Anda di halaman 1dari 15

Apr 21, '09 9:26 PM

Adakah Berpolitik dan Berpartai Dicontohkan Nabi dan Sahabat?


for everyone
Adakah Berpolitik dan Berpartai Dicontohkan Nabi dan Sahabat?

Ustadz, ana ingin bertanya.

Kalau dilihat dari realita yang sekarang, banyak sekali partai yang mengatas namakan
partai Islam (PKB, PKS, PAN dan lain-lain) sehingga sebagai seorang muslim ada yang
mewajibkan harus memilih salah satu dari beberapa partai tersebut atau bahkan sama
sekali tidak memilih.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana sesungguhnya atau sebenarnya dilihat dari sudut
pandang Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam hal berpolitik/berpartai? Ada nggak contohnya
dari Nabi dan para sahabat? Mohon penjelasan, jazakumulloh khoiron katsiron.

Wassalam,

Abu Hurairah Ali Asmara

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya seumur-umur belum pernah
ikut pemilu, apalagi membangun dan mengurusi partai politik. Realita seperti ini sudah
disepakati oleh semua orang, termasuk para ahli sejarah, ulama dan juga semua umat
Islam.

Dengan realita seperti ini, sebagian kalangan lalu mengharamkan pemilu dan mendirikan
partai. Alasannya, karena tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW, juga tidak
pernah dilakukan oleh para shahabat beliau yang mulia, bahkan sampai sekian generasi
berikutnya, tidak pernah ada pemilu dan pendirian partai politik dalam sejarah Islam.

Bahkan sebagian dari mereka sampai mengeluarkan statemen unik, yaitu bahwa ikut
pemilu dan menjalankan partai merupakan sebuah bid'ah dhalalah, di mana pelakunya
pasti akan masuk neraka.

Ditambah lagi pandangan sebagian mereka bahwa sistem pemilu, partai politik dan ide
demokrasi merupakan hasil pemikiran orang-orang kafir. Sehingga semakin haram saja
hukumnya.

Tentu saja pendapat seperti ini bukan satu-satunya buah pikiran yang muncul di kalangan
umat. Sebagian lain dari elemen umat ini punya pandangan berbeda.

Mereka tidak mempermasalahkan bahwa dahulu Rasulullah SAW dan para shahabat
tidak pernah ikut pemilu dan berpartai. Sebab pemilu dan partai hanyalah sebuah
fenomena zaman tertentu dan bukan esensi. Lagi pula, tidak ikutnya beliau SAW dan
tidak mendirikan partai, bukanlah dalil yang sharih dari haramnya kedua hal itu. Bahwa
asal usul pemilu, partai dan demokrasi yang konon dari orang kafir, tidak otomatis
menjadikan hukumnya haram.

Dan kalau mau jujur, memang tidak ada satu pun ayat Quran atau hadits nabi SAW yang
secara zahir mengharamkan partai politik, pemilu atau demokrasi. Sebagaimana juga
tidak ada dalil yang secara zahir membolehkannya. Kalau pun ada fatwa yang
mengharamkan atau membolehkan, semuanya berangkat dari istimbath hukum yang
panjang. Tidak berdasarkan dalil-dalil yang tegas dan langsung bisa dipahami.

Namun tidak sedikit dari ulama yang punya pandangan jauh dan berupaya melihat
realitas. Mereka memandang meski pemilu, partai politik serta demokrasi datang dari
orang kafir, mereka tetap bisa melihat esensi dan kenyataan. Berikut ini kami petikkan
beberapa pendapat sebagian ulama dunia tentang hal-hal yang anda tanyakan.

Seruan Para Ulama untuk Mendukung Dakwah Lewat Parlemen

Apa komentar para ulama tentang masuknya muslimin ke dalam parlemen? Dan apakah
mereka membid'ahkannya?

Ternyata anggapan yang menyalahkan dakwah lewat parlemen itu keliru, sebab ada
sekian banyak ulama Islam yang justru berkeyakinan bahwa dakwah lewat parlemen itu
boleh dilakukan. Bahkan sebagiannya memandang bahwa bila hal itu merupakan salah
satu jalan sukses menuju kepada penegakan syariat Islam, maka hukumnya menjadi
wajib.

Di antara para ulama yang memberikan pendapatnya tentang kebolehan atau keharusan
dakwah lewat parlemen antara lain:

1. Imam Al-'Izz Ibnu Abdis Salam


2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
3. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
4. Muhammad Rasyid Ridha
5. Syeikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa'di: Ulama Qasim
6. Syeikh Ahmad Muhammad Syakir: Muhaddis Lembah Nil
7. Syeikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi
8. Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
9. Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin
10. Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-AlBani
11. Syeikh Dr. Shalih bin Fauzan
12. Syeikh Abdullah bin Qu'ud
13. Syeikh Dr. Umar Sulaiman Al-'Asyqar
14. Syeikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq

Kalau diperhatikan, yang mengatakan demikian justru para ulama yang sering dianggap
kurang peka pada masalah politik praktis. Ternyata gambaran itu tidak seperti yang kita
kira sebelumnya. Siapakah yang tidak kenal Bin Baz, Utsaimin, Albani, Asy-Syinqithi,
Shalih Fauzan dan lainnya?
1. Pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

a. Fatwa Pertama

Sebuah pertanyaan diajukan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang dasar syariah
mengajukan calon legislatif untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan hukum Islam
atas kartu peserta pemilu dengan niat memilih untuk memilih para da'i dan aktifis sebagai
anggota legislatif. Maka beliau menjawab:

Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal itu tergantung pada niatnya. Setiap orang
mendapatkan apa yang diniatkannya. Oleh karena itu tidak ada masalah untuk masuk ke
parlemen bila tujuannya memang membela kebenaran serta tidak menerima kebatilan.
Karena hal itu memang membela kebenaran dan dakwah kepada Allah SWT.

Begitu juga tidak ada masalah dengan kartu pemilu yang membantu terpilihnya para da'i
yang shalih dan mendukung kebenaran dan para pembelanya, wallahul muwafiq.

b. Fatwa Kedua

Di lain waktu, sebuah pertanyaan diajukan kepada Syeikh Bin Baz: Apakah para ulama
dan duat wajib melakukan amar makruf nahi munkar dalam bidang politik? Dan
bagaimana aturannya?

