Anda di halaman 1dari 23

KARYA TULIS ILMIAH

ALKILASI DALAM PROSES PENGILANGAN MINYAK BUMI

Tugas Paper 1 Mata Kuliah Sumber Daya Alam

Disusun Oleh :

NAMA

SURIANSYAH

NIM
H1D112011

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK KIMIA
BANJARBARU
2014

Alkilasi Dalam Pengilangan Minyak Bumi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa
karena atas karunia dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan karya tulis
yang berjudul Akilasi Dalam Proses Pengilangan Minyak Bumi.
Penulisan karya tulis ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sumber Daya Alam. Pada kesempatan ini penyusun ingin mengucapkan
terimakasih kepada Bapak Andri Taruna Rachmadi, S.T, M.Sc selaku dosen
pembimbing dalam mata kuliah ini.
Penyusun menyadari bahwa sebagai manusia biasa tentu tidak luput dari
kesalahan, sehingga masih terdapat keterbatasan dalam penyelesaian karya tulis
ini. Oleh karena itu, kepada para pembaca diharapkan untuk memberikan saran
dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan karya tulis ini. Akhir
kata penyusun mengharapkan karya tulis ini dapat bermanfaat dan dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

Banjarbaru, 12 Oktober 2014

Penyusun

Alkilasi Dalam Pengilangan Minyak Bumi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................

DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii


BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................
1.1 Latar Belakang Masalah ...........................................................................
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................
1.3 Tujuan .......................................................................................................
1.4 Manfaat .....................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................
2.1 Pengertian Alkilasi................................................................................. 3
2.2 Komponen Penyusun Minyak Bumi...................................................... 5
2.3 Proses Terbentuknya Minyak Bumi....................................................... 6
2.4 Proses Alkilasi Pada Pengilangan Minyak Bumi ................................ 10

1
1
2
2
2
3

2.5 Contoh Alkilasi Pada Pengilangan Minyak Bumi ............................... 11


BAB III PENUTUP ............................................................................................ 19
3.1 Kesimpulan................................................................................................ 19
3.2 Saran .................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 20

Alkilasi Dalam Pengilangan Minyak Bumi

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Minyak bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin: petrus ), dijuluki
juga sebagai emas hitam adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang
mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak bumi.
Minyak bumi dan gas alam berasal dari jasad renik lautan, tumbuhan dan hewan
yang mati sekitar 150 juta tahun yang lalu. Sisa-sisa organisme tersebut
mengendap di dasar lautan, kemudian ditutupi oleh lumpur. Lapisan lumpur
tersebut lambat laun berubah menjadi batuan karena pengaruh tekanan lapisan di
atasnya. Sementara itu, dengan meningkatnya tekanan dan suhu, bakteri anaerob
menguraikan sisa-sisa jasad renik tersebut dan mengubahnya menjadi minyak dan
gas.
Proses pembentukan minyak bumi dan gas ini memakan waktu jutaan tahun.
Minyak dan gas yang terbentuk meresap dalam batuan yang berpori seperti air
dalam batu karang. Minyak dan gas dapat pula bermigrasi dari suatu daerah ke
daerah lain, kemudian terkosentrasi jika terhalang oleh lapisan yang kedap.
Walupun minyak bumi dan gas alam terbentuk di dasar lautan, banyak sumber
minyak bumi yang terdapat di daratan. Hal ini terjadi karena pergerakan kulit
bumi, sehingga sebagian lautan menjadi daratan.
Pada seluruh rentang proses pengilangan, alkilasi sangatlah penting karena
dapat meningkatkan perolehan bensin dengan bilangan oktan tinggi. Tetapi, tidak
semua pengilangan memiliki pabrik alkilasi. Pengilangan memeriksa apakah akan
ada peningkatan yang signifikan apabila pada pengilangan tersebut dipasang unit
alkilasi. Hal ini disebabkan karena unit alkilasi sangatlah kompleks, dengan skala
ekonomi. Produk alternatif dari pengilangan alkilasi dapat berupa LPG,
pencampuran dari laju C-4 secara langsung kedalam bensin dan bahan baku untuk
pabrik zat kimia. Ketersediaan dari katalis yang cocok juga merupakan faktor

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

pentingan untuk menentukan apakah perlu di dirikan pabrik alkilasi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan penjelasan diatas, maka diperoleh rumusan masalah sebagai
berikut :
1.

Apa yang dimakud dengan alkilasi ?

2.

Apa saja komponen penyusun minyak bumi ?

3.

Bagaimana proses terbentuknya minyak bumi ?

4.

Bagaimana proses alkilasi dalam pengilangan minyak bumi ?

5.

Apa saja contoh alkilasi dalam pengilangan minyak bumi ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari dibuatnya karya tulis ini adalah :
1.

Mengetahui pengertian dari alkilasi.


2.

