Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

DESAIN TEKSTIL 1
DEKOMPOSISI KAIN POLOS,KEPER,SATIN

Disusun oleh :

Nama

: Nomas Akbar Y.P.

NPM

: 13010050

GRUP

: 2T3

Dosen

: Sugeng Widodo

Asisten

: 1. Maki
2. Resti

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2014

I.

DEKOMPOSISI KAIN TURUNAN ANYAMAN POLOS

II.

MAKSUD DAN TUJUAN


-

Memiliki kemampuan membedakan anyaman polos dengan yang


lainnya.

Memiliki kemampuan menentukan arah lusi dan pakan.

Memiliki kemampuan menghitung tetal benang dalam kain.

Memiliki kemampuan menghitung berat kain per m2 dan per meter


linier.

Memiliki kemampuan menghitung mengkeret benang.

Memiliki kemampuan menghitung nomor benang.

Memiliki kemampuan menentukan nomor sisir.

Memiliki kemampuan menentukan fabric cover factor.

Memiliki kemampuan menghitung kebutuhan benang lusi dan benang


pakan.

III.

Memiliki kemampuan menggambar anyaman kain contoh.

ALAT DAN BAHAN


1. Loop
2. Penggaris
3. Neraca analitik
4. Jarum
5. Gunting

IV.

LANGKAH KERJA
1. Tentukan arah lusi dan pakan kain sample yang akan diamati.
2. Hitung tetal lusi dan tetal pakan kain sample.
3. Buat sample kain lebih teliti, dengan ukuran 10x10 cm.
4. Potong kain sample yang baru, rapikan dan timbang. Catat hasil
penimbangan.

5. Tiras 10 helai benang lusi dan pakan dari kain sample yang baru.
6. Timbang 10 helai benang lusi catat. Begitu juga untuk benang pakan.

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

7. Lalu ukur mengkeret yang terjadi pada benang lusi atau pun pakan.
Dengan cara menghitung 10 helai benang yang di tiras tadi dengan
diregangkan menggunakan penggaris.
8. Hitung dan tentukan data-data yang diprlukan sesuai dengan
dekomposisi kain.

V.

TEORI DASAR
Turunan anyaman polos adalah anyaman polos yang diperpanjang efek
lusinya atau efek pakannya, atau diperpanjang kedua-duanya.
Arah perpanjangan :
Perpanjangan benang efek kearah vertikal : perpanjangan efek lusi.
Perpanjangaan benang efek kearah horizontal : perpanjangan efek pakan.
Ciri-ciri dan karakteristik anyaman polos :
1. Anyaman polos adalah anyaman yang paling sederhana, paling tua dan
paling banyak dipakai.
2. Mempunyai rapot yang paling kecil dari semua jenis anyaman.
3. Bekerjanya benang lusi dan pakan sederhana yaitu 1 naik - 1 turun.
4. Ulangan rapot kearah Horizontal atau kearah pakan diulangi setelah dua
helai pakan. Kearah Vertikal atau kearah lusi diulangi setelah 2 helai
lusi.
5. Jumlah silangan paling banyak diantara jenis anyaman yang lain.
6. Jika factor yang lain sama maka anyam polos mengakibatkan kain
menjadi :
Paling kuat dari pada anyaman lainnya dan letak benang lebih kokoh
tidak mudah berubah tempat.
7. Anyaman polos paling sering dikombinasikan dengan factor-faktor
konstruksi kain yang lain pada jenis anyaman yang lainnya.
8. Anyaman polos dapat dipakai untuk kain yang jarang dan tipis.

Turunan anyaman polos pada dasarnya dibagi dua:


1.

Turunan anyaman polos langsung


a. Perpanjangan efek lusi

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Anyamannya disebut : rusuk lusi, cannele lusi, atau rib lusi.


