Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
Radikal bebas merupakan spesies kimiawi atau atom atau gugus atom atau molekul yang
memiliki satu atau lebih electron yang tidak berpasangan yang teletak pada orbital terluarnya.
Keadaan kimiawi tersebut sangat
tidak stabil dan sangat mudah
bereaksi

dengan

zat

kimia

anorganik ataupun organic, pada


saat dibentuk di dalam sel. Radikal
bebas

segera

menyerang

dan

mendegradasi asam nukleat serta


berbagai

molekul

membrane.

Selain itu, radikal bebas juga


menginisiasi reaksi autokatalitik,
sebaliknya molekul yang bereaksi
dengan radikal bebas akan di ubah menjadi radikal bebas, dan semakin memperbanyak jumlah
rantai kerusakan pada sel.

BAB II
PEMBAHASAN
TIPE RADIKAL BEBAS
Radikal bebas terpenting dalam tubuh adalah radikal derivat dari oksigen yang
disebut kelompok oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS), termasuk didalamnya
adalah triplet (3O2), tunggal (single/1O2), anion superoksida (O2.-), radikal hidroksil (OH), nitrit oksida (NO-), peroksinitrit (ONOO-), asam hipoklorus (HOCl), hidrogen
peroksida (H2O2), radikal alkoxyl (LO-), dan radikal peroksil (LO2--).
Radikal bebas yang mengandung karbon (CCL3-) yang berasal dari oksidasi
radikal molekul organik. Radikal yang mengandung hidrogen hasil dari penyerangan
atom H (H-). Bentuk lain adalah radikal yang mengandung sulfur yang diproduksi pada
oksidasi glutation menghasilkan radikal thiyl (R-S-). Radikal yang mengandung nitrogen
juga ditemukan, misalnya radikal fenyldiazine.
Tabel 1: Radikal bebas biologis
Kelompok oksigen reaktif
O2

Radikal Superoksida (Superoxide


radical)

OH

Radikal hidroksil (Hydroxyl radical)

ROO

Radikal peroksil (Peroxyl radical)

H2O2

Hydrogen peroksida (Hydrogen

peroxide)
1O2

Oksigen tunggal (Singlet oxygen)

NO

Nitrit oksida (Nitric oxide)

ONOO

Nitrit peroksida (Peroxynitrite)

HOCl

Asam hipoklor (Hypochlorous acid)

PEMBENTUKAN RADIKAL BEBAS

Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir banyak studi dilakukan untuk mengetahui
peran radikal bebas dalam menimbulkan kerusakan sel dan terjadinya bermacam kelainan
tubuh. Salah satu radikal bebas yang banyak dipelajari dan dikenal bersifat toksik bagi sel
hidup adalah radikal bebas oksigen (super-oksida) dan derivatnya (radikal hidroksil).
Berbagai proses metabolisme dalam tubuh manusia menghasilkan radikal bebas yang
berbal namun dalam keadaan fisiologik tubuh kita memiliki mekanisme proteksi yang
menetralkan radikal bebas tersebut, antara lain dengan adanya enzim-enzim yang
bersifat scavenger terhadap radikal bebas.
Radikal bebas adalah suatu atom, gugus atom atau molekul yang memiliki satu
atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada orbital paling luar(1,2,3), termasuk di
antaranya

adalah

atom hidrogen,

logam-logam

transisi

dan

molekul

oksigen.

Adanya "elektron-tidak-berpasangan" menyebabkan radikal bebas (diberi simbol R.)


secara kimiawi sangat reaktif. Radikal bebasdapat bermuatan positif (kation), negatif
(anion) atau tidak bermuatan. Secara umum, radikal bebas dapat terbentuk melalui
salah satu cara sebagai berikut:

1.

melalui absorpsi radiasi (ionisasi,uv, radiasi sinar tampak, radiasi panas), atau

2.

melalui reaksi redoks, dengan mekanisme reaksi fisi ikatan homolitik


atau pemindahan electron.

