Anda di halaman 1dari 48

Cream

Bahan Alam

OLEH :
KELOMPOK 5
KELAS B
FERI IRMAWATI
ROSNAIRAH
SITI RASUNA SAAD
IRMASARI ZAINAL
ARNIATI
RUHAMA MAULIDA
ZAENAB
CHRISTINA LUMAMULY
DAWIAH
SUGIRAWATI
HASNI

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

BAB I
PENDAHULUAN

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, krim adalah bentuk


sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat
terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
Krim umumnya mudah menyebar rata, mudah dicuci, aksi
emulsi dapat diperpanjang dan efek emolien yang lebih besar, dan
bau zat aktif dapat tertutupi apabila dibuat dalam bentuk emulsi.
Jeruk lemon merupakan bahan alam yang potensial untuk
dijadikan bahan kosmetik karena mempunyai khasiat sebagai
antioksidan, anti penuaan dini, antijerawat, dan untuk mencerahkan
wajah. Kandungan lemon kaya akan vitamin C yang bermanfaat
untuk

mencerahkan

wajah.

Selain

itu

jeruk

lemon

juga

mengandung vitamin B dan E.


Anggur mengandung berbagai vitamin dan mineral, seperti
kalsium, magnesium, potassium, vitamin B1, B2, B3, B5, B6, C
serta mengandung senyawa-senyawa flavanoid. Kulit buah anggur
kaya akan resveratrol. Zat ini dapat menunda timbulnya garis-garis
penuaan pada kulit. Agar kulit lembut dan tidak cepat keriput,
biasakan makan buah anggur sekalian bersama kulitnya, karena
kulit buah anggur kaya akan zat resveratrol. Anggur local pun
mengandung zat resveratrol.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Formulasi
II.1.1. Praformulasi
Praformulasi meliputi studi literatur, evaluasi produk brenchmark,
menyusun material (bahan aktif dan bahan pembantu) dengan kualitas
yang sesuai untuk pembuatan cream tersebut. Disamping itu juga
mempertimbangkan peralatan yang dapat digunakan. Out put yang
dihasilkan berupa rancangan formula dan spesifikasi produk yang
diinginkan.
Krim merupakan sediaan semi solid, berupa emulsi minyak dalam
air atau air dalam minyak. Berikut ini adalah bahan bahan penyusun
sediaan krim :
1. Zat berkhasiat
Sifat fisika dan kimia dari bahan atau zat berkhasiat dapat
menentukan cara pembuatan dan tipe krim yang dapat dibuat, apakah
krim tipe minyak dalam air atau tipe air dalam minyak. Dalam hal ini dilihat
dari zat aktif produk civitis cream yaitu minyak dalam air.
2. Minyak
Salah satu fase cair yang bersifat nonpolar
3. Air
Salah satu fase cair yang bersifat polar. Untuk pembuatan
digunakan air yang telah dididihkan dan segera digunakan setelah dingin.
4. Pengemulsi
Dalam produk kami digunakan pengemulsi tween 80 dan span 80.
Bahan tambahan untuk sediaan semi solid untuk meningkatkan
penetrasi sediaan terhadap kulit antara lain sebagai berikut:

1. Zat untuk memperbaiki konsistensi


Konsistensi sediaan topikal diatur untuk mendapatkan bioavabilitas
yang maksimal, selain itu juga dimaksudkan untuk mendapatkan
formula yang estetis dan acceptable. Konsistensi yang disukai
umumnya adalah sediaan yang dioleskan, tidak meninggalkan bekas,
tidak terlalu melekat dan berlemak, dalam hal ini produk kami
menggunakan cera alba, dimana cera alba tidak terlalu melekat.
2. Zat pengawet.
Pengawet yang dimaksudkan adalah zat yang ditambahkan dan
dimaksudkan untuk meningkatkan stabilitas sediaan dengan mencegah
terjadinya

kontaminasi

mikroorganisme.

Sediaan

krim

yang

mengandung air dan lemak dapat memudahkan pertumbuhan bakteri


dan jamur pada sediaan tersebut. Oleh karena itu perlu penambahan
zat yang dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Zat
pengawet yang digunakan umumnya metil paraben 0.02% - 0,3% atau
propil paraben 0,01% - 0,6 %.
3. Pelembab
Pelembab

atau

humectan

ditambahkan

dalam

sediaan

topical

dimaksudkan untuk meningkatkan hidrasi kulit. Hidrasi pada kulit


menyebabkan

jaringan

menjadi

lunak, mengembang

dan

tidak

berkeriput sehingga penetrasi zat akan lebih efektif. Dalam hal ini
produk kami menggunakan propilen glikol
4. Emolien
Emolien dalam krim digunakan untuk mencegah penguapan air serta
melembutkan kulit, dalam hal ini produk kami yaitu Cetyl alkohol
5. Anti Oksidan.
Antioksidan dimaksudkan untuk mencegah terjadinya ketengikan akibat
oksidasi oleh cahaya pada minyak tidak jenuh yang sifatnya
autooksidasi, antioksidan yang digunakan dalam produk kami yaitu
tokoferol

II.1.2. Rancangan Formula


Tiap 20 gram krim mengandung :
Sari buah jeruk

10%

Sari buah anggur merah

3%

Cera alba

2%

Cetil alkohol

5%

Propil paraben

0,02%

Metil paraben

0,18%

Propilen glikol

10%

-tokoferol

0,001%

Tween 80% span 80%

5%

Aquadest

64,799%

II.1.3. Alasan Pembuatan Sediaan


Alasan pembuatan sediaan ini yaitu untuk mendapatkan efek
emolien atau pelembut pada permukaan kulit. Emulsi terdiri dari dua fase
yang tidak dapat bercampur satu dengan yang lainnya, dimana yang satu
hidrofil (lipofob) umumnya adalah air atau suatu cairan yang dapat
bercampur dengan air, sedangkan fase lipofil (hidrofob) bertindak suatu
minyak

mineral atau minyak tumbuhan atau lemak. Dalam hal ini

diinginkan preparat yang mudah dihilangkan dari kulit dengan air, harus
dipilih suatu emulsi minyak dalam air.
II.1.4. Alasan Penambahan Bahan
a. Alasan penggunaan bahan aktif
a. Anggur
Menurut USDA nutrient database, setiap 100 gram (3,5 oz) anggur
merah mengandung karbohidrat (18,1 gram), gula (15,48 gram),
serat makanan (0,9 gram), lemak (0,16 gram), protein (0,72 gram);
vitamin B1 (0,069 mg), B2 (0,07 mg), B3 (0,188 mg), B5 (0,05 mg),
B6 (0,086 mg), B9 (2 g), C (10,8 mg), E (0,19 mg), K (22 g);

fosfor (20 mg), kalium (191 mg), kalsium (10 mg), magnesium (7
mg), mangan (0,071 mg), natrium (3,02 mg), seng (0,07 mg), zat
besi (0,36 mg), turunan stilbene, trans-Resveratrol (trans-3,5,40trihydroxystilbene).
Biji anggur mengandung flavonoid (4-5%), termasuk kaempferol-3O-glucosides, quercetin-3-Oglucosides, quercetin, dan myricetin.
Flavonoid merupakan senyawa fitokimia pemberi warna ungu pada
anggur.
Anggur juga kaya polifenol. Sekitar 6070% polifenol anggur
ditemukan di bijinya. Polifenol biji anggur merupakan derivatives
(turunan) flavan-3-ol. Komponen utamanya adalah (+)-catechins,
()-epicatechin,()-epicatechin-3-O-gallate,

procyanidins

dimers

(B1-B5), procyanidin C1, dan procyanidin B5-3-gallate. Termasuk


juga procyanidins atau proanthocyanidins yang sebagian besar
heksamer.
Selain buah anggur menyediakan nutrisi antioksidan konvensional
seperti vitamin C dan mangan, ternyata anggur penuh dengan
antioksidan fitonutrien, tidak seperti resveratrol biasa yang berkisar
dari karotenoid umum seperti beta-karoten untuk stilbenes. Dan
jumlah nutrisi antioksidan yang berbeda dalam buah anggur
berfungsi

dengan

baik.

