Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN ACUTE MIELOGNEUS LEUKEMIA (AML)

A. Pengertian
Leukemia mielogeneus akut (AML) merupakan system sel hematopoetik yamg
kelak berdiferensiasi ke semua sel myeloid; monosit, granulose (basofil, neutrofil,
eusinofil), eritrosit dan trombosit.
Semua kelompok usia dapat terkena; insiden meningkat sesuai bertambahnya
usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang sering terjadi
Acute non lymphoid (mielogenous) leukemia (ANLL atau AML) adalah salah satu
jenis leukemia; dimana terjadi proliferasi neoplastik dari sel myeloid (ditemukannya
sel myeloid: granulosit, monosit imatur yang berlebihan). AML meliputi leukemia
mieloblastik akut, leukemia monoblastik akut, leukemia mielositik akut, leukemia
monomieloblastik, dan leukemia granulositik akut.
B. Etiologi
Seperti halnya leukemia jenis ALL (acute lymphoid leukemia), etiologi AML sampai
saat ini belum diketahui secara pasti, diduga karena virus (virus onkogenik). Factorfaktor lain yang ikut berperan adalah:
1. Factor endogen :
Factor konstitusi seperti kelainan kromosom (resiko terkena AML meningkat pada
anak yang terkena down sindrom), herediter (kadang-kadang dijumpai kasus
leukemia pada kakak beradik atau kembar satu telur).
2. Factor eksogen :
Seperti sinar X, sinar radioaktif, hormone,(benzol, arsen, preparat sulfat), infeksi
(virus, bakteri; organism yang paling sering adalah bakteri gram negative seperti
E. coli dan pseudomonas, serta infeksi fungus).
C. Patofisiologi
Jaringan pembentuk darah ditandai oleh pergantian sel yang sangat cepat.
Normalnya, produksi sel darah tertentu dari prekusor sel stem diatur sesuai
kebutuhan tubuh. Apabila mekanisme yang mengatur produksi sel tersebut
terganggu, sel akan membelah diri sampai ke tingkat sel yang membahayakan
(proliferasi neoplastik). Proliferasi neoplastik dapat terjadi karena kerusakan sumsum
tulang akibat radiasi, virus onkogenik, maupun herediter.
Sel polimorfonuklear dan monosit normalnya dibentuk hanya dalam sumsum
tulang. Sedangkan limfosit dan sel plasma dihasilkan dalam berbagai organ limfogen
(kelenjar limfe, limpa, timus, tonsil). Beberapa sel darah putih yang dibentuk dalam
sumsum tulang, khususnya granulosit, disimpan dalam sumsum tulang sampai

mereka dibutuhkan dalam sirkulasi. Bila terjadi kerusakan sumsum tulang, misalnya
akibat radiasi atau bahan kimia, maka akan terjadi proliferasi sel-sel darah putih
yang berlebihan dan imatur. Pada kasus AML, dimulai dengan pembentukan kanker
pada sel mielogen muda (bentuk dini neutrofil, monosit, atau lainnya) dalam sumsum
tulang dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh sehingga sel-sel darah putih
dibentuk pada banyak organ ekstra medula.
Sedangkan secara imunologik, patogenesis leukemia dapat diterangkan sebagai
berikut. Bila virus dianggap sebagai penyebabnya (virus onkogenik yang mempunyai
struktur antigen tertentu), maka virus tersebut dengan mudah akan masuk ke dalam
tubuh manusia dan merusak mekanisme proliferasi. Seandainya struktur antigennya
sesuai dengan struktur antigen manusia tersebut, maka virus mudah masuk. Bila
struktur antigen individu tidak sama dengan struktur antigen virus, maka virus
tersebut akan ditolaknya. Struktur antigen ini terbentuk dari struktur antigen dari
berbagai alat tubuh, terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan
tubuh atau HL-A (Human Leucocyte Locus A). Sistem HL-A diturunkan menurut
hukum genetik, sehingga etiologi leukemia sangat erat kaitannya dengan faktor
herediter.
Akibat proliferasi mieloid yang neoplastik, maka produksi elemen darah yang lain
tertekan karena terjadi kompetisi nutrisi untuk proses metabolisme (terjadi
granulositopenia, trombositopenia). Sel-sel leukemia juga menginvasi tulang di
sekelilingnya yang menyebabkan nyeri tulang dan cenderung mudah patah tulang.
Proliferasi sel leukemia dalam organ mengakibatkan gejala tambahan : nyeri akibat
pembesaran limpa atau hati, masalah kelenjar limfa; sakit kepala atau muntah akibat
leukemia meningeal.

