Anda di halaman 1dari 19

MENOMETRORAGIA

Emirza Nur Wicaksono, S.Ked September 19, 2013


[0] comments

I. PENGERTIAN MENOMETRORAGIA
Menometroragia adalah pendarahan dari vagina pada seorang wanita tanpa ada hubungan
dengan suatu siklus haid. Pendarahan ovulataoir terjadi pada pertengahan silus sebagai
suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh. Penyebabnya
adalah kelainan organik (polip endrometrium, karsinoma endrometrium, karsinoma serviks),
kelainana fungsional, serta penggunaan estrogen eksogen.
Menorhagia adalah pengeluaran darah yang terlalu banyak biasanya disertai dengan bekuan
darah sewaktu menstruasi, jadi pada siklus yang teratur.
Metrorhagi adalah perdarahan yang tidak teratur dan yang tidak ada hubungan dengan haid.
Menometrorhagia > perdarahan uterus yang sesuai waktu tetapi dengan jumlah yang sedikit
Menometrorhagia adalah perdarahan uterus abnormal (jumlah, frekuensi, atau lamanya), yang
terjadi baik di dalam maupun di luar siklus haid yang semata-mata disebabkan oleh gangguan
fungsional mekanisme kerja poros hipotalamus hipofisis ovarium, endometrium, tanpa
adanya kelainan organik alat reproduksi.
Menometrorhagia adalah perdarahan uterus berlebihan yang terjadi pada dan diantara periode
menstruasi.
Menometroragia dapat disebabkan oleh kelainan organik pada alat genital atau oleh kelainan
fungsional

II. ETIOLOGI
Biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron akibat dari :
a. Endokrin
: gangguan pada sistem hipotalamus, hipofisis, ovarium, dan
endometrium.
b.Non Endokrin
: psikogenik, neurogenik, nutrisi yang kurang dan penyakit sistemik.
a. Sebab-sebab organik.

Perdarahan dari uterus, tuba, dan ovarium disebabkan oleh kelainan pada :
a. Serviks uteri b. Korpus uteri c. Tuba falopii d. Ovarium

b. Sebeb-sebab fungsional
Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik dinamakan
perdarahan disfungsional. Perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap umur antara
menarche dan menopause.

Perdarahan disfungsional dapat dibedakan menjadi 2 jenis :

1. Perdarahan ovulatoar
Gangguan dianggap berasal dari faktor-faktor neuromukular, vasomotorik, atau hematologik,
yang mekanismenya belum seberapa dimengerti.

2. Perdarahan anovulatoar
Gangguannya dianggap bersumber pada gangguan endokrin.

Gambaran klinik :
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan menurunnya
kadar estrogen dibawah tingkat tertentu, timbul perdarahan yang kadang-kadang bersifat
siklis, kadang-kadang tidak teratur sama sekali. Endometrium dibawah pengaruh estrogen
tumbuh terus, dan dari endometrium yang mula -mula proliferatif dapat terjadi endometrium
bersifat hiperplasia kistik. Jika gambaran itu dijumpai pada sediaan yang diperoleh dengan
kerokan dapat diambil kesimpulan bahwa perdarahan bersifat anovulatoar.
Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita dengan penyakit
metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum yang menahun, tumor-tumor
ovarium, dan sebagainya. Akan tetapi terdapat banyak wanita dengan perdarahan
disfungional tanpa adanya penyakit-penyakit tersebut diatas. Dalam hal ini stress yang
dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, kejadian-kejadian yang menggangu keseimbangan
emosional dapat menyebabkan perdarahan anovulatoar. Biasanya dalam perdarahan ini hanya
untuk sementara waktu saja.

III. Diagnosis
Pembuatan anamnesis yang cermat penting untuk diagnosis. Perlu ditanyakan bagaimana
mulainya perdarahan, apakah didahului oleh siklus yang pendek atau oleh

oligomenorea/amenore, sifat perdarahan (banyak atau sedikit- sedikit, sakit atau tidak), lama
perdarahan, lama atau tidak, dan sebagainya. Pada pemeriksaan umum perlu diperhatikan
tanda-tanda yang menunjuk kearah kemungkinan penyakit metabolik, penyakit endokrin,
penyakit menahun, dan lain-lain. Kecurigaan terhadap salah satu penyakit tersebut hendaknya
menjadi dorongan untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti ke arah penyakit yang
bersangkutan. Pada pemeriksaan ginekologik perlu dilihat apakah ada kelainan-kelainan
organik yang menyebabkan perdarahan abnormal. Dapat dilakukan kerokan untuk pembuatan
diagnois. Pada wanita
berumur 20 40 tahun kemungkinan besar ialah kehamilan terganggu, polip, mioma
submukosum, dan sebagainya. Kerokan diadakan setelah diketahui benar bahwa tindakan
tersebut tidak menggangu kehamilan. Pada wanita pramenopause dorongan untuk melakukan
kerokan ialah untuk memastikan ada tidaknya tumor ganas.