Perpanjangan teratur
Perpanjangan efek lusi ini terjadi karena pada setiap mulut lusi
diluncurkan 2 atau lebih benang pakan. Cara peluncuran pakan
dapat dilakukan dengan 2 macam cara yaitu :
-

Dua helai atau lebih benang pakan dipalet menjadi satu


sehingga dalam setiap mulut lusi diluncurkan sekaligus 2
helai pakan atau lebih.
Cara ini mempunyai kerugian, yaitu pada waktu benang
pakan terulur dari palet ketika teropong diluncurkan,
benang-benang ini mungkin saling melilit satu sama lain
sehingga hasil kainnya tidak rata.

Setiap helai pakan diluncurkan sendiri-semdiri dalam


satu mulut lusi.

Anyaman ini mengakibatkan terbentuknya/terjadinya rusukrusuk pada permukaan kain. Rusuk-rusuk ini mempunyai arah
horizontal (kearah lebar kain). Oleh karena efek lusi lebih besar
daripada efek pakan, maka pada permukaan kain hanya terlihat
efek lusi. Agar supaya benang pakan lebih tidak kelihatan
(tertutup), maka tetal lusi dibuat lebih besar daripada tetal
pakan. Jika benang lusi diberi 2 warna atau 2 benang yang asal
bahannya berlainan secara bergantian, maka permukaan kain
akan mempunyai rusuk dengan 2 warna bergantian. Apabila
benang-benang pakan tersebut diganti dengan 1 helai pakan
yang bernomer kasar, akan menghasilkan rib atau rusuk yang
lebih kasar.

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Rip lusi

Rip lusi

Anyaman rusuk lusi dapat dicucuk seperti pada anyaman polos,


dengan menggunakan gun 2, 4, 6, atau 8 buah yang disesuaikan
menurut tetal lusinya.

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

A = anyaman cannele lusi


B = anyaman gun
C = pegging plan

Jika tiap helai pakan diluncurkan sendiri-sendiri dalam satu mulut


lusi, maka untuk menghindari agar supaya benang pakan tidak
terbawa kembali pada waktu teropong diluncurkan, dapat digunakan
beberapa cara sebagai berikut :
1.

Pinggir kain dengan anyaman polos. Biasanya dengan gun


tersendiri.

2.

Menggunakan

mesin tenun pick a pick (tiap helai pakan

digunakan teropong sendiri-sendiri).


3.

Menggunakan/menambah alat benang penangkap. Benang


penangkap ini dapat satu sisi (pinggir) saja atau kedua sisinya.

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Untuk benang penangkap satu sisi, dapat digunakan satu mata


gun, yang ujung atasnya dihubungkan dengan suatu per,
sedang ujung bawahnya dengan batang dari penggerak hamer.
Untuk benang penangkap dua sisi, mata gun dari benang penangkap
digerakan oleh dobby atau oleh picker.
Perpanjangan tak teratur
Anyaman ini seperti yang telah diuraikan diatas, tetapi perpanjangan
efek lusi tidak tetap besarnya. Misalnya rusuk lusi :

, , dan lain-

lain.
Anyaman ini mempunyai rusuk yang lebar berbeda-beda pada
permukaan kain.
Beberapa nama rusuk lusi tak teratur :
-

Cotele = untuk sutera dan rayon

Repo = untuk katun

Epingle atau Epingline = untuk wol

Rusuk lusi

disebut demi gros de Tour

4-5 rusuk per 1 cm = rusuk halus

1-3 rusuk per 1 cm = rusuk kasar

Rusuk lusi (cannele lusi) diperkuat


Untuk menghindari tertumpuknya benang-benang pakan yang terletak
bebas, maka cannele lusi dapat diperkuat. Dikatakan diperkuat karena
rusuk lusi yang terlalu lebar akan mengakibatkan letak benang pakan
kurang teguh. Agar supaya kedua permukaan kain mempunyai rusuk,
cara memperkuatnya dilakukan dengan menggunakan atau menambah
benang lusi pengikat pada kelompok-kelompok dari cannele lusi.
Karena lusi pengikat mempunyai silangan yang lebih banyak daripada
lusi yang membentuk rusuk, maka digunakan lalatan tersendiri.
Benang lusi pegikat harus terdiri dari benang yang lebih halus, agar
supaya tidak kelihatan. Pada kain sutera anyaman Cannele lusi

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

diperkuat terdapat pada kain yang disebut Ottoman. Kadang-kadang


pakannya terdiri dari katun.

b. Perpanjangan efek pakan


Anyaman disebut : rusuk pakan atau cannele pakan, inslag
ribs atau inslag Cannele atau weft ribs.

