Anda di halaman 1dari 15

STUDI KINETIKA ADSORPSI LARUTAN LOGAM TIMBAL

(Pb) MENGGUNAKAN KARBON AKTIF DARI BATANG


PISANG
KINETICS STUDY OF ADSORPTION OF PLUMBUM
METAL SOLUTION BY USING ACTIVATED CARBON
FROM BANANA STEM
Husni Husin and Cut Meurah Rosnelly
Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala
Darussalam, Banda Aceh - 23111, Indonesia
e-mail: husni_husin2002@yahoo.com
Abstract
Kinetics absorption study on plumbum (Pb) metal solution on activated carbon
from banana stem has been done. Activated carbon were prepared by pyrolisys
at 350 oC and 550 oC. Nitrogem gas was streamed at the same time to force the
volatiles matter from the pores about 100 ml/minute. The equilibrium adsorption
data of plumbum (Pb) metal solution on activated carbon was analyzed by the
Langmuir isotherm model. Activated carbon that was pyrolised at 350 oC has the
constant of K of 0,1419 l/mg and Xm 9,21 mg/gr, Activated carbon that was
pyrolised at 350 oC has the constant of K of, while the activated carbon that was
pyrolised at 550 oC has the constant of K of 0,1508 l/mg, and 12,07 mg/. The
kinetics adsorption of plumbum metal followed an apparent first-order verified
by the linear transforms ln Co/C = f (t) with k values are of 0,0249; 0,0284; and
0,033 min.
Key word: kinetics study, banana stem, activated carbon, adsorptiom, plumbum
metal.
Abstrak
Studi kinetika adsorpsi larutan logam timbal menggunakan karbon aktif dari
batang pisang telah dilakukan. Karbon aktif yang digunakan dalam penelitian ini
disiapkan dengan cara pirolisis pada suhu 350 oC dan 550 oC. Bersamaan dengan
itu dialiri gas N2 untuk mendorong senyawa-senyawa volatil dari dalam pori
sebanyak 100 ml/menit. Data isotermal adsorpsi logam Pb pada karbon aktif
dianalisa menurut model Langmuir. Karbon aktif yang dipirolisis pada 350 oC
memiliki konstanta Langmuir K 0,1419 l/mg dan Xm 9,21 mg/gr, sedangkan
karbon aktif yang dipirolisis pada 450oC memiliki nilai K 0,1508 l/mg dan Xm
12,07 mg/gr. Kinetika adsorpsi logam timbal mengikuti reaksi orde-satu dengan
nilai konstanta kecepatan penyerapan 0,0249; 0,0284; dan 0,033 menit.
Kata kunci : studi kinetika, batang pisang, karbon aktif, adsorpsi, logam timbal.

PENDAHULUAN
Karbon aktif merupakan adsorben yang sangat bagus dan banyak
digunakan karena luas permukaan dan volume mikropori sangat besar
[Isam, dkk, 2007], kapasitas adsorpsi sangat besar, laju kinetika adsorpsi
sangat cepat, dan relatif mudah dapat diregenerasi [Dinesh, dkk., 2007].
Karbon aktif dapat diproduksi dari berbagai bahan yang mengandung
karbon. Ketertarikan pemilihan bahan baku (prekursor) untuk karbon
aktif

dalam

jumlah

besar

disebabkan:

ketersediaannya,

harga

terjangkau, dan tidak menyebabkan pencemaran, selain itu proses


pembuatan dan penggunaan produk juga merupakan hal yang
dipertimbangkan [Madhava, dkk.,2007].
Prekursor-prekursor yang digunakan untuk memproduksi karbon
aktif adalah bahan organik yang kaya karbon,