Mengetahui komponen penyusun dari minyak bumi.

3.

Mengetahui proses terbentuknya minyak bumi.

4.

Mengetahui proses alkilasi dalam pengilangan minyak bumi.

5.

Mengetahui apa saja contoh alkilasi dalam pengilangan minyak bumi.

1.4 Manfaat
Dalam pembuatan karya tulis ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan
mahasiswa dalam proses pengilangan minyak bumi, dapat mengetahui manfaat
serta kegunaan minyak bumi bagi kehidupan manusia, serta dapat memperluas
wawasan penulis dalam penerapan proses alkilasi dalam minyak bumi.

BAB II
TINJAUN PUSTAKA

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

2.1 Pengertian Alkilasi


Alkilasi merupakan penambahan jumlah atom dalam molekul menjadi
molekul yang lebih panjang dan bercabang. Dalam proses ini menggunakan
katalis asam kuat seperti H 2SO4, HCl, AlCl3 (suatu asam kuat Lewis). Reaksi
secara umum adalah sebagai berikut:
RH + CH2=CRR

R-CH2-CHRR.

Alkilasi dalam proses industri minyak bumi merupakan salah satu proses
yang digunakan bertujuan meningkatkan angka oktan produk minyak bumi. Salah
satu reaksi yang terkenal adalah reaksi antara isobutana dengan olefin
menggunakan katalis aluminium klorida yang ditemukan oleh Ipattief dan kawankawan. Reaksi ini sampai saat ini digunakan secara luas dalam alkilasi senyawa
aromatik dan olefin, tetapi jarang digunakan dalam alkilasi olefin dengan parafin.
Selain itu, contoh reaksi jenis ini adalah reaksi antara isobutana dengan olefin
menggunakan

katalis

asam

sulfat

atau

asam

fluorida. Alikilasi

akan

mengkombinasikan olefin dengan berat molekul rendah (umumnya terdiri dari


campouran propilena dan butilena) dengan isobutena dengan adanya katalis asam
sulfat atau asam fluorida. Produk disebut alkylat merupakan gasolin dengan sifat
antiknocking dan pembakaran bersih.
Secara teknis, proses alkilasi dengan katalis asam sulfat dilakukan sebagai
berikut, umpan reaksi berupa olefin, isobutana dan asam dikontakkan dalam
reaktor dan kemudian panas reaksi yang dihasilkan dihilangkan dengan
refrigerator. Effluen reactor ditreatmen dengan asam sebagai katalis, dan pada
produk yang dihasilkan dilakukan fraksinasi untuk pemisahan. Penambahan atau
reaksi substitusi menggunakan gugus alkil menjadi molekul organik dalam proses
reaksi. Reaksi alkilasi sebagai alat sintetis yang penting banyak digunakan dalam
banyak proses kimia. Alkilasi adalah suatu gugus alkil dari satu molekul ke yang
lain oleh molekul. Senyawa diperkenalkan ke molekul alkil (metil, etil) reaksi.
Dalam aksi mikroorganisme seperti merkuri di sedimen bawah alkilasi akan
menghasilkan metilmerkuri atau dua metil merkuri. Adapaun Reaksi alkilating
Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

sebagai berikut :

Gambar
2.3 Reaksi Alkilating

Alkilating agen umum industri adalah olefin, alkil halida, sulfat ester alkil
asam dan sejenisnya. Memimpin produk teralkilasi dipimpin alkil, timbal tetraetil
yang sering digunakan sebagai aditif bensin, sebagai agen anti huru-hara. Dalam
proses penyulingan standar, katalis alkilasi sistem (asam atau asam fluorida) di
bawah aksi dari olefin dengan berat molekul rendah (terutama terdiri dari
propilena dan butena) dan isobutene bergabung untuk membentuk alkilat
(terutama oleh senior yang oktan, sisi-rantai alkana). Alkilate adalah aditif bensin,
dengan efek antiknock dan menghasilkan produk pembakaran yang bersih. Olefin
alkilat Octane digunakan oleh jenis dan kondisi reaksi yang digunakan.

2.2 Komponen Penyusun Minyak Bumi


Berdasarkan teori, minyak bumi terbentuk dari proses pelapukan jasad renik
(mikroorganisme) yang terkubur di bawah tanah sejak berjuta-juta tahun yang
lalu. Dimana dua ratus juta yang lalu bumi lebih panas dibandingkan sekarang.
Laut yang didiami jasad renik berkulit keras sangat banyak jumlahnya jika jasad
renik itu mati, kemudian membusuk sehingga jumlahnya makin lama makin
menumpuk, kemudian tertutup oleh sedimen, endapan dari sungai, atau batuanbatuan yang berasal dari pergeseran bumi. Di sini kemudian terjadi pembusukan
oleh bakteri anaerob, dan akibat pada tekanan tinggi sedimen, maka setelah

