Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tinnitus merupakan suatu gangguan yang masih belum dimengerti. Berdasarkan data
statistic dari pusat Nasional menunjukan bahwa tinnitus biasanya paling sering pada laki-laki
daripada pada perempuan dan prevalensinya meningkat dengan bertambahnya usia. Menurut
beberapa referensi tinitus didefinisikan sebagai bunyi berdenging abnormal dalam telinga atau
bising abnormal yang didengar pasien. Telinga sangat umum dan biasanya dihubungkan dengan
ketulian sensorineural.
Penderita yang mengeluh suatu bunyi berdenyut (hilang timbul) perlu diperiksa terhadap
suatu kelainan anatomik. Kelainan anatomik yang menyebabkan tinitus termasuk gangguan
vaskular seperti pembuluh darah aberans atau tumor telinga tengah. Pasien tinitus dengan
etiologi sensorineural akan menjelaskan bahwa tinitus menjadi semakin berat dalam lingkungan
yang sunyi di mana tidak ada bunyi lain yang mengganggu. Penderita sering kali mengeluh
bahwa tinitus sangat mengganggu pada saat-saat menjelang tidur atau bangun tidur.
Pendekatan pada pasien-pasien dengan tinnitus akan berhasil, apabila dapat
membedakan antara tinnitus objektif dan subjektif. Gagal dalam membuat ketentuan mungkin
disebabkan oleh diagnostic dan menegemen yang salah. Pasien dengan tinnitus objektif akan
mendengar suara yang nyata. Suara pulsasi telah dilaporkan 4% dari pasien tinnitus yang tidak
terpilih dan biasanya disebabkan oleh getaran dari turbulensi aliran darah yang mencapai ke
koklea.
1.2

Tujuan
1.2.1

Tujuan Umum
Setelalah mempelajari tinitus maka diharapkan dokter muda dapat memahami
mengenai tinitus. Dan untuk menambah pengetahuan dokter muda secara teoritis
sehingga mudah dalam menangani kasus yang ada. Selain itu berguna pula untuk
teman sejawat yang membaca tinjauan pustaka ini sebagai acuan kita untuk
mendiagnosis secara pasti.

1.2.2

Tujuan Khusus
Dengan mempelajari laporan kasus ini, diharapkan dokter muda dapat :
1

1.
2.
3.
4.

Mengetahui pengertian tinitus


Mengetahui pembagian tinitus
Mengetahui gejala-gejala dari tinitus
Mengetahui penatalaksanaan dari tinitus.

1.3 Ruang Lingkup


Dalam penulisan ini penulis membatasi ruang lingkup pembahasan hanya membahas
pengertian tinitus, pembagian tinitus, gejala-gejala tinitus, penatalaksanaan tinitus dan ditambah
dari hasil penelitian yang diambil dari journal tinitus.
1.4 Teori
Teori teori yang terdapat di dalam penulisan ini adalah diambil dari buku kedokteran,
dan hasil pencarian dari internet.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi
Tinitus adalah suatu gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan mendengar bunyi
tanpa ada rangsang bunyi dari luar. Keluhan ini dapat berupa bunyi mendenging, menderu,
mendesis atau berbagai macam bunyi lain.
2.2. Pembagian Tinitus
Tinitus dapat dibagi atas tinitus objektif, bila suara tersebut dapat didengar juga oleh
pemeriksa atau dengan auskultasi disekitar telinga. Tinitus objektif bersifat vibratorik, berasal
dari transmisi vibrasi sistem muskuler atau kardiovaskuler di sekitar telinga. Tinitus subjektif
bersifat nonfibratorik, disebabkan oleh proses iritatid atau perubahan degeneratif traktus
auditorius mulai dari sel-sel rambut getar koklea sampai pusat saraf pendengar.
Pada tinitus terjadi aktifitas elektrik pada area auditorius yang menimbulkan perasan
adanya bunyi, namun impuls yang ada bukan berasal dari bunyi eksternal yang
ditransformasikan, melainkan berasal dari sumber impuls abnormal di dalam tubuh pasien itu
sendiri. Tinitus dapat terjadi dalam berbagai intensitas. Tinitus dengan nada rendah, seperti
bergemuruh atau nada tinggi, seperti berdengung. Tinitus dapat terus menerus atau hilang timbul
terdengar. Tinitus biasanya dihubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga terjadi pada
tuli konduktif.
Tinitus yang disebabkan oleh gangguan konduksi biasanya berupa bunyi dengan nada
rendah. Jika disertai dengan inflamasi, bunyi denging ini terasa berdenyut (tinitus pulsasi).
Tinitus dengan nada rendah dan gangguan konduksi, biasanya terjadi pada sumbatan pada liang
telinga karena serumen atau tumor, tuba katar, otitis media, otosklerosis dan lain-lain.
Tinitus objektif sering ditimbulkan oleh gangguan vaskuler. Bunyinya seirama dengan
denyut nadi, misalnya pada aneurisma dan aterosklerosis. Gangguan mekanis dapat juga
mengakibatkan tinitus objektif, seperti tuba eustachius terbuka, sehingga ketika bernapas
membran timfani bergerak dan terjadi tinitus.

