Anda di halaman 1dari 38

BAB II

TINJAUAN TEORITIS THYPUS ABDOMINALIS

A. Pengertian
Thypus abdominalis (demam tifoid, enteric fever) ialah penyakit infeksi akut
yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari
satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran (Ngastiayah,1997).
Tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna
dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran
(Suriadi dan Yuliani,2005).
Typhus abdominalis merupakan penyakit yang terjadi pada usus halus yang
disebabkan oleh salmonella thypii. Penyakit ini dapat ditularkan melalui makanan
atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman salmonella thypii (A.Alimul
Hidayat,2006).
Jadi, typhus (tipoid) adalah penyakit yang disebabkan oleh salmonella thypii
yang menyebabkan terjadinya infeksi pada saluran pencernaan dengan gejala demam
lebih dari satu minggu dan dapat terjadi penurunan kesadaran.

B. Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah salmonella typhosa, salmonella parathypi
A,B,C, bakteri ini termasuk bakteri batang garam negative, mempunyai flagel yang
memungkinkan kuman ini dapat bergerak, tidak berspora. Mempunyai tiga jenis

antigen yaitu antigen O (somatic, terdiri zat kompleks lipopolisakarida), antigen H


(flagella) dan antigen Vi. Dalam serum pasien terdapat zat anti (agglutinin) terhadap
ketiga macam antigen tersebut.
C. Anatomi dan Fisiologi
Saluran gastro intestinal (GI) adalah jalur yang berjalan dari mulut melalui
esophagus, lambung, dan usus sampai anus. Esofagus terletak di mediastinum rongga
torakal, anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung.
Selang yang dapat mengempis ini, yang panjangnya kira-kira 25 cm, menjadi distensi
bila makanan melewatinya.
Lambung ditempatkan dibagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah
tubuh, tepat dibawah diafragma kiri. Lambung adalah suatu kantong yang dapat
berdistensi dengan kapasitas kira-kira 1500 ml. Inlet kedalam lambung disebut
pertemuan esofagogastrik. Bagian ini dikelilingi oleh cincin otot halus, disebut
sfingter esofagus bawah (atau sfingter kardia), yang pada saat kontraksi, menutup
lambung dari esofagus. Lambung dapat dibagi kedalam empat bagian anatomi: kardia
(jalan masuk), fundus, korpus dan pilorus. Otot halus sirkuler di dinding pilorus
membentuk sfingter piloris dan mengontrol lubang diantara lambung dan usus halus.
Usus halus adalah segmen paling panjang dari total seluruh GI, yang jumlah
panjangnya kira-kira dua pertiga dari panjang total saluran. Usus halus dibagi
kedalam tiga bagian anatomis: bagian atas, disebut duodenum; bagian tengah disebut
yeyunum; dan bagian bawah disebut ileum.

Pertemuan antara usus halus dan besar terletak dibagian bawah kanan
duodenum. Ini disebut sekum. Pada pertemuan ini katup ileosekal, yang berfungsi
untuk mengontrol pasase isi usus kedalam usus besar dan mencegah refluks bakteri
kedalam usus halus. Pada tempat ini terdapat apendiks verifornis. Usus besar terdiri
dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen, segmen tranversum yan memanjang
dari abdomen atas kanan ke kiri, dan segmen desenden pada sisi kiri abdomen.
Bagian ujung dari usus besar terdiri dari dua bagian: kolon sigmoid dan rektum.
Rektum berlanjut pada anus. Jalan keluar anal diatur oleh jaringan otot lurik yang
membentuk baik sfingter interna dan eksterna.

