Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

2.1

Pegertian Stress
Menurut Santrock (2003) stres merupakan respon individu terhadap keadaan

atau kejadian yang memicu stres (stressor), yang mengancam dan mengganggu
kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping).
Stres menurut Hans Selye dalam buku Hawari (2001) menyatakan bahwa stres
adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya.
Bila seseorang setelah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ
tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya
dengan baik, maka ia disebut mengalami distres. Pada gejala stres, gejala yang
dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula
disertai keluhan-keluhan psikis. Tidak semua bentuk stres mempunyaikonotasi negatif,
cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres.
Sedangkan menurut Charles D, Spielberger menyebutkan bahwa stres adalah
tuntutan-tuntutan eksternal yang mengenai seseorang, misalnya obyek-obyek dalam
lingkungan atau suatu stimulus yang secara obyektif adalah berbahaya. Stres juga biasa
diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang
berasal dari luar diri seseorang. dapat disimpulkan bahwa stres merupakan suatu kondisi
ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seseorang dimana ia
terpaksa memberikan tanggapan melebihi kemampuan penyesuaian dirinya terhadap
suatu tuntutan eksternal (lingkungan). Stres yang terlalu besar dapat mengancam
kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.

2.1.2

Jenis-Jenis Stress
Stress tidak selalu berarti buruk. Selama ini mungkin yang identik dengan stres

adalah sesuatu seperti marah-marah atau frustasi padahal jika stes bisa dikelola dengan
baik akan menjadi sesuatu yang bermanaat. Berikut adalah jenis-jenis stres.

1.

Eustress
Eustress adalah stres dalam bentuk positif. Ini adalah stres yang baik yang dapat

merangsang seseorang untuk melakukan berbagai hal dengan lebih baik. Seseorang
dapat merasakan situasi tertentu, seperti pekerjaan baru, atau bertemu dengan idolanya.
Jenis stres ini disebut sebagai Eustress, dan secara fisik dan psikologis tidak berbahaya.
Sebaliknya, stres jenis ini dapat memiliki efek positif pada kesehatan dan kinerja
individu, setidaknya dalam jangka pendek.
2.

Distress
Distress, atau apa yang biasa kita sebut sebagai stress, adalah jenis stress yang

memiliki efek negatif pada kesehatan fisik dan emosional. Distress sering menghasilkan
emosi yang intens, seperti kemarahan, rasa takut, dan kecemasan atau panik. Terkadang,
tekanan juga dapat terwujud dalam gejala fisik, seperti palpitasi, sesak napas, dan
peningkatan tekanan darah.
Distress atau 'stres buruk' selanjutnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis
distres akut, gangguan akut episodik, dan penderita kronis.
3.

Distress akut
Distres akut adalah jenis yang paling umum dari stres yang datang tiba-tiba,

menjadikan kita ketakutan dan bingung. Meskipun stres akut hanya berlangsung untuk
jangka waktu pendek. Stres akut sering menghasilkan reaksi'lari atau melawan'. Sebuah
wawancara kerja, atau ujian dimana kita belum cukup siap adalah beberapa contoh yang
bisa menyebabkan stres akut. Gejala-gejala stres akut dapat dengan mudah
diidentifikasi. Gejala tersebut dapat meliputi tekanan emosional, sakit kepala, migrain,
peningkatan denyut jantung, palpitasi, pusing, sesak napas, tangan atau kaki terasa
dingin, dan keringat berlebihan.
4.

Distress Episodic Akut


Istilah 'stres akut episodik' biasanya digunakan untuk situasi ketika stres akut

menjadi norma. Jadi, gangguan episodik akut ditandai dengan sering mengalami stres
akut. Orang-orang memiliki jenis stres ini sering menemukan diri mereka berjuang
untuk mengatur kehidupan mereka dan sering menempatkan tuntutan yang tidak perlu
dan tekanan pada diri mereka sendiri, yang akhirnya dapat menyebabkan kegelisahan
dan lekas marah.

Orang yang menderita gangguan episodik akut selalu terburu-buru. Jenis stres
dapat menyebabkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, selain memburuknya
hubungan interpersonal. Gejala yang paling umum stres episodik akut adalah lekas
marah, sakit kepala terus-menerus, ketegangan, migrain, hipertensi, dan nyeri dada.
5.

