Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN PROSES

PEMBUATAN CuSO4.5H2O
Oleh

DILA ADILA

NIM 131411059

RIMA AGUSTIN M NIM 131411061


ULFA NURUL A

NIM 131411063

Dosen Pembimbing :
Ir. Emmanuela Maria Widyanti, MT

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2014

A. LANDASAN TEORI
Tembaga adalah logam merah muda yang lunak, dapat ditempa dan diliat. Tembaga
melebur pada 10380C. Karena potensial elektroda standar positif, (+0,34 Volt untuk pasangan
Cu / Cu2+), ia tidak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer meskipun dengan adanya
oksigen ia larut sedikit. Namun, asam nitrat dengan mudah melarutkan tembaga karena asam
nitrat merupakan pelarut semua logam kecuali emas dan platina. Berikut reaksi yang terjadi :
3Cu + 8HNO3

3Cu2+ + 6NO- + 2NO + 4H2O

Asam sulfat pekat panas juga melarutkan tembaga :


Cu + 2H2SO4

Cu2+ + SO42- + SO2 + 2H2O

Tembaga mudah pula larut dalam air raja :


3Cu + 6HCl + 2HNO3
3Cu2+ + 6Cl- + 2NO + 4H2O
Ada dua deret senyawa tembaga, senyawa senyawa tembaga (I) diturunkan dari
tembaga (I) oksida Cu2O yang merah, dan mengandung ion tembaga (I), Cu+, senyawa
senyawa ini tidak berwarna, kebanyakan garam tembaga (I) tak larut dalam air, mudah
dioksidasi menjadi senyawa tembaga (II), yang dapat diturunkan dari tembaga (II) oksida,
CuO, hitam. Garam garam tembaga (II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat,
padat, maupun dalam larutan air, warna ini benar benar khas hanya untuk ion kompleks
tetrakuokuprat (II), yaitu warna ion tembaga (II) dalam larutan air. Garam garam tembaga
(II) anhidrat, seperti tembaga (II) sulfat anhidrat CuSO 4, berwarna putih atau sedikit kuning.
Dalam larutan air selalu terdapat ion kompleks tetraakuo dalam praktek hanya ion tembaga
(II) yang penting.
Dalam suatu Sistem Periodik Unsur (SPU), tembaga (Cu) termasuk ke dalam
golongan 11. Tembaga, perak dan emas disebut logam koin karena dipakai sejak lama
sebagai uang dalam bentuk lempengan (koin). Hal ini disebabkan oleh logam ini tidak
reaktif, sehingga tidak berubah dalam waktu yang lama. Tembaga adalah logam berdaya
hantar listrik tinggi, maka dipakai sebagai kabel listrik. Tembaga tidak larut dalam asam yang
bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam
HNO3. Bentuk pentahidrat yang lazim terhidratnya, yaitu kehilangan empat molekul airnya

