Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Terung (Solanum melongena, di Pulau Jawa lebih dikenal sebagai terong) adalah
tumbuhan penghasil buah yang dijadikan sayur-sayuran. Asalnya adalah India dan Sri Lanka.
Terung berkerabat dekat dengan kentang dan leunca, dan agak jauh dari tomat.
Terung ialah terna yang sering ditanam secara tahunan. Tanaman ini tumbuh hingga
40-150 cm (16-57 inci) tingginya. Daunnya besar, dengan lobus yang kasar. Ukurannya 10-20
cm (4-8 inci) panjangnya dan 5-10 cm (2-4 inci) lebarnya. Jenis-jenis setengah liar lebih besar
dan tumbuh hingga setinggi 225 cm (7 kaki), dengan daun yang melebihi 30 cm (12 inci) dan
15 cm (6 inci) panjangnya. Batangnya biasanya berduri. Warna bunganya antara putih hingga
ungu, dengan mahkota yang memiliki lima lobus. Benang sarinya berwarna kuning. Buah
tepung berisi, dengan diameter yang kurang dari 3 cm untuk yang liar, dan lebih besar lagi
untuk jenis yang ditanam.Dari segi botani, buah yang dikelaskan sebagai beri memiliki
banyak biji yang kecil dan lembut. Biji itu dapat dimakan tetapi rasanya pahit karena
mengandung nikotin, sejenis alkaloid yang banyak dikandung tembakau.
Terung ialah tumbuhan pangan yang ditanam untuk buahnya. Asal-usul budidayanya
berada di bagian selatan dan timur Asia sejak zaman prasejarah, tetapi baru dikenal di dunia
Barat tidak lebih awal dari sekitar tahun 1500. Buahnya mempunyai berbagai warna, terutama
ungu, hijau, dan putih. Catatan tertulis yang pertama tentang terung dijumpai dalam Q mn
yo sh, sebuah karya pertanian Tiongkok kuno yang ditulis pada tahun 544. Banyaknya
nama bahasa Arab dan Afrika Utara untuk terong serta kurangnya nama Yunani dan Romawi
menunjukkan bahwa pohon ini dibawa masuk ke dunia Barat melewati kawasan Laut Tengah
oleh bangsa Arab pada awal Abad Pertengahan. Nama ilmiahnya, Solanum melongena,
berasal dari istilah Arab abad ke-16 untuk sejenis tanaman terung.

Karena terung merupakan anggota Solanaceae, buah terung pernah dianggap beracun,
sebagaimana buah beberapa varietas leunca dan kentang. Sementara buah terung dapat
dimakan tanpa dampak buruk apa pun bagi kebanyakan orang, sebagian orang yang lain,
memakan buah terung (serupa dengan memakan buah terkait seperti tomat, kentang, dan
merica hijau atau lada) bisa berpengaruh pada kesehatan. Sebagian buah terung agak pahit
dan mengiritasi perut serta mengakibatkan gastritis. Karena itulah, sebagian sumber,
khususnya dari kalangan kesehatan alami, mengatakan bahwa terung dan genus terkait dapat
mengakibatkan atau memperburuk artritis dengan kentara dan justru itu, harus dijauhi oleh
mereka yang peka terhadapnya (Christman., 2007).

BAB II
Morfologi dan Anatomi Tanaman Terong
A. Morfologi
Daun : berbentuk bulat telur, elips,atau memanjang, memilikrmukaan yang cukup luas (3-15
cm x 2-9 cm), bentuk helaiannya menyerupai telinga, letak helaian daun- daunnya tersebar
pada cabang batang, umumnya berlekuk dengan tepi daun berombak, kedua sisi daun
umumnya ditutupi rambut tipis yang masing-masing berbentuk bintang berwarna kelabu,
tulang daun tersusun menyirip, pada tulang daun yang bersar sering terdapat duri tempel.
Batang

:tumbuh tegak, cabang-cabangnya tersusun rapat, berbentuk bulat, berwarna


keunguan, umumnya ditutupi rambut tipis berbentuk bintang berwarna kelabu, ada
yang memiliki duri tempel dan ada yang tidak memiliki.