Distress kronis
Distress kronis adalah stres yang bertahan untuk waktu yang lama. Stres kronis

biasanya berasal keadaan yang tidak dapat dikontrol. Kemiskinan, perasaan


terperangkap dalam karir menjijikkan, hubungan yang bermasalah, dan pengalaman
trauma masa kecil adalah beberapa contoh peristiwa atau keadaan yang dapat
menyebabkan stres kronis.
Stres kronis sering menimbulkan rasa putus asa dan kesengsaraan, dan dapat
mendatangkan malapetaka pada kesehatan baik fisik dan mental. Kelelahan mental dan
fisik akibat stres kronis kadang-kadang dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti,
serangan jantung dan stroke. Hal ini juga dapat menyebabkan depresi, kekerasan, dan
bunuh diri dalam kasus yang ekstrim. Mungkin aspek terburuk dari stres kronis adalah
bahwa orang terbiasa dengan jenis stres, dan sehingga sering diabaikan atau
diperlakukan sebagai cara hidup. Mengobati stres kronis tidak mudah, biasanya
membutuhkan perawatan medis dan tehnik manajemen stres.
Kadang-kadang stres atau Distress diklasifikasikan menjadi beberapa kategori
lain, seperti physical, chemical, emotional, mental, traumatic, and psycho-spiritual. Dr
Karl Albrecht, seorang konsultan manajemen, dosen, dan penulis telah mendefinisikan
empat jenis stres dalam bukunya, 'Stres dan Manager'. Keempat jenis stres yang dikenal
sebagai time stress, anticipatory stress, situational stress, and encounter stress.
Time stres adalah stres yang dialami ketika berjalan singkat atau memiliki
banyak hal yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Anticipatory stress
adalah stres yang dialami tentang masa depan. Stres situasional biasanya disebabkan
oleh situasi menakutkan yang berada di luar kendali kita. Di sisi lain, ketika merasa
cemas tentang bertemu dan berinteraksi dengan orang tertentu atau sekelompok orang,
itu disebut sebagai encounter stress.
Jadi, stres ada beberapa jenis, dan dengan demikian pengobatan dan manajemen
dapat sangat berbeda. Langkah pertama dari manajemen stres adalah mengidentifikasi
jenis stres yang dialami, serta jenis stres (peristiwa dan pikiran) yang menciptakan stres.

Sekali telah mengidentifikasi stres tertentu, kita dapat mengambil tindakan yang tepat
untuk mengontrol atau mengatur mereka. Meditasi, yoga, dan teknik relaksasi lainnya,
bersama dengan sikap positif terhadap kehidupan dapat membantu

dalam

mengendalikan stres. Tapi kadang-kadang, bantuan profesional mungkin diperlukan


untuk menghilangkan atau mengontrol faktor-faktor yang memicu stres.

2.1.2

Penyebab Stress
Terdapat dua faktor penyebab atau sumber munculnya stres , yaitu faktor

lingkungan dan faktor personal (psychology). Berikut beberapa hal yang bisa
menyebabkan seseorang mengalami strees yaitu :
-

Kejadian sehari-hari yang bisa dalam hal bentuk kesedihan maupun kehilangan.
Hal ini juga bisa dikarenakan oleh perasaan kehilangan akan sesuatu, terutama
sesuatu yang sangat disayang, disenangi, atau tumpuan harapan seseorang.

Status Kesehatan. Dalam hal ini hal yang paling banyak menimbulkan akan
perasaan stres atau bahkan depresi adalah status sakit atau sedang menderita
penyakit tertentu. Karena memang dalam sebuah konsep tentang kesehatan
mengatakan bahwa sehat bukan hanya secara fisik saja, akan tetapi juga dilihat
dari segi psikologinya.

Sumber stres dalam keluarga. Hal ini bisa disebakan karena interaksi diantara
para anggota keluarga, contohnya adalah perselisihan dalam masalah keuangan,
perasaan saling acuh tak acuh, tujuan-tujuan yang saling berbeda antara anggota
keluarga.

Stres karena pekerjaan. Dalam hal apapun sebuah pekerjaan tentunya akan bisa
menyebabkan stressor pada diri seseorang. Pekerjaan yang jatuh tempo
(deadline), pemecatan, kritikan yang tidak membangun, hasil yang tidak sesuai
target, bahkan rekan kerja juga bisa menjadi sala satu stressor atau penyebab
stres.

