dikeluarkan mengacu pada Undang-undang Nomor 4/2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara.
Sementara rancangan perda pertambangan yang baru, sebagai produk turunan dari
undang-undang itu saat ini masih dibahas di DPRD Ende.
Perusahaan diperbolehkan kembali beroperasi, setelah rancangan perda tentang
pertambangan yang baru ditetapkan, sehingga ada kepastian hukum yang mengatur
kegiatan tambang.
87

Semenara itu Pimpinan CV Rahmad Raya, Mohamad Pua Wajo, ketika dikonfirmasi
mengatakan telah menghentikan eksplorasi.
"Sebenarnya imbauan dari Dinas Pertambangan ini janggal. Izin sudah dikeluarkan, tapi
kemudian tanpa alasan yang jelas kami diminta menghentikan sementara kegiatan
eksplorasi. Padahal kami juga sudah menunggu lama izin ini. Kami sudah mengajukan
izin tambang ini sejak tahun 2006," kata Mohamad.
Secara terpisah, Direktur Pusat Kajian dan Advokasi Masyarakat (Pusam) Indonesia, Cesar
Bara Bheri, menduga, Pemkab Ende mengeluarkan 20 IUP itu digunakan sebagai mesin
uang untuk menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun 2013.
Ada indikasi 20 IUP itu dikeluarkan terburu-buru, demi meraup dana dari investor untuk
kepentingan modal bagi pejabat tertentu yang akan terjun dalam pilkada 2013.
"Mengapa ranperda belum ditetapkan tapi izin sudah mendahului, kata Sesar
mempertanyakan.

88

Mahasiswa Usung Peti Mati Tolak Tambang di


Ende
10/01/2012
http://www.floresbangkit.com/2012/01/127/
ENDE, KOMPAS.com - Sekitar 50 mahasiswa berunjuk rasa di kantor Bupati Ende, di
Flores, Nusa Tenggara Timur, Senin (9/1/2012) menolak tambang pasir besi.
Mereka yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Perhimpunan Mahasiswa Katolik
Republik Indonesia (PMKRI) dan Gerakan Mahasiswa Pemuda Indonesia (GMPI) itu
mengusung sebuah peti mati yang ditutup kain hitam, juga sebuah kayu salib.
Peti mati ini melambangkan telah matinya hati nurani pemimpin di daerah ini, karena
mereka telah mengabaikan suara rakyat, dan ini juga menunjukkan arogansi bupati, kata
Ketua Presidium PMKRI Cabang Ende, Ferdinandus DY, Senin, di Ende.
Mereka menuntut Bupati Ende Don Bosco M Wangge segera mencabut izin tambang biji
dan pasir besi. Mereka menuntut pula, jika Don Wangge tak mencabut izin tambang agar
mengundurkan diri sebagai bupati. Mahasiswa tak dapat bertemu bupati, karena bupati
sedang berada di Jakarta.

89

Selamatkan Riung-NTT dari Ancaman Tambang


Bijih Besi
http://voicefromtheeast.org/2012/02/selamatkan-riung-ntt-dari-ancaman-tambang-bijihbesi/
Dari: Andri S wijaya
10 Februari 2012
Pesisir dan kawasan hutan desa Wangka, Ria dan Lengkosambi Kecamatan Riung
Kebupaten Ngada NTT terancam tambang bijih besi. Melalui Izin Usaha Pertambangan
(IUP) yang dikeluarkan Bupati bernomer 82/KEP/DESDM/2010 untuk PT Laki Tangguh
mendapatkan konsesi tambang bijih besi seluas 28.921 ha di kawasan Mbopok kecamatan
Riung. Perusahaan kini mengajukan AMDAL dan meminta tanggapan masyarakat hingga
16 Fabruari 2012.Bulan lalu, 16 Januari 2012, perusahaan mengumumkan rencana
penyusunan dokumen Amdal rencana kegiatan pertambangan bijih besi. Pengumumuman
ini menyesatkan dan penuh kebohongan. Mereka menyatakan perusahaan tambang akan
meningkatkan kesempatan kerja, pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.
Semantara dampak negatifnya hanya disebutkan konflik pemanfaatan lahan dan masalah
sosial budaya masyarakat.
Padahal eksploitasi tambang itu kelak akan membongkar kawasan Hutan Lindung dan
Cagar Alam Wolotado, juga satu-satunya mata air warga, yaitu mata air Soer. Lebih dari
900 jiwa bergantung pada sumber air tersebut, juga lahan-lahan pertanian warga yang
ditanami Jagung, Jambu Mete, Kemiri dan lainnya.
Sejak tahun lalu, warga Riung sudah menolak segala bentuk tambang yang akan masuk ke
kawasan mereka. Pada 11 Januari 2011 bertempat di desa Latung, mereka mengadakan
upacara adat tolak tambang. Upacara ini juga didukung juga oleh warga desa Wangka,
Ria, Lengkosambi. Mereka menyerukan Riung bukan untuk tambang, Tolak Tambang
Harga Mati.
Tambang bijih besi akan mengancam keselamatan warga yang sebagian bermata
pencaharian petani dan nelayan. Pembongkaran kawasan tangkapan air dan sumbersumber air akan mengancam persediaan air minum warga, berpotensi longsor dan
keringnya lahan-lahan pertanian. Limbah tambang dan debu akibat pembongkaran dan
transportasi berpotensi mengganggu kesehatan warga. Pesisir juga akan tercemar dan
menggangu penghidupan nelayan di sana.
Sebenarnya, Riung tak hanya terancam tambang. Kawasan Riung secara sepihak
ditetapkan menjadi kawasan lindung sejak 1983, diubah dan diperbaharui pada 1999.
Petani dibatasi mengelola lahan karena sebagian besar berstatus hutan lindung, sementara
hutan-hutan adat mereka diklaim sebagai hutan negara. Mereka bagai tamu di kampung

90

sendiri. Sementara perusahaan tambang justru mendapat kemudahan ijin menguasai


ribuan ha lahan.
Kami mendukung sikap masyarakat dan upaya penyelamatan kawasan Riung bebas dari
pertambangan dan model pembangunan yang merusak lainnya. Flores, pulau kecil dengan
luas hutan dan sumber-sumber air terbatas harusnya dilindungi, dijauhkan dari
pertambangan yang merusak kawasan serapan, tangkapan hujan dan sumber air
Kami menolak kehadiran pertambangan di Riung dan mendukung upaya warga Riung
mengembangkan ekonomi berbasi pertanian berkelanjutan dan wisata ekologi
Kami berjanji akan terus memperjuangkan dan melawan rencana jahat pemerintah dan
perusahaan tambang yang mengancam keselamatan bersama dan keberlanjutan saudarasaudara kami di Riung, serta Flores pada umumnya.

