Anda di halaman 1dari 6

PEMERIKSAAN URIN DENGAN METODE ESBACH

I.

TUJUAN
Untuk mengetahui angka protein loss pada sampel urin

II. METODE

III. PRINSIP
Asam pikrat dapat mengendapkan protein. Endapan ini dapat diukur secara kuantitatif

IV. DASAR TEORI


Urinalisis adalah uji skrining digunakan untuk deteksi gangguan tertentu, tetapi tidak
cukup untuk menetapkan diagnosis. Gangguan yang menginduksi perubahan urinalisis
adalah:
a. gangguan keseimbangan air dan asam-basa
b. Penyakit ginjal: nephropathies glomerular (glomerulonefritis) dan tubulus-interstisial
nephropathies (pielonefritis), batu ginjal
c. mengubah fungsi ginjal: ARF (gagal ginjal akut), CRF (gagal ginjal kronis)
d. gangguan post-rennal : infeksi saluran kencing (uretritis, sistitis)
e. gangguan endokrin: diabetes mellitus, diabetes insipidus (kekurangan ADH)
f. Penyakit hati: sindrom ikterus
(Anonim a, tt).
Pada uji urinalisis, salah satu parameter yang dapat diukur untuk mengetahui adanya
kelainan ginjal adalah Protein (proteinurea). Urin dikatakan :
a. NORMAL apabila mengandung sejumlah KECIL Albumin (<30 mg / hari) dan tes
menunjukkan hasil negatif (-).
b. MIKROALBUMINURIA apabila jumlah albumin 30 - 300 mg / hari = merupakan
karakteristik untuk diabetes nefropati, tetapi tidak dapat diungkapkan selama uji
urinalisis

c. PROTEINURIA (albuminuria) apabila jumlah albumin > 300 mg / hari = dan hasil
tes positif dari 1 (+) hingga 4 (+) (15 - 500 mg / dl).
(Anonim a, tt).

Pengukuran proteinuria penting dilakukan dalam mendiagnosis gangguan ginjal dan


mengetahui respon pengobatan. Proteinuria Massive biasanya terjadi pada gangguan
glomerular, dimana tingkat tertinggi pada sindrom nefrotik (SN). Proteinuria Massive dapat
ditentukan dengan uji Esbach, yang merupakan standar terbaik untuk pengukuran
proteinuria (Sukmawati dan Suarta, 2007).
Uji Esbach merupakan pemeriksaan untuk menilai kadar protein dalam urin
(proteinuria). Pada uji ini, pemeriksaan kuantitatif albumin dalam urine dengan cara
mencampurkan larutan asam pikrat 1% dalam air dan larutan asam sitrat 2% dalam air
dengan urine. Asam sitrat ini hanya digunakan untuk tujuan menjaga keasaman cairan. Hasil
positif dilihat dengan adanya kekeruhan dan tingkat kekeruhan sesuai dengan junlah protein
(Kurniati, 2010).
Tes Esbach yang disebut juga metode dipstick, merupakan pemeriksaan kuantitatif
dengan nilai 0-4 (+). Pemeriksaan ini sensitif terhadap 60mg/l albumin, tetapi kurang sensitif
terhadap protein Bence Jones dan protein lain yang berat molekulnya rendah misal 2mikroglobulin. Pemeriksaan ini terkenal karena kemudahannya. Sampel urin yang
digunakan untuk tes Esbach ini adalah dari pengumpulan urin 24 jam yang ditampung
(Anonim, 2010).
Jadi untuk mendapatkan sampel urin ini, pasien diharuskan menampung semua
urinnya selama 24 jam mulai dari jam 6 pagi sampai jam 6 pagi pada hari berikutnya. Urin
yang keluar pertama kali pada pagi hari tidak ditampung, karena merupakan hasil dari
malam harinya. Jadi urin mulai ditampung setelah berkemih pertama kali pada pagi hari
sampai pasien berkemih pertama kali pada pagi hari di hari berikutnya (Anonim, 2010.).
Pengumpulan urin 24 jam ini membuat pasien tidak nyaman dan tidak praktis karena pasien
harus membawa kemana-mana tempat untuk menampung urinnya, serta sering kali pasien
lupa untuk menampung urinnya ketika sedang berkemih. Untuk menghindari proteinuria
ortostatik dan intermiten maka pengumpulan urin 24 jam biasanya diganti dengan

Pengumpulan urin semalam, yang memiliki akurasi yang sama (Sukmawati dan Suarta,
2007).
Setelah pengumpulan, selanjutnya urin asam disaring dituangkan ke dalam tabung
gelas sampai U tanda, dan kemudian reagen khusus ditambahkan sampai tingkat berdiri cair
pada R. Campur cairan secara menyeluruh (tanpa mengguncang) dengan membalik tabung
(tutup dengan gabus, dan memungkinkan untuk berdiri tegak selama dua puluh empat jam)
belasan kali. Kemudian dilakukan pembacaan skala, dimana ketinggian koagulum berdiri
akan menunjukkan jumlah bagian per seribu, atau gram albumin dalam satu liter. Hasil ini
dibagi dengan sepuluh menghasilkan persentase yang ditunjukkan pada Table 1 (Anonim b,
tt).
Tabel 1. Hasil dari tes Esbach atau metode dipstik memiliki nilai 0-4 (+):
Hasil

Jumlah protein

Samar

10-30 mg %

1(+)

30 mg %

2(+)

100 mg %

3(+)

500 mg %

4(+)

