Anda di halaman 1dari 277

199

MUQODDIMAH
‫بسم ال الرحمن الرحيم‬
‫توكلت علىال لحول ولقوة إل بال القوي العزيز الحميد‬
‫المجيد‬
‫ قيما‬.‫الحمدل الذى انزل على عبده الكتب ولم يجعل له عوجا‬
‫لينذر بأسا شديدا من لدنه و يبشر المؤمنين الذين يعملون‬
‫ والصلة والسلم على محمد‬.‫الصلحت ان لهم اجرا حسنا‬
‫وعلى اهل بيته وعلى ازواجه وذريته‬
Amma ba’du

Sebagaimana kenyataan bahwa perjuangan Negara Islam


Indonesia ini terus berlanjut. Dari waktu ke waktu semakin
menyebar. Dari kota sampai ke pedesaan. Dari desa hingga ke
peloksok pedalaman. Dari generasi tua sampai ke generasi
muda, ghirah perjuangan Negara Islam Indonesia semakin lama
semakin menjadi tuntutan bagi umat Islam Indonesia.

Pada saat ditulisnya "TABTAPENII DATANG"( Tanya


Jawab Estapeta Pemimpin Negara Islam Indonesia Dalam
Darurat Perang ) ini, NII belum de facto kembali. Dengan
kondisi ini tidak bisa menjelaskan perundang-undangan secara
merata kepada semua yang mengaku sebagai warga Negara
Islam Indonesia. Maka, hal yang wajar jika masih banyak yang
tidak mengetahui estapeta kepemimpinan yang sebenarnya
setelah Imam NII yang tertangkap 4 Juni 1962. Sehingga
keadaan seperti itu menimbulkan perbedaan pendapat diantara
sebagian yang mengaku sebagai warganya.. Hal demikian pasti
terjadi, selama tidak berpegang pada undang - undang
estapetanya. Sebab itu, untuk mengetahui mana yang
sebenarnya dan mana yang bukan, harus itu harus ditinjau dari
sudut perundang -undanganya.
Meskipun, dalam hati seseorang telah lama didapati
keikhlasan untuk menerima "Bayyinaat (kejelasan)", namun
karena kenyataannya bahwa kejelasan itu tidak datang sekaligus,
200

melainkan melalui proses bertahap, maka tidak mustahil jika


pribadi-pribadi yang ikhlas itu masih terombang-ambing dalam
menentukan kejelasan.

"Kejelasan", tidak akan didapati tanpa ilmu. Dan ilmu


tidak ditemukan bila tidak dicari dengan pendengaran, mata dan
hati yang ikhlas. Perhatikan Firman Allah SWT.yang bunyi-
Nya:

"Dan janganlah mengikuti apa yang engkau tak


mempunyai pengetahuan tentang itu. Sesungguhnya
pendengaran dan penglihatan dan hati, semua itu akan diminta
pertanggungjawabannya". ___ (Q.S.17:36).

Dari ayat itu diambil arti, tidak dibenarkan bila mengikuti


sesuatu perbuatan tanpa dasar ilmu. Artinya, bahwa berbuat
atau membicarakan sesuatu pun tidak boleh atas dasar ikut-
ikutan. Ayat di atas juga melarang ikut-ikutan membicarakan
masalah yang ia tidak mempunyai pengetahuan, atau
mengemukakan pendapat yang kurang diyakini dasar
hukumnya.

Fitnah serta kepalsuan bisa berkembang akibat dari banyak


yang mendengar tanpa penyelidikan dasar ilmu kemudian
membicarakannya kepada yang lain, lalu dari yang lainnya itu
didengar pula oleh yang ikut-ikutan. Kemudian yang ikut-ikutan
itu membicarakannya lagi kepada yang lainnya sehingga
tersebarlah kepalsuan dan perselisihan.

Kita mesti berwaspada dengan "Yahudi" nya umat ini.


Yakni, mereka yang dengan pongah mengaku berpegang teguh
pada AL-Our'an, tapi prilaku kesehariannya persis seperti orang
Yahudi yang digambarkan oleh Qur'an dalam surat 5:41-42.
Mereka gemar mendengar-dengar berita dusta, larut dalam
cerita-cerita orang, yang padahal orang itu pun belum pernah
201

Tabayyun dengan pimpinan yang haq (dahulu Rasul). Kemudian


berita tersebut direka-reka dengan seribu perkiraan, ditambah
lagi dengan kelancangan mereka merubah-rubah aturan. Hingga
akhirnya berani menghembus-hembuskan slogan: "Kalau yang
seperti ini kalian dapat terimalah, jika kalian diberi yang tidak
seperti ini maka berwaspadalah !"

Nah, bukankah kalimat-kalimat seperti di atas itu telah


lama menjejali. Padahal jika mengungkap kata-kata tidak
berdasarkan hukum, melainkan karena ikut-ikutan atau
kesinisan maka tidak mustahil akibat hembusan setan yang
awalnya dimulai oleh kedengkian.

Sebagai peringatan diri kita simak Firman Allah SWT.yang


bunyi-Nya:

"(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu


dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa
yang kamu tidak ketahui sedikit juga, dan kamu
menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi
Allah adalah besar". _ (Q.S.24:15).

"Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar


berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita
memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Robb kami), ini
adalah dusta yang besar."__ (Q.S.24:16).

“Dengan ini Allah memberikan suatu pelajaran kepadamu


sekalian, agar kamu jangan ulangi lagi perbuatan semacam itu
selamanya, jika kamu benar-benar beriman.” (Q.S.24:17).
202

Jalan bagi kita untuk mencegah diri terlibat kedalam


kepalsuan, di antaranya harus siap meneliti dengan ilmu tentang
apa yang diperselisihkan sehingga nyata adanya kejelasan yang
mewujudkan persatuan. Adapun di antara modalnya yaitu
"Jangan mendustakan yang belum diketahui dengan sempurna".

Kenyataan telah terjadi adanya yang mencemoohkan "At-


Tibyaan" sedangkan melihatnya saja belum apalagi
menelaahnya. Atau pura-pura sudah tahu akan Undang-Undang
NII /MKT No.11. Padahal jangankan untuk sempurna
memahaminya membaca sepintas saja belum. Tahu namanya
juga baru dari orang lain. Jika tahunya baru sepotong sehingga
belum sempurna kemudian berani ikut-ikutan menolak estapeta
kepemimpinan NII, maka sama halnya dengan yang disitir oleh
Allah dalam Al-Qur'an yang buni-Nya:

"Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang


mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum
datang kepada mereka penjelasan. Demikianlah orang-orang
yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka
perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim
itu"._(Q.S.10:39).

Adapun setelah penjelasan itu tiba maka terserah kebersihan


hati masing-masing. Akankah ia menerima dengan lapang dada
atau bahkan menolaknya (?)

Penulis tidak akan kaget, bila ternyata setelah tulisan ini


dibaca, masih juga terjadi penolakan dari pihak yang tidak suka,
sebab jangankan undang-undang / MKT No.11 atau "At-
Tibyaan" atau juga "TABTAPENII DATANG", Al-Qur'an sendiri
tidaklah diterima seluruh manusia. Sudah menjadi suratan,
kapan saja kebenaran tiba maka umat pasti terbelah dua, antara
yang menerima dan menolaknya (Q.S.2:213).
203

Perlu dikemukakan bahwa buku TABTAPENII DATANG ini


yaitu edisi dua yang mengandung tambahan bagi edisi satu yang
dikeluarkan pada Tanggal 12 Rabi’ul Awwal 1417 H. bertepatan
dengan 28 Juli 1996 M. Dalam edisi satu itu isinya hanya
terdiri dari 28 pertanyaan. Adapun dengan edisi dua ini
semuanya menjadi 71 pertanyaan, serta ditambah dengan
beberapa buah appendiks yang berisikan lampiran lampiran
MKT yang berkaitan dengan estapeta kepemimpinan NII setelah
Abdul Fattah Wirananggapati tertangkap pada awal tahun 1991.
Tentu edisi dua ini sebagai revisi dari edisi satu, baik itu dalam
hal penguraian maupun dalam hal penambahan ayat-ayatnya,
juga perubahan bentuk logonya.

Pertanyaan-pertanyaan dalam edisi satu garis besarnya hanya


yang menjurus kepada estapeta pemimpin tertinggi dalam NII,
Adapun edisi dua ini didahului pertanyaan - pertanyaan yang
berkaitan dengan “ nilai Proklamasi Negara Islam Indonesia, 7
Agustus 1949”, serta ditambah dengan pertanyaan yang
bertalian dengan penggantian pemimpin / Imam setelah Abdul
Fattah Wirananggapati diberhentikan dari tugasnya oleh Dewan
Imamah NII, tanggal 18 Januari 1997 M. Juga, diakhiri
dengan pertanyaan mengenai sikap NII terhadap gerakan-
gerakan Islam di luar Indonesia.

Selain hal di atas itu perlu juga penulis menjelaskan bahwa


dalam hal mengemukakan jawaban, tidak menggunakan istilah
“hukum positip (yang berlaku dalam negara RI )”. Hal demikian
mengingat ada kemungkinan pada suatu saat tulisan ini tidak
hanya dibaca oleh yang sudah mengerti peristilahan hukum,
melainkan juga oleh yang belum mengerti banyak istilah
hukum, seperti halnya mereka hanya tahu bahwa sebaliknya dari
kata positip ialah negatip, yang akibatnya timbul kesalah-
pahaman. Sebab itu supaya mudah dimengerti oleh semua
lapisan, maka penulis menggunakan istilah yang sederhana,
seperti halnya istilah “hukum-hukum kafir”. Dengan itu mudah
204

dimengerti, bahwa sebaliknya dari hukum-kukum kafir adalah


hukum-hukum Allah Swt.

Harap diketahui bahwa penulis menggunakan istilah “hukum


- hukum kafir”, hal itu dimaksudkan supaya jelas bahwa segala
hukum yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah itu
adalah hukum yang dianut serta dipertahankannya oleh orang-
orang kafir, sehingga bisa disebut hukum -hukum kafir.
Penggunaan istilah kafir mengacu kepada Qur’an surat 5 Al-
Maidah ayat 44 “...Barangsiapa yang tidak menghukum dengan
apa yang diturunkan oleh Allah, mereka itu adalah orang-orang
kafir.”

Dalam Al-Qur-an tidak ada istilah hukum Islam, tapi yang


ada ialah “hukum Allah” (Q.S.5:43, 60:10). Namun, umumnya
orang menyebut “hukum Islam” , karena hukum tersebut
bersumber dari Al-Qur’an dan dianut oleh kita umat Islam.
Begitupun hukum-hukum yang bertentangan dengan hukum-
hukum Allah adalah “hukum-hukum Kafir”, sebab bersumber
dari ideologi orang kafir, dianut dan dipertahankannya juga oleh
orang-orang kafir.

Semoga uraian "TABTAPENII DATANG" edisi dua yang


penulis kemukakan dalam buku ini berguna bagi yang
menghendaki kejelasan mengenai estapeta kepemimpinan
Negara Islam Indonesia yang sedang dalam darurat perang ini .

Hasbunaallaaha wani mal


wakiil. 3 13
Dzulqodah 1417 H.
Jakarta,------------------------ Penulis
23 Maret 1997 M.
( Mufry )
205

TABTAPENII DATANG
Edisi dua
------------
1. Tanya:
“Bagaimana bila ada yang mengatakan bahwa urusan
kepemimipinan itu nanti saja belakangan , nanti juga pemimpin
itu akan datang dengan sendirinya ?”

Jawab:
Perkataan semacam itu biasanya muncul dari satu di antara
tiga keadaan seseorang:

1). Perkataan terkesan/bernada yang putus asa, yakni tidak


mau susah banyak mikir. Padahal susah atau tidak susah,
mikir atau tidak mikir, pada Hari Kiamat tiap diri akan
didatangkan pimpinannya. Perhatikan Firman Allah yang
bunyi-Nya:

"(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap


umat dengan pemimpinnya;dan barangsiapa yang diberikan
kitab amalannya ditangan kanannya maka mereka ini akan
membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun". -
(Q.S.17:71).

Berdasarkan ayat di atas itu, sadar atau tidak bahwa di


bumi ada dua kepemimpinan. Yakni, jika diri tidak berada
dalam kepemimpinan yang haq, berarti berada dalam
kepemimpinan batal. Dengan itu sekalipun bagi yang tidak
merasakan dalam suatu kepemimpinan maka kepadanya tetap
akan didatangkan saksinya yaitu pemimpin, terlepas dari
apakah itu yang bathal atau yang haq. Dalam Al-Qur’an surat
90 ayat 10 dinyatakan yang bunyinya : "‫"وهدينه النجدين‬
206

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”.Dengan


itu jelas bila tidak dalam yang haq, berarti dalam bathal.

Sehubungan dengan saksi di Akhirat, kita perhatikan lagi


ayat yang bunyinya:

“Dan bagaimanakah (jadinya) nanti jika diri tiap-tiap umat


kami datangkan seorang saksi, dan kami datangkan engkau
sebagai saksi terhadap mereka ?”_(Q.S.4 An-Nisa:41).

Sebuah riwayat menerangkan bahwa Nabi Saw pernah berkata


kepada Abdullah bin Mas’ud: “Bacakanlah Qur’an untukku !”
Abdullah bin Mas’ud menjawab: Ya, Rasulullah, bagaimana
aku membacanya untuk engkau, sedangkan Al-Qur’an itu turun
kepada engkau ?” Nabi SAW menerangkan: “Aku ingin
mendengarnya dari yang lain”. Kemudian Abdullah bin Mas’ud
membacakan surat An-Nisa. Sesa’at sampai pada ayat di atas
tadi (Q.S.4:41), Nabi Saw berkata:”Cukuplah sekarang !”
Ketika Abdullah bin Mas’ud menolehnya, tampak air mata
beliau berlinang-linang. Ada lagi riwayat yang menyebutkan
bahwa ketika itu Nabi Saw menambahkan perkataannya :
”Sebagai saksi selama aku berada di tengah-tengah mereka...”.

Dari keterangan tersebut itu dimengerti Bahwa Nabi


Muhammad Saw akan menjadi saksi nanti di akhirat terhadap
perbuatan umatnya sewaktu masih dipimpin olehnya, tetapi
sesudah mereka ditinggalkan wafat oleh Rasulullah Saw, maka
persaksian itu bukan haknya lagi. Pada hari kiamat kelak Nabi
Saw akan dikejutkan oleh orang-orang yang sewaktu hayatnya
Rasul s a w dipandang sebagai orang-orang yang tetap ta’at pada
Hukum-Hukum Allah, tetapi sesudah Nabi s a w itu wafat, dan
mereka itu menghadapi rupa-rupa cobaan ternyata dari
perbuatan mereka itu diantaranya banyak didorong oleh nafsu
duniawi, sehingga melanggar aturan-aturan Islam. Mengenai
mereka itu kelak Nabi s a w akan berkata kepada Allah SWT
sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Isas as:
207

“...aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada


diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku,
Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah
Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”.-(Q.S.5:117).

Lebih lanjut kita perhatikan ayat yang bunyinya:

“Allah berfirman:”Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu


menjadi musuh bagi sebagian yang lain ....”.-(Q.S.7:24).

Dari ayat di atas itu dimengerti, disadari atau tidak bahwa di


dunia ini terjadi permusuhan. Yaitu antara “Hizbullah
(Q.S.5:56)dengan Hijbusyaithooan(Q.S.58:19), antara yang
taat sepenuhnya terhadap hukum Allah dengan manusia-
manusia yang mendurhakai-Nya.

Pengertian mengenai “syaitan” yaitu suatu sifat bagi mahluk


yang melanggar peraturan/hukum dari Allah, yakni yang terdiri
dari jin dan manusia. Perhatikan Firman Allah SWT yang
bunyi-Nya:

“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh,


yaitu syaitan-syaitan(dari jenis)manusia dan (dari jenis) jin,
sebagian mereka membisikan kepada sebagian yang lain
perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu
(menyesatkan). Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka
tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa
yang mereka kerjakan”._(Q.S.6:112).

Dari ayat itu dipaham bahwa setiap manusia yang menentang


berlakunya seluruh hukum Allah, maka adalah “syaitan” dan
208

jelas berada pada jalan thogut, terlepas dari apapun namanya,


dan terus mengadakan kegiatan dengan saling membantu antara
mereka. Dengan demikian jelas ada pemimpinnya.

Dari ayat itu juga dipaham bahwa golongan syaitan dari jenis
manusia itu adalah umum, artinya tidak mesti dengan nama
yang khusus, tetapi bisa saja dengan sebutan yang sesuai
dengan kondisi dan situasi jamannya. Dengan demikian dalam
versi apapun namanya, baik itu mengatas-namakan Islam atau
bukan, tetapi jika keberadaannya tidak memiliki ketegasan
memihak kepada yang sepenuhnya ta’at terhadap Allah, maka
tetap dalam kepemimpinan “syetan”! Dalam arti tidak memiliki
“Furqoon”.

Sebab, bagaimana akan bisa menjalankan hukum-hukum


Allah, jika tidak ada pemimpinnya ? Satu contoh saja, yaitu
dalam Qur’an surat 5 ayat 89 tertera mengenai “Kaffarat”
bagi yang melanggar sumpah yang uraiannya ialah:

a). Memberi makan sepuluh orang miskin yaitu dari makanan


yang biasa diberikan kepada keluarga si pelanggar sumpah.

b). Atau memberi pakaian kepada mereka (untuk sepuluh


orang).

c). Atau juga memerdekakan seorang budak (jaman sekarang


ini bisa disetarakan kepada yang senilai dengan itu).

d). Jika tidak sanggup melakukan yang sedemikian, maka


hukuman/ kaffaratnya puasa selama tiga hari.

Dalam memutuskan hukum yang harus dipilih dari yang


empat di atas itu haruslah ada hakim untuk mengadili dan
menilai kemampuan yang sebenarnya dimiliki oleh si
pelanggarnya. Tentu, bagi yang tidak punya pemimpin, maka
memilihnya ditentukan oleh yang sesuai dengan keinginan
dirinya. Sehingga: 1). Lapornya juga kepada dirinya sendiri.
209

2). Dihakimi oleh diri sendiri. 3). Divonisnya pun oleh diri
sendiri, sehingga bisa dicari-cari mana yang enak atau
ringan, walau dia mampu. Disitu pula setan menyelinap pada
dirinya. Memang ringan tidak diketahui oleh orang lain, tetapi
dimanakah letaknya nilai taubat serta keikhlasan diri untuk
menjalankan hukum secara dhohir ?

Pribadi mu’min tidak lepas dari kewajiban memiliki


pemimpin. Apalagi untuk menjalankan hukum-hukum seperti
“Hudud (Q.S.5:38), Qishas (Q.S.5:45), Jinayah (Q.S.24:2)”.
Bisa tegaknya hukum-hukum itu jika tegak kedaulatan Islam.
Bisanya tegak kedaulatan Islam jika didahului oleh adanya
kepemimpinan yang “ Furqon.” Sebab itu bila tidak butuh
dengan kepemimpinan sedemikian, bukanlah seorang Islam,
sebab tidak menjalankan Qur’an surat 4 An-Nisa ayat 59).

2). Jelas, keluar dari yang belum paham tata-cara jihad dalam
Islam. Mengapa ? Karena, perkataan ini muncul biasanya dari
yang kelelahan mencari pemimpin. Apalagi jika yang diikuti
selama ini adalah orang yang tidak tahu atau tidak mau tahu
dengan aturan, berangan-angan melamunkan seorang pemimpin
ideal. Akhirnya bergonta-ganti pimpinan, maka ujung ceritanya
adalah kenyataan di atas: "Sudahlah tidak usah meributkan
pimpinan, yang penting kerja saja !"

Padahal jihad itu harus dibawah komando Imam (Pemimpin


Negara). Para sahabat saja sampai terpaksa menunda
pengurusan jenazah Rasul SAW. terlambat dua hari setengah,
karena menunggu wujudnya kepemimpinan guna melakukan
jihad fisabilillah.

3). Bisa juga perkataan di atas tadi itu timbul dari perasaan
bahwa ibadahnya sudah sempurna atau tidak lagi mempunyai
dosa, karena anggapan cukup dengan menjalankan ibadah
puasa Bulan Ramadhan. Sehingga merasa tidak perlu adanya
pemimpin. Hampir banyak yang hapal akan sabda Nabi Saw
yang bunyinya:
210

‫)متففق‬.‫من صام رمضفان إ يمانفا واحتسفابا غفرلفه ماتقفدم مفن ذنبفه‬


.(‫عليه‬
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar
keimanan dan tepat perhitungan waktunya, diampunilah
baginya apa-apa yang terdahulu daripada dosanya.”
(H.R.Bukhori-Muslim).

Pengertian dari hadist di atas, yaitu dia berpuasa sesuai


dengan aturannya, juga posisi dirinya berada dalam
kepemimpinan yang terpisah dari kepemimpinan yang
memusuhi hukum Islam. Umpama saja seorang guru kelas 2
S.D. IV berkata kepada muridnya: “Barangsiapa yang bisa
menggambar mobil seperti gambar mobil ini maka akan
memperoleh hadiah buku tebal ini”. Jelas, hadiah cuma
diberikan kepada yang berhasil mengerjakannya dari murid
kelas 2 S.D. IV. Jadi, tidak masuk akal kalau ada murid dari
kelas atau sekolah lain menggambar mobil memperoleh hadiah
buku tebal yang dijanjikan oleh guru kelas 2, S.D. IV tadi.

Nabi SAW tidak mengemukakan adanya kewajiban


berpuasa kepada para pengikut Abu Jahal cs. Karena itu, apa
yang disabdakannya juga tidak ditujukan kepada yang masih
mengabdikan dirinya bagi “Kebangsaan Quraiys Makkah”
sehingga anti pemerintahan Islam di Madinah. Tidak ditujukan
kepada yang anti terhadap negara yang didasari Qur’an dan
Sunnah Nabi SAW. Tidak ditujukan kepada yang beriman akan
sebagian ayat serta ingkar kepada sebagiannya. Tidak pula
ditujukan kepada mereka yang menjadi alat pemerintahan yang
anti terhadap hukum-hukum Al-Qur’an sehingga ikut terlibat
menjegal tegaknya hukum Islam secara keseluruhan.

Sungguh tidak ditujukan kepada mereka, sebab terhadap


mereka yang sedemikian itu telah dinyatakan dalam Al-Qur’an
diantaranya yaitu: Mereka adalah dzalim (Q.S.5:45), mereka
adalah kafir (Q.S.5:44), mereka adalah fasik (Q.S.5:47),
mereka adalah kafir yang sebenarnya (Q.S.4:150-151), mereka
adalah yang mendzalimi diri mereka sendiri, dan tempat
211

mereka adalah Jahannam (Q.S.4:97), dan mereka adalah yang


terputus segala amalannya karena membenci hukum-hukum
Allah (Q.S.47:9).

Dalam hadist di atas tadi disebutkan “didasari keimanan”,


maka apakah bisa disebut beriman, jika terlibat membela
tegaknya hukum-hukum jahiliyah(Q.S.5:50) ? Sedangkan
banyak ayat yang menunjukkan bahwa tidak dinyatakan
beriman sehingga menegakkan semua peraturan Allah
(Q.S.5:68, S. 15:90-93).

Selama belum kiamat, selama itu pula semua hukum-hukum


Al-Qur’an menjadi kewajiban kita menegakkannya. Sebab itu,
para “shoimiin (pelaku shoum)” harus dapat menempatkan
dirinya pada wadah yang benar-benar tepat, sesuai dengan yang
dipraktekkan oleh Nabi SAW , sehingga amalan Ramadhan-
nya tidak terhapus, serta sesuai dengan yang dimaksud dalam
“Tauhid”.

4). Perkataan di atas tadi muncul dari orang yang tidak


mengerti tentang pentingnya nilai kepemimpinan dalam Islam.

Bila menyusun Shaf tanpa harus mempertimbangkan


dasar kepemimpinan, maka atas dasar apa penyusunan itu
dilakukan ? Atas dasar inisiatip pribadi ? Ya, kalau pribadi
bisa-bisa seribu pribadi jadi pemimpin, bahkan lebih dari
seribu.... Bila dasarnya inisiatip maka ini jelas bukan logika
rakyat Negara Islam yang mendasarkan dirinya pada keta'atan
yang lengkap pada Alloh, Rosul dan Ulil Amri (S.4:59).
Bagaimana bisa tertib kepemimpinan, kalau awalnya saja sudah
tidak teratur, berjalan bagaimana kemauan sendiri sendiri !

Syarat berdirinya negara, salah satunya adalah adanya


pemimpin. Jika syarat utama ini diabaikan/dianggap tidak
mendesak, maka secara langsung orang yang berpendapat
begitu, meruntuhkan negara itu sendiri. Jadi, perjuangan apa
yang sedang disusun itu ?
212

Sepanjang sejarah sunnah, gerakan ummat itu muncul dari


adanya pemimpin. Sebelum adanya kesatuan muslimin, baik itu
di Makkah ataupun di Madinah, didahului adanya pemimpin.

Menjawab pertanyaan di atas tadi, perhatikan lebih dahulu


ayat-ayat di bawah ini:

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang


beriman, untuk tunduk hati mereka untuk mengingat Allah dan
kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan
janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa
yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan
kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang
fasik."--(Q.S.57:16).

"Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah


dan bersedih hati. Berkata Musa : "Hai kaumku, bukankah
Robbmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik ?
Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau
kamu menghendaki agar kemurkaan dari Robbmu menimpamu,
lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku ?". --
(Q.S.20:86).

Dari kedua ayat di atas itu diambil arti, sebagai mukmin


harus bisa bertahan dalam berpegang pada ketetapan Allah,
meski waktu telah begitu lama melampauinya. Jika dikaitkan
dengan lamanya diri mencari kejelasan pimpinan, sementara
belum juga mendapatinya maka dalam hal itu tidak boleh
berkata yang menyalahi dari ketetapan Allah, seperti halnya
sudah tidak perlu adanya pemimpin.
213

Mestinya, jika diri sudah berusaha mencari pemimpin yang


sebenarnya sedangkan belum juga didapati, maka berkatanya
pun harus mengandung unsur perlu adanya pemimpin sehingga
padanya didapat "nilai kesabaran". Perhatikan ayat yang
bunyinya :

"Dan di antara mereka kami jadikan pemimpin untuk


memberi petunjuk dengan perintah kami pada waktu mereka
sabar. Dan mereka yakin kepada ayat-ayat Kami." --
(Q.S.32:24).

Meskipun ayat di atas itu terkait dengan kisah Bani Israil,


namun sejarah tadi termaktub dalam Al-Qur'an, maka sudah
seharusnya segenap Ahlul Qur’an mengambil hikmah. Ayat di
atas memberikan gambaran pada kita bahwa munculnya
pemimpin sebagai kekuatan de fakto adalah hasil proses
kesabaran yang panjang. Untuk jelasnya kita ulangi lagi ayat
yang bunyinya:

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang


beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan
kepada kebenaran yang telah turun(kepada mereka), dan
janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa
yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan
kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang
fasik."__(Q.S.57:16).

Ayat di atas itu mengingatkan kita bahwa setiap mukmin


hendaknya bersegera menerima kebenaran tatkala kebenaran itu
datang kepada mereka. Jangan seperti Yahudi / Nasrani, di mana
ketika datang kebenaran pada mereka, hati mereka bukan
terbuka, malah menutup dan mengeras saking lamanya mereka
berketerusan dalam kegamangan tanpa informasi. Ujung ayat
214

dijelaskan bahwa menolak kebenaran yang baru datang , dan


tetap berpegang pada informasi lama yang gamang tadi akan
menjadikan keliru dalam melangkah dan mengambil keputusan,
jadilah orang fasik dalam pandangan-Nya. Naudzubillaahi min
dzalik.

Kembali kepada persoalan kita, penjelasan ini pun akan


membelah ummat menjadi dua golongan :

a). Yang dengan hati terbuka menerima perundang-undangan


NII.

b). Yang menutup dan mengeras, karena terpaut dalam


kekuasaan dengan waktu yang lama mengambil keputusan
diluar hukum tata aturan NII.

Kepada yang enggan menerima hanya karena terlanjur lama


berpegang pada "tradisi lisan" para tokoh mereka, cobalah
bertanya pada diri, patutkah menamakan diri gerakan Negara
Islam bila tidak ada dasar kejelasan kepemimpinannya ? Dan
tahukah anda bahwa sikap keras hati menolak aturan itulah yang
memperpanjang kemelut permusuhan dan saling membenci di
antara umat ? Bukankah umat Nasrani pun terus menerus dalam
permusuhan dan kebencian karena mereka melalaikan sebagian
peringatan (Q.S.5/14) sebagaimana anda pun telah memisahkan
NII dengan kesempurnaan aturannya ?

Perang melawan hawa nafsu adalah jihad besar. Jika tidak


bisa mengalahkannya, maka begitu datang kejelasan hukum,
bukannya bersyukur dan membersihkan diri, tetapi malah
berkelit-kelit mengikuti nafsu yang telah lama dalam
keterlanjuran. Karena itu, terhadap mereka yang selalu
menghindar dari kepemimpinan yang berdasarkan perundang-
undangan NII, maka tinggalkan saja, dan kita berpegang pada
ayat yang bunyinya:
215

" Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robbmu dan


kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang bertaqwa."-(Q.S.3:33).
----------------------------------------------------------------
--
2. Tanya :
“Apa sebab kenyataannya ummat Islam di beberapa
belahan dunia sudah sekian lamanya dikuasai kepemimpinan
diluar sistem Islam ?”

Jawab :
Dalam menjawab pertanyaan di atas itu, perlu penulis
mengutarakan secara singkat kronologis jatuhnya kekuasaan
umat Islam, yang darinya bisa diambil suatu kesimpulan dalam
melangkah ke masa depan.

Sejak Nabi Adam a.s dan Hawa diturunkan, maka terbentang


dua jalan: a). Jalan menuju kepada Keridhoan Allah, dan b).
Jalan kehendak Thogut / Syaitan. Dengan itu tidak ada yang
ditengah-tengah. Hal demikian terus berlangsung sampai akhir
jaman. Perhatikan ayat ayat yang bunyinya:

“Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena


kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka
keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang
hina”.-(Q.S.7:13).

“Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu


mereka dibangkitkan”.-(Q.S.7:14).

“Allah berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk mereka


yang diberi tangguh.”.- (Q.S.7:15).
216

Meskipun Iblis itu sudah terang-terangan mengeluarkan


pernyataannya bahwa perjuangan / gerpolnya itu bertujuan agar
akhirnya semua manusia keluar dari jalan Allah sehingga
berpijak pada jalan thogut, juga dinyatakan oleh ayat
disebutkan “Qoliilammaa tasykuruun”, sedikit yang bersukur
(Q.S.3:78). Namun, disebabkan godaan itu datangnya dari
kiri-kanan, depan dan belakang, yaitu dari segala aspek
kehidupan (Q.S.7:16-17), maka tidak heran jika sebagian
besar manusia itu terlena yakni tidak sadar telah
dininabobokan oleh Iblis sehingga kepemimpinan yang sesuai
dengan selera Iblis pun dijadikan ikutan !

Untuk tidak semua manusia terjerumus kepada kepemimpinan


yang bernilai kehendak syaitan, diutuslah para nabi untuk
mengkaunternya, sehingga tidak semua manusia terpedaya oleh
Iblis. Jadi, yang menegakkan Al-Hak pun tetap berjalan walau
dalam skala kecil atau masih dalam tekanan pemerintahan
‘Iblis’ atau ‘thagut’ alias syaitan dari jenis manusia.

Memperhatikan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Nu’man


(pada jawaban pertanyaan lain akan dikemukakan), bahwa
sejak pemerintahan Nabi SAW sampai akhir dunia ini ada lima
tahapan pemerintahan. Disini isinya disimpulkan:

(1) Jaman “Nubuwwah”, yaitu pemerintahan yang dipegang


oleh Nabi SAW.

(2) Jaman Khalifah Nubuwwah, yaitu kekuasaan atau


pemerintahan yang memakai “Minhaj (sistem)” kenabian.

(3) Jaman “ ‘Ahdu ‘l-muluka l-‘aad” penguasa raja-raja yang


“menggigit” dan kuat ( tata hukum di masyarakat masih
menggunakan hukum Islam).

(4) Jaman “ ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-jabbar”, yaitu penguasa


diktator, ( di negara atau pun di dalam tata sosial masyrakat
tidak lagi memakai hukum Islam).
217

5) Selanjutnya akan kembali lagi jaman khilafah (“ ’Ahdul ‘l-


khilafah” berdasarkan “Minhaj Nubuwwah”).

Lengkapnya hadist di atas itu akan dikemukakan dalam


jawaban dari pertanyaan lain.

Tahapan Pertama, Jaman Nubuwwah


Untuk jaman Nubuwwah, Penulis di sini tidak perlu
mengungkapnya karena pada masa-masa itu adalah masa awal
kekuatan Islam dipimpin Nabi SAW yang semua telah
memahaminya. Hanya untuk hal ini penulis akan menyampaikan
“dua hadits Qudsi” yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari
Abu Hurairah ra di bawah ini:

، ‫ حدثنا أبففى‬. ‫حدثنى محمد بن فليه‬. ‫حدثنى ابراهيم بن منذرالحزمى‬


- ‫ عن أبى هريرة رضى ال عنففه‬.‫ عن عطاء بن يسير‬- ‫حدثنا حلل‬
‫ حتى‬- ‫ فاذا زمرة‬- ‫ بين انا قا ئم‬:‫ قال‬-‫عن النبى صلى ال عليه وسلم‬
‫ فقلففت ايففن ؟‬. ‫ هلففم‬:‫ فقففال‬. ‫ خرج رجل من بينى وبينهم‬- ‫اذا عرفتهم‬
‫ علففى‬- ‫ انهففم ارتففدوا بعففدك‬:‫ مففا شففأنهم ؟ قففال‬، ‫ الى النففار والف‬:‫قال‬
‫ حتى اذا عرفتهم خرج رجل من بينففى‬، ‫ادبارهم القهرى ثم إذا زمرة‬
‫ قلت مففا شففأنهم ؟‬، ‫ الى النار وال‬:‫ هلم ! قلت اين ؟ قال‬:‫وبينهم فقال‬
‫ارتدوا بعففدك علففى ادبففارهم القهففرى فل اراه يخلففص منهففم ال مثففل‬
.‫همل النعيم‬
“Meriwayatkan kepadaku Ibrahim bin Mundzir Al-Hizami,
meriwayatkan kepadaku Muhammad bin Fulaih, meriwayatkan
kepada kami ayahku, meriwayatkan kepada kami Hilal, dari
Atha’ bin Yasar, dari Abu Hurairah - ra - dari Nabi Saw
bersabda: Tatkala aku dibangkitkan dari kubur, maka di sana
segolongan manusia, hingga ketika aku mengenal mereka, maka
keluar seorang diantaraku dan antara jama’ah itu, dia berkata:
Marilah kita pergi, saya bertanya kemana ? Dia menjawab: ke
neraka Demi Allah.
218

Aku bertanya: bagaimana keadaan mereka ?

Allah berfirman: sesungguhnya mereka kembali murtad


sepeninggalanmu, dengan belakangnya mereka menarik diri..

Kemudian di sana ada segolongan manusia, hingga ketika


aku mengenal mereka, maka seorang keluar diantaraku dan
antara golongan itu dia berkata: Marilah ! Saya berkata: Ke
mana ? Dia menjawab: ke neraka Demi Allah.

Saya bertanya: Bagaimana keadaan mereka ?

Allah berfirman: Sesungguhnya mereka kembali murtad


sepeninggalanmu, dan belakangannya mereka menarik diri.

Maka tidak ditampakkan kepadaku. Dia lepas dari


golongan itu kecuali seperti berhamburannya hewan-hewan
piaraan.”

‫ عن ابففى هريففرة رضففى‬، ‫وقال احمد بن شبيب بن سعيد بن المسيب‬


:‫ قففال‬- ‫ انه كان يحدث ان رسول ال صلى ال عليففه وسففلم‬- ‫ال عنه‬
‫ فيجلففون عففن الحففوض‬، ‫يرد على يوم القيامة رهففط مففن اصففحا بففى‬
- ‫ انك لعلم لك بما أحدثوا بعففدك‬:‫ فيقول‬، ‫ اصحا بى‬، ‫ يارب‬:‫فأقول‬
- ‫انهم اهتدوا على ادبارهم القهقرى‬
( ‫)رواه البخارى‬
“Dan berkatalah Ahmad bin Syabib bin Sa’id Al-Habthi,
meriwayatkan kepada kami ayahku, dari Yunus dari Shihab,
dari Sa’id bin Musibi, dari Abu Hurairah ra bahwasanya ia
meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam
bersabda: Akan datang kepadaku segolongan manusia laki-laki
dari sahabat-sahabatku, mereka dihalau dari telaga, maka aku
akan berkata: Wahai Rabb-ku mereka sahabat-sahabatku.
Allah berfirman engkau tidak tahu apa-apa yang mereka
kerjakan sepeninggalanmu, mereka kembali dengan
belakangnya menarik diri (murtad).”
219

Memperhatikan hadits-hadits Qudsi di atas itu, kita tidak


heran bila dewasa ini telah di dapat pemimpin- pemimpin yang
luntur dari perjuangan Islam atau ulama yang menjual aqidah
dengan memanipulasi pengertian dari ayat Qur’an dan Hadist,
sehingga menjilat-jilat pemerintah kafir, sebab diantara para
shabat Nabi Saw yang disebut oleh beliau “Ashaabii ( ‫اصحا بى‬
)” juga didapat yang murtad atau menyimpang dari haq sesudah
ditinggalkan beliau wafat. Dari itu, satu-satunya pegangan kita
ialah merujuk kepada Qur’an dan Sunnah (perjalanan ) Nabi
Saw.

Tahapan kedua, Jaman Khalifah ‘ala Minhaji Nubuwwah


Arti dari “Khalifah ‘Ala Minhaji Nubuwwah” yaitu
“Kekuasaan (pemerintahan) yang berjalan di atas jejak
kenabian”. Khalifah ‘Ala Minhaji Nubuwwah dalam hadist
dikatakan hanya tiga puluh tahun. Figur-figurnya pun
disebutkan oleh Nabi SAW, ketika beliau meletakkan batu
pertama pembangunan masjid di Madinah. Satu persatu,
Rasulullah SAW memanggil empat sahabat besar. Mula-mula
Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, selanjutnya
Ali bin Abi Thalib. Lalu Nabi SAW bersabda: “ Mereka itu
adalah Khalifah sesudahku”.

Meskipun keruntuhan jaman Khalifah yang empat itu telah


diramalkan, namun setiap kejadian, tentu ada sebabnya yakni
sebagai prosesnya. Jatuhnya Khalifah Ustman bin Affan,
karena adanya oknum yang tidak amanah atau adanya hasutan
dari tokoh Yahudi seperti halnya Abdullah bin Saba, sehingga
terjadi pemberontakan terhadap Ustman serta pembunuhan
terhadap diri khalifah, dan eksesnya berbuntut sampai
perlawanan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Sejarah menyebutkan bahwa kekalahan Khalifah Ali itu


disebabkan karena adanya ketidaktaatan sebagian ummat
kepadanya atau juga banyak sahabat besar yang ketika itu tidak
pro Ali dan tidak juga pro Muawiyah, seperti halnya Ummul
Mu’minin, Aisyah, Abdullah bin Umar, meski pada akhirnya
220

mereka menyesali, Aisyah menangis, Abdullah bin Umar


berkata:”Tiada yang aku sesali dalam hidup ini selain aku tidak
berpihak pada Khalifah Ali memerangi kaum pendurhaka itu”.

Semua kejadian itu hanya merupakan sejarah. Artinya, kita


tidak boleh berkecil hati dan terpaku berdiam diri. Sebab,
apapun yang mereka perbuat, itu urusan mereka dengan Allah.
Kita akan ditanya hanya dalam urusan kita sekarang, yakni
kita tidak akan ditanya mengenai mereka. Perhatikan Firman
Allah yang bunyi-Nya:

“Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang


diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan
kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa
yang telah mereka kerjakan”.- (Q.S.2:141).

Dari ayat itu diambil makna diantaranya:

(a) Bahwa tanggung jawab kita untuk menjalankan perintah-


perintah Allah secara sempurna, tidak terhalang oleh perbuatan
orang-orang terdahulu baik itu dalam hal yang benar maupun
dalam hal yang salah.

(b) Apabila kita mengagumi beberapa orang yang terdahulu


(salaf) kemudian satu waktu kita temui lagi lembaran sejarah
yang menjelaskan perbuatan salah yang dilakukan oleh sebagian
orang yang telah kita kagumi itu, maka kita tidak usah
memoles-molesnya agar yang mereka lakukan itu tidak ada
kesalahannya.

(c) Perbuatan salah dari orang-orang yang terdahulu tidak boleh


dijadikan rujukan untuk diulangi, dengan anggapan masa iya
mereka bersalah. Rujukan seperti itu tidak menjamin diri kita
menghadap Hisaban di Akhirat.
221

(d) Apabila kita mengetahui lembaran dari sejarah beberapa


orang yang terdahulu itu telah melakukan beberapa kesalahan
/pelanggaran, sedangkan dari sudut lain juga didapati banyak
kebaikannya, maka tidak boleh mengungkit-ungkit
kesalahannya dengan sama sekali menghilangkan jasa- jasa
kebaikannya. Jadi, mestinya bahwa kebaikannya harus tetap kita
abadikan dan dijadikan contoh teladan, adapun mengenai
kesalahannya sekedar dijadikan pelajaran untuk tidak terulangi.
Artinya, bahwa kesalahan dari orang yang terdahulu itu jangan
dijadikan alat pembalas dendam. Sebab, akan merugikan diri,
yakni bila sudah dendam, maka biasanya tidak bisa mengambil
rujukan dari yang dilakukan oleh orang-orang yang
didendaminya. Sedangkan dari figur-figur sejarah itu, dibalik
kelemahan akan ada kehebatannya, terlepas dari benar atau
salahnya.

(e) Jika ada satu atau beberapa kegagalan perjuangan


menegakkan Haq yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu,
maka kita tidak boleh berhenti melanjutkannya dengan
anggapan “orang dulu saja begitu apalagi kita”. Kita tidak akan
dipinta pertanggungan jawab tentang mereka.

Tahapan Ketiga, Jaman ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-aad (raja-raja)


yang “menggigit” dan kuat)
Pembunuhan terjadi terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Kemudian ummat memilih Hasan bin Ali sebagai penggantinya.
Tidak lama kemudian Hasan menyerahkan kekuasaan kepada
Mu'awiyah, dengan syarat bahwa selanjutnya kepemimpinan
harus dikembalikan kepada ummat. Namun, kenyataannya pada
akhir-akhir usia Mu’awiyah, dia mengangkat Yazid, putranya
sebagai penggantinya. Pada masa itu tidak bisa disebut jaman
Khalifah Nubuwwah, sebabnya ialah:

(a) Rasulullah SAW mengatakan bahwa Khalifah Nubuwwah


itu hanya 30 Tahun.
222

(b) Mu’awiyah telah mengangkat putranya, Yazid sebagai


pelanjutnya, dengan tangan besi.

Jaman ini tepatnya disebut awal jaman kerajaan. Abdullah bin


Umar tidak mau berbaiat kepada Mu’awiyah. Ketika ditanya
olehnya, beliau menjawab; “Aku tidak mau berbaiat kepada
raja”. Mu’awiyah mengakuinya dengan berkata : “Ya, aku
raja yang pertama”. Sejarah mencatat karena dirinya
mengangkat anaknya sebagai putra mahkota, sejak itulah
kepemimpinan umat muslimin sampai beberapa abad dipegang
oleh kekuasaan dari keturunan raja-raja ( ‘ahdu ‘l-muluka ‘l-
aad).

Perbedaan pokok antara sistem kepemimpinan yang didasari


musyawarah dengan sistem kerajaan, ialah dalam hal penentuan
kriteria penggantinya. Yaitu:

(a) Kepemimpinan yang bersistemkan musyawarah seperti


halnya yang terjadi pada pemerintahan sebelum kerajaan, maka
kriterianya ditentukan oleh hasil musyawarah Ahlul Halli wal
Aqdi, yaitu orang-orang yang terpilih, karena masing-masing
keahliannya dalam memahami permasalahan hukum serta tinggi
kesetiaannya terhadap Hukum- Hukum Allah SWT. Sehingga
tatkala mereka mengangkat seorang khalifah, maka yang
diangkat itu adalah yang paling memenuhi persyaratan menurut
syariat Islam.

(b) Adapun pengangkatan sistem kerajaan maka kriterianya


ialah putra raja, sehingga ditemui istilah “Putra Mahkota”.
Kalau pun dimusyawarahkan lebih dulu, maka hasilnya tetap
juga yang diangkat itu adalah turunan raja. Dan yang berhak
musyawarahnya juga adalah keluarga kerajaan.

Di sini penulis tidak akan menguraikan banyak kejadian


pada masa kerajaan, sebab anda juga bisa membacanya dari
berbagai buku sejarah. Yang penulis uraikan disini hanyalah
analisa singkat mengenai kondisi akibat perubahan dari sistem
223

musyawarah menjadi sistem kerajaan. Antara lain sebagai


berikut ini:

(1) Kualitas Pemimpin Seada-Adanya, Putra Mahkota


Pada masa-masa “ ‘ahdu ‘l-muluka ‘l-aad), kualitas
pemimpin sudah demikian adanya, artinya tidak ada pilihan lagi
karena dia sebagai anak raja yang sudah ditentukan menjadi
pemimpin, walau pada dirinya tidak memiliki loyalitas yang
tinggi terhadap hukum Islam. Sungguh pun dalam sejarah ada
juga anak dari turunan raja yang hidup khusus dalam pendidikan
agama serta penuh ketaatan terhadap agama, namun itu jarang
terjadi. Yang jelas anak raja pada umumnya hidup dengan
segala kemewahan, dalam suasana kerajaan yang didalamnya
terlibat upacara-upacara yang diprogramkan tanpa
memperhatikan qaidah-qaidah agama, sehingga mempengaruhi
karakter atau mental anak-anak raja. Dengan itu tidak aneh bila
di antara mereka tatkala menjadi raja, maka tindakannya itu
adakalanya bertentangan dengan syariat Islam.

Berbeda dengan Khalifah Nubuwwah, seorang pemimpin


dipilih oleh hasil musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi, maka
yang dicalonkan pun adalah orang-orang yang terpilih
memenuhi kriteria sesuai dengan Islam.

(2) Pengangkatan Aparat tidak Mengutamakan Kesetiaan


terhadap Agama, Melainkan Kesetiaan Kepada Penguasa
Apabila penguasa tertinggi tidak bermental Islam, maka
akan mengangkat aparat bawahannya yang dasar utamanya ialah
kesetiaan terhadap pribadi pemimpin tertinggi, bukan karena
kesetiaan terhadap Islam. Akibat dari itu para aparat sedemikian
pun akan mengangkat para bawahannya lagi ialah orang-
orang yang karena mengutamakan kesetiaan kepada penguasa
dari pada kesetiaan terhadap Islam. Kesemuanya itu
menyebabkan para petugas mentaati perintah raja / penguasa
tanpa pertimbangan melanggar atau tidaknya terhadap hukum
Islam. Dalam hal ini anda bisa baca sejarah bagaimana peristiwa
penyerbuan kota Madinah yang dilakukan oleh tentara pimpinan
224

Muslim bin Uqbah yang ditunjuk oleh Yazid bin Mu’awiyah,


atau “Peristiwa Karbala” yang sama terjadi pada awal kekuasaan
Bani Umayyah. Bisa pula anda baca sejarah peritiwa pada awal
berdirinya kekuasaan Bani Abbasyiah, ketika penyerbuan ke
Damsyik, dengan menetapkan kebijaksanaan pemusnahan
keluarga Bani Umayyah.

(3) Konflik antara Penguasa dengan Para Ulama yang


Teguh Pendirian pada Agama
Konflik antara raja/penguasa dengan para ulama yang tidak
mau mengikuti perintah raja karena dianggap tidak sesuai
dengan hukum Islam, bisa terjadi akibat raja memaksakan
kehendaknya . Contohnya dapat dibaca dalam sejarah yang
terjadi kepada Imam Maliki, Hambali, Syafi’i, dan Hanafi
yang berkali-kali dicambuk dan dipenjarakan. Tentu,
sebaliknya itu tidak mustahil banyak juga ulama yang selalu
menjilat penguasa, demi kesenangan duniawi. Sebab, ada
hadistnya yang menyatakan bahwa adanya ulama “Syu
(jahat)”. Kerjanya menjual “ayat” demi kesenangan duniawi.
Ada hadistnya, berarti ada orang-orangnya.

(4) Fungsi Ulama tidak Bisa lagi Menentukan Politik Negara


Ulama tidak berfungsi lagi sebagai pemimpin yang
menentukan politik pemerintah, melainkan hanya berfungsi
sebagai guru. Sebab, sejak awal pergantian sistem dari
kekhalifahan menjadi kerajaan, terjadi pembagian sistem
kekuasaan. Yaitu, politik negara hanya dipegang oleh orang-
orang kerajaan / pemerintah. Adapun para ulama hanya
berkuasa di bidang agama, dalam arti hanya yang mengenai
ibadah mahdoh. Akibatnya, politik pemerintahan ditentukan
menurut semaunya pihak raja yang didukung oleh mereka yang
sudah diangkat oleh raja.

Padahal pada masa Khalifah Nubuwwah bahwa ulama itu


berfungsi sebagai pengendali politik negara. Buktinya, Abu
Bakar ra., Umar bin Khattab, atau juga para shahabat yang
lainnya, mereka adalah para ulama. Ya, kalau pemimpin
225

negara tidak ulama, dalam arti tidak berideologi Islam maka


pasti langkahnya menyimpang dari Islam.

(e) Pengembangan Islam Umumnya Tidak Melalui Tugas


Resmi Perjuangan
Pengembangan Islam tidak melalui misi perjuangan resmi,
melainkan dengan kebudayaan dan perdagangan atau
perorangan yang tidak ada kaitan dengan tugas kelembagaan.
Darinya, banyak yang masuk Islam sedangkan tidak tuntas
dalam pemahamannya mengenai Islam yang sebenarnya.
Apabila berdagangnya selesai, para pedagang itu kembali lagi
ke negerinya masing-masing, maka tinggallah orang-orang
Islam yang mualaf itu sambil kehilangan tempat bertanya
mengenai peribadahan atau tata cara kehidupan menurut Islam
yang sebenarnya. Sehingga untuk memperolehnya dicari jalan
sekenanya, Tidak ayal lagi bila tercampuri oleh isme-isme
peninggalan agama yang sebelumnya.

Begitu juga pengembangan Islam melalui kebudayaan,


penyampaian Islam hanya yang pokok-pokoknya saja, tidak
sampai kepada cara berpakaian secara Islam atau tata cara hidup
yang Islami. Akibatnya, banyak yang masuk Islam, sedangkan
budaya hidupnya masih bertentangan dengan kehidupan secara
Islam. Contohnya, pada jaman media elektronik ini pun, sering
orang berdakwah melalui seni budaya mengajak untuk
berprilaku islami, sedangkan yang lagi berdakwahnya juga
sambil bermaksiat alias tidak islami. Seperti halnya berjabatan
tangan dengan selain muhrim, pakaian wanitanya terbuka aurat
dan sebagainya. Akibatnya, orang awam beranggapan bahwa
hal itu bukan maksiat, karena yang menyerukan supaya
bertakwa kepada Allah juga begitu. Bayangkan kalau saja hal
itu ditiru, maka jadilah berdakwah maksiat.

Bagi para pendakwah pada masa kerajaan dahulu adalah


wajar seandainya melakukan dakwah belum sepenuhnya
berdakwah dengan cara yang islami, sebab kondisi perbukuan
pada waktu itu belum maju seperti jaman media elektronik.
226

Jaman dahulu banyak orang yang buta hurup, jaman dulu belum
banyak toko buku, dahulu belum banyak percetakan buku
sehingga sulit didapat buku-buku terjemahan.

Jaman dahulu orang sulit mengetahui arti ayat-ayat Al-


Qur’an, karena hampir tidak ditemukan terjemahannya. Jadi,
dimaklum andai berdakwah diselingi dengan budaya yang tidak
islami sebab bukan kesengajaan, melainkan karena sempitnya
wawasan pengetahuan. Sehingga tidak bisa disebut menyuruh
kepada orang lain supaya benar, padahal yang menyuruhnya
juga sambil tidak benar (maksiat) !

Berbeda dengan jaman dahulu. Dewasa ini jangankan bagi


yang suka berdakwah, bagi yang biasa-biasa saja mudah untuk
tahu mana batas aurat wanita, tahu apa yang disebut maksiat.
Orang yang bukan Islam juga bisa baca hadist mengenai hukum
berjabatan tangan dengan wanita selain muhrim dalam Islam.
Sebab itu jika ada kiai yang terkenal di Indonesia ini kemudian
berjabatan tangan dengan wanita terkenal pula lalu tidak
dipermasalahkan oleh para pengikutnya, bahkan dikaguminya
maka hal itu bukan karena kebodohan, melainkan tersirap oleh
budaya ‘setan’ _ Saking kagum terhadap sang pemimpin, lalu
menganggap kecil terhadap hukum Islam.

Tujuan berdakwah atau memimpin ummat tentu supaya


selamat dari api nereka. Maka, sungguh lihay setan menggoda
(Q.S.7:16) sehingga ada orang yang ingin menyelamatkan orang
lain, sementara dirinya tidak sadar berbuat maksiat yang bila
ditiru oleh sebagian pengikutnya, maka kesananya bakal kena
hisaban di Alam Mahsyar ! Ataukah memang setan telah
membisikkan, ya, kalau bagi kiai pimpinan teratas sih ada
kekhusushannya (?)

(6 ) Upacara-upacara Dalam Istana Kerajaan


Upacara-upacara dalam istana kerajaan, banyak yang
bertentangan dengan Islam. Hal itu terjadi karena para raja
umumnya selalu mengikuti tradisi-tradisi para raja yang
227

sebelumnya. Dalam sejarah memang tercatat ada pernah terjadi


perubahan dalam istana kerajaan, yaitu ketika jaman Umar bin
Abdul Azis berkuasa ( 99 - 101 H./ 717 -720 M.). Pada waktu
itu dihilangkan upacara-upacara yang berbau maksiat di istana
seperti tari-tarian atau nyanyi-nyanyian. Pemerintah Abdul Aziz
diakui oleh sejarah sebagai Khalifah yang ke lima, karena
sesudah menerima surat wasyiat (penunjukkan) dari Sulaiman,
penguasa sebelumnya kemudian ia menyerahkannya kepada
rakyat untuk dimusyawarahkan, tapi ketika itu rakyat menjawab
bahwa jabatan khalifah harus dipegang oleh Umar bin Abdul
Azis. Sayang, kekuasaan itu hanya berlangsung dua tahun
setengah. Dirinya diracun hingga meninggal. Kemudian
Pemerintahan berubah lagi menjadi kerajaan dengan tradisinya
semula.

Di dalam istana selalu ada ulama kerajaan, namun di istana


juga ada kemaksyiatan. Dengan demikian rakyat awam menilai
bahwa ulama besar juga tidak apa-apa (menyetujui), sehingga
sikap ulama sedemikian itu dijadikan dalih oleh pribadi-pribadi
masyarakat yang selalu mengikuti hawa nafsu. Akhirnya, ibarat
air kali bila dari atasnya dikotori maka kebawahnya juga kotor
sukar dibersihkannya.

(7) Timbul Aliran-Aliran yang Kontras dengan Kegemaran


Masyrakat
Akibat ketidakpuasan terhadap kondisi masyarakat yang
dianggap telah materialistis, juga tidak adanya kepercayaan
kepada ulama / pembimbing yang ada, maka munculah aliran
atau ajaran yang membedakan dari kebiasaan masyarakat
sebagai pelarian dari ketidakpuasan itu. Bisa dibayangkan
komplikasinya pemahaman suatu ajaran pada masa itu, yang
mana begitu jauh dari perhubungan sehingga lambat dalam
perjalanan, maka wajar bila aliran yang berbeda dengan
masyarakat itu, terbagi kedalam banyak golongan.

(8) Sebagai Tentara Dijadikan Propesi ( Pencaharian )


228

Akibat kemaksiatan dianggap sudah menjadi budaya, maka


merajalela pula keinginan berhura-hura yang mengutamakan
keduniaan dengan membelakangkan akhirat. Sehingga timbul
pula pemikiran yang memisahkan antara “pekerjaan / propesi”
dengan “ibadah”. Pengertian “ibadah” dibatasi hanya dalam
hal ritual, seperti sholat, puasa, berhaji dsb., tidak dalam hal
segala aspek kehidupan. Akibatnya, sebagai tentara juga
dianggap terpisah dari ibadah. Sehingga siap menjadi tentara
dari pihak manapun, asalkan memperoleh gaji yang dianggap
memadai, atau kedudukan yang dianggap terhormat.

Apabila seseorang telah siap menjadi serdadu dari pihak


manapun, berarti siap melaksanakan perintahnya, tanpa
memperhatikan nilai agama, tidak berpikir siapa dan mengapa
orang harus ditangkap, tidak bertanya mengapa harus diperangi
dan untuk apa memerangi. Prajurit yang sekuler itu tahunya
cuma melaksanakan perintah dari yang menggaji , tidak mau
tahu salah atau benar, perintah tangkap; ya, tangkap, perintah
bunuh; ya, bunuh. Dengan itu timbullah istilah “ Prajurit tidak
tahu benar atau salah”.

Kondisi sedemikian 180 derajat berlainan dengan prinsip


Islam sebagaimana pada jaman Nabi Saw. Bahwa sebagai
tentara ialah ibadah membela penegakkan Hukum-Hukum Allah
di muka bumi. Sehingga dinyatakan bahwa yang berperang
bukan karena Allah, maka matinya masuk neraka. Contohnya,
ada seseorang yang terbunuh dalam perang, sedang pada
dirinya masih melekat harta rampasan (ghanimah), yang belum
dibagikan, maka dinyatakan oleh Nabi SAW masuk neraka. Hal
itu menunjukkan bahwa bagi yang menjadi tentara dengan
tujuan kehidupan duniawi, jelas bukanlah ibadah. Dan kalau
mati, maka matinya bukan dalam Islam. Begitu juga menjadi
tentara yang karena terpaksa oleh wajib militer untuk
memerangi negara Islam yang berdasarkan Qur’an dan
Sunnah, maka tempatnya “Jahannam” (Q.S.4 Annisa:97).
Setara dengan itu perhatikan hadits yang bunyinya:
229

‫وليس منففا‬.‫وليس من قاتل على عصبيه‬.‫ليس منا من دعا الى عصبيه‬


(‫من مات على عصبية )رواه ابو داود‬
“Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada
kebangsaan. Dan bukan pula golongan kami orang yang
berperang karena kebangsaan. Dan tidak juga termasuk
golongan kami yang mati karena kebangsaan.” (HR.Abu
Daud).

Memang, dalam Islam sebagai tentara itu ada pembagian


harta yang ditentukan oleh pimpinan, tetapi hal itu tidak
dijadikan niat dan tujuan, melainkan hanya sekedar bantuan
dalam bertugas. Sebab itu dalam Islam semuanya orang mukmin
wajib menjadi tentara Islam, sehingga berperang menegakkan
hukum-hukum Islam, kecuali bagi yang kondisinya
sebagaimana dalam Al-Qur’an S.4 An-Nisa:98, S.48 Al-
Fath:17.

Awal Runtuhnya ‘Ahdu ‘l-Muluka ‘l-’Aad


(1) Raja-Raja Menjadi Boneka Para Pemimpin Militer dan
Para Menterinya
Awal Runtuhnya Kerajaan Besar Abbasyiah didahului oleh
raja-raja yang menjadi boneka pimpinan militer, juga para
menterinya sehingga kewibawaan raja semakin menurun yang
akhirnya raja itu hanya dijadikan simbul kekuasaan. Akibatnya,
banyak pimpinan wilayah yang jauh dari pusat kerajaan tidak
merasa diperintah atas nama kerajaan, melainkan oleh pribadi-
pribadi pimpinan militer atau para menteri, Kondisi seperti itu
sewaktu-waktu menimbulkan ketegangan antara mereka dengan
para penguasa wilayah yang sukar untuk menghubungi raja.

Mulai pada masa Al-Watiq Mutawakkil diikuti oleh dua


puluh tujuh raja berturut-turut, raja-raja itu makin lama makin
kurang kekuasannya. Hal itu disebabkan pada umumnya raja-
raja yang berkuasa sesudah sekian abad kejayaan Bani Abbas
yang tidak banyak menghadapi rongrongan dari dalam,
menginginkan kesenangan-kesenangan seperti halnya berburu
atau acara-acara yang tidak berkaitan dengan tugas
230

pemerintahan. Sehingga raja-raja itu cukup mempercayakan


membuat keputusan-keputusan kepada para komandan militer
atau para menterinya. Dapat dipaham hal itu terjadi karena para
raja sejak kecil sudah biasa hidup dalam kesenangan, artinya
tidak mau banyak menghadapi permasalahan.

Disebabkan banyak tugas yang dipercayakan kepada para


panglima militer atau para menterinya, maka raja-raja itu tidak
mampu lagi mengkontrol situasi yang sebenarnya terjadi di
beberapa wilayah.

(2) Banyak Daerah yang Melepaskan Diri dari Kerajaan


Besar Menjadi Kerajaan-Kerajaan Kecil
Dalam menangani banyak permasalahan cukup ditangani
oleh para panglima militer atau para menterinya. Sehingga raja-
raja itu tidak banyak menguasai permasalahan yang harus
diputuskan, hal itu menyebabkan berkurangnya pengaruh raja
terhadap para gubernur / pimpinan daerah, Akibatnya, banyak
daerah yang melepaskan diri menjadi banyak kerajaan yang
merdeka, terpisah-pisah dengan tujuannya masing-masing.

Dengan terpisah-pisahnya itu maka kekuatan militernya


juga tidak bisa dipersatukan lagi. Dalam kondisi sedemikian itu
kesempatan bagi bangsa Tar Tar yang dipimpin oleh Hulagu,
cucu Jengis Khan tahun 1258 M. menyerbu ke kota Bagdad.
Terjadilah pembantaian selama enam minggu 1.600.000 jiwa
melayang dari jumlah penduduk 2000.000 jiwa. Disana sini
tercium bau yang menyengat. Al-Mu’tashim keluar ditemani
oleh tiga ratus pendukungnya menyerah tapa syarat kepada
Hulagu, Hulagu memerintahkan agar mereka semua dibunuh.
Sebagai akibatnya selesailah sudah lembaran sejarah Daulat
Abbasyiah. Pusat ilmu pengetahuan Islam dihancurkan untuk
sekian lamanya.

(3) Kesempatan Pihak Barat Mengadukan antara Satu


dengan yang Lainnya
231

Kerajaan yang besar (Imperium) lenyap. Yang ada tinggal


beberapa kerajaan (daulat) yang kecil, terpisah-pisah sehingga
terjadi persaingan. Hal demikian dijadikan kesempatan bagi
pihak Barat (Kristen) untuk mengadu-dombakan satu dengan
yang yang lain, dengan cara mendukung salah satu pihak yang
sedang berselisih, sehingga terjadi perang antara sesama
kerajaan. Bahkan tidak sedikit raja yang berebutan meminta
bantuan dari raja-raja keristen untuk memukul kerajaan yang
menjadi saingannya. Hal itu bisa dibaca dalam lembaran sejarah
yang terjadi di Andalusia atau benua lainnya. Kita juga
perhatikan sejarah mengenai kerajaan yang terjadi di Indonesia,
yang bisa diadu-dombakan oleh Belanda.

Akhir dari proses sejarah itu dimanfaatkanlah oleh pihak


Barat untuk menjajah hampir seluruh dunia Islam. Bagi Bangsa
Eropa (Kristen) sangat mudah mengalahkan kekuatan kaum
muslimin. Hal itu bukan hanya disebabkan mental kaum
muslimin yang loyalitasnya kepada duniawi yang siap menjadi
tentara bayaran dari pihak manapun, tetapi juga akibat
hilangnya Struktur Kepemimpinan Islam sebagaimana yang
dipolakan Rosululloh Saw sebelumnya.

Daulah ( Kerajaan ) Ustmaniah Pelindung bagi Kaum


Muslimin di Negeri-Negeri Arab Belahan Timur dari
Ekspansi Eropa Barat
Suku Turki yang mengungsi dari Turkistan ke Kaukakus
selatan membentuk gerakan yang bersifat kesukuan, hingga
pemimpinnya Sulaiman meninggal dunia digantikan oleh
putranya, Artheghul. Kemudian Artheghul diganti lagi oleh
Ustman bin Artheghul, yang kemudian nama ini dijadikan
sebagai simbul negara.

Dipegang oleh Ustman ini, gerakan-gerakan yang bersifat


kesukuan berubah menjadi gerakan kenegaraan dengan
mengalahkan raja-raja yang menguasai Bizantium. Ustman
digantikan oleh putranya, Orakhan pada tahun 726 H.
Kemudian diperintah secara berturut-turut oleh yang
232

selanjutnya. Pada tahun 854 H. atau 1451 M. Daulah Ustmaniah


diperintah oleh Muhammad II ( yang dalam sejarah dikenal
Muhammad Al Fatih, sebab sudah berhasil menguasai
Konstantinopel tahun 1453 M, sehingga lenyap Imperium
Bizantium.

Pada waktu negeri-negeri Arab dalam keadaan lemah, tidak


mampu mengembalikan kejayaan masa lalunya. Dan Arab
belahan timur nyaris runtuh. Sedangkan pada masa-masa itu
adalah awal abad modern dan awal kebangkitan Barat
(Renaissance). Maka, sewaktu Daulah Ustmaniah dipimpin
oleh Salim I dipersiapkanlah ekspansi ke Mesir, Syam.
Kemudian sebagian besar negara-negara Arab masuk kedalam
pengakuan Daulat Ustmaniah dari abad ke XV hingga tahun-
tahun pertama abad ke XX Masehi.

Sebagian penganalisa sejarah berpendapat bahwa Imperium


tersebut menjadi pelindung bagi Kaum Muslimin di Negeri-
Negeri Arab. Sebab, di Jaman Daulah Ustmaniah itu kaum
muslimin di negeri-negeri Arab masih bebas menjalankan
hukum-hukum Islam, tetapi begitu Daulah Ustmaniah jatuh,
dan kekuasaan diambil oleh imperialis Barat, maka diganti
dengan hukum-hukum “kafir”. Sejak awal kebangkitan Barat
dengan kemajuan persenjataannya, pihak Barat bermaksud
ekspansi ke seluruh negeri Arab yang sudah terkoyak-koyak,
namun terburu didahului oleh ekspansi dari keperkasaan Daulat
Usmaniah yang ditakuti oleh pihak Barat pada waktu itu yang
sebelumnya sudah menghancurkan kekuatan Eropa dengan
lenyapnya Imperium Bizantium.

Tahapan Keempat, Jaman “ ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-Jabbar”


Jatuhnya Daulah (kerajaan ) Ustmaniah, proses utamanya
adalah sama dengan jatuhnya Daulah Abbasyiah, hanya
berbeda mengenai yang diakibatkannya:

a). Para pimpinan / pembesar di beberapa wilayah Abbasyiah,


mereka memisahkan diri dari Imperium tersebut kemudian
233

mendirikan kedaulatan tersendiri, merdeka dari segala


penjajahan. Maka, begitu ibu kota Abbasyiah, Bagdad, diserbu
oleh Bangsa Tar-Tar yang menghancurkannya, masih banyak
daulah-daulah lainnya yang tegak berdiri sehingga tetap bisa
memberlakukan hukum-hukum Islam di wilayahnya masing-
masing.

b). Sedangkan terhadap Daulat Ustmani para separatis Arab


yang memberontak, kebanyakan akibat didasari kebangsaan
yang diciptakan oleh Yahudi dan digembar-gemborkan oleh
kaki tangan imperialis serta disebar-luaskan oleh orang-orang
Freemasonry. Agen-Agen Yahudi menyusup kedalam tubuh
pemerintahan dan organisai pemuda Turki. Sehingga para
pemimpin organisasi pemuda Turki menjadi berbaju lain,
menciptakan revolusi Turki untuk lepas dari misi Islam. Mereka
memaksa pemerintah Turki melibatkan diri ke dalam perang
dunia pertama dengan tanpa alasan yang logis dan terkait.
Ketika Jerman dikalahkan, Turki pun menyerah kalah, melalui
gencatan senjata Rodes pada tahun 1918 M. Dengan itu
runtuhlah seluruh penjuru Arab, kemudian menjadi daerah
kekuasaan Inggeris dan Perancis. Daerah Palestina pun
diserahkan oleh Inggeris kepada Yahudi, lalu diproklamirkan
menjadi Israel. Dengan runtuhnya Daulah Ustmaniah itu maka
digantilah hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum bawaan
dari kedua Bangsa Eropa itu.

“ ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-Jabbar” yang di Indonesia


Datangnya penjajahan asing pada mulanya melalui jalur
perdagangan. Contohnya saja yang datang ke Indonesia,
Belanda dan Portugal. Mereka membeli rempah-rempah di
Indonesia kemudian menjualnya ke Eropa, sehingga meraih
keuntungan yang besar. Dengan keuntungan besarnya,
membuat mereka memiliki kekayaan yang mengalahkan kaum
pribumi. Sehingga banyak kaum pribumi itu yang menjadi kuli
atau pekerja keamanan bangsa asing tersebut yang bayarannya
melebihi dari kebiasaan yang diberikan oleh orang kaya dari
kaum pribumi.
234

Bisa dibayangkan andai katasaja, bila seorang bangsa asing


mampu menggaji 10 orang centeng, maka bila seribu orang
asing berarti bisa menggerakkan sepuluh ribu kaum pribumi
sehingga bisa dijadikan tentara bayaran, yang pada akhirnya
bisa mengalahkan kerajaan dari kaum pribumi sendiri. Itulah
sebab utama, jika negeri Belanda yang penduduknya sedikit,
dan negerinya tidak lebih besar dari Jawa Barat bisa menjajah
Indonesia yang begitu luas dalam waktu sekian lama.

Kaum pribumi yang masih bodoh menjadi tentara bayaran,


siap diadukan dengan sesama pribumi, tentu bukan saja karena
gaji, melainkan juga karena kebanggaan memperoleh pangkat
serta pakaian seragam militer yang berbeda dari kaum pribumi.
Bisa dipaham bahwa Islam yang melekat pada mereka itu cuma
karena ikut-ikutan atau turunan, tanpa pengertian. Mereka
menganggap bahwa tugas sebagai tentara itu hanya merupakan
pekerjaan tanpa kaitan dengan kehidupan di Akhirat. Dengan itu
mereka siap menyerang kerajaan dari kaum pribumi yang
mayoritas pendduduknya beragama Islam. Sehingga lenyaplah
Jaman “‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-’aad” berganti dengan jaman “
‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-Jabbar” Yang mengakibatkan tidak
berlakunya hukum Islam secara keseluruhan sampai pada saat
ditulisnya tanya jawab ini.

Setelah bangsa (asing ) penjajah itu berkuasa, lalu


memberlakukan hukum-hukum yang mereka bawa dari negeri
asalnya, dipaksakan di negeri jajahannya. Contohnya saja
seperti halnya di Mesir dari Inggeris, di Aljajair dari Prancis.
Begitu juga di negeri-negeri lainnya. Termasuk di Indonesia dari
Belanda hingga diwariskan kepada jaman Pancasila.

Memisahkan Sistem Pendidikan


Langkah-langkah pokok yang ditempuh kaum penjajah dari
Barat itu guna terus melemahkan umat Islam, yakni
memisahkan sistem pendidikan agama dengan pendidikan
235

umum. Hal itu mengakibatkan perbedaan kondisi yang menonjol


antara kedua sistem tersebut:

1). Kondisi Pendidikan Barat


a). Pendidikan agama dalam pensensoran penguasa (mengenai
kitab-kitab yang masuk), sehingga putus hubungan dari sejarah
perjuangan Rasulullah Saw. Akibatnya, sebagian dari yang
pendidikan agama buta terhadap politik Islam bahkan
menganggap bahwa Islam itu tidak berpolitik. Kebanyakan
menganggap bahwa Islam itu hanya pada batas sholat,
berpuasa, zakat dan berhaji serta ritual yang hubungannya
vertikal saja, dalam arti tidak menyangkut pemerintahan dan
tata sosial bernegara. Sehingga bahwa urusan politik,
Kepemimpinan dalam negara itu urusan dunia.

Hal tersebut di atas terjadi karena sejarah Nabi Saw yang


dipelajari dibatasi hanya sampai pada wawasan yang tidak
menyangkut kewajiban berpolitik dalam menegakkan
kedaulatan Islam. Sekalipun ada kitab yang berkaitan dengan
kedaulatan Islam yang secara kebetulan lolos dari pensensoran,
tidak banyak yang memahaminya, sungguh sukar untuk
dikembangkannya. apalagi mempraktekannya. Jangankan
terhadap kitab-kitab sedemikian, sedangkan kepada Al Qur’an
saja, kebanyakannya masyarakat tidak tahu isinya. Kesemuanya
terjadi akibat taktik penguasa asing guna melemahkan umat
Islam supaya tidak bangkit membentuk Daulah Islamiyah.

b). Pendidikan agama tidak diprogramkan sehingga banyak


waktu terluang. Misalnya, murid belajar di pondok- pondok
tidak diprogramkan ketentuan kapan waktu tamat belajar, hal
itu mengakibatkan para santri menempuh belajar semaunya,
bisa sebentar; bisa juga lama sekali. Ada juga yang semakin
lama semakin menjadi kebanggaan, merasa bangga jika
anaknya tinggal di pondok sampai sekian belas tahun,
sementara qualitas belajar yang tidak diprogramkan itu, tidak
bisa ditententukan oleh lamanya belajar.
236

Bagi pihak orang tua bisa saja menjadi kebanggaan


karena anaknya tinggal di pondok sampai lima belas atau dua
puluh tahun, tetapi dari segi politik penjajahan telah
menenteramkan pihak penguasa. Sebab, masa muda yang penuh
keberanian untuk berjihad melawan penguasa kafir, bisa habis
terkurung oleh pondok, belum lagi waktu untuk beradaptasi
dengan masyarakat, ditambah lagi dengan persiapan rumah
tangga dan sebagainya.

Kita tidak menyalahkan apa yang sudah terjadi, sebab itu


adalah kenyataan proses sejarah sesuai dengan kondisi politik,
serta kemajuan teknologi yang belum bisa mempercepat cara
belajar seperti sekarang. Contohnya, jangan lagi lebih seratus
tahun yang silam, pada tahun enam puluh (1960) an saja,
penulis tidak melihat kitab-kitab tarjamahan seperti halnya: “Al
Fiyah, Riyadussholihiin, Subulussalaam, Nailul authoor,
Fat hul mu’iin, Ahkaamul sulthooniyah”dan sebagainya yang
anak-anak sekarang mudah memahaminya. Adapun kita uraikan
proses sejarah itu hanya sebagai wawasan guna menentukan
langkah ke masa depan.

c). Pelajaran yang berkaitan dengan agama terbatas dari


wawasan informasi luar, karena terbatasnya media cetak yang
masuk ke dalam pondok. Hal sedemikian mengakibatkan
terbatasnya pula membuat analisa. Hasilnya, cukup mengikuti
yang ada. Jelasnya, wawasan informasi cukup tergantung dari
yang dikemukakan oleh guru-guru setempat. Dalam hal itu jelas
tertinggal oleh yang berpendidikan umum (Barat).

d). Pendidikan agama terpisah dari pengetahuan yang


menunjang kedudukan dalam masyarakat. Misalnya, di pondok
tidak diberikan pelajaran bahasa asing selain Arab. Sehingga
begitu mereka keluar dari pesantren merasa tidak mampu
berkomunikasi dengan dunia luar, tidak mampu menangkap
berita dalam literatur bahasa kaum penjajah. Dengan itu tidak
tahu pula situasi pemerintahan yang sebenarnya. Sedangkan
kondisi demikian akan menentukan situasi politik selanjutnya.
237

2. Kondisi Pendidikan Umum ( Barat )


a). Dalam pendidikan umum ditanamkan pelajaran agama
yang tidak semestinya. Ada kesenjangan untuk menggambarkan
agama Islam dari satu sudut, agar orang mendapat bayangan
yang tidak enak. Misalnya, orang Islam tidak dianjurkan tidak
berinisiatip karena nasib sudah ditentukan. Atau banyak lagi
yang diputar-balikkan dalam hal-hal agama Islam yang
semuanya bisa menjadikan kaum pendidikan umum memandang
agama Islam sangat negatip. Kalau ada yang masuk dalam ujian,
kalau ditanyakan, maka menjawab sebagaimana yang diajarkan
pada mereka. Hal demikian mengakibatkan kaum pendidikan
umum kurang menghargai agama, tidak meyakini bahwa Islam
sebagai pedoman hidup.

b). Tamatan sekolah umum memperoleh penghidupan yang


layak, karena yang pandai berbahasa asing (penguasa) adalah
dihormati kedudukannya dan mudah mencari pekerjaan.
Akibatnya, aparat pemerintahan didudukinya oleh yang sudah
seirama dengan kaum pendidikan Barat yang diperkirakan
memperkuat penguasa yaitu penjajahan.

c). Sebaliknya, dalam masyarakat, pendidikan agama tidak


dipandang penting tidak saja pandangan, tetapi tertanam
gagasan jika seseorang mau maju dalam masyarakat ia harus
memperoleh pendidikan Barat (umum). Hal demikian
menurunkan percaya diri bagi keluaran pendidikan pondok
(agama) untuk menempatkan posisi di atas kaum pendidikan
Barat.

Sekolah umum sangat sedikit, sehingga banyak murid yang


jauh dari orang tua mereka, ditempatkan di asrama-asrama
dengan pergaulan yang jauh pula dari lingkungan beragama.
Mereka baru bisa mengetahui adanya yang sholat dan ngaji
hanya kebetulan sewaktu pulang ke rumah orang tua mereka.
Sedangkan kondisi seperti itu sungguh mempengaruhi jiwa
mereka dikemudian hari.
238

Jaman Revolusi Pengusiran Penjajah Asing


Penulis menggunakan istilah pengusiran penjajah asing,
karena yang diusir oleh sebagian besar yang ngaku Islam itu
bukanlah mengenai penerapan hukum-hukum kafir, melainkan
cuma penjajahan bangsa asing. Sedangkan hukum-hukum kafir
bawaan penjajah asing itu masih dipaksakan. Nah, yang
memaksakan ini berarti sama dengan penjajah. Jadi, yang di
usir itu asingnya, sedangkan penjajahnya tidak diusir atau tidak
ditundukkan. Sebab itu penulis gunakan istilah “Jaman
pengusiran pejajah asing”

Tujuan berperang dalam Islam ialah untuk tegaknya hukum-


hukum Allah. Apabila sekedar berperang mengusir bangsa,
maka hal itu namanya “Ashobiyah (kebangsaan)”, maka
matinya bukan dalam Islam. Sebab itu dalam Islam bahwa yang
disebut sebagai musuh itu bukan ditentukan oleh berbeda
bangsa, melainkan ditentukan oleh penentangan terhadap
hukum-hukum Allah SWT.

Akan tetapi, mengapa sebagian dari yang mengaku muslim


itu telah terperangkap dengan perang kebangsaan ? Sebab-
sebabnya yaitu tidak terlepas dari rentetan kondisi jaman
kerajaan dan jaman penjajahan bangsa asing. yang selanjutnya
pada jaman pengusiran penjajah asing kondisinya yaitu:

a). Pihak pendidikan agama umumnya pada waktu itu


beranggapan bahwa sebutan “musuh” , itu hanya ditujukan
kepada kepada penguasa dari Eropa ( di Indonesia ialah Belanda
atau “bule”) yang agamanya bukan Islam. Sedangkan terhadap
orang-orang yang berpendidikan Barat, asalkan mereka
beragama Islam maka tetap dijadikan kawan bahkan banyak
yang dijadikan pemimpin, tanpa mempertimbangkan
bagaimana ideologinya. Padahal itu jelas bertentangan dengan
Islam (perhatikan Q.S.5:68, S.5:49, S.5:57).
239

b). Kaum berpendidikan Barat, meskipun “berideologi bukan


Islam”, tetapi mengaku sebagai orang-orang Islam bahkan
diantaranya ada yang suka mengerjakan sebagian dari ajaran
Islam. Mereka menggunakan sentimental Islam supaya
dipercaya oleh umat Islam. Mereka sadar tidak bisa
membangkitkan semangat rakyat Islam tanpa bantuan lisan-lisan
para ulama (dari pendidikan agama). Karena itu mereka
mendekati para ulama Islam yang punya pengaruh di hadapan
para santri-santrinya, dengan janji bilamana penguasa asing
sudah terusir, maka akan ditegakkan hukum-hukum Islam. Para
kiayi/ ulama itu umumnya mempercayai mereka, sehingga terus
mengumandangkan semangat jihad fisabiilillaah kepada para
santri serta rakyat meski dengan persenjataan yang seada-
adanya.

c). Para pendidikan barat memiliki wawasan sejarah mengenai


kenegaraan, revolusi-revolusi yang sudah terjadi di luar negeri.
Sehingga menguasai hukum-hukum ketatanegaraan. Dengan itu
jauh sebelum terjadi revolusi fisik mengusir penjajah asing itu
terlebih dulu mencanangkan program struktur kenegaraan serta
perundang-undangan yang diikuti oleh penempatan orang-
orangnya. Walaupun keluar menggemakan selogan berjihad
demi tegak hukum-hukum Islam, namun kedalam secara diam-
diam mengatur trik- trik untuk tetap berlakunya hukum-hukum
yang sesuai dengan ideologi mereka yaitu hukum-hukum
warisan dari bangsa asing.

Mereka umumnya mengusai bahasa penguasa, mengerti


siaran radio luar negeri, informasi-informasi dari majalah /
koran asing, lancar berkomunikasi dengan diplomat-diplomat
asing. Hal demikian membuat percaya diri, serta dipercaya oleh
rakyat menjadi pimpinan di kemudian hari setelah penjajahan
asing terusir.

d), Pihak pendidikan agama (para kiai) mengomando umat


Islam mengangkat senjata, tetapi tidak mempersiapkan struktur
kepemimpinan serta konsep perundang undangan. Mereka
240

mempercayakannya kepada para pemimpin dari pendidikan


Barat. Beranggapan bahwa yang pintar-pintar dari pendidikan
Barat juga beragama Islam, yang diperkirakan bila kekuasaan
sudah diraih maka hukum Islam ditegakkan.

Walhasil, para ulama yang mengusir penjajah asing itu,


fungsinya hanya sebagai penggerak alias pekerja-pekerja
revolusi, sedangkan hasilnya diserahkan kepada kaum
pendidikan Barat. Akibatnya, begitu bangsa asing terusir, maka
kaum sekuler pulalah yang memegang kekuasaan dan tetap saja
hukum-hukum anutan kaum sekuler yang dipertahankan.

Sesudah posisi pemerintahan dikuasai sepenuhnya, serta


memperoleh simpati dukungan dari rakyat barulah berani
“mencengkramkan kuku mereka”, dengan sikap menolak
berlakunya hukum-hukum Islam. Dan hal ini telah terjadi di
beberapa negara yang penduduknya mayoritas Islam yang
pernah dijajah oleh bangsa asing.

Perhatikan yang terjadi di Indonesia, sebelum Proklamasi


17 Agustus 1945, kaum sekuler itu menyetujui berlakunya
Piagam Jakarta, yaitu kewajiban menjalankan syariat Islam,
tetapi tidak lama sesudah umat Islam ( Masyumi) menyambut
proklamasi tersebut, maka dicoretlah delapan kata dalam
piagam tersebut, tidak jadi memberlakukan Syariat Islam.

Meskipun kaum penjajah dari bangsa asing itu sudah pergi,


namun karena hukum-hukum peninggalan kafir itu masih
diterapkan di kalangan umat Islam, maka jaman itu tetap
disebut sebagai jaman “ ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-Jabbar”. Sebab,
soal bangsa apa saja adalah sama, musuh atau bukan musuh
ditentukan oleh penjegalannya terhadap hukum-hukum Allah.
Sehinggga kemulian suatu bangsa juga ditentukan oleh ketaatan
terhadap Allah SWT. ( Perhatikan Q.S.49 Al Hujuraat:13).

Harus diakui bahwa kesemuanya itu akibat terlepasnya


hubungan sejarah dari sejarah perjuangan yang dicontohkan
241

Nabi Saw. Sebelum Rasulullah Saw membentuk negara Islam di


Madinah maka pertama kali ditentukan ialah pemimpinnya,
artinya tidak sembarang orang dijadikan pemimpin, sehingga
tidak bisa masuk manusia seperti Abdullah bin Ubay bin
(pemimpin munafik) untuk menjadi pemimpin. Kemudian
ditetapkan undang-undang berlakunya hukum Islam. Dan
dipertahankannya bukan cuma dengan ngomong- ngomong di
depan meja musuh, sambil ngopi bersama, tetapi dengan terus
mengacungkan senjata (Q.8:12). Sehingga golongan yang
berideologi diluar Islam tidak bisa menguasai negara !
Perhatikanlah, para shahabat besar jaman Nabi Saw, mereka
adalah ulama dan mereka juga sebagai pimpinan militer Islam
yang siap menguasai negara. Tidak berperang yang kemudian
pimpinan negaranya dipercayakan kepada yang berjiwa
“kebangsaan nasionalis (Quraiys) !”

Memang, khusus di Indonesia ini pada Tahun 1934 sudah


diadakan kongres yang memprogramkan terbentuknya
pemerintahan / negara yang dicontohkan oleh Nabi Saw di
Madinah, namun karena kondisi umat Islam sudah sekian abad
terpisah dari sejarahnya, maka kebanyakan tidak bisa lagi
menentukan mana kawan dan mana lawan, mana yang harus
dijadikan pemimpin dan mana yang harus ditinggalkan.
Akhirnya mereka terpedaya oleh politik kaum pendidikan Barat
sehingga banyak yang ingkar dari kongres Tahun 1934 tersebut
tadi.

Mereka yang ingkar dari konsep hijrah, karena percaya


bahwa hukum-hukum Islam itu nanti juga bisa ditegakkan
dengan jalan parlemen hasil pemilihan umum di Daarul Kuffar,
dan bakal menang sebab mayoritas penduduk Indonesia adalah
Islam. Dan pemimpin Indonesia juga bakal orang Islam. Hanya,
tidak disadari bagaimana kalau nanti yang jadi pemimpin-
pemimpinnya itu berideologi sama dengan penjajah hanya
berbeda warna kulit dari “bule” menjadi “sawo matang” !
242

Bisa dibayangkan sulitnya menentukan mana kawan dan


mana lawan, sebab sebelum Tahun 1934 pun sudah ada
segolongan kaum muslimin yang mengadakan kongres pada
tahun 1927 di Surabaya. Sebagai ilustrasi bisa dibaca di bawah
ini:

“ Arsip kolonial dengan kode 261 / X / 28. Isi arsip melaporkan


kongres N U di Surabaya 13 Oktober 1927 yang penuh dengan
pidato-pidato yang menjunjung pemerintah Belanda sebagai
pemerintah yang adil, cocok dengan Islam, dan patut
dijunjung sepuluh jari. Sementara itu tokoh Islam yang
menantang Belanda, (jelas yang dimaksud tokoh syarikat islam
Pen.) menurut laporan itu, dicaci maki dan pantas dibuang ke
Digul.” (Tempo, 26 Desember hal. 23, Jakarta, 1987).

Tentu, ada yang ingin bertanya, “Apakah isi dari kongres


sedemikian (13 Oktober 1927) itu tidak bertentangan dengan
Qur’an surat 5 Al-Maidah ayat 51, yaitu melarang muslimin
mengangkat pimpinan dari kaum Nashaaraa ?” Jelas,
bertentangan ! Dan itu kenyataan sejarah.

Kesimpulan, bahwa penyebab kenyataannya umat Islam


di berbagai belahan dunia ini sudah lama dikuasai oleh
kepemimpinan diluar sistem Islam, karena umat Islam
terpisahkan dari sejarah perjuangan yang dicontohkan Nabi
Saw, yaitu lepas dari Al-Qur’an dan Sunnah Saw.

Tahapan Kelima, akan Muncul Lagi Jaman “Khilafah ‘ala


Minhaji Nubuwwa
Dalam jawaban yang telah lalu diungkapkan Kongres Partai
Syarikat Islam Indonesia tahun 1934 yang menetapkan program
azas yaitu menegakkan Negara Islam Indonesia yang
berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Hal itu
merupakan “embriyo” berdirinya Negara Islam Indonesia.
Tetapi, barangkali proses sejarahnya harus panjang sehingga
mengharuskan adanya ujian bagi setiap penegak “Al-Hak”, hal
itu tersendat oleh banyaknya umat yang tertipu oleh golongan
243

nasionalis sekuler yang telah menyetujui Piagam Jakarta


sehingga ummat Islam menyambut Proklamasi 17 Agustus
1945, tidak tahunya sehari sesudah itu, maka delapan kata yang
tercantum dalam Piagam Jakarta itu dihapus (dikhianati) oleh
kaum nasionalis sekuler.

Akan tetapi, Allah akan menunjukkan jalan kepada yang


sedang berjihad di jalan-Nya (Q.S.29:69 ) , maka terjadilah
proses sejarah. Yaitu, sewaktu Belanda memaksa R I
berunding, setelah agresi-agresinya, maka dalam beberapa kali
perundingan itu para pemimpin nasionalis sekuler kalah,
sehingga wilayah Republik Indonesia semakin menciut, yang
akhirnya mengakui kedaulatan Belanda atas seluruh Hindia
Belanda. Yang pada klimaknya diakhiri oleh “Pengibaran
Bendera Putih” atas keputusan Rapat Dewan Menteri yang
dipimpin oleh Sukarno. Dalam keadaan sedemikian setelah
melalui beberapa proses maka diproklamasikanlah Negara Islam
Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949, sebagai Khilafah
(kekuasan / pemerintahan) di atas jejak Rasulullah Saw
( Khilafah ‘ala Minhaji Nubuwwah) yang sementara
terjangkau di Indonesia. Dan merupakan embriyo bagi Khilafah
sedunia.

---------------------------------------------------
3. Tanya :
”Berdasarkan apakah penunjuknya menurut Al-Qur’an dan
Hadist Nabi Saw bahwa kita wajib menegakkan negara yang
didasarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah ?”

Jawab :
Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis mengambilnya dari
tulisan yang sudah terdahulu dikemukakan dalam buku
“Furqon di Indonesia”, lebih sepuluh tahun sebelum tulisan
TABTAPENI DATANG, sebagaimana di bawah ini:

1). Menurut Ilmu Mantiq (logika )


244

Memperbincangkan istilah “Negara Islam ( yang didasarkan


kepada AL Qur’an dan Sunnah Saw), untuk itu kita menoleh
ilmu mantiq (logika). Padanya, bahwa “dilalah (penunjuk)”,
garis besarnya terbagi dua:

a). Dilalah lafdhiyah. yaitu bilamana penunjuk itu merupakan


lafadh atau perkataan.

b). Dilalah ghairu lafdhiyah. Yaitu bilamana si penunjuk itu


bukan merupakan lafadh, tetapi merupakan isyarat, tanda-
tanda, bekas-bekas dsb.

Berdasarkan pengetahuan logika itu, maka mengenai


pengertian (konsep) Negara Islam dalam Al Qur’an, sebagai
penunjuknya itu ialah “isyarat” yang mana Kitabullah itu
mengisyratkan bahwa kita harus menjalankan kewajiban-
kewajiban antara lain:

a). Menjalankan hukum pidana Islam (S.5 Al Maidah:38, 45.


S.24 An nur:2. S.2 Al Baqoroh:178).

b). Melaksanakan ibadah yang berkaitan dengan perekonomian,


diatur oleh penguasa Islam, sehingga menyalur pada kebenaran
Ilahi (S.9 At Taaubah:29).

c). mempunyai kepemimpinan tersendiri sehingga tidak didikte


oleh manusia yang setengah-setengah (fasik/ kafir) terhadap
Islam (lihat S.5 Al Maidah:51, 57. S.7 Al Araf:3. S.3 Ali
Imran:28. S.4 An nisa:144).

d). Memiliki kekuatan militer tersendiri, umat berfungsi sebagai


Tentara Islam (S.8 Al Anfal:60. S.4 An Nisa:71, 81).

e). Wajib menumpas setiap kekuatan yang menentang tegaknya


syariat Islam (S.8 Al Anfal:39, S.2 Al Baqarah:193, S.9 At
Taubah:73, 173).
245

Dengan adanya kewajiban-kewajiban itu saja telah


menunjukkan keharusan umat Islam memiliki kedaulatan
sendiri. Yaitu “negara yang disandarkan kepada Al Qur an dan
Sunnah Saw”, artinya yaitu negara Islam.

Barusan kita menolehnya dari ilmu mantiq, kini kita tinjau


pula dari sudut Ushul Fiqih yang bunyinya:
‫من باب ماليتم الوجوب البه فهو واجب‬
“Suatu kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengan
sesuatu hal, maka sesuatu hal itu menjadi wajib”.

Yang dimaksud dalam kaidah di atas itu, yakni bahwa


dalam menjalankan sesuatu kewajiban, sedangkan untuk bisa
menyempurnakan kewajiban yang dituju itu harus menggunakan
bentuk pekerjaan, maka menjalankan bentuk pekerjaan
demikian itu wajib adanya. Contohnya, dalam hal wajib
berwudhu untuk melakukan shalat. Sungguh kalau dicari dalam
Al Qur’an tidak didapat ayat yang bunyinya secara saklek
mewajibkan kita berusaha memperoleh air. Akan tetapi,
kewajiban berpikir dan berbuat dengan ilmu dalam hal ini sudah
jelas tidak perlu disebutkan.

Sama maksudnya dengan kaidah di atas tadi, di bawah ini


kita lihat lagi kaidah ushul yang bunyinya:
‫المربالشئ امربوسائله‬
“Memerintahkan sesuatu berarti memerintahkan pula seluruh
perantara-perantaraannya”.

Misalnya, memerintahkan naik rumah, hal itu berarti juga


memerintahkan mentegakkan tangga, sebagai perantaraannya.
Sesuatu perbuatan yang diperintahkan tidak akan terwujud
kecuali dengan adanya perbuatan-perbuatan lain sebelumnya,
atau alat-alat untuk mewujudkan perbuatan yang diperintahkan
itu, maka perbuatan-perbuatan lain dan alat-alatnya disebut
perantara (washilah) sebagai muqayyad.
246

Berdasarkan ilmu ushul itu pun maka mentegakkan negara


/ daulah Islamiyah itu hukumnya wajib. Sebab, bahwa Daulah
Islamiyyah itu sebagai alat untuk kita bisa menterapkan hukum-
hukum Islam secara sempurna. Juga merupakan washilah yaitu
perantara untuk mendhohirkannya.

Seirama dengan qaidah mantiq dan qaidah ushul, maka


Ilmu “Musthalah Hadits” menyatakan bahwa “hadits” ialah
semua yang disandarkan kepada Nabi Saw., baik berupa “
qauliyah” (perkataan), “Fi’liyaliyah” (perbuatan) dan
“Taqririyah” ( pengakuan). Penjelasannya sebagai berikut:

a). Qauliyah ialah berupa perkataan, baik itu berupa perintah


atau larangan, pun berita yang diucapkan Nabi. Artinya,
merupakan lafadh, perkataan.

b). Fi’liyah yaitu yang berupa perbuatan Nabi Saw. Pada point
kedua ini dimengerti bahwa yang dinamakan “Hadist” Nabi
SAW itu tidak semua berupa perkataan. Jadi, bila Nabi Saw itu
tidak mengucapkan kata “Negara Islam” atau “Daulah
Islamiyyah” tetapi bila nyatanya Nabi itu telah membentuk
organisasi yang setara dengan “negara”, serta menjalankan
hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan kenegaraan /
kekuasaan, maka mendirikan negara yang hukum-hukumnya
berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Saw adalah wajib bagi umat
Islam mencontohnya.

c. Taqririyah yaitu pengakuan Nabi Saw terhadap perbuatan


sahabat yang diketahui oleh Nabi, tetapi Nabi Saw tidak
menegur atau menanyakannya. Yang semuanya itu
bersangkutan dengan beberapa hikmah dan hukum-hukum yang
terpokok dalam Al-Qur’an.

Dengan hal-hal yang dipraktekkan oleh Nabi Saw, jelas


sekali bahwa adanya “negara Islam” didalam hadist, maka
sebagai penunjuknya yaitu “perbuatan” Nabi Saw -- Yang
mana telah membuat garis pemisah antara kekuatan militer
247

musyrikin dan militer Islam. Barisan Abu Jahal dan Abu Lahab
memiliki prajurit bersenjata, maka Nabi pun menyusun dalam
mengimbanginya ( Q.S.8:73). Rasul Saw telah bersikap tegas,
siapa saja yang menyerang negara Madinah, maka dianggapnya
sebagai musuh walau telah mengaku Islam ( Perhatikan
Q.S.4:97 dan sikap Nabi terhadap Abu Abas sewaktu menjadi
tawanan yang minta dibebaskan tanpa syarat).
----------------------------------------------

4. Tanya:
”Bagaimana terhadap perkataan “Jangan dulu memikirkan
mana pemimpin, jaga saja diri sendiri dan keluarga ?”

Jawab:
Terlebih dulu penulis kemukakan ayat yang bunyinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan


keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
keras, tidak mendurhakai (Perintah) Allah terhadap apa yang
diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.”_ (Q.S.66:6).

Dari ayat itu diambil arti bahwa menjaga diri sendiri itu
kewajiban yang pokok. Di akhirat pun diri ditanggung jawab
hanya oleh dirinya sendiri. Perhatikan ayat-ayat yang bunyinya:

“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan


sangsakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari
saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-
anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai
urusan yang cukup menyibukkannya.”(Q.S.80.’Abasa:33-37 ).
248

Dengan ayat itu juga dipaham bahwa kewajiban menjaga


keluarga itu soal kedua. Yang pertama adalah diri sendiri,
artinya jika sudah diri sendiri baru keluarga. Untuk yang kedua
ini bagi kita hanya sekedar usaha memelihara sebisa mungkin
sesuai dengan batas kemampuan, adapun berhasil atau tidak hal
itu bukan urusan kita. Perhatikan ayat-ayat yang bunyinya :

“Dan Nuh berseru kepada Rabbnya seraya berkata : ”Ya,


Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan
sesungguhnya janji Engkaulah yang benar. Dan Engkau Hakim
yang seadil-adilnya.”-(Q.S.11:45).

“Allah berfirman:”Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah


termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan),
sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab
itu janganlah kamu memohan kepada-Ku sesuatu yang kamu
tidak mengetahui (hakekatnya). Sesungguhnya aku
memperingatkan kapadamu supaya kamu jangan termasuk
orang-orang yang jahil”.”_(Q.S.11:46).

Dengan ayat itu dimengerti bahwa soal keluarga artinya


kalau mereka sudah tidak mau, kita tetap harus menjaga diri
sediri, jangan sampai keluarga yang sudah tidak mau, lalu kita
hanyut terbawa oleh keluarga.

Tiap diri mu’min yang sudah baligh wajib menegakkan


Hukum-hukum Allah secara keseluruhan, sama wajibnya
dengan menjalankan Sholat yang lima waktu. Hanya
menegakkan hulum-hukum Allah itu harus dengan bersama-
sama. Lihat petikan ayat di bawah ini yang bunyinya:
249

“...maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang


Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
mereka dengan meninggalkan kebenaran yang datang
kepadamu....” _ (Q.S.5:48).

Menjalankan hukum-hukum Allah tidak bisa dengan cara


bersendirian, melainkan harus dengan secara bersama-sama.
Perintahnya juga “Kum”, yakni “kamu sekalian”. Dengan itu
wajib ada pemimpinnya, yakni wajib memiliki pemimpin.
Apabila seseorang tidak berada dalam kepemimpinan yang haq,
berarti dalam yang bathil, jika masih dalam yang bathil berarti
tidak menjaga diri dari neraka. Dengan demikian bahwa kita
berada dibawah kepemimpinan NII adalah guna menjaga diri
dari api neraka.

Keluarga juga diajak supaya menjadi sama dengan kita,


namun tentu harus melalui pertimbangan sesuai dengan situasi
dan kondisinya. Dan seandainya diantara mereka ada yang tidak
mau, ya, kita tetap menjaga diri dengan kata lain, terus berlaju
tanpa mesti menunggu anggauta keluarga yang tidak mau,
sebagaimana Nabi Nuh a.s. .Demikianlah makna menjaga diri
sendiri.

-----------------------------------------------------

5. Tanya:
“Bagaimana jawaban kita terhadap perkataan bahwa
untuk kepemimpinan tunggu saja Imam Mahdi yang akan
membereskan semua persoalan ?”

Jawab :
Dalam menjawab pertanyaan di atas itu, penulis akan
mengemukakan tiga hadits di bawah ini:

‫عن عمران بن حصففين رضففي الف صففلى الف عليففه وسففلم لتففزال‬
‫طائفة من امتى يقاتلون على الحق ظففاهرين علففى مففن نففاوأهم حففتى‬
.(‫ )رواه ابو داود واحمد‬.‫يقاتل اخرهم المسيح الدجال‬
250

“Dari Imran bin Hushain Radiyallahu ‘anhu, dia berkata:


telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan
terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang berperang
atas kebenaran, mereka mengalahkan orang-orang yang
memusuhi mereka, sehingga orang-orang terakhir dari mereka
ini memerangi al-Masih Dajjal”. (H R. Abu Daud, No. 2484,
bab Fi Dawamil Jihad. Imam Ahmad dalam Musnad)

‫ لتزال طائفففة مففن‬:‫عن جابر بن عبد ال رضى ال عليه وسلم يقول‬


‫ فينففزل عيففس‬:‫ قال‬.‫أمتى يقاتلون على الحق ظاهرين الى يوم القيامة‬
‫ ل إن‬:‫ابفن مريفم عليفه السفلم فيقفول أمرهفم تعفال صفل لنفا فيقفول‬
.( ‫ )رواه مسلم‬.‫بعضكم على بعض أمراءتكرمة ال هذه المة‬
“Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama
bersabda: ‘Terus menerus dari umatku ada sekelompk orang
yang berpegang di atas dasar kebenaran, mereka itu selalu
tampil dengan kebenaran sampai hari kiamat.” Kemudian
beliau bersabda: “Maka Nabiullah Isa ‘alaihis salam turun,
maka berkatalah pimpinan mereka (yakni pimpinan kelompok
pejuang kebenaran itu) kepada Isa: “Kemarilah, pimpinlah
kami menunaikan shalat”. Maka Isa menjawahb: “Tidak,
sesungguhnya sebagian kalian atas sebagian yang lainnya
sebagai pimpinan sebagai pemulyaan Allah terhadap umat ini.”
(H.R Muslim).

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Abani hafizullah


menerangkan:”Perkataan ‘pimpinan mereka’ di hadits ini yang
dimaksud adalah Imam Mahdi Muhammad bin Abdullah
‘alaihis salam sebagaimana yang bisa dilihat dalam hadits-
hadits lain.

‫عن عبد بن مغفل رضى الف عنففه قففال رسففول الف صففلى الف عليففه‬
‫ ثم ينزل عيسففى بففن مريففم مصففد قففا‬، ‫ يلبث الدجال ما شاء ال‬:‫وسلم‬
251

‫ ) الطففبرانى فففى‬. ‫بمحمففد وعلففى ملتففه وحكمففا عففد ل فيقتففل الففدجال‬


( ‫الكبير والبيهقى فى البعث‬
“Dari ‘Abdillah bin Mughoffal, radhiyallahu ‘anhu berkata:
“ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:’ Akan
tinggal Dajjal di bumi sampai waktu yang dikehendaki Allah,
kemudian turunlah Isa bin Maryam yang membenarkan Nabi
Muhammad dan berada di atas millah (syari’at)nya dan
sebagai hakim yang adil, maka beliau membunuh Dajjal."
(At-Tabrani dalam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam Al Ba’ts).

Dari tiga hadits itu dipaham bahwa yang disebut “Imam


Mahdi” yaitu yang datangnya pada akhir jaman sewaktu sudah
mendekati hari kiamat, yaitu menjelang turunnya Nabi Isa as
yang kemudian datang pula Dajjal. Sehingga bala tentara Imam
Mahdi memerangi bala tentara Dajjal. Dan sejaman dengan
turunnya Nabi Isa a.s. Sehingga akhirnya Nabi Isa as itu
membunuh Dajjal itu.

Kesimpulan dari tiga hadits di atas tadi bahwa akan datang


Imam Mahdi pada akhir jaman, yakni sudah mendekati hari
kiamat. Jadi, bahwa musuh Islam yang dihadapi oleh Imam
Mahdi bukan lagi musuh yang seperti kita lihat sekarang. Musuh
yang dihadapinya merupakan musuh yang berat yang tidak bisa
dihadapi oleh kita sekarang. Kemudian Allah SWT
menurunkan Nabi Isa as, maka tentu pemimpin muslimin yang
menerimanya juga “bukanlah yang tidak ma’shum” seperti
pemimpin kita sekarang. Begitu juga yang dijadikan musuhnya,
sebagai alat penguji keimanan umat muslimin ditakdirkan oleh
Allah dengan membawa keluar-biasaannya, yaitu Dajjal dan
bala tentaranya, sesuai dengan kadar serta keseimbangannya.
Allah Maha Bijaksana bahwa akan menguji umat muslimin
dengan musuh (Dajjal) yang diberikan keluarbiasaan, maka
akan mendatangkan pimpinan umat yang diberikan
keluarbiasaan pula, yaitu Imam Mahdi dan kemudian
diturunkan Nabi Isa as.
252

Kita tidak tahu kapan datangnya hari kiamat, atau kapan


datangnya Dajjal yang disebutkan dalam hadits tadi. Imam
Mahdi hanya akan mempertanggungjawabkan umatnya yang
pada jaman menjelang kedatangan Dajjal mendekat hari kiamat,
artinya Imam Mahdi tidak bertanggung jawab kepada
kehidupan kita sekarang. Dengan itu seandainya anda tidak mau
punya pimpinan Islam, karena anda mengandalkan datangnya
Imam Mahdi, sedangkan kewajiban bagi Imam Mahdi itu nanti
sejaman dengan datangnya Dajjal, juga datangnya Nabi Isa as,
maka hal itu berarti anda sekarang tidak merasa diperintah
Allah untuk memerangi musuh-musuh Islam pada jaman
sekarang. Ataukah memang anda bersikeras ingin menunggu
berperang melawan bala tentara Dajjal (?) Mestinya anda
bersyukur ditakdirkan oleh Allah, hidup pada jaman sekarang,
belum datang Imam Mahdi, musuh anda belum begitu berat
seperti nanti pada jaman Imam Mahdi.

Kita hidup sekarang, akan dipinta pertanggung-jawaban


oleh Allah darihal kehidupan sekarang. Jadi, soal akan
datangnya Imam Mahdi, hal itu urusan nanti, artinya anda tidak
akan dipinta pertanggungjawaban soal Imam yang akan
datang. Tegasnya, bahwa dengan adanya berita akan datangnya
Imam Mahdi, maka kita tidak bisa lepas dari kewajiban kita
untuk memiliki Imam /pemimipin pada waktu sekarang.

-----------------------------------------------------------
6. Tanya :
“Timbul isyu dikalangan muslimin bahwa diantara mereka
yang mengaku sebagai pejuang NII ada yang menyepelekan
urusan syari’ah, seperti melalaikan sholat, malah ada yang
tidak mewajibkan sholat sama sekali dengan alasan bahwa
sekarang “masih di kurun Makkah”. Begitu juga dengan
menutup aurat ( berbusana muslimah), sebagian mereka malah
melarang isterinya menutup aurat, karena dianggapnya “belum
wajib”. Bagaimana keadaan yang sebenarnya ?”
253

Jawab :
Kembali kepada permasalahan pokok bahwa NII
diproklamasikan sebagai wadah terlaksananya Hukum Islam,
tempat dimana Islam dijadikan dasar segala sesuatu, negara
dimana Al Quran dan hadits yang shohih dijadikan Hukum
Tertinggi Hal demikian jelas terundangkan dalam Qonun Asasi
Negara Islam Indonesia.

Jadi bila ada yang mengaku sebagai warga NII, tetapi


meremehkan syari’at apalagi sampai menganggap sholat tidak
wajib, maka orang tersebut bukan saja keluar dari pangkuan
negara, malah keluar dari Al Islam sama sekali.

Bersama ini kami menegaskan kepada pembaca dimana


pun mereka berada, bahwasa kami berlepas diri dari pengakuan
palsu, mereka yang busuk hati, kotor lidah dan bengkok prilaku
yang lisannya mengaku warga NII, tapi amal dan perbuatannya
bertentangan dengan hukum hukum dasar dan undang undang
NII itu sendiri. Ketahuilah dalam Tuntunan IV pasal 24 (Kitab
Undang Undang Hukum Pidanan Negara Islam Indonesia), pada
pasal yang berjudul Tarikush sholah (Orang yang meninggalkan
sholat) tertera sebagai berikut :

1. Siapa yang meninggalkan sholat dengan beri’tiqad tidak


mewajibkan salat, dijatuhi hukuman sebagaimana yang
termaktub dalam pasal 23 ayat 1,2, dan 3. (diperlakukan
sebagai orang yang murtad dari Al Islam)

2. Siapa yang sengaja meninggalkan salat dengan beri’tiqad


bahwa sholat itu tidak wajib, maka Imam wajib memerintahkan
salat.

3. Jika ia tidak mau menurut, ia dijatuhi hukuman berat


(hukuman mati)
254

4. Orang yang meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur,


tidak ada hukumannya, hanya diwajibkan membayar shalatnya
(sholat segera setelah dia ingat -pen)

5. Orang ‘abid (budak belian -tawanan perang dari front Darul


Kuffar -pen) hukumannya setengah hukuman orang merdeka.

Dari pernyataan di atas jelas bahwa yang meninggalkan


sholat, bukannya dibiarkan terus berkoar mengaku berjuang atas
nama NII, malah keberadaan dirinya sendiri, berada dalam
posisi wajib bertaubat, segera shalat sebelum habis waktunya.
Dan bila NII dalam keadaan de facto, hukum bisa berjalan
dengan seluas luasnya dan sesempurna sempurnanya dalam
Negara berjaya, tentu orang begini bukan dibiarkan dan diakui
perjuangannya, malah bila tetap tidak mau bertaubat, mereka lah
yang harus di hukum mati !

Adapun alasan mereka bahwa sholat baru diwajibkan di


Madinah, adalah bohong dan tertolak di hadapan sejarah.
Rosululloh dan para shahabat sudah melaksanakan sholat, sejak
di kurun Makkah, walau sebagiannya dilakukan dengan
bersembunyi. Dan NII tidak menganut sistem periodisasi
mengenai ibadah mahdhoh Makkah - Madinah yang kemudian
berdampak pada pengkotak kotakan hukum Islam. Bagi Negara
Islam Indonesia, semua Hukum Islam wajib dilaksanakan, dan
kita berjuang bukan untuk mendirikan negara Islam (karena
sudah berdiri sejak tahun 1949 yang lalu), tetapi berjuang
semaksimal mungkin agar seluruh hukum Islam yang telah
diyakini wajib dijalankan itu, bisa berjalan dengan seluas
luasnya dan sesempurna sempurnanya. Siapa yang tidak
berkeyakinan demikian, maka dia tertolak sebagai warga negara
berjuang Negara Islam Indonesia.

Kewajiban sholat sudah diperintah langsung oleh Allah Swt,


dan jelas ayatnya. Tidak usah nunggu diperintah oleh pemimpin.
Begitupun ibadah mahdoh lainnya, yang sudah jelas nashnya,
255

wajib dikerjakan sehabis-habisnya kemampuan. Perhatikan


petikan ayat yang bunyinya:

“Dan bertakwalah kamu kepada Allah sepenuh


kemampuan;...” Q.S.64:16).

Dari ayat itu dipaham bahwa ukuran mengerjakan


perintah-perintah dari Allah itu ialah “dengan semaksimalnya
usaha” untuk bisa mengerjakannya. Satu contoh mengenai
sholat, jika tidak bisa berdiri. boleh duduk, bila duduk juga tidak
bisa, boleh berbaring, bila dalam berbaring lalu tidak bisa
membaca Al-Fatihah, boleh cukup dengan takbir, jika tidak bisa
mengucapkan takbir, boleh di hati saja. Tegasnya, kewajiban
menjalankan sholat itu tidak hapus selama mata masih melek
dan tidak gila (hilang ingatan ) atau tidak pikun. Karena itu
diperjalanan diutamakan Qoshor, tidak ada air harus tayamum
sesuai dengan kondisinya.

Syari’at sudah menentukan kewajiban sholat sekalipun di


dalam kendaraan, sehingga caranya pun disesuaikan dengan
kondisi kendaraannya. Dengan demikian, bukan ditentukan
oleh periode Makkah atau Madinah, melainkan ditentukan oleh
baligh dan sadarnya ingatan, adapun caranya dilakukan dengan
sepenuh kemampuan. Jadi, sekalipun anda sedang dirantai
sambil dibaringkan oleh musuh, anda tetap diwajibkan shalat,
gerakan anda menurut kemampuan diri, apa yang dibaca
menurut kemampuan diri. Jika tidak diwajibkan demikian maka
buat apa Allah dan Rasulnya menentukan tata-ta cara
melakukan shalat dalam segala kondisinya ! Demikianlah
makna ayat yang bunyinya: “ Dan bertaqwalah kamu kepada
Allah dengan sepenuh ( sehabis-habisnya daya)
kemampuan;...” (Q.S.64:16).

Dalam Islam menjalankan perintah Alloh ada yang tidak bisa


dikerjakan secara sendirian, melainkan harus dengan bersama-
sama, seperti halnya hukum pidana Had, Qishos dan jinayah
atau yang berkaitan dengan kenegaraan lainnya. Untuk
256

menjalankan hal itu harus memiliki syarat yaitu adanya


pemimpin dan adanya (power) kekuatan sehingga adanya
wilayah yang dikuasai secara de facto, artinya sekalipun
adanya pemimpin, tetapi jika belum sampai pada adanya
kekuatan untuk menjalankan hukum-hukum tersebut, karena
wilayahnya terampas oleh musuh, maka kita dimaafkan Allah.
Adapun untuk melakukan sholat atau memakai kerudung bagi
wanita yang sudah mukallaf hal itu tidak musti nunggu
perintah dari Imam, sebab ibadah sedemikian bisa dikerjakan
oleh sendirian, tidak perlu adanya hakim atau pengawal, dan
tidak ada yang berani menghalangi shalat, tidak ada yang
berani memaksa membuka kerudung sekalipun di negeri
Israel_ Yahudi, dan isteri-isteri thagut di Indonesia juga banyak
yang pakai kerudung. Dan seandainya dilarang, maka apakah
anda mau diam saja ?

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam sudah menyatakan


bahwa bumi itu suci dan sebagai masjid (tempat sujud). Allah
juga menyatakan bahwa bumi ini diwariskan kepada hamba-
hamba-Nya yang shaleh. Dengan itu, sungguh bisikan dari
‘setan’ jika berpendapat sholat belum wajib dengan alasan
berada di wilayah yang dikuasai musuh ! Maka, apakah
muslimin yang berada di negeri Habsyi (keristen) pada waktu
Nabi masih di Makah mereka tidak sholat ? Perhatikan sejarah
bagaimana wawancara kaum mulimin di Istana Raja Habsyi.
Juga, “Apakah para tawanan muslimin yang dibawa ke wilayah
Imperium Romawi tidak melakukan Sholat ?” Sedang perang
juga diwajibkan sholat. Sedang sakit juga diwajibkan sholat,
walau sambil berbaring dengan bacaan semampunya. Sebab itu
kembalilah kepada ayat Qur’an dan Sunnah, jangan sampai kena
bisikan-bisikan yang menyesatkan !

Penulis mengingatkan hal di atas itu, sebab bahwa adanya


berita mengenai orang yang mengaku warga NII, tetapi tidak
sholat hal itu terjadi karena adanya beberapa sebab diantaranya
yaitu:
257

1). Godaan setan dari segala arah. Sebagaiman disebutkan


dalam ayat yang bunyinya: ”Kemudian aku akan mengecohkan
mereka dengan mendatanginya dari muka, dari belakang, dari
kanan dan kiri. Dan Engkau tidak akan menemui lagi
kebanyakan mereka sebagai golongan orang-orang yang
bersyukur.” (Q.S.7Al-A’raaf:17).

Bilamana setan sudah tidak mampu menggoda seseorang


dari segi jihadnya, juga dari segi mengorbankan hartanya, maka
setan itu berusaha terus menggoda dari segi lain, misalnya dari
berzina. Apabila dari segi berzina tidak bisa, maka menggoda
lagi dari segi sholat. Pada mula-mulanya orang itu disibukkan
dengan pekerjaannya, kemudian sholatnya dilambat-lambatkan,
lama-lama timbul dalam pikirannya, biarlah sekali-sekali
tertinggal, barangkali juga akan tertebus dengan jihad dan
menginfakkan harta. Padahal bila sholat sudah ditinggalkan,
maka setan gembira, sebab pada diri orang itu sudah didapat
“nilai pembantah terhadap Allah”, sehingga sewaktu dirinya
dihisab, tidak diperoleh sholat, maka kena siksa neraka, dengan
itulah setan bergembira. Ingatlah, bagi setan itu bukan dari
soal lama atau sebentarnya manusia itu di neraka, tapi yang
penting targetnya tercapai.

Akan tetapi, dasar setan itu memang pinter supaya


manusia menyepelekan panasnya api neraka, maka bikin lagi
argumentasi, “Yaah, menurut keterangan juga, selama masih
mengaku Islam, pada akhirnya akan diampuni Allah, dan akan
dicabut dari neraka (?)”. Sehingga godaan setan itu
menghasilkan manusia yang menantang neraka, padahal ketika
kena “petelan korek api” saja ia sudah menggerubug ! Atau
dirinya lupa bila membuat pelanggaran yang kemudian
dipanggil oleh pihak berwajib yang baru saja merupakan
manusia, sudah jantung“dag-dig-dug” keringat dingin keluar,
padahal itu belum sampai satu detik di dalam neraka, ia
dilupakan setan bahwa satu hari di neraka itu sama dengan
seribu tahun lamanya di dunia (Q.S.22 Al-Hajj:47).
258

Jika tidak tergoda oleh setan, tentu yakin bahwa


meninggalkan sholat itu, berarti akan menghancurkan semua
amalannya. Akan tetapi, disebabkan yang tergoda oleh setan
itu bukan hanya satu orang, melainkan ada lagi temannya, maka
begitu berkumpul, pada masing-masing dirnya bertanya, “Kok,
bisa jadi kompak sudah hampir habis waktunya sholat, masih
juga tidak ada yang mengingatkan, apa orang-orang pada
lupa ? Biarlah aku juga mau pura-pura lupa”. Begitu bubar,
waktu sholat sudah habis, tiba- tiba ada seorang yang memang
sudah lama jadi ‘setan’ dari jenis manusia, coba-coba
memancingnya dengan nyeletuk, “ Wah, semuanya pada lupa
sholat ya ?” Disebabkan tidak ada yang menjawab dengan
sungguh-sungguh, maka si ‘setan’ tadi itu punya kesempatan
untuk memperhebat bisikan-bisikannya, dengan ungkapan,
“Memang dalam kondisi Makkah ini belum waktunya sholat”.
Nah, yang tadinya cuma karena malas sholat, tetapi setelah
melihat kawannya juga sama, serta adanya ungkapan kata yang
yang membolehkan tidak sholat, maka kemudiannya bukan lagi
karena malas, melainkan memang meninggalkan sholat.
Begitulah setan menggoda.

Jika bukan setan yang menggoda, maka pasti tidak akan


cari-cari alasan untuk meninggalkan sholat. Sebab, jelas
hukumnya, jelas ayatnya, dan jelas hal itu diperintahkan
sewaktu Nabi Saw masih di Makah, sewaktu Isra’ dan Mi’raj,
sejarahnya mutawatir, bahwa di lorong-lorong sambil
besembunyi di Makah, umat Nabi Saw melakukan sholat, Nabi
juga ketika sholat di timpa kotoran onta oleh Abu Jahal, hal itu
kejadiannya di Makkah.

2). Asalnya juga tidak pernah sholat, belum biasa sholat,


hanya begitu mulai sedikit sadar terhadap Islam, terburu-buru
dibai’at oleh yang mengatas-namakan NII, sementara belum
melalui proses penilaian mengenai ketakwaannya terhadap
Allah, sehingga suatu waktu bisa saja kembali lagi tidak sholat,
sedang dirinya sudah merasa menjadi warga NII.
259

3). Adanya kesengajaan dari pihak musuh yang berusaha


meruksak nama baik NII. Dalam hal ini penulis menyerukan
kepada para mujahid untuk berhati-hati dan mari kita rapatkan
barisan. Jangan khawatir, sebab, Sunnattullah pasti terjadi.
Dalam Qur’an ada khusus surat ke-63 Al-Munafiquun, berarti
orang munafik itu akan selalu ada.

Yang Jelas NII tidak menganut prinsip “Makkah -


Madinah” dalam arti memisah misahkan mana yag wajib dan
mana yang belum wajib. Al Quran adalah pedoman final, yang
wajibnya tetap wajib hingga hari kiamat, demikian pula yang
haramnya, tidak berubah, tetap haram di jaman manapun. Yang
menjadi titik tolak perjuangan NII adalah melakukan Revolusi
Islam, sehingga suasana keadaan dan tempat di wilayah Negara
Islam Indonesia, stabil dan aman bagi terlaksananya hukum
Islam secara luas dan sempurna. Jadi dari dulu pun (sejak 14
abad lalu), seluruh syari’at Islam “sudah wajib” dilaksanakan,
hanya keterbatasan kemampuan manusianyalah sehingga hukum
hukum tersebut “terlambat” dilaksanakan.

Adapun masalah sholat, tidak harus menunggu aman dan


stabil seperti pelaksanaan hukum jinayah. Dalam keadaan
apapun, bahkan ketika sedang suasana terancam sekalipun
sholat tetap wajib di laksanakan. Bukankah kita mengenal
“Sholat khouf, sholat jama-qoshr, sholat bagi orang yang sakit.
Ini menunjukkan bahwa sholat “mutlak” mesti dilakukan oleh
setiap mukallaf, dalam keadaan dan situasi bagaimanapun . Di
jaman Rosululloh Saw, dalam keadaan apapun wajib
dilaksanakan, jadi tidak logis, kalau untuk sholat saja harus
menunggu Daulah Islam berjaya dulu.

Sekali lagi penulis tegaskan, bahwa revolusi Islam yang


kita lakukan adalah perjuangan suci “Melaksanakan Seluruh
Perintah Ilahi” Mengapa itu dilakukan ?? Karena kami meyakini
kewajiban melaksanakannya !

7. Tanya :
260

”Adakah benar mengenai perkataan, bila belum bisa


menjalankan hukum jinayah Qishos Jinayah dan Hudud, maka
tidak perlu adanya Imam yang didhohirkan, artinya bila sudah
ada Imam, maka segala hukum seperti jinayah, qishos dan had
mesti diberlakukan ?

Jawab :
Tidak benar ! Melainkan, yang benar yaitu bilamana
kondisi dalam berperang atau sedang berada dalam wilayah
yang sedang dikuasai musuh, maka tidak diperbolehkan
melaksanakan hukum had (potong tangan). Artinya, bahwa
dalam kondisi demikian , maka pelaksanaan hukum potong
tangan itu harus ditunda. Jadi, bahwa tidak boleh
dilaksanakannya hukum had itu bukan disebabkan belum
didhohirkannya Iman, melainkan karena kondisi
ketidakmampuan kaum muslimin untuk menguasai keadaan
orang yang dikenai hukum potong tangan itu, bilamana dirinya
membelot kepada musuh. Dengan demikian untuk
melaksanakan hukum had itu, bila sudah di dalam wilayah yang
sudah dikuasai dengan sepenuhnya (de facto).

Abul Qosim Al-Khroqi dalam risalahnya meriwayatkan


bahwa Bisyr bin Arthaah menangkap seorang tentara (mujahid)
yang mencuri barang miliknya. Dia berkata:” Sekiranya aku tak
mendengar sabda Rasulullah Saw, diwaktu perang, tangan-
tangan tak boleh dipotong, pasti akan kupotong tanganmu”.
(Diriwatkan oleh Abu Daud).

Imam Ahmad, Ishak bin Ranaiwah, Azauza’i juga yang


lainnya menentukan, bahwa hukum tidak boleh dilaksanakan di
daerah yang dikuasai musuh. Khalifah Umar bin Khathab
mengumumkan pelarangan terhadap pelaksanaan hukum dera di
waktu perang.

Dalam Perang Qodisiah, Abu Maljam ditemui sedang


minum Khamar oleh Sa’ad bin Abi Waqqos, olehnya tidak
dihukum dera, tapi diperinatkan kepada anak buahnya supaya
261

mengikat kedua kaki Abu Maljam. Sewaktu Abu Maljam


melihat kuda-kuda dihalau untuk dipersiapkan menyerbu
musuh, dan dirinya dikerumuni orang, Abu Maljam meminta
kepada Ibna Hafsah supaya dilepaskan kakinya dengan janji,
bilamana selesai berperang ia masih hidup, dirinya akan kembali
untuk diikat kakinya. Apabila aku mati, kalian (yang
melepaskan) terbebas dari pertanggungan jawaab mengenai
diriku !” Begitulah ketegasan Abu Maljam.

Setelah dilepaskan kainnya, kemudian maju menyerbu


musuh. Ketika itu Sa’ad bin Abi Waqqos sedang luka-luka tidak
memimpin perang, namun dinaikkan ke atas sebatang pohon,
sambil mengawasi situasi berperang. Melihat hal itu, maka Abu
Maljam melompat ke atas kuda Sa’ad, dengan bersenjatakan
tombak, ia menerjang musuh dengan gesitnya, puluhan musuh
terbunuh olehnya. Ada Malaikat ! teriak seorang shahabat.
Sesudah tentara Islam mengalahkan musuh, Abu Maljam
kembali mengikat sendiri kedua kakinya. Ibna Hafsah
menanyakan mengenai Abu Muljam kepada suaminya. Sa’ad
bin Abi Waqqos berkata:” Demi Allah, aku akan mendera orang
yang memberi kemenangan kepada muslimin”. Abu Maljam lalu
dibebaskan.

Dari riwayat itu diketahui bahwa Daulah Islamiyah


beserta Imamnya sudah ada yakni dhohir, meski hukum-hukum
yang menyangkut pidananya itu tidak dijalankan, karena
didaerah musuh, artinya masih dalam bahaya.

Jadi, sebelum Ummat Islam berkuasa penuh, atau sebelum


berlakunya hukum hukum pidana, maka yang pertama kali ialah
dhohirnya Imam. Dan jelas sekali bahwa sebelum diturunkan
hukum-hukum pidana, qishos, dan had itu, Imam yakni
kepemimpinan Rosululloh Saw, juga negara Madinah sudah
ada, artinya sebelum adanya kewajiban menjalankan hukum
hukum pidana itu didahului dengan adanya Daulah Islamiyyah
dengan imamnya. Secara akal pun dimengerti bagaimana bisa
262

berkuasa penuh, yakni memiliki wilayah yang sepenuhnya


dikuasai, jika untuk mengadakan imamnya saja belum bisa.

Yang dimaksud dengan Imam ialah pemimpin


tertingginya. Bila pada jaman nabi Saw di Madinah ialah
Rosulloh Saw. Dengan itu sebelum adanya perintah sholat juga
hukum - hukum pidana, maka kewajiban memiliki Imam sudah
ada, meski sedang berada di wilayah yang dikuasai musuh.
Dengan demikian, sungguh terbalik alias salah, bagi orang
yang mengatakan bahwa sholat itu baru wajib kalau sudah
diperintah oleh Imam, begitu juga sungguh salah alias terbalik,
bagi yang mengatakan tidak perlu adanya imam karena belum
bisa menjalankan hukum jinayah, Qishos, had.

-------------------------------------------------------------
8. Tanya :

“Dalam Kitab Ad Da’wah Ilalloh, Ali bi Hasan Al Atsari


hal 89-96, dimana diantaranya Imam Ahmad pernah berkata
bahwa yang dikatakan Imam ialah yang seluruh kaum muslimin
berkumpul dibawah kepemimpinannya. Dimana masing masing
mereka berkata : “Inilah dia Imam”. Maksudnya, tidak ada
artinya mengangkat Imam bila seluruh muslimin tidak
mengakui dia sebagai “Imam”. Dengan itu bagaimanakah
pandangan pihak NII mengenai perkataan Imam Ahmad
tersebut itu ?”

Jawab:
Orang terkadang lalai dalam mencermati sejarah. Hanya
berpijak pada kata dan kata tanpa melihat konteks peristiwa, “di
jaman apa kata kata tersebut diucapkan ?”

Ucapan Imam Ahmad bin Hambal disampaikan di dalam


wilayah Daulah Islamiyyah yang berjaya. Di tempat dimana
Pemerintahan Islam eksis dengan segala persyaratannya. Dalam
keadaan demikian, maka wajar saja apabila di saat kekuasaan
263

Islam tengah berlangsung, Ahlul Halli wal Aqdhi lengkap,


begitu juga jajaran panglima militer yang mengawal negara, tiba
tiba ada orang yang mengangkat diri jadi Imam, tanpa prosedur
dan hukum yang berlaku. Ini kudeta namanya, dan bila dia
punya pengikut yang mendukungnya dengan jalan sangka
sangka. maka kelompok tadi dinamakan Ahlul Baghiyyah, wajar
bila mereka dipaksa dengan kekuatan untuk kembali pada
kebenaran, kembali mentha’ati kekuasaan yang tengah
berlangsung dan diakui seluruh muslimin tadi. Bila kelompok
ini malah menentang dan mengangkat senjata, maka menjadi
kewajiban tentara Islam untuk memeranginya hingga mereka
bertekuk lutut.

Adapun ketika jutaan muslimin, rela diatur kekuasaan Darul


Kuffar, keadaan dimana muslimin malah menjadi rakyat
Kekuasaan Kafir, maka haruskah sebuah Negara Islam
membiarkan posisi tertinggi negaranya kosong hanya karena
menanti seluruh muslimin yang menjadi rakyat Darul Kuffar itu
mengakuinya ????

Bagi kami yang tinggal berwali pada Negara Islam


Indonesia, beribadah kepada Alloh dalam pangkuan negara yang
menyatakan berlakunya hukum-hukum , mengambil Al Quran
dan Hadits shohieh sebagai hukum tertinggi serta menerima
semua perundang undangan negara dan keputusan pemerintah
negara kami. Pandangan Imam Ahmad juga menjadi pijakan
kami, tidak ada seorangpun dari warga negara Islam Indonesia
yang tidak menyepakati kepala negaranya sebagai Imam
mereka.

Adapun muslimin yang berwali pada Republik Indonesia,


tidak mengakui beliau sebagai Imam, hal itu tidak merisaukan
kami, wajar saja mereka tidak mengakui kepala negara kami,
sebab mereka tinggal di negara yang berbeda, berimam pada
kepala negaranya ( Soeharto -1997) hidup di atas dasar negara
selain Islam dan bersepakat menerima hukum Non Islam
sebagai tata nilai mereka. Dan ketidak- mauan mereka untuk
264

mengakui keimaman di negara kami sama, atau bahkan


muslimin di negara manapun, sama sekali tidak mempengaruhi
jalannya tertib hukum di dalam Negara Islam Indonesia. Sebab
keimaman ini berlaku hanya di dalam negara Islam Indonesia.

Lain halnya bila yang terangkat adalah seorang khalifah


untuk memimpin seluruh dunia, maka wajar bila untuk
eksistensinya menuntut pengakuan seluruh muslimin yang ada
di dunia ini.

Dan untuk sa’at ini seorang khalifah untuk seluruh dunia


belum ada, siapa yang sudah menyatakannya ? Jangankan kita
yang masih dalam Darurat Perang. Saudi Arabia saja yang jelas
jelas memiliki legalitas Quraisy, dan sudah berjaya sebagai
sebuah daulah belum berani menyatakan dirinya sebagai
khalifah dunia. Karena mengaku khalifah dunia, berakibat
berhadapan dengan seluruh front kekafiran dunia. Dan mengaku
sebagai khalifah secara otomatis memikul kewajiban mengurus
seluruh nasib muslimin di muka bumi. Adakah kekuatan yang
sanggup memikul beban ini sekarang ????

Dari itu garis besar haluan negara kami amatlah jelas dan
berpijak pada kenyataan. Tanggung jawab pertama kami adalah
memberlakukan syari’at Islam dengan seluas luasnya dan
sesempurna sempurna di wilayah Negara Islam Indonesia, baru
setelah itu kami akan berpartisipasi aktif dalam perjuangan
Islam di dunia internasional menuju terciptanya khilafah
Islamiyyah bagi seluruh alam. Bukan langkah khayal seperti
yang diyakini beberapa kelompok sempalan, diri mereka sendiri
masih bertekuk lutut menjadi warga negara Darul Kuffar, sudah
dengan lantangnya mengaku diri sebagai khalifah bagi dunia
Islam.....

Mengenai ucapan Imam Ahmad itu adalah benar, bila


diterapkan dalam kondisi umat Islam pada jaman Imam Ahmad,
yakni ditujukan kepada kaum muslimin yang bernaung dalam
Daulah Islamiyyah. Hal demikian tidak ditujukan kepada yang
265

namanya muslimin, tetapi berideologi bukan Islam, sehingga


mempertahankan hukum-hukum kafir.

-------------------------------------------------------
9. Tanya :
“Ada yang mengatakan bahwa selama sholat tidak dilarang,
maka tidak perlu berperang. Bagaimanakah jawabannya ?”

Jawab :
1). “Yang dituju oleh kita bukanlah berperang, tetapi bisa
menjalankan hukum-hukum Islam secara kaffah, sehingga pula
memperoleh Keridhoan Allah. Adapun menegakkan N I I
sebagai prosesnya. Begitu juga berperang sebagai akibatnya,
bila musuh berani menyerangnya. Jadi, berperang itu bukanlah
tujuan, melainkan sekedar mempertahankan hak kita Negara
Islam Indonesia !

2). Jangankan orang-orang yang mengakukan beragama Islam


(di antara penguasa RI ), orang yang tidak beragama Islam
saja, baik sekarang maupun pada jaman Abu Jahal cs tidak
mau melarang Sholat, asalkan Nabi beserta pengikutnya siap
kompromi. Buktinya, Utbah, utusan Abu Jahal datang kedua
kalinya, menawarkan toleransi ala sekuler untuk beribadah
bersama-sama dengan bergiliran. Artinya, kaum kafir ( musuh
Islam) tidak melarang shalat bahkan mau mengerjakan shalat,
asal pihak Nabi Muhammad Saw juga melakukan penyembahan
terhadap berhala (hukum-hukum) yang mereka jadikan anutan
yang jelas bertentangan dengan ( “Diin”) hukum-hukum Allah.

