Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai perawat yang profesional, sering kali menjalani peran sebagai
pemimpin dan manajer. Kedua peran ini berkaitan, sehingga dalam proses
pelayanan dan asuhan keperawatan dapat dilakukan dengan baik. Tren dan isu
dunia kesehatan, terutama bidang keperawatan yang sedang hangat dibicarakan
menjadi tantangan baru dalam keperawatan. Segala aspek baik bidang pendidikan,
teknologi, ekonomi, sosial dan budaya mengalami perubahan dari waktu ke
waktu.
Perubahan adalah proses membuat perbedaan dari apa yang telah ada dari
sebelumnya. Tidak ada jaminan tiap perubahan dapat membuat lebih baik dari
suatu keadaan. Perubahan ini dapat menjadi tantangan sekaligus faktor pembuat
takut bagi kalangan perawat. Berbagai teori perubahan klasik telah disebutkan
oleh para ahli disertai denga proses yang menyertainya. Tidak bisa dipungkiri
seorang manusia pasti mengalami perubahan. Perubahan secara empirik
diharapkan akan membuat suatu keadaan menjadi baik. Dalam proses perubahan
ini ada banyak tahapan yang harus dilalui. Tidak luput hambatan dalam perubahan
adalah hal yang harus dikelola oleh seorang perawat dalam menghadapi tren yang
sedang dihadapinya.
Konsep perubahan adalah hal penting yang harus dipahami dan dapat
diaplikasikan oleh perawat baik dalam melakukan pelayanan maupun asuhan
keperawatan. Hal ini lah yang menjadi latar belakang penulisan makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, didapatkan rumusan masalah yakni :
1. Apa definisi dari perubahan ?
2. Apa prinsip dan strategi dari berubah ?
3. Apa saja jenis dari perubahan ?
4. Teori apa sajakah yang mengulas tentang perubahan ?
5. Bagaimana sifat dan proses dari perubahan ?
6. Apa saja tahap dalam perubahan ?
1

7. Bagaimana motivasi, kekuatan pendorong, dan penghambat umum yang


dapat ditemukan dalam perubahan ?
8.

Apa saja tahap dalam pengelolaan perubahan ?

9. Bagaimana panduan mengatasi hambatan dalam perubahan ?


10. Bagaimana aplikasi konsep perubahan dalam pelayanan keperawatan ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui definisi dari perubahan ?
2. Untuk mengetahui prinsip dan strategi dari berubah ?
3. Untuk mengetahui jenis dari perubahan.
4. Untuk mengetahui teori yang mengulas tentang perubahan.
5. Untuk mengetahui sifat dan proses dari perubahan.
6. Untuk mengetahui tahap dalam perubahan.
7. Untuk mengetahui motivasi, kekuatan pendorong, dan penghambat umum
yang dapat ditemukan dalam perubahan.
8. Untuk mengetahui tahap dalam pengelolaan perubahan.
9. Untuk mengetahui panduan mengatasi hambatan dalam perubahan.
10. Untuk

mengetahui

aplikasi

konsep

perubahan

dalam

pelayanan

keperawatan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Perubahan
Berubah adalah bagian dari kehidupan setiap orang; berubah adalah cara
seseorang bertumbuh, berkembang, dan beradaptasi. Perubahan dapat positif atau
negatif terencana atau tidak terencana. Perubahan adalah proses membuat sesuatu
yang berbeda dari sebelumnya ( Sullivan dan Decker,2001).
Berubah merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau
seseorang berbeda dg keadaan sebelumnya, (Atkinson, 1987). Perubahan
merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status
tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis, artinya dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan yang ada. Berubah merupakan proses yang menyebabkan
perubahan pola perilaku individu / institusi, (Brooten,1978).
Perubahan merupakan proses membuat perbedaan dari apa yang telah ada
sebelumnya. Perubahan dapat mencakup upaya mencari pengetahuan baru atau
menyesuaikan sesuatu yang saat ini diketahui dengan mempertimbangkan
informasi baru. Perubahan dapat juga mencakup penguasaan keterampilan baru.
Perubahan merupakan aspek integral dalam keperawatan, dan perawat sering
kali bertindak sebagai agen pengubah, yaitu individu yang memulai, memotivasi,
dan melakukan perubahan seperti pendidikan kesehatan, perawatan klien, dan
promosi kesehatan. Proses berubah ini melibatkan klien individu, keluarga,
komunitas, organisasi, keperawatan sebagai profesi, dan seluruh sistem pemberian
perawatan kesehatan.
Jadi perubahan adalah suatu proses dimana terjadinya peralihan atau
perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis. Artinya
dapat menyesuaikan diri dari lingkungan yang ada. Perubahan dapat mencakup
keseimbangan personal, sosial maupun organisasi untuk dapat menjadikan
perbaikan atau penyempurnaan serta dapat menerapkan ide atau konsep terbaru
dalam mencapai tujuan tertentu.

