Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH FISIOLOGI TERNAK

Sistem Pencernaan pada Hewan Monogastrik dan Hewan Poligastrik


Oleh :
Kelas : D
Kelompok 2
Coni Sondari

200110130002

Iis Widayanti

200110130025

Khrisna Putra R

200110130122

Chairunnisa

200110130266

M Fakhri Yuhsid

200110130295

Risa Gunawan

200110130334

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014

I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Sistem pencernaan sangat berpengaruh dalam proses kehidupan makhluk

hidup. Pengetahuan tentang organ pencernaan sangat penting karna berhubungan


erat dengan proses pencernaan termasuk absorbs. Proses pencernaan sepertti
sebuah Industri, misalnya industri tekstil yang menghasilkan pakaian, dalam
industri ini ada tiga kompenen yang harus di lewati yaitu input, proses, dan output
selain itu ada limbah. Kalau dalam industri tekstil inputnya yaitu berupa bahan
baku yaitu benang lalu di masukkan dalam mesin diproses untuk mengolah bahan
baku tersebut lalu keluarlah hasilnya berupa pakian, sama halnya dalam proses
pencernaan ada tiga komponen yaitu input, proses dan ouput. Kalau berbicara
tentang pencernaan itu punya berupa bahan makanan, bahan makanan ini di
gunakan sebagai bahan baku, tidak mungkin proses pencernaan terjadi tanpa
adanya bahan baku yang akan di cerna. Oleh karna itu akan di bahas dalam
makalah ini.
Pemberian pakan pada ternak ruminansia maupun pada ternak nonruminanisa secara praktis memerlukan keterangan dasar mengenai zat-zat
makanan yang terkandung di dalam bahan makanan dan zat-zat yang di perlukan
oleh tubuh sesuai dengan status fisilogis ternak. Pada hewan bahan makanan yang
diubah menjadi energi melalui pencernaan adalah karbohidrat, lemak, protein.
Sedangkan yang langsung diserap berupa vitamin, mineral, hormon, air.
Hewan mempunyai 4 aktivitas makan, yaitu : prehensi (mengambil
makanan), mastikasi (mengunyah), salivasi (mensekresikan air ludah), dan
deglutisi (menelan). Dalam hal ini deglutisi dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain : peristaltik (peristaltik esophagus mendorong bolus ke arah lambung),
tekanan buccopharyngeal (mendorong bolus ke sofagus), dan gravitasi (membantu

memudahkan jalannya bolus). Pada pencernaan terdapat lambung tunggal untuk


hewan carnivora dan omnivora, lambung komplek untuk hewan herbivora, dan
pencernaan pada unggas.
1.2

1.3

Rumusan Masalah
- Apa yang dimaksud dengan sistem pencernaan.
- Apa yang dimaksud dengan sistem pencernaan monogastrik dan sistem
-

pencernaan poligastrik.
Apa sajakah organ-organ sistem pencernaan monogastrik dan sistem

pencernaan poligastrik.
Bagaimana mekanisme sistem pencernaan monogastrik dan sistem

pencernaan poligastrik.
- Apa sajakah penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan
Tujuan
- Untuk mengetahui pengertian dari sistem pencernaan.
- Untuk mengetahui pengertian sistem pencernann monogastrik dan
-

sistem pencernaan poligastrik.


Untuk mengetahui organ-organ pada sistem pencernaan monogastrik

dan sistem pencernaan poligastrik.


Untuk mengetahui mekanisme dari sistem pencernaan monogastrik dan

sistem pencernaan poligastrik.


Untuk mengetahui penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan

II
PEMBAHASAN
2.1

Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan (digestive system) merupakan sistem organ dalam


hewan multisel yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan
nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut melalui dubur.
2.1.1

Sistem Pencernaan pada Hewan Monogastrik (Non Ruminansia)


Hewan monogasrik adalah hewan-hewan yang memiliki lambung

sederhana atau lambung tunggal seringkali disebut hewan non-ruminansia.


Monogastrik memiliki saluran pencernaan meliputi mulut, oesophagus, stomach,
small intestinum, large intestinum, rektum dan anus. Hewan non ruminansia
(unggas) memiliki pencernaan monogastrik (perut tunggal) yang berkapasitas
kecil. Makanan ditampung di dalam crop kemudian empedal/gizzard terjadi
penggilingan sempurna hingga halus. Makanan yang tidak tercerna akan keluar
bersama ekskreta, oleh karena itu sisa pencernaan pada unggas berbentuk cair
(Girisenta, 1980).
Zat kimia dari hasilhasil sekresi kelenjar pencernaan memiliki peranan
penting dalam sistem pencernaan hewan monogastrik. Pencernaan makanan
berupa serat tidak terlalu berarti dalam spesies ini. Unggas tidak memerlukan
peranan mikroorganisme secara maksimal, karena makanan berupa serat sedikit
dikonsumsi. Saluran pencernaan unggas sangat berbeda dengan pencernaan pada
mamalia. Perbedaan itu terletak didaerah mulut dan perut, unggas tidak memiliki
gigi untuk mengunyah, namun memiliki lidah yang kaku untuk menelan
makanannya. Perut unggas memiliki keistimewaan yaitu terjadi pencernaan
mekanik dengan batu-batu kecil yang dimakan oleh unggas di gizzard (Swenson,
1997).

