Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM GEOLOGI DASAR

ACARA : GEOLOGI STRUKTUR

Disusun Oleh :
Arizatur Reza Wicaksono
21100112110073

LABORATORIUM PETROLOGI, PALEONTOLOGI


DAN GEOOPTIK
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
DESEMBER 2012

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Praktikum Geologi Dasar, Acara : Geologi Struktur yang disusun oleh
praktikan bernama Arizatur Reza Wicaksono, disahkan pada:
hari

: Jumat

tanggal : 7 Desember 2012


pukul

: 23.59 WIB

Sebagai tugas laporan praktikum mata kuliah Geologi Dasar.

Semarang, 7 Desember 2012


Asisten Acara,

Praktikan,

Rio Lumbantoruan

Arizatur Reza Wicaksono

NIM : L2L 009 039

NIM : 21100112110073

DAFTAR ISI
Cover
Lembar Pengesahan . ii
Daftar Isi .. iii
Daftar Gambar .. v
Bab I Pendahuluan 1
1.1. Maksud 1
1.2. Tujuan .. 1
1.3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan .. 1
1.4. Kesampaian Daerah . 1
Bab II Dasar Teori 2
2.1. Prinsip Dasar Mekanika Batuan .. 2
2.2. Jenis-jenis Struktur Geologi . 7
Bab III Geologi Regional ............................. 15
3.1. Kondisi Geologi ... 15
3.2. Sratigrafi .. 15
3.3. Hidrologi .. 16
3.4. Sratigrafi Pegunungan Serayu Utara ....... 17
Bab IV Data Lapangan . 19
4.1. Data Lapangan STA 1 Daerah Sungai Banyumeneng 19
4.2. Data Lapangan STA 2 Daerah Tepi Sungai Banyumeneng 21
4.3. Data Lapangan STA 3 Daerah Sungai Banyumeneng 23
Bab V Pembahasan .. 27

5.1. Profil Sayatan Daerah Kali Djuruk Barang .. 27


5.2. Geomorfologi Daerah Observasi . 27
5.3. Lithologi Daerah Observasi . 28
5.4. Struktur Geologi Daerah Observasi . 29
Bab VI Penutup 32
6.1. Kesimpulan .. 32
6.2. Saran 32

Daftar Pustaka .. 33
Lampiran

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Tegasan seragam / uniform stress (atas); Tegasan tensional (tengah
kiri); Tegasan kompresional (tengah kanan); dan Tegasan geser /shear stress
(gambar bawah) ... 6
Gambar 2.2 Kurva hubungan tegasan (stress) dan tarikan (strain) terhadap batuan,
dimana tegasan dan tarikan semakin meningkat maka batas elastisitas akan
dilampaui dan pada akhirnya mengalami retak . 7
Gambar 2.3 Struktur graded bedding

Gambar 2.4 Struktur cross bedding 8


Gambar 2.5 Struktur planar bedding .. 8
Gambar 2.6 Struktur ripple marks .. 8
Gambar 2.7 Struktur load cast .... 8
Gambar 2.8 Struktur flute cast ... 8
Gambar 2.9 Struktur mud cracks ..... 9
Gambar 2.10 Kekar gerus (shear joint) 10
Gambar 2.11 Kekar tensional ...... 10
Gambar 2.12 Pegunungan Lipatan (folded mountain) sebagai hasil orogenesa .. 11
Gambar 2.13 Lipatan isoklin 11
Gambar 2.14 Lipatan sinklin 11
Gambar 2.15 Lipatan chevron .. 12
Gambar 2.16 Lipatan disharmonic ... 12
Gambar 2.17 Lipatan ptigmatik ... 12
Gambar 2.18 Lipatan kiln bands .. 12
Gambar 2.19 Sesar naik (reverse fault) 14
Gambar 2.20 Sesar turun (normal fault) .. 14
Gambar 2.21 Sesar mendatar ... 14
Gambar 3.1. Sketsa fisiografi Pulau Jawa bagian tengah (Bammelen, 1970) ..... 17
Gambar 4.1 Foto sesar sinistral pada STA 1 .. 19
Gambar 4.2 Foto singkapan batuan (outcrop) pada STA 2 . 21
Gambar 4.3a Foto sesar dekstral pada STA 3 LP 1 . 23

Gambar 4.3b Foto struktur lipatan antiklin pada STA 3 LP 2 . 24


Gambar 5.1 Kenampakan Sungai Banyumeneng . 28

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Maksud
Maksud dari praktikum lapangan gelogi dasar, acara : geologi struktur
ini adalah untuk mengetahui dan mendiskripsikan kondisi bentang alam,
struktur geologi dan lithology pada suatu daerah pengamatan. Serta
membuat profil sayatan dari peta daerah pengamatan tersebut.

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum lapangan geologi dasar, acara : geologi struktur
ini adalah praktikan mampu untuk mengetahui dan mendiskripsikan kondisi
bentang alam, struktur geologi dan lithology pada suatu daerah pengamatan.
Serta mampu Serta membuat profil sayatan dari peta daerah pengamatan
tersebut.

1.3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Hari / Tanggal : Sabtu, 17 November 2012
Waktu

: 07.00 WIB selesai

Tempat

: Sungai Banyumeneng, Mranggen, Kabupaten Demak

1.4. Kesampaian Daerah


Kesampaian ke daerah pengamatan dilakukan dengan mengendarai
motor dari gedung pertamina sukowati kampus undip Tembalang dengan
alokasi waktu sekitar 45 menit. Dalam perjalanan ke lokasi pengamatan
teramati bentuk roman bumi seperti sungai, perbukitaan. Dalam perjalanan
banyak terlihat bentang alam fluvial dan denudasional.