Stres kerja bisa dikarenakan oleh hal sebagai berikut : Lingkungan fisik yang
terlalu menekan, kurangnya kontrol yang dirasakan, kurangnya hubungan
interpersonal, serta juga bisa diakibatkan oleh karena kurangnya pengakuan
terhadap kemajuan kerja

Status sosial ekonomi seseorang.

Peristiwa/pengalaman pribadi maupun kondisi tekanan batin dan mental secara


psycologis mengenai hal emosional pengalaman-pengalaman hidupnya.

2.1.4 Indikasi Gejala Stress dan Dampaknya


Indikasi gejala-gejala timbulnya stres dapat diuraikan dalam tahapan-tahapan
timbulnya stres pada diri seseorang yang seringkali tidak disadari karena perjalanan
awal tahapan stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala
sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat
kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. Amberg (dalam Hawari,
2001) membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :
1.

Stres tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai

dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:


a. Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting).
b. Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.
c. Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa
disadari cadangan energi semakin menipis.
2.

Stres tahap II
Tahapan ini menunjukkan bahwa dampak stres yang semula menyenangkan

sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluhankeluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari,
karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan
tidur yang cukup, bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang
mengalami defisit. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang
berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut:
a. Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar.
b. Merasa mudah lelah sesudah makan siang.
c. Lekas merasa capai menjelang sore hari.
d. Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel discomfort).
e. Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar).
f. Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang.
g. Tidak bisa santai.

3.

Stres Tahap III


Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa

menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II, maka akan menunjukkan keluhankeluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu:
a. Gangguan

lambung

dan

usus

semakin

nyata;

misalnya

keluhan

maag(gastritis), buang air besar tidak teratur (diare).


b. Ketegangan otot-otot semakin terasa.
c. Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat;
d. Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur
(early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur
(middle insomnia), atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat
kembali tidur (Late insomnia).
e. Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa loyo dan serasa mau pingsan).
Sampai pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk
memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh
memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang
mengalami defisit.
4.

Stres Tahap IV
Gejala stres tahap IV, secara umum akan muncul tanda-tanda sepeti yang

disebutkan di bawah ini:


a. Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit.
b. Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan
menjadi membosankan dan terasa lebih sulit.
c. Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan
untuk merespons secara memadai (adequate).
d. Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari;
e. Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan;
Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan
kegairahan.
f. Daya konsentrasi daya ingat menurun;
g. Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa
penyebabnya.

5.

Stres Tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V, yang

ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:


a. Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan
psychological exhaustion).
b. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan
dan sederhana.
c. Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder).
d. Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah
bingung dan panik.
6.

Stres Tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik

(panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap
VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya
dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap
VI ini adalah sebagai berikut:
a. Debaran jantung teramat keras
b. Susah bernapas (sesak dan megap-megap)
c. Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran.
d. Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan.
e. Pingsan atau kolaps (collapse).
Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih
didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional)
organ tubuh, sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang
untuk mengatasinya.

2.1.5 Cara Menangani Stres


Beberapa cara bisa dilakukan untuk menghilangkan stres pada diri. Biasanya
cara yang digunakan oleh satu orang dengan oran yang lain pun berbeda tergantung
sikap dan kesadaran orang tersebut terhadap stres yang dialami. Berikut adalah beberapa
cara umum yang dilakukan untuk mengatasi stres.

1.

Relaksasi
Relaksasi adalah keheningan total. Ia adalah kemampuan untuk melampaui

pikiran, waktu, ruang, dengan mencapai momen kedamaian dan ketenteraman


batin.Relaksasi hanya bisa terjadi ketika pikiran dan tubuh hening, ketika ritme otak
berubah dari sebuah peta awas ke sebuah ritme alpha relaks. Dalam keadaan begitu,
kimia yang menyebabkan kegelisahan menurun dan aliran darah ke otak-otak menurun,
malah sebaliknya, darah mengalir ke otak dan kulit, memproduksi rasa hangat dan
kalem. Belajar rileks adalah langkah positif untuk tidak bereaksi secara berlebihan
terhadap berbagai situasi stress. Relaksasi tidak terjadi secara spontan tetapi harus
dipelajari. Secara klinis telah terbukti bahwa efek-efek relaksasi sangatlah berbeda dari
efek-efek obat tidur, alkohol dan obat-obat keras. Relaksasi adalah salah satu teknik
dalam terapi perilaku.
2.

