Anda di halaman 1dari 29

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2014/2015


PENGARUH pH PADA PROSES AERASI TERHADAP KANDUNGAN BESI AIR
SUMUR
PEMBIMBING

: Dianty Rosirda Dewi Kurnia, ST., MT

Praktikum
: 19 November 2014
(Jurnal Praktikum)

Oleh :
Kelompok

VII (tujuh)

Nama

1. Nelsa Rahmita

(121411053)

2. Nur Aida Amalia

(121411054)

3. Nurul Syefira F

(121411055)

Kelas

3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Air sumur mengandung kation dan anion yang terlarut, salah satunya yaitu besi.
Kandungan besi relatif tinggi yang disebabkan oleh air permukaan mengalami suatu
kontak dengan mineral-mineral air yang terdapat dalam air tanah sehingga kualitas air
mengalami perubahan. Perubahan kualitas air yang memiliki kandungan besi dapat
dilihat dari kadar oksigen terlarut yang ada pada air sumur dan korelasi parameter selain
oksigen terlarut seperti kekeruhan dan konduktivitas (Effendi, 2003).
Kandungan suatu logam besi tidak akan membahayakan suatu kesehatan pada
makhluk hidup apabila tidak berlebih kandungannya. Jika berlebih keberadaan suatu
besi akan mengakibatkan gangguan kesehatan seperti melemahnya kondisi badan,
kerusakan pada hati, jantung, pankreas dan organ-organ yang lain (Istikasari, 2001).
Kelebihan besi juga dapat mengakibatkan warna kemerahan pada porselin, bak mandi,
pipa air dan pakaian (Effendi, 2003). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
logam besi yang terkandung dalam air sumur melebihi ambang batas tidak
diperbolehkan yaitu melebihi nilai 0,3 mg/L yang tertera pada KEPMENKES RI No.
907/MENKES/SK/VII/2002, sehingga diperlukan proses untuk mengurangi kadar besi.
Ada beberapa metode untuk mengurangi kadar besi yaitu elektrokoagulasi (Nugroho,
2008), dengan menggunakan zeolit alami (Rahman & Hartono, 2004), oksidasi (Said,
2005), ion exchange (Martelli et al, 1997) dan aerasi (Sari dan Karnaningroem, 2010).
Metode yang digunakan dalam penelitian kali ini yaitu aerasi. Metode aerasi
digunakan untuk mengontakkan semaksimal mungkin permukaan cairan dengan udara
agar jumlah oksigen yang terlarut dalam air. Besi akan larut dalam air dalam keadaan
teroksidasi sehingga besi dapat dihilangkan dengan pengendapan setelah aerasi. Faktorfaktor yang mempengaruhi aerasi menurut Safrini (2009) yaitu waktu (lama) aerasi dan
pH. Aerasi yang digunakan yaitu secara difusi dimana sejumlah udara dialirkan ke
dalam air sumur melalui diffuser (pompa akuarium). Udara yang masuk ke dalam
sampel air sumur akan berbentuk gelembung-gelembung (Sugiharto,1987). Penentuan
kadar besi yang telah diaerasi dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
Berdasarkan hasil penelitian Aisyah Poerwanta pada skripsinya yang berjudul
Pengaruh Aerasi terhadap Kadar Besi pada Air Sumur Pedesaan, Perkotaan, dan Dekat
Persawahan Di Daerah Jember, maka kami menggunakan hasil penelitian ini sebagai

jurnal praktikum Koagulasi-Flokulasi yang dilakukan di Labolatorium Pengolahan


Limbah dan Air Industri Politeknik Negeri Bandung.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
1.2.1. Bagaimana pengaruh pH terhadap kadar besi pada air sumur?
1.2.2. Berapakah waktu optimum aerasi terhadap penurunan kadar besi air sumur?
1.2.3. Bagaimana hubungan kadar Fe2+ dan Fe3+ dengan TDS, kekeruhan, dan oksigen
terlarut (DO) sebelum dan sesudah aerasi?

1.3. Tujuan Praktikum


Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai
berikut:
1.3.1. Mengetahui pengaruh pH terhadap kadar besi pada air sumur;
1.3.2. Mengetahui waktu optimum aerasi terhadap penurunan kadar besi air sumur;
1.3.3. Mengetahui hubungan kadar Fe2+ dan Fe3+ dengan TDS, kekeruhan, dan oksigen
terlarut (DO) sebelum dan sesudah aerasi.

1.4. Ruang Lingkup


Percobaan dilakukan di Laboratorium Pengolahan Limbah Industri (PLI) Teknik
Kimia POLBAN pada tanggal 19 November 2014. Percobaan berlangsung selama 3-4
jam. Sampel yang akan diolah berasal dari air sumur warga sarijadi.
Variabel-variabel yang diamati pada percobaan ini adalah :
1. pH air limbah yang divariasikan menjadi asam, basa, dan netral.
2. Waktu yang diperlukan untuk proses aerasi.
3. Parameter yang akan di uji melingkupi :
a. Padatan terlarut (TDS)
b. Kekeruhan
c. DO

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Proses Aerasi
Penambahan oksigen (Aerasi) adalah salah satu usaha dari pengambilan zat
pencemar dengan tujuan konsentrasi zat pencemar akan berkurang atau bahkan dapat
dihilangkan sama sekali. Aerasi dengan menggunakan aerator bertujuan untuk
memaksa air ke atas untuk berkontak dengan oksigen.
Tujuan proses aerasi yaitu menaikkan jumlah oksigen terlarut di dalam air
yang dapat berguna bagi kehidupan. Dalam keadaan teroksidasi, besi terlarut di dalam
air. Bentuk senyawa dengan larutan ion, besi terlarut dalam bentuk Fe2+. Ketika
kontak dengan oksigen atau oksidator lain, besi akan teroksidasi menjadi valensi yang
lebih tinggi, bentuk ion kompleks baru yang tidak larut ke tingkat yang cukup besar.
Oleh karena itu, besi dihilangkan dengan pengendapan setelah aerasi (Peavy dalam
Arifiani, 2007).
Sistem aerasi difusi udara yaitu udara dimasukkan kedalam cairan yang akan
diaerasi dalam bentuk gelembung-gelembung yang naik melalui cairan tersebut.
Ukuran gelembung bervariasi dari yang besar hingga yang halus, tergantung dari tipe
aerator tersebut.