seperti: batu bara,

lignite, dan kayu. Meskipun batu bara merupakan prekursor yang


sangat banyak digunakan, namun,

buangan pertanian pada saat ini

merupakan pilihan yang sangat menjanjikan [Dinesh, dkk., 2007]. Karbon


aktif dari charcoal yang berasal dari residu akan menurunkan tekanan
pada hutan sejak kayu juga banyak digunakan untuk keperluan ini
[Madhava, dkk. 2007, Renoua, dkk., 2007]. Banyak buangan padat pertanian
seperti tempurung kelapa [Sumathi, dkk., 2007], kulit biji kopi [Baquero, dkk,
2003], serat kayu dari serbuk gergaji, dan kulit buah-buahan, telah
ditemukan merupakan prekursor yang sangat layak untuk karbon aktif
disebabkan mengandung banyak karbon, dan rendah kadar abu.
Buangan pertanian telah dipertimbangkan menjadi bahan baku yang
sangat penting karena tertama 2 fakta: a) sumber yang dapat
diperbaharui dan harga nyapun murah.
Seiring dengan meningkatnya industri maka jumlah logam berat juga akan
meningkat sebagai logam berat yang berakibat buruk terhadap lingkungan. Logam-logam
berat sangat special menyebabkan rusak lingkungan. Paling kurang 20 jenis logam berat
diklasifikasikan sebagai racun, dan setengah dari ini telah masuk ke dalam lingkungan
dalam jumlah yang sangat besar dan beresiko pada kesehatan manusia [Renoua, dkk.,
2007]. Kemampuan badan air dalam mempertahankan kehidupan dalam air dan juga
keberlanjutan untuk kegunaan lain,

bagaimanapun, tergantung pada elemen-elemen

kimia yang ada dalam badan air.


Timbal atau Pb adalah logam beracun yang dapat terakumulasi dalam organ tubuh
manusia dan hewan. Kumulatif dari pengaruh racun adalah menghancurkan jaringan
tubuh yang serius, otak, fatal pada anemia dan ginjal. Dalam air alami konsentrasi timbal
direkomendasikan WHO di bawah 10 mg/L1 [Alamansa, dkk., 2004].
Konsentrasi logam (Pb) sangat menggangu fungsi fisiologi jaringan tubuh dan
mempengaruhi proses biokimia. Bagaimanapun, hanya sebagai logam berat, ketika Pb
berubah dalam air alam dapat meningkatkan konsentrasi dalam buangan, industri
pengolahan air atau dari pekerjaan tambang, hal itu dapat menyebabkan akibat keracunan
pada manusia dan kehidupan ekosistem air [Diana, dkk, 2007].
Karena itu, logam Pb dari buangan air industri perlu di hilangkan terlebih dahulu
air buangan industri dialirkan ke lingkungan. Sejumlah teknologi telah dikembangkan
bertahun-tahun untuk memindahkan logam berat dari air buangan industri. Teknologi
yang sangat penting adalah termasuk koagulasi /flokulasi. Teknologi konvensional secara
kimia adalah presipitasi, ion-exchange, proses elektrokimia dan teknologi membran.
Seluruh metode kimia telah dibuktikan membutuhkan biaya tinggi dan kurang effisien
[Alamansa, dkk., 2004]. Ditambah lagi, metode kimia akan meningkatkan polusi pada
lingkungan.
Karbon aktif salah satu adsorben yang paling populer untuk menghilangkan ionion logam dari larutan (Kikuchi dkk., 2006; Kassim, dkk., 2004). Karena harga agak
tinggi secara komersial maka karbon aktif agak terbatas digunakan oleh Negara
berkembang. Karenanya, karbon aktif perlu diproduksi dari bahan baku buangan
pertanian lokal dan murah.
Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kemungkinan aplikasi dari karbon aktif
yang dibuat dari batang pisang untuk menghilangkan logam timbal dalam larutan. Hal ini
mengingat pohon pisang ini sangat banyak terdapat diseluruh indonesia, kususnya dapat
tumbuh pada iklim yang agak panas. Evaluasi ditinjau dari kapasitas adsorpsi penyerapan
logam timbal yang diperoleh dari model isotermal adsorpsi. Selain itu juga ditinjau studi
kinetika adsorbsi untuk mengetahui orde reaksi.
Pembuatan karbon aktif dari batang pisang belum banyak dilakukan. Sedangkan
penggunaan bahan baku lainnya seperti tempurung kelapa memang telah luas dilakukan dalam
skala laboratorium. Studi literatur tentang pembuatan karbon aktif dari batang pisang telah
dilaporkan oleh Manocha (2001), dengan menerapkan metode fisika dan kimia. Aktivasi karbon

