Anda di halaman 1dari 21

SUMMING INVERTING

LAPORAN
Dibuat untuk menyelesaikan laporan ke-III Praktek Pengolahan Sinysl
Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik Elektronika
Politeknik Negeri Sriwijaya

oleh

Dori Saka Pradito


061230320222
5 EB

Instruktur : Dewi Permatasari , S.T.,M.Kom.

PALEMBANG
2014

I.

TUJUAN
1. Dapat membuat rangkaian summing inverting ke protoboard.
2. Dapat

membedakan

rangkaian

summing

inverting

dengan

rangkaian

penguatinverting.
3. Memahami prinsip kerja dari rangkaian summing inverting.
4. Dapat membandingkan hasil pengukuran dengan hasil perhitungan yang
diperoleh dari rangkaian summing inverting.

II.

DASAR TEORI
Summing inverting adalah penguat yang memiliki tegangan keluarannya sama

besar dengan jumlah tegangan masukan dan polaritas dari tegangan keluarannya ini
terbalik dengan polaritas tegangan masukannya. Besarnya tegangan keluaran ini
berbanding lurus dengan besarnya hasil perkalian antara jumlah arus pada R 1 dan R2
dengan besar tahanan Rf. Keuntungan yang memiliki oleh rangkaian penguat summing
inverting adalah kemampuannya untuk menangani lebih dari satu masukan sekaligus
Gambar 1 memperlihatkan sebuah penguat penjumlahan pembalik (summing
inverting).

Gambar 1. Rangkaian Summing Inverting

Tiap arus masukan ditentukan oleh tergangan masukan dan resistansi masukannya
yang dinyatakan secara sistematis :

I1 =

I2 =

Sedangkan arus yang mengalir pada tahanan Feedback (IRf) sama dengan arus input
pada rangkaian :
If = Iin = I1 + I2
Karena tahanan tahanan input terhubung parallel , maka tegangan input pada maingmasing tahanan sama besarnya, yaitu :
V1 = V2 = Vin
Sehingga
I1 + I2 =

= Vin

Atau
If = Vin
Karena
If =
Maka tegangan keluaran (Vo) menjadi :
Vo = - [

Vin

Dan penguatan adalah :


Av =
Contoh soal :
Seperti pada gambar 1 diketahui R1 = R2 = 1K , Rf = 4 K , Vin = 1 mV. Maka
hitunglah tegangan output dan penguatannya.
Penyelsaian :
a. Tegangan output
Vo

=-[
=-[

Vin

= -[8 K][1 mV]


= -8Mv

b. Penguatan
Av

=
=
= 8 kali

1 mV

Prinsip dasar dari rangkaian summing inverting ini adalah mempunyai tahanan input
yang sama pada masing-masing jalur input yang ada. Tahanan input tersebut juga mempunyai
nilai yang sama dengan tahanan penguatan. Jadi jika seandainya hanya menggunakan satu
buah jalur input maka tegangan output akan sama dengan tegangan input. Hal itu dikarenakan
nilai gain atau penguatan adalah 1. Sedangkan jika semakin banyak jalur input maka nilai
penguatan juga akan semakin besar dikarenakan tahanan pengganti input akan semakin kecil
akibat hubungan tahanan yang paralel[2].

III. ALAT DAN BAHAN

1. DC Power Supply

1 buah

2. Multimeter metrowatt

1 buah

3. Resistor 330

1 buah

4. Resistor 1 K

2 buah

5. Resistor 2.2 K

1 buah

6. Resistor 3.3 K

1 buah

7. Resistor 4.7 K

1 buah

8. Resistor 5,6 K

1 buah

9. Op-amp 741

1 buah

10. Protoboard

1 buah

11. Jumper

1 set

12. Kabel penghubung

secukupnya

IV. GAMBAR RANGKAIAN PERCOBAAN

Gambar 2. Rangkaian Penguat Inverting dengan Satu Masukan

Gambar 3. Rangkaian Penguat Inverting dengan Dua Masukan

V.

