Anda di halaman 1dari 8

CONTOH PROPOSAL PTK-PAK

PENGGUNAAN STRATEGI CTL UNTUK MENINGKATKAN


KEMAMPUAN SISWA MENYUSUN DOA UNTUK BERBAGAI
KEPERLUAN DALAM PEMBELAJARAN PAK DI KELAS IV
SD . KEC. .

Oleh

SEKOLAH .

2010

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia.
Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna,
damai dan bermartabat. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat
manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah
keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan
keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan Agama di sekolah dimaksudkan
untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi spiritual.
Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari
pendidikan Agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman,
dan penanaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan individual ataupun kolektif
kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada
optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya
mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan (Permendiknas No.
22 Tahun 2006).
Pendidikan Agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan
berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk
memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan
ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama
lain dalam hubungan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat untuk
mewujudkan persatuan nasional (Permendiknas No. 22 Tahun 2006).
Sejak awal, pendidikan Agama Katolik merupakan suatu usaha untuk memperkuat
iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama Katolik,
dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan
kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujuskan persatuan
nasional. Dalam prakteknya, pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan salah
satu bentuk komunikasi atau interaksi iman, yang mengandung unsur pengetahuan
iman, unsur pergumulan iman dan unsur penghayatan iman dalam bermacam-macam
bentuk. Sebagai salah satu bentuk komunikasi iman, PAK di sekolah diharapkan
dapat membantu perkembangan iman siswa melalui perluasan pengetahuan iman
Katolik dan pergumulan penghayatan iman Katolik dalam hidup sehari-hari. Melalui
pendidikan iman Katolik di sekolah diharapkan siswa dapat dibantu untuk
membangun hidup beriman mereka (Komkat KWI, 1994).
Salah satu standar kompetensi dalam pembelajaran PAK di kelas IV SD semester
II adalah Memahami pedoman hidup dari Allah yang disampaikan melalui tokohtokoh dalam Kitab Suci dalam upaya mengembangkan relasi dengan sesama;
orangtua dan lingkungan sekitarnya serta berusaha mengembangkan hidup doa
mereka. Standar kompetensi ini kemudian dijabarkan ke dalam beberapa kompetensi
dasar berikut: 1) Memahami bahwa Yesus adalah penyelamat yang dijanjikan Allah
beserta karya-karya-Nya, 2) Memahami kehendak Allah bagi dirinya dalam bersikap
terhadap orangtua, kehidupan diri dan sesamanya dan 3) Berdoa secara spontan dalam
doa bersama.
Pengalaman dalam pembelajaran PAK di kelas IV SD memperlihatkan
bahwa sebagian besar siswa belum mampu berdoa secara spontan baik doa untuk
keperluan diri sendiri maupun untuk kepentingan bersama. Hasil belajar yang terkait
dengan materi ini masih sangat rendah dan sebagian besar (.%) belum mencapai
KKM. KKM PAK kelas IV di SD .. adalah . Sementara pencapaian siswa yang

terkait dengan kemampuan membuat doa-doa spontan rata-rata .. Karena itu


masalah yang dihadapi adalah rendahnya kemampuan siswa memanjatkan doa-doa
spontan untuk berbagai keperluan.
Dari hasil refleksi dan kajian terhadap permasalahan di atas ditemukan beberapa
faktor penyebab. Pertama, penggunaan metode yang kurang tepat. Metode yang
digunakan oleh guru selama ini adalah ceramah dan tanya jawab. Metode ini
nampaknya kurang memacu anak untuk mengembangkan kemampuan menyusun
doa-doa secara spontan. Kedua, kurang adanya latihan secara berkesinambungan
kepada para siswa sehingga mereka terbiasa untuk memanjatkan doa-doa secara
spontan. Ketiga, interaksi dalam pembelajaran juga jurang bagus akibat dari
penggunaan metode atau strategi yang kurang tepat. Dalam pembelajaran guru
nampaknya lebih dominan sehingga siswa kurang terlibat secara aktif dalam
pembelajaran. Keempat, kesulitan bahasa juga diidentifikasi menjadi penyebab
rendahnya kemampuan siswa untuk mengungkapkan doa-doa spontan.
Dari beberapa faktor penyebab yang telah diidentifikasi di atas, nampaknya
penyebab yang dominan adalah kurangnya latihan yang berpijak pada pengalamanpengalaman konkret siswa sehingga mereka sulit untuk mengartikulasikan kebutuhan
atau keperluan mereka melalui doa-doa kepada Allah. Doa spontan adalah doa yang
dipanjatkan oleh siswa secara spontan menyangkut berbagai kebutuhan yang
dialaminya. Karena itu doa-doa semacam itu sangat kontekstual sesuai dengan
konteks dan kebutuhan para siswa. Mengingat karakteristik dari konteks dan latar
kebutuhan sebagai bahan dasar untuk menyusun doa-doa spontan maka pendekatan
CTL nampaknya menjadi sebuah model pembelajaran yang diharapkan dapat
mengatasi masalah pembelajaran PAK di kelas IV tersebut. Karena itu untuk
mengatasi kesulitan pembelajaran ini, peneliti akan menggunakan strategi CTL.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka permasalahan penelitian
dapat dirumuskan sebagai berikut: apakah penggunaan strategi CTL dapat
meningkatkan kemampuan siswa merumuskan doa-doa spontan untuk berbagai
keperluan?
C.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa memanjatkan doa-doa
spontan untuk berbagai keperluan. Untuk mencapai tujuan ini maka penelitian ini
menggunakan strategi CTL sebagai tindakan pemecahannya.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan dapat mengatasi kesulitan belajar siswa terutama yang
berkaitan dengan kesulitan memanjatkan doa-doa spontan sehingga diharapkan
hasil belajar siswa untuk mata pelajaran PAK dapat lebih ditingkatkan.
2. Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan guru untuk melakukan
inovasi-inovasi dalam pembelajaran PAK sekaligus dapat menumbuhkan budaya
meneliti bagi guru.
3. Bagi Sekolah
Melalui peningkatan hasil belajar siswa dan penerapan metode-metode inovatif
dalam pembelajaran di kelas maka diharapkan dapat meningkatkan mutu
pendidikan di sekolah.