dengan bahan kimia paling umum digunakan. Namun, penggunaan bahanbahan kimia seperti
asam nitrat, zink klorida, dan kalium hidroksida dapat menimbulkan masalah baru. Masalah yang
ditimbulkan biasanya berupa pencemaran yang bersumber dari limbah sisa perendaman bahan
sehingga dapat merusak ekologi. Oleh karena itu, pembuatan karbon aktif dari batang pisang pada
penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode fisika melalui proses pirolisis dan aktivasi
menggunakan gas N2.
Pirolisis adalah penguraian bahan-bahan organik pada temperatur tinggi di bawah kondisi
non-oksidatif. Pendekatan utama dari pirolisis adalah pendaurulangan bahan-bahan yang dapat
diuraikan secara termal untuk menghasilkan produk-produk yang bernilai. Pirolisis dilaksanakan
pada kondisi temperatur di atas 250oC. Jika dalam limbah terdapat bahan-bahan volatile atau semi
volatile, peristiwa desorbsi termal juga akan terjadi (Kaminsky, dkk, 2000).
Reaksi pirolisis dapat diterangkan secara teori. Sebagai contoh, pirolisis selulosa :
( C6 H10 O5 )n 6n C + 5n H2O

(1)

Karbon aktif adalah karbon yang mengalami proses pengaktifan dengan menggunakan
bahan pengaktif sehingga pori-porinya terbuka, luas permukaan karbon menjadi lebih besar, dan
kapasitas adsorpsinya menjadi lebih tinggi. Seiring dengan perkembangan teknologi adsorpsi,
kebutuhan akan karbon aktif sebagai adsorben semakin meningkat, sehingga pengembangan
tentang pembuatan karbon aktif masih potensial untuk dilakukan.

Adsorpsi adalah suatu istilah yang menunjukkan pengambilan gas, uap air atau
cairan (adsorbat) oleh permukaan atau bidang antar muka (adsorban). Kesetimbangan
adsorpsi yaitu suatu penjabaran secara matematika suatu kondisi isothermal yang khusus
untuk setiap sorbat/sorben dan merupakan suatu informasi fundamental yang diperlukan
untuk mendesain industri-industri adsorber. Jadi untuk masing-masing bahan penyerap
(adsorben) dan bahan yang diserap (adsorbat) memiliki kesetimbangan adsorpsi tersendiri
dimana jumlah zat yang diserap merupakan fungsi konsentrasi pada temperatur tetap
(Husni, dkk., 2005). Model kesetimbangan adsorpsi yang sering digunakan untuk
menentukan kesetimbangan adsorpsi adalah isothermal Langmuir dan Freundlich (Baral,
dkk., 2007).
a. Persamaan isotherm Langmuir dapat dinyatakan sebagai berikut (Langmuir, 1918):

Qs

X m KCs
1 KCs

(2)

Dimana :

Qs
Ce
Xm
K

= kerapatan adsorpsi pada konsentrasi kesetimbangan


adsorbat / gr adsorban)
= konsentrasi adsorbat dalam larutan (mg/liter)
= kapasitas adsorpsi maksimum yang berhubungan
cakupan adsorpsi monolayer menyeluruh (mg zat
yang teradsorpsi / gr adsorban)
= Konstanta Langmuir yang berhubungan dengan
adsorpsi (Liter adsorban / mg adsorbat)

Ce (mg
dengan
terlarut
energi

Persamaan di atas dapat dilinearkan menjadi:


1 1 KCs

Qs
X m KCs

(3)

Cs
1
1

Cs
Qs X m K X m

(4)

Y = a+bX

(5)

b. Persamaan Isotherm Freundlich


Freundlich menyusun

isotherm adsorpsi dengan mengasumsikan bahwa

permukaan adsorban adalah heterogen, dan model ini sesuai digunakan untuk larutan
encer dan campuran (Kouyumdjiev dalam Bastian, 2002). Persamaan isotherm Freundlich
yang digunakan :

Qe K f C e
Dimana : Qe
Ce
Kf
n

(Baral, dkk., 2007)

