Anda di halaman 1dari 79

ABSTRAK

Sri Surtiyana. 2011. Peningkatan Pembelajaran PKn Bervariatif Dengan


Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) Bagi Guru di SMP Negeri
1 Kalianget.
Kata Kunci : Pembelajaran, Bervariatif, Pendekatan Deep Dialogue/Critical
Thinking.
Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan realita bahwa kemampuan guru
PKn di SMP Negeri 1 Kalianget untuk mengadakan variasi dalam pembelajaran
PKn masih kurang, penilaian yang dilaksanakan guru diberikan berdasarkan
pertimbangan keterpaksaan-humanistik, sehingga bersifat subyektif (terpaksa
memberi nilai minimal enam). Akibatnya di kalangan siswa muncul pandangan
cenderung meremehkan bahkan melecehkan mata pelajaran PKn. Kondisi
demikian menunjukkan PKn termasuk mata pelajaran yang tidak digemari,
membosankan, tidak menarik dan kurang bermanfaat praktis dalam kehidupan.
Untuk itu pengadaan variasi dalam proses pembelajaran PKn dengan metode yang
lebih menarik, tidak menjenuhkan, subtansi materi yang terorganisasi sesuai
kebutuhan siswa merupakan suatu yang mendesak dilakukan. Dalam rangka kerja
inovatif tersebut dilakukan tindakan pembelajaran PKn yang mampu
memberdayakan komunitas belajar dengan pendekatan Deep Dialogue/Critical
Thinking (DD/CT).
Permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana gambaran
model pembelajaran PKn bervariatif dengan menggunakan pendekatan DD/CT?
2) Apakah pembelajaran PKn bervariatif yang dilakukan dengan pendekatan
DD/CT dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa? 3) Apakah
pembelajaran PKn bervariatif yang dilakukan dengan pendekatan DD/CT dapat
meningkatkan partisipasi siswa? 4) Apakah pembelajaran PKn bervariatif dengan
pendekatan DD/CT dapat meningkatkan interaksi belajar-mengajar? 5) Apakah
pembelajaran bervariatif dengan pendekatan DD/CT dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa?
Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan SMP Negeri 1
Kalianget sebagai fokus penelitian. Subyek penelitian ini adalah guru mitra yakni
guru PKn di SMP Negeri 1 Kalianget yakni Ibu Dra. Sayem dan Bapak Drs. Agus
Mujiyono. Rancangan penelitian ini adalah dalam bentuk penelitian tindakan
kelas (classroom action research) dengan langkah: pertama perencanaan bersama
(planning conference), kedua observasi kelas (classroom observation) dan ketiga
pertemuan balikan (feedback conference). Sedangkan tahap penelitian tindakan
kelas melalui dua siklus. Siklus I dengan tahap perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan dan refleksi. Siklus II dengan tahap-tahap yang sama dengan siklus I.
Hasil penelitian menunjukkan: 1) Model pembelajaran PKn bervariatif
dengan pendekatan DD/CT merupakan model pembelajaran alternatif yang
membawa siswa belajar melalui mengalami, merasakan, mendialogkan dan buku
menghafalkan. Model pembelajaran PKn dengan DD/CT mencakup lima
komponen penting yakni hening, membangun komunitas, kegiatan inti dengan
strategi penemuan konsep (concept attainment) dan cooperative learning, refleksi,

dan evaluasi. Model ini ternyata memiliki keunggulan antara lain pembelajar
diawali dan diakhiri dengan hening atau berdoa secara langsung telah
membimbing siswa menjadi insan religius. Membangun komunitas dapat
membelajarkan siswa untuk menghargai perbedaan, toleransi, terbuka terhadap
kritik, sehingga di masa yang akan datang akan menjadikan warga negara yang
demokratis. Strategi penemuan konsep mendorong siswa berpartisipasi aktif
dalam pembelajaran, menemukan sendiri konsep, mendefinisikan sendiri,
sehingga dapat mengendap dan bertahan lama dalam pikirannya. Cooperative
learning mendorong siswa selalu membangun masyarakat belajar (learning
community), merangsang daya kritis siswa dalam mengungkap permasalahan,
mencari solusi dengan caranya sendiri dan bersama dengan siswalain. Refleksi
merupakan sarana introspeksi diri, kebebasan mengungkapkan kesan, pandangan
harapan siswa akan pengalaman yang sedang dan yang akan dikembangkan, 2)
Minat dan motivasi belajar siswa menunjukkan peningkatan ketika mengikuti
pembelajaran bervariatif dengan DD/CT, bahkan ada usulan agar semua pelajaran
menggunakan cara seperti model pembelajaran ini, 3) Partisipasi siswa
menunjukkan aktif dan kreatif, yang ditunjukkan dalam gaya belajarnya yang
semula menyanyi, menulis, bertanya, berdialog dan kreatifitas lainnya, 4)
Interaksi dalam belajar-mengajar. Model pembelajaran PKn dengan DD/CT dapat
meningkatkan interaksi belajar-mengajar multi arah, 5) Prestasi siswa. Melalui
model pembelajaran PKn dengan DD/CT dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa, yang ditandai dengan meningkatnya hasil ulangannya (evaluasi hasil), di
samping itu peningkatan kemampuan siswa untuk membuat laporan diskusi dan
aktifitas berdiskusi (evaluasi proses).
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini peneliti menyarankan
kepada Kepala SMP Negeri 1 Kalianget untuk memberi kesempatan dan
memfasilitasi guru untuk mengembangkan model pembelajaran dengan DD/CT,
mengingat banyak keunggulan model pembelajaran ini. Kepada guru mata
pelajaran PKn untuk terus mengembang pendekatan DD/CT yang dapat
dikolaborasikan dengan pendekatan kontekstual (CTL).

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang karena rahmat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Penelitian Peningkatan
Keterampilan Pembelajaran Bervariatif Dengan Pendekatan Deep Dialogue/
Critical Thingking Bagi Guru di SMP Negeri 1 Kalianget - Sumenep Madura.
Selesainya penulisan laporan penelitian ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti sampaikan
penghargaan yang setinggi-tingginya serta terima kasih sebanyak-banyaknya
kepada:
1. ss
2. ss
Akhirnya penulis menyadari bahwa laporan penelitian ini jauh dari
sempurna untuk itu saran dan kritik membangun sangat penulis harapkan demi
penyempurnaannya. Semoga laporan penelitian ini bermanfaat bagi semua pihak.
Sumenep, Agustus 2011
Tim Peneliti

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK .......................................................................................................
KATA PENGANTAR ......................................................................................
DAFTAR ISI ....................................................................................................
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................
A. Latar Belakang ...........................................................................
B. Rumusan Masalah ......................................................................
C. Tujuan Penelitian .......................................................................
D. Kontribusi Penelitian .................................................................
BAB II KAJIAN PUSTAKA .........................................................................
A. Tuntutan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
.....................................................................................................
.....................................................................................................
B. Tuntutan Teoritik Belajar dan Pembelajaran serta Inovasi
Pendidikan
.....................................................................................................
C. Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Inovasi
Pendidikan
.....................................................................................................
.....................................................................................................
BAB III METODOLOGI PENELIITIAN ......................................................
A. Deskripsi Subyek Penelitian ......................................................
B. Lokasi Penelitian ........................................................................
C. Rancangan Penelitian .................................................................
D. Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data ..............................
E. Analisis Data ..............................................................................
BAB IV HASIL PENELITIAN .......................................................................
A. Temuan Awal ..............................................................................
B. Tahap Tindakan Kelas Siklus I ..................................................
1. Tahap Perencanaan ...............................................................
2. Tahap Pelaksanaan ...............................................................
3. Tahap Pengamatan ...............................................................
4. Tahap Refleks .......................................................................
C. Tahap Tindakan Kelas Siklus II .................................................
1. Tahap Perencanaan ...............................................................
2. Tahap Pelaksanaan ...............................................................
3. Tahap Pengamatan ...............................................................
4. Tahap Refleks .......................................................................
BAB V PEMBAHASAN ...............................................................................
A. Model Pembelajaran PKn Bervariatif dengan Pendekatan
DD/CT
.....................................................................................................
.....................................................................................................
B. Minat
dan
Motivasi
Belajar
Siswa

.....................................................................................................
.....................................................................................................
C. Partisipasi
Siswa
.....................................................................................................
.....................................................................................................
D. Interaksi
Belajar
Mengajar
.....................................................................................................
.....................................................................................................
E. Prestasi
Siswa
.....................................................................................................
.....................................................................................................
BAB VI PENUTUP .........................................................................................
A. Kesimpulan ................................................................................
B. Saran ..........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

DAFTAR GAMBAR

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Profesi guru sebagai tenaga pelaksana kependidikan menempati
posisi yang sangat strategis. Hasil pembelajaran akan baik, apabila
dilaksanakan oleh guru yang baik, dalam arti memiliki keterampilan mengajar
dengan baik. Ahli pendidikan mengemukakan bahwa syarat bagi guru yang
baik, di samping

memiliki kompetensi intelektual

dan kompetensi

berkomunikasi, juga harus memiliki sikap yang baik terhadap jabatan guru
(Davis, 1991). Selain itu, agar guru mampu mengajar dengan baik harus
menguasai keterampilan dasar mengajar (generic teaching skills) dengan baik
(Wardani, dalam Danial, 2002). Sementara itu, guru akan menarik dalam
mengajarnya jika mampu menerapkan gaya mengajar yang bervariasi (Turney,
1979).
Praktik pendidikan dan pembelajaran di Indonesia, dirasakan masih
menghadapi berbagai problema. Masalah utama pendidikan untuk memenuhi
tuntutan demokratisasi di era reformasi adalah pelaksanaan proses
pembelajaran yang kurang mendorong terjadinya pengembangan diri siswa
yang dinamis dan berpikir kritis (UU No. 22 Tahun 2000 Bab VI tentang
Program Pendidikan Nasional). Sedangkan kebijakan pemerintah mengenai
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), masih dalam
proses adopsi dan institusionalisasi. Otonomi pendidikan yang lebih besar
diberikan kepada sekolah dala merealisasi berbagai fungsinya, yang salah
satunya mengenai otonomi pengelolaan proses belajar mengajar, masih belum
banyak dilakukan oleh sekolah-sekolah dan guru di Indonesia.
Penelitian Sadiyo (2002) tentang Peningkatan Kemampuan Siswa
SLTP untuk Mengemukakan Pendapat dalam Mata Pelajaran PKn di
Sumenep, menunjukkan bahwa pengembangan materi yang dilakukan guru
tampak belum maksimal. Guru nampak hanya memungut apa yang ada
dalam buku paket. Strategi belajar mengajar tidak mendorong siswa untuk
bertanya atau menyampaikan pendapat tentang materi yang disampaikan.

Guru terlalu menekankan metode ceramah, sedangkan tanya jawab belum


dilaksanakan secara optimal. Siswa jarang mendapat kesempatan untuk
bertanya atau menyampaikan pendapat yang berkaitan dengan materi
pelajaran PKn.
Hasil studi pendahuluan di lapangan, nampak bahwa guru PKn SMP
Negeri Kalianget pada umumnya telah mempunyai bekal penguasaan yang
cukup di bidang pembelajaran, namun masih dirasakan belum maksimal
diaplikasikan dalam proses pembelajaran. Di antara pengetahuan keterampilan
mengajar yang dimiliki dan dirasakan paling sedikit teraplikasikan adalah
keterampilan mengadakan variasi, terutama berkaitan dengan pelibatan siswa
untuk berdialog secara mendalam dan berpikir kritis saat pembelajaran
berlangsung.
Keresahan lain yang muncul, sebagai akibat perjalanan mata
pelajaran PPKn. Sejak kurikulum 1994 disusul Suplemen 1999 dan
pengintegrasian PPKn dengan budi pekerti (tahun 2000) ditambah lagi dengan
rencana menyongsong Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004
dengan penggantian nama mata pelajaran PPKn menjadi Kewarganegaraan
(Citizenships), semakin menambah kebingungan untuk mencapai kualitas
pembelajaran. Sebagaimana dirasakan kurikulum PPKn 1994 dan Suplemen
1999 tampak materinya terlalu padat, banyak pokok bahasan yang terjadi
pengulangan (duplikasi). Sementara Kurikulum KBK belum bisa dipetakan
pokok-pokok bahasan apa yang perlu dimunculkan dalam rancangan dan
proses pembelajaran.
Di samping itu, sistem penilaian yang cenderung banyak
pertimbangan keterpaksaan-humanistik, karena adanya ketentuan pemerintah
yang menegaskan bahwa nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, Pendidikan
Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), tidak boleh
kurang dari 6 (enam) baik untuk kenaikan kelas maupun Ebtanas. Tujuan
pemerintah memberikan kebijakan itu pada dasarnya ingin menunjukkan
bahwa mata pelajaran-mata pelajaran tersebut memiliki posisi yang strategis
dan penting dalam sistem pendidikan nasional. Namun dalam kenyataannya
justru menimbulkan pendapat yang sebaliknya di kalangan guru dan siswa. Di

samping guru PPKn harus memberikan penilaian atas dasar subyektivitas


(karena terpaksa harus memberi nilai minimal enam), di kalangan siswa
muncul pandangan cenderung meremehkan atau bahkan melecehkan terhadap
mata pelajaran PPKn di SMP Negeri 1 Kalianget termasuk dalam nominasi
yang tidak digemari, membosankan, tidak menarik bahkan kurang memiliki
manfaat praktis bagi kehidupan siswa.
Selain persoalan tadi, juga muncul beberapa keluhan dari siswa pada
saat mengikuti mata pelajaran PPKn. Masalah yang dirasakan adalah
pelaksanaan pembelajaran yang terkasan bersifat monoton. Pada umumnya
guru mata pelajaran PPKn dalam mengajar lebih banyak menerangkan
(ceramah) dan memberikan pertanyaan-pertanyaan (tanya jawab). Kalaupun
ada tugas hanya berkaitan dengan mengerjakan soal-soal dalam Lembar Kerja
Siswa (LKS) yang dibeli dari sales, toko buku atau lewat guru. Soal-soal
ulangan harian dan Ulangan Akhir Semester (UAS) ternyata juga banyak yang
keluar. Jadi dengan belajar lewat LKS diperkirakan sudah dapat digunakan
untuk menjawab soal-soal ulangan. Apalagi, menurut penuturannya paling
apes juga mendapat nilai enam. Akibatnya, mata pelajaran PPKn tidak
memiliki kewibawaan psikologis sama sekali di kalangan siswa.
Beberapa realitas pembelajaran di atas, mendorong guru-guru PPKn
untuk merenungkan kembali proses pembelajarannya yang telah dilaksanakan,
dengan temuan empiris sebagai berikut: 1) penggunaan metode pembelajaran
hanya terbatas pada metode ceramah, tanya jawab dan penugasan; 2) gaya
pembelajaran masih tampak cenderung bersifat indoktrinatif; 3) proses
pembelajaran nilai dan moral lewat PPKn masih terbatas sebagai pitutur
moral (gaya konvensional) dan belum mengarah sebagai ajang analisis
moral; 4) pembelajaran belum mampu melibatkan siswa untuk melakukan
dialog secara mendalam sehingga keaktifan mental dan emosional siswa
belum nampak maksimal; dan 5) pembelajaran belum mengarah pada upaya
optimalisasi intelengsi siswa untuk berpikir kritis dalam melakukan analisis,
membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat.
Permasalahan pembelajaran hanya dapat dijawab dengan tindakan
pembelajaran. Jawabannya, tergantung dari peran guru yang profesional, yang

mampu

berperan

sebagai

ujung tombak dalam

mengelola

proses

pembelajaran yang berkualitas dan menarik serta mampu melibatkan siswa


pada tataran emosional dan intelektualnya. Oleh karena itu, seorang guru
harus komitmen terhadap bidang tugasnya, yang terintegrasikan dalam
wawasan yang utuh ketika dia mengajar di kelas.
Berdasarkan kenyataan tersebut, kiranya tidak bisa ditawar lagi,
bahwa guur harus mengkaji terhadap pembelajaran PPKn. Pengadaan variasi
dalam proses pembelajaran dengan menetapkan metode penyampaian yang
lebih menarik dan tidak menjenuhkan serta substansi materi yang terorganisasi
sesuai dengan kebutuhan siswa, kiranya menjadi tuntutan yang paling
mendesak. Tugas ini dirasa tidak mudah, sebab di samping banyaknya
tuntutan yang harus dipenuhi oleh guru, kondisi siswa nampak bervariasi,
bahkan terdapatnya seni mengajar yang bervariasi yang dilakukan oleh para
guru. Oleh karena itu, guru harus mampu melakukan kerja inovatif, terutama
dalam menciptakan suasana pembelajaran PPKn yang bervariatif, baik
mengenai gaya mengajarnya, metode mengajarnya, penggunaan media
maupun variasi pola interaksi dan kegiatan siswanya.
Untuk memenuhi kerja inovatif tersebut, guru bersama kami
bersepakat melakukan tindakan pembelajaran PPKn yang diasumsikan
menarik dan mampu memberdayakan komunitas belajar (siswa), mampu
melibatkan siswa berdialog mendalam dan berpikir kritis serta membangun
mata pelajaran PPKn yang berwibawa pada diri siswa. Hasilnya disepakati
dengan memberdayakan proses pembelajaran PPKn yang bervariatif dengan
pendekatan Dialog Mendalam dan Berpikir Kritis (Deep Dialogue and
Critical Thinking), yang sering disingkat dengan DD/CT.
B. Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang hendak dijawab dalam penelitian ini, dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pendekatan model pembelajaran PPKn bervariatif dengan
menggunakan pendekatan DD/CT?