Bahkan

hormon

melatonin

telah

diidentifikasi terkandung dalam anggur dan dikenal untuk bertindak


sebagai antioksidan yang diberikan oleh makanan ini.
Sangat penting untuk dicatat bahwa biji dan kulit anggur
mengandung antioksida dengan konsentrasi terkaya. Sangat jarang
ditemukan antioksidan dengan konsentrasi yang lebih tinggi di
bagian daging buah anggur selain daripada pada biji atau kulit.
Sayangnya

sebagian

besar

penelitian

kesehatan

tentang

antioksidan yang terkandung di buah anggur belum dilakukan pada


semua bagian anggur. Penelitian ini hanya dilakukan pada kulit

anggur, ekstrak kulit anggur, biji anggur, ekstrak biji anggur.


Sebagai aturan umum, daging anggur ternyata mengandung sekitar
1/20th-1/100th dari kapasitas antioksidan total.

Mengetahui konsentrasi antioksidan yang lebih besar dalam kulit


dan biji buah anggur tidak berarti bahwa kita tidak harus
mendapatkan

manfaat

keseluruhan,

termasuk

dari

makan

daging!

Itu

buah

anggur

berarti

secara

bahwa

kita

memperlakukan studi tentang anggur harus secara keseluruhan


karena kemungkinan besar asupan anggur utuh mencerminkan
manfaat yang baik untuk jangka pendek.
Manfaat antioksidan anggur dan komponen anggur dapat:
a.

membantu mencegah oksigen tertentu menjadi terlalu aktif saat


berhubungan dengan enzim. Enzim ini termasuk xanthine
oxidase dan katalase.

b. meningkatkan tingkat glutathione darah kita (nutrisi antioksidan


kritis) dan juga meningkatkan rasio teroksidasinya glutation
(satu ukuran penting dari kapasitas antioksidan).
c.

membantu melindungi membran sel dari kerusakan radikal


bebas.

d. merendahkan tingkat molekul reaktif oksigen dalam darah kita.


e.

mengurangi oksidasi lemak (peroksidasi lipid).

f.

merendahkan tekanan oksidasi

b. Lemon
Pektin, minyak atsiri (70% limonene), felandren, koumarins,
bioflavanoid, geranil asetat, asam sitrat, linalil asetat, vitamin A, B1,
B2, C, kalsium, fosfor, besi dan serat.

b. Alasan penggunaan bahan tambahan


1. Cera alba
a. Jellineck : 142
95 % sabun kosmetik minyak dalam air bahan pengemulsinya
yaitu sabun logam alkali atau sabun TEA, Na dan TEA garam
dari alcohol tanak sulfat atau salah satu non ionic turunan
polioksietilen.
b. Excipient : 572
Metholamin digunakan dalam sediaan topical sebagai bahan
pengemulsi
c. RPS 18th : 1317
Trietanolamin digunakan sebagai pelarut tanak, minyak dan
beberapa substansi lain
2. Cetil Alkohol
Kegunaan
a. RPS 18th : 1312
Serupa dengan steril alkohol juga memberikan tekstur yang
lembut pada kulit dan luas digunakan dalam garam kosmetik
dan lotion.
b. Excipient : 117
Bahan lotion krim dari salep cetil alkohol digunakan karena sifat
emolient, penyerap air dan sifat pengemulsinya meningkatkan
tekstur dan meningkatkan konsentrasi
Sifat emolient didasarkan atas absorpsi dan retensi cetil alkohol
pada epidermis dimana ion melubrikasi dan melarutkan kulit
dengan memberikan sifat tekstur seperti beludru.
c. MD 30th : 1108
Cetil alkohol digunakan pada sediaan topikal sebagai emolient
menyerap air, pengeras dan bersifat lemah.

Stabilitas (Excipient : 119)


Stabil dengan kehadiran asam atau alkali cahaya dan udara tidak
menjadi tengik.
Incomp (RPS 18th : 1312)
Incomp dengan bahan pengoksidasi kuat.
Konsentrasi (Excipient :117)
Konsentrasi sebagai emolient 2% - 5%
Titik lebur (Excipient : 118)
48oC 55oC
3. Metil Paraben dan Propil Paraben
Kegunaan

Lachman : 50
Perlu penambahan suatu pengawet yang larut dalam fase air dan
larut dalam fase minyak. Bila asam p-hidroksibenzoat merupakan
contoh yang baik karena metil eter larut dalam air sedangkan propil
tidak larut air.

Excipient : 340 dan 450


Metil paraben digunakan secara luas sebagai pengawet dalam
makanan, kosmetik, dan sediaan farmasetik yang lain. Dalam
kosmetik metil paraben paling sering digunakan sebagai pengawet
dan metil paraben efektilf pada range pH yang luas dan spektrum
yang luas. Aktifitas metil paraben dapat diperpanjang dengan
adanya propilen glikol (2%-5%), fenil etil alkohol dan asam asetat.

Stabilitas

Excipient : 350 (metil paraben)


Larutan berair pada pH 3-6 dapat disterilkan pada suhu 120 oC
selama 20 menit tanpa terurai. Selama 1 tahunpada suhu kamar
larutan berair pada pH 8 lebih cepat terhidrolisis.

Excipient : 450 (propil paraben)

Larutan propil paraben yang mengandung air pada pH 3-6 dapat di


strilkan dengan autoclaf tanpa penguraian, stabil selama 4 tahun
pada suhu ruangan, larutan pada pH 8 lebih cepat terurai.
Konsentrasi

Excipient : 340-450
Propil paraben digunakan dengan metil paraben dalam larutan
topikal :
Metil paraben

(0,2-0,3)%

Propil paraben

(0,2-0,6) %

Titik lebur
Excipient : 450 (propil paraben)
96 98oC
4. Propylene glycol
Kegunaan :

Menurut Exipient : 442


Sebagai humektan, digunakan pada kosmetik

Konsentrasi :

Menurut excipient : 442


Humectan pada sediaan topikal 10%-15%

Stabilitas :

Menurut excipient : 442-443


Pada suhu sejuk, propilen glicol stabil dalam wadah tertutup baik.
Propylen glycol bersifat higroskopik dan dapat di simpan dalam
wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, dalam suhu sejuk,dan
di tempat kering

Incomp :

Menurut excipient : 442


Propylen glikol incomp dengan bahan pengoksidasi seperti kalium
permanganat

Titik lebur :

Menurut excipient : 442


59oC

5. A-tokoferol
Kegunaan :

Menurut excipient : 18
Kegunaan a-tokoferol digunakan sebagai antioksidan

Stabilitas :

Menurut excipient : 18
Tokoferol dapat disimpan pada suhu sejuk, tempat kering dan
terlindung dari cahaya.

Incomp :

Menurut excipient : 19
Tokoferol incomp dengan peroksida dan ion logam, khususnya
besi, tembaga, dan perak. Tokoferol dapat di absorbsi kedalam
plastik.