1. Singkirkan terlebih dahulu kelainan organik.


2. Anamnesis, perlu diketahui :
-

Usia Menarche
Siklus haid
Jumlah perdarahan
Lama menstruasi
Sifat perdarahan
Latar belakang keluarga
Status emosi
3. Pemeriksaan fisik

Umum
Adanya tanda-tanda penyakit metabolik, endokrin, gangguan hemolisis, penyakit menahun
dll.
Ginekologi
Pada wanita usia pubertas, tidak diperlukan hapusan namun pada wanita usia premenopause
perlu dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya keganasan.
Penunjang
Kelainan organik yang kecil pada genetalia interna sering kali sulit dinilai apalagi pada
wanita Virgin, sehingga dianjurkan pemeriksaan biopsi endometrium, lab darah dan fungsi
hemostatis, USG, radic imun assay. Dll.
4. Diagnosis anovulasi
-

Suhu basal badan


Biopsi endometrium
Sitologi
Hiperfungsi adrenal
Hipotiroid
FSH dan LH
Progesteron
Hipo fungsi pankreas

IV. Penanganan

a.
b.
c.

Tujuan

Menghentikan perdarahan
Memulihkan pola haid ovulatoar
Mencegah akibat jangka panjang dari keadaan anovulasi
Prinsip

a.
Singkirkan dulu kelainan organik
b.
Bila terjadi perdarahan banyak atau KU jelek atau Anemis, segera hentikan perdarahan
dengan injeksi estrogen atau progesteron kemudian transfusi.
c.
Perdarahan yang tidak mengganggu KU, terapi cukup dengan estrogen atau
progesteron oral saja
d.
Terapi lain : antifibrinolitik atau anti prostaglandin
e.
Setelah perdarahan berhenti atau gangguan haid teratasi selanjutnya atur siklus haid
selama 3 bulan berturut turut
f.
Setelah 3 bulan pengaturan siklus haid, keadaan kembali lagi seperti semula, cari
penyebab lain (analisa hormon)
- Pengobatan pada siklus anovulatorik

Tujuan
Menghentikan perdarahan dan mengembalikan siklus haid sampai terjadi ovulasi atau sampai
hormon-hormon untuk memicu ovulasi terpenuhi.
Obat yang diberikan :
a Estrogen dosis tinggi
Estradiol diprolionas 2,5 mg
Estradiol benzoas 1,5 mg
Pil kombinasi 2 x 1 tablet selama 3 hari
1 x 1 tablet selama 21 hari
b Progesteron
MPA 10 20 mg / hari selama 7 10 hari
Linestrenol 5 mg
- Pengobatan pada Menometroraghia berat
Beri estrogen konjugasi dosis tinggi untuk merangsang terbentuknya lapisan
mukopolisakarida pada dinding kapiler dan arteriola sehingga luka pada pembuluh darah
tertutup.
Dosis :
25 mg IV / 3-4 jam. Maksimal 4 kali suntikan
Bila KL estrogen, beri progesteron 100 mg untuk merangsang kontraksi sitmik pada
vasomotor dan menjaga ketahanan endometrium.
- Pengobatan operatif
Terapi ini bertujuan menghentikan perdarahan, dengan angka keberhasilan 40 % 60 %.
- Pengobatan lain
Yaitu dengan pemberian anti fibrinolitik.
Aktivitas fibrinolitik di uterus tinggi karena akibat enzimatik plasmin atau plasminogen yang
menyebabkan degradasi fibrin, fibrinogen, faktor V dan VIII. Proses seperti urakinase,
tripsin, dan streptokinase. Dapat dihambat oleh asam amino keproat dan AS traneksamat
dosis 4 gr / hari (4 kali pemberian).

Kadang-kadang pengeluaran darah pada perdarahan disfungsional sangat banyak, dalam hal
ini penderita harus istirahat baring dan diberi tranfusi darah. Setelah pemeriksaan ginekologik
menunjukan bahwa perdarahan berasal dari uterus dan tidak ada abortus inkompletus,
perdarahan untuk sementara waktu dapat dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat
diberikan: a. Estrogen dalam dosis tinggi, supaya kadarnya dalam darah meningkat dan
perdarahannya berhenti. Dapat diberikan secara intra muskulus dipropionas estradiol 2,5 mg,
atau benzoas estradiol 1,5 mg, atau valeras estradiol 20 mg. Keberatan terapi ini adalah
bahwa setelah suntikan dihentikan, perdarahan timbul lagi.
b. Progesteron: pertimbangan disini ialah bahwa sebagian besar perdarahan fungsional
bersifat anovulatoar, sehingga pemberian progesteron mengimbangi pengaruh estrogen
terhadap endometrium. Dapat diberikan kaproas hidroksi-progesteron 125 mg, secara
intramuskulus, atau dapat diberikan per os sehari norethindrone 15 mg atau asetas medroksiprogesterone (provera) 10 mg, yang dapat diulangi. Terapi ini berguna pada wanita dalam
masa pubertas.