pada 110 C dan kelima-lima molekul air pada 150 C. Pada 650 C, tembaga (II) sulfat
mengurai menjadi tembaga (II) oksida (CuO), sulfur dioksida (SO2) dan oksigen (O2) .
Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam yang paling ringan dan paling aktif. Cu+
mengalami disproporsionasi secara spontan pada keadaan standar (baku). Hal ini bukan
berarti larutan senyawa Cu(I) tidak mungkin terbentuk. Untuk menilai pada keadaan
bagaimana mereka ditemukan, yaitu jika kita mencoba membuat (Cu +) cukup banyak pada
larutan air, Cu2+ akan berada pada jumlah banyak (sebab konsentrasinya harus sekitar dua
juta dikalikan pangkat dua dari Cu+. Disproporsionasi akan menajdi sempurna. Di lain pihak
jika Cu+ dijaga sangat rendah (seperti pada zat yang sedikit larut atau ion kompleks mantap),
Cu2+ sangat kecil dan tembaga (I) menjadi mantap.
Tembaga (II) sulfat mempunyai banyak kegunaan di bidang industri diantaranya
untuk mebuat campuran Bordeaux (sejenis fungisida) dan senyawa tembaga lainnya.
Senyawa ini juga digunakan dalam penyepuhan dan pewarnaan tekstil serta sebagai bahan
pengawet kayu. Bentuk anhidratnya digunakan untuk mendeteksi air dalam jumlah kelumit.
Tembaga sulfat juga dikenal sebagai vitriol biru.
Tembaga (II) sulfat merupakan padatan kristal biru, CuSO 4.5H2O triklini.
Pentahidratnya kehilangan 4 molekul air pada 110 0 C dan yang ke lima pada 150 0C
membentuk senyawa anhidrat berwarna putih. Pentahidrat ini dibuat dengan mereaksikan
tembaga (II) oksida atau tembaga (II) karbonat dengan H2SO4 encer, larutannya dipanaskan
hingga jenuh dan pentahidrat yang biru mengkristal jika didinginkan. Pada skala industri,
senyawa ini dibuat dengan memompa udara melalui campuran tembaga panas dengan H 2SO4
encer. Dalam bentuk pentahidrat, setiap ion tembaga (II) dikelilingi oleh empat molekul air
pada setiap sudut segi empat, kedudukan kelima dan keenam dari oktahedral ditempati oleh
atom oksigen dari anion sulfat, sedangkan molekul air kelima terikat oleh ikatan hidrogen.
Salah satu sifat dari logam tembaga yaitu tembaga tidak larut dalam asam yang bukan
pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam HNO3.
3Cu(s) + 8H+(aq) + 2NO3-(aq) 3Cu2+(aq) + 2NO(g) + 4H2O

B. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah mempelajari dan melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu :
a. Membuat kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat dari limbah tembaga
b. Mengenal sifat-sifat kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat
c. Menganalisis produk dengan menghitung rendeman dan jumlah air kristal (hidrat) secara
stoikhiometri

C. ALAT DAN BAHAN


ALAT

SPESIFIKASI JUMLAH BAHAN

Hot plate

Kertas saring
Batang
pengaduk

Pekat

15 mL

Larutan H2SO4

98%

10 mL

Logam Cu

5 gram

Aquadest

50 mL

250 mL

Gelas kimia

100 mL

Gelas ukur

50 mL

Corong

Gelas arloji

Pipet ukur

Gunting

Larutan HNO3

Gelas kimia

Neraca analitik

SPESIFIKASI JUMLAH

D. SKEMA KERJA
2
Aquades 50 ml
+ H2SO4pekat 10
ml

Pelarutan
Pemanasan
Kristalisasi
Filtrasi

Cu 5 gr +
HNO3pekat 15
ml

T =100oC

Pengeringan

Analisis

E. DATA PENGAMATAN
Cawan porselen kosong

= 51,47 gram

Kaca arloji kosong

= 43,00 gram

Kaca arloji + kristal CuSO4.5H2O basah

= 58,03 gram

Berat kristal CuSO4.5H2O basah = 58,03 43,00

= 15,03 gram

Kaca arloji + kristal CuSO4.5H2O kering

= 57,28 gram

Berat kristal CuSO4.5H2O kering (setelah di panaskan d oven) = 57,28


43,00

=14,28 gram

Cawan porselen + sampel CuSO4.5H2O kering

= 53,44 gram

Berat sampel kristal CuSO4.5H2O kering yang digerus = 53,44 51,47

= 1,97 gram

Cawan gerus + sampel CuSO4 yang sudah di panaskan

= 52,80 gram

Berat sampel CuSO4 yang sudah dipanaskan = 52,80 51,47

=1,33 gram

F. PENGOLAHAN DATA
Diketahui : Massa Cu
= 5 gram
Massa Kristal = 14,28 gram
BM CuSO4.5H2O = 249,55 gram/mol
BA Cu
= 63,55 gram/mol
Ditanyakan : Yield ?
Penyelesaian :
Perhitungan secara teori
Reaksi : Cu + H2SO4 + 2HNO3 + 3H2O
mol Cu