Pada tuli sensorinerural biasanya timbul tinitus sebjektif nada tinggi (4000Hz). Pada
intoksikasi obat seperti salisilat, kina, streptomisin, garamisin, digitalis, kanamisin dapat terjadi
tinitus nada tinggi, terus menerus atau hilang timbul.
2.3 Prevalensi
Menurut penelitian yang diambil dari NEJM (New England Journal Medicine), Tinnitus
merupakan suatu gangguan yang masih belum dimengerti. Berdasarkan data statistic dari pusat
Nasional menunjukan bahwa tinnitus biasanya paling sering pada laki-laki daripada pada
perempuan dan prevalensinya meningkat dengan bertambahnya usia. (gambar 1).

Frekuensi yang berhubungan dengan gangguan pendengaran hampir 12% cenderung pada
laki-laki umur 65 tahun sampai 74 tahun. Frekuensi pada orang kulit putih cenderung lebih
banyak daripada orang kulit hitam, dan prevalensi di Selatan hampir dua kali lebih besar .
Tinnitus dapat terjadi pada anak-anak, walaupun gejala ini jarang diketahui.

2.4 Etiologi
Pasien-pasien dengan tinnitus percaya bahwa mereka mempunyai masalah kesehatan
yang serius. Kasus ini merupakan kasus yang jarang. Kebanyakan pengobatan pada kasus ini
tidak berhasil, dan berusaha untuk mengembangkan terapi eviden-based telah terhalangi oleh
pemahaman patofisiologi tinnitus yang masih kurang dimengerti. Walaupun masih terbatas
dalam beberapa kasus, namun tinnitus masih dapat ditangani dengan memuaskan. Pendekatan
pada pasien-pasien dengan tinnitus akan berhasil, apabila dapat membedakan antara tinnitus
objektif dan subjektif. Gagal dalam membuat ketentuan mungkin disebabkan oleh diagnostic
dan menegemen yang salah. Pasien dengan tinnitus objektif akan mendengar suara yang nyata.
Suara pulsasi telah dilaporkan 4% dari pasien tinnitus yang tidak terpilih dan biasanya
disebabkan oleh getaran dari turbulensi aliran darah yang mencapai ke koklea. Seorang ahli
pengamat akan menghubungkan irama pulsasi yang mungkin terdengar pada aucultasi, peredaran
darah jantung. Beberapa penyebab dari tinnitus telah terdaftar pada table 1.
Table 1. Penyebab Tinnitus Subjektif dan Objektif
Tipe
Subjektif Tinnitus

Penyebab

Otology

Gangguan pendengaran karena paparan suara yang keras,


presbikus, otosklerosis, otitis, serumen, tuli mendadak,

Neurology

Menieres disease, dan penyebab lain penurunan pendengaran.


Trauma kepala, sclerosis multiple, neuroma acoustic

Infeksi

Otitis media dan skuele, meningitis, sifilis, dan lain-lain.

Pengaruh obat

Salisilat, anti inflamasi nonsteroid, antibiotic aminoglikosida,


diuretic.

Lain-lain

Disfungsi sendi temporomandibular dan kelainan pada gigi.


5

Tinnitus objektif
Pulsasi

Stenosis karotis, malformasi arteriovenous, anomaly vascular,


tumor vascular.

Otot dan anatomi

Myoklonus palatal, spasme stapedius atau otot tensor tympani,


patulous tuba eustachius.

