Anda di halaman 1dari 12

DIARE (Gastroenteritis)

1. DEVINISI
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari
biasanya (normalnya 100-200 ml per jam), dengan berbentuk cairanatausetengah
(setengah padat), dapat pula disertai frekuensi deekasi yang meningkat(masjoer, Arif ,et
all 1999).
Diare adalah kondisi dimana terjadif rekuensi defeksi yang abnormal (lebih dari
3x/hari) serta perubahan dalam isi(>200gr/hari) dan konsistensi feses cair(Smeltzerdan
bare,2001,hal 1093).
Diare dibagi menjadi 3 yaitu diare akut, diare melanjut/berkepanjangan, diare
persisten/kronik.
Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung < 7 hari pada
bayi dan anak yang sebelumnya sehat. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000)
Diare melanjut / berkepanjangan adalah episode diare akut yang melanjut hingga
berlangsung selama 7-14 hari. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000)
Diare persisten / kronik adalah episode diare yang mula-mula bersifat akut namun
berlangsung selama 14 hari atau lebih. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000). Ada dua
kategori diare kronik. Diare yang berhenti jika pemberian makanan atau obat-obatan
dihentikan disebut diare osmotik. Sedangkan diare yang menetap walaupun penderita
dipuasakan disebut diare sekretorik (Samih Wahab, 2000)
Disentri adalah diare yang disertai darah dalam tinja. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000).
2. ETIOLOGI
a. Infeksi virus (Rotavirus, Adenovirus), bakteri (E. Colli, Salmonella, Shigella, Vibrio
dll), parasit (protozoa : E. hystolitica, G. lamblia; cacing : Askaris, Trikurus; Jamur :
Kandida) melalui fecal oral : makanan, minuman,yang tercemar tinja atau kontak
langsung dengan tinja penderita.
b. Malabsorbsi : karbohidrat (intoleransi laktosa), lemak atau protein.
c. Makanan : alergi makanan, basi atau keracunan makanan
d. Imunodefisiensi / imunosupresi (kekebalan menurun) : Aids dll
e. Faktor lingkungan dan perilaku
f. Psikologi : rasa takut dan cemas (Kapita Selekta Kedokteran, 2000)
3. PATOFISIOLOGI
Spesies bakteri tertentu menghasilkan eksotoksin yang mengganggu absorbsi usus dan
dapat menimbulkan sekresi berlebihan dari air dan elektrolit. Ini termasuk baik
enterotoksin kolera dan E. Coli. Spesies E. Coli lain, beberapa Shigella dan salmonella
melakukan penetrasi mukosa usus kecil atau kolon dan menimbulkan ulserasi
mikroskopis. Muntah dan diare dapat menyusul keracunan makanan non bakteri. Diare

dan muntah merupakan gambaran penting yang mengarah pada dehidrasi, akibat
kehilangan cairan ekstrvaskuler dan ketidakseimbangan elektrolit. Keseimbangan asam
basa terpengaruh mengarah pada asidosis akibat kehilangan natrium dan kalium dan ini
tercermin dengan pernafasan yang cepat. ( Sacharin, R.M, 1996)
Patogen usus menyebabkan sakit dengan menginvasi mukosa usus, memproduksi
enterotoksin, memproduksi sitotoksin dan menyebabkan perlengketan mukosa yang
disertai dengan kerusakan di menbran mikrovili. Organisme yang menginvasi sel epitel
dan lamina propria menimbulkan suatu reaksi radang local yang hebat. Enterotoksin
menyebabkan sekresi elektrolit dan air dengan merangsang adenosine monofosfat siklik di
sel mukosa usus halus. Sitotoksin memicu peradangan dari sel yang cedera serta
meluaskan zat mediator radang. Perlengketan mukosa menyebabkan cedera mikrivili dan
peradangan sel bulat di lamina propria. Bakteri yang tumbuh berlebihan di usus halus juga
mengganggu mukosa usus. Bakteri menghasilkan enzim dan hasil metabolisme untuk
menghancurkan enzim glikoprotein pada tepi bersilia dan menggangggu pengangkutan
monosakarida dan elektrolit. Cedera vili menyebabkan lesi mukosa di sana sini yang
disertai dengan segmen atrofi vili subtotal dan respon radang subepitel yang mencolok.
(Wahab, A Samih, 2000)

