Anda di halaman 1dari 19

1.

KONSEP PENYAKIT
A. PENGERTIAN
Dispepsia merupakan istilah yang digunakan untuk suatu sindrom atau kumpulan
gejala/keluhan yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati,kembung, mual,
muntah,sendawa,rasa cepat kenyang, perut rasa penuh/begah. Keluhan ini tidak perlu
selalu semua ada pada tiap pasien, dan bahkan pada satu pasien pun keluhan dapat
berganti atau bervariasi baik dari segi jenis keluhan maupun kualitasnya.Terdapat
berbagai definisi tentang dispepsia. Salah satunya yang dapat dipakai adalah dyspepsia
refers to pain or discomfort centered in the upper abdomen.Definisi ini berdasarkan
kriteria Roma II tahun 1999-2000. Jadi dispepsia bukanlah suatu penyakit tetapi
merupakan suatu sinmdrom yang harus dicari penyebabnya.
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani (Dys) berarti sulit dan Pepse berarti
pencernaan. Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa
tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan
refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam
lambung kini tidak lagi termasuk dispepsia (Mansjoer A edisi III, 2000 hal : 488).
Pengertian dipepsia terbagi dua : (Mansjoer Arif, 2001).
a. Dyspepsia organic,bila telah di ketahui adanya kelainan organic sebagai
penyebabnya.
b. Dyspepsia nonorganic atau dyspepsia fungsional,atau dyspepsia nonulkus,bila
tidak jelas penyebabnya.
Dispepsia mengacu pada rasa kenyang yang tidak mengenyangkan sesudah
makan, yang berhubungan dengan mual, sendawa, nyeri ulu hati dan mungkin kram dan
begah perut. Sering kali diperberat oleh makanan yang berbumbu, berlemak atau
makanan berserat tinggi, dan oleh asupan kafein yang berlebihan, dyspepsia tanpa
kelainan lain menunjukkan adanya gangguan fungsi pencernaan (Williams & Wilkins,
2011).

B. PENYEBAB
Dispepsia disebabkan oleh ulkus lambung atau penyakit acid reflux.. Hal ini
menyebabkan nyeri di dada. Beberapa perubahan dapat terjadi pada saluran cerna atas

akibat proses penuaan, terutama pada ketahanan mukosa lambung (Wibawa, 2006).
Kadar asam lambung lansia biasanya mengalami penuruna hingga 85%.
Dispepsia dapat disebabkan oleh kelainan organik, yaitu :
a. Gangguan penyakit dalam lumen saluran cerna: tukak gaster atau
duodenum, gastritis, tumor, infeksi bakteri Helicobacter pylori.
b. Obat-obatan: anti inflamasi non steroid (OAINS), aspirin, beberapa jenis
antibiotik, digitalis, teofilin dan sebagainya.
c. Penyakit pada hati, pankreas, maupun pada sistem bilier seperti hepatitis,
pankreatitis, kolesistitis kronik.
d. Penyakit sistemik seperti diabetes melitus, penyakit tiroid, penyakit
jantung koroner.
Penyebab dyspepsia dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
a) Dyspepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai
penyebabnya (misalnya tukak peptic, gastritis, pankreastitis, kolesistitis dan
lainnya).
b) Dyspepsia non organik atau dyspepsia fungsional atau dyspepsia non ulkus
(DNU), bila tidak jelas penyebabnya.

C. EPIDEMIOLOGI
Dispepsia merupakan salah satu masalah pencernaan yang paling umum
ditemukan. Dialami sekitar 20%-30% populasi di dunia setiap tahun.3 Data Depkes tahun
2004 menempatkan dispepsia di urutan ke 15 dari daftar 50 penyakit dengan pasien rawat
inap terbanyak di Indonesia dengan proporsi 1,3%. Dispepsia yang oleh orang awam
sering disebut dengan sakit maag merupakan keluhan yang sangat sering kita jumpai
sehari hari.Sebagai contoh dalam masyarakat di negara negara barat dispepsia dialami
oleh sedikitnya 25% populasi. Di negara negara Asia belum banyak data tentang
dispepsia tetapi diperkirakan dialami oleh sedikitnya 20% dalam populasi umum.
Mengenai jenis kelamin, ternyata baik lelaki maupun perempuan bisa terkena
penyakit ini. Penyakit itu tidak mengenal batas usia, muda maupun tua, sama saja. Di
Indonesia sendiri, survei yang dilakukan dr Ari F Syam dari FKUI pada tahun 2001
menghasilkan angka mendekati 50 persen dari 93 pasien yang diteliti. Tidak hanya di