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis berkaitan dengan berkurangnya sel hematopoeitik normal
terutama, granulosit dan trombosit. Pasien sering menunjukkan gejala infeksi atau
perdarahan atau keduanya pada waktu diagnosis. Menggigil, demam, takikardi, dan
takipnea sering merupakan gejala yang muncul. Infeksi yang dapat mengenai semua
sistem organ. Selulitis, pnemonia, infeksi oral, abses perirektal, dan septikemia
merupakan sedikit contoh infeksi yang ditemukan pada populasi pasien ini.
Pasien dengan jumlah sel darh putih (SDP) meningkat secara nyata dan blas
dalam

sirkulasi (jumlah melebihi 200.000/mm3) dapat menunjukkan gejala

hiperviskositas. Gejala ini mencakup nyeri kepala, perubahan pengelihaatan,


kebingungan, dan dispnea, yang memerlukan leukoferesis (pembuangan sel darah
putih melalui pemisahan sel) dan kemotrapi yang tepat (linker, 2001). Tanda dan
gejala yang sering muncul antara lain:
1. Hipertrofi ginggiva
2. Kloroma spinal (lesi massa)
3. Lesi nekrotik atau ulserosa perirekal
4. Hepatomegali dan splenomegali (pada kurang lebih 50% anak)
5. Manifestasi klinik seperti ALL , yaitu

Bukti anemia, perdarahan, dan infeksi : demam, letih, pucat, anoreksia, petekia
dan perdarahan, nyeri sendi dan tulang, nyeri abdomen yang tidak jelas, berat
badan

menurun,

pembesaran

dan

fibrosis

organ-organ

sistem

retikuloendotelial (hati , limpa, dan limfonodus)

Peningkatan tekanan intrakranial karena infiltrasi meninges : nyeri dan kaku


kuduk, sakit kepala, iritabilitas, letargi, muntah, edema papil, koma.

Gejala-gejala sistem saraf pusat yang berhubungan dengan bagian sistem


yang terkena; kelemahan ekstremitas bawah, kesulitan berkemih, kesulitan
belajar, khususnya matematika dan hafalan (efek samping lanjut dari terapi).

E. Evaluasi Diagnostik
Diagnosis LNLA dapat dibuat berdasarkan gambaran darah tepi tetapi dibuktikan
dengan biopsi dan aspirasi tulang. Darah tepi dapat menunjukkan mieloblas dalam
sirkulasi yang meningkat, normal atau menurun dan penurunan jumlah granulosit
absolut. Jumlah trombosit juga menurun, sering di bawah 5.000. sumsum tulang
umumnya hiperselular, 30% sampai 90% mieloblas mengandung batang Auer. Auer
merupakan struktur seperti batang dalam sitoplasma mieloblas dan bersifat
diagnostik untuk leukemia mieloid akut. Unsur lain dalam sumsum tulang dapat
tertekan. Studi sitogenetik paling sering menunjukkan abnormalitas kromosom.
Terdapat perubahan metabolik, denagn peningkatan kadar asam urat dan laktat
hidrogenase yang terkait dengan kadar turnover SDP yang tinggi.
Evaluasi diagnostik yang dilakukan antara lain :
a. Hitung darah lengkap (CBC). Anak dengan CBC kurang dari 10.000/mm 3 saat
didiagnosis, memiliki prognosis paling baik. Jumlah leukosit lebih dari
50.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur.
b. Pungsi lumbal, untuk mengkaji keterlibatan SSP.
c.

Foto thoraks, untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum

d. Aspirasi sumsum tulang, ditemuakannya 25% sel blast memperkuat diagnosis.


e. Pemindaian tulang atau survei kerangka, mengkaji keterlibatan tulang.
f.