D. Patofisiologi
Kuman salmonella masuk bersama makanan atau minuman, berada dalam
usus halus mengadakan invasi kejaringan limfoid usus halus (termasuk plak peyer)
dan jaringan limfoid mesenterika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrose
setempat kuman lewat pembuluh limfe masuk kedarah (bakteriemia primer) menuju
organ retikulo endothelial system (RES) terutama hati dan limpa. Ditempat ini kuman
difagosit oleh sel-sel fagosit RES dan kuman yang tidak difagosit berkembang biak.
Pada akhirnya masa inkubasi 5-9 hari kuman masuk kembali kedalam aliran darah,
menyebar keseluruh tubuh (bakterimia sekunder) dan sebagian kuman masuk ke
organ tubuh terutama limfe, kantong empedu kerongga usus dan menyebabkan
infeksi pada usus. Demam thypoid disebabkan oleh kuman salmonella typhosa dan
endotoksin yang merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada

jaringan

yang

meradang.

Selanjutnya

zat

pirogen

yang

beredar

didarah

mempengaruhi termoregulator dihypothalamus yang mengakibatkan timbulnya gejala


demam. Infeksi oleh

salmonella thyposa, menunjukan bahwa jumlah

10 ,7

organisme dapat menyebabkan penyakit pada 50 % individu.


E. Masa inkubasi
Masa inkubasi dari salmonella thypi adalah 10 20 hari. Yang tersingkat 4
hari jika terjadi infeksi melalui makanan, sedangkan jika melalui minuman yang
terlama 30 hari.

F. Manifestasi klinis
Gejala demam thypoid pada anak biasanya lebih ringan dibandingkan dengan
orang dewasa. Selama masa inkubasi, dapat ditemukan gejala prodromal, yaitu
perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat, nafsu
makan berkurang. Menyusul gambaran kilinik yang biasa ditemukan adalah:
1. Demam. Pada kasus yang khas demam terjadi selama tiga minggu, bersifat febris
remiten dan suhu tidak tinggi sekali. Selama minngu pertama suhu tubuh
berangsur-angsur naik setiap hari, menurun pada pagi hari dan meningkat pada
sore dan malam hari. Pada minggu kedua pasien terus berada dalam keadaan
demam; pada minggu ketiga suhu berangsur-angsur turun dan kembali normal
pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan pada saluran pencernaan. Pada mulut terdapat napas berbau tidak sedap
/Holitosis, bibir kering dan pecah, lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung dan

tepinya kemerahan, meteorismus, mual, tidak nafsu makan, hepatomegali,


splenomegali yang disertai nyeri pada perabaan.
3. Gangguan kesdaran. Penurunan kesadaran: apatis sampai somnolen.
4. Tanda lain. Pada punggung dan anggota garak ditemukan roseola, yaitu bintikbintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit, yang dapat ditemukan
pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan pula bradikardia dan
epistaksis pada anak besar.
Relaps (kambuh)
Relaps ialah berulangnya gejala penyakit thypus abdominalis, akan tetapi
berlangsung ringan dan singkat. Terjadi pada minggu kedua setalah suhu badan
normal kembali. Menurut teori relaps terjadi karena terdapatnya basil dalam organorgan yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh zat anti.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemerikasaan darah tepi. Terdapat gambaran leukopenia, limpositosis,
trombositopeni.
2. Biakan empedu terdapat basil salmonella thyposa pada urindan tinja. Pasien
dikatakan sembuh apabila tidak didapatkan basil tersebut pada pemeriksaan
dua kali berturut-turut.
3. Pemeriksaan widal. Pemeriksaan widal merupakan pemeriksaan yang dapat
menentukan diagnosis tifus abdominalis secara pasti.

H. Cara penularan
1. Food : melalui makanan yang terkontaminasi .
2. Finger : melalui jari tangan yang kotor, untuk itu diperlukan desinfektan untuk
mencuci tangan.
3. Flies : melalui lalat sebagai pembawa/penyebar dari kuman tersebut.
4. Fomites : melalui alat alat bekas pasien yang kotor yang terkontaminasi.
5. Feces : penularan melalui feces penderita.

I .Penatalaksanaan Medis
a.

Perawatan yang baik untuk mencegah komplikasi, mengingat sakit yang


lama.

b.
c.

Istirahat selama demam hingga dua minggu.


Diet tinggi kalori dan protein dan diberikan makanan yang lunak untuk
menghindari komplikasi pendarahan usus dan perforasi usus.

d.

