Anda di halaman 1dari 18

MIKROSIRKULASI

LAPORAN

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Fisiologi Hewan dan Manusia


yangdibimbingoleh Dr. Abdul Gofur, M.Si dan Dra. Susilowati, M.S.

Disusun oleh:
Offering G
Kelompok 3
Alifia Yulianita

(130342603487)

Indah NurFadlina

(130342603488)

KhaizzatulMufarrokhah

(130342615330)

NiningNurnaningsih

(130342603497)

Suhartini

(130342603499)

Zulham Dwi F.

(130342615331)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
NOVEMBER 2014

A. Topik
Mikrosirkulasi

B. Tujuan
1. Untuk meningkatkan pemahaman tentang mikrosirkulasi pada katak dan
hewan yang memiliki sistem sirkulasi tertutup pada umumnya.
2. Untuk meningkatkan pemahaman tentang pengaruh berbagai rangsangan
yang langsung diberikan secara lokal pada arteriole, kapiler, dan venula.

C. Dasar Teori
Mikrosirkulasi merupakan tempat terjadinya dan pertukaran zat antara
darah dan jaringan tubuh. Tempat terjadinya pertukaran tersebut persisnya
adalah pada kapiler, yang merupakan pembuluh darah sangat halus dan hanya
dapat diamati pada jaringan yang sangat tipis dan tembus cahaya. Lidah dan
selaput renang katak merupakan bagian yang sangat cocok untuk tempat
pengamatan. Di bagian ini aliran darah melalui kapiler dan peubahannya
karena pengaruh eksperimental mudah diamati dengan mikroskop cahaya.
Jaringan lain pada katak yang juga dapat digunakan sebagai tempat
pengamatan adalah enggantung usus (mesenteron) dan kandung kencing.
Diameter pembuluh darah halus (arteriole, kapiler dan venula) dapat
dikenali dari jumlah sel darah merah yang berbasis di dalamnya, dan juga
kecepatan aliran darahnya. Pembuluh darah yang paling kecil, yaitu kapiler
hanya dapat dilewati sel darah merah apabila sel darah merah berbasis satu
per satu. Bila pembuluh darah halus hanya dapat dilewati sel darah merah
dengan berbasis-basis dua-dua, maka pembuluh darah tersebut adalah arteriole
atau venula. Pembuluh darah yang lebih besar dapat dilewati sel darah merah
dengan berbasis lebih banyak lagi. Dengan mengamati aliran darah di
dalamnya, dapat dibedakan antara arteriole denagn venula.
Pengendalian oleh saraf juga ditujukan kepada pembuluh darah,
terutama arteriol-arteriol agar vasodilatasi atau vasokontriksi. Vasodilatasi

pada arteriol akan menyebabkan darah dalam arteri mengalir dengan lancar
dan tekanan darah cenderung turun, sedangkan vasokontiksi arteriol
menyebabkan pengumpulan darah dalam arteri arteri sehinnga tekanan darah
cenderung naik (Soewolo, 2000).
Secara umum arteri dikontrol oleh banyak mekanisme dari pada
kapiler. Diameter arteriol dipengaruhi oleh saraf, zat kimia, dan hormon.
Kapiler diregulasi terutama oleh faktor-faktor jaringan lokal seperti
konsentrasi O2, CO2, dan pH. Meabolisme lokal menyebabkan membuka dan
menutupnya sfingter kapiler. Kecepatan aliran darah dalam kapiler
dipengaruhi oleh perubahan diameter arteri dan arteriole. Penyempitan pada
arteriole menyebabkan lambatnya aliran darah di dalam kapiler. Arteriole juga
dapat merespon rangsangan langsung yang mengenainya yang akan tampak
pada perubahan diameternya.

D. Alat dan bahan


Alat :
1.

Papan dan alat seksi

2.

Triplek belubang

3.

Mikroskpo cahaya

4.

Lampu spiritus

5.

Kapas

6.

Jarum bundel

7.

Kertas Hisap

Bahan:
1.

Air Dingin

2.

Larutan Ringer

3.

Epinefrin 1/5000

4.

Asetilkolin 1/5000

5.

Asam asetat 1 %

6.

Katak

7.