Perpanjangan teratur
Cannele pakan terjadi apablia pada anyaman polos diperpanjang efek
pakannya. Arah rusuk sejajar dengan pinggir kain.
Misalnya Cannele pakan : , ,
Anyaman Cannele pakan

bisa digunakan untuk kain layar dan kain

terpal. Pada kain wol dan sutera disebut Louisine.

Cannele pakan tak teratur atau Cotaline


Cannele pakan tak teratur adalah anyaman cannele pakan dengan
perpanjangan efek pakan yang tidak tetap besarnya. Anyaman
Cottaline biasa dipakai pada kain-kain untuk barang-baramg meubel
(alat kursi, jok, dll). Jika anyaman Cotaline rusuknya berganti-ganti
efek pakan panjang dengan ayaman plat kainnya disebut Cordelet.

Cannele pakan diperkuat


Seperti pada cannele lusi, anyaman diperkuat dengan jalan
mengurangi efek-efek lusinya. Sistim penguatan ini mengakibatkan
hanya terdapat rusuk pada satu permukaan saja. Supaya kain tersebut
mempunyai rusuk pada kedua permukaannya haruslah digunakan
sisitim menambah benang pengikat.
c. Perpanjangan efek lusi dan efek pakan
Perpanjangan teratur
Anyaman jenis ini mempunyai beberapa nama, yaitu :
-

Anyaman Natte

Anyaman Metting (matten binding)

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Anyaman Mat

Anyaman polos-rangkap (double plat)

Anyaman basket

Anyaman Hopsack

Pada anyaman ini efek lusi dan efek pakan pada anyaman polos
diperpanjang bersama-sama, misalnya dengan , ,

sehingga pada

permukaan kain akan terlihat berkotak-kotak. Atau dengan kata lain


anyaman panama adalah perpaduan antara Cannele lusi dan Cannele
pakan.
Mengubah rupa permukaan kain :
Jika benang lusi dan benang pakan digunakan masing-masing dengan
dua macam warna secara selang-seling (bergantian) menurut
kelompoknya, maka akan terbentuk kotak-kotak yang warnanya
berlainan. Anyaman panama banyak digunakan dalam kain kanvas,
taplak meja, pakaian pria, dan lain-lain.

2. Turunan anyaman polos tidak langsung.


a. Cannele lusi selang-seling (royals)
Jika Cannele lusi dibuat kelompok=kelompok dan jika pada
semua kelompok dari yang ber nomer genap bekerjanya digeser
keatas 1 atau 2 pakan ataupun lebih, maka akan terbentuk
cannele lusi selang-seling.
Pada permukaan kain dengan anyaman rib lusi selang-seling
tidak memperhatikan rusuk-rusuk tetapi lebih cenderung
merupakan butir-butir pada permukaan kain.
Pada anyaman cammele selang-seling dapat digunakan benang
penguat/pengikat.

Disebut

anyaman

Royales

diperkuat.

Anyaman Cannele selang-seling digunakan pada pakaian wanita


dalam sutera, rayon, dan wol dengan tetal lusi yang tinggi. Pada
permukaan kain menghasilakan hampir seperti kain creps.

b. Cannele pakan selang-seling.


NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Metodenya sama dengan Cannele lusi selang-seling (royales).