Agen pengubah yakni :


a. Memiliki keterampilan komunikasi interpersonal yang sangat baik
dengan individu, kleompok, administrasi, dan semua tingkatan
organisasi yang terlibat dalam perubahan.
b. Memiliki kepakaran dalam menangani proyek.
c. Memiliki pengetahuan tentang sumber daya yang tersedia dan cara
memanfaatkannya, seperti : manusia, waktu, uang, fasilitas, informasi.
d. Terlatih dalam memecahkan masalah.
e. Terlatih dalam memberikan penyuluhan.
f. Dihargai oleh mereka yang terlibat dalam perubahan.
g. Memiliki kemampuan untuk mendukung dan mengembangkan merka
yang tengah menjalani perubahan.
h. Percaya diri, dapat mengambil risiko, dan dapat menumbuhkan
kepercayaan terhadap diri mereka sendiri dan orang lain.
i. Dapat mengambil keputusan.
j. Memiliki dasar pengetahuan yang luas.
k. Memiliki pengaturan waktu yang baik.

2.2 Prinsip dan Strategi Berubah


Dalam perubahan dibutuhkan cara yang tepat agar tujuan dalam perubahan
dapat tercapai secara tepat, efektif dan efisien.
a. Strategi Rasional Empirik
Strategi ini didasarkan karena manusia sebagai komponen dalam perubahan
memiliki sifat rasional untuk kepentingan diri dalam berperilaku. Untuk
mengadakan suatu perubahan strategi rasional dan empirik yang didasarkan dari
hasil penemuan atau riset untuk diaplikasikan dalam perubahan manusia yang
memiliki sifat rasional akan menggunakan rasionalnya dalam menerima sebuah
perubahan. Langkah dalam perubahan atau kegiatan yang diinginkan dalam
strategi rasional empirik ini dapat melalui penelitian atau adanya desiminasi
melalui pendidikan secara umum sehingga melalui desiminasi akan diketahui

secara rasional bahwa perubahan yang akan dilakukan benar-benar sesuai dengan
rasional.
Strategi ini juga dilakukan pada penempatan sasaran yang sesuai dengan
kemampuan dan keahlian yang dimiliki sehingga semua perubahan akan
menjadi efektif dan efisien, selain itu juga menggunakan sistem analisis
dalam pemecahan masalah yang ada.
b. Strategi Reedukatif Normatif
Strategi ini dilaksanakan berdasarkan standar norma yang ada di masyarakat.
Perubahan yang akan dilaksanakan melihat nilai-nilai normatif yang ada di
masyarakat sehingga tidak akan menimbulkan permasalahan baru di masyarakat.
Standar norma yang ada di masyarakat ini di dukung dengan sikap dan sistem
nilai individu yang ada di masyarakat. Pendekatan ini dilaksanakan dengan
mengadakan intervensi secara langsung dalam penerapan teori-teori yang ada.
Strategi ini dilaksanakan dengan cara melibatkan individu, kelompok atau
masyarakat dan proses penyusunan rancangan untuk perubahan. Pelaku dalam
perubahan harus memiliki kemampuan dalam berkolaborasi dengan masyarakat.
Kemampuan ilmu perilaku harus dimiliki dalam pembaharu..
c. Strategi Paksaan- Kekuatan
Dikatakan strategi paksaan-kekuatan karena adanya penggunaan kekuatan atau
kekuasaan yang dilaksanakan secara paksa dengan menggunakan kekuatan moral
dan kekuatan politik. Strategi ini dapat dilaksanakan dalam perubahan sistem
kenegaraan, penerapan sistem pendidikan dan lain-lain.
2.3 Jenis Perubahan
a. Perubahan Terencana
Perubahan terencana adalah upaya yang dilakukan dengan maksud atau
tujuan tertentu oleh individu, kelompok, organisasi, atau sistem sosial yang lebih
besar untuk memengaruhi status quo-nya sendiri atau organisme lain atau situasi
lain.
Perubahan dapat juga berupa :

