Anda di halaman 1dari 17

TEKNOLOGI PETROKIMIA

PROSES PEMBUATAN FORMALDEHID

OLEH :
KELOMPOK 1 (SATU)

1. RISTIAN JANUARI

03111403015

2. PIPIT ADITIA LISTIYANI

03111403020

3. NYIMAS ULFATRY UTAMI

03111403021

4. VEGA FRESAMITIA INGRIED

03111403025

5. SURYANDI PERDANA

03111403042

6. AMALIA RIZKY PUTRIANI

03111403050

DOSEN PEMBIMBING :
Ir. A. RASYIDI FACHRY, M.ENG

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sudah tidak asing lagi bagi masyarakat karena formaldehid sudah sangat
banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di sektor industri, sebenarnya
formaldehid sangat banyak manfaatnya, seperti anti bakteri atau pembunuh kuman
sehingga dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian,
pembasmi lalat dan berbagai serangga lain. Dalam dunia fotografi biasaya
digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas. Bahan pembuatan pupuk
dalam bentuk urea, bahan pembuatan produk parfum, pengawet produk
kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formaldehid juga
dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu
sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yag
sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang
konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut,
perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet. Di industri perikanan,
formaldehid digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik
ikan. Terkadang formaldehid juga disalah gunakan sebagai pengawet bahan
makanan yang akan sangat berbahaya bagi tubuh manusia.
Selain itu, formaldehid diketahui sering digunakan dan efektif dalam
pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir.
Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas
amannya sangat rendah, sehinggga tidak jarang ikan yang diobati mati akibat
formaldehid dibandingkan dengan penyakitnya. Formaldehid banyak digunakan
dalam pengawetan specimen ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di
dunia kedokteran formaldehid digunakan untuk pengawetan mayat manusia untuk
dipakai dalam pendidikan mahasiswa kedokteran.
Mengingat akan besarnya manfaat formaldehid dalam kehidupan sehari
hari, tidak heran jika kebutuhan formaldehid setiap tahun mengalami kenaikan.
Walaupun industri formaldehid di indoseia cukup banyak yaitu sekitar 20

perusahaan pemroduksi formaldehid. Salah satu contoh industri atau perusahaan


yang bergerak dalam pembuatan formaldehid adalah PT. PAI Probolinggo.
Industri tersebut memproduksi formaldehid tidak dalam jumlah sedikit melainkan
dalam kapasitas ribuan ton. Namun indonesia masih mengimpor formaldehid guna
mencukupi kebutuhan tersebut. Sehingga hal tersebut mengindikasikan bahwa
selama ini industri formaldehid di indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan
formaldehid bagi para konsumen formaldehid. Oleh karena itu, dilakukan proses
peramalan guna mengetahui kebutuhan formaldehid di tahun yang akan datang
menggunakan data kebutuhan formaldehid tiap tahun. Hal ini bertujuan untuk
mengurangi impor formaldehid dengan cara meningkatkan produksi formaldehid
berdasarkan peramalan tersebut.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, dapat dirumuskan permasalahan
dalam makalah ini adalah:
1) Apakah formaldehid itu?
2) Bagaimana proses pembuatan formaldehid?
3) Bagaimana diagram alir proses pembuatan formaldehid?
4) Apa sifat fisika dan kimia formaldehid?
5) Apa saja kegunaan formaldehid dalam kehidupan sehari-hari?
1.3. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah :
1) Untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Petrokimia.
2) Untuk mengetahui uraian proses pembuatan formaldehid.
3) Untuk mengetahui diagram alir proses pembuatan formaldehid.
4) Untuk mengetahui sifat fisika dan kimia formaldehid.
5) Untuk mengetahui kegunaan formaldehid dalam kehidupan sehari-hari
1.4. Manfaat
Manfaat pembuatan makalah ini adalah :
1) Secara teroritis penyusunan makalah ini dapat menambah pengetahuan kita
tentang senyawa karbon, terutama tentang formaldehid.