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

berjuta-juta tahun terbentuklah minyak bumi dan gas alam tersebut. Di dalam
minyak bumi terdapat campuran yang kompleks dari berbagai macam
hidrokarbon terutama alkana mulai dari yang paling sederhana seperti : metana
( CH4 ), etana ( C2H6 ), propana ( C3H8 ) dan butana ( C4H10 ) sampai dengan
alkana yang berantai panjang lurus atau bercabang.
Minyak bumi yang terbentuk kemungkinan sekali terkumpul dalam pori-pori
batuan sedimen laut, kemudian minyak bumi itu naik ke atas melalui batuan
sedimen. Akhirnya sampai pada bagian dasar sedimen yang tidak dapat ditembus
dan membentuk akumulasi minyak bumi dalam suatu perangkap yang bisa disebut
dengan oil trap. Gas alam kemungkinan sekali terdapat di atas lapisan minyak,
sedangkan air dibawah lapisan minyak. Karena proses pembentukan minyak bumi
memerlukan waktu yang lama, maka minyak bumi digunakan pada sumber daya
alam yag tidak dapat diperbaharui ( anrenewable ).
Minyak bumi ditemukan bersama-sama dengan gas alam. Minyak bumi yang

telah dipisahkan dari gas alam disebut juga minyak mentah (crude oil). Minyak
mentah dapat dibedakan menjadi:
1) Minyak mentah ringan (light crude oil) yang mengandung kadar logam dan
belerang rendah, berwarna terang dan bersifat encer (viskositas rendah).
2) Minyak mentah berat (heavy crude oil) yang mengandung kadar logam dan
belerang tinggi, serta memiliki viskositas tinggi.
Minyak mentah merupakan campuran yang kompleks dengan komponen
utama alkana dan sebagian kecil alkena, alkuna, siklo-alkana, aromatik, dan
senyawa anorganik. Meskipun kompleks, untungnya terdapat cara mudah untuk
memisahkan komponen-komponennya, yakni berdasarkan perbedaan nilai titik
didihnya, proses ini disebut distilasi bertingkat. Untuk mendapatkan produk akhir
sesuai dengan yang diinginkan, maka sebagian hasil dari distilasi bertingkat perlu
diolah lebih lanjut melalui proses konversi, pemisahan pengotor dalam fraksi, dan
pencampuran fraksi.

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

2.3 Proses Terbentuknya Minyak Bumi


Dewasa ini terdapat dua teori utama yang berkembang mengenai asal usul
terjadinya minyak bumi, antara lain:
1. Teori Anorganik (Abiogenesis)
Barthelot (1866) mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat
logam alkali, yang dalam keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan
bersentuhan dengan CO2 membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877)
mengemukakan bahwa minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap
pada karbida-karbida logam dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah
pernyataan beberapa ahli yang mengemukakan bahwa minyak bumi mulai
terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh sebelum bumi terbentuk dan bersamaan
dengan proses terbentuknya bumi. Pernyataan tersebut berdasarkan fakta
ditemukannya material hidrokarbon dalam beberapa batuan meteor dan di
atmosfir beberapa planet lain. Secara umum dinyatakan seperti dibawah ini:
Berdasarkan teori anorganik, pembentukan minyak bumi didasarkan pada
proses kimia, yaitu:
a. Teori alkalisasi panas dengan CO2 (Berthelot)
Reaksi yang terjadi:
Alkali metal + CO2
Karbida + H2O
C2H2

C6H6

Karbida ............................................
Ocetylena .........................................
Komponen-lomponen lain ............

(2.1)
(2.2)

(2.3)

Dengan kata lain bahwa didalam minyak bumi terdapat logam alkali dalam
keadaan bebas dan bersuhu tinggi. Bila CO2 dari udara bersentuhan dengan alkali
panas tadi maka akan terbentuk ocetylena. Ocetylena akan berubah menjadi
benzena karena suhu tinggi. Kelemahan logam ini adalah logam alkali tidak
terdapat bebas di kerak bumi.
b. Teori karbida panas dengan air (Mendeleyef)
Asumsi yang dipakai adalah ada karbida besi di dalam kerak bumi yang

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

kemudian bersentuhan dengan air membentuk hidrokarbon, kelemahannya tidak


cukup banyak karbida di alam.
2. Teori Organik (Biogenesis)
Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena adanya kebocoran
kecil yang permanen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir
dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua panah dengan arah yang
berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO 2). Pada
arah pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO 2 diekstrak dari
atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut. Pada arah yang kedua CO 2
dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan,
hewan dan mikroorganisme).
Adapun proses pengendapan bahan organik dalam proses pembentukan
minyak bumi ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

Gambar
2.1
Diagram

Pembentukan Minyak Bumi.