(6)

= kerapatan adsorpsi pada konsentrasi kesetimbangan Ce (mg


adsorbat / gr adsorban)
= konsentrasi adsorbat dalam larutan (mg/liter)
= Konstanta Freundlich yang berhubungan dengan energi
adsorpsi (Liter adsorban / mg adsorbat)
= konstanta empiris yang bergantung pada beberapa faktor
lingkungan dan harganya lebih besar dari 1

Freundlich yang berhubungan dengan energi adsorpsi (liter adsorban / mg adsorbat), n


konstanta empiris yang bergantung pada beberapa faktor lingkungan dan harganya lebih
besar dari 1.

Gambar 1. Model isothermal Langmuir dan isothermal Freundlich


Kinetika adsorpsi menyatakan tingkat kecepatan penyerapan yang terjadi pada
adsorben terhadap adsorbat. Laju adsorpsi didasarkan atas asumsi bahwa adsorpsi ion Pb
ke dalam partikel karbon aktif adalah suatu proses difusi yang dikendalikan oleh proses
dapat balik tingkat pertama. Dari model kinetik ini akan diperoleh nilai k yang berguna
dalam perancangan peralatan adsorpsi (Tsutsumi, dkk., 1998).
Untuk pengujian laju adsorpsi dapat dilakukan dengan menduga orde reaksi yang
mungkin (Husni, 2007).
Pertimbangkan reaksi berikut:

produk . Jika reaksi orde-persamaan yang

digunakan adalah:
dC A
kC A
dt

(7)

dengan CA = CAo pada t = 0 maka diperoleh:


ln

C Ao
kt
CA

(8)

ln CA = -kt + lnCAo

(9)

Jika disusun dalam bentuk persamaan linier:


Y = - mx + b
Plot ln

C Ao
vs t, sebagai fungsi waktu diperoleh garis linier dengan slope (k) untuk
CA

reaksi orde-satu. Jika reaksi orde dua :


adalah:

produk , persamaan yang digunakan

dC A
kC A2
dt

(10)

Integrasi dengan CA = CAo pada t = 0 :


1
1

kt
C A C Ao
Plot

(11)

1
vs t, sebagai fungsi waktu adalah linier dengan slope (k) untuk reaksi orde-dua
CA

METODOLOGI PENELITIAN
Pembuatan Karbon aktif.
Karbon aktif dari batang pisang disiapkan seperti yang dilaporkan oleh Husni, dkk.,
(2004). Sampel dipotong berbentuk kubus dengan ukuran 1 x 1 x 1 cm, kemudian sampel
dikeringkan dengan penjemuran selama 1 minggu, kemudian dilanjutkan dengan
pengovenan pada suhu 110oC selama 24 jam untuk menghilangkan uap dan menurunkan
kelembaban sample, namun apabila pada sample masih banyak terdapat kandungan air,
maka akan dilakukan pengeringan ulang. Pengaktivan dilakukan dimulai dengan pirolisis
dan sekaligus proses aktivasi dengan dialiri gas nitrogen. Untuk menghilangkan bahanbahan volatile, sampel dipirolisis dengan cara dipanaskan pada suhu 350 550 oC dan
tekanan tetap 1 atmosfir. Bersamaan dengan itu juga dialirkan gas N 2 untuk mendorong
senyawa-senyawa volatil dari pori yang disebut dengan aktivasi selama 0,5 jam. Gas N 2
(dengan kemurnian 99.99%) dialirkan dengan laju konstan (100 cm3/menit
Reaktor didinginkan selama 1 jam sampai suhu tertentu, kemudian arang
dikeluarkan dari reaktor. Dilakukan pengayakan arang untuk memperoleh arang dengan
ukuran yang sama (100 mesh). Flow diagram dari pembuatan carbon aktif ditampilkan
pada Gambar 2.
drying

heating
at 110oC, 24 h
sieving
adjustted of
temperature

Pyrolisis and
activation

Adjusted of
recidence time

sieving

yield

Karbon aktif
Kinetict study

adsoption capacity of
activated carbon
(Atomic adsoprtion
spectroscopy)