Terapi yang paling baik adalah dilatasi dan kerokan,tindakan ini penting, baik untuk terapi
maupun untuk diagnosis. Dengan terapi ini banyak kasus perdarahan tidak terulang lagi.
Apabila ada penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, dan lain-lain yang
menjadi sebab perdarahan, tentulah penyakit ini harus ditangani.
Apabila setelah dilakukan kerokan perdarahan disfungsional timbul lagi, dapat diusahakan
terapi hormonal. Pemberian estrogen saja kurang bermanfaat karena sebagian besar
perdarahan disfungsional disebabkan oleh hiperestrinisme. Pemberian progesteron saja
berguna apabila produksi estrogen secara endogen cukup. Dalam hubungan dengan hal-hal
tersebut diatas pemberian esterogen dan progesteron dalam kombinasi dapat dianjurkan,
untuk keperluan ini pil-pil kontrasepsi dapat digunakan. Terapi ini dapat dilakukan mulai hari
ke 5 perdarahan terus untuk 21 hari dapat pula diberikan progesteron untuk 7 hari, mulai hari
ke 21 siklus haid. Androgen dapat berguna pula dalam terapi teradap perdarahan
disfungsional yang berulang. Terapi per os umumnya lebih dianjurkan daripada terapi dengan
suntikan. Dapat diberikan metiltestosteron 5 mg sehari, dalil dalam terapi dengan androgen
ialah pemberian dosis yang sekecil-kecilnya dan sependek mungkin.
Sebagai tindakan yang terakhir pada wanita dengan perdarahan disfungsional terus menerus
walaupun sudah dilakukan kerokan beberapa kali dan yang sudah mempunyai anak cukup
ialah histerektomi

MENOMETRORAGIA
Untuk Memenuhi Sebagian PersyaratanMencapai Profesi Dokter

Oleh:
Emy Novita Sari01.208.5645BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RST
SEMARANGFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS ISLAM SULTAN
AGUNGSEMARANG

2013

BAB IPENDAHULUAN
Saat ini gangguan haid merupakan keluhan tersering bagi wanita yang datang
ke poliklinik ginekologis dan menoragia merupakan salah satu diantaranya yang
tersering.Hampir semua wanita pernah mengalami gangguan haid selama hidupnya bahkan
banyak diantaranya harus mengalami gangguan ini setiap bulannya. Gangguan ini dapat
terjadi dalamkurun waktu antara menarche dan menopause. Gangguan haid atau perdarahan
abnormalmenjadi masalah menarik sehubungan dengan makin meningkatnya usia harapan
hidup perempuan.
Penelitian ginekologis terbaru melaporkan bahwa sekitar 30% wanita
premenopausemengeluhkan menstruasi yang berlebihan. World Health Organizations (WHO)
baru-baru inimelaporkan bahwa 18 juta wanita golongan usia 30-55 tahun merasa bahwa
perdarahandalam menstruasinya berlebihan. Menorrhagia harus dapat dibedakan dari
diagnosisginekologis lainnya, termasuk metroragia, menometroragia, polimenorea dan
perdarahankarena disfungsi uterus (dysfunctional uterine bleeding ). Menoragia sendiri
merupakan suatukeadaan dimana siklus menstruasi dalam interval yang normal tapi memiliki
durasi yangmemanjang dan perdarahan yang berlebihan
Perdarahan yang berlebihan pada menstruasi merupakan keluhan yang
subjektif,sehingga menyulitkan penegakan diagnosis menoragia. Regimen terapi
sebaiknya mengacu pada siklus menstruasi yang dianggap tidak normal oleh
pasien, yaitu lamanya menstruasidan jumlah perdarahan. Keberhasilan terapi
pun lagi-lagi berdasarkan penilaian subjektif pasien sehingga pengukuran

keberhasilan pun menjadi lebih sulit

BAB IPENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Menurut Referensi kesehatan (2008), pembangunan kesehatanbertujuan untuk
mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demitercapainya derajat kesehatan yang tinggi,
maka wanita sebagai penerimakesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan
harus berperandalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasimuda yang
sehat jasmani maupun rohani. Oleh sebab itu wanita, seyogyanyadiberi perhatian sebab:

1.Wanita menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapipria berkaitan dengan fungsi
reproduksinya
2.Kesehatan wanita secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yangdikandung dan dilahirkan.
3.Kesehatan wanita sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatas namakan
pembangunan seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk
.4.Masalah kesehatan reproduksi wanita sudah menjadi agendaIntemasional diantaranya
Indonesia menyepakati hasil-hasilKonferensi mengenai kesehatan reproduksi dan
kependudukan
5.Berdasarkan pemikiran di atas kesehatan wanita merupakan aspek paling penting
disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak - anak
Oleh sebab itu pada wanita diberi kebebasan dalam menentukan halyang paling baik menurut dirinya
sesuai dengan kebutuhannya dimana iasendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri. Seorang
wanita normal akanmengalami peristiwa reproduksi, yaitu haid.