1) Perubahan Tersembunyi (covert) : merupakan perubahan yang tidak


terlihat atau terjadi tanpa adanya kesadaran dari individu. Contohnya :
perburukan penyakit yang terjadi secara perlahan.
2) Perubahan Terbuka (overt) : merupakan perubahan yang disadari oleh
individu. Contohnya : peralatan yang tidak lagi tersedia setelah
perusahaan mengganti pihak yang menjual peralatan tersebut.
Orang-orang yang mengalami perubahan terbuka mungkin akan
mengalami kecemasan. Perubahan terbuka sering kali mengharuskan
perubahan perilaku yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan atau
tujuan individu.
b. Perubahan Tidak Terencana
Perubahan tidak terencana adalah perubahan yang disebabkan oleh
kejadian atau orang dari luar. Perubahan tersebut terjadi ketika kejadian yang
tidak diharapkan mendorong munculnya suatu reaksi. Ini biasanya terjadi secara
kebetulan, dan hasilnya tidak dapat diprediksi. Penyimpangan adalah salah satu
jenis perubahan yang tidak terencana yang terjadi tanpa upaya dari pihak mana
pun.
2.4 Teori Perubahan
1. Teori Kurt Lewin (1951)
Teori

perubahan

Lewin

menjelaskan

bahwa seseorang

yang akan

mengadakan suatu perubahan harus memiliki konsep tentang perubahan yang


tercantum agar proses perubahan tersebut terarah dan mencapai tujuan yang ada.
Ia berkesimpulan bahwa kekuatan tekanan (driving forces) akan berhadapan
dengan penolakan (resistences) untuk berubah. Perubahan dapat terjadi dengan
memperkuat driving forces dan melemahkan resistences to change.
Lewin mengatakan ada tiga tahap dalam sebuah perubahan, yaitu:
1) Tahap Unfreezing (Pencairan)
Masalah biasanya muncul akibat adanya ketidakseimbangan dalam sistem.
Tugas perawat pada tahap ini adalah mengidentifikasikan masalah dan
memilih jalan keluar yang terbaik.
2) Tahap Moving (Pergerakan)

Pada tahap ini perawat berusaha mengumpulkan informasi dan mencari


dukungan dari orang-orang yang dapat membantu memecahkan masalah.

3) Tahap Refreezing (Pembekuan)


Setelah memiliki dukungan dan alternatif pemecahan masalah perubahan
diintegrasikan dan distabilkan sebagai bagian dari sistem nilai yang dianut.
Tugas perawat sebagai agen berubah berusaha mengatasi orang-orang
yang masih menghambat perubahan.
2. Teori Rogers E (1983)
Menurut Rogers E, perubahan sosial adalah proses di mana suatu inovasi
dikomunikasikan melalui saluran tertentu dari waktu ke waktu antara anggota
suatu sistem sosial.
Langkah-langkah untuk mengadakan perubahan menurut Rogers antara
lain:
1) Tahap Awareness (Kesadaran)
Tahap awal yang menyatakan bahwa untuk mengadakan perubahan
diperlukan adanya kesadaran untuk berubah.
2) Tahap Interest
Tahap ini menyatakan untuk mengadakan perubahan harus timbul
perasaan suka / minat terhadap perubahan. Timbulnya minat akan
mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah.
3) Tahap Evaluasi
Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak
ditemukan hambatan selama mengadakan perubahan.
4) Tahap Trial
Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap hasil perubahan dengan
harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan situasi
yang ada.
5) Tahap Adoption

Tahapan terakhir yaitu proses perubahan terhadap sesuatu yang baru


setelah ada uji coba dan merasakan ada manfaatnya sehingga mampu
mempertahankan hasil perubahan.

Teori Rogers tergantung pada lima faktor yaitu:


1. Perubahan harus mempunyai keuntungan yang berhubungan. Menjadi
lebih baik dari metode yang sudah ada.
2. Perubahan harus sesuai dengan nilai-nilai yang ada. Tidak bertentangan.
3. Kompleksitas.
Ide-ide yang lebih komplek bisa saja lebih baik dari ide yang sederhana
asalkan lebih mudah untuk dilaksanakan.
4. Dapat dibagi. Perubahan dapat dilaksanakan dalam skala yang kecil.
5. Dapat dikomunikasikan. Semakin mudah perubahan digunakan maka
semakin mudah perubahan disebarkan.
3. Teori Lippit (1958)
Teori

ini

merupakan

pengembangan

dari

teori

Lewin.

