Anda di halaman 1dari 32

Mioma Uteri

Ker

Disusun oleh:
Maria Amelinda
11.2013.260

Dosen Pembimbing:
dr. Raharjo, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RS BETHESDA LEMPUYANGWANGI - JOGJAKARTA
1 SEPTEMBER 2014 8 NOVEMBER 2014

PENDAHULUAN
Latar belakang
Mioma uteri adalah suatu tumor jinak yang tumbuh dalam otot uterus. Biasa juga
disebut fibromioma uteri, leiomioma uteri atau uterine fibroid. Mioma uteri bukanlah suatu
keganasan dan tidak juga berhubungan dengan keganasan. Mioma bisa menyebabkan gejala
yang luas termasuk perdarahan menstruasi yang banyak dan penekanan pada pelvis.(1,3)
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai
sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak. Mioma uteri belum
pernah dilaporkan terjadi sebelum menarke, sedangkan setelah menopause hanya kira-kira
10% mioma yang masih bertumbuh. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20 30% dari
seluruh wanita. Di Indonesia mioma uteri ditemukan pada 2,39 11,7% pada semua
penderita ginekologi yang dirawat. Tumor ini paling sering ditemukan pada wanita umur 35
45 tahun (kurang lebih 25%) dan jarang pada wanita 20 tahun dan wanita post menopause.
Wanita yang sering melahirkan akan lebih sedikit kemungkinan untuk berkembangnya
mioma ini dibandingkan dengan wanita yang tak pernah hamil atau hanya 1 kali hamil.
Statistik menunjukkan 60% mioma uteri berkembang pada wanita yang tak pernah hamil atau
hanya hamil 1 kali.(2,3)
Perihal penyebab pasti terjadi tumor mioma belum diketahui. Mioma uteri mulai
tumbuh dibagian atas (fundus) rahim dan sangat jarang tumbuh dimulut rahim. Bentuk tumor
bisa tunggal atau multiple (banyak), umumnya tumbuh didalam otot rahim yang dikenal
dengan intramural mioma. Tumor mioma ini akan cepat memberikan keluhan, bila mioma
tumbuh kedalam mukosa rahim, keluhan yang biasa dikeluhkan berupa perdarahan saat siklus
dan diluar siklus haid. Sedangkan pada tipe tumor yang tumbuh dikulit luar rahim yang
dikenal dengan tipe subserosa tidak memberikan keluhan perdarahan, akan tetapi seseorang
baru mengeluh bila tumor membesar yang dengan perabaan didaerah perut dijumpai benjolan
keras, benjolan tersebut kadang sulit digerakkan bila tumor sudah sangat besar.(4)

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang
mioma uteri, dari definisi hingga penatalaksanaan yang tepat bila mendapat kasus mioma
uteri di praktek klinis.

Mioma Uteri

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi mioma uteri
Mioma uteri adalah tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi padat kenyal,
batas jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter atau multipel. Mioma uteri
terdiri dari sel-sel otot polos, tetapi juga jaringan ikat. Sel-sel ini tersusun dalam bentuk
gulungan, yang bila membesar akan menekan otot uterus normal. 1,3,5
Tumor ini juga dikenal dengan istilah fibromioma uteri, leiomioma uteri, atau uterine
fibroid. Mioma uteri bukanlah suatu keganasan dan tidak juga berhubungan dengan
keganasan. 1,3,5

Epidemiologi mioma uteri


Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai
sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak. Mioma uteri belum
pernah dilaporkan terjadi sebelum menarke, sedangkan setelah menopause hanya kira-kira
10% mioma yang masih bertumbuh. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20 30% dari
seluruh wanita. Di Indonesia mioma uteri ditemukan pada 2,39 11,7% pada semua
penderita ginekologi yang dirawat. Tumor ini paling sering ditemukan pada wanita umur 35
45 tahun (kurang lebih 25%) dan jarang pada wanita 20 tahun dan wanita post menopause.
Wanita yang sering melahirkan akan lebih sedikit kemungkinan untuk berkembangnya
mioma ini dibandingkan dengan wanita yang tak pernah hamil atau hanya 1 kali hamil.
Statistik menunjukkan 60% mioma uteri berkembang pada wanita yang tak pernah hamil atau
hanya hamil 1 kali. Prevalensi meningkat apabila ditemukan riwayat keluarga, ras,
kegemukan dan nullipara. 2,3,6

Etiologi mioma uteri


Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan
penyakit multifaktorial. Dipercaya bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang
dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. Sel-sel tumor mempunyai
abnormalitas kromosom lengan 12q13-15. 4,5
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di samping faktor predisposisi
genetik, adalah estrogen, progesteron dan human growth hormone.5
1. Estrogen
Mioma Uteri

Beberapa ahli dalam penelitiannya menemukan bahwa pada otot rahim yang
berubah menjadi mioma ditemukan reseptor estrogen yang lebih banyak daripada otot
rahim normal. Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Seringkali terdapat
pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen.
Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium. Adanya
hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti endometriosis
(50%), perubahan fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%) dan
hiperplasia endometrium (9,3%). Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan
anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. 17B hidroxydesidrogenase: enzim ini
mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas
enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor
estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal.
2. Progesteron
Progesteron

merupakan

antagonis

natural

dari

estrogen.

Progesteron

menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B


hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
3. Hormon pertumbuhan
Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang
mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode ini,
memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan
mungkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen.

beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri,,
yaitu : 4,5
1.

Umur
Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada
wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis
antara 35-45 tahun.

2.

Paritas
Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil, tetapi sampai
saat ini belum diketahui apakah infertil menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya
mioma uteri yang menyebabkan infertil, atau apakah kedua keadaan ini saling
mempengaruhi.

Mioma Uteri

3.