CuSO4.5H2O + 2 NO2

=
=
= 0,079 mol

mol H2SO4 =
=
= 0,184 mol
mol HNO3 =
=
= 0,217 mol
mol H2O

=
=
= 2,778 mol

Reaksi yang terjadi :


Cu + H2SO4 + 2 HNO3 + 3 H2O
Mula : 0,079
0,184
0,217
2,778
Reaksi : 0,079
0,079
0,158
0,237
Sisa : 0
0,105
0,059
2,541

CuSO4.5H2O + 2 NO2
0,079
0,158
0,079
0,158

Mol CuSO4.5H2O
BM CuSO4.5H2O
Massa CuSO4.5H2O

Yield

= 0,079 mol
= 249,55 gram/mol
= mol x Mr
= 0,079 x 249,55
= 19,714 gram

=
=

x 100%

= 72,435%
1. Menghitung kadar air dalam kristal CuSO4.xH2O
Berat cawan + CuSO4.xH2O
= 53,44 gram
Berat CuSO4.xH2O
= 1,97 gram
Berat cawan + CuSO4.xH2O setelah dikeringkan = 52,80 gram
Berat CuSO4
= 1,33 gram
mol CuSO4

=
=
= 0,0083 mol
= Massa CuSO4.xH2O Massa CuSO4
= 1,97 gram 1,33 gram
= 0,64 gram

Massa xH2O

mol H2O

=
=
= 0,0356 mol
=
=

0,0083 x = 0,0356
x = 4,3
Kadar air CuSO4.xH2O = x = 4,3
a. Tulis semua reaksi yang terjadi

Mengoksidasi Cu menggunakan HNO3 pekat


3Cu(s) + 8H+(aq) + 2NO3-(aq)
3Cu2+(aq) + 2NO(g) + 4H2O
2+
Reaksi Cu dengan H2SO4 pekat
Cu2+ + 2H+ + SO42-
CuSO4 + 2H+
Reaksi pembentukkan kristal CuSO4.5H2O
CuSO4 + 5H2O

CuSO4.5H2O

Reaksi keseluruhan
Cu2+ +3H2O+H2SO4+2HNO3

CuSO4.5H2O+ 2NO2

G. KESIMPULAN

CuSO4.5H2O dibuat dengan mereaksikan logam Cu dengan HNO3 agar terbentuk Cu2+
dan selanjutnya ditambahkan larutan H2SO4.
CuSO4.5H2O berbentuk kristal, berwarna biru, dan mudah larut dalam air.
Yield CuSO4.5H2O yang didapatkan adalah 72,435%.
Kadar air CuSO4.x H2O yang didapatkan adalah 4,3

H. PEMBAHASAN
DILA ADILA
Tembaga merupakan suatu logam yang memiliki warna kemerah-merahan. Unsur
ini sangat mudah dibentuk, lunak, dan merupakan konduktor yang bagus untuk aliran
elektron (kedua setelah perak dalam hal ini). Dalam eksperimen modul ini, akan
dilakukan percobaan pembuatan tembaga (II) sulfat, yang kemudian pada akhirnya akan
terbentuk kristal tembaga (II) sulfat. Prosedur awal yang kita lakukan adalah
memasukkan 50 mL aquades ke dalam gelas kimia, yang selanjutnya menambahkan 10
mL asam sulfat pekat. Setelah itu dilanjutkan dengan menambahkan dengan 5 gram
tembaga sehingga terbentuk campuran larutan dari ketiga zat tersebut. Selanjutnya kita
menambahkan campuran larutan tersebut dengan 15 mL asam nitrat pekat. Adapaun
tujuan dari Penambahan asam sulfat tersebut agar terbentuknya garam CuSO 4.
Persamaan reaksinya yang
terjadi adalah sebagai berikut :
Cu + H2SO4 CuSO4 + SO2 + 2 H2O