91

Tambang Bijih Besi Bikin Warga Riung Bak


Tamu di Kampung Sendiri
Minggu, 12 Februari 2012 23:05 WIB
"Mereka bagai tamu di kampung sendiri. Sementara perusahaan tambang justru
mendapat kemudahan ijin menguasai ribuan hektar lahan."
JAKARTA, Jaringnews.com - Warga pesisir dan kawasan hutan desa Wangka, Ria dan
Lengkosambi di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur terancam
dengan aktivitas pertambangan bijih besi. Bupati setempat mengeluarkan izin usaha
pertambangan yang dituangkan dalam surat keputusan bernomor 82/KEP/DESDM/2010
untuk PT Laki Tangguh, yang mendapatkan konsesi tambang bijih besi seluas 28.921
hektar di kawasan Mbopok, Riung.
Hal ini disampaikan Andrie S. Wijata, aktivis dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).
Dia melanjutkan, sejak sebulan yang lalu, PT Laki Tangguh melakukan analisis mengenai
dampak lingkungan (Amdal) dan meminta tanggapan masyarakat setempat hingga 16
Februari 2012.
"Perusahaan mengumumkan rencana penyusunan dokumen Amdal pertambangan bijih
besi. Pengumuman ini menyesatkan dan penuh kebohongan. Mereka menyatakan
perusahaan tambang akan meningkatkan kesempatan kerja, pendapatan masyarakat dan
pertumbuhan ekonomi. Sementara dampak negatifnya hanya disebutkan konflik
pemanfaatan lahan dan masalah sosial budaya masyarakat," ujarnya kepada Jaringnews di
sela-sela kampanye VOTE (Voice from The East) di Jakarta, Minggu (12/2).
Justru, lanjut dia, eksploitasi tambang tersebut kelak akan membongkar kawasan Hutan
Lindung dan Cagar Alam Wolotado, juga satu-satunya mata air warga, yakni mata air
Soer. "Lebih dari 900 jiwa bergantung pada sumber air tersebut, juga lahan-lahan pertanian
warga yang ditanami jagung, jambu mete, kemiri dan lainnya," ungkap Andrie.
Dia menambahkan, tambang bijih besi akan mengancam keselamatan warga yang
sebagian bermata pencaharian petani dan nelayan. Pembongkaran kawasan tangkapan air
dan sumber-sumber air akan mengancam persediaan air minum warga, berpotensi longsor
dan keringnya lahan-lahan pertanian.
"Limbah tambang dan debu akibat pembongkaran dan transportasi berpotensi
mengganggu kesehatan warga. Pesisir juga akan tercemar dan menggangu penghidupan
nelayan di sana," papar dia.
Menurut dia, berdasarkan data Jatam, kawasan Riung secara sepihak ditetapkan menjadi
kawasan lindung sejak 1983, kemudian diperbaharui pada 1999. Petani dibatasi mengelola
lahan karena sebagian besar berstatus hutan lindung, sementara hutan-hutan adat mereka
diklaim sebagai hutan negara.

92

"Mereka bagai tamu di kampung sendiri. Sementara perusahaan tambang justru mendapat
kemudahan ijin menguasai ribuan hektar lahan. Kami berjanji akan terus memperjuangkan
dan melawan rencana jahat pemerintah dan perusahaan tambang yang mengancam
keselamatan bersama dan keberlanjutan saudara-saudara kami di Riung, serta Flores pada
umumnya," tegas Andrie.
(Nvl / Nky)

93

Selamatkan Riung Kabupaten Ngada - NTT


dari Ancaman Tambang Bijih Besi!
http://www.walhi.or.id/id/ruang-media/pernyataan-sikap/2163-selamatkan-riung-kabupaten-ngada-ntt-dari-ancaman-tambang-bijih-besi.html
Nomor : 005/C-Walhi NTT/II/2012 Kupang, 15 Februari 2012
Lampiran : Perihal : Pernyataan Sikap
Kepada Yth.
Bupati Ngada
Di Bajawa
Salam Adil dan Lestari!
Pesisir dan kawasan hutan desa Wangka, Ria dan Lengkosambi, Kecamatan Riung,
Kebupaten Ngada, NTT terancam tambang bijih besi, melalui Izin Usaha Pertambangan
(IUP) yang dikeluarkan Bupati bernomor 82/KEP/DESDM/2010 untuk PT Laki Tangguh
mendapatkan konsesi tambang bijih besi seluas 28.921 ha di kawasan Mbopok, kecamatan
Riung. Perusahaan kini mengajukan AMDAL dan meminta tanggapan masyarakat hingga
16 Fabruari 2012.
Bulan lalu, 16 Januari 2012, perusahaan mengumumkan rencana penyusunan dokumen
Amdal rencana kegiatan pertambangan bijih besi. Pengumumuman ini menyesatkan dan
penuh kebohongan. Mereka menyatakan perusahaan tambang akan meningkatkan
kesempatan kerja, pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Semantara
dampak negatifnya hanya disebutkan konflik pemanfaatan lahan dan masalah sosial
budaya masyarakat.
Padahal eksploitasi tambang itu kelak akan membongkar kawasan Hutan Lindung dan
Cagar Alam Wolotado, juga satu-satunya mata air warga, yaitu mata air Soer. Lebih dari
900 jiwa bergantung pada sumber air tersebut, juga lahan-lahan pertanian warga yang
ditanami Jagung, Jambu Mete, Kemiri dan lainnya.
Sejak tahun lalu, warga Riung sudah menolak segala bentuk tambang yang akan masuk ke
kawasan mereka. Pada 11 Januari 2011 bertempat di desa Latung, mereka mengadakan
upacara adat tolak tambang. Upacara ini juga didukung juga oleh warga desa Wangka,
Ria, Lengkosambi. Mereka menyerukan Riung bukan untuk tambang, Tolak Tambang
Harga Mati.
Tambang bijih besi akan mengancam keselamatan warga yang sebagian bermata
pencaharian petani dan nelayan. Pembongkaran kawasan tangkapan air dan sumbersumber air akan mengancam persediaan air minum warga, berpotensi longsor dan
keringnya lahan-lahan pertanian. Limbah tambang
94