Problem Solving
Mengalahkan stress dengan cara menyelesaikan problem stressor (hal yang

membuat stress itu). Misalnya, stress karena menderita suatu penyakit, maka
menyelesaikan masalah tesebut dengan berobat sehingga penyakit tersebut bisa sembuh.
Atau bisa juga dengan mengusahakan agar bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang
terjadi (bila situasinya sendiri tidak bisa dirubah).
3.

Body Massage
Lakukan pemijitan tubuh (body massage), karena pemijitan baik sekali untuk

relaksasi dan penormalan tekanan darah. Setelah pemijitan, tubuh akan mengalami
perbaikan kualitas tidur yang tentu saja akan memulihkan keletihan dengan lebih baik.
4.

Berolahraga Teratur.
Berolahraga teratur merupakan hal yang sangat penting dalam memerangi stress.

Berolahraga akan memobilisasi otot-otot tubuh, mempercepat aliran darah dan


membuka paru-paru untuk mangambil lebih banyak oksigen. Dampaknya, tubuh akan
memperoleh tidur yang lebih nyenyak dan kesehatan yang lebih baik.
5.

Melakukan Hobi
Melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hobi seprti memancing,

mendaki gunung, atau melakukan petualangan yang belum pernah dilakukan


sebelumnya dapat menghilangkan pikiran yang menyebabkan stress.

6.

Meditasi
Para ahli kesehatan mengatakan bahwa alat yang sangat ampuh dalam mengatasi

stress adalah meditasi. Meditasi sangat membantu membersihkan pikiran dan


meningkatkan konsentrasi. Telah terbukti bahwa meditasi selama 15 menit sama dengan
beristirahat selama 1 jam. Meskipun hanya melakukan meditasi selama 2 menit, tetap
akan cukup membantu. Meditasi akan sangat membantu anda melupakan hal-hal yang
dapat menyebabkan stress.
7.

Yoga
Banyak orang berkata bahwa cara ini dapat mengatasi stress. Latihan yoga

berfokus pada teknik pernapasan, gerakang tubuh, dan pikiran.


8.

Tertawa
Menonton film komedi atau sempatkan menonton acara komedi di TV seperti

OVJ, ILK, The Coment, dll


9.

Mendengarkan Musik
Cari lagu favorit dan dengarkan sambil merebahkan tubuh. Musik sangat bagus

untuk merileksasi otak. Jika bisa memainkan alat musik seperti gitar lebih baik lagi
untuk mengatasi stress.
10.

Bermain Game
Lupakan semua masalah dan fokus pada game yang sedang dimainkan. Jangan

pilih game yang memerlukan pikiran yang extra.


11.

Positif Thinking
Semua orang pasti pernah mendapatkan ujian, tapi dibalik semua itu pasti ada

jalan keluarnya dan ada suatu pelajaran yang bisa diambil darinya.

2.1.6 Mekanisme Pertahanan Diri dan Strategi Coping


Menghilangkan stres adalah sebuah mekanisme pertahanan, dan penanganan
yang berfokus pada masalah. Menurut Lazarus (dalam Santrock, 2003 : 566)
penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
a. Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah
istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping
yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha
menyelesaikannya.

b. Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping)adalah istilah


Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan
respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan
menggunakan penilaian defensif.
Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar (Santrock, 2003 : 567).
a. Strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk
memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres
tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi
yang ditimbulkannya secara langsung
b. Strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk
menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul
dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stres
Menurut Ebata & Moos, 1994 (dalam Santrock, 2003 : 567) individu yang
menggunakan strategi mendekat untuk menghadapi stres adalah remaja yang berusia
lebih tua, lebih aktif, menilai stresor utama yang muncul sebagai sesuatu yang dapat
dikendalikan dan sebagai suatu tantangan, dan memiliki sumber daya sosial yang dapat
digunakan. Sedangkan, individu yang menggunakan strategi menghindar mudah merasa
tertekan dan mengalami stres, memiliki stresor yang lebih kronis, dan telah mengalami
kejadian-kejadian yang lebih negatif dalam kehidupannya selama tahun sebelumnya.
Menurut Bandura (dalam Santrock, 2003 : 567) self-efficacy adalah sikap
optimis yang memberikan perasaan dapat mengendalikan lingkungannya sendiri.
Menurut model realitas kenyataan dan khayalan diri yang dikemukan oleh Baumeister,
individu dengan penyesuaian diri yang terbaik seringkali memiliki khayalan tentang diri
mereka sendiri yang sedikit di atas rata-rata. Memiliki pendapat yang terlalu dibesarbesarkan mengenai diri sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai diri sendiri dapat
mengakibatkan konsekuensi yang negatif. Bagi beberapa orang, melihat segala sesuatu
dengan terlalu cermat dapat mengakibatkan merasa tertekan. Secara keseluruhan, dalam
kebanyakan situasi, orientasi yang berdasar pada kenyataan atau khayalan yang sedikit
di atas rata-rata dapat menjadi yang paling efektif (dalam Santrock, 2003 : 568).
Menurut East, Gottlieb, OBrien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar (dalam
Santrock, 2003 : 568), Sistem Dukungan adalah keterikatan yang dekat dan positif

dengan orang lain terutama dengan keluarga dan teman secara konsisten ditemukan
sebagai pertahanan yang baik terhadap stres.

2.2

Stressor Pribadi
Semakin tinggi skor yang saya berikan berarti semakin tinggi tingkat stres yang

saya alami. Nilai 1 untuk stres sangat ringan, nilai 2 untuk stres ringan, nilai 3 untuk
stres sedang, nilai 4 untuk stres berat dan nilai 5 untuk stres sangat berat.
Stressor Eksternal
No
1

Stressor

Jenis Stres

Cara Mengatasi

Lingkungan
fisik
atau
tempat
Tinggal

Berisik.
Seringkali keponakan saya
berisik ketika saya harus
mengerjakan tugas.

Menunggu
sampai
keponakan saya tidur siang
baru saya bisa konsentrasi
mengerjakan tugas atau
mendengarkan
musik
menggunakn
heatset
dengan volume keras atau
pergi keluar untuk mencari
udar segar.
Sedikit menghindar bila
bertemu dengan pacar
teman
saya,
bicara
seperlunya saja. Ketika
teman saya curhat lagi,
saya hanya mendengarkan
saja tanpa berkomentar,
bahkan
cenderung
mengalihkan pembicaraan,
karena saya merasa bosan.
Saya ajak bicara baik-baik
dan menanyakan bagimana
maunya, jika tidak ada
perkembagan, saya akan
mengerjakan tugas itu
sendiri dan memberinya
sedikit
tugas
untuk
meringankan
tugas
kelompok ini.

Interaksi
social.
(hubungan
pertemanan)

Kehidupan
Kampus

Seringkali ada seorang


teman
yang
curhat
masalah pacanya. Hal ini
secara tidak langsung
menimbulkan
rasa
underesimate
terhadap
pacar teman saya ketika
saya bertemu dengannya.

Saya tidak merasa stres


ketika saya berada di
kampus
karena
saya
merasa senang jika saya
bertemu dengan temanteman saya. Tetapi salah
satu yang membuat saya
sress adalah ketika ada
tugas kelompok, kadang
saya terpaksa harus satu
kelompok dengan orang
yang sangat
berbeda,
selalu tak acuh dan
mementingkan
dirinya

Skor
1-5

sendiri.
4

Saya sudah berkomitmen


untuk
mengurangi
intensias
dalam
berpacaran, karena dalam
agama
saya
sendiri
pacaran itu dilarang, jadi
saya hanya berkomunikasi
dengan pacar saya setelah
saya belajar/di malam hari.
Intensitas
komunikasi
yang sangat singkat ini
kadang
menmbulkan
perasaan curiga
yang
kadang
menimbulkan
pertengkaran.
5
Kerepotan
Seringkali saya harus ikut
sehari-hari
mengurus rumah (bersih(karena saya bersih) disaat saya sibuk
tinggal
kuliah dan banyak tugas
bersama
yang
harus
saya
dengan kakak selesaikan. Waktu 24 jam
saya
yang seolah-olah tidak cukup.
sudah
berkeluarga,
mau
tidak
mau
saya
juga
harus
ikut
membantu
keperluan
rumah
tangga)
Stressor Internal