Pengaruh radiasi ionisasi terhadap materi biologik akan menghasilkan bermacammacam radikal bebas yang kompleks, terutama radikal hidrogen (H.), hidroksil (OH.),
dan elektron, yang siap berinteraksi dengan biomolekul-biomolekul lain yang berdekatan.
Energi panas juga dapat menghasilkan radikal bebas. Secara umum, suhu tinggi
dibutuhkan untuk memecahkan ikatan kovalen, tetapi beberapa ikatan yang relatif tidak
stabil dapatdipecahkan secara homolitik pada suhu 30

50C. Senyawa-senyawa

demikian sebagian besar merupakan pencetus (initiator) reaksi pembentukan radikal


bebas. Zat-zat organik ataupun xenobiotik yang terpapar suhu tinggi, misalnya polutan,
sampah organik yang dibakar, rokok yang terbakar, menghasilkan campuran berbagai
radikal bebas yang kompleks. Beberapa reaksi redoks penghasil radikal bebas
membutuhkan katalisator, biasanya logam transisi atau suatu enzim (metaloenzim atau
flavoprotein). Berbagai proses metabolisme normal dalam tubuh dapat menghasilkan
radikal bebas dalam jumlah kecil sebagai produk. antara. Didalam sel hidup radikal bebas
terbentuk

pada

membrane plasma

dan

organel-organel

seperti

mitokondria,

peroksisom, retikulum endoplasmik dan sitosol; melalui reaksi-reaksi enzimatik


fisiologik yang berlangsung dalam proses metabolisme. Proses fagositosis oleh sel-sel
fagositik termasuk netrofil, monosit, makrofag dan eosinofil, juga menghasilkan radikal
bebas, yaitu superoksida (O2).
SUMBER RADIKAL BEBAS

Sumber Radikal bebas ada dua yaitu :


1. Sumber endogen
2. Sumber eksogen

1. Sumber endogen
a. Reaksi Redoks (reduksi oksidasi)
Reaksi redoks terjadi pada proses fisisologis normal. Selama respirasi normal,
misalnya, oksigen molecular secara bertahap direduksi dalam mitokondria dengan
penambahan empar electron untuk menghasilkan air. Pada proses ini , sejumlah kecil
spesies intermedia toksik dibentuk yang termasuk juga radikal bebas seperti, Radikal

bebas superoksida (O2), hydrogen perosida (H2O2), dan OH. Selanjutnya, beberapa
oksidase intrasel (seperti xantin oksidase) membentuk radikal superoksida sebagai akibat
aktifasinya.
Logam transisi seperti tembaga (Cu) dan zat besi (Fe) juga menerima atau
mendonor electron bebas selama reaksi intrasel tertentu berlangsung sehingga
mengkatalisis pembentukan radikal bebas. Oleh karena sebagian besar zat besi bebas
intarsel dalam ferri (Fe- - - ), pertama zat besi harus direduksi menjadi bentuk ferro (Fe+
+) untuk dapat berpartisipasi dalam reaksi fenton. Tahap reduksi itu dikatalis oleh ion
superoksida sehingga zat besi dan superoksida besinergi untuk memperoleh cedera sel
oksidatif yang maksimal.
b. Nitrit Oksida ( NO )
Nitrit oksida merupakan mediator kimiawi penting yang normalnya disintesis
oleh berbagai tipe sel, yang dapat berperan sebagai radikal bebas atau yang dapat di
ubah menjadi spesies nitrit yang sangat reaktif.
c. Absorsi radiasi
Pengaruh radiasi ionisasi terhadp materi biologis akan menghasilkan
bermacammacam radikal bebas yang kompleks, terutama radikal hydrogen ( H+ )
dan gugus hidroksil ( OH-) dan electron yang siap berinteraksi dengan biomolekul
biomolekul lain yang berdekatan. Energi panas juga dapat menghasilkan radikal
bebas.
Secara umum, suhu tinggi dibutuhkan untuk memecah ikatan kovalen, tetapi
beberapa ikatan yang relative tidak stabil dapat dipecahkan secara homolitik pada
suhu 30 - 50C. Senyawa senyawa demikian merupakan pencetus (initiator) . Zat
zat organic atau xerobiotik yang terpapar suhu tinggi, misalnya polutan , sampah
organic yang dibakar, rokok yang dibakar, menghasilkan campuran berbagai radikal
bebas yang kompleks. Adapun sinar matahari yang menjadi radikal bebas yaitu
radiasi sinar ultraviolet / sinar UV, dan sinar X.
d. Oksidasi enzimatik