Lippit

mengungkapkan tujuh hal yang harus diperhatikan seorang manajer dalam sebuah
perubahan yaitu:
1. Mendiagnosis masalah. Mengidentifikasi semua faktor yang mungkin
mendukung atau menghambat perubahan.
2. Mengkaji motivasi dan kemampuan untuk berubah. Mencoba mencari
pemecahan masalah.
3. Mengkaji motivasi dan sumber-sumber agen.
Mencari

dukungan

baik

internal

maupun

eksternal

atau

secara

interpersonal, organisasional maupun berdasarkan pengalaman.


4. Menyeleksi objektif akhir perubahan.
Menyusun semua hasil yang didapat untuk membuat perencanaan.
5. Memilih peran yang sesuai untuk agen berubah.
Pada tahap ini sering terjadi konflik terutama yang berhubungan dengan
masalah personal.

6. Mempertahankan perubahan.
Perubahan diperluas, mungkin membutuhkan struktur kekuatan untuk
mempertahankannya.
7. Mengakhiri hubungan saling membantu.
Perawat sebagai agen berubah, mulai mengundurkan diri dengan harapan
orang-orang atau situasi yang diubah sudah dapat mandiri.
4. Teori Havelock (1973)
Teori ini merupakan modifikasi dari teori Lewin dengan menekankan
perencanaan yang akan mempengaruhi perubahan.
Enam tahap sebagai perubahan menurut Havelock adalah:
1. Membangun suatu hubungan.
2. Mendiagnosis masalah.
3. Mendapatkan sumber-sumber yang berhubungan.
4. Memilih jalan keluar.
5. Meningkatkan penerimaan.
6. Stabilitasi dan perbaikan diri sendiri.
5. Teori Spradley
Spradley menegaskan bahwa perubahan terencana harus secara konsisten
dipantau untuk mengembangkan hubungan yang bermanfaat antara agen
berubah dan sistem berubah.
Berikut adalah langkah dasar dari model Spradley yaitu:
1.

Mengenali gejala.

2.

Mendiagnosis masalah.

3.

Menganalisa jalan keluar.

4.

Memilih perubahan.

5.

Merencanakan perubahan.

6.

Melaksanakan perubahan.

7.

Mengevaluasi perubahan.

8.

Menstabilkan perubahan.

Secara ringkas, disebutkan dalam beberapa teori klasik tentang perubahan


seperti tabel :
Tabel.1 Teori Perubahan Klasik
Lewin (1951)
1. Pencairan

Lippit (1958)
1.Munculnya kebutuhan
akan perubahan

Havelock (1973)

Rogers (1983)

1.Membangun sebuah
hubungan.

1.Pengetahuan,
individu, disebut unit
2. Pergerakan
pengambil keputusan,
2.Pembentukan hubungan
2.Mendiagnosis
mengenali perubahan
3. Pembekuan
perubahan
masalah
dan mulai memahami
perubahan tersebut.
3.Masalah menyangkut
3.Mendapatkan
2.
Izin,
individu
perubahan telah muncul
sumber daya yang menunjukkan
sikap
dan dikelompokkan
sesuai.
terhadap
perubahan
4.memilih solusi
yang mungkin akan
4.Kemungkinan alternatif
menguntungkan atau
telah diuji; tujuan atau
5.mencapai
merugikan.
maksud telah ditetapkan
penerimaan
3. Keputusan. Individu
membuat
keputusan
5.Upaya perubahan dalam
6. Stabilisasi dan untuk
mengadopsi
situasu nyata telah
membuat pembaruan- perubahan
atau
dilakukan.
diri
sebaliknya.
4.
Implementasi.
6.Perubahan telah
Individu
bertindak
berlangsung secara merata
berdasarkan
dan stabil
pilihannya. Pada masa
ini, perubahan mungkin
7.Hubungan saling bantu
terjadi.
berakhir atau jenis
5. Konfirmasi: individu
hubungan kontinu lainnya
mencari pembenaran
muncul.
bahwa
pilihannya
adalah benar. Apabila
individu mendapatkan
pesan yang campuraduk, pilihan tersebut
bisa saja berubah.
Catatan : Dari Therory in Social Science, oleh K. Lewin, 1951, New York : harper dan Row; The
Dynamics of Planned Change, oleh R. Lippit, J. Watson, dan B. Westley, 1958, dan beberapa
sumber.