2.1.2

Sistem Pencernaan pada Hewan Poligastrik (Ruminansia)

Hewan Poligastrik (ruminansia) adalah hewan herbivora yang mencerna


makanannya dengan dua langkah, pertama dengan menelan bahan makanan
mentah, kemudian mengeluarkan makanan yang sudah setengah dicerna dari
perutnya dan mengunyahnya lagi. Lambung hewan ruminansia tidak hanya
memiliki satu ruang (monogastrik) tetapi memiliki lebih dari satu ruang
(poligastrik). Pada ruminansia dewasa, rumen adalah bagian lambung yang paling
besar.
Di antara lambung-lambung tersebut lambung sejatinya adalah abomasum,
dimana dalam abomasum terjadi proses pencernaan sebagaimana lambung
monogastrik lain, karena abomasum menghasilkan cairan lambung (gastric juice).
Saat lahir abomasum bayi ruminansia berukuran 70% dari keseluruhan lambung
majemuknya, sangat kontras dengan kondisi saat dewasa dimana abomasum
hanya 8% dari total volume lambung majemuknya.
Saluran pencernaan ruminansia terdiri dari rongga mulut (oral),
kerongkongan (oesophagus), proventrikulus (pars glandularis), yang terdiri dari
rumen, retikulum, dan omasum; ventrikulus (pars muscularis) yakni abomasum,
usus halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum crassum), sekum (coecum),
kolon, dan anus. Lambung sapi sangat besar, yakni dari isi rongga perut.
Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara
yang akan dikunyah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi
pembusukan dan peragian (Arora, 2005).
2.2
Saluran Pencernaan pada Ternak
2.2.1 Saluran Pencernaan pada Ternak Monogastrik
Hewan non rumiansia atau dikenal juga dengan hewan monogastrik karena
lambungnya hanya terdiri atas satu buah lambung (Direktorat, 2013). Hewan non
ruminansia tediri atas hewan dengan perut sederhana (babi dan anjing),
burung/unggas (ayam, bebek, kalkun, dan burung dara), dan Pseudoruminant
(kuda dan kelinci) (Murwani, 2009). Perbedaan sistem pencernaan ruminansia dan

non ruminansia terletak pada struktur gigi dan lambung, sedangkan proses yang
lain-lain sama (Direktorat, 2013).
2.2.1.1 Saluran Pencernaan pada Unggas
Adapun anatomi saluran pencernaan ayam dari bagian depan sampai ke
bagian belakang adalah sebagai berikut : paruh dan lidah (mulut), kerongkongan
(esophagus),

tembolok

(crop),

perut

kelenjar

(proventrikulus),

ampela

(ventrikulus), hati (hepar), usus halus (small intestine), usus besar (large
intestine), usus buntu (ceca), dan kloaka (Murwani, 2009).
Secara anatomis dan fisiologis, sistem pencernaan pada bangsa unggas
merupakan sistem pencernaan yang sederhana, karena hanya tersedia tempat yang
sempit di dalam usus untuk kehidupan jasad renik untuk membantu mencerna
pakan. Oleh karena itu unggas sangat tergantung dari enzim yang dikeluarkan
oleh organ pencernaannya untuk mencerna pakan agar mudah diserap oleh
tubuh(Direktorat, 2013)
a. Mulut
Mulut unggas tidak memiliki bibir dan gigi. Peranan bibir dan gigi pada
ayam digantikan oleh rahang bawah dan rahang atas yang menanduk dalam
bentuk paruh. Mulut berfungsi untuk minum dan memasukkan pakan,
menghasilkan air liur yang mengandung enzim amilase. (enzim pengurai
makanan) dan mempermudah pakan masuk ke kerongkongan.
b. Kerongkongan dan Tembolok
Kerongkongan berfungsi untuk menyalurkan makanan ke tembolok,
sedangkan tembolok merupakan organ berbentuk seperti kantong, yang
merupakan pelebaran dari kerongkongan. Proses pencernaan pada tembolok
sangat kecil terjadi. Fungsi utama tembolok adalah untuk penampung pakan
sementara sebelum proses selanjutnya. Di dalam tembolok pakan mengalami
proses pelunakan dan pengasaman agar mudah dicerna pada organ pencernaan
selanjutnya.
c. Perut kelenjar (proventrikulus)

Perut kelenjar merupakan pelebaran dan penebalan ujung akhir dari


kerongkongan. Berfungsi sebagai penghasil enzim pencernaan yaitu pepsin
(enzim pengurai protein) dan penghasil asam lambung (hydrochloric acid). Di
dalam proventrikulus ini terjadi pencernaan kimiawi, oleh enzim pepsin dan
hydrochloric acid.
d. Ampela (empedal)
Ampela memiliki otot yang kuat dan permukaan yang tebal, berfungsi
sebagai pemecah makanan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Dengan
bantuan batu-batu kecil (grade) yang sengaja di makan, di dalam ampela terjadi
proses pencernaan secara mekanis.
e. Hati
Hati berfungsi menyaring darah dan menyimpan glikogen yang akan
diedarkan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Salah satu peranan terpenting
dari hati dalam proses pencernaan makanan adalah menghasilkan getah empedu
yang disalurkan ke dalam duodenum melalui dua buah saluran.
Getah tersebut disimpan di dalam kantong yang disebut kantong empedu
yang terletak di lobus kanan hati. Sedangkan lobus kirinya tidak terdapat kantong
empedu, tetapi membentuk saluran yang langsung berhubungan dengan
duodenum. Pakan yang masuk ke dalam duodenum akan memacu kantong
empedu untuk mengkerut dan mengeluarkan getah empedu ke dalam duodenum
yang dapat membantu penyerapan lemak oleh usus halus.
f. Usus halus
Bagian ini dimulai dengan usus duabelas jari (duodenum) dan diakhiri
dengan usus halus yang berbatasan dengan usus besar. Fungsi utama bagian ini
adalah penyerapan sari makanan. Dinding usus halus memiliki jonjot yang lembut
dan menonjol yang berfungsi sebagai penggerak pakan yang masuk dan juga
memperluas permukaan untuk proses penyerapan sari makanan. Pada bagian ini
terdapat pancreas yang menghasilkan enzim amilase, lipase dan tripsin. Enzimenzim tersebut berfungsi untuk menguraikan protein dan karbohidrat. Hasilnya
akan diserap oleh dinding usus halus dan diedarkan ke seluruh tubuh.