Spontan

Emisi otoacoustic spontan

Tinnitus subjektif, yang kita tunjukan sebagai tinnitus, yaitu suatu persepsi suara palsu
yang tidak distimulasi oleh acoustic. Penyebab umumnya terdaftar dalam table 1. banyak orang
yang mengalami episode tinnitus dalam 2 menit atau beberapa menit atau lewat dan dihubungkan
dengan paparan suara-suara yang keras/nyaring atau obat-obatan misalnya aspirin.
Pada kelompok yang sama, 22% dilaporkan bahwa suara-suara mengenai kedua telinga.
34% dilaporkan hanya mengenai unilateral, dan dilaporkan bahwa yang lainnya paling banyak
dan dominant yang lateral. Tinnitus lateralisasi umumnya jarang dan merupakan tanda adanya
tumor. Pada umumnya suara yang paling banyak dideskripsikan sebagai lonceng (37,5% pada
pasien), berdengung 11,2% pasien, seperti jangkrik 8,5% pasien, hissing (menyiut) 7,8% pasien,
ssst 6,6% pasien, humming 5,3% pasien. Dilaporkan bahwa paling banyak pada pasien-pasien ini
adalah suara tinggi. Dan 345 menyatakan bahwa tinnitusnya rata-rata skala kekerasanya yaitu 8
10 point, pada skala 10 sangat keras.
2.5. Diagnosa
Dengan menggunakan pendekatan kepada pasien secara sistematik, akan membantu
dokter dalam menghindari hasil yang salah dalam membedakan antara tinnitus subjektif dan
objektif, identifikasi gangguan-gangguan yang terdaftar dalam table 1, melindungi pendengaran,
dan penjamu yang berhubungan dengan masalah-masalah misalnya depresi, gelisah, dan
gangguan tidur. Manajemen dan suatu tingkat yang tinggi merupakan kepuasan sebagian pasien,
misalnya dalam mengevaluasi dengan seksama dalam waktu yang cukup untuk mengembangkan
hubungan terapeutik yang kuat.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam anamnesis adalah : lama serangan tinitus,
bila berlangsung dalam waktu 1 menit biasanya akan hilang sendiri, hal ini bukan keadaan
6

patologik. Bila berlangsung dalam 5 menit merupakan keadaan patologik. Tinitus subjektif
unilateral disertai gangguan pendengaran perlu dicurigai kemungkinan tumor neuroma akustik
atau trauma kepala. Bila tinitus bilateral kemungkinan terjadi pada intoksikasi obat, presbiskusis,
trauma bising dan penyakit sistem lain. Apabila pasien sulit mengidentifikasi kanan atau kiri
kemungkinan di saraf pusat. Kualitas tinitus, bila tinitus bernada tinggi biasanya kelainannya
pada daerah basal koklea, saraf pendengara perifer dan sentral. Tinitus bernada rendah seperti
gemuruh ombak khas untuk kelainan koklea seperti hidrops endolimfa.
Peristiwa tinnitus biasanya subjektif, riwayat pasien dan pemeriksaan fisik ditemukan
ciri khas merupakan hal yang penting untuk membedakan antara tinnitus subjektif dan objektif.
Deskripsikan suara yang pasien dengar dengan kritis dan dapat dijawab pasien berdasarkan
pertanyaan-pertanyaan :
-

apakah suaranya tetap atau kadang-kadang ?

apakah pada kedua telinga atau salah satu telinga ?

apakah kejadiannya tiba-tiba ?

berapa lama suara itu ada ?

apakah suaranya tinggi atau sangat nyaring ?

apakah ada gejala kehilangan pendengaran, pusing, dan sakit ?

apakah ada gejala lain yang menyertai tinnitus ?

apakah ada riwayat paparan suara keras, infeksi telinga, trauma kepala, dan penggunaan
obat-obat ototoxic ?

Pada pemeriksaan fisik harus focus pada pemeriksaan kepala dan leher dan termasuk inspeksi
secara hati-hati pada rongga mulut, telinga luar, membrane tympani, nervus cranial dan sendi
temporomandibular dan auskultasi jantung, arteri karotis, region periaural. Seorang dokter harus
berusaha untuk menghubungkan suara-suara berulang dengan pulsasi pasien atau gerakangerakan palatal. Setelah memberikan pertanyaan-pertanyaan yang spesifik dan memanipulasi,
sehingga mendekati 75% dari pasien-pasien dengan indikasi tinnitus dengan gerakan gerakan
yang bervariasi seperti mengkatupkan rahang, tekanan pada kepala, dan gerakan-gerakan mata
yang mempengaruhi kerasnya tinnitus.