2.5 Sifat dan Proses Perubahan

10

Dalam proses perubahan akan menghasilkan penerapan diri konsep atau ide
terbaru, Menurut Lancaster tahun 1982, proses perubahan memiliki tiga sifat
diantaranya perubahan bersifat berkembang , spontan dan di rencanakan.
1.

Perubahan bersifat berkembang


Sifat perubahan ini mengikuti dari proses perkembangan yang baik pada

individu, kelompok atau masysrakat secara umum , proses perkembangan ini


dimulai dari keadaan atau yang paling besar menuju keadaan yang optimal atau
matang ,sebagai mana dalam perkembangan manusia sebagai mahluk individu
yang memiliki sifat yang selalu berubah dalam tingkat perkembangan nya.
2.

Perubahan bersifat spontan


Sifat perubahan ini dapat terjadi karena keadaan yang dapat memberikan

respon tersendiri terhadap kejadian-kejadian yang bersifat alamiah yang diluar


kehendak manusia yang tidak diramalkan atau diprediksi hingga sulit untuk di
antisipasi seperti perubahan keadaan alam, tanah longsor banjir dll. Semuanya
akan menimbulkan terjadi perubahan baik dalam diri, kelompok atau masyarakat
bahkan pada sistem yang mengaturnya.
3.

Perubahan bersifat direncanakan


Perubahan bersifat direncanakan ini dilakukan bagi individu, kelompok atau

masyarakat yang ingin mengadakan perubahan yang kearah yang lebih maju atau
mencapai tingkat perkembangan yang lebih baik dari keadaan yang sebelumnya,
sebagaimana perubahan dalam sistem pendidikan keperawatan di Indonesia yang
selalu mengadakan perubahan sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran dan
sistem pelayanan kesehatan pada umumnya.
Dalam proses perubahan akan terjadi sebuah siklus. Siklus dalam sistem
perubahan tersebut itulah yang dinamakan sebuah proses yang akan menghasilkan
sesuatu dan berdampak pada sesuatu. Dalam proses perubahan terdapat komponen
yang satu dengan yang lain dapat mempengaruhi seperti perubahan perilaku
sosial, perubahan structural dan intitusional dan perubahan teknologi.

11

Proses perubahan dapat saling mempengaruhi komponen yang ada,


sebagaimana contoh dengan adanya penemuan teknologi tepat guna,maka di
masyarakat akan terjadi perubahan dalam perilaku sosial kemungkinan
masyarakat akan menggunakan dari teknologi yang dihasilkan. Perilaku sosial di
masyarakat akan dapat berubah struktural institusional dari sistem organisasi yang
ada di masyarakat.

2.6 Tahap Perubahan


Secara umum tahap tahap perubahan akan meliputi tiga tahap: persiapan,
penerimaan, dan komitmen.
1) Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan dilakukan berbagai kontak melalui ceramah, pertemuan,
maupun komunikasi tertulis. Tujuannya agar tercapai kesadaran akan pentingnya
perubahan (change awareness). Ketidakjelasan tentang pentingnya oerubahanakan
menjadi penghambat upaya-upaya dalam pembentukan komitmen. Sebaliknya
kejelasan akan menimbulkan pemahaman yang baik terhadap pentingnya
perubahan, yang mendukung upaya-upaya dalampembentukan komitmen.
2) Tahap Penerimaan
Dalam penerimaan, pemahaman yang terbentuk akan bermuara ke dalam dua
kutub, yaitu persepsi yang positif di satu sisi atau persepsi negatif di sisi yang lain.
Persepsi yang negatif akan melahirkan keputusan untuk tidak mendukung
perubahan, sebaliknya persepsi positif yang melahirkan keputusan untuk memulai
perubahan dan merupakan suatu bentuk komitmen untuk berubah.
3) Tahap Komitmen
Tahap komitmen melalui beberapa langkah yaitu instalasi, adopsi,
instusionalisasi, dan internalisasi. Langkah instalasi merupakan periode percobaan
terhadap perubahan yang merupakan preliminary testing terdapat dua konsekuensi
dari langkah ini. Konsekuensi pertama, perubahan dapat diadopsi untuk pengujian
jangka panjang. Kedua, perubahan gugur setelah implementasi pendahuluan yang

12

mungkin disebabkan oleh masalah ekonomi-finansial politik,perubahan dalam


tujuan strategis, dan tingginya vested interest.

