Anda di halaman 1dari 4

HARI HABITAT 2014

halaman 3

TARGET SERTIPIKASI PRODA


TAHUN 2015
halaman 4

25 TAHUN KIPRAH BKPRN: PENYUSUNAN RANCANGAN .... HAL 2

RESENSI BUKU:
PENATAAN RUANG: SEBUAH CERMIN
PERADABAN
halaman 4

NEWSLETTER

TATA RUANG PERTANAHAN


MEDIA INFORMASI BIDANG TATA RUANG DAN PERTANAHAN

EDISI 10/ NOVEMBER 2014

KILAS BALIK: DINAMIKA ISU TATA RUANG DAN PERTANAHAN

Selamat Datang Kementerian Agraria dan Tata Ruang!

Kabinet Kerja Jokowi - JK


Pengumuman menteri dan kabinet oleh
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden
Jusuf Kalla di Istana Negara, Jakarta,
menjadi sorotan utama di bulan ini.
Kabinet ini dinamai Kabinet Kerja yang
terdiri atas empat menteri koordinator
dengan 34 kementerian. Salah satu
kementerian yang diumumkan adalah
Kementerian Agraria dan Tata Ruang.
Ferry Mursyidan Baldanpolitisi Partai
Nasdem yang pernah menjadi anggota
DPR dari Partai Golkardipercaya
sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang.
Kehadiran
Kementerian
Agraria
meniupkan angin segar bagi kita yang
mendambakan penyelesaian masalahmasalah agraria yang kronis dan genting.
Ketimpangan pemilikan dan penguasaan
tanah, maraknya sengketa dan konflik
agraria, kapitalisme dan sektoralisme
dalam kebijakan, serta degradasi ekologi
yang menuntut penuntasan segera.

Sumber agraria bisa berupa tanah, lahan


pertanian, hutan, kebun, tambang, laut,
pesisir, pantai, lembah, bukit, danau, sungai,
dan sebagainya. Cakupan pengertian tanah
dan kekayaan alam yang terkandung dalam
pengertian agraria bersifat kompleks.
Kompleksitas keagrariaan ini menyangkut
aspek sosial, budaya, hukum, politik,
ekonomi, religi, bahkan pertahanan dan
keamanan. Perhatian terhadap masalah
agraria
makin
penting
mengingat
sebagian
besar
penduduk
sangat
bergantung pada tanah masih melarat.
Tata Ruang Laut
Untuk
menyinergikan
pembangunan
dan pemanfaatan laut, penentuan pusat
pertumbuhan ekonomi, riset, konservasi,
serta konektivitas dibutuhkan adanya Tata
Ruang Laut. Berdasarkan data Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP), hingga saat
ini baru 4 provinsi dan 12 kabupaten/kota
yang memiliki zonasi tata ruang laut dari
total 34 provinsi dan 319 kabupaten/kota
pesisir. Empat provinsi itu adalah Jawa Barat,
Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Sejauh ini, Indonesia telah mengeluarkan
skema perizinan di perairan kurang dari
22,22 km yang diatur dalam UU No 1 Tahun
2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil. Laut Indonesia
meliputi laut teritorial dari garis pantai

hingga 12 mil (22,22 kilometer), Zona


Ekonomi Eksklusif Indonesia 12-200 mil
(22,22 km-370,4 km), hingga laut lepas
(di atas 370,4 km). Selain itu, landas
kontinen sepanjang 22,22 km-648,2 km.
Selain kebutuhan akan tata ruang laut,
tanggul raksasa (giant sea wall) atau
proyek Pembangunan Terpadu Pantai
Ibu Kota Negara (PTPIN) menjadi salah
satu perhatian pemerintah. Pemerintah
merencanakan proyek PTPIN yang total
investasinya diperkirakan mencapai Rp
400 triliun hingga Rp 500 triliun akan
selesai pada 2030. Pembangunannya akan
melibatkan pemerintah pusat, Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta, dan 17 pengembang.
Untuk pembangunan waduk sepanjang 33
kilometer tersebut, sepanjang 8 kilometer
menjadi tanggung jawab pemerintah
pusat dan Pemprov DKI Jakarta. Nilai
investasi Rp 3,2 triliun dibagi dua antara
pusat dan daerah masing-masing Rp 1,6
triliun. Anggarannya akan dialokasikan
dalam tiga tahun, yakni 2015-2017.
Pasca pengesahan UU Kelautan pada
29 September 2014, Pemerintah mulai
membuka investasi sektor kelautan hingga
ke laut lepas. Investasi yang ditawarkan
mencakup wisata bahari, energi dan
sumber daya mineral, minyak dan gas,
perkapalan, perikanan dan farmasi,
jasa maritim, serta telekomunikasi.