Beliau menjawab bahwa dakwah kepada Allah SWT itu mutlak wajibnya di setiap
tempat. Amar makruf nahi munkar pun begitu juga. Namun harus dilakukan dengan
hikmah, uslub yang baik, perkataan yang lembut, bukan dengan cara kasar dan arogan.
Mengajak kepada Allah SWT di DPR, di masjid atau di masyarakat.

Lebih jauh beliau menegaskan bahwa bila dia memiliki bashirah dan dengan cara yang
baik tanpa berlaku kasar, arogan, mencela atau ta'yir melainkan dengan kata-kata yang
baik.

Dengan mengatakan wahai hamba Allah, ini tidak boleh semoga Allah SWT memberimu
petunjuk. Wahai saudaraku, ini tidak boleh, karena Allah berfirman tentang masalah ini
begini dan Rasulullah SAW bersabda dalam masalah itu begitu. Sebagaimana firman
Allah SWT:

Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang
yang mendapat petunjuk. (QS An-Nahl: 125).

Ini adalah jalan Allah dan ini adalah taujih Rabb kita. Firman Allah SWT:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu? (QS Ali Imran: 159)
Dan tidak merubah dengan tangannya kecuali bila memang mampu. Seperti merubah
isteri dan anak-anaknya, atau seperti pejabat yang berpengaruh pada sebuah lembaga.
Tetapi bila tidak punya pengaruh, maka dia mengangkat masalah itu kepada yang punya
kekuasaan dan memintanya untuk menolak kemungkaran dengan cara yang baik.

c. Fatwa Ketiga

Majalah Al-Ishlah pernah juga bertanya kepada Syeikh yang pernah menjadi Mufti
Kerajaan Saudi Arabia. Mereka bertanya tentang hukum masuknya para ulama dan duat
ke DPR, parlemen serta ikut dalam pemilu pada sebuah negara yang tidak menjalankan
syariat Islam. Bagaimana aturannya?

Syaikh Bin Baz menjawab bahwa masuknya mereka berbahaya, yaitu masuk ke
parlemen, DPR atau sejenisnya. Masuk ke dalam lembaga seperti itu berbahaya namun
bila seseorang punya ilmu dan bashirah serta menginginkan kebenaran atau mengarahkan
manusia kepada kebaikan, mengurangi kebatilan, tanpa rasa tamak pada dunia dan harta,
maka dia telah masuk untuk membela agam Allah SWT, berjihad di jalan kebenaran dan
meninggalkan kebatilan. Dengan niat yang baik seperti ini, saya memandang bahwa tidak
ada masalah untuk masuk parlemen. Bahkan tidak selayaknya lembaga itu kosong dari
kebaikan dan pendukungnya.

Bila dia masuk dengan niat seperti ini dengan berbekal bashirah hingga memberikan
posisi pada kebenaran, membelanya dan menyeru untuk meninggalkan kebatilan, semoga
Allah SWT memberikan manfaat dengan keberadaannya hingga tegaknya syariat dengan
niat itu. Dan Allah SWT memberinya pahala atas kerjanya itu.

Namun bila motivasinya untuk mendapatkan dunia atau haus kekuasaan, maka hal itu
tidak diperbolehkan. Seharusnya masuknya untuk mencari ridha Allah, akhirat, membela
kebenaran dan menegakkannya dengan argumen-argumennya, niscaya majelis ini
memberinya ganjaran yang besar.

d. Fatwa Keempat

Pimpinan Jamaah Ansharus sunnah Al-Muhammadiyah di Sudan, Syaikh Muhammad


Hasyim Al-Hadyah bertanya kepada Syaikh bin Baz pada tanggal 4 Rabi'ul Akhir 1415
H. Teks pertanyaan beliau adalah:

Dari Muhammad Hasyim Al-Hadyah, Pemimpin Umum Jamaah Ansharus-Sunnah Al-


Muhammadiyah di Sudan kepada Samahah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, mufti
umum Kerajaan Saudi Arabia dan Ketua Hai'ah Kibar Ulama wa Idarat Al-buhuts Al-
Ilmiyah wal Ifta'.

Assalamu 'alaikum Wr. Wb. Saya mohon fatwa atas masalah berikut: Bolehkah seseorang
menjabat jabatan politik atau adminstratif pada pemerintahan Islam atau kafir bila dia
seorang yang shalih dan niatnya mengurangi kejahatan dan menambah kebaikan? Apakah
dia diharuskan untuk menghilangkan semua bentuk kemungkaran meski tidak
memungkinkan baginya? Namun dia tetap mantap dalam aqidahnya, kuat dalam
hujjahnya, menjaga agar jabatan itu menjadi sarana dakwah. Demikian, terima kasih
wassalam.

Jawaban Syeikh Bin Baz:

Wa 'alaikumussalam wr wb. Bila kondisinya seperti yang Anda katakan, maka tidak ada
masalah dalam hal itu. Allah SWT berfirman,"Tolong menolonglah kamu dalam
kebaikan." Namun janganlah dia membantu kebatilan atau ikut di dalamnya, karena Allah
SWT berfirman,"Dan janganlah saling tolong dalam dosa dan permusuhan."
Waffaqallahul jami' lima yurdhihi, wassalam wr. Wb.

Bin Baz

2. Wawancara dengan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin

Pada bulan Oktober 1993 edisi 42, Majalah Al-Furqan Kuwait mewawancarai Syaikh
Muhammad bin shalih Al-'Utsaimin, seorang ulama besar di Saudi Arabia yang menjadi
banyak rujukan umat Islam di berbagai negara. Berikut ini adalah petikan wawancaranya
seputar masalah hukum masuk ke dalam parlemen.

Majalah Al-Furqan :. Fadhilatus Syaikh Hafizakumullah, tentang hukum masuk ke dalam


majelis niyabah (DPR) padahal negara tersebut tidak menerapkan syariat Islam secara
menyeluruh, apa komentar Anda dalam masalah ini?