2.7 Motivasi, Kekuatan Pendorong dan Penghambat Perubahan yang Umum


ditemukan
1. Motivasi
Pada dasarnya setiap manusia mengalami proses perubahan dan memiliki sifat
berubah, mengingat berubah merupakan salah satu bagian dari kebutuhan
manusia. Berubah timbul karena adanya suatu motivasi yang ada dalam diri
manusia. Motifasi timbul karena ada tuntutan kebutuhan dasar manusia sedang
kebutuhan dasar manusia yang dimaksud antara lain:
a. Kebutuhan fisiologis seperti makanan, minum, tidur, oksigenasi dan lainlain yang secara fisiologis dibutuhkan manusia untuk mempertahankan
hidupnya, berdasarkan kebutuhan tersebut, manusia akan selalu ingin
mempertahankan

hidupnya

dengan

jalan

memenuhi

atau

selalu

mengadakan perubahan.
b. Kebutuhan aman. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan manusia
agar mendapat jaminan keamanan atau perlindungan dari

berbagai

ancaman bahaya yang ada sehingga manusia selalu ingin memenuhinya


dengan jalan mengadakan perubahan untuk

mempertahankan

kebutuhan tersebut, seperti mendapatkan pekerjaan yang tetap, bertempat


tinggal yang aman dan lebih baik
c. Kebutuhan sosial. Ketentuan ini mutlak diperlukan karna manusia tidak
akan dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, sehingga untuk
memenuhi kehidupan sosialnya manusia selalu termotivasi untuk
mengadakan perubahan dalam memenuhi kebutuhan seperti mengadakan
kegiatan sosial kemasyarakatan.

13

d. Kebutuhan penghargaan dan dihargai. Setiap manusia selalu ingin


mengadakan penghargaan dimata masyarakat akan prestasi, status dan
lain-lain untuk manusia akan termotivasi untuk mengadakan perubahan.
e. Kebutuhan

aktualisasi

diri,

Kebutuhan

perwujudan

agar diakui masyarakat akan kemampuannya dan potensi yang dimiliki,


akan motivasi seseorang untuk memacu diri dalam memenuhi suatu
kebutuhan.
f. Kebutuhan interpersonal yang meliputi kebutuhan untuk berkumpul
bersama, kebutuhan untuk melakukan kontrol dalam mendapatkan
pengaruh dari lingkungan dalam menjalankan sesuatu dan kebutuhan
untuk dikasihi dapat menjadikan motivasi tersendiri dalam mengadakan
perubahan.
2. Kekuatan Pendorong
( Robert Kreitner and Angelo Kinicki, 2001, Organizational Behavior)
a. Kekuatan eksternal yaitu kekuatan yang muncul dari luar institusi,
Seperti : karakteristik demografi, Perkembangan teknologi, Perubahan
pasar, tekanan sosial dan politik.
b. Kekuatan internal yaitu kekuatan yang muncul dari dalam institusi,
seperti : masalah sumber daya manusia, kepuasan kerja, produktifitas,
motivasi kerja, keputusan dan kebijakan manajemen
Beberapa bentuk kekuatan pendorong dari perubahan, yahkni :
-

Persepsi bahwa perubahan adalah sebuah tantangan

Pertambahan ekonomi

Persepsi bahwa perubahan akan memperbaiki situasi yang ada

Visualisasi tentang dampak perubahan terhadap masa depan.

Kemungkinan terjadinya pertumbuhan diri, rekognisi, pencapaian, dan


perbaikan hubungan

3. Penghambat Umum yang ditemukan


-

Takut bahwa sesuatu hal yang berharga bagi diri akan hilang (misal :
ancaman terhadap keamanan kerja atau harga diri)

Kesalahan pemahaman tentang perubahan berikut dampak yang


ditimbulkan
14

Toleransi yang rendah terhadap perubahan yang berhubungan dengan


ketidakamanan intelektual atau emosional.

Persepsi bahwa perubahan tidak akan mencapai tujuan : tidak mampu


melihat gambaran umum

Kurangnya waktu atau energi

Persaan hilangnya kebebasan untuk menunjukkan perilkau tertentu

2.8 Tahap Pengelolaan Perubahan


Pengelolaan perubahan menjadi kompetensi utama bagi manajer perawat
saat ini. Ketidakefektifan penerapan perubahan akan berdampak buruk terhadap
manajer, staf, dan organisasi serta menghabiskan waktu dan dana yang sia-sia.
Pegawai ingin belajar perubahan dari pimpinan. Bolton et al. (1992) menjelaskan
10 tahap pengelolaan perubahan organisasi sebagaimana pada tabel dibawah ini.
Tabel.2 Tahap Pengelolaan Perubahan (Bolton et.al., 1992)
Tahap

