Anda di halaman 1dari 27

BAB I

STATUS PASIEN
1.1 Identitas
Nama pasien

: An. L A R

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 4 tahun 1 bulan

Nomor RM

: 004971

Pendidikan

: Taman Kanak-Kanak

Nama Ayah

: Tn. S

Pekerjaan

: Pegawai Pabrik

Nama Ibu

: Ny. S

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Hubungan dengan orang tua : Anak kandung


Alamat Rumah

: Ngampin Kulon 3/2 Ambarawa

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Tanggal Masuk RS

: 11 Oktober 2014

1.2 Anamnesis Tanggal 10 Oktober 2014


Teknik

: Autoanamnesis dan aloanamnesis dari ibu pasien

Riwayat Penyakit

Keluhan utama

: Demam

Keluhan tambahan

: Mual, batuk, disertai buang air besar (BAB) kurang

lancar 2 hari ini.

Riwayat Perjalanan Penyakit :


Pasien anak perempuan berusia 4 tahun datang ke RSUD Ambarawa
dengan keluhan demam. Demam sejak 4 hari sebelum masuk RS, demam
perlahan-lahan naik, demam naik terutama bila menjelang malam, demam
turun bila diberi obat penurun panas yang diberi dokter. Sudah diperiksakan
ke dokter pada demam hari ke 2, diberi 3 jenis obat (penurun panas,
antibiotik, dan 1 obat tidak tahu namanya). Demam sempat turun lalu
kembali naik. Demam tidak disertai dengan menggigil.
Anak juga mengeluhkan mual nampun tidak muntah, batuk namun
tidak berdahak. Keluhan tersebut timbul bersamaan dengan keluhan
demam. BAB kurang lancar 2 hari sebelum masuk RS, sebelumnya BAB
lancar frekuensi 1 kali. BAK warna kuning jernih, nyeri BAK (-). Mimisan
(-), kejang (-), gusi berdarah (-). Nafsu makan berkurang hanya 5-7 suap
setiap makan. Minum masih mau.

Penyakit sebelumnya :
o Riwayat demam tifoid disangkal
o Riwayat kejang demam disangkal

Riwayat penyakit dalam keluarga yang ada hubungannya dengan penyakit


sekarang :
o Demam di keluarga disangkal

Pengobatan yang sudah diperoleh :


o Sudah diberikan 3 jenis obat dari dokter klinik : anti demam, antibiotik,
dan 1 obat lagi tidak diketahui obatnya

Keluhan lain yang tidak ada hubungannya dengan penyakit sekarang:


Tidak ada

Riwayat Kehamilan:

Saat mengandung pasien, ibu pasien memeriksakan kandungan secara


teratur ke bidan setiap bulan. Tidak didapati kelainan maupun gangguan
selama kehamilan.

Riwayat Kelahiran:

Pasien lahir di RS dengan bantuan bidan. Pasien lahir spontan normal,


cukup bulan dengan berat lahir 2800 gram serta panjang badan lahir 48 cm.
Saat lahir pasien langsung menangis. Pada pasien tidak didapati adanya
kelainan bawaan. Pasien merupakan anak tunggal.

Riwayat Perkembangan:

Tengkurap

: 3 bulan

Duduk

: 8 bulan

Berdiri

: 10 bulan

Berjalan

: 12 bulan

Bicara

: 15 bulan

Membaca dan menulis

: 4 tahun

Perkembangan pubertas

: belum ada

Gangguan perkembangan mental/emosi: tidak ada

Riwayat Makanan:
Umur

ASI /PASI

0-2 Bulan

Ya

2-4 Bulan

Ya

4-6 Bulan

Ya

6-8 Bulan

Ya

Buah /Biskuit

Bubur susu

Nasi Tim

Ya

Ya

Ya

susu Ya

Ya

Ya

susu Ya

Ya

Ya

formula
8-10 Bulan

Ya

formula
10-12 Bulan

Ya

susu Ya

Ya

Ya

formula

Saat ini menu makan sehari-hari nasi dan lauk seperti ayam, tahu, tempe,
sayuran.

Kesulitan makan bila ada

: Ada, pasien lebih suka jajan di warung. Bila

di sekolah jajan yang dijual dengan wadah terbuka yang terjaga


kebersihannya.

Riwayat Imunisasi:
BCG

Saat lahir

DPT/Td

Usia 2 bulan Usia


bulan

Polio

Saat lahir

Usia
bulan

Campak

Usia 9 bulan

Hepatitis B

Saat lahir

Usia
bulan

Lainnya

5 Usia

Usia

bulan
2 Usia

bulan
5 Usia

bulan
1 Usia

18

bulan

7 Usia

18

bulan

bulan

Tidak
dilakukan

Kesan imunisasi dasar

: Imunisasi dasar lengkap

Kesan imunisasi ulangan

: Tidak dilakukan

Riwayat Keluarga:
Corak Reproduksi Ibu : P1A0

No

Kelamin

Hidup Lahir Abortus Mati/sebab Keterangan


Mati

kesehatan/
Pendidikan

Perempuan Hidup

Pasien

masih

di

taman kanak-kanak

Anggota keluarga lain yang serumah : Tidak ada

Masalah dalam keluarga

: Tidak ada

Perumahan milik

: Milik sendiri

Keadaan rumah

: Jarak antar rumah lumayan rapat

Data Orang Tua

Ayah

Ibu

Umur sekarang

30 Tahun

27 tahun

Perkawinan ke

Umur saat menikah

26 tahun

23 tahun

Pendidikan terahkir

SMA

SMA

Agama

Islam

Islam

Suku bangsa

Jawa

Jawa

Keadaan kesehatan

Baik

Baik

Penyakit bila ada

Tidak ada

Tidak ada

Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita :

(-)

1.3 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan dilakukan pada hari ke-I rawat inap di bangsal Anggrek (tanggal 11
Oktober 2014 pukul 12.00 WIB).
Pemeriksaan Umum

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang, kesadaran kompos mentis,

tidak tampak sesak. Posisi pasien saat pemeriksaan berbaring. Pasien tidak
sianosis.

Kesadaran

: Compos Mentis

Status Mental

: Tenang

Tanda vital

o Frekuensi nadi

: 144 x/menit, regular, cukup kuat, isi penuh.

o Tekanan darah

: 100/60 mmHg

o Frekuensi napas : 32 x/menit, teratur


o Suhu tubuh

: 36,2 C

Data Antropometri

Tinggi badan

: 100 cm

Berat badan

: 15 kg

Status gizi
-

(Menteri Kesehatan RI, 2011):

Berdasarkan Z Score = BB (Kg)


TB (cm)
= 15-15,2
15,2-13,9
= -0,15 = > -1SD (gizi baik)

Kesan = status gizi baik

Pemeriksaan Sistematis

Kepala :
o Bentuk kepala pasien normocephal dengan ubun-ubun besar sudah
menutup. Rambut pasien hitam, terdistribusi merata, tidak mudah
dicabut dan sutura menutup.

Wajah :
o Raut wajah pasien baik dan tidak terdapat kelainan fasis. Kulit
wajah pasien tidak nampak adanya kelainan. Tidak ada pula nyeri
tekan sinus.
6

Mata :
o Palpebra tidak edem dan tidak ada ptosis, konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik, pupil bulat isokhor diameter 3mm, refleks
cahaya positif pada kedua pupil, lensa jernih, tidak ada kelainan
pada bola mata maupun pengelihatan pasien.

Telinga :
o Bentuk daun telinga pasien normotia, tidak menggantung, posisi
tidak rendah. Liang telinga didapati lapang, tidak nampak adanya
secret maupun serumen. Gendang telinga intak, refleks cahaya baik,
tidak cembung dan tidak hiperemis.

Hidung :
o Bentuk hidung normal, konka tidak bengkak atau pucat, septum nasi
di tengah, selaput lendir tidak hiperemis. Tidak tampak adanya
sekret ataupun nafas cuping hidung.

Mulut :
o Bibir lembab, tidak sianosis. Mukosa mulut tidak pucat, lidah tidak
kotor, gusi tenang. Faring tidak hiperemis, tonsil tidak membesar
(T1-T1). Pada gigi tidak ada karies.

Leher :
o Pada leher tidak terdapat kelainan bentuk, kelenjar gondok tidak
membesar, tekanan vena jugularis tidak meninggi. Tidak teraba
pembesaran KGB. Trakea terdapat di tengah. Pergerakan leher
bebas.

Thorax :
o Bentuk dada pasien normochest. Tidak ditemukan adanya krepitasi
maupun benjolan. Tidak ada kelainan kulit. Tulang-tulang iga intak
dan sela iga dalam batas normal. Kelenjar berkembang normal.
7

Paru :
o Inspeksi

: Tampak gerakan nafas simetris dalam keadaan statis

maupun dinamis, tidak ada bagian yang tertinggal.


o Palpasi

: Vocal fremitus kanan dan kiri sama.

o Perkusi

: Suara sonor pada seluruh lapang paru

o Auskultasi

: Suara nafas vesikuler di kedua lapang paru, tidak

ditemukan wheezing pada saat inspirasi maupun ekspirasi. Tidak


ditemukan ronkhi

Jantung :
o Inspeksi

: Iktus kordis tidak nampak

o Palpasi

: Iktus cordis teraba disela iga IV midclavicula

sinistra, tidak kuat angkat, tidak ada thrill


o Perkusi

: Batas jantung kanan di sela iga IV garis parasternal

kanan, batas atas pada sela iga II garis parasternal kiri, batas kiri ics
V miidclavicula kiri
o Auskultasi

: Bunyi jantung I-II regular, murmur (-) , gallop (-)

Abdomen :
o Inspeksi

: Datar, tampak gambaran usus, pergerakan usus,

maupun benjolan
o Palpasi

: Supel, tidak teraba benjolan. Hepar dan lien tidak

teraba, nyeri tekan (-).

o Perkusi

: Timpani pada seluruh lapang abdomen

o Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Alat kelamin wanita :


o Tidak ada kelainan bentuk, rambut pubis belum tumbuh.