atau
Cu + 2H2SO4 Cu2+ + SO42- + SO2 + 2H2O
Dalam reaksi diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa asam sulfat bersifat
sebagai oksidator. Dimana zat yang dioksidasi adalah logam tembaga. Logam tembaga
mengalami oksidasi yang ditandai dengan naiknya bilangan oksidasi dari 0 menjadi +2.
Dengan demikian, asam sulfat mengalami reduksi dimana belerang mengalami
penurunan bilangan oksidasi dari +6 menjadi +4, baik pada gas SO 2 maupun pada ion
SO42- atau tembaga (II) sulfat. Sedangkan tujuan dari penambahan asam nitrat pekat
adalah untuk mengaktifkan tembaga agar ia dapat bereaksi dengan asam sulfat. Dari
penambahan asam nitrat pekat ini menyebabkan tembaga melarut dan larutan menjadi
berwarna biru keruh serta terdapat uap berwarna coklat. Uap ini terbentuk sebagai akibat
tembaga yang direaksikan dengan asam nitrat pekat. Karena pada percobaan ini
diperlukan waktu yang tidak sedikit dari reaksi antara tembaga dan asam nitrat pekat,
maka dalam proses ini diperlukan pengadukan sampai seluruh tembaga larut. Persamaan
reaksinya adalah sebagai berikut

3Cu + 8HNO3 3Cu(NO3)2 + 2NO + 4 H2O


3Cu + 8HNO3 3Cu2+ + 6NO3- + 2NO + 4 H2O
Sama halnya dengan penambahan asam sulfat, asam nitrat juga merupakan
oksidator pada reaksi diatas dengan mengoksidasi logam tembaga sehingga tembaga
mengalami kenaikan bilangan oksidasi dari 0 menjadi +2 sebagaimana pada reaksi
dengan asam sulfat diatas. Karena bersifat oksidator, maka asam nitrat mengalami
penurunan bilangan oksidasi dari +5 menjadi +2 pada senyaawa NO.
Dalam proses penambahan asam nitrat pekat tersebut menyebabkan logam
tembaga melarut dan larutannya menjadi berwarna biru keruh serta terdapat uap
berwarna coklat tua. Uap ini terbentuk sebagai akibat dari tembaga yang direaksikan
dengan asam nitrat pekat dan asap ini merupakan gas NO. Dalam proses ini kita lakukan
pengadukan sedikit lebih lama, karena kita lakukan pengadukan sampai tembaga bener-

benar larut. Sehingganya pada percobaan ini, kepingan tembaga yang kita pakai harus
dipotong sekecil mungkin.
Prosedur selanjutnya setelah penambahan beberapa senyawa diatas, campuran
dipanaskan dengan tujuan untuk mempercepat proses reaksi. Selain itu, tujuan dari
pemanasan ini adalah untuk memperbesar hasil kali dari ion-ionnya dan memperkecil
harga hasil kali kelarutannya (Ksp), sehingga hal ini dapat membentuk endapan kristal.
Kristal yang terbentuk inilah yang dinamakan tembaga (II) sulfat. Proses pemanasan ini
sendiri kita hentikan ketika gas sudah berwarna coklat muda.
Persamaan reaksi yang secara lengkapnya adalah sebagai berikut:
Cu + 3H2O + H2SO4+2HNO3 CuSO4+5H2O+2NO2
Dari proses pemanasan yang dilakukan, terbentuk larutan berwarna biru tua.
Untuk memisahkan antara filtrat dengan endapan (zat pengotor) maka dilakukan
penyaringan. Proses penyaringan sendiri tidak dilakukan ketika larutan pada keadaan
dingin, tetapi pada saat larutan tersebut masih panas. Tujuannya agar pembentukan
kristal yang tidak diharapkan (kristal yang masih mengandung zat pengotor) dapat
terhindar. Dari hasil proses penyaringan, diperoleh larutan berwarna biru tua dengan
endapan (yang mengandung zat pengotor) berwarna biru muda. Setelah itu, filtrat yang
telah disaring didinginkan didalam eksikator untuk mendapatkan kristal dari tembaga
(II) sulfat.
Persamaan reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut:
Cu(NO3)2 + H2SO4 CuSO4 + 2HNO3
CuSO4 + 5H2O CuSO4.5H2O
Setelah didinginkan dan, diperoleh kristal berwarna biru serta bentuknya sendiri
menyerupai jarum. Untuk mendapatkan kristal yang murni, maka dilakukan proses
pencucian dan di larutkan kembali dengan air panas, sehingga kristal larut kembali.
Prosedur selanjutnya didinginkan kembali dalam eksikator selama 5 hari sehingga
nantinya diperoleh zat yang diinginkan yang bebas dari zat pengotor.

Persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:


Cu2+ +3H2O+H2SO4+2HNO3 CuSO4.5H2O+ 2NO2
Prosedur akhir yaitu kita lakukan penimbangan. Dari hasil penimbangan
didapatkan massa kristal CuSO4.5H2O sebesar 14,28 gram dan dari hasil perhitungan
diperoleh rendemen kristal tersebut sebesar 72,435%.

RIMA AGUSTIN MERDEKAWATI


Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan tembaga (II) sulfat. Sebanyak 10 mL
H2SO4 pekat dimasukkan ke dalam gelas kimia yang telah berisi 50 mL aquades.
Kemudian sebanyak 5 gram tembaga dimasukkan ke dalam gelas kimia tersebut dan
ditambahkan 15 mL HNO3 pekat. Pencampuran bertujuan untuk membentuk SO42dengan penambahan H2SO4 dan HNO3 yang digunakan untuk melarutkan Cu dikarenakan
sifat HNO3 yang merupakan asam kuat yang dapat melarutkan hampir semua logam,
kecuali emas dan platina (logam mulia).
Dari penambahan asam nitrat pekat ini menyebabkan tembaga melarut dan larutan
menjadi berwarna biru keruh serta terdapat uap berwarna coklat. Adanya uap coklat
adalah NO yang harus dikeluarkan. Uap ini terbentuk sebagai akibat tembaga yang
ditambahkan atau direaksikan dengan asam nitrat pekat. Karena diperlukan waktu yang
tidak sedikit dari reaksi antara tembaga dan asam nitrat pekat, maka dalam proses ini
diperlukan pengadukan sampai seluruh tembaga larut. Persamaan reaksinya adalah
sebagai berikut:
Cu + 4 HNO3 3 Cu(NO3)2 + 2 NO2 + 4 H2O
Larutan tersebut selanjutnya dipanaskan dengan tujuan untuk mempercepat proses
reaksi. Selain itu, tujuan dari pemanasan ini adalah untuk memperbesar hasil kali dari
ion-ionnya dan memperkecil harga hasil kali kelarutannya (Ksp), sehingga hal ini dapat
membentuk endapan kristal. Kristal yang terbentuk inilah yang dinamakan tembaga (II)
sulfat. Persamaan reaksi yang secara lengkapnya adalah sebagai berikut:
Cu+ 3H2O + H2SO4 + 2HNO3 CuSO4 + 5H2O + 2NO2
Dari pemanasan yang telah dilakukan, terbentuk larutan berwarna biru tua. Untuk
memisahkan filtrat dengan endapan (zat pengotor) maka dilakukan penyaringan.
Penyaringan dilakukan ketika larutan masih dalam kondisi yang panas. Hal ini ditujukan
agar pembentukan kristal yang tidak diharapkan (kristal yang masih mengandung zat
pengotor) dapat terhindar. Dari hasil penyaringan diperoleh larutan berwarna biru tua