2.2 Air
Air merupakan salah satu unsur ekosistem yang sangat diperlukan untuk
kelangsungan hidup manusia, hewan dan tumbuhan serta makhluk hidup lain yang ada
di alam ini. Siklus hidrologi air bergantung pada proses evaporasi dan prespitasi. Air
yang terdapat di permukaan bumi berubah menjadi uap air pada lapisan atmosfer
melalui proses evaporasi (penguapan) air sungai, danau, dan laut; serta proses
evapotranspirasi atau penguapan air oleh tanaman. Air yang memiliki karakteristik
yang khas, tidak dimiliki oleh senyawa kimia yang lain. Karakteristik tersebut adalah
air memiliki kisaran suhu, yakni 0oC-100oC air berwujud cair, penyimpanan panas
yang sangat baik, memerlukan panas yang tinggi dalam proses penguapan, pelarut
yang baik (Effendi, 2003).
Air tanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah. Air tanah
ditemukan pada akifer. Karakteristik utama yang membedakan air tanah dari air

permukaan adalah pergerakan yang sangat lambat dan waktu tinggal yang sangat
lama, dapat mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Hal ini dikarenakan pergerakan
yang sangat lambat dan waktu tinggal yang lama tersebut, air tanah akan sulit untuk
pulih kembali jika mengalami pencemaran. Air tanah dapat berasal dari air hujan
(prespitasi), baik melalui proses infiltrasi secara langsung ataupun tidak langsung dari
air sungai, air danau, rawa dan genangan air lainnya (Effendi, 2003).
Air tanah merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi manusia.
Dalam siklus hidrologi, air tanah juga mempunyai peran sebagai salah satu mata
rantai yang berfungsi sebagai reservoir yang kemudian melepaskannya secara
perlahan ke sungai atau danau, sehingga kesinambungan aliran terjaga. Air tanah
mempunyai peran penting karena mudah diperoleh dan kualitasnya relatif baik
(Notodarmojo, 2005). Karakteristik air tanah sangat berbeda dengan air permukaan,
dimana kandungan bahan-bahan terlarut dalam air tanah ditunjukkan dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Kandungan bahan-bahan terlarut dalam air tanah


2.3 Besi
Kehadiran besi pada air tanah yang bersama-sama dengan mangan (Mn),
ditandai oleh larutan yang berasal dari batuan dan mineral, oksida-oksida, sulfide,
karbonat dan silikat yang mengandung logam-logam ini. Sumber besi yang ada di
alam adalah pyrite (FeS2), hematite (Fe2O3), magnetite (Fe3O4), limonite (FeO(OH)),
goethite (HFeO2), ochre (Fe(OH)3) dan siderite (FeCO3) yang mudah larut dalam air
(Razif dalam Siswoyo, 1998).
Besi yang berada di dalam air dapat berbentuk kation ferro (Fe2+) atau ferri
(Fe3+). Pada umumnya besi membentuk senyawa dalam bentuk ferri daripada dalam
bentuk ferro, dan membentuk kompleks yang stabil dengan senyawa-senyawa
tertentu. Dalam kondisi sedikit basa, ion ferro akan dioksidasi menjadi ion ferri dan

akan berikatan dengan hidroksida membentuk Fe(OH)3 yang bersifat tidak larut dan
mengendap di dasar perairan berwarna kuning-kemerahan. Sementara dalam kondisi
asam dan banyak mengandung karbondioksida akan membuat FeCO3 larut dan
meningkatkan kadar Fe2+ di perairan (Effendi, 2003).
Besi diperlukan oleh tubuh manusia dalam jumlah tertentu, apabila kelebihan
besi juga dapat menimbulkan efek yang buruk yaitu melemahnya kondisi badan,
kerusakan hati, jantung, pankreas dan organ-organ tubuh manusia yang lain
(Istikasari, 2001). Beberapa masalah terkait adanya besi di dalam air selain menurut
Effendi (2003) yaitu prespitasi dari logam besi dapat merubah air menjadi keruh
berwarna kuning kecoklatan, menyebabkan mikroorganisme berkembang yang dapat
mencemari air dan mengganggu dalam sistem distribusi air dalam pipa, keberadaan
besi dengan konsentrasi beberapa mg/L saja akan menyebabkan air berasa logam,
akibat prespitasi dapat menimbulkan kesukaran pada proses pengolahan air, misalnya
dengan metoda penukaran ion atau destilasi, karena endapan yang terbentuk akan
menutupi pertukaran ion atau menimbulkan kerak pada pipa (Siswoyo,1998).
Kelarutan besi (Fe) dalam air dipengaruhi oleh (Taufan, 2002):
a. Kedalaman
Kelarutan besi dalam air akan semakin tinggi jika semakin dalam air meresap ke
dalam tanah. Besi terlarut dalam bentuk Fe(HCO3)2.
b. pH
Nilai pH rendah (pH<7) akan mempengaruhi kelarutan besi dan logam lain dalam
air. Menurut Said (2005) kecepatan oksidasi besi dipengaruhi oleh pH air, semakin
tinggi pH air kecepatan reaksi oksidasinya makin cepat dan terkadang diperlukan
waktu tinggal beberapa jam setelah proses aerasi agar reaksi berjalan selain itu
tergantung pula pada karakteristik air bakunya (air sampel).
c. Suhu
Peningkatan suhu dalam air akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar O2
dan peningkatan kelarutan besi dalam air.
d. Oksigen (O2)
Oksigen dapat menyebabkan terjadinya aerasi yang akan mengubah ion Fe2+
menjadi Fe3+. Ion Fe3+ ini akan mengendap sehingga akan mengurangi kelarutan
besi dalam air. Parameter Terukut
2.4 Oksigen Terlarut (DO)