Air hangat

E. Cara kerja
1. Pengamatan mikrosirkulasi pada selaput renang katak
Melakukan singel pith pada katak

Membungkus tubuh katak dengan kapas basah, kemudian


bungkus dengan plastik

Merentangkan selaput renang salah satu kaki belakang sehingga


menutup lubang papan triplek

Mengatur sedemikian rupa sehingga selaput terletak antara


sumber cahaya dan lensa obyektif

Mengamati dan menggambar pembuluh darahnya

Menentukan arteriole, kapiler dan venulanya

Menetesi slaput renang secara bergantian dengan air dingin, air


hangat, adrenalin 1/5000, asetilkolin 1/5000, dan asam asetat 1%

Mengamati dan mencatat apa yang terjadi pada arteriole, kapiler,


dan venula

Membersihkan selaput renang dengan menghisap menggunakan


kertas hisap sebelum ditetesi larutan baru.

2. Pengamatan mikrosirkulasi pada lidah katak


Melakukan singel pith pada katak

Membungkus tubuh katak dengan kapas basah, kemudian


bungkus dengan plastik

Mengikat katak pada triplet yang berlubang, dan dengan hati-hati


tarik lidah katak keluar dan mengatur agar posisi lidak katak
menutupi lubang pada triplek

Meletakkan triplek pada meja mikroskop dan mengatur


sedemikian rupa sehingga lidah katak terletak sumber cahaya
dan lensa obyektif
Menjaga agar lidah katak selalu dalam keadaan lembab dengan
menetesi larutan ringer

Mengamati dan menggambar otot, serabut saraf, dan pembukuh


darahnya

Menentukan arteriole, venula dan kapiler dengan membandingkan


ukuran penampang pembuluh darah dan aliran darahnya

Mengamati gerak vasodilatasi dan vasokontriksi selama periode


waktu tertentu

Mencari kapiler berbentuk spiral, kemudian menggambar dan


mendiskusikan mengapa demikian

Mengamati dan mencatat fleksibilitas sel darah merah pada saat


melewati kapiler atau aliran darah yang berbelok

Mengamati agak lama dengan teliti, mungkinmenemukan kapiler


beberapa saat menghilang dan pada saat lain muncul kembali.
Mencatat dan mendfiskusikan mengapa terjasi perubahan
tersebut

Menekan lidah secara hati-hati dengan ujung jarum, mengamati


dan mencatat apa yang terjadi pada pembuluh darahnya
Menetesi lidah secara bergantian dengan air dingin, air hangat,
adrenalin 1/5000, asetilokolin 1/5000 dan asam asetat 1%.
Mengamati dan mencatat yang terjadi pada arterole, kapiler dan
venulanya

Membersihkan selaput renang dengan menghisap menggunakan


kertas hisap sebelum ditetesi larutan baru

3. Pengamatan pada mikrosirkulasi mesenteron katak

Melakukan singel pith pada katak

Menyiapkan papan triplek berlubang, ukuran 1 cm dan


buat sedikit tonjolan melingkari lubang tersebut dengan
plastisin.

Menggunakan katak yang sama, membuat pembedahan kecil pada


dinding abdomennya dan hati-hati tarik keluar intestinnya telah
disiapkan

Amati dibawah mikroskop, bandingkan bentuk dan panjang


pembuluh darahnya dengan pembuluh darah pada lidah.

Menentukan arteriol, kapiler dan venulanya.