6. Tween 80 dan span 80


Kegunaan :

Menurut excipient : 416


Sebagai bahan pengemulsi/ emulgator nonionik

Menurut excipient : 512


Sebagai bahan pengemulsi/ emulgator nonionik

Konsentrasi :

Menurut excipient : 417 dan 512


Span 80 : (1-15)%
Tween 80 : (1-15)%

Stabilitas :

Menurut excipient : 419 dan 513

Span dan tween dapat disimpan pada tempat tertutup baik, suhu
sejuk, tempat kering dan terlindung dari cahaya.
II.2. Metode Pembuatan
Proses Pembuatan bahan baku
1. Pengumpulan bahan baku, dipengaruhi oleh waktu pengumpulan,
dan juga teknik pengumpulan.
2. Sortasi basah, memiliki tujuan untuk membersihkan dari bendabenda asing seperti tanah, kerikil, rumput, bagian tanaman lain dan
bahan yang rusak.
3. Pencucian bahan baku dengan menggunakan air, sebaiknya
memperhatikan sumber air, agar diketahui sumber air tersebut
mengalami pencemaran atau tidak.
4. Pengeringan dilakukan sedapat mungkin tidak merusak kandungan
senyawa aktif dalam simplisia. Tujuan pengeringan yaitu agar
bahan baku awet, dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang
lama.
5. Sortasi

kering,

benda-benda

asing

yang

masih

tertinggal,

dipisahkan agar simplisia bersih sebelum dilakukan pengepakan.


6. Pengepakan

dan

penyimpanan

untuk

mencegah

terjadinya

penurunan mutu bahan baku.


Pembuatan zat aktif
a. Jeruk lemon
1. Disiapkan jeruk lemon
2. Masukkan kedalam mesin juicer, agar terpisah ampas dan sarinya.
3. Masukkan kedalam wadah dan dibekukan pada mesin pendingin
b. Anggur Merah
1. Disiapkan anggur merah
2. Masukkan kedalam mesin juicer, agar terpisah ampas dan sarinya.
3. Masukkan kedalam wadah dan dibekukan pada mesin pendingin
Freeze Dyer

Freeze drying merupakan alat pengeringan yang prinsip kerjanya adalah


berdasarkan proses liofilisasi.

Tahapan-tahapan yang terjadipadaalat freeze drying :


a. Pembekuan : Produk yang akan dikeringkan, sebelumnya dibekukan
dulu.
b. Vacuum

: Setelah beku, produk ini ditempatkan di bawah vakum.


Hal ini memungkinkan pelarut beku dalam produk untuk
menguapkan tanpa melalui fasecair, proses yang
dikenal sebagai sublimasi.

c. Panas

panas

diterapkan

pada

produk

beku

untuk

mempercepat sublimasi.
d. Kondensasi :

kondensor dengan suhu rendah akan menghapus


pelarut yang menguap di ruang vakum dengan
mengubahnya kembali ke padat.

II.2 Daerah Produksi Untuk Sediaan Non Steril (Civitis cream)


Proses pembuatan sediaan non steril difokuskan untuk
menghasilkan sediaan yang memenuhi standar yang ditetapkan sehingga

mencapai produk akhir yang berkualitas. Adapun produk non steril yang
dihasilkan industri farmasi berupa krim. Produk produk ini diproduksi
didalam area E mulai dari tahap penimbangan hingga pengemasan.

II.2.1 Personalia
Sebelum produksi Civitis cream, harus dilakukan evaluasi
terhadap personil (karyawan) yang terlibat. Personil pabrik harus
proporsional,

mempunyai

kemampuan

cukup

dan

attitude,

mempunyai knowledge, skill (keterampilan), capabilitas relevan to


their function, good menthal health, good physical health, the
attitude of achieve the goals of GMP.
Setiap

orang

yang

terlibat

dalam

proses

pembuatan

hendaklah menerapkan prinsip higiene perorangan yang meliputi


1. Kesehatan
Setiap orang tidak diperkenankan bekerja atau berada di
daerah produksi bila :
Mempunyai luka terbuka, bercak-bercak gatal, bisul atau
penyakit kulit

Mengidap penyakit infeksi pada saluran pernapasan bagian


atas, pilek, batuk, alergi serbuk. Karyawan yang mengidap
penyakit tersebut hendaklah melapor kepada atasannya.

Mendapat pemeriksaaan kesehatan secara berkala.

Sesudah sembuh dari penyakit menular hendaklah diadakan


pemeriksaan kesehatan yang sesuai untuk menentukan
kelayakan

bekerja.

Pengawasan

hendaklah

tanggap

terhadap gejala penyakit menular pada karyawan yang


bekerja di Bagian produksi,
2. Kebersihan Perorangan
Tiap

orang

hendaklah

melaksanakan

kebiasaan

kebersihan perorangan seperti :


Mandi secara teratur
Cuci tangan secara teratur antara lain segera sesudah
buang air kecil maupun buang air besar.
Rambut hendaklah dipotong pendek dan dipelihara agar

senantiasa bersih dan rapi. Dilarang menyisir disemua


ruangan kecuali di ruang ganti pakaian.
Dilarang memakai perhiasan yang cenderung jatuh masuk
ke dalam produk, misalnya anting, kalung, dan perhiasan
lain
Kosmetik hendaklah sesedikit mungkin.
Dilarang memakai bulu mata palsu dan berbagai bahan
pembantu kecantikan yang dapat jatuh ke dalam produk.
Dilarang berkuku panjang.
3. Kebiasaan higienis

Dilarang

mengunyah,

makan

dan

minum

di

ruangan

pengolahan, pengemasan, gudang dan laboratorium


Dilarang

merokok

di

ruangan

produksi,

gudang

dan

laboratorium.
Tanda DILARANG MEROKOK hendaklah dipasang di pintu
masuk berbagai tempat penting.
Dilarang meludah di sembarang tempat terutama di ruang
produksi, laboratorium, gudang dll
Kebersihan

senantiasa

dan

keteraturan

dipelihara.

ruang

Ruangan

kerja

hendaklah

hendaklah

segera

dibersihkan sebelum mulai dengan pekerjaan jenis lain


Lemari pakaian hendaklah dipelihara agar senantiasa bersih
dan rapi.
4. Pakaian bersih
Pakaian bersih digunakan baik untuk melindungi pelaksana
produksi terhadap produk maupun produk terhadap orang.
Termasuk dalam hal ini adalah pakaian dalam dan sepatu yang
bersih.
Tiap

orang

yang

berada

di

daerah

produksi

harus

mengenakan pakaian pelindung yang bersih yang khusus


disediakan untuk keperluan tersebut.

Pakaian kerja bersih dan pelindung lain seperti topi, sarung


tangan, pelindung kumis dan janggut, sarung lengan
hendaklah dikenakan sesuai petunjuk.
Bila menangani bahan berbahaya atau nudah menguap
hendaklah mengenakan pakaian dan pelindung tambahan
yang sesuai seperti tutup kepala, masker pelindung terhadap
debu, kaca mata pelindung.
Pakaian kerja tidak boleh digunakan di luar lingkungan
pabrik.
Pakaian kerja harus senantiasa bersih.
Pakaian kerja hendaklah dikenakan secara tepat, kancing
dikencangkan sebagaimana mestinya. Kerusakan pada
pakaian kerja harus segera diperbaiki.

Tutup kepala hendaklah digunakan hingga rambut tertutup


dengan baik. Kumis dan / atau janggut hendaklah ditutup
seluruhnya.