Beberapa jenis sistem enzim mampu menghasilkan radikal bebas dalam


jumlah yang cukup bermakna, meliputi xanthine oxidase (activated in ischemiareperfusion), prostaglandin synthase, lipoxygenase, aldehyde oxidase, dan amino acid
oxidase. Enzim myeloperoxidase hasil aktifasi netrofil, memanfaatkan hidrogen
peroksida untuk oksidasi ion klorida menjadi suatu oksidan yang kuat asam hipoklor.
e. Respiratory burst
Merupakan terminologi yang digunakan untuk menggambarkan proses
dimana sel fagositik menggunakan oksigen dalam jumlah yang besar selama
fagositosis. Lebih kurang 70-90 % penggunaan oksigen tersebut dapat diperhitungkan
dalam produksi superoksida. Fagositik sel tersebut memiliki sistem membran bound
flavoprotein cytochrome-b-245 NADPH oxidase. Enzim membran sel seperti
NADPH-oxidase keluar dalam bentuk inaktif. Paparan terhadap bakteri yang
diselimuti imunoglobulin, kompleks imun, komplemen 5a, atau leukotrien dapat
mengaktifkan enzim NADPH-oxidase. Aktifasi tersebut mengawali respiratory burst
pada membran sel untuk memproduksi superoksida. Kemudian H2O2 dibentuk dari
superoksida dengan cara dismutasi bersama generasi berikutnya dari OH dan HOCl
oleh bakteri.
f.

Autoksidasi
Merupakan produk dari proses metabolisme aerobik. Molekul yang

mengalami autoksidasi berasal dari katekolamin, hemoglobin, mioglobin, sitokrom C


yang tereduksi, dan thiol. Autoksidasi dari molekul diatas menghasilkan reduksi dari
oksigen diradikal dan pembentukan kelompok reaktif oksigen. Superoksida
merupakan bentukan awal radikal. Ion ferrous (Fe II) juga dapat kehilangan
elektronnya melalui oksigen untuk membuat superoksida dan Fe III melalui proses
autoksidasi.

2. Sumber eksogen
1.

Obat-obatan

Beberapa macam obat dapat meningkatkan produksi radikal bebas dalam bentuk
peningkatan tekanan oksigen. Bahan-bahan tersebut bereaksi bersama hiperoksia dapat
mempercepat tingkat kerusakan. Termasuk didalamnya antibiotika kelompok quinoid
atau berikatan logam untuk aktifitasnya (nitrofurantoin), obat kanker seperti bleomycin,
anthracyclines (adriamycin), dan methotrexate, yang memiliki aktifitas pro-oksidan.
Selain itu, radikal juga berasal dari fenilbutason, beberapa asam fenamat dan komponen
aminosalisilat dari sulfasalasin dapat menginaktifasi protease, dan penggunaan asam
askorbat dalam jumlah banyak mempercepat peroksidasi lemak.

2.

Radiasi
Radioterapi memungkinkan terjadinya kerusakan jaringan yang disebabkan oleh
radikal bebas. Radiasi elektromagnetik (sinar X, sinar gamma) dan radiasi partikel
(partikel elektron, photon, neutron, alfa, dan beta) menghasilkan radikal primer dengan
cara memindahkan energinya pada komponen seluler seperti air. Radikal primer
tersebut dapat mengalami reaksi sekunder bersama oksigen yang terurai atau bersama
cairan seluler.

3.