Pemberian antibiotik dosis tinggi yaitu Chloramfenikol 100 mg/kg


BB/hari

e.

Bila terdapat komplikasi, beri terapi sesuai dengan gejala yang timbul.

J . Komplikasi.
Pada usus:
1. Pendarahan usus
2. Perforasi usus

3. Peritonitis
Diluar usus:
Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis(bakteriemi) yaitu :
1. Komplikasi kardiovaskuler: kegagalan sirkulasi perifer.
2. Komplikasi darah: anemia haemolitik, thrombositopeni.
3. Komplikasi paru :pneumonia, empiema, pleuritis.
4. Komplikasi hepar dan kandung kemih : hepatitis, kolelitiasis.
5. Komplikasi ginjal:glomerulonepritis, pielonepritis, kolelitiasis.

K. Pencegahan
Usaha pencegahan thypoid dapat dibagi dalam:
1. Usaha terhadap lingkungan
2. Usaha terhadap manusia
Usaha terhadap lingkungan
1. Penyediaan air minum yang memenuhi syarat
2. Pembuangan kotoran manusia yang higienis
3. Pemberantasan lalat
4. Pengawasan terhadap rumah-rumah makan dan penjualan-penjualan makanan.
Usaha terhadap manusia
1. Imunisasi
2. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat
3. Menemukan dan mengawasi carier thypoid

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN THYPOID

A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan
a) Tanyakan pada orangtua atau anak keluhan utama yang dirasakan
b) Riwayat penyakit sebelumnya, apakah anak pernah menderita penyakit
yang sama sebelumnya dan kapan terjadi
c) Riwayat kesehatan keluarga, apa dalam keluarga ada yang pernah atau
sedang menderita penyakit yang sama.
2. Pemeriksaan fisik : Kaji adanya tanda dan gejala meningkatnya suhu tubuh
terutama pada malam hari, nyeri kepala, lidah kotor, tidak ada nafsu makan,
abdomen

kembung,

epistaksis,

penurunan

kesadaran,

hepatomegali,

splenomegali.
3. Pola hidup sehari-hari
Kebiasaan pasien mengkonsumsi makanan yang tidak diolah dengan baik,
sumber air minum yang tidak sehat, dan kondisi rumah yang kurang
memenuhi syarat, tempat tinggal yang tidak sehat serta kebiasaan
perseorangan yang buruk.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake
cairan dan peningkatan suhu tubuh.
Tujuan: Kebutuhan cairan terpenuhi.
Intervensi:
1. Kaji keadaan umum dan observasi tanda-tanda vital pasien
Rasional : menetapkan data dasar, untuk mengetahui dengan cepat
penyimpangan dari keadaan normal.
2. Observasi adanya tanda syok (nadi tak teraba, TD tidak terdengar, akral
dingin)
Rasional: Agar segera dapat dilakukan tindakan yang tepat.
3. Kaji tanda dan gejala dehirasi (turgor kulit jelek, mata cekung, mukosa
kering)
Rasional: untuk rehidrasi cairan yang hilang.
4. Anjuran pasien untuk banyak minum(1350 1500 cc/24 jam)
Rasional: Mengganti cairan yang hilang akibat penguapan
5. Berikan cairan intravena sesui progran dokter

Rasional: Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh


meneingkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhungan dengan mual,


muntah, tidak ada nafsu makan.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi adekuat.
Intervensi:
1.

Kaji keluhan mual, sakit menelan dan muntah yang di alami pasien
Rasional: Untuk menetapkan cara mengatasinya

2. Berikan makanan yang mudah ditelan: bubur, tim, dalam keadaan hangat
Rasional: Membantu mengurangi kelehan pasien dan meningkatkan
asupan makanan yang mudah ditelan.
3. Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional: Menghindari terjadinya mual dan muntah.
4. Jelaskan manfaatnya makanan bagi pasien terutama saat sakit
Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga pasien dan motivasi
keluarga untuk memberikan makanan kepada anaknya.
5. Berikan umpan balik positif saat pasien mau makan.
Rasional: Memotivasi dan meningkatkan semangat pasien.
6. Catat jumlah atau porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari
Rasional: untuk mengetahui pemenuhan nutrisi pasien.

3. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus


Tujuan: Tanda vital dalam batas normal
Intervensi:

Kaji saat timbulnya demam


Rasional: Mengindentifikasi pola demam

Observasi tanda-tanda vital


Rasional: Acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.

Beri penjelasan pada pasien/keluarga tentang penyebab demam atau


peningkatan suhu tubuh.
Rasional: Membantu keluarga pasien mengurangi kecemasan yang timbul

Beri penjelasan pada pasien /keluargatentang hal yang dapat dilakukan untuk
mengatasi demam.
Rasional:

Keterlibatan

keluarga

sangat

berpengaruh

dalam

proses

penyembuhan pasien.

Jelaskan pentingnya tirah baring dan akibatnya bila hal tersebut tidak
dilakukan.
Rasional: Memotivasi pasien dan keluarga untuk kooperatif

4. Kurang perawatan diri berhungan dengan istirahat total.


Tujuan: Kebersihan diri sesuai pola
Intervensi:

Kaji pola kebersihan diri pasien


Rasional: Data dasr dalam melakukan intervensi.

Bantu pasien dalam melakukan kebersihan badan, mulut, rambut dan kuku.
Rasional: Mempertahankan rasa nyaman.

Lakukan pendidikan kesehatan (pentingnya kebersihan diri, pola kebersihan


diri, cara kebersihan)
Rasional: Meningkatkan pengetahuan pasien/keluarga agar lebih kooperatif.

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN OBSERFASI
FEBRIS SUSPEK THYPOID FEVER.

I. Pengkajian

Nama

: An . M .Y.

Umur

: 3 tahun , 3 bulan

Jenis kelamin

: Laki-laki

Kamar

: 8-1. Th-RS.St. Yusup

Tgl masuk

: 30-3-2008

Tgl . Pengkajian

: 31-3 -2008

RM

: 39-92

Diagnosa medis

: observasi febris suspek Thypoid fever

Pengkajian diperoleh dari

: orangtua klein ( ibu)

Penanggungjawab

: Bpk. Asep Dam Kosar

Hubungan dengan klein

: orang tua kandung

Alamat orang tua

: Jln. Simpang no. 59 02/07 Bandung

II.. Riwayat penyakit sekarang dan pengobatan


Sejak tanggal 27-3-2008, klien batuk, pilek, telpon dokter Nurvita advice
dapat Relapen syrup 3x1 cth. Panas sudah 6 hari, muntah 1x sudah berobat ke
dokter Nurvita advice dapat obat Pyrex syrup 3x1 cth, Ambrosot syrup 3x1 cth
dan Lapicep syrup 3x1 cth. Setelah minum obat hanya bertahan 1 hari kemudian
panas lagi.
Tgl. 31-3-2008 ,orang tua klien

membawa ke R S . St . Yusup melalui

UGD, advice dokter opname di Theresia. Keluhan utama: panas. Panas terjadi bila
beraktivitas, panas menurun bila diberi obat penurun panas, panas terjadi pada
seluruh tubuh dan panas sering terjadi pada sore dan malam hari.

III. Riwayat penyakit yang pernah dialami

Pada tahun 2006, pada umur 13 bulan klien menderita Demam Berdara dan
masuk RS.St.Yusup selama 10 hari sembuh. Tiga hari hari kemudian klien masuk lagi
RS karena luka pada pipi akibat dan hidung akibat jatuh dan keca kaca yang pecah.
Riwayat alergi : tidak ada.

IV. Riwayat kehamilan, persalinan dan kelahiran.


1. Kehailan : kehamilan kedua,

pada waktu hamil sering melakukan

pemeriksaan kehamilam ke bidan umur kehalian saat lahir aterm.