Disebabkan Nabi Saw menjawab dengan, “Aku tidak akan


mengabdi (menyembah) kepada apa ( aturan / hukum) yang
kamu (anut) sembah (Q.S.109:2)”, maka kaum musyrikin
Quraiys itu merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Saw
sehingga berhijrah ke Madinah, yang kemudian kaum Quraiys
itu berkali-kali memerangi Madinah. Kini tinggal anda
bertanya, “Sudahkah diri bersikap seperti Nabi Saw, dalam arti
memiliki garis (“Furqon”) ,yakni menyatakan berlakunya
266

hukum- hukum Islam, dengan menolak segala hukum, azas atau


ideologi yang bertolak-belakang dengan hukum yang
diturunkan Allah ? Kalau belum, maka wajar anda shalat,
sambil tidak diperangi ! Sebabnya, ialah “Fatakuunuuna
sawaa-an” (Q.S.4:89), artinya “maka kamu menjadi sama
(dengan mereka).” yakni dalam satu pengabdian dengan
mereka yang anti terhadap hukum-hukum Allah, secara
keseluruhan.
----------------------------------------------

10. Tanya :
“Bagaimana tanggapan kita terhadap yang mengatakan
bahwa hukum Islam itu bisa diganti dengan hukum buatan
manusia sesuai dengan kondisinya, sedangkan di antara yang
mengatakan itu seorang yang berpredikat kiai atau ulama ?”

Jawab :
1). Yang mengatakan begitu berarti telah menganggap
kedaulatan Allah di muka bumi itu bisa dikalahkan oleh
manusia, atau menganggap bahwa hak Allah memerintah itu
cuma untuk waktu dulu, sedangkan sekarang sudah tidak lagi.
Sehingga bahwa Allah itu hanya sebagai simbul saja, tidak
punya perintah dan tidak punya larangan atau sebagai tuhan
yang netral, Adapun mengenai diucapkannya oleh seorang kiai
atau ulama, tidak aneh sebab ada istilah “ ‘Ulama Syu’ “ yakni
“ulama jahat” (bisa dilihat dalam banyak hadist), hal itu sudah
menjadi tabiatnya.

2). Tidak heran, sebab jangan lagi kiai atau ulama, Nabi Adam
saja pernah melanggar perintah Allah tergoda oleh Iblis. Nabi
Yunus juga hampir-hampir abadi di dalam dalam perut ikan
besar (Q.S.37:142 - 143), jika tidak segera taubat (Q.S.21:87).
Jika demikian, bukan tidak mustahil hal yang sama bisa terjadi
kepada ulama yang merasa bangga karena disanjung, bisa
bermesraan dengan para ‘setan dari jenis manusia’ (Q.S.6:112)
sehingga lupa pijakan.
267

3). Godaan setan dari segala segi kehidupan, dan segala macam
perbuatan ( Q.S.7:17), sehingga mangsanya merasa sempurna
dalam beribadah, tidak lagi punya dosa dan bersalah serta
kelemahan dirinya. tidak sadar masih ada celah-celah yang
bakal membukakan pintu neraka baginya. Yang menjadi target
bagi setan menggoda ialah supaya manusia masuk neraka
(Q.S.35:6), dengan bagaimana saja caranya, tidak mesti dari
segi shalat, puasa Ramadhan yang pasti bagi kiai sudah kuat
bahkan sejak kecil. Dengan demikian setan mencarinya dari
perbuatan lain sebagaimana dalam pertanyaan di atas tadi,
yakni kesetujuannya menggantikan hukum Islam dengan
hukum-hukum Kafir. Jika sudah begitu berhasillah setan kepada
targetnya. Kalau sudah dianggap berhasil membukakan jalan
bagi mangsanya ke neraka, maka wajar jika setan tidak repot
menggoda kiai yang dimaksudkan itu supaya meninggalkan
shalatnya yang lima waktu atau ibadah mahdhoh lainnya.
Sebab itu anda tidak usah heran !

Sama halnya anda juga tidak heran dengan orang kaya yang
rumahnya diperkirakan cukup rapat dan kuat tidak bakal
kemasukan maling. Tujuan maling masuk ke rumah itu
“mengambil harta”. Sudah tentu tidak akan membobol pintu
depan yang jelas ketat dikunci dengan segala perintangnya, juga
tidak akan mendobrak jendela sebelah kiri yang pakai terali besi.
Tidak bisa dari pintu depan dan jendela kiri, maka dicarilah dari
pintu belakang. Bila dari pintu belakang tidak bisa juga, maka
dicoba dari jendela kanan, tetapi bila ditemukan jalan yang
lebih mudah, maka dicobanya sekalipun dari atas, yang
penting bagi maling, harta itu bisa diambilnya.

Target setan menggoda supaya manusia masuk neraka, maka


sungguh lebih bodoh dari pada maling, jika setan menggoda
kiai dari sudut itu-itu saja. Syaitan tidak lebih bodoh dari pada
maling, sebab dengan “ngomong juga” yang bernada
memperkuat berlakunya hukum-hukum kafir atau kebathilan
hal itu akan menghapus semua amal. Perhatikan petikan ayat
yang bunyinya:
268

”...dan kamu mempercakapkan (hal yang batil ) sebagaimana


mereka mempercakapkannya. Mereka itu orang-orang yang
hapus semua amal mereka di dunia dan di akhirat; dan mereka
itulah orang-orang yang merugi.”_(Q.S.9 At Taubah:69).

Tidak aneh bila ada rumah yang diperkirakan rapat kuat, tapi
kebobolan maling, karena pemiliknya lengah, merasa tidak ada
lagi celah untuk bisa dibobol. Ada kesamaan dengan ulama yang
mendukung pemerintah R I yang jelas membela tegaknya
hukum-hukum kafir. Ulama yang seperti itu mengira hatinya
sudah tidak terayu setan, baik dari jenis jin maupun manusia.
Sekali lagi penulis katakan:”Anda tidak usah heran. Yang
penting anda harus wapada terhadap setan-setan yang terus
mengintai pada diri sampai ajal tiba”!

4). Merasa tidak berdosa dengan anggapannya bahwa hukum-


hukum kafir itu juga membawa kebaikan. Sebagaimana dalam
petikan ayat yang menyebutkan: “...dan syaitan pun
menampakkan kepada mereka kebaikan apa yang selalu mereka
kerjakan.” (Q.S.6:43). Mereka yang tergoda oleh syaitan,
mengukur kebaikan hanya dengan pandangan yang dikehendaki
oleh kebanyakan manusia sehingga ikut disesatkan ( Q.S.6:116)
Dengan itu bila ada pribadi ulama yang menyetujui berlaku
hukum kafir di kalang umat Islam, dengan anggapannya sudah
tidak bisa merobah lagi karena sudah dianggap baik oleh
kebanyakan manusia, berarti ulama sedemikian itu tergoda
syaitan. Untuk jelasnya bacalah hadist-hadist mengenai
“Ulama Syu’ “.

Yang menyebabkan berdosa, bukan dari hal ketidak-


mampuan merobahnya, melainkan dari hal menyetujuinya.
Begitu juga yang menjadi nilai taqwa terhadap Allah, bukan
dari hal “mampu” atau “tidak mampu” dan bukan dari hal
banyak atau sedikitnya perbuatan (beramal), melainkan dari
269

ketaatan penuh dengan penyerahan diri kepada Allah SWT.


Yakni, beramal karena Allah semata sehingga memiliki “nilai
Ikhlash” (Q.S.98:5). Misalnya:

a). Bila ada yang berjihad fisabiilillaah merobah hukum-


hukum kafir, tetapi jika niatnya tidak karena Allah maka bukan
menjadi pahala, malahan jadi siksa.

b) Bagi yang belum mampu ( masih dalam tahap berjihad )


merobah hukum-hukum kafir maka tidak berdosa, karena
sebagai bukti ingkar darinya. Berbeda dengan yang menyetujui
hukum-hukum kafir, hal itu mengandung arti pembantahan
terhadap Allah, yaitu tidak bersedia diperintah Allah. Mati
dalam keadaan itu adalah mati yang merugi.

c). Penyebab hilang nilai ikhlash bukan karena sedikit atau


banyaknya perintah Allah yang dibantah, melainkan karena
nilai pembantahannya. Contohnya, Iblis diperintahkan Allah
supaya bersujud kepada Adam as. Bentuk perintah hanya satu
ialah “bersujud”, tidak ada selain dari itu, maka perintah yang
dibantah juga cuma satu yakni “tidak mau bersujud”, namun
tetap dilaknat.

Bagi Allah tidak butuh Iblis bersujud, karena bila butuh bisa
menciptakan milyaran makhluk yang seperti iblis yang sujud
kepada Adam as. Dari itu diambil arti bahwa sedikit ( satu ayat)
atau banyak perintah Allah yang dibantah, tetap saja menjadi
dosa, karena menghapus nilai keikhlasan, artinya tidak
mengakui keagungan yang memerintah, logikanya jika
membantah perintah Allah berarti merasa dirinya tidak berhak
diperintah Allah, atau menganggap Allah itu kecil. Sama
halnya membantah Firman Allah yang bunyi-Nya:

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-


Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui.”_ (Q.S.6 Al-An’aam:18).
270

Dalam ayat itu disebutkan “Yang Maha Bijaksana”. Yakni


dalam menurunkan hukum-hukum untuk dijalankan oleh
mu’minin. Dengan itu jika ada ulama yang setuju mengganti
hukum-hukum Allah dengan hukum buatan orang-orang kafir,
maka sungguh menghina kebijaksaan dari Allah.

Seorang mu’min yang yang sudah menyerahkan dirinya untuk


diperintah Allah, maka tidak akan menyepelekan perintah-Nya
dalam bentuk apapun. Umpamanya saja seorang pesuruh yang
diperintah mengambil sebutir salak oleh majikannya. Si
pesuruh segera mentaatinya bukan dari hal sebutir salak,
melainkan darihal “siapa yang memberikan perintahnya”. Si
pesuruh yang tahu diri dan yakin terhadap otoritas (kekuasaan)
majikannya, maka tidak akan banyak “cingcong”. Tidak
berkata, “Daripada sebutir salak mendingan diganti dengan
durian yang lebih berharga”. Tidak akan mengerjakan
pekerjaan yang lebih sibuk untuk tidak mengambil sebutir salak,
sebab sadar bahwa yang dinilai oleh majikan itu adalah nilai
kepatuhannya.

Menjadi pekerja berarti sudah menyiapkan diri diperintah


sesuai dengan aturan-aturannya, sehingga tidak semau-maunya.
Hanya pekerja yang licik, yang bila sedang di kantor
melakukan apel sesuai dengan tata cara yang sudah ditentukan,
kemudian melaporkan pekerjaan serta berjanji akan bekerja
dilapangan sesuai dengan peraturan-peraturan yang sudah
ditetapkan, tetapi kenyataan dilapangan berbuat tidak sesuai
dengan janji dan laporan yang ketika di kantor. Maka hal itu
akan sama dengan kiai yang lagi sholat, “ruku” dan “sujud”
serta “bacaannya” benar, tetapi sewaktu di masyarakat tidak
sesuai dengan yang dijanjikan dan dilaporkannya ketika sholat,
yakni tetap membantu para penegak hukum-hukum kafir.
Rupanya sewaktu “shalat” memang dirinya merasa diperintah
Allah, sedangkan sewaktu “tidak sholat” dia diperintah oleh
syaitan dari jenis manusia. Sehingga mengikuti apa yang
menimbulkan kemurkaan Allah, maka putuslah segala
271

amalannya ( Q.S.47:28). Kalau amalnya terputuskan, maka apa


yang akan dibawa ke akhirat ? Begitulah lihainya setan
menggoda sehingga banyak yang terlena, takutnya kepada
manusia yang melebihi dari pada takut kepada Allah, sehingga
terus menjilat pemerintah ‘Thogut’ yang sedang menang.

------------------------------------------------------------
11. Tanya:
“Mereka yang mengaku sebagai orang-orang Islam, tetapi
memerangi kepemimpinan NII , maka matinya dalam keadaan
menganiaya diri mereka sendiri, dari mana rujukkannya ?”

Jawab :
Menjawab pertanyaan- pertanyaan di atas itu, terlebih dulu
kita perhatikan sejarah ketika Abu Abbas bin Abdul Muthalib
satu-satunya anggauta yang selamat (hidup) dari sekian orang
Islam yang ikut barisan Abu jahal, sehingga menjadi tawanan
Perang Badar. Pada waktu itu Rasulullah Saw memutuskan
bahwa semua tawanan dapat dibebaskan dengan diwajibkan
kepada mereka dengan mengeluarkan tebusan termasuk juga
Abu Abbas. Berkenaan dengan itu Abu Abbas berkata:
”Mengapa engkau memerintahkan aku supaya membayar
tebusan hai Muhammad, sedang saya keluar dari Makkah
karena terpaksa oleh kaum Quraiys, bukan dari kemauanku
sendiri, dan engkau mengerti bahwa saya ini telah masuk
Islam” ? Nabi menjawab:”Hai, pamanku saya tahu dan
mengerti bahwa engkau keluar (berperang) terpaksa, dan saya
mengerti juga bahwa engkau pamanku telah lama memeluk
Islam, tetapi dalam hukum dhohir engkau harus mengeluarkan
tebusan kepada saya, karena hanya Allah yang mengetahui
keislaman engkau, sedang saya mesti menjatuhkan hukum
sebagaimana nampaknya”.

Setelah kita tahu sikap Nabi Saw terhadap tawanannya,


maka kita perhatikan mengenai beberapa orang yang sudah
masuk Islam di kota Makkah, tetapi tidak mau berhijrah
menegakkan negara Islam di Madinah, kemudian dipaksa oleh
272

pemerintah Kebangsaan Quraiys Makkah untuk memerangi


Pemerintahan Islam di Madinah, maka dalam perangnya itu
mereka terbunuh. Berkenaan dengan itu turunlah ayat yang
bunyinya:

“ Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam


menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:
“Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab:
“Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri”. Para
malaikat berkata:”Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga
kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”. Orang-orang itu
tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-
buruknya tempat kembali”._(Q.S.4 An Nisa:97).

Dalam kondisi perang tentu kalau tidak membunuh, maka


akan dibunuh. Jadi, dalam perang diketahui mana musuh dan
bukan musuh adalah ditentukan oleh posisi kepemimpinannya,
apakah berada dalam kepemimpinan yang didasari oleh hukum-
hukum Allah, ataukah dalam kepemimpinan yang didasari oleh
kebangsaan sebagaimana kaum musyrikin Quraisy atau oleh
ideologi sekuler lainnya sehingga menjegal tegaknya hukum-
hukum Allah di muka bumi.

Mereka yang memerangi Negara Islam Indonesia, dengan


alasan terpaksa oleh gaji dan jabatan sama saja nilainya dengan
yang telah dipaksa oleh para kaki tangannya ‘Abu Jahal’ hanya
berbeda dalam versi. Sebab, jika bisa dipaksa oleh tugas
(jabatan) atau gaji berarti setia kepada duniawi dengan durhaka
terhadap Allah. Keterpaksaan sedemikian tidak dijamin di
akhirat itu. Buktinya, biar dengan alasan terpaksa, tetap saja
“masuk neraka”. Matinya “bukan untuk mengabdi kepada
Allah, melainkan untuk duniawi” !
273

“Sekedar tugas dari manusia” dalam versi apapun tidak


menjadi jaminan untuk tidak masuk neraka. Sebab, pada
pokoknya sebagai mukmin adalah bertugas hanya kepada Allah
SWT ( Al-Qur’an S.98:5, S.51:56) Bertugas kepada Allah
berarti menjalankan hukum-hukum Allah, sedangkan
memerangi Negara Islam Indonesia, berarti menjegal
pelaksanaan hukum-hukum Allah SWT.

Turut memerangi Negara Islam Indonesia, dengan alasan


tidak mengetahui dasar-dasar kebenarannya, tidak juga
menjamin keselamatan diri pada “Yaumal Hisab” (hari
perhitungan). Sebab, Allah sudah memberikan sarana supaya
menilai mana yang “Haq” dan mana yang dalam “kesesatan”.
Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes


mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan
perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia
mendengar dan melihat”._(Q.S.76 Al Insaan:2).

Dengan ayat di atas itu tidak ada jaminan keselamatan di


akhirat bagi yang memerangi Negara Islam Indonesia,
walaupun ia berdalih bahwa kebenaran NII samar baginya.
Sebab, semestinya sebelum dia memutuskan diri bergabung
untuk memerangi NII, dia punya kewajiban menggunakan mata
membaca dasar-dasar kebenarannya serta menggunakan telinga
mencari informasi tentang Negara Islam dari gelilyawan yang
sedang mempertahankannya.

Seorang muslim haram menerima informasi sepihak bila suatu


sa’at berhadapan dengan muslim lainnya dalam sebuah kasus.
Apalagi kasus memerangi NII adalah “Kasus Darah” sedangkan
urusan “Darah” adalah urusan pertama yang akan dihisab Alloh
setelah sholat (Al Hadits). Semestinya seorang muslim
merenung,“Mengapa ada saudaranya seagama yang rela mati
membela negara Islam, sedang diri malah merasa tak bersalah
274

memberondong mereka yang berjuang untuk Negara Islam


tadi ??? Mustinya bertanya, “ Mengapa diri berpihak pada
pemerintah yang menolak berlakunya hukum-hukum Islam ???”

Ya, mungkin mendengar dari para pemimpinnya, bahwa


pejuang Negara Islam itu jahat, menyalahgunakan agama demi
kepentingan politik semata, memanipulasi agama dsb dsb. Dari
siapa berita ini keluar ? Dari pemerintah Yang menegakkan
Hukum Alloh, atau dari Penguasa yang sejak pertama
negaranya berdiri sudah mencoret kewajiban menjalankan
hukum Islam ?? Tidakkah mereka tahu bahwa Quran mencap
“Fasiq” terhadap siapa saja yang tidak berhukum dengan apa
yang diturunkan Alloh (S.5:47). Dan bukankah berita dari kaum
Fasiqin tidak boleh diterima mentah mentah, melainkan mesti
diselidiki terlebih dahulu ?!

“Wahai orang orang yang beriman, jika datang kepadamu


orang fasiq yang membawa berita, maka periksalah dengan
teliti berita itu (tabayyunkan pada fihak yang bersangkutan),
agar kamu tidak menimpakan suatu mushibah kepada suatu
kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya, jadilah
kamu menyesal atas perbuatan itu” (S.49:6)

Sikap terburu buru menuruti perintah komandan misalnya,


padahal jelas yang diperangi adalah mereka yang merindukan
tegaknya hukum Alloh, adalah sikap nekad yang berakibat fatal
di akhirat. Perhatikan firman Alloh berikut ini :

“Sesungguhnya orang orang yang ingkar kepada ayat ayat


Alloh (Tidak mau menegakkan hukum Alloh, malah mau saja
diperintah oleh penguasa yang anti tegaknya hukum Islam) dan
275

membunuh para Nabi, tanpa alasan yang benar, dan


membunuh para penegak keadilan ( hukum-hukum Allah),
maka gembirakanlah mereka, bahwa mereka akan menerima
siksa yang pedih !” (S.3:21)

Ingkar terhadap ayat Allah, sama artinya dengan yang tidak


mau menegakkan hukum-hukum Allah, malah mau saja
diperintah oleh penguasa yang anti tegaknya hukum-hukum
Allah.

Dari itulah penulis menyusun Tanya Jawab ini, supaya mata


(penglihatan) yang diberikan Allah digunakan untuk menilai
mana yang “Haq” dan mana yang “Dhool” (Sesat), agar
kiranya tidak terulang lagi kasus ”terpengaruh informasi dari
musuh Islam” seperti tahun 60-an dulu. Dimana banyak
muslimin yang bukannya menyongsong mujahidin, malah
mereka sendiri ikut menentangnya dengan mendukung
pemerintah yang jelas menolak tegaknya hukum-hukum Allah.
Jangan terulang oleh generasi muda Islam yang sekarang dan
akan datang. Dan jangan sampai terjadi mati menganiaya
sendiri (Q.S.4:97), korban perang melawan Negara Islam
Indonesia ! Anda tetap tidak akan lepas dari bertanggung jawab
di Alam Mahsyar jika hukum Islam tidak bisa anda jalankan
secara kaffah !

------------------------------------------------
12. Tanya :
“Apa yang mendasari kita optimis dalam memperjuangkan
NII, meski menghadapi berbagai ujian rintangan, sedangkan
kemenangan de facto ( Futuh ) belum tentu dialami oleh kita,
karena terbatas usia dan kemampuan ?”

Jawab:
Yang menjadi dasar bagi kita optimis, ialah karena yakin
bahwa perjuangan NII ini ialah satu perjuangan yang benar
sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Dengan itu
kita berada didalamnya berarti sudah bisa menjalankan tugas
276

dari Allah, sehingga tidak punya beban di akhirat sa’at dipinta


pertanggungjawaban oleh-Nya tentang kewajiban menjalankan
hukum-hukum Allah.

Jadi, bahwa memperjuangkan NII ini “bukanlah karena”


akan memperoleh kemenangan secara fisik (futuh) dengan
kepastian dialami oleh kehidupan kita sekarang, melainkan
karena keyakinan bahwa hal itu perintah dari Allah (Sesuai
dengan Al-Qur’an dan Sunnah Saw). Sebab, bila tugas sudah
dikerjakan, maka hasilnya diserahkan kepada Allah. Dan kita
peroleh ganjarannya. Jelasnya, yang disebut “optimis” dalam
hal ini ialah bebas dari beban dosa, dan adanya pahala yang
abadi.

Perhatikan yang terjadi pada umat Nabi Nuh a s, mereka


diperintahkan oleh Allah membuat kapal di daratan yang sangat
jauh dari laut. Jika tujuannya cuma supaya bisa menaiki
kapal, mungkin diantara yang paling tua usianya berfikir
bagaimana kalau keburu mati, atau kapan dan dari mana
datangnya air. Kenyatannya pengikut Nabi Nuh a s tidak
demikian. Melainkan, yakin bahwa setiap menjalankan perintah
dari Allah pasti ada jalannya. Cepat atau lambat itu bukan soal.
Sebab, jika kemenangan fisik atau berlayarnya kapal belum
juga tercapai, sedangkan jasad keburu mati dalam menjalankan
perintah Allah, maka itu juga sebagai jalan yakni mati dalam
menjalankan Perintah Allah. Itulah yang disebut “Optimis
(punya harapan)”, yakni “aman” di Hadapan Allah Swt ( Q.
S.6 Al- An aam:82).

Sama halnya dengan umat pada jaman Nabi Saw waktu


jumlah mereka masih sedikit (beberapa orang) tentu menurut
perhitungan di atas kertas, maka jumlah yang berberapa orang
itu tidak akan bisa menguasai Makkah dan Madinah dalam
tempo beberapa tahun. Sebab, selama tiga tahun berjuang baru
menghasilkan tiga puluh lima orang, sedangkan usia Nabi itu
sudah empat puluh tiga tahun. Maka, hitung saja 20 thn dibagi 3
thn = kira-kira 7, kemudian kali (x) 35 = 245 orang. Sedangkan
277

pada waktu jumlah umat muslimin itu baru 35 orang, penduduk


Jajirah Arab sudah dua belas juta orang. Jika selama 20 tahun
tentu bukan sebegitu lagi. Dengan itu tidak dimengerti jika
dalam tempo dua 23 - 3 = 20 tahun akan bisa menguasai
Makkah Dan Madinah.

Akan tetapi, karena “tujuan pokok” bagi umat Nabi Saw


itu mengabdi kepada perintah-perintah Allah, yang memiliki
semua kekuasaan, maka soal akan bisa menguasai atau
tidaknya terhadap Makkah atau Madinah itu soal kedua.
Sebab, seandainya tidak sempat menguasai Makkah dan
Madinah pun, maka tetap mereka memiliki pahala yang besar
dari Allah SWT sehingga optimis. Yang menjadi nilai di
Hadapan Allah SWT bukanlah menangnya, tetapi suksesnya
menghadapi ujian. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Maha suci Allah yang ditangan-Nya segala kerajaan, dan


Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”._ (Q.S.67:1).

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji


kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia
Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”. (Q.S.67:2).

Ayat yang pertama (Q.S.67:1) menerangkan bahwa yang


memiliki segala kekuasaan adalah Allah. Bila dihubungkan
dengan kapan akan menangnya Negara Islam Indonesia secara
dhohir / de facto sehingga hukum Islamnya bisa dijalankan
dengan sempurna, hal itu urusan Allah yang memiliki
Kekuasaan terhadap segala sesuatu. Jadi soal soal kapan
menangnya, atau akan dialami oleh dirinya atau tidak bukanlah
persoalan.

Ayat yang kedua (Q.S.67:2) menerangkan bahwa yang


menjadi nilai bagi pribadi mukmin ialah kelangsungan
mengemban tugas berjihad dijalan Allah, walau terus menerus
menghadapi berbagai ujian. Jika hal itu dikaitkan dengan
278

perjuangan menegakkan Negara Islam Indonesia, maka bagi


para mujahidnya akan tetap “optimis” meski terus
menghadapi berbagai ancaman dari musuh dengan segala
propokasinya. Sebab, dengan itu berarti sudah memperoleh
kemenangan yang hakiki, yakni memperoleh kehidupan dan
kematian dengan ketahanan menghadapi berbagai ujian
akibat menegakkan negara yang didasari hukum-hukum Allah.
Memperoleh ujian dalam menegakkan hukum-hukum Allah
berarti juga memperoleh “nominasi” dari Allah untuk
berlomba menentukan mana yang lebih tahan menghadapi
ujian sehingga dicatat pula mana yang lebih tinggi nilainya.
Bagi yang berjihad menegakkan kedaulatan Islam pasti
menghadapi ujian (Perhatikan Q.S.2 Al-Baqorah:155, 214).
Adapun perumpamaannya, yaitu bisa dimisalkan bila kita
masuk kerja mencangkul tanah kepunyaan konglomerat yang
luasnya ribuan hektar, tentu soal bisa segera diselesaikan atau
tidaknya, bukanlah urusan kita sebagai tukang cangkul,
melainkan urusan konglomerat yang punya modal besar _ Bisa
saja jika konglomerat itu mau segera menyelesaikannya maka
dengan tiba-tiba mendatangkan ribuan tukang cangkul. Jadi,
bagi kita tukang cangkul yang dianggap sedikit ini sehingga
banyak yang tidak mau menjadi teman bekerja, tidak bingung
bagaimana kalau tidak bisa menyelesaikan tanah yang luasnya
sekian ribu hektar yang memang bukan kuasa kita. Sebab, yang
dibutuhkan oleh kita adalah kelangsungan menjadi pekerja dari
konglomerat tanah itu sehingga punya gaji, maka kita bekerja
sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh konglomerat itu.
Dengan demikian “optimis”, punya jaminan darinya. Tentu,
bagi yang kerjanya sedikit asal sesuai dengan peraturan, maka
tetap memperoleh gaji. Akan tetapi walau kerjanya banyak,
namun bila tidak sesuai dengan kehendak konglomerat, maka
bukannya digaji, malah kena “damprat”.

Yang dituntut itu ialah kerjanya. Adapun soal kapan beres,


dan bisa atau tidaknya menyelesaikan tanah yang puluhan ribu
hektar luasnya itu, adalah urusan konglomerat yang punya
kekuasaan. Sungguh tidak tahu diri kalau tukang cangkul yang
279

keluar dari kerjanya, karena berpikir tidak akan bisa


menyelesaikan tanah yang sekian puluh ribu hektar, padahal
dia itu “sekedar tukang cangkul”, sedangkan tanah yang
ribuan hektar itu bukan punya (kuasa) dia. Sebab itu bila
dikaitkan dengan men-de facto-kan kembali N I I maka yang
menjadi nilainya ialah, kelangsungan berjihad walau terus
menghadapi ujian, sehingga sesuai dengan “liyabluwakum
ayyukum ahsanu a’malaa”(Q.S.67:2).

Dengan demikian kesimpulannya bahwa yang menjadi dasar


bagi kita optimis memperjuangkan N I I, karena sesuai dengan
Al- Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw, maka dengan
memperjuangkan kemenangannya berarti menjalankan tugas
mengemban “Hak” sehingga bebas dari beban di akhirat, di
kala diri dipintakan pertanggung jawaban mengenai kewajiban
menjalankan hukum-hukum Allah SWT secara keseluruhan.

------------------------------------------------

13. Tanya :
“Al-Qur’an surat 10 ayat 62 menyebutkan “ Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu. Tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Tapi,
apa sebabnya ada yang sesudah memasuki perjuangan N I I
ini merasa takut, sedangkan sebelumnya tidak takut ?”

Jawab:
Sebelum lanjut menjawab, terlebih dulu penulis kemukakan
satu riwayat dari Umar bin Khattab Ra, bahwasanya Rasulullah
Saw bersabda:”Sesungguhnya sebagian dari hamba Allah
terdapat sekelompok manusia. Mereka itu bukan dari golongan
Nabi, tidak pula dari golongan syuhada, akan tetapi para Nabi
dan syuhada merasa iri atas kedudukan mereka di sisi Allah.
Mereka berkata:’Hai Rasulullah, tolong beri tahu kami
siapakah mereka itu ?’ Beliau berkata: ‘Mereka adalah satu
kaum yang saling mencintai karena Allah, bukan atas dasar
280

hubungan rahim di antara mereka, dan juga bukan karena


uang yang mereka berikan. Maka demi Allah..., sesungguhnya
wajah mereka memancarkan cahaya, cahaya yang sangat
terang. Mereka tidak merasakan takut ketika orang-orang lain
merasa takut, dan mereka tidak merasa khawatir ketika orang
lain merasakan kekhawatiran’. Kemudian beliau membacakan:
‘Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa takut
dan tidak pula merasa khawatir’.(perhatikan Q.10:62)).”

Dengan memperhatikan keterangan di atas itu, diketahui


bahwa pengertian “tidak merasa takut” menunjukkan kepada
kejadian nanti kelak di alam Mahsyar khusus bagi orang-orang
yang digambarkan dalam sabda Nabi Saw, sewaktu Allah
memperlihatkan neraka Jahannam, dan pintu taubat ditutup.
Perhatikan Q.S.89 Al-Fajr:23-25). Mereka tidak merasa takut
karena sudah melihat bukti jaminan tidak akan masuk neraka,
dengan ditandai wajahnya yang memancarkan cahaya yang
sangat terang. Misalkan, dalam sebuah antrian membeli tiket
kereta api untuk mudik lebaran, jika anda sudah memiliki tiket,
maka “merasa senang”, meskipun anda melihat orang lain
bercucuran keringat karena berdesakan serta berebutan.

Sudah menjadi fitrohnya manusia yang masih lemah tertindas,


merasakan takut terhadap pihak yang sedang berkuasa
(perhatikan Q.S.8:26). Nabi Musa juga takut terhadap Fir’aun
(Q.S.26:14). Juga, Dalam surat 3 ayat 28 mukmin takut dalam
arti fisik terhadap pemerintah musyrik, tetapi takutnya itu
membuat kehati-hatian.

Soal perasaan takut dalam arti fisik itu adalah fitroh manusia
yang sedang menghadapi kekuatan musuh yang lebih besar.
sebab itu bagi mukmin merupakan ujian. Perhatikan ayat yang
bunyinya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu,


dengan sedikit ketakutan, kelaparan kekurangan harta, jiwa
281

dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada


orang - orang yang sabar.” _(Q.S.2 Al-Baqorah:155).

Ayat di atas itu ditujukan kepada yang sudah memiliki garis


pemisah dari sistem kepemimpinan yang bathal. Sehingga
terbayang akan adanya konfrontasi fisik dengan kekuatan
musuh. Turun ayat itu pun berkaitan dengan kondisi perang,
dan ayat yang sebelum itu juga menerangkan keadaan orang
yang terbunuh dalam perang mempertahankan Negara yang
menyatakan berlakunya hukum-hukum Islam.

Rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, terancam jiwa,


hal itu dirasakan bilamana dalam situasi berperang, yaitu
berada di front siap baku hantam dengan musuh, bukan waktu
sehari dua hari, tapi bisa berminggu-minggu. Pada waktu
berperang itu, meski yang dirumahnya ada terigu satu kwintal,
korma sekarung, maka yang dimakan adalah ransuman, itu
juga kalau masih tersedia, jika kehabisan maka bisa kelaparan.

Dalam berperang itu tidak bisa berdagang artinya tidak bisa


mencari nafkah, maka terasa tidak akan menambah harta,
malah bisa-bisa mengurangi yang ada. Kesemuanya itu adalah
hal yang ditakuti sebagai fitrahnya manusia. Sedangkan hal itu
bisa terjadi bagi setiap mukmin yang lagi menghadapi musuh,
seperti halnya yang sudah masuk ke dalam kepemimpinan NII
sehingga terbayang bila satu waktu berhadapan secara fisik
dengan kekuatan pemerintah Pancasila sebagai musuh utama
bagi Negara Islam Indonesia. Itulah sebabnya kalau sudah
masuk NII terasa takut, sedangkan sebelumnya tidak takut.
Perhatikan Al-Qur’an surat 8 ayat 26.

“Dan ingatlah ( hai para muhajirin ) ketika kamu masih


berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekkah), kamu
takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah
282

memberi kamu tempat menetap (di Madinah) dan dijadikan-Nya


kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezki
dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.”_(Q.S.8:26).

Perasaan takut adalah wajar, tetapi tidak boleh mendominasi


pada diri, sebab ada lagi yang lebih ditakuti yaitu Allah.
Perhatikan ayat yang bunyinya:

“ Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang


menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya ( orang-orang
musyrik). Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, dan
takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang-orang
mu’min.”--(Q.S.3:175).

Pengertian “janganlah kamu takut kepada mereka”, yaitu


jangan mundur, jangan berhenti dari berjuang karena ditakut-
takuti, sebab ada lagi yang paling ditakuti dari pada manusia
yakni Allah. Jadi, kita maju itu bukan berarti hilang sama sekali
dari rasa takut, melainkan memberanikan diri karena takut
kepada Allah yang mana lebih kita takuti. Supaya lebih
dipaham, ambil saja perumpamaan di bawah ini:

Seandainya anda seorang diri di tengah jalan yang


lebarnya cuma 3 meter, sebelah kiri dan kanannya ada jurang
sedalam 50 meter, sedangkan jika maju ke depan ada ular, bila
mudur ke belakang ada macan. Tentu, yang dipilih yaitu maju
kedepan melawan ular walau ada rasa takut, sebab “risikonya
belum pasti kena”, sekalipun kena juga “belum tentu total”.
Berbeda dengan melawan macan, “tidak ada jalan untuk tidak
kena, tidak ada jalan untuk selamat”. Tentu, maunya anda
ular pun jangan ada, tapi apa boleh buat dari pada melawan
“macan”.

Sama halnya dengan menghadapi ‘setan-setan’ dari jenis


manusia, belum tentu kena risiko, masih bisa dengan
283

menggunakan berbagai taktik, sekalipun kena maka risikonya


belum pasti total, sebab bagaimanapun besarnya bentuk risiko
akibat menghadap manusia, maka tidak akan lebih dari mati !
Hidup dan mati (Q.S.6:62) dalam keadaan membela tegaknya
hukum-hukum Allah secara keseluruhan, berarti sesuai dengan
Sunnah Rasulluh Saw, dan itulah kemenangan yang besar
(perhatikan Q.S.9:111).

Sedangkan yang melawan kepemimpinan Negara Islam


Indonesia, sama dengan “membenci” wahyu yang diturunkan
Allah sehingga putus semua amalnya (Q.S.47:9), dan berarti
zholim melawan Allah, risikonya total yakni dicap “kafir
(Q.S.5:44), “zalim” (Q.S.5:45), “fasik” (Q.S.5:47)”. Bilamana
mati, maka Jahannam bagiannya (Q.S.4:97). Bila melawan
terhadap hukum-hukum Allah, maka tidak ada jalan untuk bisa
menghindar dari siksaan-Nya yang kekal. Seandainya selamat
di dunia dengan segala kesenangannya, tetapi akhirnya juga
masuk kubur dipinta tanggung jawab dari hal mengapa
berani melawan Allah. Apakah menganggap kepada Allah itu
lebih kecil kekuatan siksa-Nya daripada ancaman “kekuatan
Pemerintah pancasila” ( ? )

Rasa takut bagi pejuang N I I yang sedang dalam gerilya


wajar ada, tapi tidak boleh mendominasi diri, sebab jika rasa
takut itu dituruti, tidak dibandingkan dengan rasa takut
kepada Allah SWT, maka akan meruntuhkan nilai ujian.
Sedangkan ujian dan sarananya itu sudah disiapkan oleh Allah
yaitu dengan adanya orang-orang yang anti pengeterapan
hukum-hukum Islam. Lihat petikan ayat di bawah ini:

“...dan apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan


membinasakan mereka (orang-orang kafir, zhalim, fasik). Akan
tetapi, Allah hendak menguji sebagian kamu dengan yang lain.
Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, tidak disia-
siakan amal mereka, ”_(Q.S.47:4).
284

Dari petikan ayat itu dipaham bahwa adanya kekuatan


musuh adalah merupakan “penguji kadar ketaatan”, apakah
mau taat kepada mereka yang membenci hukum Islam atau
mau taat kepada Allah. Bila akan tunduk kepada mereka tentu
tidak akan ada rasa takut oleh musuh, hanya berarti memasa-
bodohkan terhadap hukum-hukum Allah, maka risikonya
berhadapan dengan siksa di Akhirat. Sedangkan jika taat
kepada Allah, maka harus dibuktikan dengan menegakkan
semua hukum Allah, risikonya punya musuh yang mengancam
secara fisik dan pasti ada rasa takut. Mana yang mau dipilih ?

Jelaslah bahwa untuk menjadi Tentara Islam Indonesia ini,


modalnya bukanlah “tidak takut atau takut”, melainkan bahwa
NII ini satu wadah kepemimpinan yang haq bagi umat Islam
sementara di Indonesia ini.

------------------------------------------------
14. Tanya :
“Menurut penelitian, pada dasarnya iktikad sebagian besar
yang mengaku Islam, setuju bilamana di Indonesia ini berlaku
hukum Islam yang berkaitan dengan kenegaraan secara kaffah.
Artinya, hanya pemerintah R I saja yang menjegalnya. Maka,
apa sebabnya yang mengaku Islam itu belum bersatu ?”

Jawab :
Sebelum menyimpulkan jawabannya, terlebih dulu penulis
mengungkapkan analisa mengenai posisi- posisi umat Islam di
Indonesia. Pada dasarnya di muka bumi ini hanya ada dua
jalan (Q.S.90:10), jika tidak ada pada yang Haq berarti pada
jalan yang sesat ( “dholaalah” ). Namun, sesuai dengan
pertanyaan di atas, maka di sini penulis menilainya dari sudut
iktikad atau niat yang ada pada hati masing-masing, yang
mana sudah sekian lama umat Islam terkotak-kotak sehingga
belum ada kesatuan visi untuk satu langkah. Sebab itu secara
umum, untuk sementara ini penulis menganalisanya
berdasarkan kondisi yang saat ditulisnya buku ini NII belum de
285

facto kembali sehingga belum dikenal oleh setiap mu’min


Indonesia. Dengan itu sementara ditulisnya buku ini penulis
mengkategorikan posisi umat Islam Indonesia kedalam enam
bagian :

Posisi Yang Pertama


Pertama, IKD (Islam Kodisi Dikaburkan). Hal tersebut
mengakibatkan “pasip”. Mereka ini memiliki hati yang bersih,
ikhlas, ta’at beribadah sehingga siap menjalankan perintah-
perintah Allah semaksimal kemampuan sesuai dengan ilmu
yang sudah mereka ketahuinya. Mereka setuju bila seluruh
hukum Islam itu berlaku, hanya tidak tahu jalan harus
bagaimana caranya. Sebab, yang mereka tahu dan dijadikan
rujukan hanyalah kenyataan yang ada sehingga merasa cukup
dengan jenis kegiatan yang terlihat biasa.

Umumnya mereka itu mengukur keikhlasan orang lain


dengan keikhlasan dirinya sendiri. Sehingga percaya bahwa asal
saja tokoh atau penguasa yang ngaku Islam di anggapnya tidak
memusuhi Islam. Sehingga apa saja yang diomongkan oleh
yang menjadi idolanya berpredikat tokoh Islam, itu pula yang
dijadikan pegangannya. Mereka tidak tahu ukuran mana kawan
dan mana lawan apalagi musuh Islam. Tahunya cuma taat pada
penguasa sebab penguasa juga dianggap sudah Islam. Dengan
demikian mereka mudah dikaburkan dari pengertian Islam yang
sesungguhnya oleh para penguasa atau oleh para ulama yang
menjadi alat penguasa, sehingga pasip tidak mencari
pergerakan Islam, merasa cukup dengan menyerah kepada
keadaan. Itulah sebabnya disebut “I K D”. Kepasippan mereka
hanya karena dikaburkan, risalah yang hak pun belum sampai
sehingga masih dalam kegelapan.

Namun, bilamana suatu waktu risalah kebenaran itu sudah


sampai kepada mereka, dan masih juga tidak merubah sikap,
maka kegelapan itu akan menjadi kesesatan bagi diri mereka.
Dan bisa jadi sebagaimana orang-orang yang keadaannya
menganiaya diri sendiri ( Q.S.4 An Nisa:97).
286

Posisi Yang Kedua


Kedua, I P I ( Islam Pola Ideal ) yang mengakibatkan
kompromi. Yang pertama (IKD) pun sama kompromi hanya
diam. Sedangkan yang kedua ini tidak tinggal diam, melainkan
berusaha mencari wadah perjuangan dan memilihnya sesuai
dengan “ideal” atau pemikirannya, bila perlu membentuknya
yang baru. Disebabkan pilihan dasarnya ialah ideal, maka jelas
wadah itu masih dalam sistem Pemerintah RI. Tentu, mereka
yang masuk kedalam wadah-wadah yang mengatas-namakan
Islam yang dilegalisir oleh Pemerintah RI itu macam-macam
tujuan dan motivasinya. Namun, secara keseluruhan
menggunakan pola ideal.

Perjuangan “pola ideal” adalah turunan dari cara yang


dilakukan oleh yang tidak setuju dengan keputusan kongres
Partai Syarikat Islam Indonesia tahun 1934. Mereka bekerja
sama dengan partai-partai selain Islam mengharap kemerdekaan
yang tanpa berdirinya Negara Islam Indonesia, setelah itu
secara pelan-pelan diganti oleh Islam.

Pada awal diprolamirkannya NII, 7 Agustus 1949, mereka


yang berpola ideal itu memihak kepada RIS daripada NII ,
sebab RIS itu didukung oleh Belanda dan negara-negara Barat
untuk menandingi NII, sehingga RIS itu memiliki kekuatan
yang lebih jauh dari pada NII. Yang berpola ideal itu memihak
kemana yang dianggap lebih kuat. Perhatikan Ayat yang
bunyinya:

“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir


menjadi teman penolong dengan meninggalkan orang-orang
mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir
itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” _
(Q.S.4 An Nisa:139).
287

Pola pikir ideal dalam hal ini, yaitu yang berjuang menurut
cara yang dianggap ideal bagi dirinya. Dalam perjuangannya
itu, berpikir mana yang enak, tidak ada risiko ancaman fisik
dari musuh, bahkan dengan cara itu sebagiannya memperoleh
imbalan gaji atau tunjangan lainnya dari pemerintah yang
menjegal perjuangan tegaknya Daulah Islamiyyah. Tegasnya,
bahwa perjuangan dengan pola ideal itu dalam bentuk
kompromi. Sehingga terjadi interaksi antara mereka dengan
aparatur pemerintah R I.

Jelasnya, bawa perjuangan pola ideal itu ialah berjuang, tapi


menurut cara yang dianggap enaknya. Perhatikan ayat yang
bunyinya:

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan


yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh,
pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu
amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan
(nama) Allah:”Jika kami sanggup tentulah kami berangkat
bersamamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri ; dan
Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar
orang yang berdusta.”_(Q.S.9 At-Taubah:42).

Secara umum bahwa yang memasuki posisi kedua ini ialah


karena berpola ideal, mencari enaknya, tetapi secara khusus
banyak juga yang memasuki posisi kedua ini, didasari ijtihad
yang diperolehnya, karena belum mengetahui atau belum
memahami cara perjuangan yang sesungguhnya menurut Islam.
Niat dan Iktikadnya ikhlas untuk membela Islam sesuai dengan
wawasan yang diperolehnya sementara belum mengetahui yang
lainnya yang lebih dimengerti olehnya, hal itu suatu yang dapat
dimaklumi. Tentu, apabila suatu waktu datang wawasan
keilmuan mengenai pemisahan antara haq dan bathil, maka
dengan keikhlasannya itu akan segera menentukan sikapnya.
288

Tetapi, jika masih tetap saja begitu, tidak komitmen kepada


yang hak maka persoalannya bukan lagi keihlasan, melainkan
bisa terbawa kepada “Kamaa kafaruu fatakuunuuna sawaa-
an.”(Q.S.4:89).

Posisi yang Ketiga


Ketiga, I P K ( Islam Pola Kepuasan ), mengakibatkan
“Emosi Temporer ( ET )”. Mereka yang ada dalam posisi IPK
ada sebagiannya yang berkeinginan untuk menegakkan hukum
Islam secara keseluruhan di bumi nusantara Indonesia ini.
Mereka tidak mau seperti I K D yang berdiam diri menyerah
kepada keadaan dengan mengandalkan tokoh-tokoh yang “ yes
men” kepada pemerintah R I. Juga, tidak mau seperti I P I
yang kegiatannya terikat resmi tercatat dalam birokrasi. Sebab
itu umumnya mereka tidak percaya terhadap IPI yang dianggap
selalu kompromi dengan pemerintah R I.

Jelasnya, kegiatan I P K itu berdiri di luar organisasi yang


resmi. Mereka tidak memiliki kepemimpinan yang resmi,
umumnya merasa belum punya pemimpin. Pertemuan antara
mereka atas dasar kesetiakawanan, artinya bukan atas dasar
tugas dari pimpinan, karena itu kegiatan mereka pun informal
dan insidental, yang umumnya sebatas informasi dan diskusi.

Walaupun kegiatan mereka itu tidak resmi, juga tidak jelas


posisi struktur kepemimpinannya, dalam arti sama, tidak ada
bawahan dan atasan,dan tidak terdaftar dalam agenda birokrasi,
namun I P K itu tetap berada dalam sistem pemerintah R I,
sama halnya dengan IKD dan I PI. Adapun bedanya, I P K ini
merasa “tidak puas” dengan sikap-sikap dari pemerintah RI
yang dianggapnya tidak sesuai dengan norma-norma agama
Islam. Misalnya, dekadensi moral, hak azasi, kolusi dalam
birokrasi, azas tunggal, demokrasi yang tidak murni dsb.

Mereka mengira bahwa hukum Islam bisa diberlakukan di


Indonesia, tanpa penggantian sistem negara, dan mengira pula
bahwa pemerintah R I juga bisa mematuhi kehendak umat Islam
289

bilamana umat Islam mengajukan tuntutannya. Sebab itu


aktifitas yang menonjol dalam I P K itu ialah menggerakkan
masa untuk mengambil perhatian penguasa agar mengabulkan
tuntutannya. Disebabkan gerakan masa itu hanya sekedar protes
sewaktu-waktu, dan tidak di bawah komando struktur yang riil,
melainkan hanya didasari spontanitas, maka kelanjutannya pun
hanya merupakan “emosi temporer”. Sebab, masa yang
digerakkannya pun umumnya ialah masa yang terbakar hasutan-
hasutan secara spontanitas.

IPK ini masih dalam sistem pemerintah R I. Adapun mereka


mengadakan gerakan fisik seperti halnya demontransi, unjuk
rasa, atau lebih dari itu membuat kerusuhan, semuanya cuma
merupakan temporer. Hal demikian bisa dimisalkan kepada
seorang anak yang sedang “ngambek” karena ayahnya tidak
mengabulkan tuntutannya, maka si anaknya itu pergi dari
rumah ayahnya, untuk sementara tinggal di rumah pamannya,
sambil mengunjukkan aksinya dengan mengungkapkan macam-
macam perkataan sebagai rasa ketidakpuasannya supaya
menarik perhatian ayahnya.

Dengan aksi anaknya itu, bagi orang tuanya ada dua


kemungkinan, yakni mungkin mengabulkan, tapi mungkin juga
menolaknya tergantung situasinya. Seandainya tuntutan itu
dikabulkan, maka si anak itu akan segera kembali ke rumah
orang tuanya, tetapi sekalipun tuntutannya ditolak, maka pada
akhirnya juga si anak itu tetap kembali kerumah ayahnya, cuma
datangnya pelan-pelan, tidak segera berseri-seri. Tetapi, lama-
lama seperti biasa lagi bersama ayahnya. Sesudah itu bila ada
lagi keinginnan atau persoalan, terjadi lagi “ngambek” yang
seperti kebiasaannya yaitu “pergi” dan “kembali”.

Begitu pula I P K ( Islam Pola Kepuasan), yang merasa


berjuang yang katanya sebagai “presser group” terhadap
pemerintah RI akhirnya tetap saja seperti begitu, merupakan
“emosi temporer”, karena dalam sistem yang sama. Walaupun
terlihatnya keras, namun tindakannya itu hanya sekedar
290

“ngambek”, yang tidak lepas dari sistem pemerintah RI.


Dengan demikian IPK itu nilainya sama dengan I KD, dan IPI,
yaitu ” yang mengambil golongan kafir sebagai pemimpin
(lihat Q.S.4 An-Nisa 139).

Dari yang emosi temporer itu ada kalanya yang berlebihan


dengan seolah- olah ingin berperang, tetapi jika disodorkan
kepada berperang yang sebenarnya dibawah komando Daulah
Islamiyyah maka menghindar dengan mencari-cari alasan
(perhatikan Q. S.4 An-Nisa:77 ).

Apabila yang mereka lakukan itu, karena masih dalam


kegelapan (ketidaktahuan) mengenai jalan perjuangan yang
sebenarnya menurut Islam, artinya belum sampai kepada
mereka risalah kebenaran Negara Islam Indonesia, maka secara
iktikad dan niat mereka dapat dimaklumi. Akan tetapi, jika
kepada mereka itu sudah datang “bayyinah”(penjelasan)
mengenai Kebenaran N I I, tetapi masih saja mereka memihak
Pemerintah R I, maka keadaan mereka sama halnya “kamaa
kafaruu fatakuunuuna sawaa-an”(Q.S4:89). Atau bisa menjadi
zhaalimii anfusihim (Q.S.4:94).

Posisi yang Keempat


Keempat, I.T.S.L.A. ( Islam Tujuan Sistem Lepas Aturan ),
mengakibatkan B.P.(Banyak Pimpinan). Menyebutnya “sistem”
karena mengatas-namakan NII (Negara Islam Indonesia),
proklamasi 7Agustus 1949 yang mana N I I itu merupakan
“sistem”. Adapun disebut “lepas aturan”, karena mereka
menamakan dirinya NII, tetapi melepaskan aturannya. Artinya,
tidak didasari undang-undang, seperti halnya mengenai
pengangkatan pemimpin tertingginya. Pengangkatan pemimpin
yang tidak berdasarkan undang-undang, yakni tidak sesuai
dengan yang tercantum dalam Kanun Asasy dan PDB (Pedoman
Darma Bhakti), maka mengakibatkan banyak pemimpin. Sebab,
tanpa undang-undang, berarti siapa pun boleh merasa berhak
diangkat dan mengangkat. Sebab itu tidak aneh bila dalam
kondisi masih banyak yang tidak tahu aturan atau sengaja tidak
291

mau pakai peraturan, banyak yang masih binggung mengenai


mana pemimpin N I I yang sesungguhnya. Sebab itu pula posisi
mereka disebut “ ITSLA”.

Sebenarnya, yang namanya negara pasti memakai peraturan


negara, artinya kalau NII tidak pakai peraturannya, maka bukan
NII dan bukan merupakan sistem. Namun, disebabkan secara
umum mereka itu tetap mengakukan “sistem” dan tetap
mengaku N I I, tidak mau kalau tidak disebut N I I atau sistem,
maka penulis menyebutnya ITSLA (Islam Tujuan Sistem Lepas
Aturan). Yakni, sistemnya “baru dalam tujuan”, belum
merupakan sistem yang sebenarnya, karena lepas dari aturan.

Biasanya jika pemunculan pemimpin tidak didasari undang-


undang, maka dasar pengangkatannya itu bisa ditentukan oleh
bermacam-macam versi yang sesuai dengan kehendak masing-
masing, sepertinya hubungan kekeluargaan, keakraban,
ekonomi, jasa, nilai prestasi dan sebagainya, sehingga lain
orang: lain pula penilaiannya serta kehendaknya. Sehingga
tejadi banyak kelompok dan jalur, karena rujukannya ialah
“kehendak”, sedangkan kehendak itu tidak ada batasannya,
bisa berobah robah, tergantung masing-masing orangnya.
Maka, akan terus saja menunggu-nunggu musyawarah, walau
sudah berkali-kali musyawarah, sebab musyawarahnya juga
tidak didasari undang-undang. Ya, kalau musyarah tidak
didasari undang-undang, maka siapa juga bisa. Dan yang
merasa tidak ikut musyawarah bikin lagi musyawarah, dengan
alasan dulu tidak tahu, tidak diajak, dan tidak setuju, atau
macam-macam alasan.

Ditinjau dari sudut dan iktikad secara umum ITSLA itu untuk
menegakkan NII. Akan tetapi, karena kemunculannya diawali
oleh pengangkatan tanpa peraturan NII, yang mana tidak semua
orang tahu akan aturan serta sejarah dan nilai hukum bagi tokoh
tokoh N I I yang sudah menyerah kepada musuh, maka ITSLA
itu tidak akan bisa menjadi NII yang sebenarnya, tanpa kembali
kepada Kanun Azasy dan PDB.
292

Untuk kembali kepada undang-undang NII akan sulit, jika


tidak didasari hati yang ikhlas karena Allah, sebab tidak semua
yang kedatangan yang haq lalu menerimanya, melainkan ada
yang menolaknya, karena sudah merasa cukup dengan ilmu
yang ada pada mereka. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang


diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-
keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang
ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang
selalu mereka perolok-olokkan.”_(Q.S.40 Al-Mu’min).

Akan tetapi, bagi yang hatinya ikhlas karena Allah, tentu


begitu datang bayyinah, maka segera menyambutnya, sebab
ingat kepada peringatan dari Allah SWT yang bunyi-Nya:

“Belumkah datang waktunya bagi orang -orang yang


beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan
kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan
supaya mereka jangan seperti orang-orang yang sebelumnya
telah diturunkan Al-Kitab kepada mereka kemudian berlalulah
masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi
keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang
fasik.” (Q.S.57 Al-Hadiid:16 )

Posisi yang Kelima


Kelima, I.S.P.A. ( Islam Sistem Pakai Aturan), menghasilkan
pola “Tauhid” sehingga satu N I I satu pimpinan. Disebut
“sistem” karena berpijak pada Proklamasi Negara Islam
Indonesia, Proklamasi 7 Agustus 1949, yang mana NII itu
merupakan sistem. Disebut “pakai Aturan”, karena dasar
pengangkatan pemimpinnya merujuk kepada peraturan yang
293

tercantum dalam Undang- Undang N I I yaitu Qanun Azasy dan


PDB (Pedoman Darma Bhakti) yang merupakan Maklumat-
Maklumat Komandemen Tertinggi, yang diantaranya MKT
No:11 tahun 1959.

Disebut “pola tauhid”, karena pola perjuangannya bukan


didasari ketidakkepuasan, bukan pola ideal, dan bukan juga
kehendak yang tanpa peraturan. Pengangkatan pemimpin/
Imamnya, bukan karena pandangan ekonomi, jasa, turunan,
kekeluargaan, kesenioran dan sebagainya, melainkan didasari
oleh nilai hukum “peraturan / perundang-undangan“ sehingga
bersatu. Jelasnya, bahwa disebut “pola tauhid” karena
berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Saw serta Undang-Undang
NII. Rasulullah Saw membentuk negara (pemerintahan Islam di
Madinah), membuat pula undang-undangnya. Dan ummat
diwajibkan mentaatinya.

Posisi yang Keenam


Keenam, I.S.B.R. (Islam Sistem Baru Rencana), yang
akibatnya “belum jadi”. Disebut “sistem” karena ingin
membuat sistem dari yang sudah ada. Jadi, mereka juga ingin
memisahkan diri dari sistem Pemerintah RI. Adapun disebut “B
R”(baru rencana), karena secara hukum tidak memiliki sistem,
hanya baru merencanakan. Sedangkan yang namanya baru
rencana, berarti belum ada. Dengan demikian bila diri keburu
mati, maka masih terlibat kepada pengeterapan hukum-hukum
kafir. Mereka yang posisinya di ISBR ingin menjalankan
hukum-hukum Islam secara kaffah, tetapi tidak mau dengan
nama NII, melainkan dengan nama lain. Artinya, tidak merujuk
kepada NII Proklamasi 7 Agustu 1949.

Sebenarnya kalau untuk di “luar Indonesia”, memang harus


merencanakan tegaknya Daulat Islam tidak usah merujuk
kepada NII, artinya kalau bukan di wilayah yang sudah
diadakan Daulah Islamiyyah. Sedangkan di Indonesia ini sudah
diadakan Daulah Islamiyyah, yakni NII, pada tanggal 7
Agustus 1949 yang estapeta kepemimpinnannya juga terus
294

berlangsung sesuai dengan perundang-undangannya. Jadi,


apabila ada lagi yang mengadakan selain itu, maka berarti
“Bhughot”, dalam arti pemberontak terhadap N I I, proklamasi
7 Agustus 1949.

Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949 sudah jelas sebagai


wadah penegak hukum-hukum Allah di Indonesia, sudah
dibuktikan bukan saja oleh undang-undangnya, melainkan juga
oleh prakteknya di beberapa daerah yang pernah dikuasai secara
de facto. Sehingga N I I itu bukan merupakan rencana,
melainkan sebagai negara (wadah ulil amri) yang sudah jadi.
Sehingga pula merupakan bukti kebenaran (haq) yang wajib
bagi ummat Islam Indonesia menjadi warganya. Sebab, jika
tidak mengikuti kebenaran yang sudah ada, berarti posisi diri
sedang menolak kebenaran, dan dengan itu terlibat dalam
batil. Perhatikan petikan hadits yang bunyinya:

“Dan siapa yang berbai’at pada suatu imam, yang telah


menyanggupkan taatnya dan setia hatinya, harus ta’at jika
dapat. Maka jika datang lain orang akan merebut
kekuasaannya penggal leher orang yang merebut itu.” (HR.
Muslim).

Bagi yang memiliki iktikad / niat hati yang ikhlas guna


menegakkan hukum-hukum Islam, sedang posisinya masih
berada pada ISBR, karena belum mengetahui risalah penjelasan
kebenaran N I I, proklamasi 7 Agustus 1949 adalah dimaklumi.
Akan tetapi, bila suatu waktu datang kebenaran NII dengan
segala penjelasannya, sedang dirinya masih saja di ISBR dan
tidak mau beralih kepada NII, maka termasuk kepada yang
disebutkan dalam ayat Al Qur’an yang bunyi:
295

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang


beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan
kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan
supaya mereka jangan seperti orang-orang yang sebelumnya
telah diturunkan Al Kitab kepada mereka kemudian berlalulah
masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi
keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang
yang fasik.”_(Q.S.57Al Hadiid:16).

----------------------------------------------------------------------

15. Tanya :
“Bisakah duduk dalam pemerintahan R I itu sebagai siasat,
karena di dalam hati menolak ?”

Jawab:
Menjawab pertanyaan di atas itu kita perhatikan ayat yang
berkaitan dengan siasat yang bunyinya:

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang


kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang
mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya ia lepas dari
pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari
sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan
kamu dari siksa-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”_
(Q.S.3 Ali ‘Imran:28).

“Katakanlah:”Jika kamu menyembunyikan apa yang ada


dalam hatimu atau kamu melahirkannya, Allah mengetahuinya.
Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bunmi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.”_Q.S.3
Ali ‘Imran:29).
296

Pengertian dari ayat di atas tadi( Q.S.3:28) menerangkan


tentang dibolehkannya kita mengakui kepemimpinan orang-
orang kafir, bilamana pengakuan itu didasari oleh keadaan
terpaksa, atau rasa takut yang benar-benar tak dapat dielakkan
karena tidak ada jalan keluar darinya, atau karena siasat dan
perintah dari pemimpin (ulil amri) kita. Tentu pengakuan itu
hanya pada batas lahir, tidak sampai ke hati. Sebab,
sebelumnya sudah berbaiat kepada Ulil Amri Islam, untuk kita
ini yakni kepemimpinan Negara Islam Indonesia.

Pengertian ayat selanjutnya (Q.S.3:29), menjelaskan apa


yang sebenarnya disembunyikan dalam hati orang-orang
mu’min, yaitu “menolak” terhadap kepemimpinan orang-orang
kafir. Juga, menerangkan bahwa apa yang “didhohirkan”,
yakni menerima kepemimpinan musuh itu; apakah benar-benar
terpaksa atau tidak, maka kedua hal itu diketahui Allah.
Artinya, jika memang sungguh terpaksa, maka akan diampuni
Allah. Akan tetapi, bakal menjadi dosa bila menerimanya atas
dasar sesungguhnya, dalam arti tidak dalam keadaan terpaksa.

Arti “kafir”, menurut bahasa yaitu menutup. Dalam istilah


agama yaitu menutup atau menolak kebenaran yang datangnya
dari Allah SWT. Jadi, disebut kafir itu tidak berarti yang
menolak Islam secara keseluruhan saja, melainkan yang
menerima sebagian dan menolak sebagian (Q.S.4:150-151) pun
mereka kafir yang sebenarnya. Begitu juga yang tidak
menghukum dengan hukum Allah ( Q.S.5:44 ) mereka juga
kafir.

Pemerintah RI jelas menolak berlakunya hukum-hukum Allah,


dan berarti merupakan wadah kepemimpinan yang kafir
terhadap hukum-hukum Allah. Dengan itu jelas sekali sebagai
mu’min harus lepas (baro’ah) darinya. Namun, jika keadaan
terpaksa, karena siasat maka dibolehkan. Hanya, dalam hal ini
harus paham mengenai apa yang disebut “terpaksa” atau
“siasat”. Kata “terpaksa” atau “siasat” mengandung unsur
menerima atau melakukan, tetapi menolak dalam hati.
297

Siasat itu bermakna “tidak sesungguhnya”, artinya sikap


‘menerima’ kepemimpinan Kuffar itu hanyalah sekedar
terpaksa, yakni tidak sesungguhnya . Dikatakan”, “tidak
sesungguhnya” sebab sudah ada “yang sebenarnya” yakni
kepemimpinan mukminin yang dia terima sepenuh hati. Bila ada
orang yang berdalih bahwa keberfihakkannya pada kekuasaan
Darul Kuffar adalah siasat, sedang pada sa’at yang sama ia
tidak berada di bawah komando mukminin, maka hal demikian
tidak memenuhi syarat siasat ! Tetapi “memang begitulah
adanya”, dia hidup di bawah naungan Darul Kuffar !

Hal demikian bisa dimisalkan kepada seseorang yang


berkata kepada penjahat bahwa dirinya tidak punya uang sambil
menunjukkan isi saku kirinya, padahal didalam saku
rahasianya ada uang, maka mengatakan tidak punya uang itu
adalah siasat. Akan tetapi, bila memang didalam saku
rahasianya juga tidak didapat uang, maka itu bukan siasat,
melainkan sebenar tidak punya uang.

Didalam Sunnah Nabi Saw setelah ditandatangani perjanjian


damai (gencatan senjata), banyak yang melakukan siasat yaitu
dhohirnya menghadap ke penguasa Quraiys Makah, tetapi
hatinya komitmen kepada pemerintahan Islam di Madinah. Dari
sunnah itu disimpulkan bisa duduk di pemerintahan RI sebagai
siasat bila dengan syarat komitmen kepada NII, dalam arti
duduknya itu demi keselamatan dan kelangsungan perjuangan
NII sehingga dalam hal itu lebih menguntungkan NII daripada
Pemerintah RI.
--------------------------------------------
16. Tanya :
“Bagaimana menurut sunnahnya, wajib komitmen (berbaiat)
kepada pemimpin negara / pemerintah yang haq meskipun hal
itu berada di wilayah yang dikuasai musuh ?”

Jawab :
298

Komitmen kepada kepemimpinan yang haq itu wajib, meski


berada di wilayah yang dikuasai pemerintahan musyrik.
Contohnya, Nabi Ibrahim, Nabi Zakaria, dan Nabi Musa,
mereka dikejar-kejar oleh penguasa musyrik karena berada di
wilayah pengusa musyrik. Kita mesti berada pada posisi yang
haq dan syarat untuk itu harus berjihad menegakkannya.
Sedangkan syarat berjihad guna menegakkannya itu ialah
didahului dengan komitmen atau berbaiat (berjanji) untuk taat
kepada kepemimpinannya.

Ingat ! kalau untuk berbaiat itu menunggu dulu kepemimpinan


yang haq itu berkuasa sehingga memiliki wilayah de facto
(futuh), maka hal itu bukanlah berjihad, melainkan “cuma
menunggu hasil”. Dan hal sedemikian (menunggu hasil) tidak
didapat dalam Qur’an dan Sunnah. Bahkan sangat terhina !!!

Sewaktu Nabi Saw masih di Makkah semua ummatnya berada


di wilayah yang dikuasai Abu Jahal, mereka tidak berbaiat
kepada Abu Jahal. Begitu juga yang berada di negeri Habsyi,
tidak berbaiat kepada penguasa Habsyi. Ikatan berbaiatnya tetap
berlanjut walau Nabi tidak di negeri Habsyi.

Kewajiban berbaiat kepada kepemimpinan yang haq tidak


mesti berada di wilayah de facto yang Haq. Buktinya, setelah
ditanda-tangani Perjanjian Damai Hudaibiyah, pada akhir tahun
kelima hijriyah, ada sekumpulan muslimin yang berada di
wilayah kekuasaan pemerintah musyrik. Pada waktu itu Abu
Abbas yang ditugaskan oleh Rasulullah Saw mengawasi kota
Makah. Dari hari ke hari secara diam-diam jumlah mereka
semakin bertambah. Bisanya hal itu diketahui, karena secara
rahasia datang berbaiat masuk Islam diorganisir secara rahasia
oleh yang ditugaskan di kota Makkah, karena mereka tidak
boleh menuju Madinah. Abu Abbas sendiri tidak diketahui oleh
penguasa Makah telah mengorganisir gerakan muslimin secara
tersembunyi di wilayah Makah.
299

Mereka secara tersembunyi menyusun kekuatan, maka yang


takut ketahuan oleh penguasa, lalu melarikan diri. Bagi yang
bisa lolos tidak tertangkap, mereka berdiam diri di sebuah
dusun yang bernama ‘ies, suatu daerah di tepi laut terletak
antara Makah dan Madinah. Menurut perjanjian Hudaibiyah
orang-orang Quraisy yang masuk Islam tidak boleh ke Madinah,
sehingga menjelang Fathu Makah, jumlah mereka yang lari dari
Makah sebanyak tiga ratus orang. Belum lagi yang tinggal di
Makah bersama Abu Abbas.

Hal demikian terjadi pada jaman Rasulullah Saw, berarti


merupakan Sunnah Nabi Saw yang dijadikan dasar perjuangan
bagi umat Islam dewasa ini. Banyak ayat yang melarang kita
mengangkat pemimpin dari golongan yang anti hukum-hukum
Allah. Dengan itu berarti kita dituntut komitmen kepada
pemimpin yang haq. Bila tidak demikian berarti dalam posisi
“Dholaalah (sesat)”.
--------------------------------------------------------
17. Tanya :
“Apa yang menjadi dasar hukum bahwa kepemimpinan NII,
7 Agustus 1949 adalah satu-satunya yang haq bagi umat Islam
Indonesia ?”

Jawab :
Lembaga kepemimpinan umat Islam Indonesisa PSI I (Partai
Syarikat Islam Indonesia), pada tahun 1934 sudah mengadakan
kongres. Dalam Program Azas menetapkan tujuan perjuangan
Partai Syarikat Islam Indonesia menegakkan Negara Islam
Indonesia yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.
Pada waktu itu ditetapkan pola hijrah fisik. Pada tahun 1935
Agus Salim mengajukan pencabutan prinsip hijrah. Maka, pada
tahun 1936 diadakan kongres XXII (Juli), pecah, yang satu
mengatas-namakan P S I I penyadar ; yang satu lagi tetap
sebagai P S I I dengan sistem hijrah fisik.