dan debu akibat pembongkaran dan transportasi berpotensi mengganggu kesehatan


warga. Pesisir juga akan tercemar dan menggangu penghidupan nelayan di sana.
Sebenarnya, Riung tak hanya terancam tambang. Kawasan Riung secara sepihak
ditetapkan menjadi kawasan lindung sejak 1983, diubah dan diperbaharui pada 1999.
Petani dibatasi mengelola lahan karena sebagian besar berstatus hutan lindung, sementara
hutan-hutan adat mereka diklaim sebagai hutan negara. Mereka bagai tamu di kampung
sendiri. Sementara perusahaan tambang justru mendapat kemudahan ijin menguasai
ribuan hektare lahan.
Menyikapi adanya rencana pertambangan di Riung, Kabupaten Ngada, Maka kami
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTT ingin menggarisbawahi beberapa
hal, diantaranya:
Bahwa, kami mendukung sikap masyarakat dan upaya penyelamatan kawasan Riung
bebas dari pertambangan dan model pembangunan yang merusak lainnya. Flores, pulau
kecil dengan luas hutan dan sumber-sumber air terbatas harusnya dilindungi, dijauhkan
dari pertambangan yang merusak kawasan serapan, tangkapan hujan dan sumber air.
Bahwa, kami menolak kehadiran pertambangan di Riung dan mendukung upaya warga
Riung mengembangkan ekonomi berbasis pertanian berkelanjutan dan wisata ekologi.
Daerah ini adalah kawasan penyangga untuk pariwisata 17 pulau. Karena, pertambangan
akan merusak daya dukung lingkungan dan berbagai ekosistem laut yang mendukung
pariwisata 17 pulau.
Bahwa, kami meminta Pemerintah Kabupaten Ngada untuk segera mencabut Izin Usaha
Pertambangan (IUP) yang dikeluarkan Bupati Ngada bernomor 82/KEP/DESDM/2010
untuk PT Laki Tangguh yang mendapatkan konsesi tambang bijih besi seluas 28.921 ha di
kawasan Mbopok, kecamatan Riung.
Bahwa, Kami meminta Pemkab Ngada untuk lebih serius mengurus pertanian,
perkebunan kopi yang selama ini menopang kehidupan warga Ngada dari pada bermain
dalam bidang pertambangan yang penuh mafia. Karena belum ada contoh pertambangan
yang ramah lingkugnan dan memakmurkan rakyat Indonesia.
Bahwa, kami berjanji akan terus memperjuangkan dan melawan rencana jahat pemerintah
dan perusahaan tambang yang mengancam keselamatan bersama dan keberlanjutan
saudara-saudara kami di Riung, serta Flores pada umumnya.
Demikian pernytaan kami, atas perhatian diucapkan limpah terima kasih.
Hormat Kami
Herry Naif
Direktur Eksekutif Daerah WALHI NTT
Tembusan: Ketua DPRD Kabupaten Ngada
Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Ngada
95

Tambang Pasir Besi Ancam Keberadaan Sumber


Air Warga Riung Ngada NTT
Kamis, 16 Februari 2012
Ditulis oleh UyungSy - PME Indonesia
http://pmeindonesia.com/berita-tambang/396-tambang-pasir-besi-ancam-keberadaansumber-air-warga-riung--ngada-ntt
JAKARTA--Keberadaan tambang pasir besi PT. Laki Tangguh di Kecamatan Riung
Kebupaten Ngada NTT , dinillai Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), akan merusak
Pesisir dan kawasan hutan desa Wangka, Ria dan Lengkosambi Kecamatan Riung
Kebupaten Ngada NTT.
Menurut koordinator Jatam Andrie S Wijaya, PT. Laki Tangguh mendapatkan Izin Usaha
Pertambangan (IUP) yang dikeluarkan Bupati bernomer 82/KEP/DESDM/2010 dengan luas
konsesi 28.921 ha di kawasan Mbopok kecamatan Riung.
" Perusahaan kini mengajukan AMDAL dan meminta tanggapan masyarakat hingga 16
Fabruari 2012.Bulan lalu, 16 Januari 2012, perusahaan mengumumkan rencana
penyusunan dokumen Amdal rencana kegiatan pertambangan bijih besi. Pengumumuman
ini menyesatkan dan penuh kebohongan," papar Andrie, saat ditemui PME, Jakarta, Kamis
(16/02).
Mereka menyatakan, lanjut Andrie, perusahaan tambang akan meningkatkan kesempatan
kerja, pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Semantara dampak negatifnya
hanya disebutkan konflik pemanfaatan lahan dan masalah sosial budaya masyarakat.
Padahal eksploitasi tambang itu kelak akan membongkar kawasan Hutan Lindung dan
Cagar Alam Wolotado, juga satu-satunya mata air warga, yaitu mata air Soer. Lebih dari
900 jiwa bergantung pada sumber air tersebut, juga lahan-lahan pertanian warga yang
ditanami Jagung, Jambu Mete, Kemiri dan lainnya," tegasnya.
Menurutnya, sejak tahun lalu, warga Riung sudah menolak segala bentuk tambang yang
akan masuk ke kawasan mereka. Pada 11 Januari 2011 bertempat di desa Latung, mereka
mengadakan upacara adat tolak tambang. Upacara ini juga didukung juga oleh warga
desa Wangka, Ria, Lengkosambi. Mereka menyerukan Riung bukan untuk tambang, Tolak
Tambang Harga Mati.
Tambang bijih besi akan mengancam keselamatan warga yang sebagian bermata
pencaharian petani dan nelayan.
" Pembongkaran kawasan tangkapan air dan sumber-sumber air akan mengancam
persediaan air minum warga, berpotensi longsor dan keringnya lahan-lahan pertanian.
Limbah tambang dan debu akibat pembongkaran dan transportasi berpotensi

96

mengganggu kesehatan warga. Pesisir juga akan tercemar dan menggangu penghidupan
nelayan di sana, " beber Andrie
Andrie mengatakan, Sebenarnya, Riung tak hanya terancam tambang. Kawasan Riung
secara sepihak ditetapkan menjadi kawasan lindung sejak 1983, diubah dan diperbaharui
pada 1999. Petani dibatasi mengelola lahan karena sebagian besar berstatus hutan lindung,
sementara hutan-hutan adat mereka diklaim sebagai hutan negara. Mereka bagai tamu di
kampung sendiri. Sementara perusahaan tambang justru mendapat kemudahan ijin
menguasai ribuan ha lahan.
" Kami mendukung sikap masyarakat dan upaya penyelamatan kawasan Riung bebas dari
pertambangan dan model pembangunan yang merusak lainnya. Flores, pulau kecil dengan
luas hutan dan sumber-sumber air terbatas harusnya dilindungi, dijauhkan dari
pertambangan yang merusak kawasan serapan, tangkapan hujan dan sumber air
Kami menolak kehadiran pertambangan di Riung dan mendukung upaya warga Riung
mengembangkan ekonomi berbasi pertanian berkelanjutan dan wisata ekologi,".
Ungkapnya.
Andrie berjanji akan terus memperjuangkan dan melawan rencana jahat pemerintah dan
perusahaan tambang yang mengancam keselamatan bersama dan keberlanjutan
Masyarakat di Riung, serta Flores pada umumnya.