2. Persalinan: persalinan ditolong oleh oleh bidan di RS
3. Kelahiran: kelahiran spontan dengan letak sungsang

V. Riwayat Imunisasi
Imunisasi dasar yang sudah diberikan: BCG, DPT(I-III). Polio(I-IV), campak
dan Hepatitis B(I-III)

VI. Riwayat Tumbuh Kembang


Pengasuh utama di rumah: ibu kandung dan nenek kalau ibunya pergi bekerja.
Perkembang fisik dan mental:

Tengkurap: umur: 4 bulan

Merangkak: umur: 8 bulan

Duduk

Berdiri/jalan: umur: 16 bulan

Bicara

: umur 9 bulan

: umur ( orang tua lupa)

Perkembangan motorik

Motorik kasar: lari-lari, main speda, lompat-lompat

Motorik halus: mewarnai, menyusun huruf, menyusun angka, membuat garis


lurus, main game di komputer.

Bahasa: klien bisa berbahasa Indonesia dengan baik, mengerti bila diminta
membuat atau menyususn suatu kata.
a.

VI.I. Riwayat penyakit keluarga dan hubungan dengan klien .

Penyakit menurun
masih

: penyakit jantung, kakek, ayah dari bapaknya,

hidup. Penyakit hipertensi, nenek ibu dari ibunya, masih hidup .

Penyakit menular

: tidak ada .

VIII. Proteksi / pelindungan Kesehatan :


Klien dan keluarganya tidak tahu tentang sakit yang dideritanya serta
upaya

untuk menjaga kesehatan diri .

IX.. Tanda vital : suhu : 380 oc, N, 120x/ mnt. TD : 95/75 mm Hg, HR: 65xl mnt,
RR: 20x/mnt.

X. Sistem pernapasan: ada batuk, warna sputum: bening, tidak ada bunyi suara
napas tambahan. Bentuk dada : simetris, tipe pernapasan : pernapasan dada, tidak
tampak menggunakan otot tambahan saat bernapas.

XII. Sistem Jantung, peredaran darah dan kelenjar limfe:


- Tidak nyeri dada, tidak oedem, capilary refill: 2x/mnt.
Iktus cordis tampak di ICS: 5 linea Medio clarvicularis kiri.

XIII.Sistim Pencernaan dan Nutrisi :


Keadaan mulut :

Selaput Mucosa : lembab

Keadaan lidah

: kotor

Keadaan gigi

: bersih tidak berlubang

Leher

: tidak teraba kelenjar thyroid

Tonsil

: T1

Abdomen

: supel, peistaltik : 8x kuat, nyeri tekan tidak ada.

Hepar

tidak teraba

Rektum

: tidak ada hoemoroid

Nutrisi :
BB

: 12 kg

Nafsu makan

: kurang

Keluhan

: muntah 1x

Diit

ML.

Pola makan :
Frekuensi

: 3x/hari , jenis : nasi , sayur , lauk , minuman :

air putih , jumlah 2-4 gelas/hari .


Makanan yang disukai :wortel
Makanan yang tidak disukai : bayam .

XIV.. Sistem persyaratan :


Kesadaran

: compos Mentis, GCS: Motorik: 6, verbal : 5, reaksi

membuka mata: 4 = 15 .
Pupil kanan / kiri +/+

XV. Sistem panca indra :


Conjungtiva

: merah muda

Sklera

: normal

Keadaan mata

: bersih

Kornea

: bersih

Pendengaran

bagus, tidak ada serumen, tidak tampak

cairan
dalam telinga .
Septum : ditengah, polip: tidak ada, mukosa, merah mudah, sekret, jernih.

XVI. Eliminasi :
1.Keadaan saat ini:

Buang air kecil : lancar , frekuensi : 3-4x/ hari .

Buang air besar

: konsistensi lembek , frekuensi 1x/ hari .

Keringat

: sedikit , tidak bau .

2. Pola / kebiasaan :

Bunag air kecil : frekuensi : 4x / hari , warana kuning jernih ,


Jumlah : +_ 150 cc.