Gambar 2. Diagram alir persiapan karbon aktif


Penentuan Waktu kontak
Karbon aktif yang dipilih yaitu karbon aktif yang dihasilkan pada temperatur
pirolisis 350oC dan 550oC dengan waktu tinggal 0,5 jam. Konsentrasi awal adsorbat
ditetapkan sebesar 1000 ppm. Waktu kontak pada percobaan ini dilakukan berturut-turut
1, 2, 4, dan 6 jam. Setelah mengalami penyerapan pada waktu tersebut, kemudian sampel
dianalisa untuk mengetahui konsentrasi adsorbat yang tersisa dalam larutan (mg/l).
Kapasitas adsorpsi logam Pb 2+ oleh karbon aktif
Analisa kapasitas adsorpsi karbon aktif dilakukan untuk menyerap logam Pb 2+
dalam larutan Pb(NO3)2. Larutan sorbat (Pb(NO3)2) dimasukkan ke dalam botol
bervolume 100 ml dengan konsentrasi awal (Co) masing-masing 5, 10, 25, 50, 75, 100,
125, 150, 175, 200, 225, dan 250 mg/l. Kemudian karbon aktif ditambah sebanyak 1
gram. Lalu botol-botol

tadi digoyang dengan shaker dengan kecepatan 200 rpm.

Perlakuan ini berlangsung selama 4 jam sesuai dengan analisa awal waktu kesetimbangan
(waktu kontak). Setelah konsentrasi kesetimbangan tercapai, larutan disaring dan
filtratnya dianalisis konsentrasi kesetimbangan, Cs (konsentrasi larutan tersisa, mg/l)
dengan alat atomic absorption spectroscopy (AAS).
Studi Kinetika
Larutan sorbat (Pb(NO3)2) dimasukkan ke dalam botol bervolume 100 ml dengan
konsentrasi awal (Co) 100 mg/l.
sampling
bottle

devider
Rotation
Controller

Power

Figure 3. Skema alat studi kesetimbangan dan studi kinetika dan analisa kapasitas
adsorpsi karbon aktif
Selanjutnya sampel diambil pada waktu adsorbsi bertuerut-turut 0 , 3, 5, 20, 20, 30, 45,
70, 90, 120, 150, dan 180 menit untuk menentukan orde reaksi. Untuk uji kinetika
digunakan karbon aktif yang diaktivasi pada 350 oC dengan lama pirolisis 0,5; 1; dan 1,5
jam. Selanjutnya dapat ditentukan orde reaksi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Waktu kontak
Waktu kontak adalah salah satu variabel yang mempengaruhi proses penyerapan,
dimana waktu kontak merupakan lamanya kontak antara adsorben (karbon aktif) dengan
adsorbat (ion timbal). Dalam suatu proses adsorpsi, proses akan terus berlangsung selama
belum terjadi suatu kesetimbangan. Karena itu untuk mencari distribusi kesetimbangan
antara adsorben dengan adsorbat dilakukan percobaan dengan menvariasikan waktu
kontak. Penentuan waktu kesetimbangan dilakukan untuk mengetahui kapan suatu bahan
penyerap (karbon aktif) mengalami kejenuhan sehingga proses adsorpsi terhenti.

10

Gambar 4. Hubungan waktu kontak terhadap konsentrasi ion timbal yang tersisa (Cs)
Dari Gambar 4 terlihat bahwa lamanya waktu kontak pada proses adsorpsi ion
timbal oleh karbon aktif dari batang pisang memberi pengaruh yang signifikan terhadap
penyerapan konsentrasi ion timbal dalam larutan. Mula-mula banyaknya ion timbal
teradsorpsi dalam jumlah kecil. Namun, dengan bertambahnya waktu kontak jumlah ion
timbal yang terserap meningkat dalam jumlah yang signifikan. Penyerapan terlihat relatif
konstan mulai waktu 2 jam, sehingga dapat diperkirakan bahwa waktu kesetimbangan
adsorpsi ion timbal oleh karbon aktif batang pisang tercapai setelah 2 jam.
Kapasitas adsorpsi logam Pb 2+ oleh karbon aktif
Model Langmuir (Hameed dan Daud, 2007) adalah model yang sangat sering
digunakan untuk model polusi polutan dari cairan. Model ini diperoleh di bawah asumsi
ideal bahwa adsorpsi keseluruhan terjadi pada permukaan dan homogen. Asumsi lainnya
bahwa hanya satu dari molekul adsorbat tertempati pada bagian aktif, tidak ada adsorpsi
lanjutan dari adsorbat tertempati pada bagian tersebut. Studi kesetimbangan logam Pb2+
dilakukan pada karbon aktif yang diaktivasi pada temperatur 3500C dan 550 oC, serta laju
alir gas nitrogen 100 ml/menit dan waktu 0,5 jam. Isoterm adsorpsi logam timbal pada
karbon aktif diperoleh dengan cara membuat kurva hubungan antara konsentrasi
kesetimbangan dalam fasa cair (Cs) dengan konsentrasi kesetimbangan dalam fasa padat
(Qs) menggunakan persamaan (2).
Qs

