Anda di halaman 1dari 13

FARMAKOLOGI

PRAKTIKUM IV
MENENTUKAN LD50 (LETHAL DOSE)
SUPERMETRIN (SUTRIN 100 eC) PADA TIKUS

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 3 :
1. Naniek Dwi Okvitasari

(201310410311106)

2. Chotijah Verial Virdaus

(201310410311129)

3. Raramiyati Fitratunnisah (201310410311166)


4. Reza Diah Prataningtyas

(201310410311194)

5. Najla Salsabila Nisrina

(201310410311213)

6. Aldi Bachtiar Prasetya

(201310410311234)

7. Dwi Setiyo Kartiningdiah (201310410311240)


8. Melvy Rosalina

(201310410311290)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014

A. TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS


1. Mengamati perubahan aktivitas perilaku setelah pemberian supermetrin secara per
sonde.
2. Menentukan LD 50 supermetrin pada tikus.
B. PENDAHULUAN
Pestisida merupakan suatu zatatau campuran zat yang khusus digunakan untuk
engendalikan, mencegah, dan menangkis gangguan serangga, binatang pengerat, jasad
renik yang di anggap hama serta semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk
mengatur pertumbuhan tanaman dan pengering tanaman.
Peptisida bersifat toksik. Pada mamalia efek utama yang ditimbulkan adalah
menghambat asetilkolin esterase yang menyebabkan aktivitas kolinergik yang berlebihan
perangsangan reseptor kolinergik secara terus menerus akibat penumpukan asetilkolin
yang

tidak

dihidrolisis.

Penghambatan

asetilkolinesterase

juga

menimbulkan

polineuropati (neurotoksisitas) mulai terbakar sampai kesemutan terutama di kaki akibat


kesukaran sensorik dan motorik dapat meluas ke tungkai dan kaki (terjadi ataksia).
(Farmakologi dan toksikologi Edisi 3, 2006 : penerbit Kedokteran)
Penilaian keamanan obat/zat kimia perlu dilakukan untuk menentukan seberapa
toksik zat tersebut ke manusia. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tahapan berikut :
1. Menentukan LD 50
2. Melakukan percobaan toksisitas sub akut dan kronis untuk menentukan no effect level
3. Melakukan percobaan karsinogenitas, teratogenitas, dan mutagenesis yang
merupakan bagian penyaringan rutin keamanan.
Mekanisme terjadinya toksisitas obat, berbagai mekanisme dapat mendasari
toksisitas

obat.

Biasanya

relasi

toksis

merupakan

kelanjutan

dari

efek

farmakodinamiknya. Karena itu, gejala toksis merupakan efek farmakodinamik yang


belebihan. Dalam percobaan toksikologi pada hewan harus digunakan dosis yang sangat
besar, karena ingin ditemukan kelainan jaringan atau efek toksik yang jelas. Dengan cara
ini reaksi yang jarang terjadi bisa dibuat lebih sering. Bila dengan dosis terapi efek
hipotoksis hanya terjadi pada 1 per 10.000 orang, maka diperkirakan ribuan tikus untuk
percobaan dengan dosis ini. Sebelum terlihat reaksi pada 1-2 ekor tikus saja. Selain itu
waktu observasi akan jauh lebih pendek apabila juga menggunakan dosis yang besar,
sehingga akan mengurangi biaya pemeriksaan.
Namun akan timbul kesulitan dalam interpetasi hasilnya pada manusia sebab
kelainan yang ditemukan tidak dapat di ekstrapolarikan begitu saja pada manusia.

