Anda di halaman 1dari 18

ASKEP BATU KANDUNG KEMIH (KMB)

Posted on October 3, 2012 by besseindahpermatasari


ASKEP BATU KANDUNG KEMIH
Oleh : Besse Indah Permatasari_UPTD AKPER ANGING MAMMIRI
BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
Konsep dasar dibuat untuk memudahkan pemahaman kita nantinya dalam melakukan asuhan
keperawatan terutama dalam pengkajian dan pemberian intervensi keperawatan. Adapun
konsep dasar ini terdiri dari pengertian, anatomi fisiologi, etiologi, patofosiologi dan skema,
manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan dan perencanaan pulang.
A. ANATOMI FISIOLOGI.
1. Anatomi
a) Anatomi Ginjal ( Renal ).
Ginjal suatu kelenjar yang terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di belakang
peritonium pada kedua sisi vetebra lumbalis III, melekat langsung dinding belakang
abdomen. Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada dua buah kiri dan kanan, ginjal kiri
lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari ginjal
wanita. ( Syaifuddin, 1996 ).
b) Anatomi Ureter
Ureter terdiri dua saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih
(vesika urinaria) panjangnya 25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak
dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter
terdiri dari:

Dinding luar jaringan ikat ( Fibrosa )

Lapisan tengah lapisan otot polos

Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa.


Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap lima menit
sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih. Gerakan

peristaltik urin melalui ureter yang diekskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam
bentuk

pancaran

melalui

osteum

uretralis

masuk

ke

kandung

kemih.

c) Anatomi Vesika Urinaria

\Kandung kemih adalah satu kantong berotot yang dapat mengempes, terletak di
belakang simfisis pubis dan kandung kemih mempunyai tiga muara, dua muara ureter
serta satu muara uretra. Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti
balon karet, terletak di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Bentuk
kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan
dengan

ligamentum

vesika

umbilikus

medius.

( Sylvia A. Price Lorrance W., 1995 ). Bagian vesika urinaria terdiri dari :
Fundus yaitu bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah, bagian ini
terpisah dari rektum oleh spatium rectovesikale yang teisi oleh jaringan ikat duktus
deferent,

vesika

yaitu

Korpus,

seminalis
bagian

dan

antara

verteks

prostat.
dan

fundus.

Verteks, bagian yang runcing ke arah muka dan berhubungan dengan ligamentum
vesika
Dinding

umbilikalis.
kandung

kemih

Lapisan

sebelah

Tunika

Muskularis

terdiri

dari

lapisan

luar

(Peritonium)

(lapisan

otot)

Tunika

Submukosa

lapisan
d)

mukosa
Proses

(lapisan

Miksi

atau

bagian

dalam).

Rangsangan

Berkemih

Distensi kandung kemih oleh air kemih akan merangsang stresreseptors yang terdapat
pada dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang
berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung
kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinter internus, segera diikuti oleh
relaksasi spinter eksternus, akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih.
Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter
internus

dihantarkan

melalui

serabut-serabut

saraf

para

simpatis.

Kontraksi spinter eksternus secara volunter ini hanya mungkin bila saraf-saraf yang
menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Bila ada
kerusakan pada saraf-saraf tersebut maka terjadi inkontinensia urin (kencing keluar
terus-menerus tanpa disadari) dan retensi urin (kencing tertahan). Persyarafan dan
peredaran

darah

vesika

urinaris.

Persyarafan diatur torako lumbar dan kranial dari sistem persyarafan otonom. Torako
lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna peritonium
melapisi kandung kemih sampai kira-kira perbatasan ureter masuk kandung kemih.
Peritonium dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung
kemih
e)

berisi

penuh.

Pembuluh

Darah

Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk
anyaman di bawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus
limfatikus sepanjang arteri umbilikalis ( Syaifuddin, 1996 ).
2.

Fisiologi

Kandung kemih juga sering disebut buli-buli. Adapun fungsi dari kandung kemih adalah :
1) Muara tempat akhir zat-zat sisa dari makanan yang kita makan yang tidak diperlukan
tubuh

atau

tidak

direasorbsi

tubuh.

2) Tempat penampungan atau menyimpan air kemih yang akan dikeluarkan melalui uretra (
Syaifuddin,

1996

).

Ginjal juga merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting. Ginjal berfungsi sebagai :
1)

Memegang

2)

peranan

penting

dalam

Mempertahankan

pengeluaran

suasana

zat-zat

toksis

atau

keseimbangan

3)

Mempertahankan

keseimbangan

kadar

asam

4)

Mempertahankan

keseimbangan

garam-garam

dan
dan

racun.
cairan.

basa

dari

cairan

tubuh.

zat-zat

lain

dalam

tubuh.

5) Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum, kreatinin, amoniak (
Syaifuddin, 1996 ).
B.

DEFINISI

a. Vesikolitiasis adalah penyumbatan saluran kemih khususnya pada vesika urinaria atau
kandung kemih oleh batu penyakit ini juga disebut batu kandung kemih.( Smeltzer and Bare,
2000

).

b. Vesikolitiasis adalah batu yang terjebak di vesika urinaria yang menyebabkan gelombang
nyeri yang luar biasa sakitnya yang menyebar ke paha, abdomen dan daerah genetalia.
Medikasi yang diketahui menyebabkan pada banyak klien mencakup penggunaan antasid,
diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin dosis tinggi yang berlebihan. Batu vesika urinaria
terutama mengandung kalsium atau magnesium dalam kombinasinya dengan fosfat, oksalat,
dan

zat-zat

lainnya.

(Brunner

and

Suddarth,

2001).

c. Batu kandung kemih adalah batu yang tidak normal di dalam saluran kemih yang
mengandung komponen kristal dan matriks organik tepatnya pada vesika urinari atau
kandung kemih. Batu kandung kemih sebagian besar mengandung batu kalsium oksalat atau
fosfat ( Prof. Dr. Arjatm T. Ph.D. Sp. And dan dr. Hendra Utama, SPFK, 2001 ).
C.

ETIOLOGI

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan batu kandung kemih adalah :


a.

Faktor

Endogen

Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hyperkalsiuria dan hiperoksalouria.


b.

Faktor

Eksogen.

Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum.
c.

Faktor

lainnya

Infeksi, stasis dan obstruksi urine, keturunan, air minum, pekerjaan, makanan atau penduduk
yang vegetarian lebih sering menderita batu saluran kencing atau buli-buli ( Syaifuddin, 1996
).
Batu kandung kemih dapat disebabkan oleh kalsium oksalat atau agak jarang sebagai kalsium
fosfat. Batu vesika urinaria kemungkinan akan terbentuk apabila dijumpai satu atau beberapa
faktor pembentuk kristal kalsium dan menimbulkan agregasi pembentukan batu proses
pembentukan batu kemungkinan akibat kecenderungan ekskresi agregat kristal yang lebih
besar dan kemungkinan sebagai kristal kalsium oksalat dalam urine. Dan beberapa medikasi
yang diketahui menyebabkan batu ureter pada banyak klien mencakup penggunaan obatobatan yang terlalu lama seperti antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin dosis tinggi.
( Prof. Dr. Arjatmo T. Ph. D.Sp. And. Dan dr. Hendra U., SpFk, 2001 ).
D.

PATOFISIOLOGI

Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, obstruksi mungkin terjadi
hanya parsial atau lengkap. Obstruksi yang lengkap bisa menjadi hidronefrosis yang disertai
tanda-tanda dan gejala-gejalanya. Proses patofisiologisnya sifatnya mekanis. Urolithiasis
merupakan kristalisasi dari mineral dari matriks seputar, seperti pus, darah, jaringan yang
tidak vital, tumor atau urat. Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat intake cairan rendah
dan juga peningkatan bahan-bahan organik akibat ISK atau urin statis, mensajikan sarang
untuk pembentukan batu. Di tambah adanya infeksi meningkatkan ke basahan urin (oleh
produksi amonium), yang berakibat presipitasi kalsium fosfat dan magnesium amonium
fosfat. Komposisi kalkulus Renalis dan faktor-faktor yang mendorong adalah: No

Komposisi/macam batu Faktor-faktor pendukung/penyebab 1 Calcium (oksalat dan fosfat)


Hiperkalsemia Hiperkasiuri Dampak dari Hiperparatiroidisme Intoksikasi Vitamin D
Penyakit Tulang yang parah Asidosis Tubulus Renalis Intake steroid purine Ph urin tinggi
dan volume urine rendah 2 Asam urin (Gout) Diet tinggi purine dan ph urin rendah Volume
urin rendah 3 Cystine dan xanthine Cystinuria dampak dari gangguan genetika dari
metabolisme asam amino dan xanthineuria Mekanisme pembentukan batu ginjal atau saluran
kemih tidak diketahui secara pasti, akan tetapi beberapa buku menyebutkan inti pembentukan
batu, sebagai tempat menempelnya partikel-partikel batu pada inti tersebut. c. Perubahan pH
atau adanya koloid lain di dalam air seni akan menetralkan muatan dan meyebabkan
terjadinya pengendapan. Kecepatan tumbuhnya batu tergantung kepada lokasi batu, misalnya
batu pada buli-buli lebih cepat tumbuhnya disbanding dengan batu pada ginjal. Selain itu juga
tergantung dari reaksi air seni, yaitu batu asam akan cepat tumbuhnya dalam urin dengan pH
yang rendah. Komposisi urin juga akan mempermudah pertumbuhan batu, karena terdapat
zat-zat penyusun air seni yang relatif tidak dapat larut. Hal lain yang akan mempercepat
pertumbuhan batu adalah karena adanya infeksi. Batu ginjal dalam jumlah tertentu tumbuh
melekat pada puncak papil dan tetap tinggal dalam kaliks, yang sampai ke pyelum yang
kemudian dapat berpindah ke areal distal, tetap tinggal atau menetap di tempat dimana saja
dan berkembang menjadi batu yang besar. proses terjadinya batu dapat disebabkan oleh halhal