Syaikh Al-'Utsaimin : Kami punya jawaban sebelumnya yaitu harus masuk dan
bermusyarakah di dalam pemerintahan. Dan seseorang harus meniatkan masuknya itu
untuk melakukan ishlah (perbaikan), bukan untuk menyetujui atas semua yang
ditetapkan.

Dalam hal ini bila dia mendapatkan hal yang bertentangan dengan syariah, harus ditolak.
Meskipun penolakannya itu mungkin belum diikuti dan didukung oleh orang banyak
pada pertama kali, kedua kali, bulan pertama, kedua, ketiga, tahun pertama atau tahun
kedua, namun ke depan pasti akan memiliki pengaruh yang baik.

Sedangkan membiarkan kesempatan itu dan meninggalkan kursi itu untuk orang-orang
yang jauh dari tahkim syariah merupakan tafrit yang dahsyat. Tidak selayaknya bersikap
seperti itu.

Majalah Al-Furqan : Sekarang ini di Majelis Umah di Kuwait ada Lembaga Amar Ma'ruf
Nahi Munkar. Ada yang mendukungnya tapi ada juga yang menolaknya dan hingga kini
masih menjadi perdebatan. Apa komentar Anda dalam hal ini, juga peran lembaga ini.
Apa taujih Anda bagi mereka yang menolak lembaga ini dan yang mendukungnya?

Syaikh Al-Utsaimin: Pendapat kami adalah bermohon kepada Allah SWT agar membantu
para ikhwan kita di Kuwait kepada apa yang membuat baik dien dan dunia mereka. Tidak
diragukan lagi bahwa adanya Lembaga Amar Makmur Nahi Munkar menjadikan simbol
atas syariah dan memiliki hikmah dalam muamalah hamba Allah SWT. Jelas bahwa
lembaga ini merupakan kebaikan bagi negeri dan rakyat. Semoga Allah SWT
menyukseskannya buat ikhwan di Kuwait.
Pada bulan Zul-Hijjah 1411 H bertepatan dengan bulan Mei 1996 Majalah Al-Furqan
melakukan wawancara kembali dengan Syaikh Utsaimin:

Majalah Al-Furqan: Apa hukum masuk ke dalam parlemen?

Syaikh Al-'Utsaimin: Saya memandang bahwa masuk ke dalam majelis perwakilan


(DPR) itu boleh. Bila seseorang bertujuan untuk mashlahat baik mencegah kejahatan atau
memasukkan kebaikan. Sebab semakin banyak orang-orang shalih di dalam lembaga ini,
maka akan menjadi lebih dekat kepada keselamatan dan semakin jauh dari bala'.

Sedangkan masalah sumpah untuk menghormati undang-undang, maka hendaknya dia


bersumpah untuk menghormati undang-undang selama tidak bertentangan dengan syariat.
Dan semua amal itu tergantung pada niatnya di mana setiap orang akan mendapat sesuai
yang diniatkannya.

Namun tindakan meninggalkan majelis ini buat orang-orang bodoh, fasik dan sekuler
adalah perbuatan ghalat (rancu) yang tidak menyelesaikan masalah. Demi Allah,
seandainya ada kebaikan untuk meninggalkan majelis ini, pastilah kami akan katakan
wajib menjauhinya dan tidak memasukinya. Namun keadaannya adalah sebaliknya.
Mungkin saja Allah SWT menjadikan kebaikan yang besar di hadapan seorang anggota
parlemen. Dan dia barangkali memang benar-benar mengausai masalah, memahami
kondisi masyarakat, hasil-hasil kerjanya, bahkan mungkin dia punya kemampuan yang
baik dalam berargumentasi, berdiplomasi dan persuasi, hingga membuat anggota
parlemen lainnya tidak berkutik. Dan menghasilkan kebaikan yang banyak. (lihat majalah
Al-Furqan - Kuwait hal. 18-19)

Jadi kita memang perlu memperjuangkan Islam di segala lini termasuk di dalam
parlemen. Asal tujuannya murni untuk menegakkan Islam. Dan kami masih punya 13
ulama lainnya yang juga meminta kita untuk berjuang menegakkan Islam lewat parlemen.
Insya Allah SWT pada kesempatan lain kami akan menyampaikan pula. Sebab bila
semua dicantumkan di sini, maka pastilah akan memenuhi ruang ini. Mungkin kami akan
menerbitkannya saja sebagai sebuah buku tersendiri bila Allah SWT menghendaki.

3. Pendapat Imam Al-'Izz Ibnu Abdis Salam

Dalam kitab Qawa'idul Ahkam karya Al-'Izz bin Abdus Salam tercantum: Bila orang
kafir berkuasa pada sebuah wilayah yang luas, lalu mereka menyerahkan masalah hukum
kepada orang yang mendahulukan kemaslahatan umat Islam secara umum, maka yang
benar adalah merealisasikan hal tersebut. Hal ini mendapatkan kemaslahatan umum dan
menolak mafsadah. Karena menunda masalahat umum dan menanggung mafsadat
bukanlah hal yang layak dalam paradigma syariah yang bersifat kasih. Hanya lantaran
tidak terdapatnya orang yang sempurna untuk memangku jabatan tersebut hingga ada
orang yang memang memenuhi syarat.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami menurut pandangan imam rahimahullah, bahwa
memangku jabatan di bawah pemerintahan kafir itu adalah hal yang diperlukan. Untuk
merealisasikan kemaslahatan yang sesuai dengan syariat Islam dan menolak mafsadah
jika diserahkan kepada orang kafir. Jika dengan hal itu maslahat bisa dijalankan, maka
tidak ada larangan secara sya'ri untuk memangku jabatan meski di bawah pemerintahan
kafir.

Kasus ini mirip dengan yang terjadi di masa sekarang ini di mana seseorang menjabat
sebagai anggota parlemen pada sebuah pemeritahan non Islam. Jika melihat pendapat
beliau di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menjadi anggota parlemen
diperbolehkan.

4. Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Dalam kitab Thuruq Al-Hikmah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (691- 751 H) dalam kitabnya
At-Turuq al-Hukmiyah menulis:

Masalah ini cukup pelik dan rawan, juga sempit dan sulit. terkadang sekelompok orang
melewati batas, menghilangkan hak-hak, dan mendorong berlaku kejahatan kepada
kerusakan serta menjadikan syariat itu sempit sehingga tidak mampu memberikan
jawaban kepada pemeluknya. dan menghalangi diri mereka dari jalan yang benar, yaitu
jalan untuk mengetahui kebenaran dan menerapkannya. Sehingga mereka menolak hal
tersebut, pada hal mereka dan yang lainnya tahu secara pasti bahwa hal itu adalah hal
yang wajib diterapkan namun mereka menyangkal bahwa hal itu bertentangan dengan
qowaid syariah.

Mereka mengatakan bahwa hal itu tidak sesuai yang dibawa rosulullah, yang menjadikan
mereka berpikir seperti itu kurangnya mereka dalam memahami syariah dan pengenalan
kondisi lapangan atau keduanya, sehingga begitu mereka melihat hal tersebut dan melihat
orang-orang melakukan hal yang tidak sesuai yang dipahaminya, mereka melakukan
kejahatan yang panjang, kerusakan yang besar. Maka permasalahannya jadi terbalik.

Di sisi lain ada kelompok yang berlawanan pendapatnya dan menafikan hukum Allah dan
RasulNya. Kedua kelompok di atas sama-sama kurang memahami risalah yang dibawa
RasulNya dan diturunkan dalam kitabnya, padahal Allah swt. telah mengutus RasulNya
dan menurunkan kitabNya agar manusia menjalankan keadilan yang dengan keadilan itu
bumi dan langit di tegakkan. Bila ciri-ciri keadilan itu mulai nampak dan wajahnya
tampil dengan beragam cara maka itulah syariat Allah dan agamaNya. Allah swt maha
tahu dan maha hakim untuk memilih jalan menuju keadilan dan memberinya ciri dan
tanda. Maka apapun jalan yang bisa membawa tegaknya keadilan maka itu adalah bagian
dari agama, dan tidak bertentangan dengan agama.

Maka tidak boleh dikatakan bahwa politik yang adil itu berbeda dengan syariat, tetapi
sebaliknya justru sesuai dengan syariat, bahkan bagian dari syariat itu sendiri. Kami
menamakannya sebagai politik sekedar mengikuti istilah yang Anda buat tetapi pada
hakikatnya merupakan keadilan Allah dan RasulNya. Imam yang muhaqqiq ini
mengatakan apapun cara untuk melahirkan keadilan maka itu adakah bagian dari agama
dan tidak bertentangan dengannya. Jelasnya bab ini menegaskan bahwa apapun yang bisa
melahirkan keadilan boleh dilakukan dan dia bagian dari politik yang sesuai dengan
syariah. Dan tidak ada keraguan bahwa siapa yang menjabat sebuah kekuasaan maka ia
harus menegakkan keadilan yang sesuai dengan syariat. Dan berlaku ihsan bekerja untuk
kepentingan syariat meskipun di bawah pemerintahan kafir.

5. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan

Syekh Shaleh Alfauzan ditanya tentang hukum memasuki parlemen. Syekh Fauzan balik
bertanya, "Apa itu parlemen?" Salah seorang peserta menjawab "Dewan legislatif atau
yang lainnya" Syekh, "Masuk untuk berdakwah di dalamnya?" Salah seorang peserta
menjawab, "Ikut berperan serta di dalamnya" Syekh, "Maksudnya menjadi anggota di
dalamnya?" Peserta, "Iya."

Syeikh: "Apakah dengan keanggotaan di dalamnya akan menghasilkan kemaslahatan


bagi kaum muslimin? Jika memang ada kemaslahatan yang dihasilkan bagi kaum
muslimin dan memiliki tujuan untuk memperbaiki parlemen ini agar berubah kepada
Islam, maka ini adalah suatu yang baik, atau paling tidak bertujuan untuk mengurangi
kejahatan terhadap kaum muslimin dan menghasilkan sebagian kemaslahatan, jika tidak
memungkinkan kemaslahatan seluruhnya meskipun hanya sedikit."

Salah seorang peserta, "Terkadang didalamnya terjadi tanazul (pelepasan) dari sejumlah
perkara dari manusia."

Syeikh: "Tanazul yang dimaksud adalah kufur kepada Allah atau apa?"

Salah seorang peserta, "Mengakui."

Syeikh: "Tidak boleh. adanya pengakuan tersebut. Jika dengan pengakuan tersebut ia
meninggalkan agamanya dengan alasan berdakwah kepada Allah, ini tidak dibenarkan.
Tetapi jika mereka tidak mensyaratkan adanya pengakuan terhadap hal-hal ini dan ia
tetap berada dalam keIslaman akidah dan agamanya, dan ketika memasukinya ada
kemaslahatan bagi kaum muslimin dan apabila mereka tidak menerimanya ia
meninggalkannya, apa mungkin ia bekerja untuk memaksa mereka?

Tidak mungkin kan untuk melakukan hal tersebut. Yusuf as ketika memasuki kementrian
kerajaan, apa hasil yang ia peroleh? atau kalian tidak tahu hasil apa yang di peroleh Nabi
Yusuf as?

Atau kalian tidak tahu tentang hal ini, apa yang diperoleh Nabi Yusuf ketika ia masuk,
ketika raja berkata kepadanya, "Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seorang yang
berkedudukan tinggi lagi dipercaya di sisi kami" Nabi Yusuf saat itu menjawab, "Jadikan
aku bendaharawan negara karena aku amanah dan pandai." Maka beliau masuk dan
hukum berada di tangannya. Dan sekarang dia menjadi raja Mesir, sekaligus nabi.

Jadi bila masuknya itu melahirkan sesuatu yang baik, silahkan masuk saja. Tapi kalau
hanya sekedar menyerahkan diri dan ridho terhadap hukum yang ada maka tidak boleh.
Demikian juga bila tidak mendatangkan maslahat bagi umat Islam, maka masuknya tidak
dibenarkan. Para ulama berkata, "Mendatangkan manfaat dan menyempurnakannya,
meski tidak seluruh manfaat, tidak boleh diiringi dengan mafsadat yang lebih besar."