Telah ditunjukan pada table 1. frekuensi tinnitus dihubungkan dengan proses penyakit.
Akan tetapi pengobatan pada penyakit ini tidak akan membantu tinnitus, diagnosa dan
pengobatan yang akurat adalah penting untuk mencegah bertambahnya gangguan/kelainan.
Keadaan kesehatan lainnya, pemeriksaan laboratorium tergantung pada jenis hasil analisa
berdasarkan anamnesa dan penemuan pada pemeriksaan fisik. Pasien dengan tinnitus pulsasi
harus dievaluasi karena dapat memnyebabkan gangguan cardiac out-put yang besar (misalnya
anemia dan hipertiroid), penyakit katup jantung dan oklusi cerebrovaskuler. Terutama diantara
pasien-pasien dengan factor-faktor resiko untuk atherosclerosis. Evaluasi pendengaran yang
komprehensiv adalah esensial. Untuk mengetahui jumlah kehilangan pendengaran dan mengenal
setiap komponen yang dapat digunakan untuk pengobatan dari hilangnya pendengaran, tests
Battery hendaknya meliputi ambang suara yang murni ( aliran udara atau tulang), ukuran-ukuran
akustik impedans (tympanometri, ambang reflek suara), audiometric bicara dan test untuk
kemampuan mendengar dengan cara masking.
Gambar 2. Alogaritma untuk mengevaluasi pasien-pasien dengan tinnitus

Evaluasi pasien dengan


tinnitus

Karakteristik suara dan kualitas hidup


pasien. Riwayat penurunan
pendengaran dan paparan suara yang
keras dan obat-obat ototoksik.

Differensial Diagnosa

Tinnitus subjektif

Tinnitus objektif

Mencegah penurunan
Pendengaran dari
Paparan suara keras
Obat.

Jika effeknya kecil


Berikan edukasi
Dan menenangkan
Pasien tentang
Kondisinya.

Evaluasi effek tinnitus


Pada kualitas hidup

Lakukan test
Pendengaran
Untuk penurunan
Pendengaran dan
Identifikasi letak
lesi

Jika ada lesi


Pada denyut jantung
Dan retrokoklear,
Lakukan radiologi

Jika effeknya besar


Berikan edukasi
Pada pasien

Terapi

Jika lesinya pada


Koklea, maka diidentifikasi,
Test radiology tidak diperlukan
Alat Bantu dengar dan rehabilitasi

Anamnesa dan pemeriksaan fisik dan diikuti oleh gambaran neuroradiologi mungkin
mengidentifikasi pengobatan berdasarkan penyebab. Ketukan atau derajat dengung yang rendah
merupakan indikasi myoklonus palatal atau kontraksi dari tensor tympani atau otot stapedius.
Kadang-kadang, getaran spontan dari sel-sel silia pada bagian terluar koklea yang mungkin
menghasilkan suara yang dapat terdengar yang dikenal sebagai emisi otoacoustik spontan.
Misalnya suara-suara umumnya, tetapi jarang didengar. Untuk mendeteksi emisi otoacoustik
spontan diperlukan pemeriksaan khusus dan tidak termasuk dalam suatu pemeriksaan audiologi
yang rutin.
Kejadian paling banyak yaitu pada kerusakan koklear menimbulkan pada banyak orang
untuk mengusulkan bahwa tinnitus timbul dalam organ. Akan tetapi, suatu sumber system
susunan syaraf pusat yang diimplikasi dengan pengamatan tinnitus pada pasien-pasien dengan
tindakan transeksi secara lengkap dari syaraf pendengaran. Penelitian gambaran fungsional dari

tiga kelompok pasien yang terpisah mendukung hipotesis yang berasal dari susunan syaraf
pusat, diilustrasikan pada gambar 3.

Kehilangan pendengaran membimbing ke arah reorganisasi dari jalan dalam system pusat
pendengaran. Perubahan ini dapat terjadi cepat dan membimbing ke arah interaksi abnormal
antara jalur pendengaran dan jalur pusat yang lain. Perubahan-perubahan yang analog didalam
sistim somatosensori menghubungkan rasa nyeri, membawa kita untuk mendorong bahwa ada
persamaan antara sakit neuropathi dan tinnitus. Pada pasien dengan gaze-evoked tinnitus
gerakan mata ke lateral gagal untuk memproduksi penangkalan dari korteks pendengaran yang
10