Faktor ras dan genetik


Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadiaan mioma uteri
tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat
keluarga ada yang menderita mioma.

4.

Fungsi ovarium
Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana
mioma uteri muncul setelah menarke, dan mengalami regresi setelah menopause.
Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat
mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin
berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor
pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor
pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor yang distimulasi oleh estrogen.
Anderson dkk, telah mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen
lebih banyak pada mioma daripada miometrium normal dan mungkin penting pada
perkembangan mioma. Namun bukti-bukti masih kurang meyakinkan karena tumor ini
tidak mengalami regresi yang bermakna setelah menopause sebagaimana yang
disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang berkembang setelah menopause
bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini.

5.

Indeks Massa Tubuh (IMT)


Obesitas juga

berperan

dalam

terjadinya

mioma

uteri.

Hal

ini mungkin

berhubungan dengan konversi hormon androgen menjadi estrogen oleh enzim


aromatease di jaringan lemak (Djuwantono, 2005). Hasilnya terjadi peningkatan jumlah
estrogen tubuh yang mampu meningkatkan prevalensi mioma uteri (Parker, 2007).

Patofisiologi mioma uteri


Mioma merupakan monoclonal dengan tiap tumor merupakan hasil dari penggandaan
satu sel otot. Etiologi yang diajukan termasuk di dalamnya perkembangan dari sel otot uterus
atau arteri pada uterus, dari transformasi metaplastik sel jaringan ikat, dan dari sel-sel
embrionik sisa yang persisten. Penelitian terbaru telah mengidentifikasi sejumlah kecil gen
yang mengalami mutasi pada jaringan ikat tapi tidak pada sel miometrial normal. Penelitian
menunjukkan

bahwa

pada

40%

penderita

ditemukan

aberasi

kromosom

yaitu

t(12;14)(q15;q24). 5
Mioma Uteri

Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell Nest atau teori genioblast. Percobaan
Lipschultz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan ternyata menimbulkan tumor
fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen. Efek
fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progesteron atau testosteron.
Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat
mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan
dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat
bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin
like growth factor 1 yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah mendemonstrasikan
munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma daripada
miometrium normal dan mungkin penting pada perkembangan mioma. Namun bukti-bukti
masih kurang meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah
menopause sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang
berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini.5

Klasifikasi Mioma Uteri


Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena.
1. Lokasi
Cervical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi.
Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius.
Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala.1,3,5

2. Lapisan Uterus
Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu
:1,3,5
Mioma Uteri Submukosa
Berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini di
jumpai 6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan
gangguan perdarahan. Mioma uteri jenis lain meskipun besar mungkin belum
memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering
memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma submukosa umumnya dapat
diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya benjolan waktu kuret, dikenal
sebagai Currete bump. Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada
mioma submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma
Mioma Uteri

submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke
vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang di lahirkan, yang
mudah mengalami infeksi, ulserasi, dan infark. Pada beberapa kasus, penderita
akan mengalami anemia dan sepsis karena proses di atas.
Mioma Uteri Subserosa
Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula
sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Pertumbuhan
ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai mioma
intraligamenter. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai
suatu massa. Perlengketan dengan usus, omentum atau mesenterium di sekitarnya
menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum.
Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus, sehingga mioma akan terlepas dari
uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini
dikenal sebagai jenis parasitik.
Mioma Uteri Intramural
Disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Biasanya multipel apabila masih kecil
tidak merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjolbenjol, uterus bertambah besar dan berubah bentuknya. Mioma sering tidak
memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa
tumor di daerah perut sebelah bawah. Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma
subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. Di dalam otot rahim
dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan otot rahim dominan).
Secara makroskopis terlihat uterus berbenjol-benjol dengan permukaan halus. Pada
potongan, tampak tumor berwarna putih dengan struktur mirip potongan daging
ikan. Tumor berbatas tegas dan berbeda dengan miometrium yang sehat, sehingga
tumor mudah dilepaskan. Konsistensi kenyal, bila terjadi degenerasi kistik maka
konsistensi menjadi lunak. Mioma yang terletak pada dinding depan uterus, dalam
pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih keatas, sehingga
dapat menimbulkan keluhan miksi.
Mioma intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke
ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus. Jarang
Mioma Uteri

sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada serviks
dapat menonjol ke dalam satu saluran serviks sehingga ostium uteri eksternum
berbentuk bulan sabit. Apabila mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri
dari berkas otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti kumparan (whorle like
pattern) dengan pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak
karena pertumbuhan sarang mioma ini.
Bila terjadi kalsifikasi maka konsistensi menjadi keras. Secara histologik tumor
ditandai oleh gambaran kelompok otot polos yang membentuk pusaran, meniru
gambaran kelompok sel otot polos miometrium. Fokus fibrosis, kalsifikasi, nekrosis
iskemik dari sel yang mati. Setelah menopause, sel-sel otot polos cenderung
mengalami atrofi, ada kalanya diganti oleh jaringan ikat. Pada mioma uteri dapat
terjadi perubahan sekunder yang sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh
karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan ini terjadi
secara sekunder dari atropi postmenopausal, infeksi, perubahan dalam sirkulasi atau
transformasi maligna.

Gambar 1. Jenis-jenis mioma uteri. 1,3

Gejala Klinis Mioma Uteri


Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang timbul sangat tergantung pada
tempat sarang mioma ini berada serviks, intramural, submukus, subserus, besarnya tumor,
perubahan dan komplikasi yang terjadi. Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut :2,4
Mioma Uteri

1) Perdarahan abnormal
Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoragia dan dapat
juga terjadi metroragia. Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara
lain adalah :
-

Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium sampai adeno


karsinoma endometrium.

Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa.

Atrofi endometrium di atas mioma submukosum.

Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara
serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya
dengan baik.

2) Rasa nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah
pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran
mioma submukosum yang akan dilahirkan, pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis
servikalis dapat menyebabkan juga dismenore.
3) Gejala dan tanda penekanan
Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan pada kandung
kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio urine, pada
ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum dapat menyebabkan
konstipasi, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe dipanggul dapat menyebabkan
edema tungkai dan nyeri panggul.
4) Infertilitas dan abortus
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars intertisialis
tuba, sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena
distorsi rongga uterus. Rubin (1958) menyatakan bahwa apabila penyebab lain infertilitas
sudah disingkirkan, dan mioma merupakan penyebab infertilitas tersebut, maka
merupakan suatu indikasi untuk dilakukan miomektomi.

Diagnosis Mioma Uteri


Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan: 2,4
1.

Anamnesis
-

Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama.

Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar.

Mioma Uteri

2.

Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah.

Pemeriksaan fisik
-

Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah.

Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor


tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi.

3.

Konsistensi padat, kenyal, mobile, permukaan tumor umumnya rata.

Gambaran Klinis
Pada umumnya wanita dengan mioma tidak mengalami gejala. Gejala yang terjadi
berdasarkan ukuran dan lokasi dari mioma yaitu :
a. Menoragia (menstruasi dalam jumlah banyak)
b. Perut terasa penuh dan membesar
c. Nyeri panggul kronik (berkepanjangan)
Nyeri bisa terjadi saat menstruasi, setelah berhubungan seksual, atau ketika terjadi
penekanan pada panggul. Nyeri terjadi karena terpuntirnya mioma yang bertangkai,
pelebaran leher rahim akibat desakan mioma atau degenerasi (kematian sel) dari
mioma. Gejala lainnya adalah:
- Gejala gangguan berkemih akibat mioma yang besar dan menekan saluran kemih
menyebabkan gejala frekuensi (sering berkemih) dan hidronefrosis (pembesaran
ginjal)
- Penekanan rektosigmoid (bagian terbawah usus besar) yang mengakibatkan
konstipasi (sulit BAB) atau sumbatan usus
- Prolaps atau keluarnya mioma melalui leher rahim dengan gejala nyeri hebat, luka,
dan infeksi
Bendungan pembuluh darah vena daerah tungkai serta kemungkinan tromboflebitis
sekunder karena penekanan pelvis (rongga panggul)

4.

Pemeriksaan luar
Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat
terbatas atau bebas.

5.

Pemeriksaan dalam
Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas.

6.

Pemeriksaan penunjang
-

Pemeriksaan laboratorium.
Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan
perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang

Mioma Uteri

mioma menghasilkan eritropoetin yang pada beberapa kasus menyebabkan


polisitemia. Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga
akibat penekanan mioma terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan
balik ureter dan kemudian menginduksi pembentukan eritropoetin ginjal.
-

USG, CT scan, MRI


Menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometrium dan keadaan
adnexa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun
MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus
sebaik USG.

Foto BNO/IVP
Pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi
ginjal dan perjalanan ureter.

Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai


dengan infertilitas.

Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.

Penatalaksanaan Mioma Uteri


Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan bedah. Penanganan mioma uteri
tergantung pada umur, status fertilitas, paritas, lokasi dan ukuran tumor, sehingga biasanya
mioma yang ditangani yaitu yang membesar secara cepat dan bergejala serta mioma yang
diduga menyebabkan fertilitas. 2,7,8
Secara umum, penanganan mioma uteri terbagi atas penanganan konservatif dan
operatif :7,8
1. Konservatif
Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan bedah ataupun medikamentosa
terutama bila mioma itu masih kecil dan tidak menimbulkan gangguan atau keluhan.
Penanganan konservatif, bila mioma yang kecil pada pra dan post menopause tanpa
gejala. Cara penanganan konservatif sebagai berikut :
-

Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.

Bila anemia, Hb < 8 g% transfusi PRC.

Pemberian zat besi.

Penggunaan agonis GnRH leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari 1-3 menstruasi
setiap minggu sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan pengerutan tumor dan

Mioma Uteri

10

menghilangkan gejala. Obat ini menekan sekresi gonadotropin dan menciptakan


keadaan hipoestrogenik yang serupa yang ditemukan pada periode postmenopause.
Efek maksimum dalam mengurangi ukuran tumor diobservasi dalam 12 minggu.
Terapi agonis GnRH ini dapat pula diberikan sebelum pembedahan, karena
memberikan beberapa keuntungan: mengurangi hilangnya darah selama pembedahan,
dan dapat mengurangi kebutuhan akan transfusi darah.
-

Progestin dan antiprogestin dilaporkan mempunyai efek terapeutik. Kehadiran tumor


dapat ditekan atau diperlambat dengan pemberian progestin dan levonorgestrol
intrauterin.8

2. Operatif
Penanganan operatif, bila:8
-

Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.

Pertumbuhan tumor cepat.

Mioma subserosa bertangkai dan torsi.

Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya.

Hipermenorea pada mioma submukosa.

Penekanan pada organ sekitarnya.

Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa :


a. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus.
Dilakukan pada penderita infertil atau yang masih menginginkan anak atau
mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Apabila miomektomi ini
dikerjakan karena keinginan memperoleh anak, maka kemungkinan akan terjadi
kehamilan adalah 30-50%. Sejauh ini tampaknya aman, efektif, dan masih menjadi
pilihan terbaik. Miomektomi sebaiknya tidak dilakukan bila ada kemungkinan
terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus, juga dihindari pada masa
kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada tumor dengan tangkai dan jelas yang
dengan mudah dapat dijepit dan diikat. Bila miomektomi menyebabkan cacat yang
menembus atau sangat berdekatan dengan endometrium, kehamilan berikutnya harus
dilahirkan dengan seksio sesarea.
Kriteria preoperasi menurut American College of Obstetricians Gynecologists
(ACOG) adalah sebagai berikut :
Mioma Uteri

11

Kegagalan untuk hamil atau keguguran berulang.