Para ulama mengatakan bahwa Islam itu datang dengan visi menarik maslahat dan
menyempurnakannya serta menolak mafsadah dan menguranginya. maksudnya bila tidak
bisa menghilangkan semua mafsadat maka dikurangi, mendapatkan yang terkecil dari dua
dhoror, itu yang diperintahkan. Jadi tergantung dari niat dan maksud seseorang dan hasil
yang diperolehnya. Bila masuknya lantaran haus kekuasaan dan uang lalu diam atas
segala penyelewengan yang ada, maka tidak boleh. Tapi kalau masuknya demi
kemaslahatan kaum muslimin dan dakwah kepada jalan Allah, maka itulah yang dituntut.
Tapi kalau dia harus mengakui hukum kafir maka tidak boleh, meski tujuannya mulia.
seseorang tidak boleh menjadi kafir dan berkata "Tujuan saya mulia, saya berdakwah
kepada Allah," tidak tidak boleh itu."

Salah seorang peserta, "Apa yang menjadi jalan keluarnya?"

"Jalan keluarnya adalah jika memang di dalamnya ada maslahat bagi kaum muslimin dan
tidak menghasilkan madharat bagi dirinya, maka hal tersebut tidak bertentangan. Adapun
jika tidak ada kemaslahatan di dalamnya bagi kaum muslimin atau hal tersebut
mengakibatkan adanya kemadorotan yaitu pengakuan yaitu pengakuan akan kekufuran,
maka hal tersebut tidak diperbolehkan" (Rekaman suara)

6. Syaikh Abdullah bin Qu'ud

Sebagian orang-orang meremehkan partai-partai politik Islam yang terdapat di sejumlah


negara-negara Islam seperti Aljazair, Yaman, Sudan dan yang lainnya. Mereka yang ikut
didalamnya dituduh dengan tuduhan sekuler dan lain-lainnya. Apa pendapat Anda
tentang hal tersebut? Sikap atau peran apa yang harusnya dilakukan oleh kaum muslimin
untuk menyikapi kondisi tersebut?

Jawaban : Akar persoalan dari semua itu adalah adanya dominasi sebagian para dai
terhadap yang lainnya. Dan saya berpendapat bahwa seorang muslim yang diselamatkan
Allah dari malapetaka untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta berdoa untuk
saudara-saudaranya di Sudan, Aljazair, Tunisia dan negara-negara lainnya, ataupun bagi
kaum muslimin yang berada di negeri-negeri yang jelas-jelas kafir.

Dan jika hal tersebut tidak memberikan manfaat kepada mereka, aku berpendapat
minimal jangan memadhorotkan mereka. Karena sampai sekarang tidak ada bentuk
solidaritas yang nyata kepada para dai tersebut padahal mereka telah mengalami berbagai
ujian dan siksaan.

Dan kita wajib mendoakan kaum muslimin dan menaruh simpati kepada mereka di setiap
tempat. Karena seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lainnya, jika
mendengar kabar yang baik mengenai saudaranya di Sudan, Aljazair, Tunisia atau
dinegeri mana saja maka hendaknya ia merespon positif dan seakan-akan ia berkata:

"Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang
besar" (QS. An-Nisaa: 73).

Dan apa bila mendengar malapetaka yang menimpa mereka, maka hendaklah ia
mendoakan untuk saudaranya-saudaranya yang sedang diuji di negeri mana saja, supaya
Allah melepaskan mereka dari orang-orang yang sesat dan menjadikan kekuasaan bagi
kaum muslimin dan hendaklah ia memuji Allah karena telah menjaga dirinya.

Jangan sampai ada seseorang yang bersandar dengan punggungnya di negeri yang aman
lalu mencela orang-orang atau para dai yang berjuang demi Islam di bawah kedholiman
dan keseweng-wenangan dan intimidasi. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan
tindakan yang tidak fair. boleh jadi engkau akan mendapat ujian jika Anda tidak
merespon dengan perasaan Anda apa yang dirasakan oleh kaum muslimin yang sedang
mengalami ujian dari Allah..

Demikian petikan beberapa pendapat para ulama tentang dakwah lewat pemilu, partai
politik, parlemen dan sejenisnya. Semoga ada manfaatnya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


[eramuslim.com]

Apr 21, '09 1:31 AM


DA’WAH PARTAI, BID’AHKAH?
for everyone
DA’WAH PARTAI, BID’AHKAH?

http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/40

Mukaddimah

Sebagian kalangan telah berlebihan dalam memberikan label bid’ah dan haram.
Bagi mereka, kebenaran hanya satu yaitu ada pada mereka, tinggal pilih; ikut mereka atau
ikut yang yang lain (baca: ahli bid’ah). Itu semua hanya karena perbedaan dalam
memahami sesuatu yang bukan prinsip agama (ushul), namun disikapi seperti lakum
diinukum wa liyadin. Seakan tidak ada ruang untuk berbeda pendapat. Mereka melarang-
larang manusia taqlid kepada Al Banna, Al Qaradhawy, Sayyid Quthb, Al Ghazaly,
namun sayangnya, tanpa disadari mereka justru mengajak manusia selalu meng-aminkan
dan ikut buta terhadap apa yang mereka pahami.

Mereka berlapang dada ketika Syaikh bin Bazz berbeda pendapat dengan Syaikh al
Albany dalam masalah meletakkan tangan di dada ketika berdiri setelah ruku (i’tidal);
Syaikh bin Bazz menyebutnya sunah sedangkan Syaikh al Albany membid’ahkannya ,
masalah perhiasan emas melingkar pada wanita, Syaikh bin Bazz menyatakan halal
sebagaimana pandangan jumhur bahkan ijma’, sementara Syaikh al Albany
mengharamkannya. Masih banyak perbedaan lainnya antara dua Syaikh ini, yang
dimaklumi oleh pengikutnya sebagai ikhtilaf biasa.