Anyaman ini jarang dipakai.

c. Anyaman cannele berkotak


Anyaman ini adalah gabungan dari Cannele lusi dan Cannele
pakan selang-seling. Biasanya dipakai dalam pakaian wanita
pada sutera dan wol terutama untuk mantel.

d. Anyaman huckaback
Anyaman ini adalah gabungan dari anyaman polos, rips lusi dan
rips pakan. Anyaman polos dimaksudkan untuk memberikan
keteguhan letak benang pada kain, sedang efek lusi/pakan
panjang dimaksudkan untuk memberikan sifat kain menjadi
cepat menyerap air. Karenangnya anyaman huckaback banyak
digunakan pada kain-kain linen dan kapas untuk keperluankeperluan misal : handuk, lap gelas, dll.
e. Kombinasi cannele panama
Anyaman ini adalah gabungan dari anyama-anyaman panama,
cannele lusi dan cannele pakan.

f. Anyaman biji jelai


Anyaman biji jelai juga tergolong anyaman polos tidak
langsung atau turunan dari anyaman hopsack (panama).
Anyaman

keper

ini

dimaksudkan

untuk

memperoleh

kekuatan/keteguhan pada kain dengan anyaman panama.

g. Anyaman berlubang (ajour)


Anyaman ajour sering juga disebut anyaman tiruan gauze,
stamijn atau Etamine, anyaman ajour dapat dikatakan turunan
anyaman basket (hopsack)

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

10

Kain yang menggunakan anyaman ini mempunyai lubang-lubang


(air space) yang terjadi karen pengelompokan benang-benang lusi
dan

benang-benang

pakan.

Pengelompokan

benang-benang

tersebut adalah disebabkan karena masing-masing kelompok dari


benang-benang lusi dan benang-benang pakan membentuk efek
yang berbalikan secara bergantian. Dengan kata lain : apabila
dalam satu rapot anyaman terdapat sejumlah benang-benang lusi
dan sekelompok benang-benang pakan yang bekerjanya saling
berlawanan, maka akan terbentuk lubang pada kain (perforated
fabrics). Anyaman ajour banyak dipakai pada anyaman campuran
sebagai penghias. Luasnya lubang (air space) yang terbentuk pada
kain tergantung dari :
-

Panjang pendeknya efek kelompok lusi dan pakan

Tetal lusi dan tetal pakan

h. Anyaman crepe (berbutir)


Anyaman crepe adalah anyaman yang meghasilkan permukaan
kain berkerut-kerut. Rupa crepe pada permukaan kain ini diperoleh
dengan cara sebagai berikut :
Anyaman dasar adalah anyaman polos. Dari anyaman dasar ini,
efek lusinya dikurangi satu dan atau ditambah. Cara penambahan
atau pengurangan efek lusi dapat dilakukan dengan bermacammacam cara. Salah satu cara yang banyak dipakai adalah : semua
benang bernomer ganjil ditambah atau dikurang efek lusinya
menurut aturan anyaman satin.
a. Anyaman polos sebagai dasar

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

11

b. Anyaman satin 4 gun untuk mengatur penambahan efek lusi


pada lusi nomer genap atau pakan nomer ganjil. Untuk
mengatur penghapusan efek lusi pada lusi nomer genap atau
pakan nomer genap

c. Anyaman crepe hasil paduan antara a dan b

d. Cucukan gun
12

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

VI.

PENGOLAHAN DATA
1. Sample Kain Polos

13

Lusi

Pakan
NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

2. Berat 10 helai Benang


Lusi

= 0,017 gram

Pakan

= 0,0195 gram

3. Berat Kain
Berat kain (9X9) cm

= 1,13 gram

Berat kain/m2

= 139,442 gram/m2

4. Data Penghitungan Tetal kain dan Panjang benang

No Tetal Lusi

Tetal Pakan

Panjang Lusi/cm

Panjang Pakan/cm

51

48

5,5

96,0

51

48

5,5

6,0

51

48

5,6

6,0

51

48

5,5

6,0

51

48

5,5

6,0

5,6

6,0

5,5

6,0

5,6

6,0

5,6

6,0

10

5,6

6,0

255

240

55,5

60

51 hl/inci

48 hl/inci

5,55 cm

6,00 cm

14

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Anyaman

VII. PERHITUNGAN
1.

2.