Memberi perlakuan dengan menetesinya dengan air dingin, air


hangat, epinefrin 1/5000, asetilkolin 1/5000, dan terakhir dengan
asam asetat 1%

Amati

dan

catat

pengaruh

zat-zat

tersebut

terhadap

konstriksi/dilatasi pembuluh darah dan bandingkan dengan pada


lidah dan selaput renang.
G. Analisis Data
Pada percobaan mikrosirkulasi katak bagian selaput renang
dibutuhkan jaringan yang masih hidup karena akan mengamati aliran darah
yang berada dipembuluh darah bagian selaput renang. Dan dibawah
mikroskop ini ditemukan 3 pembuluh darah yaitu arteriola, venula, dan
kapiler dimana pada perlakuan kontrol atau normal. Didapat ciri-ciri arteriola
arah alirannya meninggalkan jantung, diameternya lebih besar dari kapiler
tapi tidak lebih lebar dri venula, dilewati sel lebih banyak dari kapiler tapi
masih lebih banyak venula, dan kecepatannya cepat . Dan pada venula
ditemukan ciri sebagai berikut arah aliran darah menuju jantung, diameternya
paling lebar atau besar, dilewati oleh banyak sel darah dan kecepatannya
alirannya cepat. Pada kapiler arah alirannya meninggalkan jantung,
diamternya paling kecil diantara 3 pembuluh ini, hanya dilewati 1 sel darah
merah dan kecepatannya lambat namun terlihat cepat.
Pada perlakuan air dingin diamter dari ketiga pembuluh tetap terlihat sama
dan kecepatannya aliran darah pada arteriola terlihat sama, pada pembuluh
venula kecepatannya jado lebih lambat begitupun juga pada kapiler.
Pada perlakuan air hangat diamter dari ketiga pembuluh tetap terlihat sama
dan kecepatannya aliran darah pada arteriola terlihat lebih cepat dari pada
kontrol, pada venuka juga terlihat lebih cepat dari kontrol dan pada kapiler
kecepatan terlihat sama seperti kontrol.
Pada perlakuan adrenalin ketiga pembuluh darah yaitu arteriola, venula, dan
kapiler memberikan respon seperti diamter yang lebih lebar dari keadaan
kontrol dn kecepatan aliran darah yang lebih cepat. Pada perlakuan asetil
kolin diameter arteriola,venula dan kapiler jadi lebih sempit dan kecepatan

aliran darah jadi lebih lambat dari pada kontrol. Pada pemberian asetat 1%
diameter arteriola, venula, dan kapiler jadi sempit dan alirannya jadi lebih
lambat dari pada kontrol.
Pada percobaan mikrosirkulasi katak bagian lidah dibutuhkan jaringan
yang masih hidup karena akan mengamati aliran darah yang berada
dipembuluh darah bagian lidah. Dan dibawah mikroskop ini ditemukan 3
pembuluh darah yaitu arteriola, venula, dan kapiler dimana pada perlakuan
kontrol atau normal. Didapat ciri-ciri arteriola arah alirannya meninggalkan
jantung, diameternya lebih besar dari kapiler tapi tidak lebih lebar dri venula,
dilewati sel lebih banyak dari kapiler tapi masih lebih banyak venula, dan
kecepatannya cepat . Dan pada venula ditemukan ciri sebagai berikut arah
aliran darah menuju jantung, diameternya paling lebar atau besar, dilewati
oleh banyak sel darah dan kecepatannya alirannya cepat. Pada kapiler arah
alirannya meninggalkan jantung, diamternya paling kecil diantara 3 pembuluh
ini, hanya dilewati 1 sel darah merah dan kecepatannya lambat namun terlihat
cepat.
Pada perlakuan air dingin diamter dari ketiga pembuluh tetap terlihat sama
dan kecepatannya aliran darah pada arteriola,venula dan kapiler terlihat
sedikit lebih lambat dari pada kontrol. Pada perlakuan air hangat ukuran
diamter ketiga pembuluh darah masih terlihat sama dan ketiga pembuluh
darah kecepatan aliran darahnya meningkat setelah pemberian air hangat.
Pada perlakuan adrenalin ketiga pembuluh darah yaitu arteriola, venula, dan
kapiler memberikan respon seperti diamter yang lebih lebar dari keadaan
kontrol dn kecepatan aliran darah yang lebih cepat. Pada perlakuan asetil
kolin diameter arteriola,venula dan kapiler jadi lebih sempit dan kecepatan
aliran darah jadi sangat lambat. Pada pemberian asetat 1% diameter arteriola,
venula, dan kapiler jadi sempit dan alirannya jadi lambat namun tidak
selambat asetil kolin.