X m KCs
1 KCs

Plot nilai Cs terhadap Qs menunjukkan penyerapan logam Pb2+ oleh karbon aktif
berkelakuan menurut isoterm Langmuir. Sebagaimana terlihat pada Gambar 5.a dan 5.b.

11

10

14
12
Qs (m g/g)

Qs (m g/g)

8
6
4
2

10
8
6
4
2

0
0

50

100

150

200

50

Cs (m g/l)

100

150

Cs (m g/l)

(a)
(b)
Gambar 5. Grafik Isoterm Langmuir pada penyerapan logam Pb2+ : (a) karbon aktif
yang diaktivasi pada 350 oC (b) karbon aktif yang diaktivasi pada 450oC.

Nilai konstanta Langmuir (K) dan kapasitas adsorbsi maksimum (Xm) didapat
dengan memplotkan nilai Cs/Qs terhadap Cs dari persamaan (4):
Cs
1
1

Cs
Qs X m K X m
Plot kurva ini akan menghasilkan sebuah persamaan garis lurus seperti pada Gbr.
6.a dan 6.b. Dari nilai K dan Xm tersebut dapat ditentukan kapasitas adsorpsi karbon

20.00
18.00
16.00
14.00
12.00
10.00
8.00
6.00
4.00
2.00
0.00

14.00

y = 0.1085x + 0.7549
R2 = 0.9969

y = 0.0828x + 0.5492
R2 = 0.998

12.00
Cs/Qs (g/l)

Cs/Qs (g/l)

aktif dari batang pisang dalam menyerap logam Pb dalam air.

10.00
8.00
6.00
4.00
2.00
0.00

0.0

50.0

100.0
Cs (m g/l)

150.0

200.0

0.0

50.0

100.0

150.0

Ce (m g/l)

(a)
(b)
Gambar 6. Grafik Linierisasi Model Langmuir pada penyerapan logam Pb 2+ oleh karbon
aktif (a) aktivasi pada 350 oC (b) aktivasi pada 550 oC.

12

Dari Gambar 6 dapat dilihat hasil yang diperoleh sebagai berikut:


a. aktifasi pada 350oC
Y = 0,1085X + 0,7649

(Pers. a)

Nilai K = 0,1419 liter/mg

Xm = 9,21 mg/gr

b. aktifasi pada 450 oC


Y = 0,0828X + 0,5492

(Pers. b)

Nilai K = 0,1508 liter/mg

Xm = 12.07 mg/gr

Penyerapan logam Pb2+ oleh karbon aktif tersebut mengikuti pola isotherm
Langmuir dengan nilai K 0,1419 lt/mg dan Xm 9,21 mg/gr untuk aktivasi 350oC, dan
karbon aktif yang diaktifasi pada 450oC diperoleh nilai K 0,1508 lt/mg dan X m 12,07
mg/gr.
Studi Kinetika
Studi kinetika adsorpsi hanya digunakan karbon aktif yang dipirolisis pada suhu
350 oC dan waktu pirolisis 0,5; 1; dan 1,5 jam. Penentuan orde dan konstanta laju reaksi
dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut:
ln CA = -kt + lnCAo
120
1.2

t=0.5 jam
t = 1 jam
t =1,5 jam

Cs (m g/l)

80

l n (C o/C s )

100

y =0.033x
R 2 =0.9997

0.8

y =0.0284x
R 2 =0.9992

0.6
0.4

y =0.0249x
R 2 =0.9983

0.2

60

0
0

10

15

20

25

30

35

t (meni t)

40

20

0
0

50

100

150

200

t (menit)

Gambar 7. Kinetika penyerapan logam Pb pada karbon aktif yang diaktivasi pada 350 oC.
Kurva linier di dalam mengikuti orde-satu hasil plot antara ln (Co/Cs) = f (t).