Pemindaian ginjal, hati, dan limpa, mengkaji infiltrat leukemik

g. Jumlah trombosit, menunjukkan kapasitas pembekuan.


F. Penatalaksanaan

Pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis obat yang diberikan pada
anak. Proses remisi induksi pada anak terdiri dari tiga fase : induksi, konsolidasi, dan
rumatan. Selama fase induksi (kira-kira 3 sampai 6 minggu) anak menerima
berbagai agens kemoterapi untuk menimbulkan remisi. Periode intensif diperpanjang
2-3 minggu selama fase konsolidasi untuk memberantas keterlibatan sistem syaraf
pusat dan organ vital lain. Terapi rumatan diberikan selama beberapa tahun setelah
diagnosis untuk memperpanjang remisi. Beberapa obat yang dipakai untuk leukemia
anak-anak adalah prednison, vinkristin, asparaginase, metrotreksat, merkaptopurin,
sitarabin, alopurinol, siklofosfamid, dan daunorubisin.

G. KomplIkasi
a. Gagal sumsum tulang
b.

Infeksi

c. Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID/DIC)


d. Splenomegali
e. Hepatomegali

H. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan AML


1. Pengkajian
a. Anamnesis : AML bertanggung jawab atas 80% leukemia akut pada orang
dewasa. Permulaannya mungkin mendadak atau progresif dalam masa 1
sampai 3 bulan, dengan durasi gejala singkat
b. Keluhan utama:
1) kelelahan, nyeri, pucat, anoreksi, perdarahan, penurunan berat badan,
letargi, hipertropi ginggiva, ulserosa perirektal

2) Kaji reaksi anak terhadap kemoterapi : diare, anoreksia, mual, muntah,


retensi cairan, hiperuremia, demam, stomatitis, ulkus mulut, alopesia,
nyeri,
3) Kaji adanya tanda dan gejala infeksi : peningkatan leukosit, demam,
peningkatan LED.
4) Kaji adanya tanda dan gejala hemoragi
5) Kaji adanya tanda dan gejala komplikasi : somnolens radiasi, gejala SSP,
lisis sel.
c. Riwayat Kesehatan Masa Lalu: Pada penderita AML sering ditemukan
riwayat keluarga yang terpapar oleh bahan kimia (benzena, arsen dan
preparat sulfat), infeksi virus (E. coli dan pseudomonas, serta infeksi fungus),
kelainan kromosom, radiasi dan kemoterapi.
d. Psikososial:

merasa kehilangan

kemampuan

dan

harapan

depresi,

menginkari, kecemasan, takut, cepat terangsang, perubahan mood, dan


tampak bingung.
2. Pemeriksaan Fisik:
Pemeriksaan fisik yang dikaji antara lain B1-B6.
a. B1: pasien mudah mengalami kelelahan serta sesak saat beraktivitas ringan.
Dapat ditemukan adanya dispnea, takipnea, batuk, creckles, ronchi, dan
penurunan suara nafas.
b. B2: pasien mudah mengalami perdarahan spontan yang tidak terkontrol
dengan trauma minimal, ganngual visual akibat perdarahan retina, demam,
lebam, purpura, perdarahan gusi, dan epistaksis. Keluhan berdebar,
takikardi, suara murmur jantung, kulit, dan mukosa pucat, defisit saraf
kranial,terkadang ada perdarahan serebral.
c. B3: keluhan nyeri abdominal, sakit kepala, nyeri persendian, dada terasa
lemas, kram pada otot, meringis, kelemahan, dan hanya berpusat pada diri