97

Tambang Emas di Sumba Tengah, NTT


Menguber Mimpi Mengubur Masa Depan
REP | 21 February 2012 | 14:29
http://politik.kompasiana.com/2012/02/21/tambang-emas-di-sumba-tengah-ntt-mengubermimpi-mengubur-masa-depan/
Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi, Pemerintah daerah
memiliki peran yang semakin penting dalam mempengaruhi kinerja perekonomian
daerah. Iklim usaha yang kondusif dengan memanfaatkan potensi sumberdaya alam dan
lingkungan hidup di suatu daerah juga dapat dilihat sebagai prasyarat terselenggaranya
suatu kegiatan perekonomian yang tidak memberi dampak kehancuran bagi kehidupan
masyarakat yang hidup di tengah kekayaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup
tersebut. Hal ini salah satunya sangat tergantung dari regulasi yang diciptakan oleh
Pemerintah Daerah, sesungguhnya dapat mendorong atau sebaliknya menghambat
penciptaan iklim usaha yang kondusif dalam konteks strategi peningkatan ekonomi,sosial
dan lingkungan hidup terhadap masyarakat miskin.
Sekilas Pertambangan di NTT
Hiruk pikuk persoalan pertambangan di NTT sebenarnya sudah dimulai seabad yang lalu.
Adalah seorang pedagang kompeni, JP Freijs pada tahun 1856 meniupkan angin surga.
Dia yang baru mengunjungi Manggarai, Flores barat, mengatakan bahwa dalam perut
pulau itu ada emas dan timah. Malah ada sebuah sungai yang tidak mengalirkan air,
melainkan besi (ijzer rivier , sungai besi) di Manggarai.
Dalam bukunya Flores In The 19th Century: Aspect if Dutch of Colonialism On A NonProfitable Island (1983), Districh Stevan menulis bahwa sebenarnya penguasa Belanda
tidak terlalu berminat menguasai pulau Flores. Sebab pulau yang miskin itu tidak
menghasilkan apa-apa. Kendati demikian, Belanda dengan VOC-nya tetap tergoda dengan
laporan Freijs (1854-1855) bahwa di kawasan itu terdapat kandung logam (timah, emas,
dan intan) yang besar.
Pada tahun 1887-1891 lewat sebuah operasi militer, Belanda mengirim Tin Expeditie
(ekpedisi timah) untuk membuktikan kebenaran laporan Freijs. Ternyata laporan tersebut
bersumber pada interpretasi terhadap nama sungai Wae Pesi menjadi Sungai Besi.
Ekspedisi timah ini gagal total, namun telanjur menewaskan banyak penduduk Flores
yang mengundang reaksi keras dari Parlemen Belanda. Ekspedisi timah di Flores harus
segera dihentikan. Pada tahun 1905, atas alasan ketertiban hukum dan administrasi,
Belanda memutuskan untuk menguasai Flores. Tahun 1909 secara de facto Belanda
berhasil menguasai Flores dan Lembata. Dapat dibayangkan, seandainya ekspedisi itu
berhasil menemukan mineral, maka Flores sudah mengalami nasib sama seperti Bangka
Belitung. Kekayaannya akan dikeruk habis dan pulau itu hanya meninggalkan cerita.

98

Seabad kemudian, ternyata laporan Freijs terbukti benar. Flores, Lembata, juga Timor dan
Sumba (Kepulauan Sunda kecil), ternyata kaya mineral. Potensi tambang di Provinsi ini
mulai dilirik pada era 1970-an sampai 1980-an. Pada tahun-tahun ini, berbagai ekpedisi
penelitian pertambangan baik dari dalam maupun luar negeri, sering kali keluar masuk di
pulau-pulau kecil ini. Jo Castillo misalnya, pada tahun 1980-an melakukan penelitian di
Ngada dan Manggarai dan menemukan potensi sejumlah mineral (emas, besi, Batu Barit,
Mangan, dll).
PT. Aneka Tambang, PT, Nusa Lontar Mining, dan PT. Flores Indah Mining, misalnya
hadir di Flores tahun 1980. Tahun 1990-an, pemerintah memalui kementerian
Pertambangan dan Energi juga sudah melakukan penelitian ke NTT (Pusat penelitian dan
Pengembangan Geologi (1993). Akhirnya, era tahun 2000-an perusahaan pertambangan
benar-benar mengepung NTT. Hampir semua Kabupaten di NTT tidak pernah luput dari
incaran para investor pertambangan. Mineral mangan, emas, dan biji besi menjadi berkat
untuk para investor dan kutuk bagi rakyat.
Pertambangan Emas di Sumba
Pos Kupang, Edisi Selasa, 09 Agustus 2011 yang lalu melansir berita Saya Tak Berwenang
Cabut Izin terhadap IUP Emas di kabupaten Sumba Timur. Pernyataan ini dilontarkan
oleh orang nomor satu dikabupaten Sumba Timur Sdr.Gidion Mbiliyora sesaat diambil
keterangannya oleh wartawan Pos Kupang di Hotel Sasando Kupang terkait gelombang
aksi protes yang semakin memanas di Sumba. Masyarakat rela mengorbankan waktu dan
tenaganya untuk berjuang mengembalikan hak-hanya demi masa depan generasi penerus
dan lingkungan hidup Sumba Timur. Adalah konyol dan sedikit kecewa dari penulis yang
selama ini berjuang untuk mengusir para Monster Tambang dari Sumba khususnya dan
NTT pada umumnya, ketika masih ada pemimpin di NTT ini yang masih
mempertahankan kebijakan irasional dan konyolnya disaat masyarakat dengan semangat
menolak kebijakan tersebut. Inkontekstual dan standart yang penulis maksudkan adalah
mungkinkah mereka (Pro Tambang, red) sudah memahami dan mengerti akan prosentasi
atau kuantitas keuntungan dan kerugian dari pertambangan dengan berpusat pada
keberlangsungan hidup manusia dan lingkungan? Pernahkan mereka mengkaji secara
detail akan keuntungan dari industri ekstraktif ini dan industri lainnya semisal pertanian,
peternakan, perikanan, kelautan dll yang tidak merugikan lingkungan hidup, dan
ekosistem yang ada? Patut disayangkan ketika seorang Gidion Mbiliyora yang
berkapasitas sebagai seorang bupati Sumba Timur mengeluarkan statement bahwasannya
dia (Gidion Mbiliyora, red) tidak mempunya hak dan wewenang sedikitpun terkait
kebijakan investasi pertambangan emas di Sumba. Pertanyaan penulis adalah, bukankah
IUP yang dikeluarkan oleh Gubernur NTT, Frans Leburaya yang waktu memberikan IUP
dengan No 322/KEP/HK/2009 tanpa mendapat rekomendasi dari bupati Sumba Tengan
dan Sumba Timur?
Dalam kesempatan yang berbeda, Timor Express (Sabtu, 11/2/2012) menurunkan berita
NTT Perlu Tambang. Gubernur dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa selain
potensi pariwisata, peternakan, kelautan/perikanan, potensi yang sangat besar dan perlu
mendapatkan perhatian adalah potensi tambang. Gubernur NTT mengajak semua investor
untuk berinvestasi di NTT termasuk investasi tambang. Statement ini disampaikan oleh
99