g. Usus buntu dan Usus besar


Fungsi usus buntu belum diketahui secara pasti, namun ada yang
berpendapat bahwa usus buntu berfungsi membantu mencerna pakan yang
memiliki kadar serat kasar yang tinggi melalui aksi jasad renik yang ada di
dalamnya. Sedangkan usus besar berfungsi sebagai penambah kandungan air dan
menjaga keseimbangan air dalam tubuh unggas.
h. Kloaka
Kloaka merupakan organ yang berkaitan dengan saluran pencernaan,
saluran kencing dan saluran reproduksi. Pada organ ini bertaut bursa fabricus
pada sisi atasnya.
2.2.1.2 Saluran Pencernaan pada Hewan Pseudo Ruminant
Sistem pencernaan kuda terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus
halus, usus buntu (caecum), rektum, dan kloaka. Terdapat perbedaan yang cukup
mencolok antara pseudoruminant dengan ternak ruminansia yakni pada jumlah
gigi, usus besar dan fungsi dari sekum (Horse).
Sekum adalah usus atau kantung buntu yang panjangnya sekitar 1,2 m
dengan kapasitas tampung pakandan cairan 28 36 liter. Sekum menjadi tempat
terjadinya fermentasi pakan oleh mikroba mirip seperti fungsi rumen pada sapi.
Disinilah terjadi pemecahan pakan yang tidak tercerna di usus halus. Populasi
mikroba dalam sekum dipengaruhi oleh jenis pakan yang masuk (Murwani, 2009).
2.2.1.3

Saluran Pencernaan Hewan dengan Perut Sederhana


Sistem pencernaan kuda terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus

halus, usus buntu (caecum), usus besar, dan kloaka. Proses pemecahan pakan yang
terjadi di mulut sampai lambung serupa dengan yang terjadi pada kuda. Perbedaan
mulai terdapat pada bagian sekum (Murwani, 2009).
Sekum (caecum) atau usus buntu terletak di bagian depan usus besar dan
umumnya kurang memiliki fungsi. Disini terjadi pencernaan serat dalam jumlah
kecil atau terbatas dimana mikroba menghasilkan enzim selulase yang memecah

selulosa. Sistem pencernaan serat kasar sangat tidak efisien pada babi dan ayam
(Horse).
2.2.2

Saluran Pencernaan pada Ruminansia

1. Mulut

Rongga mulut adalah tempat pertama yang akan dilalui bahan makanan
untuk diolah menjadi sumber energi bagi tubuh hewan. Pada rongga mulut terjadi
2 jenis proses pencernaan, yakni pencernaan mekanis atau fisik, dan pencernaan
secara kimiawi. Enzim-enzim yang dihasilkan pada rongga mulut dihasilkan dari
sejumlah kelenjar ludah, terdapat 3 kelenjar ludah diantaranya adalah kelenjar
parotis, submandibularis dan sublingualis (Sonjaya, 2013).
2. Gigi
Berdasarkan jenis pakan tersebut maka struktur gigi yang berkembang

akan menyesuaikan terhadap kebutuhan untuk memperhalus jenis pakan tersebut.


Gigi pada ruminansia yang berkembang baik adalah gigi yang diperlukan untuk
mengunyah bahan hijauan agar menjadi lembut, sehingga yang berkembang
adalah gigi geraham. Gigi taring tidak berkembang karena sapi tidak memerlukan
taring untuk mengoyak makanannya. Tabel 1 adalah struktur gigi pada
ruminansia(Kamal, 1994)
Tabel 1. Struktur Gigi Mamalia

3
M
3

3
P
3

0
0
0
0
3
3 Rahang Atas
C
I
I
C
P
M Jenis Gigi
0
4
4
0
3
3 Rahang Bawah
Ketengan : I (insisivus = gigi seri, kaninus = gigi taring, Premolaris

= gigi geraham depan, molaris = gigi geraham belakang).


Gigi terdiri dari akar gigi (korum), dan akar gigi (radius). Akar gigi terdiri
atas dua bagian, yakni mahkota gigi (korona), dan gigi yang tertanam dalam
rahang gigi. Gigi berasal dari dua jaringan embrional, yakni ektoderm dan
mesoderm. Email adalah lapisan keras yang menutupi permukaan gigi. Dentin
(tulang gigi) terdapat di dalam email, sementum (lapisan luar akar gigi), dan pulpa
(rongga gigi) yang banyak mengandung serabut saraf dan pembuluh darah
(Direktorat, 2013)
3. Lidah
Selain gigi di dalam mulut terdapat lidah. Fungsi lidah selain mengecap
rasa makanan juga membantu gigi untuk menghaluskan makanan dengan cara
mengaduk dan membalik, serta memposisikannya sesuai dengan gerakan gigi.
Selain itu lidah juga membantu proses penelanan, dan mengaktifkan kelenjar
ludah. Pada lidah terdapat papila dan tunah pengecap (Kamal, 1994) Bentuk lidah
mengikuti lengkung dalam mandibula, dengan bagian-bagian terdiri dari :
- Pangkal lidah (radix lingua base)
- Ujung lidah (apex linguae)
- Punggung lidah (dorsum linguae)
4. Oesophagus

Oesophagus merupakan saluran makanan masuk menuju lambung.