Akar

: memiliki sistem perakaran tunggang, berwarna putih kecoklatan.

Bunga : merupakan bunga majemuk dan sempurna, tumbuh pada cabang batang secara
berseling, panjang anak tangkai bunga antara 1-2 cm, kelopak bertaju lima dan berambut,
tabung kelopak berbentuk lonceng dan bersudut dengan tinggi 5-6 mm, mahkotanya berwarna
ungu dan berjumlah lima, satu sama lain dihubungkan dengan selaput tipis, kepala sarinya
berwarna kuning, tergolong dalam bunga banci atau berkelamin dua (hermaphroditus) : pada
bunga terdapat benang sari maupun putik, kelopak yang tetap berkembang (ikut) menjadi
bagian buah
Buah

: berbentuk buni atau bulat memanjang, panjang tangkainya kurang lebih 3 cm,
diameter buah 3 cm, buahnya berwarna ungu atau kuning.

Biji

: berbentuk bulat pipih, berwarna kuning kecoklatan ((Tjitrosoepomo, 2005).

B. Anatomi
DAUN
a.

Tipe stomata : anisositik (cruciferous), yaitu tiap sel penjaga dikelilingi oleh tiga sel

tetangga yang ukurannya tidak sama.

(A)

(B)

Keterangan : (A) penampang membujur daun Solanum melongena.


(B) stomata pada daun Solanum melongena
b. Pada tangkai daun yang telah dewasa, kolenkimanya bersifat permanen, tidak berkayu,
dan bertipe angular, yaitu di mana sel kolenkim mengalami penebalan hanya pada sudut-sudut
sel dan sel tersusun sangat rapat.

(B)
Keterangan : (A) penampang membujur kolenkim angular, (B) penampang melintang
kolenkim angular.
BATANG
b.

Pada berkas pengangkutnya floem juda ditemukan di bagian dalam xylem (floem
internal/intraxiler) dan berkembang sedikit lebih dari floem eksternal.

c.

Tipe susunan xilem dan floem dalam berkas pengangkutnya adalah bikolateral, dengan
susunan dari luar ke dalam berturut-turut ialah floem eksternal-kambium-xylem-floem
internal.

d. Tipe stele : eustele, di mana berkas pengangkut tersusun melingkar.

(B)
Keterangan : (A) Penampang melintang batang muda yang floem internalnya dapat
dibedakan, (B) Penampang melintang batang dewasa yang memungkinkan
dibedakan parenkima korteks di bawah epidermis berkembang menjadi
klorenkima dan dihasilkan xylem sekunder dalam jumlah cukup banyak.
AKAR
a.

Meristem primer, kaliptrogen, dermatogen, plerom, dan periblem yang berasal dari
promeristem tidak terdeferensiasi dengan jelas.

b. Epidermis tersusun atas selapis sel. Pada epidermis ini terdapat rambut akar.
c.

Korteks tersusun atas enam lapis sel-sel parenkim.


d. Endodermis dan perisikel terdiri atas selapis sel.
e.

Akar lateral berasal dari sel-sel perisikel.

f.

Stele pada akar primer tersusun atas dua lengkungan protostele yang tersusun secara radial.

g. Transisi pada akar berjalan lambat pada hipokotil. Perubahan pertama merupakan perekahan
dari lempeng xylem dan dua kelompok floem primer, membentuk dua unit xylem dan floem
primer. Pada tingkat yang lebih tinggi, metaxylem bercabang menjadi dua dan terjadi
diferensiasi kea rah dalam pada dua kelompok floem.
h. Di dekat kotiledon terdapat pemisahan dari dua ikatan ganda yang dibentuk oleh perekahan
lengkunngan xylem. Salah satu dari ikatan ini menjadi bekas pembuluh dari salah satu
kotiledon, dan unit lainnya menjadi bagian dari kotiledon yang lain.
i.