4. MANIFESTASI KLINIK
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)
n)

Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer
Kram perut
Demam
Mual
Muntah
Kembung
Anoreksia
Lemah
Pucat
Urin output menurun (oliguria, anuria)
Turgor kulit menurun sampai jelek
Ubun-ubun / fontanela cekung
Kelopak mata cekung
Membran mukosa kering
(Suriadi, 2001)

5. KOMPLIKASI
a) Dehidrasi (ringan,sedang,berat,hipotonik,atauhipertonik)
b) Renjatan hipovolemik
c) Hypokalemia (dengan gejala meteorismus ,hipotpni otot, lemah, bradikardia,
perubahan elektrokardiogram)
d) Gagal ginjal akut
e) Intoleransi sekunder akibat kerusakan vilimukosa usus dan defisiensienzimlaktosa
f) Kejang,terjadi pada dehidrasi hipertonik
g) Malnutrisi energy protein (akibat muntah dan diare, jika lama ataukronik

6. PENATALAKSANAAN
1) Keperawatan
Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang : mengelola plan A, B, C
Memonitor tanda dehidrasi, syok
Memenuhi kebutuhan nutrisi : anak tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan
sedikit-sedikit tapi sering (lebih kurang 6 kali sehari), rendah serat, buah-buahan
diberikan terutama pisang.
Mengontrol dan mengatasi demam
Perawatan perineal
Penyuluhan kesehatan :
- Upayakan ASI tetap diberikan
- Kebersihan perorangan : cuci tangan sebelum makan
- Kebersihan lingkungan : buang air besar di jamban
- Imunisasi campak
- Memberikan makanan penyapihan yang benar
- Penyediaan air minum yang bersih
- Selalu memasak makanan
- Selalu merebus dot / botol susu sebelum digunakan
- Tidak jajan di sembarang tempat
2) Medis
a. Resusitasi cairan dan elektrolit
Rencana Pengobatan A, digunakan untuk :
Mengatasi diare tanpa dehidrasi
Meneruskan terapi diare di rumah
Memberikan terapi awal bila anak diare lagi
Cara dasar rencana Pengobatan A :
Berikan lebih banyak cairan dari pada biasanya untuk mencegah dehidrasi
(oralit, makanan cair : sup, air matang). Berikan cairan ini sebanyak anak
mau dan terus diberikan hingga diare berhenti.

Kebutuhan oralit per kelompok umur


Umur
< 12 bulan
1-4 tahun
> 5 tahun
Dewasa

Ddiberikan setiap bab


50-100 ml
100-200 ml
200-300 ml
300-400 ml

Yang disediakan
400 ml / hari (2 bungkus)
600-800 ml / hari (3-4 bungkus)
800-1000 ml / hari (4-5 bungkus)
1.200-2.800 ml / hari

Cara memberikan oralit :


Berikan sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak < 2 tahun
Berikan beberapa teguk dari gelas untuk anak lebih tua
Bila anak muntah, tunggu 10 menit, kemudian berikan cairan lebih sedikit
(sesendok teh tiap 1-2 menit)
Bila diare belanjut setelah bungkus oralit habis, beritahu ibu untuk
memberikan cairan lain atau kembali ke petugas untuk mendapatkan
tambahan oralit.

Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi


Teruskan pemberian ASI
Untuk anak < 6 bln dan belum mendapatkan makanan padat dapat
diberikan susu yang dicairkan dengan air yang sebanding selama 2 hari.
Bila anak > / = 6 bulan atau telah mendapat makanan padat
Berikan bubur atau campuran tepung lainnya, bila mungkin dicampur
dengan kacang-kacangan, sayur, daging, tam-bahkan 1 atau 2 sendok teh
minyak sayur tiap porsi.
Berikan sari buah segar atau pisang halus untuk menambah kalium
Dorong anak untuk makan berikan sedikitnya 6 kali sehari
Berikan makanan yang sama setelah diare berhenti dan berikan makanan
tambahan setiap hari selama 2 minggu.
Bawa anak kepada petugas bila anak tidak membaik selama 3 hari atau
anak mengalami : bab sering kali, muntah berulang, sangat haus sekali,
makan minum sedikit, demam, tinja berdarah
Rencana Pengobatan B
Dehidrasi tidak berat (ringan-sedang); rehidrasi dengan oralit 75 ml / kg BB
dalam 3 jam pertama atau bila berat badan anak tidak diketahui dan atau
memudahkan dilapangan, berikan oralit sesuai tabel :
Jumlah oralit yang diberikan 3 jam pertama :
Umur
Jumlah
oralit

< 1 tahun
300 ml

1-5 tahun
600 ml

> 5tahun
1.200 ml

Dewasa
2.400 ml

Setelah 3-4 jam, nilai kembali, kemudian pilih rencana A, B, atau C untuk
melanjutkan pengobatan :
Bila tidak ada dehidrasi ganti ke rencana A
Bila ada dehidrasi tak berat atau ringan/sedang, ulangi rencana B tetapi
tawarkan makanan, susu dan sari bu-ah seperti rencana A
Bila dehidrasi berat, ganti dengan rencana C
Rencana Pengobatan C
Dehidrasi berat : rehidrasi parenteral / cairan intravena segera. Beri 100 ml/kg
BB cairan RL, Asering atau garam normal (larutan yang hanya mengandung
glukosa tidak boleh diberikan).

Umur
< 12 bulan
> 1 tahun

30 ml/kg BB
1 jam pertama
jam pertama

70 ml/kg BB
5 jam kemudian
21/2 jam kemudian

b. Obat-obat anti diare meliputi antimotilitas (loperamid, difenoksilat, kodein, opium),


adsorben (norit, kaolin, smekta).
c. Obat anti muntah : prometazin , domperidon, klorpromazin

d. Antibiotik hanya diberikan untuk disentri dan tersangka kolera : Metronidazol 50


mg/kgBB/hari
e. Hiponatremia (Na > 155 mEq/L), dikoreksi dengan D1/2S. Penurunan kadar Na
tidak boleh lebih dari 10 mEq per hari karena bisa menyebabkan edema otak
f. Hiponatremia (Na < 130 mEq/L), dikoreksi dengan RL atau NaCl
g. Hiperkalemia (K > 5 mEq/L), dikoreksi dengan kalsium glukonas perlahan-lahan 510 menit sambil memantau detak jantung
h. Hipokalemia (K , 3,5 mEq/L), dikoreksi dengan KCl
(Kapita Selekta Kedokteran, 2000 dan SPM Kesehatan Anak RSUD Wates, 2001)

ASUHAN KEPERAWATAN DIARE (Gastroenteritis)