Pengukuran oksigen terlarut dilakukan untuk mengetahui berapa banyak jumlah


oksigen yang dikonsumsi oleh mikroorganisme dalam mendegradasi bahan buangan
organik secara aerob (Fardiaz dalam Salmin, 2005). Oksigen Terlarut (Dissolved
Oxygen) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme
atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan
pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan
organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu
perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis
organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2005).
Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung dari beberapa faktor, seperti
kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang
dan pasang surut. Kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin
rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Kadar oksigen
akan lebih tinggi pada permukaan, karena adanya proses difusi antara air dengan
udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan
terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang
dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahanbahan organik dan anorganik. Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi
tergantung pada jenis dan aktifitasnya (Salmin, 2005).
2.5 Kekeruhan
Air dikatakan keruh, apabila air tersebut mengandung begitu banyak partikel
bahan yang tersuspensi sehingga memberikan warna atau rupa yang berlumpur dan
kotor. Bahan-bahan yang menyebabkan kekeruhan ini meliputi tanah air, lumpur,
bahan-bahan organik yang tersebar secara baik dan partikel-partikel kecil yang
tersuspensi lainnya. Kekeruhan tidak membahayakan tetapi tidak disenangi karena
rupanya (Sugriawan & Wahyono, 2007).
Menurut Effendi (2003), menyatakan bahwa tingginya nilai kekeruhan juga dapat
menyulitkan usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses
penjernihan air. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem
osmoregulasi seperti pernafasan dan daya lihat organisme akuatik serta dapat
menghambat penetrasi cahaya ke dalam air. Pengaruh kekeruhan yang utama adalah
penurunan penetrasi cahaya secara mencolok, sehingga aktivitas fotosintesis
fitoplankton dan alga menurun, maka dapat dikatakan produktivitas perairan menjadi
turun.

2.6 Permanganometri
Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh
kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan
reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan
KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan
cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe2+, asam atau garam oksalat
yang dapat larut dan sebagainya.
2.6.1. Oksidasi Dengan Kalium Permanganat
Zat pengoksidasi yang yang berharga dan sangat kuat ini paling mula
diperkenalkan dalam analisis titrimetri oleh F. Margueritte untuk titrasi besi (II),
dalam larutan-larutan asam, reduksi ini dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :
MnO4- + 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O
Sehingga ekuivalennya adalah seperlima mol, yaitu 158,03/5, atau 31,606.
Potensial standar dalam larutan asam menurut perhitungan adalah 1,51 volt, maka ion
permanganat dalam larutan asam adalah zat pengoksidasi yang kuat. Asam sulfat
adalah asam yang paling sesuai, karena tak bereaksi terhadap permanganat dalam
larutan encer. Dengan asam klorida, ada kemungkinan terjadi reaksi :
2MnO4- + 10Cl- + 16H+ 2Mn2+ + 5Cl2 + 8H2O
Kalium permanganat bukanlah suatu standar primer. Zat ini sukar diperoleh
sempurna murni dan bebas sama sekali dengan mangan dioksida. Lagi pula air suling
yang biasa mungkin mengandung zat-zat pereduksi (runutan bahan-bahan organik,
dan sebagainya), yang akan bereaksi dengan kalium permanganat itu dengan mangan
oksida. Adanya zat yang disebut diakhir ini sangatlah mengganggu, karena ia
mengkatalisis penguraian sendiri dari larutan permanganat setelah didiamkan.
(Vogel,A.I.,1994)
Titik akhir permanganat tidak permanen dan warnanya dapat hilang karena :
2MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O 5MnO2 + 4H+
ungu

tidak berwarna

Larutan dalam air tidak stabil dan air teroksidasi dengan cara :
4MnO4- + 2H2O 4MnO2 + 3O2 + 4OHPenguraiannya dikatalisis oleh cahaya panas asam-basa, ion Mn(II) dan MnO2.
MnO2 biasanya terbentuk dari dekomposisinya sendiri dan bersifat auto-katalitik.
Untuk mempersiapkan larutan standar KMnO4, harus dihindarkan adanya MnO2.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
Alat
Bola hisap
Botol semprot
Gelas kimia 50 mL
Gelas kimia 500 mL
Gelas ukur 50 mL
Pipet ukur 1 mL
Pipet ukur 10 mL
Pipet ukur 25 mL
Bak kaca
Labu ukur 25 mL
Buret
DO meter
Botol bertutup
Wadah bertutup

Bahan
Air Tanah
Aquadest
H2SO4 10 N
NaOH 5 N
H2SO4 4 N
KMnO4 0,1 N

3.2 Langkah Kerja


H2SO4 10 N
N

NaOH 5 N

Air sumur 2 Liter

Air sumur 2 Liter

Aerasi selama 80 menit

Pengukuran pH, TDS, kekeruhan, DO, DHL, Titrasi


Permanganometri
Analisis data

Setiap
20 menit

Diagram Alir Titrasi Permanganometri

6 mL H2SO4 4 N

10 mL sampel
dalam erlenmeyer
Pemanasan
( 80-90 OC )