Interpretasi ini harus dilakukan dengan bijaksana dengan memperhitungkan besarnya


dosis dan kondisi percobaan.
( Farmakologi dan terapi Ed.5.2011 Fakultas Kedokteran UI ).
Uji toksisitas akut tidak hanya bertujuan untuk menentukan nilai LD 50, tetapi
juga untuk melihat berbagai perubahan tingkah laku, adakah stimulasi atau depresi SSP,
perubahan aktivitas motorik dan pernafasan tikus, serta untuk mendapat gambaran
tentang sebab kematian. Oleh sebab itu uji toksisitas ini harus dilengkapi dengan
pemeriksaan laboratorium klinik dan pembuatan sediaan histologik dari organ yang
dianggap dapat memperlihatkan kelainan. Kematian yang timbul oleh kerusakan pada
hati, ginjal, atau system hematopoisis tidak akan terjadi pada hari pertama tapi timbul
palng cepat hari ketiga.
Toksisitas adalah suatu keadaan yang menandakan adanya efek toksik/racun yang
terdapat pada bahan sebagai sediaan single dose atau campuran. Toksisitas akut ini diteliti
pada hewan percobaan yang menunjukkan evaluasi keamanan dari kandungan kimia
untuk penggunaan produk rumah tangga, bahan tambahan makanan, kosmetik, obatobatan, dan sediaan biologi. Uji toksisitas dilakukan untuk mendapatkan informasi atau
data tentang toksisitas suatu bahan (kimia) pada hewan uji. Secara umum uji toksisitas
dapat dikelompokkan menjadi uji toksisitas jangka pendek/akut, dan uji (farmakologi dan
toksikologi Edisi 3, 2006 : penerbit Kedokteran)
toksisitas jangka panjang. Uji toksisitas akut dimaksudkan untuk mendapatkan
informasi tentang gejala keracunan, penyebab kematian, urutan proses kematian dan
rentang dosis yang mematikan hewan uji (Lethal dose atau disingkat LD50) suatu bahan.
Uji toksisitas akut merupakan efek yang merugikan yang timbul segera sesuda
pemberian suatu bahan sebagai dosis tunggal, atau berulang yang diberikan dalam 24
jam. Uji toksisitas akut dirancang untuk menentukan atau menunjukkan secara kasar
median lethal dose (LD50) dari toksikan. LD50 ditetapkan sebagai tanda statistik pada
pemberian suatu bahan sebagai dosis tunggal yang dapat menyebabkan kematian 50%
hewan uji (Frank,1996). Jumlah kematian hewan uji dipakai sebagai ukuran untuk efek
toksik suatu bahan (kimia) pada seke lompok hewan uji. Jika dalam hal ini hewan uji
dipandang sebagai subjek, respon berupa kematian tersebut merupakan suatu respon

diskretik. Ini berarti hanya ada dua macam respon yaitu ada atau tidak ada kematian.
Quantal respon , yaitu jumlah respon pada sekelompok hewan uji terhadapdosis tertentu
suatu obat atau bahan.
Pengamatan terhadap efek ini dilakukan untuk menentukan jumlah respon dari
suatu respon diskretik (all or none response) pada suatu kelompok hewan uji. Jumlah
respon tersebut dapat 100%, 99%, 50%, 20%, 10%, atau 1%. Respon yang bersifat
diskret itu dapatberupa kematian, aksi potensial, dan sebagainya, Dosis dibuat sebagai
suatu peringkat dengan kelipatan logaritmik yang tetap. Dosis terendah merupakan dosis
yang tidak menyebabkan timbulnya efek atau gejala keracunan, dan dosis tertinggi
merupakan dosis yang menyebabkan kematian semua (100%) hewan uji. Cara pemberian
obat atau bahan yang diteliti harus disesuaikan pada pemberiannya pada manusia,
sehingga dapat mempermudah dalam melakukan ekstrapolasi dari hewan ke manusia.
Dalam uji toksisitas akut, penentuan LD50 dilakukan dengan cara menghitung
jumlah kematian hewan uji yang terjadi dalam 24 jam pertama sesudah pemberian dosis
tunggal bahan yang diteliti menurut cara yang ditunjukkan oleh para ahli. Namun
demikian, kematian dapat terjadi sesudah 24 jam pertama karena proses keracunan dapat
berjalan lambat. Gejala keracunan yang muncul sesudah 24 jam menunjukkan bahwa
bahan obat atau bahan itu mempunyai titik tangkap kerja pada tingkat yang lebih bawah
sehingga gejala keracunan dan kematian seolah-olah tertunda (delayed toxicity). Oleh
karena itu banyak ahli berpendapat bahwa gejala keracunan perlu diamati sampai 7 hari
bahkan juga sampai 2 minggu. Sediaan yang akan diuji dipersiapkan menurut cara yang
sesuai dengan karakteristik bahan kimia tersebut, dan tidak diperbolehkan adanya
perubahan selama waktu pemberian. Untuk pemberian per oral ditentukan standar
volume yang sesuai dengan hewan uji.
Uji toksisitas subkronis adalah uji ketoksikan suatu senyawa yang diberikan
dengan dosis berulang pada hewan uji tertentu, selama kurang dari tiga bulan. Uji ini
ditujukan untuk mengungkapkan spectrum efek toksik senyawa uji serta untuk
memperlihatkan apakah spectrum efek toksik itu berkaitan dengan takaran dosis. Uji
Toksisitas Sub-kronik (Jangka Pendek) Uji ini dimaksudkan untuk mengungkapkan
berbagai efek berbahaya yang dapat terjadi jika suatu senyawa digunakan selama waktu