sebagai

berikut

a. Adanya presipitasi garam-garam yang larut dalam air seni, dimana apabila air seni jenuh
akan

terjadi

b.

Adanya

Adapun
a.

inti

Riwayat

pribadi

nidus

resiko

tentang

batu

Usia

kandung

dan

c.

).

mencangkup
kemih

dan

saluran

jenis

Pernah
Makanan

f.

Adanya

mengalami
yang

kelainan

Masukan

h.

dapat

Profesi

morfologi
infeksi

meningkatkan
pada

cairan

ginjal
kurang

sebagai

kemih
kelamin

Kelainan

e.

g.

Faktor-faktor

b.

d.

pengendapan.

saluran
kalsium

dan

dan

kemih
asam

saluran
dari

pekerja

urat
kemih

pengeluaran
keras

i. Penggunaan obat antasid, aspirin dosis tinggi dan vitamin D terlalu lama. ( Brunner and
Suddart, 2001 ).

E. PATHWAYS
F.

MANIFESTASI

KLINIS

Ketika batu menghambat dari saluran urin, terjadi obstruksi, meningkatkan tekanan
hidrostatik. Bila nyeri mendadak terjadi akut disertai nyeri tekan disaluran osteovertebral dan
muncul mual muntah maka klien sedang mengalami episode kolik renal. Diare, demam dan
perasaan tidak nyaman di abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini akibat refleks
dan proxsimitas anatomik ginjal kelambung, pangkereas dan usus besar. Batu yang terjebak
dikandung kemih menyebabkan gelombang nyeri luar biasa, akut dan kolik yang menyebar
kepala obdomen dan genitalia. Klien sering merasa ingin kemih, namun hanya sedikit urin
yang keluar, dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasi batu gejala ini disebabkan
kolik ureter. Umumnya klien akan mengeluarkan batu yang berdiameter 0,5 sampai dengan 1
cm secara spontan. Batu yang berdiameter lebih dari 1 cm biasanya harus diangkat atau
dihancurkan sehingga dapat dikeluarkan secara spontan dan saluran urin membaik dan lancar.
G.

PEMERIKSAAN

DIAGNOSTIK

Adapun pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada klien batu kandung kemih adalah :
a.
b.

Urinalisa
Foto

KUB

:
:

Warna

Menunjukkan

kuning,

ukuran

ginjal

coklat
ureter

dan

atau
ureter,

adanya

gelap
menunjukan
batu.

c. Endoskopi ginjal : Menentukan pelvis ginjal, mengeluarkan batu yang kecil.


d.

EKG

Menunjukan

ketidakseimbangan

cairan,

asam

basa

dan

elektrolit.

e. Foto Rontgen : Menunjukan adanya di dalam kandung kemih yang abnormal.


f. IVP ( intra venous pylografi ) : Menunjukan perlambatan pengosongan kandung
kemih,membedakan derajat obstruksi kandung kemih divertikuli kandung kemih dan
penebalan

abnormal

otot

kandung

kemih.

g. Vesikolitektomi ( sectio alta ) : Mengangkat batu vesika urinari atau kandung kemih.
h. Litotripsi bergelombang kejut ekstra corporeal : Prosedur menghancurkan batu ginjal
dengan

gelombang

kejut.

i. Pielogram retrograde : Menunjukan abnormalitas pelvis saluran ureter dan kandung kemih.
Diagnosis ditegakan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih, urografi intravena atau
pielografi retrograde. Uji kimia darah dengan urine dalam 24 jam untuk mengukur kalsium,
asam urat, kreatinin, natrium, dan volume total merupakan upaya dari diagnostik. Riwayat
diet dan medikasi serta adanya riwayat batu ginjal, ureter, dan kandung kemih dalam

keluarga di dapatkan untuk mengidentifikasi faktor yang mencetuskan terbentuknya batu


kandung kemih pada klien. ( Tjokro, N.A, et al. 2001 ).
H.