Indonesia di luar negeri juga, banyak orang yang tidak peduli dengan dispepsia itu.
Mereka tahu bahwa ada perasaan tidak nyaman pada lambung mereka, tetapi hal itu tidak
membuat mereka merasa perlu untuk segera ke dokter.
Padahal, menurut penelitian- masih dari luar negeri-ditemukan bahwa dari mereka
yang memeriksakan diri ke dokter, hanya 1/3 yang tidak memiliki ulkus (borok) pada
lambungnya atau dispepsia non-ulkus. Angka di Indonesia sendiri, penyebab dispepsi
adalah 86 persen dispepsia fungsional, 13 persen ulkus dan 1 persen disebabkan oleh
kanker lambung.4
Pada dispepsia fungsional, umur penderita dijadikan pertimbangan, oleh karena
45 tahun ke atas sering ditemukan kasus keganasan, sedangkan dispepsia fungsional
diatas 20 tahun. Begitu pula wanita lebih sering daripada laki-laki. Pada ulkus peptik
perbandingan laki-laki dan wanita 2 : 1. Insiden ulkus meningkat pada usia pertengahan.
Penyakit ulkus memperlihatkan interaksi kompleks dari berbagai faktor lingkungan dan
genetic.

D. PATOFISIOLOGIS
1) Dispepsia fungsional:
Proses patofisiologis yang paling banyak dibicarakan dan potensial
berhubungan dengan dispepsia fungsional adalah hipersekresi asam lambung, infeksi
Helicobacter pylori, dismotilitas gastrointestinal, dan hipersensitivitas viseral.
a. Abnormalitas Motorik Gaster
DenganstudiScintigraphicNuklear dibuktikan lebih dari 50% pasien
dispepsia non ulkus mempunyai keterlambatan pengosongan makanan dalam
gaster. Demikian pula pada studi monometrik didapatkan gangguan motilitas
antrum postprandial, tetapi hubungan antara kelainan tersebut dengan gejalagejaladispepsiatidakjelas.
Penelitianterakhirmenunjukkanbahwa

fundus

gaster

yang

"kaku"

bertanggung jawab terhadap sindrom dispepsia.Pada keadaan normal seharusnya


fundus relaksasi, baik saat mencerna makanan maupun bila terjadi distensi
duodenum.Pengosongan makanan bertahap dari corpus gaster menuju ke bagian
fundus dan duodenum diatur oleh refleks vagal. Pada beberapa pasien dyspepsia

non ulkus, refleks ini tidak berfungsi dengan baik sehingga pengisian bagian
antrum terlalu cepat.2
b. Sekresi asam lambung
Umumnya mempunyai tingkat sekresi asam lambung, baiks ekresi basal
maupun dengan stimulasi pentagastrin, yang rata rata normal. Diduga adanya
peningkatan sensitivitas mukosa lambung terhadap asam yang menimbulkan rasa
tidak enak di perut.
c. DisfungsiAutonom
Disfungsi persarafan vagal diduga berperan dalam hipersensitivitas
gastrointestinal pada kasus dyspepsia fungsional. Adanya neuropati vagal juga
diduga berperan dalam kegagalan relaksasi bagian proximal lambung waktu
menerima makanan, sehingga menimbulkan gangguan akomodasi lambung dan
rasa cepat kenyang.
d. Helicobacter pylori
Peran infeksi kumanini masih belum sepenuhnya diterima dan dimengerti.
Dari berbagai laporan, kekerapan Helicobacter pylori pada dispepsia fungsional
sekitar 50% dan tidak berbeda bermakna dengan angka kekerapan Helicobacter
pylori pada kelompok orang sehat. Mulai ada kecenderungan untuk melakukan
eradikasi Helicobacter pylori pada dispepsia fungsional dengan Helicobacter
pylori positif yang gagal dengan pengobatan konservatif baku.
Peranan infeksi Helicobacter pylori pada gastritis dan ulkus peptikum
sudah diakui, tetapi apakah Helicobacter pylori dapat menyebabkan dispepsia non
ulkus masih kontroversi. Di negara maju, hanya 50% pasien dispepsia non ulkus
menderita infeksi Helicobacter pylori, sehingga penyebab dispepsia pada
dispepsia non ulkus dengan Helicobacter pylori negatif dapat juga menjadi
penyebab dari beberapa dispepsia non ulkus dengan Helicobacter pylori positif.
Bukti terbaik peranan Helicobacter pylori

pada dispepsia non ulkus

adalah gejala perbaikan yang nyata setelah eradikasi kuman Helicobacter pylori
tersebut, tetapi ini masih dalam taraf pembuktian studi ilmiah. Banyak pasien
mengalami perbaikan gejala dengan cepat walaupun dengan pengobatan plasebo.