tertentu, selama waktu tertentu, serta untuk menunjukkan apakah berbagai efek tersebut
berkaitan dengan dosis. Kegunaan uji toksisitas sub-kronik adalah untuk mengetahui efek
samping dan kontraindikasi obat yang diuji. Uji ini dilakukan dengan memberikan bahan
tersebut berulang-ulang, biasanya setiap hari atau lima kali seminggu, selama jangka
waktu kurang lebih 10% dari masa hidup hewan; yaitu 3 bulan untuk tikus, dan 1 atau 2
tahun untuk anjing. Tetapi beberapa peneliti menggunakan jangka waktu yang lebih
pendek, misalnya pemberian zat kimia selama 14 dan 28 hari. (farmakologi dan
toksikologi Edisi 3, 2006 : penerbit Kedokteran)
Uji Toksisitas Kronik (Jangka Panjang) Pada dasarnya uji toksisitas kronik sama dengan
toksisitas sub-akut. Perbedaannya hanya terletak pada lamanya pemberian dosis dan masa
pengamatannya. Percobaan jenis ini mencakup pemberian obat secara berulang selama 3
6 bulan atau seumur hewan, misalnya 18 bulan untuk mencit, 24 bulan untuk tikus, dan
710 tahun untuk anjing dan monyet. Memperpanjang percobaan kronik untuk lebih dari
6 bulan tidak akan bermanfaat, kecuali untuk percobaan karsinogenik. Umumnya satu
atau lebih jenis binatang yang digunakan. Kecuali tidak ditunjukkan, tikuslah yang
digunakan, anjing dan primata merupakan pilihan berikutnya. Karena ukurannya yang
kecil, tikus tidak cocok digunakan dalam studi toksisitas jangka panjang, meskipun
mereka sering digunakan dalam studi karsinogenesitas. Jantan dan betina dalam jumlah
yang sama digunakan. Umumnya 40-100 tikus ditempatkan dalam kelompok masingmasing dosis dan juga dalam kelompok kontrol. Penggunaan anjing dan primata non
manusia jauh lebih sedikit

C. ALAT DAN BAHAN


1. Kapas, kain, spuit, kasa, klem
2. Kandang, tikus 3 ekor
3. Alkohol
4. Sutrin 100ec (dosis 25 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, 400 mg/kgBB)
D. PROSEDUR KERJA
1. Siapkan sondeyang berisi sutrin 100ec untuk masing-masing tikus dengan dosis 25
mg/kgBB, 100 mg/kgBB, 400 mg/kgBB.

2. Pegang tikus dalam posisi terlentang secara gentle.


3. Berikan sutrin 100ec per sonde pada masing-masing tikus
4. Amati perubahan prilaku masing-masing tikus (seperti yang tertera pada lembar
pengamatan) dengan seksama.
E. HASIL PENGAMATAN

LD 50, Data Kelas


Respon tidur (+/-) pada
tikus no.

Dosis

% indikasi yang
berespon

25 mg/kg BB

0%

100 mg/kg BB

50 %

400 mg/kg BB

100 %

A. Perhitungan Dosis
Supermetrin 20.04 gram/liter
1.

Pada tikus pertama bobot 101 g , dosis 25 mg/kg BB


25 mg/kg BB x 0.101 kg = 2.525 mg = 0.2525 kg
0.2525 x

2.