Perkembangan pubertas :
8

o Rambut pubis : Belum tumbuh

Anus : Tidak ada kelainan

Ekstremitas :
o Massa otot dan jaringan lemak bawah kulit dalam batas normal,
tonus baik, akral hangat. Tidak ada sianosis, tidak ada jari tabuh.
Panjang simetris, tidak ada edema, tidak ada paralisis maupun
paresis.
o Refleks fisiologis :

KPR

: +/+ normal

APR

: +/+ normal

Bisep : +/+ normal

Trisep : +/+ normal

o Refleks patologis :

Babinski

: -/-

Chaddok

: -/-

Oppenheim

: -/-

Chaddock

: -/-

Rangsangan meningeal :
o Rangsangan meningeal pada pasien baik kaku kuduk, brudzinski I,
brudzinski II, laseque, maupun kernig negatif.

1.4 Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium (11 Oktober 2014)


Hematologi Rutin
o Hemoglobin

: 11.2 g/dL

o Hematokrit

: 33 %

o Eritrosit

: 4.45 juta / L
9

o Leukosit

: 6.4 / L*

o Trombosit

: 110.000 / L* (L)

o MCV

: 84 fL

o MCH

: 27 fL

o MCHC

: 32.1 g/dL

o RDW

: 11.3 %

o Limfosit %

: 20.1 %

o Monosit %

: 7.7 %

o Granulosit % : 72.2 %
o PCT

: 0,115 %

Serologi (Widal)
o S. typhi O

: Positif 1/320

o S. typhi A-H : Negatif


o S. typhi H

: Positif 1/160

Kesan : Infeksi Salmonela typhi


1.5 Resume
Pasien seorang anak perempuan berusia 4 tahun dengan berat badan 15 kg
datang diantar orang tuanya ke IGD RSUD Ambarawa dengan keluhan demam.
Pasien demam sejak 7 hari sebelum masuk RS, demam perlahan tinggi,
demam turun bila diberi obat dari dokter kemudian naik lagi, demam naik terutama
saat menjelang malam. Demam disertai dengan mual (+), muntah (-), batuk (+)
namun tidak berdahak. BAB selama 2 hari ini kurang lancar, namun 2 hari ini
pasien belum BAB. Nafsu makan menurun.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu 36,2 C, tekanan darah 100/60
mmHg, nadi 144 x/menit, RR 32 x/menit. Pemeriksaan kepala, mata, jantung, paru,
abdomen, dan ekstremitas dalam batas normal. Pada hasil laboratorium didapatkan
adanya infeksi Salmonela typhi.

10

1.6 Diagnosis Kerja


1. Demam tifoid

1.7 Diagnosis Banding

Demam berdarah dengue


Hepatitis akut
ISK

1.8 Tatalaksana

Terapi simtomatis & kausatif


o Inj. Ceftriaxon 1x500 mg
o PO : PCT syrp (k/p) 2 cth
o Jika belum BAB selama 3 hari beri dulcolax supp (extra)

Terapi suportif
o IVFD KAEN 3A 1250 cc/ 24 jam
o Tirah baring
o Diet makanan lunak rendah serat 1900 kalori, protein 47,5 gram
Tanggal 11 Oktober 2014 pukul 21.00
S : Demam (+), mual (+), muntah (-), lemas (+), pusing (+), BAB (-) 2 hari,
BAK (+) tidak ada keluhan.
O:
o Keadaan umum tenang, tampak sakit sedang
o Kesadaran compos mentis
o Tekanan darah 90/60 mmHg
o Nadi 128 x/menit
o Respirasi 32x/menit
o Suhu 38,5C
o Kepala : normohephal
o Mata

: edema palpebra -, sklera ikterik -/- , konjungtiva anemis -/11

o THT

: Gendang telinga intak, sekret -/-. Nafas cuping hidung -.

Faring hiperemis -, T1 T1.


o Mulut : Bibir lembab, sianosis o Leher : KGB tidak teraba
o Thoraks : Pergerakan simetris, Retraksi Cor: Bunyi jantung I/II regular, murmur -, gallop
Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/o Abdomen : Datar, supel, bising usus + normal, nyeri tekan (-)
o Ekstremitas : Akral hangat, edema tidak didapatkan di seluruh
ekstremitas, CRT < 2 detik.
A: Demam Tifoid
P : Terapi tetap
Extra Parasetamol
Lasal syr3x1 cth
Banyak minum
1.9 Follow up
Minggu, 12 Oktober 2014

S : Demam (-) naik turun, mual (+), muntah (-), lemas (+), pusing (+), BAB
(-) 3 hari, BAK (+) tidak ada keluhan, nyeri perut (-), nafsu makan
membaik.