2) Secara praktik, penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah


pengetahuan kebahasaan bagi peneliti dan pembaca.
3) Bagi penulis, penulisan makalah ini dapat memberikan masukan serta
menjadi acuan dalam pembuatan makalah selanjutnya.
4) Bagi pembaca, makalah ini memberikan penjelasan mengenai uraian proses
pembuatan Formaldehid.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Formaldehid


Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin),
merupakan aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuknya gas, atau cair
yang dikenal sebagai formaldehid, atau padatan yang dikenal sebagai
paraformaldehyde atau trioxane. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan
Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi Hoffman tahun 1867.
Pada umumnya, formaldehida terbentuk akibat reaksi oksidasi katalitik
pada metanol. Oleh sebab itu, formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran
bahan yang mengandung karbon dan terkandung dalam asap pada kebakaran
hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Dalam atmosfer bumi, formaldehida
dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan
hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Formaldehida dalam kadar kecil sekali
juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia.
Formaldehid merupakan salah satu pengawet yang akhir-akhir ini banyak
digunakan dalam makanan, padahal jenis pengawet tersebut sangat berbahaya
bagi kesehatan. Formaldehid merupakan larutan tidak berwarna, berbau tajam,
mengandung formaldehid sekitar 37% dalam air, biasanya ditambahkan metanol
10-15%. Formaldehid mempunyai banyak nama atau sinonim, seperti formol,
morbicid, methanal, formic aldehyde, methyl oxide, oxymethylene, methyl
aldehyde, oxomethane, formoform, formalith, oxomethane, karsan, methylene
glycol, paraforin, poly-oxymethylene glycols, superlysoform, tetraoxymethylene.
Pengawet ini memiliki unsur aldehida yang bersifat mudah bereaksi
dengan protein, karenanya ketika disiramkan ke makanan seperti tahu,
formaldehid akan mengikat unsur protein mulai dari bagian permukaan tahu
hingga terus meresap kebagian dalamnya. Dengan matinya protein setelah terikat
unsur kimia dari formaldehid maka bila ditekan tahu terasa lebih kenyal. Selain
itu protein yang telah mati tidak akan diserang bakteri pembusuk yang
menghasilkan senyawa asam, Itulah sebabnya tahu atau makanan berformaldehid

lainnya menjadi lebih awet. Formaldehida membunuh bakteri dengan membuat


jaringan dalam bakteri dehidrasi (kekurangan air), sehingga sel bakteri akan
kering dan membentuk lapisan baru di permukaan. Artinya, formaldehid tidak saja
membunuh bakteri, tetapi juga membentuk lapisan baru yang melindungi lapisan
di bawahnya, supaya tahan terhadap serangan bakteri lain.
Melihat sifatnya, formaldehid juga sudah tentu akan menyerang protein
yang banyak terdapat di dalam tubuh manusia seperti pada lambung. Terlebih,
bila formaldehid yang masuk ke tubuh itu memiliki dosis tinggi. Masalahnya,
sebagai bahan yang digunakan hanya untuk mengawetkan makanan, dosis
formaldehid yang digunakan pun akan rendah. Sehingga efek samping dari
mengkonsumsi makanan berformaldehid tidak akan dirasakan langsung oleh
konsumen. Banyak pihak mengingatkan formaldehid juga memiliki sifat
karsinogen atau dapat menyebabkan kanker. Tetapi kemunculan kanker akibat
bahan berbahaya ini dengan kanker jenis lain hampir sulit dibedakan, keduanya
membutuhkan waktu panjang untuk menyerang tubuh manusia.
Isu kandungan formaldehid dalam berbagai produk makanan mendapat
tanggapan serius dari pemerintah, karena dalam jangka panjang dapat memicu
terjadinya kanker. Menurut Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan
(BPOM), sampai kadar tertentu, formaldehid diizinkan untuk pengawet kosmetik,
yaitu untuk pasta gigi maksimum 0,1% dan untuk produk kosmetik lainnya 0,2%.
Ketentuan ini sesuai dengan aturan yang berlaku secara internasional seperti
ASEAN Cosmetic Directive, European Union Directive, dan SK BPOM.
2.2. Sifat Fisika dan Kimia Bahan Baku Pembuatan Formaldehid
2.2.1. Bahan Baku
1) Metanol (CH3OH)
Sifat Fisika
a) Berat Molekul

: 32 g/mol

b) Melting Point (1 atm)

: -97,68 0C

c) Boiling Point (1 atm)

: 64,70 0C

d) Temperatur Kritis

: 512,43 0K

e) Tekanan Kritis

: 79,9 atm

f) Densitas

: 0,78663 g/cm2

g) Viskositas

: Larutan

= 0,541 cp

Gas

= 0,00968 cp

h) Gf

: -36,869 kkal/mol

i) Hf

: -57,130 kkal/mol (pada 25oC fase gas)

Sifat Kimia
a) Reaksi esterifikasi terhadap metanol
CH3COOH

Asam Asetat

CH3OH

CH3COOCH3

Metanol

Metil Asetat

H2 O

b) Reaksi Adisi
CH3
H+
CH3

CH2 + CH3OH

CH3

CH3

CH3

CH3
Metil t-butil eter

2) Udara
Campuran utama gas N2 dan O2 dengan komopisis 79% N2 dan 21% O2.
Tabel 2.1. Sifat-Sifat Fisika Udara