= 0.126 ml

Pada tikus pertama bobot 116 g , dosis 100 mg/kg BB

100 mg/kg BB x 0.116 kg = 11.6 mg = 0.0116 kg


0.0116 x
3.

= 0.579 ml

Pada tikus pertama bobot 108 g , dosis 400 mg/kg BB


400 mg/kg BB x 0.108 kg = 43.2 mg = 0.0432 kg
0.0432 x

Perhitungan Regresi
X

25 mg/kg BB

100 mg/kg BB

50

400 mg/kg BB

100

Didapatkan :

a = 8.3333
b = 0.2381
r = 0.9449

Y = bx + a
50 = (0.2381)x + 8.3333
X = 175 mg / kg BB

= 2.16 ml

Kesimpulan : Jadi LD50 yang tepat adalah 175 mg/kg BB


F. LEMBAR PENGAMATAN

LD50 Data Kelompok (Perubahan Prilaku Masing-Masing Tikus)

Menit

10

15

Nomor
Eksperimen

Postur
Tubuh

Aktivitas
Motor

Ataxia

Righting
Reflex

Test
Kasa

Analgesia

Ptosis

++

++

++

++

+++

++

++

++

Mati

30

60

++

+++

++

++

++++

+++

+++

++

++

+++

+++

++

+++

++++

+++

++

+++

++

++

+++

+++

+++

++

+++

++++

+++

++

+++

++

++

G. KETERANGAN

1. Postur Tubuh
+
= jaga
++
= ngantuk
+++
= tidur

= kepala dan punggung tegak


= kepala tegak, punggung mulai datar
= kepala dan punggung datar

2. Aktivitas Motor
+
= gerak spontan
++
= gerak spontan bila dipegang
+++
= gerak menurun saat dipegang
++++
= tidak ada gerak spontan pada saat dipegang
3. Ataksia
+
++
+++

= gerakan berjalan inkoordinasi


= inkoordinasi terlihat kadang-kadang
= inkoordnasi jelas terlihat
= tidak dapat berjalan lurus

4. Righting Reflex
+
= diam pada satu posisi miring
++
= diam pada dua posisi miring
+++
= diam pada waktu terlentang
5. Test Kasa
+
++
+++
++++

= tidak jatuh apabila kasa dibalik dan digoyang


= jatuh apabila kasa dibalik
= jatuh apabila posisi kasa 90 derajat
= jatuh apabila posisi kasa 45

6. Analgesia
+
= respon berkurang pada saat telapak kaki dijepit
++
= tidak ada respon pada saat telapak kaki dijepit
7. Ptosis
+
++
+++

= ptosis kurang dari 1/2


=1/2
= seluruh palpebra tertutup

H. PEMBAHASAN
LD 50 (Lethal Dose 50) adalah dosis yang menimbulkan kematian pada 50%
individu. Nilai dapat berbeda 0,002 sampai 16 kali bila dilakukan berbagai macam
laboratorium. Jadi harus dijelaskan lebih lanjut tentang prosedur yang dipakai, misal
berat badan, umur tikus, zat pelarut, jenis kelamin, lingkungan dan sebagainya.
Pada peraktikum kami prosedur yang digunakan adalah berat badan dengan rincian
sebagai berikut :
Tikus

Berat Badan

Dosis

Dosis Yang

Sediaan 20,04

Diberikan

mg/ml

101 g

25 mg/Kg BB

2,525 mg

0,126 ml

116g

100 mg/Kg BB

11,6 mg

0,58 ml

108 g

400 mg/Kg BB

43,2 mg

2,16 ml

Ket :Hasil, tikus dosis 3 mati.


Praktikum ini dilakukan pada binatang uji tikus putih yang berada dalam ruangan (laboratorium)
dengan suhu kamar (27C). Dengan menyiapkan sonde yang berisi sutrin 100 ec unuk masing
masing tikus dengan dosis 25mg / Kg BB , 100mg/KgBB, 400mg/KgBB kemudian tikus
diberikan sutrin 100 ec personde. Setelah itu mengamati perubahan perilaku masing masing.

