Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014

Desakan Darah Manusia dan Aliran Darah pada


Ekor Ikan Komet (Carassius auratus)
Rosidah Kumalasari (1512100024)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: rosidah.kumalasari12@mhs.bio.its.ac.id

Abstrak Desakan atau tekanan darah merupakan


tekanan arteri yang diberikan oleh sirkulasi sitemik
(systemic circulation). Tekanan darah dapat diukur dengan
menggunakan alat sphygmomanometer dengan satuan
milimeter of mercury (mmHg). Aliran darah adalah sistem
sirkulasi darah dalam tubuh yang disususn oleh pembuluhpembuluh darah. Praktikum ini dibagi menjadi dua bagian
yaitu desakan darah manusia dan aliran darah pada ekor
ikan komet (Carassius auratus) yang memiliki tujan
masing-masing. Tujuan dari praktikum ini adalah
mempelajari cara penggunaan Sphygmomanometer sebagai
alat pengukur desakan darah arterial, mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi desakan darah dan
membedakan macam-macam pembuluh darah pada ekor
ikan komet. Metode yang digunakan dalam subab
praktikum desakan aliran darah adalah mengukur tekanan
darah tiga probandus dengan posisi terlentang, berdiri,
setelah melakukan aktivitas berat dan mengondisikan suhu
dengan es batu. Pengulangan dilakukan sebanyak 3 kali
pada setiap probandus. Metode yang digunakan dalam
mengamati aliran darah ikan komet adalah dengan
menurunkan tingkat kesadaran ikan menggunakan alkohol
4% yang diencerkan dengan 400 ml air, setelah itu ekor
dimati menggunakan perbesaran 100x dan 400x pada
mikroskop. Hasil yang didapatkan adalah setiap probandus
memiliki tekanan darah yang berbeda. Saat posisi tubuh
terlentang, bediri, setelah latiha fisik dan mendinginkan
tangan dengan es probandus 1 (perempuan dengan berat
terbesar) memiliki rata-rata tekanan
darah secara
berurutan 98,7/66 mmHg, 118/78 mmHg, 132/112 mmHg,
dan 109/83,7 mmHg, probandus 2 (perempuan dengan
berat terkecil) rata-rata tekanan darahnya 95,7/62 mmHg,
103,6/75 mmHg, 135/98 mmHg, 99,7/70 mmHg dan
probandus 3 (laki-laki) terhitung memiliki rata-rata
tekanan darah 110/86 mmHg, 98/76 mmHg, 112/80 mmHg,
dan 104/76 mmHg. Pada pengamatan aliran darah ikan
Komet dapat diamati beberapa macam pembuluh darah
ikan yakni pembuluh arteri, vena dan kapiler.
Kata
Kunci
Aliran
darah,
Spygmomanometer, tekanan darah.

ikan

Komet,

I. PENDAHULUAN

esakan atau tekanan darah adalah kekuatan yang


dikelurakan oleh darah pada dinding pembuluh
darah. Tekanan darah berbeda pada tiap pembuluh darah
vena, tertinggi pada arteri besar yang berdekatan dengan
jantung dan menurun secara bertahap pada arteri yang
lebih kecil, arteriol dan kepiler. Tekanan darah terus
menurun pada saat darah mengalir kembali ke jantung
melalui venula dan vena. Pengukuran tekanan darah
(diukur dalam milimeter air raksa/mmHg) biasanya

mencerminkan tekanan darah arteri, meskipun tekanan


darah vena juga dapat diukur [1].
Tekanan darah merupakan faktor yang dapat dipakai
sebagai indikator untuk menilai sistem kardiovaskuler.
Tekanan darah seseorang dipengaruhi oleh berbagai
faktor di antaranya adalah perubahan posisi tubuh dan
aktivitas fisik. Dengan mengamati serta mempelajari
hasil pengaruh perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik
terhadap tekanan darah, kita akan memperoleh sebagian
gambaran mengenai sistem kardio vaskuler seseorang [2].
Darah mengalir dari daerah yang tekanannya tinggi ke
daerah yang tekanannya rendah. Kontraksi jantung
mendorong darah dengan tekanan tinggi aorta. Puncak
dari tekanan maksimum saat ejeksi terjadi adalah tekanan
sistolik. Pada saat ventrikel relaks, darah yang tetap
dalam arteri menimbulkan tekanan diastolik atau
minimum. Tekanan diastolik adalah tekanan minimal
yang mendesak dinding arteri setiap waktu [3].