Gubernur sesaat menjadi pembicara pada Seminar dan Pameran Pangan Nasional bertajuk
Jakarta Food Security Summit 2012: Feed Indonesia Feed The World yang digelar Kamar
Dagang dan Industri (kadin) Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa, 7/2.
Pernyataan yang dilontarkan oleh orang No 1 di NTT ini patut diapresiasi lantaran disaat
gelombang aksi protes dimana-mana khususnya di Sumba semakin tinggi menuntut
pencabutan IUP. Dan pada saat yang sama, gubernur NTT masih berani dan mampu
melawan suara rakyat yang mempercayakan dia menjadi pemimpin di NTT. Hal ini
berindikasi bahwa apa yang disampaikan oleh gubernur tersebut seyogianya tidak
representative bahkan hanya mengakomodasi kepentingan kelompok tertentu saja.
Realitas menunjukkan bahwa akhir-akhir ini, setelah masyarakat mengerti dan memahami
akan dampak positif dan negative dari industri pertambagan, masyarakat ramai-ramai
meninggalkan aktivitas kesehariannya hanya untuk berjuang mengembalikan hak-hak
yang telah dirampas oleh pemimpinnya sendiri juga oleh para korporasi nakal dan
serakah.
Menolak Investasi Pertambangan
Alasan penolakan terhadap investasi pertambangan di NTT khususnya di Sumba, bukan
soal harga emas dan atau mangan yang relative murah dan tidak sesuai dengan UU
Minerba dan regulasi lainnya, akan tetapi lebih dari pada itu masyarakat dan penulis
menilai bahwa kerusakan terhadap lingkungan dalam skala besar (dampak ekologis). Hal
ini menyangkut kerusakan terhadap tanah, rusaknya ekosistem hutan, tercemarnya air,
hilangnya sumber mata air, rusaknya ekosistem sekitar lokasi tambang, terutama laut yang
menjadi tempat pembuangan limbah dan efek bahan-bahan peledak yang dipakai, sambil
bencana yang akan menyusul seperti banjir, longsor, kemarau panjang, dan kebakaran
hutan. Ditilik dari sisi ekonomis, ongkos untuk memulihkan bencana kerusakan atau
bencana lingkungan jauh lebih mahal ketimbang pendapatan daerah dari pertambangan,
dampak kesehatan, tercemarnya air minum warga. Hujan deras telah menghanyutkan
limbah mangan dari tempat penampungannya. Dampak lain yang bisa dilihat dengan
hadirnya pertambangan juga menyangkut soal-soal Sosial Budaya. Beberapa hal yang
menjadi soal dalam lingkup sosial budaya antara lain adalah rentannya konflik horizontal
di antara masyarakat, maupun konflik vertikal antara masyarakat dengan pemerintah
setempat, dan juga kemungkinan konflik antara masyarakat lokasi tambang dengan pihak
perusahaan, atau juga antara pihak perusahaan dengan karyawan. Klaim pemilikan tanah
di antara para tuan tanah menjadi persoalan tersendiri, yang bukan tidak mungkin
menjadi potensi konflik di antara para pemilik tanah ulayat. Belum lagi dengan keturunan
para tuan-tuan tanah tersebut. Di antara masyarakat sekitar lokasi tambang pun,
kemungkinan konflik bisa saja terjadi di antara kelompok pro tambang dan kontra
tambang; kelompok yang diuntungkan oleh industri tambang dengan kelompok yang
merasa dirugikan oleh industri tambang. Masih banyak alasan-alasan penolakan lain yang
tidak kalah pentinganya yang belum diketahui atau sengaja tidak mau tahu oleh para
pemimpin kita saat ini.
Tawaran Strategis
Presiden pertama RI, Bung Karno pernah berucap apakah kita mau Indonesia merdeka yang
kaum kapitalisnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup
100

makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup
memberi sandang pangan kepadanya? (Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945). Berpegang
pada pikiran tersebut dan setalah mengikuti alur kisah kehadiran, proses, kebijakan,
manfaat, dampak (positif dan negatif) secara sosial, ekonomi, budaya dan religius, dari
pertambangan yang kini sedang mengeksploitasi perut ibu pertiwi Sumba, penulis dan
masyarakat setidaknya mengharapkan pikiran cerdas dan konstruktif dari gubernur dan
bupati se NTT khususnya bupati Sumba Tengah dan Sumba Timur untuk, Pertama, perlu
mengkaji ulang kebijakan serta asumsinya bahwa pertambangan mendatangkan
kesejahteraan bagi rakyat, karena faktanya tidak demikian, menimbang bahwa potensi
pertanian, perdagangan, pariwisata, peternakan amat menjanjikan dan nyatanya memberi
kontribusi besar bagi PAD maka pertambangan harus dicoret, dalam menentukan suatu
kebijakan sudah sepatutnya pemerintah kabupaten dan provinsi mempertimbangkan
dimensi sosial, budaya, ekonomi dan religius yang merupakan elemen dasar dari
bangunan manusia. Kedua, Mengubah keyakinan palsu bahwa investor mendatangkan
kesejahteraan bagi rakyat, tetapi memperlakukan dan membangun manusia sebagai
pelaku pembangunan utama bagi kemajuan wilayahnya. Ketiga, Pembangunan yang bijak
harus selalu bertumpu dan berangkat dari kecakapan nyata manusianya, sehingga tujuan
pembangunan, yakni membangun manusia seutuhnya akan tercapai. Mengidealkan
investor asing sebagai pelaku pembangunan demi kesejahteraan, bukan saja melecehkan
kemampuan dan kecakapan dasar manusia, tetapi meminggirkan manusia Sumba sendiri
sebagai subyek pembangunan, padahal manusia Sumba adalah investor utama dari
kemajuan Sumba hingga kini. Keempat, Memajukan sektor-sektor ekonomi potensial riil
Sumba sesuai dengan prioritas, urgensi dan kompetensi manusia Sumba sekarang ini.
Kelima, Kekayaan alam yang belum dapat diolah manusia Sumba karena kompetensi serta
keahliannya yang belum memadai, adalah warisan mengagumkan untuk generasi
manusia Sumba di masa depan. Sumba bukan saja tanah warisan leluhur, tetapi terutama,
tanah pinjaman dari anak cucu yang harus kita kembalikan kepada mereka. Akhirnya,
Manusia mengira boleh semaunya sendiri mendayagunakan bumi dan menikmati hasilnya,
dengan menaklukannya tanpa syarat kepada kehendaknya sendiri, seolah-olah bumi tidak
mengemban tuntutan serta maksud tujuannya semula yang diterimanya dari Allah dan yang
manusia dapat mengembangkan tetapi tidak boleh mengkhianati (Yohanes Paulus II,
Centesimus Annus, 37).

