Anda di halaman 1dari 13

HEMATESISMELENA

Disusunoleh:

1. ANIK MUGIRAHAYU
2. NUNUNG ERNIA
3. RAHMAWATI DENY
4. BOBY FERI

Kelas :4A

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, taufik, serta hidayah-NYA, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata
kuliah Sistem pencernaan dengan judul HEMATESISMELENAsesuai dengan waktu yang
telah di tentukan.Pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu tugas kami dalam
menempuh pembelajaran di semester ini.

Kami berharap dengan disusunnya makalah ini dapat sedikit banyak menambah
pengetahuan para pembaca pada khususnya.Tak ada gading yang tak retak, kami
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan.Oleh karena itu,
kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi penyempurnaan makalah ini.

Jombang,april2013

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Hematemesis melena adalah suatu kondisi di mana pasien mengalami muntah darah
yang disertai dengan buang air besar (BAB) berdarah dan berwarna hitam. Hematemesis
melena merupakan suatu perdarahan yang terjadi pada saluran cerna bagian atas (SCBA) dan
merupakan keadaan gawat darurat yang sering dijumpai di tiap rumah sakit di seluruh dunia
termasuk Indonesia. Pendarahan dapat terjadi karena pecahnya varises esofagus, gastritis
erosif atau ulkus peptikum.

B. Rumusan masalah
Apa pengertian hematemesis melena ?
Apa etiologi hematemesis melena?
Apa patofisiologi hematemesis melena?
Apa pemeriksaan fisik hematemesis melena?
Apa pemeriksaan penunjanghematemesis melena?
Apa penatalaksanaan hematemesis melena?
Apa konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien hematemesis melena?
C. Tujuan
Agar mahasiswa mampu mengerti tentang pengertian hematemesis melena
Agar mahasiswa mampu mengerti tentang etiologi hematemesis melena
Agar mahasiswa mampu mengerti tentang patofisiologi hematemesis melena
Agar mahasiswa mampu mengerti tentang pemeriksaan fisik hematemesis melena
Agar mahasiswa mampu mengerti tentang pemeriksaan penunjanghematemesis
melena
Agar mahasiswa mampu mengerti tentang penatalaksanaan hematemesis melena
Agar mahasiswa mampu mengerti tentang konsep dasar asuhan keperawatan pada
pasien hematemesis melena

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Hematemesis melena adalah suatu kondisi di mana pasien mengalami muntah
darah yang disertai dengan buang air besar (BAB) berdarah dan berwarna hitam.
Hematemesis melena merupakan suatu perdarahan yang terjadi pada saluran cerna
bagian atas (SCBA) dan merupakan keadaan gawat darurat yang sering dijumpai di
tiap rumah sakit di seluruh dunia termasuk Indonesia. Pendarahan dapat terjadi karena
pecahnya varises esofagus, gastritis erosif atau ulkus peptikum.
B. Etiologi
Dari penelitian Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM di dapatkan
penyebab perdarahan saluran cerna baian atas terbanyak adalah pecahnya varises
esophagus. Penyebab varises esofagus merupakan yang terbanyak di Indonesia ,
disebabkan oleh penyakit sirosis hati. Secara teoritis lengkap terjadinya penyakit atau
kelainan saluran cerna bagian atas disebabkan oleh ketidak seimbangan faktor agresif
dan faktor defensif, dimana faktor agresif meningkat atau factor defensifnya menurun.
Yang dimaksud dengan faktor agresif antara lain asam lambung, pepsin, refluks asam
empedu, nikotin, obat anti inflamasi non steroid (OAINS), obat kortikosteroid, infeksi
Helicobacter pylori dan faktor radikal bebas. Yang dimaksud dengan faktor defensif
yaitu aliran darah mukosa yang baik, sel epitel permukaan mukosa yang utuh,
prostaglandin, mukus yang cukup tebal, sekresi bikarbonat, motilitas yang normal,
impermeabilitas mukosa terhadap ion H dan regulasi pH intra sel.
C. Patofisiologi
Pada gagal hepar sirosis kronis, kematian sel dalam hepar mengakibatkan
peningkatan tekanan vena porta. Sebagai akibatnya terbentuk saluran kolateral dalam
submukosa esopagus dan rektum serta pada dinding abdomen anterior untuk
mengalihkan darah dari sirkulasi splenik menjauhi hepar.
Dengan meningkatnya teklanan dalam vena ini, maka vena tsb menjadi
mengembang dan membesar (dilatasi) oleh darah (disebut varises). Varises dapat
pecah, mengakibatkan perdarahan gastrointestinal masif. Selanjutnya dapat

mengakibatkan kehilangan darah tiba-tiba, penurunan arus balik vena ke jantung, dan
penurunan curah jantung.
Jika perdarahan menjadi berlebihan, maka akan mengakibatkan penurunan
perfusi jaringan. Dalam berespon terhadap penurunan curah jantung, tubuh melakukan
mekanisme kompensasi untuk mencoba mempertahankan perfusi.
Mekanisme ini merangsang tanda-tanda dan gejala-gejala utama yang terlihat
pada saat pengkajian awal. Jika volume darah tidak digantikan , penurunan perfusi
jaringan mengakibatkan disfungsi seluler. Sel-sel akan berubah menjadi metabolsime
anaerob, dan terbentuk asam laktat. Penurunan aliran darah akan memberikan efek
pada seluruh sistem tubuh, dan tanpa suplai oksigen yang mencukupi sistem tersebut
akan mengalami kegagalan.