Gambar 2.2 Proses


minyak Bumi Berasal Dari
Zat Organik.
Beberapa

argumentasi

telah dikemukakan untuk

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

membuktikan bahwa minyak bumi berasal dari zat organik yaitu:


a) Minyak bumi memiliki sifat dapat memutar bidang polarisasi,ini disebabkan
oleh adanya kolesterol atau zat lemak yang terdapat dalam darah, sedangkan
zat organik tidak terdapat dalam darah dan tidak dapat memutar bidang
polarisasi.
b) Minyak bumi mengandung porfirin atau zat kompleks yang terdiri dari
hidrokarbon dengan unsur vanadium, nikel, dan lain-lain.
c) Susunan hidrokarbon yang terdiri dari atom C dan H sangat mirip dengan zat
organik, yang terdiri dari C, H dan O. Walaupun zat organik menggandung
oksigen dan nitrogen cukup besar.
d) Hidrokarbon terdapat di dalam lapisan sedimen dan merupakan bagian
integral sedimentasi.
e) Secara praktis lapisan minyak bumi terdapat dalam kambium sampai
pleistosan.
f)

Minyak bumi mengandung klorofil seperti tumbuhan.

Adapun dalam proses pembentukan minyak bumi terdiri dari tiga tingkat,
yaitu :
1.

Pembentukan sendiri, terdiri dari pengumpulan zat organik dalam sedimen,


pengawetan zat organik dalam sedimen, transformasi zat organik menjadi
minyak bumi.

2.

Migrasi minyak bumi yang terbentuk dan tersebar di dalam lapisan sedimen
terperangkap.

3.

Akumulasi tetes minyak yang tersebar dalam lapisan sedimen hingga


berkumpil menjadi akumulasi komersial.
Proses kimia organik pada umumnya dapat dipecahkan dengan percobaan di

laboratorium, namun berbagai faktor geologi mengenai cara terdapatnya minyak


bumi serta penyebarannya didalam sedimen harus pula ditinjau. Fakta ini
disimpulkan oleh Cox yang kemudian di kenal sebagai pagar Cox diantaranya

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

adalah minyak bumi selalu terdapat di dalam batuan sedimen dan umumnya pada
sedimen marine, fesies sedimen yang utama untuk minyak bumi yang terdapat di
sekitar pantai. Minyak bumi memeng merupakan campuran kompleks
hidrokarbon. Temperatur reservior rata-rata 107C dan minyak bumi masih dapat
bertahan sampai 200C. Diatas temperatur ini forfirin sudah tidak bertahan.
Minyak bumi selalu terbentuk dalam keadaan reduksi ditandai adanya forfirin dan
belerang. Minyak bumi dapat tahan pada perubahan tekanan dari 8-10000 psi.

2.4 Proses Alkilasi Pada Pengilangan Minyak Bumi


Proses alkilasi pada pengilangan minyak bumi, dimulai reaksi alkilasi dengan
katalis asam dimulai dengan pembentukan ion karbonium dengan mentransfer
proton (H+) dari katalis asam ke molekul umpan olefin, dan kemudian ion
karbonium tersebut berkombinasi dengan molekul jumpan isobutana untuk
menghasilkan kation tertier butil. Reaksi antara kation tertier butil tersebut dengan
umpan butilena-1 dan butilena-2 akan membentuk masing-masing ion karbonium
oktil dengan dua cabang (dimetil) dan tiga cabang (trimetil) yang selanjutnya akan
bereaksi dengan molekul umpan isobutana untuk menghasilkan produk alkilat
isooktana yaitu masing-masing bercabang dua dan tiga metal.
Adapun mekanisme reaksi alkilasi dengan isomerisasi umpan butilena-1
menjadi butilena-2 yang kemudian berkombinasi dengan umpan isobutana, maka
produk alkilasi akan menghasilkan isooktana bercabang tiga metil, berangka
oktana lebih tinggi. Salah satu reaksi penting dalam proses alkilasi propilena
adalah terbentuknya isobutilena dari hasil kombinasi kedua molekul umpan
propilena dan isobutana, dan berkombinasinya molekul isobutilena tersebut
dengan umpan isobutana akan menghasilkan produk isooktana bercabang tiga
metil yang berangka oktana -RON -100. Isobutilena tersebut terbentuk dengan
timbulnya transfer hidrogen dari isobutana ke propilena. Reaksi alkilasi adalah
eksotermis dengan pelepasan panas reaksi sekitar 124.000140.000 BTU per barel
isobutana bereaksi.
Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