PENATALAKSANAAN

MEDIK

Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu,
mencegah kerusakan nefron, mengidentifikasi infeksi, serta mengurangi obstruksi akibat
batu. Cara yang biasanya digunakan untuk mengatasi batu kandung kemih (Arif Mansjoer,
et.al.2000)

adalah

Vesikolitektomi

atau

Litotripsi

secsio

gelombang

alta.

kejut

ekstrakorpureal.

Ureteroskopi.

Nefrostomi.
I.
Adapun

KOMPLIKASI
komplikasi

dari

batu

kandung

kemih

ini

a.

adalah

Hidronefrosis

Adalah pelebaran pada ginjal serta pengisutan jaringan ginjal, sehingga ginjal menyerupai
sebuah kantong yang berisi kemih, kondisi ini terjadi karena tekanan dan aliran balik ureter
dan urine ke ginjal akibat kandung kemih tidak mampu lagi menampung urine. Sementara
urine terus-menerus bertambah dan tidak bisa dikeluarkan. Bila hal ini terjadi maka, akan
timbul nyeri pinggang, teraba benjolan basar didaerah ginjal dan secara progresif dapat
terjadi

gagal

ginjal.

b.

Uremia

Adalah peningkatan ureum didalam darah akibat ketidak mampuan ginjal menyaring hasil
metabolisme ureum, sehingga akan terjadi gejala mual muntah, sakit kepala, penglihatan
kabur,

kejang,

koma,

nafas

dan

keringat

berbau

c.

urine.

Pyelonefritis

Adalah infeksi ginjal yang disebabkan oleh bakteri yang naik secara assenden ke ginjal dan
kandung kemih. Bila hal ini terjadi maka akan timbul panas yang tinggi disertai mengigil,
sakit
d.

pinggang,

disuria,

Gagal

poliuria,

dan

ginjal

akut

nyeri

ketok
sampai

kosta

vertebra.
kronis

e.

Obstruksi

pada

kandung

kemih

f.

Perforasi

pada

kandung

kemih

g.

Hematuria

kencing

darah

atau

h.
i.

Nyeri
Infeksi

pada

pingang

saluran

ureter

dan

kronis

vesika

urinaria

oleh

batu.

( Soeparman, et.al. 1960 )


BAB

II

KONSEP DASAR KEPERAWATAN


Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik
keperawatan. Hal ini biasa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving ( pemecahan
masalah ) yang memerlukan ilmu, tekhnik, dan ketrampilan interpersonal dan ditujukan untuk
memenuhi

kebutuhan

klien.

(Nursalam,

2001).

Sedangkan yang dikutip dari Iyer, et al.1996 dalam ( Nursalam, 2001 ) mengemukakan lima
tahap

yaitu

pengkajian,

diagnosa,

perencanaan,

pelaksanaan

dan

evaluasi.

1.

PENGKAJIAN

a.

Anamnesa

1)

Identitas

Klien

Meliputi nama klien, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, agama/suku, warga negara, bahasa
yang

digunakan,

pendidikan,

2)

pekerjaan,

alamat

Data

rumah.
Medik

Dikirim oleh siapa dan diagnosa medik saat masuk maupun saat pengkajian.
3)

Keluhan

Utama

Frekuensi berkemih yang meningkat, urine yang masih menetes setelah berkemih, merasa
tidak puas setelah berkemih, sering berkemih pada malam hari, penurunan kekuatan, dan
ukuran pancaran urine, mengedan saat berkemih, tidak dapat berkemih sama sekali, nyeri saat
berkemih, hematuria, nyeri pinggang, peningkatan suhu tubuh disertai menggigil, penurunan
fungsi seksual, keluhan gastrointestinal seperti nafsu makan menurun, mual,muntah dan
konstipasi.
b.

Pemeriksaan

1)

Status

Fisik
Kesehatan

Umum

Meliputi kedaan penyakit, tingkat kesadaran,suara bicara dan tanda-tanda vital.


2)

Kepala

Apakah klien terdapat nyeri kepala, bagaimana bentuknya, apakah terdapat masa bekas
terauma
3)

pada

kepala,

bagaimana

keadaan

rambut

klien.
Muka

Bagaimana bentuk muka, apakah terdapat edema, apakah terdapat paralysis otot muka dan
otot

rahang.