Pakaian kerja hendaklah tidak berkantong di atas pinggang,


karena barang-barang yang ada di dalamnya dapat terjatuh
ke dalam produk pada waktu pengolahan.
5. Masker
Masker yang digunakan pada produksi harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut :

Mampu menyaring partikel secara maksimal

Bebas tirat/serat

Dicuci dan disterilkan sebelum digunakan

6. Sarung Tangan
Sarung tangan yang digunakan pada produksi harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut :
Terbuat dari vinil/lateks, dapat menyaring partikel secara
maksimal
Bebas bedak/serbuk
Sterilkan sebelum digunakan/gunakan yang tersedia di
pasaran dalam kondisi steril
Didesinfeksi secara berkala paling tidak setiap jam. Misal :
dengan etilalkohol 70%
Diganti segera bila rusak atau terkontaminasi
7. Alas Kaki
Alas

kaki

yang

digunakan

personil

memenuhi ketentuan sebagai berikut :


Mampu menyaring partikel secara maksimal
Bebas tirat/serat
Dicuci dan disterilkan sebelum digunakan

II.2.2 Ruangan dan Fasilitas Produksi


a. Standar Lingkungan Produksi & Kebersihan

dalam

produksi

Dalam produksi Civitis cream dilakukan pada zona E


Differential Pressure / perbedaan tekanan
Bertujuan

untuk

meniadakan

kemungkinan

terjadi

Cross

Contamination/kontaminasi silang antara ruangan pengolahan, koridor


& udara luar
Secara ringkas, persyaratan ruangan yang dibutuhkan pada
produksi

KRIM :

Tekanan udara di dalam ruang pengolahan produk (zona E) harus


lebih positif dibanding dengan ruang koridor yang dibuktikan
dengan perbedaan tekanan yang ditunjukkan oleh alat magnehelic
Lantainya terbuat dari epoksi atau poliuretan
Dinding terbuat dari bata atau blok beton yang dilapisi dengan
epoksi
Langit-langit terbuat dari beton yg dilapisi epoksi
Pertukaran udara 5-20 kali kali/jam
Suhu ruangan 20-27O C
Efisiensi saringan udara 90-95%
Kelembaban nisbi maksimal 70%
Dilengkapi monometer

1. Peralatan

Setelah digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan bagian


luar maupun bagian dalam sesuai prosedur yang telah ditetapkan,
serta dijaga dan disimpan dalam kondisi bersih. Sebelum dipakai,
kebersihannya diperiksa lagi untuk memastikan bahwa seluruh
produk atau bahan dari batch sebelumnya telah dihilangkan.
Peralatan dan sarana lain harus dirancang dan dipasang
sedemikian rupa sehingga pelaksanaan, pemeliharaan, dan
perbaikan dapat dilakukan di luar area bersih. Bila kemungkinan,
peralatan yang harus dibawa keluar untuk pemeliharaan harus
disterilisasi ulang setelah selesai diletakkan kembali ke tempatnya.
Bila pemeliharaan peralatan dilakukan di dalam suatu area
bersih, instrumen dan perkakas yang bersih harus digunakan, dan
area tersebut harus dibersihkan dan didesinfeksi lagi, bila sesuai,
sebelum pengolahan dimulai kembali. Hal ini dilakukan bila standar
kebersihan dan / atau aseptis yang dipersyaratkan tidak dipelihara
selama pemeliharaan dikerjakan.
Semua peralatan, termasuk sterilisator, system penyaringan
udara, dan system pengolahan air, temasuk penyulingan, harus
dibuat pemeliharaan, validasi dan pemantauan yang berencana;
pemakaian dan pelaksanaan pemeliharaan suatu peralatan harus
di dokumentasikan.

Sistem penempatan pengolahan air dan distribusinya harus


dirancang, dibangun, dan dipelihara sedemikian rupa untuk
memastikan sumber air yang terpercaya dengan mutu yang sesuai.
II.2.3 Air Handling Unit (AHU)
Sistem pengendalian udara atau AHS (Air Handling System)
yaitu

suatu unit yang bertujuan untuk mengendalikan jumlah

partikel dalam ruangan, tekanan udara baik di dalam maupun di


luar ruangan (koridor), kelembaban udara atau RH (Relative
Humidity) dan temperatur udara.
AHU merupakan bagian dari sistem HVAC (Humidity
Ventilation Air Conditioner). Air Handling Unit, merupakan peralatan
yang diaplikasikan sebagai mesin pengendali sirkulasi udara di
ruang zona E agar memenuhi persyaratan yang ditentukan.
Sebagai salah satu peralatan penunjang produksi maka mesin ini
harus diuji kelaikan (qualification test) terlebih dahulu sebelum
digunakan. Uji kelaikan tersebut meliputi :
Uji kelaikan Instalasi, dimana dalam uji ini mesin diuji
berdasarkan aspek rancang bangun mesin disesuaikan dengan
berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti
aspek CPOB, aspek kesehatan dan keselamatan kerja, dan
sebagainya.

Dalam buku pedoman CPOB (Depkes RI, 1988) disebutkan


bahwa persyaratan untuk peralatan penunjang produksi antara
lain :
- Peralatan tidak boleh menimbulkan akibat yang merugikan
terhadap produk.
- Peralatan hendaklah dapat dibersihkan dengan mudah, baik
bagian dalam maupun luar.
Sedangkan dalam buku Petunjuk Operasional Penerapan
CPOB (Ditjen POM Depkes, 1989) disebutkan bahwa agar
peralatan dapat dibersihkan dengan mudah maka rancang
bangun peralatan hendaklah dibuat sedemikian rupa sehingga :
Bagian yang harus dibersihkan mudah dibongkar dan dipasang
kembali.
Tidak terdapat bagian yang tidak terjangkau pada waktu
pembersihan.
Bagian dalam peralatan tidak berkarat atau mudah
Sistem tata udara/HVAC heating ventilation & air
conditioning system. Kondisi lingkungan yang kritis terhadap
kualitas produk :
Cahaya
Suhu
Kelembaban / Relative Humidity (RH)
Kontaminasi mikroba

Kontaminasi partikel
Konsep Kelas Higiene
Menetapkan ketentuan lingkungan
Menunjang pencegahan kontaminasi dan kontaminasi silang
Menunjang pelaksanaan produksi pada kondisi higiene yang
optimal
Memperhitungkan :
- Kepekaan produk terhadap kontaminasi
- Resiko terapetik
Parameter untuk Kelas-kelas Higiene

Jumlah partikel di udara lingkungan

Jumlah mikroba di udara lingkungan dan pada permukaan


objek

Jumlah pergantian udara/air cycle (cycle per hour/cph)

Kecepatan alir udara & pola aliran udara

Filter (jenis & posisi)

Perbedaan tekanan antar ruan (P)

Suhu (T) dan kelembaban udara (RH)


Untuk memenuhi persyaratan untuk tiap-tiap kelas produksi

maka diperlukan suatu system atau unit yang dapat mengatur


dan menjaga kondisi ruangan meliputi jumlah partikel, suhu,
kelembapan maupun tekanan udara yang sesuai dengan
persyaratan

produksi.

Air

handling

System

atau

system

pengendalian udara merupakan salah satu aspek yang sangat


penting dalam proses pembuatan obat yang baik.
AHU terdiri dari beberapa mesin/alat yang masing-masing
memiliki fungsi yang berbeda, yang terintegrasi sedemikian rupa
sehingga membentuk suatu sistem tata udara yang dapat
mengontrol suhu, kelembaban, tekanan udara, tingkat kebersihan,
pola aliran udara serta jumlah pergantian udara di ruang produksi
sesuai dengan persyaratan ruangan yang telah ditentukan.