2. Apakah pembelajaran PPKn bervariatif dengan menggunakan DD/CT


dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa?
3. Apakah

pembelajaran

PPKn

bervariatif

yang

dilakukan

dengan

pendekatan DD/CT dapat meningkatkan partisipasi siswa?


4. Apakah pembelajaran PPKn bervariatif yang dilakukan dengan DD/CT
dapat meningkatkan interaksi belajar-mengajar?
5. Apakah pembelajaran bervariatif dengan pendekatan DD/CT dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa?
Untuk menjawab permasalahan penelitian di atas, perlu dilakukan
penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan menggunakan
DD/CT ditempatkan sebagai pendekatan pembelajaran PPKn. Dengan
pertimbangan, melalui pendekatan penelitian ini permasalahan-permasalahan
yang dirasakan dan ditemukan guru dan siswa langsung dapat dipecahkan dan
dicarikan terapi atau solusinya.
Cara-cara pemecahan masalah pemberdayaan pembelajaran PPKn
bervariatif dengan pendekatan DD/CT sesuai dengan kaidah penelitian
tindakan kelas, dilakukan dengan melakukan kolaborasi antara guru dengan
teman sejawat (guru peneliti mitra) dalam beberapa langkah-langkah berikut:
1. Mendiskusikan

model

pembelajaran

PPKn

bervariatif

dengan

menggunakan pendekatan DD/CT.


2. Menetapkan teknik membangun komunitas belajar dengan pendekatan
DD/CT.
3. Melakukan analisis dan mengorganisasikan materi pembelajaran PPKn
bervariatif dengan pendekatan DD/CT.
4. Menetapkan strategi, metode dan teknik pembelajaran PPKn bervariatif
yang sesuai dengan pendekatan DD/CT.
5. Menetapkan media pembelajaran PPKn yang bernuansa DD/CT.
6. Menyusun rancangan pembelajaran bervariatif PPKn yang bernuansa
DD/CT.
7. Menyusun skenario pelaksanaan pembelajaran PPKn bervariatif yang
bernuansa DD/CT.

8. Melakukan pembelajaran PPKn bervariatif dengan pendekatan DD/CT


oleh guru yang diobservasi oleh teman sejawat (guru mitra).
C. Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas mengenai pembelajaran PPKn bervariatif
pada dasarnya bertujuan untuk:
1. Mampu

menemukan

suatu

model

pembelajaran

PPKn

dengan

menggunakan pendekatan DD/CT.


2. Meningkatkan kemampuan minat dan motivasi siswa di SMP Negeri 1
Kalianget dalam pembelajaran DD/CT.
3. Meningkatkan partisipasi siswa pembelajaran PPKn bervariatif dengan
menggunakan pendekatan DD/CT.
4. Meningkatkan prestasi belajar mengajar siswa dalam pembelajaran PPKn
dengan pendekatan DD/CT.
5. Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran PPKn.
D. Kontribusi Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini, diharapkan memiliki kontribusi kepada
beberapa pihak, yaitu:
1. Bagi guru PPKn, dapat meningkatkan kualitas keterampilan mengajar
PPKn dengan bervariatif, dalam arti tidak monoton, gaya mengajarnya
menarik, materinya punya nilai praktis dan penampilan menarik siswa,
metode yang dipilih tepat dan terberdayakan, media menarik dan
representatif untuk mencapai tujuan serta mampu berinteraksi dengan
siswa dengan mengandalkan prinsip dialog mendalam dan berpikir kritis.
Kontribusi ini tentu diawali dengan kemampuan menyusun rancangan
pembelajaran dan skenario proses pembelajaran yang bernuansa DD/CT.
2. Bagi siswa (komunitas pembelajaran PPKn), mereka memiliki minat
PPKn yang tinggi, merasakan manfaat praktis materi pembelajaran,
mampu berdialog dengan teman secara mendalam dan mampu
memberikan pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat
berkaitan dengan tugas-tugas pembelajaran yang diberikan oleh guru.

3. Bagi guru peneliti (guru peneliti mitra), memiliki kepekaan yang tinggi
terhadap

fenomena

pembelajaran

di

kelas,

kemampuan

dalam

memecahkan masalah-masalah proses pembelajaran dengan tepat melalui


kegiatan penelitian, terutama komitmennya untuk membudayakan
penelitian tindakan kelas (classroom action research).
4. Bagi institusi pendidikan (sekolah dan LPTK), dapat digunakan salah satu
upaya dalam merealisasi fungsi otonomi pengelolaan proses belajarmengajar (bagi sekolah), berkaitan dengan kebijakan Manajemen
Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), dan bahan masukan
empirik bagi perguruan tinggi (LPTK) dalam mengembangkan teori-teori
pembelajaran untuk keperlukan akademik.
Bertolak dari kontribusi penelitian di atas, jika guru memiliki
kemampuan mengajar bervariatif dengan pendekatan Deep Dialogue/Critical
Thinking, maka minat, motivasi, partisipasi, interaksi belajar mengajar dan
prestasi siswa dalam mata pelajaran PPKn akan meningkat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tuntutan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia selama ini diarahkan
pada pembentukan manusia Indonesia yang berkualitas, yakni manusia yang
beriman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, cerdas, terampil, berbudi
pekerti luhur, kreatif, inovatif, dan bertanggungjawab terhadap pembangunan
bangsa. Hal ini selaras dengan keberadaan Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn), yaitu mata pelajaran yang digunakan sebagai
wahana mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai luhur dan moral yang
berakar pada budaya bangsa Indonesia. Nilai-nilai moral yang luhur tersebut
diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku sehari-hari siswa, baik
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakt dan makhluk ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa (Depdiknas, 1999). Dalam kaitan itu, Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) bertujuan membentuk kepribadian
warga negara yang baik (desirable personal qualities) selaras dengan jiwa dan
nilai-nilai

Pancasila

dan

UUD

1945.

PPKn

atau

kewarganegaraan

(citizenships) mendatang harus mampu membekali kompetensi peserta didik


terhadap pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan
kewarganegaraan (civic skills), dan etika atau karakter kewarganegaraan (civic
ethic atau civic disposition) (KBK, 2001).
Secara garis besar mata pelajaran PPKn atau kewarganegaraan
terdiri dari 3 dimensi yakni pertama, dimensi pengetahuan kewarganegaraan
(civic knowledge) yang mencakup bidang politik, hukum, dan moral. Secara
lebih rinci materinya dijabarkan dalam proses dan prinsip demokrasi, lembaga
pemerintahan dan non pemerintahan, identitas nasional, hak dan kewajiban
WN. Kedua, dimensi keterampilan kewarganegaraan (civic skills) meliputi
keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti
berperan serta secara aktif mewujudkan masyarakat madani, memonitoring
jalannya pemerintahan, mengadakan koalisis, mengelola konflik, keterampilan
hidup. Ketiga, dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civic volves) mencakup
harga diri, percaya diri, komitmen, penguasaan atas nilai religius, norma, nilai,

moral luhur, nilai keadilan, demokratis, toleransi, kebebasan dan sebagainya


(Depdiknas, 2003).
Pendidikan Kewarganegaraan (termasuk PPKn di Indonesia)
sebagai bagian integral dari bidang pendidikan sosial pada dasarnya memiliki
visi dan misi pengembangan democratic and beliefs (NCSS, 1992) atau rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan, yang oleh Lickona (1992)
ditegaskan sebagai respect and responsibility, yang diyakininya sebagai inti
dari karakter warganegara yang cerdas dan baik. Menurut Welton dan Mallan
(dalam Winaputra, 1999) bahwa secara ontologis bidang pendidikan sosial
memusatkan perhatian pada things social, yaitu segala yang menyangkut
kehidupan manusia sebagai warga masyarakat, yang memiliki sifat
multidimensional, holistik, dan peka terhadap perubahan. Oleh karena itu
paradigma bidang pendidikan sosial termasuk pendidikan kewarganegaraan
perlu meilhat secara holistik dan kontekstual dalam tataran ideal, instrumental
dan praktis kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta
bermasyarakat global.
Pendidikan kewarganegaraan (civic education) harus disikapi dan
diperlakukan sebagai bidang kajian ilmu kependidikan yang memusatkan
perhatian pada pengembangan warganegara yang cerdas, demokratis, dan
religius. Dalam rangka ini pendidikan kewarganegaraan harus dipandang
sebagai gerakan sosial-budaya kewarganegaraan yang secara sinergetik
dilakukan dalam upaya membangun kebajikan warganegara (civic virtue) dan
budaya warganegara (civic culture) yang secara realitas mampu memahami
perbedaan-perbedaan, dan menyelesaikan persoalan kehidupan secara
demokratis, cerdas, dan religius.
Sementara itu, Cogan (1998) mengidentifikasi karakteristik yang
perlu dimiliki oleh seorang warganegara, yang antara lain: (1) ability to
understan, accept and tolerate cultural differences (kemampuan untuk
memahami dan menerima perbedaan budaya); (2) capacity to think in a
critical and systimatic way (kemampuan untuk berpikir kritis dan sistematis);
(3) willingness to revolve conflict in a non-violent manner (kemampuan
menyelesaikan konflik tanpa kekerasan); (4) ability to work with others
cooperative way and to take responsibility for ones rule/duties within society

(memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain dan memikul


tanggung jawab atas peran dan kewajibannya dalam masyarakat; (5) ability to
sensitive towards and to defend human rights (memiliki kepekaan terhadap
hak-hak asasi manusia); (6) ability to participate in politics at local, national,
and international levels (kemampuan berpartisipasi dalam politik pada tingkat
lokal, nasional, dan internasional).
B. Tantangan Teoretik Belajar dan Pembelajaran serta Inovasi Pendidikan
Ausubel (dalam Irawan, 1996) dalam teorinya belajar bermakna
(meaningful teaching theory) menyatakan bahwa konsep belajar berkaitan
dengan bagaimana peserta didik memperoleh pengetahuan baru dan
menerimanya serta mengaitkan dengan kehidupan. Lebih lanjut, dia
menegaskan

bahwa

proses

belajar

peserta

didik

dipengaruhi

oleh

kebermaknaan penyajian dan pentingnya pengatur kemauan belajar (advance


organizer), yang antara lain adanya abstraksi bahan yang akan diberikan
kepada peserta didik. Alasannya, bahan yang dirancang dengan baik akan
menarik perhatian peserta didik. Oleh karena itu, bahan harus memenuhi
beberapa syarat: (1) harus bermakna secara potensial; (2) harus bertujuan
untuk melaksanakan belajar secara bermakna, sehingga siswa memiliki
kesiapan dan minat untuk belajar.
Sementara itu, Winarno Surakhmad (1979), menegaskan bahwa
hakekat belajar adalah penemuan unsur-unsur di dalam ikatan keseluruhan
yang secara ringkas meliputi: (1) belajar terjadi dalam situasi yang berarti
secara individual, yang ditandai oleh adanya tujuan-tujuan (motif) yang
diterapkan dan diperuntukkan bagi siswa; (2) motivasi sebagai daya
penggerak belajar. Motivasi yang sehat perlu ditumbuhkan dalam dunia
belajar dan diaksentuasikan dari sudut kebutuhan siswa; (3) hasil
pembelajaran adalah kebulatan tingkah laku; (4) belajar adalah kegiatan
mengalami. Mengalami berarti menghayati situasi aktual yang menimbulkan
respons-respons tertentu dari pihak siswa. Oleh karena itu tugas mengajar
adalah membina rangkaian pengalaman yang dijadikan sumbu pengetahuan
dan keterampilan serta karakter siswa.
Dalam pandangan teori belajar humanistik, belajar menekankan
pada isi dan proses yang berorientasi pada peserta didik sebagai subyek belajar

(Rianto, 2000). Teori ini bertujuan untuk memanusiakan agar mampu


mengaktualisasikan diri dalam kehidupan. Teori humanistik Kolb (dalam
Irawan, 1996), membagi belajar ke dalam empat tahap, yaitu: (1) tahap
pengalaman konkret yaitu peserta didik dalam belajarnya hanya sekedar ikut
mengalami suatu peristiwa; (2) tahap pengamatan kreatif dan reflektif, yaitu
secara lambat laun peserta didik mampu mengadakan pengamatan secara aktif
terhadap suatu perisitwa dan mulai memikirkan untuk memahaminya, (3)
tahap konseptualisasi, yaitu peserta didik mampu membuat abstraksi dan
generalisasi berdasarkan contoh-contoh peristiwa yang diamati; dan (4) tahap
eksperimentasi aktif, peserta didik mampu menerapkan suatu aturan umum
pada situasi baru.
Dengan mendasarkan teorinya pada pendapat Kolb di atas, Honey
dan Humford (dalam Irawan, 1996), menggolongkan empat tipe peserta didik
yang sedang mengalami peristiwa belajar, yaitu:
(1) Peserta didik tipe aktivis, yaitu peserta didik yang suka melibatkan diri
pada pengalaman-pengalaman baru. Peserta didik dengan tipe ini
cenderung berpikir secara terbuka dan mudah diajak dialog.
(2) Peserta didik tipe reflektor, yaitu peserta didik yang cenderung hati-hati
dalalm mengambil langkah. Sehubungan dengan pengambilan keputusan
dia cenderung menimbang secara cermat akibat dari keputusannya.
(3) Peserta didik tipe teoris, adalah peserta didik yang bersikap kritis, senang
menganalisis dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya
subyektif serta bersifat spekulatif
(4) Peserta didik tipe pragmatis, ialah peserta didik yang banyak menaruh
perhatian besar pada aspek-aspek praktis dalam segala hal. Bagi mereka,
teori memang sebagai teman siswa, sikap mengakui konsep diri siswa.
Dalam kaitannya dengan teori belajar humanistis tadi, Nirwana
(2000) menyarankan beberapa sikap guru sesuai dengan teori humanistik,
antara lain adalah sikap menerima, memuji, mempercayai, berempati terhadap
siswa, keterbukaan, merasa sebagai teman siswa, sikap mengakui konsep diri
siswa.
Selain itu, Freeze & Rudnitski (1995), menegaskan bahwa guru
yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan
melibatkan

siswa

dalam

pembelajaran

lebih

menguntungkan

dalam

pencapaian tujuan pembelajaran. Lingkungan belajar tersebut mampu


menghimpun kemampuan guru dalam melakukan penerimaan (acceptance),
memahami perasaan siswa, menciptakan suasana hangat, menumbuhkan sikap
jujur, empati, dan bentuk sosial positif lainnya.
Untuk mengelola pembelajaran secara profesional, guru harus
menguasai keterampilan dasar mengajar (generic teaching skills) dengan baik.
Dalam kaitan ini, Wardani (dalam Endang Danial, 2002) mengidentifikasi
delapan keterampilan dasar mengajar, yaitu: (1) keterampilan membuka
pelajaran; (2) keterampilan bertanya; (3) keterampilan memberikan penguatan;
(4) keterampilan mengadakan variasi; (5) keterampilan menjelaskan; (6)
keterampilan diskusi kelompok kecil; (7) keterampilan mengelola kelas; dan
(8) keterampilan menutup pelajaran.
Tuntutan lain bagi guru profesional harus memiliki wawasan
kependidikan. Dalam kaitan ini, T. Raka Joni (1981) menegaskan bahwa
wawasan kependidikan itu meliputi: (1) wawasan pribadi (personal); (2)
wawasan profesional, dan (3) wawasan kemasyarakatan. Khusus berkaitan
dengan wawasan profesional, ditegaskan bahwa seorang guru harus menguasai
bahan pembelajaran dan strategi serta metode-metode pembelajaran yang
mampu mendorong siswa untuk belajar secara aktif dan produktif.
Mengajar pada dasarnya membuat orang untuk belajar, sedangkan
belajar adalah proses kehidupan. Karena itu kegiatan belajar memerlukan
ruang hidup (lebensratum) agar berlangsung dengan baik, nyaman dan
menggairahkan. Belajar juga disebut sebagai proses aktif siswa untuk
berdialog melalui berbagai bentuk kegiatan yang merupakan proses mental
(roundtrip) menuju perubahan perilaku subyek belajar.
Berdasarkan tuntutan pembelajaran di atas, guru memiliki
akuntabilitas profesional di bidang pendidikan dan pembelajaran. Oleh karena
itu, seorang guru dituntut memiliki kualifikasi baik sebagai inovator sekaligus
developer pembelajaran. Di samping guru menemukan sendiri mengenai
pembaharuan pembelajarannya, dapat juga melakukan adopsi kritis terhadap
berbagai inovasi pendidikan.
Everett M. Rogers (1995), memerinci adanya lima aspek inovasi
yang dapat diterima oleh adopter, adalah sebagai berikut:

(1) Relative advantage atau keuntungan relatif, adalah tindakan dimana suatu
ide baru dianggap lebih baik daripada ide-ide ang ada sebelumnya;
(2) Compotibility, adalah sejauh mana suatu inovasi pendidikan dianggap
konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan
kebutuhan penerima inovasi;
(3) Complexity, adalah tingkat dimana suatu inovasi pendidikan dianggap
relatif sulit untuk dimengerti dan diterapkan oleh pelaksana pendidikan.
Inovasi-inovasi tertetu begitu mudah dipahami oleh beberapa guru,
sedangkan guru lainnya tidak. Kerumitan inovasi pendidikan berhubungan
negatif dengan kecepatan adopsinya;
(4) Triability, adalah suatu tingkat dimana sebuah inovasi dapat dicobakan
dalam skala kecil. Ide baru yang dapat dicoba biasanya diadopsi lebih
cepat daripada inovasi yang tak dapat dicoba lebih dulu;
(5) Observability, adalah tingkat dimana hasil-hasil suatu inovasi dapat dilihat
oleh orang lain. Hasil-hasil inovasi tertentu mudah diamati dan
dikomunikasikan kepada orang lain, sedangkan beberapa lainnya tidak.
Observabilitas suatu inovasi pendidikan berhubungan positif dengan
kecepatan adopsinya.
C. Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) sebuah Inovasi
Pendidikan
Berkaitan dengan inovasi pendidikan, Global Dialogue Institute
(GDI) yang berkedudukan di Amerika Serikat, telah berhasil merumuskan
pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan pendidikan sosial, terutama
untuk pendidikan kewarganegaraan, yang dinamakan dengan pendekatan
Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT)
Secara sederhana, dialog adalah percakapan antara orang-orang dan
melalui dialog tersebut, dua masyarakat/kelompok atau lebih yang memiliki
pandangan berbeda-beda bertukar ide, informasi dan pengalaman. Deep
dialogue (dialog mendalam), dapat diartikan bahwa percakapan antara orangorang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal,
saling keterbukaan, jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI, 2001).
Sedangkan critical thinking (berpikir kritis), adalah kegiatan berpikir yang
dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis,

membuat pertimbangan, dan mengambil keputusan serta tepat dan


melaksanakannya dengan benar.
Beberapa prinsip yang

harus dikembangkan dalam

Deep

Dialogue/Critical Thinking antara lain adalah adanya prinsip komunikasi


multi arah, prinsip pengenalan diri untuk mengenal dunia orang lain, prinsip
saling memberi yang terbaik, menjalin hubungan kesederajatan, prinsip saling
memberadabkan (civilizing) dan memberdayakan (empowering), prinsip
keterbukaan dan kejujuran serta prinsip empatisitas yang tinggi (Al-Hakim,
2002).
Dengan Deep Dialogue/Critical Thinking, seseorang di samping
mampu mengenali diri sendiri juga mengenal diri orang lain. Selain itu,
dengan dialog mendalam berpikir kritis, orang akan belajar mengenal dunia
lain di luar dunia dirinya dan selanjutnya mampu menghargai perbedaanperbedaan yang ada di dalam masyarakat. Hal ini membuka kemungkinankemungkinan untuk memahami makna yang fundamental dari kehidupan
secara individual dan kelompok dengan berbagai dimensinya. Dengan
demikian, pada skala yang lebih luas, dialog mendalam dan berpikir kritis
lebih mengandalkan cara berpikir baru (new way of thinking) untuk
memahami dunia (Swidler, 2000).
Berpikir atau kualitas berpikir siswa menjadi sesuatu yang penting
dan menjadi perhatian dalam pembelajaran. Bagaimana mengukur standar
berpikir bagus dari siswa, dapat dipergunakan dengan beberapa cara misalnya
produktivitas, rasionalitas, logika, dan sebagainya. Sebagaimana dikemukakan
oleh Ennis (dalam Marzano, 1988) Critical thinking as reasonable, reflective
thinking that is focused on deciding what to believe or do. Lebih lanjut Ennis
mengemukakan bahwa berpikir kritis ditandai antara lain dengan kemampuan
bertanya dan menjawab pertanyaan.
Melalui Deep Dialogue/Critical Thinking, orang juga akan mampu
mengikuti dunia lain dan secara perlahan-lahan mengintegrasikannya dalam
kehidupan dirinya. Kapasitas dialog dan berpikir dalam DD/CT, pada dasarnya
mendudukkan seseorang pada posisi yang sejajar, penuh kebijaksanaan dan
terbuka satu sama lain. Dengan kegiatan berpikir kritis, orang dapat
melakukan pemikiran yang jernih dan kritis, membagi rasa, saling mengasihi

sehingga perbedaan dan pandangan yang ada dapat dipecahkan dan dicerahkan
dengan dialog terbuka.
Secara demikian, Deep Dialogue/Critical Thinking mengandung
nilai-nilai demokrasi dan etis sehingga keduanya seharusnya dimiliki oleh
manusia. Nilai-nilai demokrasi dan etis yang dijadikan orientasi dalam
DD/CT, mempunyai ikatan erat dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan di
Indonesia (PPKn), terutama dalam pembentukan warga negara yang baik,
demokratis, cerdas, dan religius.
Sebagai pendekatan

pembelajaran,

pada

dasarnya

Deep

Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) bukanlah sebuah pendekatan yang baru


sama sekali, akan tetapi telah diadaptasikan dari berbagai metode yang telah
ada sebelumnya (GDI, 2001). Oleh karena itu, Deep Dialogue/Critical
Thinking (DD/CT) bisa menggunakan semua metode pembelajaran yang telah
digunakan

sebelumnya

seperti

multiple

intelligences,

belajar

aktif,

keterampilan proses ataupun parthnership learning method, sebagaimana yang


dikembangkan oleh Eisler. Dengan demikian, filosofi DD/CT melakukan
penajaman-penajaman terhadap seluruh metode pembelajaran yang telah ada,
baik yang bersifat konvensional maupun yang bersifat inovatif.
Garapan pendekatan DD/CT dalam pembelajaran dikonsentrasikan
dalam mendapatkan pengetahuan dan pengalaman, melalui dialog secara
mendalam dan berpikir kritis, tidak saja menekankan keaktifan siswa pada
aspek fisik, akan tetapi juga aspek intelektual, sosial, mental, emosional, dan
spiritual. Siswa yang telah belajar di kelas yang menggunakan pendekatan
DD/CT, diharapkan akan memiliki perkembangan kognisi dan psikososial
yang lebih baik. Mereka juga diharapkan dapat mengembangkan keterampilan
hidup tentang DD/CT yang akan meningkatkan pemahaman terhadap dirinya
dan terhadap orang lain yang berada dari diri mereka, dan oleh karena itu akan
memperkuat penerimaan dan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan.
Untuk keperluan pembelajaran, Global Dialogue Institute (2001)
mengidentifikasi ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan DD/CT, yaitu: (1)
siswa dan guru nampak aktif; (2) mengoptimalkan potensi intelegensi siswa;
(3) berfokus pada mental, emosional, dan spriritual, (4) menggunakan teknik
dialog mendalam dan berpikir kritis; (5) peserta didik dan guru dapat menjadi
pendengar, pembicara, dan pemikir yang baik, (6) pembelajaran bersifat

kontekstual selaras dengan manfaat praktis bagi kehidupan sehari-hari; (7)


lebih menekankan pada nilai, sikap dan kepribadian. Ciri-ciri ini hendaknya
mampu mewarnai tahapan dalam rencana pembelajaran yang disusun oleh
guru.
Penyusunan rancangan pembelajaran PPKn yang bernuansa DD/CT
dapat dilaksanakan melalui lima tahapan utama, yaitu: (1) membangun
komunitas (community building) belajar; (2) analisis isi (content analysis); (3)
analisis latar (setting analysis); (4) pengorganisasian materi (content
organizing) pembelajaran PPKn; dan (5) menuangkan dalam format
pembelajaran. Kelima tahapan proses dalam merumuskan rancangan
pembelajaran PPKn tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut:
(1) Membangun komunitas belajar. Tahap ini merupakan kegiatan refleksi diri
guru terhadap dunia siswanya. Pandangan dunia guru tentang kemampuan
yang dimiliki oleh siswanya menjadi bahan yang berguna dalam menyusun
rancangan pembelajaran yang bernuansa dialog mendalam dan berpikir
kritis. Kegiatan refleksi ini meliputi identifikasi pengalaman guru dan
pengalaman siswanya, kelas belajar, jumlah siswa (masyarakat belajar) di
kelas itu, jam pelajaran, kesiapan dan sebagainya.
(2) Analisis isi, yaitu proses untuk melakukan identifikasi, seleksi, dan
penetapan materi pembelajaran PPKn. Proses ini bisa ditempuh dengan
berpedoman atau menggunakan rambu-rambu materi yang terdapat dalam
GBPP, antara lain mengenai materi standar minimal, urutan (sequence)
dan keluasan (scope) materi, kompetensi dasar yang dimiliki, serta
keterampilan yang dikembangkan. Di samping itu, dalam menganalisis
materi guru hendaknya juga menggunakan pendekatan nilai moral, yang
karakteristiknya

meliputi

pengetahuan

moral,

pengenalan

moral,

pembiasaan moral, dan pelakonan moral (Depdiknas, 2000).


(3) Analisis latar dikembangkan dari pendekatan kultural dan siklus
kehidupan (life cycle), yang di dalamnya mengandung konsep wilayah
atau lingkungan (lokal, regional, nasional, dan global); dan konsep
manusia beserta aktivitasnya yang mencakup seluruh aspek kehidupan
(ipoleksosbudhankam). Selain itu, analisis latar juga mempertimbangkan
nilai-nilai kultural yang tumbuh dan berkembang serta dijunjung tinggi
oleh suatu masyarakat serta kemungkinan kemanfaatannya bagi kehidupan

siswa. Dalam kaitan itu, analisis latar hubungan erat dengan prinsip yang
harus dikembangkan dalam mengajarkan nilai dan moral, yaitu prinsip dari
yang mudah ke sukar, dari yang sederhana ke sulit, dari konkrit ke
abstraks, dari lingkungan sempit/dekat menuju lingkungan yang meluas
(Depdiknas, 2000).
(4) Pengorganisasian materi PPKn, dengan pendekatan DD/CT harus
dilakukan dengan memperhatikan prinsip 4W dan 1H, yaitu what (apa),
why (mengapa), when (kapan), where (dimana), dan how (bagaimana).
Dalam rancangan pembelajaran PPKn, kelima prinsip ini, harus diwarnai
oleh ciri-ciri pembelajaran dengan deep dialogue dengan menuju
pelakonan (experience) nilai-moral dan critical thinking dalam upaya
pencapaian/pemahaman konsep (concept attainment) dan pengembangan
konsep

(concept

development).

Kesemuanya

dilakukan

dengan

memberdayakan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk


ber-DD/CT.
(5) Menuangkan ke dalam skenario atau model pembelajaran yang bernuansa
DD/CT.
Gambaran tata pikir bagaimana teknik perumusan rancangan

Community
Building
pembelajaran
(1)

yang bernuansa

Contents
Analysis
Deep
Dialogue/Critical
(2)

dapat digambarkan sebagai berikut:

Setting
Analysis
Thinking (DD/CT)
(3)

Gambaran tata pikir penyusunan rancangan pembelajaran bernuansa DD/CT

Contens Organizing
(4)
PRINSIP
What (apa)
Tema, topik, PB

DEEP DIALOGUE
Nilai - Moral
Terbuka, Jujur, Empati

Why (mengapa)
Kebermaknaan
When (kapan)
Harus dilakukan

CRITICAL THINKING
Concept Attainment
Concept Development

Where (dimana)
Tempat pelakonan
How (bagaimana)
Bagaimana melakonkan

Model Pembelajaran PPKn Yang Bernuansa DD/CT


(5)

(Diadaptasi dan diolah dari Global Dialogue Institute, 2001)

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Deskripsi Subyek Penelitian


Subyek penelitian ini adalah guru mitra yakni guru SMP Negeri 1
Kalianget Sumenep yakni ........................................................................ Siswa
yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 83 siswa yakni kelas III-a
sebanyak 43 orang dan kelas III-e. Oleh karena itu yang akan dijadikan guru
mitra yang diteliti adalah Ibu Sayem, mengingat yang mengajar di kelas III
adalah beliau. Sedangkan Pak Agus Mujiyono bertindak sebagai guru mitra
yang membantu peneliti dan Ibu Sayem untuk mempersiapkan segala
keperluan dalam pelaksanaan pembelajaran PPKn.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di SMP Negeri 1 Kalinget Sumenep.
Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pertimbangan bahwa SMP Negeri
tersebut belum termasuk sekolah negeri yang menjadi pilihan pertama bagi
bakal calon siswa yang akan memasuki jenjang SMP. Di samping itu,
berdasarkan orientasi awal (informasi kepala sekolah) siswanya berasal dari
pinggiran, sehingga inputnya juga tidak begitu bagus. Dengan demikian ada
keunikan yang menarik dari sekolah tersebut baik dari sudut lokasi maupun
dari kondisi siswanya yang sangat menarik untuk dijadikan lokasi penelitian
tindakan kelas.
C. Rancangan Penelitian

Penelitian ini dirancang dalam bentuk penelitian tindakan kelas


(classroom action research), yang bercirikan pada kajian yang bersifat
reflektif, partisipatif dan kolaboratif (Hopkins, 1993), dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
Pertama, diadakan perencanaan bersama (planning conference)
antara guru kelas dengan peneliti untuk membicarakan tentang variasi
mengajar yang akan dilaksanakan, fokus yang akan diobservasi berdasarkan
kriteria-kriteria yang disepakati bersama serta waktu dan tempat kegiatan
observasi akan dilaksanakan.
Kedua, observasi kelas (classroom observation), dimana peneliti
mengobservasi guru yang sedang mengajar dan mengumpulkan data yang
obyektif tentang aspek-aspek yang telah direncanakan dan digunakan sebagai
fakta bahan diskusi.
Ketiga, pertemuan balikan (feedback conference), yaitu peneliti dan
guru mengadakan diskusi untuk saling memberi informasi mengenai data yang
terkumpul dan sekaligus merencanakan kegiatan pembelajaran yang akan
datang.
Ketiga langkah-langkah pelaksanaan penelitian tersebut, dapat
digambarkan sebagai berikut:
PLANNING
CONFERENCE

FEEDBACK
CONFERENCE

CLASSROOM
OBSERVATION

D. Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data


Berpijak pada pandangan di atas, penelitian tindakan kelas ini
menggunakan pendekatan kualitatif yang didasarkan prinsip natural setting;
situasional, kontekstual, kontekstual, adaptif, dan berkait dengan realitas

empirik (lapangan). Penggunaan pendekatan kualitatif, bermakna bahwa


upaya peneliti mengeksplorasi dan melakukan intervensi (memberi masukan)
terhadap situasi kelas, melalui program pengembangan tindakan yang
dilakukan dengan bertolak dari informasi-informasi aktual yang diperoleh dari
suatu realitas latar secara wajar, serta dari tangan pertama yaitu guru, siswa
dan proses yang terjadi selama berlangsungnya pembelajaran.
Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan tersebut berbentuk siklus
(cycle) yang berlangsung lebih dari satu kali, hingga tercapai tujuan (harapan)
yang diinginkan (Hopkins, 1993), yang dapat digambarkan sebagai berikut:
PLANNING
REFLECTIVE
SIKLUS I
ACTION/OBSERVATION
RESIVED PLAN
PLANNING
REFLECTIVE
SIKLUS II

ACTION/OBSERVATION
RESIVED PLAN
Secara kronologis penelitian tindakan kelas tentang peningkatan
keterampilan pembelajaran PPKn bervariatif dengan pendekatan DD/CT,
dilakukan dengan melalui tahapan sebagai berikut:
Tahap I : Diagnostik, yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

(1) Mengidentifikasi masalah, menganalisis masalah dan menemukan faktor


penyebab utama munculnya masalah. Guru merasakan ketidakpuasan atau
hambatan dalam pembelajaran PPKn. Secara profesional dan atas
kejujuran guru diharapkan untuk merenung, merefleksi dan mengevaluasi
diri terhadap proses pembelajaran di kelasnya. Masalah-masalah yang
telah teridentifikasi dianalisis, dan ditemukan faktor penyebabnya.
(2) Merumuskan gagasan pemecahan masalah dengan melakukan diskusi
antara guru pengajar dan guru peneliti. Ide-ide yang muncul direkam dan
kemudian dikristalkan menjadi gagasan bersama dalam melaksanakan
pembelajaran PPKn yang tidak monoton, menarik perhatian siswa dan
materinya diorganisasi dengan baik.
(3) Menyusun rencana tindakan dalam mengatasi masalah. Dan kristalisasi ide
tadi dibahas dan kemudian disepakati dengan menghadirkan inovasi
pembelajaran, yaitu melaksanakan pembelajaran PPKn bervariatif dengan
pendekatan DD/CT. Dengan rencana tindakan ini, dapat dihipotesis. Jika
pembelajaran PPKn bervariarif dilaksanakan dengan pendekatan DD/CT,
maka minat dan motivasi belajar siswa menjadi meningkat. Jabaran
rumusan hipotetik ini, ditindaklanjuti dengan mempersiapkan perangkat
pembelajaran

yang

diperlukan

(rancangan

pembelajaran,

skenario

pembelajaran, dan media pembelajaran, sebagainya).