Terdapat leiomioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas.

Apabila tidak ditemukan alasan yang jelas penyebab kegagalan kehamilan dan
keguguran yang berulang.

b. Histerektomi
Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang umumnya tindakan terpilih.
Histerektomi dapat dilaksanakan per-abdominal atau per-vaginam. Yang akhir ini
jarang dilakukan karena uterus harus lebih kecil dari telor angsa dan tidak ada
perlekatan dengan sekitarnya. Adanya prolapsus uteri akan mempermudah prosedur
pembedahan. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan
timbulnya karsinoma servisis uteri. Histerektomi supravaginal hanya dilakukan apabila
terdapat kesukaran teknis dalam mengangkat uterus.
Histerektomi dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita
yang memiliki leiomioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria
ACOG untuk histerektomi adalah sebagai berikut:

Terdapatnya 1 sampai 3 leiomioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar
dan dikeluhkan oleh pasien.

Perdarahan uterus berlebihan :


Perdarahan yang banyak bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih
dari 8 hari.
Anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.

Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma meliputi :


Nyeri hebat dan akut.
Rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis.
Penekanan buli-buli dan frekuensi urine yang berulang-ulang dan tidak
disebabkan infeksi saluran kemih.

c. Penanganan Radioterapi
-

Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient).

Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu.

Bukan jenis submukosa.

Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum.

Tidak dilakukan pada wanita muda, sebab dapat menyebabkan menopause.

Maksud dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan.

Mioma Uteri

12

Mioma

Besar < 14 mgg

Tanpa keluhan

Konservatif

Besar > 14 mgg

Dengan keluhan

Operatif

Gambar 2. Bagan Penatalaksanaan Mioma Uteri.8

Komplikasi
Perubahan sekunder pada mioma uteri yang terjadi sebagian besar bersifat degenerasi.
Hal ini oleh karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan sekunder
tersebut antara lain: 2

Atrofi
Sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi kecil.

Degenerasi hialin
Perubahan ini sering terjadi pada penderita berusia lanjut. Tumor kehilangan
struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya
sebagian kecil dari padanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot
dari kelompok lainnya.

Degenerasi kistik
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma menjadi
cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi agar-agar, dapat
juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai
limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar dibedakan dari kista
ovarium atau suatu kehamilan.

Mioma Uteri

13

Degenerasi membatu (calcereus degeneration)


Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam
sirkulasi. Mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.

Degenerasi merah (carneus degeneration)


Perubahan ini terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis : diperkirakan karena
suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat
dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan pigmen
hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada
kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus
membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran
tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai.

Degenerasi lemak
Jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin.
Komplikasi yang terjadi pada mioma uteri:2

1. Degenerasi ganas.
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh
mioma; serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya
baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan
akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi
pembesaran sarang mioma dalam menopause.
2. Torsi (putaran tangkai).
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut.
Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi.
3. Nekrosis dan infeksi.
Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan karena
gangguan sirkulasi darah padanya.

Mioma uteri dan kehamilan


Pengaruh mioma uteri pada kehamilan adalah :1
-

Kemungkinan abortus lebih besar karena distorsi kavum uteri khususnya pada mioma
submukosum.

Dapat menyebabkan kelainan letak janin

Mioma Uteri

14

Dapat menyebabkan plasenta previa dan plasenta akreta

Dapat menyebabkan HPP akibat inersia maupun atonia uteri akibat gangguan mekanik
dalam fungsi miometrium

Dapat menganggu proses involusi uterus dalam masa nifas

Jika letaknya dekat pada serviks, dapat menghalangi kemajuan persalinan dan
menghalangi jalan lahir.
Pengaruh kehamilan pada mioma uteri adalah :1

Mioma membesar terutama pada bulan-bulan pertama karena pengaruh estrogen yang
meningkat

Dapat terjadi degenerasi merah pada waktu hamil maupun masa nifas seperti telah
diutarakan sebelumnya, yang kadang-kadang memerlukan pembedahan segera guna
mengangkat sarang mioma. Namun, pengangkatan sarang mioma demikian itu jarang
menyebabkan perdarahan.

Meskipun jarang, mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi dengan gejala dan
tanda sindrom akut abdomen.

Terapi mioma dengan kehamilan adalah konservatif karena miomektomi pada


kehamilan sangat berbahaya disebabkan kemungkinan perdarahan hebat dan dapat juga
menimbulkan abortus. Operasi terpaksa jika lakukan kalau ada penyulit-penyulit yang
menimbulkan gejala akut atau karena mioma sangat besar. Jika mioma menghalangi jalan
lahir, dilakukan SC (Sectio Caesarea) disusul histerektomi tapi kalau akan dilakukan
miomektomi lebih baik ditunda sampai sesudah masa nifas.7,8

Prognosis
Histerektomi dengan mengangkat seluruh mioma adalah kuratif. Miomektomi yang
ekstensif dan secara signifikan melibatkan miometrium atau menembus endometrium, maka
diharuskan sektio sesar pada persalinan berikutnya. Mioma yang kambuh kembali setelah
miomektomi terjadi pada 15-40% pasien dan 2/3-nya memerlukan tindakan lebih lanjut.2

Mioma Uteri

15

LAPORAN KASUS
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS OBSTETRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Jl. Arjuna Utara No. 6. Kebon Jeruk- Jakarta Barat
Post Partum Haemorrhage et causa Retained Plasenta
SMF GINEKOLOGI RS BETHESDA LEMPUYANGWANGI JOGJAKARTA