Mengkeret

Lusi

Pakan

n n

Nomor Benang =
Lusi
1. Nm=

2. Ne1 = 0,59 x Nm
= 0,59 x 35,80
= 21,12
3. Tex =

4. Td =

15

denier

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Pakan
1. Nm=
= 24
2. Ne1 = 0,59 x Nm
= 0,59 x 24
= 14,16
3. Tex =

= 41,6
5. Td =

=
denier

3.

Berat kain & Selisihnya


a. Berat kain / m2 =
= 164 g/m2
-

b. Perhitungan Benang =
-

- Perhitungan Lusi =
= 62,22 g/m2

- Perhitungan Pakan =
= 94,33 g/m2
c. Berat Selisih
Bk = 164 g/m2
Bb = BL + BP
= 62,22 + 94,33 = 156,59 g/m2
Berat Selisih =

= 4,51 %
16

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

4. Fabric cover factor


a. Warp cover factor = cw = nw x dw
dw lusi =

= 0,0077

cw = 51 x 0,0077 = 0,3927
b. Filling cover factor = cf = nf x df
df =

= 0,0094

cf = 48 x 0,0094 = 0,4512
cover factor = CF % = (Cw + Cf Cw.Cf) x 100%
= (0,3927 + 0,4512 0,3927 x 0,4512) x100%
= 66,67%

VIII. DISKUSI DAN KESIMPULAN

Pada saat praktikum ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
-

Pengguntingan 5x5 yang kurang tepat.

Menimbang berat pakan dan lusi yang kurang teliti.

Hal hal yang diketahui setelah praktikum dekomposisi kain turunan


anyaman polos ini, diantaranya :
a.

Sifat kuat namun kaku.

b.

Berat benang pakan umumnya lebih besara dari berat benang lusi

c.

Benang pakan memiliki contraction atau mengkeret yang lebih


tinggi daripada benang lusi.

17

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

KESIMPULAN

Setelah praktikum didapatkan hasil sebagai berikut :

Benang Lusi
-

Tetal Lusi

: 20,07 hl/cm

ML

: 9,90 %

Nm

: 35,80

Ne1

: 21,12

Tex

: 27,93 tex

Td

: 251,39 denier

Berat Lusi

: 62,22 g/m2

Benang Pakan :
-

Tetal Pakan

: 18,89 hl/cm

MP

: 16,6 %

Nm

: 24

Ne1

: 14,16

Tex

: 41,6 tex

Td

: 375 denier

Berat Pakan

: 94,37 g/m2

18

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

IX. DAFTAR PUSTAKA

Giarto, AT., M.Si dan Siti Rohmah, AT, Bahan ajar praktikum
desain tekstil 1, 2013.

I.

DEKOMPOSISI KAIN TURUNAN ANYAMAN KEPER

II.

MAKSUD DAN TUJUAN

Memiliki kemampuan membedakan anyaman polos dengan yang


lainnya.

Memiliki kemampuan menentukan arah lusi dan pakan.

Memiliki kemampuan menghitung tetal benang dalam kain.

Memiliki kemampuan menghitung berat kain per m2 dan per meter


linier.

Memiliki kemampuan menghitung mengkeret benang.

Memiliki kemampuan menghitung nomor benang.

Memiliki kemampuan menentukan nomor sisir.

Memiliki kemampuan menentukan fabric cover factor.

Memiliki kemampuan menghitung kebutuhan benang lusi

dan

benang pakan.
-

III.

Memiliki kemampuan menggambar anyaman kain contoh.

ALAT DAN BAHAN

1. Loop
2. Penggaris
3. Neraca analitik
4. Jarum
5. Gunting

IV.

LANGKAH KERJA

1.

Tentukan arah lusi dan pakan kain sample yang akan diamati.

2.

Hitung tetal lusi dan tetal pakan kain sample.

3.

Buat sample kain lebih teliti, dengan ukuran 10x10 cm.

4.

Potong kain sample yang baru, rapikan dan timbang. Catat hasil
penimbangan.

5.