13

Kondisi Co = 100 mg/l, karbon aktif = 1 gr, volume larutan Pb = 100 ml,
Dari hubungan t versus Cs dan plot dalam bentuk garis lurus antara t terhadap ln
(Co/Cs) (Co =CAo, dan Cs = CA) tampak bahwa adsorpsi mengikuti kinetika orde-satu
seperti diilustrasikan dalam Gambar 7. Plot ln

C Ao
vs t, sebagai fungsi waktu diperoleh
CA

garis linier dengan slope (k). Nilai konstanta kecepatan adsorpsi adalah 0,0249; 0,0284;
dan 0,033 (menit) -1. Dari nilai k (konstanta kecepatan adsorpsi) ini diperoleh informasi
besarnya laju adsorpsi logam timbal pada karbon aktif dari batang pisang.
4. Kesimpulan dan Saran
a. Kesimpulan
Waktu kesetimbangan adsorpsi ion timbal oleh karbon aktif batang pisang tercapai
setelah 2 jam. Penyerapan logam Pb2+ oleh karbon aktif tersebut mengikuti pola isotherm
Langmuir dengan nilai K 0,1419 lt/mg dan Xm 9,21 mg/gr untuk aktivasi 350oC, dan
karbon aktif yang diaktifasi pada 450oC diperoleh nilai K 0,1508 lt/mg dan X m 12,07
mg/gr. Kinetika adsorpsi mengikuti kinetika orde-satu. Nilai konstanta kecepatan
penyerapan masing-masing karbon aktif yang dipirolisis pada 350 oC dan waktu 0,5; 1;
dan 1,5 jam masing-masing adalah 0,0249; 0,0284; dan 0,033 (menit) 1.
b. Saran
Penggunaan karbon aktif dari batang pisang sebagai adsorben perlu diuji pada
skala pilot untuk mendapatkan data-data tambahan yang diperlukan dalam perancangan
sistem pengolahan air.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada DIKTI melalui proyek Penelitian Dasar
yang berkenan mendanai penelitian ini. Dalam kesempatan ini penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada Supriandi Satria dan Joewanda, atas semua bantuannya dan kepada
semua pihak yang telah banyak membantu.
Daftar Pustaka

14

1.

Ahmad, A.A. Hameed B.H., Aziz N. Adsorption of direct dye on palm ash: Kinetic
and equilibrium modeling, Journal of Hazardous Materials 141 (2007) 7076.

2.

Alamansa, C., Molina-Sabio, C. Alamansa, M. Molina-Sabio, F. RodrguezReinoso, Adsorption of methane into ZnCl2-activated carbon derived discs,
Adsorption of methane into ZnCl2-activated carbon derived discs, Micropor.
Mesopor. Mater. 76 (2004) 185.

3.

Baral S.S., Dasa, S.N. Chaudhury G.R., Swamya, Y.V. Rath P., Removal of Cr(VI)
by thermally activated weed Salvinia cucullata in a fixed-bed column, Journal of
Hazardous Materials 161 (2009) 14271435.

4.

Bastian, A., 2002, Adsorpsi Merkuri Menggunakan Serbuk Gergaji, Disertasi


Doctoral Degree, ITB, Bandung.

5.

Baquero, M.C. Giraldo, L. Moreno, J.C. Suarez-Garc F., Martnez-Alonso, A,.


Tascon J.M.D., Activated carbons by pyrolysis of coffee bean husks in presence of
phosphoric acid, J. Anal. Appl. Pyrolysis 70 (2003) 779784.

6.

