Anda di halaman 1dari 35

TUGAS SOFTSKILL

ETIKA BISNIS

NAMA : MONICA JULIANI


NPM : 14211601
KELAS : 4EA27

KASUS atau PERMASALAHAN


DALAM ETIKA BISNIS
Bapak Eka Patriya
Kalimalang - 2014

Contoh 1 : Pelanggaran Etika Bisnis


Bank Century
Nasabah Bank Century yang jadi korban penipuan produk investasi akan
mendatangi Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat. Para nasabah akan mengadukan
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Mereka menganggap LPS belum menanggapi
laporan penipuan tersebut. Jika ternyata jawaban DPR mengecewakan, nasabah Bank
Century bakal menempuh jalur hukum. Banyak yang sudah mulai menghubungi
pengacara untuk konsultasi, kata Gunawan Setiadi Martono, Koordinator Nasabah Bank
Century kepada KONTAN, kemarin (8/2). Para nasabah ini umumnya adalah mereka
yang terkena bujuk rayu staf pemasaran Bank Century yang menawarkan produk
investasi keluaran PT Antaboga Deltasekuritas dengan iming-iming keuntungan tinggi.
Nilai dana yang mereka setorkan bervariasi, ada yang Rp 100 juta sampai Rp 2 miliar.
Selama ini para nasabah itu merasa kecewa dengan sikap direksi Bank Century. Nasabah
merasa direksi Bank Century tidak mengacuhkan masalah mereka.
Direksi Bank Century sendiri mengaku tak tahu-menahu mengenai produk
investasi tersebut. Mereka juga tetap berpendapat, penyelesaian persoalan investasi
bodong tersebut mesti menunggu proses hukum terhadap pemegang saham pengendali
Bank Century, yakni Robert Tantular. Polisi sudah menetapkan Robert Tantular sebagai
tersangka dibalik kolapsnya Bank Century. Selain melanggar aturan perbankan, polisi
menuduh Robert menggelapkan dana nasabah PT Antaboga Deltasekuritas. Ceritanya,
pada 2000 silam Bank Indonesia melarang perbankan menjual produk investasi. Namun,

Robert tetap menjajakan produk investasi Antaboga. Lewat Century, Antaboga menjual
reksadana terproteksi dan produk kontrak pengelolaan dana (discretionary fund) dengan
bunga yang tinggi. Dalam menjual produk investasi ini, Robert tetap menggunakan
pengaruhnya di Bank Century. Investasi ini kemudian macet karena Robert dan tiga
koleganya di Antaboga yang merupakan warga negara asing menggelapkan semua dana
nasabah tersebut. Polisi masih terus menyelidiki ke mana Robert menyembunyikan uang
nasabah itu. Polisi baru mengetahui bahwa sebagian uang nasabah mengalir ke Eropa.
Namun, polisi belum bisa mengambilnya.
Manajemen baru PT Bank Century Tbk menargetkan akan menyelesaikan 32
debitor utama terkait kasus aset-aset bermasalah. Untuk tahap pertama, PT Bank Century
Tbk akan memprioritaskan penyelesaian terhadap sepuluh debitor terbesar. Ke-32 debitor
ini merupakan warisan dari manajemen terdahulu, sebelum akhirnya Bank Century
ditutup pemerintah. Hal ini disampaikan Direktur Utama PT Bank Century Tbk Maryono,
Kamis (22/1) di Jakarta. Kami telah membentuk tim penyelamatan aset untuk
menyelesaikan masalah ini, ujar Maryono, yang didampingi oleh Direktur Tresuri dan
Pendanaan Ahmad Fajar, Direktur Operasional dan Teknologi Erwin Prasetio, dan Kepala
Divisi Corporate Secretary Deddy Triyana. Pembenahan aset ini juga termaktub dalam
program kerja perbaikan kondisi keuangan tahap awal, di samping pemulihan dan
stabilisasi likuiditas, due dilligence atas kondisi keuangan, serta restrukturisasi balance
sheet. Ketika ditanya mengungkapkan identitas ke-32 debitor beserta nilai nominalnya,
Maryono masih enggan menyampaikannya. Pasalnya, lanjut Maryono, pihaknya masih
menunggu hasil audit keuangan dan hukum.