Gambar 1. Pengukuran Desakan Darah [2]

Gambar tersebut menunjukkan mekanisme terjadinya


tekanan darah yang menghasilkan sistole dan diastole
ketika dilakukan penekanan udara sehingg aliran darah
terhenti. Hasil dari skala yang tampak menunjukkan
adanya tekanan darah pada saat keluar dari jantung dan
darah masuk ke dalam jantung [2].
Secara umum sistem peredaran darah pada ikan mirip
sistem hidraulis yang terdiri atas sebuah pompa, pipa,
katup, dan cairan. Meskipun, jantung teleostei terdiri atas
empat bagian. Namun pada kenyataanya mirip dengan
satu silinder atau pompa piston tunggal. Untuk menjamin
aliran darah terus berlangsung, maka daerah dipompa
dengan perbedaan tekanan. Tekanan jantung lebih besar
dari tekanan arteri, dan tekanan arteri lebih besar dari
tekanan arterionale. Akibat adanya perbedaan tekanan
maka aliran darah dapat terjadi [4] Peredaran darah pada
ikan dapat diketahui secara jelas melalui ekor yang
bersifat transparan sehingga mudah diamati. Peredaran
darah pada ikan dikontrol oleh adanya pembuluh arteri
dan vena. Ikan memiliki jantung dengan 1 atrium dan
satu ventrikel [5].

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014


Tujuan dari praktikum desakan darah adalah desakan
darah pada manusia untuk mempelajari cara penggunaan
Sphygmomanometer sebagai alat pengukur desakan
darah arterial dan mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi desakan darah. Sedangkan tujuan
praktikum aliran darah pada ekor ikan komet adalah
membedakan macam-macam pembuluh darah pada ekor
ikan komet.
II. METODE PENELITIAN
2.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada
November 2014 di Laboratorium
Biologi, Fakultas Matematika dan
Alam Institut Teknologi Sepuluh
Surabaya.

hari Senin, 10
Zoologi Jurusan
Ilmu Pengetahuan
Nopember (ITS)

2.2 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini
adalah 3 probandus dengan komposisi 1 probandus
berjenis kelamin laki-laki dengan berat badan 49 kg, 2
probandus berjenis kelamin perempuan dengan berat
badan masing-masing 94 kg dan 45 kg, alat
spygmomanometer manual dan digital, air dengan suhu
kurang dari 5oC (dalam praktikum ini menggunakan batu
es), timbangan dan stetoskop. Alat dan bahan yang
digunakan dalam praktikum aliran darah pada ekor ikan
komet adalah gelas Beaker, cawan petri, kapas, pipet
tetes, mirkroskop, gelas ukur, ikan komet, aquades, dan
alkohol 1%.
2.3 Prosedur Kerja
2.3.1. Desakan darah manusia
Cara kerja yang pertama adalah disiapkan 2
probandus wanita yang masing-masing memiliki berat
badan tertinggi dan terendah didalam kelompok
praktikum serta 1 orang probandus lelaki. Kemudian,
ketiga probandus di timbang barat badannya
menggunakan timbangan. Setelah itu, masing-masing
probandus mulai dihitung tekanan sistole dan diastole
dengan berbagai posisi tubuh antara lain : terlentang,
berdiri, setelah latihan fisik, dan setelah dipengaruhi
suhu dingin.
Perhitungan
desakan
darah
menggunakan
Sphymomanometer pada probandus dilakukan dengan
posisi terlentang, posisi berdiri, pengaruh latihan dan
pengaruh suhu dingin. Perlakuan yang pertama yang
dilakukan adalah probandus diposisikan terlentang,
lalu lengan tangan kiri probandus di bebat. Setelah itu,
dicari posisi darah arteri (arteria branchialis) yang
berdekatan dengan bagian lengan yang dibebat, dan
diletakkan stetoskop pada daerah tersebut. Kemudian
diisikan udara ke dalam pembebat tersebut sehingga
air raksa menunjukkan pada angka 170 mmHg.
Sebelum dipompakan melalui stetoskop terdengar
denyut nadi. Dengan penuhnya udara maka bunyi itu
semakin melemah dan menghilang. Pada waktu bunyi
mulai melemah, dicatat tinggi permukaan air raksa dan
dilanjutkan pengisian udara. Setelah itu, udara
dikeluarkan kembali sambil didengarkan melalui
stetoskop dan pada waktu terdengan bunyi denyut nadi
pertama kali, dicatat tinggi air raksa. Selanjutnya,
pengosongan dilanjutkan terus sehingga bunyi

