Anda di halaman 1dari 12

27

BAB IV
RELAY DIFFERESIAL SEBAGAI PENGAMAN TRAFO GARDU INDUK
PT SASA INTI GENDING PROBOLINGGO

4.1 Pendahuluan
Sistem kelistrikan merupakan elemen penting untuk menunjang proses
produksi pada industri. PT Sasa Inti Gending merupakan salah satu perusahaan
pembuat bahan makanan MNG di Indonesia dengan wilayah kerja yang cukup
luas. PT Sasa Inti Gending memiliki sistem kelistrikan sendiri untuk memenuhi
kebutuhan listrik yang cukup besar.
Sistem pembangkitan untuk penyediaan tenaga listrik yang terdiri atas
fasilitas-fasilitas pembangkitan, transmisi, dan distribusi diatur agar sistem tidak
hanya beroperasi dengan efisiensi yang setinggi mungkin, tetapi seluruh
peralatannya juga diamankan dan dilindungi terhadap kerusakan.
Manfaat sistem proteksi dan relay-relay pengaman adalah agar pemutuspemutus daya yang tepat dioperasikan supaya hanya bagian yang terganggu saja
yang dipisahkan secepatnya dari sistem, sehingga kerusakan peralatan listrik yang
disebabkan oleh gangguan menjadi sekecil mungkin.
Salah satu komponen yang sangat penting peranannya dalam sistem tenaga
listrik adalah transformator tenaga. Transformator tenaga ini berfungsi untuk
mengubah besaran tegangan. Dengan menggunakan transformator tenaga,
penyaluran energi dapat luas jangkauannya sehingga penempatan pembangkitan
tidak harus berdekatan dengan beban.
Untuk menjaga transformator tenaga dari gangguan diperlukan pengaman. Salah
satu pengaman transformator tenaga adalah relay differensial.
Relay differensial digunakan sebagai pengaman utama (main protection)
pada transformator daya yang berguna untuk mengamankan belitan transformator
bila terjadi suatu gangguan. Relay ini sangat selektif dan sistem kerjanya sangat
cepat. Prinsip Kerja Dari Relay Differensial Sebagaimana disebutkan diatas,
Relay differensial adalah suatu alat proteksi yang sangat cepat bekerjanya dan
sangat selektif berdasarkan keseimbangan (balance) yaitu perbandingan arus yang
mengalir pada kedua sisi trafo daya melalui suatu perantara yaitu trafo arus (CT).

28

4.2 Relay Differensial


Relay differensial adalah salah satu relay pengaman utama sistem
tenaga listrik yang bekerja seketika tanpa koordinasi relay disekitarnya
sehingga waktu kerja dapat dibuat secepat mungkin. Daerah pengamanannya
dibatasi oleh pasangan trafo arus dimana relay differensial dipasang sehingga
relay differensial tidak dapat dijadikan sebagai pengaman cadangan untuk
daerah berikutnya.
Proteksi relay differensial bekerja dengan prinsip keseimbangan arus
(current

balance).

Prinsip

ini

berdasarkan

hukum

kirchhoff

yaitu

membandingkan jumlah arus masuk ke primer (Ip) sama dengan jumlah arus
yang keluar dari sekunder (IS).

Dimana :
Id = Arus Differensial (A)
Ip = Arus Sisi Masuk (A)
Is = Arus Sisi Keluar (A)

Gambar 3. Relay Differensial dalam keadaan normal

29

Gambar 3. menunjukkan relay differensial dalam keadaan arus normal,


dimana Ip dan Is sama besar dan berlawanan arah. Maka tidak ada tegangan yang
melintasi coil relay dan tidak ada arus yang mengalir pada relay tersebut, sehingga
relay differensial tidak bekerja.