Fresh Air
Differensial
Pressure
Gauge

Centrifugal Fan

Volume
Damper
Filter
Housing

Cooling
Fan

Production Room
(zona E)
Pre filter
(efisiensi 35 %)
Medium Filter
(efisiensi 95 %)

AHU terdiri dari :


1. Cooling coil atau evaporator
Berfungsi :
Mengontrol suhu dan kelembaban relatif (RH) udara yang akan
didistribusikan ke ruang produksi.Hal ini dimaksudkan agar dapat

dihasilkan output udara , sesuai dengan spesifikasi ruangan yang


telah ditetapkan.
2. Static Pressure Fan atau Blower
Berfungsi :
Menggerakkan udara di sepanjang sistem distribusi udara yang
terhubung dengannya.
Merubah energi listrik menjadi energi gerak.
Dapat mengatur jumlah (debit) udara yang masuk ke ruang
produksi sehingga tekanan dan pola aliran udara yang masuk ke
ruang produksi dapat dikontrol
3. Filter
Udara terdiri dari nitrogen, argon, karbondioksida, kotoran
seperti debu dan gas yang bersifat korosif yang dapat masuk ke
dalam ruangan produksi. Komponen kotoran yang ada dalam udara
tergantung pada daerah, waktu dan kondisi atmosfir serta
lingkungan.

Oleh

karena

itu

diperlukan

saringan

untuk

mengeluarkan kotoran dari udara.


Fungsi :
Mengendalikan

dan

mengontrol

jumlah

partikel

dan

mikroorganisme yang dapat mengkontaminasi udara yang masuk


ke dalam ruang produksi.

Saringan udara atau filter yang digunakan terdiri dari


Pre Filter
Pre Filter atau Fresh Air Filter, merupakan filter yang
bersentuhan langsung dengan udara dari luar dengan efisiensi
penyaringan 35%
Medium Filter
Medium filter, merupakan filter kedua setelah pre filter yang
ditujukan menyaring udara sebelum masuk HEPA Filter
dengan efisiensi penyaringan 95 % .Cek kondisi filter dilakukan
dengan alat Magnehelic selama 2-3 tahun sekali. Alat ini
mengukur DP (Different Pressure) yang dihasilkan dimana DP
yang disyaratkan sebesar 150 250 Pa (Pascal) maka jika
nilai DP di luar range tersebut dilakukan penggantian filter atau
filter dapat dibersihkan jika kondisinya masih bagus.
HEPA Filter
HEPA Filter, merupakan final filter dimana udara yang telah
disaring akan langsung masuk ke dalam ruangan produksi
dengan efisiensi penyaringan 99,997 %.
Biasanya apabila saringan udara telah penuh debu atau buntu,
maka DP akan meningkat, sirkulasi udara tidak lancar, tahanan
alirannya

semakin

besar,

sehingga

kemampuan

penyaringannya akan berkurang dan dapat menyebabkan


kontaminasi silang (antar ruang). Untuk HEPA Filter hal ini

ditegaskan dengan menggunakan magnehelic dimana DP


yang diijinkan untuk HEPA Filter adalah 350-500 Pa. apabila
DP di luar range tersebut maka HEPA Filter harus diganti dan
umumnya dilakukan 5 tahun sekali (sekali pakai).
4. Ducting
Berfungsi :
Saluran tertutup tempat mengalirnya udara yang menghubungkan
blower dengan ruangan produksi. Ducting terdiri dari saluran udara
yang masuk dan saluran udara yang keluar dari ruang produksi
.Dilapisi insulator untuk menahan penetrasi panas dari udara luar
5. Dumper
Berfungsi :
Mengatur jumlah (debit) udara yang dipindahkan ke dalam maupun
yang keluar dari ruang produksi.
III.2.4 WATER SYSTEM
Air merupakan salah satu aspek kritis (vital) dalam pelaksanaan cGMP. Hal tersebut disebabkan karena air merupakan bahan baku, dalam
jumlah besar, terutama untuk produk sirup, obat suntik cair, cairan infus,
dan lain-lain. Bila tercemar, beresiko sangat fatal bagi pemakai (pasien).
Tujuan dari sistem pengolahan air untuk produksi adalah menghilangkan
cemaran sesuai dengan standar kualitas air yang telah ditetapkan.
Air yang digunakan untuk produksi krim bahan alam ini adalah
Aquq demineralisata. Pengolahan air berasal dari purified water system,

yang selanjutnya dilakukan destilasi (penyulingan) dengan terlebih dahulu


melewati lampu UV untuk membunuh bakteri.

II.3 Validasi
Validasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang
sesuai

bahwa

tiap

bahan,

proses,

prosedur,

kegiatan,sistem,

perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan


pengawasan akan senantiasa akan mencapai hasil yang diinginkan.
Validasi pembersihan
Tujuan :
Untuk memberikan bukti tertulis dan terdokumentasi bahwa :
cara pembersihan yang digunakan tepat dan dapat dilakukan
berulang-ulang (reliable and reproducible)
peralatan/mesin yang dicuci tidak terdapat pengaruh yang negatif
karena efek pencucian

operator/pelaksana

yang

melakukan

pencucian

kompeten,

mengikuti prosedur pembersihan dan peralatan pembersihan yang


telah ditentukan
cara pencucian menghasilkan tingkat kebersihan yang telah
ditetapkan. Misal : sisa residu, kadar kontaminan, dll
Metode Pengambilan Contoh (Sampling Plan)
1. Metode Apus (Swab Sampling Method)
Pengambilan contoh dengan cara apus, umumnya menggunakan
bahan apus (swab material) yang dibasahi dengan pelarut yg
langsung dapat menyerap residu dari permukaan alat.

Bahan yang digunakan untuk sampling (swab material) harus :


- Compatible dgn solvent dan metode analisanya
- Tidak ada sisa sisa serat yg mengganggu analisa
- Ukuran harus disesuaikan dengan area samplingnya
Solvent (pelarut) harus :
- Disesuaikan dengan spesifikasi bahan yang diperiksa
- Tidak mempengaruhi stabilitas bahan yang diuji
- Sebelum dilakukan validasi, harus dilakukan pemeriksaan/uji
penemuan kembali (recovery test) dengan larutan yang
diketahui kadarnya
2. Metode Pembilasan Akhir (Rinse Sampling Method)

1. Umumnya dilakukan untuk alat.mesin yang sulit dijangkau


dengan cara apus (banyak pipa-pipa, lekukan, dll)
2. Pelarut (bilasan akhir) dapat digunakan pelarut organik
(methanol, alkohol) atau hanya aquademineralisata, pelarut
kemudian ditampung dan dianalisa
3. Kelebihan : jika dilakukan dengan benar, hasil pemeriksaan
mencerminkan kondisi seluruh permukaan alat
4. Kekurangan : ada kemungkinan tidak seluruh sisa bahan
(residu) larut dalam bahan pelarut sehingga residu tidak bisa
terdeteksi

3. Metode dengan Menggunakan Placebo

Dilakukan dengan cara pengolahan produk yang bersangkutan


tanpa bahan aktif dengan peralatan yang sudah dibersihkan
kemudian dianalisa
II. 4 Proses Pembuatan bahan baku
1.

Pengumpulan

bahan

baku,

dipengaruhi

oleh

waktu

pengumpulan, dan juga teknik pengumpulan.