Oleh sebab itu pada wanita diberi kebebasan dalam menentukan halyang paling baik menurut
dirinya sesuai dengan kebutuhannya dimana iasendiri yang memutuskan atas tubuhnya
sendiri. Seorang wanita normal akanmengalami peristiwa reproduksi, yaitu haid.Sebanyak
dua pertiga dari wanita-wanita yang dirawat dirumah sakituntuk perdarahan disfungsional
berumur diatas 40 tahun dan 3% dibawah 20tahun. Sebetulnya dalam praktek banyak
dijumpai perdarahan disfungsionaldalam masa pubertas, akan tetapi karena keadaan ini biasanya dapat
sembuhsendiri, jarang diperlukan perawatan di Rumah Sakit. Perdarahan ovulatormerupakan
kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional dengan sikluspendek atau panjang
(Prawirohardjo, 2007).
2Oleh sebab itu pada wanita diberi kebebasan dalam menentukan halyang paling baik
menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya dimana iasendiri yang memutuskan atas
tubuhnya sendiri. Seorang wanita normal akanmengalami peristiwa reproduksi, yaitu
haid.Sebanyak dua pertiga dari wanita-wanita yang dirawat dirumah sakituntuk perdarahan
disfungsional berumur diatas 40 tahun dan 3% dibawah 20tahun. Sebetulnya dalam praktek
banyak dijumpai perdarahan disfungsionaldalam masa pubertas, akan tetapi karena keadaan ini
biasanya dapat sembuhsendiri, jarang diperlukan perawatan di Rumah Sakit. Perdarahan
ovulatormerupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional dengan sikluspendek
atau panjang (Prawirohardjo, 2007).Dari beberapa kasus yang ada diruang ginekologi
menometroragiamerupakan kasus yang jarang terjadi. Meskipun demikian, bukan berarti
menometroragia
tidak berpengaruh terhadap meningkatnya angka mortalitasdan morbiditas karena
menometroragia berhubungan dengan salah satu faktorpenyebab gangguan dalam organ
reproduksi wanita
(

Soekiman, 2009).Data medical record RSUD dr. H. Chasan Boesoirie Ternate bahwatercatat
dari bulan januari sampai bulan mei 2011 ada 12 kasus
menometroragia
. Dari data yang penulis dapatkan diatas, oleh sebab itupenulis tertarik untuk mengkaji lebih
jauh mengenai kasus menometroragiaini,dengan judul

Asuhan Kebidanan Pada NyH Dengan Menometroragia

dengan harapan dapat memperoleh gambaran nyata tentang penatalaksanaanAsuhan


Kebidanan pada kasus Menometroragia.
Tujuan Penulisan1.2.
1 Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan kebidanan
pada Ny H dengan kasus menometroragia di ruang ginekology RSUD
Dr.H. CHASAN BOESOIRIE TERNATE
1.2.2Tujuan Khusus
1.Melakukan pengkajian pada Ny H dengan kasus menometroragia.
2.Menentukan diagnosa / masalah aktual pada Ny H dengan kasus
menometroragia.
3.Menentukan diagnosa masalah potensial pada Ny H dengan kasus
Menometroragia
.4.Menentukan tindakan emergency / segera pada Ny H dengan kasus
Menometroragia
5.Membuat rencana tindakan kebidanan pada Ny H dengan kasusmenometroragia.
6.Mengimplementasikan rencana tindakan pada Ny H dengan kasus
Menometroragia
.7.Mengevaluasi hasil dari asuhan kebidanan yang telah diberikan pada Ny H dengan
kasus menometroragia.
8.Mendokumentasi secara lengkap asuhan kebidanan yang telah di berikan pada Ny H
dengan kasus menometroragia.
1.3Manfaat Penulisan
1.3.1 Bagi Penulis
Untuk menambah wawasan penulis dalam melaksanakan AsuhanKebidanan pada
kasus menometroragia
1.3.2 Bagi pasien
Membantu dalam hal memberikan pengertian secara jelas perawatan padakasus
menometroragia, sehingga klien dapat mengerti danmelaksanakannya di rumah.
1.3.3Bagi institusi
Sebagai bahan masukan yang dapat digunakan dalam pembuatan karya tulisselanjutnya.
1.3.4 Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan informasi dalam memberikan pelayanan pada kasusmenometroragia, sehingga
mutu pelayanan Kebidanan pada masa yangakan datang lebih ditingkatkan lagi.
BAB IITINJAUAN PUSTAKA
2.1Konsep Dasar Menometroragia
2.1.1 Pengertian
1. Menometroragia adalah perdarahan yang banyak, di luar siklus haid danbiasanya terjadi
dalam masa antara 2 haid, perdarahan itu tampak terpisah dan dapat dibedakan dari haid atau