4.3 Prinsip Kerja dan Karakteristik Relay Differensial


Relay differensial adalah relay yang bekerja bilamana dua atau lebih
besaran listrik yang sama mempunyai hasil jumlah vektor yang lebih besar
dari nilai setelan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan relay
differensial, adalah :
1. Trafo arus yang digunakan oleh relay differensial ini harus memiliki
rasio perbandingan CT1 dan CT2 sama, contohnya 200:5 dan 1500:5,
sehinggga Ip = Is, serta sambungan dan polaritas CT1 dan CT2 sama.
Polaritas trafo arus memperlihatkan arah arus yang masuk dan keluar dari
trafo arus Jika tidak, akan terjadi kesalahan dalam melihat arus yang
masuk dan keluar melalui transformator tenaga. Hal ini, menyebabkan
kesalahan dalam menentukan adanya gangguan di transformator tenaga.
2. Adanya pergeseran fasa akibat hubungan trafo tenaga yang terhubung
delta () - (Y) maka untuk mengembalikan sudut phasa arus yang
tergeser tersebut, hubungan trafo arus di buat berbeda dan sudut pada CT
di sisi primer dan CT di sisi sekunder trafo berbeda 1800. Hubungan CT
di primer berbeda dengan CT di sekunder yaitu satu sisi terhubung Y,
lainnya . Yang terhubung menghasilkan dan adanya arus magnetisasi
dari trafo tenaga di sisi primer menyebabkan pergeseran fasa, Oleh
karena itu diperlukan suatu CT tambahan (auxiliary CT ACT) yang
terhubung Y, karena proteksi differensial harus membandingkan arus
pada dua sisi tanpa perbedaan fasa.
3. Karakteristik kejenuhan CT1 dan CT2 harus sama

30

Gambar 4. Polaritas Trafo Arus

Karakteristik differensial dibuat sejalan dengan Unbalances current


(I), untuk menghindari terjadinya kesalahan kerja. Kesalahan kerja
disebabkan karena CT ratio mismatch, adanya pergeseran fasa akibat belitan
transformator tenaga terhubung (Y) ().

Gambar 5. Prinsip pengoperasian relay differensial

Perubahan

tap

tegangan

(perubahan

posisi

tap

changer)

pada

transformator tenaga oleh On Load Tap Changer (OLTC) yang menyebabkan CT


mismatch juga ikut berubah. Kesalahan akurasi CT, Perbedaan kesalahan CT di

31

daerah jenuh (Saturasi CT), dan Inrush current pada saat transformator energize
menimbulkan unbalances current (I) yang bersifat transient.
Untuk mengatasi masalah unbalance current (I) pada relay differensial
caranya dengan menambahkan kumparan yang menahan bekerjanya relay di
daerah I. Kumparan ini di sebut Restraining Coil, sedangkan kumparan yang
mengerjakan relay tersebut di sebut Operating
Coil.

4.4 Gangguan Daerah Proteksi


1. Gangguan di dalam daerah proteksi
Untuk gangguan didalam (internal) daerah proteksi relay
differensial (diantara kedua trafo arus), Ip dan Is searah.
Id = Ip + Is > 0 Ampere
Idif = IP + IS > 0 Ampere
Karena arus akan menuju titik gangguan, sehingga relay
differensial akan bekerja, seperti yang ditunjukkan pada Gambar:

Gambar 6. Relay Differensial Saat Gangguan Internal

32

Pada saat ada arus yang mengalir lewat relay, maka relay akan
mengirim sinyal pada lock out relay. Sinyal ini akan di teruskan ke C/S
dan memerintahkannya untuk lock out sehingga aliran energi listrik
terputus, maka transformator tenaga yang diamankan bebas dari
pengaruh gangguan yang ada.