1. PENGKAJIAN
Identitas : umur, alamat
Riwayat Kesehatan
Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) : Muntah, Diare,
kembung, Demam.
Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah
sakit)
Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang
pernah diderita oleh pasien) : Diare, Alergi makanan, Intoleransi, Riwayat operasi.
Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang
pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau tidak)
Riwayat Imunisasi : Imunisasi campak
Riwayat tumbuh kembang
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi (BB, PB, Usia)
Pemeriksaan persistem :
1) Sistem persepsi sensori :
a. Penglihatan : air mata ada / tidak, cekung / normal
b. Pengecapan : rasa haus meningkat/tidak, lidah lembab / kering
2) Sistem persyarafan : kesadaran, kejang.
3) Sistem pernafasan : kusmaul, sianosis, cuping hidung
4) Sistem kardiovaskuler : takikardi, nadi lemah dan cepat / tak teraba, kapilary
refill lambat, akral hangat/dingin, sianosis perifer.
5) Sistem Gastrointestinal :
a. Mulut : membrane mukosa lembab/kering, bibir lembab/kering
b. Perut : turgor ?, kembung / meteorismus, distensi, peristaltik meningkat,
nyeri
c. Informasi tentang tinja : warna, volume, bau, konsistensi, lendir, darah, sisa
makanan
6) Sistem integumen : kulit kering/lembab, ubun-ubun cekung/tidak, turgor ?, bibir
kering/tidak, diaper rash/iritasi di daerah perineal, ada lipatan kulit/keriput ?
7) Sistem perkemihan : bak 6 jam terakhir, oliguria/anuria
Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan : kebiasaan bab di wc / jamban / sungai /
kebun, personal hygiene ?, sanitasi ?, sumber air minum ?
Pola nutrisi dan metabolisme : anoreksia, mual, muntah, makanan / minuman terakhir
yang dimakan, makan makanan yang tidak biasa / belum pernah dimakan, alergi,
minum ASI atau susu formula, baru saja ganti susu, salah makan, makan berlebihan,
efek samping obat, jumlah cairan yang masuk selama diare, makan / minum di
warung ?
Pola eleminasi
a) Bab : frekuensi, warna, konsistensi, bau, lendir, darah
b) Bak : frekuensi, warna, bak 6 jam terakhir ?, oliguria, anuria

Pola aktifitas dan latihan : travelling


Pola tidur dan istirahat
Pola kognitif dan perceptual
Pola toleransi dan koping stress
Pola nilai dan keyakinan
Pola hubungan dan peran
Pola persepsi diri dan konsep diri
Pola seksual dan reproduksi

2. RENCANA KEPERAWATAN
No

Diagnosa keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Defisit volume cairan


b/d kehilangan cairan
aktif

NOC:
NIC :
Fluid balance
Hydration
Fluid management
Nutritional Status : Food Timbang popok/pembalut
jika diperlukan
Definisi : Penurunan cairan
and Fluid Intake
Pertahankan catatan intake
intravaskuler, interstisial,
dan output yang akurat
dan/atau intrasellular. Ini Kriteria Hasil :
mengarah ke dehidrasi, Mempertahankan urine
Monitor status hidrasi
kehilangan cairan dengan
(kelembaban
membran
output sesuai dengan usia
pengeluaran sodium
mukosa, nadi adekuat,
dan BB, BJ urine normal,
tekanan darah ortostatik),
HT normal
jika diperlukan
Batasan Karakteristik :

Tekanan
darah,
nadi,
suhu
Monitor vital sign
Kelemahan
tubuh dalam batas normal Monitor masukan makanan
Haus
Tidak ada tanda tanda
/ cairan dan hitung intake
Penurunan turgor
dehidrasi,
Elastisitas
kalori harian
kulit/lidah
turgor
kulit
baik,
Kolaborasikan pemberian
Membran mukosa/kulit
cairan intravena IV
membran mukosa
kering
Monitor status nutrisi
lembab, tidak ada rasa
Peningkatan denyut
Dorong masukan oral
nadi, penurunan tekanan
haus yang berlebihan
Berikan
penggantian
darah, penurunan
volume/tekanan nadi

Pengisian vena menurun


Perubahan status mental
Konsentrasi urine
meningkat
Temperatur tubuh
meningkat
Hematokrit meninggi
Kehilangan berat badan
seketika (kecuali pada
third spacing)
Faktor-faktor yang
berhubungan :
Kehilangan volume
cairan secara aktif
Kegagalan mekanisme

nesogatrik sesuai output


Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
Tawarkan snack ( jus buah,
buah segar )
Kolaborasi dokter jika tanda
cairan berlebih muncul
meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi

Hypovolemia Management
Monitor
status
cairan

termasuk intake dan ourput


cairan
Pelihara IV line
Monitor tingkat Hb dan

pengaturan

Risiko kerusakan
integritas kulit b/d
ekskresi/BAB sering

NOC : Tissue Integrity :


Skin and Mucous
Membranes

Faktor-faktor yang
berhubungan :
Eksternal
Hipertermia atau
hipotermia
Substansi kimia
Kelembaban udara
Faktor mekanik
(misalnya : alat yang
dapat menimbulkan
luka, tekanan, restraint)
Immobilitas fisik
Radiasi
Usia yang ekstrim
Kelembaban kulit
Obat-obatan
Internal

Perubahan status
metabolik
Tulang menonjol
Defisit imunologi

NIC : Pressure
Management
Anjurkan

Definisi : Perubahan pada Kriteria Hasil :


epidermis dan dermis
Integritas kulit yang baik
Batasan karakteristik :
Gangguan pada bagian
tubuh
Kerusakan lapisa kulit
(dermis)
Gangguan permukaan
kulit (epidermis)

hematokrit
Monitor tanda vital
Monitor
responpasien
terhadap
penambahan
cairan
Monitor berat badan
Dorong
pasien
untuk
menambah intake oral
Pemberian
cairan
Iv
monitor adanya tanda dan
gejala
kelebihanvolume
cairan
Monitor adanya tanda gagal
ginjal

bisa dipertahankan
(sensasi, elastisitas,
temperatur, hidrasi,
pigmentasi)
Tidak ada luka/lesi pada
kulit
Perfusi jaringan baik
Menunjukkan
pemahaman dalam proses
perbaikan kulit dan
mencegah terjadinya
sedera berulang
Mampu melindungi kulit
dan mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami

pasien
untuk
menggunakan pakaian yang
longgar
Hindari kerutan padaa tempat
tidur
Jaga kebersihan kulit agar
tetap bersih dan kering
Mobilisasi pasien (ubah
posisi pasien) setiap dua jam
sekali
Monitor kulit akan adanya
kemerahan
Oleskan
lotion
atau
minyak/baby oil pada derah
yang tertekan
Monitor
aktivitas
dan
mobilisasi pasien
Monitor status nutrisi pasien
Memandikan pasien dengan
sabun dan air hangat

Faktor yang

berhubungan dengan
perkembangan
Perubahan sensasi
Perubahan status nutrisi
(obesitas, kekurusan)
Perubahan status cairan
Perubahan pigmentasi
Perubahan sirkulasi
Perubahan turgor
(elastisitas kulit)

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b/d
penurunan intake
makanan
Definisi : Intake nutrisi
tidak cukup untuk
keperluan metabolisme
tubuh.
Batasan karakteristik :
Berat badan 20 % atau
lebih di bawah ideal
Dilaporkan adanya
intake makanan yang
kurang dari RDA
(Recomended Daily
Allowance)
Membran mukosa dan
konjungtiva pucat
Kelemahan otot yang
digunakan untuk
menelan/mengunyah
Luka, inflamasi pada
rongga mulut
Mudah merasa kenyang,
sesaat setelah
mengunyah makanan
Dilaporkan atau fakta
adanya kekurangan
makanan
Dilaporkan adanya
perubahan sensasi rasa
Perasaan
ketidakmampuan untuk
mengunyah makanan
Miskonsepsi
Kehilangan BB dengan
makanan cukup
Keengganan untuk

NOC :
Nutritional Status :
Nutritional Status : food
and Fluid Intake
Nutritional Status :
nutrient Intake
Weight control
Kriteria Hasil :
Adanya peningkatan berat
badan sesuai dengan
tujuan
Berat badan ideal sesuai
dengan tinggi badan
Mampumengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda tanda
malnutrisi
Menunjukkan
peningkatan fungsi
pengecapan dari menelan
Tidak terjadi penurunan
berat badan yang berarti