(4) Pelaksanaan tindakan pembelajaran PPKn bervariatif dengan pendekatan
DD/CT di kelas dan jam yang telah disepakati bersama serta dilakukan
pada kelas yang disepakati bersama.
(5) Melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran oleh guru peneliti dengan
berpedoman pada format/lembaran yang berisi aspek-aspek apa yang perlu
diobservasi sebagai hasil rumusan bersama guru, guru peneliti mitra dan
dosen LPTK.
(6) Melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan, yaitu mencermati
dengan mengenal kembali dari seluruh kegiatan yang telah dilakukan,
menemukan titik-titik rawan yang dianggap belum terpecahkan, tergarap,
terlewat, terlupakan sehingga ada hambatan yang tidak tuntas. Refleksi
dilakukan bukan hanya ditujukan pada hasil atau perolehan kemampuan

siswa, tetapi juga perolehan kemampuan profesional guru dalam


melaksanakan pembelajaran PPKn bervariatif dengan pendekatan DD/CT.
Jika kondisinya menyangsikan, maka diperlukan tindakan lanjutan dengan
perencanaan baru, membuat formulasi baru atau menjelaskan kegagalan
implementasinya. Seterusnya kerja lanjutan ini dilakukan dengan
mengikuti siklus tindakan yang telah ditetapkan.

E. Analisis Data
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara,
sedangkan analisis data yang dipergunakan adalah deskriptif analitik. Prosedur
pengolahan dan analisis data dilaksanakan dengan mengacu pada pola
pengolahan

data

dalam

penelitian

kualitatif,

mengkategorikan

dan

mengklasifikasi berdasarkan analisis kaitan logisnya, kemudian ditafsirkan


serta disajikan secara aktual dan sistematis dalam konteks keseluruhan
permasalahan penelitian. Peneliti berusaha untuk memunculkan makna dari
setiap data yang diperoleh, sehinnga data tidak hanya bersifat deskriptif akan
tetapi dapat menyentuh dimensi transenden untuk mencapai derajat tertentu,
berpikir divergen yang kreatif. Adapun langkah langkah pengolahan data
yang dilakukan adalah sebagai berikut : (1) kategori dan kodifikasi (2) reduksi
data ; (3) display dan klasifikasi data ; (4) membuat kesimpulan dan verifikasi
secara terus menerus selama penelitian berlangsung.(5) validasi data, yang
dilakukan dengan satursai ( Hopknis, 1993 ), member-check, audit trail dan
expert opinion ( Nasution, 1988 )
Kriteria untuk mengetahui keberhasilan kegiatan penelitian adalah
dilihat dari unjuk kerja guru dalam melaksanakan pembelajaran PPKn
bervariatif dengan pendekatan DD/CT, keterlibatan siswa dalam pembelajaran
(evaluasi proses) dan prestasi belajar siswa yang diperoleh melalui tes
(evaluasi hasil).
Sedangkan instrumen penelitian yang digunakan adalah peneliti
sendiri yang dibantu dengan menggunakan alat : lembar tes, pedoman
observasi, pedoman wawancara dan alat perekam elektronik. Prosedur dan
teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara terjun langsung ketempat
guru PPKn melakukan kegiatan pembelajaran. Jenis data yang dikumpulkan
dalam bentuk kinerja belajar siswa, proses pembelajaran dan unjuk kerja guru
dalam kegiatan pembelajaran.
Pendeskripsian pola pembelajaran bervariatif dengan menggunakan
pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinkhing dalam pembelajaran PPKn
dipergunakan analisis deskriptif-kualitatif. Selanjutnya untuk mendeskripsikan
hasil tindakan yang telah dilakukan peneliti bersama sama guru untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran disajikan secara bertahap sesuai dengan


siklus yang telah dilakukan serta jenis dan bentuk tindakan yang telah
dilakukan beserta efek yang ditimbulkannya.
Sedangkan untuk mengetahui efek yang ditimbulkan dari tindakan
tersebut dalam hal keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran serta prestasi
belajar siswa, dilakukan dengan memberikan tes yang sifatnya mampu
mengukur kemampuan siswa tersebut. Tes ini dilaksanakan pada waktu
sebelum dan setelah tindakan dilakukan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Temuan Awal Penelitian
Fokus utama kegiatan penelitian adalah bagaimana mengembangkan
model pembelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan (PPKn)
bervariatif dengan menggunakan pendekatan DD/CT.
Pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan DD/CT
dengan pilihan strategi pembelajaran penemuan konsep (concept attainment)
dan cooperative learning. Indikator yang menandai adanya pelaksanaan
pendekatan DD/CT adalah apakah setiap pembelajaran diawali dan diakhiri
dengan hening atau berdoa menurut keyakinan masing-masing. Hal ini
penting karena jiwa dari pembelajaran yang berDD/CT adalah doa, dengan
kegiatan ini dimasudkan untuk menghadirkan hati dan pikiran siswa dan guru
dalam proses pembelajaran. Doa juga berfungsi untuk menciptakan situasi
kondusif bagi berlangsungnya pembelajaran sebelum mereka mengikuti mata
pelajaran PPKn. Di samping itu adakah di dalam pembelajaran ada kegiatan
membangun komunitas yang dilakukan guru, membangun komunitas pada
prinsipnya merupakan suatu kegiatan yang dirancang guru untuk menciptakan
suasana yang menyenangkan, sehingga siswa belajar dengan menyenangkan
(joyful learning). Strategi penemuan konsep (concept attainment) pada
dasarnya bertujuan menggali pendapat dari siswa tentang konsep dan definisi
yang akan dibicarakan/dibahas dalam pembelajar. Dengan menemukan dan
membuat sendiri definisi konsep, maka siswa akan dapat menagkap makna
dan mengerti maknanya denagn baik, dengan demikian siswa akan dapat
menarik garis mental yang melingkari dan mendefinisikan menurut
pemahamannya sendiri. Karena siswa berusaha keras untuk menciptakan itu,
maka siswa akan lebih peka dan mudah untuk mengingat sepanjang hidupnya.
Strategi cooperative learning, diharpakan siswa mampu menampilka kadar
partisipasi yang tinggi dala melakukan analisis nilai-nilai kepatuhan serta
membangun kesadaran hukum. Dari kemampuan ini, siswa memiliki
keterampilan mengembangkan keakapan hidup (life skill) dalam menghormati

dan melaksanakan norma masyarakat. Sedangkan indikator yang menandai


penggunaan strategi cooperative learning dalam pembelajaran dapat
meningkatkan kualitasi proses pembelajaran adalah keterlibatan siswa dala
pembelajaran yang aktif, suasana belajar yang kondusir, terjadi interaksi aktif
dan dialog mendalam antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa dalam
pembelajaran dan terjadinya peningkatan prestasi belajar siswa. Dan adakah
refleksi yang dilaksanakan dari perspektif siswanya.
Bertolak dari hal itu pola pelaksanaan pembelajaran DD/CT
mengacu pada upaya meningkatkan minat dan motivasi siswa terhadap nilainilai kepatuhan sebagai faktor yang sangat potensial dalam membangun
kesadaran hukum. Dengan kesadaran hukum seperti ini, siswa di samping
memiliki ketegaran dan ketangguhan secara pribadi, mereka juga mampu
melaksanakan pilihan-pilihan rasional (rational choice) ketika berhadapan
dengan kehidupan global. Mereka mampu menatap perspektif global sebagai
suatu realitas yang tidak selalu dimaknai hanya sekedar emosional, akan tetapi
juga rasional serta tetap sadar akan jati diri bangsa dan negaranya.
Kemampuan akademik tersebut, yang salah satu indikasinya adalah perolehan
hasil belajar yang maksimal.
Kriteria untuk mengetahui keberhasilan kegiatan adalah laporan
diskusi dan perkembangan prestasi belajar siswa, unjuk kerja siswa yang
ditampilkan dalam pembelajaran, serta perkembanga gaya belajar siswa.
Selain itu juga unjuk kerja yang ditampilkan oleh guru di dalam melaksanakan
pendekatan DD/CT dalam pembelajarannya.
Melalui metode penelitian yang dipergunakan mengharuskan guru
yang bersangkutan selalu terlibat dalam setipa fase kegiatan penelitian.
Keteribatan ini baik daalam kegiatan diskusi dan refleksi hasil temuan awal,
penyusunan rencanan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dalam
pelaksanaan tindakan, diskusi dan refleksi hasil pelaksanaan tindakan, dan
penentuan/penyusunan

rencana

tindakan

selanjutnya

tujuan

kegiatan

penelitian tercapai.
Ketercapaian tujuan disini, bukan hanya pada tujuan dari segi
permasalahan penelitian, tetapi juga dari segi metodologis. Artinya guru

mampu melaksanakan model pembelajaran dengan menggunakan pendekatan


Deep Dialogue/Critical Thinking tersebut dengan baik dan tepat serta
fungsional.
Temuan hasil pengamatan awal yang dilakukan terhadap kegaitan
belajar siswa SMP Negeri 1 Kalianget adalah rendahnya kualitas keterlibatan
siswa dalam proses belajar, rendahnya kemampuan siswa dalam berdialog
antar teman dengan gurunya serta rendahnya motivasi intrinsik yang dimiliki
siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Hal ini ditandai oleh keterlibatan
secara pasif siswa dalam pembelajaran karena keterbatasan pemahaman
terhadap materi pelajaran, siswa tidak memiliki kesempatan untuk terlibat
aktif dalam pembelajaran karena kegiatan belajar mengajar didominasi oleh
guru (teacher centered), media belajar tidak banyak dipergunakan, teknik
penyampaian topik yang kurang menarik. Prestasi belajar yang kurang bagus
karena mereka hanya belajar tatkala menjelang ada tes, ada tugas, menjelang
ulangan.
Bertolak dari temuan awal tentang gaya belajar yang dilakukan
siswa, gaya mengajar guru peneliti bersama dengan guru pembina mata
pelajaran serta anggota penelitian sepakat untuk mencoba menggunakan
pendekatan DD/CT dalam kegiatan pembelajaran, dengan tujuan agar dapat
meningkatkan kemampuan atau kesadaran guru-siswa dalam mengajar-belajar
inovatif kreatif. Instrumen yang dipergunakan untuk melakukan interverensi
kepada guru agar meningkatkan kemampuan mengajar inovatif adalah mitra
guru dengan perantaraan model pembelajaran dengan pendekatan DD/CT
yang dipergunakan guru.
Indikasi untuk mengetahui keberhasilan kegiatan ini adalah
peningkatan kemampuan mengajar inovatif guru, kualitas pembelajaran yang
diselenggarakan guru, serta minat dan motivasi siswa dalam belajar dan
interaksi siswa-siswa dan guru-siswa, serta perkembangan prestasi yang
diperoleh siswa.
Sebagai langkah awal, selain telah diketahuinya gaya belajar siswa
seperti yang terurai sebelumnya, juga dilakukan penjajakan kemampuan
mengajar guru terhadap mata pelajaran. Berpijak dari data tersebut, tim

peneliti dan partner/mitra sepakat untuk melakukan interverensi dalam


kegiatan pembelajaran dengan mengunakan pendekatan Deep Dialogue/
Critical Thingking dengan strategi pencapaian konsep (Concept Attainment)
dan cooperative learning.
B. Tahap-Tahap Pelaksanaan Tindakan Kelas (Siklus I)
Dalam pelaksanaan tindakan kelas siklus I ini akan dilaksanakan
berdasarkan tahap-tahap sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan (Plan)
Berdasarkan permasalahan dari hasil temuan awal adalah
rendahnya kualitas keterlibatan siswa dalam proses belajar. Hal ini
ditandai oleh keterliabtan secara pasif siswa dalam pembelajaran karena
keterbatasan pemahaman terhadap materi pelajaran, siswa tidak memiliki
kesempatan untuk terlibat aktif dalam pembelajaran karena kegiatan
belajar mengajar didominasi oleh guru (teacher centered) serta rendahnya
motivasi intrinsik yang dimiliki siswa dalam melakukan kegiatan belajar
yang ditandai mereka hanya belajar tatkala menjelang ada tes, ada tugas,
menjelang ujian, sehingga prestasi belajar pada mata pelajaran PPKn tidak
begitu bagus. Di samping itu media belajar tidak banyak dipergunakan.
Selanjutnya peneliti dengan guru mitra berdiskusi tentang model
pembelajaran PPKn yang inovatif. Dari diskusi dan dialog mendalam
antara peneliti dan guru mitra akhirnya bersepakat untuk membuat dan
menggunakan model pembelajaran PPKn yang inovatif yang diasumsikan
dapat menarik minat dan motivasi siswa, mampu memberdayakan
komunitas belajar, mampu melibatkan siswa secara aktif dalam berdialog
mendalam dan berpikir kritis, serta menggunakan media yang mendukung
pembelajaran yakni dengan memberdayakan proses pembelajaran PPKn
bervariatif dengan pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking ((DD/CT)
atau pendekatan dialog mendalam/berpikir kritis.
Pada kegiatan selanjutnya peneliti memberikan pengetahuan atau
pembekalan teknis tentang model pembelajaran PPKn bernuansa DD/CT

antara lain teknik membangun komunitas, analisis dan organisasi materi


pembelajaran yang bervariatif, menetapkan strategi, metode dan teknik
pembelajaran, menerapkan media, menyusun rancangan pembelajaran, dan
skenario pembelajaran serta menetapkan tahap-tahap proses pembelajaran.
Adapun

tahapan

teoritik

dan

komponen-komponen

rancangan

pembelajaran bernuansa DD/CT sebagai berikut:


a. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah kemampuan yang diharapkan
oleh subyek belajar (siswa) setelah mengikuti kegiatan belajar. Tujuan
pembelajaran dinyatakan dalam bentuk tingkah laku. Dalam rencana
pembelajaran ini lebih menekankan tingkah laku yang nampak, hal ini
dipilih karena untuk memudahkan mengamati dan mengatur.
b. Membangun Komunitas Belajar
Komponen ini merupakan kegiatan refleksi diri guru terhadap
dunia siswanya. Pandangan dunia guru tentang karakteristik siswanya,
menjadi bahan yang sangat berguna dalam menyusun perencanaan
pembelajaran bernuansa DD/CT. Cara membangun komunitas belajar
dirancang agar berfungsi sebagai sarana untuk membangkitkan
perasaan dan emosional, agar siswa merasa tertarik, bergairah, senang
partisipatif.
c. Analisis Latar
Kegiatan ini difokuskan terhadap proses identifikasi, seleksi
dan penetapan materi pembelajaran, yang pada perencanaan ini
menggunakan rambu materi pembelajaran dalam silabus, menetapkan
materi esensial, menentukan keluasan dan menyusun urutan materi
pembelajaran.

d. Analisis Isi
Komponen ini difokuskan terhadap proses identifikasi,
seleksi dan penetapan materi pembelajaran, yang pada perencanaan ini
menggunakan rambu materi pembelajaran dalam silabus, menetapkan
materi esensial, menentukan keluasan dan menyusun urutan materi
pembelajaran.
e. Pengorganisasian Materi
Pengorganisasian materi (content maping) pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking
(DD/CT) dilakukan dengan memperhatikan prinsip 4W dan 1H,
yaitu: What (apa), Why (kenapa), When (kapan), Where (dimana), dan
How (bagaimana).
f. Penetapan Strategi dan Metode Pembelajaran
Mengajar adalah usaha untuk membuat subjek belajar untuk
belajar yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku pada diri
siswa. Sedangkan perubahan tingkah laku itu dapat terjadi karena
adanya interaksi antara siswa dengan lingkungan pembelajaran. Oleh
karena itu pilihan strategi dan metode diharapkan dapat berfungsi
dalam mencapai tujuan pembelajaran, yakni perubahan tingkah laku
yang ada pada diri siswa baik yang bersifat kognitif, psikomotorik dan
afektif serta konatif (kemampuan untuk berbuat).
g. Pemilihan dan Penetapan Media Pembelajaran
Seperti halnya dengan strategi dan metode pembelajaran,
media yang digunakan yang sesuai dengan karakteristik materi dan
tujuan

pembelajaran

harus

ditampakkan

dalam

rancangan

pembelajaran. Secara demikian, pemilihan dan penetapan media


pembelajaran bukanlah kegaitan asal-asalan, akan tetapi harus dipilih
secara cermat senada dengan karakteristik materi dan nilai fungsional
dalam pencapaian tujuan pembalajaran. Dengan kata lain, sebagai alat

bantu dan sekaligus pembawa serta pemancar pesan, media


pembelajaran juga berkonstribusi dalam memberikan pengalaman dan
perilaku subjek belajar.
Kegiatan perencanaan tindakan kelas siklus I sebagai terlihat
pada gambar 1 di bawah ini, dimana peneliti dan mitra guru membuat
rancangan pembelajaran, membuat media, dan alat evaluasi.