> 2000 mg %

Endapan protein urin

dengan metode Esbach mungkinkan evaluasi keparahan

proteinuria yaitu :
a. RINGAN <1 g / hari (fisiologis, saluran kemih infeksi, batu ginjal),
b. SEDANG 1-3 g / hari (nephropathies glomerulus dan tubulus-interstisial),dan
c. BERAT >3,5 g / hari (sindrom nefrotik)
(Anonim a, tt).
Pada uji Esbach, hasil positif palsu (false positif) dapat terjadi bila sampel urin
sifatnya terlalu basa atau terlalu encer. Selain itu bila pemeriksaan menunjukkan hasil positif
palsu maka harus diperiksa dengan asam salisilsulfonat atau dengan tes pendidihan karena
hasil positif palsu mungkin ditimbulkan oleh urin alkali yang berbufer kuat (Anonim, 2010).
Beberapa kelemahan uji Esbach seperti pada pengukuran kualitatif sulit dilakukan
pada anak-anak terutama pada yang tidak bisa mengendalikan buang air kecil karena hal ini
akan menimbulkan kesulitan dalam pengumpulan urin 24 jam atau urin semalam, sering

terjadi kesalahan selama menghitung waktu dan saat mengakomodasi urin, dan hasil yang
didapat tidak akurat (Sukmawati dan Suarta, 2007).

V. ALAT DAN BAHAN


1. Tabung Esbach
2. Sampel urin 24 jam (2 L)
3. Reagen Esbach
a. Asam pikrat 10
b. Asam sitrat 20
c. Air suling 1 L
4. Alat-alat gelas lainnya

VI. CARA KERJA


-

Sampel urin 24 jam dikumpulkan dan diukur volumenya ( 2 liter/jam)

Sampel urin diaduk agar homogen kemudian diambil secukupnya kemudian ditetesi
dengan beberapa tetes asam cuka 6% hingga ph urin menjadi < 6 lalu disaring

Selanjutnya tabung Esbach diisi dengan urin sampai tanda U dan reagen Esbach
hingga tanda R

Tabung Esbach ditutup dengan gabus penutupnya, dibolak-balik beberapa kali agar
urin dan reagen tercampur baik, lalu dibiarkan pada suhu kamar selama 24 jam.

Setelah 24 jam dibaca endapan yang ditimbulkan dalam satuan g/L

VII. HASIL
Pengukuran Ph : asam lemah
Setelah penambahan reagen : Warna kuning
Setelah didiamkan 24 jam : 0,7 g/L = 700 mg/L
Persentase protein : 700 mg/L : 10 = 70 mg %
Perhitungan Protein Loss
Protein loss

= a g/L x V L/24 jam


= 0,7 x 2
= 1,4 g/24 jam

VIII.

PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, dilakukan pengukuran kadar protein dalam urin menggunakan

metode uji Esbach. Uji Esbach merupakan pemeriksaan untuk menilai kadar protein dalam
urin (proteinuria) dimana hasil positif ditunjukkan dengan adanya kekeruhan dan tingkat
kekeruhan sesuai dengan kuantitatif protein (Kurniati, 2010).
Sampel urin 24 jam yang telah terkumpul diaduk agar homogen. Selanjutnya sampel
diambil secukupnya untuk diteteskan dengan asam cuka 6% dan disaring. Penambahan asam
cuka ini bertujuan untuk membuat urin menjadi asam (pH<6). Pada uji Esbach hasil positif
palsu dapat terjadi bila urin sampel sifatnya terlalu basa atau terlalu encer (Anonim, 2010).
Tabung Esbach kemudian ditambahkan urin sampai tanda U dan reagen Esbach hingga
tanda R. Tabung Esbach dibolak-balik beberapa kali agar urin dan reagen tercampur baik,
lalu dibiarkan pada suhu kamar selama 24 jam. Setelah 24 jam, dilihat jumlah endapan yang
dihasilkan dalam satuan g/L.
Dari pengujian tersebut endapan yang diperoleh sebanyak 0,7 g/L (700mg/L). Dari
data tersebut dilakukan perhitungan persentase protein dan Protein Loss. Pada perhitungan
persentase protein, persentase protein yang diperoleh sebesar 70 mg % yang menunjukkan
hasil 1 (+) 2(+). Pada perhitungan Protein Loss diperoleh hasil 1,4 g/24 jam, jumlah ini
menunjukkan bahwa keparahan proteinurea berada pada tingkat sedang (1-3 g / hari) yang
disebabkan oleh adanya nepropati glomerulus dan tubulus-interstisial (Anonim b, tt).

IX. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami
proteinurea (albuminuria) pada tingkat sedang (1,4 g/24) dan hasil tes positif dari 1 (+)
hingga 2 (+) (30 - 100 mg / dl).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim . 2010. Tes Esbach
Available at : http://yuiforme.blogspot.com/2010/05/tes-Esbach.html
Anonim a .tt. Practical Laboratories Physiology III-Urinalysis.
Available at : http://www.umft.ro/newpage/structura/catedre/FIZIO /Physiology_
III/Urinalysis.pdf

Anonim b. tt. The Analysis Of Urine. Introduction. Part 4 .


Available at :

http://chestofbooks.com/crafts/scientific-american/sup5/The-Analysis-

Of-Urine-Introduction-Part-4.html

Maftuhah Kurniati . 2010. Analisa Pemeriksaan Urine.


Available at : http://ruangpribadimaftuhah.blogspot.com/2010/02/analisa-pemeriksaan
-urine.html
Sukmawati, M, dan K. Suarta. 2007. Validity of protein-creatinine and protein-osmolality ratios
in the estimation of massive proteinuria in children with nephrotic syndrome. Paediatr
Indonesia, Vol. 47, No. 4 halaman 139-143