Namun, kenapa mereka tidak mau terima ketika Syaikh bin Bazz berbeda dengan Syaikh
al Qaradhawy dalam masalah perdamaian dengan Israel pada medio 90-an, mereka
menyalahkan Al Qaradhawy. Masalah lain, Al Qaradhawy membolehkan zakat dengan
nilainya (uang) sebagaimana pandangan Imam Sufyan Ats Tsauri, Imam Abu Hanifah,
dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dari kalangan sahabat. Lalu mereka
menyalahkannya lagi karena berbeda dengan Syaikh bin Bazz, Syaikh Shalih Fauzan dan
lain-lain yang melarangnya, sebagaimana pandangan Imam Malik, Imam Syafi’i, dan
Imam Ahmad yang melarang mengeluarkan zakat dengan nilainya (uang). Atau
perbedaan Syaikh al Albany dengan jumhur (mayoritas) ulama, Syaikh al Albany
menyatakan wajibnya bagi penduduk Jalur Gaza keluar (hijrah) jika mereka tidak mampu
melawan Israel, ada pun jumhur berpendapat jika tidak mampu maka penduduk
sekitarnya harus membantunya, jika tidak mampu juga, negara tetangga harus membantu,
dan seterusnya. Namun mereka membela mati-matian pendapat Syaikh al Albany
tersebut, termasuk pembelaan Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh. Seandainya,
manusia tidak sefanatis itu niscaya lebih baik akhirnya.

Intinya, mereka bisa toleran dan dewasa jika perbedaan itu terjadi pada sesama Syaikh-
Syaikh mereka (dan Syaikh-Syaikh tersebut adalah Syaikh bagi kita semua, bukan hanya
bagi mereka). Anehnya, mereka gagal untuk berlapang dada jika perbedaannya antara
Syaikh-Syaikh tersebut dengan Syaikh-Syaikh yang lain. Maunya, semua harus ikut dan
sama dengan kemauan mereka.

Termasuk dalam masalah legalitas partai politik; bid’ah, haram, ataukah boleh? Ini
seharusnya disikapi sebagaimana perbedaan furu’ lainnya. Masing-masing ulama berhak
berijtihad terhadap masalah ini. Tidak boleh memaksakan pendapat terhadap yang
lainnya. Satu sama lain seharusnya mengingat bahwa seandainya pendapatnya salah,
Allah ‘Azza wa Jalla hargai dengan satu pahala, jika benar dua pahala. Allah Jalla wa ‘
Ala masih menghargai kesalahan sebuah ijtihad dengan satu pahala, sementara manusia –
anehnya- justru ‘menghargai’ kesalahan ijtihad dengan tuduhan dan vonis sesat. Wallahul
Musta’an!

Bid’ahkah Partai Politik?

Ada baiknya kita memahami dengan baik tentang bid’ah, sebab kesalahan
definisi membawa kesalahan dalam sikap.

Secara bahasa, bid’ah adalah Ma uhditsa ‘ala ghairi mitsal sabiq (Hal baru
yang dibuat tidak memiliki contoh sebelumnya) (Al Munjid fil Lughah wa A’lam, hal.
29) sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam: “Barangsiapa yang
membuat hal-hal baru (man ahdatsa) dalam urusan kami (Islam) yang bukan darinya,
maka ia tertolak.” (HR. Muttafaq ‘Alaih, Riyadhus shalihin. No. 169, Maktabatul
Iman)

Secara syariat, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,


bid’ah adalah apa yang tidak disyariatkan Allah dan RasulNya; yaitu apa yang tidak
diperintahkan untuk berbuat dan beramal dengannya, tidak perintah wajib, tidak pula
sunnah. (Majmu’ al Fatawa, 4/107-108)

Syaikhul Islam juga berkata, “Bid’ah adalah apa-apa yang menyelisihi Al


Qur’an, As Sunnah dan ijma’ umat pendahulu, berupa perkara i’tiqad dan ibadah-ibadah
seperti perkataan khawarij, rafidhah, qadariyah, jahmiyah, dan orang-orang yang
beribadah dengan menari, bermusik di dalam mesjid (camkan ini, wahai para munsyid! –
pen), beribadah dengan cara mencukur jenggot, memakan tanaman yang memabukkan.
Seluruhnya adalah perkara bid’ah yang dijadikan sebagai sarana untuk beribadah oleh
sekelompok orang yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah.” (Ibid, 18/346)

Dari uraian singkat di atas, bisa kita pahami, bahwa bid’ah yang terlarang
dalam Islam adalah perbuatan yang baru dalam perkara agama seperti aqidah dan ritual
ibadah, yang belum ada contoh sebelumnya dalam Al Qur’an dan As Sunnah, baik
terhukum wajib atau sunah. Arti lainnya, bid’ah adalah ritual yang disisipkan kedalam
Islam, padahal bukan dari Islam. Maka, inovasi dalam urusan dunia bukanlah bid’ah
dalam syariat yang statusnya terlarang. Justru dalam urusan dunia yang selalu
berkembang dan fleksibel, Islam memberikan keluasan dan keluwesan, kecuali
ditemukan dalil pelarangannya. Nah, partai politik bukanlah urusan aqidah dan ritual
ibadah, ia hanyalah sarana dunia bagi manusia untuk berserikat dan berkumpul,
sebagaimana perkumpulan lainnya. Partai politik adalah bid’ah, yaitu bid’ah dalam
artian lughah (bahasa) sebab memang ia adalah baru, sebagaimana yayasan, lasykar jihad,
kelompok diskusi, lembaga fatwa, klub sepak bola, darma wanita, pramuka, organisasi,
dan lain-lain. Semuanya bid’ah (baru) karena belum ada pada masa Rasulullah dan tiga
generasi terbaik setelahnya, Yang membedakan hanyalah ruang lingkup kerjanya,
selebihnya sama yaitu sama-sama wadah kumpulan manusia.. Rasulullah dan generasi
terbaik belum pernah mendirikan yayasan untuk da’wahnya, tidak pernah pula
mendirikan Hai’ah Kibaril Ulama untuk menelurkan fatwa, atau membuat website untuk
menyebarkan fikrahnya, namun itu semua bukan bid’ah dalam perkara agama yang
terlarang.