4)

Mata

Apakah kedua mata memiliki bentuk yang berbeda, bentuk alis mata, kelopak mata,
kongjungtiva, sclera, bola mata apakah ada kelainan, apakah daya penglihatan klien masih
baik.
5)

Telinga

Bentuk kedua telinga simetris atau tidak, apakah terdapat sekret, serumen dan benda asing,
membran timpani utuh atau tidak, apakah klien masih dapat mendengar dengan baik.
6)

Hidung

Apakah terjadi deformitas pada hidung klien, apakah settum terjadi diviasi, apakah terdapat
secret,

perdarahan

pada

hidung,

7)

apakah

daya

penciuman

Mulut

masih

baik.
Faring

Mulut dan Faring, apakah tampak kering dan pucat, gigi masih utuh, mukosa mulut apakah
terdapat ulkus, karies, karang gigi, otot lidah apakah masih baik, pada tonsil dan palatum
masih

utuh

atau

tidak.

8)

Leher

Bentuk leher simetis atau tidak, apakah terdapat kaku kuduk, kelenjar limfe terjadi
pembesaran

atau

tidak.

9)
Apakah

Dada
ada

kelainan

paru-paru

dan

10)

jantung.
Abdomen

Bentuk abdomen apakah membuncit, datar, atau penonjolan setempat, peristaltic usus
meningkat atau menurun, hepar dan ginjal apakah teraba, apakah terdapat nyeri pada
abdomen.
11)

Inguinal

/Genetalia/

anus

Apakah terdapat hernia, pembesaran kelejar limfe, bagaimana bentuk penis dan scrotum,
apakah terpasang keteter atau tidak, pada anus apakah terdapat hemoroid, pendarahan pistula
maupun tumor, pada klien vesikollitiasis biasanya dilakukan pemeriksaan rectal toucer untuk
mengetahuan

pembesaran

prostat

dan

12)

konsistensinya.
Ekstermintas

Apakah pada ekstermitas bawah dan atas terdapat keterbatasan gerak, nyeri sendi atau edema,
bagaimana
c.

kekuatan

otot
Pemeriksaan

dan

refleknya
Diagnosis

BNO (Blass Nier Overzicht) untuk mengetahui pembesaran prostat, kandung kemih dan
kelainan

ginjal.

d.

Hasil

1)

Peningkatan

2)

Penelitian

Kultur

sel

Urin

Laboratorium
darah

ditemukan

Putih,

dan
Ureum,

adanya

kuman

diagnostic.
dan

kretinin.

penyebab

infeksi.

3) Pemeriksaan HB, waktu pendarahan dan pembekuan, golongan darah sebagai persiapan
preoperasi.
e.

Potensial

Komplikasi.

Hiponatrium dilusi akibat Transuretal Resection Prostat (TURP), infeksi, komplikasi sirkulasi
termasuk testis, hydrokel, syok, retensi urine akut, ileus para litikum, abses, peningkatan suhu
tubuh,

dan

nyeri

f.

pada

saat

berjalan.

Penatalaksanaan

Medis.

Obsevasi tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu secara rutin pasca operasi, analgesik,
antispasmodic, antibiotik, irigasi kadung kemih kontinu, irigasi kandung kemih intermiten,
terapi iv parenteral.
2.

DIAGNOSA

KEPERAWATAN

POST

OPERATIF

VESIKOLITEKTOMI

a. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi bedah, tekanan dan mitasi
kateter/

badan.

b. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kesulitan


mengontrol

pendarahan,

pembatasan

pemasukan

pra-operasi.

c. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan sekunder terhadap :
prosedur bedah, prosedur alat invasif, alat selama pembedahan kateter, irigasi kandung
kemih.
d. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, refleks
spasme otot : prosedur bedah dan atau tekanan dari balon kandung kemih.
e. Resiko tinggi terhadap komplikasi, hipovolemik berhubungan dengan perdarahan sekunder
terhadap

vesikolitektomi

atau

sectia

alta.

f. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan


dengan salah interpretasi informasi tidak mengenal sumber sumber informasi.
3.

PERENCANAAN

KEPERAWATAN

POST

OPERATIF

1. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanikal: bekuan darah,


edema,

trauma,

prosedur

bedah,

tekanan

dan

iritasi

kateter

atau

balon.

Tujuan

Klien

menunjukan

kemajuan

eliminasi

yang

jernih.

a.

urine

Kriteria
Berkemih

b.

dengan

Jumlah

Evaluasi

adekuat

residu

tanpa
urine

bukti

distensi

kurang

kandung

kemih.

50

ml.

dari

Intevensi

a.

Mandiri

1) Mengkaji keluaran urine dan system kateter atau drainase, khususnya selama irigasi
kandung

kemih.

2) Perhatikan waktu, jumlah berkemih dan ukuran aliran urine di urine bag.
3) Dorong pasien untuk berkemih bila terasa dorongan tetapi tidak lebih dari 2-4 jam per
protocol.
4) Dorong pemasukan cairan 3000 ml sesuai toleransi. Batasi cairan pada malam hari setelah
kateter

dilepas.

b.

