Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PRAKTIKUM PEMANENAN HASIL HUTAN

ACARA V
PEMILIHAN ALAT/METODE

Oleh :
Nama

: Yuliana Dwi Pratiwi

NIM

: 12/336887/SV/1857

Kelompok : 7
Co-Ass

: Ramli Ramadhan

PROGRAM STUDI DIPLOMA III PENGELOLAAN HUTAN


SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

ACARA V
PEMILAHAN ALAT/METODE

I.

Tujuan
1. Mempelajari cara pemilihan metode kerja dan peralatan yang seuai kebutuhan
dengan menggunakan analisis Break-Even Point (BEP).
2. Mampu menginterprestasikan hasil perhitungan BEP.

II.

Dasar teori
Kegiatan pemanenan hasil hutan membutuhkan bermacam-macam alat
dalam operasionalnya. Bermacam-macam alat tersebut memiliki spesifikasi dan
fungsi yang bermacam-macam pula, untuk itu diperlukan kecermatan dalam
memilih dan mengkombinasikan alat sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan untuk
memilih

dan

mengkombinasikan

alat-alat

pemanenan

tersebut

harus

dipertimbangkan beberapa aspek yaitu, teknis, ekonomi, social dan lingkungan


(Anonim, 2014).
Aspek ekonomi memegang peranan penting dalam pemilihan alat-alt
dalam kegiatan pemanenan. Salah satu cara yang dapat diterapkan untuk memilih
alat-alat berdasarkan aspek ekonomi adalah analisis break-even (Anonim, 2014).
Analisis break-even adalah suatu cara atau teknik yang digunakan untuk
mengetahui tingkat volume hasil atau output tingkat keuntungan sebesar nol/impas
(Sigit, 1979). Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara volume
produksi, biaya produksi dan laba/rugi suatu perusahaan (Anonim, 2014).
Analisa break even adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari
hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan.
Oleh

karena

analisa

tersebut

mempelajari

hubungan

antara

biaya

keuntunganvolume kegiatan, maka analisa tersebut sering pula disebut Cost


ProfitVolume analysis (CPV analysis). Dalam perencanaan keuntungan,
analisa break-even merupakan profitplanning approach yang mendasarkan pada
hubungan antara biaya (cost) dan penghasilan penjualan (revenue) (Siswantoyo,
2004).
Apabila suatu perusahaan hanya mempunyai biaya variabel saja, maka
tidak akan muncul masalah break-even dalam perusahaan tersebut. Masalah break-

even baru muncul apabila suatau perusahaan di samping mempunyai biaya


variabel juga mempunyai biaya tetap. Besarnya biaya variabel secara total itas
akan berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi, sedangkan
besarnya biaya tetap secara totalitas tidak mengalami perubahan meskipun ada
perubahan volume produksi (Siswantoyo, 2004).
Kegunaan analisis break-even adalah sebagai dasar untuk (Sigit, 1979) :
1. Merancang kegiatan operasional dalam usaha mencapai laba tertentu
(profit planning).
2. Mengendalikan kegiatan operasional yang berjalan (controling).
3. Pengambilan keputusan.
Sekalipun Analisa break even ini banyak digunakan oleh perusahaan,
tetapi tidak dapat dilupakan bahwa analisa ini mempunyai beberapa kelemahan.
Kelemahan utama dari analisa break even point ini antara lain : asumsi tentang
linearity, kliasifikasi cost dan penggunaannya terbatas untuk jangka waktu yang
pendek. (Soehardi,2004).
1. Asumsi tentang linearity

Pada umumnya baik harga jual per unit maupun variabel cost per unit,
tidaklah berdiri sendiri terlepas dari volume penjualan. Dengan perkataan
lain, tingkat penjualan yang melewati suatu titik tertentu hanya akan dicapai
dengan jalan menurunkan harga jual per unit. Hal ini tentu saja akan
menyebabkan garis renevue tidak akan lurus, melainkan melengkung.
Disamping itu variabel operating cost per unit juga akan bertambah besar
dengan meningkatkan volume penjualan mendekati kapasitas penuh. Hal ini
bisa saja disebabkan karena menurunnya efesiensi tenaga kerja atau
bertambah besarnya upah lembur.
2. Klasifikasi biaya

Kelemahan kedua dari analisa break even point adalah kesulitan di dalam
mengklasifikasikan biaya karena adanya semi variabel cost dimana biaya ini
tetap sampai dengan tingkat tertentu dan kemudian berubah-ubah setelah
melewati titik tersebut.
3. Jangka waktu penggunaan

Kelemahan lain dari analisa break even point adalah jangka waktu
penerapanya yang terbatas, biasanya hanya digunakan di dalam pembuatan
proyeksi operasi selama setahun. Apabila perusahaan mengeluarkan biayabiaya untuk advertensi ataupun biaya lainnya yang cukup besar dimana hasil
dari pengeluaran tersebut (tambahan investasi) tidak akan terlihat dalam
waktu yang dekat sedangkan operating cost sudah meningkat, maka sebagai
akibatnya jumlah pendapatan yang harus dicapai menurut analisa break even
point agar dapat menutup semua biaya-biaya operasi yang bertambah besar
juga.
III.

Alat dan bahan


1. Data biaya
2. Data peralatan
3. Kalkulator dan alat tulis

IV. Cara kerja

Mempelajari data
yang tersedia

Mengelompokkan data
kedalam 2 jenis biaya
yaitu biaya tetap dan
biaya variabel

Menghitung volume
kerja dan biaya yang
dikeluarkan pada titik
Break-Even

Membuat grafik
Break-Even

Memilih peralatan dan


metode kerja yang
menguntungkan