Titrasi dengan
KMnO4 0,1 N
sampai berwarna
merah muda

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan
Oleh Nelsa Rahmita
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan pengolahan air dengan aerasi dimana
udara dialirkan ke dalam air untuk menambahkan kelarutan oksigen (DO) dalam air. Air baku
yang digunakan adalah air sumur yang di variasikan pada nilai pH nya yaitu asam dan basa.
Pada air sumur yang memiliki pH asam dengan karakteristik awal kekeruhan 2,7 NTU, pH
2,71, TDS 646 mg/L, DHL 1,019 mS, DO 5 mg/L dan kadar Fe sebesar 0,032 gr/mol.
Sedangkan karakteristik awal dari air sumur dengan pH basa yaitu kekeruhan 4,95 NTU, pH
10,27, TDS 913 mg/L, DHL 1,345 mS, DO 3,8 mg/L dan kadar Fe sebesar 0,126 gr/mol.
Proses aerasi dilakukan dengan menampung air sumur sebanyak 2 liter dalam bak
aerasi terhadap masing-masing dari variasi pH asam dan basa kemudian dialiri oksigen
dengan laju alir 40 (13,20 mL/min). Selama proses aerasi berlangsung, sampel diambil setiap
20 menit sekali selama 80 menit untuk diukur nilai DO, pH, TDS, DHL dan pengambilan
sampel untuk menentukan kadar Fe dengan metode titrasi permanganometri.
4.1

Pengaruh Aerasi terhadap DO


8
7

DO (mg/L)

6
5
4

Asam

Basa

2
1
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.1 Kurva Hubungan antara Waktu dengan nilai DO


Berdasarkan gambar 4.1 nilai DO terhadap waktu pada bak aerasi baik suasana
asam maupun basa cenderung fluktuatif. Kurva yang fluktuatif dapat dikarenakan proses
aerasi yang tidak merata dan sebagian oksigen selama proses digunakan untuk
mengoksidasi kandungan mineral pada air keran sehingga nilai DO berkurang dan
bertambah lagi akibat proses yang terus-menerus berlangsung. Dan juga bisa disebabkan

pembacaan nilai DO pada alat dalam keadaan nilainya belum stabil sehingga terjadi turun
naiknya nilai DO.
Kebutuhan oksigen dapat dikatakan terpenuhi apabila konsentrasi DO di dalam
reaktor biologi mencapai minimal 2 mg/L. Dari hasil percobaan dari DO air sumur baik
suasana asam maupun basa yang telah dilakukan aerasi sudah di atas nilai 2 mg/L. Pada
percobaan didapat hasil akhir DO pada air sumur dalam suasana asam dengan metode
aerasi sebesar 5 mgO2/L sedangkan pada proses aerasi pada air sumur yang suasanya basa
sebesar 7 mgO2/L. Sehingga setelah proses aerasi nilai DO air sumur naik.

Pengaruh Aerasi terhadap pH


12
10
8
pH

4.2

Asam

Basa

2
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.2 Kurva Hubungan Waktu dengan pH


Berdasarkan gambar 4.2, nilai pH yang diperoleh pada proses aerasi dalam
suasana basa cenderung meningkat kemudian menurun pada saat menit ke 40. Sedangkan
pada proses aerasi dalam suasana basa pH cenderung meningkat walaupun pada awalnya
terjadi menurunan nilai pH. Proses aerasi cenderung konstan pada pH netral yaitu sekitar
6-8. Berdasarkan PP No 82 tahun 2001 tentang pengelolaan Kualitas Air dan
pengendalian pencemaran bahwa air yang baik berada pada kisaran pH sekitar 6-9
sehingga pengolahan air sumur dengan metode aerasi telah memenuhi persyaratan.

4.3 Pengaruh Aerasi terhadap TDS dan DHL

1200

TDS (mg/L)

1000
800
600

Asam

400

Basa

200
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.3 Hubungan Waktu dengan TDS

1.6
1.4
1.2
DHL

1
0.8

Asam

0.6

Basa

0.4
0.2
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.4 Hubungan Waktu dengan DHL


Berdasarkan gambar 4.3 dan 4.4, nilai TDS dan DHL yang diperoleh dari proses
aerasi dalam suasana basa cenderung menurun walaupun pada akhirnya terjadi
peningkatan. Sedangkan nilai TDS dan DHL yang diperoleh dari proses aerasi dalam
suasana asam cenderung meningkat. Hal ini tidak sesuai dengan literatur seharusnya nilai
TDS dan DHL semakin menurun karena pada proses aerasi ini terjadi perubahan zat
terlarut maupun yang tersuspensi sehingga ion-ion logam seperti ion Fe berikatan
oksigen kemudian membentuk senyawa Fe(OH)3 sehingga mudah terendapkan. Otomatis
karena TDS berpengarh terhadap nilai DHL apabila nilai TDS menurun maka

kemampuan ion-ion Fe untuk menghantarkan listrik pun semakin kecil. Sehingga yang
terjadi pada hasil percobaan yaitu cenderung terjadi peningkatan nilai TDS dan DHL ini
dapat disebabkan laju alir udara yang tidak konstan sehingga menyebabkan masih
banyaknya zat terlarut dalam sampel.

Namun, pada grafik tersebut terdapat hubungan yang sinkron antara nilai TDS
dan DHL dimana dalam literatur dijelaskan bahwa TDS adalah jumlah seluruh padatan
terlarut baik organik maupun non organik, dan kandungan non organik secara spesifik
diukur dengan besarnya DHL. Dari grafik dapat dilihat, apabila nilai TDS naik, maka
nilai DHL pun cenderung naik.