Kolaborasi

1) Pertahankan irigasi kandung kemih kontinyu sesuai indikasi pada periode pasca operasi
dini.

Rasional

a.

Mandiri

1) Retensi dapat terjadi karena edema area bedah,bekuan darah, dan spasma kandung kemih
2) Urine yang tertampung harus seimbang atau tidak jauh berbeda dengan pemasukan cairan.
3) Berkemih dengan dorongan mencegah retensi urine.Keterbatasan berkemih untuk tiap 4
jam meningkatkan tonus kandung kemih dan membantu latihan ulang kandung kemih
4) Mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi ginjal untuk kelainan urine, penjadwalan,
masukan cairan menurunkan kebutuhan berkemih/ gangguan tidur selama malam hari
b.

Kolaborasi

1) Mencuci kandung kemih dari bekuan darah dan debris untuk mempertahankan patensi
kateter atau aliran urine
2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kesulitan
mengontrol

a.

Tujuan

perdarahan,
:

pembatasan
Kebutuhan

Kriteria
Tanda-tanda

pemasukan
cairan
Evaluasi
vital

pre
klien

operasi.
terpenuhi.
:
stabil.

b.

Pengisian

c.

kapiler

Membran

d.

Menunjukan

baik.

mukosa
tak

lembab.

ada

perdarahan

aktif.

Intervensi

a.

Mandiri

1)

Awasi

pemasukan

dan

pengeluaran.

2) Inspeksi balutan atau luka drain. Timbang balutan bila di indikasikan, perhatikan
pembentukan

hematoma.

3) Evaluasi warna, konsistensi urine. Contoh: merah terang dengan bekuan merah.
4) Awasi tanda-tanda vital, peningkatan nadi dan pernapasan, penurunan tekanan darah,
diafrosis,

pucat,

perlambatan

pengisian

b.

kapiler

dan

membran

mukosa

kering.

Kolaborasi

1)

Awasi

Contoh

pemeriksaan

laboratorium

Hb/Ht,

jumlah

sesuai

sel

indikasi.

darah

merah.

Rasional

a.

Mandiri

1) Indicator keseimbangan cairan dan kebutuhan pengantian. Pada irigasi kandung kemih,
awasi pentingnya perkiraan kehilangan darah dan secar akurat mengkaji haluaran urine.
2)

Perdarahan

dapat

dibuktikan

atau

disingkirkan

dalam

jaringan

perineum

3) Biasanya mengindikasikan perdarahan arterial dan memerlukan terapi

cepat.

4) Dehidrasi/ hipovolimia memerlukan intervensi cepat untuk mencegah berlanjut ke syok .


b.

Kolaborasi

1) Berguna dalam evaluasi kehilngan darah atau kebutuhan pengantian .


3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan sekunder terhadap
prosedur bedah, prosedur alat invasife alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung
kemih

Tujuan

Tidak

dan

terjadi

infeksi

selama

pemasangan

retensi

Kriteria

kateter
urine.

evaluasi

a. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (merah, bengkak, nyeri bertambah, luka berbau).
b.

Warna

c.

Suhu

urine
dalam

jernih,
batas
Intervensi

dan
normal

tidak
(36.5-37.5

berbau.
).
:

a.

Mandiri

1) Pertahankan system kateter steril : berikan perawatan kateter regule dengan sabun dan air,
berikan

salep

2)

antibiotik

Ambulasi

dengan

disekitarsisi

kateter.

drainase

dependen.

kantung

3) Awasi tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi dan pernapasan cepat,
gelisah,
4)

peka,

Observsi

drainase

dari

luka

b.
1)

disorientasi.
supra

pubik

dan

foley

kateter.

Kolaborasi
Berikan

antibiotik

sepalosporin,

misalnya:

:
cetroxone

sesuai

program

medis.

Rasional

a.

Mandiri

1)

Mencegah

pemasukan

bakteri

dan

infeksi

sepsis

lanjut.

2) Menghindari refleks balik urine,yang dapat memasukan bakteri kedalam kandung kemih.
3) Pasien yang mengalami sistoskopi atau TUR prostat berisiko untuk syok bedah septic
sehubungan

dengan

meanipulasi/

instrumentasi.

4) Adanya drain, insisi suprapubik meningkatkan risiko untuk infeksi, yang di indikasikan
dengan

eritemia,

drainase

b.

purulen.