Oesophagus yang panjangnya adalah kurang lebih 20 cm dan lebarnya 2 cm
adalah jalur untuk mengalirkan makanan setelah dari farinks ke lambung. Gerakan
mendorong dan meremas akan membuat bolus turun ke lambung secara perlahan.
Aktivitas menelan ini termasuk pada aktivitas yang dipengaruhi kesadaran,karena
bagian atas esofagus ini tersusun atas otot lurik (rangka) yang responnya
dipengaruhi kesadaran (Sonjaya, 2013).
5. Lambung
Setelah melewati esophagus makanan masuk kedalam lambung. Lambung
sapi sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari isi rongga perut. Lambung

mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan


dimamah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi proses
pembusukan dan peragian. Lambung juga berfungsi untuk mencerna protein
dengan mensekresikan enzim protease dan asam lambung. Lambung ruminansia
terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum dengan
ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas
rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7-8%. Lambung
berada pada sisi kiri rongga perut (abdomen), dan dibawah diafragma.
Dinding-dindingnya sangat elastis dan memiliki lipatan seperti akordion
pada masing-masing ujung lambung. Spingter esophageal merupakan klep yang
membatasi antara bagian esofagus dengan lambung, dan agar makanan tidak
kembali ke esofagus, jadi sfingter ini hanya terbuka jika ada makanan masuk atau
pada saat muntah. Sedangkan klep yang membatasi antara lambung dengan
duodenum disebut dengan sfingter pilorus (Didiek etc, 2003).
a. Retikulum
Retukulum merupakan lambung bagian terdepan (cranial) dan
merupakan bagian rumen dimana dinding retikulum mengandung mucous
membrae dan terdapat banyak lekukan. Permukaan retikulum membunyai
bentuk kotak-kotak seperti sarang lebah atau jala sehingga sering disebut
dengan perut jala atau honeycomb. Permukaan seperti ini menyebabkan
retikulum dapat menahan pakan kasar. Retikulum membantu proses ruminasi,
dimana bolus diregurgitasi ke dalam mulut. Lokasi retikulum berada persis di
belakang diafragma menempatkannya hampir dalam posisi berlawanan dengan
jantung sehingga bila ada benda-benda asing cenderung akan diam disitu.
Terletak antara rusuk 6 8 sebelah kiri garis median.
Retikulum berfungsi untuk : 1) menyebarluaskan pakan untuk dicerna,
2) membantu dalam proses ruminasi (regurgitasi), 3) mengatur arus bahan
pakan dari retikular omasal orificae, 4) lokasi fermentasi, 5) tempat
terkumpulnya junk high density material dan 6) absorpsi dari hasil akhir
proses fermentasi (Didiek etc, 2003).
b. Rumen

Rumen merupakan suatu kantung muskular yang besar terbantang dari


diafragma menuju pelvis. Rumen dibagi-bagi lagi menjadi kantong-kantong
oleh pilar-pilar muskular yang dapat dikenali bila dipandang dari luar rumen.
Rumen melebar ditengah-tengah rongga perut dan memanjang dari ujung
bawar rusuk ke 7 atau 8 ke belakang menuju ke tulang punggung (pelvis).
Permukaan rumen ber-papillae dan berwarna hitam sehingga tampak
seperti kain beludru kasar atau seperti handuk sehingga disebut perut handuk.
Di dalam rumen terdapat bakteri yang konsentrasinya mencapat 109/cc dan
protozoa yang konsentrasinya mencapai 105/cc cairan rumen. Rumen tebagi ke
dalam 4 zona (dari atas ke bawah) yaitu gas zone, pad zone, fluid phase, dan
high density phase.
Rumen berfungsi untuk : 1) menyimpan bahan pakan untuk seterusnya
mengalami proses digesti (dicerna), 2) lokasi proses fermentasi, 3) proses
absorpsi hasil akhir fermentasi dan 4) proses pencampuran (mixing) dan
pencernaan ingesta (Didiek etc, 2003).
c. Omasum
Omasum merupakan lambung ruminansia yang ditaburi oleh lamina
pada permukaannya sehingga menambah luas permukaannya. Permukaan
omasum terdiri atas lipatan-lipatan (fold) sehingga tampak berlapis-lapis,
tersusun seperti halaman-halaman buku, maka disebut juga sebagai perut buku
(perut kitab) atau manyplies.
Omasum dihubugkan dengan retikulum oleh saluran yang sempit dan
pendek terletak disebelah kanan garis median, dibelakang tulang rusuk ke 7
11 dan berbentuk spheris. Omasum berfungsi untuk : 1) mengatur arus ingesta
ke abomasum melalui omasal-abomasal orificae, 2) penggilingan dengan
laminae, 3) menyaring, 4) lokasi fermentasi, 5) absorpsi material pakan dan air
sehingga banyak material pekan dan air sehingga banyak material kerng di
omasum (Didiek etc, 2003).
d. Abomasum
Abomasum merupakan tempat pertama terjadiya pencernaan pakan
secara kimiawi karena adanya sekresi getah lambung. Abomasum sama
dengan perut manusia karena itulah abomasum disebut dengan perut sejati