Didalam industri minyak bumi, umpan isobutana dan butilena sebagian besar
berasal dari hasil perengkahan berkatalis. Isobutana sebagian kecil juga terdapat
dalam minyak mentah bersama-sama dengan normal butane. Umpan Butanabutilena (BB) yangberasal dari berbagai operasi perengkahan adalah suatu
campuran isobutilena, butilena-1, butilena-2, isobutana dan normal butane dengan
sedikit butadiene. Semua olefin-olefin ini termasuk kedalam reaksi yang akan
menghasilkan alkilat. Alkilat tersebut esensinya merupakan campuran 2,2,4
trimetil pentane : 2,2,3 trimetil pentane dan 2,3,4 trimetil pentane.
Secara garis besar unit alkilasi itu terdiri menjadi 3 bagian yaitu :
1. Bagian Reaktor dan Treating.
2. Bagian Pendingin.
3. Bagian Fraksionas.i
Jika menggunakan asam sulfat sebagai katalis, maka reaksi harus terjadi pada
suhu rendah untuk menekan terjadinya reaksi berkelanjutan atau polimerisasi.
Suhu reaktor biasanya dijaga sekitar 7oC atau 45oF, dimana suhu operasi beragam
antara 0-20oC atau 32-68oF. Operasi pada suhu dibawah 0oC tidak menarik karena
dapat menaikkan viskositas emulsi campuran asam/hidrokarbon dan memberi
kemungkinan terjadinya pembekuan asam sehingga menyulitkan dalam
operasinya. Sebaliknya suhu diatas 20oC juga tidak menarik karena samngat
cenderung mempercepat reaksi polimerisasi yang akan menyebabkan kenaikan
konsumsi asam dan menurunkan yield alkilat. Tekanan operasi tidak begitu
berpengaruh terhadap efisiensi alkilasi. Tekanan sistem harus tinggi untuk
menjaga hidrokarbon berada dalam fasa cairan dan perbedaan hidraulik cukup
untuk mengatur fluida mengalir dalam sistem reaktor.

2.5 Contoh Alkilasi Pada Pengilangan Minyak Bumi


Adapun contoh-contoh alkilasi pada minyak bumi yaitu :
1) Alkilasi Asam Sulfat
Pada proses alkilasi asam sulfat, komponen gasoline dengan angka oktan

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

10

tinggi dibuat melalui reaksi isobutana dengan olefin. Butilena merupakan senyawa
yang paling umum dipakai, karena produk yang dihasilkan mempunyai kualitas
tinggi dan dapat diperoleh hanya dengan sedikit asam sulfat dibandingkan dengan
olefin lainnya, jika diproses pada kondisi operasi yang sama. Di dalam industri
minyak bumi, umpan isobutana dan butilena sebagian besar berasal dari hasil
perengkahan berkatalis. Isobutana sebagian kecil juga terdapat dalam minyak
mentah bersama-sama dengan normal butane.
Katalis asam sulfat dengan konsentrasi 98% (berat) dimasukkan secara terusmenerus atau dengan secara injeksi asam dari belakang. Nisbah asam dan
hidrokarbon didalam reactor adalah 1:1. Penambahan asam segar didalam reaktor
dilakukan apabila konsentrasinya kurang dari 88% (berat). Yeild alkilat dan umur
katalis asam merupakan fungsi daripada komposisi umpan masuk dan kondisi
operasi dalam reaktor.
Yield tersebut secara luas dipengaruhi oleh kondisi operasi, tetapi mudah
melihat bahwa perbedaan yang sangat besar dalam yield alkilat terjadi karena
menggunakan umpan olefin yang berbeda. Umur katalis dipertimbangkan
dipengaruhi oleh umpan olefin. Berbagai umur katalis dapat diharapkan terlihat
pada table dibawah. Pengaruh umpan olefin terhadap kualitas alkilat dapat juga
terlihat pada table diatas. Harga-harga yang diberikan untuk propilena,butilena
dan amilena saja, karenaproduk yang deperoleh langsung dari butilena.
Proses lain yang juga merupakan modifikasi proses alkilasi asam sulfat
adalah alkilasi keluaran refrigerasi (Effluent Refrigeration Alkylation) dimana
dijaga nisbah umpan yang tinggi antara isobutana dan olefin-olefin seperti
propilena, butilena dan amilena untuk mendapatkan alkilat yang lebih banyak
untuk digunakan sebagai komponen avgas dan bahan bahan baker motor. Proses
ini dikembangkan oleh Stratford Engineering Corp. keluaran reactor dipakai
sebagai refrigerant untuk mengendalikan suhu reaktor (45-50oC) dan pada waktu
yang sama memisahkan isobutana sebagai daur ulang.
2) Alkilasi Asam Fluorida
Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