Tiras 10 helai benang lusi dan pakan dari kain sample yang baru.

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

20

6.

Timbang 10 helai benang lusi catat. Begitu juga untuk benang pakan.

7.

Lalu ukur mengkeret yang terjadi pada benang lusi atau pun pakan.
Dengan cara menghitung 10 helai benang yang di tiras tadi dengan
diregangkan menggunakan penggaris.

8.

Hitung dan tentukan data-data yang diprlukan sesuai dengan


dekomposisi kain.

V.

TEORI DASAR
Turunan Anyaman Keper Langsung
1. Keeper rangkap (Cashmere, Croise)
Dalam anyaman keper dasar, hanya terdapat salah satu
benang (lusi/pakan) saja yang menonjol pada permukaan kain dan
merupakan garis keper, karena itu jika benang lusi hendak
ditonjolkan pada permukaan kain, seyogyanya digunakan benang
lusi yang lebih baik daripada benang pakan. Sebaliknya, jika
benang pakan yang harus menonjol pada permukaan kain, maka
digunakan benang pakan yang lebih baik daripada benang lusi.
Apabila dikehendaki supaya baik efek lusi maupun efek
pakan sama-sama menonjol pada permukaan kain, anyaman
keeper dasar dapat diganti dengan anyaman keeper rangkap/croise.
Keeper rangkap adalah anyaman yang mempunyai rumus,
dimana banyak dan besarnya angka diatas garis = angka dibawah
garis. Selain itu keeper rangkap akan menghasilkan efek lusi dan
efek pakan sama panjang pada permukaan kain maupun pada
gambar anyaman. Kedua sisi permukaan kain, mempunyai float
lusi dan float pakan yang sama panjangnya, tetpai arah garis
keeper akan berlawanan.

Keeper
21

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Keeper

Keeper

/1

2. Keeper dikperkuat
Keeper diperkuat pada umumnya terdiri dari anyaman
keeper dasar yang mempunyai rapot anyaman besar/ garis
keepernya lebar. Garis keeper lebar berarti tersusun dari float
benang yang panjang-panjang. Hal ini mengakibatkan keteguhan
susunan benang tersebut berkurang. Karenanya float panjang
tersebut diperkuat dengan jalan menambah silangan benang.
Keeper rangkap dapat digolongkan dalam keper diperkuat
karena mempunyai persyaratan yang sama, kecuali ada perbedaan
NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

22

bahwa dalam anyaman diperkuat panjang efek lusi tidak sama


dengan panjang efek pakan.
Dengan membedakan keeper diperkuat dan keeper rangkap,
maka persyaratan untuk membuat anyaman keeper diperkuat
adalah :
1. Angka diatas garis dan dibawah garis pada rumus,
besarnya tidak sama. Bila sama adalah anyaman keper
rangkap (Croise).
2. Lebar keeper pada kedua sisi permukaan kain tidak
sama.
3. Panjang efek lusi dan efek pakan tidak sama.
4. Pada keeper diperkuat dengan sebuah keeper, maka
angka 1 pada rumus tidak dipergunakan, karena
termasuk golongan keeper dasar.
5. Anyaman keeper diperkuat jenisnya tidak terbatas.
Sesuai dengan banyaknya garis keeper dalam 1 rapot
anyaman, maka anyaman diperkuat dapat dibagi-bagi jenisnya
menurut banyaknya n atau jumlahnya garis keeper dalam 1 rapot.

3. Keeper runcing
Nama lain :
- Pointed twill
- Keeper zig zag atau gigi berganjil
- Visgrout keper
- Chevron
Anyaman keper runcing adalah anyaman keper yang garis
kepernya berjalan ke kanan dan kekiri secara bergantian sehingga
bentuknya zig zag. Garis zig zag akan berjalan ke arah horizontal
pada keeper runcing lusi dan akan berjalan ke arah vertikal pada
keeper runcing pakan. Dapat dikatakan bahwa keeper runcing
adalah gabungan dari keeper kanan dan keeper kiri.