Nama

: Maria Amelinda

Tanda tangan

NIM

: 11.2013.160

Dr pembimbing / penguji

: dr. H. Raharjo, Sp.OG

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap: Ny. N

Pekerjaan : Tidak bekerja

Jenis kelamin : Perempuan

Pendidikan : S1

Suku bangsa : Jawa

No. registrasi : 354137

Tanggal lahir : 28 Maret 1973

Tanggal masuk : 25 Juli 2013

Alamat : Aspol Jl. Kyai Mojo 3 RT 20/5,


Bumijo, Petis, Jogjakarta
Agama : Islam

Dokter yang memeriksa : dr. Estya, Sp.OG


Status perkawinan : Belum Menikah

A. ANAMNESIS
Diambil dari

: Autoanamnesis

Tanggal

: 22 September 2014

Jam

: 11.00 WIB

Keluhan utama :
Perut terasa sakit sekali sejak 2 hari yang lalu.
Keluhan tambahan :
Badan terasa lemas
Mioma Uteri

16

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke rumah sakit pada tanggal 22 September 2014 dengan keluhan perut
terasa sakit sekali sejak 2 hari yang lalu. Pasien mengatakan bahwa sakit perut ini selalu
dirasakan setiap kali haid disertai darah haid yang banyak.
Pasien juga mengeluhkan adanya rasa penuh di perut (kemeng) serta nyeri dan berat
pada perut bagian bawah. Saat ini os sedang dalam masa haid dan sudah berjalan selama 3
hari. Gangguan BAK berupa BAK sering, sedikit-sedikit, nyeri saat/ sebelum/ sesudah
BAK tidak ada. Sulit buang air besar dan nyeri saat BAB tidak ada.
Sebelas tahun yang lalu, pasien pernah melakukan operasi mioma uteri di RS S. Saat
itu pasien dianjurkan untuk melakukan operasi histerektomi akan tetapi pasien menolak
karena pasien belum menikah.

Riwayat Haid
Menarche

: 12 tahun

Siklus haid

: 28 hari

Lamanya

: 4 hari

Banyaknya

: banyak ( 4 pembalut/hari)

Riwayat Perkawinan
Belum menikah

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran


Tidak ada

Riwayat Kontrasepsi (Keluarga Berencana)


Tidak ada

Penyakit Dahulu
( ) Cacar

( ) Malaria

( ) Batu ginjal/saluran kemih

( ) Cacar air

( ) Disentri

( ) Burut ( hernia )

( ) Difteri

( ) Hepatitis

( ) Batuk rejan

( ) Tifus abdominalis

( ) Wasir

( ) Campak

( ) Diabetes

( ) Sifilis

( ) Alergi

( ) Tonsilitis

( ) Gonore

( ) Tumor

Mioma Uteri

17

( ) Hipertensi

( ) Penyakit pembuluh

( ) Demam rematik akut

( ) Ulkus ventrikuli

( ) Pendarahan otak

( ) Pneumonia

( ) Ulkus duodeni

( ) Psikosis

( ) Gastritis

( ) Neurosis

( ) Tuberkulosis

( ) Batu empedu

( ) Jantung

( + ) Operasi

( ) Kecelakaan

Riwayat keluarga
Hubungan

Umur

Jenis kelamin

Keadaan

Penyebab

kesehatan

meninggal

Ayah

63 tahun

Laki-laki

Hidup

Ibu

61 tahun

Perempuan

Hidup

Ada kerabat yang menderita :


Penyakit

Ya

Tidak

Alergi

Asma

Tuberkulosis

HIV

Hepatitis B

Hepatitis C

Hipertensi

Cacat bawaan

Lain lain

Hubungan

B. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum

: Sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan Darah

: 100 / 60 mmHg

Nadi

: 76 x/ menit ( kuat angkat, teratur)

Suhu

: 36,30C

Pernafasaan

: 20 x/ menit. Abdominal-torakal

Tinggi Badan

: 162 cm

Mioma Uteri

18

Aspek kejiwaan
Tingkah laku

: tenang

Alam perasaan

: biasa

Proses pikir

: wajar

Kulit
Warna

: sawo matang

Effloresensi

: tidak ada

Jaringan parut

: ada

Pigmentasi

: tidak ada

Pertumbuhan rambut : normal


Pembuluh darah

: tidak menonjol dan melebar

Suhu raba

: normal, kulit lembab

Keringat

: setempat yaitu di kepala dan leher

Turgor

: baik

Lapisan lemak

: tebal

Ikterus

: tidak ada

Edema

: tidak ada

Kepala
Normocephali, Rambut hitam, distribusi merata
Mata
Pupil isokor 3mm, reflek cahaya (+/+), Konjungtiva pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-),
Udem palpebra (-/-)
Telinga
Selaput pendengaran utuh, Serumen (-), Perdarahan (-)
Hidung
Sekret (-), Deviasi septum (-), Pernapasan cuping hidung (-), epistaksis (-)
Mulut
Lidah dalam batas normal, Pursed Lips breathing (-)
Leher
Tiroid dan KGB tidak teraba, Deviasi trakea (-), Hipertrofi otot pernapasan tambahan
(-), Retraksi suprasternal (-), JVP 5-2 cm H2O

Mioma Uteri

19

Dada (Thorax)
Inpeksi
Bentuk

: Normal, pernafasan abdomino-torakal.