Buang air besar

: frekuensi : 1x /hari , warna : kuning.

XVII. Sistem Muscullosceletal / otot dan tulang;

Keadaan anatomis dan fisiologis :

Bentuk tulang belakang

Bentuk bahu: simetris

Uji kekuatan otot kanan-kiri

: simetris

5 5
5 5

Pola aktivitas dan istirahat :

Istirahat / tidur

Aktivitas

: Waktu tidur siang : jam 14


: penggunaan waktu luang diis dengan:

bermain spiderman

XVIII. Sistem Reproduksi :


Testis

: tidak ada kelainan

Penis

: tidak ada kelainan

. XIX. Psikososial :

Komunikasi

: verbal , kemampuan bicara normal .

Bahasa yang dipakai

: Bahasa Indonesia

Pasien tinggal dengan

: orangtuanya dan nenek

Orang yang paling dekat: kedua orangtuanya .

Ekspresi

: kadang tenang , kadang marah dengan


orangtuanya.

Pengambilan keputusan

: orangtuanya .

XX. Spiritual:
Ibadah: kadang- kadang diajak oleh orangtunya untuk sembahyang
Persepsi terhadap sakit : anak tampak takut

yang diekspresi lewat

marah .

XXI. Sosial Ekonomi:


Pekerjaan utama

: pegawai swasta di STM

Biaya hidup

: kepala keluarga

Biaya Rumah Sakit : oleh orang tua

XXII. Lingkungan:
Rumah

: milik sendiri, ventilasi: cukup .

WC

: ada

Air cucian

: dibuang diselokan rumah

Tempat sampah

: di tempat pembuangan sampah

Sumber air minum

: ada, dari PDAM.

Wabah yang sedang berjangkit: tidak ada.

DATA PENUNJANG :

RO Foto thoroa: cor: Regular, pulmo, Roncluii - wetzing Laboratorium :

HB

:12 grm

HT

: 39,1

Leuco

Trombo

Widal

:9.700
: 273.000

Salmonella Typii O :1/80

Salmonella Typii H : 1/160

Salmonella paratypii AO

Salmonella paratypii AH : 1/80.

: negatif

Therapi:
Infus RL

: 30 tetes/mnt

Ceftriaxone

: 2 x 500 mg

Pyrex

: 3 x 1 cth

Pulvis Teo

: 3 x 1 bks.

PENGELOMPOKAN DATA

Data Subjektif
Orang tua mengatakan anak panas

Data Obyektif
Akral panas, S: 38 oc, N: 120

sudah 6 hari, batuk sudah 3 hari

x/mnt, TD:95/75 mmHg, RR: 20

Orang tua mengatakan muntah 1 x,

x/mnt, HR:65x/mnt

nafsu makan berkurang

Lidah kotor, makan habis porsi

Berat badan sebelum sakit 12 kg

BB: 11,5 kg

Orang tua mengatakan sputum

Terpasang

warna bening

Minum 2 4 gelas perhari

Semenjak sakit aktivitas berkurang

Orang tua mengatakan anak tampak


lemah tidak bersemangat

infus

dengan

RL

ditangan kiri

Hasil Lab: Hb: 12 gr, Ht: 39,1,


Leukosit: 9.700, Trombo: 273.000

Widal:
Salmonella Typii O : 1/80
Salmonella Typii H : 1/160
Salmonella Paratypii AO : negatif

Salmonella Paratypii AH : 1/80

Foto Thorax:
Cor : Reguler
Pulmo : Ronchii negatif, wetzing : negatif

ANALISA DATA

Data
Data subyektif:

Etiologi
Salmonella typosa

Masalah
Hipertermi

Orang tua mengatakan anak


panas sudah 6 hari

Saluran pencernaan

Data obyektif:

Mulut

S: 38,2 oc, N: 120 x /mnt,


TD: 95/75 mmHg, RR: 20Lambung
x/mnt, HR:65x/mnt
Diserap oleh susus halus

Bakteri

memasuki

darah sistemik

aliran

Endotoksin
Panas

Data subyektif:

