Anda di halaman 1dari 9

Mekanisme Kontraksi dan Relaksasi pada Otot

Anastasia Tri Anggarwati


102012191
triaanastasia@gmail.com

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Alamat Korespondensi Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Pendahuluan
Berbagai macam gerakan yang terjadi pada anggota tubuh kita, dihasilkan oleh
kontraksi dan juga relaksasi otot-otot yang bersangkutan. Sehingga apabila karena sesuatu
sebab otot kehilangan kemampuan untuk berkontraksi maka gerakan-gerakan yang secara
normal dilakukan dapat terganggu atau bahkan dapat menyebabkan gerakan tersebut tidak
muncul sama sekali. Gangguan pada otot yang biasa terjadi adalah kelemahan otot,
pengecilan otot, nyeri dan bengkak dan yang paling sering terjadi adalah kejang otot.
Makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan pembaca tentang mekanisme
kerja otot, baik ketika kontraksi dan relaksasi. Juga menambah pengetahuan pembaca tentang
struktur otot baik makroskopis dan mikroskopis.
Skenario
Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun tengah berlatih renang untuk perlombaan.
Tiba-tiba ia menjerit minta tolong. Seorang penjaga kolam renang datang dan segera
menolong anak tersebut dan membawanya ke tepi kolam. Ternyata ia mengalami kejang pada
betis kanannya. Dengan sigap penjaga kolam memegang kaki kanan si anak dan mendorong
telapak kaki kanannya ke arah dorsal selama 2 menit.

Identifikasi Istilah
Tidak ada.
Rumusan Masalah
Anak laki-laki berusia 15 tahun mengalami kejang pada betis kanannya pada saat
berenang.
Analisis Masalah (Mind Map
Metabolisme Otot

RM

Mekanisme Kerja
Otot

Kendali Fungsi
Otot

Struktur yang
terkait

Makro

Mikro

Isi
Kejang otot merupakan merupakan kontraksi tidak terkontrol dari otot yang
menyebabkan otot keras dan tegang serta terasa nyeri.1
Otot manusia berdasarkan strukturnya terbagi menjadi tiga golongan besar utama
yang masing-masing memiliki fungsi dan ciri khusus. Ketiga otot tersebut ialah otot polos,
otot lurik dan otot jantung.2
1. Otot Polos
Otot polos secara umum terdapat di dinding organ-organ berongga dan saluransalurannya. Otot polos bertanggung jawab untuk mengatur aliran darah melalui
pembuluh darah, gerakan makanan melalui saluran pencernaan, aliran udara melalui
saluran pernapasan, dan aliran urin keluar tubuh. Kontraksi otot ini menimbulkan

tekanan pada jaringan otot dan mengatur pergerakan maju. Otot polos secara umum
berkeja secara involunter, tidak mudah lelah, namun reaksinya lambat.3

Gambar 1. Otot Polos


(Sumber: www.wikipedia.com)

2. Otot Lurik
Otot lurik sering disebut dengan otot rangka, atau otot serang lintang.2 Kerja
otot rangka adalah spesialisasi kontraksi pada bagian tubuh yang letaknya melekat pada
tulang. Kontraksi otot rangka menyebabkan tulang tempat otot tersebut melekat
bergerak, yang memungkinkan tubuh melaksanakan barbagai aktivitas motorik. Otot
lurik ini bekerja secara volunter atau secara sadar, mudah lelah, namun reaksinya paling
cepat dalam menerima rangsang dibandingkan otot-otot yang lain.3

Gambar 2. Otot Lurik


(Sumber: www.wikipedia.com)

3. Otot Jantung
Otot jantung hampir memiliki kesamaan dengan otot lurik dalam hal fisik
karena otot jantung juga memiliki garis gelap terang, namun otot jantung memiliki
sinsitium. Selain itu otot jantung bekerja secara involunter dan juga tidak mudah lelah
seperti otot polos. Otot jantung berkontraksi secara ritmis dan automatis. Mereka hanya
terdapat pada bagian miokardium (lapisan otot pada jantung) dan pada pembuluh darah

yang besar, yang secara langsung berhubungan dengan jantung. Otot jantung hanya
ditemukan di jantung. Otot ini memiliki serat bergaris-garis yang sangat terorganisasi
seperti otot rangka. Sebagian serat otot jantung mampu menghasilkan potensial aksi,
yang menyebar ke seluruh jantung melalui gap junction yang kontraksinya memompa
darah penunjang kelangsungan hidup ke seluruh tubuh.2