4.4

Pengaruh Aerasi terhadap kandungan Fe


0.14

Kadar Fe (gr/mol)

0.12
0.1
0.08
Asam

0.06

Basa

0.04
0.02
0
0

20

40

60

80

100

waktu (menit)

Gambar 4.4 Kurva Hubungan Waktu dengan Kadar Fe


Proses oksidasi akan mengubah bentuk Fe2+ terlarut menjadi Fe3+ tersuspensi yang
mudah mengendap di dalam air. Reaksi pengikatan oksigen untuk proses oksidasi sebagai
berikut:
4 Fe2+ + O2 + 2H2O

4 Fe(OH)3 + 8H+

Dalam percobaan ini untuk mengetahui kadar Fe pada saat proses aerasi yaitu pada
sampel dilkukan titrasi permanganometri yaitu titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi
oleh kalium permanganat (KMnO4).
Berdasarkan gambar 4.5, kadar Fe pada air sumur dalam suasana basa maupun
asam cenderung fluktuatif. Kurva yang fluktuatif dapat dikarenakan proses aerasi yang
tidak merata dan setiap sampelnya tidak dimendapat perlakuan yang sama. Dan juga

disebabkan pada saat proses pemanasan wadah sampel tidak ditutup sehingga terjadinya
penguapan.
Dari hasil percobaan dari pengolahan aerasi air sumur ini adalah dibawah 1 mg/L
sehingga sesuai dengan literatur bahwa sesuai PP. No. 81 Tahun 2001 dimana Fe tidak
boleh lebih dari 1 ppm sehingga air sumur pada

proses aerasi ini telah memenuhi

persyaratan.
Pengaruh Aerasi terhadap Kekeruhan

Kekeruhan (NTU)

4.5

20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

Asam
Basa

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.5 Hubungan Waktu dengan Kekeruhan


Bedasarkan gambar 4.5, nilai kekeruhan semakin tinggi apabila banyak mengandung
partikel bahan yang tersuspensi sehingga memberikan warna dengan kekeruhan yang tinggi.
Tetapi tingginya nilai padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya nilai kekeruhan.
Pada suasana asam nilai kekeruhan cenderung stabil dan basa suasana basa terjadi kenaikan
dan

kemudian

dilanjutkan

dengan

penurunan

nilai

kakaruhan.

Kekeruhan

tidak

membahayakan tetapi tidak disenangi karena rupanya (Sugriawan & Wahyono, 2007).
Menurut Effendi (2003), Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem
osmoregulasi seperti pernafasan dan daya lihat organisme akuatik serta dapat menghambat
penetrasi cahaya ke dalam air. Pengaruh kekeruhan yang utama adalah penurunan penetrasi
cahaya secara mencolok, sehingga aktivitas fotosintesis fitoplankton dan alga menurun, maka
dapat dikatakan produktivitas perairan menjadi turun.
Oleh Nur Aida Amalia
Tujuan dari proses aerasi adalah untuk meningkatkan jumlah oksigen terlarut dalam air.
Oksigen terlarut digunakan untuk mengoksidasi Fe2+ menjadi valensi yang lebih tinggi
(Peavy dalam Arifiani, 2007). Besi akan larut dalam air dalam keadaan teroksidasi sehingga

besi dapat dihilangkan dengan pengendapan setelah aerasi. Praktikum ini menggunakan
kondisi lingkungan yang berbeda, yaitu dalam kondisi asam dan kondisi basa karena
kelarutan besi dipengaruhi pula oleh lingkungan sekitarnya. Sampel yang digunakan pada
praktikum ini adalah air sumur warga Sarijadi. Air sumur yang merupakan air tanah memiliki
kandungan besi yang relative tinggi karena air mengalami suatu kontak dengan mineralmineral didalam tanah. Dari kondisi lingkungan yang berbeda ini, praktikan ingin melihat
bagaimana pengaruh proses aerasi terhadap kelarutan besi dalam air sampel dan parameterparameter lain seperti nilai kekeruhan, DHL, TDS, dan DO.
4.2.1. Pengaruh aerasi terhadap pH
12
10

pH

8
6

Asam

Basa

2
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.1 Kurva Hubungan antara Waktu dengan pH


Pada gambar 4.1 ditunjukan bahwa proses aerasi tidak terlalu berpengaruh pada nilai
pH karena nilai pH baik pada kondisi asam maupun kondisi basa cenderung stabil. Nilai pH
justru berpengaruh terhadap kadar Fe dalam sampel.
4.2.2. Pengaruh aerasi terhadap kadar Fe
Kadar Fe dalam sampel ditentukan dengan cara titrasi permanganometri dengan
larutan asam sebagai zat pengoksidasi. Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan
berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi
oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Asam sulfat
digunakan sebagai oksidator karena tak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan encer.

Kadar Fe (gr/mol)

0.14
0.12
0.1
0.08
0.06

Asam

0.04

Basa

0.02
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.1 Kurva Hubungan antara Waktu dengan Kadar Fe


Gambar 4.1 menunjukan bahwa proses aerasi dengan lingkungan yang berbeda
memberikan pengaruh yang berbeda pula terhadap kadar Fe. Pada lingkungan basa, kadar Fe
mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini menunjukan bahwa aerasi telah
mengoksidasi ion Fe2+ menjadi ion Fe3+. Dalam kondisi basa, ion ferri akan berikatan dengan
hidroksida membentuk Fe(OH)3 yang bersifat tidak larut sehingga kadar Fe pun semakin
menurun (Effendi, 2003). Hal ini sejalan pula dengan Said (2005) yang menyatakan bahwa
kecepatan oksidasi besi dipengaruhi oleh pH air, semakin tinggi pH air kecepatan reaksi
oksidasinya makin cepat. Pada kondisi asam, terjadi sedikit kenaikan kadar Fe. Hal ini terjadi
karena kecepatan reaksi oksidasi besi pada keadaan asam berjalan relative lambat. Selain itu
menurut Effendi (2003), dalam kondisi asam dan banyak mengandung karbondioksida akan
membuat FeCO3 larut dan meningkatkan kadar Fe2+ di dalam air. Waktu aerasi optimum
berdasarkan penurunan kadar Fe berada pada waktu 20 menit karena menunjukan penurunan
kadar Fe yang signifikan.
4.2.3. Pengaruh aerasi terhadap Kekeruhan
Kekeruhan dijadikan salah satu parameter proses aerasi dalam lingkungan yang
berbeda untuk melihat banyaknya ion Fe3+ yang mengendap sehingga mempengaruhi
kekeruhan air sampel.