Asap rokok
Oksidan dalam rokok mempunyai jumlah yang cukup untuk memainkan
peranan yang besar terjadinya kerusakan saluran nafas. Telah diketahui bahwa oksidan
asap tembakau menghabiskan antioksidan intraseluler dalam sel paru (in vivo) melalui
mekanisme yang dikaitkan terhadap tekanan oksidan. Diperkirakan bahwa tiap hisapan
rokok mempunyai bahan oksidan dalam jumlah yang sangat besar, meliputi aldehida,
epoxida, peroxida, dan radikal bebas lain yang mungkin cukup berumur panjang dan
bertahan hingga menyebabkan kerusakan alveoli. Bahan lain seperti nitrit oksida,
radikal peroksil, dan radikal yang mengandung karbon ada dalam fase gas. Juga
mengandung radikal lain yang relatif stabil dalam fase tar. Contoh radikal dalam fase
tar meliputi semi quinone moieties dihasilkan dari bermacam-macam quinone dan
hydroquinone. Perdarahan kecil berulang merupakan penyebab yang sangat mungkin
dari desposisi besi dalam jaringan paru perokok. Besi dalam bentuk tersebut

meyebabkan pembentukan radikal hidroksil yang mematikan dari hidrogen peroksida.


Juga ditemukan bahwa perokok mengalami peningkatan netrofil dalam saluran napas
bawah yang mempunyai kontribusi pada peningkatan lebih lanjut konsentrasi radikal
bebas.
REAKSI PERUSAKAN OLEH RADIKAL BEBAS
Definisi tekanan oksidatif (oxidative stress) adalah suatu keadaan dimana tingkat
oksigen reaktif intermediate (ROI) yang toksik melebihi pertahanan anti-oksidan
endogen. Keadaan ini mengakibatkan kelebihan radikal bebas, yang akan bereaksi
dengan lemak, protein, asam nukleat seluler, sehingga terjadi kerusakan lokal dan
disfungsi organ tertentu. Lemak merupakan biomolekul yang rentan terhadap serangan
radikal bebas.
1.

Peroksidasi lipid membran


Peroksidasi lipid membran adalah ikatan ganda pada lemak tak jenuh
(polyunsaturated) membran akan mudah terkena serangan radikal bebas yang berasal dari
oksigen. Interaksi radikal lemak menghasilakn peroksida, yang tidak stabil dan sangat
reaktif,

dan

menyebabkan

terjadinya

reaksi

rantai

autokatalitik.Pemecahan

hidroperoksida lemak sering melibatkan katalisis ion logam transisi.


2.

Fragmentasi DNA
Reaksi radikal bebas dengan timin DNA mitokondria dan nuclear menimbulkan
rusaknya untai tunggal. Kerusakan DNA tersebut telah memberikan implikasi pada
pembunuhan sel dan perubahan sel menjadi ganas. Radikal hidroksil dapat menimbulkan
berbagai perubahan pada DNA antara lain berupa hidreoksilasi basa timin dan sitosin
pembukaan. Bila terjadi kerusakan rantai DNA yang terputus-putus maka kerusakan
tersebut tidak dapat diperbaiki dan replikasi sel akan terganggu. Perbaikan DNA
cenderung menimbulkan mutasi, apabila mutasi mengenai gen tertentu yang disebut gen
protoonkogen akan menimbulkan kanker.

3.

Ikatan silang protein

Radikal bebas mencetuskan ikatan silang protein yang diperantarai slfhidril,


menyebabkan peningkatan kecepatan degradasi atau hilangnya aktifitas enzimatik.
Reaksi radikal bebas juga bisa terjadi secara langsung menyebabkan fragmentasi
polipeptida.
MACAM KELAINAN
1.

Kelainan pada kulit


Kulit dalam merespon sianr matahari khususnya sinar UV dapat menimbulkan
beberapa reaksi yang dapat menimbulkan gangguan seperti kulit terbakar ( sunburn) ,
dan pigmentasi sampai yang paling parah adalah terjadinya karsinogen atau tumbuhnya
sel tumor yang ganas. Zat zat yang dapat bereaksi dengan DNA yang terpapar sistem
penghasil radikal bebas oksigen, misalnya misalnya radikal Hidroksil (OH) reaktif yang
terbentuk dengan adanya ion ion logam transisi , akan mengalami pemecahan dan
degradasi rantai desoksiribos.