H. Pembahasan
a. Mikrosirkulasi Selaput renang
Mikrosirkulasi merupakan peredaran darah kecil yang paling utama,
yang terdiri dari arteri, arteriol, kapiler, vena dan venula yang hanya dapat
dilihat secara mikroskopis karena berukuran kecil.( Ganong, 2002). Arteri
disusun oleh otot polos dan mengandung serat kolagen dan serat elastik. Otot
polos tersebut akan membesar dan mengecil sesuai dengan kebutuhan oksigen
yang diperlukan sehingga dengan adanya otot polos itu dapat menambah
setiap aliran darah ke sel yang membutuhkan. Pada percobaan mikrosirkulasi
ini dilakukan pada selaput renang yaitu dengan mengamati pembuluh darah
yang ada. Pada percobaan ini membutuhkan jaringan yang masih hidup,
karena akan mengamati aliran darahnya. Dalam pengamatan yang dilakukan
dibawah mikroskop ini ditemukan tiga jenis pembuluh darah yaitu venula,
anteriol dan kapiler. Dari ketiga pembuluh darah tersebut di dapat ciri-ciri dari
venula adalah diameter sedang, arah aliran darah menuju jantung, dan
kecepatan aliran darahnya cepat serta jumlah sel darah merah yang melewati
banyak. Untuk pembuluh kapiler mempunyai ciri-ciri yaitu diameternya
paling kecil, arah aliran darahnya meninggalkan jantung , dan kecepatan
aliran darahnya lambat, serta jumlah sel darah merah yang melewati hanya
satu sel, pada anteriol mempunyai ciri-ciri diameternya paling besar, aliran
darahnya meninggalkan jantung, kecepatan aliran darahnya sedang, jumlah sel
darah merah yang melewati banyak.
Dari percobaan yang telah dilakukan jumlah sel darah pada anteriol, venula,
dan kapiler sudah sesuai dengan teori, sedangkan dari hasil percobaan yang
telah dilakukan kecepatan aliran darah pada anteriol sudah sesuai dengan teori
tetapi, terdapat kesalahan mengenai tingkat kecepatan antara kapiler dan
venula. Seharusnya kecepatan aliran darah jika di urutkan dari yang tercepat
sampai terlambat adalah anteriol, kapiler, dan venula. Kesalahan dan
kekurangan tersebut dimungkinkan karena kurangnya ketelitian dalam

pengamatan. Kapiler adalah pembuluh berdinding tipis yang terdiri dari


selapis sel endotel pipih. Lumennya pun sangat sempit dibandingkan
pembuluh lainnya, hal ini dapat dikaitkan dengan fungsinya sebagai lokasi
pertukaran gas dan nutrisi yang distribusikan oleh eritrosi. Pada kecepatan
aliran darah yang paling cepat adalah anteriol, dan yang paling lambat adalah
venula. Kemungkinan hal ini karena anteriol mengalirkan darah dari jantung,
darah yang di pompa oleh jantung mempunyai kecepatan yang sangat cepat.
Sedangkan venula aliran darahnya dari organ yang tidak di pompa. Arah
aliran darah pada kapiler adalah keluar jantung, hal ini dapat di kaitkan
dengan tugasnya sebagai lokasi pertukaran gas dan nutrisi yang di
distribusikan oleh darah(Nurhayati, dkk. 2011).
Pengaruh rangsangan diberi 5 perlakuan, yaitu tanpa perlakuan (normal),
pemberian air dingin, pemberian air hangat, pemberian epinefrin, pemberian
asetil kolin, dan pemberian asam asetat. Pada pengamatan selaput renang
katak, didapatkan hasil bahwa dalam keadaan normal kecepatan aliran darah
tercepat pada anteriol kemudian venula, dan kapiler. Hal ini memang kurang
tepat dengan teori yang telah di sebutkan sebelumnya bahwa kecepatan aliran
darah yang paling lambat adalah venula sedangkan kapiler mempunyai
kecepatan sedang.
Perlakuan selanjutnya yaitu selaput renang katak ditetesi dengan air dingin,
dari perlakuan tersebut didapat hasil bahwa kecepatan aliran darah pada
anteriol turun, kecepatan aliran darah pada kapiler juga menurun, sedangkan
kecepatan aliran darah pada venula juga menurun. Hal tersebut sudah sesuai
dengan teori. Saat ditetesi air dingin, aliran darah menjadi lambat. Hal ini
disebabkan mengkerutnya otot-otot polos pada pembuluh darah menjadi kecil
yang disebut vasokontraksi. Mengecilnya pembuluh darah ini menyebabkan
resistensi anteriol meningkat dan terjadilah penurunan aliran darah
(Sherwood, 2001) darah menjadi lebih kental, sehingga aliran darah menjadi
lambat.

