Anda di halaman 1dari 6

2.

1 Plak Gigi
2.1.1 Pengertian Plak Gigi
Plak gigi merupakan deposit lunak yang membentuk biofilm, yang melekat pada
permukaan gigi atau jaringan keras lainnya dalam rongga mulut, dan dapat dibedakan dari
deposit lainnya dalam rongga mulut, seperti materia alba dan kalkulus (Carranza dan
Newman, 1996). Plak adalah suatu lapisan bening dan tipis, terdiri dari mucus dan kumpulan
bakteri yang menyelimuti permukaan gigi. Plak gigi hanya dapat dilihat dengan pewarnaan
pada gigi. Pewarnaan yang digunakan juga khusus dikenal dengan nama disclosing agent.
Plak merupakan penyebab lokal dan utama terbentuknya penyakit gigi dan mulut yang lain
seperti karies, kalkulus, gingivitis, dan periodontitis (radang pada jaringan penyangga gigi),
dan lain sebagainya. Plak tidak dapat dihindari pembentukannya, sehingga mengurangi
akumulasi plak adalah hal yang sangat penting, untuk mencegah terbentuknya penyakit gigi
dan mulut (Anggareni, 2007).
Gigi yang sudah disikat akan kembali berkontak dengan saliva. Mucin (salah satu zat
yang terkandung dalam saliva) akan melapisi gigi. Lapisan ini kemudian dikenal dengan
nama Acquired Pellicle (mucus). Acquired Pellicle ini sangat tipis, berkisar 1. Selain mucin
dan protein lainnya, saliva juga mengandung banyak bakteri. Beberapa saat setelah Acquired
Pellicle terbentuk, bakteri akan singgah dan berkoloni di lapisan tersebut. Keadaan ini yang
disebut dengan plak gigi atau dental plaque (Anggareni, 2007).
Pembentukan plak didahului oleh pelikel yang terdiri atas glikoprotein dari saliva.
Diatas pelikel ini, akan menempel berbagai macam bakteri yang membentuk koloni. Plak ini
tidak bisa dihilangkan dengan berkumur-kumur menggunakan air. Plak akan menempel

dibagian gigi setelah melakukan sikat gigi. Plak berupa massa dan koloni disebabkan oleh
asupan karbohidrat dan gula, kemudian bakteri yang terdapat pada plak akan memfermentasi
karbohidrat, sehingga terjadi proses asam yang mengakibatkan demineralisasi pada gigi dan
terjadi infeksi bakteri. Hal ini yang kemudian masuk ke dalam email, dentin, dan akhirnya ke
saraf, yang mengakibatkan rasa nyeri yang berujung pada karies. Pada permulaannya,
sebagian besar bakteri dalam plak adalah Streptococcus mutan, Streptococcus sanguins,
Streptococcus mitis, Streptococcus salivarius, Actinomyces viscosus, dan Actinomyces
naeslundii. Filamen mulai ditemukan setelah beberapa hari (Anggareni, 2007).
2.1.2 Kandungan Plak Gigi
Kandungan plak gigi antara lain (Carranza dan Newman, 1996) :
1) Bakteri yang terdiri dari lebih 500 spesies bakteri yang berbeda.
2) Mikroorganisme bukan bakteri terdiri dari spesies Mycoplasma, protozoa, dan
virus yang terdapat pada matriks interseluler yang mengandung sel host,
seperti sel epitel Macrophage dan Leukocyte.
3) Matriks interseluler merupakan 20%-30% dari massa plak. Terdiri dari organik
dan non-organik yang berasal dari saliva, cairan krevikuler gingiva dan produk
bakteri. Organik dari matriks terdiri dari polisakarida, protein, glikoprotein,
dan material lipid. Glikoprotein saliva merupakan komponen penting pelikel
dan merupakan selapis tipis awal, selalu terbentuk setelah gigi dibersihkan,
juga merupakan kesatuan pada perkembangan biofilm plak.
4) Dextran adalah polisakarida yang dibentuk oleh bakteri, sebagai pendukung
terbentuknya matriks organik.
5) Lipid material berisi debris yang berasal dari membran bakteri dan host cell
yang rusak dan kemungkinan juga dari food debris.

6) Komponen bukan organik terutama terdiri dari kalsium, fosfor, dengan


beberapa mineral seperti sodium, potassium, dan fluorida.
Plak dapat diklasifikasikan berdasarkan letak atau posisinya pada permukaan gigi dibagi
menjadi dua (Carranza dan Newman, 1996) :
1. Plak supragingiva ditemukan pada permukaan marginal gingiva.
2. Plak subgingiva ditemukan diantara marginal gingiva atau diantara gigi dan sulkus
gingiva.