2.

Penuaan Dini
Pengaruh sinar matahari. Radiasi sinar matahari merupakan faktor paling utama,
dan penuaan oleh karena paparan sinar matahari inilah yang disebut sebagai
photoaging. Keadaan ini dianggap patologis karena terjadi kerusakan jaringan akibat
paparan sinar matahari (photodamage). Pada daerah yang sering terkena terutama
wajah, leher dan punggung tangan photoaging memperberat (superimposed) terjadinya
penuaan fisiologik. Jadi perubahan yang tampak adalah kombinasi proses penuaan
ekstrinsik maupun intrinsik. Dikatakan 80% penuaan pada wajah merupakan tanda
photoaging, walaupun faktor seperti merokok, alcohol, stres dan lain lainnya berperan
pula pada proses timbulnya kerut wajah dini. Efek berbahaya sinar UVA dan UVB
pada kulit adalah terjadinya kerusakan sel, jaringan dan enzim-enzim tertentu oleh
karena pembentukan radikal bebas. Selain itu juga terjadi kerusakan DNA, yaitu
molekul yang merupakan perangkat genetik sehingga terjadi pertumbuhan tumor akibat
mutasi gen.
Pengaruh radikal bebas. Radikal bebas merupakan senyawa atom atau molekul
yang memiliki elektron yang tidak berpasangan sehingga tidak stabil, bersifat menarik

elektron lain dan sangat reaktif. Senyawa ini dapat menimbulkan terjadinya kerusakan
sel dan menjadi penyebab berbagai keadaan patologis seperti penyakit kardiovaskuler,
penyakit saluran nafas, penyakit saluran pencernakan, ginjal, pertumbuhan kanker dan
dicurigai ikut berperan dalam proses penuaan (aging). Pembentukan radikal bebas dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain pajanan sinar ultra violet, radiasi sinar-X,
polusi udara yang berasal dari asap mobil, gas N2O dari pabrik, freon, asap rokok,
pajanan bahan kimia dari luar maupun dari dalam (obat obatan, bahan tambahan
makanan seperti pengawet, pewarna, pelezat dan lain lain), makanan dengan tinggi
karbohidrat dan kalori, bahan yang berasal dari dalam tubuh sendiri, yaitu senyawa
yang terdapat dalam jumlah berlebihan atau yang berasal dari proses peradangan
Pengaruh kekeringan kulit. Kekeringan kulit biasanya oleh karena cara merawat
kulit salah, antara lain menggunakan kosmetik yang tidak sesuai dengan kondisi kulit dan
lingkungan pemakai, seperti terlalu sering memakai sabun atau pembersih berkadar
alkohol tinggi pada jenis kulit yang normal. Kelembaban udara yang rendah seperti di
daerah pegunungan atau dataran tinggi, ruang ber-AC, paparan angin, suhu dingin atau
panas, akan mempercepat penguapan air sehingga kulit menjadi kering.
Faktor-faktor lain yang juga dapat menyebakan penuaan dini diantaranya keadaan
gizi yang buruk, kekurangan protein, vitamin, kebiasaan merokok, minuman keras, kopi
yang berlebihan, sering mengalami stress, penurunan berat badan yang terlalu cepat,
penggunaan otot otot muka yang tak diperlukan dan berlebihan (suka cemberut,
mengerutkan kening, berkedip-kedip waktu bicara ).
KARAKTERISTIK KELAINAN
Kelainan karena paparan radikal bebas dapat kita ketahui dengan beberapa tanda tanda yang menujukan bahwa sel tubuh telah rusak karena injuri radikal bebas, yang
paling terlihat adalah pada bagian wajah, tangan, leher , karena yang paling sering
terkena paparan radiasi radikal bebas. Adapun beberapa hal yang dapat di pakai untuk
mengidentifikasi bagian yang telah rusak, diantaranya adalah sebagai berikut ini ;
a.

Pada bagian kulit akan terasa kering dan kusam

b.