2. Sortasi basah, memiliki tujuan untuk membersihkan dari bendabenda asing seperti tanah, kerikil, rumput, bagian tanaman lain dan
bahan yang rusak.
3. Pencucian bahan baku dengan menggunakan air, sebaiknya
memperhatikan sumber air, agar diketahui sumber air tersebut
mengalami pencemaran atau tidak.

4. Pengeringan dilakukan sedapat mungkin tidak merusak kandungan


senyawa aktif dalam simplisia. Tujuan pengeringan yaitu agar
bahan baku awet, dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang
lama.
5. Sortasi

kering,

benda-benda

asing

yang

masih

tertinggal,

dipisahkan agar simplisia bersih sebelum dilakukan pengepakan.


6. Pengepakan

dan

penyimpanan

untuk

mencegah

terjadinya

penurunan mutu bahan baku.


Pembuatan zat aktif
a. Jeruk lemon
1. Disiapkan jeruk lemon
2. Masukkan kedalam mesin juicer, agar terpisah ampas dan sarinya.
3. Masukkan kedalam wadah dan dibekukan pada mesin pendingin
b. Anggur Merah
1. Disiapkan anggur merah
2. Masukkan kedalam mesin juicer, agar terpisah ampas dan sarinya.
3. Masukkan kedalam wadah dan dibekukan pada mesin pendingin
Freeze Dyer
Freeze drying merupakan alat pengeringan yang prinsip kerjanya adalah
berdasarkan proses liofilisasi.

Tahapan-tahapan yang terjadipadaalat freeze drying :


a. Pembekuan : Produk yang akan dikeringkan, sebelumnya dibekukan
dulu.
b. Vacuum

: Setelah beku, produk ini ditempatkan di bawah vakum.

Hal ini memungkinkan pelarut beku dalam produk untuk menguapkan


tanpa melalui fasecair, proses yang dikenal sebagai sublimasi.
c. Panas

panas

diterapkan

pada

produk

beku

untuk

mempercepat sublimasi.
d. Kondensasi :

kondensor dengan suhu rendah akan menghapus


pelarut yang menguap di ruang vakum dengan
mengubahnya kembali ke padat.

II.5 Produksi krim


Rangkaian kegiatan produksi krim meliputi :
1. Penimbangan
Bahan aktif dan basis ditimbang di ruang non steril penimbangan
(zona E) . Bahan yang telah ditimbang dilabel penimbangan.
2. Pembuatan basis
Basis untuk krim berupa campuran air dan minyak yang dibuat
dengan cara peleburan. Ruangan tempat pembuatan basis ini
diatur temperatur 20 - 28C dan kelembabannnya maks 70%
(Zona E).
3. Penggilingan
Proses penggilingan massa menggunakan colloid mill sampai
massa habis.
4. Pencampuran

Pencampuran dilakukan diruangan zona E dan massa yang telah


halus dimasukkan ke dalam container stainless steel, kemudian
diaduk dengan mixer selama 1 jam dengan suhu massa berkisar
40-50 0C. Pada tahap ini dilakukan IPC berupa pemerian (massa
krim, warna krim), homogenitas, kadar zat aktif, dan viskositas
serta diberi label dalam proses dan dibuat memo pemeriksaan ke
Bagian Pengelolaan Mutu.
5. Pengisian
Proses pengisian dilakukan juga pada zona E setelah ada
persetujuan dari bagian QC, dilakukan pengisian dengan mesin
pengisi ke dalam pengemas primer (pot). Pada proses ini dilakukan
IPC berupa pemeriksaan bobot, tes kebocoran, uji sterilitas,
kebenaran no batch, tanggal kadaluarsa dan kerapian.
6. Pengemasan sekunder
Bahan pengemas sekunder yaitu bahan pengemas yang tidak
langsung kontak dengan bahan primer. Contoh dos, etiket,brosur
dan segel. Pengemasan sekunder dilakukan di zona E . Produk
ruahan yang telah lulus uji (memenuhi persyaratan) dikemas
dengan pengemas sekunder (box karton). IPC yang dilakukan
meliputi pemeriksaan kebenaran jumlah, nomor batch, dan tanggal
kadaluarsa.
7. Gudang obat jadi

Produk yang telah melalui semua proses produksi dari awal sampai
pengemasan selanjutnya dibawa dan disimpan di gudang obat jadi.
Gudang obat jadi bersuhu sejuk 15-200 C untuk produk seperti krim.

Gambar 1. Alur proses produksi sediaan cream

II.5 Pengujian krim


Uji stabilitas adalah serangkaian pengujian terhadap produk jadi
yang digunakan untuk memperoleh data stabilitas produk. Uji ini
merupakan dasar untuk menentukan batas masa kadaluarsa produk
dan kondisi penyimpanan yang sesuai. Tujuan dari uji stabilitas adalah

a. Untuk memberikan bukti terdokumentasi tentang bagaimana mutu


produk selama periode waktu tertentu oleh adanya pengaruh
faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban dan cahaya.
b. Memberikan jaminan kualitas dan keamanan kepada konsumen
dan sebagai upaya pencegahan timbulnya keluhan/klaim kepada
produsen.
c. Menentukan berapa lama masa simpan produk dan apa yang
akan terjadi pada saat kadaluarsa.
Uji terhadap sediaan krim dilakukan pada suhu + 4oC, + 40oC
dan pada suhu + 29oC. Pemeriksaan organoleptis, homogenitas, dan
pH dilakukan tiap 2 minggu selama 2 bulan.
a. Pemeriksaan Organoleptis
Penampilan dari Civitis crem diamati warna dan baunya
b. Pemeriksaan homogenitas
Civitis Cream diletakkan di antara dua kaca objek kemudian
diperhatikan adanya partikelpartikel kasar atau ketidakhomogenan
di bawah cahaya.
c. Pemeriksaan pH
Nilai pH diukur menggunakan pH meter. Sebelum pengukuran,
elektroda dikalibrasi dengan dapar standar pH 4 dan pH 7. pH
diukur dengan cara mencelupkan elektroda ke dalam formulasi
Civitis cream. Nilai pH yang muncul di layar dicatat. Nilai pH harus
sesuai dengan pH kulit 4,2-6,2. Ini berkaitan dengan keamanan

penggunaan sediaan untuk menghindari terjadinya iritasi kulit bagi


pemakainya.
d. Pemeriksaan viskositas
Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan viscometer
Brookfield pada suhu kamar. Formulasi dimasukkan ke dalam
wadah, kemudian spindle no. 64 diturunkan hingga atas spindel
tercelup ke dalam formulasi, kemudian motor dinyalakan dengan
menekan tombol on. Kecepatan alat diatur mulai dari 2, 4, 10, 20,
50 rpm kemudian dibalik 50, 20, 10, 4, 2 rpm. Dari masing masing
pengukuran dengan perbedaan rpm, skala dibaca ketika jarum
merah yang bergerak telah stabil. Nilai viskositasnya kemudian
dihitung. Viskositas diukur pada waktu awal (t=o) dan setelah 2
bulan.
e. Pengukuran konsistensi
Sediaan Civitis cream yang akan diperiksa dimasukkan ke dalam
wadah khusus dan diletakkan pada meja penetrometer. Permukaan
sediaan harus tegak lurus dengan alat penetrometer. Peralatan
diatur hingga ujung kerucut menyentuh bayang permukaan krim
yang dapat diperjelas dengan menghidupkan lampu. Batang
pendorong dilepas dengan mendorong tombol start dan biarkan
hingga 5 detik. Angka penetrasi dibaca 5 detik setelah kerucut
menembus sediaan. Skala menunjukkan kedalaman penetrasi,
dengan skala sepersepuluh millimeter.