2
melemah dan permukaan air raksa dicatat tingginya,
dan pada saat bunyi menghilang sama sekali. Diulangi
hal serupa untuk posisi yang sama sebanyak 1 kali
menggunakan sphygmomanometer manual dan 1 kali
menggunakan sphygmomanometer digital. Hasil
masing-masing probandus dan pengulangannya dicatat
dan dirata-rata.
Perlakuan kedua adalah perhitungan desakan darah
dengan sphygmomanometer pada probandus dengan
posisi berdiri. Cara kerja pada perlakuan ini sama
dengan cara kerja pada posisi terlentang, bedanya pada
perlakuan ini probandus sebelumnya diposisikan
berdiri terlebih dahulu selama 5-10 menit. Hasil
masing-masing probandus dan pengulangannya dicatat
dan dirata-rata.
Perlakuan ketiga sama dengan perlakuan pertama
tetapi terlebih dahulu probandus harus melakukan
latihan fisik seperti berlari selama 5 menit. Hasil
masing-masing probandus dan pengulangannya dicatat
dan dirata-rata.
Perlakuan keempat cara kerjanya sama dengan
perlakuan pertama, akan tetapi pada tangan probandus
sebelumnya harus dicelupkan ke dalam air yang berisi
es dengan suhu kurang lebih 5oC selama 2 menit. Hasil
masing-masing probandus dan pengulangannya dicatat
dan dirata-rata.
2.3.2. Aliran darah pada ekor ikan komet
Cara kerja pada praktikum pengamatan aliran darah
pada ekor ikan komet yang pertama yaitu dilakukan
pengenceran Alkohol 10% dilakukan dengan cara
menambahkan aquades ml alkohol 70%. Volume tersebut
diperoleh dari rumus :
m1 x V1 = m2 x V2
Kedua, beaker glass diisi dengan larutan alcohol 1%
hasil pengenceran sebelumnya, kemudian dimasukkan
seekor ikan komet yang berukuran cukup besar dan
membiarkannya sampai tidak sadar. Lalu, dipindahkan
ikan komet yang tidak sadar tersebut ke dalam cawan
petri yang berisi sedikit air dengan posisi tubuh ikan
miring. Setelah itu, ikan diamati dibawah mikroskop
dengan perbesaran mulai 100x dan 400x pada pembuluhpembuluh darah bagian ekor yang transparan.
Selanjutnya, diperhatikan jalannya darah dalam
pembuluh-pembuluh
darah
serta
menentukan
arteri,arteriol,kapiler, venule, dan vena berdasarkan ciricirinya. Terakhir, diperhatikan dan didokumentasikan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Prinsip dan Cara Keja Alat Sphygmomanometer
Sphygmomanometer merupakan alat yang digunakan
sebagai pengukur tekanan atau desakan darah, jenis
spygmomanometer yang digunakan adalah manual dan
digital, untuk membedakan keakuratannya. Prinsip dari
alat ini adalah tekanan udara diberikan pada bagian
pembuluh darah dan menghentikan aliran darah beberapa
saat untuk mengetahui nilai dari tekanan darah tersebut.
Spygmomanometer (alat pengukur tekanan darah) terdiri
atas [6] beberapa bagian, antara lain:
Manset yang sesuai dengan lengan pengguna. Di
dalam manset ini terdapat kantong karet. Tombol
pengendali tekanan dikaitkan pada manset. Merupakan
hal yang penting untuk menggunakan manset dengan

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014


ukuran yang tepat padab saat mengukur tekanan darah.
Manset yang terlalu lebar atau terlalu sempit akan
memberikan pembacaan yang tidak akurat. Lebar
manset harus diukur mendekati dua pertiga diameter
lengan pengguna.
Dua selang. Satu selang dihubungkan dengan bulb
penggendali tekanan dan dengan kantong ang berada
di bagian dalam manset. Selang yang lain
dihubungkan dengan pengukur tekanan.
Pengukur tekanan, bisa berupa cakram angka bulat
pengukur aneroid atau kolom air raksa. Keduanya
ditandai dengan angka.
Berikut
ini
merupakan
gambar
manset
sphygmomanometer.

Gambar 2. Manset Spygmomanometer [6]

Cara kerja sygmomanometer untuk mengukur tekanan


darah adalah sebagai berikut [6].
1) Manset diletakkan dengan lembut di atas areteri
brakialis (2 cm di atas area antekubital).
2) Bel stretoskop diletakkan diatas arteri brakialis.
3) Tekanan kemudian dinaikkan dengan memompa
kantong karet dalam manset untuk menghentikan
aliran darah melewati arteri hingga 170 mmHg.
Tekanan kemudian dilepaskan dengan perlahan-lahan
dan bunyi memutupnya katup jantung dapat didengar.
Bunyi tersebut berhubungan dengan perubahan
tekanan dalam darah [6].
4) Tekanan darah diukur.
a. Pada titik tertinggi sebagai tekanan sistolik.
Berupa bunyi teratur pertama yang didengar.
b. Pada titik terendahnya sebagai tekana diastolik.
Berupa perbahan bunyi atau bunyi terakhir yang
didengar.
c. Perbedaan antara tekana sistolik dan diastolik
disebut tekanan nadi. Tekanan nadi memberikan
informasi penting mengenai kesehatan arteri.
Tekanan nadi rata-rata pada orang dewasa yang
sehat sekitar 40 mmHg (rentang 30-50 mmHg).
Tetapi, ada faktor-faktor kesehatan dan penyakit
yang dapat menimbulkan gangguan pada tekanan
nadi. Peningkatan volume darah atau frekuensi
jantung atau penurunan kemampuan arteri untuk
mengembang dapat menyebabkan peningkatan
tekanan nadi [7]..
5) Pembacaan tekanan darah dcatat seperti pecahan.
Yaitu Sistolik/diatolik
6) Nilai tekanan darah
a. Tekanan arteri brakialis orang dewasa pada saat
istirahat adalah antara 90-140 mmHg sistolik dan
antara 60-90 mmHg diastolik.