11

Alkilasi dengan menggunakan asam fluoride sebagai katalis telaah dijumpai


dalam 2 kelompok operasi pengilangan minyak. Pertama dalam pembuatan
komponen dasar untuk diterjen sintesis, yang diperoleh dari alkilasi benzene
dengan olefin yang sesuai, seperti propilena tetramer, olefin yang diturunkan dari
perengkahan lili, dan lain-lain. Alkilasi ini banyak dijumpai dalam bidang
petrokimia. Kedua dalam pembuatan komponenen blending untuk avgas yang
berkualitas tinggi melalui alkilasi isobutana dengan propilena, butilena dan
pentilena (amilena).
Proses alkilasi asam fluoride utnuk pembuatan komponen dasar avgas ini
telah dikembangkan oleh Philips Petroleum Company dan oleh UOP Company.
Operasi proses ini sangan sama dengan operasi alkilasi asam sulfat. Perbedaannya
yang sangat penting adalah terletak adalah pada pengolahan asam bekas yang siap
dan terus-menerus dapat diregenerasi sehingga konsumsi asam flourida sangat
sedikit. Regenerasi asam bekas ini dipengaruhi oleh cara destilasi yang sangat
sederhana, dimana asam dapat dipisahkan dari campuran azeotrop H2O-HF dan
polimer yang terbentuk dari proses alkilasi. Titik didih HF pada tekana 1 atm
adalah 19,4oC dan berat jenisnya 0,988. Tanpa proses regenerasi, baik air maupun
polimer akan terakumulasi didalam asam dan akan berpengaruh buruk terhadap
yield dan kualitas produk. Asam yang sudah diregenerasi didaur ulang kedalam
reaktor.
3) Alkilasi Isobutana
Pada alkilasi isobutana dengan butilena, proses alkilasi HF memproduksi
suatu alkilat yang mengeandung 2,2,3 trimetil pentane yang persentasenya lebih
besar daripada proses alkilasi asam sulfat. Angka oktan alkilat yang dihasilkan
sangat tergantung pada jenis olefin sebagai berikut :
i-C4H10 + i-C4H8

iso Oktana (ON = 92-94 )

i-C4H10 + i-C5H10

iso Nonana (ON = 90-92 )

i-C4H10 + i-C3H6

iso Oktana (ON = 89-91 )

4) Alkilasi Asam Posfat

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

12

Alkilasi menggunakan asam posfat dimaksudkan untuk memprodukasi


isopropil benzene atau kumen dengan mereaksikan propilena dengan benzene.
Katalis asam posfat berbentuk padatan dapat mengendung campuran kieselguhr,
tepung, magnesia, seng khlorida, seng oksida dan lain-lain yang dikalsinasi pada
suhu 180-250oC. Nisbah benzene dan propilena dijaga pada 6/1 atau lebih besar,
dan yield yang diperoleh sekitar 96% (V) kumen dan 4% (v) adalah alkilat
aromatik berat.
5) Alkilasi HF
Alkilat berangka oktana tinggi dengan distribusi angka oktana baik dan
sensitivitas rendah (baik) memberikan keuntungan di negara-negara Eropa yang
mensyaratkan angka oktana motor (MON) dan Amerika Serikat dengan
persyaratan knock performance, yaitu (RON + MON)/2 pada spesifikasi bensin.
Alkilat mengandung isoparafin dan bebas dari hidrokarbon tak jenuh (olefin dan
aromatik). Pemakaian alkilat pada pembuatan bensin ramah lingkungan di
Amerika Serikat pada tahun 2000[10] sekitar 15% volume. Komposisi molekul
isoparafin dari alkilat disajikan pada.
Sehubungan dengan katalis asam bekas dapat mencemari lingkungan, maka
sejak tahun 200-an beberapa industri katalis sedang mengembangkan katalis baru
yaitu suatu katalis butir padat identik telah katalis heterogen industri lainnya,
tetapi belum ada informasi lengkap yang dipublikasikan. Kondisi operasi identik
dengan proses alkilasi dengan memakai katalis HF, yaitu: temperatur reaktor 10
40oC, dan rasio isobutana/olefin sekitar 1015:1.Unit pengolahan Pertamina
mengolah berbagai jenis minyak bumi sebesar 1.063 MBCD pada tujuh unit yang
mengoperasikan 12 unit proses konversi yang berpotensi dalam pembuatan umpan
proses alkilasi isobutana dan olefin (propilena dan butilena).
Unit pengelolahan Pertamina mengoperasikan baru satu unit proses alkilasi
dengan katalis asam sulfat di UP III Plaju/S. Gerong. UP VI Balongan memakai
produk gas olefin dari proses perengkahan katalitik untuk proses polimerisasi
(kondensasi) untuk pembuatan komponen bensin polimer. UP II Dumai/S.
Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