Salmonella typosa

Orang
mengatakan

Perubahan pola nutrisi

tua
nafsuSaluran pencernaan

makan berkurang

Orang
mengatakan

tuaMulut
muntah

1x

Data obyektif:

Makan habis posi

Anak tampak tida ada


gairah makan

Lidah tampak kotor

Diit : ML

Lambung

Dserap oleh usus halus

Bakteri

memasuki

aliran

darah sistemik

Hati dan limpa

Hepatomegali

dan

splenomegali

Mual, muntah, nafsu makan


menurun

Data subyektif

Salmonella thyposa

Orang

Perubahan pola aktivitas

tua

mengatakan

anakSaluran pencernaan

tampak lemes, rewel,


ingin

digendongMulut

terus.

Tidak bermain sepertiLambung


biasanya.
Diserap oleh usus halus

Data obyektif:

Anak tampak sakitBakteri

aliran

darah sistemik

sedang

Mobilisasi bedrest

Terpasang
ditangan kiri

memasuki

Kelenjar limfoid usus halus


infus

Tukak

Perdarahan dan perforasi

Betrest ditempat tidur

BAB IV
PEMBAHASAN

Dari teori dan tinjauan kasus tentang penyakit thypus abdominali teryata
persamaan namun ada juga perbedaan
Persamaannya:

Panas pada sore hari

Nafsu makan menurun

Lidah kotor

Hasil laboratorium widal menunjukkan positif thypus abdominalis

Nyeri pada perabaan hepar

Tidak bersemangat, lesu

Perbedaannya:
Diteori ada ada muntah pada kasus tidak ditemukan muntah
Diteori terdapat gejala kembung tapi pada kasus tidak ditemukan kembung
Pada teori terdapat distensi abdomen tapi pada kasus tidak ditemukan.
Pada teori terdapat nyeri kepala pusing namun pada kasus tidak ditemukan
nyeri kepala dan pusing.

Intervensi dan perawatan sesuai dengan terori.

BAB V
PENUTUP

Keberhasilan asuhan keperawatan pada anak tidak terlepas dari keterampilan


dan ilmu pengetahuan perawat dalam melakukan tindakan keperawatan. Teori
mengenai prosedur tindakan keperawatan khususnya pada anak sangat diperlukan dan
harus dipahami oleh perawat guna mencapai asuhan keperawatan yang maksimal
sesuai dengan tumbuh kembang anak.
Tindakan keperawatan maupun kolaborasi yang dilakukan oleh perawat
seperti : memberikan obat sesuai program dokter, memberikan kompres hangat,
menjelaskan pentingnya istirahat total kepada kekuarga/ anak, memberikan makanan
yang lunak yang mudah dicerna, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner Dan Sudarth, 2002. Keperawatan medical bedah. Jakarta : Buku


Kedokteran EGC
Ngastiyah, 1997. perawatan Anak Sakit. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Nelson, 1192. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC
Nursalam, dkk, 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba Medika

Hidayat, 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan yang Maha Esa atas
bimbingan

dan

penyertaannya

selama

proses

pemgambilan

kasus,

ujian

pertanggungjawaban kasus, dan penyelesaian makalah tentang asuhan keperawatan


pada pasien dengan thypus abdominalis.
Makalah ini disusun oleh penulis untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Keperawatan Anak II . Pada kesempatan ini penulis mengucapkan trimakasih
kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan dan penyelesaian makalah ini:
1. Ibu Stina Shinta , S. Kep selaku pembimbing Akademik
2. Ibu Vero, AMK selaku pembimbing praktek lapangan
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna
oleh karena itu dengan rendah hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun guna penyempurnaan makalah ini.

Bandung, April 2008-04-07

Penyusun

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK THYPUS


ABDOMINALIS

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak II
Dosen Pembimbing : Ibu Stina Shinta, S. Kep

Disusun oleh

Nama : Adelheit Remu


NIM: 2006 / 002K

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


SANTO BORROMEUS
BANDUNG 2008