terlihat pada control. Phenomena ketidakadaan ini disebut cross modal inhibition, dapat
menyumbang kepada persepsi yang salah dari bunyi.
Levine berhipotesa bahwa penurunan dalam pemasukan syaraf pendengaran menuju ke
arah penghilangan penangkalan dari nucleus koklear dorsal dan peningkatan dalam aktifitas
spontas dalam system pusat pendengaran, yang dialami sebagai tinnitus. Mekanisme ini dapat
menerangkan sensasi ringing yang sementara. Yang dapat berakibat pada gangguan suara, effek
dari beberapa obat, misalnya furosemid dan tinnitus spontan pada orang-orang dengan
pendengaran normal yang ditempatkan dalam kesunyian total. Obat-obat lain seperti aspirin
meningkatkan firing rate spontan dari syaraf pendengaran. Kekomplekan dari perubahan dari
system syaraf berkaitan dengan tinnitus dapat menerangkan mengapa hal ini sangat resisten
terhadap pengobatan.
2.6 Terapi
Pada umumya pengobatan gejala tinitus dibagi menjadi 4 cara :
1. Elektrofisiologik yaitu memberi stimulus elektro akustik dengan intensitas suara yang
lebih keras dari tinitusnya, dapat dengan alat bantu dengar atau tinitus masker.
2. Psikologik, dengan memberikan konsultasi psikologis bahwa tinitus tidak membahayakan
dan mengajarkan relaksasi setiap hari.
3. Terapi medika mentosa sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas diantaranya
untuk meningkatkan aliran darah koklea, tranquilizer, anti depresan, sedatif, neurotonik,
vitamin dan mineral.
4. Tindakan bedah dilakukan pada trauma akustik neuroma
Pengobatan tinnitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenomena psiko-akustik
murni, sehingga tidak dapat diukur. Perlu diketahui penyebab tinnitus supaya dapat dihilangkan
dengan cara mengobati penyebabnya tetapi kadang-kadang penyebabnya itu sukar diketahui.
1. Terapi Penyamaran
Terapi penyamaran merupakan pilihan praktis untuk menghilangkan gangguan tinnitus,
diantaranya dengan cara menyamarkan suara menggunakan kipas angin dan atau radio. Yang
termasuk terapi ini antara lain:

11

a. Biofeedback. Biasanya digunakan untuk mengurangi stress.


b. Sound terapi. Metode terapi ini diindikasikan untuk tinnitus, vertigo. Metode ini
dipublikasikan pada tahun 2000 di st. James, Australia.
2. Terapi Farmakologi Kausatif
a. Alprazolam (Xanax)
Merupakan traquilizer golongan benzodiazepin, pada suatu penelitian double-blind
dengan dosis 0,5 mg sebelum tidur, dapat mengurangi rata-rata tinnitus dari 7,5 dB
menjadi 2,3 dB
b. Klonopin
Obat sejenis xanax, tetpi tidak sekuat xanax, dan belum dilakukan penelitian untuk
pengobatan tinnitus
c. Antikonvulsan
Obat seperti carbamazepin ( tegretol), fenitoin (Dilantin), Primidon (Mysoline), asam
Valproat (Depakene), dapat mengurangi tinnitus, tetapi tidak ada dosis standar untuk
terapi tinnitus. Beberapa obat ini dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya,
antara lain sindrom steven jonhson, diskrasia darah dan hipertrofi ginggiva sehingga
dalam memberikan terapi ini dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kimia darah dan
pemeriksaan lainnya. Obat-obat ini belum dilakukan penelitian untuk mengurangi
tinnitus.
d. Vasodilator
Secara teoritis, dilatasi dapat mengalirkan darah lebih banyak ke daerah yang
kekurangan,, tetapi penelitian terakhir menyatakan bahwa pada banyak kasus, vasodilator
menyebabkan kondisi lebih parah. Sehingga dapat disimpulkan tinnitus dengan gangguan
vaskuler akan bertambah parah jika diberikan vasodilator
e.

Diuretik
Diuretic bias digunakan pada menieres sindrom, dilaporkan dengan pemberian Dyazyde
tinnitus dapat dikurangi. Tetapi perlu diingat bahwa beberapa diuretic merupakan obat
ototoksik dan dapat memperburuk tinnitus.

f.

Betahistine hydrochloride (SERC)