Sifat Fisika

N2

O2

28

32

Gas tidak berwarna

Gas tidak berwarna

12,5

1,71

Titik lebur, 0C, P = 1 atm

-209,68

-218,4

Titik didih, 0C, P = 1 atm

-195,8

-183

Suhu kritis, K

126,2

154,6

Tekanan kritis, bar

33,9

50,6

Berat Molekul
Wujud
Specific gravity

(Sumber:Ketta,2008)

Cp gas N2 = 7,44 1,324 x 10-2 T + 6,4 x 10-6 T2 2,79 x 10-9 T3

2.2.2. Produk
Formaldehid (CHOH)
Adapun sifat fisik dan sifat kimia yang terdapat pada Formaldehid
(CHOH), yaitu :
1) Sifat Fisika
a) Berat Molekul

: 30 g/mol

b) Wujud

: Cair

c) Boiling Point (1 atm)

: 99 0C

d) Viskositas (250C)

: 2 cP

e) Specific Heat

: 0,8 kal/(g.0C)

f) Gf

: -109,9 kJ/mol

g) Hf

: -115,9 kJ/mol

2) Sifat Kimia
a) Reaksi dengan air
Formaldehid dengan adanya air dapat membentuk methylen glicol.
H

CH2

O + H2O

HO

OH

H
b) Reaksi dengan asetaldehid
Formaldehid

dengan

asetaldehid

dalam

larutan

NaOH

dapat

membentuk pantaerythritol dan sodium format.


CH2

O + CH3

CHO + NaOH

C(CH2OH)2 + HCOONa

c) Reaksi dengan Asetilen


Asetilen akan bereaksi dengan formaldehid membentuk 2-butyne-1,4diol. Ketika terhidrogenasi akan terbentuk 1,4-butanediol.
2CH2
HOCH2C

O + C2H2
C

HOCH2C

CH2OH + H2

CH2OH

HO(CH2)4OH

2.4. Uraian Proses Pembuatan Formaldehid


2.4.1. Persiapan bahan baku pembuatan formalin
Metanol cair dengan temperatur 30C dipompa dari metanol tank dan
dipanaskan di preheater (MP) sampai temperatur 65C lalu dimasukkan dalam
vaporizer (VP). Di dalam vaporizer terjadi perubahan fase dari cair menjadi gas
dengan suhu dalam vaporizer 6575C. Metanol gas dari vaporizer dipanaskan
lagi dengan super heater (SH) di bagian atas vaporizer sampai suhu 95C dan
langsung dimasukkan ke mix gas (MG). Udara dihisap melalui air filter
(penyaring udara) dengan blower. Setelah dipanaskan dengan pemanas udara
sampai suhu 110C lalu dimasukkan ke dalam mix gas (MG). Steam masuk
melalui steam filter pada suhu 140 oC ke mix gas (MG).
2.4.2. Proses Reaksi
Udara, steam dan metanol gas bercampur rata di mix gas pada suhu 140 oC
lalu masuk ke reaktor (RE) dengan melewati mix gas filter (MGF) untuk menjaga
agar tidak ada tetes-tetes cairan (kondensat) masuk ke reaktor.
Pada saat start operation, temperatur katalis dinaikkan oleh heater sebagai
pemanas awal sampai suhu 400450C, setelah itu heater dimatikan sehingga
suhu katalis naik dengan sendirinya sampai suhu operasi yang diinginkan karena
adanya reaksi eksoterm. Di dalam reaktor terjadi reaksi pembuatan gas
formaldehid dengan bantuan katalis perak pada suhu operasi 650700C. Reaksi
yang terjadi sebagai berikut:
1) Reaksi oksidasi metanol
CH3OH + O2 > CH2O + H2O

-37 kcal/mol

2) Dehidrogenasi metanol
CH3OH > CH2O + H2

+21 kcal/mol

Gas formaldehide yang terbentuk kemudian di-spray dengan larutan crude


formalin 44% dengan temperature 80 oC untuk menurunkan suhu gas formaldehid
sampai dibawah 250 oC. Spray crude formalin ini juga dapat menyebabkan

terjadinya reaksi samping yaitu terbentuknya paraform dan asam format (formic
acid). Reaksi samping yang terjadi di dalam reaktor dapat dituliskan seperti
penjelasan di bawah ini yaitu:
1) Reaksi pembentukan paraform (methylen glycol)
CH2O + H2O > HOCH2OH (methylen glycol)
atau polymer dapat ditulis :
n CH2O + H2O > HO(CH2O)n H
2) Reaksi pembentukan asam format (formic acid)
2 CH2O + H2O > HCOOH + CH3OH
(asam format)