3
b. Hipertensi (tekanan darah tinggi) adalah jika nili
sitolik lebih besar dari 140 mmHg dan distolik
lebih besar dari 90 mmHg.
c. Hipotensi (tekanan darah rendah) adalah jika nilai
sistolik kurang dari 100 mmHg dan diatolik 60
mmHg.
Tekanan sistolik merupakan tekanan pada dinding
pembuluh darah setelah sistolik ventrikuler, ketika arteri
mengandung banyak darah, maka sesaat itu terjadi
tekanan yang maksimal. Tekanan sistolik ditentukan
oleh; jumlah darah yang diejeksikan ke dalam arteri (isi
sekuncup), kekuatan kontraksi, dan distensibilitas
dinding arteri. Peningkatan dua faktor pertama atau
penurunan faktor ketiga akan meningkatkan tekanan
sistolik dan begitu pula sebaliknya [7].
Tekanan diastolik merupakan tekanan pada dinding
pembuluh darah selama diastole ventrikuler, ketika arteri
hanya berisi sedikit darah, tekanan pada dinding
pembuluh darah juga berkurang. Tekanan diastolik
dipengaruhi oleh tingkat tahanan perifer, tekanan sistolik,
dan curah jantung. Tekanan diastolik menurun bila ketiga
faktor tersebut menurun, terutama bila frekuensi jantung
lebih lambat sehingga sisa darah arteri lebih sedikit [7].
3.2. Pengukuran Desakan Darah dengan
Sphygmomanometer
Praktikum desakan darah yang dilakukan, bertujuan
untuk mengetahui cara penggunaan sphygmomanometer
sebagai alat pengukur desakan darah arterial dan
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi desakan
darah. Hal pertama yang dilakukan adalah dipilih
probandus dimana probandus yang dipilih memiliki jenis
kelamin yang berbeda serta berat badan yang bervariasi.
Hal ini bertujuan untuk membandingkan serta
mengetahui pengaruh jenis kelamin dan berat badan pada
desakan darah. Selanjutnya pada masing-masing
probandus mendapatkan empat perlakuan yang berbeda
yaitu, telentang, berdiri, beraktivitas (berlari), dan
memegang es/mencelupkan tangan kedalam air es.
Perbedaan Aktivitas ini digunakan sebagai variabel bebas
sehingga akan diketahui pengaruh aktivitas terhadap
tekanan darah.
Sebelum diukur tekanan darahnya, masing-masing
probandus ditimbang dengan timbangan badan untuk
mengetahui berat masing-masing. Kemudian dilakukan
perlakuan yang pertama hingga terakhir secara bertahap,
yaitu tidur terlentang, berdiri, beraktivitas (berlari), dan
diberi es batu pada bagian tangannya. Hal ini berfungsi
untuk mengetahui apakah posisi tubuh, suhu dan
aktivitas berpengaruh pada tekanan darah. Semua
perlakuan tersebut dilakukan selama 5 menit.
Kemudian tangan kiri pada bagian arteri brachialis
dibebat dan diukur tekanan darahnya menggunakan
Sphygmomanometer
raksa
dan
digital.
Sphygmomanometer
digital
digunakan
untuk
menunjukan hasil tekanan darah yang paling akurat.
Hasil yang didapat kemudian dirata-rata untuk
memperoleh data yang tepat dan representatif.
3.2.1 Desakan Darah pada Posisi Terlentang
Berikut data hasil pengukuran tekanan darah dari tiga
probandus.
Tabel 1. Data Tekanan Darah Manusia

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014


Probandus
1 (94 kg)

Probandus
2 (45 kg)

Probandus
3 (49 kg)

Terlentang
Berdiri
Aktivitas
Suhu

4
dalam tubuh dapat memberikan tekanan tertentu terhadap
pembuluh darah, yang akan menyempitkan pembuluh
darah sehingga tekanan darah meningkat. Selain itu juga
dikarenakan semakain berat tubuh seseorang maka
semakain banyak pula suplai Oksigen yang dibutuhkan
sehingga membutuhkan desakan darah yang lebih besar
[10]
.
3.2.2