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

23

PEMBUATAN
DILAKUKAN
DAHULU

DENGAN

BARU

DIPERKUAT

ANYAMAN

MEMBUAT

DISISIKAN

SESUAI

KEEPER

DENGAN

RUNCING

CUCUKAN

GAMBAR
JUMLAH

LUSI

GUN

TERLEBIH

ANYAMAN
GUN

BISA

KEEPER

YANG

AKAN

DIGUNAKAN .

4. Anyaman wajik
Nama lain : anyaman intan (diamond), bentuknya seperti potongan
wajik. Dapat dibuat dengan 2 macam jalan, yaotu :
1. Dengan membuat cucukan runcing ditempat gambar cucukan
gun dan membuat rencana pena dalam bentuk runcing.
2. Dengan menggabungkan keeper runcing lusi dan keeper
runcing pakan.
Fantasi anyaman wajik :
1. Dengan menggunakan keeper hias
2. Mengisi ruangan pada kotak dengan motif-motif tertentu
3. Menggunakan prinsip Sepratajn Chevron

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

24

5. Anyaman mata burung


Anyaman jenis ini disebut juga diaver weave. Biasanya
menggunakan 4,5,6 pun didasarkan atas cucukan gun dan pegging
plan dalam bentuk runcing teratur. Dapat juga dikatakan bahwa
anyaman mata burung adalah anyaman wajik dalam bentuk kecil
Turunan Anyaman Keeper Tidak Langsung
1. Keeper tulang ikan
Jenis anyaman keeper pembuatannya seperti pada keeper
runcing yaitu 2 buah keeper dengan arah berbalikan, tetapi bila
pada keeper runcing arah efek lusi kanan bertemu dengan arah
efek lusi kiri untuk keeper ini arah efek lusi kanan bertemu
dengan arah efek pakan kiri.
2. Keeper lengkung
Prinsip pembuatan keeper lengkung dengan anyaman dasar
8 gun dengan cucukan gun diatur melengkung. Anyaman keeper
lengkung juga dibuat berbalikan menjadi zig-zag.
Anyaman keper lengkung dibuat atas dasar salah satu
anyaman keper dasar atau keper diperkuat. Pola anyaman dasar
sekaligus dapat digunakan sebagai pegging plannya, dan cucukan
dapat dibuat terlebih dahulu selaku pedoman dalam membuat
anyaman keper lengkung.
Namun keper lengkung jarang digunakan atau terbatas
pemakaianya karena terdapat keburukan yang disebabkan oleh
panjang float pakan berbeda-beda diberbagai tempat, hal ini
mengakibatkan kurang teguhnya letak benang didalam kain.
3. Keeper pecah
Jenis anyaman keeper yang sedemikian rupa diatur susunan
lusinya sehingga terbentuk beragam kemungkinan variasi efek
motif.

25

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Metode membalikan susunan lusi secara paralel akan


memberikan beragam efek motif yang memperlihatkan efek dari
susunan lusi atau cucukan gun.
Metode lain yang dapat digunakan dalam membuat keeper
pecah adalah metode sisipan dan cabut dengan menggunakan
anyaman keeper yang mempunyai jumlah efek lusi dan pakan
yang sama seperti keeper

, , , dan lain-lain. Metode ini

menghasilkan anyaman keeper pecah dengan susunan lusi searah


tidak berbalikan seperti cara sebelumnya.
4. Keeper curam
Anyaman keper curam adalah anyaman keper yang
kemiringannya mempunyai sudut lebih besar dari 450, keper curam
yang dibicarakan disini keper curam yang kecuramannya
dikarenakan oleh V >1, keper curam yang sering digunakan adalah
keper curam 63 derajat, yang biasanya digunakan pada kain-kain
doeskin, covart, gabardine, kain elastis dan lain-lain kadangkadang juga pada kain wanita sebagai penghias.
Ada 2 macam cara untuk membuat keper curam yakni :
1. Mengatur kembali pola anyaman dasar dengan menindahmindahkan efek lusi sedemikian rupa sehingga akhirnya
mempunyai angka loncat lebih dari 1 atau V yang diinginkan.
2. Mengatur dulu garis keper lusi menurut besarnya sudut yang
diinginkan kemudian menambahkan efek lusi secara sistematis
sesuai dengan anyaman keper yang dikehendaki.