Berdoa. Selalu meminta


kepada-Nya agar perasaan
saa tidak terluka, meminta
agar dia bisa setia dan
menjaga perasaanya

Mencoba merebahkan diri


diatas kasur, mencoba
rileks, kemudian membaca
doa sebelum tidur.
Biasanya saat say merasa
tertekan seperti ini aya
langsung
mengerjakan
tugas, rasa benci dalam
hati bias mejadi semangat
saya untuk mengerjak
tugas. Belajar untuk selau
positive
thinking
dan
memperbaiki diri. Sering

Kejadian
penting
dalam hidup
(ketika
bertengkar
dengan pacar
saya)

Pilihan Gaya
hidup
(kurang dan
susah tidur)
Negative Self
Talk
(minder dan
terlalu
banyak
analisa yang
percuma)

Tugas yang banyak sering


sekali menjadi beban
pikiran sehingga saya
susah tidur.
Saya selalu minder jika
dibandingkan
dengan
mantan pacarnya pacar
saya,
terlalu
banyak
analisa yang percuma
sehingga
terkadang
menimbulkan kecurigaan.

Belajar
memanajem
waktu. Cara ini sudah
behasil
saya
lakukan
sehingga saya tidak lagi
kerepotan jika saya harus
melakukan
pekerjaan
rumah.
1

Jebakan
Pikiran
(memikirkan
sesuatu
yg
tidak
perlu
dipikir atau
tidak
memikirkan
yang
harusnya
dipikir)
Pembawaan
Pribadi
(Benci
merasa
dikasihani)

Terkadang
saya
memikirkan sesuatu yang
seharusnya tidak usah saya
pikir dulu seperti masalah
hidup yang mungkin saja
muncul
setelah
saya
bekerja atau membina
keluarga. Padahal yang
seharusnya saya pikir
adalah bagaimana saya
lulus kuliah.
Saya termasuk orang yang
tidak suka dikasihani, saya
akan merasa stres jika ada
seseorang
yang
mengasihani
suatu
kejadian
yang terjadi
dalam
hidup
saya.
Misalnya ketika saya
sedang sakit, kemudian
ada
orang
yang
menceritakan
penyakit
saya
ke oang lain.
Kemudian
mereka
membicarakan saya karna
merasa mengasihani saya.

bercermin dan mengatakan


pada diri saya bahwa saya
juga bisa menjadi lebih
baik daripada mantannya.
Menjernihkan pikiran dan
membuang semua pikranpikiran tidak penting dan
mulai mengerjakan tugas
atau mencari kesibukan.
Setelah itu jka tidak
berasil, saya akan pergi ke
luar rumah.

Bersikap
acuh,
atau
berdiam
diri
dan
menunjukkan seolah-olah
tidak terjadi apa-apa.

DAFTAR PUSTAKA

Hutahaean, Meltri . 2011. Sres Menurut Hans Selye http://meltrielia.blogspot.com/2011/04/stress-menurut-hans-selye.html. Diakses pada hari Sabtu, 13
September 2014.

Laksono, Tri. 2013. Berbagai Jenis Stress dan Penyebabnya.


http://gstres.blogspot.com/2013/09/inilah-berbagai-tipe-jenis-stress-dan.html. Diakses
pada hari Sabtu, 13 September 2014.

Maulana, Arif. 2009. 17 Tips Menghadapi Stres dalam Hidup dan di Tempat Kerja.
http://www.akuinginsukses.com/17-tips-mengatasi-stress-dalam-hidup-dan-di-tempatkerja/ . Diakses pada hari Sabtu, 13 September 2014.

Mawardi, Yudisthira. 2014. 7 Cara Mengatasi dan Menghilangkan Stes Berat.


http://www.pastipinter.com/2014/03/7-cara-mudah-menghilangkan-stress-berat.html.
Diakses pada hari Sabtu, 13 September 2014.

Siswoyo, Daris. 2014. Tanda. Gejala, dan Penyebab Stress.


http://hamizanupdate.blogspot.com/2014/01/tanda-gejala-dan-penyebab-stres.html.
Diakses pada hari Sabtu, 13 September 2014.