Gambar 3. Otot Jantung


(Sumber: www.wikipedia.com)
Otot-otot di bagian belakang tungkai bawah (betis) dibagi dalam dua lapisan, yaitu
lapisan dangkal dan dalam. Lapisan superfisialis atau lapisan dangkal dibentuk oleh M.
Triceps surae yang terdirir dari M. Soleus, M gastrocnemius,dan M. Plantaris. Sedangkan
lapisan dalam otot betis tersusun atas M. popliteus, M. fleksor hallucis longus, M. fleksor
digitorum longus dan M. tibialis posterior.
- M. Triceps surae merupakan otot fleksor-plantaris yang paling baik. Otot ini dapat
menahan beban baik saat berdiri maupun berjalan. Sehingga otot ini dapat dianggap
sebagai supinator terkuat pada sendi subtalaris dan sendi talocalcaneonavicularis.3
- M. Soleus, otot ini berasal dari caput fibulae dan sepertiga atas facies dorsalis fibulae, dari
linea musculi solei pada tibia dan dari arcus tendineus antara caput fibulae dan tibia yaitu
arcus tendineus musculi solei yang terletak distalis M. Popliteus. Ujung tendo otot ini
bersatu dengan ujung tendo M. Gastrocnemius dan berinsertio pada tuber alanei sebagai
tendo calcaneus. M. Soleus merupakan otot besar pada betis selain M. Gastrocnemius
sehingga memungkinkan kaki untuk melompat, berjalan, dan berlari.3
- M. Gastrocnemius, otot ini berasal dari bagian proksimalis condylus medialis femoris
dengan caput mediale dan laterale disebelah proksimalis condylus lateralis femoris. M.
Gastrocnemius dapat memungkinkan kita menyentuh hanya dengan meletakkan tangan
pada bagian belakang betis. Selain itu juga
melompat, berlari,berjalan, dan menekuk lutut.

memberikan banyak kekuatan untuk

- M. Plantaris, merupakan otot kecil yang hanya membantu kerja kedua otot diatas. Otot ini
berukuran kecil dan lunak yang mempunyai tendo yang sangat panjang. Otot ini berasal
dari daerah caput lateral M. Gastrocnemius proksimalis terhadap condylus lateralis
femoris dan dari capsula articularis sendi lutut.3
- M. Popliteus, berasal dari epicondylus latelaris femoris. Otot ini berinsersio pada facies
posterior tibiae. M. Popliteus ini berfungsi dalam melakukan fleksi sendi lutut dan rotasi
medialis tungkai bawah.3
- M. Fleksor hallucis longus, otot ini berasal dari ditalis duapertiga facies posterior fibulae,
membran interossea dan septum intermusculare cruris posterius. Otot ini memiliki venter
yang relatif tebal yang berada disepanjang distalis, kemudian beralih menjadi tendo yang
terletak dalam sulcus tendinis musculi fleksoris hallucis longi pada talus dan calcaneus
yang dibungkus oleh selubung sinovial. Otot ini berfungsi untuk melakukan fleksi
plantaris (menekuk) pada ibu jari dan jari lainnya juga membantu dalam melakukan
supinasi.4
- M. Fleksor digitorum longus, otot ini berasal dari facies posterior tibia dan tendo berjalan
didalam selubung sinovial di bawah retinaculum flexorum menuju telapak kaki. Pada
bagian tungkai yang tidak menanggung beban otot ini berfungsi untuk melakukan fleksi
plantaris jari dan kaki, sedangkan pada tungkai yang menanggung beban, otot ini
membantu menunjang arcus plantaris. Otot ini juga bertindak sebagai supinator.4
- M. Tibialis posterior, otot ini berasal dari membrana interossea dan permukaan tibia yang
berhubungan serta fibula. Otot ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang tebal disebut
pars medialis yang melekat pada tuberositas ossis navicularis, sedangkan bagian lateralis
yang merupakan bagian yang lemah, berinsersio pada ketiga tulang cuneiforme. Pada
tungkai yang tidak menanggung beban. M. Tibialis posterior ini membantu melakukan
fleksi plantaris dan supinasi. Sedangkan bagian yang menopang beban berfungsi untuk
menarik kaki kedalam.3,4

Gambar 4. Anatomi Otot Betis


(Sumber : www.colorado.edu)

Otot merupakan alat gerak aktif karena memiliki kemampuan untuk berkontraksi dan
relaksasi. Otot akan memendek jika sedang berkontraksi dan memanjang jika berelaksasi.
Kontraksi otot terjadi jika otot sedang melakukan kegiatan , sedangkan relaksasi otot terjadi
jika otot sedang beristirahat.
Pada otot lurik terdapat aktin dan miosin yang mempunyai daya berkerut membentuk
aktomiosin. Bila aktin mendekat ke miosin maka otot akan berkontraksi, sebaliknya bila aktin
menjauhi miosin makan otot akan relaksasi.4
Otot dapat berkontraksi karena adanya suatu impuls atau rangsangan. Umumnya otot
berkontraksi bukan karena satu rangsangan saja, melainkan karena suatu rangkaian
rangsangan berurutan, misalnya saja rangsangan kedua akan memperkuat rangsangan
pertama dan rangsangan ketiga memeperkuat rangsangan kedua, dan sterusnya. Dengan
demikian terjadilah ketegangan atau tonus yang maksimum. Namun tonus yang maksimum
terus menerus dapat meyebabkan tetanus atau kejang otot.4,6
Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang
relatif dari filamen-filamen aktin dan miosin. Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis
aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak
bertambah banyak. Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam
penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H. Selain itu

filamen myosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-pita A serta
lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga kontraksi terjadi. Kontraksi berlangsung pada
interaksi antara aktin miosin untuk membentuk komplek aktin-miosin.3,4,6,7