BAB II
DASAR TEORI
Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang
bentuk (arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Adapun deformasi
batuan adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan sebagai akibat dari gaya
yang bekerja di dalam bumi. Secara umum pengertian geologi struktur adalah
ilmu yang mempelajari tentang bentuk arsitektur batuan sebagai bagian dari kerak
bumi serta menjelaskan proses pembentukannya. Beberapa kalangan berpendapat
bahwa geologi struktur lebih ditekankan pada studi mengenai unsur-unsur struktur
geologi, seperti perlipatan (fold), rekahan (fracture), patahan (fault), dan
sebagainya yang merupakan bagian dari satuan tektonik (tectonic unit), sedangkan
tektonik dan geotektonik dianggap sebagai suatu studi dengan skala yang lebih
besar, yang mempelajari obyek-obyek geologi seperti cekungan sedimentasi,
rangkaian pegunungan, lantai samudera, dan sebagainya.
Sebagaimana diketahui bahwa batuan-batuan yang tersingkap dimuka bumi
maupun yang terekam melalui hasil pengukuran geofisika memperlihatkan bentuk
bentuk arsitektur yang bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Bentuk
arsitektur susunan batuan di suatu wilayah pada umumnya merupakan batuanbatuan yang telah mengalami deformasi sebagai akibat gaya yang bekerja pada
batuan tersebut. Deformasi pada batuan dapat berbentuk lipatan maupun
patahan/sesar. Dalam ilmu geologi struktur dikenal berbagai bentuk perlipatan
batuan, seperti sinklin dan antiklin. Jenis perlipatan dapat berupa lipatan simetri,
asimetri, serta lipatan rebah (recumbent/overtune), sedangkan jenis-jenis patahan
adalah patahan normal (normal fault), patahan mendatar (strike slip fault), dan
patahan naik (trustfault).

2.1. Prinsip Dasar Mekanika Batuan


Mengenal dan menafsirkan tentang asal-usul dan mekanisme
pembentukan suatu struktur geologi akan menjadi lebih mudah apabila kita

memahami prinsip prinsip dasar mekanika batuan, yaitu tentang konsep


gaya, tegasan (stress/compressive), tarikan (strength) dan faktor-faktor
lainnya yang mempengaruhi karakter suatu materi/bahan.
1.

Gaya (force)
a) Gaya merupakan suatu vektor yang dapat merubah gerak dan arah
pergerakan suatu benda.
b) Gaya dapat bekerja secara seimbang terhadap suatu benda (seperti
gaya gravitasi dan elektromagnetik) atau bekerja hanya pada bagian
tertentu dari suatu benda (misalnya gaya-gaya yang bekerja di
sepanjang suatu sesar di permukaan bumi).
c) Gaya gravitasi merupakan gaya utama yang bekerja terhadap semua
obyek/materi yang ada di sekeliling kita.
d) Besaran (magnitud) suatu gaya gravitasi adalah berbanding lurus
dengan jumlah materi yang ada, akan tetapi magnitud gaya di
permukaan tidak tergantung pada luas kawasan yang terlibat.
e) Satu gaya dapat diurai menjadi 2 komponen gaya yang bekerja
dengan arah tertentu, dimana diagonalnya mewakili jumlah gaya
tersebut.
f) Gaya yang bekerja diatas permukaan dapat dibagi menjadi 2
komponen yaitu: satu tegak lurus dengan bidang permukaan dan satu
lagi searah dengan permukaan.
g) Pada kondisi 3-dimensi, setiap komponen gaya dapat dibagi lagi
menjadi dua komponen membentuk sudut tegak lurus antara satu
dengan lainnya. Setiap gaya, dapat dipisahkan menjadi tiga
komponen gaya, yaitu komponen gaya X, Y dan Z.

2.

Tekanan Litostatik
a) Tekanan yang terjadi pada suatu benda yang berada di dalam air
dikenal sebagai tekanan hidrostatik. Tekanan hidrostatik yang
dialami oleh suatu benda yang berada di dalam air adalah berbanding
lurus dengan berat volume air yang bergerak ke atas atau volume air
yang dipindahkannya.

b) Sebagaimana tekanan hidrostatik suatu benda yang berada di dalam


air, maka batuan yang terdapat di dalam bumi juga mendapat
tekanan yang sama seperti benda yang berada dalam air, akan tetapi
tekanannya jauh lebih besar ketimbang benda yang ada di dalam air,
dan hal ini disebabkan karena batuan yang berada di dalam bumi
mendapat tekanan yang sangat besar yang dikenal dengan tekanan
litostatik. Tekanan litostatik ini menekan kesegala arah dan akan
meningkat ke arah dalam bumi.
3.

Tegasan
a) Tegasan adalah gaya yang bekerja pada suatu luasan permukaan dari
suatu benda. Tegasan juga dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi
yang terjadi pada batuan sebagai respon dari gaya-gaya yang berasal
dari luar.
b) Tegasan dapat didefinisikan sebagai gaya yang bekerja pada luasan
suatu permukaan benda dibagi dengan luas permukaan benda
tersebut: Tegasan (P)= Daya (F) / luas (A).
c) Tegasan yang bekerja pada salah satu permukaan yang mempunyai
komponen tegasan prinsipal atau tegasan utama.
d) Tegasan pembeda adalah perbedaan antara tegasan maksimal dan
tegasan minimal. Sekiranya perbedaan gaya telah melampaui
kekuatan batuan maka retakan/rekahan akan terjadi pada batuan
tersebut.
e) Kekuatan suatu batuan sangat tergantung pada besarnya tegasan
yang diperlukan untuk menghasilkan retakan/rekahan.

4.

Gaya Tegangan (Tensional Force)


a) Gaya Tegangan merupakan gaya yang dihasilkan oleh tegasan, dan
melibatkan perubahan panjang, bentuk (distortion) atau dilatasi
(dilation) atau ketiga-tiganya.
b) Bila terdapat perubahan tekanan litostatik, suatu benda (homogen)
akan berubah volumenya (dilatasi) tetapi bukan bentuknya.