ETIKA UTILITARIANISME, Para nasabah ini umumnya adalah mereka yang


terkena bujuk rayu staf pemasaran Bank Century yang menawarkan produk investasi
keluaran PT Antaboga Delta sekuritas dengan iming-iming keuntungan tinggi. Nilai dana
yang mereka setorkan bervariasi, ada yang Rp100 juta sampai Rp 2 miliar. Selama ini
para nasabah itu merasa kecewa dengan sikap direksi Bank Century. Nasabah merasa
direksi Bank Century tidak mengacuhkan masalah mereka. Direksi Bank Century sendiri
mengaku tak tahu-menahu mengenai produk investasi tersebut. Mereka juga tetap
berpendapat, penyelesaian persoalan investasi bodong tersebut mesti menunggu proses
hukum terhadap pemegang saham pengendali Bank Century, yakni Robert Tantular.
ETIKA DEONTOLOGY, Manajemen baru PT Bank Century Tbk menargetkan
akan menyelesaikan 32 debitor utama terkait kasus aset-aset bermasalah. Untuk tahap
pertama, PT Bank Century Tbk akan memprioritaskan penyelesaian terhadap sepuluh
debitor terbesar. Ke-32 debitor ini merupakan warisan dari manajemen terdahulu,
sebelum akhirnya Bank Century ditutup pemerintah.
ETIKA KAFFAH, PT Bank Century berniat mengembangkan uang nasabah
dengan cara investasi kepada lembaga sekuritas dan membayar uang nasabah walaupun
secara bertahap dengan menargetkan 32 debitur utama. Kemudian membentuk tim
penyelamatan aset untuk menyelesaikan masalah ini . Pembenahan aset ini juga
termaktub dalam program kerja perbaikan kondisi keuangan tahap awal, di samping
pemulihan dan stabilisasi likuiditas, due dilligence atas kondisi keuangan, serta
restrukturisasi balance sheet, hal ini menunjukkan masih ada niat baik bahwa tanggung
jawab social dunia dan akherat.

Contoh 2 : Masalah Etika Bisnis Kesewenangan


Perusahaan Terhadap Karyawan

Aksi kesewenag-wenangan perusahaan terhadap karyawan di Sukoharjo kembali


terjadi. Kali ini dialami Singgih Susilo, warga Kecamatan Pasar Kliwon Solo. Ia yang
sudah bekerja selama 11 tahun, mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak
oleh perusahaan Dimasari Teknik, Telukan, Grogol tanpa mendapatkan pesangon
sepersenpun. Saya menjadi korban PHK sepihak oleh perusahaan tanpa adanya alasan
yang jelas dan tidak mendapatkan pesangon. Padahal saya sudah bekerja selama 11
tahun,

ujar

Singgih

saat

ditemui

di

DPRD

Sukoharjo,

Senin

(10/9).

Dituturkannya, masalah bermula saat ia memperjuangkan delapan karyawan yang belum


digaji sesuai UMK 2011 ke perusahaan. Namun respons yang diharapkan justru di luar
dugaan. Sebab, perusahaan langsung memutasi Singgih dari sebelumnya bekerja sebagai
office boy (OB) ke bagian divisi di luar perusahaan. Setelah itu, ia dua kali dimutasi ke
bagian yang tidak sesuai dengan keahliannya.
Lalu pada 30 Juni ia di-PHK secara sepihak tanpa ada alasan apapun, dan tanpa
mendapatkan pesangon. Ia pun lantas mengajukan keberatan dan melaporkan kasus ini ke
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sukoharjo. Disnaker sudah
memanggil saya dan perusahaan untuk mediasi. Hasilnya, Disnaker menyarankan saya
untuk tetap bekerja di sana namun, perusahaan sudah tidak mau tahu, katanya.
Ia pun melaporkan kasus ini ke Disnaker Semarang dan hasilnya juga tanpa ada kepastian
penyelesaian masalah. Kini kasus ini sudah sekali disidangkan di Pengadilan Hubungan