Dengan diferensiasi ke arah dalam dan pembagian selanjutnya, beberapa floem primer
akhirnya berada pada sisi berlawanan dari permukaan dalam xylem primer. Empat kelompok
floem yang terletak di dekat metaxylem perlahan-lahan memposisikan diri secara tangensial,
terutama pada sisi luar titik protoxylem. Perkembangan ini akan berlanjut sampai kondisi
bikolateral terbentuk.

j.

Pelengkungan terakhir tidak tercapai pada hipokotil, tetapi pada tengah kotiledon.
BUNGA

a.

Bunga Solanum melongena merupakan bunga yang terspesialisasi tingkat tinggi, stilus dan
stigmanya seluruhnya bersatu.

b. Mekanisme terbentuknya kantung polen pada benang sari Solanum melongena adalah sebagai
berikut :
Selama proses dehidrasi anter, endotesium kehilangan air sehingga dinding tiap sel
tertarik ke bagian tengah akibat daya kohesi antarmolekul air dan daya adhesi antara air dan
dinding sel. Karena tidak ada penebalan dalam dinding periklinal sebelah luar, maka terjadi
lebih banyak lipatan daripada dinding antiklinal dan dinding periklinal sebelah dalam yang
menebal. Jadi karena hilangnya air, irisan melintang sel berbentuk trapesium. Karena semua
sel endotesium kehilangan air secara hampir bersamaan dan semua dinding luar melipat dan
berkerut, maka endotesium menyusut sehingga terjadi bukaan pada anter. Sel-sel yang

terdapat di sepanjang tepi anter yang merekah berdinding tipis. Daerah perekahan itu
berbentuk celah longitudinal di antara kedua kantung polen tiap cuping. Tiap celah itu disebut
stomium, yang terdapat di bagian atas anter.
BUAH
Butir tepung (amilum) bertipe eksentris, di mana bentuk butir tepung bulat telur dan hilus
tidak di tengah.
a.

Jejak foliar pada internoda pertama melengkung secara sempurna, dan diferensiasi
berlawanan pada pembuluh hipokotil berada di bawah lempeng kotiledon (Fahn , 1982).

C.

Fisiologi

Solanum melongena merupakan tumbuhan yang melakukan reaksi sintesis C3. dalam sintesis
C3, CO2 difiksasi ke gula berkarbon lima, yaitu ribulosa bifosfat (RuBP) oleh enzim
karboksilase RuBP (rubisko). Molekul berkarbon enam yang terbentuk tidak stabil dan segera
terpisah menjadi dua molekul fosfogliserat (PGA). Molekul PGA merupakan karbohidrat
stabil berkarbon tiga yang pertama kali terbentuk sehingga cara tersebut dinamakan sintesis
C3.
Molekul PGA bukan molekul berenergi tinggi. Dua molekul PGA mengandung energi yang
lebih kecil dibandingkan satu molekul RuBP, sehingga fiksasi CO2 berlangsung spontan dan
tidak memerlukan energi dari reaksi terang (fotosintesis). Untuk mensintesis molekul
berenergi tinggi, energi dan electron dari ATP maupun NADPH hasil reaksi terang digunakan
untuk mereduksi tiap PGA menjadi fosfogliseraldehida (PGAL). Dua molekul PGAL dapat
membentuk satu molekul glukosa. Satu siklus Calvin telah lengkap bila pembentukan glukosa
disertai dengan regenerasi RuBP. Satu molekul CO 2 yang tercampur menjadi enam molekul
CO2. Ketika enam molekul CO2 bergabung dengan enam molekul RuBP dihasilkan satu
glukosa dan enam RuBP sehingga siklus dapat dimulai kembali.
D. Kandungan Kimia

a.

Flavonoid

b. Polifenol
c.

Saporin : membantu proses pembuatan hormone testosterone

d. Tripsin : menghambat pembentukan radikal bebas, menurunkan LDL kolesterol, dan


melawan sel kanker
e.