O:
o Keadaan umum tenang, tampak sakit sedang, tampak kurus
o Kesadaran compos mentis
o Tekanan darah 90/60 mmHg
o Nadi 128 x/menit
o Respirasi 24x/menit
o Suhu 36C
o Kepala : normohephal
o Mata : edema palpebra -, sklera ikterik -/- , konjungtiva anemis -/-

12

o THT

: Gendang telinga intak, sekret -/-. Nafas cuping hidung -.

Faring hiperemis -, T1 T1.


o Mulut : Bibir lembab, sianosis o Leher : KGB tidak teraba
o Thoraks : Pergerakan simetris, Retraksi

Cor: Bunyi jantung I/II regular, murmur -, gallop

Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-

o Abdomen : Datar, supel, bising usus + normal, nyeri tekan (-)


o Ekstremitas : Akral hangat, edema tidak didapatkan di seluruh
ekstremitas, CRT < 2 detik.

A: Demam Tifoid
P:
IVFD KAEN 3A 1250 cc/ 24 jam
Tirah baring
Diet makanan lunak 1900 kalori, protein 47,5 gram
Inj. Ceftriaxone 1x500 mg
PO : PCT syrp (k/p) 2 cth (prn)
Banyak minum

Senin, 13 Oktober 2014

S : Demam (-), mual (-), muntah (-), lemas (-), pusing (-), , BAB (+) tidak
ada kelaian, BAK (+) tidak ada keluhan, nyeri perut (-). Pasien
diperbolehkan pulang.

O:
o Keadaan umum tampak sakit ringan, tenang
o Kesadaran compos mentis
o Tekanan darah 100/50 mmHg
o Nadi 108 x/menit
o Respirasi 20 x/menit
o Suhu 36,1C
o Kepala : normohephal
o Mata : edema palpebra -, sklera ikterik -/- , konjungtiva anemis -/-

13

o THT

: Gendang telinga intak, sekret -/-. Nafas cuping hidung -.

Faring hiperemis -, T1 T1.


o Mulut : Bibir lembab, sianosis o Leher : KGB tidak teraba
o Thoraks : Pergerakan simetris, Retraksi

Cor: Bunyi jantung I/II regular, murmur -, gallop

Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-

o Abdomen : Datar, supel, bising usus + normal, nyeri tekan -, timpani


o Ekstremitas : Akral hangat, edema tidak didapatkan di seluruh
ekstremitas, CRT < 2 detik.
o Hb 12,6 ; Trombosit 196.000

A:
Demam Tifoid
P:
IVFD KAEN 3AL 1250 cc/ 24 jam
Tirah baring
Diet makanan lunak 1900 kalori, protein 47,5 gram
Inj. Ceftriaxon 1x500 mg
PO : PCT syrp (k/p) 1,5 cth (prn)

Obat pulang:
Lasal (exp) syr 3x1 cth
Cefila syr 2x1 cth

1.10 Prognosis
Quo ad vitam

: Ad bonam

Quo ad functionam : Ad bonam


Quo ad sanationam : Ad bonam

14

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEMAM TIFOID
II.1. Definisi
Demam tifoid disebut juga dengan tifus abdominalis atau typoid fever.
Demam tipoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran
pencernaan (usus halus) dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai
gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.1
II.2. Etiologi4
Penyebabnya adalah Salmonella typhii yang merupakan basil gram negatif,
bergerak dengan rambut getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurangnya 3
macam

antigen

yaitu

antigen

(somatik,

terdiri

dari

zat

komplekas

lipopolisakarida), antigen H (flagela), dan antigen Vi. Dalam serum penderita


terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. Dan terdapat
juga protein membran hialin. Di Indonesia terdapat dalam keadaan endemik.
Penderita anak yang ditemukan biasanya berumur di atas satu tahun.
Bakteri salmonella berbentuk Batang, tidak berspora, Gram negatif, warna
merah, ukuran 1-3,5 m X 0,5-0,8 m. Mempunyai flagel peritrikh kecuali
Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum, Aerob dan fakultatif anaerob pada
suhu 15-41O C suhu pertumbuhan optimum 37,50 C pH pertumbuhan 6-8, kuman
mati pada suhu 560 C juga pada keadaan kering. Dalam air biasa tahan selama 4
minggu. Hidup subur pada medium mngandung garam empedu.
Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu :
1. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman.
Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin.
Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid.
2. Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae atausu pili dari
kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap
formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.

15

3. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat
melindungi kuman terhadap fagositosis.
Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan
menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut aglutinin.
II.3. Patofisiologi2,3

Salmonella typhi masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.