12

Obat ini diyakini dapat mengurangi tekanan di dalam telinga dan meningkatkan aliran
darah menuju ke pembuluh darah kecil. Obat ini dapat mengurangi tinnitus selama 6-12
jam dengan dosis 24-48 mg per hari.
g. Lidokain
Injeksi intravena lidokain diikuti dengan IV drip dapat mengurangi kesakitan akibat
tinnitus, dimana suatu penelitian pada 26 probandus, 23 orang merasakan efek obat
setelah lebih dari 30 menit setelah penyuntikan obat. Penelitian yang dilakukan Lenarz
menyatakan bahwa lidokain intra vena mengurangi lebih dari 50% gejala tinnitus,
sedangkan lidokain oral dianjurkan bila sudah dilakukan tes sensitivitas terhadap
lidokain.
h. Tocainide Hydrochloride
Obat untuk antiaritmia ini diberikan per oral dan mempunyai efek seperti lidokain, tetapi
obat ini mempunyai efek samping yang berat. penelitian Lenarz menyimpulkan hanya
pemberian oral tocainide hanya dapat mengurangi gejala sebanyak 35% dari seluruh
probandus, tetapi dengan pemberian intra vena dapat mengurangi sampai dengan 55%
pasien. Tetapi perlu diingatkan bahwa pamberian tocainide mempunyai efek samping
yang berat, sehingga pemberiannya hanya diberkan pada pasien yang sangat menderita
akibat tinnitus
i. Histamin
Efek yang diambil dari histamine adalah sebagai vasodilator, pada suatu penelitian yang
belum dipublikasikan, hampir 70% pasien dengan pengobatan histamin mendapatkan
perbaikan sempurna ataupun setengah dari keluhan tinnitus
j. AntiHistamin
Secara teori, antihistamin mempunyai efek sedative ringan yang dapat menghilangkan
kecemasan, mengurangi sekresi mukus sehingga rongga telinga tetap kering, dan ini akan
mengurangi tekanan koklear
Meclizine, adalah obat antihistamin yang digunakan untuk mual dan motion sickness
serta anti vertigo yang disertai menieres sindrom. Tetapi pada suatu laporan dari
penderita tinnitus tanpa gejala vertigo, meclize dapat mengurangi tinnitusnya
3. Terapi adjuvan
13

a. Hydergin
Hydergin kemungkinan mempunyai efek yang dilaporkan sebagai berikut: meningkatkan
suplai darah dan oksigen ke otak, memperbaiki metabolisme otak, melindungi otak dari
radikal bebas, meningkatkan ingatan, menormalkan tekanan sitolik, menurunkan kadar
kolesterol, mengurangi kelelahan, mengurangi gejala pusing dan tinnitus
b. Vinpocetine dan Vincamine
Vincamine telah banyak digunakan untuk keadaan kekurangan aliran darah ke otak,
termasuk vertigo dan menieres sindrom, susah tidur, masalah pendengaran, hipertensi
c. Sodium Flouride
garam yang tidak berwarna, dapat membantu ketika tinnitus disebabkan oleh otosklerosis
koklear.
d. Niasin
Merupakan suatu kristal garam, komponen pembentuk vitamin B, diharapkan dapat
memacu supply oksigen ke dalam telinga melalui vasodilatasi. Niasin lebih cepat bekerja
pada saat perut kosong. Belum ada percobaan klinik yang membuktikan keefektifan
niasin untuk mengatasi tinnitus, dan niasin dalam dosis besar dapat merusak hepar.
e.

Zinc
Konsentrasi zinc di dalam koklea merupakan konsentrasi terbesar di dalam tubuh,
sehingga pemberian zinc 90-150 mg per hari dapat bermanfaat. Tetapi zinc dosis tinggi
lebih dari 150 mg dapat menyebabkan anemia dan keracunan.

f. Magnesium
Magnesium dapat bermanfaat untuk mencegah terjadinya kehilangan pendengaran.
g. Ginkgo Biloba
Tahun 1990, Swart Davis menyatakan ginkgo biloba tidak mempunyai efek terapeutik
terhadap tinnitus, tetapi jurnal Lancet volume 340 tahun 1992 menyatakan dengan dosis
120-160 mg setelah makan dapat menurunkan symptom sebesar 30-70%. Pada suatu
penelitian yang dilakukan Hobbs pada tahun 1992, menyatakan bahwa;(1)tinnitus
dihilangkan seluruhnya sebesar 35% dari seluruh pasien yang di uji.(2) pasien dengan
usia tua sebanyak 350 orang dengan gangguan pendengaran yang di terapi ginkgo
berhasil sebanyak 82 %. (3) sebanyak 137 pasien yang di ikuti, 67 % masih memiliki
pendengaran yang baik setelah 5 tahun kemudian. Pada tahun 1994, Holger
14