101

Massa Memaksa Ketua DPRD Berdemo ke


Kantor Bupati Ende
22/03/2012
http://www.floresbangkit.com/2012/03/massa-memaksa-ketua-dprd-berdemo-ke-kantorbupati-ende/
ENDE, FBC. Massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Nangaba Anti Tambang
(AMANAT), berdemonstrasi di depan kantor DPRD dan kantor Bupati Kabupaten
Ende, Senin (19/3)
Di depan kantor DPRD massa melakukan orasi tolak tambang dan meminta DPRD untuk
bersama-sama berdemo ke kantor Bupati Ende.
Ketua DPRD Kabupaten Ende Ir. Marcel Petu, yang menemui massa, mengungkapkan,
untuk berjuang bersama rakyat sudah menjadi bagian dari tugas DPRD.
Namun menurutnya, apa yang disampaikan massa, lebih kepada persoalan mencabut ijin
pertambangan dan ijin itu adalah ijin yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Marcel Petu menegaskan bahwa secara kelembagaan DPRD juga bersama instansi
pengelola telah menyampaikan untuk mencabut ijin yang bersangkutan.
Menanggapi ajakan massa agar besama berdemo ke kantor Bupati, pada kesempatan itu
Marcel Petu meminta kepada massa untuk memberikan waktu agar dirinya dapat
membicarakan bersama anggota DPRD lainnya. Namun massa tetap mendesak dan
akhirnya Ketua DPRD dan beberapa anggota DPRD lainnya bersama massa menuju
kantor Bupati dengan berjalan kaki.
Di depan kantor Bupati Ende, massa kembali melakukan orasi tolak tambang. Selang
beberapa menit kedatangan para demonstran, utusan Bupati menemui massa dan
meminta untuk berdialog dan negosiasi melalui perwakilan. Namun massa menolak dan
meminta Bupati mendatangi massa dan bertanggungjawab atas pemberian ijin
pertambangan pasir besi di Nangaba Kecamatna Ende. Setelah gagal berunding, sekitar 30
menit, Bupati Ende Drs. Don Bosco M Wangge menemui massa.
Di hadapan Bupati dan anggota DPRD, massa tetap melakukan aski teatrikal dan terus
membacakan pernyataan sikap. Adapun tuntutan dari AMANAT yang ditujukan kepada
Bupati antara lain, meminta Bupati segera mencabut Ijin Usaha Pertambangan (IUP) dan
menghentikan kegiatan eksplorasi tambang pasir besi yang sedang beroperasi di Nangaba
saat ini. Massa juga meminta Bupati untuk segera melakukan reklamasi dan penghijauan
di sepanjang pantai Nangaba atas kerusakan lingkungan yang telah timbul dari aktivittas
pertambangan selama ini.

102

Menanggapi tuntutan ini, Bupati mengatakan, telah mendengar pernyataan dari


masyarakat Nangaba. Namun, menurut Bupati hingga saat ini masih dalam taraf
eksplorasi bukan eksploitasi. Kami masih membicarakan lebih lanjut. Kita masih
menunggu hasil laporan lebih lanjut, ungkap Bupati.
Sebelum meninggalkan kantor Bupati, massa kembali membuat orasi dan pernyataan
sikap serta berjanji akan datang dengan massa yang lebih besar hingga ijin eksplorasi
dicabut. (NDO).

103

Warga Ngada Tolak Operasional Tambang Bijih


Besi
Tuesday, 03 April 2012 15:06 chun
http://floresnews.com/fn1/index.php?option=com_content&view=article&id=4606:wargangada-tolak-operasional-tambang-bijih-besi-&catid=130:nasional&Itemid=404
Kupang, FloresNews.com - Puluhan orang yang tergabung dalam Forum Masyarakat
Riung (FMR), Selasa (3/4), menggelar unjuk rasa menolak eksplorasi bijih besi di Riung,
Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Massa menggelar unjuk rasa di halaman
Kantor Gubernur NTT dan mendesak Gubernur Frans Lebu Raya menekan Bupati Ngada
Marianus Se agar mencabut izin usaha pertambangan (IUP) bijih besi tersebut. Bupati
mengeluarkan IUP kepada PT Laki Tangguh asal Ngada sejak 2010 untuk eksplorasi dan
eksploitasi bijih besi di wilayah itu.
Lokasi pertambangan berada di Gunung Mbopok, Riung, yang masuk dalam kawasan
hutan lindung. Jika pertambangan dipaksakan beroperasi, berpotensi merusak hutan dan
mencemari air. "Eksplorasi dan eskploitasi yang dilakukan dikhawatirkan akan merusak
ekosistem alam mengingat lokasi tambang berada di kawasan hutan lindung," kata
Sekretaris FMR Yohanes Bakok.
Menurutnya, kawasan hutan lindung seluas 28.000 hektare merupakan kawasan resapan
air. Jika kawasan hutan rusak, yang terancam tidak hanya kehidupan masyarakat Riung,
tetapi juga habitat dan ekosistem lainnya. Ia mengatakan, selama bertahun-tahun
masyarakat Ngada mengantungkan hidup dari sektor pertanian, peternakan, dan
perikanan. Oleh karena itu, tiga sektor tersebut seharusnya lebih banyak diberi perhatian
daripada pertambangan. "Pulau Flores termasuk dalam zona bencana, sehingga semakin
banyak eksploitasi dan eksplorasi tambang akan berdampak pada kerusakan alam,"
katanya.
Asisten II Setda NTT Andre Jehalu yang menerima warga mengatakan segera
menyampaikan tuntutan mereka kepada gubernur. "Kita terima tuntutan tertulis dari
pengunjuk rasa untuk disampaikan kepada gubernur," katanya.(mi)