Sebagian dimusnahkan dalam lambung dan sebagian masuk ke dalam usus dan selanjutnya
berkembang biak. Bakteri akan menembus sel epitel dan menuju lamina propia. Di lamina
propia bakteri berkembang biak kemudian difagositosis terutama oleh makrofag
selanjutnya dibawa ke plak Peyeri ileum selanjutnya menuju kelenjar getah bening
mesentrika. Melalui duktus torasikus bakteri yang berada dalam makrofag beredar dalam
sirkulasi darah (mengakibatkan bakterimia pertama yang asimtomatik) menuju organ
retokuloendotelial terutama hati dan limpa. Di organ-organ tersebut bakteri meninggalkan
sel fagosit untuk berkembang biak di luar sel atau ruang sinosoid selanjutnya masuk ke
dalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan bakterimia kedua yang menyebabkan tanda dan
gejala penyakit infeksi.
Di hati kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembang biak, bersama cairan
empedu keluar secara intermiten ke dalam lumen usus, sebagian kuman dikeluarkan
melalui feses dan sebagian lagi masuk ke dalam sirkulasi setelah menembus usus. Proses
yang sama terulang kembali, karena makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat
fagositosis bakteri S. typhi terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya

16

akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialgia, sakit
kepala, sakit perut, gangguan mental, dan koagulasi.

II.4. Gejala Klinis1,3


Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding
dengan penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 20 hari. Setelah masa inkubasi
maka ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala,
pusing dan tidak bersemangat.
Kemudian menyusul gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
a) Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung selama 3 minggu.
Bersifat febris remiten dan suhu tidak terlalu tinggi. Selama minggu pertama, suhu
tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, dalam minggu kedua, penderita
terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu tubuh berangsurangsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
b) Gangguan saluran pencernaan
Sering ditemukan bau mulut yang tidak sedap karena demam yang lama.
Bibir kering kadang pecah-pecah. Lidah kelihatan kotor ditutupi selaput putih.
Pada ujung lidah ditemukan kemerahan dan tremor (coated tongue dan selaput
putih). Terdapat gejala nyeri perut terutama di regio epigastrik (daerah ulu hati),
disertai nausea, mual dan muntah. Pada awal muntah sering meteorismus dan
konstipasi. Pada minggu selanjutnya kadang timbul diare.
c) Gangguan kesadaran
Umumnya terjadi gangguan kesadaran berupa penurunan kesadaran ringan.
Sering pasien menjadi apatis, bila keadaan klinis berat bisa menjadi somnolen dan
koma atau dengan gejala psychosis (Organic Brain Syndrome). Pada penderita
toksik, gejala delirium lebih menonjol.
d) Hepatosplenomegali
Hati dan limpa dapat ditemukan sering membesar. Hati teraba kenyal dan
nyeri tekan.
e) Bradikardi relatif dan gejala lain
Bradikardi relatif adalah peningkatan suhu tubuh yang tidak disertai dengan
peningkatan frekuensi nadi. Gejala ini jarang ditemukan, mungkin karena
pemeriksaan yang sulit dilakukan. Patokan yang sering dipakai adalah bila
kenaikan suhu tubuh sekitar 1C disertai dengan peningkatan frekuensi nadi
sebanyak 8 denyut dalam 1 menit. Gejala lain adalah Rose spot biasanya ditemukan
17

di regio abdomen atas, pada anak sangat jarang terjadi kebanyakan terjadi adalah
epitaksis.
Berdasarkan waktunya biasanya:
-

Minggu I: demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah,
obstipasi/diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, epistaksis.

Minggu II: demam, bradikardi relatif, hepatomegali, splenomegali, gangguan


mental seperti stupor, somnolen, koma, delirium. Roseola jarang ditemukan pada
orang di Indonesia.

Minggu III : minggu penyembuhan/konvalesen. Jika terawat dengan baik panasnya


akan turun. Jika tidak terawat dengan baik makan akan terjadi perforasi usus dan
pasien dapat meninggal.

II.5. Pemeriksaan Laboratorium1


Biasanya leukopenia
Anemia ringan
Trombositopenia
Aneosinofilia maupun limfopenia
LED meningkat
SGOT dan SGPT seringkali meningkat, kembli normal setelah sembuh
Kultur darah
Uji widal 5
Untuk deteksi antibodi kuman S.typhi. Terjadi suatu reaksi aglutinasi antara
antigen kuman dengan antibodi yang disebut aglutinin. Aglutinin O (dari tubuh
kuman). Aglutinin H (flagela kuman) dan Aglutinin Vi (simpai kuman) dari
ketiganya hanya aglutinin O dan H untuk diagnosis. Pembentukan aglutinin mulamula terjadi pada akhir minggu pertama demam, kemudian meningkat secara cepat
dan mencapai kadar puncak pada minggu ke-4 dan tetap tinggi selama beberapa
minggu. Pada fase akut mula-mula timbul aglutinin O, kemudian diikuti aglutinin
H. Pada orang sembuh, aglutinin O masih tetap dijumpai setelah 4-6 bulan,
sedangkan aglutinin H menetap lebih lama yaitu 9-12 bulan.