REDAKSI:
| Penanggung Jawab : Direktur Tata Ruang dan Pertanahan |
| Tim Redaksi : Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan | Editor : Astri Yulianti, Santi Yulianti, Gina Puspitasari | Desain Tata Letak : Indra Ade Saputra dan Astri Yulianti |

POTRET KEGIATAN:

25 Tahun Kiprah BKPRN:

Penyusunan Rancangan Teknokratik RPJMN Bidang Tata Ruang 2015 - 2019

Penyediaan tanah menjadi faktor penting


dalam pembangunan infrastruktur di
Indonesia. Dengan kemunculan konflik
lahanJakarta,
yang (15/9),
menghambat
penyediaan
Kementerian
PPN/
tanah,Bappenas,
membuat
ide pembentukan
Bank
sebagai
Sekretaris BKPRN
bilateral
Tanahmengadakan
mencuat ke pertemuan
permukaan. Hal
itulah
dengan Direktorat Tata Ruang Wilayah
yang Nasional,
kemudian dibahas
dalam Focus
Group
Kementerian
Pekerjaan
Discussion
Land Policy,
yangevaluasi
diadakan
UmumUrban
sebagai
bentuk
rangka
memperingati
25 tahun
oleh dalam
Direktorat
Perumahan
dan Permukiman
berkiprahnya BKPRN. Pada pertemuan
Kementerian
PPN/Bappenas,
Hotel
ini dibahas tiga agenda di utama,
yakni: penyusunan Buku III RPJMN
Tahun 2015-2019; tindak lanjut hasil
Rakernas BKPRN 2013 dan Raker
Regional BKPRN 2014; serta evaluasi
selama 25 tahun BKPRN berkiprah.
Pada substansi RT RPJMN 2015
2019, diusulkan penambahan
5 KSN Perkotaan baru di Wilayah
Sumatera (Perkotaan Palembang,
Perkotaan
Padang),
Kalimantan
(Banjarmasin), Sulawesi (Perkotaan
Manado), dan Nusa Tenggara Barat
(Perkotaan Mataram). Selain itu,
muncul pula usulan lain penambahan
2 KSN Perkotaan baru di dalam
PK RTRWN yaitu Banjar Bakui dan
Minima. Namun, kriteria pemilihan
KSN perlu dibahas lebih lanjut
karena usulan penambahan KSN
baru dikhawatirkan menyebabkan
perencanaan menjadi tidak efektif.

Sebaiknya
pengembangan
kawasan
perkotaan baru diarahkan sebagai Pusat
Kegiatan Nasional (PKN), bukan KSN.
Sementara itu, Kementerian Pekerjaan
Umum mengusulkan agar lampiran peta
pulau dalam RPJMN mencantumkan KSNKSN di pulau tersebut dan dalam program
prioritas pengembangan per pulau dapat
merujuk pada program prioritas KSN yang
disesuaikan dengan sudut kepentingan
masing-masing pulau. Tema-tema besar
perencanaan
diusulkan
pula
untuk
dimasukkan ke dalam Buku III RPJMN 20152019, seperti LP2B, perencanaan berbasis
perubahan iklim, dan ketahanan energi.
Pada kegiatan itu pun dibahas mengenai
materi muatan dalam revisi RTRWN, di
antaranya: (i) usulan KSN Perkotaan baru;
(ii) efektivitas pembentukan kawasan
perkotaan baru dalam bentuk KSN atau PKN;
dan (iii) rencana pembuatan metropolitan
baru yang dinilai kurang efektif dalam
pengembangan wilayah nasional. Sejalan
dengan itu, perlu dilakukan penelaahan
materi perencaanan dalam UU No. 26 Tahun
2007 agar setiap perencanaan mulai dari
tingkat nasional hingga tingkat daerah
dapat sinergi, termasuk dokumen KLHS yang
seharusnya embedded dalam dokumen RTR.