LANGKAH PERCOBAAN

1. Buat percobaan seperti rangkaian percobaan 1 (Gambar 2).


2. Set Vcc = +15 V, Vee = - 15 V.
3. Input sinyal DC dimana V1 = V2 = 1 Volt dengan R1 = 1K dan R2 = 1K.
4. Ganti harga resistor R2 = 2K2 , 3K3, 4K7.
5. Tahanan Rf = 1 K .
6. Catat hasil pengukuran I1 , I2 dan Vo pada Tabel 1.
7. Ulangi langkah percobaan 2 sampai dengan langkah 5 untuk gambar 3 dengan
RL = 330 .
8. Catat hasil pengukuran Vo, I1 , I2, Io dan VR1, VRf, dan Vo pada Tabel 2.

VI.

KESELAMATAN KERJA

1. Sebelum melakukan percobaan, periksalah kembali rangkaian yang telah dibuat.


2. Perhatikan kemampuan batas ukur komponen untuk menghidari kerusakan akibat dari
arus atau tegangan yang berlebihan.
3. Perhatikan posisi range, pastikan pada posisi yang benar untuk menghindari
kerusakan pada multimeter.
4. Pada waktu pembacaan pada multimeter , pastikan pembacaan jarum penunjuk
dengan teliti sehingga diperoleh hasil yang tepat.

VII. DATA PERCOBAAN

Tabel 1. Data Percobaan Rangkaian 1


Vout

Resistor

Vin

()

(Volt)

AV

(Volt)

Arus Input

VRf (Volt)

(mA)

(Volt)

Perhitungan

Pengukuran

Pengukuran

Perhitungan

Pengukuran

Perhitungan

Pengukuran

R1

R2

RF

V1

V2

Vo

Vo

Av

VRf

I1

I1

I2

I2

1K

1K

1K

-2

-2

0,9

1K

2K2

1K

-1,454

-1,5

1,5

1,5

0,454

0,5

1K

3K3

1K

-1,303

-1,3

1,3

1,3

0,303

0,35

1K

4K7

1K

-1,2128

-1,2

1,2

1,2

0,212

0,25

1K

1K

1K

-4

-4

1,85

1,85

1K

2K2

1K

-2,91

-2,9

1,4

2,5

1,85

0,9

1K

3K3

1K

-2,606

-2,6

1,3

2,6

1,85

0,606

0,6

1K

4K7

1K

-2,4256

-2,4

1,2

2,4

1,85

0,424

0,5

1K

1K

1K

-6

-5,8

5,8

1K

2K2

1K

-4,362

-4,2

1,4

4,2

1,36

1,3

1K

3K3

1K

-3,909

-3,9

1,3

3,9

0,909

0,95

1K

4K7

1K

-3,6384

-3,6

1,2

3,6

0,638

0,65

Tabel 2. Data Percobaan Rangkaian 2

Vout
Resistor

Vin

()

(Volt)

AV

(Volt)

VRL (Volt)

Arus Input

IRL

(mA)

(mA)

(Volt)

Perhitungan

Pengukuran

Pengukuran

Perhitungan

Pengukuran

Perhitungan

Pengukuran

Perhitunga

Pengukura

R1

R2

RF

V1

V2

Vo

Vo

Av

VRL

I1

IRL

IRL

I2

IRL

IRL

1K

1K

1K

-2

-2

-7,8

-6

1K

2K2

1K

-1,45

-1,5

1,45

1,5

0,45

0,5

-5,7

-5

1K

3K3

1K

-1,3

-1,4

1,3

1,4

0,3

0,4

-5,2

-4,7

1K

4K7

1K

-1,2

-1,3

1,2

1,3

0,2

0,3

-4,5

-4,5

1K

1K

1K

-4

-4

1,9

1,9

-15,6

-6

1K

2K2

1K

-2,9

-3

1,45

1,85

0,9

0,9

-11,4

-9

1K

3K3

1K

-2,6

-2,7

1,3

2,7

1,9

0,6

0,65

-10,4

-8,5

1K

4K7

1K

-2,4

-2,5

1,2

2,5

1,9

0,42

0,5

-9

-8

1K

1K

1K

-6

-6

3,5

3,5

-23,4

-18

1K

2K2

1K

-4,35

-4,3

1,45

4,3

3,5

1,36

1,35

-17,1

-13

1K

3K3

1K

-3,9

-3,9

1,3

3,9

3,5

0,9

0,9

-15,6

-12

1K

4K7

1K

-3,6

-3,6

1,2

3,6

3,5

0,64

0,7

-13,5

-11

VIII. DATA PERHITUNGAN

8.1 RANGKAIAN PERCOBAAN 1


Dik :