menyimpulkan bahwa ekstrak ginkgo biloba tidak mempunyai efek terhadap tinnitus.
Tetapi pada akhirnya, lucy menyatakan jika tetap menggunakan ekstrak ginkgo biloba,
harus diperhatikan efek samping dan inform concern kepada penderita
4. Non Invasif Laser
Terapi ini menggunakan laser yang tidak invasive pada procesus mastoideus dengan energi 90
J/cm2, dilanjutkan 45 J/cm2 dengan frekuensi 5 Hz 2 kali seminggu sebanyak 8 sampai 10 seri,
hasilnya 36% tinnitus berkurang, dan 26% tinnitus menghilang sama sekali.
5. Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)
Alat Bantu dengar dapat diberikan untuk pasien dengan gangguan pendengaran disertai
dengan tinnitus yang berat. Karena dapat membantu menormalkan kecepatan suara, juga
berguna untuk mencegah suara bising dari luar yang tidak diinginkan.
6. Electrical Stimulation
Penempatan berbagai elektroda dengan berbagai volume frekuensi sudah terbukti dapat
mengurangi tinnitus. Penempatan elektroda si luar, liang telinga, telinga tengah, dan koklea.
Efek samping yang terjadi adalah rasa sakit, perubahan sensasi bau. Pada suartu penelitian, 3
dari 5 orang mengalami perbaikan dengan frekuensi 40 Hz atau kurang.
7. Terapi oksigen hiperbarik/ terapi ozonisasi
Terapi ini dapat bermafaat jika dicurigai adanya kekurangan oksigen pada mekanisme
pendengaran. Terapi ini bermanfaat pada kasus akut daripada kasus kronis.
8. hypnoterap. Terapi ini dilaporkan dapat memperbaiki keadaan tinnitus sebesar 68%.
9. TMD Terapi.
10. Audio Integration Therapy.
11. Pembedahan

15

Tindakan pembedahan dapat dilakukan untuk tinnitus yang diakibatkan oleh neuroma akustik,
abnormalitas vaskuler, dan TMJ sindrom. Salah satu bentuk tindakan ini adalah implant
koklear. Neurotomi merupakan tindakan pembedahan pilihan terakhir, dengan melakukan
pembedahan N.VIII, tetapi hati-hati, jika penyebab tinnitus akibat sesuatu di dalam otak,
pasien akan tuli permanen dan tinnitus masih dapat terjadi
Banyak obat-obatan yang menyebabkan tinnitus, tetapi walaupun telah dilakukan
beberapa percobaan, tidak ada obat-obatan yang telah diakui oleh administrasi pangan dan obatobatan untuk pengobatan tinnitus. Banyak percobaan yang dikritik karena kekurangankekurangan dalam disain termasuk kekurangan control yang layak. Prosedur-prosedur
randomisasi yang tidak layak, dan miskin pilihan-pilihan dari titik-titik akhir. Dalam

69

penelitiansecara random, disimpulkan bahwa tidak ada pengobatan yang dapat dianggap pasti,
dalam arti kata memperoleh penurunan dampak tinnitus dalam jangka panjang dan dapat
terulang.
Laporan bahwa lidocain menghapuskan tinnitus membangkitkan harapan bahwa obatobat antiaritmia yang lain akan efektiv. Lidocain harus diberikan secara intravena dalam dosis
besar, memiliki durasi kerja yang pendek, dalam batas-batas tertentu mengeksaserbasi tinnitus
dan berhubungan dengan efek-efek samping yang jelas dalam analisa pada 7 percobaanpercobaan klinik secara random dari tocainide, ini melibatkan kurang dari 1200 mg/hari
menunjukan bahwa tidak ada hasilnya, sedangkan percobaan-percobaan dengan menggunakan
dosis yang lebih tinggi hasilnya tidak bermanfaat. Percobaan klinik secara random dari flecainide
dan mexiletine ditandai dengan efek-efek obat yang meningkat mencapai 70% dari peserta atau
kira-kira 50% pada pasien drop out.
Benzodiazepine belum efektif dalam mengendalikan tinnitus atau telah digunakan dalam
percobaan-percobaan yang hasilnya tidak dapat diinterpretasi, dalam suatu percobaan klinis
secara random dari 40 subjek, tinnitus bertambah baik dalam 76 % dari mereka yang menerima
alprazolam, dibandingkan dengan 5% dari mereka yang menggunakan placebo, akan tetapi
penelitian ini telah dikritik karena tidak adanya cross over design dan kemungkinan unblidinding
akibat sedasi. Penggunaan diazepine hendaknya ditekan dengan laporan bahwa tinnitus dapat
timbul lagi setelah pengobatan selesai dan menyebabkan depresi berat. Empat percobaan klinik