Diusulkan pula penyusunan RTR KSN baru


Ambhara,
Jakarta
(8/7).heritage, antara lain
yang
termasuk
world
Sangiran, Trowulan, dan Bali-Landscape.
FGD ini,
Urban
Landterdapat
Policy dilaksanakan
dalam rangka
Saat
masih
8 KSN Kawasan
Perbatasan
yang
menunggu
untukReform
penyusunan Roadmap
Housing Policy
dilegalkan
dan 4 KSN
belum disusun
sebagai masukan
bagiyang
penyusunan
RPJMN 2015materi teknisnya. Ditargetkan 76 KSN yang
2019 Bidang Perumahan
dan pada
Permukiman.
direncanakan
dapat selesai
Tahun Pada
2016.
Lebih
sebaiknya
FGD ini
turutlanjut,
hadir ke
puladepan
Direktorat
Tata Ruang
disusun
roadmap untuk
penyusunan
dan Pertanahan
Bappenas,
Badan RRTR
Pertanahan
dalam mendukung prioritas penyediaan
Nasional,
Kementerian
Perumahan
Rakyat,
peta skala rinci untuk Tahun 2015. HUD,
dan Perumnas.
Terkait dengan RZWP3K dan RTRW,
Kementerian
PPN/Bappenas
dan
Direktur Perumahan
dan Permukiman,
Ir.
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Nugroho
Tri Utomo,
MRP, hal
mengungkapkan
telah
menyepakati
beberapa
sebagai
berikut:
(i) pengaturan
kecamatan
pesisir
bahwa FGD
ini dilaksanakan
untuk menyepakati
sepenuhnya
mengikuti
pengaturan
teknik penyediaan
tanah yang paling
efektif dan
dalam RTRW, KKP akan memberikan
menyepakati model
pembentukan
rekomendasi
dalamdan tahapan
perencanaannya
mengingat
bank tanah. kawasan pesisir memiliki
ekosistem yang berbeda dengan daratan
Pembentukan
bank tanah
dimaksudkan
lainnya;
(ii) pengaturan
pulau-pulau
kecil untuk
sepenuhnya
dalam
memperkuatmengikuti
UU No. pengaturan
2 Tahun 2013
tentang
RZWP3K; dan (iii) untuk jangka pendek,
Penyediaan
Tanah
Bagi
Pembangunan
pilihan untuk integrasi RTRW dan RZWP3K untuk
umum.atau
Dengan
kekepentingan
dalam 1 perda
perda adanya
terpisah bank
sepenuhnya
kepadaproses
daerah.akuisisi
tanah dapatdiserahkan
mempercepat
Sementara,
Rencanakhususnya
Tata Ruangbagi
Lauttanahlahan olehuntuk
pemerintah,
Nasional
(RTRLN), serta
forum penyediaan
mengusulkantanah
agar bagi
tanah terlantar
sebaiknya materi substansi RTRLN masuk ke
dalam muatan laut nasional dalam RTRWN
saja, tanpa pembentukan regulasi baru.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
RTRLN yakni urgensi pembentukan Kawasan
Strategis Nasional Tertentu (KSNT) dan
antisipasi kebijakan pendulum nusantara.
Kelembagaan BKPRN
Dari hasil evaluasi di bidang kelembagaan,
peran Tim Pelaksana dan Pokja belum
berjalan secara optimal. Keberlangsungan
agenda pokja masih terkesan terkotakkotak, bukan secara utuh sebagai kegiatan
BKPRN bersama. Di sisi lain, kegiatan
BKPRN selama ini masih terfokus pada halhal yang bersifat pagelaran. Tahun 2015,
diharapkan BKPRN sudah mulai fokus ke
dalam RPJMN, sehingga program-program
yang ada di dalam RPJMN dapat masuk ke
semua renstra K/L anggota BKPRN. [ZH/CP]