104

Izin Tambang di NTT untuk Ongkos Pilkada


Wednesday, 04 April 2012 16:24 chun
http://floresnews.com/fn1/index.php?option=com_content&view=article&id=4609:izintambang-di-ntt-untuk-ongkos-pilkada&catid=130:nasional&Itemid=404
Jakarta, FloresNews.com - Forum Pemuda Nusa Tenggara Timur (NTT) Penggerak
Keadilan dan Perdamaian (Formadda NTT) menetang keras masuknya berbagai
perusahaan tambang ke NTT, termasuk Chameleon Mining NL.Chameleon Mining
dianggap bagian dari perusahaan tambang yang merusak wilayah NTT.Kami akan terus
melakukan perlawanan sampai perusahaan itu pergi. Stop obrak-abrik dan bongkar bumi
NTT, kata Ketua Umum Formadda NTT, Yohanes Kristoforus Tara di Jakarta, Rabu (4/4).
Ia mengemukakan perusahaan itu telah melakukan penipuan public dan kejahatan
korporasi. Sebab Chameleon sesungguhnya telah melakukan akuisisi pada 3 Maret 2012
dan pada 3 April, perusahaan ini mengumumkan kepada publik lewat Bursa Efek
Australia."Jelas ini melanggar ketentuan dan tidak tunduk pada peraturan perundanganundangan negara Indonesia. Oleh karena itu, kami mendesak Pemerintah Indonesia,
khususnya Pemda NTT yang telah memberikan izin untuk segera mencabut lisensi dan
IUP Chameleon," ujar Kristo yang juga seorang pastor.
Chameleon Mining NL telah mengakuisisi 55 persen saham proyek mangan di Kupang,
NTT. Dalam laporan tertulis kepada otoritas Bursa Austalia, Selasa, 3 April 2012,
Chameleon mengatakan, proyek mangan ini awalnya dimiliki oleh perusahaan berbadan
hukum Indonesia (MKI) dan berlokasi di Kupang.Chameleon telah membayar AS$ 3,5
million melalui anak usahanya yang mengakusisi 100 persen kepemilikan NTT
Manganese Pty Ltd (NTT ). NTT Manganese memiliki 30 saham di PT Kupang Resources
yang memiliki izin usaha pertambangan/lisensi (100 %) produksi pada proyek mangan di
Kupang. Kepemilikan NTT Manganese pada proyek mangan itu dipegang oleh joint
venture (JV) MKI.
Joint Venture itu kemudian memiliki 55 % proyek mangan di Kupang dengan anggaran
belanja sebesar A$ 6.5-juta. Kepemilikan JV dipegang oleh pemagang saham lokal asal
Indonesia. Melalui HOA ini Chameleon akan menyelesaikan proses due diligence pada
NNT Manganese, PT Kupang dan JV, sehingga segera mengekesekusi perjanjian jual-beli
saham secara formal.
Kepada public, Kristo menyerukan agar tidak mempercayai perusahan penipu seperti
Chameleon. Lagi pula, dari hasil investigasi lapangan, hampir seluruh perusahaan
pertambangan di NTT adalah illegal karena ditolak oleh masyarakat dan melawan UU
Minerba No 4 tahun 2009 dan regulasi lainnya. Dia curiga Chameleon juga termasuk
perusahan ilegal."Kami sekali lagi mendesak pemerintah untuk stop obral izin tambang di
NTT. Bupati-bupati stop gadaikan tanah rakyat. Seluruh izin usaha pertambangan di NTT
adalah produk politik saat anda melakukan deal-deal politik ongkos pilkada,"
tegasnya.(bsc)

105

Formadda Desak Bupati Cabut Izin Tambang Di


NTT
Jumat, 06 April 2012
Ditulis oleh UyungSy - PME Indonesia
http://pmeindonesia.com/berita-tambang/483-formadda-desak-bupati-cabut-izin-tambangdi-ntt
JAKARTA--Menanggapi persoalan pertambangan di Nusa Tenggara Timur (NTT), Forum
Pemuda NTT Penggerak Keadilan dan Perdamaian (Formadda NTT) menetang keras
masuknya berbagai perusahaan tambang ke NTT, termasuk Chameleon Mining NL yang
telah mengakuisisi 55 % saham proyek mangan yang berlokasi di Kupang.
Kami akan terus melakukan perlawanan sampai perusahaan itu pergi. Stop obrak-abrik
dan bongkar bumi NTT, kata Ketua Umum Formadda NTT, Yohanes Kristoforus Tara,
Kamis (05/04).
Menurutnya, perusahaan ini telah juga melakukan penipuan public dan kejahatan
korporasi. Sebab Chameleon telah melakukan akuisisi pada tanggal 3 Maret 2012 dan baru
tanggal 3 April perusahaan ini mengumumkan kepada publik lewat Bursa Efek Australia.
Jelas ini melanggar ketentuan dan tidak tunduk pada peraturan perundangan-undangan
Negara Indonesia. Oleh karena itu, kami mendesak Pemerintah Indonesia, khususnya
Pemda NTT yang telah memberikan izin untuk segera mencabut lisensi dan IUP
Chameleon,tegas Yohanes.
Yohanes juga menghimbau masyarakat agar mempercayai perusahan tambang. dari hasil
investgasi lapangan yang dilakukan Yohanes, hampir seluruh perusahaan pertambangan
di NTT menurutnya adalah illegal, karena ditolak oleh masyarakat dan melawan UU
Minerba No 4 tahun 2009 dan regulasi lainnya.
Kami sekali lagi mendesak pemerintah untuk stop obral izin tambang di NTT. Bupatibupati stop gadaikan tanah rakyat,ucapnya.
Seluruh izin usaha pertambangan di NTT adalah produk politik saat anda melakukan
deal-deal politik ongkos pilkada. Dan di sanalah terbuka ruang bagi anda untuk
melakukan kejahatan korupsi. Pemerintah di NTT memang telah kehilangan,tambah
Yohanes.
Sebagaimana direlease dalam The Indonesian Way, Selasa, 3 Maret 2012, Chameleon
Mining NL telah mengakuisisi 55 % saham proyek mangan yang berlokasi di Kupang,
Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam laporan tertulis kepada otoritas Bursa Austalia,
Selasa, 3 April 2012, Chameleon mengatakan, proyek mangan ini awalnya dimiliki oleh
perusahaan berbadan hukum Indonesia (MKI ) dan berlokasi di Kupang. Persisnya di
mana, Chameleon tidak menjelaskan secara detail. Perusahaan tambang ini hanya
106

mengatakan bahwa NTT telah terkenal di seluruh dunia sebagai daerah dengan bahan
galian mangan berkadar tinggi (+46 %Mn).
Chameleon telah melakukan pembayaran sebesar AS$3,5 million. Pembayaran ini
dilakukan melalui anak usahanya yang akan mengakusisi 100 % kepemilikan NTT
Manganese Pty Ltd (NTT ). NTT Manganese memiliki 30 saham di PT Kupang Resources
yang memiliki ijin usaha pertambangan/lisensi (100 %) produksi pada proyek mangan di
Kupang.
Kepemilikan NTT Manganese pada proyek mangan itu dipegang oleh joint venture (JV)
MKI. NTT Manganese kemudian akan memperbesar kepemilikan di Kupang JV. Joint
Venture itu kemudian memiliki 55 % proyek mangan di Kupang dengan anggaran belanja
sebesar A$ 6.5-juta. Kepemilikan JV dipegang oleh pemagang saham lokal asal Indonesia.
Melalui HOA ini Chameleon akan menyelesaikan proses due diligence pada NNT
Manganese, PT Kupang dan JV, sehingga segera mengekesekusi perjanjian jual-beli saham
secara formal. Presiden Direktur Chameleon, Ben Elias mengatakan, tujuan joint Venture
(JVI ini adalah agar sesegera mungkin melakukan program eksplorasi di daerah tersebut.