Misalnya, batuan gabro akan mengembang bila gaya hidrostatiknya


diturunkan.
c) Perubahan bentuk biasanya terjadi pada saat gaya terpusat pada suatu
benda. Bila suatu benda dikenai gaya, maka biasanya akan dilampaui
ketiga fasa, yaitu fasa elastisitas, fasa plastisitas, dan fasa pecah.
d) Bahan yang rapuh biasanya pecah sebelum fase plastisitas dilampaui,
sementara bahan yang plastis akan mempunyai selang yang besar
antara sifat elastis dan sifat untuk pecah. Hubungan ini dalam
mekanika batuan ditunjukkan oleh tegasan dan tarikan.
e) Kekuatan batuan, biasanya mengacu pada gaya yang diperlukan
untuk pecah pada suhu dan tekanan permukaan tertentu.
f) Setiap batuan mempunyai kekuatan yang berbeda-beda, walaupun
terdiri dari jenis yang sama. Hal ini dikarenakan kondisi
pembentukannya juga berbeda-beda.
g) Batuan sedimen seperti batupasir, batugamping, batulempung kurang
kuat dibandingkan dengan batuan metamorf (kuarsit, marmer,
batusabak) dan batuan beku (basalt, andesit, gabro).
Batuan yang terdapat di Bumi merupakan subyek yang secara terus
menerus mendapat gaya yang berakibat tubuh batuan dapat mengalami
pelengkungan atau keretakan. Ketika tubuh batuan melengkung atau retak,
maka kita menyebutnya batuan tersebut terdeformasi (berubah bentuk dan
ukurannya). Penyebab deformasi pada batuan adalah gaya tegasan
(gaya/satuan luas).

Gambar 2.1 Tegasan seragam / uniform stress (atas); Tegasan tensional (tengah kiri);
Tegasan kompresional (tengah kanan); dan Tegasan geser /shear stress (gambar
bawah).
Sumber gambar : Noor, Djauhari. Pengantar Geologi, Universitas Pakuan Bogor.

Tegasan (stress) dan tegasan tarik (strain stress) adalah gaya gaya
yang bekerja di seluruh tempat dimuka bumi. Salah satu jenis tegasan yang
biasa kita kenal adalah tegasan yang bersifat seragam (uniform-stress) dan
dikenal sebagai tekanan (pressure). Tegasan seragam adalah suatu gaya
yang bekerja secara seimbang kesemua arah. Tekanan yang terjadi di bumi
yang berkaitan dengan beban yang menutupi batuan adalah tegasan yang
bersifat seragam. Jika tegasan kesegala arah tidak sama (tidak seragam)
maka tegasan yang demikian dikenal sebagai tegasan diferensial.
Tegasan diferensial dapat dikelompokaan menjadi 3 jenis, yaitu:
1.

Tegasan tensional (tegasan extensional) adalah tegasan yang dapat


mengakibatkan batuan mengalami peregangan atau mengencang.

2.

Tegasan kompresional adalah tegasan yang dapat mengakibatkan


batuan mengalami penekanan.

3.

Tegasan geser adalah tegasan yang dapat berakibat pada tergesernya


dan berpindahnya batuan.
Ketika batuan terdeformasi maka batuan mengalami tarikan. Gaya

tarikan akan merubah bentuk, ukuran, atau volume dari suatu batuan.

Tahapan deformasi terjadi ketika suatu batuan mengalami peningkatan gaya


tegasan yang melampaui 3 tahapan pada deformasi batuan yaitu :
1.

Deformasi yang bersifat elastis (Elastic Deformation) terjadi apabila


sifat gaya tariknya dapat berbalik (reversible).

2.

Deformasi yang bersifat lentur (Ductile Deformation) terjadi apabila


sifat gaya tariknya tidak dapat kembali lagi (irreversible).

3.

Retakan / rekahan (Fracture) terjadi apabila sifat gaya tariknya yang


tidak kembali lagi ketika batuan pecah/retak.

Gambar 2.2 Kurva hubungan tegasan (stress) dan tarikan (strain) terhadap
batuan, dimana tegasan dan tarikan semakin meningkat maka batas elastisitas
akan dilampaui dan pada akhirnya mengalami retak.
Sumber gambar : Noor, Djauhari. Pengantar Geologi, Universitas Pakuan Bogor.

2.2. Jenis-jenis Struktur Geologi


Struktur Geologi berdasarkan terjadinya dikenal adanya dua macam
struktur batuan, yaitu struktur primer dan struktur sekunder.
1.

Struktur Primer
Struktur primer yaitu suatu struktur yang dibentuk bersamaan
dengan terbentuknya batuan tersebut.
Contoh :
- Struktur

perlapisan,

misalnya

Laminasi,

Cross Bedding, Planar Bedding, Riple Marks.

Graded

Bedding,

- Struktur sedimen, misalnya Load Cast, Flute Cast, Mud Crack,


Bioturbasi dan sebagainya.
- Struktur Aliran Lava.

Gambar 2.3 Struktur graded bedding

Gambar 2.4 Struktur cross bedding

Gambar 2.5 Struktur planar bedding

Gambar 2.6 Struktur ripple marks

Gambar 2.7 Struktur load cast

Gambar 2.8 Struktur flute cast

Gambar 2.9 Struktur mud cracks


Sumber gambar : http//:www.google.com

2.

Struktur sekunder
Struktur sekunder yaitu suatu struktur yang terbentuk setelah
terjadi pengendapan batuan. Struktur ini berupa deformasi akibat
adanya gaya-gaya yang berasal dari dalam bumi, yang menimpa batuan,
sehingga batuan menjadi retak-retak, terlipat, bergeser dari kedudukan
semula.
Hal ini dipengaruhi oleh :
a. Arah dan kekuatan gaya yang berkerja pada batuan.
b. Sifat fisik batuan, misalnya kekompakan, kekerasan, plastisitas.
c. Perubahan batuan oleh pengaruh kimia.
Macam-macam struktur sekunder :
a) Kekar (fractures)
Kekar adalah struktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan
akibat suatu gaya yang bekerja pada batuan tersebut dan belum
mengalami

pergeseran.

Secara

umum

dicirikan

oleh:

a).

Pemotongan bidang perlapisan batuan; b). Biasanya terisi mineral


lain (mineralisasi) seperti kalsit, kuarsa dsb; c) kenampakan
breksiasi.
Struktur kekar dapat dikelompokkan berdasarkan sifat dan
karakter retakan/rekahan serta arah gaya yang bekerja pada batuan
tersebut. Kekar yang umumnya dijumpai pada batuan adalah
sebagai berikut:

1.

Shear Joint (Kekar Gerus) adalah retakan / rekahan yang


membentuk pola saling berpotongan membentuk sudut lancip
dengan arah gaya utama. Kekar jenis shear joint umumnya
bersifat tertutup.

2.