18

Dikatakan widal positif jika :


Kenaikan titer 4 kali dari nilai normal pada pemeriksaan ulangan 5-7 hari
Pada endemik : titer >= 1/80 pada O dan H
Pada non-endemik : titer >= 1/160 pada O dan H
Faktor yang mempengaruhi uji widal :
Pengobatan dini dengan antibiotik
Gangguan pembentukan antibodi, dan pemberian kortikosteroid
Waktu pengambilan darah
Daerah endemik atau non endemik
Riwayat vaksinasi
Reaksi amnestik, yaitu peningkatan titer aglutinin pada infeksi bukan
demam tifoid akibat infeksi demam tifoid masa lalu atau vaksinasi
o Faktor teknik pemeriksaan laboratorium, akibat aglutinasi silang, dan strain
salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen.
o
o
o
o
o
o

Uji Tubex5
Uji semikuantitatif kolometrik yang cepat (beberapa menit) dan mudah untuk
dikerjakan
Mendeteksi antibodi anti S.typhi pada serum pasien dengan cara menghambat
ikatan antara IgM anti 09 yang terkonjugasi pada partikel latex yang berwarna
dengan lipopolisakarida S.typhi yang terkonjugasi pada partikel magnetik latex.
Hasil positif menunjukan infeksi Salmonella serogroup D walau tidak spesifik.
S.paratyphi memberikan hasil negatif.
Skor

Interpretasi

<2

Negatif : tidak menunjuk infeksi tifoid


aktif

Borderline

pengukuran

tdk

dpt

disimpulkan. Ulangi pengujian apabila


msh meragukan lakukan pengulangan
bbrp hr kemudian
4-5

Positif : menunjukan infeksi tifoid aktif

>6

Positif : indikasi kuat infeksi tifoid aktif

19

Uji tyhphidot5
Mendeteksi antibodi IgM dan IgG yg terdapat pd protein membran luar S.typhi.
Hasil positif : 2-3 hari setelah infeksi dan dpt mengidentifikasi secara spesifik
antibodi IgM dan IgG thdp antigen S.typhi seberat 50 kD yg tdpt pd strip
nitroselulosa.
Uji IgM dipstick5
Mendeteksi antibodi IgM spesifik S.typhi pada spesimen serum atau whole
blood.
Menggunakan strip yang mengandung LPS S.typhoid dan anti IgM (kontrol).
Secara semikuatitatif diberikan penilaian
membandingkannya dengan reference strip.

terhadap

garis

uji

dengan

II.1.6. Diagnosis
a) Diagnosis klinis
Gejala klinis yang sering ditemukan yaitu demam, sakit kepala, kelemahan,
nausea, nyeri abdomen, anoreksia, muntah, gangguan gastrointestinal, insomnia,
hepatomegali, splenomegali, penurunan kesadaran, bradikardi relatif, feses
berdarah. Suspek demam tifoid diambil dengan anamnesis, pemeriksaan fisik,
didapatkan gejala demam, gangguan cerna, dan petanda gangguan kesadaran.
Jadi sindrom tifoid didapatkan belum lengkap. Diagnosis suspek tifoid dibuat
hanya berdasarkan pelayanan kesehatan dasar. Demam tifoid klinis diambil jika
didapatkan gejala klinis yang lengkap atau hampir lengkap, serta didukung oleh
gambaran laboratorium yang menunjukkan tifoid.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memastikan adanya bakteri S. typhi.
1. Biakan S. typhi
Metode ini dengan isolasi S. typhi dengan medium differensial yaitu medium
EMB, atau MacConkey. Medium selektifnya dengan agar salmonella-shigella
(SSA). Jika hasil biakan tidak tumbuh maka dilakukan tes serologi.
2. Test serologi
Test ini diambil daru serum penderita. Uji aglutinasi dengan cara mencampur
diatas slide, serum pasien dan biakan yang tidak diketahui. Bila terjadi
20

gumpalan, dapat dilihat dalam beberapa menit. Uji aglutinasi pengenceran


tabung (tes Widal) prinsip uji ini adalah memeriksa reaksi antara antibodi
dengan aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran
berbeda-beda terhadap antigen somatik (O) dan flagela yang telah ditambahkan
dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang
masih menimbulkan aglutinasi titer antibodi dalam serum. kenaikan titer 4 kali
lipat pada pemeriksaan Widal II, 5-7 hari kemudian. Interpretasi jika uji Widal
titer-O yang tinggi atau meningkat ( 1:160) menandakan adanya infeksi aktif.
Namun saat ini belum ada kesamaan pendapat mengenai titer aglutinin yang
bermakna diagnosis untuk demam tifoid. Batas titer yang sering dipakai hanya
kesepakatan saja, hanya berlaku setempat dan batas ini bahkan dapat berbeda di
berbagai laboratorium setempat.
3. Pemeriksaan pelacak DNA S. typhi dengan PCR (Polimerase Chain Reaction)
b) Komplikasi
Adanya komplikasi dilakukan secara klinis, dibantu oleh pemeriksaan
penunjang, laboratorium dan radiologik.
II.7. Komplikasi1
Komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu :
1. Komplikasi Intestinal
a. Perdarahan Usus
Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang tidak
membutuhkan tranfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga penderita
mengalami syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila
terdapat perdarahan sebanyak 5 ml/kgBB/jam.
b. Perforasi Usus
Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada minggu
ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Penderita demam tifoid
dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah kuadran
kanan bawah yang kemudian meyebar ke seluruh perut. Tanda perforasi lainnya
adalah nadi cepat, tekanan darah turun dan bahkan sampai syok.
2. Komplikasi Ekstraintestinal
21

o Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis),


miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.
o Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, koaguolasi intravaskuler
diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.
o Komplikasi paru : pneumoni, empiema, dan pleuritis
o Komplikasi hepar dan kandung kemih : hepatitis dan kolelitiasis
o Pembengkakkan hati ringan sampai sedang dijumpai pada 50% kasus dengan
demam tifoid dan lebih banyak dijumpai pada S. thypi daripada S. parathypi.
Untuk membedakan apakah hepatitis ini karena thypoid, virus, malaria, atau
amuba maka perlu diperhatikan kelainan fisik, parameter laboratorium, dan bila
perlu histopatologik hati. Pada demam tiroid kenaikan enzin transaminase tidak
relevan dengan kenaikan serum bilirubin (untuk membedakan dengan hepatitis
oleh karena virus). Hepatitis tifosa dapat terjadi pada pasien dengan malnutrisi
dan sistem imun yang kurang.
o Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis
o Komplikasi tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis
o Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis, polineuritis
perifer psikosis, dan sindrom katatonia.
II.8. Penatalaksanaan7
Trilogi penatalaksanaan demam tifoid
o Istirahat dan perawatan
o Diet dan terapi penunjang (simtomatik dan suportif)
o Pemeberian antimikroba
Tirah baring dan perawatan mencegah terjadinya komplikasi. Makanan padat dini
yaitu nasi dan lauk pauk rendah selulosa (menghindari sementara sayuran yang berserat)
dapat diberikan dengan aman pada pasien demam tifoid.
Pemberian antimikroba :
Kloramfenikol : obat pilihan utama. Dosis 4x25 mg/hari peroral atau IV.
Diberikan sampai 7 hari bebas panas. Obat ini menekan fungsi sumsum tulang,
22

sehingga tidak boleh diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi sumsum
tulang.
Tiamfenikol : Efektivitas dan dosis tiamfenikol pada demam tifoid hamper sama
dengan kloramfenikol, tetapi komplikasi hematologi seperti kemungkinan terjadi
anemia aplastik rendah. Dosis 4x500mg, demam rata-rata menurun pada hari ke 5
sampai ke-6 pemberian.
Kotrimikazol : Efektivitas obat ini hamper sama dengan kloramfenikol. Dosis 2x2
(1 tablet mengandung sulfametoksazol 400mg dan 80mg trimetoprim) diberikan
selama 2 minggu. Demam menurun rata-rata setelah 5-6 hari pemberian
Ampisilin dan amoksisilin : kemampuan menurunkan panas lebih rendah
dibanding yang lain. Dosis 50-150 mg/kgBB dan digunakan selama 2minggu.
Diberikan pada carier kuman Salmonella typhi.
Sefalosporin generasi ke-3 : seftriakson dosis 3-4 gr dalam dekstrosa 100cc
diberikan selama jam perinfus sekali sehari, diberikan selama 3 -5 hari.
Pemberian seftriakson sebagai terapi empiris pada pasien demam tifoid secara
bermakna dapat mengurangi lama pengobatan dibandingkan dengan pemberian
jangka panjang kloramfenikol. Hal lain yang menguntungkan adalah efek samping
dan angka kekambuhan yang lebih rendah, serta lama demam turun yang lebih
cepat.9
Golongan fluorokuinolon : Norfloksasin dosis 2x400mg/hr slm 14hari.
siprofloksasin dosis 2x500mg/hr slm 6 hr. Ofloksasin dosis 2x400mg/hr selama 7
hari. Pefloksasin dosis 400mg/hr selama 7hari. Fleroksasin dosis 400 mg/hr slm 7
hari.
Kombinasi obat antibiotik
Pemakaian kombinasi 2 antibiotik atau lebih hanya diindikasikan pada
keadaan tertentu seperti : Tidoid toksik, peritonitis atau perforasi, syok septik,
karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organism dalam kultur darah
selain kuman Salmonella typhi.

23

BAB III
ANALISA KASUS

An. Perempuan L. usia 4 tahun datang ke RS, datang ke IGD RSUD Ambarawa
dengan keluhan demam sejak 4 hari sebelum masuk RS. Pasien didiagnosa demam tifoid.

Anamnesis
Diagnosa demam tifoid pada pasien ini ditegakkan berdasar hasil anamnesis yaitu:
Pasien demam sejak 7 hari sebelum masuk RS, demam perlahan tinggi, demam
turun bila diberi obat dari dokter kemudian naik lagi, demam naik terutama saat menjelang
malam. Demam disertai dengan mual (+), muntah (-). BAB kurang lancar 2 hari yang lalu
sebelumnya BAB lancar. Nafsu makan menurun.Anamnesa tersebut sesuai dengan teori :
Demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica,
khususnya turunannya yaitu Salmonella typhi dan jenis Salmonella lainnya. Gejala yang
dapat timbul :

Demam

Gangguan saluran pencernaan : lidah kotor, nyeri perut terutama daerah


epigastrium, mual, muntah, diare atau konstipasi

Gangguan kesadaran : penurunan kesadaran seperti apatis, pada keadaan klinis


berat dapat terjadi somnolen, koma, pada penderita toksik timbul gejala delirium

Hepatosplenomegali

Bradikardi relatif

Pasien juga mengeluhkan mual, batuk namun tidak berdahak.