Diana C.S. Azevedo a, J. Cassia S. Arau jo a, Moises Bastos-Neto a, A. Eurico B.


Torres a, Emerson F. Jaguaribe b, Celio L. Cavalcante Microporous activated
carbon prepared from coconut shells using chemical activation with zinc chloride,
Microporous and Mesoporous Materials 100 (2007) 361364

7.

Dinesh, M., Kunwar P. Singh, Vinod K. Singh, Wastewater treatment using low
cost activated carbons derived from agricultural byproductsA case study, J
Journal of Hazardous Materials 152 (2008) 10451053.

8.

Georgova, K, Petrove N, Butuzoa L., (1993), Evolution of Active Surface of


Carbon Produced From Farious Raw Materials by Steam Pyrolysis/Activation,,
Journal Chem. Tech. Biotechnology, 58, 321-30.

9.

Guo, J. dan Lua, A.C., 2000, Preparation and Characterization of Adsorbents


froim Oil Palm Fruit Solid Waste, Journal of Oil Palm Research Vol. 12 No. 1,
June 2000, p.64-70, Malaysian Palm Oil Board.

10. Husni H.,, Supriandy Satria, Yusri B. Sulaiman, and Joewanda, 2004, Preparation
of Activated Carbon from Banana Stem by Pirolysis and Activation using Nitrogen
gas, Proceedings National Conference On Chemical Engineering Sciences and
Applications (CHESA), Banda Aceh, Indonesia
11. Husni H.,, Wahyu Rinaldi, Bastian Arifin, dan Azwir, 2005, Pembuatan Karbon
Aktif dari Tempurung Kelapa Sawit (Elaies Guineensis Jacq.) Menggunakan NaOH
dan gas Nitrogen sebagai Aktifator, Proceedings National Conference On
Chemical Engineering Sciences and Applications (CHESA),
Banda Aceh,
Indonesia.
12. Husni, H., 2007, Kinetika dan Katalisa, Edisi 1, ISBN 978-979-8278-24-2, Penerbit
Syiah Kuala University Press, Banda Aceh.

15

13. Hameed, B.H. Daud, F.B.M., Adsorption studies of basic dye on activated carbon
derived from agricultural waste: Hevea brasiliensis seed coat, Chemical
Engineering Journal 139 (2008) 4855.
14. Isam H. Aljundi, Nabeel Jarrah A study of characteristics of activated carbon
produced from Jordanian olive cake, J. Anal. Appl. Pyrolysis 81 (2008) 33
36.
15. Kassim, A., Joseph, C.G., Zainal, Z., Zobir Hussein, M., Jelas Haron,M.D., Halim
Abdullah, A., 2004. Activated carbons prepared from oil palm shells: application for
column separation of heavy metals. Journal of the Indian Chemical Society 81,
946949.
16. Kikuchi, Y., Qian, Q., Machida, M., Tatsumoto, H., 2006. Effect of ZnO loading to
activated carbon on Pb(II) adsorption from aqueous solution. Carbon 44, 195202.
17. Langmuir, I., The adsorption of gases on plane surfaces of glass, mica and platinum,
J. Am. Chem. Soc. 40 (1918) 22212295.
18. Madhava M., Rao, Chandra G.P. Rao, Seshaiah K., Choudary N.V., Wang M.C.,
Activated carbon from Ceiba pentandra hulls, an agricultural waste, as an adsorbent
in the removal of lead and zinc from aqueous solutions, Waste Management 28
(2008) 849858.
19. Prahas, D., Kartika, Y. , Indraswati,N., Ismadji, N., Activated carbon from jackfruit
peel waste by H3PO4 chemical activation: Pore structure and surface chemistry
characterization, Chemical Engineering Journal 140 (2008) 3242
20. Renoua, S. Givaudan J.G. , Poulain S., Dirassouyan F., Moulin , P. Landfill leachate
treatment: Review and opportunity, Journal of Hazardous Materials 150 (2008)
468493.
21. Sumathi, S. Chai, S.P. Mohamed, A.R. Utilization of oil palm as a source of
renewable energy in MalaysiaRenewable and Sustainable Energy Reviews, 2007.