(true stomach) atau perut kelenjar (gland stomach). Didalam abomasum


terdapat tiga kelenjar yaitu : 1) cardiac gland (mucous), fundic glan (enzymes,
mucous, dan HCl; 3) pyloric gland (mucous).
Abomasum berfungsi untuk : 1) mengatur arus ingesta ke usus kecil
yang dibantu oleh adanya folds atau ridges yang membantu pergerakan
material., 2) permulaan dari enzymatic and chemical digestive processes
(Didiek etc, 2003).
6. Usus Halus
Usus atau disebut juga usus halus terdiri atas tiga bagian yaitu duodenum,
jejenum dan ileum. Usus halus memiliki panjang kurang lebih 6 meter pada
manusia, usus halus (small intestine) merupakan bagian dari system pencernaan
yang terpanjang(Kamal, 1994)
Bagian-bagian dari usus halus sendiri terbagi menjadi 3 bagian, yakni
duodenum (usus 12 jari), jejenum (usus kosong), ileum (usus penyerapan). Pada
bagian duodenum, kim asam yang dihasilkan dari lambung bercampur dengan
getah pencernaan dari pankreas, hati, kandung empedu, dan sel-sel kelenjar pada
dinding sel usus halus itu sendiri(Direktorat, 2013)
Pada jejenum, makanan mengalami pencernaan secara kimiawi (dengan
bantuan enzim) yang dihasilkan dari dinding usus, tekstur makanan pada fase ini
lebih encer dan halus. Enzim-enzim yang dihasilkan pada usus halus meliputi :
Enterokinase, Laktase; Erepsin glukosa; Disakarase, berfungsi mengubah
disakarida (gula yang memiliki lebih dari 1 monosakarida) menjadi monosakarida
(suatu gugus gula yag paling sederhana); Peptidase, sudan sukrosa.
Dalam ileum (usus usus penyerapan) terdapat banyak vili (lipatan atau
lekukan atau sering disebut jonjot usus). Vili berfungsi memperluas bidang
penyerapan usus halus sehingga penyerapan zat makanan akan lebih
maksimal(Direktorat, 2013)
7. Hati
Hati memang bukan organ pencernaan, namun cairan yang dihasilkannya
sangatlah penting pada proses pencernaan. Cairan yang dihasilkannya yakni
cairan empedu mengandung garam dalam empedu yang berguna sekali proses

pencernaan lemak. Hati memiliki beberapa fungsi yakni Metabolisme karbohidrat,


yakni dengan mempertahankan gula darah (Frandson, 1993).
8. Usus Besar
Usus besar atau kolon memiliki panjang kurang lebih 1 meter dan terdiri
atas kolon ascendens, kolon transversum, dan kolon descendens. Di antara
intestinum tenue (usus halus) dan intestinum crassum (usus besar) terdapat sekum
(usus buntu).Pada ujung sekum terdapat tonjolan kecil yang disebut appendiks
(umbai cacing) yang berisi massa sel darah putih yang berperan dalam imunitas.
Zat-zat sisa ini masih mengandung banyak air dan garam mineral yang diperlukan
oleh tubuh. Air dan garam mineral kemudian diabsorpsi kembali oleh dinding
kolon, yaitu kolon ascendens(Direktorat, 2013)
9. Rektum dan Anus
Defekasi diawali dengan terjadinya penggelembungan pada bagian rektum
akibat suatu rangsang yang disebut refleks gastrokolik. Kemudian akibat adanya
aktivitas kontraksi rektum. Di dalam usus besar ini semua proses pencernaan telah
selesai dengan sempurna. Dan sisanya akan dkeluarkan melalui anus(Kamal,
1994)
2.2.3 Mekanisme Pencernaan Ternak Monogastrik Dan Poligastrik
2.2.3.1 Mekanisme Pencernaan Ternak Monogastrik
Unggas mengambil makanannya dengan paruh dan kemudian terus
ditelan. Makanan tersebut disimpan dalam tembolok untuk dilunakkan dan
dicampur dengan getah pencernaan proventrikulus dan kemudian digiling dalam
empedal. Tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh empedal unggas.
Fungsi utama alat tersebut adalah untuk memperkecil ukuran partikel-partikel
makanan..
Bahan

makanan

bergerak

melalui

usus

halus

yang

dindingnya

mengeluarkan getah usus. Getah usus tersebut mengandung erepsin dan beberapa
enzim yang memecah gula. Erepsin menyempurnakan pencernaan protein, dan
menghasilkan asam-asam amino, enzim yang memecah gula mengubah
disakharida ke dalam gula-gula sederhana (monosakharida) yang kemudian dapat
diasimilasi tubuh. Penyerapan dilaksanakan melalui villi usus halus.