(methanol)

2.4.3. Proses Absorbsi


Gas formaldehide dari reaktor (RE) dialirkan ke bagian bawah packed
tower . Gas ini dikontakkan dengan larutan formalin 44% suhu 40 oC yang
dialirkan dari atas menara dengan bantuan distributor cairan agar larutan formalin
yang digunakan tersebar secara merata didalam packed tower dan membasahi
seluruh permukaan raschig ring sehingga penyerapan maksimal.
Hasil penyerapan di packed tower berupa formalin cair masuk ke control
tank (CT). Sisa gas yang belum terserap di packed tower masuk ke dalam bubble
cap tower yang akan diserap oleh pure water dari atas menara. Sisa dari
penyerapan itu yang masih lolos nantinya dibakar di flare stack yang sebelumnya
melewati demister. Hasil penyerapan dari bubble cap tower masuk ke control tank
2.4.4. Proses pendinginan
Larutan crude formalin pada control tank (CT) temperaturnya 80C,
karena temperaturnya masih relatif tinggi maka didinginkan lagi dengan
dilewatkan cooler (CO). Cooler yang digunakan yaitu frame and plate dengan
temperatur keluar 40C. Selain itu agar formalin terbentuk sempurna, setelah
melewati cooler larutan tersebut masuk ke crude formalin filter (CF) baru masuk
ke crude formalin tank . Kadar formalin di crude formalin tank sekitar 43-44%.
2.4.5. Proses pengenceran

Untuk memperoleh formalin dengan kondisi standar yang digunakan oleh PT. PAI
yaitu formalin dengan kadar 37,3% maka formalin dari crude formalin tank
diencerkan dengan menggunakan pure water di mixing tank . Setelah terbentuk
larutan formalin 37,3% disimpan dalam tangki penyimpanan.
2.5. Manfaat dan Kegunaan Formaldehid
Formalin selain harganya murah, mudah didapat dan pemakaiannya pun
tidak sulit sehingga sangat diminati sebagai pengawet oleh produsen pangan yang
tidak

bertanggung

jawab.

Hasil

survei

dan

pemeriksaan

laboratorium

menunjukkan, sejumlah produk pangan menggunakan formalin sebagai pengawet.


Anjuran penggunaan formalin yang benar adalah:
1) Sebagai pembunuh kuman, sehingga banyak dipakai dalam pembersih lantai,
pakaian, kapal dan gudang,
2) Pembasmi lalat dan serangga lainnya,
3) Salah satu bahan dalam pembuatan sutera buatan, zat pewarna cermin kaca
dan bahan peledak,
4) Pengeras lapisan gelatin dan kertas foto,
5) Bahan pembuatan pupuk urea, parfum, pengeras kuku dan pengawet produk
kosmetik,
6) Pencegah korosi pada sumur minyak,
7) Bahan untuk insulasi busa, dan,
8) Bahan perekat kayu lapis.
Dalam konsentrasi kurang dari 1%, formalin digunakan sebagai pengawet
dalam pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, sampo mobil,
lilin, dan karpet.
2.6. Bahaya Formalin Bagi Kesehatan
Formalin tidak boleh digunakan sebagai bahan pengawet untuk pangan.
Akibatnya jika digunakan pada pangan dan dikonsumsi oleh manusia akan
menyebabkan beberapa gejala diantaranya adalah tenggorokan terasa panas dan
kanker yang pada akhirnya akan mempengaruhi organ tubuh lainnya, serta gejala
lainnya. Oleh karena itu dinas kesehatan sangat melarang penjualan formaldehid