sendiri. Neurosensori: penurunan kemampuan koordinasi, perubahan mood,


bingung, disorientasi, kehilangan konsentrasi, pusing, kesemutan, telinga
berdenging, dan kehilangan rasa (baal). Pola Kognitif dan Persepsi: pada
penderita sering ditemukan penurunan kesadaran (samnolen), iritabilitas otot
dan sering kejang, adanya keluhan sakit kepala, serta disorientasi karena sel
darah putih yang abnormal berinfiltrasi ke susunan saraf pusat. Pola
Mekanisme Koping dan Stres: pasien berada dalam kondisi yang lemah
dengan pertahanan tubuh yang sangat rendah. Dalam pengkajian dapat
ditemukan adanya depresi, penarikan diri, cemas, takut, marah, dan
iritabilitas. Juga ditemukan perubahan suasana hati dan bingung.
d. B4: pada inspeksi didapatkan adanya abses perianal serta hematuria.
e. B5: pasien sering mengalami penurunan nafsu makan, anoreksia, muntah,
perubahan sensasi rasa, penurunan berat badan, dan gangguan menelan,
serta faringitis. Dari pemeriksaan fisik ditemukan adanya distensi abdomen,
penurunan bisisng usus, pembesaran limfa, pembesaran hepar akibat invasi
sel-sel darah putih yang berproliferasi secara abnormal, ikterus, stomatitis,
ulserasi oral, dan adanya pembesaran gusi akibat infeksi. Pola Eliminasi:
pasien kadang mengalami diare, penegangan pada perineal, nyeri abdomen,
serta ditemukan darah segar dan feses berwarna ter, darah dalam urine,
serta penurunan urine output.
f.

B6: Pola Tidur dan Istirahat: pasien memperlihatkan penurunan aktivitas


dan lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur atau istirahat karena
mudah mengalami kelelahan. Pola Latihan: pasien sering mengalami
penurunan koordinasi dalam pergerakan, keluhan nyeri pada sendi atau
tulang. Pasien sering dalam keadaan umum lemah, dan ketidakmampuan
melaksanakan aktvitas rutin seperti berpakaian, mandi, makan, dan toileting
secara mandiri. Dari pemerikasaan fisik ditemukan penurunan tonus otot,
kesadaran samnolen, keluhan jantung berdebad-debar (palpitasi), adanya
murmur, kulit pucat, membran mukosa pucat, serta penurunan fungsi saraf
kranial dengan atau diseratai tanda-tanda perdarahan serebral. Aktivitas:
lesu, lemah, terasa payah, merasa tidak kuat untuk melakukan aktivitas
sehari-hari kontraksi, otot lemah, pasien ingin tidur terus, dan tampak
bingung.

3. Diagnosa Keperawatan
a. Aktual/resiko tinggi terhadap infeksi b/d perubahan maturitas sel darah
putih, peningkatan jumlah meiloid immatur, dan imunosupresi.
b. Nyeri akut b/d infiltrasi pada hepar (hepatomegali) dan tulang.
c. Gangguan kurang nutrisi dari kebutuhan tubuh b/d hepatomegali.
d. Resiko injuri b/d gangguan SSP.
e. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sumber
energi,

peningkatran

laju

metabolik

akibat

produksi

leukosit

yang

berlebihan, ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan.


f.

Gangguan pola napas b/d dispnea dan letargi.

g. Koping individu tidak efekti berhubungan dengan prognosis penyakit,


gambaran diri yang salah dan perubahan peran.
h. Kecemasan individu dan kel;uarga yang berhubungan dengan prognosis
penyakit.

4. intervensi

Aktual/resiko tinggi terhadap infeksi b/d perubahan maturitas sel darah putih,
peningkatan jumlah meiloid immatur, dan imunosupresi.
Tujuan: dalam waktu 1x24 jam tidak terjadi infeksi
Kriteria: klien dan keluarga mampu mengidentifikasi faktor resiko yang dapat di
kurangi dan mampu menyebutkan tanda dan gejala infeksi.
INTERVENSI

RASIONAL

Kaji dan catat faktor yang meningkatkan Menjadi data dasar dan meminimalkan
faktor infeksi.
Lakukan tindakan

resiko.
untuk

mencegah

pemajanan pada sumber yang beresiko.

Kewaspadaan

meminimalkan

pemajanan klien terhadap bakteri, virus,

Pertahanan isolasi protektif sesuai dan


Pertahankan

jamur,

baik

endogen

maupun eksogen.

kebijakan institusional.

patogen

tekhnik

mencuci

tangan.

Beri hiegene yang baik

Batasi pengunjung.

Gunakan protokol rawat mulut.

Laporkan bila ada perubahan tanda vital.