Konsultasi RTRWP dan RTRWK

Kunjungan Kerja DPRD Provinsi Kalimantan Selatan


Penyusunan Rencana Tata Ruang
Wilayah Propinsi (RTRWP) dan
kabupaten/kota (RTRWK) sangat terkait
dengan penataan dan keberadaan
kawasan hutan. Penyusunan RTRWP
masih menyisakan persoalan terkait
dengan penyelesaian yang berlarutlarut terhadap usulan revisi dari
beberapa pemerintah provinsi. Hal
tersebut mengemuka pada kunjungan
kerja yang diakukan DPRD Provinsi
Kalimantan Selatan (Kalsel) dan
Kepala Bappeda Pemerintah Propinsi
Kalimantan Selatan ke Direktorat Tata
Ruang dan Pertanahan, Kementerian
PPN/Bappenas,
Selasa,
(28/10).
Kunjungan kerja tersebut bertujuan
untuk
berkonsultasi
mengenai
permasalahan tata ruang di wilayahnya.
Pimpinan DPRD Propinsi Kalsel
diterima oleh Direktur Tata Ruang dan
2 Pertanahan, Ir. Oswar Mungkasa, MURP

dan didampingi oleh Kepala Subdit Informasi


dan Sosialisasi, Santi Yulianti, SIP, MM., serta
Pelaksana harian dari Sekretariat Badan
Penataan Ruang Nasional (BKPRN), Ir. Rinella
Tambunan, serta perwakilan Direktorat
di lingkungan Kedeputian Regional dan
Otonomi Daerah Kementerian PPN/Bappenas.
Hingga saat ini, status RTRW Propinsi
Kalsel
belum
ditetapkan, sementara
rancangan Perda RTRW sudah mendapatkan
persetujuan substansi teknis dari Menteri
PU sejak 2010 (Kepmen PU No. HK.01.02.
Mn/682), dan persetujuan substansi Menteri
Kehutanan sejak 2009 (Kepmenhut No. SK
435/Menhut-II/2009). Namun, dalam SK
Menteri Kehutanan, penetapan pelepasan
kawasan hutan hanya 59 ribu Ha dari
usulan seluas 250 ribu Ha. Untuk itu Pemda
mengajukan kembali usulan perubahan
kawasan hutan karena secara eksisting
kawasan yang ditetapkan sebagai hutan
sudah bukan hutan, dan hingga saat ini

belum ada kepastian atas usulan tersebut.


Dalam Kepmenhut No. SK 435/MenhutII/2009 tidak ada DPCLS sehingga tidak
dapat menggunakan mekanisme holding
zone dan tidak menunggu persetujuan DPR.
Selain itu, izin yang keluar sebelum adanya
Kepmenhut No. SK 435/Menhut-II/2009
dan mengacu pada Kepmenhut No. SK 453/
Menhut-II/1999, dalam perjalanannya tidak
dapat diproses meskipun dalam Kepmenhut
No. SK 435/Menhut-II/2009 terdapat klausa
bahwa izin tersebut tetap dapat berlaku.
Oswar mengusulkan untuk masalah
kehutanan, dapat menggunakan SKB 4
Menteri (Menteri Pekerjaan Umum, Menteri
Dalam Negeri, BPN, dan Menteri Kehutanan)
tentang tata cara penyelesaian penguasaan
tanah yang berada di dalam kawasan hutan.
Terkait dengan peta, di dalam RT RPJMN 2015
2019 sudah masuk kebijakan percepatan
peta skala 1:5.000 oleh BIG. [GP/SY]