Menentukan onset of action dari perubahaan perilaku.


Hewan coba I : tidak terdapat mula erja yang dapat dilihat, hewan coba mengalami kondisi yang
sama saat sebelum disonde dengan setelah disonde.
Hewan coba II : Mula kerja dapat dilihat dari pengamatan postur tubuh pada menit ke-10.
Hewan coba III : Mula kerja dapat dilihat dari pengamatan aktivitas motor, dan analgesia pada
menit ke-5.

Dari data kelompok kami bisa menyimpulkan bahwa:


1. Postur tubuh
Pada tikus 1 tidak terjadi perubahan apapun setelah disonde, sedangkan tikus 2
mengalami perubahan pada menit ke-10. Tikus 3 mengalami perubahan pada menit ke
-10.
2. Aktifitas Motor
Pada tikus 1 tidak terjadi perubahan apapun setelah disonde, sedangkan tikus 2
mengalami perubahan pada menit ke-15. Tikus-3 terjadi perubahan pada menit ke - 5.
3. Ataksia
Tikus 1 tidak mengalami perubahan gerak inkordinasi dari pertma hingga ke menit-60.
Tikus 2 mengalami perubahan pada menit ke-15 dan pada tikus 3 pada menit ke 5 .
Semakin bertambah waktu semakin terlihat perubahan pada tikus 3.
4. Righting Reflex
Pada tikus 1 dan 2 tidak terjadi perubahan hingga menit ke 60. Tikus 3 mengalami
perubahan pada menit ke 30.
5. Test Kasa
Pada tikus 1 dan 2 tidak ada perubahan hingga menit ke-60 yaitu tidak jatuh bila kasa
dibalik dan digoyang. Pada tikus 3 terjadi perubahan pada menit ke-15 yaitu jatuh bila
kassa dibalik 90.
6. Analgesia
Pada tikus 1 dan 2 tidak terjadi perubahan analgeria hingga menit ke-60. Sedangkan pada
tikus 3 pada menit ke-5 sudah tidak ada respon pada saat telapak kaki dijepit.
7. Ptosis
Tikus 1 tidak menunjukan hasil positif dari menit pertama hingga ke-60 pada tikus 2
mengalami perubahan pada menit ke-10, tikus 3 pada menit ke-10 menunjukkan
perubahan, berupa ptosis .

Efek toksis dari pestisida tersebut terlihat dari perubahan tingkah laku berupa
penurunan kesadaran yaitu postur tubuh penurunan aktifitas motorik,ataksia,tes kasa,
Analgesia. Ptosis dan kematian.
Efek toksik pestisida yang lain adalah hipersaliva,kontraksi ginjal, miosis, depresi
pernapasan . Hal ini deisebabkan oleh mekanisme kerja pestisida yang menghambat
pengeluaran asetilkolin esterase pada aktivitas koliner gik sehingga reseptor kolinergik
merangsang pengeluaran asetilkolin terus-menerus tanpa dihidrolisis yang menyebabkan
terjadinya akumulasi asetikolin. Teksisitas pestisida sangat tergantung pada cara
masuknya pestisida kedalam tubuh. Semakin tinggi LD50 suatu zat menunjukkan bahwa
pestisida yang bersangkutan tidak begitu berbahaya bagi manusia.
KESIMPULAN
LD 50 adalah dosis yang menimbulkan kematian pada 50 % individu.
LD 50 pada percobaan terjadi pada dosis 175 mg/ KgBB
Setelah pemberian sutrin terjadi perubahan tingkah laku pada hewan coba.

Daftar pustaka
Neal, Michael J.(2006). At a Glance Farmakologi Medis. Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit
Erlangga. Hal. 8
Katzung, BG. 1997.Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 6. EGC: Jakarta, Hal. 354-356
Snaryo. 2004. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
http://www.wartamedika.com/2008/02/obat-supermetrin-valium.html
Farmakologi dan toksikologi Edisi 3, 2006 : penerbit Kedokteran

Anda mungkin juga menyukai