Tension Joint adalah retakan/rekahan yang berpola sejajar


dengan arah gaya utama, Umumnya bentuk rekahan bersifat
terbuka.

3.

Extension Joint (Release Joint) adalah retakan/rekahan yang


berpola tegak lurus dengan arah gaya utama dan bentuk
rekahan umumnya terbuka.

Gambar 2.10 Kekar gerus (shear joint)

Gambar 2.11 Kekar tensional

Sumber gambar : http://www.google.com

b) Lipatan (folds)
Lipatan adalah deformasi lapisan batuan yang terjadi akibat
dari gaya tegasan sehingga batuan bergerak dari kedudukan semula
membentuk lengkungan. Berdasarkan bentuk lengkungannya
lipatan dapat dibagi dua, yaitu a). Lipatan Sinklin adalah bentuk
lipatan yang cekung ke arah atas, sedangkan lipatan antiklin adalah
lipatan yang cembung ke arah atas.
Berdasarkan kedudukan garis sumbu dan bentuknya, lipatan
dapat dikelompokkan menjadi :
1.

Lipatan Paralel adalah lipatan dengan ketebalan lapisan yang


tetap.

2.

Lipatan Similar adalah lipatan dengan jarak lapisan sejajar


dengan sumbu utama.

3.

Lipatan harmonik atau disharmonik adalah lipatan berdasarkan


menerus atau tidaknya sumbu utama.

4.

Lipatan Ptigmatik adalah lipatan terbalik terhadap sumbunya

5.

Lipatan chevron adalah lipatan bersudut dengan bidang planar

6.

Lipatan isoklin adalah lipatan dengan sayap sejajar

7.

Lipatan Klin Bands adalah lipatan bersudut tajam yang dibatasi


oleh permukaan planar.
Disamping lipatan tersebut diatas, dijumpai juga berbagai

jenis lipatan, seperti Lipatan Seretan (Drag folds) adalah lipatan


yang terbentuk sebagai akibat seretan suatu sesar.

Gambar 2.12 Pegunungan Lipatan (folded mountain) sebagai hasil


orogenesa

Gambar 2.13 Lipatan isoklin

Gambar 2.14 Lipatan sinklin

Gambar 2.15 Lipatan chevron

Gambar 2.16 Lipatan disharmonic

Gambar 2.17 Lipatan ptigmatik

Gambar 2.18 Lipatan kiln bands

Sumber gambar : http://www.google.co.id

c) Patahan/Sesar (faults)
Patahan / sesar adalah struktur rekahan yang telah mengalami
pergeseran. Umumnya disertai oleh struktur yang lain seperti
lipatan, rekahan dsb. Adapun di lapangan indikasi suatu sesar /
patahan dapat dikenal melalui : a) Gawir sesar atau bidang sesar;
b). Breksiasi, gouge, milonit, ; c). Deretan mata air; d). Sumber air
panas; e). Penyimpangan / pergeseran kedudukan lapisan; f)
Gejala-gejala struktur minor seperti: cermin sesar, gores garis,
lipatan dsb.
Sesar dapat dibagi kedalam beberapa jenis/tipe tergantung
pada arah relatif pergeserannya. Selama patahan/sesar dianggap
sebagai suatu bidang datar, maka konsep jurus dan kemiringan juga
dapat dipakai, dengan demikian jurus dan kemiringan dari suatu
bidang sesar dapat diukur dan ditentukan. Pergeserannya dapat
berkisar dari antara beberapa meter sampai mencapai ratusan

kilometer. Sesar merupakan jalur lemah, yang lebih banyak terjadi


pada lapisan yang keras dan rapuh. Bahan yang hancur pada jalur
sesar akibat pergeseran, dapat berkisar dari gouge (suatu bahan
yang halus/lumat akibat gesekan) sampai breksi sesar, yang
mempunyai ketebalan antara beberapa centimeter sampai ratusan
meter (lebar zone hancur akibat sesar).
(i) Unsur-unsur sesar :
- Hanging Wall (atap) adalah bongkah patahan yang terdapat
di bagian atas bidang sesar.
- Foot Wall (alas) adalah bongkah patahan yang berada di
bagian bawah bidang sesar.
- Bidang sesar adalah suatu bidang yang terbentuk akibat
adanya rekahan yang mengalami pergeseran.
(ii) Klasifikasi Sesar
Ditinjau dari kedudukan sesar terhadap struktur batuan
sekitarnya (biasanya diterapkan pada sesar dalam batuan
sedimen) (Sukendar Asikin, 1978), yaitu :
a. Strike Fault, yaitu sesar yang arah jurusnya sejajar dengan
jurus batuan sekitarnya.
b. Dip Fault, yaitu jurus dari sesar searah dengan kemiringan
dari lapisan batuan sekitarnya.
c. Diagonal atau Oblique Fault, sesar yang memotong struktur
batuan sekitarnya.
d. Longitudinal Fault, arah daripada sesar paralel/sejajar
dengan arah utama dari struktur regional.
e. Traverse Fault, sesar yang memotong tegak lurus atau
miring terhadap struktur regional (biasanya dijumpai pada
daerah

yang

terlipat,

memotong

sumbu/poros

terhadap antiklin).
Longitudinal dan Tranverse Fault hanya diterapkan pada
keadaan yang lebih luas lagi (regional sense).

Ditinjau dari genesanya, pensesaran dapat digolongkan


menjadi :
- Sesar Normal (Normal Fault), bila Hanging Wall bergerak
relatif turun terhadap Foot Wall .
- Sesar Naik /sesar sungkup (Reverse Fault/Thrust Fault), bila
Hanging Wall bergerak relatif naik terhadap Foot Wall.
- Sesar Mendatar/sesar geser (Strike Slip Fault), bagian yang
terpisah bergerak relatif mendatar pada bidang sesar
umumnya tegak (90).