WAWASAN

Hari Habitat 2014: Menuju 100-0-100

Tema Hari Habitat 2014


Setiap tahun pada hari Senin pertama
bulan Oktober, PBB menetapkan sebagai
Hari Habitat Dunia. Peringatan Hari
Habitat pada Tahun 2014 mengambil
tema aspirasi dari permukiman, atau
Suara dari Pemukiman Kumuh. Tema
tersebut diambil sebagai sebuah upaya
untuk menyoroti kesulitan hidup di
daerah kumuh melalui suara masyarakat
miskin perkotaan sementara, juga untuk
mengangkat pengalaman dan ide-ide
mereka dan mengenai bagaimana untuk
meningkatkan kondisi hidup mereka.
Menurut Menteri Pekerjaan Umum pada KIB
II, Djoko Kirmanto, tujuan dari agenda Hari
Habitat Dunia adalah sebagai momentum
untuk membahas kondisi permukiman
dunia dan penghargaan atas hunian layak
bagi warga serta mengingatkan para
pemangku kepentingan akan tanggung
jawab bersama atas kehidupan hunian
yang lebih baik. Pada kesempatan itu
pula, Djoko Kirmanto menyerahkan
Buku Laporan Nasional Untuk Agenda
Habitat III yang disusun dalam rangka
menyiapkan Konferensi Habitat III Tahun
2016 kepada Presiden RI yang menjabat
saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.
Forum Habitat 2014
Pada peringatan Hari Habitat 2014,
diselenggarakanlah Forum Habitat 2014
di Hotel Borobudur, Jakarta, (2/10) yang
bertujuan untuk mempertemukan antara
pemangku kepentingan terkait pada
forum tersebut. Dengan adanya forum ini,
diharapkan para pemangku kepentingan
dapat
meningkatkan
kesadaran
mengenai kondisi lingkungan di kawasan
kumuh, memberikan contoh melalui
kisah nyata terutama bagi pengambil
keputusan, dan membagi pengalaman
dan penanganan kumuh di kota dan
kawasan perkotaan di negara lain.
Pertemuan
tersebut,
dibagi
dalam
dua
sesi
diskusi
panel.
Diskusi panel pertama mengambil tema

Understanding Slums and Learning


From Others dan mengundang beberapa
negara untuk menceritakan pengalaman
dan kisah mereka. Adapun negara yang
diundang untuk mengisi diskusi tersebut
adalah India, Filipina, dan Korea Selatan.
India
menggunakan
pendekatan
pengembangan wilayah permukiman di
perkotaan yang terintegrasi dan didukung
pelayanan publik yang baik seperti
penyediaan sanitasi dan ketersediaan
air baku. Dalam pelaksanaannya mereka
membentuk
partisipasi
komunitas
masyarakat terutama kaum perempuan
dengan
pendekatan
perencanaan
berbasis
masyarakat
(bottom-up
planning) dan menggunakan metode GIS.
Wilayah Zamboanga, Filipina, yang
merupakan wilayah konflik militer
menggunakan
metode
pemindahan/
relokasi penduduk dari wilayah konflik ke
wilayah yang aman dengan menyediakan
lingkungan yang mendukung kehidupan
masyarakat,
seperti
penyediaan
infrastruktur publik, fasilitas militer,
dan
pelayanan
publik.
Bangunan
permukiman
disesuaikan
dengan
kondisi geografis dan didesain sesuai
rencana pembangunan rinci per persil.
Korea Selatan membuat klasifikasi
berbeda untuk kondisi permukiman yang
akan direhabilitasi seperti perbaikan
rumah, pembangunan rumah kembali,
perbaikan
lingkungan
permukiman
sehingga perlakuan setiap kelas akan
berbeda. Perencanaan perbaikan dan
pengembangan permukiman disesuaikan
dengan tujuan nasional, kesesuaian
dengan site plan dan melibatkan badan
usaha swasta yang berada di kawasan
tersebut. Pengembangan lebih lanjut
melibatkan
komunitas
masyarakat.
Menuju 100-0-100