Vin 1 = 1 V
Vin 2 = 1 V
R1

= 1 K

Rf

= 1 K

R2= 1 K
I1 =
Vo= - [
=-[

I2 =

Vin

1V

Av=

= -[2K][1 V]

= -2 V

= 2 kali

R2= 2K2
I1 =
Vo= - [
=-[

I2 =

Av=

Vin

1V

= -[1,454K][1 V]

=
= 1,5 kali

= -1,454 V
R2= 3K3
I1 =
Vo= - [
=-[

I2 =

Av=

Vin

= -[1,3K][1 V]
= -1,303 V

1V

=
= 1,3 kali

R2= 4K7
I1 =

I2 =

Vo= - [

Av=

Vin

=-[

1V

= -[1,2128K][1 V]

=
= 1,2 kali

= -1,2128 V

Dik :

Vin 1 = 2 V
Vin 2 = 2 V
R1

= 1 K

Rf

= 1 K

R2= 1 K
I1 =
Vo

I2 =

=-[

=-[

Vin

2V

= -[2K][2 V]

Av=
=
= 2 kali

= -4 V
R2= 2K2
I1 =
Vo= - [
=-[

I2 =

Av=

Vin

2V

= -[1,454K][2 V]

=
= 1,4 kali

= -2,91 V
R2= 3K3
I1 =

I2 =

Vo= - [

Av=

Vin

=-[

2V

= -[1,303K][2 V]

=
= 1,3 kali

= -2,606 V
R2= 4K7
I1 =

I2 =

Vo= - [

Av=

Vin

=-[

2V

= -[1,2K][2 V]

=
= 1,2 kali

= -2,4 V

Dik :

Vin 1 = 3 V
Vin 2 = 3 V
R1

= 1 K

Rf

= 1 K

R2= 1 K
I1 =
Vo

I2 =

=-[

=-[

Vin

3V

Av=
=
= 2 kali

= -[2K][3V]
= -6 V
R2= 2K2
I1 =
Vo= - [
=-[

I2 =

Vin

3V

Av=

= -[1,45K][3 V]

= -4,35 V

= 1,4 kali

R2= 3K3
I1 =

I2 =

Vo= - [

Av=

Vin

=-[

3V

= -[1,3K][3 V]

= 1,3 kali

= -3,909 V
R2= 4K7
I1 =

I2 =

Vo= - [

Av=

Vin

=-[

3V

= -[1,2K][3 V]

=
= 1,2 kali

= -3,6384 V

8.2 RANGKAIAN PERCOBAAN 2


Dik :

Vin 1 = 1 V
Vin 2 = 1 V
R1

= 1 K

Rf

= 1 K

R2= 1 K
I1 =
Vo

I2 =

=-[

=-[

= -[2K][1 V]
= -2 V

Vin
1V

Av=
=
= 2 kali

IRL = - Vin [

=- 1 V [

= -1 V [

= -7,8 mA
R2= 2K2
I1 =

I2 =

Vo= - [
=-[

Av=

Vin

1V

= -[1,45K][1 V]

= 1,45 kali

= -1,45 V
IRL = - Vin [

=- 1 V [

= -1 V [

= -5,7 mA

R2= 3K3
I1 =

I2 =

Vo= - [
=-[

Av=

Vin

1V

= -[1,3K][1 V]

= 1,3 kali

= -1,3 V
IRL = - Vin [
=- 1 V [
= -1 V [
= -5,2 mA

R2= 4K7
I1 =

I2 =

Vo= - [

Av=

Vin

=-[

1V

= -[1,2K][1 V]

= 1,2 kali

= -1,2 V
IRL = - Vin [

=- 1 V [

= -1 V [

= -4,5 mA

Dik :