Industrial Semarang (PHI), jelasnya. Ia pun mempertanyakan kredibilitas


Disnaker yang dinilainya tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Kasus ini juga saya
sampaikan ke DPRD melalui surat agar ikut membantu dalam menangani kasus ini.
Kepala Disnakertras Adi Putranto membenarkan kasus ini sudah masuk ke
Disnakertrans dan sudah dilakukan tiga kali mediasi. Namun mengenai keputusan benar
atau salah siapa, bukan lagi kewajiban dinas karena menurut UU setiap permasalahan
antara karyawan dan perusahaan, Disnaker daerah sifatnya hanya melakukan mediasi dan
anjuran, jelas adi saat dikonfirmasi.
Analisis : Menurut saya, pemecatan secara sepihak oleh perusahaan kepada
karyawannya sangat bertentangan dengan hukum tenaga kerja yang ada di Indonesia.
Dalam hukum tenaga kerja, diatur bagaimana pemutusan hubungan kerja tersebut
dilakukan, tidak boleh dilakukan secara sepihak kecuali sang karyawan memang sudah
meninggal atau sudah habis masa kerjanya. Untuk kasus diatas, Singgih mendapatkan
perlakuan diskriminatif dengan pemecatan tanpa adanya alasan yang jelas, dan
diperparah dengan tidak mendapat pesangon dari perusahaan. Ada baiknya perusahaan
memberikan pesangon pada mantan karyawannya sebagai bentuk penghargaan atas
pengabdian karyawannya selama bekerja di perusahaan tersebut. Dan perusahaan yang
melakukan PHK kepada karyawannya wajib memberikan hak karyawannya berupa
gaji/upah selama karyawan tersebut bekerja. Semoga kasus seperti ini tidak terjadi lagi di
Negara kita.

Contoh 3 : Masalah Etika Bisnis Skandal


Manipulasi Laporan Keuangan PT. Kimia
Farma Tbk.
Permasalahan
PT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah di
Indonesia. Pada audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan
adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit oleh Hans
Tuanakotta & Mustofa (HTM). Akan tetapi, Kementerian BUMN dan Bapepam menilai
bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah
dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002 laporan keuangan Kimia Farma 2001
disajikan kembali (restated), karena telah ditemukan kesalahan yang cukup mendasar.
Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya sebesar Rp 99,56
miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba awal yang
dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan berupa
overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral berupa overstated
persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar Farmasi berupa
overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7
miliar.
Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang
ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur

produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada tanggal
1 dan 3 Februari 2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan nilainya dan
dijadikan dasar penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31 Desember
2001. Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah dengan
dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada
unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi.
Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa KAP yang mengaudit laporan
keuangan PT. Kimia Farma telah mengikuti standar audit yang berlaku, namun gagal
mendeteksi kecurangan tersebut. Selain itu, KAP tersebut juga tidak terbukti membantu
manajemen melakukan kecurangan tersebut.
Selanjutnya diikuti dengan pemberitaan di harian Kontan yang menyatakan
bahwa Kementerian BUMN memutuskan penghentian proses divestasi saham milik
Pemerintah di PT KAEF setelah melihat adanya indikasi penggelembungan keuntungan
(overstated) dalam laporan keuangan pada semester I tahun 2002. Dimana tindakan ini
terbukti melanggar Peraturan Bapepam No.VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan
Keuangan poin 2 Perubahan Akuntansi dan Kesalahan Mendasar poin 3. Kesalahan
Mendasar adalah sebagai berikut: Kesalahan mendasar mungkin timbul dari kesalahan
perhitungan matematis, kesalahan dalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan
interpretasi fakta dan kecurangan atau kelalaian. Dampak perubahan kebijakan akuntansi
atau koreksi atas kesalahan mendasar harus diperlakukan secara retrospektif dengan
melakukan penyajian kembali (restatement) untuk periode yang telah disajikan
sebelumnya dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian sebagai
suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode. Pengecualian dilakukan apabila