Gambar 5. Mekanisme Kontraksi Otot


(Sumber : www.colorado.edu)

Dalam proses kontraksi diawali dengan diproduksinya asetilkolin oleh ujung


serabut saraf yang nantinya membebaskan ion kalsium (Ca2+ ). Kemudian ion kalsium akan
masuk kedalam otot mengangkut troponin dan tropomiosin ke aktin. Aktin akan mendekati
miosin dan saling berikatan menjadi aktomiosin sehingga otot akan memendek dan terjadilah
proses kontraksi.6
Pada proses relaksasi, ujung miosin dapat mengikat ATP dan menghidrolisisnya
menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara memotong pemindahan ATP ke
miosin yang berubah bentuk ke konfigurasi energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi ini
kemudian mengikatkan diri dengan kedudukan khusus pada aktin membentuk jembatan
silang. Kemudian simpanan energi miosin dilepaskan, dan ujung miosin lalu beristirahat
dengan energi rendah, pada saat inilah terjadi relaksasi. Relaksasi ini mengubah sudut
perlekatan ujung myosin menjadi miosin ekor. Ikatan antara miosin energi rendah dan aktin
terpecah ketika molekul baru ATP bergabung dengan ujung miosin. Kemudian siklus tadi
berulang Iagi. Setelah proses kontraksi selesai ion kalsium akan lepas atau masuk kembali ke
plasma sel sehingga ikatan troponin pun lepas yang menyebabkan ikatan aktomiosin lepas.
Aktomiosin yang lepas menjadi aktin dan miosin menyebabkan otot kembali lagi memanjang
dan otot pun relaksasi.7
ATP (Adenosht Tri Phosphat) merupakan sumber energi utama untuk kontraksi otot.
ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi otot merupakan interaksi antara

aktin dan miosin yang memerlukan ATP.


ATP ---- ADP + P
Aktin + Miosin ------------------------- Aktomiosin
ATPase
Fosfokreatin merupakan persenyawaan fosfat berenergi tinggi yang terdapat dalam
konsentrasi tinggi pada otot. Fosfokreatin tidak dapat dipakai langsung sebagai sumber
energi, tetapi fosfokreatin dapat memberikan energinya kepada ADP.
kreatin
Fosfokreatin + ADP ----------------- keratin + ATP
Fosfokinase

Pada otot lurik jumlah fosfokreatin lebih dari lima kali jumlah ATP. Pemecahan ATP
dan fosfokreatin untuk menghasilkan energi tidak memerlukan oksigen bebas. Oleh sebab itu,
fase kontraksi otot sering disebut fase anaerob.4,6,7
ATP merupakan sumber energi utama pada proses mekanisme kerja otot. Oleh karena
itu jika ATP habis maka otot tidak dapat berkontraksi lagi, sehingga ATP harus dibentuk
kembali. Pembentukan ATP berasal dari perubahan glikogen menjadi laktasidogen yang
kemudian terurai menjadi glukosa dan asam laktat. Kemudian glukosa dioksidasi yang
menghasilkan energi dan melepaskan CO2 dan H2O. Proses ini berlangsung pada saat otot
relaksasi. Karna membutuhkan oksigen maka fase relaksasi sering disebut fase aerob.6

Ringkasan
Seluruh anggota tubuh kita digerakkan oleh otot, khususnya otot rangka. Otot rangka
terdiri dari jaringan otot yang dikendalikan di bawah kesadaran otak kita. Fungsi otot yang
paling utama adalah berkontraksi. Pada saat kontraksi, bagian dalam struktur otot
mengeluarkan banyak ion-ion, mineral, dan beberapa enzim. Terkadang otot dapat
berkontraksi diluar kendali, hal ini sering disebut sebagai kejang otot. Kejang otot adalah
kontraksi yang terlalu berlebih di luar kendali, sehingga terasa sangat sakit pada saat ingin
digerakkan karena otot sedang berkontraksi sangat maksimal pada saat tersebut.

Daftar Pustaka
1. Anonymous. Kram dan kejang otot. Edisi 26 Mei 2009. Diunduh dari:
www.urbanesia.com, 21 Maret 2011.
2. Asih Y. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Bab 8 Ssitem muscular. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran ECG; 2004. h.125-45.
3. Platzer W. Atlas berwarna dan teks anatomi manusia jilid 1: sistem lokomotor. Jakarta:
Hipokrates; 2007. h.258-60.
4. Sherwood Lauralee. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC;
2011. h.278-96
5. Wibio.

Kontraksi

otot.

Edisi

20

Januari

2009.

Diunduh

dari

www.wordbiology.wordpress.com, 21 Maret 2011.


6. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia harper. Ed 27. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2006. h.582-8.
7. Guyton AC. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004. h.282-7