Perubahan

tanda

tanda

vital

merupakan tanda dini terjadinya sepsis,


terutama bila terjadi peningkatan suhu
tubuh.
Jelasakan

alasan

kewaspadaan

dan Pengertian klien

pantangan.

kepatuhan

dan

dapat memperbaiki
mengurangi

faktor

resiko.
Yakinkan kliendan keluarganya bahwa
peningkatan

kerentanan

pada

hanya sementara.

Granulositopenia dapat menetap 6-12

infeksi minggu.

Pengertian

sementara

tentang

granulositopenia

sifat
dapat

membantu mencegah kecemasan klien


dan keluarganya.
Meminimalkan prosedur invasif.

Prosedur tertentu dapat menyebabkan


trauma

jaringan,

meningkatkan

krentanan infeksi.
Dapatkan kultur sputum, urine, diare, Kultur dapat mmnginformasikan infeksi
darah,

dan

sekresi

tubuh

abnormal dan

mengidentifikasi

organisme

sesuai anjuran.

penyebab.

Nyeri akut b/d infiltrasi pada hepar (hepatomegali) dan tulang.


Tujuan: dalam waktu 3x24 jam terdapat penurunan nyeri.
Kriteria: secara subyektif klien menyatakan penurunan rasa nyeri, secera obyektif
didapatkan tanda-tanda vital dalam batas normal, wajah rileks, dan tidak terjadi
penurunan perfusi periferi.
INTERVENSI
Catat

RASIONAL

karakteristik

intensitas,

nyeri,

serta

lokasi,

lama

Variasi penampilan dan perilaku klien

dan karena nyeri terjadi sebagai temuan

penyebarannya.
Lakukan manajemen nyeri keperawtan:
1. Atur posisi fisiologis.

pengkajian.

Posisi

fisiologis

akan

meningkatkan

asupan O2 ke jaringan yang mengalami


nyeri sekunder dari iskemia.
2. Istirahatkan klien.

Istirahat akan menurunkan kebutuhan


O2

jaringan

perifer

sehingga

akan

menurunkan demand oksigen jaringan.


3. Manajemen
lingkungan

lingkungan: Lingkungan tenang akan menurunkan


tenang

pengunjung

dan

batasi stimulus
pembatasan

nyeri

eksternal
pengunjung

dan
akan

membantu meningkatkan kondisi O2


ruangan yang akan berkurang apabila
banyak pengunjung yang berada di
ruangan.
4. Ajarkan

teknik

relaksasi Meningkatkan asupan O2 sehingga akan

pernapasan dalam.

menurunkan nyeri sekunder dari iskemia


jaringan.

5. Ajarkan teknik distraksi pada saat Distraksi (pengalihan perhatian) dapat


nyeri.

menurunkan stimulus internal dengan


mekanisme
endorfin

peningkatan

dan

enkefalin

produksi

yang

dapat

memblok reseptor nyeri untuk tidak


dikirimkan ke korteks serebri sehingga
menurunkan persepsi nyeri.
6. Lakukan manajemen sentuhan

Manajemen sentuhan pada saat nyeri


berupa sentuhan dukungan psikologis
dapat membantu menurunkan nyeri.
Masase
aliran

ringan
darah

dapat

dan

meningkatkan

dengan

otomatis

membantu suplai darah dan oksigen ke


area nyeri dan menurunkan sensasi
nyeri.
Kolaborasi pembarian terapi:
Digunakan

analgetik

untuk

mengurangi

nyeri

sehubungan dengan hematoma otot


yang

besar

analgetika
untuk

dan

oral

perdarahan

non-opioid

menghindari

sendi

diberikan

ketergantungan

terhadap narkotika pada nyeri kronis.

kemoterapi

Bentuk terapi utama adalah kemoterapi


dengan

kombinasi

prednisone,

vincristine,

daunorubicin,

dan

asparaginase untuk terapi awal dan


dilanjutkan

dengan

mercaptopurine,
vincristine,

dan

kombinasi
methotrexate,

perdnisone

untuk

pemeliharaan.

Radiasi

Radiasi untuk daerah kraniospinal dan


injeksi intratekal obat kemoterapi dapat
membantu

mencegah

kekambuhan

pada sistem saraf pusat.

Gangguan nutrisi b/d hepatomegali.