Studi "follow up" jangka panjang sedang dikerjakan, hanya beberapa saja yang
tidak kambuh.
2) DispepsiaOrganik
a. OAINS
Obat anti-inflamasi non-steroid merusak mukosa lambung melalui beberapa
mekanisme.Obat-obat ini menghambat siklooksigenase mukosa lambung sebagai
pembentuk prostaglandin dari asam arakidonat yang merupakan salah satu faktor
defensif mukosa lambung yang sangat penting.Selain itu, obat ini juga dapat
merusak secara topikal.Kerusakan topikal ini terjadi karena kandungan asam
dalam obat tersebut bersifat korosif, sehingga merusak sel-sel epitel mukosa.
Pemberian aspirin juga dapat menurunkan sekresi bikarbonat dan mukus oleh
lambung, sehingga kemampuan faktor defensif terganggu.13
b. UlkusPeptikum
Ulkus peptikum merupakan keadaan di mana kontinuitas mukosa
esophagus, lambung ataupun duodenum terputus dan meluas sampai di bawah
epitel.Kerusakan mukosa yang tidak meluas sampai ke bawah epitel disebut erosi,
walaupun seringkali dianggap juga sebagai ulkus. Ulkus kronik berbeda dengan
ulkus akut, karena memiliki jaringan parut pada dasar ulkus. Menurut definisi,
ulkus peptik dapat ditemukan pada setiap bagian saluran cerna yang terkena getah
asam lambung, yaitu esofagus, lambung, duodenum, dan setelahgastroduodenal,
juga jejunum.
Obat anti inflamasi non steroid termasuk aspirin menyebabkan perubahan
kualitatif mucus lambung yang dapat mempermudah terjadinya degradasi mucus
oleh pepsin. Prostaglandin yang terdapat dalam jumlah berlebihan dalam mucus
gastric dan tampaknya berperan penting dalampertahananmukosa lambung.
Daya tahan duodenum yang kuat terhadap ulkus peptikum diduga akibat
fungsi kelenjar Brunner (kelenjar duodenum submukosa dalam dinding usus)
yang memproduksi sekret mukoid yang sangat alkali, pH 8 dan kental untuk
menetralkan kimus asam. Penderita ulkus peptikum sering mengalami sekresi
asam berlebihan.Faktor penurunan daya tahan jaringan juga terlibat dalam ulkus
peptikum.Daya tahan jaringan juga bergantung pada banyaknya suplai darah dan

cepatnya regenerasi sel epitel (dalam keadaan normal diganti setiap 3


hari).kegagalan mekanisme ini juga berperan dalam patogenesis ulkus peptikum.
Pathway
Perubahan pola makan, pengaruh obat-obatan alkohol, nikotin, rokok, tumor/kanker saluran
pencernaan, stres

Erosi dan ulcerasi


mukosa lambung

Peningkatan

Timbulnya tanda dan

produksi HCL

gejala klinik gangguan

Pelepasan mediator
kimia (bradikinin,

sistem cerna
Impuls ke fleksus meissner ke

histamin, prostaglandin

nervus vagus
Perubahan status
kesehatan

Nosiceptor

Merangsang medulla oblongata

Kurang informasi
Saraf afferen

Impuls kefleksus miesenterikus


pada dinding lambung

Thalamus

Kurang pengetahuan
tentang penyakitnya
Anoreksia, mual

Corteks cerebri

Stressor
Intake kurang

muntah

Nyeri

Cemas

Nutrisi Kurang

Perubahan
kesimbangan cairan
dan elektrolit

E. MANIFESTASI KLINIS
Klasifikasi klinis praktis, didasarkan atas keluhan gejala yang dominan, membagi
dyspepsia menjadi tiga tipe:
1. Dispepesia dengan keluhan seperti ulkus (ulkus, like dyspepsia), dengan gejala:
a. Nyeri epigastrium terlokalisasi
b. Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasida
c. Nyeri saat lapar
d. Nyeri episodic
2.

Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility- like dysmotility), dengan


gejala:
a. Mudah kenyang
b. Perut cepat terasa penuh saat makan
c. Mual
d. Muntah
e. Upper abdominal bloating (bengkak perut bagian atas)
f. Rasa tak nyaman bertambah saat makan

3. Dispepesia nonspesifik (tidak ada gejala seprti kedua tipe di atas)


Sidroma dyspepsia dapat bersifat rigan, sedang, dan berat, serta dapat akut atau
kronis sesuai dengan perjalanan penyakitnya. Pembagian akut dan kronik berdasarkan
atas jangka waktu tiga bulan.
Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin dsertai dengan
sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa penderita,makan dapat
memperburuk nyeri, pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya. Gejala
lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut
kembung). Jika dyspepsia menetap selama lebih dari beberapa minggu, atau tidak
memberi respon terhadap pengobatan, atau disertai penurunan berat badan atau gejala
lain yang tidak biasa, maka penderita harus menjalani pemeriksan.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan untuk penanganan dispepsia terbagi beberapa bagian, yaitu:
a. Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkap
dan pemeriksaan darah dalam tinja dan urine. Lebih banyak ditekankan untuk
menyingkirkan penyebab organik lainnya antara lain pankreatitis kronis, DM.
Pada dyspepsia biasanya hasil laboratorium dalam batas normal.
b. Barium enema untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus halus dapat
dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan
berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita
makan (Mansjoer, 2007).
c. Endoskopi bisa digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus
kecil untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsy dari lapisan lambung.
Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui
apakah lambung terinfeksi oleh Helicobacter pylori. Endoskopi merupakan
pemeriksaan batu emas, selain sebagai diagnostic sekaligus terapeutik.
i. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan endoskopi adalah:
1. CLO (rapid urea test)
2. Patologi anatomi (PA)
3. Kultur mikroorganisme (MO) jaringan
4. PCR (polymerase chain reaction), hanya dalam rangka penelitian
d. Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan radiologi, yatu OMD dengan
kontras ganda, serologi Helicobacter pylori, dan urea breath test (belum tersedia
di Indonesia)

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan non farmakologis
1. Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
2. Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda, obat-obatan yang
berlebihan, nikotin rokok, dan stres
3. Atur pola makan

Penatalaksanaan farmakologis yaitu:


Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam
mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena pross patofisiologinya pun
masih belum jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70 % kasus DF reponsif terhadap placebo.
Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung)
golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik
(mencegah terjadinya muntah)
Penatalaksanaan yang tepat pada pasien dengan dispepsia, antara lain :
1. Edukasi kepada pasien untuk mengenali dan menghindari keadaan yang potensial
mencetuskan serangan dispepsia
2. Modifikasi pola hidup. Menghindari jenis makanan yang dirasakan sebagai faktor
pencetus. Pola makan porsi kecil tetapi sering dan makanan rendah lemak.
3. Obat-obatan. Obat-obatan yang dianjurkan adalah golongan antasida, anti sekresi
dan prokinetik dapat digunakan untuk mengurangi keluhan.
Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu :
a. Antasid 20-150 ml/hari
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi
asam lambung. Campuran yang biasanya terdapat dalam antasid antara lain Na
bikarbonat, AL (OH)3, Mg (OH)2 dan Mg trisilikat. Pemakaian obat ini
sebaiknya jangan diberikan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, untuk
mengurangi rasa nyeri. Mg trisilikat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga
berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis
besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2.
b. Antikolinergik
Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang agak selektif
yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan
sekresi asam lambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga memiliki efek
sitoprotektif.

c. Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau
esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan antagonis reseptor H2
antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin dan famotidin.
d. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI)
Sesuai dengan namanya, golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada
stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk
golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol dan pantoprazol.
e. Sitoprotektif
Prostaglandin sintetik seperti misoprostol (PGE) dan enprestil (PGE2). Selain
bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal.
Sukralfat

berfungsi

meningkatkan

sekresi

prostaglandin

endogen,

yang

selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan produksi mukus dan


meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta membentuk lapisan protektif
(sebagai site protective), yang senyawa dengan protein sekitar lesi mukosa saluran
cerna bagian atas (SCBA).
f. Golongan prokinetik
Obat yang termasuk golongan prokinetik, yaitu sisaprid, dom peridon dan
metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional
dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam
lambung (acid clearance)
g. Kadang kala juga dibutuhkan psikoterapi dan psikofarmaka (obat antidepresi
dan

cemas)

pada

pasien

dengan

dispepsia

fungsional,

karena

tidak

jarang keluhan yang muncul berhubungan dengan faktor kejiwaan seperti


cemas dan depresi.