Syubhat wa rudud (syubhat dan bantahannya)

Ada beberapa alasan dan syubhat yang mereka hembuskan untuk menggugat
keberadaan partai politik (berasaskan Islam). di antaranya karena Partai politik tidak
pernah dicontohkan oleh Rasulullah, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in. Partai politik
membuat umat terpecah belah, dan memecah belah umat adalah haram. Partai politik
merupakan tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir). Benarkah alasan-alasan ini?

Satu hal yang menjadi pertanyaan besar adalah kalau memang demikian buruknya partai
politik, kenapa justru para ulama Indonesia sepakat mendirikan Partai Masyumi pada
tahun 50-an? apakah mereka tidak tahu keburukan-keburukan tersebut? Ataukah
keburukan-keburukan tersebut hanyalah asumsi atau bualan dari sekelompok orang
zaman ini yang memang lebih suka mengoleksi kesalahan orang lain? Apa mungkin para
ulama Indonesia masa itu (baik dari NU, Muhammdiyah, Persis, Muslimin Indonesia , Al
Irsyad dan lain-lain) sepakat dalam kesesatan? Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam jelas-jelas menegaskan bahwa umatnya tidak mungkin sepakat dalam kesesatan.
Ataukah orang zaman ini merasa lebih tahu dan lebih tinggi ilmunya dibanding ulama
pada masa itu? Padahal yang mengharamkan partai justru kalangan yang amat menjauh
dari politik, artinya mereka bukan pemain langsung yang tidak mengetahui seluk
beluknya. Wal hasil, pantaskah mereka memberikan fatwa haram dan bid’ah padahal
mereka tidak tahu dengan utuh seluk beluknya?

Syubhat Pertama: Partai Politik tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah, sahabat, dan
salafushalih
Ya. Partai politik tidak pernah didirikan oleh Rasulullah, sahabat dan generasi terbaik
umat ini. Bahkan partai politik tidaklah kita temui dalam Al Qur’an dan Al Hadits, kitab
ulama salaf dan khalaf. Wacana partai politik baru ada awal abad dua puluh masehi.
Namun, masalah partai –dan masalah perkumpulan manusia lainnya- juga bukanlah hal
terlarang, sesuai kaidah syara’ , Kullu asya’ al ibahah illa ma warada ‘anis syari’
tahrimuhu (segala sesuatu adalah boleh kecuali ada dalilnya dari pembuat syariat yang
,melarangnya). Inilah kaidah dalam menyikapi perkembangan kehidupan dunia. Maka,
datangkanlah satu saja dalil dari Al Qur’an dan Al Hadits yang melarang keberadaannya.
Selama belum ditemukan dalilnya, maka harus kembali ke hukum asal segala sesuatu
(bara’atul ashliyah) yaitu boleh (mubah). Berbeda halnya dengan perkara ibadah khusus,
yang kaidahnya justru hukumnya haram jika tidak memiliki landasan dari Al Qur’an dan
Al Hadits.

Mereka mengatakan, ‘Bukankah parpol Islam didirikan untuk berdakwah? Berarti ia telah
memasuki wilayah agama dan ibadah, bukan lagi urusan dunia semata yang hukum
asalnya boleh, dan Rasulullah tidak pernah berdakwah dengan parpol’

Jawab: Ibadah ada dua macam, mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah adalah
ibadah yang juklak (petunjuk pelaksanaannya) sudah ada keterangannya ( baku ) dan
manusia dilarang untuk menambah atau menguranginya, seperti shalat, puasa, zakat, haji,
umrah. Ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang juklaknya tidak disebutkan secara
rinci, disesuaikan dengan tuntutan, kelapangan waktu, dan ‘urf (tradisi). Contohnya
menyantuni anak yatim dan fakir miskin; adakah syariat memberikan panduan secara
rinci? Tidak, syariat hanya memberikan rambu-rambunya saja, adapun rincian seperti
berapa jumlah santunan, kepada siapa peruntukkannya, bagaimana cara memberikannya,
apakah dengan bakti sosial atau sunatan massal, ataukah dibuat yayasan anak yatim dan
fakir miskin, maka semua ini dikembalikan kepada keadaan si penyantunnya selama
dilakukan secara ma’ruf. Tidak diingkari ini menjadi urusan agama, namun apakah lantas
membid’ahkan dan mengharamkan keberadaan yayasan anak yatim dan fakir miskin
karena Rasulullah tidak pernah menyantuni dengan cara mendirikan yayasan?

Contoh lain, anjuran bersilaturrahim yang juga ibadah ghairu mahdhah. Saat ini manusia
bisa bersilaturrahim dengan telpon, SMS, surat , email, chatting, atau mendirikan wadah
forum silaturrahim; tentu ini telah menjadi urusan agama; namun apakah lantas itu semua
dilarang karena Rasulullah tidak pernah bersilaturrahim dengan cara-cara tersebut?

Begitu pula berdakwah. Ini bukanlah ritual khusus sebagaimana shalat, puasa, zakat, dan
haji. Rasulullah pernah berdakwah melalui surat kepada penguasa Romawi dan Persia . Ia
pernah berdakwah person to person (fardiyah) atau dengan memberikan pengarahan
secara massal sebagaimana khutbahnya pada haji wada’. Intinya tidak ada aturan baku
tentang strategi berdakwah; semua dikembalikan kepada ijtihad masing-masing du’at
selama tidak bertentangan dengan dalil-dalil syariat yang jelas. Maka berdakwah bisa
melalui parpol, yayasan, karang taruna, kelompok diskusi, dan perkumpulan ma’ruf
lainnya. Adalah hal yang sangat aneh jika manusia melarang dan membid’ahkan parpol
dakwah, padahal ada yang mendirikan yayasan untuk dakwah seperti Al Shafwa (di
Lenteng Agung), atau kelompok kajian ‘Forum Al Albany’ di UI. Jawab dengan jujur,
apakah Rasulullah pernah menggunakan yayasan dan forum-forum untuk berdakwah?
Pasti tidak, sebagaimana parpol. Lalu kenapa parpol dilarang, yang lain tidak? Bukankah
ini menjadi perselisihan yang tidak fair? Kenapa selalu menyalahkan apa yang dilakukan
orang lain hanya karena mereka berbeda dengan kita, padahal orang lain tidak pernah
menyalahkan kita walau kita berbeda dengan mereka.
Syubhat Kedua: Parpol dapat memecah belah umat Islam.