berdiskusi
mengenai
permasalahan
dan solusi dalam menangani berbagai
permasalahan
di
daerah
mereka.
Salah satu kepala daerah yang turut
hadir dalam forum tersebut adalah
walikota Bandung, Ridwan Kamil.
Pada diskusi panel tersebut diusung
konsep menuju 100-0-100, dengan target
capaian berupa 100% akses air minum
yang layak, 0% kawasan kumuh dan
100% akses sanitasi hingga Tahun 2019.
Untuk mendukung program menuju 1000-100 tersebut, maka dilaksanakanlah
beberapa kegiatan seperti perbaikan
bantaran sungai sehingga dapat menjadi
tempat aktivitas warga, termasuk untuk
jadi wisata air dan transportasi air,
yang dilanjutkan dengan membuat
komunitas
warga
peduli
sungai.
Kemudian, perbaikan rumah tidak layak
huni (bedah rumah); perbaikan warung
melalui bedah warung dan Badan
Layanan Umum Daerah (BLUD) Kredit
Mikro bagi masyarakat yang mempunyai
usaha nyata (penjual kue, sayur
buah, ikan); relokasi warga kumuh ke
rusunawa; peningkatan layanan sanitasi,
persampahan, cakupan layanan air
bersih dan IPAL secara komunal berbasis
masyarakat dengan didampingi fasilitator.
Selain itu, usaha lainnya meliputi
pembangunan jalan, jembatan, goronggorong, bank sampah dan sebagainya
yang dikerjakan oleh masyarakat melalui
gotong royong; perwujudan tempat
pengajian Alquran gratis untuk anakanak tidak mampu; perwujudan program
persaudaraan madani (mempersaudarakan
warga mampu dengan tidak mampu),
ketika warga yang mampu membantu
memfasilitasi
warga
yang
tidak
mampu dengan mencarikan lapangan
kerja; dan perbaikan dan penataan
kawasan PKL. (dari berbagai sumber)

Diskusi panel kedua yang mengambil tema


Challenges and Lessons in Indonesia
mengundang para kepala daerah untuk

LINK TERKAIT
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan,
Bappenas
Portal Tata Ruang dan Pertanahan
Sekretariat BKPRN

Potret Kegiatan TRP

25 Tahun Kiprah BKPRN


Kunjungan Kerja DPRD Kalimantan Selatan
Target Sertipikasi PRODA Tahun 2015
3

Program Daerah Agraria (Proda)

The Awesome and Advanced Indonesia

Target Sertipikasi Tahun 2015 sebanyak 921 Bidang Tanah

Siti Sugiyanti (kiri), Kabid Pemerintah dan Aparatur, Bappeda


Kalimantan Timur didampingi oleh Kasubdit Pertanahan,
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Kementerian PPN/
Bappenas, Uke Muhammad Husein, MPP, (kanan).
Sumber: Dokumentasi TRP

Sesuai
dengan
Surat
Gubernur
Kalimantan Timur No. 591/7746/B.
PA-BAPP/2013 Tanggal 27 Agustus
2013 Perihal Pengalokasian Dana Pra
Sertipikasi Lahan Pertanian Tahun 2014,
maka perlu adanya penetapan besaran
target kegiatan sertipikasi tanah untuk
Tahun 2015. Hasil dari penetapan
besaran target kegiatan sertipikasi
tanah untuk PRODA Kalimantan Timur,
akan disampaikan kepada BPN Pusat
agar disiapkan di Tahun 2015, ungkap
Uke Muhammad Husein, Kepala Sub

Direktorat Pertanahan, Kementerian PPN/


Bappenas, pada kegiatan koordinasi dan
pemantauan PRODA Provinsi Kalimantan
Timur di Balikpapan, Kamis, (23/10).

berdasarkan subyek
ini dimaksudkan agar
dilakukan lebih objektif
tumpang tindih antara

Program
Daerah
Agraria
(PRODA)
merupakan program bantuan Pemerintah
Provinsi
Kalimantan
Timur
untuk
masyarakat di wilayahnya yang memiliki
lahan pertanian tetapi belum memiliki
sertifikat tanah. Koordinasi pemantauan
PRODA di Provinsi Kalimantan Timur
bertujuan untuk menetapkan besaran
target
kegiatan
sertipikasi
tanah
melalui mekanisme PRODA di Provinsi
Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2015.

Peninjauan Lapangan

Target sertipikasi tanah yang akan dilakukan


melalui mekanisme PRODA di Provinsi
Kalimantan Timur pada Tahun 2015 sebesar
921 bidang dengan rincian: Kabupaten Kutai
Timur (48 bidang); Kabupaten Kutai Barat
(149 bidang); Kabupaten Kutai Kartanegara
(213 bidang); Kabupaten Paser (100
bidang); Kabupaten Berau (200 bidang); dan
Kabupaten Penajam Paser Utara (211 bidang).
Pada
rapat
koordinasi
tersebut,
perwakilan bappeda di kabupaten/kota
mengusulkan agar disusunnya Petunjuk
Teknis (Juknis) yang menyatakan bahwa
pelaksanaan kegiatan sertipikasi adalah
untuk kawasan lahan pertanian dan tidak

(penerima). Hal
sertipikasi yang
dan tidak terjadi
kawasan lainnya.