Desakan Darah pada Posisi Berdiri

Gambar 3. Grafik Tekanan Darah Posisi Terlentang

Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui adanya


perbedaan tekanan darah sistole dan diastole pada
masing-masing probandus. Probandus satu berjenis
kelamin perempuan dengan berat badan 94 kg memiliki
rata-rata tekanan darah 98,7/66 mmHg, probandus 2
bejenis kelamin perempuan dengan berat badan 45 kg
memiliki rata-rata tekanan darah 95,7 /62 mmHg, dan
probandus 3 berjenis kelamin laki-laki dengan berat
badan 49 kg terhitung memiliki rata-rata tekanan darah
110/86 mmHg.
Pada posisi telentang didapatkan tekanan darah yang
cenderung normal karena aliran darah tidak mengalami
gaya gravitasi yang dapat meningkatkan aliran balik vena
[8].
Tekanan darah probandus pada saat terlentang ratarata rendah. Hal ini disebabkan pada saat terlentang,
posisi jantung sama dengan pembuluh darah yang ada di
tubuh sehingga jantung tidak berkontraksi terlalu kuat
untuk mengalirkan darah. Selain itu juga disebabkan
adanya gaya gravitasi. Pada saat terlentang, posisi
jantung lebih dekat denga gaya gravitasi sehingga
jantung tidak berkontraksi terlalu kuat [9].
Perlu diketahui bahwa suhu basal wanita lebih tinggi
daripada pria dan pada saat masa subur lebih tinggi,
sehingga emosinya pun terkadang mudah meningkat.
Tekanan darah yang lebih tinggi pada laki-laki daripada
perempuan [10] dikarenakan konsumsi energi pada lakilaki lebih banyak daripada konsumsi energi pada
perempuan. Hal ini dikarenakan persentase komposisi
tubuh perempuan dan laki-laki yang berbeda. Komposisi
otot lebih banyak pada tubuh laki-laki sedangkan
komposisi lemak lebih banyak pada tubuh perempuan.
Sel otot lebih banyak mitokondria sehingga lebih banyak
memerlukan oksigen dan nutrisi sehingga membutuhkan
pasokan dari darah yang lebih banyak daripada sel
adiposa.
Bisa disimpulkan bahwa berat badan berbanding
lurus dengan tekanan darah sesuai dengan [11]. Orang
yang berbadan besar (gemuk), jantung dan pembuluh
darahnya dilapisi oleh lemak yang tebal sehingga perlu
tekanan yang besar untuk mengalirkan darah keluar dari
jantung maupun masuk lagi ke jantung. Lemak-lemak

Gambar 4. Grafik Tekanan darah Posisi Berdiri

Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui adanya


perbedaan tekanan darah sistole dan diastole pada
masing-masing probandus. Probandus 1 (probandus
perempuan dengan berat terbesar) memiliki rata-rata
tekanan darah 118/ 78 mmHg, probandus 2 (probandus
perempuan dengan berat terkecil memiliki tekanan
sistole dan diastole 103,6/75 mmHg, dan probandus 3
dengan jenis kelamin laki-laki tekanan darahnya 98/76
mmHg. Pada probandus 1 dan 2 saat berdiri memiliki
tekanan darah yang relatif meningkat dibanding tekanan
darah saat terlentang. Hal ini sesuai dengan literatur
yang membahas bahwa tekanan darah probandus setelah
berdiri selama 10 menit seharusnya lebih tinggi daripada
saat terlentang. Hal ini disebabkan pada saat berdiri,
posisi jantung tidak sama dengan pembuluh darah yang
ada di tubuh sehingga jantung harus berkontraksi lebih
kuat untuk mengalirkan darah. Selain itu juga disebabkan
adanya gaya gravitasi. Pada saat berdiri, posisi jantung
lebih jauh denga gaya gravitasi sehingga jantung
berkontraksi lebih kuat. Pada posisi tegak, gaya gravitasi
dari area di atas jantung membantu aliran balik vena
sehingga tekanan diastole akan cenderung naik.
Perubahan posisi tubuh dari posisi terlentang menjadi
tegak juga dapat memindahkan darah dari sirkulasi
pulmnonar ke vena-vena tungkai. Peningkatan refleks
pada frekuensi jantung dan tekanan darah dapat
mengatasi pengurangan aliran balik vena [9]. Namun,
pada percobaan ini pada probandus 3 (probandus lakilaki) nilai tekanan darah pada saat berdiri justru menurun
daripada saat terlentang. Hal ini dapat diakarenakan
kesalahan praktikan saat mengukur tekanan darah kurang
teliti melihat tekanan distole atau sistole pada
sphygnomamometer.
3.2.3 Tekanan Darah pada Posisi Aktivitas (Lari)

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014

Gambar 5. Grafik Tekanan Darah Setelah Latihan Fisik

Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa


setelah probandus melakukan latihan fisik beberapa
menit probandus 1 (perempuan berat terbesar) diketahui
rata-rata tekanannya adalah 132/112 mmHg, probandus 2
(perempuan berat terkecil) rata-rata tekanan darahnya
135/98 mmHg, dan probandus 3 (laki-laki) rata-rata
tekanan darahnya adalah 112/ 80 mmHg. Pada ketiga
probandus terjadi peningkatan tekanan darah baik pada
sistole maupun diastolenya setelah dilakukan latihan
fisik, hal ini menunjukkan adanya pengaruh aktivitas
fisik terhadap besar kecilnya tekanan darah.
Pada saat bekerja terjadi peningkatan metabolisme sel
sel otot sehingga aliran darah meningkat untuk
memindahkan zatzat makanan dari darah yang
dibutuhkan jaringan otot. Semakin tinggi aktivitas maka
semakin meningkat metabolisme otot sehingga curah
jantung akan meningkat untuk mensuplai kebutuhan zat
makanan melalui peningkatan aliran darah. Peningkatan
curah jantung akan meningkatkan frekwensi denyut
jantung yang akan meningkatkan denyut nadi pada
akhirnya. Pergerakan otot rangka pada tungkai kaki
membantu mendorong darah ke arah jantung melawan
gaya gravitasi (mendukung aliran balik vena). Latihan
juga memacu pengeluaran hormon-hormon antara lain
adrenalin yang dapat memacu denyut jantung menjadi
lebih cepat [12].
Probandus yang melakukan aktivitas berat (berlari)
memiliki tekanan darah yang paling tinggi. Hal ini
dikarenakan selama gerak tubuh terjadi peningkatan
tekanan arteri. Peningkatan ini terjadi karena adanya
pencetusan simpatis dan vasokonstriksi sebagian besar
pembuluh darah. Peningkatan ini berkisar 20 mmHg atau
sampai sebesar 80 mmHg tergantung pada keadaankeadaan saat gerak badan tersebut dilakukan. Sebaliknya
bila orang melakukan gerak badan seluruh tubuh seperti
berlari atau berenang kenaikan arteri biasanya hanya 20
mmHg- 40 mmHg. Kurang besarnya kenaikan dalam
tekanan arteri disebabkan adanya vasodilatasi yang
terjadi di dalam massa otot yang besar. Selama bergerak,
otot-otot memerlukan peningkatan aliran darah yang
banyak. Sebagian dari peningkatan ini adalah akibat dari
vasodilatasi lokal pada vaskularisasi otot yang
disebabkan oleh peningkatan metabolisme sel otot.
Peningkatan tekanan arteri selama bergerak terutama
akibat area motorik sistem saraf menjadi teraktivasi
untuk bergerak, sistem pengaktivasi retikuler di batang
otak juga ikut teraktivasi, yang melibatkan peningkatan
perangsangan yang sangat besar pada area
vasokonstriktor dan kardioakselerator pada pusat