2 jenis perdarahan inimenjadi 1 yang pertama dinamakan metroragia yang


keduamenometroragia (Widjarnako, 2009).
2. Menometroragia adalah perdarahan rahim yang berlebihan dalam jumlah dan lamanya
perdarahan, dapat terjadi dalam periode menstruasimaupun di antara periode menstruasi
(Rika, 2009).
3. Menometroragia adalah perdarahan yang terjadi antara masa 2 haidyang dapat disebabkan
oleh kelainan organik pada alat genital atau olehkelainan fungsional (Prawirohrdjo, 2007).
4. Menometroragia adalah perdarahan saat menstruasi yang berlangsungterus / panjang dan
dengan jumlah darah yang lebih banyak (Manuaba,2010).Dari beberapa pengertian tersebut
di atas maka penulismenyimpulkan bahwa menometroragia adalah suatu keadaan
dimanaterjadi perdarahan diluar haid yang berlangsung lama serta dengan jumlah darah yang
lebih banyak.
2.1.2 Etiologi
Prawirohardjo (2007), etiologi dari menometroragia antara lain:
1.Sebab sebab Organik Perdarahan dari uterus,tuba dan ovarium disebabkan oleh
kelainanpada :a.Servik uteri :
Karsinoma partiom, perlukaan serviks, polip servik ,erosi pada portio,ulkus portio uteri
.b.Vagina : Varices pecah,metostase kario,karsinoma keganasanvagina,karsinoma vagina.
c.Rahim : polip endometrium,karsinoma korpus uteri,submukosamioma uteri.
d.Ovarium : radang ovarium, tumor ovarium, kista ovarium
e.Tuba fallopii, seperti kehamilan ektopik terganggu, radang tuba,tumor tuba.
2.Sebab sebab disfungsional
Perdarahan uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik.Perdarahan disfungsional terbagi
menjadi 3 bentuk :
a.Perdarahan disfungsional dengan ovulasi (ovulatoir disfunctionbleeding)
.Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometriumtanpa ada sebab - sebab
organik, maka harus diperhatikan sebagaietiologi.
Korpus lutheum persistens dalam hal ini dijumpai perdarahankadang-kadang bersamaan dengan
ovarium yang membesar korpus lutheum ini menyebabkan pelepasan endometrium tidak teratur
irreguler shedding) sehingga menimbulkan perdarahan.
Insufisiensi korpus lutheummenyebabkan premenstrual spotting,menorhagia dan polimenorrea,
dasarnya adalah kurangnyaproduksi progesterone disebabkan oleh gangguan LH releasing factor.
Apapleksia uteri pada wanita dengan hipertensi dapatterjadi pecahnya pembuluh darah dalam
uterus. Kelainan darahseperti anemia, gangguan pembekuan darahpurpura trombosit openik.
b. Perdarahan disfungsional tanpa ovulasi (anovulatoir disfunctiond bleeding)
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometriumdengan menurunnya kadar
estrogen dibawah tingkat tertentu.Timbul perdarahan yang kadang-kadang bersifat siklis,
kadang-kadang tidak teratur sama sekali.
c. Stres psikologis dan komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi

2.1.3 Patologi
Menurut Schroder pada tahun 1915, setelah penelitian Histopatologik pada uterus dan ovario
pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa gangguan perdarahan yang dinamakan
metropatia
hemorrgica

terjadi karena persistensi folikel yang tidak pecah sehinggatidak terjadi ovulasi dan
pembentukan corpus luteum,Akibatnya terjadilah
hiperplasia endometrium karena stimulasiestrogen yang berlebihan dan terus menerus.
Penelitian menunjukan pulabahwa perdarahan disfungsional dapat ditemukan bersamaan
denganberbagai jenis endometrium yaitu endometrium atropik ,hiperplastik ,ploriferatif
, dansekretoris, dengan endometrium jenis non sekresimerupakan bagian terbesar.
Endometrium jenis nonsekresi dan jenis sekresipenting artinya karena dengan demikian dapat
dibedakan perdarahan anovulatori dari perdarahan
ovulatoar
.Klasifikasi ini mempunyai nilai klinik karena kedua jenisperdarahan disfungsional ini
mempunyai dasar etiologi yang berlainan danmemerlukan penanganan yang berbeda. Pada
perdarahan disfungsionalyang ovulatoir gangguan dianggap berasal dari faktor-faktor
neuromuskular, vasomotorik, atau hematologik, yang mekanismenya belumseberapa dimengerti,
sedang perdarahan anovulatoir biasanya dianggapbersumber pada gangguan endokrin
(Prawirohardjo, 2007).
2.1.4 Gambaran klinik
1. Perdarahan ovulatoarPerdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari
perdarahandisfungsional dengan siklus pendek (polimenorea) atau panjang(oligomenorea).
Untuk mendiagnosis perdarahan ovulatoar perlu dilakukankerokan pada masa mendekati haid
jika sudah di pastikan bahwaperdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya
sebaborganik, maka harus dipikirkan sebagai etiologinya:
a.Korpus luteum persistens
dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang kadang bersamaan dengan ovarium membesar.
Sindrom ini harusdibedakan dari kehamilan ektopik karena riwayat penyakit dan
hasilpemeriksaan panggul sering menunjukan banyak persamaan antarakeduanya. Korpus
luteum persisten dapat pula menyebabkan pelepasanendometrium tidak teratur ( irregular
shedding). Diagnosis irregular shedding dibuat dengan kerokan yang tepat pada waktunya,
yaknimenurut Prawirohardjo (2007) pada hari ke-4 mulainya perdarahan.Pada waktu ini
dijumpai adanya endometrium dalam tipe sekresidisamping tipe non sekresi.
b. Insufusiensi korpus luteum dapat menyebabkan
premenstrual spotting,menoragia atau polimenorea. Dasarnya adalah kurang
produksiprogesteron disebabkan oleh gangguan LH (Luteiniozing hormon)
releasing factor.
Diagnosis dibuat apabila hasil biopsi endometrialdalam fase luteal
tidak cocok dengan gambaran endometrium yangseharusnya didapat dari hari siklus yang
bersangkutan.
c. Appoleksia uteri
pada wanita dengan hipertensi dapat terjadipecahnya pembuluh darah dalam uterus
d.Kelainan darah, sepertianemia,purpura trombositopenik dan gangguan dalam mekanisme
pembekuan darah.
102. Perdarahan anavulator
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnyaendometrium. Dengan kadar
estrogen dibawah tingkat tertentu, timbulperdarahan yang kadang-kadang tidak teratur sama
sekali. Fluktuasikadar estrogen pada sangkut pautnya dengan jumlah yang pada suatuwaktu fungsional
aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan estrogensebelum mengalami atresia, dan kemudian
diganti dengan folikel-folikelbaru. Endometrium dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus,
dan dariendometrium yang mula-mulaproliferatif dapat terjadi endometriumbersifat
hiperplasiakistik. Jika gambaran itu dijumpai pada sedian yangdiperoleh dengan kerokan,
dapat diambil kesimpulan bahwa perdarahanbersifat anavulatoar.Walaupun perdarahan