Pemeriksaan fisik
a. Kesadaran kompos mentis atau sadar penuh, tidak ada penurunan kesadaran
sebagai gejala berat dari demam tifoid.
b. Pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan suhu 36,2 C, tekanan darah 100/60
mmHg, frekuensi nadi 144 x/menit, frekuensi napas 32 x/menit, namun menurut
24

orang tua pasien biasanya pada sore hari demam muncul pada sore hari
menunjukkan adanya demam sebagai salah satu gejala dari demam tifoid.
Pada hari yang sama pukul 21.00 suhu badan pasien meningkat menjadi 38,5 0C
c. Pada pemeriksaan antopometri didapatkan berat badan anak 15 kg, tinggi badan
100 cm
Kesan gizi dari pasien adalah status gizi baik.
Pemeriksaan penunjang
a. Pada pemeriksaan serologi widal didapatkan hasil S. typhi O positif 1/320 dan S.
typhi positif H 1/60 berarti terdapat infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi. Menguatkan diagnosis demam tifoid.
Penatalaksanaan
Terapi Suportif
o
Tirah baring dan perawatan profesional, dengan tujuan mencegah komplikasi dan
o

mempercepat penyembuhan
Cairan IVFD KAEN 3A 1250 cc/ 24 jam, karena BB 15 kg didaptkan kebutuhan
cairan anak per 24 jam 1250 cc
Diet 3xlunak rendah serat. Pemberian diet lunak ini ditujukkan untuk menghindari
komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus. Hindari sementara
sayuran berserat.6
Terapi Kausatif dan Simptomatis
Sesuai dengan penyebabnya adalah S. typhi dan gejalanya maka diberikan
pengobatan sebagai berikut :

o Inj. Ceftriaxon 1x500 mg


Efek bakterisida ceftriaxone dihasilkan akibat penghambatan sintesis dinding
kuman. Ceftriaxone mempunyai stabilitas yang tinggi terhadap beta-laktamase,
baik terhadap penisilinase maupun sefalosporinase yang dihasilkan oleh kuman
gram-negatif dan gram-positif.9
o PO : PCT syrp (k/p) 1,5 cth
Semua obat analgetik non opioid bekerja melalui penghambatan siklooksigenase.
Parasetamol menghambat siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat
menjadi prostaglandin terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase secara
berbeda. Parasetamol menghambat siklooksigenase pusat lebih kuat dari pada
aspirin, inilah yang menyebabkan Parasetamol menjadi obat antipiretik yang kuat
melalui efek pada pusat pengaturan panas. Parasetamol hanya mempunyai efek
25

ringan pada siklooksigenase perifer. Inilah yang menyebabkan Parasetamol hanya


menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol
tidak mempengaruhi nyeri yang ditimbulkan efek langsung prostaglandin, ini
menunjukkan bahwa parasetamol menghambat sintesa prostaglandin dan bukan
blokade langsung prostaglandin. Obat ini menekan efek zat pirogen endogen
dengan menghambat sintesa prostaglandin, tetapi demam yang ditimbulkan akibat
pemberian prostaglandin tidak dipengaruhi, demikian pula peningkatan suhu oleh
sebab lain, seperti latihan fisik.10

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Rusepno Hasan. 1995. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Penerbit Bagian Ilmu
Kesehatan Anak. Penerbit Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-UI. Jakarta.
2. Arif Mansjoer, Kuspuji Triyanti, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III
jilid I. Penerbit Media Aesculapius. FK-UI.
3. Aru W. Sudoyo, Bambang Setiyohadi. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid
III edisi IV. Penerbit FK-UI. Jakarta.
4. Jawetz et al. 2008. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 23. Jakarta : EGC.
5. Indro Handojo. 2004. Imunoasai Terapan Pada Beberapa Penyakit Infeksi.
Airlangga University Press.
6. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Standar Antopometri Penilaian
Status Gizi Anak. http://gizi.depkes.ac.id (diakses 12 Oktober 2014)
7. Samekto, Widiastuti. 2001. Belajar Bertolak dari Masalah Demam Tifoid.
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro
8. WHO. 2009. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO
Indonesia
9. Sidabutar, Sondang. 2010. Pilihan Terapi Empiris Demam Tifoid pada Anak:
Kloramfenikol atau Seftriakson?. Jakarta : FK UI
10. Wiliana, P. Freddy dan Sulistia Gan. 2009. Analgetik-Antipiretik, Analgesi-Anti
Inflamasi non Steroid dan Obat Gangguan Sendi Lainnya dalam Farmakologi dan
Terapi Edisi 5. Jakarta : FK UI. Hal : 237-239

27