Nutrition Management
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi

untuk menentukan jumlah


kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan intake Fe
Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan protein dan
vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat
untuk mencegah konstipasi
Berikan
makanan
yang
terpilih
(
sudah
dikonsultasikan dengan ahli
gizi)
Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan
harian.
Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring
BB pasien dalam batas
normal

Monitor adanya penurunan


berat badan

Monitor tipe dan jumlah


aktivitas
yang
biasa
dilakukan
Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan

Monitor lingkungan selama

makan

Kram pada abdomen


Tonus otot jelek
Nyeri abdominal dengan

atau tanpa patologi

Kurang berminat

terhadap makanan

Pembuluh darah kapiler

mulai rapuh
Diare dan atau
steatorrhea
Kehilangan rambut yang
cukup banyak (rontok)
Suara usus hiperaktif
Kurangnya informasi,
misinformasi

Faktor-faktor yang
berhubungan :
Ketidakmampuan
pemasukan atau mencerna
makanan atau
mengabsorpsi zat-zat gizi
berhubungan dengan faktor
biologis, psikologis atau
ekonomi.

Cemas b/d perubahan


status kesehatan

Definisi :
Perasaan gelisah yang tak
jelas dari ketidaknyamanan
atau ketakutan yang
disertai respon autonom
(sumner tidak spesifik atau
tidak diketahui oleh
individu); perasaan
keprihatinan disebabkan
dari antisipasi terhadap
bahaya. Sinyal ini
merupakan peringatan
adanya ancaman yang akan
datang dan memungkinkan
individu untuk mengambil
langkah untuk menyetujui
terhadap tindakan
Ditandai dengan
Gelisah
Insomnia
Resah

NOC :
Anxiety control
Coping
Impulse control
Kriteria Hasil :
Klien mampu
mengidentifikasi dan
mengungkapkan gejala
cemas
Mengidentifikasi,
mengungkapkan dan
menunjukkan tehnik
untuk mengontol cemas
Vital sign dalam batas
normal
Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya kecemasan

makan
Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam
makan
Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan intake
nuntrisi
Catat
adanya
edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

NIC : Anxiety Reduction


(penurunan kecemasan)
Gunakan pendekatan yang

menenangkan
Nyatakan
dengan
jelas
harapan terhadap pelaku
pasien
Jelaskan semua prosedur dan
apa yang dirasakan selama
prosedur
Pahami prespektif pasien
terhdap situasi stres
Temani
pasien
untuk
memberikan keamanan dan
mengurangi takut
Berikan informasi faktual
mengenai diagnosis, tindakan
prognosis
Dorong
keluarga
untuk
menemani anak
Lakukan back / neck rub
Dengarkan dengan penuh
perhatian
Identifikasi
tingkat
kecemasan

Ketakutan
Sedih
Fokus pada diri
Kekhawatiran
Cemas

Bantu

pasien
mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
Dorong
pasien
untuk
mengungkapkan
perasaan,
ketakutan, persepsi
Instruksikan
pasien
menggunakan
teknik
relaksasi
Barikan
obat
untuk
mengurangi kecemasan

DAFTAR PUSTAKA

1. Arif Mansjoer dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FKUI Jakarta,
2000
2. Budi Santosa, Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006, Prima Medika
3. Hardiono D. Pusponegoro dkk, Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, IDAI,
2004
4. Helen Lewer, Learning to Care on the Paediatric Ward : terjemahan, EGC, 996
5. Joanne C. McCloskey, Nursing Intervention Classification (NIC), Mosby-Year Book,
1996
6. Marion Johnson, Nursing Outcomes Classification (NOC), Mosby-Year Book, 2000
7. Rosa M. Sacharin, Principles of Paediatric Nursing : terjemahan , EGC, 1996
8. Samih Wahab, Ilmu Kesehatan Anak, EGC, 2000
9. Suriadi, Asuhan Keperawatan pada Anak, CV Agung Seto, Jakarta, 2001

Anda mungkin juga menyukai