disfungsional dapat terjadi pada setiapwaktu dalam kehidupan menstrual seorang wanita,
namun hal ini palingsering terdapat pada masa pubertas dan masa pramenopause. Pada
masapubertas sesudah menarche, perdarahan tidak normal disebabkan olehgangguan atau
terlambatnya proses maturasi pada hipotalamus, denganakibat bahwa pembuatan realising factor
dan hormon gonadotropin tidak sempurna. Pada wanita dalam masa pramenopause proses
terhentinyafungsi ovarium tidak selalu berjalan lancar.Bila masa pubertas kemungkinan
keganasan kecil sekali adaharapan bahwa lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus
haidmenjadi avulatoar, pada seorang wanita dewasa dan terutama dalam11masa
pramenopause dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukankerokan untuk menentukan
ada tidaknya tumor ganas.perdarahandisfungsioanl dapat dijumpai pada penderit-penderita
dengan penyakitmetabolik, penyakit endokrin, penyakit darah penyakit umum yangmenahun,
tumor tumor ovarium, dan sebagainya.Akan tetapi disamping itu, terdapat banyak wanita
denganperdarahan disfungsional tanpa adanya penyakit-penyakit tersebutdiatas. Dalam hal
ini sters yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,baik didalam maupun diluar pekerjaan,
kejadian-kejadian yangmengganggu keseimbangan emosional seperti kecelakaan,
kematiandalam keluarga, pemberian obat penenang terlalu lama, dan lain-laindapat
menyebabkan perdrahan anavulatoar (Prawirohardjo, 2007).
2.1.5 Diagnosis
Pembuatan anamnesis yang cermat penting untuk diagnosis.perluditanyakan bagaimana
mulainya perdarahan, apakah didahului oleh siklusyang pendek atau oleh
oligomenorea/amenore, sifat perdarahan (banyak atausedikit-sedikit, sakit atau tidak), lama
perdarahan dan sebagainya. Padapemeriksaan umum perlu diperhatikan tanda-tanda yang
menunjuk ke arahkemungkinan penyakit metabolik, penyakit endokrin,penyakit menahun
danlain-lain.kecurigaan terhadap salah satu penyakit tersebut hendaknyamenjadi dorongan
untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti ke arahpenyakit yang bersangkutan.
Pada pemeriksaan ginekologi perlu dilihat apakah tidak ada kelainan-kelainan organik,
yang menyebabkan perdarahan abnormal (seperti:polip,ulkus,tumor). Pada wanita pubertas
umumnya tidak perlu dilakukankerokan guna pembuatan diagnosis. Pada wanita berumur antara 20 dan
40tahun kemungkinan besar adalah kehamilan terganggu, polip, mioma,submukosum dan
sebagainya. Disini kerokan diadakan setelah dapatdiketahui benar bahwa tindakan tersebut
tidak mengganggu kehamilan yangmasih memberi harapan untuk diselamatkan. Pada wanita
dalampramenopause dorongan untuk dilakukan kerokan adalah untuk memastikanada
tidaknya tumor ganas (Prawirohardjo, 2007).
2.1.6 Penanganan
Widjanarko (2009), penanganan pada kasus menometroragia iniantara lain:
1. Bila perdarahan disfungsional sangat banyak, penderita harus istirahatbaring dan dilakukan
pemeriksaan darah.
2. Setelah pemeriksaan ginekologis menunjukkan bahwa perdarahan berasaldari uterus dan
tidak ada abortus incompletus, maka dapat diberikan :
a.Estrogen dosis tinggi supaya kadarnya darah meningkat danperdarahan berhenti, diberikan
secara intra muscular (propionasiestrodiol 25 mg), kerugian therapy ini adalah bahwa setelah
suntikandihentikan maka perdarahan akan timbul lagi atau benzoasekstradiol/valeras
ekstradiol 20 mg.
b.Progesterone : pemberian progesterone mengimbangi pengaruhestrogen terhadap
endometrium diberikan secara intra muscularhidroksi progesterone 125 mg atau provera 10
mg oral.
c. Jika pemberian estrogen saja atau progesterone saja kurangbermanfaat, maka diberikan
kombinasi estrogen dan progesteroneyaitu pil kontrasepsi, pada therapi ini dapat diberikan
progesteroneuntuk 7 hari mulai hari ke 21 siklus haid.
3. Dilakukan kuretase endometrium terhadap produk-produk konsepsi yangtertahan.