Paru-paru (Pulmo)
Kanan
Inspeksi

Anterior

Kiri

Bentuk : Pectus pectinatum, sela iga Bentuk : Pectus pectinatum, sela iga
tidak melebar, retraksi sela iga (-)

tidak melebar, retraksi sela iga (-)

Pergerakan simetris dalam keadaan Pergerakan simetris dalam keadaan


statis dan dinamis

statis dan dinamis

Kulit berwarna sawo matang, lesi (-)

Kulit berwarna sawo matang, lesi (-)

Tipe pernapasan abdomino-torakal

Tipe pernapasan abdomino-torakal

Posterior Bentuk vertebra normal

Palpasi

Anterior

Kulit : Tidak ada lesi patologis

Kulit : Tidak ada lesi patologis

- Tidak ada nyeri tekan

- Tidak ada nyeri tekan

- Sela iga paru tidak melebar

- Sela iga paru tidak melebar

Pergerakan simetris dalam keadaan

Pergerakan simetris dalam keadaan

statis dan dinamis

statis dan dinamis

Fremitus : simetris

Fremitus : simetris

Posterior - tidak ada nyeri tekan

Perkusi

Anterior

- tidak ada nyeri tekan

Fremitus : simetris

Fremitus : simetris

Sela iga 1-6 sonor

Sela iga 1-6 sonor

Posterior Linea skapularis : Sonor


Auskultasi Anterior

Bentuk vertebra normal

Linea skapularis : Sonor

Suara nafas vesikuler, Rhonki (-), Suara nafas vesikuler, Rhonki (-),
Wheezing (-)

Wheezing (-)

Posterior Suara nafas vesikuler, Rhonki (-), Suara nafas vesikuler, Rhonki (-),
Whezing (-)

Mioma Uteri

Whezing (-)

20

Jantung (Cor)
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis teraba pada sela iga V, 2 cm medial dari linea midclavicularis
sinistra

Perkusi

: Batas atas
Batas kiri

Pada sela iga II garis parasternal kiri

: Pada sela iga V, 2 cm medial dari garis midclavicularis kiri

Batas kanan : Pada sela iga V, pada garis parasternal kiri.


Auskultasi

: Bunyi jantung I-II reguler, tidak terdengar murmur dan gallop pada ke 4
katup jantung

Perut (Abdomen)
Inspeksi
Bentuk

: Simetris

lesi luka post operasi (+) pada linea mediana 8 cm, di atas simphisis

Palpasi
Nyeri tekan ( + ), massa ( + ) pada region umbilikus, konsistensi padat, terfiksir
Hati

: tidak dapat dinilai

Limpa

: tidak dapat dinilai

Ginjal

: ballotement ( - ), CVA (-)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus normal

Anggota gerak :
Lengan

Kanan

Kiri

Tonus :

Normotonus

Normotonus

Massa :

Eutrofi

Eutrofi

Otot

Sendi

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

+5

+5

Oedem

Tidak ada

Tidak ada

Mioma Uteri

21

Tangan
Warna :

Sawo matang

Sawo matang

Tremor :

Tidak ada

Tidak ada

Kelainan jari:

Tidak ada

Tidak ada

Tungkai dan Kaki

Kanan

Kiri

Luka

Tidak ada

Tidak ada

Tonus :

Normotonus

Normotonus

Massa :

Eutrofi

Eutrofi

Normal

Normal

Gerakan :

Aktif

Aktif

Kekuatan :

+5

+5

Oedema :

Tidak ada

Ikterus :

Otot

Sendi

Tidak ada
-

C. PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
Pemeriksaan Luar
Inspeksi
Wajah

: Chloasma gravidarum (-)

Payudara : pembesara payudara (-), puting susu menonjol, cairan dari mammae (-)
Abdomen : pembesaran abdomen (-),
striae nigra (-),
striae livide (-),
striae albicans (-),
linea nigra (-)
bekas operasi (+)
Palpasi

Terdapat nyeri tekan pada daerah umbilikus.

Pemeriksaan Dalam
Vaginal Toucher
Fluxus (+), Fluor (-)
v/u/v

: tidak ada kelainan

portio

: licin

Mioma Uteri

22

corpus uteri

: sebesar kepalan tangan dewasa

adneksa dan parametrium : massa (-), nyeri tekan (-)


cavum douglassi

: tidak menonjol

Pemeriksaan Penunjang
Tanggal : 22 September 2014
Hematologi
Hasil

Satuan

Batas normal

[10^3/uL]

M : 4,8 10,8 F: 4,8 10,8

[10^6/uL]

M : 4,7 6,1

F: 4,2 5,4

[g/dL]

M : 14 - 18

F: 12 - 16

22,0

[%]

M : 42 52

F: 37 - 47

MCV

69,6

[fl]

79,0 99,0

MCH

18,0

[pg]

27,0 31,0

MCHC

25,9

[g/dL]

33,0 37,0

PLT

561

[10^3/uL]

RDW-CV

22,6

[%]

11,5 14,5

RDW-SD

55,3

[fl]

35 - 47

PDW

7,6

[fl]

9,0 13,0

MPV

8,2

[fl]

7,2 11,1

P-LCR

11,6

[%]

15,0 25,0

PCT

0,46

[%]

NEUT#

6,38

[10^3/uL]

1,8 - 8

1,42

[10^ /uL]

0,9 5,2

MONO#

0,48

[10^ /uL]

0,16 - 1

EO#

0,08

[10^3/uL]

0,045 0,44

BASO#

0,03

[10^3/uL]

0 0,2

NEUT%

76,0

[%]

50 - 70

LYMPH%

16,9

[%]

25 - 40

MONO%

5,7

[%]

2-8

EO%

1,0

[%]

2-4

BASO%

0,4

[%]

01

WBC

8,39

RBC

3,16

HGB

5,7

HCT

LYMPH#

Mioma Uteri

150 - 450

23

USG: uterus yang membesar dengan ukuran 12 x 12 cm dengan kesan mioma uteri, tidak
tampak adanya kista

Tanggal : 24 September 2014


Hematologi
Hasil

Satuan

Batas normal

Darah rutin
Hemoglobin

9,2

g/dL

M : 14 - 18

F: 12 - 16

D. RINGKASAN (RESUME)
Wanita P0A0 usia 41 tahun datang dengan keluhan sakit perut yang tidak tertahankan
sejak 2 hari yang lalu. Pasien mengatakan bahwa sakit perut ini selalu dirasakan setiap kali
haid disertai darah haid yang banyak. Pasien juga mengeluhkan adanya rasa penuh di perut
(kemeng) serta nyeri dan berat pada perut bagian bawah. Saat ini os sedang dalam masa
haid dan sudah berjalan selama 3 hari.
Sebelas tahun yang lalu, pasien pernah melakukan operasi mioma uteri di RS S. Saat
itu pasien dianjurkan untuk melakukan operasi histerektomi akan tetapi pasien menolak
karena pasien belum menikah.