Pada saat di tetesi air hangat , aliran darah pada selaput renang katak
meningkat, artinya kecepatan darah meningkat dari perlakuan sebelumya. Hal
ini sudah sesuai dengan teori. Pada saat di tetesi air hangat, aliran darah lebih
cepat karena air panas membuat diding pembuluh darah menjadi lemas dan
mudah membesar (vasidilatasi). Vasodilatasi juga menyebabkan penurunan
resistensi anteriol, sehingga akan lebih banyak darah yang mengalir ke
daerah-daerah dengan resistensi anteriol rendah (shewood, 2001).
Setelah diteteskan epinefrin, kecepatan aliran darah meningkat pada kapiler
sedangkan pada anteriol dan veluna kecepatanya tetap. Pada kapiler sudah
sesuai dengan teori yang telah di kemukakan. Sedangkan pada venula dan
kapiler terjadi kesalahan pada saat pratikum. Menurut Aminah (2011), pada
penambahan epinefrin terjadi peristiwa vasokonstriksi yang mengakibatkan
penyempitan diameter pembuluh drah, sehingga kecepatan aliran darah
meningkat.
Setelah selaput renang katak ditetesi dengan asetil kolin, kecepatan aliran
darah mengalami penurunan. Asetil kolin adalah suatu senyawa ammonium
kuantener yang tidak mampu menembus membran. Walaupun sebagai
neutransmiter saraf parasimpatis dan kolinergik, namun dalam terapi zat ini
kurang penting karena beragam kerjanya dan sangat cepat diinaktifkan oleh
asetilko linestemse. Aktivasinya berupa muskarinik dan nikotinik kerjanya
pada saluran pencernaan dapat meningkatkan sekresi saliva, memacu sekresi
dan gerakan usus (Mycek, 2001).
Setelah selaput katak dengan asam asetat, kecepatan aliran darah tidak
mengalami perubahan dari perlakuan sebelumnya. Hal ini belum sesuai
dengan teori, karena seharusnya kecepatan aliran darah juga semakin cepat.
Hal ini dimungkinkan karena kurang teliti saat pengamatan. bahwa kecepatan
aliran darah semakin meningkat jika ditambahkan dengan asam asetat.
Penetesan asam asetat dapat merangsang potensial aksi otot polos dan

meningkatkan

prodoksi

sitosol

yang

diproduksi

endoplasmic system. Dengan meningkatnya kadar

di

retikulum

, otot polos

berkontraksi. Kontraksi tiba-tiba inilah yang memompa darah pada area


tersebut untuk terdorong ke depan dan mempercepat aliran darah.
b. Mikrosirkulasi lidah katak
Pada percobaan mikrosirkulasi kedua adalah pada lidah katak, yaitu
dengan mengamati pembuluh darah yang ada. Pada percobaan ini
membutuhkan jaringan yang masih hidup, karena akan mengamati aliran
darahnya. Dalam pengamatan yang dilakukan dibawah mikroskop ini
ditemukan tiga jenis pembuluh darah, yaitu venula, kapiler, dan
arteriol.Dari ketiga pembuluh darah tersebut didapatkan ciri ciri
dari venula berwarna merah, diameternya sedang, arah aliran darah
keluar organ dan menuju jantung, dan kecepatan aliran darahnya
cepat, serta jumlah sel darah merah yang melewati banyak. Untuk
pembuluh kapiler mempunyai ciri ciri yaitu berwarna merah muda,
diameternya paling kecil diantara 3 tipe ini, arah aliran darahnya
keluar organ dan menuju jantung, dan kecepatan aliran darahnya
lambat, serta jumlah sel darah merah yang melewati hanya satu sel.
Pada

arteriol

mempunyai

ciriciri

berwarna

merah

pekat,

diameternya paling besar diantara 3 tipe ini, aliran darahnya ke arah


organ dan meninggalkan jantung, kecepatan aliran darahnya sedang,
serta jumlah sel darah merah yang melewati banyak. (Subiyanto, 1993).
Dalam mikrosirkulasi akan timbul keadaan dimana aliran darah akan berubah.
Aliran darah dapat menjadi lebih lambat ketika pembuluh darah menyempit
atau diameter pembuluh darah internal yang menjadi lebih kecil yang disebut
vasokonstriksi, dan aliran darah dapat menjadi lebih cepat ketika pembuluh
darah yang menjadi lebih luas atau diameter pembuluh darah internal menjadi
lebih besar akibat relaksasi otot polos yang dari pembuluh darah tersebut,
keadaan ini disebut vasodilatasi.