5
vasomotor. Keadaan ini akan meningkatkan tekanan
arteri dengan segera untuk menyetarakan besarnya
peningkatan aktivitas otot [13].
Hasil praktikum ini sesuai dengan teori bahwa
aktivitas mempengaruhi tekanan darah, semakin berat
aktivitas yang dilakukan maka tekanan darah semakin
meningkat pula. Terjadinya perbedaan antara nilai
tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah terpapar
panas yang ditimbulkan oleh tubuh disebabkan oleh
beban kerja. Denyut jantung dapat berubah karena
meningkatnya Cardiac Output (curahan jantung) yang
diperlukan otot yang sedang bekerja dan karena
penambahan strain pada aliran darah karena terpapar
panas.
Pada percobaan ini, tekanan darah pada probandus 3
(laki-laki) memiliki nilai yang relatif lebih kecil
dibandingkan probandus 1 dan probandus 2. Hal ini
dapat disebabkan karena aliran darah untuk memenuhi
kebutuhan pada probandus 1 dan probandus 2 lebih
tinggi dibandingkan probandus 3. Dapat dikatakan bahwa
probandus 1, probandus 2, dan probandus 3 memiliki
kebutuhan energi yang berbeda dibedakan dari faktor
jenis kelamin dan berat badan [13] .
3.2.4

Tekanan Darah pada Suhu Rendah

Gambar 6. Grafik Tekanan Darah Suhu Rendah

Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat rata-rata


tekanan darah masing-masing probandus saat perlakuan
suhu dingin. Hasil pengukuran tekanan darah setelah
probandus memegang es selama 2 menit yaitu tekanan
darah rata-rata probandus 1 (perempuan berat terbesar)
adalah 109/83,7 mmHg, tekanan darah probandus 2
(perempuan berat terkecil) adalah 99,7/70 mmHg, dan
tekanan darah probandus 3 (laki-laki) adalah 104/76
mmHg. Pada ketiga probandus terjadi penurunan tekanan
darah baik pada sistole maupun diastolenya setelah diberi
perlakuan suhu dingin dengan memegang es batu, hal ini
menunjukkan adanya pengaruh suhu terhadap besar
kecilnya tekanan darah.
Pada saat dingin, metabolisme tubuh juga menurun
sehingga kerja jantung juga ikut turun sehingga tekanan
darahnya menjadi rendah. Perbedaan tekanan darah
sebelum dan setelah tangan direndam es disebabkan
probandus berada pada lingkungan yang dingin sehingga
merangsang jantung untuk berkontraksi lebih lambat.
Peningkatan temperatur akan sangat meningkatkan
frekuensi denyut, sedangkan penurunan temperatur
sangat menurunkan frekuensi denyut jantung. Sehingga
dapat terlihat dari hasil pengukuran ketiga probandus,