2. Gangguan di luar daerah proteksi


Pada gangguan diluar (eksternal) daerah proteksi relay differensial
(diluar kedua trafo arus), relay differensial tidak akan bekerja, karena Ip
dan Is sama besar dan berlawanan arah (Id = Ip + Is = 0 Ampere, Idif = IP
+ IS = 0 Ampere), seperti yang ditunjukkan oleh Gambar:

Gambar 7. Relay Differensial Saat Gangguan Eksternal

4.5 Skema Relay Differensial


Gambar 8. mengilustrasikan skema pengaman differensial trafo tiga
fasa yang disederhanakan. Sisi tegangan tinggi 150 kV hubung RST yang
mendahului sisi tegangan rendah 3,3 kV hubung (Y) XYZ. Untuk

33

pemasangan relay differensial perlu diperhatikan arus urutan nol, agar relay
differensial tidak salah kerja atau beroperasi pada saat gangguan luar. Selain
itu, Trafo arus pada sisi primer trafo tenaga yang terhubung dengan belitan
Delta dihubungkan Y dan trafo arus pada sisi sekunder trafo tenaga yang
belitannya terhubung Y dihubungkan sehingga menghilangkan komponen
urutan nol yang ada di sisi sekunder tranformer dan menyamakan arus yang
keluar dari CT, sehingga arus yang luar dari CT tetap sama fasa yakni iR-iT,
iS-iR dan iT-iS.

Gambar 8. Skema Differensial Trafo tenaga Pada Operasi Normal

Keterangan:
R

: Restraint coil

: Operation coil

iR,iS,iT

: arus yang mengalir di sisi primer

34

ix,iy,iz

: arus yang mengalir di sisi sekunder

R, S, T

: line di sisi primer

X, Y, Z

: line di sisi sekunder

(CT1 = CT2 = CT3 = CT4 = CT5 = CT6) : Current Transformer

4.6 Data Jaringan PT Sasa Inti


Sistem transmisi yang akan dianalisa gangguan hubung singkatnya
adalah saluran transmisi pada Gardu Induk PLN 1 PT Sasa Inti. Pada gardu
ini aliran dayanya berasal dari sumber Gardu Induk Kraksaan 150 kV dan
dihubung ke transformator tenaga berkapasitas 20 MVA untuk disalurkan ke
sistem transmisi 3,3 kV. Analisa gangguan hubung singkat pada saluran ini
adalah untuk menghitung setelan relay differensial dan mengetahui seberapa
besar perkiraan error relay differensial yang mungkin dapat terjadi.
Bagan gambar jaringan sistem tenaga listrik Gardu Induk PT Sasa Inti
sebagai berikut:

Gambar 9. Skema GI PT Sasa Inti PLN 1

35

4.7 Pemilihan CT Ratio


Pemilihan CT disesuaikan dengan alat ukur dan proteksi.
Pemilihan CT dengan kualitas baik akan memberikan perlindungan sistem
yang baik pula. Relay differensial sangat tergantung terhadap karakteristik
CT.
Jika karakteristik CT bekerja dengan baik, maka sistem akan
terlindungi oleh relay differensial ini secara optimal. CT ditempatkan
dikedua sisi peralatan yang akan diamankan (transformator tenaga), seperti
yang terlihat pada Gambar 8.
CT ratio untuk relay differensial yang dipilih sebaiknya memiliki
nilai yang mendekati nilai Irating .

Dimana:
In : arus nominal (A)
S : Daya yang tersalur (MVA)

Transformator dapat menarik beban lebih hingga 110% dari


kapasitasnya,

selama

temperatur

belitan

dibawah

temperatur

maksimumnya. Maka perbandingan ratio trafo arus (CT ratio) dapat


dihitung dari nilai arus rating dikedua sisi tegangan transformator tenaga
tersebut dan disesuaikan dengan spesifikasi CT ratio yang ada dipasaran
sedangkan nilai sekunder CT (5A atau 1A) disesuikan dengan peralatan
proteksinya.

4.8 Tap Auxillary


Auxillary CT adalah CT bantu yang berguna untuk menyesuaikan
besar arus yang masuk ke relay differensial akibat proses pergeseran fasa
oleh transformator tenaga dan beda tegangan primer dan sekunder
transformator tenaga.