13

Pakning dan UP IV Cilacap mempunyai potensi untuk pembangunan suatu proses


alkilasi agar supaya dapat ditingkatkan potensi kilang tersebut dalam pembuatan
bensin ramah lingkungan.
6) Alkilasi Termis
Alkilasi termis adalah alkilasi yang mengolah etilena yang diikuti oleh
propilena, butena, dan isobutilena dengan bantuan panas. Kondisi operasi proses
ini tinggi, suhu sekitar 950oF dan tekanan sekitar 3000-5000 psia. Umpan olefin
yang diperkaya seperti tersebut diatas dapat diproduksi dari proses dekomposisi
hidrokarbon yang beroperasi pada suhu 1200-1425 oF dan tekanan 1 atm. Kondisi
sedemikian sangat memungkinkan untuk pembentukan etilena. Etilena diserap
didalam isobutana untuk dimasukkan kedalam dapur melalui zona perendaman.
Sedikit ter atau material yang mempunyai titik didih diatas gasoline dapat
dihasilkan karena konsentrasi etilennya rendah dalam zona reaksi. Diperlukan
waktu 2-7 detik unutk mencapai suhu 950oF, tergantung pada jumlah hidrokarbon
yang diolah dan jumlah isobutilena yang didaur ulang.
Campuran etana dan propane direngkah pada suhu sekitar 1400oF dan tekanan
6-8 psig utnuk pembentukan propilena yang optimum. Gas-gas yang terbentuk
dibebaskan dari material yang lebih besar dari C2 melalui scrubber, lalu diikuti
dengan kompresi dan pendinginan. Etilena kemudian diserap oleh cairan
isobutana pada suhu -30oF, sedangkan gas hydrogen dan metana dipisahkan dari
sistem. Campuran etilena dan isobutana pada dapur alkilasi melalui preheater pada
suhu 950oF. Nisbah isobutana daan etilena pada 9/1 atau lebih pada zona reaksi.
Yield yangdikirim kemenara depropanizer berupa cairan pada bagian bawah yang
menghabiskan 7% (berat etana, propane dan isobutanayang mengandung kira-kira
30-40% neoheksana. Neoheksana dikarakterisasi sebagai bahan campuran avgas
dengan sifat-sifat yang sempurna dan sangat mudah menerima TEL. Senyawa ini
mempunyai RVO 9,5 psi ; titik didh 121oF dan angka oktan 95.
Adapun Unit proses umum pembuatan kilang minyak, dalam sebuah pabrik, yaitu :

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

14

1.

Desalter unit mencuci keluar garam dari minyak mentah sebelum memasuki unit distilasi
atmosfer.

2.

Unit distilasi atmosfer menyuling minyak mentah menjadi fraksi.

3.

Distilasi Vacuum unit lebih lanjut menyuling dasar sisa setelah distilasi atmosfer.

4.

Nafta hydrotreater unit menggunakan hidrogen untuk desulfurize nafta dari distilasi
atmosfer. Harus menjadi hydrotreat nafta sebelum mengirimkan ke unit Catalytic
Reformer.

5.

Catalytic reformer unit digunakan untuk mengonversi berbagai mendidih molekul-nafta


keoktan lebih tinggi reformate (produk pembaharu). Reformate memiliki kandungan
lebih tinggi dari aromatik dan hidrokarbon siklik). Sebuah produk sampingan penting
adalah hidrogen dilepaskan selama reaksi katalis. Hidrogen digunakan dalam
hydrotreaters atau kilang.

6.

Distilat desulfurizes unit hydrotreater sulingan (seperti diesel) setelah distilasi


atmosferik.

7.

Fluida katalitik creacker unit upgrade FCC (fraksi berat menjadi ringan, yang berharga
lebih banyak produk.

8.

Kilang unit menggunakan hidrogen untuk meng-upgrade fraksi berat menjadi ringan,
yang berharga lebih banyak produk.

9.

Visbreaking upgrade unit minyak sisa berat oleh termal cracking mereka menjadi lebih
ringan, mengurangi produk berharga viskositas lebih.

10. Merox unit memperlakukan LPG, minyak tanah atau bahan bakar jet dengan
mengoksidasi mercaptans untuk organik disulfides .
11. Coking unit (kokas, coker cairan, dan flexicoker) sangat sisa minyak berat proses
menjadi bensin dan solar, meninggalkan kokas minyak bumi sebagai produk sisa.
12. Alkilasi unit memproduksi komponen-oktan tinggi untuk pencampuran bensin.
13. Dimerisasi unit mengubah olefin menjadi oktan bensin blending-komponen yang lebih
tinggi. Sebagai contoh, butenes bisa dimerized ke isooctene yang selanjutnya dapat
dihidrogenasi membentuk isooctane. Ada juga kegunaan lain untuk dimerisasi.
14. Isomerisasi unit mengkonversi molekul linier untuk oktan bercabang-molekul yang lebih
tinggi untuk dicampur ke dalam bensin atau umpan ke unit alkilasi.

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

15

15. Steam reforming unit memproduksi hidrogen untuk hydrotreaters atau kilang minyak.
16. Liquified unit penyimpanan gas propan dan bahan bakar gas yang sama pada tekanan
yang cukup untuk menjaga mereka dalam bentuk cair. Ini biasanya kapal bola atau
peluru (kapal horisontal dengan ujung bulat).
17. Tangki Penyimpanan menyimpan minyak mentah dan produk jadi, biasanya silinder,
dengan semacam emisi kontrol uap dan dikelilingi oleh tanah tanggul mengandung
tumpahan.
18. Slug penangkap digunakan ketika produk (minyak mentah dan gas) yang berasal dari
sebuah pipa dengan aliran dua fase, harus buffered pada masuknya unit.
19. Amine

gas

treater,

dan

gas

sisa

mengkonversi

hidrogen

sulfida dari hidrodesulfurisasi menjadi sulfur elemental.