H. KOMPLIKASI
Penderita sindroma dispepsia selama bertahun-tahun dapat memicu adanya
komplikasi yang tidak ringan. Salah satunya komplikasi dispepsia yaitu luka di dinding
lambung yang dalam atau melebar tergantung berapa lama lambung terpapar oleh asam
lambung. Bila keadaan dispepsia ini terus terjadi luka akan semakin dalam dan dapat

menimbulkan komplikasi pendarahan saluran cerna yang ditandai dengan terjadinya


muntah darah, di mana merupakan pertanda yang timbul belakangan. Awalnya penderita
pasti akan mengalami buang air besar berwarna hitam terlebih dulu yang artinya sudah
ada perdarahan awal. Tapi komplikasi yang paling dikuatirkan adalah terjadinya kanker
lambung yang mengharuskan penderitanya melakukan operasi (Wibawa, 2006).

I. PENCEGAHAN
Modifikasi gaya hidup sangat berperan dalam mencegah terjadinya dispepsia
bahkan memperbaiki kondisi lambung secara tidak langsung.
Berikut ini adalah modifikasi gaya hidup yang dianjurkan untuk mengelola dan
mencegah timbulnya gangguan akibat dispepsia :
1. Atur pola makan seteratur mungkin.
2. Hindari makanan berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi lambung
(coklat, keju, dan lain-lain).
3. Hindari makanan yang menimbulkan gas di lambung (kol, kubis, kentang, melon,
4. semangka, dan lain-lain).
5. Hindari makanan yang terlalu pedas.
6. Hindari minuman dengan kadar caffeine dan alkohol.
7. Hindari obat yang mengiritasi dinding lambung, seperti obat anti-inflammatory,
misalnya yang mengandung ibuprofen, aspirin, naproxen, dan ketoprofen.
8. Acetaminophen adalah pilihan yang tepat untuk mengobati nyeri karena tidak
9. mengakibatkan iritasi pada dinding lambung.
10. Kelola stress psikologi se-efisien mungkin.
11. Jika anda perokok, berhentilah merokok.
12. Jika anda memiliki gangguan acid reflux, hindari makan sebelum waktu tidur.
13. Hindari faktor-faktor yang membuat pencernaan terganggu, seperti makan terlalu
banyak, terutama makanan berat dan berminyak, makan terlalu cepat, atau makan
sesaat sebelum olahraga.
14. Pertahankan berat badan sehat
15. Olahraga teratur (kurang lebih 30 menit dalam beberapa hari seminggu) untuk
16. mengurangi stress dan mengontrol berat badan, yang akan mengurangi dispepsia

2. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses dimana kegiatan yang dilakukan
yaitu : Mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data. Data fokus
yang berhubungan dengan dispepsia meliputi adanya nyeri perut, rasa pedih di ulu hati,
mual kadang-kadang muntah, nafsu makan berkurang, rasa lekas kenyang, perut
kembung, rasa panas di dada dan perut, regurgitasi (keluar cairan dari lambung secar
tiba-tiba). (Mansjoer, 2000).
Menurut Tucker (1998), pengkajian pada klien dengan dispepsia adalah sebagai
berikut:
a.

Biodata
1. Identitas Pasien : nama, umur, jenis kelamin, suku / bangsa, agama, pekerjaan,
pendidikan, alamat.
2. Identitas penanggung jawab : nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan,
hubungan dengan pasien, alamat.

b. Keluhan Utama
Nyeri/pedih pada epigastrium disamping atas dan bagian samping dada depan
epigastrium, mual, muntah dan tidak nafsu makan, kembung, rasa kenyang
c.

Riwayat Kesehatan Masa Lalu


Sering nyeri pada daerah epigastrium, adanya stress psikologis, riwayat minum-

minuman beralkohol
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah anggota keluarga yang lain juga pernah menderita penyakit saluran
pencernaan
e.

Pola aktivitas
Pola makan yaitu kebiasaan maakn yang tidak teratur, makan makanan yang

merangsang selaput mukosa lambung, berat badan sebelum dan sesudah sakit.
f.