Riwayat Haid
Menarche

: 12 tahun

Siklus haid

: 28 hari

Lamanya

: 4 hari

Banyaknya

: banyak ( 4 pembalut/hari)

Riwayat Perkawinan
Pasien belum menikah

Pemeriksaan Fisik
KU : sakit sedang
Tekanan darah

: 100/60mmHg

Nadi

RR

: 20 x/menit

Suhu : 36,3oC

Mata
Mioma Uteri

: 76 x/menit

: CA -/- SI -/24

Thorax

: Vesikuler Rh -/- wh -/BJ I/II reguler , murmur (-), gallop (-)

Abdomen : BU (+), nyeri tekan region umbilikus (+),


massa padat terfiksir (+) regio umbilikus
Extremitas : edem -/-, sianosis -/-, akral hangat -/PPV = darah

Pemeriksaan Dalam
Fluxus (+), Fluor (-)
v/u/v

: tidak ada kelainan

portio

: licin

corpus uteri

: sebesar kepalan tangan dewasa

adneksa dan parametrium : massa (-), nyeri tekan (-)


cavum douglassi

: tidak menonjol

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium

:
Hasil

Satuan

8,39

[10^3/uL]

RBC

3,16

HGB

5,7

WBC

Batas normal
M : 4,8 10,8 F: 4,8 10,8

[10^ /uL]

M : 4,7 6,1

F: 4,2 5,4

[g/dL]

M : 14 - 18

F: 12 - 16
F: 37 - 47

Hematokrit

22,0

[%]

M : 42 52

Trombosit

561

[10^3/uL]

150 450

Golongan darah / Rh

A/+

MCV

69,6

[fl]

79,0 99,0

MCH

18,0

[pg]

27,0 31,0

MCHC

25,9

[g/dL]

33,0 37,0

USG: uterus yang membesar dengan ukuran 12 x 12 cm dengan kesan mioma uteri,
tidak tampak adanya kista

E. DIAGNOSIS
Diagnosis kerja

Mioma Uteri

: Mioma uteri dengan anemia berat

25

F. PEMERIKSAAN YANG DIANJURKAN


USG
Pemeriksaan darah rutin

G. PENGELOLAAN:
Medika Mentosa:

H.

Transfusi PRC I kolf/12 jam sampai dengan Hb 10 g/dL (4x transfusi)

Dexametason 1 amp setiap pre transfusi

Kalnex inj. 3 x 1 gram

Asam Mefenamat 3 x 500 mg

Histerektomi (pasien menolak)

EDUKASI
-

Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya mengenai keadaan pasien yaitu


memiliki mioma uteri.

Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya mengenai tindakan histerektomi


serta tujuannya.

I.

Istirahat yang cukup

Makan yang cukup dengan gizi yang baik

Meminum obat secara teratur.

PROGNOSIS :
Ad vitam

: Ad bonam

Ad functionam : Ad bonam
Ad bonam

Mioma Uteri

: Ad bonam

26

FOLLOW UP
Tanggal : 23 September 2014
Pukul 08.00 WIB
S : Nyeri sudah menghilang, tangan kiri terasa pegal, lemas (-), pusing (-)
O : KU

: Baik

Tensi

: 110/80 mmHg

Nadi

: 81x/menit

Nafas

: 24x/menit

Suhu

: 36,3 0C

Mata

: Anemis (-/-), ikterik (-/-)

PPV

: (+) darah dan gumpalan darah

A : Mioma Uteri dengan Anemia Berat


P : Lanjutkan transfusi
Kalnex inj. 3 x 1 gr
Norelut
Hemobion 2x1
Tirah baring

Tanggal : 24 September 2014


Pukul 08.00 WIB
S : nyeri (-), pusing (-)
O : KU

: Baik

Tensi

: 100/70 mmHg

Nadi

: 80x/menit

Nafas

: 24x/menit

Suhu

: 36,1 0C

Mata

: Anemis (-/-), ikterik (-/-)

PPV

: (+) darah sedikit, gumpalan sedikit

Darah transfusi sudah masuk 3 kolf


A : Mioma Uteri dengan Anemia Berat
P : Lanjutkan transfusi sampai 4 kolf
Monitor Hemoglobin
Bila hemoglobin 10 boleh pulang
Kalnex inj. 3 x 1 gr
Mioma Uteri