2.2.3.2 Mekanisme Pencernaan Ternak Poligastrik


Hewan Poligastrik (ruminansia) adalah hewan herbivora yang mencerna
makanannya dengan dua langkah, pertama dengan menelan bahan makanan
mentah, kemudian mengeluarkan makanan yang sudah setengah dicerna dari
perutnya dan mengunyahnya lagi. Lambung hewan ruminansia tidak hanya
memiliki satu ruang (monogastrik) tetapi memiliki lebih dari satu ruang
(poligastrik). Pada ruminansia dewasa, rumen adalah bagian lambung yang paling
besar.
Di antara lambung-lambung tersebut lambung sejatinya adalah abomasum,
dimana dalam abomasum terjadi proses pencernaan sebagaimana lambung
monogastrik lain, karena abomasum menghasilkan cairan lambung (gastric juice).
Saat lahir abomasum bayi ruminansia berukuran 70% dari keseluruhan lambung
majemuknya, sangat kontras dengan kondisi saat dewasa dimana abomasum
hanya 8% dari total volume lambung majemuknya.
Saluran pencernaan pada ternak poligastrik umumnya tersusun atas
membran mukosa yang berhubungan dengan kulit luar, pada mulut dan anus.
Menurut R.D. Frandson (1996), empat lapisan yang menyusun dinding saluran
pencernaan, dari luar ke dalam, adalah epithel (Squamous terstrata ke bagian
glandular dari perut serta kolom sederhana), lamina propria (termasuk mukosa
dan sub mukosa muskularis), otot-otot (seran lintang esophagus; halus, pada
bagian selainnya esophagus, yang umumnya bagian dalam sirkuler juga bagian
luar longitudinal), dan arah kaudal terhadap diagfragma serta menutupi sebagian
besar saluran pencernaan, suatu penutup serosa bagian luar, yang disebut
peritonium viseral.
Proses pencernaan makanan pada hewan poligastrik meliputi proses
pengambilan pakan, pencernaan yang berlangsung di dalam mulut, lambung,
penyerapan dan pembuangan sisa-sisa yang tidak terpakai oleh tubuh. Pencernaan
di dalam mulut dilakukan dengan pengunyahan, pemberian air liur dan penelanan.

Proses pencernaan pada domba lebih bersifat kompleks dari pada pencernaan pada
pada unggas dan kelinci. Pencernaan makanan pada domba harus mengalami
proses memamah biak (ruminansia), yang meliputi serangkaian proses di dalam
mulut, penelanan, pencernaan di permukaan lambung setalah itu harus mengalami
proses regurgitasi ingesta yang berbentuk bolus (bola) ke dalam mulut.
Bolus tersebut selanjutnya akan mengalami pengunyahan ulang,
remastikasi, reinsalivasi. Setelah itu makanan/bolus ditelan lagi untuk dicerna
secara sempurna di dalam rumen sampai omasum. Pencernaan di dalam rumen
dan retikulum dilakukan secara mekanik seperti mencampur, maserasi, dan
fermentasi oleh mikroba khususnya di dalam rumen. Pencernaan oleh mikroba
secara fermentatif merupakan proses yang vital karena dapat membantu terhadap
pencernaan selanjutnya di lambung sejati, dan usus halus. Setelah mengalami
pencernaan di lambung, makanan akan memasuki usus halus pada bagian ini
makanan akan mengalami penyerapan oleh pembuluh darah.
Sisa-sisa penyerapan nutrisi akan masuk ke usus besar yang akan terjadi
penyerapan air dan selanjutnya akan dieksresikan ke luar tubuh melalui anus.
Susunan lambung poligastrik terdiri atas rumen, retikulum, omasum, dan
abomasum. Rumen, retikulum, dan abomasum disebut sebagai perut depan
( forestomatch atau proventrikulus). Rumen terbagi menjadi kantong-kantong oleh
pilar-pilar muskuler, yang dapat dikenali bila dipandang dari sebelah rumen. Otot
halus dari dinding rumen pada dasarnya terdiri dari dua lapis yaitu lapisan
superfisial yang bergerak pada arah kaudal kranio-kaudal serat menjembatani
sebagian besar parit-parit ruminal. Serabut-serabut dari lapisan otot bagian dalam
bergerak lebih transfersal dan juga merupakan penyusun utama dari pilar-pilar
ruminal. Kedua lapis otot ini tadi bersambungan dengan otot esophagus.
Retikulum adalah bagian perut (kompartemen) yang paling kranial.
Seperti yang tercermin dari namanya, kompartemen ini bagian dalamnya
diselaputi oleh membrana mukosa yang mengandung intersekting ridge yang

membagi permukaan itu menjadi permukaan yang menyerupai sarang lebah.


Permukaan dari retikulum ini adalam squamous berstrata. Lokasi retikulum yang
terletak tepat di belakang diagfragma menempatkannya hampir dalam posisi yang
berlawan dengan jantung sehingga bila ada benda-benda asing yang tertelan
seperti kawat atau paku cenderung akan diam di situ dan dalam posisi baik untuk
dapat mengganggu atau menusuk jantung. Omasum merupakan organ yang terisi
oleh lamina muskuler yang turun dari bagian dorsum atau bagian atap. Membrana
mukosa yang melapisi lamina muskuler ditebari dengan papile yang pendek dan
tumpul yang akan menggiling hijauan atau serat-serat sebelum masuk ke
abomasum.
Omasum pada domba tentu saja lebih kecil dibandingkan dengan sapi.
Dasar dari omasum ini teridiri dari lipatan-lipatan yang dilapisi oleh squamousa
berstrata. Pertautan antara omasum dan abomasum terdapat susunan lipatan
membran mukosa vela terminalia yang merupakan katup yang mencegah bahan
yang masuk ke abomasum kembali lagi ke omasum. Pada domba lapisan tersebut
merupakan bagian dari abomasum. Abomasum merupakan organ lambung yang
mempunyai fungsi yang sama dengan lambung monogastrik. Abomasum
merupakan perut sejati yang terletak secara ventral dari omasum dan terentang
Kaudal dari sisi kanan dari rumen. Epithel dari abomasum berubah dari
ephitel squamousa berstrata menjadi ephitel kolumnar sederhana, yang dapat
menghasilkan mukosa.
Mukosa yang menutupi epitel perut membantu mencegah cairan-cairan
pencernaan agar tidak mencerna sel-sel dari perut itu sendiri. Usus halus
merupakan organ pencernaan yang terbagi atas tiga bagian yaitu duodenum,
jejenum, dan ileum pembagian ini berdasarkan susuna histologis yang
menyusunnya, usus halus banyak mengandung pembuluh darah (arteri dan vena)
karena berkaitan dalam penyerapan zat makanan. Duodenum merupakan bagian