Tujuan: Dalam...x 24 jam nutrisi dapat terpenuhi.
Kriteria: tidak mengalami tanda malnutrisi, menunjukkan perilaku, perubahan pola
hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai.
INTERVENSI

RASIONAL

Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan Mengidentifikasi


yang disukai.

deffisiensi,

menduga

kemungkinan intervensi.

Observasi dan catat masukan makanan Mengawasi masukan kalori atau kualitas
pasien.

kekurangan konsumsi makanan.

Timbang berat badan tiap hari.

Mengawasi penurunan berat badan atau


efektivitas intervensi nutrisi.

Berikan makanan sedikit dan frekuensi Makan

sedikit

sering dan atau makanan di antara waktu kelemahan


makan.

pemasukan

dapat
dan

juga

menurunkan
meningkatkan

mencegah

distensi

gaster.
Observasi dan catat kejadian mual atau Gejala GI dapat menunjukkan efek
muntah, flatus, dan gejala lain yang

anemia (hipoksia) pada organ.

berhubungan.
Kolaborasi:
Membantu dalam membuat rencana diet

konsul pada ahli gizi.

Berikan diet halus, rendah serat, Bila ada lesi oral, nyeri dapat membatasi
menghindari

makanan

untuk memenuhi kebutuhan individual.

panas, tipe makanan yang dapat ditoleransi

pedas, atau terlalu asam sesuai pasien.


indikasi.

Intolerasi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sumber energi,


peningkatran

laju

metabolik

akibat

produksi

leukosit

yang

berlebihan,

ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan.


Tujuan: aktivitas sehari-hari klien terpenuhi dan meningkatnya kemampuan
beraktivitas.
Kriteria: klien menunjukkan kemampuan berasktivirtas tanpa gejala-gejala berat,
terutama mobilisasi di tempat tidur.
INTERVENSI

RASIONAL

Catat frekuensi dan irama jantung, serta Respon klien terhadap aktivitas dapat
perubahan tekanan darah selama dan mengindikasikan
sesudah aktivitas.

penurunan

oksigen

miokardium.

Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas dan Menurunkan

kerja

miokardium

atau

berikan aktivitas senggang yang tidak konsumsi oksigen.


berat.
Anjurkan

klien

peningkatan

untuk

menghindari

tekanan

Dengan mengejan dapat mengakibatkan

abdomen, bradikardi, menurunkan curah jantung

misalnya memngejan saat defekasi.

dan takikardi swrta peningkatan TD.

Jelaskan pola peningkatan bertahap dari Aktivitas yang maju memberikan kontrol
tingkat aktivitas, contoh bangun dari jantung, meningkatkan regangan dan
kursi bila tak ada nyeri, ambulasi, dan

mencegah aktivitas berlebihan.

istirahat selama 1 jam setelah makan.


Pertahankan

klien

tirah

baring Untuk mengurangi beban jantung.

sementara sakit akut.


Pertahankan rentang gerak pasif selama Meningkatkan kontraksi otot sehingga
sakit kritis.

membantu aliran vena balik.

Evaluasi tanda vital saat kemajuan Untuk mengetahui fungsi jantung, bila
aktivitas terjadi.

dikaitkan dengan aktivitas.

Berikan waktui istirahat di antara waktu

Untuk

aktivitas.

resolusi bagi tubuh dan tidak terlalu

mendapatkan

cukup

waktu

memaksa kerja jantung.


Selama aktivitas kaji EKG, dispnea,

Melihat dampak dari aktivitas terhadap

sianosis, kerja dan frekuensi napas serta

fungsi jantung.

keluhan subyektif.

Gangguan pola napas b/d dispnea dan letargi.


Tujuan: 3x24 jam pola napas kembali normal.
Kriteria: menunjukkan pola pernapasan normal atau efektif dan bebas dari letargi.
INTERVENSI

RASIONAL

Auskultasi bunyi napas

Bunyi napas dapat menurun atau tak ada


pada lobus, segmen paru, atau seluruh
area paru.

Evaluasi

fungsi

pernapasan,

catat Distres pernapasan dan perubahan pada

kecepatan/ pernapasan serak, dispnea, tanda vital dapat terjadi sebagi akibat
dan perubahan tanda vital.

stres fisiologi dan nyeri.