Gambar 2.19 Sesar naik (reverse fault)

Gambar 2.20 Sesar turun (normal fault)

Gambar 2.21 Sesar mendatar


Sumber gambar : http://www.google.com/

BAB III
GEOLOGI REGIONAL
3.1. Kondisi Geologi
Kabupaten Demak sebagian besar diakibatkan oleh adanya kegiatan
untuk pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia di bagian atas/hulu.
Adapun dampak lingkungan itu berupa erosi dan sedimentasi, serta
pengikisan pantai.
- Erosi dan Sedimentasi
Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan intensitas pemanfaatan
lahan yang menambah areal kritis, serta curah hujan yang cukup tinggi di
Kabupaten Demak. Sehingga terjadi erosi di daerah bagian hulu yang
mengalir mengikuti arus air dan bermuara pada pangkal sungai sehingga
terjadi sedimentasi.
- Pengikisan Pantai
Terjadinya pengikisan pantai erat kaitanya dengan sedimentasi,
sehingga pertumbuhan delta sungai dan pendangkalan muara sungai di
daerah tersebut akan berlangsung terus sebelum ada usaha perbaikan tata
air di daerah hulu.

3.2. Stratigrafi
Jenis Tanah di Kabupaten Demak adalah: mediteran coklat tua,
komplek regosol dan gromosol kelabu tua, asosiasi aluvial kelabu dan
kekelabuan,gromosol kelabu tua dan aluvial hidromorf. Persebaranya
sebagai berikut:

Aluvial Hidromorf terdapat di sepanjang pantai

Regosol terdapat di sebagian besar Kecamatan Mranggen dan


Karangawen.

Grumosol

Kelabu

Tua

terdapat

di

daerah

Bonang,

Wedung

Mijen,Karanganyar, Gajah, Demak, Wonosalam, Dempet dan Sayung.

Mediteran terdapat di sebagian besar di daerah Kecamatan Mranggen


dan Karangawen.

3.3. Hidrologi
Hidrologi Demak secara regional dapat dibedakan atas dasar
morfologi, geologi, lingkungan pengendapan batuan dan keadaan air
tanahnya. Secara hidrologis hampir semua formasi batuan memiliki akuifer,
tergantung pada sifat fisik batuan terhadap kandungan air tanahnya. Kondisi
hidrologi di wilayah Kabupaten Demak, meliputi :
a)

Sungai
Sungai sungai yang ada tergolong besar dan bermuara ke Laut
Jawa, antara lain Sungai Serang, Sungai Tuntang, Sungai Jragung,
Sungai Wulan, Sungai Jajar, Sungai Onggorawe dan beberapa anak
sungai.
Sungai sungai yang terdapat di Kabupaten Demak ini berfungsi
kompleks, yaitu digunakan sebagai alat transportasi dan juga berguna
sebagai sumber penyediaan air. Bila dikembangkan dengan teknologi
yang lebih maju , sungai sungai itu bisa menjadi sumber pengairan
teknis persawahan, serta berbagai keperluan lainnya.

b) Laut / Pantai
Laut dan Pantai di Kabupaten Demak memiliki potensi yang
cukup baik. Misalkan untuk pengembangan dalam bidang perikanan
dan Pariwisata.
Untuk pengembalian fungsi-fungsi ekologi laut, terutama daerah
pesisir dan hutan mangroove perlu dilakukan guna menjamin
sumberdaya kelautan dan perikanan.
c)

Tambak
Persebaran tambak di Kabupaten Demak dapat dijumpai di
Kecamatan Sayung, Karangtengah, Bonang, Demak, dan Wedung.

3.4. Sratigrafi Pegunungan Serayu Utara

Gambar 3.1. Sketsa fisiografi Pulau Jawa bagian tengah (Bammelen, 1970)

Dalam Bemmelen (1970) diuraikan bahwa stratigrafi regional


Pegunungan Serayu Utara bagian timur (Gunung Ungaran dan sekitarnya)
dari yang tertua adalah sebagai berikut:
1.

Lutut Beds Endapan ini berupa konglomerat dan batu gamping dengan
fosil berupa Spiroclypeus, Eulipidina, Miogypsina dengan penyebaran
yang sempit. Endapan ini menutupi endapan Eosen yang ada di
bawahnya.endapan ini berumur Oligo-Miosen.

2.

Merawu Beds Endapan ini merupakan endapan flysch yang berupa


perselangselingan lempung serpihan, batupasir kuarsa dan batupasir
tufaan dengan fosil Lepidocyclina dan Cycloclypeus. Endapan ini
berumur Miosen Bawah.

3.

Panjatan Beds Endapan ini berupa lempung serpihan yang relatif tebal
dengan kandungan fosil Trypliolepidina rutteni, Nephrolepidina ferreroi
PROV., N. Angulosa Prov., Cycloclypeus sp., Radiocyclocypeus TAN.,
Miogypsina thecideae formis RUTTEN. Fosil yang ada menunjukkan
Miosen Tengah.

4.

Banyak Beds Endapan ini berupa batupasir tufaan yang diendapkan


pada Miosen Atas.

5.

Cipluk Beds Endapan ini berada di atas Banyak Beds yang berupa napal
yang berumur Miosen Atas.

6.

Kapung Limestone Batugamping tersebut diendapkan pada Pliosen


Bawah dengan dijumpainya fosil Trybliolepidina dan Clavilithes sp.
Namun fosil ini kelimpahannya sangat sedikit.

7.

Kalibluk Beds Endapan ini berupa lempung serpihan dan batupasir


yang mengandung moluska yang mencirikan fauna cheribonian yang
berumur Pliosen Tengah.

8.

Damar Series Endapan ini merupakan endapan yang terbentuk pada


lingkungan transisi. Endapan yang ada berupa tuffaceous marls dan
batupasir tufaan yang mengandung fosil gigi Rhinocerous, yang
mencirikan Pleistosen awal-Tengah.

9.

Notopuro Breccias Endapan ini berupa breksi vulkanik yang menutupi


secara tidak selaras di atas endapan Damar Series. Endapan ini
terbentuk pada Pleistosen Atas.

10. Alluvial dan endapan Ungaran Muda Endapan ini merupakan endapan
alluvial yang dihasilkan oleh proses erosi yang terus berlangsung
sampai saat ini (Holosen). Selain itu juga dijumpai endapan breksi
andesit yang merupakan produk dari Gunung Ungaran Muda.