Aspek Psikososial
Keadaan emosional, hubungan dengan keluarga, teman, adanya masalah

interpersonal yang bisa menyebabkan stress

g.

Aspek Ekonomi
Jenis pekerjaan dan jadwal kerja, jarak tempat kerja dan tempat tinggal, hal-hal

dalam pekerjaan yang mempengaruhi stress psikologis dan pola makan


h. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Klien tampak kesakitan, berat badan menurun, kelemahan dan cemas,
2. Palpasi
Nyeri tekan daerah epigastrium, turgor kulit menurun karena pasien sering
muntah
3. Auskultasi
Peristaltik sangat lambat dan hampir tidak terdengar (<5x/menit)
4. Perkusi
Pekak karena meningkatnya produksi HCl lambung dan perdarahan akibat
perlukaan

Pengkajian subjektif dan Objektif


Data subjektif
a. Pasien mengeluh nyeri ulu hati
b. Pasien mengatakan sudah pergi ke dokter
c. Pasien mengatakan badan terasa lelah
d. Pasien mengeluh perut terasa kembung dan mudah kenyang
e. Pasien mengeluh sulit tidur
f. Pasien mengeluh nafsu makan menurun
Data obyektif
a. Pasien tampak lemah
b. Pasien meringis kesakitan
c. Muka pasien layu
d. Pasien terlihat mengantuk di siang hari

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah
makan, anoreksia.
3. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual,
muntah
4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya
5. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (batuk dan
mual) ditandai dengan kurangnya waktu tidur

C. RENCANA KEPERAWATAN
Rencana keperawatan adalah tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk
menngulangi masalah keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan.
a. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.
Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri, dengan kriteria klien
melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya ras nyeri
INTERVENSI
1.

Kaji

tingkat

RASIONAL
nyeri,
1.

beratnya (skala 0 10)

Berguna

dalam

pengawasan

kefektifan

obat,

kemajuan penyembuhan
2.

2.

Berikan istirahat dengan posisi


semifowler

Dengan posisi semi-fowler dapat menghilangkan


tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi
telentang dapat menghilangkan nyeri akut/hebat dan
menurunkan aktivitas peristaltic,

Anjurkan

klien

menghindari

makanan

untuk

mencegah terjadinya perih pada ulu hati/epigastrium

yang sebagai indikator untuk melanjutkan intervensi

dapat meningkatkan kerja asam berikutnya


lambung
6.
4.

Anjurkan klien untuk tetap Menurunkan rasa nyeri pada perut


mengatur waktu makannya

5.

Observasi TTV tiap 24 jam

Mengetahui keadaan umum pasien

Diskusikan dan ajarkan teknik


relaksasi
7.

Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol

7.

Kolaborasi dengan pemberian Menghilangkan


obat analgesik

rasa

nyeri

dan

mempermudah

kerjasama dengan intervensi terapi lain

b. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah
makan, anoreksia.
Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan
individu, dengan kriteria menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi
Intervensi
Rasional
1.Observasi intake nutrisi pasien

1.Untuk mengetahui perkembangan intake nutrisi


pasien

2.Anjurkan pasien makan dalam 2.Distribusi total asupan nutrisi atau kalori yang
jumlah

sedikit

tetapi

sering merata sepanjang hari dapat meningkatkan selera

dengan makanan tinggi protein makan


dan karbohidrat

3.Anjurkan pasien menghindari 3.Makanan pedas dan asam akan mempengaruhi


makanan pedas dan asam

lambung sehingga mual meningkat

4.Anjurkan pasien makan dan 4.Makanan dan minuman hangat dapat menghindari
minum dalam keadaan hangat

5.Anjurkan

pasien

pasien mengalami mual dan muntah

menjaga 5.Menurunkan rasa tidak enak karena sisa sputum

kebersihan

mulut

dan

gigi atau sisa obat sehingga nafsu makan meningkat

dengan menggosok gigi atau


berkumur sebelum atau sesudah
makan

6.Anjurkan pasien Minum OAT 6. kandungan Rifampisin yang menyebabkan mual


sebelum tidur di Malam hari

pada pasien.

7.Delegatif Pemberian obat

7.Membantu meringankan rasa mual

c.

Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya

mual, muntah.
Tujuan : Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan prilaku yang perlu untuk
memperbaiki defisit cairan, dengan kriteria mempertahankan/menunjukkan perubaan
keseimbangan cairan, dibuktikan stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik.
INTERVENSI

RASIONAL

Awasi tekanan darah dan nadi,


1. Indikator keadekuatan volume sirkulasi perifer
pengisian kapiler, status membran dan hidrasi seluler
mukosa, turgor kulit
Awasi jumlah dan tipe masukan Klien tidak mengkomsumsi cairan sama sekali
cairan, ukur haluaran urine dengan mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan
akurat

untuk masukan kalori yang berdampak pada


keseimbangan elektrolit

3. Diskusikan
menghentikan

strategi

untuk
3. Membantu klien menerima perasaan bahwa

muntah

dan akibat

penggunaan laksatif/diuretik

muntah

dan

atau

penggunaan

laksatif/diuretik mencegah kehilangan cairan


lanjut
4.

Identifikasi

rencana

untuk

meningkatkan/mempertahankan
keseimbangan

cairan

optimal

misalnya : jadwal masukan cairan

Melibatkan

klien

dalam

rencana

untuk

memperbaiki keseimbangan untuk berhasil

5. Berikan/awasi hiperalimentasi IV 5. Tindakan daruat untuk memperbaiki ketidak


seimbangan cairan elektroli

d. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya


Tujuan :
Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan penurunan
kecemasan, dengan kriteria menyatakan pemahaman tentang penyakitnya.
INTERVENSI

RASIONAL

1. Kaji tingkat kecemasan

Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang


dirasakan oleh klien sehingga memudahkan dlam
tindakan selanjutnya

Berikan dorongan dan berikan Klien merasa ada yang memperhatikan sehingga
waktu

untuk

mengungkapkan klien merasa aman dalam segala hal tundakan

pikiran dan dengarkan semua yang diberikan


keluhannya
3. Jelaskan semua prosedur dan
3. Klien memahami dan mengerti tentang prosedur
pengobatan

sehingga mau bekejasama dalam perawatannya.


4.

4. Berikan dorongan spiritual

Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk


proses penyembuhan penyakitnya, masih ada yang
berkuasa menyembuhkannya yaitu Tuhan Yang
Maha Esa.

e .Gangguan pemenuhan istirahat tidur


Tujuan : memberikan waktu istirahat dan tidur yang cukup kepada pasien sehingga
mempercepat proses kesembuhan.
INTERVENSI

RASIONAL

1.Anjurkan latihan saat siang hari, 1.Karena aktivitas fisik dan mental yang
turunkan aktivitas mental /fisik pada lama mengakibatkan kelelahan yang dapat
sore hari.

memancing pasien mengantuk di malam hari

2.Berikan makanan kecil di sore hari, 2. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan


susu hangat, mandi dan pijatan pada mengantuk
punggung atau kaki

3.Turunkan jumlah minum pada sore 3.Menurunkan

kebutuhan

hari. Lakukan berkemih sebelum tidur

kekamar

untuk

pergi

akan

bangun

mandi/berkemih

selama malam hari

4.Evaluasi

tingkat

stres/orientasi 4.Mengetahui faktor penghambat pasien

sesuai perkembangan hari demi hari.

5.Berikan

tempat/Ruangan

untuk tidur di malam hari

yang 5.Tempat yang sunyi dan nyaman membuat

nyaman untuk pasien sebelum tidur pasien mudah tertidur.


dengan

memnutup

menghindari kebisingan

tirai

dan

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi.2008. Tehnik prosedural keperawatan: konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien.
Jakarta: Salemba Medika.
Bare & Suzanne, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2, (Edisi 8), EGC,
Jakarta
Corwin,. J. Elizabeth, 2001, Patofisiologi, EGC, Jakarta
Doenges, E. Marilynn dan MF. Moorhouse, 2001, Rencana Asuhan Keperawatan, (Edisi III),
EGC, Jakarta.
Guyton dan Hall, 1997, Fisiologi Kedokteran, (Edisi 9), EGC, Jakarta
Kozier,B.,G.Erb. 2004. Fundamentals of Nursing: Concepts, process, and practice. Seventh
edition. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Mansyoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jilid I. Jakarta:Media
Acsulapius. FKUI.
Mubarak & Chayatin. 2008. Buku ajar kebutuhan dasar manusia, Teori dan aplikasi dalam
praktik. Jakarta : EGC
Wibawa, I Dewa Nyoman. 2006. Penanganan Dispepsia Pada Lanjut Usia Volume 7 Nomor 3
September 2006.