26

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

VI.

PENGOLAHAN DATA

Sample Kain Polos

Sample Benang Lusi dan Pakan

Lusi

Pakan

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

27

5. Berat 10 helai Benang


Lusi

= 0,024 gram

Pakan

= 0,062 gram

6. Berat Kain
Berat kain (10x10) cm

= 1,79 gram

Berat kain/m2

= 183,42 gram/m2

7. Data Penghitungan Tetal kain dan Panjang benang

No Tetal Lusi

Tetal Pakan

Panjang Lusi/cm

Panjang Pakan/cm

56

44

10,3

10,5

55

44

10,3

10,6

56

44

10,3

10,5

56

44

10,3

10,6

56

44

10,2

10,5

10,3

10,5

10,2

10,5

10,2

10,5

10,3

10,5

10

10,3

10,5

279

220

102,7

105,2

55,8 hl/inci

44 hl/inci

10,27 cm

10,52 cm

28

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Anyaman

VII. PERHITUNGAN
1. Mengkeret

Lusi

Pakan

n n

2. Nomor Benang =
Lusi
1. Nm=

2. Ne1 = 0,59 x Nm
= 0,59 x
= 8,65
3. Tex =

4. Td =

29

denier

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

Pakan
1. Nm

=
= 12,98

2. Ne1

= 0,59 x Nm
= 0,59 x 12,98
= 7,66

3. Tex =

= 77,04
4. Td

=
denier

3.

Berat kain & Selisihnya


a. Berat kain / m2 = 2,68 x 100
= 268 g/m2
-

b. Perhitungan Benang =
-

Perhitungan Lusi =

= 153,72 g/m2
-

Perhitungan Pakan =

= 140,37 g/m2
c. Berat Selisih
Bk = 268 g/m2
Bb = BL + BP
= 153,72 + 140,37 = 294,09 g/m2
Berat Selisih =

= 8,87 %
30

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

4. Fabric cover factor


a. Warp cover factor = cw = nw x dw
dw lusi =

= 0,0121

cw = 55,8 x 0,0121 = 0,675


b. Filling cover factor = cf = nf x df
df =

= 0,0129

cf = 44 x 0,0129 = 0,567
cover factor = CF % = (Cw + Cf Cw.Cf) x 100%
= (0,675 + 0,567 0,675 x 0,567) x100%
= 85,92 %

5.

DISKUSI DAN KESIMPULAN

Pada saat praktikum ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
-

Saat menggunting 10 x 10 harus tepat

Saat melihat dan membuat anyaman

Saat penimbangan berat helai benang lusi dan pakan

Hal hal yang diketahui setelah praktikum dekomposisi kain turunan


anyaman polos ini, diantaranya :
a. Berat benang lusi dan pakan selisih sedikit.
b. Contraction

atau mengkeret benang lusi dan pakan selisih

setengahnya.
c. Panjang benang pakan dan benang lusi tidak jauh sama.

31

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

KESIMPULAN
Setelah praktikum didapatkan hasil sebagai berikut :

Benang Lusi
-

Tetal Lusi

: 21,96 hl/cm

ML

: 2,62 %

Nm

: 14,67

Ne1

: 8,65

Tex

: 68,16 tex

Td

: 613,49 denier

Berat Lusi

: 153,72 g/m2

Benang Pakan :
-

Tetal Pakan

: 17,32 hl/cm

MP

: 4,94 %

Nm

: 12,98

Ne1

: 7,66

Tex

: 77,04 tex

Td

: 693,37 denier

Berat Pakan

: 140,37 g/m2

32

NOMAS AKBAR Y.P. | 13010050/2T3

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Giarto, AT., M.Si dan Siti Rohmah, AT, Bahan ajar praktikum
desain tekstil 1, 2013.