BAB II
KAJIAN TEORETIS
A. Hakikat Berdoa untuk Berbagai Keperluan
1. Pengertian Berdoa
Salah satu ciri khas perilaku keberagamaan manusia adalah kemampuan untuk
memanjatkan doa-doa kepada sang pencipta. Doa adalah ungkapan hati
manusia kepada Allah yang diimani dan dengan demikian diharapkan dapat
memberikan kelegaan, kepuasan, dan terbebasnya manusia dari berbagai
kesulitan dan penderitaan. Menurut Powell (1995) berdoa adalah bercakapcakap atau berdialog dengan Allah dan seni berdoa adalah mengetahui
bagaimana berbicara kepada dan mendengarkan Allah. Doa merupakan
ungkapan iman, yang diwujudkan dalam bentuk relasi yang mendalam antara
manusia dan Allah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa doa adalah salah
satu bagian dari keberimanan seseorang. Doa adalah ungkapan kepasrahaan
dan sekaligus keyakinan akan Allah sebagai sumber segala sesuatu dan
dengan demikian manusia dapat berharap daripadaNya.
Berdoa adalah berkomunikasi dengan Allah. Menurut Powell (1995), jika
komunikasi bertujuan untuk memperdalam hubungan iman, maka pokok
percakapan tidak dapat merupakan sesuatu yang dangkal atau olah pikir
sekalipun. Karena itu berdoa harus melibatkan saling berbagi secara
menyeluruh atau perjumpaan pribadi dengan pribadi. Bila kita berdoa, kita
harus membuka diri sedalam-dalamnya dan setulus-tulusnya dan kita harus
berolah seni mendengarkan yang mendalam, karena Allah membuka dirinya
sendiri kepada kita.
Menurut Jacobs, Kieser dan Banawiratma (1992) berdoa berarti
menghayati dan mengungkapkan secara positif hubungan dengan Allah. Isi
dan bentuk doa berbeda menurut hubungan itu. Hubungan itu ditentukan oleh
beberapa keadaan manusia: 1) sebagai makhluk ciptaan Allah; 2) sebagai anak
Allah dalam kesatuan dengan Kristus, 3) Sebagai pendosa karena manusia
memiliki kerapuhan.
2. Berdoa untuk Berbagai Keperluan
Doa sebagai ungkapan iman manusia dapat menjadi sarana bagi manusia
untuk berkomunikasi dengan Allah. Sebagaimana layaknya komunikasi antara
manusia dengan manusia, doa sebagai suatu pernyataan keintiman dengan
Allah dapat digunakan untuk menyampaikan berbagai keperluan manusia.
Ada banyak jenis doa yang biasa dipanjatkan manusia kepada Allah seperti
doa syukur, doa pujian, doa pengharapan, dan yang paling sering dipanjatkan
manusia adalah doa permohonan (Komkat KWI, 2007). Doa permohonan
ingin mengungkapkan segala keperluan dan kebutuhan hidup manusia di
hadapan Tuhan. Ini tidak berarti bahwa manusia memaksa Allah, tetapi
sebagai anak Allah yang percaya kepada kebaikan Bapa, manusia mau
mengungkapkan seluruh isi hati di hadapan Allah (Jacobs, Kieser, dan
Banawiratma, 1992).
3. Struktur Doa
Sebagai suatu bentuk komunikasi dan ungkapan iman manusia, doa memiliki
struktur tertentu. Setidak-tidaknya terdapat tiga bagian utama dari doa yaitu 1)
sapaan pembuka yang berupa ucapan syukur dan terima kasih atas berkat dan
rahmat yang telah diberikan Allah kepada manusia. 2) Ungkapan permohonan
yang berisi berbagai kebutuhan dan keperluan yang dikehendaki oleh
manusia. 3) Bagian penutup yang berisi doksologi, lewat mana doa itu
disampaikan. Pada umumnya, Yesus Kristus sebagai perantara segala