dianggap tidak praktis atau secara khusus diatur lain dalam ketentuan masa transisi
penerapan standar akuntansi keuangan baru.
Sanksi dan Denda
Sehubungan dengan temuan tersebut, maka sesuai dengan Pasal 102 Undangundang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal Pasal 61 Peraturan Pemerintah Nomor
45 tahun 1995 Pasal 64 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 tentang
Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal, maka PT Kimia Farma (Persero) Tbk.
dikenakan sanksi administratif berupa denda yaitu sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus
juta rupiah).
Sesuai Pasal 5 Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, maka:
1. Direksi Lama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. periode 1998 Juni 2002 diwajibkan
membayar sejumlah Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) untuk disetor ke Kas
Negara, karena melakukan kegiatan praktek penggelembungan atas laporan keuangan
per 31 Desember 2001.
2. Sdr. Ludovicus Sensi W, Rekan KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa selaku auditor PT
Kimia Farma (Persero) Tbk. diwajibkan membayar sejumlah Rp. 100.000.000,(seratus juta rupiah) untuk disetor ke Kas Negara, karena atas risiko audit yang tidak
berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan oleh PT Kimia
Farma (Persero) Tbk. tersebut, meskipun telah melakukan prosedur audit sesuai
dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), dan tidak diketemukan adanya
unsur kesengajaan. Tetapi, KAP HTM tetap diwajibkan membayar denda karena
dianggap telah gagal menerapkan Persyaratan Profesional yang disyaratkan di SPAP

SA Seksi 110 Tanggung Jawab & Fungsi Auditor Independen, paragraf 04


Persyaratan Profesional, dimana disebutkan bahwa persyaratan profesional yang
dituntut dari auditor independen adalah orang yang memiliki pendidikan dan
pengalaman berpraktik sebagai auditor independen.
Keterkaitan Akuntan Terhadap Skandal PT Kimia Farma Tbk.
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melakukan pemeriksaan atau
penyidikan baik atas manajemen lama direksi PT Kimia Farma Tbk. ataupun terhadap
akuntan publik Hans Tuanakotta dan Mustofa (HTM). Dan akuntan publik (Hans
Tuanakotta dan Mustofa) harus bertanggung jawab, karena akuntan publik ini juga yang
mengaudit Kimia Farma tahun buku 31 Desember 2001 dan dengan yang interim 30 Juni
tahun 2002.
Pada saat audit 31 Desember 2001 akuntan belum menemukan kesalahan
pencatatan atas laporan keuangan. Tapi setelah audit interim 2002 akuntan publik Hans
Tuanakotta Mustofa (HTM) menemukan kesalahan pencatatan alas laporan keuangan.
Sehingga Bapepam sebagai lembaga pengawas pasar modal bekerjasama dengan
Direktorat Akuntansi dan Jasa Penilai Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan yang
mempunyai kewenangan untuk mengawasi para akuntan publik untuk mencari buktibukti atas keterlibatan akuntan publik dalam kesalahan pencatatan laporan keuangan pada
PT. Kimia Farma Tbk. untuk tahun buku 2001.
Namun dalam hal ini seharusnya akuntan publik bertindak secara independen
karena mereka adalah pihak yang bertugas memeriksa dan melaporkan adanya