dengan endapan (yang mengandung zat pengotor) berwarna hijau. Selanjutnya, filtrat
yang telah disaring didiamkan selama satu hari untuk mendapatkan kristal dari tembaga
(II) sulfat. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
Cu(NO3)2 + H2SO4 CuSO4 + 2HNO3
CuSO4 + 5H2O CuSO4.5H2O
CuSO4.5H2O yang diperoleh setelah didiamkan selama satu hari akan
menghasilkan kristal yang berwarna biru. Untuk mendapatkan kristal yang murni, maka
dilakukan proses pengeringan. Dari proses ini diperoleh zat yang diinginkan yang bebas
dari zat pengotor. Proses yang terjadi adalah sebagai berikut:
Cu2+ + 3H2O + H2SO4+ 2HNO3 CuSO4.5H2O + 2NO2
Kristal yang diperoleh, kemudian ditimbang. Dari hasil penimbangan didapatkan
massa kristal CuSO4.5H2O sebesar 14,28 gram dan dari hasil perhitungan diperoleh
rendemen kristal tersebut sebesar 72,435 %.

ULFA NURUL AZIZAH


Pada percobaan ini dilakukan pembuatan tembaga (II) sulfat, yang kemudian
pada akhirnya akan terbentuk kristal tembaga (II) sulfat. Dari 50 mL aquades
dimasukkan asam sulfat pekat, kemudian ditambah dengan tembaga dan asam nitrat
pekat.Tujuan dari diperlukannya bahan-bahan tersebut, terutama asam sulfat ditujukan
agar terbentuk garam CuSO4. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
Cu + H2SO4 CuSO4 + SO2 + 2 H2O
Selanjutnya tujuan dari dilakukannya penambahan asam nitrat pekat adalah
untuk mengaktifkan tembaga agar ia dapat bereaksi dengan asam sulfat. Dari
penambahan asam nitrat pekat ini menyebabkan tembaga melarut dan larutan menjadi
berwarna biru keruh serta terdapat uap berwarna coklat.Uap ini terbentuk sebagai akibat
dari tembaga yang ditambahkan atau direaksikan dengan asam nitrat pekat membentuk
gas nitrat. Karena diperlukan waktu yang tidak sedikit dari reaksi antara tembaga dan

asam nitrat pekat, maka dalam proses ini diperlukan pengadukan sampai seluruh
tembaga larut. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :
Cu + 4 HNO3 3 Cu(NO3)2 + 2 NO2 + 4 H2O
Larutan yang telah ditambahkan beberapa senyawa tadi, selanjutnya dipanaskan
dengan tujuan untuk mempercepat proses reaksi. Selain itu, tujuan dari pemanasan ini
adalah untuk memperbesar hasil kali dari ion-ionnya dan memperkecil harga hasil kali
kelarutannya (Ksp), sehingga hal ini dapat membentuk endapan kristal. Kristal yang
terbentuk inilah yang dinamakan tembaga (II) sulfat. Persamaan reaksi yang secara
lengkapnya adalah sebagai berikut:
Cu+ 3H2O + H2SO4 + 2HNO3 CuSO4 + 5H2O + 2NO2
Dari pemanasan yang telah dilakukan, terbentuk larutan berwarna biru tua.Untuk
memisahkan

filtrat

dengan

endapan

(zat

pengotor)