Kolaborasi

1) Mungkin diberikan secara profilaksis sehubungan dengan peningkatan resiko infeksi pada
vesikolitotomi.
4. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, refleks
spasme

otot:

Tujuan

prosedur
Rasa

nyeri

dan

atau

berkurang

tekanan
atau

dari

hilang

Kriteria

a.

Klien

balon

setelah

kandung

diberikan

kemih.

perawatan.

Evaluasi

nyeri

berkurang.

mengatakan

b.

Raut

muka

tampak

c.

Skala

nyeri

berkurang

rileks.
0-4.

Intervensi

a.

Mandiri

1)

Kaji

nyeri,

perhatikan

loksi,

intensitas

(skala

0-10).

2) Pertahankan patensi kateter dan sistemdrainase. Pertahankan selang bebas dari lekukan dan
bekuan.
3)

Tingkatkan

pemasukan

cairan

3000

ml

hari

sesuai

toleransi.

4) Berikan tindakan kenyamanan dan aktivitas terapeutik. Dorong penggunaan tekhnik


relaksasi,

termasuk

latihan

nafas

b.

dalam,

visualisasi,

pedoman

imajinasi.

Kolaborasi

1)

Berikan

obat

sesuai

instruksi

:
untuk

nyeri

dan

spasme

Rasional

a.

Mandiri

1) Nyeri tajam, intermiten dengan dorongan berkemih / pasase urine sekitar kateter
menunjukan spasme kandung kemih, yang cendrung lebih berat pada pendekatan suprapubik
atau

TUR

2) Mempertahankan fungsi kateter dan system drainase, menurunkan resiko distensi / spasme
kandung

kemih

3) Menurunkan iritasi dengan mempertahankan aliran cairan konstan kedalam mukosa


kandung

kemih

4) Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan


kamampuan

koping.

b.

Kolaborasi

1) Obat anti spasmodic mencegah spasme kandung kemih. Obat analgesik mengurangi nyeri
insisi.
5. Resiko terhadap komplikasi hipovolemik berhubungan dengan perdarahan sekunder
terhadap

vesikolitotomi/
Tujuan

Kriteria

Evalusi

section

Tidak
:

Tidak

ada

alta.

tampak

tanda-tanda

perdarahan,

infeksi,

komplikasi.

dan

inkontinensia

urine.

Intervensi

a.

Mandiri

1)

Pantau

Tekanan
Masukan
Warna

darah,
dan

nadi,

dan
haluaran

pernafasan
tiap

tiap

24
8

jam.
jam.
urine.

2) Sediakan diet makan tinggi serat dan memberi obat untuk memudahkan defekasi jika ada
riwayat

konstipasi.

3) Pastikan masukan cairan setiap hari paling sedikit 2-3 liter tanpa ada kontraindikasi.
4) Lakukan kewaspadaan umum (cuci tangan sebelum dan sesudah merawat pasien, gunakan

sarung tangan ketika kontak dengan darah atau cairan yang keluar dari tubuh pasien) pada
semua

prosedur

tindakan

b.

keperawatan.

Kolaborasi

1)

Berikan

terapi

antibiotik

dan

:
mengevaluasi

efektivitas

obat.

Rasional

a.

Mandiri

1) Deteksi awal terhadap komplikasidengan intervensi yang tepat dapat mencegah kerusakan
jaringan

yang

permanen.

2) Dengan peningkatan penekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan.
3) Cairan membantu mendistribusikan obat-obatan keseluruh tubuh. Resikoterjadi ISK
dikurangi

bila

aliran

urine

encer

konstan

dipertahankan

melalui

ginjal.

4) Pemberian perawatan menjadi penyebab terbesar infeksi nosokomial. Kewaspadaan umum


melindungi

pemberian

perawatan

b.

dan

pasien.

Kolaborasi

1) Antibiotik diperlukan untuk mencegah dan mengatasi infeksi.


6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, proknosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan

salah

Tujuan

Klien

dan

interprestasi.

keluarga

kliean

mengerti

secara

umum

penyakitnya.

Kriteria

sederhana

Evaluasi
tentang

Klien

proses

dan

keluarga

penyakit,

dapat

pencegahan,

menjelaskan
dan

secara

pengobatannya.

Intervensi

a.

Mandiri

1)

Kaji

implementasi

prosedur

harapan

masa

depan.

2) Tekankan perlunya nutrisi yang baik : dorong konsumsi buah, meningkatkan diet tinggi
serat.
3) Diskusikan pembatasan aktivitas awal, contoh: menghindari mengangkat berat, latihan
keras, duduk/ mengendarai mobil terlalu lama, memanjat lebih dari dua tingkat tangga
sekaligus.
4)

Dorong

kesinambungan

latihan

perineal.

5) Instruksikan perawatan kateter urin bila ada identifikasi sumber alat atau dukungan.