10

ketidakwajaran dalam pencatatan laporan keuangan. Dalam UU Pasar Modal 1995


disebutkan apabila di temukan adanya kesalahan, selambat-lambamya dalam tiga hari
kerja, akuntan publik harus sudah melaporkannya ke Bapepam. Dan apabila temuannya
tersebut tidak dilaporkan maka auditor tersebut dapat dikenai pidana, karena ada
ketentuan yang mengatur bahwa setiap profesi akuntan itu wajib melaporkan temuan
kalau ada emiten yang melakukan pelanggaran peraturan pasar modal. Sehingga perlu
dilakukan penyajian kembali laporan keuangan PT. Kimia Farma Tbk. dikarenakan
adanya kesalahan pencatatan yang mendasar, akan tetapi kebanyakan auditor mengatakan
bahwa mereka telah mengaudit sesuai dengan standar profesional akuntan publik.
Akuntan publik Hans Tuanakotta & Mustofa ikut bersalah dalam manipulasi laporan
keuangan, karena sebagai auditor independen akuntan publik Hans Tuanakotta &
Mustofa (HTM) seharusnya mengetahui laporan-laporan yang diauditnya itu apakah
berdasarkan laporan fiktif atau tidak.
Keterkaitan Manajemen Terhadap Skandal PT Kimia Farma Tbk
Mantan direksi PT Kimia Farma Tbk. Telah terbukti melakukan pelanggaran
dalam kasus dugaan penggelembungan (mark up) laba bersih di laporan keuangan
perusahaan milik negara untuk tahun buku 2001. Kantor Menteri BUMN meminta agar
kantor akuntan itu menyatakan kembali (restated) hasil sesungguhnya dari laporan
keuangan Kimia Farma tahun buku 2001. Sementara itu, direksi lama yang terlibat akan
diminta pertanggungjawabannya. Seperti diketahui, perusahaan farmasi terbesar di
Indonesia itu telah mencatatkan laba bersih 2001 sebesar Rp 132,3 miliar. Namun
kemudian Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menilai, pencatatan tersebut
mengandung unsur rekayasa dan telah terjadi penggelembungan. Terbukti setelah

11

dilakukan audit ulang, laba bersih 2001 seharusnya hanya sekitar Rp 100 miliar. Sehingga
diperlukan lagi audit ulang laporan keuangan per 31 Desember 2001 dan laporan
keuangan per 30 Juni 2002 yang nantinya akan dipublikasikan kepada publik.
Setelah hasil audit selesai dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik Hans Tuanakotta
& Mustafa, akan segera dilaporkan ke Bapepam. Dan Kimia Farma juga siap melakukan
revisi dan menyajikan kembali laporan keuangan 2001, jika nanti ternyata ditemukan
kesalahan dalam pencatatan. Untuk itu, perlu dilaksanakan rapat umum pemegang saham
luar biasa sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada publik. Meskipun
nantinya laba bersih Kimia Farma hanya tercantum sebesar Rp 100 miliar, investor akan
tetap menilai bagus laporan keuangan. Dalam persoalan Kimia Farma, sudah jelas yang
bertanggung jawab atas terjadinya kesalahan pencatatan laporan keuangan yang
menyebabkan laba terlihat di-mark up ini, merupakan kesalahan manajemen lama.
Kesalahan Pencatatan Laporan Keuangan Kimia Farma Tahun 2001
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menilai kesalahan pencatatan dalam
laporan keuangan PT Kimia Farma Tbk. tahun buku 2001 dapat dikategorikan sebagai
tindak pidana di pasar modal. Kesalahan pencatatan itu terkait dengan adanya rekayasa
keuangan dan menimbulkan pernyataan yang menyesatkan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan. Bukti-bukti tersebut antara lain adalah kesalahan pencatatan apakah
dilakukan secara tidak sengaja atau memang sengaja diniatkan. Tapi bagaimana pun,
pelanggarannya tetap ada karena laporan keuangan itu telah dipakai investor untuk
bertransaksi. Seperti diketahui, perusahaan farmasi itu sempat melansir laba bersih
sebesar Rp 132 miliar dalam laporan keuangan tahun buku 2001. Namun, kementerian

12

Badan Usaha Milik Negara selaku pemegang saham mayoritas mengetahui adanya
ketidakberesan laporan keuangan tersebut. Sehingga meminta akuntan publik Kimia
Farma, yaitu Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM) menyajikan kembali (restated) laporan
keuangan Kimia Farma 2001. HTM sendiri telah mengoreksi laba bersih Kimia Farma
tahun buku 2001 menjadi Rp 99 milliar. Koreksi ini dalam bentuk penyajian kembali
laporan keuangan itu telah disepakati para pemegang saham Kimia Farma dalam rapat
umum pemegang saham luar biasa. Dalam rapat tersebut, akhirnya pemegang saham
Kimia Farma secara aklamasi menyetujui tidak memakai lagi jasa HTM sebagai akuntan
publik.