BAB IV
DATA LAPANGAN

4.1. Data Lapangan STA 1 Daerah Sungai Banyumeneng

Gambar 4.1 Foto sesar sinistral pada STA 1

Hari, Tanggal

: Sabtu, 3 November 2012

Waktu

: 08.53 WIB

Lokasi

: Kali Banyumeneng, Batursari, Mranggen,


Kab. Demak

Bentang alam

: fluvial

Struktur

: perlapisan

Tingkat pelapukan

: sedang

Struktur geologi

: sesar sinistral

Dimensi singkapan

: 4 x 0.5 meter

Lithologi

: batuan sedimen (pasir sedang, lanau)


Deskripsi batuan 1
Warna

: coklat keabu-abuan

Struktur

: non struktural

Tekstur

baik, kemas tertutup

rounded,

sortasi

Nama batuan

: batu lanau

Deskripsi batuan 2
Warna

: coklat keabuabuan

Struktur

: laminasi

Tekstur

: rounded, besar butir

pasir sedang, sortasi baik, kemas


tertutup
Nama batuan

: batu pasir sedang

Strike and dip sesar

: N 55o E / 47o

Strike and dip perlapisan

: N131,50 E / 38,40

Vegetasi

: semak semak (heterogen)

Potensi positif

: irigasi

Potensi negative

: banjir

Morfogenesa

: pada areal STA ini terdapat sebuah sesar


sinistral. Sesar sinistral ini merupakan
rekahan yang telah bergeser dan bidang
sesarnya yang sebelah kiri mendekati ke
pengamat. Sesar ini dapat diakibatkan oleh
suatu

gaya

tektonik

seperti

gempa.

Lithology yang berupa batuan sedimen


menunjukkan pada daerah STA ini telah
mengalami
sedimentasi.

proses-proses

erosi

dan

4.2. Data Lapangan STA 2 Daerah Tepi Sungai Banyumeneng

Hanging wall

N
Footwall

Gambar 4.2 Foto sesar turun pada singkapan batuan (outcrop) STA 2

Hari, Tanggal

: Sabtu, 3 November 2012

Waktu

: 09.57 WIB

Lokasi

: Kali Banyumeneng, Batursari, Mragen,


Kab. Demak

Plotting area

: 7o 5 54 S, 110o 29 57 E (GPS)

Bentang alam

: fluvial

Bentuk lahan

: perkebunan

Tata guna lahan

: kebun jati

Struktur

: perlapisan

Tingkat pelapukan

: rendah

Struktur geologi

: sesar turun

Dimensi singkapan

: 15 x 9 meter

Lithologi

: batuan sedimen (batu pasir kasar)


Deskripsi batuan:
Warna

: coklat keabuabuan

Struktur

: laminasi

Tekstur

: rounded, besar butir

pasir kasar, sortasi sedang, kemas


tertutup
Nama batuan
o

: batu pasir kasar

Strike and dip sesar

: N 348 E / 39

Strike and dip perlapisan

: N 144o E / 63o

Slope

: 83o

Vegetasi

: semak semak (heterogen)

Potensi positif

: kebun

Potensi negative

: longsoran

Morfogenesa

: singkapan batuan ini terlihat hanging


wallnya turun, singkapan ini mengalami
struktur geologi berupa sesar turun. Sesar
turun ini disebabkan oleh gaya tegangan
yang mengakibatkan tertariknya kekar ke
arah berlawanan. Melihat struktur sesarnya
mungkin di akibatkan oleh bidang bidang
lemah pada singkapan batuan dan akhirnya
rekah kemudian turun akibat gravitasi.
Lithology batuan yang berupa batuan pasir
kasar ini menunjukkan dulunya tempat ini
merupakan suatu daerah pengendapan.
Namun karena gaya tektonik yang bekerja
pada singkapan batuan tersebut, mengalami
uplift atau pengangkatan.

4.3. Data Lapangan STA 3 Daerah Sungai Banyumeneng


-

LP 1

N
Gambar 4.3a Foto sesar dekstral pada STA 3 LP 1

Hari, Tanggal

: Sabtu, 3 November 2012

Waktu

: 11.00 WIB

Lokasi

: Kali Banyumeneng, Batursari, Mragen,


Kab. Demak

Plotting area

: 7o 2 1 S, 110o 29 57 E (GPS)

Bentang alam

: fluvial

Bentuk lahan

: sungai

Tata guna lahan

:-

Struktur

: perlapisan

Tingkat pelapukan

: sedang

Struktur geologi

: sesar dekstral

Dimensi singkapan

: 4 x 0.5 meter

Lithologi

: batuan sedimen (batu pasir sedang)


Deskripsi batuan:
Warna

: coklat keabuabuan

Struktur

: laminasi

Tekstur

: rounded, besar butir

pasir sedang, sortasi sedang, kemas


tertutup
Nama batuan

Strike and dip perlapisan

Strike and dip sesar

: N 3450 E / 830

: batu pasir sedang

N 3280 E / 670
N 3340 E / 780
N 3340 E / 790
N 3300 E / 780
Vegetasi

: semak semak (heterogen)

Potensi positif

: irigasi

Potensi negative

: banjir

Morfologi

: pada areal STA ini terdapat sebuah sesar


dekstral. Sesar dekstral ini merupakan
rekahan yang telah bergeser dan bidang
sesarnya yang sebelah kanan mendekati ke
pengamat. Sesar ini dapat diakibatkan oleh
suatu

gaya

tektonik

seperti

gempa.

Lithology yang berupa batuan sedimen


menunjukkan pada daerah STA ini telah
mengalami
sedimentasi.

proses-proses

erosi

dan

LP 2

Antiklin

N
Gambar 4.3b Foto struktur lipatan antiklin pada STA 3 LP 2

Hari, Tanggal

: Sabtu, 3 November 2012

Waktu

: 11.10 WIB

Lokasi

: Kali Banyumeneng, Batursari, Mragen,


Kec. Tembalang

Plotting area

: 7o 2 1 S, 110o 29 57 E (GPS)

Bentang alam

: fluvial

Bentuk lahan

: sungai

Tata guna lahan

:-

Struktur

: perlapisan

Tingkat pelapukan

: sedang

Struktur geologi

: lipatan

Dimensi singkapan

: 6 x 5 meter

Lithologi

: batuan sedimen (batu pasir kasar)


Deskripsi batuan:
Warna

: coklat keabuabuan

Struktur

: laminasi

Tekstur

: rounded, besar butir

pasir kasar, sortasi sedang, kemas


tertutup
Nama batuan
Strike and dip antiklin

: batu pasir kasar


0

: Sayap Kanan N 296 E / 710


Sayap Kiri N 1430 E / 590

Slope

:-

Vegetasi

: semak semak (heterogen)

Potensi positif

: irigasi

Potensi negative

: banjir

Morfogenesa

: Lipatan antiklin ini terbentuk karena


adanya gaya perlipatan. Pada awalnya ini
merupakan suatu endapan sedimen dari
sungai ini sendiri namun karena adanya
gaya perlipatan maka sedimen sedimen ini
mengalami perlipatan, serta gaya tertonik
menyebabkan lipatan ini agak muncul dari
bidang planarmya. Terlihat bagian puncak
antiklin tersebut telah mengalami erosi
sehingga agak susah diidentifikasi.