Rasional

a.

Mandiri

1) Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihn informasi.


2) Meningkatkan penyembuhan dan mencegah komplikasi, menurunkan resiko perdarahan
pasca

operasi

3) Peningkatan tekanan abdominal/ meregangkan yang menempatkan stress pada kandung


kemih
4)

dan
Membantu

prostat,
kontrol

menimbulkan

urinaria

dan

resikoperdarahan

menghilangkan

inkontinesia.

5) Meningkatkan kemandirian dan kompetensi dalam perawatan diri.


4.

PERENCANAAN

PULANG.

a. Diet tinggi kalori dan protein yakni nasi, telur, daging, susu, dan lain-lain untuk tenaga dan
proses

penyembuhan.

b. Diet minum banyak air putih 3000 cc / hari dan hindari minum kopi,alcohol dan yang
bersoda

serta

makanlah

makanan

yang

banyak

mengandung

serat.

c. Mendorong klien agar tidak melakukan pekerjaan yang berat, buang air kecil yang teratur
dan mendorong klien dalam mematuhi program pemulihan kesehatan dan minum obat sesuai
dengan

pesanan

dokter.

d. Memberikan penjelasan mengenai pengertian, penyebab, tanda-tanda dan gejala


penatalaksanaan

dan

kompliksi

penyakit.

e. Rencana kontrol ulang uktuk mengetahui perkembangan pemulihan penyakit saat di


rumah.
BAB

III

PENUTUP
A.

KESIMPULAN

1.

Definisi

a. Vesikolitiasis adalah penyumbatan saluran kemih khususnya pada vesika urinaria atau
kandung kemih oleh batu penyakit ini juga disebut batu kandung kemih.( Smeltzer and Bare,
2000

).

b. Vesikolitiasis adalah batu yang terjebak di vesika urinaria yang menyebabkan gelombang
nyeri yang luar biasa sakitnya yang menyebar ke paha, abdomen dan daerah genetalia.
Medikasi yang diketahui menyebabkan pada banyak klien mencakup penggunaan antasid,
diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin dosis tinggi yang berlebihan. Batu vesika urinaria
terutama mengandung kalsium atau magnesium dalam kombinasinya dengan fosfat, oksalat,
dan

zat-zat

lainnya.

(Brunner

and

Suddarth,

2001).

c. Batu kandung kemih adalah batu yang tidak normal di dalam saluran kemih yang
mengandung komponen kristal dan matriks organik tepatnya pada vesika urinari atau
kandung kemih. Batu kandung kemih sebagian besar mengandung batu kalsium oksalat atau
fosfat ( Prof. Dr. Arjatm T. Ph.D. Sp. And dan dr. Hendra Utama, SPFK, 2001 ).
2.

Etiologi

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan batu kandung kemih adalah :


a.

Faktor

Endogen

Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hyperkalsiuria dan hiperoksalouria.


b.

Faktor

Eksogen.

Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum.
c.

Faktor

lainnya

Infeksi, stasis dan obstruksi urine, keturunan, air minum, pekerjaan, makanan atau penduduk
yang vegetarian lebih sering menderita batu saluran kencing atau buli-buli ( Syaifuddin, 1996
).
Batu kandung kemih dapat disebabkan oleh kalsium oksalat atau agak jarang sebagai kalsium
fosfat. Batu vesika urinaria kemungkinan akan terbentuk apabila dijumpai satu atau beberapa
faktor pembentuk kristal kalsium dan menimbulkan agregasi pembentukan batu proses
pembentukan batu kemungkinan akibat kecenderungan ekskresi agregat kristal yang lebih
besar dan kemungkinan sebagai kristal kalsium oksalat dalam urine. Dan beberapa medikasi
yang diketahui menyebabkan batu ureter pada banyak klien mencakup penggunaan obatobatan yang terlalu lama seperti antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin dosis tinggi.
( Prof. Dr. Arjatmo T. Ph. D.Sp. And. Dan dr. Hendra U., SpFk, 2001 ).
3.

Penatalaksanaan

Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu,
mencegah kerusakan nefron, mengidentifikasi infeksi, serta mengurangi obstruksi akibat
batu. Cara yang biasanya digunakan untuk mengatasi batu kandung kemih (Arif Mansjoer,
et.al.2000)

Nefrostomi.

adalah
Vesikolitektomi
Litotripsi

atau
gelombang

secsio
kejut

alta.
ekstrakorpureal.
Ureteroskopi.

DAFTAR
http://www.google.com (

PUSTAKA
diakses

pada

Senin,

http://www.blogspot.com ( diakses pada Senin, 1 April 2012 )

April

2012