Vin 1 = 2 V
Vin 2 = 2 V
R1

= 1 K

Rf

= 1 K

R2= 1 K
I1 =

I2 =

Vo= - [
=-[

Av=

Vin

2V

= -[2K][2 V]

= 2 kali

= -4 V
IRL = - Vin [
=- 2 V [
= -2V [

= -15,6 mA

R2= 2K2
I1 =

I2 =

Vo= - [
=-[

Av= Vin

Vin
1 K

1 K

1K

2 2

2V

= -[1,45K][2 V]

2V

= 1,45 kali

= -2,9 V

IRL = - Vin [
=- 2 V [

1 K 330

1 K 330

1K

2K2

1 K

= -2 V [ 330 ]
= -11,4 mA
R2= 3K3
I1 =

I2 =

Vo= - [
=-

Av= Vin

Vin

1 K

1 K

1K

3 3

2V

= -[1,3K][2 V]

IRL = - Vin [
1 K 330

1 K 330

1K

3K3

1 7K

= -2 V [ 330 ]
= -10,4 mA

2V

= 1,3 kali

= -2,6 V

=- 2 V [

R2= 4K7
I1 =

I2 =

Vo= - [
=-[

Av= Vin

Vin
1 K

1 K

1K

4 7

2V

= -[1,2K][2 V]

1V

= 1,2 kali

= -2,4 V
IRL = - Vin
=- 2 V [

1 K 330

1 K 330

1K

4K7

1 5K

= -2 V [ 330 ]
= -9 mA

Dik :

Vin 1 = 3 V
Vin 2 = 3 V
R1

= 1 K

Rf

= 1 K

R2= 1 K
I1 =

I2 =

Vo= - [
=-[

Av= Vin

Vin
1 K

1 K

1K

1K

= 3V

3V

= 2 kali

= -[2K][3V]
= -6 V

IRL = - Vin [
=- 3 V [

1 K 330

1 K 330

1K

1K

2 6K

= -3 V [ 330 ]
= -23,4 mA

R2= 2K2
I1 =

I2 =

Vo= - [
=-[

Av= Vin

Vin
1 K

1 K

1K

2 2

3V

= -[1,45K][3 V]

3V

= 1,45 kali

= -4,35 V

IRL = - Vin [
=- 3 V [

1 K 330

1 K 330

1K

2K2

1 K

= -3 V [ 330 ]
= -17,1 mA
R2= 3K3
I1 =

I2 =

Vo= -[
=-[

Av= Vin

Vin
1 K

1 K

1K

3 3

= 3V

3V

= 1,3 kali

= -[1,3K][3 V]
= -3,9 V

IRL = - Vin
=- 3 V [

1 K 330

1 K 330

1K

3K3

1 7K

= -3 V [ 330 ]
= -15,6 mA
R2= 4K7
I1 =

I2=

Vo= -[
=-[

Av= Vin

Vin
1 K

1 K

1K

4 7

3V

= -[1,2K][3 V]

3V

= 1,2 kali

= -3,6 V

IRL = - Vin [
=- 3 V [

1 K 330

1 K 330

1K

4K7

1 5K

= -3 V [ 330 ]
= -13,5 mA

IX.

ANALISA PERCOBAAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapat data yang ditulis pada tabel 1
untuk rangkaian summing inverting tanpa beban, dan tabel 2 untuk rangkaian summing
inverting dengan beban. Pada tabel 1, dapat dilihat tegangan keluaran (Vout) yang bernilai
negative, hal ini dikarenakan menggunakan pin inverting pada op-amp sebagai inputannya.
Nilai tegangan output terkecil sebesar -1,2V dan nilai tegangan output terbesar bernilai -5,8V.
Nilai tegangan keluaran terkecil didapat ketika nilai tahanan R2 bernilai 4K7 ohm dan
tegangan kedua input bernilai 1V, sedangkan nilai tegangan output terbesar didapat ketika
nilai tahanan R2 bernilai 1K ohm dan tegangan kedua input bernilai 3V. Dari data tersebut,
dapat dilihat, semakin besar nilai tegangan input maka tegangan keluaran akan semakin
besar, dan semakin besar nilai tahanan pada tegangan input maka semakin kecil tegangan
output. Hal ini sesuai dengan rumus :