Awasi kesesuaian pola pernapasan bila

Kesulitan bernapas dengan ventilator

menggunakan ventilasi mekanik. Catat dan/ atau peningkatan tekanan jalan


perubahan tekanan udara.

napas.

Pertahankan posisi nyaman, biasanya

Meningkatkan

dengan peninggian kepala tempat tidur.

memungkinkan ventilasi normal.

inspirasi

maksimal,

Koping individu tidak efekti berhubungan dengan prognosis penyakit, gambaran diri
yang salah dan perubahan peran.
Tujuan: dalam waktu 1x24 jam klien atau keluarga mampu mengembangkan koping
yang positif.

Kriteria: klien kooperartif pada setiap intervensi keperawatan, mampu menyatakan


atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan
yang sedsng terjadi, mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi,
mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang
akurat tanpa harga diri yang negatif.
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji perubahan dari gangguan persepsi Menentukan
dan hubungan derajat ketidakmampuan.

menyusun

bantuan
rencana

individu

dalam

perawatan

atau

pemilihan intervensi.
Identifikasi arti dari kehilangan atau Beberapa klien dapat menerima dan
disfungsi pada klien.

mengatur

perubahan

fungsi

secara

efektif dengan sedikit penyesuaian diri,


sedangkan

yang

lain

mempunyai

kesulitan membandingkan mengenal dan


mengatur kekurangan.
Catat ketika klien menyatakan pengaruh Dukung penolakan terhadap

bagian

seperti sekarat atau mengingkari atau tubuh atau perasaan negative terhadap
menyatakan inilah kematian.

gambaran tubuh juga kemampuan yang


menunjukkan kebutuhan dan intervensi
dan dukungan emosional.

Kecemasan individu dan kel;uarga yang berhubungan dengan prognosis penyakit


Tujuan: dalam waktu 1x24 jam kecemasan klien berkurang.
Criteria: klien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat
mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhinya, kooperatif terhadap
tindakan.
INTERVENSI
Kaji tanda verbal

dan

non

RASIONAL
verbal Reaksi
verbal/non

verbal

dapt

kecemasan, damping klien, dan lakukan menunjukkan rasa agitasi, marah, dan
tindakan

bila

menunjukkan

merusak.
Hindari konfrontasi.

perilaku

gelisah.
Konfrontasi dapat meningkatkan rasa
marah,

Mulai

melakukan

tindakan

menurunkan

kerjasama

dan

mungkin memperlambat penyembuhan.


untuk Mengurangi rangsangan eksternal yang

mengurangi kecemasan. Beri lingkungan tidak perlu.

yang

tenang

dan

suasana

penuh

istirahat.
DAFTAR PUSTAKA
Supardiman, I, 2002. Hematologi Klinik. Penerbit alumni bandung.
Hoffband, A, dkk, 2005. Kapita selekta Hematologi. Penerbit buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
Mansjoer, arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke-3 Jilid 2.Media
Aesculapius Fkul.
Hartoyo,
Edi,
dkk.
2006.
Standar
Pelayanan
KedokteraanUnlam / RSUD Ulin Banjarmasin.

Medis.

Fakultas

Suriadi S.Kp dan Yuliana Rita S.Kp, 2001, Asuhan Keperawatan Anak, Edisi I.
PT Fajar Interpratama : Jakarta.
McCloskey, J.C., 1996. Nursing Intervention Classification (NIC). 2nd Edition.
Mosby Year Book: USA
North American Nursing Diagnosis Association., 2001. Nursing Diagnoses :
Definition & Classification 2001-2002. Philadelphia.
Kuncara, H.Y, dkk, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddarth, EGC, Jakarta
Joane C. Mc. Closkey, Gloria M. Bulechek, 1996, Nursing Interventions
Classification (NIC), Mosby Year-Book, St. Louis
Marion Johnson, dkk, 2000, Nursing Outcome Classifications (NOC), Mosby
Year-Book, St. Louis
Marjory Gordon, dkk, 2001, Nursing Diagnoses: Definition & Classification
2001-2002, NANDA.