27

Norelut
Hemobion 2x1

Pukul 18.30 WIB


Hb = 9,2 pasien boleh pulang

Mioma Uteri

28

PEMBAHASAN
Pada laporan kasus berikut diajukan suatu kasus seorang wanita 41 tahun P0A0 dengan
diagnosa mioma uteri. Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan
diduga merupakan penyakit multifaktorial. Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen
dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang
setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause.3
Diagnosa mioma uteri ditegakan berdasarkan gejala yang timbul, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang yang ada. Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat
sarang mioma ini berada (serviks, intramural, submukus, subserus), besarnya tumor,
perubahan dan komplikasi yang terjadi.6 Gejala-gejala pada pasien tersebut antara lain
gangguan haid berupa menoragia yaitu perdarahan haid yang lebih banyak dari normal.
Sebab kelainan ini terletak pada kondisi dalam uterus, misalnya adanya mioma uteri dengan
permukaan endometrium lebih luas dari biasa dan dengan kontraktilitas yang terganggu.6
Gejala yang lain yaitu rasa penuh (kemeng), nyeri dan berat pada perut bagian bawah.
Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri sehingga menimbulkan gejala
dan tanda penekanan.6
Pemeriksaan fisik pada pasien ini didapatkan status vital yang baik. Pada palpasi
abdomen teraba massa mioma yang berkonsistensi padat dan bersifat terfiksir pada region
umbilikus. Konsistensi dari mioma bervariasi dari keras seperti batu hingga lembek,
walaupun sebagian besar memiliki konsistensi kenyal seperti karet.8 Pada pemeriksaan
inspekulo didapatkan fluksus karena perdarahan yang ditimbulkan mioma.
Pemeriksaan penunjang dengan USG pada pasien ini didapatkan gambaran uterus
yang membesar dengan ukuran 12 x 12 cm dengan kesan mioma uteri, tidak tampak adanya
kista. Pemeriksaan dengan CT scan maupun MRI juga dapat dilakukan, namun lebih mahal
dan menghabiskan waktu lebih lama tetapi tidak memberikan informasi yang lebih daripada
USG.8
Penatalaksanaan pasien ini dilakukan tirah baring dan transfusi PRC untuk
memperbaiki keadaan umum dan anemianya. Pasien disarankan dan dimotivasi untuk
melakukan histerektomi elektif untuk mengendalikan perdarahannya dan mencegah salah
satu komplikasi dari mioma uteri yaitu karsinoma servisis uteri, akan tetapi pasien menolak
karena pasien belum menikah. Pilihan penatalaksanaan lain adalah miomektomi dimana
mioma dapat diangkat dan tetap mempertahankan fungsi uterus. 6
Mioma Uteri

29

PENUTUP
Kesimpulan
Mioma uteri adalah tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi padat kenyal,
batas jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter atau multipel. Tumor ini juga
dikenal dengan istilah fibromioma uteri, leiomioma uteri, atau uterine fibroid.1,5,6
Berdasarkan otopsi, ditemukan 27% wanita berusia 25 tahun memiliki sarang mioma,
pada wanita berkulit hitam ditemukan lebih banyak. Mioma uteri belum pernah dilaporkan
terjadi sebelum menarke, sedangkan setelah menopause hanya sekitar 10% mioma yang
masih bertumbuh. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20-30% dari seluruh wanita. Di
Indonesia mioma ditemukan pada 2,39-11,7% penderita ginekologi yang dirawat. Tumor ini
paling sering ditemukan pada wanita umur 35-45 tahun. Multipara lebih sedikit kemungkinan
untuk berkembangnya mioma ini dibandingkan dengan nullipara atau primipara.
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan
penyakit multifaktorial. Dipercaya bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang
dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. 4,5
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor adalah estrogen, progesteron
dan human growth hormone. Beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi
terjadinya mioma uteri yaitu umur, paritas, faktor ras dan genetik, serta fungsi ovarium.
Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada (serviks,
intramural, submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi.
Gejala klinis secara umum meliputi perdarahan abnormal, rasa nyeri, gejala dan tanda
penekanan, serta infertilitas dan abortus.
Penanganan mioma uteri tergantung pada umur, status fertilitas, paritas, lokasi dan
ukuran tumor, sehingga biasanya mioma yang ditangani yaitu yang membesar secara cepat
dan bergejala serta mioma yang diduga menyebabkan fertilitas. Secara umum, penanganan
mioma uteri terbagi atas penanganan konservatif dan operatif.

Saran
Mioma uteri perlu dideteksi secara dini dalam praktek klinis sehari-hari melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang yang dilakukan agar terhindar
dari komplikasi yang tidak diinginkan. Maka dari itu, pemeriksaan kandungan secara rutin
perlu dianjurkan kepada pasien terutama yang sudah berusia diatas 35 tahun.
Mioma Uteri

30

DAFTAR PUSTAKA
1. Adriaansz G. Mioma Uteri. Dalam: Ilmu kandungan. Edisi ke-3. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2011.h.274-9
2. DeCherney AH, Nathan L, Goodwin TM, Laufer N. Benign disorder of the uterine
corpus. In: Current diagnosis and treatments in obstetrics and gynecology. The McGrawHill Companies; 2006.
3. Uterine masses. In: Berek and Novaks gynecology. 14th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams and Wilkins; 2007.p.469-71.
4. Schorge, Schaffer, Halvorson, Hoffman, Bradshaw, Cunningham. Benign general
gynecology. In: Williams gynecology. The McGraw-Hill Companies; 2008.
5. Thomas EJ. The aetiology and phatogenesis of fibroids. In: Shaw RW. eds. Advences in
reproduktive endocrinology uterine fibroids. England New Jersey: The Phartenon
Publishing Group; 1992.p.1 8.
6. Schwartz MS. Epidermiology of uterine leiomiomata. In: Chesmy M, Heather, Whary
eds. Clinical Obstetric and Ginecology. Philadelphia: Lippincott Williams and Willkins;
2001.p.3168.
7. Baziad A. Pengobatan medikamentosa mioma uteri dengan analog GnRH. Dalam :
Endokrinologi ginekologi edisi kedua. Jakarta: Media Aesculapius FKUI; 2003.h.151-6.
8. Bradley J, Voorhis V. Management options for uterine fibroids. In : Marie Chesmy,
Heather Whary eds. Clinical obstetric and Gynecology. Philadelphia: Lippincott Williams
and Wilkins; 2001.p.314 315.

Mioma Uteri

31