Selanjutnya pada tahun 1939, P S I I hijrah fisik itu pecah


lagi. Yang satu menjadi P S I I Gapi (gabungan partai Islam)
300

dengan istilah hijrah batin saja. Yang satu tetap sebagai P S I I


berprinsip hijrah fisik.

Kemudian P S I I berprinsip hijrah fisik itu mendirikan


Institut Suffah di Malangbong Jawa Barat sebagai pengkaderan
bagi perjuangan fisik guna melaksanakan program azas waktu
kongres tahun 1934. Waktu penjajahan Jepang dalam Perang
Asia Timur Raya menghadapi Inggeris dan Amerika, waktu itu
Jepang menguasai beberapa negeri seperti Korea, Kamboja,
Birma dan lainnya yang digempur. Dalam keadaan itu Jepang
memberi kesempatan melatih para pemuda Indonesia.
Kesempatan demikian dipergunakan oleh Institut Suffah yang
dianggap oleh Jepang untuk kepentingan Jepang. Dengan
demikian Institut Suffah berhasil melatih para siswanya,
sehingga terbentuklah Tentara Sabiilillah dibawah komando
PSII hijrah fisik. P S I I hijrah tetap bukan Masyumi, tetapi
memanfaatkan wadah Masyumi yang direstui Jepang. Dengan
itu S M Kartosuwirjo menjadi ketua Masyumi Jawa Barat.

Sesuai dengan Kongres 1934 bertujuan mendirikan Negara


Islam Indonesia yang berdasarkan Qur’an dan Sunnah, maka
juli 1945 S M Kartosuwirjo mengusulkan kepada pimpinan
pusat Masyumi untuk mendirikan N I I, Masyumi menolaknya.

Akan tetapi, terhadap Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus


1945 yang diprakasai oleh golongan Nasionalis sekuler yang
ditanda-tanganioleh Sukarno dan Hatta, Masyumi merestuinya.
Bisa jadi mereka (Masyumi) menolak usulan dari Kartosuwirjo,
kemudian merestui Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus
1945, karena percaya kepada pihak nasionalis sekuler yang
telah menanda-tangani perjanjian tertulis “Piagam Jakarta”
yang didalamnya dicantumkan delapan kata yaitu “...dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-
pemeluknya.”

Dengan proklamasi tersebut di atas, maka tidak ada harapan


lagi bagi umat Islam yang akan memproklamasikan Negara
301

Islam Indonesia. Satu-satunya yang masih bisa diharapkan bagi


pihak Islam ialah dibuktikannya Piagam Jakata. Namun,
kenyataannya malah sebaliknya dari itu, yakni sehari sesudah
Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, delapan kata yang
tercantum dalam Piagam Jakarta itu dihapus ! Sehingga
lahirnya Republik Indonesia diawali dengan penghapusan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
!

Bisa saja beberapa alasan dimunculkan, tapi yang jelas ialah


karena umat Islam itu sendiri sudah terpisah dari sejarah
perjuangan Rasulullah sehingga rela ikut merestui /
mengangkat orang-orang yang berjiwa sekuler sebagai
pimpinan negara. Yang akhirnya begitu sehari sesudah
berkuasa, kaum sekuler itu segera menghapus perjanjiannya --
Rupanya umat Islam Indonesia sebelumnya tidak sadar bahwa
tanda tangan kaum nasionalis sekuler dalam Piagam Jakarta
itu sebagai usaha penipuan !

Jadi, sejak 18 Agustus 1945 atau satu hari sesudah


proklamasi sudah tidak ada lagi wadah perjuangan untuk
menegakkan yang haq. Piagam Jakarta yang tadinya oleh umat
Islam dianggap sebagai “jembatan emas”, ternyata dikhianati
oleh para pemimpin nasional sekuler alias kaum pendidikan
Barat.

Oleh karena itulah, sewaktu sebagian laskar Hizbullah di


Jawa Barat melebur menjadi T N I (Tentara Nasional
Indonesia), maka sebagian besar laskar Sabiilillah tidak mau
menjadi TNI. Adalah wajar bila lasykar Sabiilillah (kader
Suffah) tidak mau melebur menjadi T N I, karena
kekhawartiran terlepas dari tujuan membela tegaknya hukum-
hukum Islam, yang mana TNI itu ialah tentara R I, sedangkan
R I ( Republik Indonesia ) itu yang sudah menghapus kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya !
302

Dengan demikian,“lantas bagaimana cita-cita umat Islam


Indonesia untuk selanjutnya ?” Tentu, terus mengadakan
pengkaderan sambil berdo’a kepada Allah hingga memberikan
Karunia-Nya agar jalan untuk menegakkan hukum-hukum-Nya
tidak buntu.

Kaum nasionalis sekuler yang telah mengingkari janji dengan


mencoret delapan kata tersebut di atas tadi, kena balasan
‘Hukum Karma’ dengan dua kejadian ingkar janji oleh pihak
Belanda, sebagaimana di bawah ini:

1). Perjanjian Linggarjati, 15 Maret 1947, Pemerintah R I


mengakui berdirinya NIS (Negara Indonesia Serikat) yang
wilayahnya Borneo (Kalimantan) dan Timur Besar, sehingga
wilayah R I tinggal Sumatra, Jawa dan Madura. Meskipun
dengan perjanjian itu jelas R I kalah, namun diingkari oleh
Belanda dengan serangan (agresi ) Belanda ke-I, 21 Juli 1947,
sebelum sampai ke Yogyakarta distop oleh PBB.

2). Akibat dari Agresi Belanda ke I itu terjadilah Perjanjian


Renville ke I , 17 Januari 1948 yang isinya antara lain:

* Pemerintah R I harus mengakui kedaulatan Belanda atas


Hindia Belanda seluruhnya, sampai batas yang ditentukan oleh
Belanda untuk menyelenggarakan kedaulatan ini kepada Negara
Indonesia Serikat.

* Dalam waktu tidak kurang dari 6 bulan, dan tidak lebih dari
satu tahun sesudah ditandatangani, maka di berbagai daerah di
Jawa, Sumatra dan Madura akan diadakan pemungutan suara,
untuk menentukan apakah di daerah-daerah tersebut akan turut
dalam Republik Indonesia atau masuk di bagian lain di dalam
lingkungan Negara Indonesia Serikat.

Peristiwa itu menyebabkan pada tanggal 10 - 11 Pebruari


1948 S M Kartosuwirjo mengadakan konferensi di Cisayong
kab. Tasikmalaya, antara para tokoh Islam, ulama dan
303

organisasi Islam antara lain: Masyumi, GPII, Hizbullah dan


Sabilillah. Dalam konferensi itu diputuskan antara lain:

* Membubarkan Masyumi wilayah Jawa barat.


* Membentuk Majlis Islam sebagai komite pemerintahan
sementara.
* Melebur Sabiilillah dan Hizbullah menjadi T I I ( Tentara
Islam Indonesia ).

Di beberapa daerah yang dikuasai T I I sudah bisa


dilaksanakan hukum Islam seutuhnya. Secara de facto Jawa
Barat praktis dibawah kekuasan T I I yang direncanakan
semenjak Institut Suffaah. Walaupun pemerintahan sementara
itu sudah de facto, namun belum diproklamasikan secara resmi
menunggu situasi yang lebih tepat.

Sementara menunggu waktu yang lebih tepat, maka sebelum


waktu satu tahun dari Perjanjian Renville, tiba-tiba Belanda
mengingkari janjinya lagi dengan agresi yang ke-II menyerang
Yogyakarta. Sukarno dan Hatta menyerah, dengan sidang
Dewan Menteri di Gedung Agung Yogyakarta memutuskan
mengibarkan bendera putih.

Kalau saja ada yang bertanya, ”Apa sebabnya sampai


terjadi demikian kepada para pemimpin R I ?” Maka, mungkin
saja bila ada yang menjawabnya, “ Itulah ‘Hukum Karma’
akibat dari mengingkari perjanjian dengan umat Islam
Indonesia, yang mana sehari sesudah proklamasi itu pihak
Nasionalis itu berani menghapus kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, sehingga proklamasi
kemerdekaannya juga ikut lebur !”

Sebelum Pengibaran Bendera Putih pun, nilai Proklamasi


kemerdekaan Bangsa Indonesia, 17 Agustus 1945 itu sudah
lebur, karena mengakui lagi kedaulatan Belanda atas Hindia
Belanda hal itu sama artinya dengan melenyapkan nilai
“Proklamasi Kemerdekaan”
304

Sebab itu tibalah saatnya bagi umat Islam Indonesia


memproklamirkan Negara Islam Indonesia yang didalamnya
menyatakan bahwa hukum yang berlaku adalah hukum Islam.
Dimulai dengan Bismillaaah ; diakhiri dengan Allahu Akbar !
Sebagai satu-satunya wadah kepemimpinan yang haq di
Indonesia, karena proklamasinya memiliki nilai “Bara’ah”,
yakni lepas dari sistem kepemimpinan yang bertentangan
dengan hukum-hukum Allah !

Di antara bunyi Proklamasi N I I itu di dapat kalimat “Hukum


yang berlaku di dalam Negara Islam Indonesia ialah hukum
Islam”. Kalimat tersebut adalah pernyataan “Bara’ah”, lepas
dari sistem di luar Islam sehingga berarti:

a). Tidak kompromi dengan musuh-musuh Islam.

b). Siap menghadapi segala risikonya dalam menterapkan


hukum-hukum Islam di Indonesia.

c). Bagi yang memperjuangkan kemenangan N I I berarti


menegakkan hukum-hukum Allah, dan tidak terlibat dari
berlakunya hukum-hukum bawaan kafir Belanda yang terus
dipertahankan oleh pemerintah R I, Pancasila !

Sewaktu Kaum Quraiys mengajak kompromi kepada Nabi


Saw, beliau menolak secara tegas, sebagaimana disebutkan
dalam ayat yang bunyinya: “Aku tidak akan menyembah apa
yang kamu sembah.” -(Q.S.109 Al-Kaafiruun:2).

Pernyataan dalam ayat di atas itu mengandung arti


“Bara’ah”, lepas dari sitem kafir. Sebab, arti secara luas
bahwa “ tidak menyembah apa yang kamu sekalian sembah”
yaitu “tidak mengikuti segala aturan / hukum yang dibuat
oleh kaum kafir yang jelas bertolakbelakang dengan hukum-
hukum Allah”.
305

Akibat pernyataan (proklamasi) baro’ah yang dikemukakan


oleh Nabi Saw, maka kaum musyrikin mengadakan rapat untuk
membunuh Nabi itu sehingga terjadi pengepungan terhadap
rumah pribadi Nabi Saw.

Padahal sebelumnya itu penguasa Quraiys bersedia


mengangkat Nabi Saw sebagai raja, menjadikan orang terkaya
di kota Makah, dan mencarikan istri yang paling cantik
seandainya Nabi Saw bersedia saling menyembah bergiliran.

Pemerintah musyrikin jaman sekarang juga menyanjung-


nyanjung “Ulama Syu’(jahat)”, yakni ulama yang ‘mengekor’
kepada kehendak para penggede dari pemerintah R I, sehingga
timbal balik dalam pengabdian atau penyembahan. Yakni,
Ulama Syu’ membela hukum-hukum kafir dengan cara
mendukung pemerintah R I, maka para pengayom hukum kafir
pun sholat bersama dengan Ulama Syu’. Hal demikian berarti
saling menyembah atau mengabdi ! Si kafir menyembah
kepada apa yang disembah oleh ulama syu’; ulama syu’ juga
menyembah kepada hukum-hukum kafir. Sehingga “menjadi
sama” (perhatikan Q.S.4:89).

Proklamasi Negara Indonesia, 7 Agustus 1949 mengandung


nilai “Baro’ah” sesuai dengan statement yang dibacakan oleh
Nabi Saw kepada kaum kafirin (Q.S.109:1-2). Sebab itu, sejak
awalnya sudah memperoleh tekanan dari musuh-musuh Islam.
Lumrah saja karena pemerintahan yang dipimpin Nabi Saw juga
sebelum memiliki kekuatan yang bisa mengimbangi kekuatan
kaum kebangsaan Quraiys, terus mengalami gempuran
(Q.S.2:217) juga penangkapan jika diketahui (Q.S.18:20) oleh
musuh.

Di masa kebatilan melanda dengan berlakunya hukum-hukum


jahiliyah (Q.S.5:50), kemudian diproklamasikan yang haq
maka wajib setiap mu’min komitmen kepadanya. Sebab, jika
tidak maka berada pada posisi yang batil dan terlibat dengan
segala produk kebatilan.
306

Sewaktu Nabi Saw memegang kendali pemerintahan pernah


mengikat perjanjian dengan kaum musyrikin Quraiys. Tetapi,
begitu perjanjian itu dilanggar oleh pihak musyrikin, maka
langsung Nabi Saw menyerang pemerintah Makah.

Umat Islam Indonesia waktu membuat Perjanjian Piagam


Jakarta dengan pihak nasionalis sekuler, belum memiliki
pemerintahan tersendiri. Begitu sehari sesudah pihak nasionalis
sekuler berkuasa dan melanggar janjinya, maka umat Islam
Indonesia cuma mengelus dada, karena tidak punya
proklamasi negara yang melindunginya.

Alhamdulillaah, sejak 7 Agustus 1949 kita sudah punya


Proklamasi Negara Islam Indonesia yang mencantumkan
berlakunya hukum-hukum Islam. Sebagai “Baro’ah” sehingga
tidak terikat dengan perjanjian-perjanjian sebelumnya,
sehingga pula kita bisa bertindak terhadap mereka sesuai
dengan Sunnah Nabi Saw. Perhatikan Firman Allah yang bunyi-
Nya:

“( Inilah pernyataan ) pemutusan perhubungan daripada


Allah dan Rasul-Nya ( yang dihadapkan ) kepada orang-orang
musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan
perjanjian ( dengan mereka).”_(Q.S.9 At-Taubah:1).

Mayoritas penduduk Indonesia memeluk Islam, pasti tidak


semuanya yang berpegang pada sunnah Rasulullah Saw itu
cuma dalam omongan atau dalam pengakuan, tetapi pasti ada
yang dalam prakteknya. Sebab, sunnah itu bukan hanya
ngomong, melainkan praktek / perbuatan. Sedangkan perbuatan
Rasulullah itu akan tetap terulang oleh yang benar-benar
mu’min. Perhatikan ayat yang bunyinya:
307

“Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang


terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan
mendapati perubahan pada sunnah Allah.”_ (Q.S.33:62).

Negara Islam Indonesia sudah merealisasi (membuktikan)


isi proklamasinya dengan melaksanakan ayat-ayat Al - Qur’an
di wilayah yang pernah dikuasainya, di antaranya:

a). Menjalankan hukum pidana Islam (Q.S.5:38, 45. S.24:2.


2:178)
b). Mempunyai kepemimpinan tersendiri sehingga tidak didikte
oleh manusia yang setengah-setengah (fasik/kafir) terhadap
Islam (Q.S.5:51, 57. S.7:3. S.3:28. S4:144).
c). Memiliki kekuatan militer tersendiri umat berpungsi sebagai
tentara Islam ( Q.S.8:60. S.4:71, 81 ).

d). Menumpas setiap kekuatan yang menentang tegaknya syariat


Islam ( Q.S.8:39. S.2:193. S.9:73, 123 ).

Adakah kepemimpinan di Indonesia, sebelum N I I yang


menjalankan ayat-ayat tercantum di atas ? Jelas, tidak ada !
Dengan demikian, itulah yang menjadi dasar bahwa N I I
adalah satu-satunya wadah kepemimpinan yang haq di
Indonesia. Dan bagi yang tidak berada di dalamnya berarti
dalam batil, terlibat dalam pelaksanaan hukum-hukum jahiliyah
(Q.S.5:50). Tidak ada jalan di tengah kecuali bagi yang ragu-
ragu (mudzabdzabiin). Dan yang ragu-ragu itu ialah yang tidak
kesana ; tidak juga kemari, maka pasti dalam dholaalah alias
sesat. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian


(iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan orang-orang
beriman dan tidak (pula) kepada golongan orang-orang kafir.
Barangsiapa yang disesatkan Alah, maka kamu sekali-kali
tidak akan mendapat jalan untuk memberi petunjuk)
baginya.”_(Q.S.4 An-Nisaa:143).
308

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan


suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman. Orang-orang
itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan
mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan
kebohongan, sedang mereka mengetahui.”_(Q.S.58:140).

---------------------------------------------------------
18. Tanya :
“Apa sebabnya umat Islam Indonesia meproklamasikan
negara, 7 Agustus 1949 namanya Negara Islam Indonesia,
tidak memakai nama yang mengarah kepada dunia ?”

Jawab:
1). Adanya kenyataan bahwa umat Islam untuk bersatu belum
bisa menjangkau sedunia, yang mana umat Islam di tiap-tiap
negeri masih menghadapi persoalannya masing-masing.
Sehingga belum bisa eksis, dalam arti belum bisa menguruskan
umat Islam di negeri lain. Dengan kondisi sedemikian itu, maka
untuk sementara waktu perjuangannya diserahkan kepada umat
Islam dinegerinya masing-masing.

2). Sebelum tanggal 7 Agustus 1949, pada waktu itu di


beberapa negara selain Indonesia belum muncul kepemimpinan
Islam yang bersistem seperti jaman Khalifah Rasyidiin
sebagaimana N I I. Dengan demikian para pencetus N I I belum
mampu merekrut mereka yang masih samar-samar, masih
bercampur-baur dengan kaum nasionalis sekuler yang bekerja
sama dengan kaum penjajah dari Eropa guna lepas dari Daulah
Ustmaniah.

Jangankan untuk yang di luar negeri yang tidak sebulan sekali


bertemu, dengan umat Islam di dalam negeri saja yang sering
bertemu, sulit menilai ideologi mereka. Apalagi untuk diluar
negeri, yang baru saja dikuasai Inggeris, Perancis, Italia dan
Spanyol sehingga lepas dari dari Daulah Ustmaniah, serta
bergejolaknya sekularisme di Turki dipimpin oleh Musthafa
309

Kamal Ataturk yang berpengaruh keseluruh negeri Islam.


Sedangkan bagi ummat Islam yang di Indonesia tidak punya
waktu lagi untuk menunggu mereka.

3). Sudah menjadi sunnattullah, dan ketetapan alam bahwa


setiap perjuangan adalah melalui tahapan batas kemampuan,
tidak bisa sekaligus. Juga diperintahkan oleh Allah SWT
mempersiapkan kekuatan menurut kemampuan (Q.S.8:60).
Sudah fitrahnya manusia dijadikan bertahap (Q.S.84:19), maka
kemampuan jangkauan juangannya juga bertahap.

4). Memperhatikan ayat yang bunyi-Nya:

“Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi


pembantu bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak berbuat
seperti itu, niscaya terjadi penindasan dan kerusakan yang
besar di muka bumi.”_(Q.S.8 Al-Anfaal:73).

Jelas sekali bahwa musuh itu saling tunjang - menunjang


dalam memperkokoh kekuatan mereka guna bisa menguasai
pihak Islam sehingga tidak berdaya untuk mempraktekkan
Hukum-hukum Islam secara keseluruhan.

Kita diwajibkan oleh Allah, bantu membantu mengimbangi


kekuatan musuh. Ingat, bahwa yang disebut “kekuatan” untuk
bisa menjalankan hukum-hukum Allah itu, sejak jaman Nabi
juga adalah dengan adanya negara ; diawali oleh
proklamasinya dan digariskan oleh undang-undang ; diperkuat
oleh umat yang merupakan militer. Tegasnya, bahwa kekuatan
menegakkan hukum Islam itu bukan ditentukan oleh luasnya
dalam pengklaiman wilayah apalagi sedunia. Politik
internasional sekarang pun mengakui bahwa tegaknya hukum
dalam negara, meski kecil dijamin untuk berlakunya hukum.
310

Berbeda lagi dengan yang bukan negara, meski sekupnya


sedunia, kalau bukan negara tetap saja tidak ditakuti oleh yang
punya negara, sehingga tidak bisa menjalankan hukum di dalam
negara. Dalam ayat (Q.S.8:73) di atas tadi kita diperintahkan
bantu membantu itu untuk mengimbangi kekuatan musuh, yang
mana musuh juga punya kekuatan dengan bantu membantu
antara mereka dalam bentuk struktur kepemimpinan negara.

Musuh yang dihadapi oleh Nabi Saw ialah musuh yang


terdekat, seperti pemerintahan Quraiys Makah. Musuh
memiliki struktur militer dari atas sampai kebawah, maka Nabi
pun membuatnya. Musuh membuat aparatur pemerintahan dari
atas sampai bawah, maka Nabi juga menyusunnya, sehingga
mengimbangi kekuatan musuh. Jelas, dilakukan dalam sistem
yang berbeda, sehingga benderanya juga beda. Adapun Nabi
tidak menyebutkan secara resmi Negara Islam Madinah,
karena kondisi waktu itu musuhnya juga tidak menamakan
diri Republik Quraiys Makkah. Sebab itulah umat Islam
Indonesia menamakannya Negara Islam Indonesia, karena
musuhnya di Indonesia ini pada waktu itu telah memakai nama
NIS (Negara Indonesia Serikat), ciptaan Belanda, yang
kemudian RIS (Republik Indonesia Serikat) yang tanggal 17
Agustus 1950 menggantinya dengan nama R I (Republik
Indonesia).

5). Rasulullah Saw diutus untuk seluruh alam, namun


perjuangan itu diawali di Makah kemudian di Yasrib (Madinah).
Pada permulaan Nabi di Madinah dibuatlah undang-undang
(shahifat ) Madinah. Diantara undang-undang itu ada yang
bunyinya:
‫وان يثرب حرام جوفها لهل هذه الصحيفة‬
“Sesungguhnya Yastrib dan lembahnya suci bagi warga
shahifat ini.” (point 39).
‫وانه من خرج امن ومن قعد امن بالمد ينة‬...
“....Siapa saja yang keluar dari kota Madinah dan atau
tetap tinggal di dalamnya aman....”.(point 47).
311

Pasti bahwa dicantumkannya nama Yasrib atau Madinah


dalam undang-undang itu, karena ada kegunaannya. Di
antaranya:

a). Sebagai kejelasan tempat pemerintahan. Sebab, kalau tidak


jelas tempatnya akan kemana orang berkirim surat atau
mendatanginya. Seandainya pada undang-undang itu disebutkan
“dunia” atau tidak disebutkan tempatnya, mungkin saja diluar
Madinah ada yang berkata, “Dunia itu bulat, termasuk lautan
dan seluruh daratan, kemana kita mau menghubunginya ?”

Begitu juga Negara Islam Indonesia, nama Indonesia itu


menunjukkan kepada tempat Pemerintahan Negara Islam,
supaya semua tahu bahwa adanya di Indonesia. Misalkan,
seorang anak yang sekolah di SMP Negeri 6 memberi alamat
kepada kawannya yang di luar negeri, tentu tidak cukup
dengan SMP Negeri 6, melainkan ditambah dengan Jakarta atau
Surabaya.

b). Kejelasan wilayah guna dijadikan basis perjuangan atau


tempat mengkonsentrasikan kekuatan. Madinah ‫ مدينة‬berasal
dari kata “diin ‫( ديففن‬aturan)”. Jadi, Madinah berarti tempat
belakunya peraturan (Islam). Sehingga oleh Rasulullah
dijadikan nama wilayah / kota yang sebelumnya bernama
Yatsrib, sebagai tahapan pertama sehingga pengembangan
selanjutnya diwajibkan kepada umat sesudah wafatnya Nabi
Saw, termasuk kepada kita. Tentu perjuangan itu secara
bertahap sebagaimana yang dipolakan oleh Rasulullaah Saw
dengan memproklamasikan berlakunya hukum Islam di wilayah
yang terjangkau.

c). Supaya jelas mana yang didahulukan, serta jelas dari


mana dimulainya. Bereskan dulu yang sedang dikerjakan, baru
kerjakan yang lain (perhatikan Q.S.94 Alam Nasyrah:7). Yang
namanya menanam padi saja jelas dari mana dimulainya, serta
mana yang harus didahulukannya. Maka, apalagi berjihad
menegakkan Kalimatillaahi hiyal ‘ulyaa !
312

-----------------------------------------------
19. Tanya :
“Jika tadi disebutkan bahwa perjuangan itu harus dimulai
dari yang terjangkau seperti di Indonesia, tidak usah sedunia
dulu, maka mengapa tidak bisa memproklamirkannya untuk
sekabupaten saja atau satu kecamatan ?”

Jawab :
1). Wilayah yang dijajah oleh Belanda di Indonesia pada waktu
itu seluas Indonesia. Maka, bila pada waktu itu umat Islam
Indonesia tidak mengklaim wilayah se-Indonesia, misalnya
cuma satu kabupaten, tentu masih banyak daerah yang
tersisakan dan berarti umat Islam tidak mau bersatu. Sedangkan
jauh sebelumnya, Umat Islam di Indonesia telah membentuk
kesatuan politik guna menegakkan negara yang didalamnya
memberlakukan hukum-hukum Islam.

Hanya musuh Islam saja, pada waktu itu kolonial Belanda


menyusupkan pengacau kedalamnya guna memecah belah
persatuan sehingga timbulnya aliran yang menyimpang dari
tujuan Islam. Namun demikian jihad tidak bisa berhenti karena
adanya gangguan, maka pada tahun 1934 terjadilah kongres
Partai Syarikat Islam Indonesia dengan keputusan bertujuan
mendirikan Negara Islam Indonesia. Singkatnya jika yang
dijajah se-Indonesia, maka direbutnya juga se- Indonesia.

2). Tidak seimbang dan tidak logis atau sungguh jauh dari
jangkauan jika musuhnya menguasai wilayah se-Indonesia lalu
kita memproklamasikannya cuma satu kabupaten, nanti bisa-
bisa bakal banyak negara di Indonesia, sedangkan sebelumnya
juga umat Islam di seluruh Indonesia sedang menuju persatuan.

3). Justru Umat Islam Indonesia memproklamirkan untuk se-


Indonesia ( NII ), guna mengimbangai (Q.S.8:73) kekuatan
musuh sehingga terjangkau oleh kemampuan. Sehingga pula
313

akhirnya umat Islam se-Indonesia bisa dipersatukan dalam


Negara Islam Indonesia.
-----------------------------------------------------
20. Tanya:
“Di antara bunyi Proklamasi N I I didapat kata-kata “Kami
ummat Islam Bangsa Indonesia”. Dari itu apa perbedaan
antara pengertian jiwa kebangsaan yang disebut “ashobiyyah”
dengan pengakuan sebagai bangsa ?”

Jawab:
Jiwa kebangsaan yang disebut ashobiyah ialah yang
mengandung arti cinta terhadap satu bangsa, hanya karena
sebangsa dengan dirinya, tanpa memperdulikan salah atau
benar. Jadi, orang yang berperang membela kebangsaan
(Ashobiyah), artinya bahwa yang menjadi dasar utama bagi
dirinya berperangnya itu ialah karena bangsanya sedang
berperang dengan bangsa lain, sehingga dirinya berpihak
kepada bangsanya itu dengan tidak memperdulikan mana yang
salah dan mana yang benar. Dalam arti lain bahwa berperang
nya itu bukan karena membela kebenaran (hukum) dari Allah.
Pengertiannya, meskipun bangsanya itu dalam posisi yang salah,
namun tetap dibela, karena satu bangsa. Sebaliknya, walaupun
dalam posisi yang benar (haq), namun karena tidak sebangsa,
maka diperanginya. Itulah yang dimaksud “Ashobiyah”.

Maka, pantaslah mereka yang telah berperang mengusir


bangsa asing, merasa puas walau hasilnya masih saja hukum-
hukum kafir warisan bangsa asing. Hal itulah yang dimaksud
oleh hadist mengenai yang mati karena Ashobiyah. Perhatikan
sabda Nabi Saw:
‫وليس منففا‬.‫وليس من قاتل على عصبيه‬.‫ليس منا من دعا الى عصبيه‬
‫)من مات على عصبية )رواه ابو داود‬
“Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak
kepada kebangsaan. Dan bukan pula dari golongan kami orang
yang berperang karena kebangsaan. Dan tidak juga termasuk
golongan kami yang mati karena kebangsaan.” (HR Abu
Daud).
314

Adapun “pengakuan sebagai bangsa”, yaitu sekedar


menyatakan diri sebagai salah satu dari bangsa yang ada. Hal
sedemikian merupakan keharusan dengan tujuan menjelaskan.
Sebab, tidak benar sebagai Bangsa Indonesia jika mengakukan
dirinya Bangsa Belanda atau bangsa lainnya.

Soal pengakuan sebagai bangsa diantara banyak bangsa


dijamin keberadaannya. Sebagaimana dikemukakan dalam ayat
yang bunyinya:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu


dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di
antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.”_(Q.S.49:13).

Dari ayat di atas itu dimengerti bahwa adanya pengakuan


sebagai bangsa supaya bangsa lainnya mengenal, atau bisa
saling kenal mengenal adalah suatu kepastian. Dalam ayat itu
disebutkan bahwa ukuran yang paling mulia adalah taqwanya
kepada Allah. Dengan demikian tidak boleh salah atau benar
adalah bangsa sendiri lalu dibela. Kalau asal bangsa sendiri
biar salah lalu dibela, maka itulah Ashobiyah.

-----------------------------------------------------------
21. Tanya:
“Apa sebabnya Proklamasi Negara Islam Indonesia,
7Agustus 1949 bukanlah proklamasi negara dalam negara ?”
Dan harus bagaimanakah kita dalam mempertahankannya ?

Jawab :
315

Menjawab pertanyaan ini, penulis akan menguraikan


sebagian dari apa yang sudah dikemukakan dalam tulisan yang
berjudul “Furqon di Indonesia", pada bagian terakhir yang
ditulis pada bulan Mei 1986 M. dibawah ini:

Hijrahnya Umat Islam Indonesia Menghadapi


Rintangannya
Memperhatikan surat Ali Imran ayat 28-30 . Juga,
memperhatikan sejarah Nabi Saw bahwa pada jaman Nabi pun
tidak semua pengikut Rasul itu dapat melakukan hijrah dalam
bentuk teritorial, melainkan tetap mereka tinggal di daerah
Mekah atau di wilayah lainnya, karena terpaksa ditugaskan
Rasulullah Saw. Namun, dalam aqidah mereka hanya mengakui
pemerintahan yang berdasarkan Islam di Madinah. Sejajar
dengan itu, bila kondisi dan situasi dalam mengemban amanat
dari Alloh SWT, mengharuskan tinggal di Indonesia, maka
berdiamlah di Indonesia karena Indonesia pun bagian dari bumi
tempat berbakti kepada Alloh. Kita mempunyai hak untuk
menjadikan Indonesia tempat bersujud yang sebenarnya kepada
Alloh. Juga, berhak membebaskan Indonesia dari kekuasaan
yang menolak berlakunya hukum Islam secara kaaffah. Serta
wajib mendepak manusia-manusia yang telah merampok hak-
hak kemerdekaan kita mengamalkan ketentuan Kitabullah. Kita
mutlak di Indonesia ini memiliki garis pemisah dari
kepemimpinan yang batil. Untuk itu perhatikan sekelumit sabda
Nabi SAW:". . . Orang yang berhijrah (muhajir) yaitu yang
pindah dari apa yang dilarang oleh Alloh. " (Hadist R.
Bukhori).

Cukup jelas bahwa yang menjadi titik tolaknya berhijrah


itu, bukanlah meninggalkan tempat. Akan tetapi keharusan
meninggalkan hal yang batil serta pindah kepada yang hak.
Dalam kalimat lain yaitu beralih dari sturuktur thagut kepada
yang berdasarkan "kebenaran Alloh SWT" atau ingkar dari
pemerintahan yang bukan Islam kepada yang berpedoman
hukum-hukum Islam. Oleh karena itu, bahwa umat Islam
Indonesia pun pada dasarnya sudah melakukan “hijrah", yang
mana telah meninggalkan struktur kolonial Belanda, pindah
316

kepada stuktur Negara Islam Indonesia (NII) yang berdasarkan


kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW (lihat pasal 2, ayat 1-
2 konstitusi NII).

Umat Islam Indonesia telah menyatakan diri berhijrah


(baro’ah-nya ) dari pemerintahan Belanda. Yang mana sebelum
itu kolonialis tersebut telah mengambil alih kedaulatan dari
kaum nasionalis sekuler Indonesia ketika pemerintahan
Sukarno-Hatta mengibarkan bendera merah putih pada tanggal
19 Desember 1948 di Yogyakarta ". . . dia bersama banyak
pemimpin lain termasuk Hatta, Syahrir dan Suryadarma
memilih untuk mengibarkan bendera putih dan
menyerah”(“Tempo”,20 Maret 1982 hal.15 ). Dengan
pengibaran bendera putih itu, maka sejak saat itu juga secara de
jure bahwa Proklamasi Kemerdekaan yang pernah diumumkan
oleh Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, pun telah
bubar menyerah total sewaktu agresi Belanda, tanggal 19-12-
1948 di Yogyakarta. Sebab itu, supaya kita mengetahui adanya
proses yang merintangi NII, maka selanjutnya kita ungkap
dalam penuturan berikut:

1). Kronologi Mengenai Hilangnya Nilai Proklamasi 17-8-


1945
Sebenarnya, sebelum peristiwa 19 Desember 1948 pun
telah terjadi dua kali penghianatan oleh para pemimpin RI itu
terhadap nilai Proklamasi itu sendiri. Buktinya ialah:

a). Bahwa sebagaian bunyi proklamasi 17-08-1945


"Menyatakan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia". Akan
tetapi, tanggal 25 Maret 1947 dalam "Persetujuan Linggar Jati"
mereka telah mengakui berdirinya "NIS" (Negara Indonesia
Serikat) yang wilayahnya yaitu Borneo (Kalimantan) dan Timur
Besar di bawah kekuasaan Belanda. Sehingga wilayah
kekuasaan Republik Indonesia tinggal Sumatera, Jawa dan
Madura.
317

b). Kemudian pada tanggal 17 Januari 1948, mereka itu


menerima pula dasar-dasar persetujuan Renville ke I yang
isinya antara lain:

* Pemerintahan Indonesia harus mengakui kedaulatan


Belanda atas Hindia Belanda seluruhnya, sampai batas yang
ditentukan oleh Kerajaan Belanda untuk menyelenggarakan
kedaulatan ini kepada Negara Indonesia Serikat.

* Dalam waktu tidak kurang dari 6 bulan dan tidak lebih


dari satu tahun sesudah ditandatangani, maka di berbagai daerah
di Jawa, Sumatera dan Madura akan diadakan pemungutan
suara, untuk menentukan apakah di daerah-daerah tesebut akan
turut dalam Republik Indonesia atau masuk di bagian lain di
dalam lingkungan Negara Indonesia Serikat.

Dengan diterimanya dasar-dasar Perjanjian Renville itu,


maka wilayah kekuasaan proklamasi kemerdekan Indonesia itu
menjadi lebih kecil lagi (sampai batas demarkasi Van Mook).
Jelas, ini penghianatan terhadap nilai proklamasi 17 Agustus
1945 oleh para pemimpinnya itu sendiri. Dengan mengakui
adanya kedaulatan Belanda di bagian wilayah Indonesia, juga
menyetujui diadakan pemungutan suara yang disodorkan
Belanda bagi penentuan kedaulatan, berarti leyaplah nilai
proklamasi kemerdekan seluruh bangsa Indonesia.

Adanya penerimaan terhadap dasar-dasar dari kedua


peristiwa perjanjian dengan Belanda itu, telah mengisyaratkan
bahwa para pemimpin Republik Indonesia itu sudah tidak
bertanggung jawab lagi terhadap proklamasinya. Sehingga
bersedia didekte oleh kaum penjajah. Klimaks dari sejarah itu
membuat kaum imperalis tesebut tadi berani menyerang dan
menduduki ibu kota Yogyakarta. Dan membuatnya Republik
Indonesia menyerah secara keseluruhan kepada Belanda.
Dalam pada itu pemimpi-pemimpin Indonesia telah kehilangan
muka. “Nasution malah menganggap peristiwa itu "puncak
kehinaan” (“Tempo”, 20 Maret 1982,hal.13)”.
318

2). Lenyapnya Estapeta Kepemimpinan Mengenai RI


Tentu mereka tidak usah merasa malu dan hina seandainya
dalam keadaan itu masih ada estapeta kepemimpinan Sukarno
kepada pelanjutnya. Akan tetapi, persoalannya lain lagi, karena
mereka menginsafi kenyataan bahwa “Pengibaran Bendera
Putih” di tempat kepresidenan itu adalah merupakan peristiwa
yang secara total Republik Indonesia menyerah terhadap
Belanda. Sehingga melenyapkan landasan estapeta
kepemimpinannya. Baik de facto maupun de jure, setelah
peristiwa 19 Desember 1948 Sukarno itu bukan lagi presiden
yang mana telah menyerahkan Republik kepada Belanda.

Memang, pada tanggal 22 Desember 1948 muncul PDRI


(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dalam
pengasingannya yang diketuai oleh Syafrudin Prawiranegara,
namun dalam kenyataannya pula diketahui bahwa PDRI itu
tidak ada hubungannya dengan Sukarno. Yang mana Sukarno
itu menganggap sepi tehadap PRDI. Sikap Sukarno sedemikian
itu mungkin karena merasa tidak memberi mandat tentang
dibentuknya PDRI. Hal itu diakui pula oleh syafrudin ". . . saya
tidak pernah menerima mandat itu... (“Tempo”,21 Desember
1985 hal.13).” Juga, kita kutip keterangan yang bunyinya:"...
Kami tidak pernah menerima pesan yang berisi mandat bagi
Syafrudin untuk membentuk PDRI, "ujar Kolonel (pur) Kusnadi,
salah seorang teknisi dan radio telegrafis kala itu.
(“Tempo”,21 Desember 1985 hal.13)." Ringkasnya, PDRI
diibentuk terutama inisiatif penuh tokoh-tokoh sipil di Sumatra
Barat (“Tempo”21 Desember1985 hal.13).”

Juga, seandainya Sukarno memberi mandat kepada


Syafrudin tentang PDRI maka apakah yang akan dijadikan
landasan struktural mengenai estapeta kepemimpinannya dari
Sukarno ? Bukankah Sukarno bersama dewan menterinya telah
frustasi, mementingkan keselamatan pribadi-pribadinya
sehingga memilih pengibaran bendera putih sebagai tanda
menyerah ? Tidakkah peristiwa pada 19 Desember 1948 dengan
keputusan dari sidang Dewan Menteri pemerintahan Sukarno
itu, merupakan penumbukkan yang ketiga kalinya terhadap
319

proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh pihak nasionalisnya itu


sendiri sehingga Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu
bubar ? Ingatlah ! ". . bahwa pada tanggal 19 Desember 1948
itu sidang di Gedung Agung Yogya memutuskan tidak memilih
jalan gerilya (“Tempo”21 Desember 1985 hal.13).” Dengan
Keputusan Sedemikian itu berarti tidak akan meneruskan
perjuangan. Dengan itu pula maka jelas tidak ada estapeta
kepemimpinan dari RI ke PDRI.

3). Menyerahnya PDRI


Bagi pihak Nederland dalam menghadapi beberapa
kesatuan gerilya yang telah siap melanjutkan perjuangan di luar
kepemimpinan Sukarno, maka pihak Belanda itu bersedia
membebaskan Sukarno-Hatta beserta tawanan-tawan lainnya
untuk diajak berunding. Adapun dalam menghadapi
perundingan tanggal 7 Mei 1949 antara Belanda dengan kaum
nasionalis itu, maka ". . Sukarno memberi mandat kepada Moh.
Roem untuk berunding dengan Van Royen di pihak Belanda,
tidak dengan pengetahuan dan persetujuan PDRI. Padahal,
baik de facto maupun de jure, Sukarno bukanlah presiden.
Syafrudin menolak isi perundingan Roem-Royen itu. "Kami
ingin agar Belanda mengundurkan diri dari seluruh Indonesia,
dan bukan hanya dari Yogya, "ucap syarifudin. "Kalau PDRI
yang berunding, pasti hasilnya lebih bagus. Tapi Bung Karno
memang menganggap sepele PDRI (“Tempo”,21 Desember
1985 hal.13)." Ditambah pula "Sukarno mau berunding,
sebenarnya hanya supaya dia cepat keluar dari tahanan, "Kata
Syafrudin (Ibid hal.14).”

Dengan sikap yang dilakukan Sukarno itu, telah


membuktikan sejarah bahwa secara hukum ; baik formal
maupun tidak, maka Sukarno tidak tahu-menahu mengenai
PDRI. Dan logisnya bila dalam perundingan pada tanggal 7 Mei
1949 (Renville II ) itu, kubu nasionalis kelompok Sukarno tidak
mengatas-namakan PDRI. Apalagi bahwa hasil perundingan
pada waktu itu pihak Sukarno mengakui bertambah luasnya
wilayah kekuasan Belanda yaitu Negara Indonesia Serikat
(NIS). Yang mana secara tidak langsung berarti mengakui
320

bedirinya negara boneka tersebut itu di Indonesia. Sehingga


wilayah kekuasaan Sukarno hanya di Yogyakarta dan beberapa
kabupaten.

Hal tersebut di atas itu berarti pula mereka masih


mengakui Penjajahan Belanda atas Indonesia, dan mengakui
bubarnya proklamasi kemerdekaan bagi seluruh Indonesia,
yang timbal baliknya dari Belanda yaitu membiarkan para
pemimpin Nasionalis kembali ke Yogyakarta, juga Belanda
meninggalkan daerah itu. Padahal dengan ditinggalkanya
Yogyakarta oleh kaum Imperalisme itu tidaklah mengandung
arti kerugian bagi Belanda. Bahkan darinya mengandung arti
kemenangan politik bagi kaum kolonialis tersebut di dunia
Internasional. Sebab, di samping de facto maka secara yuridis
formal pun kekuasaan tetap ditangan Belanda. Yang mana dari
Isinya "Perjanjian Renville II" pun, secara tidak langsung
bahwa kubu Yogya telah mengakui kembali “penjajahan
Belanda atas Indonesia”. Sehingga hilang nilai kemerdekaan
bangsa Indonesia beserta proklamasi 17 Agustus 1945 nya.

Dan dengan diterimanya isi perundingan 7 Mei 1949


(statement Roem-Royen yang kedua) oleh pihak Sukarno,
berarti pihak Yogya "tidak mengakui eksistensinya PDRI".
Sehingga diambil manfaatnya oleh Belanda guna melumpuhkan
gerilyanya PDRI yang mungkin tadinya bakal ngotot terhadap
Belanda, tetapi menjadi lemah karena menghadapi kubu
nasionalis pro Sukarno yang telah kembali ke Yogya, yang
mana juga Sukarno itu memihak pada kehendak Belanda
daripada ke PDRI. "saya tetap menyesalkan sikap Bung Karno
dan Roem yang mestinya berpihak PDRI. Lebih menyakitkan
lagi, perundingan Roem-Royen itu dilakukan di belakang kami,
"kata Syarifudin. " (“Tempo”,21 Desember 1985 hal.14).”

Pada mulanya para pemimpin kubu PDRI itu tidak akan


menyerah terhadap kekuatan Sukarno itu di Yogyakarta
"Semuanya tak mau kembali ke Yogya ( Ibid )." Akan tetapi,
karena kubu PDRI itu memahami bahwa kekuatan dan pengaruh
yang dimiliki Sukarno itu lebih hebat daripada Syafrudin, maka
321

PDRI tidak sanggup bersaing dalam menghadapi pentas politik


kubu Yogya. Sebagaimana dinyatakan oleh Syafrudin: "Saya
sepaham dengan pandangan saudara-saudara, tetapi jangan
lupa bahwa dunia luar mengetahui siapa Sukarno - Hatta dan
Balans Republik Indonesia lebih berat kepada beliau
berdua. . . .(“BPSIM.1981, hal. 350 )." Dan akhirnya pada
tanggal 13 Juli 1949 Syarifudin pun datang ke Yogyakarta
menyerah kepada Sukarno. Maka, lenyap pula PDRI.

Yang berkuasa di Yogyakarta ialah RI, negara pemberian


Belanda yang dikepalai oleh Sukarno, sebagai rekayasa dari
Belanda dalam Perundingan Renville II tanpa sepengetahuan
PDRI, yang berarti RI Yogyakarta itu tidak mengakui eksistensi
PDRI. Dengan itu berarti pula Sukarno “tidak mengakui
adanya mandat kepada Syafrudin (PDRI)”, dibuktikan dengan
tidak berpihak kepada PDRI. Artinya, Sukarno yang merasa
berkuasa. Dengan demikian kembalinya Syafrudin ke
Yogyakarta itu secara hukum bukanlah menyerahkan mandat,
melainkan menyerah kalah. Sebab, tidak masuk akal
menyerahkan mandat kepada yang tidak mengakui mandat.
Menyerah kepada negara ‘boneka’ (RI pemberian Belanda yang
wilayahnya cuma Yogyakarta dan beberapa kabupaten
sekitarnya), maka yang ada tetap saja seperti itu.

4). Satu-satunya Jalan Bagi Umat Islam Indonesia


Tiga kali peristiwa yaitu: Linggarjati (25 Maret 1947),
Renville I(17 Januari 1948), dan pengibaran bendera putih di
Yogyakarta (19 Desember 1948), yang mana Belanda telah
memainkan api. Juga, para pemimpin nasionalis selalu
mengikuti kehendak kaum kolonialis tersebut. Sehingga secara
sadar atau tidak, mereka telah mempereteli proklamasi 17
Agustus 1945 hingga lenyap nilainya kemerdekaan Indonesia.
Yang mana Indonesia itu bukan hanya batas Yogyakarta. Pada
ketika itu tidak ada lagi jalur proklamasi kemerdekaan bagi
seluruh Indonesia. Bahkan PDRI pun telah mengakui kembali
ke kubu Yogya. Dan akhirnya mereka cukup puas dengan hasil
"Persetujuan Renville II", dikasih oleh Belanda cuma
"Yogyakarta". Dalam kekosongan seperti itu, tidak ada jalan
322

bagi umat Islam Indonesia selain perlawanan melalui jalur


proklamasi 7 Agustus 1949. Yakni Negara Islam Indonesia
(NII), yang memiliki "furqon". Sungguh jelas, bahwa pada
waktu diproklamasikan Negara Islam Indonesia tersebut tidak
ada negara merdeka di Indonesia. Yang ada hanyalah Negara
Indonesia Serikat (NIS), sebagai negara boneka penjajah
Belanda, serta RI Yogyakarta yang juga sebagai rekayasa dari
Belanda, artinya bukan hasil proklamasi. Dengan demikian
maka Proklamasi Negara Islam Indonesia bukanlah mendirikan
negara dalam negara merdeka. Melainkan, yaitu mendirikan
negara hasil merebut dari penjajahan Belanda..

Dikarenakan bahwa bunyi proklamasi Negara Islam


Indonesia itu intinya menyatakan berlakunya hukum Islam,
maka Belanda memandang proklamasi demikian itu sangat
berbahaya bagi Belanda daripada lembaga pemerintahan Yogya
yang memakai nilai-nilai hukum dari kolonial Belanda. Pada
waktu itu Belanda rupanya memakai pula pribahasa "tak ada
rotan akar pun jadi". Sama artinya bila Indonesia tidak
sepenuhnya di bawah Nederland, maka biar Belanda
menciptakan nama "Republik Indonesia Serikat" asalkan nilai-
nilai hukum bawaan penjajahan itu tetap berlaku di Indonesia.

Pihak Belanda memahami nilai ideologi musuh barunya


ini. Bahwa kubu NII, 7 Agustus 1949 adalah lebih berideologis
dibandingkan dengan musuh yang terdahulu. Belanda yakin
bahwa terhadap NII tidak dapat disodorkan perjanjian semodel
Linggarjati dan Renville. Kaum penjajah itu sadar bahwa untuk
menghadapi NII tidak bisa dilawan oleh Belanda secara
langsung. Konfrotasi Terhadap negara yang berazaskan agama
yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia, berarti
menanggung resiko perang yang berkelanjutan, dan merupakan
kerugian bagi pihak Nederland. Rupanya kaum kolonial itu
berpikir: bila maju akan sia-sia, bila mundur berarti kalah, dan
NII bertegak menggilas hukum-hukum produk Belanda. Maka,
sebagai jalan keluarnya dari persoalan itu digunakan kembali
politik divide et impera, Nederland memecah -belah bangsa
Indonesia menjadi dua Kekuatan yang bertentangan. Dan yang
323

satunya yakni kubu nasionalis (RI Yogyakarta) disokong oleh


Belanda supaya menolak dan melawan terhadap NII.

Terbuktilah hal diatas itu bahwa dalam tujuan


menghancurkan jalur proklamasi 7 Agustus 1947 itu, Belanda
berunding dengan pihak Nasionalis skuler pada tanggal 23
Agustus - 2 September 1949 dalam hal berdirinya apa yang
mereka namakan Republik Indonesia Serikat (RIS), dengan
selubung UNI Nederland - Indonesia yang mana dimaksudkan
sebagai tandingan terhadap Negara Islam Indonesia agar
pengaruh dan kekuatannya menyusut. Dan masyarakat yang
awam terhadap agama, supaya banyak memihak negara
‘boneka’ hasil dari konsesus dengan Belanda, sehingga hukum-
hukum peninggalan kaum kafirin itu tetap berlaku di Indonesia.

Kaum Nasionalis sekuler telah bersedia menerima


pembentukan RIS oleh Belanda. Hal itu Merupakan bukti pula
bahwa yang mereka namakan RI (17-08-1945) itu secara
hukum sudah tidak ada lagi. Dan menyerah kepada Belanda..
Akhirnya, maka sejak itu bahwa musuh yang dihadapi oleh
Belanda ataupun oleh kubu nasionalis sekuler hanyalah NII.
Nyata sekali bahwa antara pihak imperialis dan golongan
Nasionalis sekuler dalam menciptakan UNI Nederland -
Indonesia beserta RIS-nya adalah mempunyai tujuan yang sama
ialah guna menghadapi perlawanan terhadap kubu NII,
proklamasi 7 Agustus 1949, sehingga hukum Islam tidak bisa
diberlakukan di Indonesia.

5). Sikap Kaum Borjuis dan Sikap Kaum yang


Mengandalkan Partai-Partai Sebagai Wadah Perjuangan
Tentu saja bagi kaum sukeler / borjuis pada waktu itu lebih
condong memihak RIS daripada NII. Mereka memilih RIS,
sebab di dalamnya itu mereka lebih mudah meraih posisi dalam
jabatan yang sesuai dengan ambisi mereka, serta memperoleh
berbagai bantuan sarana dari Belanda. Dan memang NII itu
tidak cocok dengan ideologi kaum yang berpendidikan Barat
umumnya pada waktu itu. Karena itu pula mereka memihak
324

RIS, walau titipan dari Belanda. Artinya, Bukan hasil merebut


dari penjajah !

Selain kaum nasionalis sekuler pun pada saat itu ada lagi
golongan yang berpredikat Islam, tetapi mereka masih
mempercayai perjuangan dengan cara parlementer sehingga
menganggapnya sebagai metoda perjuangan yang cocok dengan
jaman modern. Mereka menyangka bahwa hukum -hukum
Islam itu bakal bisa ditegakkan dengan adanya partai-partai
yang memiliki wakil-wakilnya di parlemen pemerintah yang
sudah jelas menghapus kewajiban umat Islam menjalankan
hukum-hukum Islam.. Mereka tidak mau “Baro’ah”, tidak
melepaskan diri dari pemerintahan yang tidak berdasarkan pada
hukum Islam itu, mungkin karena tidak paham akan metoda
perjuangan Nabi SAW, atau juga memang sengaja maunya
begitu. Tegasnya mereka tidak berpegang pada furqon, dan
mengira bahwa yang dinamakan kafir itu hanyalah bangsa
Belanda. Sehingga berpihak kemana saja yang kuat yang
didalamnya ada harapan bagi mereka memperoleh
kedudukkan. . Atau memang sebenarnya mereka takut terhadap
kaum nasionalis sekuler yang didukung oleh Nederland.
Sehingga RIS itu dianggap lebih kuat (Q.S.4:139) daripada NII
dari segi persenjataan. Atau sebab pula kelihaian syaithan
menggoda agar manusia-manusia itu tidak merasa campur-aduk
dalam kebathilan. Dengan godaan nafsu dari syaitan yang tidak
terasa itu membuat mereka berjiwa penakut dan bersikap kecut.
Mereka lupa terhadap kebesaran Alloh, sehingga tidak
menyadari hakekatnya kemenangan di hadapan Alloh SWT.
Mereka tidak memperhatikan mengenai hal "Dhoolimi
anfusihim" (Q.S.4:97 ) perihal yang menganiaya diri mereka
sendiri hingga terlibat dalam penerapan hukum-hukum thagut,
dengan membantu langkah-langkah syaithan. Yakni ikut
memberi pengaruh kekuatan bagi pihak yang mempertahankan
tegaknya hukum-hukum kehendak syaithan, dan melawan
negara yang berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullaah
SAW.
325

Dengan ditandatanginya RIS pada tanggal 27 Desember


1949 di Nederland, maka secara Ideologi kaum penjajah itu
memperoleh beberapa keuntungan besar di antaranya:

a. Keuntungan dalam politik yaitu berhasil membuat


perlawanan terhadap NII atas bantuan RIS sebagai bonekanya
kaum penjajahan.

b. Secara ideologi dapat menerapkan nilai-nilai hukum


peninggalan mereka, dan berhasil menekan perjuangan Islam di
Indonesia. Sehingga tidak mengembang ke seluruh Dunia pada
waktu itu.

c. Keuntungan moral bagi Belanda yaitu angkat kaki dari


Bumi Indonesia, bukan karena kalah perang atau kedaulatannya
direbut, melainkan dititipkannya melalui KMB (Konfrensi Meja
bundar) pada tanggal 23 Agustus - 2 September 1949 di
Nederland. Yang mana RIS itu kelahiran dari konsensus (KMB-
CHARTER). dengan Belanda.

Yang Kita Tempuh Dewasa Ini


Mereka berselimut demi kehormatan serta menutupi muka,
dan menjaga tanggapan negatip dari dunia Internasional. Maka,
akhirnya yang menamakan Republik Indonesia Serikat (RIS) itu
telah mengganti nama dengan "Republik Indonesia (RI)" pada
tanggal 17 Agustus 1950. Akan tetapi, walau tinta dapat dihapus
; buku dapat diganti. Namun "Sejarah tetap hanya satu kali"
bahwa tahun 1950 tetaplah tahun 1950, dan bukan tahun 1945.
Maka, pada dasarnya bahwa nama " R I " yang muncul tahun
1950 itu tidak lain hanyalah sebagai penjelmaan dari "RIS"
kelahiran dari KMB, yaitu persetujuan (konsensus) dengan
Belanda. Dengan demikian maka baik itu namanya RIS maupun
RI yang mereka cantumkan pada tanggal 17-08-1950, tidak lain
adalah negara boneka kolonial Belanda merupakan
"tandingan" atau "pemberontak" terhadap Negara Islam
Indonesia (7 Agustus 1949).
326

Mujahid-mujahid Islam di Indonesia telah


memproklamirkan negara Islam itu pada tanggal 7 -08-49,
berarti pada tanggal tersebut itu adalah tonggak sejarah
berhijrahnya atau Baro’ah-nya umat Islam Indonesia dari
struktur (penjajahan) pemerintahan yang bathil, serta beralih
kepada yang berdasarkan kepada kebenaran Allah SWT.
Tegasnya, bahwa pada ketika itu adalah mulai terjadinya
"Furqon di Indonesia secara haqkiky", sebagai landasan idiil
dalam memisahkan yang haq dari yang berlawanan dengannya.
Pada tanggal itulah umat Islam Indonesia mendirikan
kedaulatannya tersendiri secara formal. Mempunyai lembaga
pemerintahan yang menyatakan berlakunya hukum Islam secara
kaffah. Berdaulat dan syah sebagai lembaga ulil amri kita.
Disertai pula landasan struktural dalam forum Internasional.

Bunyi Proklamasi Negara tersebut di atas itu dimulai


dengan kalimat "Bismillaahirahmaanirrahiim" merupakan
pengakuan bahwa bumi kita Indonesia ini hak Alloh, dan
hukum-hukum yang berlaku di dalamya harus sesuai dengan
yang diturunkan oleh-Nya. Juga, ditutup dengan "Allohu Akbar"
sebagai bukti pernyataan adanya umat yang bertekad
mewujudkan hukum-hukum Islam, sekalipun konsekuensinya
berhadapan dengan senjata musuh.. Adanya proklamasi
demikian itu sebagai realiasi dari bisikan hati yang mengakui
kebenaran Hukum-hukum Alloh. Dan menyakini bahwa tugas
pokok adalah mengabdi kepada "Rabbul ‘Aalamiin". Sehingga
siap menghadapi komponen apa pun yang merintanginya.

Meskipun pada saat ditulisnya buku ini NII sedang tidak


de facto, namun secara de jure lembaga negara tersebut itu
sudah memiliki landasan hukum dalam Islam sebagai
kelembagaan tempat berhijrahnya Umat Islam di Indonesia. Itu
bukan merupakan konsep lagi, melainkan berbentuk realitas
yang sudah bukti menjalankan hukum-hukum Islam di pelbagai
daerah yang pernah dikuasainya secara de facto sebelum
terdesak oleh pihak musuh.
327

Tidak ada lembaga kepemimpinan yang telah


membuktikan adanya furqon di Indonesia selain daripada NII
proklamasi 7 Agustus 1949. Sebab itu diri wajib komitmen
menjadi warganya sebagai pernyataan berhijrah atau
berbaro’ahnya dari struktur pemerintahan yang tidak
berdasarkan Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Begitu juga sebagai
penempatan diri, maka walaupun saat disusunnya tulisan ini
lembaga Imamah kita ini sedang dalam keadaan terdesak sampai
hukum pidana Islam-nya tidak bisa didhohirkan, namun jika
sudah berbaiat kepada lembaga furqon tersebut itu, maka
memohon kepada Alloh tidak terlibat dosa dari praktek-praktek
hukum jahiliyah ala pancasila, bila diri mati setelah memasuki
furqon ini. Soal de facto-nya hukum Islam adalah soal amaliyah
kita berdasarkan ukuran kemampuan dalam menghadapi
musuh. Adapun yang utama ialah berpijak pada nilai hukum
Islam dalam persaksian Alloh. Sebab, bahwa menempatkan diri
dalam furqon itu "tidak ada masttatho'tum". Tegasnya tidak bisa
diukur dengan kemampuan, artinya bahwa semua juga harus
melakukannya dalam kondisi bagaimanapun. Dan tiap diri itu
pasti mampu bila mau.

Resapkan dengan ketulusan hati bahwa beribadah menurut


aqidah Islam itu, hubungannya tidak cukup antara pribadi dan
Rabb-nya, melainkan harus berhubungan pula dengan
kepemimpinan , yakni dalam bermasyarakat. Artinya, seseorang
itu wajib melibatkan diri dalam kebersamaan (Q.S.3:103)
sehingga merupakan pemerintahan. Sebagaimana umat zaman
Nabi SAW, begitu pribadi-pribadinya menyadari adanya
kebenaran Alloh, maka langsung pula menyatakan diri untuk
ikut serta membela. Sehingga dapat mempertahankan Islam
bersama-sama, makna lain yaitu berlembaga. Oleh karena itu,
didalam Islam tidak ada hijrah cara diri pribadi, meski hanya
dalam bentuk aqidah. Aqidah para pengikut Nabi itu adalah
berada dalam ikatan kepemimpinan. Jelasnya yaitu satu
dalam segalanya. Sebab, bila tidak demikian berarti diri
termasuk didalam kebatilan. Islam adalah mencakup
pelaksanaan hukum-hukumnya, tidak ditegakkan oleh pribadi.
328

Jadi, bagaimanakah pandangan kita terhadap ormas-ormas


yang menamakan Islam, sedang di bawah dominasi pemerintah
Pancasila ? Semuanya bila memungkinkan hanyalah dapat
dijadikan alat sementara atau sarana bila dianggap perlu
oleh sebagian dari kita sesuai dengan kondisi dan situasi
lingkungan kita bergerilya. Dalam hal itu tidaklah menjadi
prisip. Karena, yang namanya Islam dalam kelembagaan mereka
itu baru dalam "konsep”, belum jadi. Apalagi bila hal itu
campur-baur dengan rekayasa dari musuh.

Islam dalam kelembagan NII bukan lagi konsep, tetapi sudah


nyata dibuktikan oleh sejarah dengan melaksanakan peribadahan
yang mahdhoh dan ghairu mahdhoh. Sehingga lembaga
proklamasi 7 Agustus 1949 itu merupakan wadah perjuangan
Islam secara Kaaffah. Bersamanya tidak didekte oleh kaum
kafirin / fasikin versi apapun ! Jadi, secara undang-undang, kita
ini sudah memiliki negara yang berdasarkan Qur’an dan
Sunnah.. Dari itu tidak bertujuan merebut apa yang dinamakan
Republik Indonesia, sejak 17 Agustus 1945 sebagai penjelamaan
dari RIS. Kita telah berlepas diri darinya. “RI baru” itu jangan
direbut, bila merebutnya berarti menyeburkan diri ke dalam
sistem kepemimpinan di luar Islam, dan berarti rela didikte oleh
musuh. R I yang sebenarnya secara de jure sudah lenyap oleh
pengibaran bendera putih di Yogyakarta. Adapun yang harus
kira rebut yaitu "Kemenangan NII secara de facto”, atau
menzhohirkan kembali Negara Islam Indonesia, Proklamasi 7
Agustus 1949 selaku hak kita sehingga terjadinya “Futuh” !

Sekali kebenaran yang berdasarkan Qur’an dan Sunnah


Rasulullah SAW diproklamirkan, maka sikap kita adalah wajib (
Fardhu ‘ain) mempertahankannya. Perjuangan NII bukanlah
hanya hak seseorang yang menjadi oknumnya, melainkan hak
umat Islam. SM. Kartosuwiryo tertangkap saat memimpin
perjuangan. Dan "tidak Pernah" membubarkan kelembagaan
NII. Sebab itu beliau siap dihadapkan ke muka regu tembak,
tidak bersedia menandatangani teks perintah mencabut
proklamasi, dan tidak menuruti perintah dari pemerintah
pancasilais untuk menghentikan perjuangan. Begitulah bahwa
329

mempertahankan "furqon" wajib terus dilakukan sejalan dengan


kemampuan kondisinya. Kini bagi beliau telah selesai
menyadang tugas dari Alloh SWT. Maka, kita inilah selaku
pelanjutnya. Jelas kita sambut dengan gembira karena
merupakan kesempatan diri guna mencapai "Ridho Alloh". Dan
wajib bersyukur bahwa kita masuh diberikan usia untuk menjual
diri kepada Alloh, serta memiliki kejelasan berada di jalan Allah
Swt.

Satu kali yang "hak" dinyatakan berdiri, maka pada dasar


sejarahnya tak dapat dihapuskan. Dari itu bagi yang tidak
mengakui Proklamasi Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949
itu, berarti tidak mengakui kebenarannya yang telah ada.. Atau
selain itu termasuk pemecah ; perjuangan (mufarriq lil
jama'ah). Cuma ada dua jalan (Q.S. 90 Al-Balad:10 ).
Pengertianya bilamana posisi seseorang itu tidak berada pada
jalan yang "hak", maka berarti berada pada jalan yang bathil.
Selaras dengan itu bahwa lembaga “Imaamah”, yang
diproklamasikan pada tanggal 7 Agustus 1949 itu adalah "satu-
satunya" wadah yang memisahkan yang hak dari kekuasaan
yang bathal di Indonesia, juga sesuai dengan bunyi
proklamasinya yang menyatakan berlakunya hukum Islam bagi
seluruh Umat Islam Indonesia, maka bagi yang melawannya
berarti di luar garis hijrah dan wajib ditumpas. Demikianlah
"furqon di Indonesia". Allaahu akbar ! Begitulah keharusan
kita mempertahan Negara Islam Indonesia !
-----------------------------------------------------------

22. Tanya:
“Yang dituju ialah hukum-hukum Al- Qur’an dan Sunnah
Nabi Saw berlaku di kalangan masyrakat, berarti di negara.
Dari itu apa sebabnya umat Islam tidak bisa merobah atau
memperbaiki Negara R I sehingga hukum Islam berlaku secara
totalitas di Negara RI ?”

Jawab :
1). Pancasila yang sehari sesudah Proklamasi kemerdekaan
adalah Pancasila versi baru yang disyahkan menjadi dasar
330

negara R I yang bersamaan dengan penghapusan kewajiban


menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya. Dengan
demikian bahwa pancasila dasar negara R I itu mengakibatkan
tidak ada jalan bagi umat Islam menjadikan negara R I
menjalankan hukum-hukum Islam. Artinya, tidak ada jalan
untuk merobah negara RI supaya berlakunya hukum-hukum
Islam.

2). Pancasila sebagai jiwa UUD 45 dicantumkan dalam


pembukaannya sehingga menjadi norma dasar hukum Nasional.
Pembukaan UUD 45 atau dasar negara Republik Indonesia itu
tidak dapat dirobah, dalam arti lain yaitu tidak bisa diganti
dengan yang lain. Silahkan baca satu diantara ketetapan MPRS.
No. XX / MPRS / 1966. Tanggal 5 Juni 1966............................
....................................................................................................
c. Pembukaan UUD’45 sebagai pernyataan kemerdekaan yang
terperinci, yang mengandung cita-cita luhur dari proklamasi
kemerdekaan 17-8-1945 dan oleh karena itu tidak dapat diubah
oleh siapapun juga, termasuk MPR hasil PEMILU, yang
berdasarkan pasal’ dan pasal 37 UUD’45 karena mengubah isi
pembukaan berarti pembubaran negara.

Dengan demikian UUD 45 dan Pancasila itu merupakan


yurisprudensi pokok sebagai konsiderant sehingga kedudukan
hukumnya paling tinggi di dalam negara RI di atas hukum-
hukum lainnya sehingga menjadi sistem bagi RI. Jadi, kalau
mengganti yurisprudensi pokok (UUD 45 dan Pancasila) berarti
harus mengganti sistem. Mengganti sistem berarti membubarkan
RI.

3). Bagi kita umat Islam bahwa hukum yang paling tinggi
adalah hukum Al-Qur’an, karena datangnya dari Allah, mutlak
harus dijalankan (Q.S.5:48). Sedangkan hukum tertinggi negara
RI ialah UUD 45 dan Pancasila. Dengan itu bagi yang
bermaksud menegakkan hukum-hukum Al-Qur’an didalam
sistem negara RI berarti:
331

a). Menganggap nilai Al-Qur’an di bawah UUD 45 dan


Pancasila. Hal itu jelas bertentangan dengan aqidah tauhid.

b). Cuma lamunan jika pancasila yang menjadi jiwa UUD 45


merupakan sistem bisa diganti dengan Al-Qur’an (Islam) dalam
negara RI. Sebab, secara hukum kalau bukan UUD 45 dan
Pancasila, maka bukan lagi RI.

c). Menganggap ajaran / hukum Islam bisa dirobah ditentukan


atau dibatasi oleh undang-undang 45 dan pancasila, sehingga
menganggap pula boleh berlakunya itu selama yang tidak
bertentangan dengan pancasila. Dengan itu berarti dirinya setuju
mengerjakan sebagian dan menolak sebagian (Q.S.15:91).

4). Menurut Islam, kita diwajibkan “Bara’ah” yakni lepas dari


kepemimpinan yang sudah jelas menolak berlakunya hukum-
hukum Islam. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala


apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari
orang-orang musyrik.”_(Q.S.15 Al-Hijr:94).

5). Menjalankan hukum-hukum Al-Qur’an berarti menta’ati


perintah Allah adalah sama wajibnya dengan mengerjakan
sholat yang lima waktu. Hal itu tidak boleh atas izin dari
manusia karena merupakan kewajiban mutlak dari Allah.
Sedangkan dalam sistem negara RI, bahwa semua hukum boleh
berlaku hanya jika tidak bertentangan dengan pancasila. Dengan
demikian wajib mutlak perintah Allah itu tidak bisa dijalankan
di dalam negara RI pancasila.