Vo= - [

Keterangan :
Vo = Tegangan output (V)
Rf = Tahanan feedbac ()
R1 = Tahanan input 1 (V)
R2 = Tahanan input 2 (V)
Vin = Tegangan masukan (V)

Vin

Nilai tegangan output pengukuran dan perhitungan tidak jauh berbeda, Hal ini
mengindikasikan seluruh komponen dalam keadaan baik. Untuk itu sangantlah penting untuk
memeriksa kondisi pada setiap komponen sebelum melakukan percobaan, sehingga data yang
didapat diharapkan lebih akurat.
Pada rangkaian summing inverting tanpa beban, dilakukan perhitungan disamping
melakukan percobaan atau pengukuran, adapun rumus-rumus yang digunakan untuk
membandingkan dengan pengukuran yaitu sebagai berikut :

Untuk menghitung arus R1 :


I1 =
Keterangan :
I1 = Arus pada R1 (A)
R1 = Tahanan input 1 (V)
V1 = Tegangan pada R1 (V)

Untuk menghitung arus R2 :


I2 =
Keterangan :
I2 = Arus pada R2 (A)
R2 = Tahanan input 2 (V)
V2 = Tegangan pada R2 (V)
Untuk menghitung arus Vo :
Vo= - [
Keterangan :
Vo = Tegangan output (V)
Rf = Tahanan feedbac ()
R1 = Tahanan input 1 (V)
R2 = Tahanan input 2 (V)
Vin = Tegangan input (V)

Vin

Untuk menghitung penguatan :


Av=
Keterangan :
Vo = Tegangan output (V)
Vin = Tegangan input (V)
AV = Penguatan

Pada percobaan rangkaian summing inverting dengan beban, hampir sama seperti
rangkaian summing inverting tanpa beban, perbedaannya pada tahanan beban pada output,
dimana dipasang tahanan sebesar 330. Dengan dipasangnya tahanan ini tegangan eluaran
menjadi sedikit berbeda dibandingkan dengan yang tanpa beban, dimanan perbedaan terkecil
sebesar 0,05V. Dalam perhitungan, rumus yang digunakan untuk mencari tegangan output
sama seperti pada percobaan pertama.
Pada percobaan summing inverting dengan beban, dilakukan pengukuran arus yang
masuk pada tahanan beban output. Untuk perhitungan digunakan rumus sebagai berikut :

IRL = - Vin [
Keterangan :
Rf = Tahanan feedbac ()
Rl = Tahanan beban output (V)
R1 = Tahanan input 1 (V)
R2 = Tahanan input 2 (V)
Vin = Tegangan input (V)
IRL = Arus pada RL ()

X.

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapat beberapa kesimpulan yaitu :


1. Tegangan input seolah-olah dijumlahkan oleh rangkaian, padahal sebenarnya hanya
memanfaatkan hubungan paralel tahanan input, dimana penetapan nilai tahanan yang
sama pada masing-masing jalur input akan mengakibatkan penguatan yang teratur,
sehingga tegangan keluaran akan didapat dengan penguatan yang teratur pula.
2. Kelebihan dari rangkaian summing inverting ini adalah dapat menangani lebih dari
satu masukan sekaligus.
3. Tegangan keluaran berkebalikan dengan tegangan masukan dikarenakan penggunaan
dasar rangkaian inverting amplifier.
4. Besarnya tegangan keluaran ini berbanding lurus dengan besarnya hasil
perkalian antara jumlah arus pada R1 dan R2 dengan besar tahanan Rf, atau
dirumuskan dengan :
Vo= -[

XI.

Vin

SARAN

Sebelum melakukan percobaan sebaiknya dilakukan pengecekan terlebih dahulu


terhadap komponen yang akan digunakan, seperti kabel jumper, resistor, dan IC Op-amp.
Begitu juga dengan perangkat pendukung lainnya, serperti catu daya dan multimeter.

DAFTAR PUSTAKA
[1] http://indelektro.blogspot.com/2010/05/summing-amplifier-summing-inverting.htm,,
diakses tanggal 11 November 2014, pukul 09:06 am.