Kekeruhan (NTU)

20
15
10

Asam
Basa

5
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.2 Kurva Hubungan antara Waktu dengan Kekeruhan


Pada gambar 4.2 menunjukan bahwa dalam kondisi basa, nilai kekeruhan meningkat
sampai titik tertentu kemudian menurun kembali. Pada gambar 4.1 menunjukan kadar Fe
dalam sampel berkurang yang berarti bahwa ion Fe2+ telah membentuk Fe(OH)3 dan bersifat
tidak larut. Fe(OH)3 tak larut inilah yang meningkatkan nilai kekeruhan pada air sampel.
Sedangkan pada kondisi asam, nilai kekeruhan cenderung stabil. Hal ini menunjukan bahwa
ion Fe2+ tetap berada dalam kondisi ion terlarut dan tidak membentuk senyawa yang tak larut
sehingga tidak mempengaruhi nilai kekeruhan air sampel.
4.2.4. Pengaruh aerasi terhadap TDS
1200

TDS (mg/L)

1000
800
600

Asam

400

Basa

200
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.3 Kurva Hubungan antara Waktu dengan TDS


TDS adalah benda padat yang terlarut yaitu semua mineral, garam, logam, serta
kation-anion yang terlarut di air diluar molekul air murni (H2O) (Anonim, 2008). Pada
gambar 4.3, dalam kondisi basa semakin lama waktu aerasi nilai TDS semakin berkurang.
Hal ini disebabkan karena semakin banyaknya padatan yang terlarut di dalam sampel yang
menjadi padatan terendapkan, dalam hal ini Fe2+ menjadi Fe(OH)3 sehingga nilai TDS
semakin berkurang. Sedangkan dalam kondisi asam, nilai TDS bertambah karena kondisi

asam akan cenderung meningkatkan kadar Fe2+ dalam sampel sehingga nilai TDS akan
bertambah pula. Waktu optimum aerasi berdasarkan nilai TDS berada pada waktu 60 menit.
4.2.5. Pengaruh aerasi terhadap DHL
1.6
1.4
1.2
DHL

1
0.8

Asam

0.6

Basa

0.4
0.2
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.4 Kurva Hubungan antara Waktu dengan DHL


Daya Hantar Listrik (DHL) adalah ukuran seberapa kuat suatu larutan dapat
menghantarkan listrik. Daya hantar listrik suatu larutan salah satunya tergantung dari jumlah
ion yang ada (Supadi, 2010). Pada proses aerasi ini, nilai DHL menunjukan seberapa banyak
jumlah ion yang terdapat dalam sampel. Dari gambar 4.4 menunjukan bahwa nilai DHL pada
kondisi asam sedikit meningkat, sedangkan pada kondisi basa nilai DHL semakin berkurang.
Hal ini disebabkan karena nilai DHL yang sebanding dengan nilai TDS. Semakin banyak ion
terlarut dalam sampel menunjukan bahwa kemampuan larutan untuk menghantarkan
listrikpun semakin baik. Namun, nilai DHL ini tidak dapat dijadikan sebagai patokan jumlah
ion Fe2+ yang terdapat dalam sampel, karena ion yang dapat menghantarkan listrik dalam
sampel bukan hanya Fe2+.

DO (mg/L)

4.2.6. Pengaruh aerasi terhadap DO


8
7
6
5
4
3
2
1
0

Asam
Basa

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.5 Kurva Hubungan antara Waktu dengan DO

Tujuan utama aerasi adalah untuk meningkatkan nilai oksigen terlarut atau DO yang
digunakan untuk proses oksidasi Fe2+ menjadi Fe3+. Dalam hal ini, semakin lama waktu
aerasi seharusnya nilai DO semakin bertambah. Namun gambar 4.5 menunjukan nilai DO
yang fluktuatif baik dalam kondisi asam maupun dalam kondisi basa. Hal ini disebabkan
karena pengukuran yang tidak stabil pada alat DO meter sehingga praktikan tidak dapat
menyimpulkan pengaruh lingkungan yang berbeda pada proses aerasi terhadap nilai DO.
Namun, bila dilihat dari sisi keefektifan proses oksidasi pada lingkungan asam maupun
lingkungan basa, proses oksidasi pada lingkungan basa berjalan lebih cepat dibandingkan
pada lingkungan asam yang menunjukan bahwa konsumsi oksigen terlarut oleh ion Fe2+ akan
lebih banyak digunakan pada lingkungan basa. Sehingga secara teoritis, praktikan
menyimpulkan bahwa nilai DO pada lingkungan asam akan lebih besar dibandingkan nilai
DO pada lingkungan basa.
Oleh Nurul Syefira F
Proses aerasi yang dilakukan bertujuan untuk menurunkan kadar Fe yang terlarut di
dalam air sumur (sampel) dengan melihat bagaimana pengaruh pH terhadap proses
tersebut. Proses memasukan udara ke dalam sampel dapat meningkatkan nilai kelarutan
oksigen dalam sampel. Sampel yang telah disediakan dibagi ke dalam 2 buah bak aerasi
dengan volume yang sama, bak 1 ditambahkan larutan H2SO4 10 N untuk medapatkan pH
asam, sedangkan bak 2 ditambahkan larutan NaOH 5 N untuk mendapatkan pH basa.
Karakteristik awal dari sampel pada bak 1 adalah kekeruhan 2,7 NTU, DHL 1,019
micros/cm, TDS 646 mg/L, pH 2,71, kadar Fe terlarut 0,032 gr/mol, dan DO 5 mg/L,
sedangkan karakteristik awal dari sampel pada bak 2 adalah kekeruhan 4,95 NTU, DHL
1,345 micros/cm, TDS 913 mg/L, pH 10,27, kadar Fe terlarut 0,126 gr/mol, dan DO 3,8.
Proses aerasi dilakukan secara bersamaan dan waktu pengambilan sampel setiap 20 menit
sekali dengan laju alir udara 40 mL/min.
Kekeruhan merupakan akibat dari banyaknya padatan tersusensi dalam air
sehingga memberikan rupa yang kotor. Menurut Effendi (2003), menyatakan bahwa
tingginya nilai kekeruhan juga dapat menyulitkan usaha penyaringan dan mengurangi
efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air.