Dari lima point di atas itu disimpulkan bahwa umat Islam


tidak bisa memperbaiki R I supaya memberlakukan hukum
Islam secara keseluruhan, sebab RI yang sehari sesudah
Proklamasi Kemerdekaan itu bukan lagi merupakan negara
yang dasarnya bisa diganti dengan Islam.
332

-----------------------------------------------------
23. Tanya :
“Dari penjelasan telah lalu dimengerti bahwa UUD 45 dan
Pancasila itu sebagai yurisprudensi pokok atau sumber hukum
tertinggi di dalam R I, sehingga merupakan sistem Negara R I,
sehingga pula tidak bisa dipisahkan antara R I dengan UUD 45
dan pancasila, tetapi apa sebabnya masih ada saja yang
kelihatannya penasaran sehingga rame-rame berkampanye lima
tahun sekali dengan menganggap sebagai sarana pemilihan
pimpinan Islam ?”

Jawab:
Tidak semua mengerti ! Dari itu penulis kemukakan lima
kategori penyebab adanya yang penasaran, juga penyebab
rame-rame berkampanye lima tahun sekali PEMILU di negara
Pancasila:
1). Ada yang tidak paham wawasan sejarah pancasila,
dikiranya pancasila yang sehari sesudah 17 Agustus 1945 itu
masih saja seperti pancasila yang sebelum penghapusan
delapan kata dalam Piagam Jakarta. Mereka mengira bahwa
dengan ideologi pancasila itu masih ada peluang untuk
menegakkan hukum-hukum Al-Qur’an. Padahal negara yang
ideologinya sudah pancasila itu berarti tidak ada tempat bagi
Islam. Mereka tidak tahu bahwa ketuhanan dalam pancasila itu
adalah tuhan yang tidak punya rasul, tidak pernah melarang dan
tidak memerintah. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ali
Murtopo(mantan menpen. RI ) ialah tuhan demokratis.

2). Ada yang tidak mengerti hukum, mengira bahwa undang-


undang yang keluar dari badan legislatip ( DPR RI ) bisa
menggantikan yurisprudensi pokok atau merobah sistem
negara. Padahal sesungguhnya undang-undang yang dibuat oleh
DPR RI itu cuma merupakan Diktum bisa berlaku selama tidak
bertentangan dengan undang-undang (yurisprudensi) pokok
yang merupakan konsiderant. Artinya, selama tidak
bertentangan dengan sistem negara. Sedangkan sistem negara RI
itu di antaranya ialah menjadikan pancasila sebagai dasar
333

negara, yang telah menghapus kewajiban menjalankan


syariat Islam bagi para pemeluknya.

3). Banyak yang sudah tahu wawasan sejarah pancasila dan


perundang-undangan di Indonesia. Kategori yang ketiga ini
adalah orang-orang pintar, mengerti permasalahan yang
sesungguhnya. Adapun mereka buat keramaian kampanye, itu
dalam rangka berusaha menjadi anggauta DPR, atau karena
kepentingan tersendiri yang bersifat duniawi dalam arti luas.
Mereka juga sadar, bahwa menghadapi jatah kursi yang tidak
berkampanye saja sudah jauh untuk mengimbanginya, apalagi
menghadapi semuanya. Tapi, yang penting ialah dirinya dulu
jadi anggaota DPR, dengan itu berebutlah untuk memiliki
nomor calon jadi.

4). Ada yang tidak mau tahu masalah dan tujuan, yang tahu
ialah perintah dari atasan, atau dari yang mereka idolakan.
Jelasnya, percaya kepada yang di atas, atau simpati kepada
yang diidolakan. Mereka ikut rame-rame hanya karena perintah.

5). Banyak yang terbawa situasi dan kondisi, dalam arti lain
tertarik arus. Kategori yang terakhir ini tidak ada motip lain
kecuali secara kebetulan ikut rame-rame sekedar hiburan pesta
bergambar seragam. Dengan maksud yang seperti itu, maka
selalu mengikuti warna lingkungan di mana mereka berada. Dan
kategori terakhir ini, adalah yang paling banyak sehingga yang
paling meramaikan.
---------------------------------------------
24. Tanya:
“Apa sebabnya menegakkan kebenaran harus ada baro’ah
atau proklamasinya ?”

Jawab:
1). Memperhatikan ayat yang bunyinya:
334

“ Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb-


mu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-
orang musyrik.”_( Q.S.6 Al-An’aam:106 ).

Dari ayat itu diambil arti:


a). Adanya kewajiban menjalankan hukum-hukum (wahyu)
Allah. Sedangkan hukum-hukum Allah itu tidak bisa dijalankan
oleh sendirian, melainkan harus dengan bersama-sama disertai
adanya kekuatan secara fisik yang sekiranya musuh tidak berani
mengganggunya. Dengan demikian harus dengan pernyataan /
proklamasi sehingga diketahui oleh semua yang berkehendak
menegakkan hukum-hukum Allah dan siapa pula yang
menentangnya, sehingga jelas siapa kawan dan siapa lawan.
Sebab itu bunyi proklamasi NII di antaranya menyebutkan
bahwa hukum yang berlaku di Negara Indonesia ialah
Hukum Islam.

b). Wajib berpaling dari kaum musyrikin . Dikaitkan dengan


ayat di atas tadi ialah yang tidak mengikuti hukum-hukum
Allah. Sebab itu ada istilah musyrik hukum, menyekutukan
hukum, separoh dipakai, separoh lagi diambil dari hukum kafir.
Jadi, pengertian musyrik itu cakupannya luas. Kita diperintah
berpaling dari mereka, artinya diperintahkan mengambil sikap
sehingga tidak terlibat dengan perbuatan mereka. Tentu, dalam
mengambil sikap demikian harus ada garis pemisah yang jelas.
Yakni, dengan pernyataan baro’ah atau proklamasi.

2). Makna dari proklamasi yaitu berlepas diri atau “Bara’ah”


dari mereka yang durhaka terhadap hukum-hukum Allah,
sedangkan berlepas diri dengan sebuah pernyataan / proklamasi
merupakan kewajiban. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah:


“Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa
yang kamu kerjakan.”_( Q.S.26:216).
335

Mereka yang menghapus delapan kata dalam Piagam


Jakarta, juga menjegal usaha-usaha berlakunya hukum -hukum
Islam di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama
Islam, hal itu jelas suatu pendurhakaan terhadap umat Islam
Indonesia. Sebab itu umat Islam berlepas diri, yakni
memproklamirkan Negara Islam Indonesia yang menyatakan
bahwa hukum yang berlaku di Negara Islam Indonesia ialah
hukum Islam.

Komitmen dengan proklamasi NII, 7 Agustus 1949 supaya


diri dinilai oleh Allah bahwa kita tidak terlibat dengan sistem
pemerintahan RI yang menjalankan hukum-hukum yang
bertolak belakang dengan hukum-hukum Allah. Sehingga
dengan itu tidak terlibat daripada dosa pelaksanaan hukum-
hukum kafir. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Malahan kaum Nuh itu berkata:” Dia cuma membuat-buat


nasihat saja”. Katakanlah: “Jika aku membuat nasihat-nasihat
itu, maka akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri
dari dosa yang kamu perbuat”. _(Q.S.11 Huud:35).
Bila mereka sudah menyatakan menolak hukum-hukum Allah
serta menghina kita, maka kita harus tetap berbuat dengan
membalas pernyataan mereka. Perhatikan Firman Allah yang
bunyi-Nya:

“Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali


pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka
mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami,
maka sesungguhnya kami (pun) mengejek sebagaimana kamu
sekalian mengejek (kami).”__(Q.S.11 Huud:38).:

Tegas sekali bila mereka sudah menolak kebenaran dari


Allah, maka kita harus berlepas diri dari mereka. Perhatikan
Firman Allah yang bunyi-Nya:
336

“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah:


”Bagiku pekerjaanku, Kamu berlepas diri terhadap apa yang
aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang
kamu kerjakan”.” (Q.S.10 Yunus:41).

Dengan ayat di atas jelas bahwa berlepas diri bukan hanya


dalam hati, melainkan harus dengan pernyataan / proklamasi
yang kebalikan dari mereka.

Demikianlah sebabnya bahwa untuk menegakkan kebenaran


harus didahului dengan proklamasinya.
-----------------------------------------------

25. Tanya:
“ Ada yang mengatakan bila tegaknya Daulat Islam
didahului oleh Baro’ah yakni proklamasinya, maka akan
menimbulkan ekses revolusi yang menimbulkan kegoncangan
diri. Dengan itu bagaimana jawabannya ?”

Jawab :
1). Penumbangan terhadap sesuatu kekuasaan di manapun
bisa menimbulkan ekses revolusi yang kadarnya sesuai dengan
bentuk revolusinya. Hal demikian bukan saja antara yang haq
dan yang batil, melainkan juga antara batil melawan batil.
Sebagai contoh, anda juga bisa memperhatikan bagaimana
revolusi Perancis, juga revolusi Bolsyevik, 1917 (Rusia).
Logikanya antara sesama ideologi yang bukan Islam pun terjadi
revolusi, maka bagaimana tidak akan terjadi revolusi antara
yang haq melawan yang batil ?

Jadi, sekalipun orang akan menghindar dari revolusi, maka


revolusi itu akan datang, sebab di dunia ini tempat pertarungan
ideologi. Perhatikan Firman Allah yang buyi-Nya:
337

“Allah berfirman :”Turunlah kalian semua. Sebagian kalian


menjadi musuh yang lain. Bagi kalian di muka bumi ada tempat
kediaman dan perbekalan sampai waktu yang telah
ditetapkan.”(Q.S.7Al-A’raaf:24).

Dari ayat di atas itu diambil makna bahwa di dunia ini


tidak terlepas dari adanya pertikaian antara barisan yang ta’at
sepenuhnya kepada Allah dengan barisan yang mengikuti
kehendak Iblis, dengan itu pada klimaksnya terjadilah revolusi.
Sebab, sesuai dengan janjinya, iblis akan terus bergerak
memproduksi ‘setan-setan’ dari jenis manusia guna menantang
barisan yang benar-benar taat kepada Allah SWT. Dengan itu
jika pihak mukmin tidak menyerah kepada barisan Iblis, maka
cepat atau lambat akan terjadi revolusi. Sekarang tinggal diri
bertanya, “Apakah mau rela menyerah dibawah hukum-hukum
yang sesuai dengan kehendak ‘setan’, sehingga di akhirat juga
dicap sebagai pengikut setan dari jenis manusia” ? “Ataukah
mau melawan setan dari jenis manusia, meski terjadi ekses
revolusi ? “ Tentu, bagi pihak yang dibarisan Allah akan
menjawabnya, “biarlah ekses revolusi di dunia, ketimbang
ekses revolusi di akhirat !

2). Dalam Islam bahwa berperang itu untuk mempertahan diri,


artinya jika pihak luar Islam berjanji tidak akan menyerang,
maka pihak Islam dilarang menyerang. Umat Islam Indonesia
memproklamasikan diri yakni baro’ah dari kekuasaan
penjajahan Belanda yang kembali ke Indonesia. Hal demikian
itu hak kita yang sebagai mayoritas Islam guna bisa
menjalankan hukum-hukum Islam. Jadi, kita ini bukan mau
menyerang, melainkan mempertahankan hak kita. Dengan
demikian bahwa timbulnya ekses revolusi, hal itu diakibatkan
dari mereka yang menyerang terhadap kita. Namun demikian
kita harus siap menghadapinya. Sebab, walaupun kita tidak
menghadapi ekses revolusi, kita ini tetap akan menghadapi
kemungkinan adanya siksaan yang tidak khusus menimpa
338

kepada orang-orang zalim saja. Artinya, jika berdiam diri,


maka akan menghadapi siksaan, yaitu ekses revolusi yang
paling mengerikan, sepetinya api Jahannam yang abadi.
Berkaitan dengan itu perhatikan ayat yang bunyinya:

“Dan peliharalah dirimu dari bala bencana yang tidak saja


akan menimpa orang-orang yang bersalah diantara mu semata-
mata. Dan ketahuilah banwa Allah itu amat keras tindak
hukuman-Nya.” (Q.S.8 Al-Anfaal:25).

Ayat di atas itu memperingatkan kepada kita untuk mawas


diri terhadap siksaan, terlepas itu di dunia atau pun di akhirat
kelak. Artinya, jika kita berdiam diri tidak memproklamasikan
suatu baro’ah (pelepasan diri) dari kezhaliman maka terlibat
dalam pembatahan terhadap hukum-hukum Allah, maka bisa
jadi akan menimpa pada diri suatu siksaan yang melebihi dari
“ekses revolusi di dunia”, yaitu Jahannam (Q.S.9:81) “Asyad-
du Har-raa” (yang sangat panas ).

Adapun mengenai kegoncangan diri, hal itu adalah risiko


dari keberadaan diri pada jalan yang haq. Dan pada diri mereka
yang berada pada jalan yang batil juga bisa terjadi. Sebab, pada
dasarnya, yakni fitrohnya semua manusia tidak mau mengalami
kegoncangan diri. Tetapi, kegoncangan itu terjadi, maka apa
sebabnya ? Jawabnya ialah, “yang berada dalam kebatilan
didorong oleh syetan, sedangkan yang berada pada yang haq
didorong oleh Iman yaitu takut ditimpa oleh kegoncangan yang
melebihi dari segala kegoncangan yang terjadi di dunia.
Bagaimanapun besarnya kegoncangan dalam rangka ta’at
kepada Allah, tidak lebih daripada mati, yang kemudian
diterima kepada Allah. Sedangkan bagi yang dirinya lehah-
lehah karena rela melihat kafir-kafir menjegal hukum-hukum
Islam sehingga posisi dirinyanya terlibat pada jalan setan, maka
mau kemana lagi matinya ???
339

Mengenai kegoncangan diri, Allah berfirman yang bunyi-


Nya:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk ke dalam


syurga, padahal belum pernah datang kepadamu malapetaka
yang pernah diderita oleh orang-orang yang terdahulu dari
kamu ? Mereka menderita kesengsaraan, kemelaratan,
goncangan-goncangan dahsyat, sampai Rasul dan orang-orang
beriman disampingnya menanyakan: “Bilakah datangnya
pertolongan Allah ?” Ingatlah ! Sesungguhnya pertolongan
Allah selalu dekat.” (Q.S.2 Al-Baqarah:214).

Kegoncangan yang dimaksud oleh ayat di atas itu ialah


dalam rangka mempertahankan keberadaan Daulah Islamiyyah,
yakni dalam menghadapi serangan fisik dari mereka yang anti
hukum-hukum Islam. Kaum muslimin pada jaman Nabi Saw
tangguh menghadapi kegoncangan Perang Akhzaab yang mana
tentara Islam hanya berjumlah 3000 orang dengan kehabisan
makanan (setelah ada pemboikotan dari Yahudi Banu Nadzir),
menghadapi 12.000 tentara kebangsaan Quraiys Makah yang
penuh dengan segala persediaan.

Di dalam sejarah umat Islam, tentara Islam selalu berjumlah


yang sedikit dalam melawan kebathilan dibanding dengan
musuhnya itu. Sudah ketentuan bahwa yang jumlahnya sedikit
itu akan lebih goncang daripada yang jumlahnya lebih bayak
apalagi berkali-kali lipat. Dengan demikian timbul pertanyaan,”
apa sebabnya orang mukmin yang sedikit itu berani ?”
Jawabnya yaitu:

a). Bahwa mati atau hidup menghadapi kegoncangan, tetapi jika


dalam rangka menegakkan hukum-hukum Allah, maka
kegoncangan diri itu dijadikan sebagai proses untuk masuk
surga sebagaimana dalam ayat di atas tadi (Q.S.2:214).

b). Mengalami kegoncangan atau tidak pada diri, tetapi jika


masa bodoh terhadap hukum-hukum Allah, maka akan
340

mengalami kegoncangan yang tiada tara dahsyatnya, yakni di


Alam Mahsyar, sehingga segalanya tidak berguna lagi kecuali
kepatuhan diri terhadap hukum-hukum Allah selagi di Dunia.
Ekses revolusi yang sebenarnya ialah di Alam Mahsyar sebagai
Hari hisaban (hari perhitungan diri).

--------------------------------------------------------
26. Tanya:
“Bilamana hukum Islam secara keseluruhan diberlakukan di
Indonesia, maka apakah tidak bertentangan dengan sikap
toleransi terhadap pemeluk agama-agama selain Islam ?”

Jawab:
Jelas hal itu tidak bertentangan ! Bahkan memelihara toleransi
beragama. Sebab-sebabnya antara lain yaitu:

1). Dengan berlakunya hukum pidana Islam tidak ada


pengurangan terhadap ajaran-ajaran agama selain Islam. Sebab,
di dalam ajaran -ajaran agama selain Islam tidak didapat ajaran
yang bertentangan dengan hukum pidana Islam, artinya tidak
didapat ajaran yang berupa tata sosial masyrakat yang
bertentangan dengan hukum pidana Islam.

Sama halnya dengan hukum pidana dari KUHP- Pancasila


tidak mengurangi ajaran agama-agama selain Islam, misalnya
Kristen, Hindu, Kongfucu dan lainnya. Berbeda dengan Islam
yang ajarannya memiliki hukum Pidana, dengan itu jika yang
diberlakukannya hukum pidana dari KUHP-Pancasila, maka
cepat atau lambat tidak bisa dihindarkan untuk tidak terjadi
pertikaian diantara bangsa Indonesia. Sebabnya yaitu umat
Islam merasa tidak diperbolehkan mengamalkan ajaran agama
Islam !
341

2). Penduduk Indonesia adalah mayoritas Islam, jika dipaksa


menterapkan hukum yang bertentangan dengan ajaran Islam,
maka sampai kapan juga tidak akan aman, hal itu akan
mengganggu sikap teleransi. Sebab, umat Islam merasa dinodai
yaitu dipaksa meninggalkan ajaran Islam.

Kalau pada waktu dulu perhatian umat Islam terhadap usaha


pengeterapan hukum Islam tidak menjiwai setiap orang yang
beragama Islam, hal itu disebabkan kondisi mereka tidak paham
apa itu Islam. Akan tetapi, kini telah berubah seiring dengan
bertambah majunya media informasi seta kemajuan berfikir,
sehingga semakin lama semakin semakin kritis terhadap
keyakinannya. Akhirnya, pada tiap dirinya bertanya, ”
Mengapa aku tidak mengamalkan Al-Qur’an, dipaksa untuk
tidak menjalankan perintah-perintah Allah, bagaimana nanti
pertanggung jawabanku di Hadapan Allah, dan mengapa aku
rela sebagai mayoritas dianggap kalah oleh golongan
minoritas, mengapa aku tidak merasa dosa berdiam diri
dijalan thogut ?” Seribu satu pertanyaan akan muncul pada diri
umat Islam yang yakin bawa di dunia ini hanya sebagai jalan
dalam bertugas kepada Allah, dan akan ditanya pula oleh Allah
SWT.

Dari sekian banyak pertanyaan yang mengendap pada tiap


kalbu mu’min itu akhirnya akan menjadi kesatuan yang bangkit
menuntut haknya. Umat Islam tidak bisa dipaksa oleh golongan
minoritas supaya tunduk untuk menjalankan hukum-hukum
yang memepetkannya ke api jahannam ! Juga, tidak bisa
dipropagandai oleh orang -orang yang telah menjual ayat-
ayat Allah. Jadi, satu-satunya untuk mewujudkan toleransi
beragama ialah tegaknya Negara Islam Indonesia. Allahu
Akbar !

3). Arti toleransi antar agama yaitu saling menghormati agama


masing-masing, yakni tidak mengganggu pengamalan ajaran
masing-masing. dalam ayat dinyatakan yang bunyinya:
342

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam;


sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang
sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thagut dan
beriman kepada Allah, maka sesunggunya ia telah berpegang
kepada tali buhul yang amat kuat ayang tidak akan putus. Dan
Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.”_(Q.S.2 Al-
Baqarah:256 ).

Tidak ada dalam sejarah bahwa umat Islam memaksa yang


beragama bukan Islam supaya masuk Islam, atau menghalangi
peribadahan mereka. Sejarah menyaksikan bahwa Kalifah Umar
bin Khattab telah memerintahkan membangun gereja bagi
orang-orang kriten. Tidak pernah terjadi dalam Daulah
Islamiyyah pemaksaan terhadap yang bukan beragama Islam,
apalagi seperti yang dilakukan oleh para penguasa kristen pada
jaman Ratu Isabella di Spanyol, memaksa orang Islam supaya
masuk kristen dengan segala macam penyiksaan.

Dengan itu tidak tepat jika mayoritas penduduk Indonesia


yang beragama Islam ini dihalangi menjalankan hukum Islam
secara utuh, karena alasan mengganggu toleransi beragama,
sedangkan berlakunya hukum Islam tidak mengurangi
pelaksanan ajaran agama selain Islam.

4). Umat Islam tidak bisa disakiti atau dikhianati untuk


selamanya sehingga tidak bisa mengamalkan ajaran Islam
secara kaffah. Generasi Islam mendatang akan lebih pintar dan
lebih waspada daripada generasi sebelumnya, tidak bisa lagi
ditipu atau dibodohi, sebab telah berpengalaman dengan
mempelajari sejarah masa lalunya, serta bertambahnya
wawasan Daulah Islamiyyah. Dengan demikian sekalipun
dijegal dengan berbagai cara, namun selama Daulah Islamiyyah
belum tegak maka tetap revolusi Islam akan melanda ! Dan
yang merintanginya adalah termasuk yang anti toleransi.
343

Tegasnya, bahwa yang tidak setuju terhadap mayoritas


beragama Islam menjalankan hukum-hukum Islam itulah yang
tidak toleransi terhadap sesama umat beragama !
--------------------------------------------------

27. Tanya:
“Ada yang mengatakan bahwa sebagian ulama salaf
(terdahulu) tidak berusaha menggantikan pemerintahan yang
dipimpin oleh raja-raja yang zalim. Bila itu benar, maka apa
sebabnya ?”

Jawab :
Sebab, bahwa pemerintah kerajaan pada masa dahulu itu
adalah memberlakukan hukum-hukum Islam di masyarakat
Islam. Para penguasa pada jaman ulama salaf itu membela
Islam, dalam arti memberlakukan hukum Islam. Tidak didapat
dalam sejarah pada masa - masa itu raja - raja yang berani
melarang berlakunya hukum Islam dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Sebab itu para ulama salaf juga
tidak ada yang menyerukan perlawanan terhadap raja-raja.
Banyak terjadi konflik antara -pihak raja-raja dengan para ulama
salaf, tetapi hal itu merupakan tindakan pribadi-pribadi raja,
dalam arti tidak karena penggantian hukum-hukum Islam
dengan hukum-hukum kafir.

Berbeda dengan jaman ‘Ahdu ’l-muluka ‘l-jabbar seperti


dewasa ini, hukum yang berlaku di negara dan masyarakat
Islam bukan hukum-hukum Islam lagi. Dengan itu tuntutan
umat Islam sekarang di setiap negeri adalah terwujudnya
kembali khilafah (kekuasaan) berdasarkan Minhaj Nubuwwah.
Adapun untuk di Indonesia sudah terwujudkan, hanya tinggal
memperkuat kembali dalam segala bidang sehingga memperoleh
kemenangan secara de facto yang yang menyeluruh secara utuh.

-------------------------------------------------------
28. Tanya:
344

“Apa dasarnya bahwa Negara Islam Indonesia, 7 Agustus


1949 akhirnya akan memperoleh kemenangan de fakto,
sedangkan Nabi Saw menerangkan bahwa ummat Islam akan
berpecah-pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan ?”

Jawab :
1). Allah berfirman yang bunyi-Nya:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman


di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa
Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di
bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-arang yang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan
bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan
Dia benar-benar akan merobah( keadaan ) mereka, sesudah
mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.
Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan
sesuatu apapun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap)
kafir sesudah(janji) itu, maka mereka itulah orang-orang
fasik.”_(Q.S.24 An-Nuur:55).

Dari ayat di atas itu dipaham bahwa untuk memperoleh


kekuasan (kemenangan de facto/ Futuh)dari Allah akhirnya
bakal dicapai. Hanya, soal kapan waktunya tidak ditentukan,
sebab dalam ayat itu disebutkan “minkum” (di antara kamu)
yakni sebagian dari orang-orang beriman Dikaitkan dengan
perjuangan NII hal itu mengandung arti bahwa kemenangan
(futuh) perjuangan NII tidak mesti dialami oleh yang sedang
memperjuangkannya, melainkan bisa juga oleh generasi
penerusnya. Akan tetapi bisa juga kekuasaan itu dialam oleh kita
jika Allah mengizinkannya, sebab Allah Maha berkuasa.
345

Dan apabila kekuasaan itu belum juga diperoleh, karena


kita terburu tutup usia, maka tetap bersyukur bahwa kita telah
menunaikan tugas, yakni mengestapetkan perjuangan kepada
generasi penerus dari kita. Tidak rugi, sebab yang dituju yaitu
kita bisa beramal saleh, sehingga ada nilai ibadah kepada Allah.
Para mujahid terdahulu yang benar-benar ikhlas pada
hakekatnya sudah berhasil memiliki nilai ibadah berhijrah dan
berjihad sehingga menjadi amal saleh.

2). Masa kejayaan dan kekalahan dipergilirkan oleh Allah.


Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Jika kamu menderita luka-luka (pada perang Uhud),


maka (musuhmupun) menderita luka-luka yang sama sepeti itu.
Masa kejayaan itu Kami pergilirkan di antara manusia, karena
Allah hendak menunjukkan bukti; siapa yang dapat disebut
mukmin, dan siapa pula yang gugur di antaramu yang dapat
disebut syuhada. Namun Allah tidak menyukai orang-orang
yang zalim.” (Q.S.3 Ali Imran: 140).

Dengan ayat di atas itu diketahui bahwa dibalik kekalahan,


maka akan ada kemenangan, artinya tidak selamanya dalam
kekalahan. Contoh sejarah, banyak yang terjadi, seperti halnya
Daulah Bani Umayah yang ibu kotanya di Damaskus sudah
menjadi kekuatan di dunia, tetapi akhirnya cuma berkuasa
sembilan puluh tahun. Padahal bila dilihat dari keperkasaannya
sebelum ditumbangkan oleh pemberontakan Abbasyiyah, tentu
orang berpikir mana mungkin ada gerakan yang bisa
melenyapkan imperium bani Umayah. Hal itu baru satu contoh
dan banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Apalagi bagi Negara Islam Indonesia yang bukan merupakan


pemberontak, melainkan negara paroklamasi hasil merebut dari
penjajah Belanda, sehingga memiliki landasan hukum di forum
346

Internasional. Pada akhirnya semua bangsa yang menjungjung


tinggi hukum akan mengakui NII sebagai negara yang syah
yang diberontak oleh RIS (yang merupakan negara boneka
imperialis Belanda), yang telah mengganti nama dengan RI.
Generasi Bangsa Indonesia mendatang pun yang mengerti
hukum tidak rela bernaung dibawah negara pemberontak hasil
rekayasa Belanda. Ditinjau dari sudut patriotik sejati, sebagai
bangsa Indonesia tidak akan mau negerinya terus menjadi
negara hasil rekayasa bangsa asing dengan KMB-nya. Jelasnya,
bahwa pada akhirnya bangsa Indonesia dari semua lapisan
mereka tidak rela bernaung dalam negara yang tidak memiliki
dasar hukum proklamasinya, yang mana sudah diserahkan
kepada Belanda dengan Perjanjian renville ke -I yang disusul
dengan pengibaran bendera putih oleh dewan menterinya di
gedung agung Jogyakarta,19 Desember 1945.

Apalagi bagi umat Islam Indonesia yang telah menjual diri


kepada Allah SWT dengan cara memproklamasikan berdirinya
Negara Islam Indonesia, sebagai baro’ah-nya, jelas tidak
berdiam diri, melainkan bergerak dengan segala daya. Dengan
itu yakin pada akhirnya NII memperoleh kemenangan de facto.
Perhatikan ayat- ayat di bawah ini yang bunyinya:

“Dan Kami hendak memberi kurnia terhadap mereka yang


tertindas di negeri itu: hendak menjadikan mereka menjadi
pemimpin, begitu juga sekaligus menjadi pewaris.” (Q.S.28 Al-
Qashas:5).

“ Lalu Kami pusakakan kepada kaum yang pernah tertindas,


negeri-negeri Timur dan Barat yang telah Kami berkahi.
Dengan demikian terlaksanalah Kalimat Allah yang mulia yang
dijanjikan-Nya kapada Bani Israil disebabkan kesabarannya.
347

Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat oleh Fir’aun dan
kaumnya dan sekaligus apa yang telah mereka bangun.”

Dari kedua ayat itu diambil arti:

a). Bahwa kemenangan akan diperoleh setelah melalui proses


adanya “kesabaran” dalam menghadapi penindasan-
penindasan akibat dari keteguhan untuk menjalankan semua
perintah Allah.

b). Bahwa kemenangan secara de facto (berkuasa menguasai


wilayah, hal itu tidak ditujukan kepada pribadi-pribadi,
melainkan kepada kelembagaan. Artinya, bahwa banyak dari
sebagian Bani Israil yang tertindas, tetapi mereka tidak sempat
mengalami berkuasa, karena terburu tutup usia. Namun,
sebagian dari yang masih hidup atau turunan dari mereka tetap
menjalankan kesabaran, yakni terus mengadakan perlawanan
terhadap kerajaan Fir’aun. Dengan kesabaran sedemikian itulah
akan diperoleh kemenangan dalam bentuk menguasai wilayah
bagi Bani Israil yang masih hidup serta terus berjuang dengan
“kesabaran”.

Dikaitkan dengan para penegak hukum-hukum Allah


sebagaimana yang terjadi di Indonesia ini, yakni yang sudah
dilakukan oleh para mujahid NII, yang mana dari sebagian
mereka telah “menjadi Syuhada”, pribadi-pribadi mereka tidak
mengalami kemenangan dalam bentuk menguasai wilayah
secara de facto, namun mereka sudah menjalankan kesabaran
yang menjadi syarat bagi kemenangan NII secara de facto bagi
generasi pelanjutnya. Hal demikian sudah menjadi ketentuan
Allah, bahwa Sunnattullah tidak berobah ( Q.S.35 Fathir:43).
Jadi, walaupun sebagian dari tentara Islam Indonesia itu sudah
mengalami desersi menyerah, namun sebagiannya lagi atau para
pelanjutnya tetap menjalankan kesabaran dengan terus
mengadakan gerilya untuk perlawanan selanjutnya. Hal itu
sabagaimana umat jaman terdahulu, dibalik banyak yang
mundur, banyak juga yang terus bertahan dengan kesabaran.
348

Sebab, bahwa yang diikuti oleh yang sebenarnya mujahid itu


bukanlah oknum atau pribadi-pribadinya pemimpinnya,
melainkan kelembagaan atau kenegaraannya. Sebagaimana para
pengikut nabi-nabi dahulu pun tidak mengikuti pribadi-pribadi
mereka yang mundur, melainkan mengikuti misi kenabiannya.

Sunatullah tetap berjalan, bahwa yang terus menjalankan


kesabaran tetap akan bermunculan. Perhatikan Firman Allah
SWT yang bunyi-Nya:

“Berapa banyak nabi-nabi yang turut berperang, serta ikut


dengannya begitu banyak pengikut-pengikutnya, namun mereka
tidak merasa lemah karena musibah yang menimpa di jalan
Allah, tidak lesu dan tidak mau menyerah kepada musuh. Allah
menyukai orang-orang yang sabar.” (Q.S.3 Ali Imran 146)
Nyata, bawa yang disebut sebagai “orang-orang yang
sabar”, bukanlah orang yang diam menyerah kepada
keadaan, tetapi orang yang terus mengadakan perlawanan.
Bukan juga orang-orang yang hanya berdo’a minta tolong dari
lepasnya penekanan kekuatan kaum kafir, sedangkan dirinya
tidak memiliki kepemimpinan yang baro’ah dari pemerintahan
yang menentang tegaknya hukum-hukum Allah. Jadi, bahwa
sabar yang dimaksud oleh ayat itu ialah orang-orang yang
tidak menyerah atau tidak berhenti melawan kekuatan yang
menjegal hukum-hukum Allah. Ada ayatnya, berarti ada
kebuktiannya. itulah Sunnattullah, sehingga kemenangan pada
akhinya pun akan ada kebuktiannya. Itulah salah satunya yang
menjadi dasar bahwa kemenangan NII secara de facto pada
akhirnya akan diperoleh.

Sudah dimengerti bahwa syarat untuk memperoleh


kemenangan itu harus melalui penindasan akibat kegigihan jiwa
memperjuangkan kebenaran, sehinggga terbukti adanya
kesabaran dalam menghadapi penindasan. Dengan demikian
penulis serukan kepada musuh-musuhnya NII, “ Jangan
349

mengira bahwa dengan banyaknya tekanan fisik yang tuan-tuan


lakukan terhadap warga NII itu akan membuat NII kalah atau
mundur ! Tidak ! Bahkan hal demikian akan menjadi bukti
adanya kesabaran bagi warga NII, dan dengan kesabaran itu
menjadikan syarat kemenangan bagi warga Negara Islam
Indonesia !

Memperhatikan petikan ayat Qur’an surat 3 ayat 140 .


“...Masa kejayaan itu Kami pergilirkan diantara manusia.
karena Allah hendak menunjukkan bukti: siapa yang dapat
disebut mukmin, dan siapa pula yang gugur di antaramu yang
disebut syuhada...” , maka apa yang yang disebutkan oleh ayat
Qur’an itu pasti akan terbukti. Jadi, bila sekarang N I I masih
dalam penekanan musuh, maka hal itu hanya merupakan proses
sejarah supaya kita bisa membuktikan diri sebagai mukmin, dan
supaya di antara kita pada saatnya ada yang disebut mati syahid.
Dengan demikian bagi kita bukan berpikir kapan menangnya,
melainkan dari hal sampai tahapan berapakah pengorbanan diri
dalam memperjuangkannya sehingga memperoleh sebutan
mukmin dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Soal kemenangan
secara de facto / Futuh, pasti akan terjadi, meski di antara
pribadi kita tidak semua mengalami, karena terburunya tutup
usia. Maka. generasi pelanjut dari kita akan memperolehnya, itu
adalah sama saja. Yang menjadi nilai bagi diri kita di Hadhirat
Allah ialah ketangguhan kita dalam menegakkan hukum-
hukum-Nya.

3). Pernyataan Nabi Saw mengenai tahapan kekuasaan pasti


terbukti, seperti yang diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir:

‫كنا قعودا فى مسجد رسففول الف صففلى الف عليففه وسففلم وكففان بشففير‬
‫ يابشير بن سعد أتحفظ حففديث‬:‫رجوليكف حديثه فجاء أبوثعلبة فقال‬
‫ انففا‬:‫رسول ل ال صلى الف عليففه وسففلم فففى المففراء ؟ فقففال حديفففة‬
‫ قال رسول ال صففلى‬:‫احفط خطبته فجلس ثعلبة الحشنى فقال حديفة‬
‫( تكففون النبففوة فيكففم ماشففاء الف ان تكففون ثففم‬1) :‫الف عليففه وسففلم‬
‫( ثم تكون خلفة على منهففاج النبففوة‬2) .‫يرفعها إذا شاء ان يرفعها‬
350

‫( ثففم‬3) .‫فتكون ماشاء ال ان تكون ثم يرفعهففا اذا شففاء ان يرفعهففا‬


‫تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء ال ان يكون ثففم يرفعهففا اذا شففاء ان‬
‫( ثم تكون ملكا جبريا فتكون مفا شففاء الف ان تكفون ثفم‬4) .‫يرفعها‬
.‫( ثم تكون خلفة على منهاج النبوة‬5) .‫يرفعها اذا شاء ان يرفعها‬
Yang artinya:
“Suatu ketika kami sedang duduk-duduk di Masjid
Rasulullah saw, sementara itu Basyir adalah seorang laki-laki
yang tidak banyak bicara. Datanglah Abu Tsa’labah, kemudian
ia berkata: “Wahai Basyir bin Sa’ad apakah engkau hapal
hadits Rasulullah saw, tentang para penguasa ?” Hudzaifah
kemudian tampil seraya berkata,” saya hapal khutbahnya.”
Maka Abu Tsa’labah al-Khasyni duduk, mendengarkan
Hudzaifah berkata: Bersabda Rasulullah saw:
(1) Nubuwwah (‘ahdu’n-Nubuwwah, ed.) tetap berada di antara
kalian selama Allah menghendaki, kemudian jika mau, ia akan
mencabutnya.

(2) Kemudian akan datang khilafah berdasarkan pada Minhaj


Nubuwwah (‘ahdu ‘l-khilafatu ‘r-rasyidin) selama Allah
menghendakinya, dan jika Ia menghendaki niscaya ia
mencabutnya.

(3) Selanjutnya akan berlangsung masa penguasa (raja-raja)


yang “menggigit” dan kuat (‘ahdu ‘l-muluka ‘l-’aad ) selama
Allah menghendakinya, dan akan mencabutnya sampai Ia
menghendakinya.

(4) Lantas akan ada penguasa tiran (diktator) (‘ahdu ‘l-


muluka ‘l-jabbar) selama dikehendaki Allah, dan Ia akan
mencabutnya kalau Ia menghendakinya.

(5) Seterusnya akan muncul lagi masa khilafah (‘ahdu ‘l-


khilafah berdasarkan Minhaj Nubuwwah.” ( Musnad al-Imam
Ahmad bin Hanbal ).
351

Dari bunyi hadist yang tertera di atas itu, jelas pada


akhirnya akan ada pemerintahan sebagaimana pada jaman
Khalifah yang empat, yakni yang bersistem kepada
pemerintahan Nabi Saw. Apabila anda benar-benar mengkaji
sistem Negara Islam Indonesia,7 Agustus 1949, maka
ditemukan bahwa pemerintah Negara Islam Indonesia itu
mengacu kepada Minhaj Nubuwwah.

4). Adapun mengenai umat Islam pecah menjadi 73 golongan,


kita perhatikan dua bunyi hadits di bawah ini:

‫افترقت اليهود والنصارى على ثلث وسبعين فرقة كلها فى النار إل‬
‫ هم الذين على مثل ما أنا‬:‫ قالوا من هي يا رسول ال ؟ قال‬.‫واحدة‬
.‫عليه اليوم وأصحابى‬
( ‫) اخرجه ألترمدي و الطبراني‬.
“Akan berpecah belah Yahudi dan Nashara menjadi 72
golongan dan akan berpecah umatku menjadi 73 golongan.
Semuanya di neraka kecuali satu. Shahabat bertanya: Siapakah
mereka ya Rasulullah ? Beliau menjawab: mereka itu adalah
orang-orang yang mengikuti aku dan para shahabat lakukan
hari ini.” (HR. Tirmidzi dan Thabrani).

:‫ قففال رسففول الف صففلى الف عليففه وسففلم‬:‫عن عففوف بففن مالففك قففال‬
‫ واحففدة فىالجنففة وثنتفان‬، ‫لتففترقن امفتى علففى ثلث وسففبعين فرقفة‬
‫ )رواه‬.‫ الجماعفة‬:‫ قيل يارسول ال مفن هفم ؟ قفال‬.‫وسبعون فىالنار‬
.(‫ابن ماجه‬
“Dari ‘Auf bin Malik ia berkata: Telah bersabda Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya umatku akan
terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan
masuk surga dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka”.
Beliau ditanya: “Ya Rasulullah, siapakah satu golongan itu ?”.
Beliau menjawab: “AL-Jama’ah”. (HR Ibnu Majah).
352

Dari hadits di atas itu diambil tiga kesimpulan :

Pertama, dalam hadits itu disebutkan “yang masuk syurga


(selamat) hanya satu, artinya bahwa yang lurus “tetap ada”.
Dengan demikian pada akhirnya golongan yang mengikuti jejak
Nabi Saw dan para shahabatnya itu akan eksis, yakni akan
memperoleh kemenangan.

Kedua, dinyatakan bahwa yang selamat itu ialah jama’ah,


dan yang disebut jama’ah itu ialah golongan yang mengikuti
jejak Nabi Saw dan para shahabatnya. Untuk menilai golongan
manakah yang pada waktu ini bisa disebut sebagai yang
mengikuti jejak Nabi Saw dan para shahabatnya, tentu harus
mengetahui apa yang dilakukan oleh Nabi Saw beserta para
shahabatnya, seperti diantaranya yaitu:

(1) Sudah baro’ah / proklamasi berlepas diri dari struktur


pemerintahan yang bertolak-belakang dengan hukum-hukum
Allah Swt.

(2) Sudah bantu membantu menyusun (Q.S.8:73) kekuatan


(Q.S.8:73) militer dalam struktur kepemimpinan tersendiri
sehingga jelas, tidak samar dalam menentukan mana kawan dan
mana lawan.

(3) Membuat undang-undang pemerintahan (Piagam Madinah)


serta mempertahankannya dengan kekuatan senjata, sehingga
terjadi “yaqtuluuna wa yuqtaluun” (Q.S.9:111).

Dengan tiga point itu saja, jika jujur maka harus diakui
bahwa golongan yang mengikuti jejak Nabi Saw dan para
shahabatnya, untuk di Indonesia ini ialah umat Islam yang
mempertahankan Proklamasi Negara Islam Indonesia, 7 Agustus
1949 dengan segala pengorbanannya hingga sampai sa’at ini.

Sebab, bahwa yang disebut mengikuti jejak Rasulullah


Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya itu, bukan
353

cuma dalam ngomong tanpa perbuatan (Q.S.61:2), bukan hanya


menyampaikan hadits-hadits kepada yang lain sedang diri tidak
melakukannya, bukan juga mengamalkan hadits- hadits dengan
dipilih yang enaknya saja. Melainkan, bahwa yang disebut
mengikuti jejak ( sunnah) Nabi itu ialah yang dalam praktek,
sehingga nyata dirasakan oleh diri dirasakan pula oleh musuh-
musuh Islam sehingga pula bagi ‘setan-setan’ pun terasa
adanya “Asyid daa-u ‘alal kuf-fari (Q.S.48:29). Semua sudah
tahu bagaimana hukumnya bagi yang sudah tahu adanya
perintah-perintah dari Allah, tetapi tidak menjalankannya.
Sebab itu bahwa yang disebut “Sunnah” Nabi Saw itu, bukan
cuma mengemukakan hadits, tetapi mempraktekkan apa yang
diperbuat Nabi Saw.

Dalam hadits itu bahwa golongan yang selamat hanya satu,


yakni yang mengikuti jejak Nabi Saw dan para shahabatnya
hanya satu golongan. Dengan itu sungguh tidak berdasar, jika
untuk mempraktekkan Sunnah nabi Saw itu harus menunggu
semua golongan bersatu. Umat Islam pada jaman Rasulullah
Shalallahu ‘alai wassallam adalah golongan minoritas, artinya
dalam memproklamasikan kedaulatan Islam tidak menunggu
yang golongan banyak yang mana masih dalam kegelapan. Hal
demikian telah menggentarkan dunia yang bukan Islam pada
waktu itu. Sebab itu umat Islam Indonesia pun tidak menunggu
seluruh umat Islam di mana pun yang tidak bercita-cita untuk
Islam, artinya kita tidak bisa menunggu mereka yang ngaku
berargama Islam, tetapi ideologinya bukan Islam.

Ketiga, dalam Al-Qur’an surat 2 Al-Baqarah ayat 214


dinyatakan yang bunyinya:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk ke


dalam syurga, padahal belum pernah datang kepadamu
354

malapetaka yang pernah diderita oleh orang-orang yang


terdahulu dari kamu ? Mereka menderita ke sengsaraan,
kemelaratan, goncang-goncangan dahsyat, sampai rasul dan
orang-orang yang beriman besertanya menanyakan; “Bilakah
datangnya pertolongan Allah ?” Ingatlah ! Sesungguhnya
pertolongan Allah selalu dekat.” (Q.S.2 Al-Bqarah:214).

Dalam hadits yang dikemukakan tadi di atas bahwa yang


masuk syorga itu hanya satu, yakni mereka yang mengikuti
jejak Nabi Saw dan para shahabat yang hidup bersamanya.
Adapun dalam ayat di atas itu mengingatkan kita, “Jangan
menyangka akan masuk syurga sebelum mengalami
penderitaan seperti orang-orang yang terdahulu.” Dengan itu
tinggal anda bertanya, “ Golongan umat Islam manakah di
Indonesia yang menderita akibat menegakkan Daulah
Islamiyyah seperti yang diungkapkan oleh ayat di atas ?”
Jawabnya, “Jelas mujahid-mujahid Negara Islam Indonesia !”
Apa sebabnya ? Jawabnya, “Karena sudah terbukti melakukan
yang sama dengan yang dipraktekkan oleh Nabi Saw dan para
shahabat yang hidup bersama beliau, yakni memproklamirkan
Negara Islam yang didalamnya menyatakan berlakunya hukum
Islam sehingga resikonya memperoleh gempuran dari pihak
yang anti penerapan hukum Islam secara keseluruhan, dan
terjadilah penderitaan sebagaimana dalam Qur-an Surat 2 Al-
Baqarah ayat 214 !” Dengan demikian, “Untuk masa kini
golongan manakah yang berhak memperoleh sebutan “Salafy”
sebagai orang-orang yang meniti jejak generasi terdahulu ?
Jawabnnya, “Sungguh itulah para mujahid Negara Islam
Indonesia, 7 Agustus 1949 !”

Demikianlah dasar-dasarnya bahwa Negara Islam Indonesia


pada akhirnya akan memperoleh “Nashrullah” kemenangan de
fakto.
--------------------------------------------------------
29. Tanya :
“Kebenaran N I I sudah jelas, nyata dasar-dasar hukumnya
berdasarkan Nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw, tapi apa
355

sebabnya masih saja ada beberapa tokoh yang sudah dianggap


mengerti kepada agama Islam, tetapi masih mencela-cela NII ?

Jawab :
Penyebabnya, antara lain yaitu:

1). NII-nya belum menang. Jadi, sekalipun dalam hati mereka


mengakui bahwa NII itu memiliki nilai kebenaran berdasarkan
Al-Quran dan Sunnah, tetapi jika mereka menganggap NII tidak
bakal menang, maka mereka tidak bakal memihak nya. Bahkan
ikut mencelanya hingga memperoleh nilai dari Pemerintah RI.
Perhatikan ayat-ayat yang bunyinya:

“(yaitu) orang-orang yang memilih orang-orang kafir


menjadi pemimpinnya dengan mengenyampingkan orang-orang
yang beriman. Apakah mereka mengharap kekuatan.
Sesungguhnya kekuatan itu hanyalah kepunyaan Allah.”(Q.S.4
Annisaa’:139).

“ Mereka mengulas kata:”Andaikan kita kembali ke Madinah,


tentu orang-orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang
lemah di sana.” Padahal kekuatan itu hanyalah kepunyaan
Allah, kepunyaan Rasul-Nya, dan kepunyaan orang-orang
mukmin. Namun orang-orang munafik tidak mengetahui.”
(Q.S.63:8).

Kaum munafik pada jaman Nabi Saw mereka mengetahui


kebenaran yang dibawa Rasul Saw, mereka langsung melihat
Nabi Saw serta mukzizatnya, tetapi mereka tetap mengoceh.
Padahal mereka berada di wilayah yang dikuasai oleh Daulah
Islamiyyah, tentu jika yang berada di wilayah yang dikuasai
kafir bukan lagi munafik, melainkan kafir. Maka, apalagi
sekarang yang dikuasai Daulah kafir, dan NII-nya sa’at
ditulisnya tanya jawab ini belum berkuasa. Dengan demikian
356

untuk komitmen kepada NII tidak cukup dengan mengerti


mengenai kebenarannya, tetapi harus disertai kesiapan menjual
diri kepada Allah (Q.S.9:111).

2). Disesatkan setan. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah


mengaku beriman kepada apa-apa yang telah diturunkan
kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu ?
Mereka hanya mau berhukum kepada hukum Thagut,
sekalipun mereka sudah diperintahkan untuk mengingkarinya.
Setan hendak menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.” (Q.S.4
Annisaa’:60 ).

Mereka yang dikemukakan oleh ayat diatas itu adalah orang-


orang yang sudah ngerti akan kebenaran, pada waktu itu masih
ada Nabi Saw, langsung melihatnya, permasalahan agama
sungguh jelas tidak jadi persoalan, karena Nabi masih ada,
tetapi tetap berhtakim kepada Thogut. Hal itu sama saja dengan
sekarang yang sudah tahu dan ngerti hukum-hukum Allah,
tetapi yang dibelanya hukum Thogut. Artinya, tidak aneh bila
sekarang didapati yang mengerti bahwa kebenaran NII itu sesuai
dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi membela pemerintah RI
karena setuju dengan hukum-hukum thogut. Sekedar mengerti
sedangkan tidak sadar bahwa dirinya berhadapan dengan setan
dari jenis jin dan manusia, maka bisa disesatkan setan !

3). Sudah menjadi ketentuan adanya yang menyembunyikan


yang haq, sedangkan mereka mengetahuinya. Perhatikan ayat
yang bunyinya:

“Orang-orang yang telah kami beri kitab, mengenal


Muhammad seperti mengenal anaknya sendiri. Tetapi sebagian
357

mereka menutup kebenaran itu, padahal mereka


mengetahuinya.” (Q.S.2 Al-Baqarah:146).

Didalam hati mengakui kebenaran yang sudah diketahuinya,


tapi pada dhohirnya tidak mengakuinya, bahkan mencelanya
demi kepentingan pribadinya. Ada ayatnya, berarti ada
orangnya.

4). Merasa cukup dengan pengetahuan yang ada pada mereka.


Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang


diutus kepada ) mereka dengan membawa keterangan-
keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang
ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang
selalu mereka perolok-olokkan.” (Q.S.40 Al-Mukmin:83).

Mereka yang digambarkan oleh ayat di atas itu ialah orang-


orang yang sudah merasa cukup dengan ilmunya. Artinya,
karena merasa sudah lebih pintar, maka merasa gengsi bila
diberikan penjelasan, sehingga mencari-cari jalan untuk
menyalahkannya, padahal dirinya sudah mengetahuinya.

5). Cenderung kepada duniawi sehingga mendustakan ayat-ayat


Allah. Perhatikan ayat-ayat yang bunyinya:

“Dan bacakanlah kepada mereka berita yang mengagumkan


tepatnya berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-
ayat kami, kemudian dia berpantang mempercayainya, lalu dia
dihubungi rapat oleh setan untuk menggodanya. Sehingga ia
menjadi sesat.” (Q.S.7 Al-A’raaf:175).
358

“Jika Kami kehendaki, tentu Kami dapat mengangkat


derajatnya. Namun dia ketagihan kesenangan dunia, dan
mengikuti hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya
seperti anjing. Bila kamu halau, dia menjulurkan lidahnya,
atau jika kamu biarkan iapun mengeluarkan lidahnya juga.
Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami. Ceritakanlah cerita ini, semoga mereka
berpikir.” (Q.S.7:176).

Sebagian penafsir mengatakan ayat ini berkaitan dengan Abu


Amir bin Nu’man, seorang rahib yang menjalankan
kesederhanaan dan kesalehan. Ketika Nabi Saw datang ke
Madinah ia merasa posisinya tersaingi, ia mencoba menyusun
kekuatan untuk menyerang Nabi. Upayanya gagal. Ia
mengetahui kitab suci (tahu bahwa Muhammad Saw sebagai
nabi terakhir), tetapi ia terpedaya karena memiliki posisi tinggi
di tengah kaumnya.

Sebagian penafsir berpendapat bahwa ayat ini merujuk


kepada Umayah bin Ubay Al-Tsaqafi. Ia banyak membaca kitab
suci yang lama. Ia tahu bahwa di negeri Arab akan dibangkitkan
seorang Rasul. Ia berharap dirinyalah Rasul itu. Pernah dia mau
masuk Islam, tetapi mengurungkannya. Ia banyak menulis puisi
yang memuja kebesaran Allah, menceritakan hari pembalasan
dan mengajarkan kebaikan. Ketika puisi-puisi itu dibacakan di
depan Nabi Saw. Beliau bersabda, ”Puisinya mukmin, hatinya
kafir”.

Meskipun turunnya kedua ayat ini berkaitan dengan sebagian


orang-orang alim pada jaman Madinah, namun ayat ini
menjelaskan mengenai Bal’am seorang ulama yang bertugas
dalam pemerintahan. Ia telah berhasil dalam tugasnya di bidang
do’a untuk kesejahteraan tentara dan raja. Tetapi ketika sampai
berita bahwa Nabi Musa dan para pengikutnya akan menyerang,
pejabat-pejabat elit pemerintahan datang menemui Bal’am,
359

kemudian memerintahkan berdo’a untuk kekalahan Musa dan


para pengikutnya, ia keberatan dan berkata, “Musa dan para
pengikutnya itu orang-orang saleh. Aku terlarang mendo’akan
kecelakaan atas mereka”.

Para penggede dari pemerintah itu mendesak dengan jaminan


hadiah yang besar dan ancaman kehilangan kedudukan yang
tinggi. Akhirnya Bal’am menyerah, ia mulai berdo’a. Tetapi,
setiap berdo’a untuk kekalahan Musa, dari mulutnya keluar
untuk kemenangan Musa. Ketika berdo’a untuk kejayaan
penguasa, malah yang keluar untuk kehancuran penguasa.
Akhirnya ia berkata, ”Lidahku tidak bisa berdo’a selain yang
tadi. kalau aku berdo’a untuk kekalahan mereka, do’aku tidak
akan dikabulkan. Aku punya nasihat. Aku tunjukkan kepada
kalian cara untuk menghancurkan mereka. Allah membenci
zina, jika mereka berjina, mereka akan binasa. Kirimkan
wanita-wanita kepada mereka. Mudah-mudahan dalam
perjalanan mereka berzinah dan sesudahnya, mereka binasa”.

Akhir dari ayat di atas tadi (Q.S.7:176) menyebutkan,


”...Kisahkanlah kisah-kisah itu supaya mereka berpikir”. Hal
itu menunjukkan bahwa orang alim / ulama yang seperti Bal’am
itu tetap ada. Pertama kali terlihat alim konsisten kepada
keulamaannya, tetapi manakala disodorkan kepada mereka
suatu kedudukan (kenikmatan duniawi), maka ia hantam juga
para penegak hukum-hukum Allah. Coba renungkan, sebelum
mengucapkan do’a, Bal’am yakin sekali bahwa Musa dan para
pengikutnya itu pada berada pada jalan Allah, dibuktikan lagi
dengan dirinya tidak bisanya mengucapkan do’a untuk
mencelakakan barisan Nabi Musa as. Dengan demikian
sungguh tidak heran jika dewasa ini didapat ulama yang sudah
tahu risalah kebenaran NII, namun tetap membantu pihak
pemerintah RI, pengayom hukum-hukum Thogut .

Inti dari Firman Allah (Q.S.7:175-176) di atas tadi, supaya


kita tidak boleh terpedaya dengan sikap orang alim /ulama yang
sudah terbius oleh rayuan para elit daulah kafir, atau oleh ulama
360

yang takut kalah pengaruh kehilangan wibawanya, akibat


keterlanjuran mencela risalah kebenaran yang kita sampaikan.
Kita harus tabah, sebab selama kita belum memperoleh
kemenangan (futuh), selama itu pula ulama sedemikin itu akan
mencela kita. Untuk itu camkan petikan ayat yang menjelaskan
bahwa diantara sifat mujahid ialah “...laa yakhaafuuna laumata
laa-im (...tidak takut terhadap kecaman orang).”(Q.S.5:54).

6). Bisa ditakut-takuti oleh syaitan dari jenis jin dan manusia
sehingga tidak takut kepada Allah Swt. Perhatikan ayat yang
bunyinya:

"Sesungguhnya mereka itu hanyalah syaitan yang mengancam


kamu agar takut kepada pemimpin-pemimpinnya. Karena itu
janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-
Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S.3:175).

Akibat rasa takut yang mendominasi diri terhadap barisan


thogut, sehingga takut dianggap tidak memihaknya, maka
keluarlah ungkapan -ungkapan yang bernada memojokkan
pejuangan NII, meski dalam hatinya mengakui kebenarannya.

Demikianlah di antara penyebab dari adanya mereka yang


sudah mengerti mengenai kebenaran NII, tetapi tidak berpihak
kepada NII.
---------------------------------------------------------
30. Tanya:
“Dari beberapa ayat yang dikemukakan dalam jawaban
telah lalu diambil arti bahwa yang sekedar mengetahui
kebenaran serta berpredikat ulama, tidak mutlak menjamin
dirinya untuk berpegang kepada kebenaran yang sudah mereka
ketahuinya. Maka, bagaimanakah kaitannya dengan Qur’an
surat 35 Faathir ayat 28 ?”

Jawab:
Sebelum lanjut, perhatikan dulu bunyi ayatnya di bawah ini:
361

“Dan diantara manusia, binatang-binatang melata dan


binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warna
(dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara
hamba - hamba-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S.35
Faathir:28).

Ayat di atas itu menambahkan kejelasan ayat yang


sebelumnya (Q.35:27), yaitu mengenai kejadian alam yang
telah diciptakan Allah Swt. Jadi, istilah “Ulama” yang
dimaksud oleh ayat di atas itu ialah orang-orang yang
mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah sehingga hidupnya
ditujukan untuk taat kepada Allah, karena setiap geraknya
didasari dengan penuh rasa takut kepada-Nya. Keyakinan
demikian bukan dalam waktu temporer, melainkan dalam setiap
saat. Diantaranya yaitu:

1). Membayangkan Besarnya Allah Swt


Mengetahui kekuasaan Allah itu bukan cuma di mulut, tetapi
meresap kedalam jiwa. Dilihatnya bintang berkelip,maka terasa
tidak sekecil bumi yang ia tempati. Dibayangkannya bila dilihat
dari bintang yang berkelip-kelip itu, pasti bumi ini tidak
terlihat dan seolah tidak ada. Jika bumi sudah tidak telihat
maka dimanakah letaknya diri, dan mau kemanakah selain
kepada Allah Swt ?

Bagi yang merasakan kekuasaan Allah, tidak bingung di


mana letaknya neraka. Sebab, dengan api matahari yang
besarnya 1200.000 kali besarnya bumi juga sudah cukup untuk
tidak bertanya dari mana datang apinya. Dibandingkan dengan
besarnya matahari maka jangan lagi jumlah manusia dari satu
bumi, andaikan dengan setumpukan manusia yang besarnya
sepuluh kali bumi juga, maka api neraka tidak akan padam.
Bagaimana kalau besarnya api itu dibandingkan lagi dengan
362

milyaran matahari yang disebut bintang-bintang karena jauhnya


itu ?

2). Yakin Dibangkitkan Kembali


Tidak ragu bahwa jasad yang sudah menyatu dengan tanah
akan dibangkitkan kembali dalam dimensi lain, sebab dari tanah
tandus disiram hujan (Q.S.22:5) juga bisa tumbuh dengan subur,
dari yang tidak ada menjadi ada, apalagi jiwa yang tadinya
sudah ada. Dibangkitkan dari kubur pasti dalam dimensi lain,
sebab akan menjalani alam lain, sehingga sesuai dengan
kondisinya. Menghadapi alam yang abadi maka kondisinya
juga harus tahan untuk abadi.

Allah menciptakan tiap binatang sesuai dengan kondisi


tempatnya. Contohnya, ular dalam bentuk panjang tidak diberi
kaki, karena tempatnya di rumpun atau semak belukar, maka
dijadikan kulit perutnya kuat sehingga tahan sesuai dengan
tempatnya, bila hidupnya lama berganti kulitnya. Tikus rumah
kondisinya berbeda dengan tikus besar (hitam), karena kondisi
tempatnya juga berbeda. Dimensi jasad kita selagi di bumi ini
berbeda dengan dimensi sesudah dibangkitkan dari kubur,
karena keadaan tempatnya yang akan kita diami juga berbeda
lagi.

Perhatikan ulat di ranting merayap menggelikan, tetapi


bila sudah waktunya harus berganti tempat, maka istirahat
menjadi kepongpong, bisa hidup tanpa makan, kemudian
bergantilah segalanya, sesuai dengan kondisi alam kehidupan
barunya. Yang asalnya dilihat paling menggelikan menjadi
indah dipandang mata. Yang tadinya menggeliat-geliat di
ranting dan daun menjadi mampu terbang dari bukit ke bukit.
Lebih dari itu bertransmigrasi sekaligus dengan ribuan yang
sejenisnya, melalui perjalanan yang tidak tergapai oleh semua
jenis binatang yang melata. Padahal sebelum melalui proses
kepongpong, binatang yang paling kecil pun bisa menggigitnya.
363

Manusia, satu-satunya mahluk di bumi yang paling


diistimewakan, sebagai “khayawaanun naatiq (hewan yang
berbicara)”, tentu proses untuk kepindahannya juga ditentukan
sesuai tugas manusia. Bila sudah diistirahatkan (jasadnya
dimatikan), akan dirubah dimensinya sesuai dengan keadaan
medan yang harus dijalaninya. Di alam sana bukan lagi jasad
manusia yang sekali kena benturan langsung bengkak atau mati
tidak hidup lagi. Di dunia bisa mati karena dimensinya
diciptakan untuk sementara.

Ribuan ulat menjadi kepongpong melekat di dedaunan dan


ranting pada lokasi yang berjauhan, antara satu ulat dengan
yang lainnya tidak saling mengenal. Akan tetapi, bila sudah
dalam bentuk kupu-kupu, maka bisa berkonvoy merupakan
kumpulan berarak yang sungguh memanjang menuju dalam
satu tujuan. Terlepas dari bagaimana cara komunikasinya
sehingga bisa demikian, tapi yang jelas ialah suatu alami yang
diciptakan Allah. Dengan itu apalagi kepada manusia yang
tadinya juga sudah diberikan perintah dan larangan, maka di
manapun tempatnya masing-masing diri itu dikuburnya,
kepastian dari Allah akan pula dikumpulkannya di Alam
Mahsyar.

3). Sadar Sedang Dalam Rekaman


Yang merasakan adanya kekuasaan Allah, merasa bahwa
nyawanya diciptakan Allah, dan akan menghadap kepada-Nya.
Merasakan bahwa dirinya yang setiap detik sedang masuk
dalam komputer yang tak terlihat sehingga semuanya tercatat
(Q.S.36:12) Direkam oleh tape rekorder yang disediakan pada
diri sehingga semua kata bakal terungkapkan ( Q.S.36:65).
Sehelai daun saja dilihat oleh Allah (Q.S.6:59), maka apalagi
dirinya yang akan dipinta pertanggung-jawaban oleh Allah.
Yakni, tidak ada satu ucapan yang terliwatkan didalam video
akhirat.

Tidak akan tanya dengan cara apa merekam gerak -gerik dan
suara tiap manusia, didunia saja kepada manusia telah diberikan
364

sedikit ilmu, yakni dengan kemajuan teknologi, sehingga


seseorang bisa mendengar ucapan dari yang lainnya walau
terhalang oleh belahan bumi, semua unsurnya diciptakan Allah.
Rekaman diri bisa dirasakan dengan mentafakuri adanya “eter”
pada diri, terasa tapi tak nampak. Seperti halnya pikiran-pikiran
yang melintas di hati, dengan cepat dilupakan dan tampak
seolah-olah pikiran tersebut telah tiada, dianggap tidak ada lagi.
Tetapi setelah masa yang lama akan dilihatnya kembali dalam
bentuk mimpi, atau akan diucapkannya dalam keadaan histeris
atau gila, tanpa sadar yang diucapkannya itu.

Adakalanya seseorang yang sewaktu dalam keadaan sadar,


dia lupa kepada nama seseorang yang pernah menjadi kawannya
semasa ia masih kecil, meski terus berusaha mengingatnya,
sehingga direka-reka olehnya. Tetapi, sewaktu mimpi bertemu
dengannya, dirinya diberitahukan oleh bekas kawannya itu
tentang nama yang sebenarnya. Sebaliknya dari itu, dalam
keadaan sadar, kita tak pernah mengingat-ingat seseorang yang
sudah lebih dua puluh tahun tidak bertemu, karena antara kita
dengannya tidak pernah ada hubungan apa-apa, kecuali sekedar
kenal sepintas, tetapi kenapa satu waktu kita pernah bermimpi
bertemu dengannya sehingga teringat apa yang pernah kita lihat
dan kita dengar mengenai dirinya ? Jelas, bahwa ingatan atau
akal bukanlah yang kita rasa atau yang dilihat saja, melainkan
mempunyai wujud lain yang berdiri sendiri. Itulah barangkali
ahli ilmu pengetahuan menyebutnya “eter”. Atau juga mungkin
alat perekam diri yang tidak kita lihat (wallaahu ‘alam).

Kembali kepada rekaman diri kita kelak di akhirat, buat saja


perumpamaannya. Yaitu, bila anda memiliki satu perangkat
perekam suara yang didalamnya tersimpan mengenai ucapan-
ucapan anda yang berkaitan dengan kasus anda di sidang
pengadilan, maka selama perangkat rekaman itu dikuasai oleh
anda, alat itu tidak akan mengeluarkan suara kata yang tidak
anda inginkan. Akan tetapi, bilamana milik anda itu sudah
disita oleh petugas dari pengadilan, maka walaupun mulut anda
bungkam seribu basa, namun ucapan-ucapan anda itu terus
365

keluar melalui perangkat rekaman diri anda. Begitupun di alam


mahsyar, rekaman diri bukan lagi dalam kuasa kita, walaupun
mulut tertutup, namun tetap keluar suara kita. Perhatikan ayat
yang bunyinya:

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka. Tetapi tangannya


yang berbicara dengan Kami dengan disaksikan oleh kakinya
berkenaan dengan apa-apa yang telah mereka lakukan.”
(Q.S.36:65).

4). Merasakan Dekat dengan Allah


Jika anda memegang gundu (kelereng), maka pasti seluruh
yang ada pada gundu itu terkuasai, dan semuanya yang ada pada
gundu bisa dilihat, karena diri anda sangat besar, sedangkan
gundu kecil. Sebab itu, disebut dalam hadist bahwa Allah lebih
dekat daripada urat leher, artinya bahwa kekuasaannya
meliputi segalanya, semua manusia di bumi belahan mana pun
tidak lepas dari kekuasaan-Nya. Merasa dekat dalam hal ini
bukanlah hanya dalam omongan, melainkan dalam jiwa yang
dibuktikan dengan sikap keseharian.

Satu perumpamaannya, jika ke rumah anda kedatangan


seorang pembesar yang anda yakini sungguh berkuasa
menentukan bahagia atau tidaknya diri anda, tentu sikap anda di
rumah itu akan selalu hati-hati dalam segala hal, karena anda
sedang dekat dengan pembesar anda itu. Bagi hamba-hamba
Allah, yakni “Ulama” yang disebutkan dalam Qur’an surat 35
ayat 28 tadi di atas, merasa dekatnya kepada Allah bukanlah
sewaktu-waktu, melainkan setiap sa’at, sehingga segala apa
yang akan dilakukannya itu, maka terlebih dulu ingat aturan
yang ditetapkan Allah. Terasa pada dirinya tidak ada satu detik
yang tidak terekam oleh pandangan Allah, dengan direkam itu
berarti besar atau kecil pelanggaran maka akan kena
pemeriksaan. Dengan demikian bahwa merasakan dekatnya
kepada Allah itu bukanlah cuma sewaktu-waktu, sehingga rasa
takutnya juga bukan sewaktu- waktu. Jelasnya, bukan seperti
366

yang sewaktu melakukan sholat ia takut kepada Allah, tetapi


bila sedang bertemu dengan pejabat dia tidak takut kepada
Allah, sehingga kelakuannya sama dengan pejabat, diajak
begini mau; diajak begitu mau. Seperti halnya bila diajak
maksiat (melecehkan ) terhadap kukum-hukum Allah bukannya
sedih, tapi malah jadi kebanggaan, maka ulama sedemikian itu
kebalikannnya dari yang disebutkan dalam Qur’an Surat 35
ayat 28 tadi.