Asam folat : bermanfaat bagi wanita dan janin dalam kandungan (Heddy , 1987).

a.

Taksonomi
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Class

: Dicotyledoneae

Ordo

: Solanales

Familia

: Solanaceae

Genus

: Solanum

Spesies

: Solanum melongena L.:

BAB III
Jenis - Jenis Terong
1. Terong Pipit
Biasa disebut terong mini karena ukurannya yang kecil. Bentuknya bulat, selain berwarna
hijau, juga ada yang berwarna ungu. Umumnya dimakan sebagai lalapan dan biasa terhidang
di menu masakan Sunda, seperti karedok (pecel dengan sayuran serba mentah).
2. Terong Telunjuk
Bentuknya panjang seperti telunjuk, dan lazim terdapat di menu masakan Sumatera.
Misalnya, dimasak untuk bumbu gulai dengan campuran udang atau daging sapi serta
disambal balado, dapat juga ditumis dengan tambahan tauco.
3. Terong Ungu

Jenis ini yang paling terkenal dari terong. Bentuknya beragam, ada yang bulat dan yang
panjang. Jenis terong ungu dengan warna lebih tua dijuluki terong jepang karena sering
digunakan pada kuliner Jepang, seperti tempura. Selain kering, rasanya juga renyah.
Sementara yang warnanya tidak terlalu gelap, berkarakter lebih lunak. Ada juga yang
berwarna hijau, dan biasa dimasukkan sebagai bahan sayur lodeh.
4. Terong Belanda
Bentuknya lonjong menyerupai telur namun lebih runcing ujungnya,daging buahn
banyak mengandung sari buah, rasanya agak asam, berwarna agak hitam sampai kekuningkuningan, kulit buah tipis. Sewaktu belum matang, warnanya kuning lalu berubah menjadi
ungu ketika sudah matang. Bijinya bulat pipih, tipis dan keras. Berbeda dengan jenis terong
lain, terong belanda ini biasa diolah menjadi jus (Esau, 1965).

BAB IV
Hama dan Penyakit Tanaman Terung
A. Hama Pada Tanaman Terung

1. Kumbang Daun (Epilachna spp.)


Gejala

serangan

adanya

bekas

gigitan

pada

permukaan

daun

sebelah

bawah

Bila serangan berat dapat merusak semua jaringan daun dan tinggal tulang-tulang daun saja
Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan kumbang, atur waktu tanam, jika jika
diperlukan lakukan penyemprotan dengan Insektisida adapun merek bermacam-macam dapat
di tanyakan ke toko pertanian terdekat.
2. Kutu Daun (Aphis spp.)Menyerang dengan cara mengisap cairan sel, terutama pada bagian
pucuk atau daun-daun masih muda, akibatnya daun tidak normal, keriput atau keriting atau
menggulung

Aphis

spp

sebagai

vektor

atau

perantara

virus

Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, jika populasi Aphis
banyak dapat di gunakan Insektisida dengan tipe " Racun Contak " , tetapi disarankan
menggunakan Insektisida dengan tipe " Racun Sistemik " Jika ingin lebih aman gunakan
Insektisida botani ' misalnya menggungkan Ekstrak Bawang putih, Aroma bawang putih tidak
disukai oleh Aphis, tetapi penyemprotan ke-2 dst tidak terlalu berpengaruh terhadap Aphis.
3.Tungau ( Tetranynichus spp.)Serangan hebat musim kemarau. Menyerang dengan cara
mengisap cairan sel tanaman, sehingga menimbulkan gejala bintik-bintik merah sampai
kecoklat-coklatan atau hitam pada permukaan daun sebelah atas ataupun bawah.
Cara pengendalian sama seperti pada pengen dalian kutu daun, disarankan menggunakan
Insektisida dengan tipe " Racun Sistemik "
4. Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)
Bersifat polifag, aktif senja atau malam hari. Menyerang dengan cara memotong titik tumbuh
tanaman yang masih muda, sehingga terkulai dan roboh, pada siang hari ulat bersembunyi,
sehingga sangat sulit menemukan ulat Agritus ipsilon pada siang hari.
Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan ulat, Lakukan penyemprotan dengan
insektisida pada sore ( 17.00 ) atau pagi kurang dari 05.00, gunakan insektisida dengan tipe "