Penjelasan
Mendefinisikan tujuan perubahan dengan melakukan pengkajian

kepadaorang yang layak, menguji dokumen, dan menulis bahanbahan yangsudah dikembangkan, dan secara konsisten menatap
kedepan sesuaivisi yang telah ditetapkan.
Meyakinkan tentang kesesuaian tujuan perubahan dengan rencana

2
strategis organisasi.
3

Dimana tujuan akan dapat dilaksanakan dengan baik dan orang lain
dengan senang hati terlibat didalamnya.
Menentukan siapa yang akan memimpin perubahan. Pemimpin
harus mengomunisasikan visi secara evektiv kepada setiap orang

dimasing-masing tatanan. Jabatan organisasi dan berperan sebagai


pelatih, mentor, pendengar, dan mendukung kerja kelompok.

Memfasilitasi komitmen semua pihak yang terlibat (stakeholders).

15

Mengidentifikasi instrumen tujuan yang spesifik yang dapat


dipergunakan sebagai tolak ukur pencapaian perubahan.
Membangun suatu tim kerja yang solid. Tim kerja tersebut harus
mempunyai tanggung jawab yang jelas, mampu berkomunikasi

dengan yang lainya, dan juga mampu melakukan negosiasi dan


penyelesaian masalah.
Melibatkan semua tim kesehatan yang turut serta dalam praktik
keperawatan profesional kepada pasien. Tim tersebut harus

mendukung dan terlibat dalam perubahan yang diharapkan oleh


organisasi.

Belajar dari kesalahan masa lalu untuk mengindari kesalahan yang


sama.
Mengajarkan kepada kelompok kerja tentang proses interaksi

10

perencanaan

yang baik. Selalu mengembang sesuatu yang

komprehensif. Dengan mengomunikasikanya secara terus-menerus.

2.9 Panduan Mengatasi Hambatan dalam Perubahan


1. Berkomunikasilah dengan pihak yang menentang perubahan. Carilah akar
alasan mereka tidak menerima perubahan.
2. Klarifikasi informasi dan berikan informasi yang akurat.
3. Terbukalah terhadap perbaikan tetapi pahami apa saja yang tidak boleh
berubah.
4. Jelaskan dampak negatif dari tindakan menentang perubahan (ancaman
terhadap kelangsungan organisai, terhambatnya perawatan klien, dll)
5. Tekankan dampak positif perubahan dan apa manfaat yang diperoleh
individu atau kelompok.
6. Pertemukan pihak yang menentang dan mendukung perubahan secara
langsung.
7. Pertahankan iklim kepercayaan, dukungan, dan kepercayaan diri.
8. Alihkan perhatian dengan menciptakan gangguan yang berbeda.

16

9. Ikuti politik perubahan.

2.10

Aplikasi Konsep Perubahan dalam Pelayanan Keperawatan

Semua perawat dipnegaruhi oleh perubahan; idak ada satu pun yang dapat
mengelak. Perawat yang memiliki pengetahuan tentang tren keperawatan masa
lalu dan kini, juga tentang isu-isu politik, sosial, teknologi, dan ekonom yang
tengah marak akan membuat rencana yang logis dalam menyikapi peluang yang
ada untuk mengawali dan memandu perubahan yang diperlukan serta berespons
terhadap perubahan yang memengaruhi mereka di tempat kerja, pemerintahan,
organisasi, dan masyarakat.
Dalam perkembangannya keperawatan juga mengalami proses perubahan
seiring dengan kemauan dan teknologi. Aplikasi perawat dalam perubahan antara
lain:
1. Memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan untuk selalu
berubah kearah kemandirian.
2. Melakukan perubahan kearah yang professional.
3. Memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat dengan mengadakan perubahan
dalam penerapan model asuhan keperawatan yang tepat, sesuai dengan
lingkup praktek keperawatan.
4. Mengadakan perubahan melalui penelitian keperawatan.
5. Menunjukkan jiwa professional dalam tugas dan tanggung jawab.
Dalam perkembangannya keperawatan juga mengalami proses perubahan
seiring dengan kemajuan dan teknologi. Alasan terjadinya perubahan dalam
keperawatan antara lain:
1) Keperawatan Sebagai Profesi
Keperawatan sebagai profesi yang diakui oleh masyarakat dalam
memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan tentu akan dituntut
untuk selalu berubah kearah kemandirian dalam profesi keperawatan, sehingga
sebagai profesi akan mengalami perubahan kearah professional dengan