D. Pemeriksaan Fisik:
Keadaan umum

Kesadaran
Nadi, tekanan darah
Tanda-tanda anemia
Gejala hipovolemia
Tanda-tanda hipertensi portal dan sirosis hati: spider nevi, ginekomasti, eritema
palmaris, capit medusae, adanya kolateral, asites, hepatosplenomegali dan edema
tungkai.
Laboratorium:

Hitung darah lengkap: penurunan Hb, Ht, peningkatan leukosit

Elektrolit: penurunan kalium serum; peningkatan natrium, glukosa serum dan


laktat.

Profil hematologi: perpanjangan masa protrombin, tromboplastin

Gas darah arteri: alkalosis respiratori, hipoksemia

E. Pemeriksaan penunjang
DPL. hemostasis lengkap atau masa pcrdarahan. masa pembekuan, masa
protrombin, elektrolit (Na, K., Cl),
Pemeriksaan Fungsi hati (cholinesterase. Albumin/globulin. SGOT/SGPT.
pertanda hepatitis B dan C),
Endoskopi SCBA diagnostik atau foto rontgen OMD,
USG hati.

F. Penatalaksaan
Setiap penderita dengan perdarahan saluran cerna bagain atas ( SCBA ) dalam
penatalaksanaan hematemesis melena ada 2 tindakan yaitu tindakan umum dan
khusus. Tindakan umum bertujuan untuk memperbaiki keadaan umum pasien, apapun
penyebab perdarahannya. Tindakan khusus, biasanya baru dikerjakan setelah
diagnosis penyebab perdarahan sudah dapat dipastikan.
Tindakan Umum
1. Infus dan transfusi darah
Tindakan pertama yang dilakukan adalali resusitasi, untuk memulihkan
keadaanpenderita akibat kehilangan cairan atau syok. Yaitu cairan infus

dekstrose 5% atau Ringer laktat atau NACL O,9% dan transfusi Whole Blood
atau Packed Red Cell

2. Psikoterapi
Sebagai akibat perdarahan yang banyak, dapat membuat penderita
menjadi gelisah.Maka diperlukan psikoterapi.
3. Istirahat mutlak
Istirahat mutlak sangat dianjurkan, sekurang kurangnya selama 3 hari
setelahperdarahan berhenti.
4. Diet
Dianjurkan puasa jika perdarahan belum berhenti.Dan penderita mendapat
nutrisi secara parenteral total sampai perdarahan berhenti.Jika perdarahan
berhenti, diet biasa dimulai dengan diet cair HI/LI.Selanjutnya secara bertahap
diet beralih ke makanan padat
5. Pemasangan Nasogastric Tube, kemudian dilakukan lavage
Lambung dengan air es yang dimasukkan, di tunggu 5 menit, dan
dikeluarkan.Ini dilakukan berulang-ulang sampai cairan lambung jemih.
Tindakan ini biasa diulang 1-2 jam kemudian jika masih ada perdarahan.
6. Medikamentosa
Antasida cair, untuk menetralkan asam lambung.Injeksi Simetidin atau injeksi
Ranitidine, yaitu antagonis reseptor H2 untuk mengurangi sekresi asam
lambung. Injeksi Traneksamic acid, jika ada peningkatan aktifitas
fibrinolisin. Injeksi Vitamin K, jika ada tanda-tanda Sirosis hati. Sterilisasi
usus dengan Laktulosa oral serta Clisma tinggi, jika ada tanda-tanda sirosis
hati, ditambahkan Neomycin atau Kanamycin.
Tindakan Khusus
Tindakan khusus ini ditujukan pada penyebab perdarahan yang dapat dibagi
atas dua penyebab, yaitu karena pecahnya varises esofagus dan bukan karena varises.
Pengobatan perdarahan SCBA non varises :
Injeksi Simetidin 200mg/8jam atau injeksi Ranitidin 50mg/8jam.Jika
perdarahan sudah berhenti dapat diberikan per oral.

Antasida, dapat diberikan bila perdarahan sudah berhenti.