permohonan kepada Allah maka kepada Dialah ungkapan akhir doa-doa


manusia disampaikan.
B. Hakikat Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching Learning)
Menurut Trianto (2007), pembelajaran kontekstual atau CTL merupakan suatu
konsepsi yang membantu guru mengaitkan isi mata pelajaran dengan situasi dunia
nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara
dan tenaga kerja. Pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa menguatkan,
memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka
dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat
memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-maslaah yang
disimulasikan. Pembelajaran kontekstual terjadi bila siswa menerapkan dan
mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu kepada masalah-masalah
dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggungjawab mereka sebagai
anggota masyarakat. Maka pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran
yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman yang sesungguhnya.
Menurut Sanjaya (2006) pembelajaran kontekstual adalah suatu strategi
pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh
untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan
situasi kehitupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya
dalam kehidupan mereka. Dari konsep ini maka terdapat tiga hal penting yang
terkait dengan CTL: Pertama, CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa
untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan kepada kepada
proses pengalaman langsung. Proses belajar dalam CTL tidak mengharapkan agar
siswa menerima begitu saja pelajaran yang diberikan tetapi memproses, mencari
dan menemukan sendiri materi pelajarannya. Kedua, CTL mendorong siswa untuk
menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan
nyata. Artinya siswa dituntut untuk menangkap hubungan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Ini penting sekali karena dengan
menghubungkan materi dan kehidupan nyata maka materi itu menjadi bermakna
dan terpatri dalam ingatan siswa. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk
menerapkan apa yang dipelajari dengan permasalahan nyata yang dihadapi dalam
kehidupan nyata. Ini berarti CTL dapat membantu siswa mengaitkan pengalamanpengalaman pembelajaran di sekolah dengan kehidupan nyata mereka.
C. Kerangka Berpikir
Dari kajian teoretis yang telah dilakukan di atas maka nampaknya kesulitan
praktis yang dihadapi oleh siswa dalam mengungkapkan doa-doa spontan dapat
diatasi dengan menggunakan pendekatan CTL. Secara teoretis telah diketahui
bahwa CTL dapat membantu siswa menghubungkan pengalaman konkret mereka
dengan hakikat pembelajaran yang diperolehnya. Atau dengan kata lain, CTL
membuat pengalaman belajar siswa menjadi bermakna. Doa-doa spontan untuk
berbagai keperluan merupakan hal-hal nyata yang dihadapi siswa dalam
kehidupan konkret mereka. Bagaimana doa-doa tersebut dapat dirumuskan dan
dipanjatkan oleh siswa mengikuti struktur-struktur tertentu nampaknya akan
sangat terbantu jika strategi CTL ini diterapkan. Melalui strategi CTL siswa dapat
menggali pengalaman-pengalaman konkret mereka dan mengaitkan pengalaman
konret mereka dengan materi yang sesungguhnya. Maka upaya untuk
menghubungkan pengalaman konkret tersebut ke dalam pembelajaran dengan
kompetensi yang diharapkan yakni kemampuan untuk berdoa nampaknya cocok
dengan pembelajaran CTL. Karena itu melalui pendekatan CTL dalam
pembelajaran diharapkan siswa dapat membuat doa-doa untuk berbagai keperluan
dan sekaligus dapat memanjatkannya secara spontan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) dengan
menggunakan desain Kemmis dan McTaggart sebagai berikut: (gambarkan desain
Kemmis dan McTaggart):