4 . Antibiotika untuk infeksi pelvis.


2.2 Konsep Dasar Menegemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yangdigunakan sebagai metode untuk
mengorganisasikan pikiran dan tindakanberdasarkan teori ilmiah, temuan,ketrampilan dalam
rangkaian atau tahapanyang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada
klien(Varney, 2007).Manajemen kebidanan terdiri dari VII langkah yang berurutan,
yangdimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi.
langkah langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap dan bisa diaplikasikan dalam
semua situasi yaitu:
2.2.1Step I Identifikasi Data Dasar
Pada langkah ini dikumpulkan semua informasi yang akurat danlengkap melalui data
subjektif dan objektif dari semua sumber yangberkaitan dengan kondisi klien. Untuk
memperoleh data dilakukan dengancara anamnesis, Pemeriksaan fisik sesuai dengan
kebutuhan danpemeriksaan tanda-tanda vital, riwayat kesehatan sebelumnya dan
riwayatkesehatan terbaru, serta Pemeriksaan penunjang.
1.Pengumpulan Data
Data Subjektif terdiri dari :
a.Biodata / IdentitasBiodata klien mencakup nama, umur, jenis kelamin, agama,suku/bangsa,
pendidikan, pekerjaan, alamat.
b.Riwayat penyakitRiwayat penyakit diderita sekarang, riwayat penyakit sekarangyang
menyertai, riwayat kesehatan lalu, riwayat kehamilan danpersalinan, riwayat pertumbuhan
dan perkembangan, riwayatpemenuhan nurtisi, riwayat kesehatan keluarga, data
psikologisklien, data sosial, data spiritual, pola eliminasi, serta polatidur/istiahat.2)
Data Objektif meliputi :
a.Pemeriksaan umumPemeriksaan umum yang harus diperhatikan yaitu keadaanumum dan
tanda-tanda vital : tingkat kesadaran, tekanan darah,15nadi, respirasi, dan suhu. Pada
menometroragia akan didapatkankegelisahan dan kekhawatiran dari klien
b.Observasi dan pemeriksaan fisik.Observasi dan pemeriksaan fisik merupakan
metodepengumpulan data yang tidak dapat dipisahkan, observasi adalahmelihat, memperhatikan
sesuatu pada pemeriksaan fisik. Padasaat observasi dilakukan inspeksi, palpasi, auskultasi
dan perkusi.Pemeriksaan fisik yang di lakukan pada klien denganmenometroragia yaitu
pemeriksaan kepala/rambut, wajah, mata,telinga, hidung, mulut dan bibir, leher, abdomen,
kulit, genitalia,dan ekstremitas
c.Melakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium)
2.2.2.Step II Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
Pada langkah ini di lakukan identifikasi terhadap diagnosis ataumasalah berdasarkan
interpretasi yang benar atas data-data (subjektif danobjektif) yang telah di kumpulkan. Data
dasar yang sudah di kumpulkandiinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosis dan
masalah yangspesifik.
2.2.3Step III Identifikasi Diagnose / Masalah Potensial
Langkah III merupakan langkah ketika bidan melakukanidentifikasi diagnosis atau masalah
potensial dan mengantisipasipenanganannya. Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah
potensialatau diagnosis potensial berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah di16identifikasi.
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan di
harapkan waspada dan bersiap-siapmencegah diagnosis/masalah potensial ini menjadi benarbenar terjadi.Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman. Padaklien dengan
menometroragia, masalah potensial dapat terjadi perdarahanberulang.
2.2.4 Step IV Melaksanakan Tindakan Segera.

Pada langkah ini bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakansegera, melakukan


konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainberdasarkan kondisi klien. Pada langkah
ini, mengidentifikasi perlunyatindakan segera oleh bidan atau dokter dan/untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai
dengankondisi klien. Berdasarkan teori, kasus menometroragia perlu dilakukantindakan
segera untuk mengantisipasi terjadinya perdarahan.
2.2.5 Step V Perencanaan Tindakan Asuhan Kebidanan
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah
sebelumnya. Langkah inimerupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosis
yangtelah di identifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yangtidak lengkap
dapat dilengkapi. Rencana tindakan pada klien denganmenometroragia dapat dibuat bersama
petugas kesehatan, klien dengankeluarganya berdasarkan urutan prioritas masalah.
2.2.6Step VI Implementasi Asuhan Kebidanan.
Pada langkah ini di lakukan pelaksanaan asuhan langsung secaraefisien dan aman.
Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidanatau sebagian lagi oleh klien, atau
anggota tim kesehatan lainnya. Walaubidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul
tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.
2.2.7Step VII Evaluasi Tindakan Asuhan Kebidanan
Pada langkah VII ini dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yangsudah diberikan. Hal yang di
evaluasi meliputi apakah kebutuhan telahterpenuhi dan mengatasi diagnosis dan masalah
yang telah diidentifikasi.Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif
dalampelaksanaannya.Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif,sedangkan
sebagian lain belum efektif. Mengingat proses manajemenasuhan ini merupakan suatu
kegiatan yang berkesinambungan, maka perlumengulang kembali dari awal setiap asuhan
yang tidak efektif.