5). Mengerti dan Yakin terhadap Rezeki di Akhirat


Yang mengerti kekuasaan Allah, maka tidak ragu dari mana
datangnya buah-buahan di alam “Jan-naatinna’iim” (syurga
yang penuh kenikmatan), sebab buah apel yang ada di bumi pun
tidak diketahui dari mana asalnya, yakni meskipun berkali-kali
ditanam dan berkali-kali berbuah dari tempat yang sama,
namun jika tanahnya terus digali, maka di bawahnya tidak
ditemui buah apel. Ya, itu pasti alam bumi, di syurga pun pasti
alam yang ada di syurga. Sebab, pasti alam di manapun Allah
yang menciptakannya. Kita tidak ragu, sebab pasti alam
diciptakan sesuai dengan kehendak-Nya.

Kelapa ditanam di daerah yang cocok dengan kondisinya,


maka akan tumbuh mengeluarkan kelapa pula dan di dalamnya
ada airnya. Walau dari sekian milyar buah kelapa yang airnya
dibuang tidak dimanfaatkan, namun tetap Allah menentukan
bahwa tiap air kelapa, baik itu yang akan diminum maupun
yang dibuang, tetap diisi air kelapa. Allah tidak rugi dengan air
kelapa yang kebanyakannya tidak dimanfaatkan manusia.
Sungguh tidak ragu, terhadap air susu (Q.S.47:15) yang
disediakan di syurga. Yang dibuang saja dibuatkan maka apalagi
yang dikehendaki oleh hamba-hamba yang sewaktu di dunia
berbakti kepada-Nya. Itu sebagai satu perumpamaan saja,
banyak lagi yang tidak disebutkan di sini.

6). Yakin akan Balasan Sesuai dengan Perbuatan


Pasti alam satu biji rambutan yang melalui proses tanam di
bumi akan mengeluarkan ribuan buah rambutan; pasti alam buah
367

jeruk, mengeluarkan buah jeruk. Begitu juga pasti alam kepada


manusia sudah ditentukan Allah, bila sudah melalui proses
kubur(mati), maka yang asalnya membantah kepada-Nya, tetap
ada nilai siksaan akibat pembantahannya. Begitu juga yang taat
kepada-Nya, tetap ada nilai pahala dari ketaatan kepadanya.

Pasti alam di dunia satu biji kurma ditanam bisa menjadi


ribuan kurma, dan bila dari setiap biji ditanam lagi bisa tak
terkira hasilnya. Maka, pasti alam akhirat pun dari sekian tahun
hidup didunia dengan penuh ketaatan kepada Allah akan
menghasilkan kenikmatan yang tak terkirakan, yakni yang
abadi. Artinya, bagi Allah itu mudah, yakni jika kenikmatan di
dunia ini tidak habis-habisnya, bakan semakin bertambah, maka
kenikmatan di akhirat pun sebagai ganjaran. Begitu juga
mengenai bentuk siksaan di akhirat, mudah bagi Allah
menyediakannya.

7 ). Yang Dituju Keridhoan Allah


Yang yakin akan adanya hari pembalasan, maka tidak perlu
gengsi dalam pandangan manusia manapun, tidak butuh dicatat
sejarah sedang dirinya dalam pembatahan terhadap Allah.
Sebab, bagaimanapun termasyhurnya di dunia serta sejarah
dirinya, maka dunianya juga bakal kiamat. Tidak ragu terhadap
kiamat. Buktinya, lapisan ozon yang asalnya tidak rusak,
sekarang sudah sobek yang menurut penelitian sudah seluas
wilayah Indonesia. Bagaimana jika semakin lama ?

Kesimpulannya
Sungguh jelas bahwa yang dimaksud dengan “ulama” pada
ayat di atas tadi (Q.S.35:28) bukanlah yang hanya memiliki
ilmu agama, sedangkan hatinya cuma kepada kesenangan
duniawi, seperti kepada kedudukan serta kemasyhuran dalam
pandangan manusia sehingga lupa akan tempat kembali; alias
lupa terhadap hari perhitungan dari Allah. Melainkan, bahwa
yang dimaksud dengan ulama dalam ayat itu ialah orang yang
mengetahui kekuasan dan kebesaran Allah yang ditafakurinya,
baik itu yang bisa dilihat oleh mata maupun yang hanya bisa
368

dipahami oleh penganalisaannya yang hasilnya dimasukkan


kedalam jiwanya.

Untuk menutup jawaban ini, perhatikan petikan ayat yang


bunyinya:

“...Janganlah kamu terpedaya oleh kehidupan oleh kehidupan


dunia ini, dan jangan pula (penipu) setan memperdayakan
kamu terhadap menta’ati Allah.” (Q.S.31:33).

Dari bunyi petikan ayat itu dimengerti bahwa siapa saja,


jika dirinya sudah tertipu dengan kesenangan duniawi, yakni
lengah terhadap tempat kembali ke alam mahsyar, maka satu
saat bisa tergoda oleh syaitan. Perlu dipaham bahwa yang
dimaksud kehidupan dunia ini, bukan hanya dalam ukuran
materi / kebendaan saja, melainkan juga, termasuk gengsi, gila
hormat, ingin dipuji-puji, ingin tercatat dalam sejarah, dan
sebagainya. Buktinya, tidak sedikit orang tadinya terlihat alim,
tapi suatu sa’at membuat kesalahan, tapi ngotot tidak mau
mengakui kesalahannya karena takut tercatat didalam sejarah,
maka disadari atau tidak olehnya, hal itu telah tergoda oleh
kehidupan duniawi. Yakni, takut kesalahannya tercatat dalam
sejarah. Padahal jika dirinya ingat sepenuhnya ke Alam
Mahsyar, tidak perlu takut oleh catatan sejarah di dunia, sebab
semua manusianya juga akan ledis termasuk sejarahnya.

Berbeda lagi bagi yang konsetrasinya kepada kekuasaan


Allah, maka tidak akan mengutamakan duniawi dengan
menomor-duakan tanggung jawab kepada Allah. Tidak perlu
bela diri dengan berbelit-belit supaya dinilai bersih, sebab
bagaimanapun berbelit, tidak mau dicatatat dalam sejarah,
maka rekaman diri tidak bisa dipungkiri di Hadapan Allah. Laa
Ilaaha ilallaah, tidak Rabb kecuali; tidak ada yang dituju
melainkan kepada Allah. Jadi, apapun yang terjadi, tidak ada
persoalan bagi pribadi mu’min, asalkan dalam menjalankan
369

-perintah-perintah Allah. Demikianlah “ Ulama” yang sesuai


dengan Qur’an surat 35 Faathir ayat 28.

-----------------------------------------------------
31. Tanya:
“Ada sebagian para penggede dari pemerintahan RI yang
apabila membaca Al-Qur’an didahului dengan Isti’adzah,
yakni mengucapkan, ”Aku berlindung kepada Allah dari
syaitan yang terkutuk”, tetapi apa sebabnya mereka masih saja
mempertahankan hukum-hukum kafir, seakan-akan belum
memperoleh perlindungan dari Allah ?”

Jawab:
Sebelum menjawab lebih lanjut, perhatikan dulu tiga ayat
di bawah ini:

“Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu


meminta pertolongan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”
(Q.S.16:98).

“sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas


orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.”
(Q.S.16:99).

“Kekuasaan syaitan itu terbatas hanya pada orang-orang


yang mengambilnya jadi pemimpin, dan orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan dengan dia.” (Q.S.16:100).

Penjelasannya:
1). Kalimat “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang
terkutuk”, yang dimaksud dalam Al-Qur’an bukan hanya dalam
pengucapan, melainkan harus dalam praktek. Sebab, jika cuma
dalam ucapan alias kata-kata maka tidak bedanya dengan yang
sedang dalam berpuisi atau bersandiwara. Misalnya, seorang
wanita berkata kepada seorang pria, ”Aku berlindung
370

padamu” ! Akan tetapi, bila hal itu diucapkan hanya karena


keadaan formalitas sandiwara, sedangkan sebelum atau
sesudahnya si wanita tersebut berlindung atau menyerahkan
dirinya kepada lelaki lain, maka tentu ucapannya itu bukanlah
suatu permintaan yang mesti dikabulkan.

Bagaimana tidak disebut lelucon atau sandiwara, jika


seseorang yang mengatakan berlindung kepada Allah,
sedangkan dirinya lagi menginjak-nginjak hukum Allah, serta
membela hukum-hukum kehendak setan alias thogut. Maka.
pastas saja bila membaca cetakan hurup Al-Qur’an sedang
isinya dienyahkan atau diambil sekedar yang bisa dianggap
menguntungkan. Sungguh hal itu diambil arti bahwa sadar atau
tidak, maka kesehariannya juga bersama-sama dengan setan.

2). Dalam ayat yang ke-dua (Q.S.16:99) diambil arti “bahwa


godaan setan itu tidak mempan kepada orang-orang yang
beriman dan menyerahkan dirinya kepada Allah”. Pengertian
menyerahkan diri kepada Allah, yakni diri diserahkan kepada
Allah, artinya bahwa tujuan hidupnya ditujukan untuk
menjalankan perintah-perintah Allah serta meninggalkan
yang bertolak- belakang dengan hukum-hukum Allah. Dengan
demikian bahwa pengertian “berlindung kepada Allah” yaitu
menyerahkan diri kepada Allah, yang dibuktikan dengan
mamatuhi ketentuan dari-Nya.

Yang berlindung dengan sebenarnya berarti menyerahkan diri


kepada yang dipinta melindungi, berarti pula ta’at kepada yang
melidungi. Al-Qur’an mengungkapkan, ” Sesungguhnya setan
itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan
menyerahkan diri kepada Rabbnya.” Artinya, bahwa pada sa’at
mengucapkan “Isti’adzah” itu, loyalitas (keta’atan) diri hanya
kepada Allah dengan dibuktikan menegakkan hukum-hukum
Allah, serta ingkar dari hukum-hukum kehendak setan. Jika
tidak demikian, maka Isti’adzah-nya palsu, atau cuma olok-
olokkan, atau juga hanya merupakan puisi. Atau mungkin
371

sekedar terpaksa ada undangan dari ‘babe’. Atau mungkin juga


supaya bisa nongol di layar TV dilihat oleh anak bini !

Sekali lagi, bukan berlindung jika tidak ta’at ; bukan ta’at


jika tidak menyerahkan diri. Satu misal, seorang gadis yang
menyerahkan diri kepada kekasihnya dengan dibuktikan adanya
ta’at, dalam arti kesetiaan yang sepenuhnya kepada kekasihnya
itu, maka tidak akan tergoda oleh pemuda lain. Kekasihnya juga
bersedia melindunginya. Berbeda lagi dengan seorang gadis
yang dalam perkataannya berlindung kepada si jejaka, sedang
prakteknya ia setia kepada pemuda yang menjadi musuh
besarnya si jejaka tadi, maka si jejaka itu tidak akan
memperdulikan omongan si gadis, sebab tahu bahwa ucapan si
gadis itu cuma memperolok-olokan, atau sebagai tipuan untuk
mengelabuhi para pengikut si jejaka.

3). Dalam ayat yang ketiga (Q.S.16:100) diambil arti bahwa


bagi yang mengambil ‘setan’ sebagai pemimpinnya serta
mempersekutukannya dengan Allah Swt, tidak memperoleh
perlindungan dari godaan setan. Yang dimaksud menyekutukan
Allah pada ayat itu ialah menyatukan ketaatan antara ketaatan
terhadap Allah dengan ketaatan terhadap pemimpin dari
pengemban hukum-hukum yang bertentangan dengan hukum-
hukum Allah. Contohnya, sholat dan shaum Ramadhan serta
ibadah mahdhoh lainnya dikerjakan, tetapi menta’ati juga
perintah dari ‘dedengkot’ kaum sekuler dalam rangka
memberangus usaha tegaknya hukum-hukum Allah. Dengan
mensyarikatkan kea’atan itu maka sebagian perintah Allah
dikerjakan sebagian lagi dibantah, yakni diganti dengan
hukum-hukum thagut (setan) ! Sadar atau tidak, maka sikap
sedemikan itu posisi dirinya dalam kepemimpinan ‘setan’ ! Hal
itu sesuai dengan pernyataan setan (Q.S.7:16-17) akan
menggoda dari semua arah, atau dari segala aspek kehidupan.

Jadi, walaupun pada setiap hari raya Islam mengucapkan


Isti’adzah, serta ngomong mari amalkan Al-Qur’an, tetap saja
membela hukum pidana dari KUHP-Pancasila warisan kolonial
372

asing yang jelas bertentangan dengan Al-Qur’an.Sebab,


menyerahkan dirinya bukan kepada Allah, melainkan kepada
kedudukan atau kepada UUD 45 dan Pancasila.

Demikianlah sebabnya bahwa ada sebagian dari penggede


pemerintah RI yang bersila sambil komat-kamit Isti’adzah,
tetapi tetap saja menolak pengeterapan hukum Islam secara
kaffah di bumi Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Sebab itu, bahwa Isti’adzah yang sebenarnya ialah


Isti’adzah yang didahului oleh Bara’ah, melepaskan diri dari
ideologi yang sesuai dengan kehendak Thogut / setan.
------------------------------------------------

32. Tanya:
“Pada bulan Agutus tahun 1962 sebagian besar tokoh NII
menandatangani “Ikrar Bersama” yang secara dhohir telah
menyerah kepada musuh. Dengan itu atas dasar apa kita mesti
terkait dengan NII ?”

Jawab:
Yang menyerah itu adalah sebagian dari oknum pimpinan
NII. Artinya, bukan semuanya, tetapi sebagiannya, sehingga
masih ada estapeta kepemimpinan NII. Dengan itu sekalipun
sudah banyak oknum yang keluar dari NII, namun selama nilai
kepemimimpinannya masih ada, maka kita wajib terkait
dengannya.

Dalam hal ini kita perhatikan apa yang dialami oleh Ali
bin Abi Thalib setelah banyak ummat yang meninggalkannya,
pada suatu subuh Ali bin Abi Thalib melihat tentaranya yang
ada diperkemahan jumlah tinggal sekitar 1000 orang lagi,
Khalifah Ali tetap teguh tidak goyah, bahkan pada akhir
hayatnya mengatakan:” Tiada artinya perintah bila tidak
ditaati. Biarlah mereka pergi, cukup Allah dan Rasul-Nya
bagiku”.
373

Dari perkataan Ali r.a itu jelas bagi kita juga bahwa yang
menjadi keterkaitan kita terhadap NII itu karena nilai
kebenarannya. Dengan itu seandainya pun tinggal sendiri lagi,
namun jika masih memiliki nilai segai pelanjutnya, artinya tidak
batal dari tugasnya, maka diri tetap terkait dengan
kepemimpinan NII. Apalagi ditambah dengan aparat NII yang
tidak menyerah kepada musuh, melainkan karena pada waktu
dulu itu putus hubungan, sehingga tidak tahu keadaan yang
sesungguhnya. Sejalan dengan jawaban ini kita perhatikan ayat
yang bunyinya:

“Hai orang -orang yang beriman, (kewajiban) kepadamu


ada pada dirimu, tidaklah orang yag sesat memberi madharat
kapadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya
kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan
menerangkan kepadamu apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.5 Al-
Maidah:105).

Dari ayat di atas itu diambil arti bahwa kita lepas tanggung
jawab terhadap perbuatan mereka yang telah menyimpang dari
tujuan kebenaran. Kita tetap berkewajiban melanjutkan
perjuangan tegaknya Daulah Islamiyyah, meski hanya tinggal
berberapa orang lagi. Perhatikan ayat yng bunyi-Nya:

“ Tetapi hanya satu rumah saja yang Kami dapati warga-


warganya terdiri dari orang-orang yang patuh kepada Allah.”
{Q.S.51 Adz-Dzaariyaat:36).

Ayat di atas itu menggambarkan bahwa keterkaitan terhadap


pemimpin itu ditentukan dengan masih adanya nilai
kepemimpinan yang hak, dan bukan ditentukan oleh sedikit atau
banyaknya pengikut. Jadi, walaupun pengikutnya cuma ada satu
374

keluarga, namun jika itu benar memiliki legalitas sebagai


pemimpin maka wajib diri terkait kepadanya. Allah tidak butuh
kepada manusia banyak. Di Hadzirat Allah Swt, tidak bisa
mengelak bila tidak komitmen kepada pemimpin yang Haq,
dengan alasan pengikutnya sedikit atau karena banyaknya yang
menyerah kepada kepemimpinan musuh.

Demikianlah yang menjadi dasar keterkaitan kita kepada


kepemimpinan NII, meskipun sebagian dari komandan T I I-
nya banyak yang menyerahkan diri kepada Thogut.
----------------------------------------------------
33. Tanya :
“Ada yang mengatakan bahwa N I I itu sudah terpecah-
pecah. Adakah itu benar dan bagaimanakah yang
sesungguhnya ?”

Jawab:
Tidak benar ! Tegaknya NII berdasarkan undang-undang.
Dengan undang-undang itu, tidak berpecah-pecah. Melainkan,
tetap bersatu, yang pemerintahannya berjalan menurut dasar
yang ditetapkan dalam “Kanun Azasy”, dan sesuai dengan
pasal 3. dari Kanun Azasy tadi, sementara belum ada
Parlemen(Majlis Syuro), segala undang-undang ditetapkan
oleh Dewan Imamah dalam bentuk maklumat-maklumat yang
ditandatangani oleh Imam. Perhatikan dua petikan ayat di
bawah ini:

“Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali (batas ketentuan)


Allah secara bersama-sama dan jangan bercerai-cerai...”
(Q.S.3:103).

“Hai orang-orang beriman ! Taatilah Allah dan taatilah


Rasul-Nya dan ulil Amri dari (golongan) kamu....” (Q.S.4:59).

Berpegang teguh dengan batas ketentuan dari Allah, dikaitkan


dengan surat An-Nisaa’ ayat 59 yakni taat kepada Allah serta
ulil amri minkum yaitu kepemimpinan umat Islam. Wadah
375

kepemimpinan umat Islam untuk sementara di Indonesia ini


yaitu Negara Islam Indonesia (NII). Dari Al-Qur’an surat 3 Ali
Imran ayat 103 dan surat An-Nisaa’ ayat 59 disimpulkan bahwa
yang berpegang dengan undang-undang itu tetap bersatu, dan
yang bercerai-cerai itu yang tidak berundang-undang. Dan
yang tidak berundang-undang itu bukanlah NII, walau
mengakunya sebagai warga NII.

Adapun yang mengatakan NII telah berpecah-pecah, karena


tidak menilai undang-undangnya, melainkan melihat dari
adanya beberapa kelompok yang mengatas-namakan NII.
Padahal bagaimanapun banyaknya yang mangatas-namakan NII,
tetapi jika sumber kepemimpinannya itu tidak berdasarkan
kepada peraturannya, sebagaimana dalam Kanun Azasy dan
PDB (Pedoman Dharma Bhakti), maka bukanlah NII. Adapun
sebab terjadi banyaknya kelompok yang mengklaim NII di
antaranya ialah:

1). NII yang sesungguhnya berdasarkan undang-undang belum


memperoleh kemenangan secara de facto, sehingga belum
banyak dikenal oleh seluruh umat Islam Indonesia.

2). Banyak yang belum memahami nilai kepemimpinan dalam


Islam, juga belum tahu perundang-undangan serta wawasan
sejarah NII yang sebenarnya. Sebab itu dalam jawaban yang
lalu disebutkan adanya ITSLA (Islam Tujuan Sistem Lepas
Aturan).

3). Adanya orang-orang yang sudah tahu perundang-undangan


mengenai kepemimpinan NII, tetapi demi tujuannya, tetap
tidak mau kembali kepada undang-undang walau mengatas-
namakan dirinya NII.

---------------------------------------------------------
34. Tanya:
376

“Bagaimana bila ada yang berkata bahwa Pedoman


Darma Bakti (PDB) itu bikinan manusia, bisa saja membuat
sebagian kita pusing atau berbeda-beda menafsirkannya
sehingga kita pecah, sebab itu kembali saja kepada Al-Qur'an
dan Sunnah ? “

Jawab:
1). Justru kita berpegang pada pedoman (undang-undang)
tersebut itu supaya kita tidak pusing, kecuali jika bagi yang
belum bisa memahaminya. Atau juga bagi yang sudah
memahami serta mengakui kebenaran yang dikandung undang-
undang itu sedang hatinya berat menerimanya. Itu satu di
antara penyakit hati ; mengaku kebenaran cuma didalam hati
menolak dalam sikap. Ada dua penyebab bagi yang
menafsirkannya menyalahi dari penafsiran yang sebenarnya,
yaitu:

(a). Kurangnya wawasan dalam hal yang berhubungan dengan


undang-undang itu.

(b). Wawasan cukup, tapi tidak ikhlas mengaku kebenarannya,


sehingga tidak jujur dalam mengemukakannya.

Point yang kedua (2) ini biasanya terjadi pada orang yang
takut dengan undang-undang itu dirinya tergeser. Atau juga
gengsi serta malu jatuh wibawa karena sudah terlanjur
mempertahankan pendapatnya. Jadi, yang membuat umat
pecah-belah itu bukan undang-undangnya. Melainkan, jika
bukan faktor ketidakngertian, tentu sebab ketidakikhlasan sang
penafsirnya. Perhatikan ayat di bawah ini yang bunyinya:

"Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka,


bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya." (Q.S.26:197).

Pada ayat di atas itu terdapat "Ismun nakirah ‫" علمؤا‬.


Yakni, ulama bersifat umum. Jadi, bukan ditujukan kepada
377

ulama Bani Isroil saja, melainkan orang yang sudah mengerti.


Berkaitan dengan itu kita lihat lagi ayat yang bunyinya:

"Sesungguhnya kami mengetahui bahwasanya apa yang


mereka katakan itu menyedihkan hatimu (janganlah kamu
bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan
kamu akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-
ayat Allah."--(Q.S.6:33).

Asbaabunnuzul dari ayat itu menerangkan bahwa para


pentolan musyrikin seperti Abu Jahal, Abu Syofyan dan Akhnas
dalam hati mereka membenarkan bahwa Muhammad itu sebagai
Nabi. Namun mereka menyembunyikan hal itu di hadapan para
pengikutnya, karena takut masing-masing kedudukannya jatuh.
Artinya, jika ketahuan oleh para pengikutnya niscaya akan
didepak dari masing-masing kepemimpinannya. Atau jika terus
terang mengakui kenabian Muhammad Saw, berarti para
pentolan yang bangsawan itu akan dipimpin oleh Muhammad
yang asalnya penggembala domba.

Memang, ayat itu ditujukan kepada para pentolan Quraisy


seperti Abu Jahal dan Abu Syofyaan serta Akhnas yang jelas
tidak sholat dan tidak berpuasa Ramadhan, juga mereka sudah
mati. Akan tetapi, kesombongan serta dengki dari sifat iblis
tidak berhenti sampai sekarang. Iblis sudah berikrar untuk
menyesatkan manusia dari segala segi kehidupan (Q.S.7:16-17)
sehingga seseorang tidak menyadarinya. Menuntun ummat
keluar dari undang-undang Ulil Amri yang hak sungguh suatu
kebathilan, sedangkan perbuatan bathil itu merusak shalat.
Sebab itu, waspadalah terhadap pintu masuknya Iblis !

Tujuan Iblis ialah supaya manusia masuk neraka (Q.S.35:6).


Caranya berbeda-beda tergantung kondisi manusianya. Bisa saja
dari segi sholat dan puasa seseorang tidak tergoda, tapi dalam
menghilangkan keangkuhan dan gila hormat tidak mampu, yang
378

akibatnya terus membohongi ummat sehingga ummat tidak tahu


dasar hukum pemimpinnya;dituntun kepada kepalsuan atau
digiring kepada anggapan belum adanya pemimpin. Sungguh
berani jika infaqnya diambil sedangkan belum ada
pemimpinnya, atau tidak berdasarkan hukum. Bagaimanakah
pertanggungan jawabnya nanti di Akhirat ?

Padahal pihak thogut alias ‘Setan’ saja punya pemimpin.


Apalagi dalam Islam sebelum Khadizah, Abu Bakar serta
Ustman bin Affan menginfaqkan harta mereka, juga sebelum
Yassir dan Sumayyah dibunuh dan Bilal bin Raba'ah disiksa
musuh, kesemuanya itu sudah ada kejelasan pemimpinya.

2). Justru dengan berpegang pada undang-undang itu supaya


kita tidak berbeda-beda. Sebab, di dunia manapun tidak ada
undang-undang yang dibuat supaya di antara para
pemegangnya berbeda-beda dan berpecah-belah.

3). Justru pula kita harus berpegang pada undang-undang


(PDB) itu karena kita berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah
Nabi SAW. Contohnya:

(a). Dalam Al-Qur'an ada ayat yang memerintahkan kita


supaya menta'ati "Ulil Amri (para pemegang urusan)" yaitu
pemimpin atau majlis kepemimpinan. Artinya, kita
diperintahkan menta'ati peraturan/undang-undang yang
ditetapkannya. Jadi, untuk kita berpegang pada Al-Qur'an itu
kita wajib juga berpegang pada undang-undang, yang untuk
NII yaitu Qanun Azasy, PDB dan Strafrecht.

Berkaitan dengan undang-undang, kita perhatikan ayat yang


bunyinya:

“Dan (bagi)orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan


Robbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka
379

menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada


mereka.”._(Q.S.42:38).

Dari ayat itu kita diwajibkan bermusyawarah. Hal itu berarti


kewajiban merujuk kepada undang-undang. Sebab, undang-
undang itu juga hasil musyawarah. Dengan demikian
musyawarah itu ada batasannya. Diantaranya:

(1). Harus sesuai dengan undang-undang, karena jika tidak


demikian, akan kacau, semua bisa ngaku telah bermusywarah.
Dan bisa-bisa hasil rekayasa “Thogut (musuh)” pun diakukan
sebagai hasil musyawarah.

(2). Yang dimusyawarahkan itu ialah yang belum ada dalam


undang-undang. Sebab, jika yang sudah ada dalam undang-
undang, misalnya masalah kepemimpinan selalu diperdebatkan,
maka tidak akan habis-habisnya sehingga tidak akan kerja-kerja.

(b). Al-Qur'an mewajibkan kita bersatu, sebagaimana


diungkapkan dalam ayat yang bunyinya:

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama)


Allah, dan janganlah kamu bercerai-cerai, ....)._(Q.S.3:130)

Dari ayat itu dimengerti bahwa umat itu bisa bersatu apabila
berpegang pada "Hablulloh", garis yang ditentukan Alloh,
yaitu al-Quran dan sunnah Nabi SAW. Sebagai bukti, pada
awal berdirinya negara Islam di Madinah umat Islam yang
minoritas dan terus menghadapi berbagai gangguan fisik dari
dalam ataupun luar, namun tetap bersatu sebab semua umat
berpegang pada undang undang (piagam/undang undang
Madinah) sehingga seragam, baik itu dalam hal kepemimpinan
maupun dalam penentuan mana musuh dan mana bukan.
Dengan demikian bisa disimpulkan secara hukum bahwa yang
disebut berpecah-belah itu mereka yang tidak berundang-
undang (inkonstitusional). Perhatikan sabda Nabi SAW:
380

‫ان امتي لتجتمع علىضللة ان ال ليجتمففع امففتى علىضففللة لففن‬


.‫ رواه الترمدى‬.‫يجمع امتى ال علىهداى‬
"Sesungguhnya ummatku tidak akan bersatu dalam
kesesatan. Sesungguhnya Allah tidak menyatukan ummatku atas
kesesatan. Tidak akan bersatu ummat kecuali dalam petunjuk
( Hudaan). [HR.Tirmidzi]

Yang disebut "Hudaan ‫ " هداى‬yaitu petunjuk. Dan yang


disebut petunjuk itu ialah Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW,
atau perbuatan Nabi seperti halnya membuat undang-undang
negara di Madinah. Nabi Muhammad SAW membuat Undang-
Undang Negara Islam, ummat diwajibkan menta'atinya. Sebab,
apa artinya ber ulil amri jika tidak taat kepada undang-
undangnya. Jadi, yang tidak taat pada undang-undang negara
yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW., merekalah
yang tidak berpegang pada Sunnah (Hudaan).

(c). Bagian akhir dalam undang-undang pemerintahan Nabi di


Madinah disebutkan antara lain:
....‫وانه ليحول هذا الكتاب دون ظالم او اثم‬
“Sesungguhnya tidak ada orang yang akan melanggar
ketentuan {undang-undang) tertulis ini kalau bukan penghianat
dan pelaku kejahatan”.

Dengan itu jelas ummat Nabi SAW diwajibkan berpegang


pada undang-undang pemerintahan Islam di Madinah yang pada
waktu itu. Jadi, bahwa kita juga berpegang pada Undang-
Undang negara yang berdasarkan Qur’an dan Hadist Shohih,
mencakup didalamnya semua Maklumat hasil musyawarah
Dewan Imamah NII itu karena kita berpegang pada Sunnah
Nabi SAW.

Dalam semua perkumpulan atau kelembagaan, orang-


orangnya bisa bersatu apabila semuanya konsisten pada
perundang-undangan atau peraturannya. Misalnya, dalam
381

permainan bola saja dari setiap negeri bisa bersatu dalam satu
kompetisi, karena semua berpegang pada peraturan main bola.
Sebaliknya, meskipun cuma dalam satu kampung, namun jika
sebagian ada yang tidak mau berpegang pada peraturan main
bola, maka tidak akan jadi main bola yang sebenarnya,
melainkan main bola bohongan. Sama halnya dengan itu, bisa
disebut NII apabila memakai perundang-undangan NII. Bisa
bersatu di dalamnya jika semua pakai aturan-aturannya. Antara
lain yaitu PDB.

Kesimpulannya, bahwa berpecah-belah itu, karena tidak


berpegang pada satu rujukan (undang-undang). Yaitu, ingat
pada negara tapi lupa pada peraturannya, ingat pada ayat
jihad lupa kewajiban taat pada pada undang-undang yang
dikeluarkan oleh ulil amri (Dewan Imamah), maka terjadilah
berfirqoh - firqoh (cerai-berai). Perhatikan Firman Allah SWT
yang bunyi-Nya:

"Dan di antara orang-orang yang mengatakan:


"Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah
kami ambil perjanjian mereka (sengaja) melupakan sebagian
dari apa yang telah diberi peringatan dengannya; maka Kami
timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai
hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada
mereka apa yang selalu mereka kerjakan."--(Q.S.5:14).

--------------------------------------------------
35. Tanya:
“Ada yang mengatakan, sejelek-jeleknya hasil musyawarah,
dan pengangkatan Adah Jaelani Tirtapraja pada Tahun 1978
itu di Tangerang adalah hasil musyawarah. Tapi, apa sebabnya
hal itu tidak bisa dinyatakan sebagai musyawarah NII ? ”
382

Jawab:
Musyawarah bisa disebut baik, apabila musyawarah itu
sesuai dengan undang-undang. Tetapi, karena yang menamakan
musyawarah NII, Mahoni 1978 di Tangerang itu bertentangan
dengan undang-undang NII, maka pengangkatan Adah Jaelani
Tirtapraja sebagai Imamnya itu bukan saja tidak baik,
melainkan juga secara hukum bukanlah musyawarah NII yang
sebenarnya dari Proklamasi 7 Agustus 1949. Bila ada yang
mengatakan baik, maka itu hanyalah menurut tinjauan dari
pribadi dan bukan menurut dasar hukum NII. Sebab-sebabnya
antara lain yaitu:

1). Menurut Qanun Azazy (UUD NII) Bab IV Pasal 2 "Imam


dipilih oleh Majlis Syuro dengan suara paling sedikit 2/3 dari
pada seluruh anggota.". Dan menurut Bab II Pasal 4 ayat 1
"Majlis Syuro terdiri atas wakil-wakil rakyat ditambah dengan
utusan golongan-golongan menurut ditetapkan dengan undang-
undang.". Sedangkan mereka yang mengatas-namakan
musyawarah pengangkatan Imam NII, Mahoni, 1978
Tangerang itu, para pelakunya bukan wakil-wakil rakyat NII
juga bukan utusan golongan-golongan, melainkan adalah
pribadi-pribadi dalam arti tidak berhak mengangkat Imam NII.

2). Sejak Proklamasi 7 Agustus 1949 sampai ditulisnya


TABTAPENII DATANG ini NII dalam keadaan Darurat Perang
sehingga belum ada Parlemen (MajlisSyuro) yang seperti dalam
Bab II Pasal 4 ayat 1 tadi. Dengan keadaan demikian berlaku
Undang-Undang Pasal 3 ayat 2, "Jika keadaan memaksa, hak
Majlis Syuro boleh beralih kepada Imam dan Dewan Imamah."
Sedangkan mereka yang mengatas-namakan Musyawarah 78,
Mahoni, Tangerang itu bukanlah para anggota Dewan Imamah,
melainkan terdiri dari sebagian tokoh yang telah melarikan diri
dari Medan Perang atau datang menyerahkan diri ke pihak
musuh.

3). Menurut Bab XV Perubahan Kanun Azazy Pasal 34 dalam


hal, "Cara Berputarnya Roda Pemerintahan." Pasal 1; "Pada
383

umumnya roda Pemerintahan NII berjalan menurut dasar yang


ditetapkan dalam "Kanun Azasy", dan sesuai dengan fasal 3
dari "Kanun Azasy", sementara belum ada Parlemen ( Majlis
Syuro ), segala undang-undang ditetapkan oleh Dewan
Imamah dalam bentuk Maklumat-Maklumat yang ditanda-
tangani oleh Imam".

Adapun bunyi Maklumat yang ditetapkan oleh Dewan


Imamah Yang tercantum dalam Maklumat Komandemen
Tertinggi (MKT) No.11 di antaranya yaitu:

"K.P.S.I.dipimpin langsung oleh Imam -- Plm. T.APN.I.I.. Jika


karena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan
tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima
Perang, selaku penggantinya, dengan purwabisesa penuh.".

"Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan


diantara Anggota-Anggota K.T., termasuk didalamnya K.S.U.
dan K.U.K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang,
yang kedudukannya dianggap setaraf dengan kedudukan
Anggota-Anggota K.T.".

Berdasarkan undang-undang itu. maka yang berhak dipilih


sebagai Panglima Perang Pusat (Imam) dalam Darurat Perang
(sementara belum ada Parlemen) harus diambil dari AKT
(Anggota Komandemen Tertinggi), termasuk didalamnya
K.S.U.(Kepala Staf Umum) dan KUKT (Kuasa Usaha
Komandemen Tertinggi) atau yang setaraf dengan A.K.T..

Sedangkan Musyawarah 1978, Mahoni, Tangerang tidak


sesuai dengan undang-undang tersebut diatas tadi. Antara lain :

(a). Bukan saja karena kebanyakan yang ikut bermusyawarah


itu orang-orang yang tidak berkedudukan setaraf dengan A.K.T.,
tetapi mereka juga adalah yang sudah keluar dari NII
(meninggalkan Imam di Medan Jihad).
384

(b). Yang diangkat oleh mereka sebagai Imam NII adalah


Adah Jaelani Tirtapraja yang sudah desersi, keluar dari NII;
menyerahkan diri kepada Pemerintah RI. Dengan itu dia tidak
lagi menjadi A.K.T..

Kesimpulannya, Musyawarah 1978 Mahoni, Tangerang itu


tidak memakai undang-undang NII. Terbukti :

(1). Bab IV Pasal 12 Ayat 2 : "Imam dipilih oleh Majlis Syuro


dengan suara paling sedikit 2 / 3 daripada seluruh anggota".
Sedangkan pada kondisi darurat perang ini belum ada Majlis
Syuro (parlemen).

(2). Bab IV Pasal 13 Ayat 3: "Didalam hal-hal yang amat


memaksa, maka Dewan Imamah harus selekas mungkin
mengadakan sidang untuk memutuskan Wakil Imam
Sementara." Sedangkan yang hadir pada musyawarah itu bukan
anggota-anggota Dewan Imamah. Dan seandainya yang hadir
pada waktu itu para anggota Dewan Imamah, maka mereka
tidak berhak bermusyawarah mengangkat Imam, karena
undang-undang pasal 13 ayat 3 itu berlaku sebelum dikeluarkan
MKT No. 11.tahun 1959 tentang calon pengganti Panglima
Tertinggi. Sedanglan calon pengganti Panglima Tertinggi yang
tercantum dalam MKT. No.11 tersebut itu masih ada dan tinggal
satu. Disebabkan tinggal satu yaitu KUKT, maka KUKT itulah
yang menjadi Panglima Perang Pusat (Imam) tanpa pemilihan
lagi. Dengan demikian apabila ada pengangkatan Imam diluar
undang - undang itu, maka adalah "ilegal". Artinya posisi
kepemimpinan hasil pertemuan Mahoni di atas, sama sekali
diluar ketentuan hukum NII. Dengan demikian, bagaimana
mungkin orang yang diangkat berdasarkan ketentuan Non NII,
bisa "Syah" memimpin Negara Islam Indonesia ???

(3). Bab IV Perubahan Kanun Azasy Pasal 34, "Cara


Berputarnya Roda Pemerintahan", Ayat 1 yang dituangkan
kepada Maklumat Komandemen Tertinggi No.11 mengenai
penggantian Imam dalam Darurat Perang, singkatnya
385

menerangkan bahwa yang mengangkat dan yang diangkat


sebagai Imam itu harus setaraf dengan A.K.T.. Sedangkan
musyawarah 1978 Mahoni, Tangerang itu para pelakunya
bukanlah yang setaraf dengan AKT, dan yang diangkatnya
juga bukan anggota AKT lagi. Melainkan, yaitu Adah Jaelani
Tirtapraja bekas AKT, sebab telah melaporkan diri kepihak
musuh sewaktu Imam SMK belum tertangkap.

Bernegara berarti berhukum dan berarti pula berundang-


undang. Maka, bermusyawarahnya juga mesti berdasarkan
undang-undang dari negara itu. Jika sekedar mengaku telah
bermusyawarah tanpa undang-undang negara, maka siapapun
bisa. Cuma, jadi pemimpin apa namanya ? Sebab, bila
aturannya dari Persatuan Pencak Silat, ya, pemimpin Persatuan
Pencak Silat.

Begitu juga jika aturannya dari pribadi-pribadi maka hasilnya


juga jadi pemimpin pribadi-pribadi. Kemudian bila yang
aturannya dari pribadi-pribadi itu diakukan sebagai pemimpin
negara, maka hasil musyawarah seperti itu bukan hanya
"tidak baik melainkan juga ngawur" _ Negara, sedangkan
aturannya dari pribadi, makabisa-bisa banyak sekali yang
mengatas-namakan negara Islam di Indonesia. Jika hal
demikian masih saja dianggap baik maka waspadalah jangan
kena ayat ".... dan syaitan pun menampakkan kepada mereka
kebaikan apa yang selalu mereka kerjakan." ( Q.S. 6:43 ).

-----------------------------------------------------
36. Tanya:
“Ada yang mengatakan bahwa literatur informasi mengenai
menyerahnya sebagian besar pimpinan TII itu hanya dari yang
diterbitkan oleh media cetak pihak luar NII. Dengan bagaimana
menanggapi perkataan itu ?”

Jawab:
386

Dari tahun 1961 - 1962 hingga saat ditulisnya TABTAPENI


DATANG edisi pertama (1996 ) baru 34 (tiga puluh empat
tahun), artinya para saksi mata, juga sebagian para pelaku
sejarahnya banyak yang masih hidup. Jadi, mengenai informasi
bahwa mereka menyerah itu, bukan saja dari media cetak yang
diterbitkan oleh pihak luar NII, melainkan juga yang menjadi
pokok ialah dari para saksi mata dan dari sebagian para
pelakunya, serta dari kenyataan apa yang mereka yang lakukan.
Dengan demikian sekalipun tidak dari yang diterbitkan oleh
lawan pun, tapi jika memang itu ada kebuktiannya menurut
saksi mata atau dari sebagian para pelaku sejarah, baik itu dari
yang menyerah maupun dari yang tidak menyerah, melainkan
karena terputus hubungan, atau juga dari photo-photo mereka,
maka hal itu merupakan bukti sejarah.

Kalimat bisa dibuat - buat dan diputar-putar, tetapi


bagaimana mengenai dengan photo - photo mereka ?
Umpamanya anda membaca berita di koran mengenai pohon
kelapa bercabang tiga, sebelum anda mengeceknya, boleh anda
percaya atau tidak percaya, Tetapi jika anda membaca lagi koran
yang memuat photo pohon kelapa bercabang tiga serta orang-
orang yang menontonnya, maka masihkah anda tidak percaya ?
Ataukah untuk mempercayai itu anda harus terlebih dulu
menerbitkan koran sediri yang memuat berita pohon kelapa
bercabang tiga ? Tentu tidak !

Jika anda percaya bahwa sekarang ini di Pakistan ada


seorang priya tertinggi di dunia yang tingginya dua setengah
meter. Hal itu bukan karena anda sudah bertemu dengannya,
tetapi karena anda melihat photonya sedang berdiri bersama
Kaisar Hirohito di Jepang. Dan anda juga tidak perduli siapa
yang mencetak photonya. Dengan photonya cukup anda
mempercayainya.

------------------------------------------------------

37: Tanya:
387

”PDB - MKT No.11 adalah undang-undang produk. Dan


undang-undang itu dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan
kondisi. Jika kondisi tidak memerlukannya, bisakah
dikembalikan kepada UUD (Kanun Azasy), yang mana dalam
Kanun Azasy disebutkan bahwa Imam dipilih oleh Majlis Syuro
(Bab IV Pasal 12 Ayat 2) ?”

Jawab:
Justru dikeluarkannya MKT No.11, tahun 1959 itu karena
NII dalam Darurat Perang yang kondisinya tidak bisa
menjalankan Bab IV Pasal 2 (Pengangkatan Imam oleh Majlis
Syuro). Karena itu, sungguh tidak masuk akal, jika
pengangkatan Imam oleh MKT No.11 (Undang-undang Produk)
tidak bisa dijalankan sedangkan oleh Kanun Azasy Bab IV
Pasal 12 Ayat 2 bisa dijalankan !

Sebab, adanya MKT No.11,tahun1959 mengenai calon


pengganti Imam selaku K.P.S.I. sebagai jalan keluar untuk
berpegang kepada Kanun Azasy yang kondisinya belum ada
Majlis Syuro (parlemen), karena dalam darurat perang.

Dengan demikian kita menjalankan MKT No.11, tahun 1959


sebagai undang-undang produk dari Kanun Azasy itu berarti
menjalankan Kanun Azasy. Logikanya tidak bisa disebut
kembali kepada Kanun Azasy jika tidak mau menjalankan MKT
No.11 dalam hal pengangkatan Imam, yang mana Kanun Azasy
itu sudah menuangkannya kepada MKT No.11 sebagai undang-
undang didalam kondisi Darurat Perang.

Harus dipahami bahwa MKT No.11 mengenai pengangkatan


Imam itu sebagai persiapan menjaga kemungkinan bila satu saat
sebagian besar anggota Dewan Imamah akan gugur atau juga
tidak berfungsi karena berhalangan dalam keadaan bahaya
perang.

Memang, untuk menjalankan undang-undang produk harus


sesuai dengan kondisinya. Artinya, jika masih bisa dijalankan
388

maka wajib kita berpegang dengannya. Dan ada yang tidak bisa
dijalankan, maka boleh meninggalkannya. Seperti halnya
mengenai persenjataan yang objeknya selalu mengalami
perubahan ( dulu belum ada AK 47 dan M 16). Berbeda halnya
dengan estapeta kepemimpinan Imam. Karena hal itu yang
bersangkutan dengan keutuhan negara dan persatuan
ummat, merupakan hal prinsip dan orangnya masih ada serta
utuh, kita tidak bisa meninggalkannya. Sebab, kita diwajibkan
taat kepada hukum semaksimal kemampuan (Q.S. 64:16).

Perhatikan Qaidah Usul : "Sesuatu yang tidak dapat


dijangkau keseluruhannya jangan ditinggalkan
keseluruhannya.". Dari Qaidah Usul itu diambil arti, "Jika ada
peraturan yang tidak bisa dijalankan karena kondisinya, maka
kita tidak boleh meninggalkan yang bisa dijalankan".
--------------------------------------------------------------
37. Tanya:
“Ada yang mengatakan bahwa pengangkatan pemimpin itu
harus didasari beberapa kriteria, maka bagaimanakah
kaitannya dengan MKT.No.ll ?”

Jawab:
Sudah pasti hal itu mesti didasari kriteria. Tetapi, semua
kriteria tidak boleh diluar peraturan. Sebab, dalam peraturan-
peraturan itu sudah mengandung kriteria. Justru dengan
peraturan (MKT.No.ll tahun 1959 ) itu supaya pengangkatan
pemimpin tidak keluar dari kriteria yang sudah ditentukan.
Semua pemimpin negara manapun memiliki kriteria, tetapi
semua kriteria itu tetap dalam lingkup peraturan negara.

-----------------------------------------------------
38. Tanya:
”Bukankah Undang-undang itu bisa dirubah ?”

Jawab:
Betul undang-undang itu bisa dirubah, tetapi harus oleh
yang berhak untuk merobahnya. Yaitu oleh Majlis Syuro. dan
389

dalam keadaan darurat perang boleh oleh Dewan Imamah (lihat


pasal 3 ayat 1 dan 2 Kanun Azasy). Sebab, jika undang-undang
boleh dirubah oleh yang bukan haknya menurut undang-undang
itu berarti boleh oleh siapa saja sehingga mengundang
kekacauan. Dan kekacauan itu musuhnya undang-undang atau
negara !

----------------------------------------------------------
39. Tanya :
“Bolehkah yang menyerahkan diri kepada musuh pada tahun
1962 atau sebelumnya itu disebut sebagai ijtihad ?”

Jawab:
1). Adanya ijtihaad itu apabila menghadapi masalah yang
tidak didapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah, maka diputuskan
dengan ijtihaad, dan keputusan itu tidak menyimpang dari
Qur'an dan Sunnah. Adapun kabur dari medan perang
meninggalkan Imam kemudian datang kepada musuh
menyerahkan diri serta menyatakan setia kepada mereka itu,
jelas melanggar hukum Al- Qur'an dan Sunnah Rasul Saw.

2). Dibolehkan ijtihad hanya untuk kebaikan dalam arti tidak


boleh bertentangan dengan hukum Islam. Sedangkan
meninggalkan Imam, kemudian melaporkan diri kepada musuh
jelas itu melanggar baiat dan jelas sekali melangggar Al-Qur'an
dan Sunnah Nabi SAW.

3). Jika lari dari medang perang, meninggalkan Imam dengan


dalih ijtihad karena terdesak, maka dimana letak pembelaan
terhadap pimpinan dan perjuangan dengan pengorbanannya ?

4). Jika kabur dari medan perang dengan meninggalkan Imam


dan banyak kesatuan prajurit bawahannya dibenarkan dengan
dalih ijtihad, sedangkan hal itu jelas merusak "Jihaad", maka
bagaimana bisa dikatakan tidak melanggar Qur'an ?
390

5). Apabila melarikan diri dari medan perang kemudian


menyerahkan senjata kepada musuh dibolehkan dengan dalih
ijtihad terdesak, maka apa artinya ancaman hukum bagi para
pelaku "Firror" pada "Perang Uhud" dan Perang Akhzaab" ?
Pada Perang Akhzaab, Khandak dan Perang Hunain pun
terdesak. Padahal larinya mereka itu bukan ke pihak musuh.
Maka, bagaimanakah bagi mereka yang telah meninggalkan
Imam di medan perang sehingga Imam tertangkap Tanggal 4
Juni 1962 ?

6). Bila setiap terdesak oleh musuh kemudian dibolehkan


menyerahkan diri dengan dalih ijtihad, maka tidak relevan
dengan harapan "Mati Syahid" dan tidak relevan pula
dengan ayat yang bunyinya: "Barangsiapa yang berperang di
jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka
kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang
besar.".__(Q.S.4:74). Bagaimana akan syahid kalau setiap
terdesak lalu menyerah ??

7). Jika setiap terdesak kemudian boleh menyerahkan diri


kepada musuh, maka tidak ada artinya menegakkan "Hak".
Dan selamanya tidak akan tegak "Kebenaran", jika setiap
terdesak lalu menyerah. Lagi pula apa artinya begitu lama
menyusun kekuatan dengan banyak pengorbanan, jika akhirnya
boleh menyerahkan diri kepada musuh ?

Dengan tujuh point di atas itu saja cukup, bahwa kabur


meninggalkan medan perang itu "bukanlah ijtihad". Apalagi jika
hal itu dilakukan oleh para komandan yang bisa mempengaruhi
banyak prajurit. Perhatikan ayat di bawah ini :

"Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji


kepada Allah : "Mereka tidak akan berbalik ke belakang
(mundur)" Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta
pertanggung jawabannya.
391

"Katakanlah : "Lari itu sekali kali tidak berguna bagimu,


jika kamu melarikan diri dari kematian, atau pembunuhan,
dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan
mengecap kesenangan kecuali sebentar saja" __ (S.33:15-16)

"Dan berapa banyak nabi nabi yang berperang bersama


sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak
menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan
Allah, dan tidak lesu (Tidak pernah turun stamina jihadnya
-pen) dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai
orang orang yang shabar (seperti itu) __ (S.3:146)

Kesimpulannya, ijtihaad hanya berlaku dalam hal yang tidak


ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Artinya, yang tidak ada
dalilnya secara Qoth’i(putus). Adapun murtad dari jihad (medan
perang) Islam, bukanlah ijtihaad, sebab sudah jelas dalilnya.

------------------------------------------------
40. Tanya:
“Bagaimana terhadap perkataan bahwa kembali kepada
undang-undang nanti saja bilamana sudah ada kekuatan ?”

Jawab:
1). Kalau begitu ada kesamaannya dengan umat Tholut yang
apabila sudah ditunjukkan, maka menolaknya kecuali sedikit.
Perhatikan ayat-yat di bawah ini:

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani


Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada
seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja
supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan
Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu
nantidiwajibkan berperang kamu tidak akan berperang.´
Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di
392

jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari


kampung halaman kami dan dari anak-anak kami ?”. Maka
tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun
berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan
Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.”

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya


Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka
menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal
kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya,
sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak ?” (Nabi
mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya
menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan
tubuh yang perkasa.” Allah memberi pemerintahan kepada
siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-
Nya lagi Maha Mengetahui.”

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka:


“Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, telah kembalinya
tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari
Robbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan
keluarga Harun;tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya
pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu
orang beriman.” (Q.S.2:246-248).

Kesimpulan dari ayat-ayat itu menggambarkan pendapat


di atas tadi serta jawaban dari yang berhak menunjukkan
pemimpin.

Pada ayat 248 di atas disebutkan ada “Baqiyyatun”


_Peninggalan Nabi Musa as. Sama halnya dengan MKT. No.ll
Tahun l959 mengenai estapeta pemimpin Negara Islam
Indonesia sebagai peninggalan Dewan Imamah, akan ada
saja yang menolaknya.

Dengan memperhatikan ayat -ayat tersebut diatas tadi, maka


tidak usah heran jika selalu ada yang berkilah dalam hal
393

menolak kepemimpinan yang berdasarkan undang-undang. Itu


adalah Sunnatullah sebagaimana yang disitir oleh ayat-ayat
Al Qur’an di atas tadi. Jadi, tinggal pilih saja mau kemana
diri ? Apakah mau terus berjalan tanpa dasar hukum yang jelas,
sehingga tidak sadar mengikuti langkah-langkah syaitan(?).
Atau kembali kepada peraturan ?

2). Apabila harus nanti, berarti sekarang belum ada negara,


sedangkan adanya negara itu adanya undang-undang.
Sebagaimana Sunnah Nabi SAW, sebelum adanya negara
terlebih dulu dimulai oleh adanya undang-undang. Sebelum
adanya ummat terlebih dulu adanya pemimpin, yakni bisa
dinamakan ummat bilamana ada pemimpinnya. Atau dalam
Sunnah Nabi SAW, sebelum berdirinya negara Islam di
Madinah ditentukan dulu pemimpinnya, sehingga Abdullah
bin Ubay bin Salul (tokoh munafik) tidak bisa menjadi
pemimpin negara Madinah. Dalam hal perkawinan saja,
orang berpegang pada peraturan yang dibuat sebelumnya,
maka dimanakah letaknya “akal” yang berpendapat
kembali kepada undang-undang / peraturan nanti saja ?

3). Tidak bisa disebut kekuatan jika tanpa undang-undang. Ali


bi Abi Thalib berkata: “Kebathilan yang yang tersusun/
terorganisir bisa mengalahkan yang hak yang tidak
terorganisir”. Pengertian tersusun / terorganisir berarti
berundang -undang atau berpegang pada aturan-aturan.

4). Kata-kata “bilamana sudah punya kekuatan”, berarti belum


jelas kapan punya kekuatan, dan mungkin sampai diri masuk
kubur tidak mengalami punya kekuatan. Dengan itu sungguh
merugi, bila yang dituju untuk punya kekuatan belum terjadi
sedangkan diri dalam firqoh, posisi diri di luar peraturan
sudah terjadi. Yakni, mengharap kekuatan yang tidak dialami
dengan meninggalkan kepemimpinan berdasarkan hukum yang
sudah bukti.
394

5). Dalam Islam yang paling diutamakan itu ialah bukan


adanya kekuatan secara fisik, melainkan posisi diri dalam
hak yaitu berpegang pada nilai hukum. Kalau untuk
berpegang pada yang hak itu harus menunggu dulu adanya
kekuatan, maka tidak jadi jihadnya, karena apa artinya mesti
menegakkan hak jika yang hak / nilai hukum itu tidak
dipegang dengan alasan belum ada kekuatan.

Ummat Nabi SAW dimulai oleh beberapa orang, seperti


Khadijah, Ali, Abu Bakar, Ustman dan lainnya . Tentu, kalau
yang diutamakan itu kekuatan secara fisik, bisa jadi mereka
tetap dalam barisan jahiliyah, karena yang kuat pada waktu itu
ialah barisan jahiliyah. Disitulah letaknya bahwa berada pada
sabiilillaah, yakni mengemban perintah Allah harus “Ibda
binnafsik”(mulai dari diri sendiri), artinya tidak perlu
menunggu dulu adanya kekuatan. Sebab, seandainya sepuluh
milyar manusia masuk neraka, lalu seorang diri tidak masuk,
maka jelas yang seorang diri itu tidak akan menyesal !

Dari keempat point itu disimpulkan bahwa pendapat


“kembali kepada undang-undang itu nanti saja apabila sudah
ada kekuatan”, itu cuma khayal atau pemikiran tanpa dasar
hukum, akibat ketidak-ngertian atau juga sebagai akal-akalan
dari pada sama sekali tidak mengelak.

-------------------------------------------------
41. Tanya:
“Seandainya pada waktu dulu para komandan TII itu terus
bertahan, maka apakah mereka tidak akan habis sehingga
tidak ada sisanya yang sampai kepada kita sekarang ?”

Jawab:
1). Sebelum menjawab lebih lanjut, kita lihat ayat di bawah
ini yang bunyinya:
395

"Maka mengapa tidak ada umat-umat sebelum kamu orang-


orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari pada
(mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil
di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara
mereka, dan orang-orang zalim hanya mementingkan
kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka
adalah orang-orang yang berdosa."_ (Q.S.11:116).

Menurut ayat di atas itu bahwa sisa pembawa "Kebenaran"


dari orang-orang terdahulu itu tidak akan habis. Itu adalah
jaminan dari Allah SWT. Dengan demikian meskipun banyak
yang menyerahkan diri atau yang terus bertahan, maka sisa
dari mereka itu tetap ada dan terus berkembang. Jadi, soal
pelanjut pada masa yang akan datang itu soal yang kedua.
Adapun soal pertama bagi si pembawa "Kebenaran " itu ialah
harus “beristiqomah” menunaikan tugas yang sedang dihadapi
pada waktu itu, jangan desersi(meninggalkan tugas).

2). Sewaktu ummat Nabi Musa as dikejar-kejar oleh tentara


Fir'aun sampai ke tepi laut, secara perhitungan akal tentu
akan
habis karena kedua belah pihak sudah saling melihat. Tetapi,
umat Nabi Musa as bertahan sehingga datang pertolongan Allah,
terbelahnya Laut Merah. Jelas, secara perhitungan akal,
bertahan akan habis, tapi nyatanya malah menang.

Begitu juga pada Perang Akhzaab, tentara Nabi 3000 orang


dalam keadaan habis persediaan makanan. Sedangkan kekuatan
musuh berjumlah 12.000 orang dengan persenjataan lengkap
dan persediaan makanan yang cukup guna menunggu waktu.
Secara perhitungan akal dengan ditunggu waktu saja pihak
muslimin bakal kalah, karena didahului oleh kelaparan dan
tidak bisa mengadakan perlawanan. Sebab itu pihak Quraiys
cukup dengan menunggu waktu. Akan tetapi, pihak muslimin
tetap bertahan maka datang pertolongan dari Allah, datangnya
angin tofan yang dingin dan menyapu perkemahan serta
396

perbekalan pihak musuh. Sehingga tentara Akhzaab (sekutu) itu


panik kemudian meninggalkan Madinah.

3). Bentuk pertolongan (angin taufan dingin bercampur hujan


deras) dari Allah itu tidak diduga dari semula. Maka, sungguh
salah yang beranggapan bahwa bila dulu (tahun 1961 _1962)
para komandan TII itu tidak menyerahkan diri kepada musuh
akan habis. Anggapan akan habis dan tidak sampai kepada kita
sekarang, itu hanya dari otak alias akal-akalan menutupi
kesalahan. Padahal jika hujjah didatangkan cuma dari otak,
maka otak lain pun bisa menjawab. Yakni, bila kepada umat
Nabi Musa pertolongan itu berbentuk terbelahnya laut, dan
kepada kaum muslimin dalam Perang Akhzab datangnya angin
topan. maka kepada para komandan TII, jika waktu itu terus
bertahan, mungkin PKI dihancurkan bukan tahun 1965, tapi
tahun 1963. Atau mungkin ada bentuk pertolongan lain yang
tidak diduga. Dan tentu pelanjutnya juga bukan yang sambil
diuber-uber lagi, melainkan semua umat Islam Indonesia sudah
dalam keadaan menang (Futuh).

Dengan uraian dari point-point di atas tadi, jelaslah bahwa


kita tidak boleh berpikir cuma dengan otak, melainkan harus
pakai Qur'an dan Sunnah (perjalanan Nabi SAW). Sungguh,
sejarah telah berlalu. Tetapi, supaya Allah memberi pertolongan
pada masa yang akan datang, kita tidak boleh menutupi
kesalahan pada masa lalu sehingga tidak dijadikan pelajaran.
Allah telah menjelaskan bahwa sejarah merupakan pelajaran
untuk berpikir, (Q.S.7:176).

Berkaitan dengan jawaban ini kita lihat ayat yang bunyinya


:

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara


kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan
397

mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan


mereka pun mencitai-Nya, yang bersikap lembut terhadap
orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-
orang kafir, yang berjihad di jalah Allah, dan yang tidak takut
kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia
Allah, diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan
Allah Maha Luas {pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui."
_(Q.5:54).

Dengan ayat di atas itu sudah menjadi ketetapan dari Allah,


setiap ada yang murtad pasti ada gantinya. Karena itu jangan
mengandai-andai. Jangan mendahului ketetapan dari Allah. Dan
jangan murtad dari perjuangan itu dijadikan jasa kebaikan.
Bahkan harus menyadari bahwa nilainya sangat rendah di
Hadapan Allah, maupun di hadapan manusia.

Dalam hal ini perhatikan petikan ayat yang bunyinya:

“....dan jika kamu berpaling niscaya Dia (Allah) akan


mengganti (kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak
akan seperti kamu (ini)”._(Q.S.47:38).

Berdasarkan petikan ayat di atas itu bahwa pengganti dari


yang berpaling, sudah menjadi ketetapan Allah, dan kualitasnya
lebih tinggi dari yang sudah berpaling.
---------------------------------------------------------
42. Tanya:
“Ada yang mengatakan bahwa tahun 1962 itu ”Perjanjian
Hudaibiyah". Bisakah hal itu dibenarkan ?”

Jawab:
Permulaannya tersebar kata "Hudaibiyah" dalam kalangan TII,
setelah banyak komandan mereka yang menyerahkan diri ke
pihak musuh. Sedangkan pada waktu itu sebagian prajurit TII
terus bertahan tidak mau menyerah. Dilain pihak, sebagian eks
pimpinan mereka yang dekat dengan penguasa RI mengadakan
398

propaganda kepada bekas anak buah mereka supaya ikut turun


meletakkan senjata dan menyerahkan diri ke Pemerintah RI.

Disebabkan kondisi hubungan informasi dengan pimpinan


pusat (Imam) hampir terputus, maka sulit bagi sebagian prajurit
TII untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi. Dalam
kondisi pasukan yang terpisah-pisah serta putus hubungan berita
dari pusat itu, maka kondisi demikian dimanfaatkan oleh
sebagian eks komandan mereka untuk menghembuskan isue
"Hudaibiyah" atau gencatan senjata.

Pada umumnya prajurit TII itu tidak menyadari bahwa berita


"Hudaibiyah" itu sebagai tipuan supaya mereka mau turun
dengan membawa masing-masing persenjatannya. Sebenarnya
sebagiannya akan bertahan bersemboyan "Yuqtal au Yaghlib"
(Q.S.4:74), jika bukan karena tipuan yang dilontarkan oleh
sebagian bekas pimpinan mereka atau oleh adanya selebaran
yang ditandatangani oleh Dodo Muhammad Darda. Secara
analisa ada dua kemungkinan sebab dimunculkannya isu
"Hudaibiyah". Yaitu:

1). Ada yang tujuannya supaya pasukan TII itu turun gunung
mengikuti jejak pimpinan yang sudah menyerah sehingga
pimpinan itu dianggap masih berwibawa.

2). Ada yang tujuannya supaya terkesan dimata prajurit TII


bahwa para komandan itu bukanlah menyerah atau kalah mental
melainkan karena adanya "Hudaibiyah" atau gencatan senjata.

Untuk menilai apakah itu benar "Hudaibiyah", maka


bandingkan saja dengan Perjanjian Damai Hudaibiyah yang
sebenarnya terjadi pada zaman Nabi SAW. Diantaranya ialah:

(a). Mulai diajukannya permintaan "Perjanjian Damai


Hudaibiyah" yakni gencatan senjata di Hudaibiyah (suatu
tempat di dekat kota Makkah) adalah dari pihak Musyrikin
Quraisy, karena gentar menghadapi tentara muslimin yang
399

sudah berbaiat (Q.S.48:10, 18) bertekad untuk menggempur


kota Makkah. Artinya, pihak muslimin adalah pihak yang di
papan atas, sedangkan pihak musrikin Quraisy adalah pihak
yang tertekan.

(b). Tentara Nabi Saw tidak dilucuti dari persenjataannya.


Artinya, tetap keberadaannya sebagai tentara Islam yang
mengawal kedaulatan negara Islam secara de fakto.

(c). Pemerintahan Nabi SAW tetap diakui secara de fakto


(dhohir). Artinya, tidak diserbu atau dikejar-kejar oleh pihak
Quraisy, yakni sesuai dengan peraturan gencatan senjata pada
zaman sekarang dimanapun.

(d). Para pimpinan atau para komandan militer Nabi SAW


tidak membuat pernyataan setia mengabdi pemerintahan
musyrikin Quraisy, serta tidak mencaci-maki negara Islam di
Madinah. Yaitu tidak seperti dalam "Ikrar Bersama", 1 Agustus
1962 yang ditandatangani oleh sebagian para eks pimpinan TII.
Bisa saja mereka dipaksa. Tapi, itu akibat didahului oleh
menyerahkan diri kepada musuh, sehingga musuh bisa
memaksanya.

Berdasarkan empat point itu saja, jelas bahwa pada tahun


1962 itu bukanlah "Perdamaian Hudaibiyah". Dengan demikian
jika ada yang memaksakan bahwa tahun 1962 itu sebagai
"Perjanjian Damai Hudaibiyah", maka secara tidak langsung
mencoreng sejarah Perjanjian Damai Hudaibiyah".
Naudzubillaahi min dzalik !

--------------------------------------------
43. Tanya:
“Bagaimana jika menyerahkan diri kepada musuh, Tahun
1962 itu sebagai siasat perang ? “

Jawab :
400

Untuk menjawab pertanyaan di atas itu kita perhatikan Al-


Qur'an Surat 8 ayat 16 yang bunyinya:

"Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur)


diwaktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak
menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya
orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan
tempatnya ialah neraka Jahannam dan sangat buruklah
kediamannya itu."_(Q.S.8:16).

Pada ayat di atas itu didapat kalimat "kecuali berbelok untuk


(siasat) perang." Pengertiannya, yaitu diperbolehkannya
mundur jika hal itu merupakan manuver guna memukul balik
serangan musuh. Tegasnya, ialah mundur teratur guna bisa
meneruskan perlawanan sampai datang pertolongan dari Allah.
Dengan itu mesti memanfaatkan kekuatan yang ada, baik
personal maupun persenjataan.Jadi, bukannya untuk angkat
tangan dihadapan musuh, dan meletakkan senjata untuk
diambil oleh musuh. Itu bukan memanfaatkan kekuatan yang
ada, tapi meluluhkan pasukan yang tersisa.

Pada ayat itu juga didapat kalimat "atau hendak


menggabungkan diri dengan pasukan lain".

Yang dimaksud pasukan lain ialah pasukan yang berada pada


garis belakang atau pasukan yang posisinya terpisah darinya
untuk kemudian bisa bersama-sama mengadakan perlawanan
kembali.

Sedangkan yang mereka lakukan pada tahun 1962 itu


bukanlah menggabungkan diri kepada pasukan yang masih
bertahan, tetapi malah sebaliknya yakni berbelok ke pihak
musuh kemudian mempengaruhi yang lainnya untuk
menyerahkan diri ke pihak musuh pula. Dengan demikian
bahwa kejadian pada tahun 1961 -1962 jelas bukan siasat
401

perang. Dan itu memang perbuatan mereka bertentangan dengan


al-Quran surat 8 ayat 16 tersebut di atas.

---------------------------------------------------------
44. Tanya :
"Bagaimana jika Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962 itu
diniatkan sebagaimana yang terjadi pada Amar bin Yasir ?"

Jawab :
Adanya Ikrar Bersama 1 Agustus 1962 akibat dari pada
pelakunya itu setelah menyerahkan diri dengan sengaja
mendatangi musuh, yang akhirnya pihak musuh menyodorkan
kepada mereka supaya menandatangani pernyataan secara
tertulis untuk dijadikan bukti sejarah. Tidak bedanya dengan
yang sholat ashar kehabisan waktunya karena ia sengaja tidur
pada waktu ashar sehingga jika bangunnya pada waktu maghrib,
hal itu merupakan pelanggaran sebab didahului oleh
kesengajaan.

Amar bin Yasir tidak bisa di sebut menyerahkan diri kepada


musuh, karena tidak sengaja mendatangi pihak musuh
melainkan dia di tangkap. Jadi, apa yang diucapkannya kepada
musuh bisa di sebut terpaksa(Q.S.16:106).

Kasus Amar bin Yasir berbeda dengan kasus para mantan


pimpinan/komandan TII pada tahun 1962, seperti halnya ikrar
bersama. Hal itu tidak bisa di sebut keadaan terpaksa, sebab
sudah didahului oleh perbuatan sengaja mendatangi musuh yang
akibatnya pihak musuh pun menyuruh menandatangani Ikrar
Bersama.