Kekeruhan (NTU)

20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

Asam
Basa

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.1 Kurva Hubungan Waktu Terhadap Kekeruhan


Berdasarkan Gambar 4.1 nilai kekeruhan pada sampel asam memiliki nilai lebih
tinggi dibandingkan dengan kekeruhan pada bak sampel basa dan pada kedua sampel nilai
kekeruhan sempat naik tetapi pada akhirnya mengalami penurunan juga. Kenaikan
tersebut mungkin diakibatkan karena adanya Fe2+ di dalam air yang mulai teroksidasi
menjadi padatan Fe3+ yang tidak larut di dalam air, sehingga padatan tersebut mengotori
sampel. tetapi padatan-padatan yang dihasilkan dari proses oksigasi tersebut perlu
diendapkan agar sampel lebih jernih dan pengotor pun dapat diminilalisir bahakan
dilangkan.
DHL (daya hantar listrik) adalah kemampuan air untuk menghantarkan lisrik akibat
adanya mineral terlarut didalam air yang dapat menghantarkan listrik. Semakin tinggi
nilai DHL maka semakin banyak mineral terlarut di dalam sampel. DHL selalu dikaitkan
dengan nilai TDS (total suspended solid) yang merupakan jumlah padatan terlarut di
dalam air. DHL dan TDS selalu linier, ketika nilai padatan tersuspendi tinggi maka nilai
DHL pun akan tinggi.

1.6
1.4
1.2
DHL

1
0.8

Asam

0.6

Basa

0.4
0.2
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.2 Kurva Hubungan DHL terhadap Waktu


1200

TDS (mg/L)

1000
800
600

Asam

400

Basa

200
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.3 Kurva Hubungan TDS terhadap Waktu


Pada Gambar 4.2 dan 4.3 nilai DHL dan TDS pada bak sampel basa menunjukkan
suatu keanehan dimana ketika kurvanya mulai turun tiba-tiba menjadi naik, selain itu
kurva pada bak sampel asam juga mengalami kenaikkan. Hal tersebut tidak sesuai dengan
literature yang seharusnya nilai DHL dan TDS semakin menurun, karena proses aerasi
dapat menurunkan kemampuan ion-ion Fe untuk menghantarkan listrik dan menurunkan
padatan terlarut dalam air. Peningkatan nilai DHL dan TDS mungkin disebabkan karena
terdapat ion selain Fe2+ akibat penambahan larutan untuk kondisi asam dan basa atau
karena laju alir udara yang tidak konstan sehingga menyebabkan masih banyaknya zat
terlarut dalam sampel.

Pada Gambar 4.4 kurva pH asam maupun basa keduanya semakin lama akan
menuju ke keadaan netralnya. Hal ini disebabkan karena pada bak sampel basa yang
banyak mengandung ion OH- dan bak sampel asam yang banyak mengandung ion H+
masing-masing ion tersebut akan bereaksi dengan ion-ion lain di dalam sampel ditambah
dengan adanya oksigen yang sengaja dimasukkan akan mempecepat proses penetralan
sampel tersebut.
12
10

pH

8
6

Asam

Basa

2
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.4 Kurva Hubungan pH terhadap Waktu


DO (Dissolved Oxygen) merupakan jumpah oksigen terlarut didalam air yang
menunjukkan kualitas dari air tersebut. Semakin tinggi nilai DO maka semakin sedikit
kandungan ion-ion Fe di dalam air. Namun, pada Gambar 4.5 nilai DO fluktuatif sehingga
tidak dapat dilihat pada kondisi basa atau asam nilai DO akan lebih besar. Tetapi pada
prinsipnya oksigen terlarut dapat menyebabkan sampel menuju ke pada kondisi netralnya.
Nilai yang fluktuatif ini mungkin disebabkan karena pengukuran yang kurang akurat.

8
7

DO (mg/L)

6
5
4

Asam

Basa

2
1
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.5 Kurva Hubungan DO terhadap Waktu


Dari Gambar 4.6 hasil titrasi permanganometri menunjukkan bahwa kadar Fe
terlarut pada sampel asam mengalami kenaikan, hal ini disebabkan karena nilai pH
rendah (pH<7) akan mempengaruhi kelarutan besi dan logam lain dalam air. Sedangkan
pada bak sampel basa kadar Fe terlarut semakin menurun karena menurut Said (2005)
kecepatan oksidasi besi dipengaruhi oleh pH air, semakin tinggi pH air kecepatan reaksi
oksidasinya makin cepat dan terkadang diperlukan waktu tinggal beberapa jam setelah
proses aerasi agar reaksi berjalan selain itu tergantung pula pada karakteristik air bakunya
(air sampel).
0.14

Kadar Fe (gr/mol)

0.12
0.1
0.08
Asam

0.06

Basa

0.04
0.02
0
0

20

40

60

80

100

waktu (menit)

Gambar 4.6 Kurva Hubungan Kadar Fe terhadap Waktu

Proses oksidasi akan mengubah bentuk Fe2+ terlarut menjadi Fe3+ tersuspensi yang
mudah mengendap di dalam air. Reaksi pengikatan oksigen untuk proses oksidasi sebagai
berikut:
4 Fe2+ + O2 + 2H2O

4 Fe(OH)3 + 8H+

Fe(OH)3 yang terbentuk dari proses aerasi tersebut kemudian mengendap, akan
tetapi proses pengendapan Fe(OH)3 ini dibutuhkan waktu yang lama dikarenakan partikel
endapan yang sangat halus.
Berdasarkan parameter-parameter di atas secara keseluruhan dapat diperoleh hasil
bahwa untuk mengurangi kadar Fe terlarut dalam sampel akan lebih cepat apabila
dilakukan proses aerasi kondisi basa, karena proses oksidasi berjalan lebih cepat dengan
waktu optimumnya adalah 60 menit.