Kabupaten Penajam Paser Utara, tepatnya


di Kecamatan Babulu merupakan lokasi
yang dikunjungi oleh Direktorat Tata
Ruang dan Pertanahan, Kementerian PPN/
Bappenas. Berdasarkan hasil inventarisasi,
target lahan yang siap untuk disertipikasi
pada Kecamatan Babulu sebanyak 1200
bidang dan yang sudah disertipikatkan
sebanyak 350 bidang tanah (melalui
program PRONA sebanyak 250 bidang
dan melalui APBD sebanyak 100 bidang).
Pada Tahun 2014, akan dilakukan sertipikasi
sebanyak 450 bidang dengan pembiayaan
150 bidang melalui APBD, 150 bidang
melalui dan APBN, dan 200 bidang melalui
bantuan keuangan Pemerintah Provinsi
Kalimantan Timur. Salah satu hal yang
menjadi permasalahan adalah biaya BPHTB
karena untuk 100 persil di tahun 2012
maupun 200 persil di tahun 2013 yang telah
selesai menjadi sertipikat belum dapat
diambil karena sebagian besar masyarakat
tidak dapat membayar biaya BPHTB. [UK/
RN/GN/RZ/AY]

RESENSI BUKU:
PENATAAN RUANG:

SEBUAH CERMIN PERADABAN

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menjadi piranti regulasi
dalam mengelola Penataan Ruang. Semenjak diterbitkannya Undang-Undang tersebut,
banyak pula kaidah-kaidah dan kebijakan mengenai penataan ruang yang telah diterapkan
di wilayah pusat maupun daerah. Namun demikian, publik masih belum memahami
sepenuhnya dan membutuhkan sosialisasi yang gencar agar dapat menjangkau seluruh
lapisan masyarakat. Buku yang disusun
oleh Ditjen Penataan Ruang merupakan
media sosialisasi mengenai penataan
ruang yang berisi pula pesan-pesan moral
bagi pelajar agar terbentuk kesadaran
bersama akan arti penting keterlibatan
pelajar dalam menata ruang. Selain
itu, buku ini juga menceritakan secara
ringkas sejarah perkembangan peradaban
manusia dalam memanfaatkan ruang
untuk menunjang kehidupan manusia
dari masa ke masa. Selain sebagai wadah
untuk beraktivitas, ruang juga memiliki
nilai estetika. Ruang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber rekreasi publik, baik aktif
maupun pasif, yang diwujudkan melalui
kreativitas manusia menciptakan ruang
sebagai pemenuhan hasrat psikologis

manusia terhadap keindahan. Terakhir,


ruang juga harus dapat memenuhi
nilai-nilai humanisme dari pemenuhan
kebutuhan manusia.
Lebih
lanjut,
buku
ini
pun
memperkenalkan hal-hal terkait dengan
penataan ruang pada level kewilayahan
yang lebih luas, seperti urbanisasi,
pembangunan perdesaan dan perkotaan,
serta problematika menata sebuah kota.
Semua pihak memiliki peran penting
dalam menjaga dan merawat ruang,
baik itu Pemerintah, sektor swasta,
maupun masyarakat. Kesadaran untuk
bersama menata ruang juga tidak lepas
dari adanya hak dan kewajiban dalam
penyelenggaraan penataan ruang. [AY]

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami:

DIREKTORAT TATA RUANG DAN


PERTANAHAN,
BAPPENAS
Jalan Taman Suropati No. 2A
Gedung Madiun Lt. 3

T : 021 392 7412


F : 021 392 6601
E : trp@bappenas.go.id
W: www.trp.or.id
Portal : www.tataruangpertanahan.com

Judul Buku:

Penataan Ruang: Sebuah Cermin


Peradaban
Penyusun: Dirjen PR - Kemen PU
Penerbit : Dirjen PR - Kemen PU
Jumlah halaman: 132