Walau akibatnya sama, tetapi penyebabnya berbeda. Yang


akan dimintai pertanggungjawabannya di Akhirat ialah
penyebabnya, bukan akibatnya. Begitu pun terhadap yang
masih mengikutinya sama akan dipinta pertanggungjawaban
(lihat Q.S.25:29).
402

Sebab itu sebagai patokan untuk diikuti supaya diri tidak


terbawa sesat, harus berdasarkan hukum, bukan karena figur
seseorang. Dan jangan mengikuti perasaan / nafsu yang
senantiasa realatip (berbeda-beda), melainkan harus berpegang
pada nilai hukum sehingga bisa dipertanggungjawabkan di
Akhirat.
------------------------------------------------------
45. Tanya :
"Ada yang mengatakan bahwa "At-Tibyan" Yang ditulis
oleh Abdul Fattah Wirananggapati itu menjelek-jelekan
sebagian para pelaku sejarah NII, adakah itu benar ?"

Jawab:
"Tidak benar !" Melainkan, menjelaskan sejarah. Sebab,
yang dikutip dalam Risalah At-Tibyan itu hanya sebatas sejarah
yang berhubungan dengan para pelaku sejarah NII. Artinya,
tidak berkaitan dengan yang bersifat pribadi. Menjelaskan
kenyataan sejarah merupakan keharusan, apalagi selaku
pimpinan NII, sehingga di dapat kejelasan. Dalam Al-Quran
disebutkan :

".... maka ceritakanlah (kepada mereka ) kisah-kisah itu agar


mereka berfikir."__(Q.S.7:176).

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan :

1). Sejarah itu tidak bisa ditutup-tutupi untuk selamanya.


Cepat atau lambat akan terbuka. Jadi, sekalipun sebagian orang
berusaha menutupinya, namun sebagian lagi akan
mengungkapnya. Sebab, Alloh juga memerintahkan untuk
menceritakan sejarah. Dalam ayat lain disebutkan :

"Dan sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat


pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal."__
(Q.S.12:111).
403

Berdasarkan ayat di atas itu, berarti bahwa yang tidak mau


mengetahui sejarah, maka dirinya tidak bisa mengambil
pelajaran. Dengan demikian dirinya bisa ditipu oleh yang
memutar-balikkan sejarah. Selain itu juga tidak di sebut
menggunakan akal bila mencari kebenaran tanpa mau
mengetahui sejarah.

Percuma saja menutup-nutupi sejarah, karena sejarah hanya


bisa ditutupi untuk sementara tidak untuk selamanya. Misalnya,
bila ada di antara penguasa Bani Umayah yang bisa menutupi
sejarahnya, itu hanya bisa pada masa kekuasaannya. Tetapi bisa
terbuka sesudah kekuasaannya digantikan oleh yang lainnya,
seperti oleh Bani Abbasyiah. Begitupun untuk penguasa
selanjutnya.

Sejarah suatu Daulah berkaitan dengan kenegaraan, tidak


bisa ditutupi. Karena, sudah di tulis oleh semua bangsa dan
disimpan di mana-mana. Oleh karena itu, percuma saja jika
menutup-nutupi sejarah negara. Harus disadari bahwa
mengungkapkan sejarah negara, pasti besrkaitan dengan para
pelakunya.

Alloh melarang kita untuk mengikuti orang yang berbuat dosa


(Q.S.76:24), tentu untuk mengetahui perbuatan dosa mereka itu,
kita harus tahu apa yang mereka lakukan. Hal itu bisa diketahui
melalui penjelasan sejarah.

2). Seseorang bisa berfikir secara objektif apabila mau


memperhatikan sejarah. Seperti halnya para ahli hadits, untuk
bisa mengetahui shohih atau dhoifnya suatu hadits, maka
dirinya harus tahu sejarah asal usul hadits termasuk perawinya.
Begitupun mengetahui sejarah yang sudah diperbuat oleh para
mantan pimpinan / komandan TII, seperti halnya menyerahkan
diri kepada musuh serta mendatangani Ikrar Bersama 1 Agustus
1962, maka generasi penerus NII akan bisa menilai dan
menentukan sikap berdasarkan pengetahuan, yakni sejarah NII
dan perundang-undangannya.
404

Dengan mengetahui At-Tibyaan (tulisan Abdul Fattah


Wirananggapati), maka akan tahu pelanjut kepemimpinan pusat
NII yang sebenarnya setelah Imam Asy-Syahid S.M.
Kartosuwiryo. Dan mengetahui pula adanya yang memunculkan
kepemimpinan di luar Undang-Undang NII.

Guna memahami pihak mana yang sesuai dengan undang-


undang NII dan mana yang bertentangan dengannya, atau
dengan Al-Quran, maka Risalah At-Tibyan itu menjelaskan pula
sebagian dari perbuatan para pelaku sejarah NII yang telah
melanggar Al-Quran dan Undang-undang NII(melakukan
desersi).

Diadakan pendengaran dan penglihatan (Q.S.76:2) guna


bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah sehingga
tidak terkecoh oleh yang menutupi sejarah guna kepentingan
"Hawaahu (nafsunya)”.

Memang, At-Tibyaan memuat lampiran "Ikrar Bersama",


1 Agustus 1962 yang didalamnya tercantum sederetan nama
dengan tandatangan para pelakunya, yang kemudian tentu bisa
dibaca oleh generasi seterusnya. Namun, Allah berfirman yang
bunyi-Nya:

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang


yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena
Allah biarpun terhadap dirimu sendiri ibu bapa dan kaum
kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu
kemaslahatannya.Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu
memutarbalikan(kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka
405

sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala apa yang kamu


kerjakan."_(Q.S.4:135).

Dari ayat itu kita dituntut untuk berlapang dada, berkepala


dingin sehingga menjadi saksi yang adil meskipun terhadap
orang tua sendiri. Artinya, dalam hal ini kepada siapa pun yang
telah menyerahkan diri kepada musuh, maka kita tidak boleh
menutup-nutupi sejarahnya. Jika tidak demikian berati hawa
nafsu telah menguasai diri.
-----------------------------------------------------

46. Tanya:
“Bisakah pengakuan terhadap pemimpin itu sekedar atas
pertimbangan jasanya yang terdahulu atau pernah membina
kita kepada keislaman diri ?”

Jawab :
1). Menjawab pertanyaan demikian terlebih dulu kita lihat
petikan ayat yang bunyinya: "...sebenarnya Allah Dia-lah yang
melimpahkan ni'mat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada
keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar".__
(Q.S.49/17).

Dengan memperhatikan petikan ayat di atas itu, jelas yang


menunjukkan kita ke jalan yang haq, pada hakekatnya ialah
Allah SWT. Tidak didapat dalam sejarah Rasul SAW bahwa
pengakuan terhadap pemimpin itu didasari karena jasa dalam
pembinaan atau dakwahnya. Bila ukurannya demikian, bisa-
bisa jika ada seratus pendakwah yang diidolakan, maka ada
seratus pemimpin yang masing-masing diangkat oleh masing-
masing yang mengidolakannya. Atau oleh masing-masing yang
merasakan jasa-jasanya.

Pengakuan terhadap pemimpin merupakan hak. Maka, tidak


boleh atas dasar jasanya terhadap kita dalam bentuk apapun.
Sama saja dengan "hak pengakuan" seorang anak terhadap
bapaknya. Bilamana si anak itu dari kecil hingga dewasa diurus
406

oleh orang lain, maka hak pengakuan dan waris serta kewajiban-
kewajiban si anak terhadap ayahnya tetap tidak putus, walau
ayahnya itu dianggap tidak berjasa membesarkan si anak tadi.

Untuk berpegang pada yang “Haq” tidak bisa dihadang oleh


“jasa” seseorang yang telah diberikan terhadap kita. Berkenaan
dengan “jasa”, perhatikan ayat-ayat Al-Qur'an mengenai
sebagian dialog antara Nabi Musa dengan Fir'aun:

"Fir'aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di


antara (keluarga)kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan
kamu tinggalbersama kami beberapa tahu dari umurmu." _
(Q.S.26:18).

"Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu


lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang
tidak membalas jasa"._(Q.S.26:19).

"Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di


waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf”._(Q.S.26-20).

2). Kepemimpinan adalah hak yang menyangkut


pemerintahan dengan sendirinya menyangkut kepada peraturan.
Jadi, tidak bisa ditentukan oleh berjasa atau tidak berjasa,
melainkan ditentukan oleh peraturan sehingga memiliki azas
legalitas. Contohnya, Rosululloh SAW telah mengangkat
Usamah bin Zaid menjadi Panglima Perang pada usia 17 tahun,
sedangkan yang menjadi prajuritnya diantaranya Abu Bakar dan
Umar bin Khattab. Tentu jika ditinjau dari segi jasa terhadap
Daulah Islamiyah maka kedua sahabat besar itu yang lebih
tinggi daripada Usamah. Akan tetapi, karena eksistensi
pemimpin itu tidak ditentukan oleh jasa melainkan ditentukan
407

oleh legalitas, maka sekalipun Abu Bakar dan Umar bin


Khattab itu adalah lebih berjasa tapi jika tidak diangkat oleh
yang berhak maka bukanlah pemimpin, keadaannya tetap di
bawah komando Usamah bin Zaid yang umurnya di bawah 20
tahun.

Negara tegak di atas undang-undang/peraturan, karena itu


tidak bisa di atas kehendak pribadi atau kemauan individu. Dari
itu semua possisi kepemimpin dan tugas yang dijalankan harus
berdiri di atas azas legalitas. Artinya atas dasar aturan mana dia
diberi tampil memegang tanggung jawab. Tampil tanpa dasar
aturan, sungguh bertentangan dengan tertib hukum NII.
Apalagi jika sikap itu dilakukan oleh yang telah melarikan
diri meninggalkan medan jihad, yaitu meninggalkan imam NII.
Jelas ini merupakan sikap tidak menghargai undang-undang.
Sikap tidak proporsional itu, sama sekali tidak sesuai dengan
kapasitas yang diakuinya sebagai pemimpin negara Islam
Indonesia. Inilah namanya sikap semena-mena terhadap hukum,
seakan-akan negara ini milik kakeknya yang diwariskan
kepadanya. Maukah anda menerima kehadiran seorang
Pemimpin yang sejak awal tampilnya saja sudah melanggar
hukum hukum dasar NII ??

Kalau saja dasarnya adalah jasa, maka hal itu berbenturan


dengan petikan ayat yang bunyinya:

".... Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima


hukum-hukum), maka hapuslah amalannya, dan ia di akhirat
termasuk orang-orang yang merugi."( Q.S. 5 : 5 ).

Dari ayat itu, bisa di ambil arti bahwa amalan (jasa) yang
baik akan hapus apabila pada akhirnya diingkari. Sebagaimana
halnya yang tadi berjihad fi sabilillah, tetapi kemudian
menyesali diri.

----------------------------------------------------------
408

47. Tanya :
“Bagaimana jika di antara para mantan pimpinan /
komandan TII yang telah berbalik dari NII itu, kemudian
bertaubat bolehkah menjadi aparat lagi ?”

Jawab :
Ya, boleh apabila cara bertaubatnya itu sesuai dengan
ketentuan hukum Al-Quran, antara lain sebagai berikut :

1). Harus memperbaiki dan menjelaskannya. Lihat Firman


Allah yang bunyi-Nya:

"Kecuali yang mereka telah taubat dan mengadakan


perbaikan dan menerangkan(kebenaran), maka terhadap
mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha
penerima taubat lagi Maha Penyayang." ( Q.S. 2 : 160 ).

Pada ayat itu disebutkan "mengadakan perbaikan". Dengan


demikian harus kembali kepada azas legalitas. Jadi, apabila
yang berbalik dari NII kemudian taubat/kembali kepada NII,
maka harus dibuktikan dengan taat kepada peraturan/ undang-
undang NII, sehingga terjadi perbaikan. Sebab, tidak di sebut
mengadakan perbaikan dari kesalahan jika tidak berada dalam
aturan NII. Mengaku mengadakan perbaikan dengan tetap
melanggar aturan NII, sama saja dengan mengadakan perbaikan
di tubuh RI !

Sebab pada kenyataannya, orang orang yang mengatas-


namakan NII tanpa merujuk pada undang undangnya, dari hari
ke hari terus menjegal langkah NII yang berpihak atas aturan.
Dan siapa yang diuntungkan dengan akibat ini, jelas
pemerintahan Thoghut.
409

Sejarah mencatat ketika Ateng Jaelani Setiawan (Panglima


TII Jawa Barat) yang menyerahkan diri kepada musuh, serta
membocorkan rahasia perjuangan N I I pada Tahun 1961,
kemudian pada Tahun 1975 diakui lagi kedudukannya, yaitu
dicantumkan dalam struktur kepemimpinan oleh Danu
Muh.Hasan cs dengan alasan sebagai jalan bertobat, lalu
membaiat sebagian dari para bekas anak buahnya. Maka,
bagaimanakah kejadiannya akhirnya ? Ya, ketika diinterogasi,
dia itu bukan cuma menceritakan si anu-si anu, melainkan juga
membukakan skema dari struktur yang mereka buat itu. Itulah
akibat dibaiat oleh yang sudah mengkhianati baiatnya.

Padahal oleh akal yang sederhana saja dimengerti, bahwa


yang posisinya masih sebagai pengkhianat, yakni tidak bertobat
melalui prosedur hukum, maka tetap sebagai pengkhianat dan
wajar jika berkhianat. Artinya, secara hukum bahwa setiap
pesngkhianat, jika tidak bertobat menurut prosedur hukum
(Q.S.4:64) maka tetap sebagai pengkhianat.

Dari itu sebelum segalanya terlambat, harus kembali


menetapi undang-undang N I I, itulah jalan bertobat serta bukti
diri sebagai warga Negara Islam Indonesia yang bertanggung
jawab.

Kita jadi bertanya tanya "... Benarkah mereka telah taubat


dan melakukan perbaikan ?" Padahal dari akibat tindakan
mereka tetap RI juga yang diuntungkan !! Ini taubat atau malah
merealisasikan janji terhada Thoghut ??

Dari itu sebelum segalanya terlambat, kembalilah menetapi


undang undang NII, itulah jalan bertaubat serta bukti bahwa
anda benar benar warga negara Islam yang bertanggung jawab.

Bukankah dalam bai'at, anda mengatakan: "Saya sanggup


menerima hukuman dari ulil Amri Negara Islam Indonesia,
sepanjang keadilan Hukum Islam, bila saya ingkar dari bai'at
yang saya nyatakan ini". Lantas mengapa sekarang malah
410

hukum itu yang ditarik tarik, supaya lentur sesuai dengan nafsu
sendiri ???

“Negara” berarti didalamnya undang-undang. Maka,


siapapun yang menjadi pemimpinnya harus memiliki legalitas.
Dengan itu, bagi yang telah meninggalkan jabatan dengan
desersinya dari NII dan menyesali diri dengan Ikrar Bersama-
nya, kemudian masuk lagi lalu semaunya mengaku jabatannya
itu masih seperti yang dulu berarti anggapannya negara itu
punya dirinya sendiri. Berbalik dari NII berarti meninggalkan
tugasnya, berarti pula sudah tidak ada lagi dengan semua
jabatan dalam NII. Jadi, kalau masih mengaku-ngaku, itu sama
halnya dengan tidak tahu malu, atau panjang angan-angan.
Firman Alloh SWT :

"Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang


sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaithan telah
menjadikan mereka mudah(berbuat dosa), dan memanjangkan
angan-angan mereka." ( Q.S. 47 : 25 ).

Dalam Al-Quran surat 2 ayat 160 tadi tadi disebutkan


"menjelaskan". Dengan itu yang bertaubat harus berani
mengakui secara terbuka bahwa diri telah bersalah, dan siap
menjelaskan mana yang salah dan mana yang benar, dan jangan
menutup-nutupi dirinya supaya dianggap benar, sebab jika
tidak dijelaskan bisa-bisa perbuatan salah itu masih di anggap
benar dan bisa ditiru oleh generasi penerusnya.

Sungguh aneh untuk mendapatkan pengampunan dari presiden


RI saja mereka bersedia menyatakan diri bersalah, tersesat, dan
mereka rela menjatuhkan martabat NII demi kesempurnaan
"taubat" mereka terhadap "Thoghut".Tetapi ketika diseru untuk
bertaubat yang sebenarnya, kembali ke pangkuan Daulah
Islamiyah mereka tidak mengakui kesalahannya, tidak merasa
menyesal bahwa tindakannya terdahulu(taubat pada thoghut).
411

Sungguh telah menyengsarakan bathin segenap mujahid yang


istiqomah.

Mengapa mereka malu mengaku kesalahannya sehingga


berkilah bahwa itu "perjanjian damai Hudaibiyah" ? Apakah
gengsi mereka lebih besar dari harkat NII yang telah mereka
jatuhkan ? Ataukah mereka tidak mengira bahwa pada akhirnya
Alloh akan membuktikan sebenarnya apa yang telah mereka
lakukan ?

Jika bertaubat dari perbuatan disersi/menyerahkan diri


kepada musuh (RI) atau juga berbalik dari NII itu tidak
dijelaskan sebagai perbuatan salah/dosa maka darinya tidak ada
nilai taubat. Inti dari bertaubat adalah mengakui diri telah
bersalah. Dengan demikian jika yang sudah berbalik dari NII
itu, kemudian menutup-nutupi perbuatan salahnya atau
memanipulasi sejarahnya dengan berbagai macam ungkapan,
maka hal itu bukanlah bertaubat, tetapi malahan memperbanyak
kesalahan seperti halnya:

(a) Memanipulasi sejarah Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah


yang sebenarnya.

(b) Memfitnah Imam/melemparkan kesalahan diri kepada


Imam. Perhatikan firman Alloh : "Dan barangsiapa yang
mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya
kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah
berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata."( Q.S. 4 :
122 ).

(c) Merusak citra Daulah Islamiyah (NII).

(d) Membohongi umat dengan mengaburkan sejarah NII


(menyerahkan diri kepada musuh, diakukannya sebagai
perjanjian damai “Hudaibiyyah”).
412

(e) Takut kehilangan pengaruh atau posisi sehingga berkelit-


kelit dalam menanggapi hal-hal yang dianggap bakal
menurunkan gengsinya.

Kesemuanya itu bisa terjadi, karena taubat tanpa adanya


perbaikan, yaitu tidak berpegang pada proses hukum dan tanpa
adanya menjelaskan terhadap kesalahan. Sehingga karena
awalnya tidak lurus maka kesananya melenceng lebih jauh.

Padahal semestinya berterus terang menyatakan, bahwa


diri telah berdosa/telah berbalik dari NII. Dan siap diatur oleh
pimpinan NII yang sebenarnya, dan siap pula menerima
undang-undangnya.

2). Harus datang kepada pimpinan NII yang sah dengan


mengakui dirinya bersalah. Perhatikan petikan ayat yang
bunyinya:

"....Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya


datang kepadamu (Muhammad) lalu memohon ampun kepada
Allah , dan Rasul pun memohon ampun untuk mereka, tentulah
mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang."__ (Q.S.4:64).

Ayat di atas itu menjelaskan mengenai yang bertahkim bukan


kepada Rosul Saw, menyadari atas kesalahan, maka datang
kepada Rasul Saw yang mana sebagai pimpinan.

Dalam aturan ketertiban sudah menjadi ketentuan, misalnya


bila ada karyawan yang sudah meninggalkan tugasnya, apalagi
dengan cara melarikan diri, maka jika akan kembali lagi
keperusahaan tempat semula bertugas, pasti diwajibkan terlebih
dulu menghadap pimpinan perusahaan itu tanpa peduli siapa
orangnya asalkan memiliki dasar legalitas.
413

Lebih-lebih dalam pemerintahan Negara Islam Indonesia


yang kaitannya dengan kemashlahatan ummat yang sungguh
banyak, tidak begitu saja muncul tanpa peraturan. Komandan
TII itukan dulu, tapi bila sudah desersi, apalagi berbalik keluar
dari perjuangan NII, tentu jangankan jadi pimpinan, jadi
prajuritnya saja mesti pakai prosedur hukum. NII adalah milik
semua ummat Islam, tidak pandang dalam generasi manapun
dilahirkannya.

Didalamnya siapapun bisa menjadi pemimpinnya asal


melalui jalur hukum/ undang-undang. Jadi, bisa saja yang pada
tahun1962 masih di dalam kandungan kemudian menjadi
pemimpin, sedangkan yang sebelum tahun 1962 sudah menjadi
pemimpin, tapi kemudian menjadi yang dipimpinnya.

Ingat, langkah gerak para pimpinan/panglima akan menjadi


arah bagi jutaan ummat. Karenanya satu "Penyesalan" saja
dilakukan pimpinan, hasilnya akan membengkak sejumlah
ummat yang mengikutinya.

Sejarah menjadi bukti, betapa citra NII, wibawa perjuangan


bahkan semangat menjadi lumpuh, akibat ulah gerak "Pena"
beberapa puluh orang figur komandan, yang bersaksi bahwa apa
yang sudah dilakukannya itu salah, sesat dan menyimpang dari
hukum Islam ! Sebuah persaksian palsu yang mengguncang
keyakinan prajurit dibelakang mereka. Begitu "Ikrar Bersama",
1 Agustus 1962 ditandatangani, rakyat yang bersimpati pada
perjuangan mereka ikut juga merasa bersalah atas sekian tahun
dukungan mereka. Tentara Islam gamang menentukan arah
berikutnya. Akhirnya mereka pun turun, mundur dari
gelanggang perang mengikuti jejak para pemimpin yang telah
kembali ke “pangkuan” pemerintah yang tidak bersistem Islam.
Jika kemudian mereka bangkit kembali hendak memimpin
ummat, tanpa terlebih dulu meampertanggungjawabkan langkah
fatal mereka sebelumnya, maka akan terjadi ganjalan sejarah
sebagai berikut:
414

(a). Mereka yang pertama mengomandani Perang Perlawanan,


tetapi berikutnya mereka berikrar bahwa langkah yang lalu itu
keliru, salah bahkan sesat, menyimpang dari ajaran Islam.

(b). Selanjutnya mereka lagi yang mengajak ummat kembali


melakukan perlawanan.

Tidakkah ini jadi pelajaran bagi orang yang berpikir ? Mana


yang benar dari jejak mereka ? Apakah ketika keliru dan
mengajak yang lain menyerahkan diri kepada musuh, atau
ketika merasa benar dan mengajak lagi melawan ? Persoalan ini
harus jelas dahulu, agar tidak jadi kesamaran di hari mendatang.

Kemudian apa jaminannya bahwa mereka tidak akan berbalik


lagi menganggap jika ajakan kedua ini tidak keliru dan salah
seperti mereka menyesali ajakan yang pertama ?

Lain persoalannya bila mereka berani secara jantan mengakui


bahwa penyesalan dahulu itu "salah" dan tidak diembeli kata-
kata "Perjanjian Damai Hudaibiyah", kemudian bertobat
menjalani proses hukum. Jika tidak demikian berarti tidak mau
taubat.

Ringkasnya, bahwa bagi yang telah berbalik dari NII


kemudian bertaubat, bisa kembali menjadi aparat NII, jika
bertobatnya itu sesuai dengan proses hukum, serta memperoleh
rehabilitasi (pembersihan nama baik) dari pemimpin yang syah
menurut undang undang.
-----------------------------------------------
48. Tanya:
”Bagaimana kalau nanti yang tanpa undang-undang itu
kemudian mereka menang ?”

Jawab:
1). Kata-kata "kalau menang" adalah hal lamunan atau belum
pasti. Yakni, di awang-awang. Dan dalam kenyataan sejarah ada
pihak yang tadinya dianggap lebih unggul untuk meraih
415

kemenangan, tapi pada akhirnya kalah. Contohnya, Khalifah Ali


bin Abi Thalib, sesudah mengalahkan barisan Ummul
Mukminin Aisyah ra (dalam Perang Jamal), kemudian
menghadapi kekuatan Muawiyah (dalam Perang Syiffin). Pada
awal perang dimulai, kekuatan Muawiyah terdesak sedangkan
Ali unggul. Tetapi, setelah beberapa proses kejadian, maka
ahirnya Muawiyah yang menang. Meskipun pihak Muawiyah
adalah pihak yang menang, namun tetap sejarah mencatat bahwa
dia ilegal (pemberontak). Buktinya, yaitu Khalifah Ali
memeranginya.

Pada subuh hari sewaktu Khalifah Ali mengetahui bahwa


sebagian pengikutnya telah meninggalkan perkemahan dan
dilihatnya tinggal seribu orang lagi, maka Khalifah Ali berkata:
"Biarlah mereka pergi, cukup bagiku Allah dan Rasulnya". Dari
Ucapan Khalifah Ali itu diambil makna:

(a). Bahwa pengakuan terhadap Haq itu bagi pribadi mukmin


tidak ditentukan oleh sedikit atau besarnya dukungan. Artinya,
tidak ditentukan oleh bakal "kalah atau menang".

(b). Nyata, pihak Muawiyah yang menang, maka Ali tetap tidak
mengakuinya. Pengertiannya, kepada yang sudah jelas menang
saja, Ali tidak mengakuinya, maka apalagi kepada yang baru
"kalau menang".

2). Dalam Islam bahwa soal bagaimana "kalau menang", itu


soal belakang. Adapun yang didahulukan ialah soal "HAQ".
Ini yang nomor satu ! Memilih pemimpin dengan kriteria "kalau
- kalau menang" bukanlah watak seorang mukmin ! Ingat,
kaum munafiqin pun tidak mau bergabung dalam barisan Nabi
Saw, karena dianggap tidak bakal menang atau bakal kalah.
Perhatikan Firman Allah yang bunyi-Nya:
416

"Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke


Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-
orang yang lemah daripadanya". Padahal kekuatan itu
hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang
mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." _
(Q.S.63:8).

Duhai, seandainya dahulu kala semua manusia munafiq, maka


tentu tidak ada sejarah para nabi yang awalnya sedikit
pengikutnya, yang dikira oleh orang-orang munafiq "tidak
bakal menang". Juga, bila semua manusia maunya cuma bakal
menang, niscaya tidak ada ummat Nabi SAW yang sesudah tiga
tahun berdakwah jumlahnya cuma tiga puluh lima orang tetap
bertahan sedangkan penduduk Jazirah Arab sudah belasan juta
orang.

Tetapi Alhamdulillah, Alloh kuatkan Al Islam ini melalui


tangan tangan mukminin yang tangguh dan kukuh berpihak pada
Haq, tak peduli seberapapun jumlah mereka, tidak gentar
sebanyak apapun musuh mereka ! Semua kecil dalam
pandangan mereka, cuma Alloh saja Maha Akbar ! Merekalah
kaum yang dicintai Alloh, yang tidak lemah karena bencana di
jalan Alloh, tidak lesu dan tidak menyerah kepada musuh
( perhatikan Q.S.3:146).

Dari sini kita mendapat kesimpulan bahwa kejayaan Islam


akan diberikan Alloh SWT kepada mu’min yang kuat mental,
bukan pada mereka yang lemah hati, kerjanya cuma berandai
andai sambil menebak nebak siapa kiranya nanti yang bakal
menang !!

Bahasa "Bagaimana kalau menang", berarti menangnya


belum jadi dan entah kapan bakal menangnya. Bisa juga diri
keburu mati belum juga menang, sebab nyatanya masih "kalau
menang". Dengan demikian bagi yang mengikuti jalur
kepemimpinan tanpa undang-undang, karena pikirannya "kalau-
417

kalau menang", maka bisa empat kali lipat dalam kekalahan.


Yaitu:

(a). Kalah di hadapan manusia, karena nyatanya sedang kalah.


Adapun bahasa kalau menang, menangnya itu belum terjadi.

(b). Kalah dalam nilai, karena menangnya itu baru kalau, yang
sudah jelas adalah rugi dalam nilai. Yakni, tidak menempati
posisi yang Haq, yaitu di luar aturan sehingga ilegal. Sesuatu
yang tidak beraturan mengandung ketidakjelasan, dan hal itu
bertentangan dengan Haq.

(c). Kalah dalam "niat", beramal bukan karena ibadah,


melainkan bertujuan ingin menang, sehingga tidak memiliki
nilai keikhlasan di sisi Allah.

(d). Kalah dalam hujjah, karena tidak berdasarkan pada


hukum atau perundang-undangan yang jelas cuma sekedar ikut
ikutan tanpa didasari pengetahuan. Sedangkan pendengaran dan
penglihatan dan hati semua itu akan diminta
pertanggungjawaban.(Perhatikan Q.S.17:36).

Dengan uraian di atas dapat disimpulkan, yaitu percuma saja


menang dihadapan manusia sedangkan kalah dihadapan hukum
Allah. Itu sungguh kerugian yang abadi. Apalagi menangnya
baru "kalau".
------------------------------------------------------
49. Tanya:
“Ada yang berpendapat, apabila pemerintahan sudah
dirampas musuh maka harus mengadakan kembali Daulah.
Sehubungan dengan itu maka bagaimanakah dengan estapeta
kepemimpinannya ?”

Jawab:
Nilai Proklamasi Negara Islam Indonesia 7Agustus 1949
hanya wilayahnya yang dikuasai musuh, tetapi nilai proklamasi
serta nilai estapeta kepemimpinannya tetap utuh. Nyatanya:
418

1). Tatkala Imam disergap dalam keadaan sakit, diperintahkan


pindah dari pembaringannya ke tandu yang baru dibuatkan,
maka Imam tidak mengikuti perintah tersebut. Terhadap
perintah itu, Imam menjawab: "Jika saya bergeser dari
tempat ini, berarti saya menyerah. Tidak ada kamusnya
dalam perjuangan Islam menyerah. Sekarang saya tidak
berdaya, karena itu terserah anda mau diapakan saya."
Dengan jawaban sedemikian, maka Imam itu dipindahkan
dari pembaringannya. Kemudian diboyong oleh musuh.
Dengan sikap Imam sedemikian itu, maka bukanlah
menyerah, melainkan tertangkap. Dan sejak tertangkap, 4
Juni 1962 itulah "berhalangan menunaikan tugasnya". Dan
estapeta kepemimpin beralih sesuai dengan MKT No.11
tahun 1959.

2). Sebelum Imam NII tertangkap, Dewan Imamah


mengeluarkan Undang-Undang tahun 1959 yang isinya
antara lain:Darurat Perang yang tercantum dalam MKT
No.11

" K.P.S.I. dipimpin langsung oleh Imam _ Plm. T. APN.I.I.


Jika karena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan
tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnya seorang
Panglima Perang, selaku penggantinya, dengan
purbawisesa penuh. "

"Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari


dan diantara Anggauta-Anggauta K.T., atau dari dan
diantara para Panglima Perang, yang kedudukannya
dianggap setaraf dengan kedudukan Anggauta-Anggauta
K.T."

Dengan undang-undang itu meskipun Imam tertangkap,


namun estapetanya tetap belangsung. Jadi, begitu Imam
berhalangan menunaikan tugasnya, tertangkap, diboyong
musuh, maka kepemimpinannya beralih kepada yang
419

memiliki jabatan yang tercantum dalam undang-undang


(MKT No 11) di atas itu.

3). Washiat Imam tahun 1959, di hadapan para Panglima\


prajurit antara lain: "Jika Imam berhalangan, dan kalian
terputus hubungan dengan Panglima dan yang tertinggal
hanya prajurit petit saja, maka prajurit petiti harus
sanggup tampil jadi Imam".

Dari wasyiat itu diambil arti, jika hubungan terputus dengan


Imam atau dengan yang tercantum dalam undang-undang
(MKT. No.ll Tahun 1959) mengenai estapeta Imam, maka
sekalipun yang ada itu cuma prajurit petit, dia berhak menjadi
Imam. Kepemimpinan NII tetap berlangsung, beralih kepada
yang lain sesuai dengan dasar hukum yang telah ditetapkan.

Adapun soal mengadakan Daulat Islam, menjawab


pertanyaan di atas tadi, kita perhatikan apa yang diuraikan oleh
Said Hawa dalam Kitab Al-Islam (jilid 2 halaman 400).
Disebutkan bahwa tempat hidup ummat Islam itu ialah seluruh
bumi Allah. Disebabkan bahwa bumi itu milik Kerajaan Allah
(Q.3:189), dengan demikian ummat muslimin itu sebagai Ahli
(Hamba) Allah (Q.S.24:55, S.21:105).

Karena itu jelas seluruh bumi ini diwariskan kepada manusia


yang shaleh, yaitu mesti dipelihara dan diatur serta diambil
manfaatnya oleh manusia-manusia yang taat kepada Allah.
Dengan demikian bahwa bumi itu asalnya bumi Islam (Darul
Islam). Menurut Said Hawa (Al-Islam juz dua halaman 402)
daarul Islam ada 5 macam :

1. Daerah Islam yang adil 1- ‫دارالعدل‬


2. Daerah Islam yang bughot 2- ‫دارالبغيي‬
3. Daerah Islam yang sudah bid’ah 3- ‫دارالبدعة‬

4. Daerah Islam yang murtad 4- ‫دارالردة‬


420

5. Daerah Islam yang sudah dirampas kafir ‫دارالمسلوبة‬


‫ه‬-
Selanjutnya dalam kitab yang sama juz 2 halaman 403- 404:

‫وإذا ففرض أنفه لتوجفد دار عفدل بفأن ليكفون خليففة المسفلمين ثفم‬
‫ فعنفدئذ تصفبح دار‬، ‫ليحكم بالسفلم وشفرائعه وليلفتزم النفاس بفه‬
‫ وفي هذه الحالففة يجففب علففى‬، ‫السل كلها دار ردة أوبدعة أو فسوق‬
‫المسلمين عامة وعلى أهل الحل والعقد خاصة فريضففة إقامففة المففام‬
‫والجهففاد معففه حففتى ترجففع أرض السففلم كلهففا فتصففبح دار عففدل‬
‫وليصح أبدا وليجوز أن يبقى المسلمون ساعة واحففدة بل خليفففة أو‬
.‫ وبل دار ينفذ فيها حكم السلم‬، ‫إمام‬
“Apabila sudah tidak ada Daarul Adli (daerah Islam yang
adil), karena tidak ada khalifah muslimin, serta tidak berlaku
hukum Islam, maka daerah itu jadi Daarul Riddah, bid’ah atau
fasik. Dalam keadaan ini wajib kepada segenap muslimin
umumnya dan kepada Ahlul Halli wal Aqdi khususnya
mengangkat Imam, serta berjihad besertanya sehingga bisa
mengembalikan bumi Islam yang semua daerahnya menjadi
daerah adil. Sebab, tidak boleh(haram) bagi muslimin
sekalipun satu jam jika tanpa khalifah atau imam, atau tidak
punya daerah yang mengarah kepada hukum Islam.”.

‫ فأول واجب‬، ‫أما في حالة كون دارالسلم غير دار عدل‬


‫علىالمسلمين أن‬
‫ وأن يقيموا خلفتهم ثم يبدأوا عملهم بإعادة دار‬، ‫يوجدوا دار العدل‬
‫ فيسقطون الحكومات المرتد‬، ‫السلم كلها إلى حظيرة دار العدل‬
‫ ويحررون‬، ‫ ويحاربون الحكومات الكافرة‬، ‫والظالمة والمبتدعة‬
.‫الرض السليبة‬
“Bilamana daerah Islam tidak /belum adil maka wajib
kepada muslimin mengadakan wilayah yang dikuasai, dengan
cara mengangkat khalifah / Imam untuk muslimin. Mulailah
421

usahanya untuk mengembalikan daerah Islam sehingga


hadirnya Daarul Adli, dengan menjalankan hukuman terhadap
orang-orang yang murtad, dholim dan yang bid’ah dan
memerangi hukum kafir dan membebaskan daerah “maslubah”
(terjajah)”.

Kesimpulan dari keterangan di atas:

(a) Apabila muslimin belum punya Imam, maka wajib


mengangkat Imam.

(b) Meskipun sudah ada yang melaksanakan pengangkatan


Imam, tetapi jika tidak ada pelanjutnya, maka masih tetap
dituntut kewajiban mengangkat Imam.

(c) Apabila sudah ada pengangkatan Imam serta masih ada


pelanjutnya (estapetanya) maka haram mengangkat lagi Imam.

(d) Apabila sudah terjadi pengangkatan Imam yang pertama,


tetapi sesudah itu kita tidak tahu pelanjutnya, maka wajib
kembali mengangkat Imam dengan catatan jika kemudian hari
kita tahu ada pelanjutnya maka wajib bergabung dengan
pelanjutnya dari yang pertama itu.
Yang jelas, ummat muslimin Bangsa Indonesia sebelum
Tahun 1949 (dalam bentuk Pemerintah Negara Islam) pun sudah
melaksanakan kewajiban mengadakan daulat
(“Ijaaduddaulah”) dengan cara mengangkat Imam. Dengan
demikian segenap ummat Islam Bangsa Indonesia wajib
bergabung atau berjihad beserta Imam atau pelanjutnya, tidak
boleh mengadakan lagi. Sebab, kalau membuat lagi berarti
“Tafarruq” (berpisah ) dari yang haq. Sedangkan tidak
bergabung dengan yang haq, berarti berada dalam posisi yang
bathal. Apabila sudah ada yang haq, maka sesudah yang haq
itu adalah yang bathal. Perhatikan hadits yang bunyinya:
،‫ومن بايع إماما فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع‬...
.( ‫ )رواه مسلم‬.‫فإن جاء اخر ينازعه فاضربوا عنق الخر‬
422

“D
-------------------------------------------------

50. Tanya:
“Apa perbedaannya antara ambisi kepemimpinan dengan
kewajiban menyatakan sebagai pemimpin ?”

Jawab:
Pemimpin Islam berkewajiban menyatakan dirinya selaku
pemimpin. Sebagaimana Rasulullah juga menyatakan: Bahwa
aku adalah Utusan Allah (Anaa Muhammad dur rasulullah).
Berdasarkan itu, jika seseorang yang sudah jelas memiliki
legitimasi selaku pemegang estapeta kepemimpinan kemudian
selalu tampil menjelaskan fungsinya kepada ummat yang belum
tahu, maka itu adalah suatu yang Hak (kebenaran). Dan sama
sekali bukan ambisi, melainkan kewajiban.

Beda pengertiannya antara "ambisi" dan "kewajiban".


Misalnya, Seorang juru tik mengaku-ngaku sebagai sekertaris
atau berusaha menampilkan supaya diangkat jadi sekertaris, hal
itu berarti berambisi. Akan tetapi, lain lagi dengan yang sudah
bukti memiliki legalitas selaku sekertaris, apabila menjelaskan
kepada para pegawai yang belum tahu, maka itu adalah suatu
kewajiban. Begitu juga seorang pemimpin menyatakan dirinya
selaku pemimpin, maka itu adalah kewajiban. Sebab, jika
seorang pemimpin tidak mau menyatakan dirinya sebagai
pemimpin, berarti tidak bertanggung jawab. Lagi pula
bagaimana ummat bisa melaksanakan S.4:59 dan 85 jika
mereka tidak diberitahu siapa pemimpinnya ??!

Karena itu, sekedar "Watawasshou bil Haq" dalam mencari


Kebenaran Ilaahi, janganlah mengikuti bisikan setan yang
selalu menjurus kepada buruk sangka.

Bisa jadi ada seorang Imam (pemimpin), tapi akhirnya


menjadi ambisi kepemimpinan, bila kemudian hari terus
423

berkeinginan menjadi pemimpin, walaupun dirinya sudah


melanggar sesuatu yang prinsip. Misalkan saja, dirinya telah
bersalah, tetapi berusaha menutup-nutupi kesalahannya dengan
maksud agar tidak jatuh dari posisinya sebagai pemimpin. Nah,
menutupi-nutupi kesalahan dengan maksud demikian itu
namanya ambisi untuk terus menjadi pemimpin. Sungguh,
yang tadinya haq ( Sah )sebagai pemimpin, tetapi akhirnya
menjadi bathal, hal itu bisa saja terjadi. Sebab, bahwasanya
syaitan yang terdiri dari jenis jin dan manusia itu akan terus
menggoda sampai “Syakaraatul maut” dari segala aspek
kehidupan, (perhatikan Q.S.4:135).
-----------------------------------------------------------
51. Tanya:
“Ada yang mengatakan bahwa turun, menyerahkan diri
kepada musuh itu sebagai perintah Imam. Bila itu benar,
bagaimanakah sikap kita terhadap perintah itu ?”

Jawab:

1). Sabda Nabi saja bisa menjadi dho'if bila bertentangan dengan
ayat, apa lagi sekedar perkataan Imam. Seandainyapun benar
Imam berkata demikian, maka "perintah" itu batal demi
hukum ! Perhatikan Q.S.47:35.

2). Perintah menyerah, hal itu bertentangan dengan amanat


Imam tahun 1959 di hadapan para panglima dan prajurit. Yaitu:
"Apabila Imam memerintahkan menyerah, maka tembaklah
sebab ia Iblis".

3). Imam memerintahkan menyerah itu bertentangan dengan


kenyataan, sebab nyatanya Imam itu adalah tertangkap di
Medang Perang, setelah beberapa panglimanya berkhianat,
datang ke pihak musuh.

4). "Sekiranya” ada yang meyakini bahwa Imam


memerintahkan menyerah kepada musuh, maka berpeganglah
kepada:
424

(a). Al-Qur'an Surat 3 ayat 144 yang bunyinya:

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh


telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul . Apakah jika
dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang ?
Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah
akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur."_(Q.S.3:144).
Maksud dari ayat itu, sekalipun Nabi SAW yang apabila
terbunuh di medan perang, maka tentara Islam tidak boleh
berhenti mengadakan perlawanan. Yakni, tidak boleh kembali
kepada sistem pemerintahan jahiliyah, melainkan harus
menentukan lagi pemimpin baru untuk melanjutkan perang.

Dengan ayat di atas tadi "seandainya" sewaktu di medan


perang, Imam memerintahkan menyerahkan diri ke pihak
musuh, maka perintah itu melanggar Al-Qur'an. Dan berarti
"gugur tugasnya" sebagai Imam. Dan dosa menta'atinya.

Kita berjuang bukan karena pemimpin, melainkan karena


perintah Allah. Apabila pemimpin itu mengajak kepada
kesesatan, tidak perlu diikuti, sebab kelak di "Jahannam" dia
akan berlepas diri (Q.S.2:166, Q.S.14:21, Q.S.40:48).

Dari itu, tidak ada jaminan di Hadirat Allah, bila kita


berhenti dari berjihad, karena mengikuti pemimpin atau para
komandan yang pada kabur menyerahkan diri ke pihak
"Jahiliyah".
(b). Sabda Nabi SAW yang bunyinya:

"Barangsiapa memerintahkan kamu dengan perbuatan


durhaka, maka janganlah kamu menta'atinya ".
425

Yang pertama wajib dita'ati ialah perintah Allah dan Rasul-


Nya. Perintah dan larangan dari Allah ada dalam Al-Qur'an,
wajib jadi pegangan. Begitupun Sunnah Nabi Saw wajib diikuti,
Seperti halnya mempertahankan wujudnya kedaulatan negara
Islam berdasarkan Qur'an dan Hadist Shohih, serta berpegang
pada undang-undangnya sebagaimana yang dicontohkan Nabi
terhadap Undang-Undang Madinah.

Adapun menta'ati perintah Ulil Amri, pemimpin atau Imam


Negara Islam Indonesia, selama perintahnya itu tidak
melanggar Qur'an dan Sunnah serta undang-undang dari Negara
tersebut. Dengan itu seandainya Imam memerintahkan untuk
menyerahkan diri kepada musuh, maka tidak boleh
mengikutinya. Jika mengikutinya sama dalam kedurhakaan diri
terhadap perintah Allah SWT. Dalam amanat Imam pun
disebutkan, apabila Imam memerintahkan menyerah maka
tembaklah sebab ia Iblis.

Tentara Islam Indonesia wajib mentaati perintah Panglima


Tertinggi, bukan karena pribadi S.M.Kartossuwiryo-nya,
melainkan karena jabatannya. Karena itu bila memerintahkan
menyerahkan diri kepada musuh , berarti sudah melanggar
baiatnya dan berarti pula lenyap jabatannya.

Dengan tiga point diatas itu, maka terlepas dari adanya


perintah Imam atau tidak adanya perintah darinya, bahwa
menyerahkan diri kepada musuh itu adalah suatu pelanggaran
terhadap baiat.

5). Pada tanggal 4 Juni 1962, Imam itu dalam keadaan sakit,
tidak berdaya sehingga tertangkap kemudian diboyong oleh
musuh. Maka, sejak itu Imam berhalangan dari menunaikan
tugasnya. Juga sejak sa'at itu pula tugas sebagai KPSI
(Komando Perang Seluruh Indonesia) langsung beralih kepada
yang tercantum dalam Maklumat Komandemen Tertinggi atau
dengan washiat Imam tahun 1959.
426

Dengan demikian semenjak tertangkap 4 Juni 1962 itu, SM


Kartosuwiryo tidak berhak mengeluarkan perintah apapun atas
nama Negara. Sebab, dengan undang-undang /MKT No.11 itu
tugas memerintahnya bukan lagi pada dirinya.

Dengan undang-undang itu, maka apapun yang dilakukan


oleh SM Kartosuwiryo sejak berhalangan sampai dihadapkan ke
pengadilan RI, semuanya itu tidak mewakili Pemerintah Negara
Islam Indonesia.
---------------------------------------------------------
52. Tanya:
“Bagaimana kaitannya antara MKT No. 11 tentang
Estapeta Panglima tertinggi dengan amanat Imam di hadapan
para panglima tahun 1959 dalam point 5 ?”

Jawab:
Sebelum lanjut menjawab pertanyaan di atas itu, kita
kemukakan dulu bunyi amanat Imam Tahun 1959 dalam point
5. Yaitu, "Jika Imam berhalangan, dan kalian terputus
hubungan dengan panglima, dan yang tertinggal hanya
prajurit petit saja, maka prajurit petiti harus sanggup tampil
jadi Imam".

Kalimat "harus sanggup tampil jadi Imam", mengacu kepada


kegigihan berjuang dan kesanggupan bertanggung jawab.
Artinya, sanggup memimpin perjuangan tanpa menunggu
panglima yang belum ditemukan. Kalimat di atas bukanlah
sebagai pijakan dasar bagi estapeta kepemimpinan dalam arti
jabatan formal kenegaraan secara permanen.

Bisa dibayangkan bila dalam satu pertempuran ada seratus


orang prajurit terputus hubungan dengan panglima, kemudian
dengan alasan washiat Imam tadi, sebulan kemudian mereka
keluar menemui teman-temannya dan masing-masing
mendakwakan diri sebagai "Imam". Akan bagaimanakah jadinya
negara ini ?
427

Bila ini dijadikan pijakan tanpa disertakan undang-undang


lagi, maka tiap orang yang berhati bengkok serta pintar
memanfaatkan kesempatan punya alasan untuk tampil jadi
Imam. Kalau ditanya apa dasar keimaman anda ? Lalu dengan
enteng menjawab "dulu saya pernah terpisah dari panglima".
Bisakah kita menerima kenyataan ini ? Ingat ! Imam (awal)
bicara begitu, di hadapan yang sudah dianggap mengerti aturan,
bukan di depan manusia awam yang buta aturan negara.

Jika kita kembalikan kepada Al-Qur'an surat Al-Anfaal ayat


16, bahwa yang terpisah dari kesatuan pasukan punya kewajiban
untuk bergabung. Artinya, menginduk kepada barisan terpimpin
yang masih tersisa, bukan sekonyong-konyong tampil ingin
memimpin.

Jadi, "kesanggupan tampil jadi Imam" itu berlaku sebelum


bergabung / berjumpa dengan "Shaf" yang berdasarkan aturan.
Namun, begitu Shaf / barisan terpimpin ditemukan, ia harus
bergabung padanya. Jika demikan baru akan terpelihara
kesatuan komando di atas aturan negara yang memberikan hak
legalitas kepemimpinan.

-------------------------------------------------------
53. Tanya:
“Adakah contohnya dari Nabi SAW tentang pengangkatan
pemimpin berdasarkan aturan (maklumat) ?”

Jawab:
Jelas ada ! Tentu versinya sedikit berbeda, karena kondisi
perangnya juga berbeda. Akan tetapi, nilainya sama dan
tujuannya juga sama, yakni guna kelancaran dalam menghadapi
darurat perang.

Contohnya, sewaktu menghadapi Perang Mu'tah yang


pertama, Rasulullah Saw mengumumkan pengangkatan Zaid
bin Haritsah sebagai Panglima Perang. Kemudian
428

memaklumkan juga sederetan nama calon pengganti Panglima


Perang sebagai estapeta pimpinan, sehingga apabila pimpinan
itu syahid tidak perlu musyawarah selama calon yang tercantum
dalam maklumat itu masih ada.

Dalam maklumat itu disebutkan oleh Nabi Saw, bahwa jika


Zaid bin Haritsah tewas, maka tampilah Ja'far bin Abi Thalib
memegang komando. Jika Ja'far bin Abi Thalib tewas, maka
tampillah Abdulah bin Rawahah memegang komando dan jika
Abdulah bin Rawahah tewas maka pimpinan diserahkan kepada
ummat (musyawarah).

Kenyataannya hal itu terjadi selagi Abdullah bin Rawahah


yakni orang yang tercantum dalam peraturan itu masih ada,
maka tidak diadakan musyawarah. Sunnah Rasul seperti dalam
maklumat itu benar terjadi dan menjadi kenyataan. Maka, sudah
sepatutnya kita mencontohnya sebagaimana yang dilakukan oleh
ummat zaman Nabi Saw. Hal itu terlepas dari apakah untuk
pimpinan pusat atau bukan, sebab pada jaman Nabi itu yang
menjadi pimpinan pusat ialah Nabi SAW sendiri. Dengan
demikian Sunnah (yang dicontohkan oleh Rasul SAW) itu
berlaku bagi pimpinan pusat (tertinggi), atau bagi semua jenjang
kepemimpinan pada saat sekarang.

Maklumat Komandemen Tertinggi No.11, tahun1959 yang


dikeluarkan oleh Dewan Imamah NII strateginya yaitu guna
kehati-hatian dalam menampilkan calon Imam dalam darurat
perang. Juga, faedahnya ialah guna persatuan dan mencegah
perselisihan. Dari itu jika ada yang mengadakan kepemimpinan
di luar aturan, maka merekalah yang membuat perselisihan.

--------------------------------------------------
54. Tanya:
“Bagaimana tanggapan kita terhadap perkataan bahwa
kondisi medan perang antara Tahun 1961 - 1962, pihak T I I
itu dalam keadaan terjepit, seandainya orang yang sekarang
429

hidup dalam generasi mereka serta menjadi T I I, tentu akan


menyerah seperti mereka, ikut meninggalkan Imam ?”

Jawab:
1). Dalam baiat T I I pada point 3 disebutkan “sanggup
berkorban dengan jiwa, raga dan nyawa. Kemudian dalam
point 5 Yaitu sanggup membela pemimpin Negara Islam
Indonesia. Dengan baiat sedemikian mestinya yang
dipermasalahkan bukan dari hal kondisi terjepit atau tidak
terjepit, melainkan mengapa tidak membuktikan baiat dengan
bersedia mengorbankan nyawa. Sebab, bagimanapun
terjepitnya, tetapi jika nyawa yang menjadi taruhannya, maka
tidak ada istilah menyerah. Perang Akhzaab pun terjepit, begitu
juga ummat Nabi Musa as sampai di Laut Merah, mereka
terjepit, tetapi karena nyawa yang dipertaruhkan maka tidak
menyerah.

2). Yang akan diselamatkan itu adalah orang-orang


beriman. Perhatikan Firman Allah yang bunyi Nya:

“Kemudian kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-


orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas
Kami meyelamatkan orang-orang beriman’’.(Q.S.10:103).

Yang dimaksud “beriman” pasti yang tidak ragu-ragu


(Q.S.49:15). Yakni, tidak ragu bahwa jaminan keselamatan di
Akhirat itu melebihi dari segalanya, sehingga tekadnya dibunuh
atau menang(Q.S.4:74), atau juga siap membunuh dan dibunuh
(Q.S.9:111).

Berkaitan dengan itu pehatikan lagi ayat di bawah ini:

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang yang menepati


apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara
430

mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merobah
(janjinya), ”.S.33:23).
Dengan keterangan di atas itu jelas bahwa tidak semua
orang akan menyerah kepada musuh (thagut), sebagaimana ada
ayatnya berarti ada orangnya, yang tidak mengubah pendirian,
meski “yuqtaal (dibunuh)” risikonya.

Masih dalam point ini perhatikan pula ayat yang di bawah ini
yang bunyinya:

“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas


orang-orang yang beriman dan menyerahkan diri kepada Rabb-
nya,”(Q.S.16:99).

Pada ayat di atas itu disebutkan bahwa godaan syetan itu


tidak mampu terhadap orang beriman dan menyerahkan diri
kepada Allah SWT. Pengertian menyerahkan diri kepada Allah,
artinya segala apa yang dilakukannya hanya untuk mengabdi
kepada Allah, dalam setiap saat sampai akhir hidupnya. Jika
dikaitkan dengan prilaku T I I, maka hal itu bukan cuma ketika
berbaiatnya, atau pada permulaan bertempur yang penuh
kegemilangan, melainkan juga terus bertahan di medan perang
sewaktu menghadapi tekanan sampai ada ketentuan mati atau
menang, sehingga hidup atau matinya itu diserahkan untuk
Allah. Sehingga tidak pula menyerahkan diri kepada musuh,
yakni tidak tergoda oleh syetan, dalam arti tidak terjadi padanya
“Syu’ul Khatimah”.

Ada ayat yang menjelaskan bahwa tidak semua mu’min


bakal mulus, melainkan ada yang tergoda di tengah perjalanan.
Akan tetapi, banyak juga ayat yang menjelaskan mengenai
pribadi-pribadi mu’min yang tujuan hidupnya untuk Allah,
sehingga mengharapkan “mati (yahid)” di medan jihad,
sehingga tidak tunduk kepada musuh. Ada ayatnya, pasti ada
orangnya.
431

3). Pribadi mu’min tidak boleh membuat vonis atau


memutuskan yang belum terbukti. Artinya, jangan membuat
prasangka (Q.S.49:12), apalagi bila hal itu ditujukan untuk
mencari-cari pembelaan diri.

4). Yang menjadi pegangan bagi pribadi mu’min bukanlah


prasangka, tetapi Firman Allah Swt. Banyak ayat yang
menggambarkan mental mu’min, sekali melangkah ke medan
Jihad berarti sudah menjual jiwa kepada Allah, ada ayatnya
berarti banyak kenyataannya. Jangan melihat yang menyerah
kepada musuh saja, tidak siap mati. Tetapi perhatikan juga yang
sesuai dengan ayat-ayat Allah. Contohnya, tentara Islam yang
dipimpin Thariq bin Jiyad. Begitu sampai di daratan, langsung
semua kapalnya dibakar. Sehingga yang jumlahnya cuma
12.000 orang, siap melawan tentara Roderick yang berjumlah
200.000 orang. Musuh yang begitu besarnya bisa dikalahkan.
Hal demikian tidak akan terjadi jika tentara Islam tidak “siap
mati”.

5). Pada Tahun 1961 - 1962, sebagian dari T I I juga sungguh


siap mati sehingga tidak menyerah kepada musuh. Sebagian
“Syahid”, sebagian lagi kehilangan jejak, putus hubungan
ditinggal oleh kawannya atau komandannya. Dan sebagiannya
lagi karena ditipu dengan istilah ‘Perjanjian Hudaibiyah’. Yang
jelas, yaitu sesuai dengan ayat, jika sebagian menyerah maka
sebagiannya lagi tidak menyerah. Dengan demikian sungguh
ngawur bagi yang mengatakan seandainya orang sekarang (kita)
hidup pada masa generasi mereka, menjadi T I I akan menyerah
kepada musuh ! Sebab, masih ada jalan untuk mengatakan,
“tidak termasuk kepada yang menyerah, melainkan
termasuknya kepada yang mati Syahid, atau tertipu oleh
komandan, sehingga putus hubungan, sehingga pula darinya
“tidak memiliki nilai menyerah kepada musuh”.

6). Jika meneliti ayat-ayat Al-Qur’an mengenai yang berjihad


fisabiilillah masih banyak yang tidak menyerah daripada yang
432

menyerah kepada musuh, artinya bahwa yang kabur dari medan


juang itu golongan yang paling sedikit dan disebutnya kaum
munafik. Mereka dicap dalam sebagai “firor”, yakni yang
melarikan diri, meninggalkan Nabi di medan tempur, karena
sudah terbukti. Maka, sungguh lancang bagi yang mencap
generasi (kita) sekarang bakal menyerah kepada musuh,
sedangkan hal itu belum terbukti !

Tanggapan kita terhadap mereka yang selalu mengira- ngira


dengan kalau-kalau seperti di atas tadi itu adalah akibat dari
kedengkian, karena kehabisan hujjah, atau mencari-cari alasan
sebagaimana yang diungkapkan oleh petikan ayat di atas tadi.

-----------------------------------------------------------

55. Tanya:
“Kalau begitu siapakah yang memegang estapeta
kepemimpinan NII dalam darurat perang setelah Imam awal
tertangkap tanggal 4 Juni 1962 ?”

Jawab:
Guna menjawab pertanyaan di atas itu kita lihat terlebih
dulu bunyi undang-undang di bawah ini:

"K.P.S.I.dipimpin langsung oleh Imam __ Plm.T. APN.II.jika


karena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya,
maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang,
selaku penggantinya, dengan purbawisesa penuh."

"Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan


diatara Anggauta- Anggauta K.T., termasuk didalamnya k.S.U.
dan K.U.K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang,
yang kedudukannya dianggap setaraf dengan kedudukan
Anggauta-Anggauta K.T."
433

Calon pengganti Panglima Perang Pusat yang tercantum


dalam MKT No.11 di atas itu, setelah Imam (awal) berhalangan,
tinggal satu lagi yaitu K.U.K.T (Kuasa Usaha Komandemen
Tertinggi), karena yang lainnya sebagian sudah gugur dan
sebagian lagi telah meninggalkan tugasnya atau desersi dari NII.

Disebabkan calon pengganti Imam yang tercantum dalam


undang-undang itu tinggal satu lagi yakni K.U.K.T., maka
KUKT itulah yang langsung menjadi Imam tanpa adanya
pemilihan dari manapun. Hal itu bukan saja karena calonnya
tinggal satu lagi, melainkan juga karena undang - undang
sebelumnya, mengenai pemilihan Imam dalam Darurat Perang
sudah dituangkan kedalam MKT No.11.tahun 1959. Dengan
demikian sekalipun dalam keadaan darurat sehingga Dewan
Imamah tidak berfungsi karena anggautanya banyak yang gugur,
maka penggantian Imam tetap berlangsung. K.U.K.T. yang satu
itu ialah Abdul Fatah Wirananggapati.

Adapun Imam NII pengganti Abdul Fattah Wirananggapati,


yakni sejak Tanggal 8 Ramadhan 1417 H (18 Januari 1997).
yaitu Ali Mahfuzh. Hal itu berdasarkan MKT. No.5 Tahun
1997 (diuraikan pada jawaban mendatang).

---------------------------------------------------
56. Tanya:
“KUKT, Abdul Fatah Wirananggapati dipenjarakan oleh
musuh dalam tahun 1953, kemudian dibebaskan pada tahun
1963. Maka, bagaimanakah hubungannya dengan MKT No. 11
yang dikeluarkan pada tahun 1959 ?”

Jawab:
Harus diperhatikan bahwa yang ditunjuk oleh peraturan itu
bukanlah ditujukan kepada pribadinya, melainkan terhadap
"jabatannya", yaitu Anggauta-Anggauta K T, termasuk
didalamnya KSU, dan K.U.K.T.. Dengan itu bilamana salah
seorang dari yang jabatannya setaraf dengan AKT(Anggaota
Komandemen Tertinggi) itu pernah ditawan musuh dari tahun
434

1953 - 1963, maka undang-undang itu tetap berlaku kepada


jabatannya.

Ya, bisa saja bila selama K.U.K.T. itu dalam tawanan


musuh, maka fungsinya diambil alih oleh yang lain yang
jabatannya setaraf dengannya atau oleh atasannya yaitu (Imam).
Dan kalaupun ada, perlu pembuktian sejarah - tetapi dengan hal
itu tidak berarti jabatannya hilang. Jabatan K.U.K.T. adalah
jabatan negara, diangkat oleh negara. Karena itu, hanya
dengan keputusan dari negara itulah bisa dipecatnya. Yang
hilang itu hanyalah fungsinya, karena sedang berhalangan.

Secara logika bisa dibuatkan satu misal, yaitu bilamana


seorang sekretaris telah berhalangan tidak dapat melakukan
pekerjaan karena dirinya kena musibah, artinya tidak disengaja.
Lalu tugas-tugasnya itu diambil oleh orang lain atau oleh
direkturnya. Kemudian suatu sa'at perusahaan itu mengeluarkan
peraturan / maklumat mengenai calon-calon pengganti
direkturnya. Sedangkan ketentuan sebagai calon pengganti
direktur menurut aturan itu di antaranya temasuk dari "jabatan
sekretaris". Tentu, dalam hal jabatan sekertaris itu tidak mesti
ditujukan kepada siapa orangnya, tetapi yang pokok adalah yang
memiliki jabatan sebagai sekertaris. Adapun dirinya masih
dalam musibah, itu adalah pribadinya dan bukan jabatannya.

Seandainya sewaktu sekretaris dalam musibah itu, konon ada


lagi seseorang atau beberapa orang yang diangkat menjadi
sekretaris, maka tinggal berunding saja mana yang memadai jadi
direktur. Akan tetapi, jika kenyataannya sesudah sekretaris yang
kena musibah tadi itu bebas kembali ke perusahaannya,
sedangkan di perusahaan itu tidak ada yang muncul selain
dirinya, maka terlepas dari ada atau tidak ada lagi pengangkatan
selain dirinya, tentu sekretaris yang telah bebas itu berhak
menjadi direktur. Sebab, ketentuan mengenai pengganti direktur
yang disebutkan dalam Maklumat itu adalah kepada jabatannya
(sekretaris), dan bukan kepada pribadinya.
435

Kembali kepada MKT No.11 yaitu mengenai calon-calon


pengganti Imam. Dalam maklumat itu tidak ditentukan tentang
waktunya penggantian, melainkan "jika ia berhalangan
menunaikan tugasnya". Disebabkan waktunya tidak ditentukan,
maka sekalipun MKT No.11 dikeluarkan pada waktu
K.U.K.T.sedang ditawan oleh musuh, namun pelaksannannya
bisa pula terjadi sesudah K.U.K.T. dibebaskan oleh musuh. Ya,
tidak selamanya yang ditawan; akan selamanya ditawan,
mungkin akan lama dan mungkin akan segera bebas dengan izin
Allah. Jadi, logis jika MKT No.11 mengenai penggantian Imam
dengan mencantumkan calon-calonnya yang diambil dari yang
jabatannya setaraf dengan A.K.T., termasuk didalamnya
K.S.U.dan KUKT, walau maklumat itu dikeluarkannya sewaktu
K.U.K.T.masih ditawan musuh. Sebab, undang-undang itu
bukan kepada pribadi orangnya, melainkan terhadap jabatan
K.U.K.T.-nya. Dan yang menjadi K.U.K.T. itu pada waktu itu
ialah Abdul Fatah Wirananggapati.
----------------------------------------------------------

57. Tanya:
“Apakah tidak mungkin bila sewaktu KUKT itu ditawan
lalu ada lagi yang diangkat menjadi KUKT, sehingga KUKT
itu tidak satu ?”

Jawab:
Dalam Islam itu, kita diwajibkan menentukan hukum
dengan kenyataan atau dengan yang sudah bukti. Dengan itu
kita pun bertanya, mana buktinya ada pengangkatan K.U.K.T.,
sewaktu K.U.K.T. ditawan dari tahun 1953 - 1963 selain
daripada dirinya ? Kalau ada, maka mesti dibuktikan dengan
fakta sejarah mengenai apa yang pernah dilakukan olehnya
dalam tugas KUKT. Jika tidak berani muncul apalagi ummat
telah mencarinya, maka berarti tidak bertanggung jawab
terhadap Allah Swt., juga ummat dan Negara. Dan berati juga
telah menggugurkan jabatannya atau desersi.
436

Sekiranya masih saja ada yang berkata : “Ya, pengangkatan


itu ada, cuma sekarang orangnya entah dimana adanya..., entah
sudah mati atau belum, nanti dicari dulu, mungkin
merahasiakan dirinya”. Maka, harus kita jawab lagi dengan
pertanyaan, “ Mengapa mesti mencari dulu yang belum pasti,
bukankah dia yang mesti merasa bertanggung jawab hingga
memberi penjelasan terhadap ummat, apalagi ummat telah
mencarinya” ? “Mengapa mencari Imam yang sudah tidak
mau tampil di kala ummat ingin mendapat konfirmasi
kebenarannya ?”

Kalau ada Imam (pemimpin) yang maunya bersembunyi


alias tidak mau bangkit memimpin, maka tidak ubahnya dengan
ular yang menunggui harta karun, yakni oleh orang lain tidak
boleh dimanfaatkan, sedang bagi dirinya pun tidak bermanfaat !

Begitu pun bagi yang terus menunggu Imam belum jelas


adanya, berarti tidak menjalankan Qur'an surat An-Nisa ayat
59, yang mewajibkan Ummat taat pada pemimpin. Sebab,
selama menunggu-nunggu itu, selama itu pula tidak punya
pemimpin. selama itu juga potensi jihadnya tak tersalurkan
dengan benar.

Dalam Islam menentukan pemimpin tidak boleh dengan jalan


dikira-kira, tidak jelas legalitasnya, tidak dibuktikan wujud
orangnya. Memang, dalam keadaan darurat ini, tidak setiap diri
kita gampang bertemu dan mengetahui tempat tinggalnya
pemimpin karena masalah sekuriti. Tetapi, setidaknya mesti
diketahui mengenai dasar-dasar keberadaan sebagai pemimpin,
sehingga ummat bisa menentukan mana pemimpin yang sah dan
mana yang tidak sah.

Pada zaman Rasulullah s.a.w. pun tidak semua ummat


dengan mudah bisa bertemu dengan Nabi s.a.w.(pemimpin),
karena tempat tinggalnya jauh dari jangkauan mereka, tetapi
data-data kerasulannya itu sungguh jelas. Contohnya sebagai
berikut :
437

1). Nama : Muhammad bin Abdullah.


2). Jabatan : Nabi yang terakhir.
3). Pungsi/Tugas : Utusan Allah.
4). Diangkat : Oleh Allah SWT.
5). Keterangan legitimasi : Dicantumkan dalam Al-Qur'an.

Kesimpulannya, jika tidak ada bukti, berarti tidak ada


pengangkatan lagi. Dan seandainya ada bukti, tetapi yang
diangkat itu kini orangnya tidak muncul atau karena sudah
mati, maka langsung saja kita komitmen kepada yang sudah
jelas ada. Kita wajib berpegang pada Kaidah : "Fahkum
biddhowaahir". Yakni, berhukum dengan yang nyata. Karena,
setiap yang "tidak nyata" tidak bisa dipertanggungjawabkan di
Hadirat Allah Swt.

---------------------------------------------------------
58. Tanya:
“Apakah setelah KUKT Abdul Fatah Wirananggapati
bebas dari penjara musuh pada tahun 1963, pada waktu itu
juga menyatakan dirinya sebagai pemegang estapeta
kepemimpinan NII ?”

Jawab:
Abdul Fatah Wirananggapati diangkat sebagai K.U.K.T pada
Tahun 1953 dan pada tahun itu juga tertangkap di Jakarta
setelah kembali dari Aceh melantik Daud Bereuh selaku
Panglima Wilayah V TII Cik Di Tiro. Mendekam selama
sepuluh tahun di Nusakambangan, membuat dirinya tidak
banyak dikenal oleh warga NII apalagi dalam hal jabatan
KUKT-nya.

Lebih-lebih pada masa itu banyak yang tidak memahami


perundang-undangan NII sehingga umumnya tidak tahu siapa
sebenarnya pelanjut dari Imam sesudah S.M.Kartosuwiryo.
Kondisi secara umum pada waktu itu jangankan orang
438

memikirkan perundang-undangan NII, bahkan terhadap NII-nya


saja sudah dianggap hancur lebur.