Dampak Terhadap Profesi Akuntan


Aktivitas manipulasi pencatatan laporan keungan yang dilakukan manajemen
tidak terlepas dari bantuan akuntan. Akuntan yang melakukan hal tersebut memberikan
informasi yang menyebabkan pemakai laporan keuangan tidak menerima informasi yang
fair. Akuntan sudah melanggar etika profesinya. Kejadian manipulasi pencatatan laporan
keuangan yang menyebabkan dampak yang luas terhadap aktivitas bisnis yang tidak fair
membuat pemerintah campur tangan untuk membuat aturan yang baru yang mengatur
profesi akuntan dengan maksud mencegah adanya praktik-praktik yang akan melanggar
etika oleh para akuntan publik.

PEMBAHASAN

13

Keterkaitan Manajemen Risiko Etika disini adalah pada pelaksanaan audit oleh
KAP HTM selaku badan independen, kesepakatan dan kerjasama dengan klien (PT Kimia
Farma Tbk.) dan pemberian opini atas laporan keuangan klien.
Dalam kasus ini, jika dipandang dari sisi KAP HTM, maka urutan stakeholder
mana ditinjau dari segi kepentingan stakeholder adalah:
1. Klien atau PT Kimia Farma Tbk.
2. Pemegang saham
3. Masyarakat luas
Dalam kasus ini, KAP HTM menghadapi sanksi yang cukup berat dengan
dihentikannya jasa audit mereka. Hal ini terjadi bukan karena kesalahan KAP HTM
semata yang tidak mampu melakukan review menyeluruh atas semua elemen laporan
keuangan, tetapi lebih karena kesalahan manajemen Kimia Farma yang melakukan aksi
manipulasi dengan penggelembungan nilai persediaan.
Kasus yang menimpa KAP HTM ini adalah risiko inheren dari dijalankannya
suatu tugas audit. Sedari awal, KAP HTM seharusnya menyadari bahwa kemungkinan
besar akan ada risiko manipulasi seperti yang dilakukan PT. Kimia Farma, mengingat
KAP HTM adalah KAP yang telah berdiri cukup lama. Risiko ini berdampak pada
reputasi HTM dimata pemerintah ataupun publik, dan pada akhirnya HTM harus
menghadapi konsekuensi risiko seperti hilangnya kepercayaan publik dan pemerintah

14

akan kemampuan HTM, penurunan pendapatan jasa audit, hingga yang terburuk adalah
kemungkinan di tutupnya Kantor Akuntan Publik tersebut.
Diluar risiko bisnis, risiko etika yang dihadapi KAP HTM ini cenderung pada
kemungkinan dilakukannya kolaborasi dengan manajemen Kimia Farma dalam
manipulasi laporan keuangan. Walaupun secara fakta KAP HTM terbukti tidak terlibat
dalam kasus manipulasi tersebut, namun hal ini bisa saja terjadi.
Sesuai dengan teori yang telah di paparkan diatas, manajemen risiko yang dapat
diterapkan oleh KAP HTM antara lain adalah dengan mengidentifikasi dan menilai risiko
etika, serta menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan
stakeholder.
1. Mengidentifikasi dan menilai risiko etika
Dalam kasus antara KAP HTM dan Kimia Farma ini, pengidentifikasian dan penilaian
risiko etika dapat diaplikasikan pada tindakan sebagai berikut:
A.) Melakukan penilaian dan identifikasi para stakeholder HTM
HTM selayaknya membuat daftar mengenai siapa dan apa saja para stakeholder
yang berkepentingan beserta harapan mereka. Dengan mengetahui siapa saja para
stakeholder dan apa kepentingannya serta harapan mereka, maka KAP HTM dapat
melakukan penilaian dalam pemenuhan harapan stakeholder melalui pembekalan
kepada para auditor senior dan junior sebelum melakukan audit pada Kimia Farma.
B) Mempertimbangkan kemampuan SDM HTM dengan ekspektasi para stakeholder,
dan menilai risiko ketidak sanggupan SDM HTM dalam menjalankan tugas audit.