f. Pengukuran diameter globul rata rata


Civitis cream diletakkan di atas kaca objek dan ditutup dengan
gelas penutup, kemudian diamati dengan menggunakan mikroskop
dengan perbesaran 100 kali yang dilengkapi lensa okuler
micrometer yang telah dikalibrasi. Diameter partikel rata rata
dihitung dan dikalikan dengan faktor kalibrasi.
g. Uji mekanik
Uji ini dilakukan dengan cara mensentrifugasi sediaan dengan
kecepatan 3800 rpm selama 5 jam.
h. Cycling test
Cycling test dilakukan dengan cara menaruh sediaan pada suhu +
4oC dan + 40oC masing masing selama 24 jam dan dilakukan 6
siklus.
Selain pengujian stabilitas ada beberapa pengujian lainnya
yaitu :
1. Bebas dari partikel
Keluarkan isi dari 10 pot. Pertama-tama lebur dalam cawan Petri
datar dan kemudian biarkan memadat lalu diamati di bawah
mikroskop tenaga rendah yang dilengkapi dengan micrometer lensa
mata untuk partikel yang berukuran 50 m atau lebih besar dalam
beberapa dimensi. Syarat-syaratnya diterima jika jumlah total dari
partikel logam dalam seluruh 10 pot tidak lebih dari 50 dan jika tidak

lebih dari satu pot ditemukan mengandung delapan partikel yang


sama.
2. Uji iritasi
Subyek 30 orang, bebas dari penyakit kulit, penelitian selama 22
hari, patch test dilakukan secara acak, terkontrol, terulang, dan
dibandingkan dengan innovator patch, dapat juga digunakan
placebo patches, patch diaplikasikan selama 23 jam (1 hari)
selama 21 hari pada lokasi yang sama
3. Uji Sensitivitas
Subyek 200 orang, bebas dari penyakit kulit, tidak menjalani terapi
kortikosteroid, analgesic dan antihistamin, waktu uji 6 minggu,
Patch test dibandingkan dengan innovator patch. Dapat digunakan
placebo patches
II.6 Registrasi
Registrasi produk adalah proses pendaftaran suatu produk obat
dengan tujuan memperoleh ijin edar dari Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM). Tahapan registrasi produk obat adalah sebagai
berikut:
a. Registrasi Obat Jadi
1)

Tahap pra registrasi:


Melampirkan informasi umum tentang produk tersebut,
meliputi : nama obat, bentuk sediaan, pemerian, komposisi,
indikasi, kemasan, nama perusahaan, prosedur tetap analisa

serta hasil uji stabilitas (hasil pengujian selama 6 bulan/Uji


stabilitas dipercepat).
Apabila terdapat kekurangan data maka

BPOM akan

memberikan surat pemberitahuan kepada industri farmasi


yang bersangkutan untuk melengkapi data tersebut. Tenggang
waktu yang diberikan adalah 120 hari kerja (apabila tidak
dilengkapi, berarti gugur). Setelah tahap pra registrasi lulus
maka dilanjutkan ke tahap registrasi.
2)

Tahap registrasi:
Pada tahap ini

industri farmasi yang bersangkuatan

melakukan pembayaran biaya administrasi, dimana biaya


pendaftaran obat dengan nama paten sebesar Rp. 5.000.000,per kemasan, sedangkan untuk obat dengan nama generik
senilai Rp. 1.000.000,- per kemasan.
Industri farmasi menerima disket berisi formulir yang
wajib

diisi

dan

dikirim

beserta

formulir

permohonan

pendaftaran obat jadi A-D (Buku kriteria dan Tata Laksana


Registrasi Obat, BPOM).
Formulir A = informasi umum
Nama obat, komposisi, formula dalam satuan terkecil,
indikasi, nama pabrik dan dilampiri prosedur tetap beserta
hasil uji stabilitas.
Formulir B = dokumen umum

Izin

perusahaan,

penanggungjawab,

sertifikat

formula

dalam

CPOB,
satuan

Apoteker
bets,

cara

pembuatan secara singkat, insert/brosur, cara penomoran


bets, harga, rancangan kemasan dan waktu kadaluwarsa.
Formulir C = formula
Informasi
pembuatan

tentang

sediaan,

zat
proses

aktif,

formula

pembuatan

dan
secara

alasan
detil,

spesifikasi dan pengujian untuk zat aktif, bahan tambahan,


bahan kemas dan uji stabilitas.
Formulir D = menyertakan produk jadi dari skala laboratorium
sebanyak 3 buah dengan 3 nomor batch yang berbeda,
disertai dengan contoh kemasan yang akan dicetak.
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Badan POM, maka akan
diterbitkan nomor edar dan nomor registrasi untuk produk obat
tersebut. Selanjutnya dalam jangka waktu satu tahun obat
harus segera diproduksi dan setiap lima tahun sekali dilakukan
registrasi ulang.

b. Registrasi Suplemen Makanan


Berbeda dengan sediaan obat jadi, proses registrasi suplemen
makanan langsung pada tahap registrasi tanpa melalui tahap pra
registrasi terlebih dahulu.
c. Obat Tradisional

Proses registrasi obat tradisional sama dengan registrasi suplemen


makanan, dengan mencantumkan persyaratan bahan baku, seperti
asal perkebunan dan spesifikasi bahan baku. Saat ini terdapat
persyaratan untuk minyak telon, yaitu harus mencantumkan logo
JAMU.
d. Registrasi variasi/ulang
Dilakukan

apabila

terjadi

perubahan

formula

sediaan

atau

perubahan rancangan kemasan dalam upaya meningkatkan


kualitas produk.
II.7 Dokumentasi
Dokumentasi merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan untuk
memberikan bukti tertulis tentang kegiatan dalam industri farmasi.
Dokumentasi yang diperlukan dalam industri farmasi antara lain:
-

Prosedur pengolahan Induk (Master batch).

Prosedur pengemasan Induk.

Catatan pengolahan bets (Batch record).

Catatan Pengemasan Bets.

Spesifikasi produk bahan baku dan bahan kemas.

Prosedur pemeriksaan (bahan baku, ruahan, produk jadi maupun


stabilitas).

Prosedur sanitasi ruangan.

Prosedur pembersihan peralatan.

Catatan inspeksi diri.

II.8 Nomor registrasi obat jadi


Terdiri dari 10 digit registrasi untuk
CIVITIS

KRIM : Reg. No. POM CD 1004210005

No. Batch : M 1204005 1

II.9 Limbah
Limbah industri adalah salah satu penghasil limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3), yaitu sisa suatu usaha dan atau kegiatan
yang mengandung bahan berbahaya atau beracun karena sifat atau
konsistensinya

dan atau jumlahnya

baik secara langsung dapat

mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup sertamembahayakan


lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia sertamahkluk
hidup lainnya.
Jenis limbah yang

dihasilkan pada produksi civitis cream

dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu:


a. Limbah Cair
b. Limbah Padat
Pengelolaan limbah bertujuan untuk meminimalkan dampak terhadap
lingkunganyang telah dan akan ditimbulkan oleh adanya pengeluaran
limbah terutama yang berpotensi sebagai bahan berbahaya dan beracun
(B3).
a. Limbah Cair