Sesudah Imam S.M.K. tertangkap, 4 Juni 1962 kemudian


disusul oleh adanya "Ikrar Bersama" yang dilakukan oleh
sebagian besar mantan pimpinan / komandan T.I.I. dalam hal
sumpah setia terhadap UUD 45 dan Pancasila serta menyesali
diri, dan mencaci maki perjuangan NII, maka sungguh sulit
pada tahun-tahun itu untuk memastikan siapa yang bisa diajak
bicara tentang kelanjutan perjuangan NII. Sebab, terbetik
pandangan bahwa para pemimpinnya saja sebagian besar sudah
kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi serta mencaci-maki NII
dengan pernyataan tertulis, maka apalagi prajurit bawahannya
serta masyarakat umum.

Dalam kondisi sedemikian itu membutuhkan proses waktu


untuk menjelaskan estapeta kepemimpinan NII, karena tidak
mungkin menjelaskan estapeta kepemimpinan NII jika orang
yang akan dipimpinnya juga belum ditemukan. Juga, tidak tepat
bila menjelaskan estapeta kepemimpinan NII kepada mereka
yang sudah menyesali diri mengenai keterlibatan dalam
perjuangan NII, serta mengakui kesesatannya, sehingga
menjatuhkan martabat NII.

Tentu, pada waktu itu masih ada pribadi-pribadi yang masih


berkeinginan melanjutkan perjuangan NII, tetapi karena mereka
sudah terpencar serta bercampur dengan sebagian yang sudah
kompromi dengan penguasa RI, maka sukar bagi Abdul Fatah
Wirananggapati mencari mereka yang masih setia terhadap
perjuangan NII. Kondisi pada waktu itu hanyalah kecurigaan
atau saling ketidakpercayaan antara mereka.

Contohnya, sesudah Imam S.M. Kartosuwiryo tertangkap,


waktu itu di Jawa Tengah masih ada pasukan sekitar 100 orang
yang dipimpin oleh Ismail Pranoto yang tetap mengangkat
senjata, terus mengadakan perlawanan sesuai dengan amanat
Imam Tahun 1959. Tetapi, begitu ketahuan oleh bekas kawan-
439

kawannya kemudian dibujuk oleh tipuan bahwa di kota telah


ada “Cease Fire” (gencatan senjata). Disebabkan mereka tidak
mengikuti bujukan demikian maka akhirnya diultimatum oleh
para pembujuk itu, bila tidak menyerah akan digempur. Dan
nyata bahwa pasukan yang dipimpin Imail Pranoto itu dikejar-
kejar. Bukan saja oleh TNI, melainkan juga dibantu oleh bekas-
bekas TII.

Setelah pengejaran terhadap pasukan Ismail Pranoto, maka


sisa dari pasukan itu terus bergerilya dan pimpinannya diambil
alih oleh Kastolani, karena Ismail Pranoto pindah ke Yogya
mencari dukungan di daerah tersebut. Selanjutnya pada Awal
Tahun 1965, Ismail Pranoto mengutus Hanif dan Safri (Salman
Farisi) kepada Kastolani dengan pesan bahwa Ismail Pranoto
akan berangkat ke Sumatra untuk mengusahakan tempat di sana
sebagai basis baru untuk bergerilya.

Pada Tahun 1967 pasukan yang dipimpin Kastolani tinggal


12 orang lagi yang terdiri dari delapan orang militer dan empat
orang sipil. Mereka sudah bertekad dengan pribahasa sekalipun
menjadi “monyet” (hidup di hutan), tetap tidak akan menyerah.
Hanya, mereka tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya.
Di saat-saat sedemikian itu datanglah dua utusan dari Kadar
Solihat yaitu Khaeruddin salah seorang bekas komandan Kompi
TII Kebumen, yang satunya ialah Abdullah.

Khaerudin memberitahukan masih adanya kekuatan Kahar


Muzakar di Sulawesi serta Daud Beureh di Aceh, juga di Jawa
Barat Siliwangi separuhnya sudah NII. Dengan kalimat-
kalimat itu Kastolani dan Zaenal Asikin merasa pasukannya
akan diperintahkan untuk pindah tempat bergerilya ke luar Jawa.
Utusan Kadar Solihat itu menjanjikan ada tiga pilihan tempat
bergerilya: 1). Apakah mau di Sulawesi. 2). Apakah mau di
Aceh. 3). Atau mau di Jawa Barat.

Tertipu oleh informasi demikian maka Kastolani menuruti


Khaeruddin, kemudian mengirimkan empat orang personilnya
440

yang sipil dengan diantar oleh Khaeruddin ke Jawa Barat.


Setelah satu minggu perjalanan dengan menginap di beberapa
tempat, lalu sesuai dengan yang sudah ditentukan dijemput di
stasion kereta api Bandung oleh Fajri seorang bekas komandan
Resimen TII Banyumas. Fajri dan Khaeruddin yang telah
bersekongkol dengan Kadar Sholihat, membawa mereka ke
Jalan kancra, yakni ke rumah Kadar Sholihat.

Keempat orang itu mengikutinya dengan maksud dalam


rangka bergerilya mencari kawan-kawan seperjuangan yang
dalam dugaan sedang menyusun kekuatan di kota. Tetapi,
karena tidak tahu mana yang masih setia terhadap NII dan mana
yang sudah menyerah kepada musuh, maka secara tidak
disadari ketika masuk kerumah Kadar Sholihat (mantan
komandan resimen TII ); ketika itu juga masuk dalam perangkap
musuh.

Kemudian setelah seminggu lamanya berada di rumah


tersebut, mereka dibawa oleh Kadar Sholihat, dan dikatakan
kepada mereka akan dibawa ke Tasikmalaya. Mereka tidak
curiga akan ditangkap, walau dibawa ke Brigif 13, karena
informasi sebelumnya bahwa Siliwangi separuhnya sudah NII,
juga yang membawanya yaitu Kadar Sholihat. Baru
menyadarinya bahwa mereka ditangkap oleh musuh, yaitu
sewaktu mereka melakukan sholat dikawal oleh anggota T N I
dengan senjata otomatis.

Sementara itu pasukan Kastolani yang di Jawa Tengah belum


tahu adanya kejadian yang menimpa kepada empat orang anak
buahnya yang di utus ke Jawa Barat. Tujuh belas hari sesudah
kedatangan Abdullah dan Khairuddin atau setelah empat orang
sipil tadi ditangkap musuh, datang lagi Khaeruddin mengantar
Kadar Sholihat bersama Sam’un bekas komandan kompi TII di
Jawa Barat, disertai tiga orang T N I yang menyamar dengan
berpakaian preman yang sebelumnya tidak diketahui oleh
Kastolani bahwa pada masing-masing pinggangnya terselip
pistol.
441

Sewaktu berlangsung pembicaraan, Kastolani bertanya


kepada Kadar Sholihat, Apakah hal ini tidak menggunakan
sarana musuh (maksudnya tidak diketahui musuh ). Dalam hal
ini Kadar Sholihat meyakinkan bahwa mereka akan dimutasikan
dalam rangka melanjutkan perjuangan.

Kastolani percaya akan hal itu karena mengingat pesan dari


Ismail Pranoto yang berusaha menyediakan tempat di Sumatra,
dan inilah dianggap sebagai hasilnya. Selain itu juga Kastolani
percaya bahwa Siliwangi sudah banyak yang NII, sehingga
tidak curiga ketika diperintahkan naik ke pik up oleh Kadar
Sholihat. Dengan itu delapan TII termasuk Kastolani, bersama
kelima orang penjemput itu meninggalkan Brebes. Kastolani
baru sadar bahwa dirinya sudah tertipu, tatkala mobil yang
mereka tumpanginya itu memasuki markas Brigif 13 Galuh,
Tasikmalaya Jawa Barat. Sungguh jelas pada tahun-tahun itu
sangat susah untuk saling percaya, sebab kawan dan lawan
amat samar.

Pernah seseorang bertanya langsung kepada Abdul Fatah


Wirananggapati mengenai keadaan pertama-tama setelah keluar
dari penjara Nusakambangan, "Mengapa bapak tidak segera
menyusun ?" beliau menjawab : "Siapa yang bisa saya
percayai pada waktu itu ?"

Sekarang semakin dimengerti jawaban beliau, setelah kita


membaca buku "Tantangan dan Jawaban" ungkapan oleh
seorang Pelda purnawirawan Ukon Sukandi, dia pernah
bertugas sebagai intellijen TNI yang berhasil menyusup ke
tubuh TII bahkan sempat diangkat sebagai Wakil Panglima KW
Jakarta. Pada buku itu dia menyiratkan bahwa, Warga dan
aparat TII di kota Bandung dan Jakarta tahun 1955 saja bisa
dikatakan sudah fifty fifty. Setengahnya TII tulen sedang hampir
setengahnya lagi adalah susupan lawan. Wajar bagi Abdul
Fatah Wirananggapati yang memahami bahwa N I I yang pernah
442

terjebak jaring lawan, maka beliau berhati hati sekali untuk


memainkan peran dan fungsinya.

Dalam kondisi sedemikian, langkah pertama yang bisa


ditempuh oleh Abdul Fattah Wirananggapati, yaitu mengadakan
pendekatan kepada masyarakat secara bertahap sehingga
ditemukan kader-kader baru atau warga NII. Juga, berusaha
menemukan personil TII yang masih utuh terlepas dari nilai
kompromi dengan musuh.

Adapun langkah kedua, yaitu menjelaskan kelanjutan


perjuangan serta estapeta pimpinan NII kepada yang ingin
mengetahuinya. Sebab, masalah estapeta kepemimpinan NII
pada awal kebangkitannya , cuma bisa dijelaskan kepada yang
sudah benar-benar diketahui berkeinginan memahaminya.
Dengan itu sangat terbatas. Hal demikian karena adanya
beberapa faktor di antaranya ialah:

1). Kebanyakan ummat tidak memiliki wawasan mengenai


perundang-undangan NII. Atau tidak menganggap penting,
sehingga mereka mengakui pemimpin itu cuma berdasarkan
idolanya masing masing atau ikut-ikutan.

. 2). Kebanyakannya tidak memahami nilai hukum mengenai


yang sudah mundur dari NII, sehingga masih dianggap sebagai
pimpinan.

3). Adanya sebagian eks pimpinan TII yang tidak sadar dalam
monitoring serta arahan dari pemerintah RI, sehingga
terpancing memunculkan kepemimpinan, dengan tidak
berdasar pada peraturan NII.

4). Banyak eks tokoh TII yang tidak mengakui kesalahan


dalam hal "desersi" dari NII, sehingga yang sebenarnya
menyerahkan diri kepada musuh, malah disebutnya sebagai
"Hudaibiyah".
443

5). Banyaknya eks pimpinan TII yang tidak mau taubat


menurut prosedur hukum (tidak mau mengeterapkan Q.S.4:64),
sehingga menyepelekan Abdul Fatah Wirananggapati bahkan
menjegal langkahnya. Hal itu berjalan sampai beliau ditangkap
kembali oleh Pemerintah RI pada tahun 1975, kemudian
dipenjarakan di Bandung.

Selama Abdul Fatah Wirananggapati mendekam dalam


penjara dari tahun 1975 sampai tahun 1983, selama itu pula
terjadi perpecahan yang besar dalam tubuh ummat yang
mengatas-namakan NII. Hal itu terjadi karena hilangnya rujukan
mengenai kepemimpinan, sehingga ummat terbagi kedalam
banyak kelompok yang tiap kelompok punya langkahnya
masing-masing, sehingga terjadi benturan-benturan paham
mengenai siapa pemimpin yang sebenarnya harus dita’ati.

Akibat saling mengklaim pemimpin, padahal masing-masing


tidak memiliki dasar undang-undang, akhirnya terjadi tuduh
menuduh serta bughat membughatkan. Klimaknya terjadilah
pembunuhan terhadap yang dianggap bughat atau indisipliner,
seperti halnya terhadap Jaja Sujadi, Rusli, Bahrowi, Ajid dan
banyak lagi yang lainnya.

Di saat-saat ummat bingung menentukan kepemimpinan


yang sebenarnya sehingga ada yang menganggap "tidak perlu
punya pemimpin - yang penting berjuang", maka tahun 1983
sesudah Abdul Fattah Wirananggapati. bebas dari penjara,
beliau memberikan penjelasan-penjelasan yang intinya, yaitu
"Bahwa estapeta kepemimpinan NII yang sebenarnya mesti
berdasarkan undang-undang / MKT No.11 tahun 1959".

Akan tetapi, karena Abdul Fatah Wirananggapati itu baru


keluar dari tawanan dan dianggap masih sedikit pengikutnya,
maka bagi yang maunya berpihak kepada banyaknya pengikut,
mereka dengan cepat menolak penjelasan darinya. Lebih dari
itu dikarenakan mereka tidak bisa menolak dengan hujjah, maka
444

ada sebagiannya yang melemparkan fitnah dengan tuduhan


ambisi kepemimpinan, serta lainnya.

Sebaliknya dari yang di atas itu, bagi yang berjihad ingin


berdasarkan ilmu (Q.S.17:36) dan berkehendak dipimpin oleh
pemimpin yang keberadaannya didasari hukum / peraturan,
maka menyambut dengan gembira terhadap penjelasan
mengenai estapeta kepemimpinan yang berdasarkan undang-
undang. Hal itu didasari ayat yang bunyinya:

"Dan janganlah kamu seperti mereka yang berpecah-belah


dan berselisih, sesudah tanda bukti yang jelas datang kepada
mereka Dan bagi mereka adalah siksaan yang berat."
_(Q.S.3:105).

Guna memenuhi kebutuhan ummat dalam memahami nilai


undang- undang, maka Abdul Fatah W., pada tahun 1987
menulis "At-Tibyaan" yang artinya penjelasan. Sungguh, apa
yang diperbuat oleh Abdul Fatah Wirananggapati sebagai Imam
NII adalah sesuai dengan batas kemampuan dirinya yang tidak
terlepas dari proses kondisi dan situasi serta tidak luput dari
berbagai rintangan. Jadi, bila penjelasan itu sampai kepada
anda belum lama, atau baru sekarang saja, maka itu hanya
merupakan proses sejarah diri kita semua, karena masing-
masing diri punya sejarahnya. Jadi, bila terlambat, tidak harus
bertanya atau protes "mengapa kita terlambat ?" Sebab,
termasuk diri anda juga harus menjawabnya ! Tentu, jika hati
suci, maka akan menjawabnya,”biarlah masih mendingan
terlambat daripada terliwatkan sama sekali “ !

-----------------------------------------------------

59. Tanya:
“Apa sebabnya ketidaksukaan seseorang terhadap pemimpin
tidak menjatuhkan legitimasi pemimpin ?”
445

Jawab:
Sebab, suka atau tidak suka adalah relatif, yakni berubah-
ubah. Bisa saja sekarang tidak suka, tetapi besok suka. Dan itu
juga tergantung kepada orangnya. Lain orang;lain lagi
kesukaannya. Seandainya, legitimasinya pemimpin itu bisa
dijatuhkan oleh ketidaksukaan seseorang, maka selamanya tidak
akan ada persatuan dan terus perpecahan.

Kapan saja akan ada yang tidak suka terhadap pemimpin,


walau semula telah diakuinya. Tetapi, di balik yang tidak suka
itu, banyak juga yang suka. Dari itu legitimasi pemimpin tidak
jatuh oleh adanya ketidaksukaan seseorang.

Dalam sejarah terjadi pengangkatan Pemimpin/panglima,


pada Perang Mu'tah yang kedua, yaitu terhadap diri Usamah bin
Zaid yang diangkat oleh Nabi Saw. Pada waktu itu usia Usamah
baru 17 tahun. Sedangkan di antara yang menjadi prajuritnya
banyak dari kalangan shahabat yang senior seperti halnya Abu
Bakar dan Umar bin Khattab. Sehingga pada waktu itu ada yang
mengira bahwa Nabi Saw telah salah memilih. Pada mulanya
banyak yang menyepelekan Usamah, karena kemudaannya
sehingga dianggap kurang pengalaman, dibanding dengan para
shahabat yang senior.

Akan tetapi, karena Usamah itu memiliki legitimasi sebagai


pemimpin, yakni diangkat oleh Panglima Tertinggi yaitu Nabi
SAW, dengan itu suka atau tidak suka terhadap Usamah, maka
legitimasi kepemimpinannya tidak jatuh oleh ketidaksukaan dari
siapapun. Dan umat pun tetap menta'atinya
--------------------------------------------------------
60. Tanya:
“Apa sebabnya pemimpin tidak mesti Ideal ?”

Jawab:
1). Sebab, yang pertama dituntut itu, yakni "ada"nya, dan
bukan bagusnya dulu.
446

2). Sebab, jika menunggu dulu hadirnya pemimpin ideal, baru


diri siap untuk taat, maka sampai kapan kita harus menunggu ?
Sedangkan berlalu waktu tanpa ada pemimpin yang jelas, karena
mengikuti kehendak hati, hal itu berarti melanggar Qur'an
surat 4 ayat 59 yang mewajibkan adanya pemimpin untuk
ditaati. Berikutnya dalam Qur'an surat 2 ayat 257, tidak berada
dalam kepemimpinan yang haq, berarti di bawah kepemimpinan
Thagut. Relakah diri menjadi Ashabuth Thogut, sehingga tiap
detik identik dengan Ashabuth Thagut ? Siapkah niat anda
dicatat bahwa anda mau dipimpin itu bukan karena Allah,
melainkan karena bila tercapai ideal anda ?

3). Sebab, ideal tidak dijadikan ukuran oleh Nabi sebagai


syarat kepemimpinan. Sekalipun secara fisik, budak hitam yang
kepalanya seperti kismis, misalnya, dia wajib ditaati bila
berpijak pada azas legalitas, dan selama perintahnya tidak
menjurus pada makshiat.

Dari tiga point di atas, syaratnya pemimpin bukan ideal atau


tidak, tetapi: (1). Apakah dirinya memiliki landasan hukum
dalam menduduki posisi tersebut ? (2). Apakah program
perintahnya tidak menyimpang dari Hukum-Hukum yang sudah
digariskan Allah Swt ?

Jika ternyata dia memiliki legalitas dan memerintah pada


yang benar kemudian diri tidak mau taat dengan alasan kurang
ideal, maka berlindunglah pada Allah dari syetan, sebab jelas
pikiran tadi dihembuskan syetan untuk mencegah anda berada
pada posisi yang benar. Menolak pemimpin yang jelas di-Nash
dalam aturan, adalah sifat orang Yahudi, (lihat Al-Qur'an
S.2:247, kasus Thholut.

Ideal berasal dari kata "ide" = fikiran. Pemimpin ideal


bermakna pemimpin yang cocok dengan fikiran/ide/angan-
angan. Ideal menurut si A belum tentu sama dengan ideal
447

menurut si B, sebab tiap orang punya kriteria dan cita-cita


tentang ideal menurut pandangannya masing-masing.

Bila harapan otak belaka yang dijadikan rujukan, maka 1000


manusia tentu bisa seribu keinginan dan cita-cita, begitu pula
seribu cita-cita tentang figur pemimpin menurut kehendaknya
masing-masing. Bila keinginan yang harus diikuti, sampai
kapan pun tidak akan bisa berhenti, sebab siapa yang bisa
membatasi cita-cita dan pikirannya ??

Dari itu diadakan "undang-undang". Dengan itu


konsekwensi logisnya, harus ada kesediaan diri untuk
membatasi keinginan kita sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sekarang tinggal diri relakah membatasi keinginanan guna taat
pada undang-undang ?

-----------------------------------------------------------
61. Tanya:
“Bagaimana jika tidak memihak kepada yang manapun
karena diri menunggu mereka berishlah terlebih dulu ?”

Jawab:
Sebelum lanjut kita lihat ayat yang bunyinya:

"Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara


karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan
bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat."__
(Q.S.49:10).

Ayat di atas itu mengandung perintah supaya mengishlahkan


mereka yang berselisih. Adapun syarat pokok bagi yang
mengishlahkan yaitu:
448

1). Apabila posisi dirinya sendiri tidak termasuk yang sedang


berselisih, melainkan sudah memiliki kejelasan (bayaan).
Sebab, yang mengishlahkan ialah yang sudah punya pegangan
atau peraturan/undang-undang. Sehingga bisa menjelaskannya
pula kepada yang sedang berselisih untuk sama-sama kembali
kepada undang-undang supaya tidak berselisih, karena
timbulnya perselisihan itu akibat adanya yang melenceng dari
undang-undang. Dengan itu tidak bisa disebut mengishlahkan
jika diri sendiri belum ada kejelasan dalam kepemimpinan,
artinya masih termasuk yang mesti diishlahkan.

2). Apabila memiliki kekuatan, untuk memaksa yang sedang


berselisih itu supaya tunduk kepada undang-undang. Sebab,
tidak setiap yang sudah memahami keterangan yang jelas itu
kemudian berpegang padanya tanpa adanya pemaksaan dari
suatu kekuatan.

Dengan memperhatikan point yang kedua itu, maka selama


yang haq belum memiliki kekuatan, maka selama itu pula ada
peluang bagi mereka yang tidak menta’ati undang-undang guna
mengikuti hawa nafsunya masing-masing atau merasa gengsi
karena dari keterlanjurannya, sehingga terus berselisih,
meskipun mereka sudah memahami penjelasannya. Perhatikan
Firman Allah Yang bunyi-Nya

"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-


berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas
kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat
siksa."__ (Q.S.3:105).

Dari ayat itu dimengerti bahwa tidak setiap yang sudah


didatangkan penjelasan kemudian menerimanya. Dengan
demikian jika anda berdiam diri tidak memihak kepada salah
satu kepemimpinan karena akan terus menunggu mereka
terlebih dulu bersatu, berarti tidak sadar terhadap kewajiban
449

menyelamatkan diri anda yang semestinya didahulukan


ketimbang orang lain.

Dari ayat itu juga diketahui bahwa yang bercerai-berai dan


berselisih itu, karena tidak mau berpegang kepada "keterangan
yang jelas", yakni "Nash" yang menjadi rujukan semua pihak,
baik itu berupa ayat Al-Qur'an maupun Hadist atau juga undang-
undang negara yang didasari Hukum-Hukum Islam. Jadi,
tidaklah disebut bersatu bagi yang tidak berpegang pada satu
rujukan. Dengan demikian bahwa yang disebut bersatu dalam
kepemimpinan NII pun hanyalah yang berpegang pada undang-
undangnya.

Sungguh merugi, jika menunggu semuanya bersatu lebih dulu


sehingga diri tidak memihak kemanapun sedangkan anda
sudah tahu ada salah satunya yang benar, yakni berdasarkan
peraturannya. Bagaimanakah jika pada dirinya masing-masing
itu didapati faktor luar sehingga mereka tetap becerai-berai,
sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat tadi di atas ?
Bisakah dijadikan jaminan bagi diri anda ? Siapakah yang harus
lebih dulu selamat dari "Hisaban di Akhirat", diri anda ataukah
mereka yang tetap bercerai-berai ?

---------------------------------------------
62. Tanya:
“Bukankah mukmin dilarang tersengat dua kali pada
lobang yang sama, maka bagaimanakah dengan Abdul Fattah
Wirananggapati berulang kali dipenjarakan ?”

Jawab:
Barangkali pertanyaan ini lahir dari interpretasi sabda Nabi
Saw yang bunyinya:
‫ليلدغ المؤمن من جحرمرتين‬
”Jangan sampai disengat seorang mukmin dari suatu lobang
sampai dua kali”.
450

Sabda Nabi Saw di atas itu berkaitan dengan tertangkapnya


mata-mata musuh yang bernama Abu Izzah setelah Perang Uhud
sewaktu Nabi Saw berada di Hamra-ul Asad. Abu Izzah pernah
ditawan oleh tentara Islam di Badar, ketika itu dibebaskan atas
permintaan sendiri kepada Nabi Saw, lantaran tidak dapat
membayar uang tebusan atas dirinya, dan berjanji tidak akan
mngulangi perbuatannya, tidak akan memusuhi Islam dan kaum
muslimin, lalu diampuni dan dilepaskan oleh Nabi, kemudian ia
dapat kembali ke Makkah. Tetapi, sesampai di Makkah ia
mengulangi kejinya yang lama, memperolok-olokkan dan
mengejek Islam dengan sya’ir-sya’irnya yang tajam, dan pernah
mengatakan yang tidak-tidak terhadap pribadi Nabi Saw. Sebab
itu, setelah ia ditangkap oleh seorang tentara Islam (menurut
riwayat oleh Ashim bin Tsabit) dan dihadapkan kepada Nabi,
maka oleh beliau diputuskan “ harus dibunuh”

Setelah ia mendengar keputusan sedemikian, lalu memohon


ampun dan menangis- nangis dihadapan Nabi, dan berjanji
seperti yang sudah, yaitu tidak akan memusuhi Islam. Tetapi
semuanya ditolak oleh Nabi Saw , dengan sabdanya: “Tidak,
demi Allah, jangan sampai kamu menyapu kedua jambangmu
di Makkah sambil berkata, ”Aku telah menipu Muhammad
sampai dua kali”. Penggal batang lehernya, hai ‘Asshim !”.
Dan dikala itu Nabi Saw bersabda pula:
‫ليلدغ المؤمن من جحرمرتين‬
“Jangan sampai disengat seorang mukmin dari suatu lobang
sampai dua kali”.

Dengan perintah tersebut seketika itu dipenggallah batang


leher Abu ‘Izzah oleh “Asshim bin Tsabit, dan matilah ia.

Dengan riwayat itu bahwa hadist di atas tadi kaitannya


dengan 3 hal:
1). Pihak musyrikin (thogut) yang ditangkap, sedang pihak
mukminin yang menangkap.
451

2). Pihak mukmin tidak boleh memberi ampun untuk kedua


kalinya terhadap yang sudah berulang kali mencaci kedaulatan
Islam.

3) Terhadap pengalaman pahit, pihak mukmin harus


menjadikannya sebagai pelajaran, yakni jangan mengulangi
perbuatan yang sudah tahu kerugiannya, dalam arti secara
sengaja, atau karena keinginan diri. Nah, kalau hal ini dikaitkan
dengan dipenjarakan oleh musuh, maka apakah dipenjara itu
sebagai keinginan ? Jawabnya, jelas bukan !!! Jika bukan
kesengajaan atau keinginan maka dipenjarakan itu tidak
relevan dengan hadist di atas tadi.

Berkaitan dengan uraian ini perhatikan Firman Allah yang


bunyi-Nya:

“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu,


niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau
memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian
niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (Q.S.18
Al Kahfi:20).

Juga petikan ayat yang bunyinya :

"...‫وليزالون يقاتلونكم حتى يردكم عن دينكم ان استطاعوا‬..."


Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka
(dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada
kekafiran) seandainya mereka sanggup....(Q.S.2:217).

Dari ayat-ayat itu diketahui sudah menjadi Sunnattullaah


selama pihak mukmin masih lemah, tapi tidak tunduk terhadap
sistem kafir, maka selama itu pula dalam ancaman fisik dari
pihak pemerintahan musyrik. Contohnya, ummat yang dipimpin
oleh Rasul Saw berkali-kali diserang oleh kekuatan pihak
musyrikin, sehingga berkali-kali pula menanggung risiko
452

dengan berbagai macam pengorbanan. Bisa jadi jika seseorang


berperang sampai dua kali, maka “kena risikonya dua kali”,
tetapi jika perangnya empat kali, bisa jadi resikonya juga “lebih
dua kali”. Berbeda lagi bagi yang satu kali berjihad langsung
kapok, wajar jika tidak kena lagi resikonya, sebab yang begitu
tidak sesuai lagi dengan ayat yang bunyinya:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga,


padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya
orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa oleh
malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan
bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilalkah datangnya
pertolongan Allah ?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan
Allah itu amat dekat. - (Q.S.2:214).

Sungguh jelas bahwa pengertian “jangan seorang mukmin


disengat dari suatu lobang sampai dua kali” bukan dalam hal
ditimpa risiko dari berjihad fiisabiilillah. Lihatlah sejarah yang
terjadi pada sebagian ulama terdahulu seperti halnya terhadap
Abu Hanifah dan lain-lainnya yang berulang kali masuk penjara
karena menegakkan hak.
-------------------------------------------------------
63. Tanya:
“Imam Negara Islam Indonesia adalah manusia biasa,
artinya tidak maksum, tidak mutlak terus benar, suatu waktu
tergoda oleh syaitan sehingga bersalah yang mengakibatkan
dirinya batal dari kepemimpinannya, dengan demikian mana
lagi penggantinya ?”

Jawab:
Apabila Imam batal dari kepemimpinan NII, maka
penggantinya diambil dari diantara mereka yang kedudukannya
setaraf dengan para A.K.T. sebagaimana yang tercantum dalam
453

MKT. No.ll Tahun 1959, atau dari anggauta Dewan Imamah


yang diangkat oleh Imam sebelum dirinya batal dari
kepemimpinannya. Dalam hal ini perhatikan ayat di bawah ini:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh


telah telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah
dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang (mundur) ?
Barangsiapa yang berbalik kebelakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah
akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.-
(Q.S.3:144).

Dengan ayat itu kita diperintahkan kokoh, artinya tetap


berjihad berpegang pada hukum / peraturan. Sebab, yang
diwajibkan kepada kita oleh Allah Swt ialah mengikuti hukum
dan bukan mengikuti pribadi seseorang karena figurnya.
Dengan demikian bila Imam itu batal dari keimamannya,
maka ummat tetap wajib mengikuti pemimpin yang berhak
menggantikannya sesuai dengan peraturannya.

Sebagai gambaran, aturan dalam sholat berjama’ah, apabila


imamnya batal, maka yang tampil sebagai penggantinya ialah
salah seorang makmum dari barisan terdepan, kemudian semua
makmum yang dibelakangnya wajib mengikuti penggantinya.
------------------------------------------------------

64. Tanya:
“Atas dasar apakah seseorang itu harus merubah pengakuan
terhadap pemimpin yang semula diakuinya, bila kemudian
ternyata bahwa yang selama ini diakuinya bukanlah pimpinan
yang haq ?”

Jawab:
Pada saat ditulisnya tanya jawab ini, Negara Islam
Indonesia belum defakto kembali, maka tidak setiap ummat bisa
454

segera tahu siapa sebenarnya pemimpin tertingginya. Untuk itu


kita merujuk kepada perkataan Nabi Ibrohim kepada kaumnya
sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Qur'an yang bunyinya:

"Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah


bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhan ku" Tetapi tatkala
bintang itu tenggelam dia berkata:"Saya tidak suka kepada
yang tenggelam".__ (Q.S.6:76).

"Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata:


"Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia
berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk
kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat".
(Q.S.6:77).

"Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata:


"Inilah Tuahanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari
itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku
berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan".(Q.S.6:78).
Sesudah kepada mereka ditunjukkan pengetahuan mengenai
sebenarnya tuhan yang dasarnya lebih kuat sehingga lebih
dimengerti dari yang sebelumnya, maka kepada mereka
diwajibkan merobah pengakuan yang mereka anut, yakni dari
matahari kepada Tuhan yang sebenarnya yaitu Allah Subhanahu
wa Ta'ala.

Sehubungan dengan kisah yang dikutip dari Al-Qur'an itu,


maka dalam mengakui sebenarnya pemimpin kita ini, harus
berdasarkan pengetahuan yang sudah kita serap sekarang.
Adapun bila kemudian hari ada lagi penemuan baru tentang
pengetahuan yang kita peroleh mengenai siapa sebenarnya
pemimpin yang mesti diakui, maka kita harus siap
mengakuinya. Sebab, kejadian yang dikisahkan dalam Al-Qur'an
455

itu akan menjadi bahan berpikir bagi yang beriman terhadap


Allah (perhatikan Q.S.12:111).

Kesimpulan jawaban, bahwa yang menjadi dasar kewajiban


merobah pengakuan terhadap pemimpin, yaitu setelah
mengetahui ilmu yang lebih dimengerti dari pada yang semula
dalam hal penentuan mengenai "pemimpin yang sebenarnya”,

-------------------------------------------------
65. Tanya:
“Apa sebabnya K.U.K.T., Abdul Fatah Wirananggapati
tertangkap di Jakarta Tahun 1953 sepulang melantik Daud
Beureh, sebagai Panglima Wilayah V T I I Cik Di Tiro ?”

Jawab:
Karena terjerat jaring rencana lawan yang telah lama
digelar sejak dua tahun sebelumnya (1951 ), terhadap NII
secara keseluruhan, sehingga pada tahun-tahun itu yang
tertangkap di Jakarta bukan hanya Abdul Fatah W., melainkan
juga Sohby, kolonel TII, Wakil Komandan Komando Wilayah
I Sunan Rahmat.

Seorang Sersan Mayor TNI, Ukon Sukandi yang bertugas


sebagai intel dengan nama samaran Sukarta, seperti dipaparkan
dalam buku "TANTANGAN DAN JAWABAN", oleh Matia
Madjiah. Pada Tahun 1951 Ukon Sukandi memperoleh
informasi adanya bekas komandan/tokoh TII, dari Batalion
Kalipaksi yang berkedudukan di Garut, bernama Ali Murtado,
yang melemah semangat tempurnya dan kembali ke kota
(daerah pendudukan TNI). Kemudian Ukon Sukandi merebut
simpatinya dengan bermacam-macam kebaikan. Akhirnya,
setelah melalui beberapa proses semacam testing, maka Ukon
Sukandi menyimpulkan bahwa Ali Murtado dapat dimanfaatkan
tenaganya bagi kepentingan dinas intelijen TNI.

Lewat Ali Murtado, dia berhasil menipu aparat NII, Sujai


yang memiliki jabatan di tingkat pusat, dia adalah pamannya Ali
456

Murtado. Ini dilakukan dengan cara mengirimkan bantuan


berupa uang dan pakaian dan alat-alat tulis berikut surat-surat
kabar, serta surat pribadi dari Ali Murtado yang menerangkan
keberadaanya di Jakarta. Sujai terkecoh dengan kemurahan hati
palsu ini, segera mengirimkan surat balasannya. Dan
menyatakan akan mengusulkan kepada Panglima Wilayah I,
Agus Abdullah agar Ali Murtado ditetapkan sebagai petugas
khusus di Jakarta.

Dua hari kemudian datang surat penetapan dari Komandan


Divisi I Sunan Rahmat TII, Agus Abdullah yang menetapkan
dan mengangkat Ali Murtado sebagai Kepala Pos Hubungan
Wilayah I dan berkedudukan di Jakarta.

Dengan lancarnya pengiriman surat-surat, telah menarik


perhatian Komandan Divisi I / R TII, Agus Abdullah, kemudian
kemudian melaporkannya kepada Imam SM Kartosuwiryo, yang
selanjutnya memerintahkan Agus Abdullah untuk meningkatkan
hubungan dan kegiatan di Jakarta, dan kalau mungkin dibentuk
Perwakilan Pemerintah NII di Jakarta. Akhirnya, Agus Abdullah
mengirimkan surat perintah kepada Ali Murtado untuk
menyusun personalia guna mengisi jabatan-jabatan dalam
Perwakilan Pemerintah NII di Jakarta.

at dari Agus Abdullah tersebut segera dibahas oleh Ukon Sukandi bersama
komandan itelijen TNI, Letnan Muda Satiri dan Komandan
Seksi I KMKB- DR, Lettu Suhadi. Dengan persetujuan Seksi I
KMKB-DR (Komando Militer Kota Besar - Djakarta Raya),
segera Ukon Sukandi dan Ali Murtado menyusun personalia
Perwakilan Pemerintah NII sebagya menanam padi saja jelas
dari mana dimulainya, serta mana yang harus didahulukannya.
Maka, apalagi berjihad menegakkan Kalimatillaahi hiyal ‘ulyaa
!

-----------------------------------------------
ya :
457

tadi disebutkan bahwa perjuangan itu harus dimulai dari yang terjangkau
seperti di Indonesia, tidak usah sedunia dulu, maka mengapa
tidak bisa memproklamirkannya untuk sekabupaten saja atau
satu kecamatan ?”

Jawab :
1). Wilayah yang dijajah oleh Belanda di Indonesia pada waktu
itu seluas Indonesia. Maka, bila pada waktu itu umat Islam
Indonesia tidak mengklaim wilayah se-Indonesia, misalnya
cuma satu kabupaten, tentu masih banyak daerah yang
tersisakan dan berarti umat Islam tidak mau bersatu. Sedangkan
jauh sebelumnya, Umat Islam di Indonesia telah membentuk
kesatuan politik guna menegakkan negara yang didalamnya
memberlakukan hukum-hukum Islam.

Hanya musuh Islam saja, pada waktu itu kolonial Belanda


menyusupkan pengacau kedalamnya guna memecah belah
persatuan sehingga timbulnya aliran yang menyimpang dari
tujuan Islam. Namun demikian jihad tidak bisa berhenti karena
adanya gangguan, maka pada tahun 1934 terjadilah kongres
Partai Syarikat Islam Indonesia dengan keputusan bertujuan
mendirikan Negara Islam Indonesia. Singkatnya jika yang
dijajah se-Indonesia, maka direbutnya juga se- Indonesia.

2). Tidak seimbang dan tidak logis atau sungguh jauh dari
jangkauan jika musuhnya menguasai wilayah se-Indonesia lalu
kita memproklamasikannya cuma satu kabupaten, nanti bisa-
bisa bakal banyak negara di Indonesia, sedangkan sebelumnya
juga umat Islam di seluruh Indonesia sedang menuju persatuan.

3). Justru Umat Islam Indonesia memproklamirkan untuk se-


Indonesia ( NII ), guna mengimbangai (Q.S.8:73) kekuatan
musuh sehingga terjangkau oleh kemampuan. Sehingga pula
akhirnya umat Islam se-Indonesia bisa dipersatukan dalam
Negara Islam Indonesia.
-----------------------------------------------------
18. Tanya:
458

“Di antara bunyi Proklamasi N I I didapat kata-kata “Kami


ummat Islam Bangsa Indonesia”. Dari itu apa perbedaan antara
pengertian jiwa kebangsaan yang disebut “ashobiyyah” dengan
pengakuan sebagai bangsa ?”

Jawab:
Jiwa kebangsaan yang disebut ashobiyah ialah yang
mengandung arti cinta terhadap satu bangsa, hanya karena
sebangsa dengan dirinya, tanpa memperdulikan salah atau
benar. Jadi, orang yang berperang membela kebangsaan
(Ashobiyah), artinya bahwa yang menjadi dasar utama bagi
dirinya berperangnya itu ialah karena bangsanya sedang
berperang dengan bangsa lain, sehingga dirinya berpihak
kepada bangsanya itu dengan tidak memperdulikan mana yang
salah dan mana yang benar. Dalam arti lain bahwa berperang
nya itu bukan karena membela kebenaran (hukum) dari Allah.
Pengertiannya, meskipun bangsanya itu dalam posisi yang salah,
namun tetap dibela, karena satu bangsa. Sebaliknya, walaupun
dalam posisi yang benar (haq), namun karena tidak sebangsa,
maka diperanginya. Itulah yang dimaksud “Ashobiyah”.

Maka, pantaslah mereka yang telah berperang mengusir


bangsa asing, merasa puas walau hasilnya masih saja hukum-
hukum kafir warisan bangsa asing. Hal itulah yang dimaksud
oleh hadist mengenai yang mati karena Ashobiyah. Perhatikan
sabda Nabi Saw:
‫وليس منا من مات علففى عص فبية )رواه‬.‫وليس من قاتل على عصبيه‬.‫ليس منا من دعا الى عصبيه‬
‫)ابو داود‬
“Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada
kebangsaan. Dan bukan pula dari golongan kami orang yang
berperang karena kebangsaan. Dan tidak juga termasuk golongan
kami yang mati karena kebangsaan.” (HR Abu Daud).

Adapun “pengakuan sebagai bangsa”, yaitu sekedar


menyatakan diri sebagai salah satu dari bangsa yang ada. Hal
sedemikian merupakan keharusan dengan tujuan menjelaskan.
459

Sebab, tidak benar sebagai Bangsa Indonesia jika mengakukan


dirinya Bangsa Belanda atau bangsa lainnya.

Soal pengakuan sebagai bangsa diantara banyak bangsa


dijamin keberadaannya. Sebagaimana dikemukakan dalam ayat
yang bunyinya:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari


seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu
di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”_(Q.S.49:13).

Dari ayat di atas itu dimengerti bahwa adanya pengakuan


sebagai bangsa supaya bangsa lainnya mengenal, atau bisa
saling kenal mengenal adalah suatu kepastian. Dalam ayat itu
disebutkan bahwa ukuran yang paling mulia adalah taqwanya
kepada Allah. Dengan demikian tidak boleh salah atau benar
adalah bangsa sendiri lalu dibela. Kalau asal bangsa sendiri biar
salah lalu dibela, maka itulah Ashobiyah.

-----------------------------------------------------------

19. Tanya:
“Apa sebabnya Proklamasi Negara Islam Indonesia,
7Agustus 1949 bukanlah proklamasi negara dalam negara ?”
Dan harus bagaimanakah kita dalam mempertahankannya ?

Jawab :
Menjawab pertanyaan ini, penulis akan menguraikan
sebagian dari apa yang sudah dikemukakan dalam tulisan yang
berjudul “Furqon di Indonesia", pada bagian terakhir yang
ditulis pada bulan Mei 1986 M. dibawah ini:
460

Hijrahnya Umat Islam Indonesia Menghadapi Rintangannya


Memperhatikan surat Ali Imran ayat 28-30 . Juga,
memperhatikan sejarah Nabi Saw bahwa pada jaman Nabi pun
tidak semua pengikut Rasul itu dapat melakukan hijrah dalam
bentuk teritorial, melainkan tetap mereka tinggal di daerah
Mekah atau di wilayah lainnya, karena terpaksa ditugaskan
Rasulullah Saw. Namun, dalam aqidah mereka hanya mengakui
pemerintahan yang berdasarkan Islam di Madinah. Sejajar
dengan itu, bila kondisi dan situasi dalam mengemban amanat
dari Alloh SWT, mengharuskan tinggal di Indonesia, maka
berdiamlah di Indonesia karena Indonesia pun bagian dari bumi
tempat berbakti kepada Alloh. Kita mempunyai hak untuk
menjadikan Indonesia tempat bersujud yang sebenarnya kepada
Alloh. Juga, berhak membebaskan Indonesia dari kekuasaan
yang menolak berlakunya hukum Islam secara kaaffah. Serta
wajib mendepak manusia-manusia yang telah merampok hak-
hak kemerdekaan kita mengamalkan ketentuan Kitabullah.
Kita mutlak di Indonesia ini memiliki garis pemisah dari
kepemimpinan yang batil. Untuk itu perhatikan sekelumit
sabda Nabi SAW:". . . Orang yang berhijrah (muhajir) yaitu
yang pindah dari apa yang dilarang oleh Alloh. " (Hadist R.
Bukhori).

Cukup jelas bahwa yang menjadi titik tolaknya berhijrah


itu, bukanlah meninggalkan tempat. Akan tetapi keharusan
meninggalkan hal yang batil serta pindah kepada yang hak.
Dalam kalimat lain yaitu beralih dari sturuktur thagut kepada
yang berdasarkan "kebenaran Alloh SWT" atau ingkar dari
pemerintahan yang bukan Islam kepada yang berpedoman
hukum-hukum Islam. Oleh karena itu, bahwa umat Islam
Indonesia pun pada dasarnya sudah melakukan “hijrah", yang
mana telah meninggalkan struktur kolonial Belanda, pindah
kepada stuktur Negara Islam Indonesia (NII) yang berdasarkan
kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW (lihat pasal 2, ayat 1-2
konstitusi NII).
461

Umat Islam Indonesia telah menyatakan diri berhijrah


(baro’ah-nya ) dari pemerintahan Belanda. Yang mana sebelum
itu kolonialis tersebut telah mengambil alih kedaulatan dari
kaum nasionalis sekuler Indonesia ketika pemerintahan
Sukarno-Hatta mengibarkan bendera merah putih pada tanggal
19 Desember 1948 di Yogyakarta ". . . dia bersama banyak
pemimpin lain termasuk Hatta, Syahrir dan Suryadarma memilih
untuk mengibarkan bendera putih dan menyerah”(“Tempo”,20
Maret 1982 hal.15 ). Dengan pengibaran bendera putih itu, maka
sejak saat itu juga secara de jure bahwa Proklamasi
Kemerdekaan yang pernah diumumkan oleh Sukarno-Hatta pada
tanggal 17 Agustus 1945, pun telah bubar menyerah total
sewaktu agresi Belanda, tanggal 19-12-1948 di Yogyakarta.
Sebab itu, supaya kita mengetahui adanya proses yang
merintangi NII, maka selanjutnya kita ungkap dalam penuturan
berikut:

1). Kronologi Mengenai Hilangnya Nilai Proklamasi 17-8-1945


Sebenarnya seorang pejabat tinggi NII- menjadi jalan bagi
menggelindingnya kepercayaan dari pejabat tinggi NII yang
lain. Bapak Agus Abdullah sebagai panglima KW Jawa Barat
pun ikut ikutan percaya, dengan menyandarkan alasan "Karena
Pak Sujai pun sudah percaya". Jika seorang Panglima KW sudah
memberikan rekomendasi kepercayaan, maka bisa dimengerti
bila Imam pun akhirnya ikut mempercayai "musuh yang
menyusup" tersebut,

Kesimpulannya, bahwa tertangkapnya Kolonel TII Sohby


juga KUKT, Abdul Fatah Wirananggapati Tahun 1953 itu,
bukanlah kekeliruan pribadi, melainkan adalah kekeliruan
secara menyeluruh, akibat awalnya menyepelekan prosedur
hukum terhadap yang sudah "desersi (kabur dari medan
perang)" dipercaya kembali.

Berpikirkah tuan-tuan bahwa itu peringatan dari Allah Swt.


Tapi, mengapa penyimpangan dari prosedur hukum itu terulang
kembali, yaitu Ateng Jaelani Setiawan yang pada Tahun 1961-
462

1962 menghianati perjuangan NII, kemudian pada Tahun 1975


ditempatkan kembali dalam stuktur kepemimpinan yang tuan -
tuan setujui ? Sehingga sejarah mencatat bahwa pada Tahun
1977 dia kembali melaporkannya kepada musuh dengan
membeberkan skemanya.

Kemenangan secara fisik bukan hanya dari satu tahap


perjuangan, melainkan dari beberapa tahapan proses
perjuangan. Akan tetapi, disebabkan tujuan pertama bagi kita ini
ialah memperoleh Ridha Allah, maka sebagai syariatnya tidak
boleh meninggalkan ayat Allah, termasuk mengenai hal cara
bertobat (Q.S.4:64). Sebab, bahwa kemenangan secara fisik (“
Futuh”) bukan kita yang menentukan, artinya belum tentu kita
alami, mungkin saja kita keburu mati. Jadi, sungguh merugi
jika mengharap kemenangan fisik sedangkan telah
meninggalkan ayat Qur’an, sehingga begitu mudah
mempercayai orang yang katanya sudah bertobat, sedangkan
tidak jelas saluran hukumnya, kepada siapa dia datang dan oleh
siapa saja dia diadilinya ?

--------------------------------------------------------
66. Tanya:
“Bagaimana tanggapan dari Dewan Imamah NII terhadap
petikan wawancara Abdul Fattah Wirananggapati yang dimuat
dalam Majalah Ummat halaman 25 terbitan tanggal 9
Desember 1997 ?”

Jawab :
Untuk mengetahuinya baca saja surat tanggapannya di
bawah ini:
463
464
465

67. Tanya :
“Kesimpulan surat tanggapan dari Dewan Imamah NII
tanggal 22 Desember 1996 terhadap petikan wawancara Abdul
Fattah Wirananggapati dalam Majalah Ummat tanggal 9
Desember 1996, Dewan Imamah memutuskan di antaranya
yaitu membatalkan tugas wajib sucinya terhadap Abdul Fattah
Wirananggapati. Dengan demikian siapakah Imam NII
pengganti Abdul Fattah Wirananggapati itu ?”

Jawab:
Segera setelah Dewan Hakim memutuskan vonis yakni
diberhentikan dari tugasnya sebagai Imam NII, dan diterima
keputusan itu oleh Abdul Fattah Wirananggapati, terbukti ketika
ditawarkan kesempatan untuk membela diri, beliau tetap
menerima kebersalahan dirinya tanpa memerlukan pembelaan
lebih lanjut. Maka Dewan Imamah secara bersungguh sungguh
dan penuh tanggung jawab pada hari itu juga, bermusyawarah
untuk memilih dan mengangkat Imam Negara Islam Indonesia.
466

Akhirnya dengan suara bulat dengan idzin Alloh pada


tanggal 9 Ramadhan 1417 H / 18 January 1997 Ali Mahfudz
secara resmi memikul wajib suci sebagai Imam Negara Islam
Indonesia. Semoga Alloh menangurahi rahmat yang melimpah
atasnya sehingga dipandaikanNya melaksanakan amanah ummat
/ rakyat Negara Islam Indonesia, Aamiin. Lebih jelas silahkan
lihat Maklumat Komandemen Tertinggi No. V tahun 1997.
(Appendix D)

68. Tanya:
“Bagaimanakah tanggapan kita terhadap ummat Islam yang
berada di wilayah selain Indonesia, bila mereka mendirikan
negara yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw ?”

Jawab:
Kita mendukung perjuangan Islam dimanapun mereka
berada, dan bertekad untuk menjalin kerja sama dan
persaudaraan baik dengan negara Islam berjaya maupun yang
masih berjuang menunaikan wajib sucinya. Sebab dalam
perhubungan tingkat negara itulah Khilafah Islamiyyah
diupayakan untuk kembali hadir di muka bumi. Inilah jalan yang
realistik menuju tegaknya Khilafah ‘Ala Minhaji Nubuwwah.
Tidak seperti yang dibayangkan sementara kelompok, sejak
pertama berjuang sudah mentargetkan perjuangannya pada
keIslaman yang mendunia, sementara komunitas muslimin di
tempat asalnya sendiri masih dibelenggu sistem thoghut yang
mesti dijauhi dan diingkari (S.16:36, S.39:17, S.4:60).

Persoalan adanya dua Negara Islam atau lebih di dunia ini


memang sudah sejak lama menjadi perbincangan para ‘ulama,
ada yang melarang ada juga yang membolehkannya. Kedua dua
alasan mereka bisa diterima, hanya saja berawal dari titik
pandang yang berbeda. Yang pertama, melarang karena
melihatnya daru sudut ideal, dan mengacu pada fatwa para
ulama terdahulu yang hidup di sa’at khilafah Islamiyyah masih
ada, sedang yang ke dua, berani membolehkan karena berpijak
pada kenyataan dimana hari ini dimana pasca imperialisme
467

Nashrani, negeri negeri Muslimin dijajah bangsa bangsa Barat


dan terkotak kotak menurut penjajahnya masing masing.
Sehingga dalam proses perjuangan kemerdekaannya tentu bukan
merupakan kejayaan yang final yang memungkinkan untuk
langsung memproklamasikan diri sebagai khilafah bagi seluruh
dunia Islam. Bukankah memikul tugas khilafah bagi dunia
diperlukankekuatan yang cukup untuk berhadapan dengan
suluruuh kuffar di muka bumi ????

Bagaimana mungkin menyatakan diri sebagai khalifah


dunia, sedangkan kenyataan yang masih banyak negeri negeri
muslimin yang terjajah, dan itu menjadi tugas khalifah untuk
membebaskannya. Sedangkan pasca revolusi, diperlukan waktu
untuk memulihkan kekuatan negara merdeka tersebut guna
memikul tugas suci berikutnya: “Mengembangkan Islam ke
seluruh bumi”.

Dari itu ditengah tengah perjuangan menebus kekalahan


pertempuran dengan Republik Indonesia, disa’at garis
demarkasi NII susut sedemikian rupa, sehingga mengubah pola
perjuangan menjadi suatu bentuk gerilya di tengah tengah
wilayah musuh, kami mengharap dengan penuh du’a kepadaNya
: Semoga saudara saudara Mujahidin Fi sabilillah di negeri
manapun dirahmati Alloh dan dipandaikanNya memikul wajib
suci, sehingga segera bisa membebaskan negerinya dari
cengkraman Hukumah Jahiliyyah, menjadi sebuah Daulah
Islamiyyah yang ‘adil dan kuat, dicintai rakyat dan disegani
Darul Kuffar karena ketangguhannya (S.8:60).

Kembali pada masalah adanya “Pro dan Kontra atas dua


Imamah / kepala negara Islam di muka bumi”, kita kutipkan
pandangan para ulama dan alasan alasannya :

DR. A Hasymy

Kalau dalam soal, bahwa kaum muslimin adalah satu ummat,


tidak ada selisih pendapat; semua ahli ulama dan ahli hukum
468

(Fuqoha) Islam sejak dahuli hingga sekaranghanya ada “satu


Ummat Islam”.

Mengenai Negara Islam, apakah hanya satu Negara Islam


atau boleh banyak terjadi perbedaan pendapat. Ada ulama islam
yang berpendapat bahwa seluruh Negeri Islam harus tersusun
menjadi satu negara, dan kepala negaranya haruslah satu orang
dan bergelar Kholifah.

Ada pula ulama dan ahli hukum Islam yang berpendapat,


bahwa dalam keadaan darurat Negara Islam boleh banyak dan
demikian pula kepala negaranya.

Adapula ulama dan ahli hukum Islam yang berpendapat


bahwa dalam keadaan normal pun boleh banyak Negara Islam
boleh banyak yang masing masing dipimpin oleh seorang kepala
negara.

Dalam hal ini DR. A Hasymi lebih condong pada pendapat


para ulama diantaranya Muhammad Izzat Duruzah yang
mengatakan bahwa Negara Islam boleh banyak. Hanya DR. A
Hasymi berpendapat bahwa antara negara negara Islam yang
banyak itu haruslah dijalin satu hubungan ketat yang
berlandaskan “Ukhuwwah Islamiyyah”, sehingga dengan
demikian, walaupun pada lahirnya Negara Islam nampak banyak
tapi pada hakikatnya adalah satu. Karena itu Negara Islam yang
sifatnya sejagat (internasional) boleh berbentuk dalam
Perserikatan Negara Negara Islam atau Ad Dualul Islamiyyah
Al Muttahidah.

Hubungan yang ketat antar Negara Islam antara lain


dengan cara menerapkan ajaran Islam dalam negara, tauhid yang
sama dan kewajiban Ukhuwwah Islamiyyah yang tidak boleh
ditawar lagi. Persoalan yang timbul antar negara Islam akan
mudah diselesaikan karena sama sama berideologi dan bercita
cita Islam. Kalaupun terjadi perselisihan antar negara Islam itu,
tidak akan sukar menyelesaikannya karena Islam yang menjadi
469

sumber berdirinya negara tadi menyuruh mereka untuk kembali


menta’ati Alloh dan Rosul, sehingga dengan demikian antar
negara Islam itu akan kokoh menjadi satu negara yang padu
(Lihat Dimana letaknya Negara Islamhal 279 -287 dengan
perubahan kalimat seperlunya tanpa merubah maksud penulis)

Abu Hasan Al Mawardi :

Penulis Al Ahkamush Shulthoniyyah : Apabila terlantik dan


terbai’at dua imam dalam dua negeri maka dua duanya tidak
syah, karena tidak boleh ada dua imam untuk satu ummat dalam
masa satu waktu, sekalipun ada sebagian orang yang
membolehkannya (Ahkamush Shulthonuuyah hal 9)

Kamal bin Abu Shorif

Beliau penulis buku Al Musamaroh, ahli hukum terkemuka


bermadzhab syafi’i : Tidak boleh diangkat imam lebih dari satu
orang, karena Sabda Rosululloh : Apabila telah diangkat dua
orang khalifah maka bunuhlah orang yang terakhir.

Dan perintah membunuh ini boleh dipertimbangkan, seperti


penegasan penegasan beberapa ulama. Kalau yang terakhir ini
berkepala batu, maka dia dipandang sebagai pendurhaka
(bughot) , dan kalau tidak ada jalan lain, boleh dibunuh. Adapun
pengertiaannya adalah dilarang banyak Imam, karena dengan
banyaknya Imam menghilangkan maksud dari adanya Imam itu
sendiri yakni mempersatukan ummat Islam dan menghindari
fitnah (Al Musamarah)

Shiddiq Hasan Khan Bahadur

Seorang ‘ulama Pakistan dalam kitabnya : Ar Raudhan An


Nadiyyah, menulis sebagai berikut : Apabila imamah
Islamiyyah harus dipegang oleh satu orang dan segala urusan
kembali kepadanya, sesuai keadaan di zaman shahabat, tabi’in
dan tabi’ tabi’in, maka hukum menurut syari’at, setelah tetap
470

pembai’atan terhadap orang yang pertama, maka bunuh orang


yang ke dua (yang mencoba menampilkan diri, atau tampil
dengan dukungan sebagian orang) bila dia tidak mau mundur
dengan sukarela.

Adapun setelah Islam berkembang dan daerah wilayah tersebar


luas, maka telah sama diketahui bahwa tiap tiap negeri negeri
Islam telah diangkat seorang Imam atau Sulthon, yang masing
masing memerintah dalam wilayah kekuasaannya. Karena itu
tidak ada halangan bagibanyaknya imam dan sulthon. Dan
penduduk negeri yang bersangkutan wajib tha’at kepada Imam
yang telah diangkat itu.

Apabila diangkat lagi dalam negeri yang telah ada imam itu,
diangkat lagi seorang imam yang lain. Maka Imam baru itu
harus dibunuh bila tidak bersedia mengundurkan diri.

Dan tidak wajib bagi muslimin di luar kekuasaan negeri itu


untuk thaat kepada Imam. sebab terpaut dengan jauhnya jarak
dan tidak sampainya amr kepada mereka bahkan tidak
mengetahui hidup dan matinya imam itu sendiri. Karena
membebankan tha’at dalam keadaan demikian, adalah satu
beban yang tidak mungkin terpikul. Sesungguhnya penduduk
Cina dan India tidak mengetahui siapa yang memimpin negeri
Maghribi apalagi memungkinkan ketha’atan kepadanya.

Karena itu sadarlah akan hal yang demikian, yang mana sesuai
dengan kaidah dan syari’ah dalil yang mengarahkannya kesitu.
Anda tidak usyah menghiraukan pendapat yang lain, karena
perbedaan wilayah Islam di zaman permulaannya dengan
keadaan dewasa ini amatlah nyata, lebih terang daripada
matahari di siang bolong. Dan orang yang membantah
kenyataan ini, tidak layak diladeni dengan hujjah, karena
pendapatnya tidak logis.

Abdul Qodir Audah


471

Apabila Islam telah mewajibkan agar kaum muslimin menjadi


satu ummat yang mempunyai satu negara, maka “hukum wajib”
ini menuntut supaya wilayah negara Islam meliputi semua
negeri negeri muslimin di seluruh dunia.

Dasar pokok Islam adalah syari’at dunia,bukan lokal. Islam


datang untuk seluruh dunia, bukan untuk setengah dunia. Untuk
semua manusia bukan untuk sebagiannya.

Islam adalah syari’at internasional, bukan hanya untuk satu


kaum, bukan hanya untuk satu bangsa, bukan hanya untuk satu
benua.

Islam adalah syari’at alam semesta yang ditujukan kepada


muslim dan bukan muslim. Tetapi tatkala kenyataan tidaklah
semua manusia beriman dengannya, sehingga tidak mungkin
memberlakukan hukum syari’at atas mereka, maka keadaan
waktu hanya mengijinkan menjalankan syari’at Islam dalam
negeri negeri yang berada di bawah kekuasaan kaum muslimin.

Demikianlah, bahwa pelaksanaan syari’at Islam bertautan rapat


dengan kekuasaan dan kekuatan kaum muslimin. Karena itu,
tiap wilayah kaum muslimin menjadi luas, maka luas pulalah
wilayah kekuasaan syari’at. Dan ketika wilayah kekuasaan
kaum muslimin menjadi sempit,maka sempit pulalah kekuasaan
syari’at.

Peristiwa zaman dan keadaan daruratlah yang membuat syari’at


Islam menjadi syari’at lokal, sekalipun pada mulanya dan dasar
pokoknya adalah syari’at dunia.

Dari keterangan di atas jelas kita bisa maklumi, mengapa


terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ahli ilmu.

Bagi kamu, mujahidin yang tengah berjuang merebut


kembali wilayah Islam yang kini tergusur oleh Republik
Indonesia. Kami yang berjuang mempertahankan hukum Islam
472

yang telah diproklamasikan sebagai hukum yang berlaku di


negara kami. Terus berdu’a kepadaNya dan memberi dukungan
moral kepada segenap pejuang di negeri manapun, atau bahkan
setiap pemerintah Islam di negeri mana saja adanya agar tetap
beristiqomah menunaikan wajib sucinya sesuai dengan keadaan
dan tempat masing masing.

Kami tidak akan berpicik hati, menyalahkan keadaan


banyaknya Negara Islam atau hadirnya pejuang pejuang Islam
yang ingin memerdekakan negaranya dan berlaku syari’at Islam
di wilayah yang mereka kuasai. Alih alih kita sendiri tidak bisa
berbuat banyak di negeri mereka, maka mereka yang mampu
dan mau berkiprah di negeri itu, mari kita dukung dan du’akan.

Sebab awal perubahan dunia, tidak lepas dari kestabilan


suatu negara dan kemauan politik pemerintahnya. Betapapun
sholeh dan waro’nya seorang ‘alim, berfatwa dimasjid tentang
wajibnya berdiri satu kholifah untuk seluruh negeri, tetapi jika
pemerintah yang berkuasa di negeri tersebut tidak mau
melakukan langkah politik untuk itu, maka tetap saja keadaan
tidak akan berubah.

Para Ulama Salafi di Negeri Saudi Arabia, getol


menyerukan bahwa ketha’atan dan bai’at hanya wajib diberikan
pada kholifah, dan kholifah itu berdasarkan nash yang shohih
haruslah berasal dari quraisy. Namun kalau raja Saudi Arabiya
tidak mau mengambil langkah politik dan tanggung jawab
sebagai Kholifah dunia, maka apa yang terjadi ? Saudi tetap saja
Saudi dengan wilayah kekuasaannya seperti itu, dengan sistem
pemerintahannya yang berdasarkan sistem kerajaan.

Bagi kami, gerilyawan Negara Islam Indonesia, negara


bukanlah tujuan final ibadah kami kepadaNya. Negara hanyalah
alat untuk menegakkan hukum Alloh di wilayah yang bisa
dikuasai negara itu. Sehingga bila kelak Alloh mentaqdirkan NII
berjaya, maka segera setelah negara Islam ini mampu
mentabilisasi diri, telah berdiri dengan kokohnya ke luar dan
473

kedalam. Maka menjadi kewajiban NII untuk ikut serta


berpartisifasi aktif menggalang kerja sama dengan seluruh
Negara Islam yang ada untuk bahu membahu meretas jalan
menuju khilafah Islamiyyah ‘alamiyyah. Ketika khilafah telah
tegak, maka pada masa itulah komando muslimin di muka bumi
tersentral di tangan seorang khalifah, hanya pengelolan
administrasi dan kesejahteraan sajalah yang didesentralisasi
untuk memudahkan pengelolaannya.

69. Tanya :
“Bagaimana dengan pendapat bahwa kholifah itu harus
dari Quraisy ?”

Jawab :
Itu bukan pendapat tetapi sebuah hadits nabi yang shohih,
kami membenarkan hadits itu, sebab di sa’at Khilafah tegak
untuk seluruh bumi, maka sentral pemerintahan yang paling
tepat adalah di Makkah, sehingga setahun sekali muslimin di
seluruh bumi bisa datang ke ibu kota khilafah Islamiyyah untuk
menerima fatwa fatwanya ketika menunaikan ibadah haji ke
tanah suci tersebut. Sehingga dengan demikian kesatuanpaduan
ummah dengan mudah terus terjaga, begitu pula dengan
kedekatan hati Ummah pada khalifahnya.

Jadi sepantasnya para ulama yang mengaku paling ‘salaf’


sendiri itulah yang harus giat menasihati raja dan aparat
kerajaan Saudi Arabia untuk segera memikul tugasnya menjadi
Kholifah Dunia dan mengirimkan pasukan ke seluruh wilayah
dunia untuk menegakkan hukum Islam. Apakah tugas ini sudah
dilakukan para ulama salafi di dalam negeri Saudi Arabia ?

Kami di Indonesia, akan sangat mendukung usaha para


ulama salafiuntuk menggugah kaum Quraisy agar segera
kembali pada wajib sucinya, sementara disini kami pun
berusaha dengan istiqomah menunaikan wajib suci, ialah hak
474

dan kewajiban tiap tiap mujahid, menggalang Negara Karunia


Alloh, Negara Islam Indonesia.

Jadi tidak logis bila ada ulama yang melarang larang


perjuangan Islam yang bersifat negara, dengan alasan Imam itu
harus seorang kholifah dan kholifah itu harus Quraisy.
Sementara larangan ini hanya digembar gemborkan di sini
sehingga memberi keuntungan kepada fihak musuh/thoghut.
Sedangkan di Saudi Arabia sendiri mereka tidak mendorong
para aparat kerajaannya untuk segera menunaikan wajib sucinya
membela seluruh muslimin di dunia ini.

70. Tanya :
“Apakah NII anti terhadap manhaj Salafi ?”

Jawab :
Sejak mula diproklamasikan NII menjadikan Islam sebagai
asas negara dan menjadikan Al Quran dan Hadits shohieh
menjadi hukum tertinggi yang berlaku di negara kami. Bagi
seluruh warga NII Al Quran dengan penafsirannya yang benar,
Al Hadits dengan keshohihannya adalah seutama utama ilmu
yang harus dijunjung tinggi, dipelajari, Karena itulah tulang
punggung negara kami.

Bila Para Ulama salaf yang hidup di tiga kurun terbaik,


yakni masa Nabi dan shahabat, masa tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
semuanya berada di wilayah Darul Islam, tidak ada seorang pun
dari ulama salaf di jaman itu yang rela menjadi warga Darul
Kuffar. Sekalipun para Imam Madzhab Ahlus Sunnah itu disiksa
dan dipenjara oleh pemerintah Islam ketika itu, tidak ada
seorang pun yang berfikir untuk keluar dari pangkuan Daulah
Islamiyyah dan lari ke wilayah Darul Kuffar dan merelakan diri
diperintah oleh Thoghut.

Dari itu kami berkeyakinan, tidak mungkin bisa mengikuti


jejak salaf, bila diri masih jadi warga Darul Kuffar, sebab mana
sunnahnya ? Mana teladannya dari tiga kurun terbaik yang
475

dijaminkan Nabi Saw ? Nabi dan shahabat sampai hijrah


meninggalkan Darul Kuffar membangun Madinah, Ad Daulatul
Islamiyyah di bumi Yatsrib, sehingga tidak logis mengaku
salafi, hanya sekedar menela’ah kitab kitab salaf sementara
membiarkan diri dikuasai hukum jahiliyyah.

Jadi mesti difahami, bahwa apa yang dilakukan gerilyawan


Negara Islam Indonesia adalah berusaha sekuat tenaga untuk
mengembalikan wilayah Islam hingga menjadi tempat yang
aman dan stabil untuk memberlakukan Hukum Islam di
dalamnya. Menegakkan Al Quran dan Hadits shohih sebagai
hukum tertinggi. Bila ini yang menjadi harapan ulama terdahulu,
maka upaya ini pula lah yang tengah kami jalankan.

Namun demikian, bisa dimengerti apabila banyak diantara


para ulama yang salah menilai gerakan perjuangan NII, ini
diakibatkan adanya fihak fihak tertentu yang direkayasa musuh
yang juga mengakukan dirinya sebagai NII. Lahirlah dimana
mana “Jama’ah NII” dengan gerakannya yang banyak
bertabrakan dengan hukum hukum syari’at Islam. Padahal kalau
orang mau mengerti dengan kalimat “Jama’ah NII” saja orang
mesti sudah bisa membaca kepalsuannya. Sebab NII bukanlah
jama’ah seperti yang dimengerti sebagian orang. NII adalah satu
negara lengkap dengan perundang undangan dan
pemerintahannya.