Racun perut ", jika menggukanan racun kontak semprot pada malam hari ketika ulat mulai
muncul, tetapi perlu di pertimbangkan penyemprotan pada malam hari akan terkendala oleh
penerangan.
5.Ulat Grayak (Spodoptera litura, F.)
Bersifat polifag. Menyerang dengan cara merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang.
Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, mengumpulkan ulat, jika
perlu gunakan Insektisida
6.Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)
Bersifat polifag, menyerang buah dengan cara menggigit dan melubanginya, sehingga bentuk
buah

tidak

normal,

dan

mudah

terserang

penyakit

busuk

buah.

Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan buah terserang, lakukan pergiliran tanaman
dan waktu tanam sanitasi kebun (Anonim, 1997)
B. Penyakit Pada Tanaman Terung
1. Layu Bakteri
Penyebab

bakteri

Pseudomonas

solanacearum.

Bisa

hidup lama

dalam tanah

Serangan hebat pada temperatur cukup tinggi


Gejala serangan terjadi kelayuan seluruh tanaman secara mendadak, Sebenarnya serangan
Layu bakteri bersifat lokal, seperti pembuluh Xylem / pembuluh angkut, tetapi karena
menyerangya pada akar atau leher akar sehingga pasokan air dan hara tanaman dari tanah ke
daun terhambat sehingga gejala yang muncul adalah kelayuan yang bersifat sistemik.
Pengendaliannya : Atur jarak tanam, sehingga kelembaban tidak terlalu lembab. Lakukan
pergiliran tanaman, jangan menanam tanaman yang berjenis Solanaceae seperti tomat,
tembakau dll karena akan memperparah serangan. Gunakan Bakterisida
2. Busuk Buah

Penyebab

jamur

Phytophthora

sp.,

Phomopsis

vexans,

Phytium

sp.

Gejala serangan adanya bercak-bercak coklat kebasahan pada buah sehingga buah busuk.
Pengendalian : gunakan Fungisida
3. Bercak Daun
Penyebab : jamur Cercospora sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea
Gejala bercak-bercak kelabu-kecoklatan atau hitam pada daun.
4. Antraknose
Penyebab : jamur Gloesporium melongena
Gejala bercak-bercak melekuk dan bulat pada buah lalu membesar berwarna coklat dengan
titik-titik hitam
5.Busuk Leher akar
Penyebab ; Sclerotium rolfsii
Gejala pangkal batang membusuk berwarna coklat
6.Rebah Semai
Penyebab : Jamur Rhizoctonia solani dan Pythium spp. Gejala batang bibit muda kebasahbasahan,

mengkerut

dan

akhirnya

roboh

dan

mati

Cara pengendalian Penyakit:


Tanam varietas tahan, atur jarak tanam dan pergiliran tanaman, perbaikan drainase, atur
kelembaban dengan jarak tanam agak lebar (Steenis , 1992)

Daftar Pustaka
Anonim, 1997, Inventaris Tanaman Obat Indonesia (IV) , Departemen Kesehatan Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta.
Christman, S., 2007, Solanum melongena, http://www.floridata.com , diakses tanggal 6
Februari 2007.
Esau, K., 1965, Plant Anatomy, second edition ,John Wiley & Sons, Inc., New York.
Fahn, A., 1982, Anatomi Tumbuhan, Edisi Ketiga, UGM Press, Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 2005, Morfologi Tumbuhan, UGM Press, Yogyakarta.
Heddy, S., 1987, Biologi Pertanian, Rajawali Pers, Jakarta.
Steenis, v., 1992, Flora, Cetakan keenam, Penerjemah: Ir. Moeso Soerjowinoto, PT Pradnya
Paramita, Jakarta.