yang pertama dari usus halus yang terletak paling dekat dengan dinding tubuh dan
terikat pada mesentri yang pendek, yaitu mesoduodenum.
Jejenum dapat dengan jelas dipisahkan dengan duodenum, jejenum
bermula dari kira-kira pada posisi dimana mesenteri mulai kelihatan memanjang
(pada duodenum mesenterinya pendek). Jejejnum dan ileum bersambung dengan
tidak ada batas yang jelas diantara keduanya. Bagian terakhir dari usus halus
adalah ileum persambungan dengan usus besar adalah pada ostenum iliale.
Makanan yang telah mengalami penyerapan di usus halus selanjunya akan menuju
ke usus besar. Usus besar yang teridiri atas sekum dan kolon. Sekum merupakan
suatu kantung yang buntu sedangkan kolon adalah saluran yang mempunyai jalur
yang naik, mendatar, dan menurun. Bagian yang menurun ini akan berakhir di
rektum atau anus yang merupakan saluran terakhir dalam sistem saluran
pencernaan. Melalui saluran ini sisa-sisa pencernaan yang tidak dibutuhkan
dikeluarkan oleh tubuh.

2.2.4

Penyakit pada Sistem Pencernaan


Beberapa gangguan pencernaan dan penyakit pencernaan yang dapat

terjadi pada alat-alat sistem pencernaan antara lain:


a. Konstipasi
Konstipasi adalah penyakit susah buang air besar. terjadi akibat
penyerapan air yang berlebihan pada sisa makanan di dalam usus besar.
Akibatnya, feses menjadi sangat padat dan mengeras sehingga sulit dikeluarkan.
Sembelit bisa disebabkan karena kurangnya mengkonsumsi makanan yang
berserat dan terlalu banyak mengkonsumsi daging.
b. Maldigesti Karbohidrat

Maldigesti karbohidrat dapat terjadi karena produksi enzim untuk


mencerna karbohidrat tidak memadai. Produksi enzim ini sangat ditentukan oleh
banyaknya protein.
c. Peritonitis
Peritonitis merupakan peradangan pada selaput perut (peritonium).
Gangguan pencernaan yang lainnya biasanya karena akibat mengkonsumsi
makanan dan minuman yang dapat merangsang lambung, seperti alkohol dan cabe
sehingga mengakibatkan rasa nyeri yang disebut kolik.
d. Radang Lambung
Radang lambung disebabkan oleh kebiasaan makan yang tidak teratur. Jika
perut kosong, maka asam lambung akan meningkat. Meningkatnya akan lambung
inilah yang dapat melukai lambung dan menyebabkan radang lambung. Gejala
penyakit ini yang paling umum adalah mual, perih dan kembung.
e. Malnutrisi (kurang gizi)
Malnutrisi

yakni

penyakit

yang

disebabkan

oleh

terganggunya

pembentukan enzim pencernaan. Gangguan tersebut disebabkan oleh sel-sel


pancreas atropi yang kehilangan banyak reticulum endoplasma. Sebagai contoh
adalah kwashiorkor, yakni penyakit akibat kekurangan protein yang parah dan
pada umumnya menyerang anak hewan.
f. Alergi makanan
Alergi makanan bisa menyerang siapa saja dengan kadar yang berbeda.
Alergi makanan adalah respons abnormal tubuh terhadap suatu makanan yang
dicetuskan oleh reaksi spesifik pada system imun dengan gejala yang spesifik.
Seseorang dengan alergi makanan harus segera diidentifikasi dan ditangani.
Sebab, meskipun gejala awalnya tidak berat, namun lama kelamaan bisa
bertransformasi.
Alergen yang terdapat pada makanan adalah komponen utama terjadinya
alergi makanan. Alergen ini berupa protein yang tidak rusak pada saat proses

memasak, dan tidak rusak pada saat berada di keasaman lambung. Akibatnya,
allergen dapat masuk ke dalam tubuh melalui peredaran darah, mencapai organ
yang menjadi targetnya, dan menimbulkan reaksi alergi. Gejala awal alergi
makanan dapat berupa rasa gatal pada mulut serta kesulitan menelan. Saat
makanan sudah mencapai lambung dan usus halus, gejala yang timbul berupa rasa
mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Gejala inilah yang sering membingungkan
dan mengacaukan dengan gejala intoleransi makanan.
g. Kanker Lambung
Kanker usus besar terjadi, karena pola makanan yang tidak sehat. Gejala
yang timbul adalah adanya darah pada feses.