Gambar 1
Peneliti dan guru mitra menyiapkan
keperluan untuk pembelajaran inovatif
Kegiatan berikutnya adalah menyusun secara bersama
perencanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan DD/CT
sebagai berikut:

Rancangan Pembelajaran PPKn dengan DD/CT


Mata Pelajaran

: PPKn

Topik

: Kepatuhan

Tingkat

: SMP

Kelas/Semester

: III/I

Alokasi Waktu

: 2 x 45 menit (satu kali pertemuan)

I. Tujuan Pembelajaran Khusus


1) Dengan mengkritisi gambar siswa dapat menemukan konsep kepatuhan
dengan benar.
2) Dengan

melakukan

curah

pendapat

siswa

dapat

merumuskan

konsep/kepatuhan dengan benar.


3) Dengan diskusi kelompok siswa dapat membuat contoh perilaku mematuhi
norma yang berlaku dengan benar.
4) Dengan diskusi kelompok siswa dapat menjelaskan manfaat mematuhi
norma yang berlaku dengan benar.
5) Dengan diskusi kelompok siswa dapat menjelaskan akibat apabila tidak
mematuhi norma yang berlaku dengan benar.
6) Dengan diskusi kelompok siswa dapat menjelaskan kesulitan yang
dihadapi dalam mematuhi norma yang berlaku dengan benar.
II. Membangun Komunitas
Untuk menciptakan kondisi awal, agar siswa merasa senang, tertarik dan
terpanggil kesadarannya untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar,
komunitas kelas dibangun sedemikian rupa dengan menyanyi bersama dengan
lagu Padamu Negeri.
III.Pengorganisasian Materi
Materi pembelajaran diorganisasikan dengan memperhatikan empat prinsip
4W dan 1H sebagai berikut:
a. Apa (What)

Inti materi pembelajaran adalah membahas kepatuhan terutama kepatuhan


terhadap norma-norma masyarakat yakni norma agama, norma kesopanan,
norma kesusilaan dan norma hukum, ciri-ciri orang yang patuh.
b. Mengapa (Why)
Pertimbangan mengapa materi tersebut perlu dipelajari oleh setiap peserta
didik (siswa), dengan alasan bahwa kepatuhan terhadap norma masyarakat
akan sangat bermanfaat bagi kepentingan diri sendiri, sekolah dan
masyarakat. Selain itu penting kiranya diajarkan akibat yang akan
ditimbulkan manakala tidak ada perilaku patuh pada norma-norma
masyarakat.
c. Kapan Harus Dilakukan (When)
Tanpa terikat oleh batas waktu, kepatuhan harus dilaksanakan kapan. Hal
ini berarti penerapan nilai-nilai patuh terhadap norma, peraturan yang
berlaku hendaknya selalu dilaksanakan.
d. Dimana (Where)
Materi kepatuhan dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari dalam
kehidupan keluarga, sekolah, masyarakat serta dalam kehidupan
bernegara.
e. Bagaimana (How)
Prinsip ini berkaitan dengan bagaimana cara untuk mempelajari materi
tentang kepatuhan. Ada beberapa cara yang perlu dilakukan sebagai
pengalaman belajar siswa, antara lain adalah mempelajari kepatuhan pada
peraturan dalam kehidupan. Bagi komunitas belajar selain sebagai
pelaksanan kepatuhan terhadap peraturan, mempelajarainya sebagai bahan
membuka wawasan akan hukum nasional maupun hukum internasional,
agar memiliki pandangan yang luas bahwa disamping patuh pada hukum
nasional juga pada hukum internasional. Bentuk cara belajar dalam
kaitannya dengan kepatuhan hukum dapat berwujud: membaca buku,
berita di media cetak tentang hukum dan sebagainya.

IV. Kegiatan Pembelajaran


Strategi, Metode, Media dan Sumber
Strategi yang dipergunakan adalah: pencapaian konsep (concept attainment)
dan belajar bersama-sama (cooperative learning).
Metode-metode yang dipergunakan antara lain: ceramah, tanya jawab, curah
pendapat, pemodelan, diskusi, learning community.
Media yang dipergunakan dalam pembelajaran: gambar orang yang sedang
antre di bandar udara, polisi yang sedang mengatur lalu lintas, pencuri yang
sedang ditangkap polisi, gambar ini dipersepsikan untuk mendukung konsep
dan rumusan pengertian kepatuhan. Di samping itu ada media gambar
kelompok pemandu sorak (cheer leader) dan seorang atlit bulu tangkis,
gambar ini yang kontras denagn media pendukung kepatuhan.
Sumber dalam pembelajaran ini adalah buku-buku: Buku paket PPKn
diterbitkan Depdikbud, Buku penunjang terbitan Erlangga, Bina Aksara.
V. Evaluasi
Prosedur Evaluasi
Kegiatan evaluasi dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung
(evaluasi proses) dan setelah siswa mengikuti kegiatan pembelajaran (evaluasi
hasil). Evaluasi proses dilakukan dengan observasi keterlibatan siswa dalam
proses pembelajaran atau proses diskusi kelompok yang merekam lewat
observasi. Sedangkan evaluasi lain dilakukan dengan menggunakan instrumen
tes.
Alat Evaluasi
a. Lembar observasi evaluasi proses (terlampir)
b. Soal tes

2. Proses Pelaksanaan Pembelajaran


a. Hening (Berdoa)
Dalam kegiatan ini, doa dilaksanakan menurut ajaran agama
Islam yakni surat Al-Fatihah, doa menuntut ilmu. Seperti terlihat
dalam Gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2
Kegiatan Berdoa Bersama
b. Membangun Komunitas
Guru mengajak siswa untuk menyanyi bersama dengan lagu
Padamu Negeri dengan syair sebagai berikut:
Padamu Negeri
Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

c. Kegiatan Inti Pembelajaran


1) Strategi Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
a) Gagasan Pokok dan Prinsip yang melandasi strategi
Konsep adalah alat mental yang dipergunakan
manusia untuk mengorganisasikan sejumlah kesan-kesan yang
tidak ada akhirnya ke dalam pikiran yang diperoleh melalui
indra kita.
Istilah konsep berasal dari kata latin con artinya
dengan atau tentang, cipere artinya menangkap/mengerti atau
memegang. Dengan demikian concipere berarti menangkap
arti. Ini sebagaimana kata definisi yang juga berasal dari kata
latin de artinya mengelilingi atau tentang dan finere artinya
berakhir atau selesai. Jadi definisi berarti menarik garis
lingkaran beberapa ide.
Prinsip dari strategi pencapaian konsep antara lain (a)
konsep atau topik yang akan dibahas tidak diberitahukan dulu
kepada siswa; (b) konsep ditemukan bersama-sama oleh siswa
yang difasilitasi oleh guru; (c) strategi ini mengandalkan
pengoperasian otak (akal) dengan cara berpikir kritis; (d)
keaktifan siswa dapat dibangkitkan secara maksimal.
Strategi pencapaian konsep (concept attainment)
berfungsi untuk menemukan konsep, pendefinisian konsep,
sebagai tertuang dalam rumusan tujuan kesatu dan kedua,
yakni:

Dengan mengkritisi gambar, siswa dapat menemukan


konsep kepatuhan dengan benar.

Dengan

curah

pendapat,

siswa

dapat

merumuskan

pengertian/mendefinisikan kepatuhan dengan benar.

b) Tahap-Tahap Pelaksanaan
Persiapan
Pada pembelajaran awal, guru melaksanakan strategi
pencapaian konsep (concept attainment), guru menyiapkan
kelengkapan sebagai berikut:

Gambar-gambar yang mendukung penemuan konsep


(topik) kepatuhan dan gambar-gambar yang kontra dalam
arti tidak ada hubungan dengan konsep.

Membuat daftar kata-kata yang mencerminkan indikator


atau atribusi masing-masing gambar (baik yang mendukung
maupun yang kontras)

Memilah gambar dan daftar kata-kata yang erat dengan


konsep kepatuhan yang akan ditemukan (diberi kode Ya)
dan gambar dan daftar kata-kata yang kontras dengan
konsep kepatuhan (diberi kode Tidak). Guru telah
memegang kata-kata kunci yang akan dipertahankan
untuk menemukan konsep tentang kepatuhan.

Membuat rumusan definisi atau pengertian

tentang

kepatuhan. Kepatuhan adalah sikap dan perbuatan


mentaati segala peraturan yang berlaku.
Pelaksanaan
Setelah kelengkapan tadi yakin terpenuhi, selanjutnya
guru

melaksanakan

strategi

pencapaian

konsep,

untuk

menemukan konsep kepatuhan dengan langkah-langkah


sebagai berikut:

Guru menunjukkan gambar-gambar antara lain orang yang


sedang antre di bandar udara, polisi lalu lintas yang sedang
mengatur dan menertibkan lalu lintas, dimana salah seorang
pengendara sepeda motor diperiksa, dan gambar orang yang
sedang ditangkap polisi. Gambar-gambar ini diberi kode Ya
(karena relevan dengan konsep kepatuhan).

Meminta kepada siswa untuk mengamati gambar-gambar


tersebut dan kemudian menyebutkan kata yang ditemukan
anak dari hasil pengamatan gambar tersebut seperti:
-

Gambar 1
Orang

Gambar 2
Polisi

Gambar 3
- Penjahat

Antre

Lalu lintas

- Ditangkap

Bandara

Jalan raya

- Kampung

Tertib

Tertib

- Keamanan

Tindakan

Perbuatan

- Perbuatan

Tas

Sepeda motor

- Borgol

Koper

Helm

Guru menunjukkan gambar-gambar sekelompok pemandu


sorak (cheerleader) dan gambar seorang atlit bulu tangkis
dengan kode Tidak (tidak relevan dengan konsep
kepatuhan).

Meminta kepada siswa untuk menggali kata-kata dari


gambar kode Tidak yang telah diamati, maka ditemukan
kata-kata:

Gambar 1
Pemandu sorak

Atlit

Gambar 2

Seragam

Pakaian olahraga

Rumbai-rumbai

Cowok

Cewek-cewek

Di gedung

Di lapangan
Guru meminta kepada siswa membandingkan kata-kata
(ciri-ciri/atribut)

mana

yang

tidak

sama,

kemudian

mencoretnya, sebagai berikut:


-

Orang

Polisi

- Penjahat

Antre

Lalu lintas

- Ditangkap

Bandara

Jalan raya

- Kampung

Tertib

Tertib

- Keamanan

Tindakan

Perbuatan

- Perbuatan

Tas

Sepeda motor

- Borgol

Koper

Helm

Setelah guru yakin telah mengkristal bahwa kata-kata yang


ada

atau

menemukan

tersisa

sudah

konsep

dapat

kepatuhan

dipergunakan
guru

untuk

mengajukan

pertanyaan kepada siswa apakah topik yang akan dibahas


dalam pertemuan tersebut. Guru menggali terus pendapat
siswa sampai muncul kata patuh. Pada penelitian ini
konsep yang muncul pada awalnya tertib dan ketertiban,
kemudian kesadaran selanjutnya guru terus menggali
dengan berbagai pertanyaan sampai salah seorang siswa
menyebutkan kata patuh, selanjutnya guru memberi
tekanan bahwa jawaban tersebut benar namun perlu
disempurnakan dengan menambah kata imbuhan dan
akhiran. Guru menyatakan Bagus, namun siapa yang dapat
menyempurnakan jawaban temanmu?, karena lama siswa
belum dapat menemukan dan akhirnya guru menambahkan
kata sehingga konsep kepatuhan disebutkan.

Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan kepada siswa


untuk membuat rumusan pengertian kepatuhan. Melalui
curah pendapat, siswa mengajukan pengertian, sikap
pengertian yang diusulkan oleh siswa ditulis oleh guru di
papan tulis. Atas dasar beberapa usulan-usulan tersebut
tentang pengertian kepatuhan, maka guru meminta siswa
untuk memadukan dalam satu rumusan yang sempurna.
Namun cukup lama pendapat siswa sehingga definisi
kepatuhan disempurnakan oleh guru, sehingga mirip
dengan definisi yang dimiliki atau yang telah dipersiapkan
oleh guru. Definisi tersebut menjadi Kepatuhan adalah
sikap atau perbuatan taat terhadap peraturan yang

berlaku. Seperti terlihat dalam Gambar 3, siswa curah


pendapat tentang konsep.

Gambar 3
Siswa menyampaikan pendapat secara tertulis
Kegiatan selanjutnya adalah untuk mencapai tujuan
pembelajaran khusus 3 sampai 6, namun sebelum memasuki
pelaksanaan

strategi

pembelajaran

berikutnya,

untuk

mempertahankan bangun komunitas kelas, sekaligus untuk


mengantarkan pada pemahaman selanjutnya perlu diselingi
dengan

kegiatan

jeda

yakni

membangun

komunitas

menyampaikan hadiah buat sahabat. Pada waktu jeda ini


kurang lebih lima (5) menit guru meminta 2 siswa bermain
peran (role playing), satu sebagai pemberi hadiah, satunya
sebagai sahabat yang menerima hadiah. Pada kegiatan ini siswa
diminta untuk mengamati bagaimana cara dua orang tersebut
memberi dan menerima hadiah terutama bagaimana mereka
menggunakan

tangannya.

Setelah

selesai

proses

guru

menjelaskan bahwa menggunakan tangan kanan dalam


menerima dan memberikan sesuatu pada orang lain merupakan
wujud dari kepatuhan terhadap norma kesopanan.

2) Strategi Belajar Bersama-sama (Cooperative Learning)


Kegiatan

pembelajaran

selanjutnya

adalah

dengan

menggunakan strategi cooperative learning (CL) dengan teknik


pelaporan. Strategi ini untuk mencapai TPK:
a) Dengan diskusi kelompok siswa dapat memberi contoh
perilaku mematuhi norma masyarakat dengan benar.
b) Dengan diskusi kelompok siswa dapat menjelaskan manfaat
mematahui norma yang berlaku dengan benar.
c) Dengan diskusi kelompok siswa dapat menjelaskan akibat yang
ditimbulkan jika tidak mematuhi norma yang berlaku dengan
benar.
d) Dengan

diskusi

kelompok

siswa

dapat

menganalisis

kesulitannya mematuhi norma yang berlaku dengan benar.