maka

dilakukan

penyaringan.Penyaringan tidak dilakukan ketika larutan telah dingin, melainkan


dilakukan saat larutan tersebut masih panas. Hal ini ditujukan agar pembentukan kristal
yang tidak diharapkan (kristal yang masih mengandung zat pengotor) dapat terhindar.
Dari hasil penyaringan diperoleh larutan berwarna biru tua dengan endapan (yang
mengandung zat pengotor) berwarna agak kehijauan. Selanjutnya, filtrat yang telah
disaring didiamkan selama satu hari untuk mendapatkan kristal dari tembaga (II) sulfat.
Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :
Cu(NO3)2 + H2SO4 CuSO4 + 2HNO3
CuSO4 + 5H2O CuSO4.5H2O
Kristal yang diperoleh setelah didiamkan selama beberapa saat dan membentuk
Kristal biru dengan ukuran kecil sperti serbuk.Kristal dhasilkan berupa serbuk
dikarenakan waktu yang diperlukan untuk pembentukan sangat sedikit sehingga ukuran
partikel lebih kecil. Untuk mendapatkan kristal yang murni, maka dilakukan proses
pengeringan. Dari proses ini diperoleh zat yang diinginkan yang bebas dari zat pengotor.
Proses yang terjadi adalah sebagai berikut :
Cu2+ +3H2O + H2SO4 + 2HNO3 CuSO4.5H2O + 2NO2
Kristal yang diperoleh, kemudian ditimbang. kemudian suhu ketika pemanasan
lebih ari 60oC sehingga mempengaruhi pembentukan kristal yang dihasilkan selain itu

penambahan asam nitrat kedalam larutan yang lebih sedikit daripada seharusnya juga
mempengaruhi berat dari kristal tersebut.

I. MATERIAL SAFETY DATA SHEET


Tembaga(II) sulfat

Nama IUPAC
Tembaga(II) sulfat
Nama lain
Kupri sulfat
Vitriol biru (pentahidrat)
Batu biru (pentahidrat)
Bonatit (mineral trihidrat)
Botit (mineral heptahidrat)
Kalkantit (mineral pentahidrat)
Kalkosianit (mineral)
Identifikasi
Nomor CAS
PubChem
Nomor EINECS
KEGG
ChEBI
Nomor RTECS
SMILES
InChI

[7758-98-7]
24462
231-847-6
C18713
23414
GL8800000 (anhydrous)
GL8900000 (pentahydrate)
[O-]S(=O)(=O)[O-].[Cu+2]
1/Cu.H2O4S/c;1-5(2,3)4/h;(H2,1,2,3,4)/q+2;/p-2

Sifat
Rumus molekul
Massa molar
Penampilan
Densitas
Titik lebur

CuSO4
159.62 g/mol (anhidrat)
249.70 g/mol (pentahidrat)
biru (pentahidrat)
abu-abu putih (anhidrat)
3.603 g/cm3 (anhidrat)
2.284 g/cm3 (pentahidrat)
110 C (4H2O)
150 C (423 K) (5H2O)

< 650 C decomp.


pentahydrate
316 g/L (0 C)
2033 g/L (100 C)
Kelarutan dalam air

Kelarutan

Indeks bias (nD)

Struktur kristal

Entropi molar
standar So298

form unspecified
320 g/L (20 C)
618 g/L (60 C)
1140 g/L (100 C)
anhidrat
tidak bercampur pada etanol
pentahidrat
bercampur di metanol
10.4 g/L (18 C)
tidak bercampur di etanol
1.514 (pentahidrat)
Struktur
Orthorhombic (chalcocyanite),
space group Pnma, oP24, a = 0.839
nm, b = 0.669 nm, c = 0.483 nm[1]
Triclinic (pentahydrate), space
group P1, aP22, a = 0.5986 nm, b
= 0.6141 nm, c = 1.0736 nm, =
77.333, = 82.267, = 72.567[2]
Termokimia
109.05 JK1mol1
Bahaya

MSDS
Klasifikasi EU
Indeks EU

NFPA 704

Frasa-R
Frasa-S
LD50

anhydrous
pentahydrate
Beracun (Xn)
Iritasi (Xi)
Berbahaya bagi lingkungan (N)
029-004-00-0

0
2
1
R22, R36/38, R50/53
S2, S22, S60, S61
300 mg/kg (oral, rat)
87 mg/kg (oral, mouse)

470 mg/kg (oral, mammal)


Senyawa terkait
Kation lainnya

Nikel(II) sulfat
Seng sulfat

Anda mungkin juga menyukai