Limbah Cair ini berasal dari air limbah formulasi (formulasi krim)
serta limbah Laboratorium dan domestik (kantin dan garasi)
Pengolahan dan Pengelolaan Limbah Cair
Dalam rangka pengolahan air limbah telah dioperasikan Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL).Sistem IPAL yang digunakan merupakan
kombinasi proses kimiawi, fisika dan biologi untuk pengolahan limbah
yang berasal dari Unit Manufaktur (limbahinduk) dan Unit non
Manufaktur.
Pengolahan Limbah Manufaktur
Proses pengolahannya meliputi 5 tahap, yaitu :
1) Netralisasi
Adalah proses menetralkan asam atau basa menjadi netral (pH 78). Proses netralisasi dilakukan untuk menetralkan air limbah dari
proses Iodium, garam-garam Iodium, dan garam-garam lain,
dengan penambahan Ca(OH)2 akan menaikkan pH dari 1-2 menjadi
pH 7 netral, dimana dalam proses Iodiumberlangsung secara asam.
2) Proses Sedimentasi
Pada proses ini saluran air limbah dibuat berkelok-kelok yang
bertujuan untuk menyempurnakan reaksi penetralan (air limbah +
Ca(OH)2 ). Kemudian dalam proses ini air limbah masuk ke unit
sedimentasi yang terdiri dari 2 unit penampung (Unit I dan II)
sebagai

tempat

pengendapan

partikel-partikel

dari

proses

penambahan kapur. Pada unit sedimentasi pengukuran pH

dilakukan setiap jam, nilai BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan


COD (Chemical Oxygen Demand) dari influent turun sekitar 24%
dan suhu menurun sekitar 20%. Waktu tinggal hidrolisis 4-6 jam
dengan

kecepatan

pengaliran

30

m/jam

dankecepatan

pengendapan 0,6-1 m/jam.


3) Lagoon
Air limbah dari proses sedimentasi dialirkan ke Lagoon, dimana
lagoon berfungsi sebagai tempat waktu tinggal sekitar 2-8 hari.
Lagoon bertujuan untuk menurunkan kadar COD air limbah yang
belum terpisah pada proses sebelumnya dan juga sebagai
pengendapan bagi lumpur aktif, dimana lumpur aktif ini berfungsi
sebagai makanan bagi bakteri/ mikroba pengurai yang terdapat
dalam

limbah.

Bakteri

dalam

air

limbah

tersebut

akan

memanfaatkan oksigen yang berasal dari aktivitas alag dan aerasi


lagoon untuk mengoksidasi air limbah atauzat-zat organik.
4) Bak Penampung
Air limbah dari Lagoon dialirkan ke bak penampung effluent yang
terdiri dari dua bak penampung (unit III dan IV). Kemudian dipompa
dengan pompa sentrifugal dengan kapasitas 407 m3/jam dan pH 78 ke sungai Brantas.
5) Bak Sludge Drying Bed (SDB)
Untuk endapan lumpur (sludge) dalam bak sedimentasi di pompa ke
unit Sludge Drying Bed (SDB) yang kemudian dikeringkan secara

alami menggunakan sinar matahari. Hasil akhir pengolahan


digunakan untuk tanah urug jalan atau bangunan.

Pengolahan Limbah non Manufaktur


Proses pengolahan meliputi 5 tahap yaitu:
1) Flotasi (Oil trap)
Merupakan proses pemisahan lemak/minyak (flotasi), yang berasal
vitamin E,proses disini merupakan unit penangkap lemak/minyak
dalam bak dimana minyak berada di bagian paling atas sedangkan
air terdapat di bagian bawah, kemudian minyak dan lemak dipompa
keluar dan dicampur dengan serbuk gergaji (saw dust) atau abu
sisa bakar dari unit incenerator dan dibakar di incinerator.
Sedangkan air limbah yang telah bebas dari lemak akan mengalir
ke unit sedimentasi dengan penambahan Ca(OH)2.
2) Detokifikasi dan Pemisahan Ferro
Proses ini dilakukan untuk limbah senyawa-senyawa yang bersifat
racun, berasal dari kegiatan produksi, formulasi (aseptis) antibiotic
maupun non antibiotic, dan laboratorium. Dalam proses ini juga
dilakukan proses oksidasi, reduksi, netralisasi, koagulasi, dan
presipitasi menjadi senyawa non toksik. Agar proses berjalan efisien
dan efektif pH diatur di atas 11, sehingga larutan Ferro Sulfat dapat
mengendap sempurna. Proses detoksifikasi dilakukan dengan
penambahan larutan basa menggunakan Ca(OH)2 dan dengan

pengadukan (mixer) agar bereaksi sempurna dengan Ca(OH)2, dan


air limbah dialirkan melewati saluran koagulasi dan presipitasi untuk
kemudian diteruskan ke bak sedimentasi.
3) Proses Netralisasi, Koagulasi dan Presipitasi
Air limbah yang bersifat asam atau basa harus dinetralkan terlebih
dahulu sebelum diolah lebih lanjut guna mencapai kondisi optimum.
Proses netralisasi dilakukan dengan menambahkan larutan air
kapur Ca(OH)2 ke dalam air limbah yang diolah.
4) Proses Sedimentasi
Bertujuan untuk mengendapkan partikel-partikel yang dihasilkan
pada proses netralisasi, koagulasi dan presipitasi. Unit ini
mempunyai10 kolam pengendapan.
5) Pengolahan Tingkat Lanjut
Hasil dari unit di atas digabung dan diolah oleh Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) induk untuk diteruskan ke proses selanjutnya.
2. Limbah Padat
Selain limbah produk sludge yang dipergunakan sebagai tanah
urug jalan dan bangunan, limbah padat bekas sisa cetakan kapsul atau
gelatin dilakukan pengolahan dengan cara dibakar dalam insenerator.
Sedangkan untuk limbah padat bekas kemasan yang mempunyai nilai
ekonomis (seperti drum besi / drum plastik) dikelola dengan cara
dibersihkan. Untuk limbah padat domestik seperti kertas dan daundaun kering di bakar dalam tungku bakar domestik.

BAB III
PENUTUP
Krim (Civitis cream) dapat digunakan untuk mencerahkan kulit dan
anti penuaan
Persyaratan ruangan yang dibutuhkan pada produksi Krim :

Tekanan udara di dalam ruang pengolahan produk aseptis harus lebih


tinggi dibanding dengan ruang disebelahnya yang dibuktikan dengan
perbedaan tekanan yang ditunjukkan oleh alat magnehelic.

Lantai ruang produksi adalah ubin atau teraso

Dinding terbuat dari bata atau beton padat yang dilapisi epoksi

Langit-langit merupakan panel jenis gantung

Bangunan zona E

Pertukaran udara 5-20 kali/jam

Suhu ruangan 20-28 C

Kelembaban nisbi 45-55%

Efisiensi saringan udara 90-95%


No registrasi CIVITIS

KRIM : Reg. No. POM CD 1004210005

DAFTAR PUSTAKA
1 Anonim, 2005. Berlico Selayang Pandang, PT. Berlico Mulia Farma,
Yogyakarta
2 Badan POM. 2006. Pedoman cara Pembuatan Obat yang Baik,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
3 Gennaro, A.R. 1990. Remington and Practice of Pharmacy. 18th
Edition,. Philadelphia College of Pharmacy and Science. Philadelphia.
4 Jenkins, Glen, dkk, 1957, Scovilles The Art of Compounding, MC
Growhill, Book Company, New York.
5 Priyambodo,B. 2007. Manajemen Farmasi Industri, Global Pustaka
Utama, Yogyakarta
6 Reynold J.E.F. 1989. Martindale The Extra Pharmacopeia. 30th Edition.
The Pharmaceutical Press. London.
7 Fatmawaty Aisyah,
Makassar.S

2010,

Farmasi

Industri

, Farmasi

Unhas,