107

Tolak Tambang Harga Mati


Minggu, 15 April 2012
http://kupang.tribunnews.com/2012/04/15/tolak-tambang-harga-mati
POS KUPANG.COM, LABUAN BAJO --- Tolak tambang harga mati, itu kemauan
masyarakat dan bukan kemauan pemerintah. "Cukup sudah tanah kami diobrak-abrik
untuk kepentingan tambang, sudah cukup. Terima kasih kami kepada pemerintah."
Demikian disampaikan Koordinator Gerakan Masyarakat Anti Tambang (Geram), Feri
Adu, dalam aksi damai bersama Aliansi Masyarakat Peduli Perubahan (AMPP) Manggarai
Barat (Mabar), di halaman depan kantor Bupati Mabar, Sabtu (14/4/2012).
Aksi damai yang menghadirkan tokoh masyarakat dan ribuan massa dari 10 kecamatan di
Kabupaten Mabar ini tiba di halaman kantor Bupati Mabar sekitar pukul 12. 30 Wita,
karena masih menunggu rombongan massa dari seluruh penjuru Mabar.
Sebelum menuju kantor Bupati Mabar, ribuan massa yang menggunakan sekitar 80
kendaraan pick up, truk dan bus mengelilingi Kota Labuan Bajo.
Pembicara yang mewakili sekitar 4.000 orang itu menegaskan, Kabupaten Mabar sudah
ditetapkan sebagai daerah dengan konsep pembangunan ramah lingkungan, sebagaimana
diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2010. Kemudian dimasukkan
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Mabar,
sehingga surat keputusan bupati, yang dalam urut-urutan tingkatan peraturan, berada di
bawah Perda gugur dengan sendirinya.
"Kabupaten Mabar sudah menetapkan program pembangunan yang ramah lingkungan,
dengan pariwisata sebagai leading sektor, sehingga tidak boleh ada tambang di daerah ini.
Kalau ada tambang, berarti sektor pariwisata akan mati. Sebab, sesuai fakta dalam sektor
pertambangan, lebih dari 90 persen merusak lingkungan, dan membawa dampak yang
negatif bagi kesehatan masyarakat sekitar lokasi tambang. Jadi, jangan sekali-kali tambang
diadakan di daerah ini," tegas Adu.
Geram juga mengkritisi kinerja Polres Mabar, yang dinilai melakukan tindakan pembiaran
atas laporan masyarakat mengenai pengrusakan hutan lindung RTK 108 Bowo Sie Tebedo,
alih fungsi tata ruang Batu Gosok, dari kawasan pariwisata produktif menjadi kawasan
pertambangan, dan pengrusakan hutan lindung Puar Lolo, yang sudah dilaporkan oleh
Geram dan Dinas Kehutanan Mabar, kepada Polres Mabar, namun sampai saat ini belum
ada kejelasan penanganan ketiga kasus tersebut. Padahal, tiga kasus itu sudah dilaporkan
Geram kepada Polres Mabar sejak 4 September 2009 lalu.
"Kami menduga telah terjadi mafia kasus dalam proses penanganan ketiga kasus tersebut,
dan pengabaian laporan masyarakat ini sudah menyebabkan hilangnya hak-hak dan
kepastian hukum pengadu (Pasal 5 jo 17, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang
Hak Azasi Manusia). Padahal, pemenuhan hak-hak pengadu merupakan tugas dan
108

tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini Polri (Pasal 28 UUD 1945 dan pasal 8 jo 71
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM," tegasnya.
Setelah berorasi, 10 tokoh adat dari 10 kecamatan di Mabar, mewakili empat ribuan massa
masuk menemui Bupati Mabar, Drs. Agustinus Ch. Dula, di depan ruang kerja Bupati
Mabar menyampaikan dukungan mereka kepada pemerintah, guna membangun
Kabupaten Mabar menjadi lebih baik ke depan.
Di hadapan Bupati Agus, sejumlah tokoh masyarakat memberikan dukungan kepada
pemerintah untuk melaksanakan pembangunan di Mabar hingga tahun 2015 mendatang.
Karena seluruh masyarakat mendukung dan mengharapkan proses pembangunan yang
baik ke depan, hingga ke pelosok-pelosok desa, tanpa harus membedakan antara desa
yang satu dengan desa yang lain. Karena itu, para tokoh adat menegaskan, pembangunan
masyarakat desa membutuhkan pembagian kue pembangunan yang merata dan adil.
Bupati Agus, yang didampingi Danramil, Kapten (Inf), Sulaiman, Wakapolres Mabar,
Kompol Rahmat Herman, dan Kasi Pidsus Kajari Labuan Bajo, kepada 10 tokoh adat dan
puluhan warga yang ikut ke lantai dua kantor Bupati Mabar, menegaskan, ia dan Wakil
Bupati, Drs. Maximus Gasa, M.Si, adalah Bupati dan Wakil Bupati Mabar hasil Pemilu
Kada 2010 yang sah, dan akan memimpin Kabupaten Mabar hingga tahun 2015
mendatang.
Agus mengucapkan terima kasih kepada para tokoh adat yang menyerahkan dua ekor
ayam, satu botol bir, dan dua cincin untuk Bupati dan Wakil Bupati Mabar, sebagai simbol
dukungan masyarakat adat kepada pemerintah, dalam membangun Kabupaten Mabar ke
depan menjadi lebih baik.
"Saya dan Pak Maxi Gasa (Wabup), ini Bupati dan Wakil Bupati Mabar periode 2010-2015.
Hasil konsultasi kami ke Jakarta, kami ini pemerintahan yang sah, sehingga tidak akan ada
penerbitan Surat Keputusan (SK) baru. Kami ini bupati dan wakil bupati untuk semua
masyarakat Mabar," kata Agus, disambut tepukan tangan puluhan warga yang
menyaksikan pertemuan Bupati Mabar dengan perwakilan massa di lantai dua kantor
Bupati Mabar.
Kepada para tokoh masyarakat perwakilan massa, Bupati Agus juga berpesan tidak
melakukan demonstrasi anarkis, tapi dilakukan dengan damai sehingga tidak
menimbulkan kerugian masyarakat sendiri. "Neka pande kacau pe'ang one/jangan buat
kacau luar dalam," pinta Bupati Agus, dalam bahasa Manggarai. (meo)

Editor : alfred_dama
Sumber : pos-kupang.com

109