BAB IIISTUDY KASUSASUHAN KEBIDANAN PADA


Ny H DENGAN MENOMETRORAGIA
DIRUANG GINEKOLOGI RSUD Dr.H. CHASAN
3.1 Laporan Kasus
No. Reg : 1 1 0 6 6 7
Tgl masuk : 05 06 2011
Jam masuk : 11.40 WIB
TTgl pengkajian : 07 - 06 2011
Jam pengkajian : 09.00 WIB

18

BAB IIISTUDY
KASUSASUHA
N KEBIDANAN
PADA
Ny H
DENGAN
MENOMETROR
AGIA

DIRUANG
GINEKOLOGI
RSUD Dr.H.
CHASAN
BOESOIRIETER
NATE3.1
Laporan Kasus
No. Reg :

110667
Tgl masuk : 05

06

2011 Jam masuk :


11.40 WITTgl
pengkajian : 07 -

06 - 2011 Jam
pengkajian :
09.00 WITStep I
Identifikasi Dan
Analisa Data DasarA.
Identitas istri / suamiNama
Ny :H
Umur : 41 thn
KayoaPendidikan : SMP /
Wiraswasta
menikah : 19 tahun

TnY
/ 58 thnSuku : Kayoa /
SMAPekerjaan : IRT /
Agama : IslamLamanya
Alamat : FituB.

Data Biologis / Fisiologis


1.Keluhan utama :Ibu mengatakan nyeri perut bagianbawah, disertai pengeluaran darah
19dari jalan lahir, warna merah segar,dengan jumlah yang banyak dandialami 10 hari dirumah.
2.Riwayat keluhan utama:
a.Keluhan mulai sejak : 26 05 2011
b Sifat keluhan : Menetap
c.Lokasi keluhan : Jalan lahir
d.Faktor predisposisi : Kelainan organik pada alat genital
e.Keluhan yang menyertai :- Ibu mengatakan badannya terasa lemas- Ibu mengatakan susah tidur
f.Pengaruh keluhan terhadapaktifitas tubuh : Terganggug. Usaha klien untuk mengatasikeluhan :
Istirahat di tempat tidur
3. Riwayat kesehatan yang lalu :
a. Imunisasi yang diperoleh : Tidak ada
b. Penyakit yang pernahdiderita : Malaria
c. Riwayat opname : Tidak ada
d. Riwayat trauma : Tidak ada
e. Riwayat operasi : Tidak ada
f. Riwayat penyakit menular : Tidak ada

4. Riwayat reproduksia.
a. Riwayat haid
Menarche : 14 tahun
Siklus haid : 28 30 hari
Durasi haid : 4-7 hari
Perlangsungan haid : Normal
Dismenorea : Pernah
b. Riwayat obstetri : Kehamilan, persalinan, dan nifas lalu

c. Riwayat ginekologi : Tidak ada


d. d. Riwayat KB : Tidak ada

5. Riwayat pemenuhan kebutuhan dasar :


a. Kebutuhan nutrisiKebiasaanaPola makan ibu : Teratur
b)Frekuensi : 3 x sehari
c)Jumlah air yang diminum : 7 8 gelas / hari
d) Nafsu makan : Baik
e)Makanan pantangan : Tidak ada

b. Kebutuhan eleminasiKebutuhan
a)Frekwensi BAK : 4 x / hari
b)Warna / bau khas : Kuning muda / pesing
c)Gangguan eleminasi BAK : Tidak adaSelama sakit : Nyeri saat BAK
d)Frekwensi BAB : 1x / hari
e)Warna / konsistensi : Kuning / lemnek
f)Gangguan eleminasi : Tidak ada
c. Kebutuhan diri sendiriKebiasaan
1.Kebersihan rambut : Bersih
2.Kebersihan badan : Bersih
3.Kebersihan gigi/ mulut : Bersih
4.Kebersihan genetalia/anus : Bersih
5.Kebersihan kuku tangandan kaki : Bersih
d. Kebutuhan istrahat / tidurKebiasaan1.
1. Istrahat / tidur siang : 2 jam (jam 13.30 - 15.30WIB
2. Istrahat / tidur malam : 7 jam (jam 22.00 - 05.00 WIB

Perubahan selama sakit : Susah tidur


C.Pemeriksaan fisik
1.Pemeriksaan umum
a.Keadaan umum : Tampak lemas
b.Kesadaran : Composmentis
c.Wajah : Cemas
d.TB / BB : Tidak di ukur
2.Pemeriksaan tanda tanda vital
a.Tekanan darah : 90 / 60 mmhg
b.Pernapasan : 20 /m
c.Suhu : 36 c
d.Nadi : 82 /m3.
Kepala / rambutInspeksi
a.Keadaan rambut : Bergelombang
b.Warna : Hitam
c.Kulit kepala : Bersih
4.Muka / wajah
a.Edema : Tidak ada
bBentuk wajah : Ovalec.
Ekspresi wajah : Meringis5.
Mataa.
Kebersihan : Bersihb.
Sklera :