16

secara random dari carbamazepine dan percobaan dari antikonvulsan-antikonvulsan lain gagal
untuk menunjukan manfaatnya.
Banyak pasien mencoba pengobatan-pengobatan tambahan atau alternative : ekstrak
ginkgo biloba dan akupuntur termasuk terapi yang paling popular. Penelitian yang mutakir
melaporkan, tidak bermanfaat pada 500 pasangan subjek yang ditentukan secara random untuk
menerima ginkgo biloba atau placebo. Analisa yang lebih dini dari satu tidak dipublikasikan dan
empat dipublikasikan pada percobaan klinik secara random dari ginkgo biloba, menyimpulkan
bahwa hasil percobaan adalah baik, tapi kesimpulan yang kuat tentang kemujaraban dan efisiensi
adalah tidak mungkin. Perbedaan-perbedaan dalam hasil dan titik akhir, mungkin menerangkan
tentang hasil-hasil yang bervariasi suatu analisa tentang 6 percobaan klinik secara random dari
akufuntur untuk tinnitus, gagal untuk menunjukan suatu kemujarabannya.
Pengobatan retraining terhadap tinnitus memperoleh popularitas yang meningkat dengan
laporan perbaikan dalam 75% dari pasien-pasiennya. Rasionalnya untuk pengobatan retraining
terhadap tinnitus, berdasarkan atas model phisiologi yang berhubungan dengan emosi negative
dengan aktivitas syaraf yang berhubungan dengan tinnitus. Pusat-pusat pengobatan retraining
tinnitus menggunakan suatu TIM dari dokter-dokter ahli pendengaran dan dokter ahli dalam
suatu program yang menggabungkan pemeriksaan-pemeriksaan dengan konseling. Terapi ini
biasanya membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk pengobatan yang sempurna. Tujuannya ialah
supaya pasien-pasien terbiasa terhadap suara dari tinnitus agar lebih baik. Kritik-kritik dalam
pengobatan retraining terhadap tinnitus menyebutkan kekurangan-kekurangan yang berhubungan
dengan pemilihan dari kelompok control, ukuran terhadap hasil yang berorientasi pada psikologi,
dengan proses secara menseleksi subjek dan ketidakmampuan untuk memisahkan efek bising
generator dari komponen-komponen lain dari pengobatan. Bentuk lain dari pengobatan
berdasarkan psikologi termasuk hipnotik, terapi relaksasi, dan biofeedback, telah dihasilkan
suatu hasil gabungan bahwa pada umumnya untuk membantu penggunaannya.
Alat-alat penutup yang digunakan untuk menutupi suara-suara yang tidak dikehendaki
dan mendapat keringanan untuk beberapa pasien yang dapat merespon terhadap alat penutup
tersebut selama pemeriksaan audiologi. Berbagai variasi dalam karakteristik dari tinnitus tidak
menunjukan indicator yang dapat dipercaya dari kemungkinan dan keberhasilan suatu alat
penutup. Alat Bantu dengar dan alat-alat yang ditanamkan pada koklear dapat juga memberikan

17

keringanan, tetapi alat tersebut biasanya digunakan dalam pengobatan pada pasien-pasien yang
kehilangan pendengaran dan tidak digunakan pada tinnitus.
Walaupun ada beberapa laporan yang menyatakan perbaikan post tinnitus setelah
dekompresi microvaskuler dari syaraf pendengaran, pengobatan yang digunakan secara bedah,
yaitu secara transeksi syaraf, masih controversial.
Ada beribu-ribu web.site dengan informasi tentang tinnitus dan banyak pasien datang ke
kantor-kantor untuk mencari pengobatan yang spesifik. Tekanan untuk melakukan sesuatu
agaknya sangat kuat. Para klinisi harus peduli pada harapan-harapan ini tanpa menggunakan
resep/obat penenang, karena tidak ada pengobatan yang efektif secara seragam, maka hubungan
yang erat antara dokter dengan pasien adalah penting. Pendidikan dan penjaminan adalah alatalat yang sangat berkekuatan. Oleh karena publikasi berhubungan dengan kualitas hidup
mungkin secara terpusat masih sulit untuk ditetapkan atau diukur secara tepat. Maka percobaanpercobaan secara empiris dari obat-obat anti depresi, penghilang ketakutan, atau terapi medis
secara komplementer atau terapi medis alternative mungkin dapat dilakukan setelah didiskusikan
tentang resiko dan manfaat dan identifikasi dari hal-hal sebelum ditetapkan. Banyak pasienpasien yang dapat diobati secara puas dengan menggunakan cara pendekatan ini.

18

DAFTAR PUSTAKA

Adams, L George, dkk.2012. Buku Ajar Penyakit THT BOIES edisi 6. Jakatra: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Madjid, Baedah, dkk (Ed). 2007. Buku Manual CSL Sistem Indra Khusus. Jakarta : Fakultas
Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Rukmini sri, Herawati sri. 2000. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan

Tenggorok.

Jakarta : EGC.
Soepardi, Efiaty Arsyad, dkk.2001. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi 5. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
Soepardi, Efiaty Arsad, dkk (Ed.). 2003. Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung
Tenggorok Edisi ketiga. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

19