Selain obat-obat di atas, untuk mengurangi rasa sakit atau pedih dapat
diberikan

obat golongan anti kolinergik.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HEMATESIS MELENA


1. Pengkajian Keperawatan
a) Anamnese
1) Identitas klien.
2) Riwayat keperawatan.
3) Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan
elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. tonus dan turgor kulit
berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4
kali dengan konsistensi encer.
4) Riwayat kesehatan masa lalu.
5) Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.
6) Riwayat psikososial keluarga.
7) Kebutuhan dasar
Pola eliminasi
Perubahan BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.
Pola nutrisi
Diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan
pasien.
Pola istirahat dan istirahat
Terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak
nyaman
Pola hygiene
Kebiasaan mandi setiap harinya.

Pola aktivitas
Terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi
abdomen.
b) Pemerikasaan fisik
Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis
sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat
Pemeriksaan sistemati :
Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir
kering, berat badan menurun, anus kemerahan.
Perkusi : adanya distensi abdomen.
Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
Auskultasi : terdengarnya bising usus
c) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan tinja, darah lengkap.
2. Diagnosa keperawatan
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan output cairan yang berlebihan.
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake asupan yang tidak adekuat.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
Ansietas berhubungan dengan sakit kritis.
3. Rencana Keperawatan
Diagnosa 1
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan output cairan yang berlebihan
Tujuan dan kriteria hasil:

Devisit cairan dan elektrolit teratasi.Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa


mulut dan bibir lembab, balance cairan seimbang.
Rencana Tindakan :

Observasi tanda-tanda vital.

Observasi tanda-tanda dehidrasi.

Hitung input dan output cairan (balance cairan).

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan, pemeriksaan

lababoratorium elektrolit.

Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah garam.

Diagnosa 2.
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake asupan yang tidak kuat.
Tujuan dan kriteria hasil:
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi. Intake nutrisi klien
meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual, muntah tidak ada.
Rencana Tindakan :
Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi.
Timbang berat badan klien.
Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.
Lakukan pemeriksaan fisik abdomen (palpasi, perkusi, dan auskultasi).
Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.
Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.
Diagnosa 3
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
Tujuan dan Kriteria hasil :

Nyeri dapat teratasi. Nyeri dapat berkurang / hilang, ekspresi wajah tenang.
Rencana Tindakan :
Observasi tanda-tanda vital
Kaji tingkat rasa nyeri.
Atur posisi yang nyaman bagi klien.
Beri kompres hangat pada daerah abdomen.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgetik sesuai indikasi.

Diagnosa 4
Ansietas berhubungan dengan sakit kritis.
Tujuan dan kriteria hasil :
Rasa cemas pasien teratasi. Pasien tampak rileks.
Rencana tindakan :
Kaji rasa cemas pasien.
Berikan motivasi pada pasien untuk semangat sembuh.
Berikan penjelasan mengenai sakit yang diderita pasien.
Ciptakan suasana yang menyenangkan bagi pasien

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Hematemesis melena adalah suatu kondisi di mana pasien mengalami muntah


darah yang disertai dengan buang air besar (BAB) berdarah dan berwarna
hitam.Tanda-tanda hipertensi portal dan sirosis hati: spider nevi, ginekomasti, eritema
palmaris, capit medusae, adanya kolateral, asites, hepatosplenomegali dan edema
tungkai.
Setiap penderita dengan perdarahan saluran cerna bagain atas ( SCBA ) dalam
penatalaksanaan hematemesis melena ada 2 tindakan yaitu tindakan umum dan
khusus. Tindakan umum bertujuan untuk memperbaiki keadaan umum pasien, apapun
penyebab perdarahannya. Tindakan khusus, biasanya baru dikerjakan setelah
diagnosis penyebab perdarahan sudah dapat dipastikan
B. Saran
Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.
Berikan posisi yang nyaman bagi klien untuk mengurangi rasa nyeri
Berikan motivasi pada pasien untuk semangat sembuh.
Berikan penjelasan mengenai sakit yang diderita pasien.
Ciptakan suasana yang menyenangkan bagi pasien

DAFTAR PUSTAKA

Dongoes. 2000. Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC.


http://hidayat2.wordpress.com/download-askep/ diakses tanggal 23
November 2011 pukul 18.00.
http://yandrifauzan.blogspot.com/ diakses tanggal 23 November 2011 pukul
18.10.
Brunner & Sudarth. ( 2002 ) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi,
8. Jilid 2. Jakarta: EGC
Doengoes. E. Mariylynn. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:
EGC.
Hematemesis, (http://megapharma.multiply.com/reviews/item/2), diperoleh
pada tanggal 5 oktober 2008 .
Hudak dan Galo. (1996). Keperawatan kritis: Pendekatan holistik.(Vol. II,
edisi 6). Jakarta: EGC.
Mansjoer. A. (2000). Kapita selekta kedokteran. Jakarta : Media aesculapius.
http://yandrifauzan.blogspot.com/