Diameter pembuluh darah dapat diamati dan dikenali dari jumlah sel darah
merah yang berbaris di dalamnya, dan juga kecepatan aliran darahnya.
Pembuluh darah yang paling kecil yaitu kapiler hanya dapat dilewati sel darah
merah berbaris satu per satu. Bila pembuluh darah halus hanya dapat dilewati
sel darah merah dengan berbaris-baris dua-dua, maka pembuluh darah tesebut
adalah arteriol atau venula. Pembuluh darah yang lebih besar dapat dilewati
sel darah merah dengan berbaris lebih banyak lagi. (Tim Pembina Matakuliah
Fisiologi Hewan, 2011).
Pada pengamatan mikrosirkulasi peredaran darah katak, pengamat mengamati
3 pembuluh darah yaitu arteriola, venula, dan kapiler. Perlakuan yang
diberikan untuk mengamati mikrosirkulasi lidah katak menimbulkan efek
yang spesifik. Pada perlakuan pertama, menetesi lidah dengan air dingin,
terlihat di bawah mikroskop dengan perbesaran 40x10 bahwa aliran darah
mulai berjalan lebih lambat. Fenomena ini juga disebabkan oleh
kefleksibilitasan sel darah merah dalam beredar di dalam pembuluh. Hal ini
sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa mengompres dengan es ke suatu
daerah yang meradang akan menimbulkan vasokontriksi, yang mengurangi
pembekakan dengan melawan vasodilatasi yang diinduksi oleh histamine
(Sherwood, 2001).Selain itu, pembuluh venula, dan arteriola menunjukan
penyempitan pembuluh (vasokontriksi). Efek ini berlawanan dengan
penetesan air hangat pada lidah katak. Pemberian stimulus air dengan suhu
yang hangat akan melancarkan aliran darah dalam pembuluh, karena
fleksibilitasan sel daah merah beredar dalam pembuluh darah tinggi, dan
diameter pembululuh bertambah lebar (vasodilatasi). Namun, salah satu
sumber (Sherwood, 2001) kompres panas adalah suatu cara terapi yang
bermanfaat untuk meningkatkan aliran darah kesuatu daerah, karena panas
menyebabkan vasodilatasi arteriol local. Dari dua pengamatan ini mampu
disimpulkan bahwa suhu juga mempengaruhi kelancaran aliran darah melalui
perbedaan kefleksibelitasan sel darah merah dan diameter pembuluh
darah.Selain itu, kelancaran aliran darah juga dapat dipengaruhi oleh reaksi

yang diberikan oleh zat kimia ke darah. Sebagai bahan pengamatan, ketika
penetesan adrenalin, asetikolin, dan asam asetat 1%. Ketiga zat tersebut
memberikan efek yang berbeda pada aliran darah. Seperti pada pemberian
epinefrin pada lidah katak, aliran darah pada mikrosirkulasi darah lebih cepat
dibanding pembrian asetil kolin dan asetat, pada pengamatan yang kami
lakukan sudah sesuai teori karena pembuluh mengalami vasodilatasi atau
pelebaran. Menurut (Neal, 2006:17). Pemberian epinefrin pada kadar sedikit
akan menyebabkan kecepatan aliran darah pada pembuluh darah meningkat
lebih cepat, karena diameter pembuluh darah mengecil. Hal tersebut juga
sesuai dengan Campbell (2004:144) yang menyatakan bahwa adrenalin atau
epinefrin juga mempunyai pengaruh yang mendalam dan kuat dalam system
kardiovaskuler dan system respirasi, yakni meningkatkan denyut jantung dan
melebarkan bronkiolus paru-paru, yang meningkatkan laju pengiriman
oksigen ke sel-sel tubuh.
Pada perlakuan pemberian asetil kolin didapatkan hasil pengamatan bahwa
asetil kolin bekerja lebih lambat dari pada asetat dan adrenalin sedangkan
asetat juga bekerja lambat tetapi lebih cepat dari asetil kolin. Hal tersebut
sudah sesuai menurut teori karena asetikolin dan asam asam asetat
memberikan efek mempersempit pembuluh darah atau vasokontriksi,
sehingga menghambat aliran darah dan mempengaruhi kefleksibiltasan sel
darah merah untuk beredar di pembuluh.Untuk bagian jaringan spiral pada
lidah yang di duga saraf indra pengecap tidak terlihat sehingga tidak dapat
diamati. Berhubungan dengan kecepatan aliran darah pada pembuluh darah,
Muttaqin (2009:8) menyatakan bahwa asetilkolin merupakan zat yang di
dalam tubuh dilepaskan oleh ujung saraf parasimpatis, meningkatkan
permeabilitas ion kalium akibat menurunnya denyutan. Penurunan transmisi
akan menurunkan denyut jantung,volum sekuncup serta curah jantung.
Asetilkolin menyebabkan dilatasi pembuluh darah atau perluasan diameter
pembuluh darah yang menyebabkan kecepatan aliran darah menurun. Hal ini