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014


nilai tekanan darahnya menurun dibandingkan dengan
perlakuan lain. Suhu tubuh manusia mempengaruhi
penyempitan dan pelebaran pembuluh darah, saat suhu
tinggi pembuluh darah menyempit (kontriksi) sehingga
hambatan semakin besar, kecepatan aliran darah semakin
kecil dan tekanan darah menurun. Saat suhu rendah
pembuluh darah melebar (dilatasi) sehingga tekanan
darah meningkat [14].
Pada perlakukan suhu rendah mengakibatkan tubuh
memberikan reaksi berupa pengaturan tekanan darah
pada tubuh. Peningkatan dari tekanan darah disebabkan
karena tubuh dikondisikan agar tetap menjaga
kesetimbangan aliran darah. Pada suhu rendah
memungkinkan tubuh meningkatkan aliran darah
sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan oksigen
pada bagian tubuh yang mengalami suhu rendah [10].
3.2.5 Sistem Peredaran Darah Pada Manusia
Sistem peredaran darah manusia merupakan sistem
peredaran darah ganda, karena darah beredar melalui
jantung sebanyak dua kali. Sehingga sistem peredaran
darah pada manusia dibedakan menjadi sistem peredaran
darah kecil dan sistem perdaran darah besar. Peredaran
darah besar yaitu, peredaran darah dari jantung (ventrikel
kiri) menuju keseluruh tubuh, kemudian kembali ke
jantung lagi (atrium kanan). Sedangkan peredaran darah
kecil yaitu peredaran darah dari jantung (ventrikel kanan)
menuju ke paru paru, kemudian kembali lagi ke
jantung (atrium kiri). Selain itu, sistem peredaran darah
manusia merupakan sistem peredaran darah tertutup
karena darah yang mengalir melalui pembuluh darah.
Dimana pembuluh darah pada manusia antara lain adalah
arteri, vena dan kapiler [15] . Pada orang dewasa, jumlah
volume darah yang mengalir di dalam sistem sirkulasi
mencapai 5-6 liter (4,7 - 5,7 liter). Darah terus berputar
mengalir di dalam sistem sirkulasi sistemik dan paruparu tanpa henti. Untuk menjelaskan alur aliran darah,
kita dapat memulai dari sistem sirkulasi sistemik
kemudian sistem sirkulasi pulmoner [16] .

Gambar 7. Sistem Peredaran Darah pada Manusia [8].

3.3 Aliran Darah pada Ekor Ikan Komet


Praktikum aliran darah pada ekor ikan komet memiliki
tujuan untuk membedakan macam-macam pembuluh
darah pada ekor ikan komet. Disediakan alkohol 96%

6
dan aquadest. Untuk mendapatkan alkohol 4% dilakukan
pengenceran pada alkohol 96% dengan aquadest, volume
alkohol 96% yang dibutuhkan dapat dihitung sebagai
berikut.
m1xV1 = m2 x V2
96 x V1 = 4 x 400
V1 = 16,6 ml
Sebanyak 16,6 ml alkohol ditambahkan kedalam 400
ml aquadest. Kemudian ikan dimasukkan kedalam gelas
Beaker yang telah berisi campuran air dan alkohol 4%
sampai hilang kesadaran, hal ini dilakukan untuk
memudahan pengamatan di mikroskop. Setelah ikan
kehilangan kesadaran diletakkan diatas cawan petri,
setelah itu diamati menggunakan mikkroskop compound
dengan perbesaran 100 kali dan 400 kali.
Tabel 2. Pembuluh darah pada ikan Komet
No.

Foto

Keterangan

1.

Arteri

2.

Vena

3.

Kapiler

Dari gambar diatas dapat diketahui bagian-bagian


pembuluh darah padaekor ikan komet yang akan
dijelaskan sebagai berikut [5].
1. Vena
Vena (pembuluh balik) merupakan pembuluh darah
yang berdinding tipis dan mempunyai klep-klep pada
setiap jarak tertentu, berfungsi untuk membawa darah
kembali ke jantung. Struktur vena hampir sama
dengan arteri, namun mempunyai dinding yang lebih
tipis dan diameter yang sama. Bagian dalam dari vena
yang mengalami tekanan hidristatik yang tinggi,
umumnya kaya akan jaringan elastis dan sel otot