Tahap-tahap Pelaksanaan Strategi Cooperative Learning (CL)
Tahap Persiapan
Guru perlu mempersiapkan kartu soal yang berisi persoalan
sebagai berikut:
Kartu 1 dan 4 berisi permasalahan tentang norma keagamaan
dengan soal:
a) Buatlah contoh perilaku mematuhi norma keagamaan
b) Apa manfaatnya jika kamu mematuhi norma keagamaan.
c) Bagaimana akibatnya apabila kamu tidak mematuhi norma
keagamaan.
d) Apa kesulitan yang kamu hadapi untuk mematahui norma
keagamaan.
Kartu 2 dan 5 berisi permasalahan tentang norma kesopanan
dengan soal:
a) Buatlah conoth perilaku mematuhi norma kesopanan
b) Apa manfaatnya jika kamu mematuhi norma kesopanan

c) Bagaimana akibatnya apabila kamu tidak mematuhi norma


kesopanan
d) Apa kesulitan yang kamu hadapi untuk mematahui norma
kesopanan.
Kartu 3 dan 6 berisi permasalahan tentang norma kesusilaan
dengan soal:
a) Buatlah contoh perilaku mematuhi norma kesusilaan.
b) Apa manfaatnya jika kamu mematuhi norma kesusilaan.
c) Bagaimana akibatnya apabila kamu tidak mematuhi norma
kesusilaan.
d) Apa kesulitan yang kamu hadapi untuk mematuhi norma
kesusilaan.
Kartu 4 dan 8 berisi permasalahan tentang norma hukum dengan
soal:
a) Buatlah contoh perilaku mematuhi norma hukum
b) Apa manfaatnya jika kamu mematuhi norma hukum
c) Bagaimana akibatnya apabila kamu tidak mematuhi norma
hukum
d) Apa kesulitan yang kamu hadapi untuk mematuhi norma
hukum.
Selain kartu permasalahan juga disiapkan ke tas manila putih untuk
menulis hasil diskusi kelompok dan spidol warna.
Tahap Pelaksanaan
Tahap Kooperatif
Dalam tahap ini guru melakukan kegiatan (1) membagi siswa
dalam beberapa kelompok kecil yang beranggotakan 5 orang (40
siswa: 8); (2) membagi kartu permasalahan kepada masing-masing
kelompok; (3) menugaskan siswa untuk membagi tugas dalam
memahami pesan/soal dalam kartu permasalahan. Gambar 4

menunjukkan siswa sedang kerja kelompok, terlihat ada siswa


yang belum dapat berkolaborasi dengan anggota kelompoknya.

Gambar 4
Siswa sedang berdiskusi kelompok
Tahap Pelaporan
Setelah berdiskusi selama 15 menit, selanjutnya masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok ke depan,
setiap kelompok diwakili 2 orang, caranya dengan membaca
tulisan unjuk kerja kelompok, secara bergiliran wakil kelompok 1
membaca jawaban soal 1, selanjutnya wakil kelompok 2 dan
seterusnya, dan jawab masing-masing kelompok dikomentari guru
ditanggapi secara bersama-sama oleh siswa yang tidak maju.
Dalam proses kegiatan ini terlihat partisipasi siswa kurang begitu
nampak, karena hanya menjawab setuju/benar atau salah/tidak
tepat. Siswa tidak mendapat kesempatan memberi tanggapan
ataupun bertanya. Sedangkan anggota kelompok presenter juga
tidak banyak berkesempatan menjawab balik karena keterbatasan
waktu. Gambar 5 menunjukkan proses presentasi hasil diskusi
kelompoknya.

Gambar 5
Wakil kelompok mempresentasi hasil diskusi
d. Refleksi
Kegiatan

ini

merupakan

kegiatan

penting

dalam

pembelajaran dengan pendekatan DD/CT. Refleksi adalah cara pikir


tentang apa saja yang baru saja dirasakan dan dialami siswa, juga
berpikir tentang apa saja yang pernah dirasakan, dialami dan dilakukan
di masa lalu. Sebelum akhir pembelajaran guru memberi kesempatan
pada tiga orang siswa yakni ketua kelas yang mengatakan Saya
senang cara belajar seperti ini, karena saya menjadi bersemangat
mengikuti pelajaran. E tau-tau pelajaran selesai, kayaknya pelajaran
kok jadi cepat gitu lho. Refleksi selanjutnya oleh sekretaris kelas
yang menyatakan perasaan saya senang belajar seperti ini, karena
tidak tenggang . Terakhir oleh bendahara kelas yang menyatakan
kegiatan seperti ini sangat berguna, saya menjadi lebih berani.
Sedangkan kesan dan rekomendasi yang diberikan siswa
secara tertulis hasil angket yang diisi siswa diperoleh hasil sebagai
berikut: 40 siswa menyatakan cara belajar seperti itu (DD/CT) materi
yang disampaikan mudah dimengerti, senang dalam mengikuti
pelajaran, materi pelajaran meresap di hati, tidak hanya bersifat
hafalan, cara menyampaikan materi menarik, 3 orang siswa
menyatakan materi pelajaran benar-benar berguna untuk kehidupan

sehari-hari, senang mengikuti pelajaran, guru tampil beda, lebih lucu,


lebih banyak praktek, keterangan yang disampaikan lebih jelas.
Gambar 6 adalah siswa yang sedang melakukan refleksi.

Gambar 6
3 orang siswa sedang menyampaikan refleksi
e. Evaluasi
Penilaian proses diperoleh secara berkelompok yakni 8
kelompok yang hasil penilaian guru sebagai berikut: 4 kelompok
dinyatakan bagus hasil diskusinya/laporannya sedangkan 4 kelompok
lainnya dinilai sedang, dengan dasar bahwa 4 kelompok belum selesai,
sehingga pada waktu presentasi menyatakan belum selesai.
Penilaian hasil dengan menggunakan tes 10 soal sebagai
berikut:
1) Apa arti kepatuhan?
2) Sebutkan 4 norma masyarakat?
3) Beri 2 contoh perbuatan yang mematuhi norma agama?
4) Beri 2 contoh perbuatan yang melanggar norma agama?
5) Sebutkan 2 perilaku sebagai wujud patuh terhadap norma
kesopanan?
6) Sebutkan 2 perilaku sebagai wujud pelanggaran terhadap norma
kesusilaan?
7) Sebutkan manfaat mematuhi norma yang berlaku?

8) Apa yang terjadi jika masyarakat tidak mematuhi norma yang


berlaku?
9) Mengapa norma hukum menduduki posisi penting dalam
masyarakat?
10) Bagaimana perwujudan mematuhi peraturan di lingkungan
keluarga dan sekolah?
f. Hening
Kegiatan pembelajaran seharusnya diakhiri dengan doa dan
menurut agama masing-masing, namun pada pembelajaran ini belum
sempat dilakukan karena guru mata pelajaran selanjutnya telah
menunggu di depan kelas.
3. Tahap Pengamatan (Observation)
Pada tahap ini, peneliti melakukan pengamatan gaya belajar
siswa dengan memperhatikan peran siswa dalam keseluruhan proses
pembelajaran dari awal pembelajaran sampai akhir kegiatan refleksi.
Selain itu juga gaya mengajar guru dalam melaksanakna perencanaan
pembelajaran bervariatif dengan pendekatan Deep Dialogue/Critical
Thinking (DD/CT). Hasil pengamatan peneliti adalah sebagai berikut:
a. Gaya Belajar Siswa
Hasil pengamatan menunjukkan ada peningkatan rasa senang
dan bergairah juga nampak ketika guru membangun komunitas
misalnya ketika menyanyi lagu Padamu Negeri pada awalnya
seluruh siswa malu-malu menyanyikan lagu tersebut, namun ketika
meminta untuk mengulangi lagi mereka menyanyi dengan penuh
semangat. Pada waktu penerapan strategi 1 yakni pencapaian konsep
perhatian siswa dalam proses belajar juga terfokus, hal ini ditunjukkan
dengan

antusias

dan

rasa

keingintahuan

siswa

ketika

guru

menunjukkan gambar-gambar yang dipergunakan sebagai media dalam


menggali penemuan konsep. Mereka menuliskan kata-kata yang

ditemukan dalam gambar dalam buku tulisnya, namun tidak berani


menulis di depan, siswa berani menyampaikan pendapatnya tentang
pengertian/definisi tentang konsep. Demikian juga ketika waktu jeda
permainan memberi hadiah buat sahabat siswa yang ditunjuk untuk
bermain peran dengan spontan berdiri, yang lain memperhatikan
dengan seksama dan ketika menganalisis kegiatan tersebut dengan
mengkaitkan

dengan

norma

kesopanan.

Selanjutnya

ketika

pelaksanaan strategi 2 yakni cooperative learning, dimana mereka


diminta untuk membentuk kelompok serta dibagikan kartu-kartu
permasalahan. Mereka menunjukkan rasa ingin tahu dan ingin
membaca kartu permasalahan yang menjadi bagian kelompoknya.
Dalam strategi cooperative learning kali ini, semua siswa belum
terlibat dalam proses penyelesaian permasalahan, hal ini terlihat ada
beberapa siswa yang agak pasif, namun dengan arahan guru yang
meminta setiap anggota untuk membagi tugas dan saling bekerja sama
secara cepat mengingat waktu yang disediakan untuk berdiskusi
terbatas, maka ada siswa yang memilih untuk menulis hasil diskusi
dalam kertas manila, ada yang membagi soal untuk dikerjakan siswa
tertentu

dan

mereka

menunjuk

siswa

yang

bakal

mewakili

kelompoknya tampil di depan. Pada waktu pelajaran akan berakhir


sebelum doa penutup, guru meminta siswa untuk memberi refleksi
yakni ungkapan perasaan, pendapat dan usul tentang proses
pembelajaran yang baru saja mereka lakukan bersama, pada
kesempatan ini guru menunjuk ketua kelas, sekretaris dan bendahara,
ketiga orang siswa tersebut sama-sama menyatakan senang dengan
cara yang dilakukan guru dalam belajar kali ini, karena menambah
semangat dan banyak kelucuan sehingga merasa senang. Berdasarkan
angket yang diisi oleh siswa sebagian besar siswa menyatakan senang
dengan cara belajar seperti ini, alasan mereka senang, belajar tidak
tegang, gurunya lucu.

b. Gaya Mengajar Guru


Dalam pembelajaran bervariatif ini, guru bertindak sebagai
fasilitator yang lebih banyak berurusan dengan penyiapan segala
keperluan untuk pelaksanaan strategi pembelajaran yang telah
dirancang. Dominasi guru masih ada, ini terlihat ketika pengamatan
gambar-gambar untuk menemukan konsep, guru yang dengan aktif
menginventarisir kata-kata dari gambar 1 yang diamati siswanya,
demikian juga gambar-gambar lainnya yang mendukung konsep guru
yang aktif menulis di papan tulis, pada pengamatan gambar
selanjutnya

yakni

gambar

yang

tidak

mendukung,

guru

menginventarisir kata-kata kurang memberi kesempatan siswa secara


teratur namun bebas berpendapat apalagi menuliskan di papan tulis.
Demikian juga waktu membangun komunitas pada waktu jeda, dan
strategi 1 menuju ke stretegi 2, guru banyak menuntun siswa untuk
menganalisis role playing tersebut sehingga siswa lebih banyak
hanya memberi dukungan atau persetujuan daripada mengajukan
pendapatnya. Demikian pada waktu pelaksanaan strategi 2, guru hanya
mengarahkan siswa untuk membagi tugas agar kelompok cepat
menyelesaikan tugasnya. Pada waktu presentasi guru mengkomentari
dan meminta wakil kelompok untuk menyempurnakan jawabannya.
c. Prestasi Belajar Siswa
Berdasarkan unjuk kerja siswa dan aktifitas siswa dalam
berdiskusi kelompok secara kualitatif menunjukkan hasil yang baik,
meskipun belum mencapai hasil yang dikehendaki. Sedangkan secara
kuantitatif hasil tes menunjukkan hasil sebagai berikut: 9 siswa
memperoleh nilai 85, 19 siswa memperoleh nilai 75-80, 10 siswa
memperoleh nilai 60-70, dan sisanya 3 mendapat nilai kurang dari 60.
d. Hasil Temuan Lain
Dari observasi dan wawancara terdapat beberapa temuan
yang

menunjukkan

keunggulan

dari

kelancaran

pelaksanaan

pembelajaran diantaranya bahwa guru bidang studi telah mengikuti


pelatihan tentang pembuatan perencanaan pembelajaran dengan
pendekaan DD/CT yang dilaksanakan, namun belum memiliki
kejelasan dalam mengaplikasi rancangan yang dibuatnya. Menurut
pendapat guru model pembelajaran dengan DD/CT ternyata memberi
situasi yang menyenangkan dan tidak menguras energi, hal ini guru
tdak banyak berceramah, tetapi memfasilitasi siswa untuk menemukan
dan mengembangkan pengetahuannya sendiri. Hubungannya guru dan
siswa secara personal maupun profesional menjadi lebih akrab dan
terbuka.
Meskipun

demikian

terdapat

banyak

kelemahan

dan

kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran PPKn yang inovatif


dengan pendekatan DD/CT. Menurut hasil diskusi dan hasil observasi
kesulitan dalam penerapannya antara lain: 1) Guru masih ada kesulitan
dengan pelaksanaan terutama dengan perubahan gaya mengajar,
misalnya merasa tidak bisa menyanyi, kesulitan untuk memilih
kegiatan dalam membangun komunitas, 2) Guru khawatir bahwa
waktu yang tersedia tidak cukup untuk menerapkan seluruh kegiatn
terutama menggunakan 2 strategi sekaligus, 3) Guru mengalami
kesulitan dalam menyiapkan uba rampe atau kelengkapan media,
seperti gambar-gambar yang pas bagi pencapaian konsep yang akan
dicetuskan oleh siswanya dan kekurangan yang paling menonjol pada
pelaksanaan pembelajaran ini adalah guru siswa asyik dalam kegiatan
ini sehingga berkurang, sehingga secara teknis belum seluruh langkahlangkah pembelajaran dengan pendekatan DD/CT dapat dilaksanakan,
seperti refleksi yang diberikan siswa dilaksanakan sekedarnya saja,
secara serempak. Juga tidak ada kegiatan hening atau doa pada akhir
pelajaran karena waktu sudah habis.
4. Tahap Refleksi
Setelah tahap pengamatan peneliti dan guru mitra mendialogkan
secara mendalam seluruh proses, sekaligus feed back bagi bagi guru mitra

terhadap pelaksanaan pembelajaran. Dari hasil dialog tersebut ditemukan


bahwa ada sedikit kesulitan guru untuk secara cepat menggali pendapat
siswa dalam penemuan konsep, sehingga muncul kekhawatiran bahwa
proses penemuan konsep akan banyak menyita waktu atau melebihi waktu
yang telah ditetapkan. Di samping itu guru mengalami kesulitan untuk
meningkatkan partisipasi aktif siswanya.
Berdasarkan temuan kesulitan tersebut disepakati siklus II
dilakukan kegiatan pembelajaran PPKn yang inovatif tetap dengan
pendekatan DD/CT dengan rancangan yang sama dan beberapa perubahan
dan masukan tentang teknis pelaksanaan yang memungkinkan siswa dapat
berkolaborasi dengan sesama siswa, maupun gurunya, juga siswa
bergairah untuk berperan aktif dalam pembelajaran.
C. Tahap Pelaksanaan Tindakan Kelas (Siklus II)
Sesuai dengan rancangan penelitian yang telah ditetapkan, maka
setelah selesai siklus I penelitian tindakan kelas, maka dilakukanlah siklus II,
dengan tahap-tahap sebagaimana siklus I.
1. Tahap Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi terdapat kesulitan guru untuk secara
cepat menggali pendapat siswa dalam penemuan konsep, kesulitan untuk
meningkatkan partisipasi aktif siswanya. Maka peneliti dan guru mitra
sepakat

untuk

melaksanakan

penyempurnaan

beberapa

teknis

pembelajaran. Disepakati untuk mempraktekkan model dengan kelas yang


berbeda yakni kelas III-a, perubahan yang disepakati adalah lebih
melibatkan siswa dalam setiap proses seperti memberi kesempatan siswa
memimpin lagu, kesempatan untuk menulis di papan tulis. Adapun
rencana pembelajaran tetap, media yang dipergunakan tetap, ini berarti
topik yang akan dibahas juga tetap, namun ada perubahan dalam
membangun komunitas pada waktu jeda yakni setelah strategi 1 ke strategi
2 yakni dengan berebut permen yang akan dikaitkan dengan manfaat
adanya perilaku patuh terhadap aturan yang berlaku. Sebagaimana terlihat

dalam Gambar 7, peneliti dan guru mitra berdialog mendalam tentang


proses yang baru saja dilakukan sekaligus merencanakan segala hal untuk
kegiatan berikutnya yakni pembelajaran PPKn bervariatif selanjutnya.

Gambar 7
Peneliti dan Guru Mitra mempersiapkan kegiatan 11
2. Tahap Pelaksanaan Proses Pembelajaran
a. Hening (berdoa)
Dalam kegiatan ini doa dilaksanakan menurut ajaran agama
Islam yakni dengan Surat Al-Fatehah, doa menuntut ilmu dan 2 buah
Surat Pendek.

Gambar 8
Siswa sedang berdoa

b. Membangun Komunitas
Guru mengajak siswa untuk menyanyi bersama dengan lagu
Padamu Negeri dengan syair sebagai berikut:
Padamu Negeri
Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami
Sebagaimana terlihat dalam Gambar 9, guru meminta siswa
untuk berdiri agar dalam menyanyikan lagu nasional dengan khidmat.