dibuktikan dengan hasil pengamatan kami yang memperlihatkan setelah


ditetesi asetil kolin , terlihat kecepatan aliran darah pada arteriol, kapiler, serta
venulla menurun. Pada perlakuan asam asetat juga memperlihatkan
kelambatan dari aliran darah. Hal ini terjadi karena menurut Marks (2000:282)
bahwa dalam darah asam asetat akan diubah menjadi asetilkolin, dan yang
seperti sudah dibahas pada perlakuan sebelumnya, asetilkolin dapat
memperlambat kecepatan aliran darah karena asetilkolin menyebabkan
dilatasi pembuluh darah.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa cairan lebih mengalir deras melalui
pembuluh berukuran besar daripada melalui pembuluh yang ukuran kecil,
karena dipembuluh berukuran kecil darah dengan volume tertentu berkontrak
dengan lebih banyak permukaan dari pada di pembuluh besar sehingga
resistensi meningkat.(Sherwood, 2001).
c. Mikrosirkulasi mesenteron katak

I. Kesimpulan
1. Pada percobaan pengamatan mikrosirkulasi selaput renang, lidah, dan
mesenteron pada katak didapatkan hasil pengamatan diameter sedang,
arah aliran darah menuju jantung, dan kecepatan aliran darahnya cepat
serta jumlah sel darah merah yang melewati banyak. Untuk pembuluh
kapiler diameternya paling kecil, arah aliran darahnya meninggalkan
jantung , dan kecepatan aliran darahnya lambat, serta jumlah sel darah
merah yang melewati hanya satu sel, pada anteriol diameternya paling
besar, aliran darahnya meninggalkan jantung, kecepatan aliran darahnya
sedang, jumlah sel darah merah yang melewati banyak.
2.

Pada percobaan pengamatan mikrosirkulasi selaput renang, lidah, dan


mesenteron pada katak untuk pemberikan efek Suhu dan zat kimia pada
aliran darah di lidah katak. Suhu tinggi dan adrenalin akan memicu
terjadinya vasodilatasi (pelebaran) sehingga aliran darah akan lancar,

sedangakan suhu dingin, asetokolin, dan asam asetat 1% cenderung


menimbulkan vasokontriksi (penyempitan) sehingga aliran darah menjadi
lambat.

J. Daftar Pustaka

Aminah, Tri S. 2009. Mikrosirkulasi. (Online),


(http://www.scribd.com/scribd/Mikrosirkulasi, diakses 10 November
2014)
Arif, Muttaqin.2008.Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskoskeletal .Jakarta: EGC
Campbell, J. B. Reece, L. G dan Mitchell. 2004. Biologi. Edisi kelima.
Jilid 3. Jakarta : PenerbitErlangga.
Marks D. B., Marks A. D., Smith C. M., 2000. Biokimia Kedokteran
Dasar. Edisi Ke-1. Jakarta: EGC. Judul Asli; Basic Medical
Biochemistry: A Clinical Approach.
Mycek, M.J.(1995), Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi kedua. Jakarta:
Widya Medika. Hal. 226-228
Neal, Michael J. (2006). Farmakologi Medis. Edisi kelima. Erlangga.
Nurhayati, dkk. 2011. Darah pada Manusia dan Hewan Vertebrata dan
Sirkulasi Darah pada Vertebrata.
(Online)(http://www.scribd.com/scribd-Darah_Dan_Sirkulasi-BARU)
diakses 12 Maret 2011)
Rahayu, Sri, dkk. 2011. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan. Malang:
FMIPA
Sherwood. 2001.Fisiologi Manusia dariSel ke Sistem.Jakarta: Penerbit
BukuKedokteran EGC
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. PPGSM: Depdiknas
Subiyanto. 1993. Fisiologi Hewan. IKIP Malang: FMIPA Biologi

I. Lampiran

Gambar : Mikrosirkulasi Mesenteron

Gambar : Mikrosirkulasi Lidah