36

Untuk pemilihan tap auxillary CT sama dengan CT dan


penempatan CT auxillary diletakkan pada sisi 3,3 kV yang CT dihubung
delta untuk menghilangkan arus urutan nol dan menyamakan fasa.
Untuk menghitung nilai tap ratio dari Auxillary CT di mulai dari
arus nominal sekunder CT yang tidak dihubungkan , yang untuk
transformator ini ada di sisi 150 kV. Relay differensial hanya akan
beroperasi saat ada gangguan didalam transformator dan tidak beroperasi
saat keadaan gangguan diluar dan keadaan normal.

4.9 Menghitung Nilai Arus Differensial (Id) dan Arus Setting Relay
Differensial (Iset)
Diatas telah dijelaskan bagaimana perhitungan nilai CT ratio pada
kedua sisi transformator tenaga, setelah ditemukan maka dapat dihitung di
hitung nilai arus differensial (Id) dan arus restraint (Ir) kemudian didapat
nilai Setting Arus (Iset). Relay differensial hanya akan beroperasi saat ada
gangguan didalam transformator dan tidak beroperasi saat keadaan
gangguan diluar dan keadaan normal.

1. Untuk menghitung nilai Iprimer dan Isekunder :


Ip = CT1 x I
Is = CT2 x I
Dimana:
Ip = Arus Primer (A)
CT1 = Nilai ratio CT 1
Is = Arus Sekunder (A)
I = Arus yang mengalir (A)

2. Untuk menghitung arus differensial:


Id = Ip Is
Dimana:
Id = Arus differensial (A)
Ip = Arus primer (A)

37

Is = Arus sekunder (A)

3. Menghitung arus penahan (restrain) ketika terjadi gangguan:


Irestrain =
Dimana:
Ir = Arus penahan (A)
Ip = Arus primer (A)
Is = Arus sekunder (A)

4. Menghitung Isetting relay differensial:


Isetting = Slope% x Ir

5. Menghitung Nilai Slope Relay Differensial, untuk menghitung nilai


setting slope:
% Slope =

100%

Dimana:
Id = Arus differensial (A)
Ip = Arus penahan (A)

4.10 Error Mismatch


Error mismatch dapat ditentukan dengan membandingkan ratio CT
ideal dengan yang ada dipasaran, dengan pertimbangan tidak melebihi 5 %
dari besar ratio CT yang dipilih. Error mismatch merupakan kesalahan
dalam membaca perbedaan arus dan tegangan di sisi primer dan sekunder
transformator serta pergeseran fasa di trafo tersebut.
Nilai CT ratio yang dipilih ini adalah sesuai dengan CT yang ada
dipasaran. Karena adanya perbedaan ini maka akan terjadi kesalahan
dalam membaca perbedaan arus dan tegangan di sisi primer dan sekunder
transformator tenaga serta pergeseran fasa di trafo arus, kesalahan ini
disebut mismatch error.

38

Pada relay differensial untuk melihat mismatch error didapat dari


perbandingan CT dengan tegangan pada persamaan:

Untuk menghitung error mismatch sebelumnya terlebih dahulu


menghitung nilai CT yang ideal di salah satu sisi transformator tenaga,
misal untuk sisi 3,3 kV (CT2) dengan persamaan:
(

Dimana:
CT1 : current transformer pada sisi primer
CT2 : current transformer pada sisi sekunder
V1 : tegangan di sisi primer (KV)
V1 : tegangan di sisi sekunder (KV)
(

Untuk memperbaiki error mismatch pada relay differensial ini


dapat dilakukan dengan menaikkan atau menurunkan tap pada CT. Error
mismatch diharapkan nilainya sekecil mungkin agar proteksi relay
differensial bekerja secara optimal dalam mengamankan transformator
tenaga. Dengan syarat kesensitifan relay differensial dalam pengoperasian
Mismatch error tidak boleh lebih dari 5%. Syarat ini ditentukan untuk
proteksi agar optimal menjaga sistem tenaga listrik dari gangguan.