BAB V
PEMBAHASAN
5.1. Profil Sayatan Daerah Kali Djuruk Barang
Dalam membuat profil sayatan hal pertama yang dilakukan adalah
membuat sayatan sepanjang 15 cm pada peta topografi. Pada pensayatan
peta topografi diambil daerah Kali Djuruk hingga ke daerah Barang.
Kemudian memplot pada kertas milimeter blok dengan sumbu horizontal
adalah panjang sayatan dan sumbu vertikal adalah tinggi relief sesuai data
pada sayatan. Dalam profil eksagrasi, skala vertikal atau ketinggian relief
diperbesar dua kali dari skala horizontal yang semula 1 : 50.000 menjadi 1 :
25.000.
Sayatan ini dari daerah Kali Djuruk dengan ketinggian 154 m
melewati kontur renggang menurun hinga sampai ke Kali Kalam dengan
ketinggian turun 79 m dari daerah Kali Djuruk. Kemudian sayatan naik
secara landai sampai ke Kali Bilar. Setelah melewati Kali Bilar kontur turun
secara landai hinggal sekitar 20 m sampai ke Kali Banyumeneng. Kemudian
setelah melewati Kali Banyumeneng, sayatan melalu kontur yang rapat.
Sayatan naik terjal hingga ke puncak Gunung Girikusuma dengan
ketinggian 216 m. Setelah melewati Gunung Girikusuma, sayatan menurun
landai hingga ketinggian 88 m di daerah barang. Kali kalam, Kali Djuruk,
dan Kali Bilar merupakan anak sungai dari Kali Banyumeneng.

5.2. Geomorfologi Daerah Observasi


Pada lokasi daerah observasi, geomorfologi yang Nampak merupakan
suatu bentang alam fluvial. Bentang alam fluvial ini merupakan bentang
alam yang dibentuk oleh dominasi aliran air permukaan yang telah
mengalami proses proses seperti erosi, transportasi dan pengendapan baik
itu dari areal STA pertama hingga STA terakhir. Pada daerah observasi
aliran permukaan yang berpengaruh dalam pembentukan bentang alam ini

adalah Sungai Banyumeneng. Sungai ini merupakan jajaran sungai dewasa


karena masih mengerosi lateral secara efektif, dan penampang melintang
berbentuk huruf U.

Gambar 5.1 Kenampakan Sungai Banyumeneng

Aliran pada Sungai Banyumeneng tidak terlalu deras. Pada bentuk


lahan sungai ini juga terbentuk meander, point bar, dan channel bar. Proses
erosi pada sungai ini masih relatif sedang. Ini karena meskipun pada sungai
ini banyak ditemukan material materal lepas, tpi masih terdapat beberapa
batuan yang masih dalam bongkah-bongkah berukuran relative sedang
hingga besar.

5.3. Lithologi Daerah Observasi


Pada pengamatan STA 1 terdapat 2 jenis batuan. Yang pertama
dengan ciri ciri warna kecoklatan, strukturnya laminasi, bentuk butirnya
rounded dengan ukuran besar butir lempung ( 1/256 mm skala wentworth).
Kemasnya kemas tertutup, pemilahannya very well sorted. Untuk komposisi
kimia belum dilakukannya tes HCl sehingga masih belum tahu kompisisi
semennya. Untuk fragmennya berupa fragmen lempung, matriks tidak
teramati dengan kasat mata. Berdasarkan ciri ciri tersebut batuan itu
merupakan batu lempung. Kemudian deskripsi batuan kedua ciri-cirinya
berwarna coklat keabu-abuan, strukturnya laminasi, bentuk butirnya
rounded, besar butirnya pasir sedang ( - mm skala wentworth), kemas
tertutup, pemilahan well sorted. Fragmennya merupakan fragmen pasir

sedang dan matriksnya tidak teramati secara kasat mata. Berdasarkan ciri
ciri tersebut batuanya merupakan batuan pasir sedang. Jadi lithology pada
areal STA 1 adalah lithology batuan lempung dan batuan pasir sedang.
Litologi yang terdapat pada STA 2 yaitu batu pasir kasar dengan
warna segar abu-abu, warna lapuk abu-abu kehitaman, ukuran sekitar 2 mm,
bentuk butir very rounded, sortasi sedang dan kemas tertutup. Lithology
batuan yang berupa batuan pasir kasar ini menunjukkan dulunya tempat ini
merupakan suatu daerah pengendapan.
Pada STA 3, dibagi menjadi 2 titik lokasi pengamatan. Lokasi
pengamatan yang pertama, menampakkan lithology batuan dengan ciri-ciri
warna abu-abu, bentuk butir rounded, kemas tertutup, sortasi sedang, ukuran
butir batu pasir sedang, dan matriks berupa butir pasir sedang, sehingga
pada STA 3 LP 1 lithologi batuannya dominan batuan pasir sedang.
Kemudian pada LP 2 ditemukan batuan dengan ciri-ciri warna abu-abu,
ukuran butir pasir kasar, bentuk butir rounded, kemas tertutup, sortasi
sedang ukuran butir pasir kasar dan matriks berupa pasir kasar, sehingga
lithology batuannya dominan batuan pasir kasar.
Berdasarkan hasil pengamatan dari STA pertama hingga STA terakhir
litologi penyusun daerah observasi merupakan dominasi lithology batuan
sedimen dimana pada setiap STA menampakkan lithology sedimen dengan
batuan yang berbeda.