Permukaan kulit menjadi kasar dan bersisik karena banyak sel kulit yang mati

c.

Timbulnya keriput halus pada wajah yang lama kelamaan tidak bisa hilang

d.

Bercak pigmen kulit yang terjadi karena perubahan distribusi melanin dalam sel.
Bercak yang sering muncul seperti, frekles, frekles adalah bercak coklat dengan batas
tegas dan tepi tak teratur. Lentigo merupakan bercak coklat kehitaman yang tepinya
rata, biasanya pada kondisi photodamage yang berat.

e.

Pembentukan karsinoma atau sel tumor jinak maupun tumor ganas karena efek kronis
dari paparan sinar UVA dan UVB

f.

Terjadi juga skin tag, keratosis soboroik, kerato ankatoma atau tumor yang sangat
ganas pada kulit.

PERTAHANAN SEL TERHADAP RADIKAL BEBAS


Sifat reaktif yang tersebar dari sistem pembentukan radikal dalam sel menyebabkan
evolusi mekanisme pertahanan terhadap efek perusakan suatu bahan teroksidasi kuat.
Gambar dibawah ini menunjukkan aktifitas enzim intraseluler tersebut. SOD (superoksida
dismutase dan katalase) mengkatalisasi dismutasi dari superoksida dan hidrogen peroksida.
GSH (glutation) peroksidase mereduksi peroksida hidrogen dan organik menjadi air dan
alkohol. GSH S-transferase melakukan pemindahan residu glutation menjadi metabolit
elektrofilik reaktif dari xenobiotic.
Produksi glutation teroksidasi (GSSG) direduksi secara cepat oleh reaksi yang
menggunakan NADPH yang dihasilkan dari berbagai sistem intraseluler, diantaranya hexosemonophosphate shunt. Berbagai isoenzim organel spesifik dari dismutase superoksida juga
ditemukan. SOD Zn, Cu merupakan sitoplasmik, sedangkan enzim Zn, Mn mitokondrial.
Isoenzim ini tidak ditemukan dalam cairan ekstraseluler.
Beberapa bahan tereduksi juga bekerja sebagai antioksidan, reduksi kelompok radikal
aktif seperti radikal peroksi dan hidroksi menjadi bentuk yang kurang reaktif misalnya air.
Seperti halnya pembangkitan kembali oksigen singlet. Penggabungan tersebut juga
mengakhiri reaksi radikal berantai.
Pertahanan antioksidan kimiawi bagai pedang bermata dua. Pertama, saat bahan
tereduksi menjadi radikal maka derivat radikalnya juga terbentuk. Sehingga, jika suatu

radikal sangat tidak stabil, reaksi radikal berantai mungkin akan berlanjut. Kedua, bahan
tereduksi dapat mereduksi oksigen menjadi superoksida atau peroksida merupakan radikal
hidroksil dalam reaksi auto-oksidasi. Ascorbat dan asam urat dapat berfungsi sebagai anti
oksidan, ikut serta secara langsung dalam auto-oksidasi, baik melalui reduksi aktifator
oksigen lain seperti rangkaian logam transisi atau quinone, atau bertindak sebagai kofaktor
enzim.
Proses tersebut dapat melibatkan kemampuan askorbat untuk depolimerisasi DNA,
hambatan Na+/K+ ATPase otak, potensiasi toksisitas paraquat, dan sebagai mediator
peroksidasi lemak. Juga mempunyai kontribusi kelainan patofisiologi dari metabolisme
purin. Sifat yang sesungguhnya campuran pro atau antioksidan untuk bahan pereduksi khusus
adalah integrasi kompleks dari beberapa faktor. Pada kasus zat pembersih radikal hidroksil,
produk dari interaksi radikal dengan antioksidan umumnya kurang reaktif dibanding radikal
hidroksil. Radikal yang terbentuk tersebut cukup stabil dan dalam konsentrasi cukup tinggi
namun dapat terjadi mekanisme seperti pada glutation dan superoksida. pH sangat
mempengaruhi reduksi langsung oksigen menjadi superoksida oleh senyawa sulfidril,
sedangkan faktor lokal lainnya seperti konsentrasi molar dari molekul oksigen juga punya
peranan penting.
Oksigen singlet dan bagian triplet molekul yang tereksitasi mungkin disempurnakan
melalui interaksi bersama sistem konjugasi sistem diene seperti yang ditemukan pada
karoten, tokoferol, atau melanin. Seperti antioksidan pereduksi, senyawa tersebut dapat juga
menghasilkan jenis elektron aktif dan mungkin juga penyakit.
Tabel 2. Antioksidan dan enzim pembersih (scavenging)
Antioksidan
Glutathione