17

menunjukan agar profesi keperawatan diakui oleh profesi bidang kesehatan yang
sejajar dalam pelayanan kesehatan.
2) Keperawatan Sebagai Bentuk Pelayanan Asuhan Keperawatan
Keperawatan sebagai bentuk pelayanan asuhan keperawatan professional
yang diberikan kepada masyarakat akan terus memenuhi tuntutan kebutuhan
masyarakat dengan mengadakan perubahan dalam penerapan model asuhan
keperawatan yang tepat, sesuai dengan lingkup praktek keperawatan.
3) Keperawatan Sebagai Ilmu Pengetahuan
Keperawatan sebagai ilmu pengetahuan terus selalu berubah dan
berkembang sejalan dengan tuntutan zaman dan perubahan teknologi, karena itu
dituntut selalu mengadakan perubahan melalui penelitian keperawatan sehingga
ilmu keperawatan diakui secara bersama oleh disiplin ilmu lain yang memiliki
landasan yang kokoh dalam keilmuan.
4) Keperawatan Sebagai Komunikasi
Keperawatan sebagai komunikasi dalam masyarakat ilmiah harus selalu
menunjukkan jiwa professional dalam tugas dan tanggung jawabnya dan selalu
mengadakan perubahan sehingga citra sebagai profesi tetap bertahan dan
berkembang.
5) Perawat Sebagai Pembaharu
(Oslan dalam Kozier, 1991) Perawat sebagai pembeharu harus menyadari :
a) Kebutuhan Sosial
b) Berorientasi pada masyarakat ( klien )
c) Kompeten dalam hubungan interpersonal
d) Memahami sikap dan perilakunya
Karakteristik Seseorang Pembaharu menurut Maukseh dan Miller dalam
Kozier, 1991 antara lain :
a) Dapat mengatasi / menanggung resiko
b) Komitment akan keberhasilan perubahan
c) Mempunyai pengetahuan yang luas tentang keperawatan

18

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perubahan adalah suatu proses dimana terjadinya peralihan atau
perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis.
Artinya dapat menyesuaikan diri dari lingkungan yang ada. Perubahan
dapat mencakup keseimbangan personal, sosial maupun organisasi untuk
dapat menjadikan perbaikan atau penyempurnaan serta dapat menerapkan
ide atau konsep terbaru dalam mencapai tujuan tertentu. Perubahan
merupakan aspek integral dalam keperawatan, dan perawat sering kali
bertindak sebagai agen pengubah, yaitu individu yang memulai,
memotivasi, dan melakukan perubahan seperti pendidikan kesehatan,
perawatan klien, dan promosi kesehatan. Proses berubah ini melibatkan
klien individu, keluarga, komunitas, organisasi, keperawatan sebagai
profesi, dan seluruh sistem pemberian perawatan kesehatan. Secara
keseluruhan, konsep perubahan telah teraplikasikan dalam keperawatan
sebagai profesi, sebagai bentuk pelayanan asuhan keperawatan, sebagai
ilmu pengetahuan, sebagai komunikasi, dan sebagai pembaharu.

3.2 Saran
Di dalam perubahan, sesuai dengan teori yang telah dikemukakan oleh
para ahli dan sesuai kebutuhan zaman, peran perawat dalam perubahan adalah
suatu tantangan yang berlanjut. Pengetahuan akan tren masa lalu dan keperawatan
dari segala aspek, baik itu pendidikan, teknologi, ekonomi, sosial, budaya, an
keprofesian masa kini, adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi

19

perubahan. Pengetahuan akan literatur dan klinis diperlukan lebih jauh untuk
melihat pembaharuan keperawatan dalam konsep perubahan.

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Aziz Alimul. (2004). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Surabaya:
Salemba Medika.
Kozier, Erb, Berman, Snyder. (2010). Fundamental Keperawatan Ed.7. Jakarta :
EGC.
Kreitner, Robert and Angelo Kinicki. (2001). Organizational Behavior. Fifth
Edition. Irwin McGraw-Hill.
Lippit, R., Watson, J., & Westley, B. (1958). The dynamics of planned change.
New York : Harcourt Brace.
Nurhasanah, D. (2013). Perubahan Dalam Keperawatan. Jakarta.
Nursalam (2007). Manajemen Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Jakarta: Salemba Medika
Sullivan dan Decker.(1982). Effective Management in Nursing, California :
Addison Wesley Publishing Company.

20