Jawab: Justru orang-orang yang selalu menebar tuduhan, vonis, mencela dan
memaki sesama muslim, merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas
perpecahan umat. Adakah ini mereka sadari? Bahkan mereka pun berpecah belah dengan
sesama mereka sendiri, saling menuduh, tabdi’, menuduh yang lain sururiyin, hizbiyin,
dan lain-lain. Adakah mereka sadari bahwa mereka berbecah? Berarti keberadaan mereka
seharusnya juga diharamkan, karena telah membecah barisan umat Islam.

Sesungguhnya, urusan perpecahan umat Islam sudah ada sejak lama, jauh
sebelum lahirnya parpol. Pertentangan antar pengikut madzhab fikih, pertentangan antara
NU dan Muhammadiyah, pertentangan antara The Jak Mania (pendukung Persija Jakarta)
dengan The Viking (pendukung Persib Bandung). Lalu apakah adanya madzhab, ormas
keagamaan, dan klub sepak bola harus diharamkan karena telah memecah belah barisan
umat? Pahamilah dengan baik, ini semua bukan karena organisasinya, melainkan
mentalitas dan moralitas manusia yang ada di dalamnya. Jika manusia tersebut bisa
menjaga perasaan, menjaga lisan, memelihara akhlak Islam, dan toleran dengan
perbedaan sepele, niscaya tidak akan ada perpecahan, walau berbeda ormas, kesebelasan,
atau parpol.

Syubhat Ketiga: Parpol adalah tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir)

Jawab: Apakah yang dilakukan oleh orang kafir selalu salah (dalam urusan
dunia)? Walau pun hal itu sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, karena ia berasal
dari orang kafir, maka ia haram dan haram? Bagaimana dengan penggalian parit
(khandaq) ketika perang ahzab pada masa Rasulullah ‘Alaihi Shalatu was Salam, padahal
itu adalah caranya orang Persia yang majusi (penyembah api), atas usul Salman al Farisyi
radhiallahu ‘anhu. Apakah Rasulullah menolaknya, karena itu adalah kebiasaan orang
kafir?

Surat da’wah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada raja-raja pernah


ditolak, lantaran tidak memakai stempel, akhirnya supaya surat diterima mereka,
Rasulullah ‘Alaihi Shallatu was Salam juga ikut menggunakan stempel. Artinya, stempel
adalah bukan kebiasaan umat Islam pada masa itu, melainkan dari orang kafir, tetapi
Rasulullah tidak menolak untuk menggunakannya.

Dari Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, dikemukakan: “Sesungguhnya


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (pernah) memakai jubbatan rumiyatan (jubah
ala Romawi) yang sempit kedua lengannya.” (HR. Imam Tirmidzi dalam Asy
Syamailul Muhammadiyah no. 68)

Rasulullah memakai pakaian tersebut ketika perang Tabuk. Nah, apakah Anda
berani memvonis, bahwa Rasulullah telah tasyabbuh bil kuffar, karena ia telah
menggunakan jubah ala Romawi?
Zaman ini pun, telah banyak penemuan-penemuan yang diawali oleh orang
kafir, namun umat Islam bahkan para ulama juga mengambil manfaat darinya. Adakah
orang yang mengharamkan komputer, motor, mobil, dan pesawat? Padahal itu ditemukan
oleh orang kafir semua? Adakah ulama yang mengharamkan Microsoft karena ia
diciptakan oleh Bill Gates, yang nota bene kafir? Siapakah yang pertama kali
menciptakan internet dan segala fasilitasnya? Bukankah orang kafir yang
menemukannya? Semua aktivis Islam pasti memanfaatkan internet dalam da’wahnya,
lantas apakah sesederhana itu menyebut pengguna internet telah tasyabbuh bil kuffar?
Jawablah!

Pelajaran di sekolah-sekolah, biologi, kimia, fisika, walau tidak sedikit jasa


ilmuwan muslim, namun tidak kita ingkari orang-orang kafir telah jauh mengembangkan
itu semua dengan perkembangan yang mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan. Nah,
apakah Anda mengharamkan pelajaran Biologi, Fisika, dan Kimia, karena banyak
penemuan modern dalam bidang-bidang tersebut yang dilakukan oleh orang kafir?

Jadi, tidak satu pun ketetapan syariat yang melarang mengambil kebaikan dari
pemikiran teoritis dan pemecahan praktis non muslim dalam masalah dunia selama tidak
bertentangan dengan nash yang jelas makna dan hukumnya serta kaidah hokum yang
tetap. Oleh karena hikmah adalah hak muslim yang hilang, sudah selayaknya kita
merebutnya kembali. Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan –dengan
sanad dhaif- sebuah kalimat, “Hikmah adalah harta dari seorang mu’min, maka kapan ia
mendapatkannya, dialah yang paling berhak memilikinya.”

Meski sanadnya dhaif, kandungan pengertian hadits ini benar. Faktanya sudah
lama kaum muslimin mengamalkan dan memanfaatkan ilmu dan hikmah yang terdapat
pada umat lain. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr, bahwa Ali bin Abi
Thalib radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Ilmu merupakan harta orang mu’min yang
hilang, ambil-lah walau dari orang-orang musyrik.”

Islam hanya tidak membenarkan tindakan asal comot terhadap segala yang datang dari
Barat tanpa ditimbang di atas dua pusaka yang adil, Al Qur’an dan As Sunnah. Perlu
dipahami, parpol hanyalah sarana, ia bisa digunakan selama masih layak dan diizinkan
keberadaannya oleh penguasa. Bila ternyata tidak layak dari sisi keefektifannya dan
kondisi tidak mengizinkannya, maka bukan hal yang sulit bagi para da’i untuk
meninggalkannya. Wallahu A’lam wa lillahil ‘Izzah