secara bebas di pasaran karena ditakutkan akan digunakan oleh oknum tertentu
yang tidak bertanggung jawab terhadap dampaknya bagi kesehatan.
Formalin sangat berbahaya bila terhirup, mengenai kulit, dan tertelan.
Akibat yang ditimbulkan dapat berupa luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran
pernafasan, reaksi alergi, dan bahaya kanker pada manusia.
2.6.1. Bahaya Jangka Pendek (akut)
1) Bila terhirup
a) Iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa
terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk
b) Kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan seperti radang
paru, pembengkakan paru.
c) Tanda-tanda lainnya meliputi bersin, radang tenggorokan, sakit dada
yang berlebihan, kelelahan, jantung berdebar, sakit kepala, mual, dan
muntah.
d) Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian .
2) Bila terkena kulit
Apabila terkena kulit maka akan menimbulkan perubahan warna, yaitu
kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa, dan ada rasa terbakar
3) Bila terkena mata
Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata
memerah, rasanya sakit, gatal, penglihatan kabur, dan mengeluarkan air
mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin
menyebabkan pengeluaran air mata dan terjadi kerusakan pada lensa mata.
4) Bila tertelan
Apabila tertelan maka mulut,tenggorokan, dan perut terasa terbakar, sakit
saat menelan, mual, muntah, diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit
perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi ( tekanan darah rendah ), kejang,
tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati,
jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan saraf pusat, dan ginjal.
2.6.2. Bahaya Jangka Panjang ( kronis )
1) Bila terhirup

Apabila terhirup dalam jangka waktu lama maka akan menimbulkan sakit
kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung,
mual, mengantuk, luka pada ginjal, gangguan haid dan infertilitas pada
perempuan, kanker pada hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru,
dan otak. Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah,
keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi, dan daya ingat
berkurang seiring dengan waktu pemakaian formaldehid tersebut.
2) Bila terkena kulit
Apabila terkena kulit akan terasa panas, mati rasa, serta gatal-gatal dan
memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada
kulit, serta terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung.
3) Bila terkena mata
Jika terkena mata bahaya yang utama adalah terjadinya radang selaput
pada mata yang membahayakan penglihatan.
4) Bila tertelan
Jika tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan ,muntahmuntah, dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan
suhu badan dan rasa gatal di dada.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah yang telah dibuat adalah :
1)

Formaldehid merupakan salah satu pengawet yang banyak digunakan


dalam makanan dengan rumus kimia H2CO, padahal jenis pengawet
tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan dan mempunyai larutan tidak
berwarna, berbau tajam, mengandung formaldehid sekitar 37% dalam air,
biasanya ditambahkan metanol 10-15%.

2)

Formaldehida terbentuk akibat reaksi oksidasi katalitik pada metanol. Oleh


sebab itu, formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang
mengandung karbon dan terkandung dalam asap pada kebakaran hutan,
knalpot mobil, dan asap tembakau.

3)

Formaldehid dengan berat molekul 32 g/mol dengan wujud cair dapat


bereaksi dengan air, asetaldehid, dan asetilen.

4)

Dalam konsentrasi kurang dari 1%, formalin digunakan sebagai pengawet


dalam pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, sampo
mobil, lilin, dan karpet. Akan tetapi, formalin sangat berbahaya bila
terhirup, mengenai kulit, dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat
berupa luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi,
dan bahaya kanker pada manusia.

3.2. Saran
Sebaiknya penggunaan formaldehid ini tidak digunakan dalam pengolahan
pangan

mengingat

senyawanya

yang

bersifat

karsinogenik.

Untuk

penggunaan formaldehid yang akan diaplikasikan dalam kehidupan seharihari, dapat dilihat aturan yang berlaku.

2.3. Diagram Alir Proses Pembuatan Formaldehid

Gambar 1. Contoh Diagram Alir Pra Rancangan Pabrik Formaldehid


dengan Proses Metal Oxide Kapasitas 55.000 ton/tahun

DAFTAR PUSTAKA

Azizah, Ceeta.2013.Makalah Formaldehid.[Online] http://ceeta..wordpress.com/2 013/06/11/makalah-formaldehid/. (Diakses pada


21 September 2014).
Hidayah, Arini Ulfa.2013.Laporan Kimia Sifat dan Kegunaan Formaldehid.[Onli- ne]
http://ariniulfahidayah.blogspot.com/2013/04/laporan-kimia-sifat-dan-kegunaan.html. (Diakses pada 21 September 2014).
Ketta, Ikmal Akbar.2008.Sifat Fisik dan Kimia Kandungan Udara di Alam.[Onli- ne]
http://ikmalakbarketta.blogspot.com/2008/05/12/sifat-fisik-dan-kimia-kandungan-udara-di-alam.html. (Diakses pada 21
September 2014).
Rizki, Ahmad.2012.Proses Pembuatan Formalin.[Online] http://hutanhujan.word press.com/2012/01/05/proses-pembuatanformalin/.htmll.(Diakses pada 21 September 2014).
Sukamto, Agus.2012.Makalah Proses Pembuatan Formalin.[Online] http://aguest -dradonizer.blogspot.com/2012/10/makalah-formalin_--27.html. (Diakses pada 21 September 2014).