20. Utilitas

seperti

unit menara

pendingin sirkulasi

air

pendingin, boiler

tanaman menghasilkan uap, dan instrumen sistem udara termasuk pneumatically


dioperasikan katup kontrol dan gardu listrik.
21. Air Limbah dan sistem pengumpulan mengobati terdiri dari pemisahan DAF (unit flotasi
udara terlarut dan unit perawatan lebih lanjut seperti lumpur aktif biotreater untuk
membuat air yang cocok untuk digunakan kembali atau untuk pembuangan).
22. Unit dewaxing pelarut menghapus konstituen berat berlilin petrolatum dari produk
distilasi vakum.

Adapun Flow diagram prosesnya sebagai berikut :

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

16

Gambar FDP Pengilangan Minyak Bumi

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan diatas adalah :

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

17

1.

Alkilasi merupakan penambahan jumlah atom dalam molekul menjadi


molekul yang lebih panjang dan bercabang. Dalam proses ini menggunakan
katalis asam kuat seperti H2SO4, HCl, AlCl3 (suatu asam kuat Lewis). Reaksi
secara umum adalah sebagai berikut:
RH + CH2=CRR

2.

R-CH2-CHRR.

Di dalam minyak bumi terdapat campuran yang kompleks dari berbagai


macam hidrokarbon terutama alkana mulai dari yang paling sederhana
seperti : metana ( CH4 ), etana ( C2H6 ), propane ( C3H8 ) dan butana ( C4H10)
sampai dengan alkana yang berantai panjang lurus atau bercabang.

3.

Proses pembentukan minyak bumi terbagi menjadi 2 yaitu : Teori Anorganik


(Abiogenesis) dan Teori Organik (Biogenesis).

4.

Proses alkilasi pada pengilangan minyak bumi, dimulai reaksi alkilasi dengan
katalis asam dimulai dengan pembentukan ion karbonium (C+ 4H9 ) dengan
mentransfer proton (H+) dari katalis asam ke molekul umpan olefin, dan
kemudian ion karbonium tersebut berkombinasi dengan molekul jumpan
isobutana untuk menghasilkan kation tertier butil (iso C+ 8H9).

5.

Contoh alkilasi dalam pengilangan minyak bumi yaitu alkilasi asam sulfat,
alkilasi asam fluorida, alkilasi isobutana, alkilasi asam posfat, alkilasi HF dan
alkilasi termis.

3.2 Saran
Saran yang dapat diberikan dalam karya tulis ini adalah hendaknya para
penulis dan pembaca nanti dapat menerapkanya didalam aplikasi dunia industri.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim1. 2010. Step-Oil-Processes.


http://salman.blogspot.com/2010/11/blog-post.html?m=1
Diakses Pada Tanggal 30 September 2014.

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

18

Anonim2. 2014. Alkilasi.


http://id.swewe.net/word_show.htm/?78238_1&Alkilasi

Diakses Pada Tanggal 30 September 2014.

Austin, George T. 2008. "Shreve's Chemical Process Industries". England.

Ika Ratna Sari, S.Pd. 2006. Metode Belajar Efektif Kimia : Jawa Tengah. CV Media Karya
Putra.

Keenan, dkk. 1992. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.

Kengie, R. 2010. Minyak Bumi.


http://rasenshurikengie.blogspot.com/2010/12/-minyak-bumi.html

Diakses Pada Tanggal 30 September 2014.

Oyyiin. 2011. Minyak Bumi dan Alkilasi.


http://doanddoo.blogspot.com/2011/12/minyak-bumi-alkilasi-polimerisas
i.html.

Diakses Pada Tanggal 30 September 2014.

Septiadevana, R. 2008. Minyak Bumi dan Gas Alam.


http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/Riski%20Septia
devana%200606249_IE6.0/halaman_16.html.

Diakses Pada Tanggal 30 September 2014.

Stocchi, E.1990. "Industrial Chemistry Vol. 1", Ellis Horwood, England.

Triwahyudi.2011. Alkilasi dan Polimerasi.


http://yudi3wahyudi.blogspot.com/2011/04/4.html
Diakses Pada Tanggal 30 September 2014.

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

19

Zulfan Adi Putra.2010. Kilang Minyak Bumi.


http://id.wikipedia.org/wiki/Kilang_minyak

Diakses Pada Tanggal 30 September 2014.

Suriansyah_(H1D112011)_Teknik Kimia_Unlam

20