h. Kembung (BLOAT)
Kembung adalah pembengkakkan ukuran yang abnormal pada bagian sisi
kiri hewan. Penyebabnya pakan konsentrat yang terlalu banyak, sehingga
terbentuk gelembung gas pada rumen. Cara mengatasinya adalah dengan
mengajak sapi jalan-jalan, emberi pipa melalui esopagus dan menusuk rumen
pada alat tertentu.
i. Diare
Diare merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Feses
yang keluar banyak mengandung air sehingga akan mengalami dehidrasi,
mengalami koma, dan kemudian mati. Pencegahannya yaitu dengan menggati
cairan tubuh yang hilang melalui terapi elektrolit.
j. Difteri
Difteri adalah bercak infeksi jaringan yang berwarna kuning di pinggiran
lidah. Cara pengobatannya dengan menggunakan antibiotik disertai pembersihan
dan pembuangan jaringan yang mati dan mengolasi dengan yodium

k. Penyakit johne
Gangguan ini menyebabkan timbulnya emasisasi, penebalan atau pelipatan
dinding usus, dan diare. Cara mencegahnya dengan vaksin namun tidak begitu
efektif, cukup dengan menhindari ternak-ternak tersebut dari penyakit ini.

III
KESIMPULAN

Sistem pencernaan (digestive system) merupakan sistem organ dalam hewan


multisel yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrien,

serta mengeluarkan sisa proses tersebut melalui dubur.


Hewan monogasrik adalah hewan-hewan yang memiliki lambung sederhana

atau lambung tunggal seringkali disebut hewan non-ruminansia.


Hewan Poligastrik (ruminansia) adalah hewan herbivora yang mencerna
makanannya dengan dua langkah, pertama dengan menelan bahan makanan
mentah, kemudian mengeluarkan makanan yang sudah setengah dicerna dari

perutnya dan mengunyahnya lagi.


Adapun anatomi saluran pencernaan ayam dari bagian depan sampai ke
bagian belakang adalah sebagai berikut : paruh dan lidah (mulut),
kerongkongan (esophagus), tembolok (crop), perut kelenjar (proventrikulus),
ampela (ventrikulus), hati (hepar), usus halus (small intestine), usus besar

(large intestine), usus buntu (ceca), dan kloaka


Sistem pencernaan kuda terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus
halus, usus buntu (caecum), rektum, dan kloaka. Terdapat perbedaan yang

cukup mencolok antara pseudoruminant dengan ternak ruminansia yakni pada


-

jumlah gigi, usus besar dan fungsi dari sekum (Horse).


Saluran pencernaa ternak ruminansia terdiri dari : mulut, gigi, lidah,
oesophagus, lambung (retikulum, rumen, omasum, abomasum), usu halus,

hati, usus besar, rektum dan anus.


Penyakit pada sistem pencernaan yaitu : konstipasi, maldigesti karbohidrat,
peritonitis, radang lambung, malnutrisi (kurang gizi), alergi makanan, kanker
lambung, kembung (BLOAT), diare, difteri, dan penyakit johne.

DAFTAR PUSTAKA

Arora, S. P. 2005. Pencernaan Mikrobia pada Ruminansia. Gajah Mada


University Press. Yogyakarta.
Blakely, James., & H.Bade, David. (1991). Ilmu Peternakan, Yogyakarta:
PenerbitGadjah Mada University Press.
Blogger.2013.http://anakmandaubengkalis.blogspot.com/2010/04/ruminansia-dannon-

ruminansia.html (diakses pada tanggal 22 oktober 2014 pukul

15.00 WIB)
Didiek Etc. 2003. Ruminologi Dasar. Diktat Kuliah. Jurusan Nutrisi Dan
Makanan Ternak. Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro. Semarang
Direktorat. 2013. Anatomi Hewan 1. Buku Teks Bahan Ajar Siswa. Paket
Keahlian Kesehatan Hewan. Direktorat Pembinaan Smk. Kementrian
Pendidikan Dan Kebudayaan. Republik Indonesia.
Franson , R.D . 1993 . Anatomi Dan Fisiologi Ternak . Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta.
Girisenta, 1980. Kawan Beternak. Yayasan Kanisius, Yogyakarta.
Horse

Nutrition.

Bulletin

762-00.

Ohio

Http://Ohioline.Osu.Edu/B762/B7625.Html

State

Univ.

Extension.

Kamal,M.1994.Ilmu

Produksi

Ternak.

Yogyakarta.Fakultas

Peternakan

Universitas Gadjah Mada.


Pratiwi.

2013.

Gangguan

Saluran

Pencernaan

http://bebypratiwy.blogspot.com/2013/04/gangguan-saluran-pencernaanyang.html
R.D. Frandson. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat.
Diterjemahkan Oleh : B. Srigandono dan Koen Praseno. Yogyakarta : UGM
Press. Hal : 528, 542-552
Sonjaya , Herry. 2013 . Dasar Fisiologi Ternak. Ipb Press Kampus Ipb Taman
Kencana, Bogor.
Swenson, GM. 1997. Dules Physiology or Domestic Animals. Publishing Co. Inc :
USA.
Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo, S.
Lebdosoekojo.1984. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Wurwani, Retno. 2009. Sistim Pencernaan Dan Metabolisme Nutrien Pada
Monogastrik. Diktat Kuliah. Jurusan Nutrisi Dan Makanan Ternak. Fakultas
Peternakan, Universitas Diponegoro. Semarang.

LAMPIRAN

Gambar 1.Sistem Pencernaan Sapi


Gambar

2.

Susunan

lambung

ruminansia
Gambar 3. Retikulum
Gambar 4. Rumen

Gambar 5. Abomasum

Gambar 6. Perbandingan karnivora


dan herbivora
Gambar 7. Pencernaan babi
Gambar 8.

Pencernaan kuda

Gambar 9. Pencernaan ayam