Gambar 9
Siswa sedang menyanyi bersama
c. Kegiatan Inti Pembelajaran
1) Strategi Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
a) Gagasan Pokok dan Prinsip yang melandasi strategi
Konsep adalah alat mental yang dipergunakan
manusia untuk mengorganisasikan sejumlah kesan-kesan yang
tidak ada akhirnya ke dalam pikiran yang diperoleh melalui
indra kita. Prinsip dari strategi pencapaian konsep antara lain:
(a) konsep atau topik yang akan dibahas tidak diberitahukan

dulu kepada siswa; (b) konsep ditemukan bersama-sama oleh


siswa yang difasilitasi oleh guru; (c) strategi ini mengandalkan
pengoperasian otak (akal) dengan cara berpikir kritis; (d)
keaktifan siswa dapat dibangkitkan secara maksimal.
Strategi pencapaian konsep (concept attainment)
berfungsi untuk menemukan konsep, pendefinisian konsep,
sebagai tertuang dalam rumusan tujuan kesatu dan kedua yakni:

Dengan mengkritisi gambar, siswa dapat menemukan


konsep kepatuhan dengan benar.

Dengan

curah

pendapat,

siswa

dapat

merumuskan

pengertian/mendefinisikan kepatuhan dengan benar.


b) Tahap-Tahap Pelaksanaan
Persiapan
Pada

pembelajaran

awal,

guru

melaksanakan

strategi

pencapaian konsep (concept attainment), guru menyiapkan


kelengkapan sebagai berikut:

Gambar-gambar yang mendukung penemuan konsep


(topik) kepatuhan dan gambar-gambar yang kontra dalam
arti tidak ada hubungan dengan konsep.

Membuat daftar kata-kata yang mencerminkan indikator


atau atribusi masing-masing gambar (baik yang mendukung
maupun yang kontras)

Memilah gambar dan daftar kata-kata yang erat dengan


konsep kepatuhan yang akan ditemukan (diberi kode Ya)
dan gambar dan daftar kata-kata yang kontras dengan
konsep kepatuhan (diberi kode Tidak). Guru telah
memegang kata-kata kunci yang akan dipertahankan
untuk menemukan konsep tentang kepatuhan.

Membuat rumusan definisi atau pengertian

tentang

kepatuhan. Kepatuhan adalah sikap dan perbuatan


mentaati segala peraturan yang berlaku.

Pelaksanaan
Setelah kelengkapan tadi yakin terpenuhi, selanjutnya
guru

melaksanakan

strategi

pencapaian

konsep,

untuk

menemukan konsep kepatuhan dengan langkah-langkah


sebagai berikut:

Guru menunjukkan gambar-gambar antara lain orang yang


sedang antre di bandar udara, polisi lalu lintas yang sedang
mengatur dan menertibkan lalu lintas, dimana salah seorang
pengendara sepeda motor diperiksa, dan gambar orang yang
sedang ditangkap polisi. Gambar-gambar ini diberi kode Ya
(karena relevan dengan konsep kepatuhan). Gambar 10
menunjukkan guru menunjukkan gambar-gambar.

Gambar 10
Guru menunjukkan gambar-gambar

Meminta kepada siswa untuk mengamati gambar-gambar


tersebut dan kemudian menyebutkan kata yang ditemukan
anak dari hasil pengamatan gambar tersebut seperti:
-

Gambar 1
Orang

Gambar 2
Polisi

Gambar 3
- Penjahat

Antre

Lalu lintas

- Ditangkap

Bandara

Jalan raya

- Kampung

Tertib

Tertib

- Keamanan

Tindakan

Perbuatan

- Perbuatan

Tas

Sepeda motor

- Borgol

Koper

Helm

- Dua polisi

Alat detektor

SIM/STNK

- Melanggar

petugas

Razia

hukum

Guru menunjukkan gambar-gambar sekelompok pemandu


sorak (cheerleader) dan gambar seorang atlit bulu tangkis
dengan kode Tidak (tidak relevan dengan konsep
kepatuhan).

Meminta kepada siswa untuk menggali kata-kata dari


gambar kode Tidak yang telah diamati, maka ditemukan
kata-kata:

Gambar 1
Pemandu sorak

Gambar 2
-

Atlit

Tidak sopan

Ramah

Seragam

Pakaian olahraga

Rumbai-rumbai

Raket

Cewek-cewek

Cowok

Di lapangan

Di gedung

Guru meminta kepada siswa membandingkan kata-kata


(ciri-ciri/atribut)

mana

yang

tidak

sama,

kemudian

mencoretnya, sebagai berikut:


-

Orang

Polisi

- Penjahat

Antre

Lalu lintas

- Ditangkap

Bandara

Jalan raya

- Kampung

Tertib

Tertib

- Keamanan

Tindakan

Perbuatan

- Perbuatan

Tas

Sepeda motor

- Borgol

Koper

Helm

- Melanggar

Alat detektor

SIM/STNK

Petugas

Razia

hukum

Setelah guru yakin telah mengkristal bahwa kata-kata yang


ada

atau

menemukan

tersisa

sudah

konsep

dapat

kepatuhan

dipergunakan
guru

untuk

mengajukan

pertanyaan kepada siswa apakah topik yang akan dibahas


dalam pertemuan tersebut. Guru menggali terus pendapat
siswa sampai muncul kata patuh. Pada penelitian ini
konsep yang muncul pada awalnya taat dan ketaatan,
kemudian kesadaran selanjutnya guru terus menggali
dengan berbagai pertanyaan sampai salah seorang siswa
menyebutkan kata patuh, selanjutnya guru memberi
tekanan bahwa jawaban tersebut benar namun perlu
disempurnakan dengan menambah kata imbuhan dan
akhiran. Guru menyatakan Bagus, namun siapa yang akan
menyempurnakan jawaban temanmu dengan memberi kata
awalan dan akhiran?, dan akhirnya siswa dapat melahirkan
konsep kepatuhan. Gambar 11 guru menggali pendapat
siswa untuk menemukan konsep.

Gambar 11
Guru menggali pendapat siswa
untuk menemukan konsep

Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan kepada siswa


untuk membuat rumusan pengertian kepatuhan. Melalui
curah pendapat, siswa mengajukan pengertian berdasarkan

sisa kata yang dicoret, ataupun dilengkapi dengan kata-kata


sendiri. Atas dasar beberapa usulan-usulan tersebut tentang
pengertian kepatuhan, maka guru meminta siswa untuk
memadukan dalam satu rumusan yang sempurna. Rumusan
pengertian atau definisi kepatuhan yang disepakati dapat
ditambah dengn penyempurnaan oleh guru, sehingga mirip
dengan definisi yang dimiliki atau yang telah dipersiapkan
oleh guru. Definisi tersebut menjadi Kepatuhan adalah
sikap atau perbuatan taat terhadap peraturan yang
berlaku.
Kegiatan

selanjutnya

adalah

untuk

mencapai

tujuan

pembelajaran khusus 3 sampai 6, namun sebelum memasuki


pelaksanaan

strategi

pembelajaran

berikutnya,

untuk

mempertahankan bangun komunitas kelas, sekaligus untuk


mengantarkan pada pemahaman selanjutnya perlu diselingi
dengan kegiatan jeda yakni membangun komunitas berebut
permen. Pada waktu jeda ini kurang lebih lima (5) menit guru
meletakkan permen di atas meja guru dan mempersilahkan
siswa mengambil permen-permen tersebut, maka berebutlah
siswa. Setelah permen habis guru mengelompokkan siswa
berdasarkan jumlah perolehan permennya, maka ada kelompok
2 orang memperoleh masing-masing 6 permen, 2 orang
memperoleh 5 permen 1 orang memperoleh 4 permen, 6 orang
memperoleh masing-masing 2 permen, 3 orang memperoleh 1
permen dan 27 siswa tidak memperoleh permen. Selanjutnya
didialogkan

perasaan

masing-masing,

akhirnya

diambil

kesimpulan apabila tidak ada aturan dan kepatuhan yang terjadi


adalah kekacauan, tidak ada keteraturan dan pemerataan. Dari
dialog mendalam disepakati untuk mengatur kelas agar setiap
siswa berkesempatan memperoleh 1 buah permen dengan cara
mengambil

secara

bergantian.

Setelah

semua

siswa

memperoleh bagiannya secara merata guru dan siswa

menyimpulkan manfaat mematuhi peraturan. Gambar 12 guru


dan siswa menganalisis peristiwa berebut permen.

Gambar 12
Suasana menganalisis berebut permen
2) Strategi Belajar Bersama-sama (Cooperative Learning)
Kegiatan

pembelajaan

selanjutnya

adalah

dengan

menggunakan strategi cooperative learning (CL) dengan teknik


pelaporan. Strategi ini untuk mencapai TPK:
a. Dengan diskusi kelompok siswa dapat memberi contoh perilaku
mematuhi norma masyarakat dengan benar.
b. Dengan diskusi kelompok siswa dapat menjelaskan manfaat
mematuhi norma yang berlaku dengan benar.
c. Dengan diskusi kelompok siswa dapat menjelaskan akibat yang
ditimbulkan tidak mematuhi norma yang berlaku dengan benar.
d. Dengan

diskusi

kelompok

siswa

dapat

menganalisis

kesulitannya mematuhi norma yang berlaku dengan benar.


Tahap-tahap Pelaksanaan Strategi Cooperative Learning (CL)
Tahap Persiapan
Guru perlu mempersiapkan kartu soal yang berisi persoalan
sebagai berikut:
Kartu 1 dan 4 berisi permasalahan tentang norma keagamaan
dengan soal:

a. Buatlah contoh perilaku mematuhi norma keagamaan.


b. Apa manfaatnya jika kamu mematuhi norma keagamaan.
c. Bagaimana akibatnya apabila kamu tidak mematuhi norma
keagamaan.
d. Apa kesulitan yang kamu hadapi untuk mematuhi norma
keagamaan.
Kartu 2 dan 5 berisi permasalahan tentang norma kesopanan
dengan soal:
a) Buatlah contoh perilaku mematuhi norma kesopanan.
b) Apa manfaatnya jika kamu mematuhi norma kesopanan
c) Bagaimana akibatnya apabila kamu tidak mematuhi norma
kesopanan.
d) Apa kesulitan yang kamu hadapi untuk mematuhi norma
kesopanan.
Kartu 4 dan 8 berisi permasalahan tentang norma hukum dengan
soal:
a) Buatlah contoh perilaku mematuhi norma hukum
b) Apa manfaatnya jika kamu mematuhi norma hukum.
c) Bagaimana akibatnya apabila kamu tidak mematuhi norma
hukum.
d) Apa kesulitan yang kamu hadapi untuk mematuhi norma
hukum.
Selain kartu permasalahan juga disiapkan kertas manila putih untuk
menulis hasil diskusi kelompok dan spidol warna.
Tahap Pelaksanaan
Tahap Koorperatif
Dalam tahap ini guru melakukan kegiatan (1) membagi siswa
dalam beberapa kelompok kecil yang beranggotakan 5 orang (40
siswa : 8); (2) meminta salah satu anggotan kelompok memilik
kartu permasalahan; (3) menugaskan siswa untuk membagi tugas
dalam memahami pesan/soal dalam kartu permasalahan

Gambar 13
Suasana Diskusi Kelompok
Tahap Pelaporan
Setelah berdiskusi selama 15 menit, selanjutnya masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok ke depan,
caranya dengan memajang tulisan unjuk kerja kelompok di papan
tulis, dijelaskan oleh salah satu anggota, dan ditanggapi oleh
kelompok lain. Dalam proses kegiatan ini terlihat partisipasi siswa,
meskipun setiap kelompok dibatasi satu penanya, namun banyak
siswa yang mengacungkan tangannya untuk memberi tanggapan
atau bertanya. Sedangkan anggota kelompok presenter juga tidak
kalah aktifnya setelah salah satu anggota menjawab yang lain
menggaris

bawahi,

membenarkan

demikian

saling

menyempurnakan jawaban temannya. Sebagai mana terlihat


dalam Gambar 14, kelompok mempresentasikan unjuk kerjanya.

Gambar 14
Kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

d. Refleksi
Kegiatan ini merupakan kegiatan penting dalam pembelajaran
dengan pendekatan DD/CT. Refleksi adalah cara pikir tentang apa saja
yang baru saja dirasakan dan dialami siswa, juga berpikir tentang apa
saja yang pernah dirasakan, dialami dan dilakukan di masa lalu.
Sebelum akhir pembelajaran guru memberi kesempatan pada siswa
untuk menyampaikan pernyataan dan kesan-kesan atau mungkin saran
tentang proses pembelajaran kali ini, maka beberapa siswa terlihat
mengacungkan tangannya, guru menunjuk 2 orang siswa putra putri.
Siswa putra menyatakan Nama saya Seprio. Menurut saya cara
belajar seperti kali ini sangat menyenangkan karena suasana kelas
jadi tidak sepi dan saya menjadi bersemangat mengikuti pelajaran dan
berani berpendapat. Saya mengusulkan agar kebiasaan belajar ini
diteruskan.

Cara

ini

menjadikan

siswa

aktif

dan

menjadi

bersemangat. Refleksi selanjutnya oleh siswa putri yang menyatakan


Nama saya Nila. Menurut pendapat saya, metode belajar seperti ini
sangat baik, menyenangkan, karena selain menambah semangat, juga
memberi kesempatan untuk apresiasi dan meningkatkan keaktifan dan
kreatifitas siswa, sehingga dapat meningkatkan nilai pelajaran. Saya
berharap semua pelajaran menggunakan metode belajar seperti ini agar
SMP Negeri 1 Kalianget menjadi SMP yang bermutu. Sebagaimana
terlihat dalam Gambar 15, 2 siswa menyampaikan refleksi.

Gambar 15
Siswa Menyampaikan Refleksi

Sedangkan kesan dan rekomendasi yang diberikan siswa


secara tertulis hasil angket yang diisi siswa diperoleh hasil sebagai
berikut: 37 siswa menyatakan cara belajar seperti itu (DD/CT) suasana
kelas tidak sepi, tidak tegang seperti biasanya, akrab dengan guru dan
juga teman lainnya, banyak kesempatan untuk aktif berpendapat,
materi yang disampaikan mudah dimengerti, senang dalam mengikuti
pelajaran, materi pelajaran meresap di hati, tidak hanya bersifat
hafalan, cara menyampaikan materi menarik, 3 orang siswa
menyatakan suasana kelas riang, tidak tegang dan belajar menjadi
nyaman, meningkatkan keberanian, materi pelajaran benar-benar
berguna untuk kehidupan sehari-hari, senagn mengikuti pelajaran, guru
tampil beda, lebih lucu, lebih banyak praktek, keterangan yang
disampaikan lebih jelas.
Usulan terbaik siswa agar kegiatan belajar yang dilaksanakan
bersama guru menjadi semakin baik dapat disimpulkan sebagai
berikut: 25 siswa menyatakan kegiatan belajar seperti ini harus
diteruskan, 38 siswa mengusulkan agar kegiatan belajar seperti ini
tidak hanya untuk pelajaran PPKn saja tapi untuk semua pelajaran, 10
orang mengusulkan agar jam pelajaran PPKn ditambah, 5 orang
mengatakan pelajaran berlangsung tersimpan di memory.
e. Evaluasi
Penilaian proses diperoleh secara

berkelompok yakni 8

kelompok yang hasil penilaian guru sebagai berikut: 6 kelompok


dinyatakan bagus hasil diskusinya/laporannya karena sampai waktu
yang telah ditetapkan telah selesai dan 2 kelompok lainnya dinilai
sedang, belum selesai.
Penilaian hasil dengan menggunakan tes 10 soal sebagai
berikut:
1) Apa arti kepatuhan?
2) Sebutkan 4 norma masyarakat?
3) Beri 2 contoh perbuatan yang mematuhi norma agama?

4) Beri 2 contoh perbuatan yang melanggar norma agama?