Plan

Act & Observe

Siklus I

Reflect
Revised Plan

Reflect

Act & Observe

Plan

Siklus II

Reflect

Siklus III

Revised Plan
Plan

Act & Observe

Gambar 1: Desain Penelitian Kemmis & McTaggart


B. Prosedur Penelitian
Sesuai dengan desain penelitian yang telah dikemukakan di atas maka prosedur
atau tahapan-tahapan penelitian adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti melakukan kajian terhadap permasalahan
pembelajaran yang dihadapi, mengidentifikasi penyebab-penyebabnya dan
menentukan tindakan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah
tersebut. Tindakan yang akan digunakan kemudian dijabarkan dalam
rencana pelaksanaan pembelajaran atau skenario pembelajaran. Dalam
mengembangkan skenario atau rencana pembelajaran, peneliti melibatkan
pihak-pihak lain seperti rekan guru yang mengajar dalam mata pelajaran
yang sama, peneliti juga berdiskusi dengan pengawas dan kepala sekolah.
Hasil dari tahap perencanaan ini adalah dokumen-dokumen seperti RPP,
lembaran-lembaran pengamatan, lembaran kerja siswa, dsb.
b. Pelaksanaan dan Pengamatan
Pada tahap ini peneliti mengimplementasikan apa yang telah dibuat dalam
perencanaan dalam pembelajaran di kelas. Melalui panduan RPP atau
skenario pembelajaran peneliti berusaha untuk melaksanakan secara
konsisten apa yang telah tertera di dalam RPP tersebut. Sambil melakukan
kegiatan pembelajaran, peneliti juga melakukan pengamatan terhadap
proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen-instrumen
pengamatan yang telah tersedia. Untuk melakukan pengamatan secara
akurat maka peneliti membutuhkan mitra atau kolaborator peneliti yakni
.. orang teman guru. Mereka melakukan pengamatan terhadap proses
pembelajaran yang mencakup pengamatan terhadap keterlaksanaan
pembelajaran dan pengamatan terhadap aktivitas/respon siswa selama
pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap hasil belajar siswa

pada akhir pembelajaran menggunakan tes hasil belajar yang telah


disiapkan oleh peneliti.
c. Refleksi
Setelah melakukan kegiatan pembelajaran di kelas dengan menerapkan
apa yang tertera dalam RPP maka peneliti dan kolaborator melakukan
refleksi. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mencermati kembali pelaksanaan
pembelajaran yang telah dilaksanakan, perubahan-perubahan yang terjadi,
hambatan atau kesulitan-kesulitan yang dialami, dan kemajuan-kemajuan
yang telah dicapai. Hasil refleksi kemudian menjadi dasar untuk
melakukan tindakan pada siklus atau putaran-putaran berikutnya.
C. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD . Kec. . Kab.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilakukan selama bulan dari bulan ..
sampai 2010. Lamanya waktu penelitian juga tergantung pada tingkat
perubahan yang telah dicapai.
D. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah para siswa kelas IV yang berjumlah .. orang,
..laki-laki dan . perempuan. Adapun karakteristik umum dari siswa kelas ..
adalah sebagai berikut: 1) hampir sebagian besar di antaranya memiliki
kemampuan intelektual rata-rata, 2) sebagian besar di antaranya berasal dari latar
belakang keluarga petani dst
E. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah: data tentang hasil belajar, data
tentang keaktifan/keterlibatan siswa, data tentang tingkat keterlaksanaan
pembelajaran sesuai dengan perencanaan dan data tentang kepuasan siswa. Dari
gambaran tentang data ini maka instrumen yang dibutuhkan untuk mengumpulkan
data adalah tes hasil belajar, lembaran pengamatan keterlibatan siswa, lembaran
pengamatan keterlaksanaan pembelajaran dan skala sikap.
F. Teknik Analisis Data
Berdasarkan karakteristik data sebagaimana yang dikemukakan di atas maka
teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data deskriptif
kuantitatif menggunakan teknik-teknik statistik sederhana seperti nilai rata-rata
(mean), distribusi frekuensi, dsb.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Dokumen Konsili Vatikan II, Tonggak Sejarah Pedoman Arah, (Terj. J. Riberu), Jakarta:
Obor, 1983.
Harjana, A.M., Penghayatan Agama yang Otentik dan Tidak Otentik, Yogyakarta:
Kanisius, 1994.
Jacobs, Tom, Kieser B., Banawiratma, J.B., Silabus Pendidikan Iman Katolik Melalui
Pelajaran Agama Pada Tingkat Pendidikan Dasar 9 Tahun, Yogyakarta:
Kanisius, 1992.
Komkat KWI, Menyimak Kurikulum Pendidikan Agama Katolik, Sebuah Pengamatan
terhadap Lokakarya Kurikulum 1994 Pendidikan Agama Katolik, Jakarta: Obor,
1994.
Komkat KWI, Menjadi Murid Yesus, Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar,
Buku Guru 4, Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Mulyasa, E., Praktik Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Depdiknas, 2006.
Powell, John, Beriman untuk Hidup Beriman untuk Mati, (terj. A. Widyamartaya),
Yogyakarta: Kanisius, 1995.
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta:
Kencana Prenada Media, 2006.
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Jakarta:
Prestasi Pustaka Publishers, 2007.