Anda di halaman 1dari 8

PEMBAHASAN

TINEA KRURIS
A. Definisi
o Tinea kruris adalah penyakit dermatofitosis (penyakit pada jaringan
yang mengandung zat tanduk) yang disebabkan infeksi golongan
jamur dermatofita pada daerah kruris (sela paha, perineum, perianal,
gluteus, pubis) dan dapat meluas ke daerah sekitarnya. Berikut ini
adalah gambar predileksi terjadinya Tinea kruris :

B. Etiologi
o Tinea kruris disebabkan oleh infeksi jamur golongan dermatofita.
Dermatofita adalah golongan jamur yang menyebabkan dermatofitosis.
Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin

o Dermatofita termasuk kelas Fungi imperfecti, yang terbagi dalam tiga


genus, yaitu Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton.
o Penyebab Tinea kruris sendiri sering kali oleh Epidermophyton
floccosum,

namun

dapat

pula

oleh

Trichophyton

rubrum,

Trichophyton mentagrophytes, dan Trichophyton verrucosum.


o Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena
mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi
jamur ini dapat menyerang lapisan-lapisan kulit mulai dari stratum
korneum sampai dengan stratum basalis.
o Selain sifat keratofilik masih banyak sifat yang sama di antara
dermatofita, misalnya sifat faali, taksonomis, antigenik, kebutuhan zat
makanan untuk pertumbuhannya, dan penyebab penyakit. Jamur ini
mudah hidup pada medium dengan variasi pH yang luas. Jamur ini
dapat hidup sebagai saprofit tanpa menyebabkan suatu kelainan
apapun di dalam berbagai organ manusia atau hewan. Pada keadaan
tertentu sifat jamur dapat berubah menjadi patogen dan menyebabkan
penyakit bahkan ada yang berakhir fatal.
o Beberapa jamur hanya menyerang manusia (antropofilik), dan yang
lainnya terutama menyerang hewan (zoofilik) walau kadang-kadang
bisa menyerang manusia. Apabila jamur hewan menimbulkan lesi kulit
pada manusia, keberadaan jamur tersebut sering menyebabkan
terjadinya suatu reaksi inflamasi yang hebat. Penularan biasanya
terjadi karena adanya kontak dengan debris keratin yang mengandung
hifa jamur.
C. GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis Tinea kruris khas, penderita merasa gatal hebat pada daerah
kruris. Ruam kulit berbatas tegas, eritematosa, dan bersisik. Bila penyakit ini
menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan
keluarnya cairan biasanya akibat garukan. Berikut ini gambaran klinis dari
Tinea kruris :

Kontak Langsung

Paparan spora/hifa jamur

Lingkungan Panas &


Lembab
Autoinfeksi

Sinar UV
Variasi Suhu & kelembapan

Adhesi

Kompetisi dengan flora


normal

Obesitas

Asam lemak (fungistatik)

Trauma

Keratinosit (sphingosine)

Maserasi
Sekresi keratinase,
proteinase,
mucinolitik

D. Patogenesis

Eritema, vesikel,
pustula, pruritus

Germinasi &
penetrasi stratum
korneum

Deskuamasi
Dectin-1, TLR-2
(makrofag, NK-cell)
>> ROS

Faktor kemotaksis
Trichophytin >> IL-8

Komplemen

Delayed type
hypersensitivity
(akut)

8
Peradangan makrofag
>> NO

IgE-mediated
hypersensitivity
(kronis)

E. Faktor Risiko
o Faktor risiko adalah faktor yang dapat mempermudah timbulnya suatu
penyakit. Peran faktor risiko itu dapat dikelompokkan dalam dua
kelompok besar, yaitu :
Yang menyuburkan pertumbuhan jamur.
Yang memudahkan terjadinya invasi ke jaringan karena
daya tahan yang menurun.
o Faktor risiko yang menyuburkan pertumbuhan jamur, antara lain :
Pemberian antibiotik yang mematikan kuman akan
menyebabkan keseimbangan antara jamur dan bakteri

terganggu.
Adanya penyakit diabetes mellitus, dan atau kehamilan

menimbulkan suasana yang menyuburkan jamur.


o Faktor risiko yang memudahkan invasi jamur ke jaringan, antara lain :

1. Adanya rangsangan setempat yang terus menerus pada


lokasi

tertentu

oleh

cairan

yang

menyebabkan

pelunakan kulit, misalnya air pada sela jari kaki,


kencing pada pantat bayi, keringat pada daerah lipatan
kulit, atau akibat liur di sudut mulut orang lanjut usia.
2. Adanya penyakit tertentu, seperti gizi buruk, penyakit
darah, keganasan, diabetes mellitus, dan atau kehamilan
menimbulkan suasana yang menyuburkan jamur.
o Penyakit kulit karena infeksi jamur superfisial seseorang terkena
penyakit tersebut oleh karena kontak langsung dengan jamur tersebut,
atau benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh jamur, ataupun
kontak langsung dengan penderita.
o Tinea kruris paling banyak terjadi di daerah tropis, musim/iklim yang
panas, lingkungan yang kotor dan lembab, banyak berkeringat. Faktor
keturunan tidak berpengaruh.
o Kebiasaan mengenakan celana ketat dalam waktu yang lama dan atau
bertukar pinjam pakaian dengan orang lain penderita Tinea kruris juga
termasuk faktor risiko infeksi awal maupun infeksi berulang Tinea
kruris.
F. NON FARMAKOLOGI
a. Menjelaskan diagnosis (tinea crusris) kepada pasien, meliputi penyebab dan
cara penularan.
b. Gunakan handuk tersendiri untuk mengeringkan bagian yang terkena infeksi
atau bagian yang terinfeksi .
c. Bagian yang terinfeksi dikeringkan terakhir untuk mencegah penyebaran
infeksi ke bagian tubuh lainnya.
d. Jangan mengunakan handuk, baju, atau benda lainnya secara bergantian
dengan orang yang terinfeksi.
e. Cuci handuk, seprai, celana, celana dalam dan baju yang terkontaminasi jamur
dengan air panas untuk mencegah penyebaran jamur tersebut.

10

f. Bersihkan kulit setiap hari menggunakan sabun dan air untuk menghilangkan
sisa-sisa kotoran agar jamur tidak mudah tumbuh.
g. Hindari penggunaan pakaian yang dapat menyebabkan kulit selalu basah dan
menghambat sirkulasi udara.
h. Hindari kontak langsung dengan orang yang mengalami infeksi jamur.

G. FARMAKOLOGI
Dr.Pimbon
SIP : ......./......../.......
Jl.lamper tengah, Semarang Timur
24 September 2014

R/ Ketokonazole. Zalf. Tube.1


S 2 dd ue
R/ ketokonazole 200 mg tab N.X
S 1 dd 1 tab pc

Pro

: fajri

Umur

: 18

Alamat

: semarang
11

H. PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad sanam

: bonam

Quo ad cosmeticam

: dubia et malam

I. KOMPLIKASI
Pada penderita Tinea kruris dapat terjadi komplikasi infeksi sekunder oleh organisme
candida atau bakteri. Pemberian obat steroid topikal dapat mengakibatkan eksaserbasi
jamur sehingga menyebabkan penyakit menyebar.

12

Daftar Pustaka
Djuanda, Adhi. 2009. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi 5. EGC: Jakarta

13