5) Sebutkan 2 perilaku sebagai wujud patuh terhadap norma
kesopanan?
6) Sebutkan 2 perilaku sebagai wujud pelanggaran terhadap norma
kesusilaan?
7) Sebutkan manfaat mematuhi norma yang berlaku?
8) Apa yang terjadi jika masyarakat tidak mematuhi norma yang
berlaku?
9) Mengapa norma hukum menduduki posisi paling penting dalam
masyarakat?
10) Bagaimana perwujudan mematuhi peraturan di lingkungan
keluarga dan sekolah?
f. Hening
Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan berdoa menurut
agama masing-masing.
3. Tahap Pengamatan (Observasi)
Pada tahap ini, peneliti melakukan pengamatan gaya belajar
siswa dengan memperhatikan peran siswa dalam keseluruhan proses
pembelajaran dari awal pembelajaran sampai kegiatan refleksi. Selain itu
juga gaya mengajar guru dalam melaksanakan perencanaan pembelajaran
bervariatif dengan pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT).
Hasil pengamatan peneliti adalah sebagai berikut:
a. Gaya Belajar Siswa
Hasil pengamatan menunjukkan ada peningkatan rasa senang
dan bergairah juga nampak ketika guru membangun komunitas
misalnya ketika menyanyi lagu Padamu Negeri pada awalnya
seluruh siswa malu-malu menyanyikan lagu tersebut, kemudian guru
meminta salah satu untuk memimpin lagu dan menyanyi lagi mereka
menyanyi dengan penuh semangat. Pada waktu penerapan strategi 1
yakni pencapaian konsep peran dan keberanian siswa dalam proses

belajar juga meningkat, mereka saling berebut mengambil kartu soal


meskipun guru meminta untuk diwakil satu orang tiap kelompok.
Antusias dan rasa keingintahuan siswa juga besar ketika guru
menunjukkan gambar-gambar yang dipergunakan sebagai media dalam
menggali penemuan konsep. Mereka menuliskan kata-kata yang
ditemukan dalam gambar, mereka juga berani mencoret kata-kata yang
tidak relevan dengan konsep di papan tulis, dan siswa berani
menyampaikan

pendapatnya

tentang

pengertian/definisi

tentang

konsep. Demikian juga ketika waktu jeda permainan berebut permen


mereka dengan riuh melakukannya, dan ketika menganalisis kegiatan
berebutan tersebut dengan mengkaitkan manfaat mematuhi aturan
mereka juga berebut untuk menyampaikan pendapatnya. Selanjutnya
ketika pelaksanaan strategi 2 yakni cooperative learning dimana
mereka diminta untuk membentuk kelompok serta dibagi-bagikan
kartu-kartu permasalahan. Mereka secara berebut ingin membaca kartu
permasalahan yang menjadi bagian kelompoknya. Tidak seperti diskusi
biasanya yang didominasi oleh siswa tertentu dalam diskusi kelompok
dalam strategi cooperative learning kali ini, semua siswa terlibat dalam
proses penyelesaian permasalahan, hal ini terkait dengan arahan guru
yang meminta setiap anggota untuk membagi tugas dan saling
bekerjsama secara cepat mengingat waktu yang disediakan untuk
berdiskusi terbatas. Minat dan motivasi mereka semakin besar, karena
guru terus menyemangati untuk segera dapat menyelesaikan tugas
kelompoknya untuk dapat ditampilkan atau dipresentasikan. Mereka
dengan penuh semangat mempertahankan hasil diskusinya. Setelah
selesai mempresentasikan unjuk kerjanya guru bertanya pada
kelompok lain bagaimana hasil kerja kelompok I anak-anak?
Pantasnya mendapat nilai apa?, maka kelompok lain akan menilai
A,

Bu.

atau

B,

Bu,

sedangkan

kelompok

yang

merasa

penampilannya bagus sering menawar B Plus, Bu setelah itu guru


mengajak siswa untuk memberi applause/tepuk tangan bagi
kelompok tersebut. Pada waktu pelajaran akan berakhir sebelum doa

penutup, guru meminta siswa untuk memberi relfeksi yakni ungkapan


perasaan, pendapat dan usul tentang proses pembelajaran yang baru
saja mereka lakukan bersama, juga menunjukkan minat yang tinggi,
yang ditunjukkan banyaknya anak yang mengacungkan tangannya, dan
ketika guru hanya memilih 2 orang siswa (putra-putri), maka terlihat
wajah kecewa karena tidak ditunjuk oleh gurunya dan berdasarkan
angket yang diisi oleh siswa sebagian besar siswa menyatakan sangat
senang dengan cara belajar seperti ini, alasan mereka karena
berkesempatan menyampaikan pendapatnya, menumbuhkan semangat,
menimbulkan keberanian dan percaya diri. Di samping itu mereka
merekomendasikan agar kegiatan pembelajaran seperti ini untuk
dilaksanakan terus bahkan kalau bisa semua mata pelajaran
menggunakan metode ini.
b. Gaya Mengajar Guru
Dalam pembelajaran bervariatif ini, guru bertindak sebagai
fasilitator yang lebih banyak berurusan dengan penyiapan segala
keperluan untuk pelaksanaan strategi pembelajaran yang telah
dirancang. Meskipun pada awalnya dominasi guru masih ada, ini
terlihat dari pengamatan gambar-gambar untuk menemukan konsep,
guru yang dengan aktif menginventarisir kata-kata dari gambar 1 yang
diamati siswanya, namun kemudian pada pengamatan gambar
selanjutnya

guru

hanya

mengarahkan

saja

sedangkan

yang

menginventarisir kata-kata selanjutnya adalah siswanya bahkan yang


menulis di papan tulis. Pada waktu jeda yakni membangun komunita
dengan berebut permen guru memancing siswanya untuk curah
pendapat menganalisis kegiatan dengan manfaat dan akibat jika kita
tidak mematuhi aturan yang berlaku. Pada pelaksanaan strategi II
yakni cooperative learning, guru berkeliling dari kelompok satu ke
kelompok lainnya, jika ada yang belum jelas dari masalah yang
dibahas dijelaskan, guru menyemangati siswa untuk secara cermat dan
cepat menyelesaikan tugas kelompoknya, hayoo, kelompok mana

yang cepat dan betul hasilnya akan ada tambahan point. Pada waktu
presentasi tugas guru memberi kebebasan kelompok untuk mengatur
diskusi artinya kelompok yang maju bebas menunjuk kelompok mana
yang diberi kesempatan menanggapi.
c. Prestasi Belajar Siswa
Berdasarkan unjuk kerja siswa dan aktifitas siswa dalam
diskusi kelompok secara kualitatif menunjukkan hasil yang

baik,

meskipun belum mencapai hasil yang dikehendaki. Sedangkan secara


kualitatif hasil tes menunjukkan hasil sebagai berikut: 3 siswa
memperoleh nilai 90 ke atas, 18 siswa 80-90, 15 siswa memperoleh
nilai 70-75, 4 siswa memperoleh nilai 60-65, dan sisanya 1 mendapat
nilai kurang dari 60.
d. Hasil Temuan Lain
Dari observasi dan wawancara terdapat beberapa temuan
yang

menunjukkan

pembelajaran

keunggulan

diantaranya

dari

bahwa

kelancaran

guru

secara

pelaksanaan
teknis

telah

melaksanakan tahapan pembelajaran dengan pendekatan DD/CT, guru


menyatakan rasa puas atas proses yang dilakukannya. Menurut
pendapat guru model pembelajaran dengan pendekatan DD/CT
ternyata memberi situasi akrab, dekat dan terbuka juga menyenangkan
dan tidak menguras energi, berceramah minimal, tinggal memfasilitasi
siswa untuk menemukan dan mengembangkan pengetahuannya
sendiri. Merasa waktu begitu cepat berlalu.
Meskipun

demikian

masih

terdapat

kelemahan

dan

kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran PPKn yang inovatif


dengan pendekatan DD/CT menurut hasil diskusi dan hasil observasi
kesulitan dalam penerapannya antara lain: 1) kesulitan untuk memilih
kegiatan dalam membangun komunitas, 2) guru khawatir bahwa waktu
yang tersedia tidak cukup untuk menerapkan seluruh kegiatan terutama

menggunakan 2 strategi sekaligus, 3) guru mengalami kesulitan dalam


menyiapkan uba rampe yang notabene membutuhkan banyak uang.
4. Tahap Refleksi
Setelah tahap pengamatan peneliti dan guru mitra mendialogkan
secara mendalam seluruh proses, sekaligus feed back bagi guru mitra
terhadap pelaksanaan pembelajaran. Dari hasil dialog tersebut ditemukan
bahwa ada sedikit kesulitan guru untuk secara cepat menggali pendapat
siswa dalam penemuan konsep. Hasil refleksi juga disampaikan kepada
kepala sekolah, sekaligus sebagai rekomendasi untuk kelanjutan
pembelajaran dengan pendekatan DD/CT.

BAB V
PEMBAHASAN
A. Model Pembelajaran PPKn bervariatif Dengan Pendekatan DD/CT

Model

pembelajaran

PPKn

dengan

pendekatan

Deep

Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) merupakan model pembelajaran yang


sedapat mungkin mengurangi pengajaran yang terpusat pada guru (teacher
centered) dan sebanyak mungkin pengajaran yang terpusat pada siswa
(student centered), namun demikian guru harus tetap memantau dan
mengarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan landasan filosofi
konstuktivisme, DD/CT dicita-citakan atau dideklarasikan menjadi sebuah
pendekatan pembelajaran alternatif, dimana melalui DD/CT diharapkan siswa
belajar melalui mengalami, merasakan, mendialogkan bukan hanya
menghafalkan. Hal ini sesuai dengan pandangan Gross (2000) bahwa
dengna mengalami sendiri, merasakan, mendialogkan dengan orang lain, maka
pengetahuan dan pemahaman siswa akan sesuatu yang baru akan mengendap
dalam pikiran siswa dalam jangka panjang yang pada akhirnya dapat
dipergunakan untuk bekal siswa dalam memecahkan persoalan yang
dihadapinya, dan mengembangkan kecakapan hidupnya.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan DD/CT
di kelas cukup mudah, apabila guru telah memahami kaidah-kaidahnya
sebagai berikut:
1. Perubahan pandangan

guru

bahwa

pemberdayaan

siswa

dalam

pembelajaran dengan memberi kesempatan pada siswa, untuk mengamati,


menganalisis, mendalogkan dan akhirnya mekonstruksi pengetahuan dan
pengalaman serta keterampilan baru.
2. Untuk mengajarkan topik sebaiknya dilaksanakan dengan kegiatan
mengggali dan menemukan sendiri.
3. Berdayakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan bertanya
secara terbuka.
4. Ciptakan suasana dialog mendalam antar siswa dan antara siswa-guru
oleh karenanya upayakan untuk selalu belajar dalam kelompok.
5. Pergunakan berbagai media dan sumber belajar untuk memperluas
wawasan.

6. Berilah siswa kesempatan untuk melakukan refleksi sebelum pelajaran


berakhir.
7. Penilaian hendaknya tidak hanya berdasarkan tes.
Lima komponen yang terdapat dalam model pembelajaran dengan
pendekatan DD/CT yakni hening, membangun komunitas, kegiatan inti
dengan strategi penemuan konsep (Concept Attainment) dan Cooperative
Learning, refleksi dan evaluasi.
B. dd

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis hasil penelitian dalam
pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Model Pembelajaran PPKn Bervariatif dengan Pendekatan DD/CT
Model

pembelajaran

PPKn

dengan

pendekatan

Deep

Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) merupakan model pembelajaran


yang sedapat mungkin mengurangi pengajaran yang terpusat pada guru
(teacher centered) dan sebanyak mungkin pengajaran yang terpusat pada
siswa (student centered), namun demikian guru harus tetap memantau dan
mengarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan landasan
filosofi konstuktivisme, DD/CT dicita-citakan atau dideklarasikan
menjadi sebuah pendekatan pembelajaran alternatif, dimana melalui
DD/CT diharapkan siswa belajar melalui mengalami, merasakan,
mendialogkan bukan hanya menghafalkan.
Lima komponen yang terdapat dalam model pembelajaran
dengan pendekatan DD/CT yakni hening, membangun komunitas,
kegiatan inti dengan strategi penemuan konsep (Concept Attainment) dan
Cooperative Learning, refleksi dan evaluasi. Dalam praktek dapat
menciptakan kelas-kelas yang produktif, karena guru tidak lagi sibuk
untuk mempersiapkan materi atau topik, namun lebih banyak disibukkan
untuk berkreasi memilih strategi pembelajaran yang tepat, memillih media
yang cocok, sedangkan untuk metode pendekatan DD/CT dapat
berkolaborasi dengan metode apapun yang selama ini telah dipraktekkan
oleh guru.
Model

pembelajaran

dengan

DD/CT

memiliki

beberapa

keunggulan seperti pembelajaran diawali dan diakhiri dengan hening.


Hal ini selain dapat menciptakan situasi tenang sebelum pembelajaran,
selain itu juga dapat menghadirkan hati dan pikiran siswa-guru pada

pembelajaran saat itu. Kebiasaan selalu berdoa sebelum dan sesudah


melakukan kegiatan termasuk kegiatan belajar mengajar, secara langsung
telah membimbing dan mengajarkan siswa menjadi insan religius.
Kegiatan membangun komunitas juga merupakan sesuatu yang sangat
penting bagi masyarakat majemuk oleh karena itu apabila dalam
pembelajaran telah dibangun keterikatan terhadap komunitas mikro
(kelas), maka pada skala makro sikap dan perilaku toleransi, menghargai
perbedaan, terbuka terhadap kritik, berani tampil beda, dan sikap terpuji
lainnya akan dapat mengantarkan siswa menjadi warga negara demokratis.
Strategi belajar penemuan konsep dan cooperative learning telah
dapat menciptakan kebersamaan, dan dialog mendalam tentang segala hal
baru yang diterima siswa, kegiatan ini juga merangsang daya kritis siswa
dalam menangkap permasalahan, mencari solusi permasalahan dengan
caranya sendiri dan bantuan orang lain, dan mengambil keputusan yang
tepat dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Kegiatan refleksi juga
merupakan sesuatu yang dapat dipandang keunggulan pendekatan DD/CT,
karena dapat sebagai sarana saling introspeksi baik guru maupun siswa,
juga

ungkapan bebas dari pandangan, usul terbaiknya demi kebaikan

bersama. Refleksi memiliki fungsi mendidik, penajaman pada siswa untuk


menyukai belajar dari pengalaman yang telah dilaluinya, dan menkonstruk
kembali serta reproduksi pada pengalaman selanjutnya.
2. Minat dan Motivasi Belajar Siswa
Pembelajaran PPKn bervariatif dengan pendekatan DD/CT
ternyata mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa ini dapat
dilihat dari pernyataan maupun hasil refleksi yang dikemukakan siswa,
bahwa sejak awal hingga akhir pelaksanaan pembelajaran menunjukkan
minat dan motivasi yang meningkat atau tinggi. Keadaan ini tidak terlepas
dari gaya mengajar guru yang telah berubah dari gaya mengajar
konvensional yakni yang hanya dengan ceramah bervariasi dan
mengerjakan LKS berubah gaya mengajar konstruktivism yang dilakukan

dengan menggunakan berbagai metode (multi methods), multimedia


(multimedia) ternyata mampu menggairahkan belajar siswanya.
Peningkatan minat dan motivasi belajar siswa juga dapat dilihat
banyaknya pendapat dan usulan siswa agar pembelajaran dengan DD/CT
terus

dilanjutkan bahkan diusulkan

agar semua

mata

pelajaran

menggunakan model pembelajaran seperti ini. Perasaan senang (joyfull)


dengan adanya kegiatan membangun komunitas, menjadikan pembelajaran
PPKn dengan DD/CT ini bervariatif, menjadikan pembelajaran terasa
hidup, hangat dan akrab. Oleh karena itu tidak heran jika guru dan
siswanya merasa waktu cepat berlalu, sehingga muncul usulan agar mata
pelajaran PPKn jamnya ditambah.
3. Partisipasi Siswa
Hasil penelitian dan pembahasan diatas diambil kesimpulan
bahwa partisipasi siswa sangat aktif dan kreatif yang disebabkan telah
diciptakan secara kondusif, lingkungan belajar yang menyenangkan
ternyata mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa. Gaya belajar siswa
telah berubah dari hanya datang, duduk dan dengan menjadi mengamati,
menyanyi menganalisis dan menulis bertanya, berpendapat dan menjawab
dan akhirnya menyimpulkan telah mampu memberi dorongan siswa untuk
berani. Hal ini sangat positif apabila dikembangkan dan diberdayakan oleh
guru di kesempatan berikutnya. Menganggapi gairah siswa untuk aktif
menanggapi semua proses pembelajaran guru perlu bersikap adil dan
penuh perhatian secara merata pada semua siswsa. Kepercayaan dirinya
(self confidence) dan keberaniannya yang besar juga menjadikan siswa
selalu ingin berpartisipasi secara aktif. Oleh karena guru perlu bijaksana
dalam memanajemen kelas agar kondisi ini tetap tercipta selamanya.
4. Interaksi Dalam Belajar Mengajar
Model pembelajaran PPKn dengan DD/CT dapat meningkatkan
interaksi multiarah, yakni interaksi antar siswa guru. Kondisi ini sesuai
dengan prinsip dasar pendekatan DD/CT yang memiliki garapan dalam

pembelajaran bahwa siswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman


melalui dialog mendalam dan berpikir kritis. Oleh karenanya salah satu
ciri pembelajaran DD/CT adalah guru dan siswa dapat menjadi pendengar,
pembicara dan peneliti, pemikir yang baik. Interaksi antar guru-siswa
antara lain dapat menciptakan pembelajaran yang produktif, ketika
menggali informasi untuk menemukan konsep, juga ketika mengecek
pemahaman siswa, mengetahui sejauh mana keingintahuan siswsa
(misalnya dengan merahasiakan gambar, membuat permainan untuk
membangun komunitas). Dalam diskusi kelompok
5. Prestasi Siswa
B. Saran