2.1.3 Pembentukan Plak Gigi


Plak dapat dilihat dengan probe dan disclosing agent. Plak tampak berwarna putih,
keabu-abuan, atau kuning, dan globular (Manson, 1993). Proses terbentuknya di bagi menjadi
3 fase :
a. Pembentukan Pelikel
Pembentukan pelikel dipengaruhi absorpsi hidroksiapatit pada permukaan enamel
terhadap glikoprotein dari saliva. Pelikel merupakan suatu lapisan tipis bebas bakteri, dan
terbentuk dalam beberapa menit setelah permukaan gigi yang bersih kontak dengan saliva.
Pelikel merupakan lapisan film tipis, licin, tidak berwarna, dan tersebar pada permukaan gigi.
Cara membedakan pelikel dengan plak gigi, pelikel akan tampak tipis, pucat, jika diberi
disclosing agent dan permukaannya mengkilat berbeda jelas dengan plak gigi yang lebih
gelap (Manson, 1993).
b. Kolonisasi Mikroorganisme
Mikroorganisme melekat pada gigi di atas pelikel, karena adanya matriks dari
mikroorganisme yang adhesif, dan afinitas hidroksiapatit enamel terhadap glikoprotein yang
mengabsorpsi pelikel dan mikroorganisme. Plak gigi tumbuh oleh karena adanya
penambahan mikroorganisme baru, pembiakan mikroorganisme, dan penumpukan produksi
mikroorganisme diatas pelikel. Plak gigi terbentuk dalam 3-4 jam sesudah gigi dibersihkan,
dan akan tumbuh berkembang mencapai puncak ketebalan maksimal pada hari ketigapuluh
(Carranza dan Newman, 1996).

Mikroorganisme dalam plak gigi berubah sesuai dengan umur plak. Awal
pembentukan plak, bakteri jenis kokus gram positif, terutama Streptoccocus, merupakan jenis
yang paling banyak dijumpai disamping bentuk batang. Dengan bertambahnya umur plak,
maka jenis kokus berkurang, sedang jenis lain akan bertambah jumlahnya. Jenis kokus gram
positif lebih kurang 40%, gram negatif 10%, dan 40% bentuk batang gram positif dan bentuk
batang gram negatif, dan 10% adalah jenis lain. Jika plak gigi yang berada dekat margin
gingiva dibiarkan tumbuh dan berkembang, akan menyebabkan keradangan gingiva akibat
perubahan hubungan lingkungan antara tepi gingiva ke permukaan gigi (Dearby dan Walsh,
1995).
c. Kematangan Plak
Plak gigi terbentuk setelah 3-4 jam sesudah gigi dibersihkan. Fase akhir pematangan
plak pada hari ke-7, ditandai dengan menurunnya jumlah bakteri gram positif dan
meningkatnya bakteri gram negatif. Apabila tidak dibersihkan, dapat menjadi penyebab
utama penyakit gingiva, dan lebih lanjut mengeras membentuk karang gigi (Dimatteo, 2009).
2.1.4 Pengukuran Plak
Skor plak diukur dari 6 gigi, yaitu gigi 16, 11, 26, 31, 36, dan 46. Gigi-gigi ini dipilih
dengan alasan gigi 16 dan 26 sebelah bukal dekat dengan ductus glandula parotidius, gigi 36
dan 46 sebelah lingual dekat dengan ductus glandula submandibularis, gigi 11 bagian labial
merupakan faktor estetik, dan gigi 31 bagian lingual dekat dengan glandula sublingualis
(Carranza dan Newman, 1996).

Gigi molar pertama dipilih untuk mewakili pemeriksaan gigi yang lain, karena gigi
tersebut merupakan gigi yang erupsi lebih awal dari gigi-gigi lainnya, dan gigi tersebut
merupakan gigi yang pertama kali, dan paling lama menerima paparan debris maupun
kalkulus (Manson, 1993).

Gambar 1. Indeks Plak (Manson, 1993)


Pengukuran dengan memakai skor plak Loe dan Silness, Indeks Plak (Hashyim dan
Kawari 2009):
0

= tidak ada plak pada gigi

= terdapat plak pada <1/3 permukaan gigi

= terdapat plak pada 1/3-2/3 permukaan gigi

= terdapat plak pada >2/3 permukaan gigi

Skor tiap gigi dapat diperoleh dari perhitungan (Hashyim dan Kawari 2009):
Indeks Plak = Total skor plak seluruh permukaan gigi yang diperiksa
Jumlah gigi yang diperiksa
Berdasarkan skor Indeks Plak tersebut, selanjutnya dilakukan pengkategorian
akumulasi plak menurut Loe dan Silness, sebagai berikut (Hashyim dan Kawari, 2009):
Indeks Plak 0,4-1,0

Sedikit

Indeks Plak 1,1-2,0

Sedang

Indeks Plak >2,0

Banyak