BAB V
SIMPULAN
5.1 Kesimpulan
1. Semakin besar nilai pH semakin kecil kadar besi yang terlarut di dalam air.
2. Waktu optimum untuk mengurangi kadar besi adalah 60 menit, karena memiliki
kadar besi paling rendah.
3. Semakin kecil kadar Fe2+ dan semakin besar kadar Fe3+ akibat proses oksidasi
dalam air sumur maka nilai TDS, DHL, DO semakin kecil sedangkan kekeruhan
semakin besar.
5.2 Saran
a. Pengamatan pada saat pengukuran parameter seperti DO, TDS, DHL, dan Fe
harus lebih teliti.
b. Proses aerasi sebaiknya dilakukan dalam waktu yang lama agar proses lebih
efektif.
c. Pengendapan Fe3+ seharusnya lebih lama agar Fe3+ sudah benar benar
terendapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifiani, N.F. & Hadiwidodo, M. 2007. Evaluasi Desain Instalasi Pengolahan Air PDAM
Ibu Kota Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten. Jurnal Presipitasi, Vol.3 (2).78 85.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan
Perairan.Yogyakarta: Kanisius.
Istikasari, W. 2003. Pengukuran Kadar Besi Secara Spektrofotometri dalam Air Sumur di
Pemukiman Bekas Persawahan. Tidak Diterbitkan. Skripsi. Jember: Universitas
Jember.
Martelli, Reis, Korn dan Rufini. 1997. The Use of Ion Exchange Resin for Reagen
Immobilization and Concentration in Flow Systems. Determination of Nickel in Steel
Alloys and Iron Speciation in Waters. J.Braz. Chem. Soc. Vol. 8(5): 479-485.
Notodarmojo, S. 2005. Pencemaran Tanah dan Air Tanah. Bandung: ITB
Nugroho, 2008. Pengembangan Model Pengolahan Air Baku dengan Metoda Elektrogulasi.
Jurnal Teknik. Vol.7 (2): 130-144.
Rahman, A. & Hartono, B. 2004. Penyaringan Air Tanah Dengan Zeolit Alami Untuk
Menurunkan Kadar Besi Dan Mangan. Makara, Kesehatan. Vol. 8 (1): 1-6.
Safrini, F.E. 2009. Pengaruh Aerasi Sederhana (Pompa Manual) dalam Menurunkan Kadar
BOD dan COD Limbah Cair Medis di RSUD Kalisat Jember. Tidak Diterbitkan.
Skripsi. Jember: Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Said, I. N, 2005. Metode Penghilangan Zat Besi dan Mangan di dalam Penyediaan Air
Minum Domestik. Jurnal Teknologi Lingkungan. Vol.1 (3): 239-250.
Salmin, 2005. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) sebagai salah
satu Indikator untuk Menentukan Kualitas Perairan. Oseana. Vol. XXX (3): 21-26.
Sari, W & Karnaningroem, N. 2010.Studi Penurunan Besi (Fe) dan Mangan (Mn) dengan
Menggunakan Cascade Aerator dan Rapid Sand Filter pada Air Sumur Gali. Tidak
Diterbitkan. Skripsi. Surabaya: Jurusan Teknik Lingkungan ITS.
Siswoyo. 1998. Perubahan Kondisi Fisik dan Kimiawi Air Sumur di Kotatif Jember Akibat
Musim dan kepadatan Rumah Penduduk. Tidak Diterbitkan. Laporan Penelitian.
Jember: Lembaga Penelitian Universitas Jember.
Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: UI.
Sugriawan, I & Wahyono, S.C. 2007. Pengukuran Kekeruhan, Konduktivitas, Total
Dissolved Solid (TDS) dan Warna Air Sungai Martapura Untuk Aktifitas Mandi Cuci
Kakus (MCK) Masyarakat Pemukiman Bantaran Sungai Martapura Di Banjarmasin.
Jurnal Fisika FLUX. Vol.4(2): 81-95.
Taufan, A. 2005. Model alat pengolahan Fe dan Mn menggunakan sistem venture aerator
dengan variabel kecepatan aliran dan jumlah pipa. Tidak Diterbitkan. Skripsi.
Surabaya: ITS.

LAMPIRAN

Hasil
Kekeruhan
(NTU)
Asam Basa
2.7 4.95
3.38 16.33
3.06 16.28
3.07 14.86
3.02 9.32

Waktu
0
20
40
60
80

DHL
TDS (mg/L)
pH
DO (mg/L)
(micros/cm)
Asam Basa Asam Basa Asam Basa Asam Basa
1.019 1.345
646 913 2.71 10.27
5.0
3.8
0.962 1.315
683 877 3.02 9.32
5.1
6.7
0.971 1.269
663 869 3.36 9.62
4.6
4.6
1.007 1.048
733 722 3.02 9.93
7.5
4.6
1.156 1.504
787 977 3.15 9.81
5.0
7.0

Perhitungan konsentrasi Fe2+

BM = 158.03 g/mol
BE =
=
= 31.606 g/mol
Awal :
Asam

Basa

= 0.126 gr/mol

=0.032 gr/mol

20 menit :
Asam
=0.016 gr/mol
(

Basa

Kadar Fe
(g/mol)
Asam Basa
0,032 0,126
0,016 0,016
0,032 0,032
0,032 0,016
0,063 0,032

=0.016gr/mol

40 menit :
Asam

Basa

=0.032 gr/mol

=0.032 gr/mol

60 menit :
Asam

Basa

=0.032gr/mol

=0.016 gr/mol

80 menit :
Asam

Basa

=0.063 gr/mol

=0.032gr/mol