5.4. Struktur Geologi Daerah Observasi


Pada daerah observasi ditemukan berbagai macam bentuk struktur
geologi. Pengamatan dilakukan per STA didapat struktur-struktur geologi
antara lain :
Pada STA 1 teramati adanya singkapan batuan dengan lithology
batuan lempung dan pasir sedang. Singkapan yang teramati merupakan
singkapan yang berupa perlapisan. Ini di tandai dengan kenampakan garis
garis lurus seperti lapisan. Tingkatan pelapukannya masih terbilang sedang.
Pada singkapan ini terdapat sebuah struktur geologi berupa sesar. Sesar

merupakan rekahan yang telah mengalami pergeseran. Sesar yang teramati


merupakan sesar sinistral. Sesar ini arah pergeserannya berlawanan arah
dengan arah perputaran jarum jam, lebih mudahnya dicirikan bidang sesar
sebelah kiri yang mendekati pengamat di lihat dari kita menghadap sesar
tersebut. Sesar yang terbentuk ini diakibatkan oleh gaya yang bekerja pada
singkapan batuan itu sendiri seperti gaya tektonik, gempa, dsb. Pada
Pengukuran strike and dip dengan menggunakan kompas diperoleh strike
and dip sesar sebesar N 55o E / 47o dan strike and dip perlapisan sebesar N
131,5o E / 38,40
Pada STA 2 Objek dari pengamatan adalah sebuah singkapan batuan.
Terdapat struktur geologi yang berpengaruh pada singkapan ini. Struktur
geologi yang paling banyak berpengaruh terhadap pembentukan morfologi
adalah struktur geologi sekunder, yaitu struktur yang terbentuk setelah
batuan itu ada Pada STA 2 terdapat struktur geologi berupa sekar. Sesar
merupakan rekahan yang telah mengalami pergeseran. Pada kenampakan di
lapangan, sesar yang terlihat adalah sesar turun, dimana ditinjau dari
hanging wallnya yang turun. Melihat struktur sesarnya mungkin di
akibatkan oleh bidang bidang lemah pada singkapan batuan dan akhirnya
rekah kemudian turun akibat gravitasi. Pada Pengukuran strike and dip
dengan menggunakan kompas diperoleh strike and dip sesar sebesar N 348o
E / 39o dan strike and dip perlapisan sebesar N 144o E / 63o. Slope tebing
83.
Pada STA 3, pangamatan LP 1 teramati terdapat sebuah sesar dekstral.
Sesar dekstral ini merupakan rekahan yang telah bergeser dan bidang
sesarnya yang sebelah kanan mendekati ke pengamat. Sesar ini dapat
diakibatkan oleh suatu gaya tektonik seperti gempa. Lithology yang berupa
batuan sedimen menunjukkan pada daerah STA ini telah mengalami prosesproses erosi dan sedimentasi. Lalu pada pengamatan LP 2 teramati sebuah
lipatan antiklin. Lipatan antiklin ini terbentuk karena adanya gaya
perlipatan. Pada awalnya ini merupakan suatu endapan sedimen dari sungai
ini sendiri namun karena adanya gaya perlipatan maka sedimen sedimen ini

mengalami perlipatan, serta gaya tertonik menyebabkan lipatan ini agak


muncul dari bidang planarmya. Terlihat bagian puncak antiklin tersebut
telah mengalami erosi sehingga agak susah diidentifikasi.
Berdasarkan pengamatan dari STA pertama hingga STA terakhir
struktur geologi yang termati didominasi oleh struktur sekunder. Struktur
sekunder adalah struktur yang terbentuk pada batuan setelah batuan itu
terbentuk. Struktur struktur sekunder ini antara lain diakibatkan oleh arah
dan kekuatan gaya yang bekerja pada batuan/singkapan itu sendiri, sifat
sifat fisik batuan itu sendiri, perubahan batuan oleh alam seperti erosi atau
pengaruh kimia.

BAB VI
PENUTUP

6.1.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan pada 4 STA yang berbeda diperoleh
kesimpulan bahwa daerah Kali Banyumeneng memiliki bentang alam
fluvial, ini dicirikan dengan pola aliran berupa sungai. Kali Banyumeneng
merupakan sungai stadia dewasa karena penampang sungainya yang
berbentuk U, aliran sungai tidak deras, dan mengerosi lateral aktif.
Lithology pada daerah Kali Banyumeneng merupakan dominan
lithology batuan sedimen dengan beberapa batuan sedimen berbeda pada
setiap STA. STA 1 memiliki litologi batu lempung dan pasir sedang, STA
2 memiliki litologi batu pasir kasar, STA 3 LP 1 memiliki litologi batu
pasir sedang, STA 3 LP 2 litologi batu pasir kasar.
Struktur Geologi yang terdapat pada daerah Kali Banyumeneng
berupa struktur sekunder yaitu struktur yang terbentuk setelah batuan itu
terbentuk, antara lain berupa sesar sisistral, sesar turun, sesar dekstral dan
lipatan antiklin. Struktur sekunder ini dapat disebabkan oleh berbagai
macam kemungkinan seperti arah dan kekuatan gaya yang bekerja pada
batuan/singkapan itu sendiri, sifat sifat fisik batuan itu sendiri, perubahan
batuan oleh alam seperti erosi atau pengaruh kimia.

6.2.

Saran
1.

Praktikan seharusnya lebih menyusuri daerah pengamatan agar


diperoleh data yang akurat.

2.

Praktikan seharusnya lebih memanfaatkan waktu yang diberikan


dalam melakukan pengamatan.

3.

Asisten seharusnya lebih komunikatif terhadap praktikan agar tidak


terjadi salah presepsi.

DAFTAR PUSTAKA
Noor, Djauhari. 2009. Pengantar Geologi, Bogor : Universitas Pakuan.
Noor, Djauhari. 2011. Geologi untuk Perencanaan, Yogyakarta : Graha Ilmu.
Tim Asisten Geologi Dasar. 2012. Buku Panduan Praktikum Geologi Dasar,
Semarang : Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro.
http://ptbudie.wordpress.com/2009/01/25/21/ (diakses pada tanggal 5 Desember
2012 pukul 23.15)