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014


licin. Dinding vena umumnya berkontraksi secara
aktif, tidak hanya mempertahankan tekanan darah
dalam sistem vena, tetapi juga untuk memompakan
darah dari dinding ke jantung [5].
2. Arteri
Arteri (pembuluh nadi) merupakan pembuluh darah
yang mempunyai dinding yang tebal dan kuat tetapi
tidak mempunyai klep-klep, berfungsi untuk
membawa darah meninggalkan jantung. Arteri
biasanya membawa darah yang kaya dengan oksigen
yang diedarkan ke seluruh bagian tubuh. Saluran
darah ini terdiri dari tiga lapisan yaitu bagian dalam
(intima), memiliki lapisan endotelium dan
subendotelium [5].
3. Kapiler
Bagian percabanagan saluran darah yang tampak
seperti bintik pada ekor ikan. Pada kapiler terjadi
pertukaran zat (gas nutrien) antara darah dengan
jaringan atau sel. Ada tiga macam kapiler darah, yaitu
kapiler kontinyu, kapiler berpori dan kapiler
diskontinyu (sinusoid) pada ikan komet yang terlihat
kapiler berpori [5].
3.5 Sistem Peredaran Darah pada Ikan
Sistem peredaran darah pada ikan bersifat tunggal,
artinya hanya terdapat satu jalur sirkulasi peredaran
darah. Pada sistem tersebut darah mengalir dari jantung,
menuju ke insang, kemudian ke seluruh tubuh, dan
akhirnya kembali lagi ke jantung. Pada ikan, jantung
umumnya terletak di belakang insang. Ikan bertulang
sejati (Osteichthyes) memiliki letak jantung relatif lebih
ke depan dibandingkan dengan ikan bertulang rawan
(Chondrichthyes). Jantung disusun oleh otot jantung
yang bekerja tidak di bawah pengaruh rangsang
(involuntary).
Jantun
memiliki
fungsi
yaitu
memompakan darah yang kadar oksigennya rendah
menuju ke insang untuk mengikat oksigen dan
selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh. Jantung terdapat
di dalam rongga pericardium. Jantung ini dibungkus oleh
suatu selaput yang disebut pericardium dan terdiri atas [5]:
Sinus venosus, berdinding tipis dan berwarna merah
coklat, terdapat pada bagian caudo-dorsal dari bagian
jantung yang lain. Menerima darah dari vena hepatica
dan ductus Cuvier.
Atrium (serambi), berdinding tipis dan berwarna
merah tua, bersifat tunggal dan menerima darah dari
sinus venosus.
Ventikel (bilik), berwarna merah muda karena
dindingnya tebal, bersifat tunggal, menerima darah
dari atrium.
Bulbus arteriosus (conus arteriosus), merupakan
lanjutan dari ventrikel, berwarna putih, menerima
darah dari ventrikel dan mengalirkannya ke aorta
ventralis [5].
IV. KESIMPULAN
Desakan darah manusia adalah siklus jantung terdiri
atas satu periode relaksasi yang disebut diastole,
kemudian diikuti dengan periode kontraksi yang disebut
sistole. Sphygmomanometer merupakan alat pengukur
desakan atau tekanan darah, yang berupa manometer air
raksa yang dilengkapi dengan semacam bebat yang dapat
diisi udara melalui penghembus dari karet. Tekanan

7
darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis
kelamin, posisi tubuh, suhu, umur, emosi dan aktivitas
tubuh. Laki-laki memiliki tekanan darah yang lebih
tinggi daripada perempuan. Pada posisi tubuh berdiri
tegak, tekanan darah menjadi lebih tinggi dibandingkan
dengan pada posisi tubuh terlentang. Pada waktu
melakukan latihan atau aktivitas, tekanan darah menjadi
lebih tinggi dibandingkan dengan waktu posisi tubuh
terlentang. Pada waktu kondisi dingin, tekanan darah
menjadi lebih rendah dibandingkan pada waktu
terlentang. Ikan komet memiliki peredaran darah
tunggal.. Pada ikan komet terlihat pembuluh darah
(tampak pada bagian ekor) antara lain: arteri, vena, dan
kapiler. Arteri tampak berwarna merah cerah. Vena
memiliki warna merah pekat Kapiler memiliki warna
merah.
V. DAFTAR PUSTAKA
[1]

Ruth, Johnson. (2004). Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta:


Penerbit EGC.
[2]
Eser, smet; Khorshid, Leyla; Gne Yapucu, lk; Demir,
Yurdanur. (2007). The effect of different body positions on blood
pressure. Journal of Clinical Nursing, Vol 16, No 1: pp. 137140(4)
[3]
Potrer, Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses,dan Praktik. Ed.4.Vol 1. Cetakan I. Jakarta :
EGC.
[4] Nina, Y. (2012). Sistem Perdaran Darah Ikan. Yogyakarta :
Kanisus.
[5] Efendi, Yempita. (2014). Sistem Organ Ikan. ISBN 978-602-889946-8. Fakultas Perikanan Univertisa Bung Hatta. Tidak Dicetak
[6] Hegner, Barbara R. (2003). Asisten Keperawatan : Suatu
Pendekatan Proses keperawatan. Jakarta: EGC.
[7]
Harahap,Fadli Hardiansyah. (2011). Perbedaan Tekanan Darah
Sisi Tangan yang Lumpuh dengan Sisi Tangan yang Normal pada
Pasien Stroke di RSUP Adam Malik Medan. Skripsi. Universitas
Sumatera Utara. Medan.
[8]
Brotowidjoyo, MD. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga (1989)
Guyton dan Hall. (2010). Medical Physiology. New York.
Elvesier.
[9] Sloane, Ethel. (2003). Anatomi dan Fisiologi. Jakrta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
[11] Santoso, T. (1999). Improvement of Endothelial Dysfunction as a
Surrogate Endpoint in the Treatment of Hypertension on The
Electronic, Journal of the Indonesian Medical Association IV(2)
May (2001); 1-6. Pearce, G. Anatomi dan Fisiologi untuk
Parameter. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
[12] Health, V. 2004. Hipertensi. Jakarta: Penerbit PT.Gramedia
Pustaka Utama
[13] Guyton dan Hall. (2010). Medical Physiology. New York. Elvesier.
[14] Hidayati, Dewi. (2007). Modul Fisiologi Hewan. Surabaya. Prodi
Biolo FMIPA ITS.
[15] O'Brien E, Asmar R, Beilin L, Iami Y, Mallion J-M et al. (2003).
European Society of Hypertension recommendations for
conventional, ambulatory and home blood pressure
measurement. J Hypertens
[16] Soewolo, dkk.(2005). Fisiologi Manusia. Malang: UM Press.