Antioksidan utama didalam dan diluar sel. Dalam sel 2-10


mM, plasma 5-25 M

Sulfhydryl

Cysteine dan homocysteine

Vitamin C

Antioksidan hidrofilik pada ekstraseluler 40-140 M


dalam plasma

Vitamin E

Pembersih pada ruang hidrofobik dalam plasma terikat

pada LDL 0.5-1.6 mg/dl (10-40 M)


-carotene

0.055 mg/dl

Uric acid

Hasil metabolik adenosin dan xantine. Antioksidan kuat


terhadap radikal hidroksil (HO)

Bilirubin

Antiokasidan hidrofobik terikat pada albumin 20 M

Coenzyme Q 10

0.08 mg/dl

Enzim pembersih
SOD

Terdapat pada semua sel mamalia

Cu/Zn-SOD

Sitosol, eritrosit 2300 unit/g Hb

Mn-SOD

Mitokondria

Extracelluler

SOD Plasma dan endotel permukaan, terikat pada heparin

(EC-SOD)
Catalase

Peroksisum, RBC 153.000 unit/g Hb

GSH peroxidase

Sitosol (75%), mitokondria (25%)

GSSG reductase

NADPH dependent

Thioredoxin system

Regulasi redok

Binding protein
Albumin

Antioksidan kuat 0.5 mM dalam plasma

Ceruloplasmin

Aktifitas feroksidase 15-60 mg/dl plasma

Transferin

Membersihkan Fe bebas 200-400 mg/dl

Metalothionein

Membersihkan logam berat

PERJALANAN KELAINAN
Kelainan yang terjadi pada sel yang disebabkan oleh radikal bebas paling banyak
biasanya karena oksigen bebas dan paparan sinar ultra violet. Proses radikal bebas dalam
merusak sel atau jaringan dimulai dari pembentukan radikal bebas dari oksigen masuk
dalam sel kemudian terjadi beberapa reaksi pada badian bagian sel. Pada reticulum
endoplasma, mengoksidase, dalam mitokondria terjadi oksidasi rantai respirasi, didalam
membrane plasma NADPH dioksidasi, dalam sitosol terjadi reaksi Xantin oksidase dan
logam transisisi (Cu, Fe). Dalam lisosom (pada fagosit) terjadi meiloperoksida dan

sintesis NO. setelah sebua bagian sel berubah fungsi maka akan terjadi tiga reaksi
perusakan sel yang dilakukan dengan peroksidasi lipid membrane , ikatan silang protein ,
dan fragmentasi DNA.
Karena sel sudah mengalami injury maka akan menyebabkan berbagai kerusakan
yang menimbulkan beberapa penyakit. Seperti tumor, kemungkinan terjadinya kerusakan
di DNA menjadi suatu reaksi berantai, biasanya kerusakan terjadi bila ada lesi pada
susunan molekul, apabila tidak dapat diatasi, dan terjadi sebelum replikasi maka akan
terjadi mutasi. Radikal oksigen dapat menyerang DNA jika terbentuk disekitar DNA
seperti pada radiasi biologis. Mutasi ini menyebabkan sel sel berkembang tidak
terkontrol sehingga jumlah sel akan berlebih, dalam jangka panjang kerusakan ini akan
berubah menjadi sel yang berkumpul dan menjadi sel kanker yang ganas. Selain menjadi
sel kanker efek dari radikal bebeas juga menyebabkan penuaan dini yang sering terjadi
akibat paparan sinar UV.