15

C) Mengutamakan reputasi KAP HTM


Yaitu dengan berpegang pada nilai-nilai hypernorm, seperti kejujuran, kredibilitas,
reliabilitas, dan tanggung jawab. Faktor-faktor tersebut bisa menjadi kerangka kerja
dalam melakukan perbandingan.
Tiga tahapan ini akan menghasilkan data yang memungkinkan pimpinan KAP HTM
dapat mengawasi adanya peluang dan risiko etika, sehingga dapat ditemukan cara untuk
menghindari dan mengatasi risiko tersebut, serta agar dapat secara strategis mengambil
keuntungan dari kesempatan tersebut.
2. Menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan
stakeholder
KAP HTM dapat melakukan pengelompokan stakeholder dan meratingnya dari
segi kepentingan, dan kemudian menyusun rencana untuk berkolaborasi dengan
stakeholder yang dapat memberikan dukungan dalam penciptaan strategi, yang dapat
memenuhi harapan para stakeholder HTM.

16

Contoh 4 : Kasus Pelanggaran Etika Bisnis


Produk HIT

Saya ambil contoh dari iklan produk HIT. Produk HIT dianggap merupakan anti
nyamuk yang efektif dan murah untuk menjauhkan nyamuk dari kita. Tetapi, ternyata
murahnya harga tersebut juga membawa dampak negatif bagi konsumen HIT. Telah
ditemukan zat kimia berbahaya di dalam kandungan kimia HIT

yang dapat

membahayakan kesehatan konsumennya, yaitu Propoxur dan Diklorvos. 2 zat ini


berakibat buruk bagi manusia, antara lain keracunan terhadap darah, gangguan syaraf,
gangguan pernapasan, gangguan terhadap sel pada tubuh, kanker hati dan kanker
lambung. Obat anti-nyamuk HIT yang dinyatakan berbahaya yaitu jenis HIT 2,1 A (jenis
semprot) dan HIT 17 L (cair isi ulang). Departemen Pertanian juga telah mengeluarkan
larangan penggunaan Diklorvos untuk pestisida dalam rumah tangga sejak awal 2004
(sumber : Republika Online). Hal itu membuat kita dapat melihat dengan jelas bahwa
pemerintah tidak sungguh-sungguh berusaha melindungi masyarakat umum sebagai
konsumen. Produsen masih dapat menciptakan produk baru yang berbahaya bagi
konsumen tanpa inspeksi pemerintah.
Jenis Pelanggarannya adalah pelanggaran prinsip etika bisnis yang dilakukan
yaitu prinsip kejujuran dimana perusahaan tidak memberikan peringatan kepada
konsumen mengenai kandungan yang ada pada produk mereka yang sangat berbahaya
untuk kesehatan dan perusahaan juga tidak member tahu penggunaan dari produk

17

tersebut yaitu setelah suatu ruangan di semprot oleh produk itu semestinya di tunggu 30
menit terlebih dahulu baru kemudian dapat dimasuki / digunakan ruangan tersebut.
Pelanggaran yang dilakukan PT. Megasari Makmur mengakibatkan dari 2 zat
kimia Propoxur dan Diklorvos yang berbahaya bagi manusia mengakibatkan keracunan
terhadap darah, gangguan syaraf, gangguan pernapasan, gangguan terhadap sel tubuh,
kanker hati dan kanker lambung.
Kita dapat melihat dengan jelas bahwa pemerintah tidak bersungguh-sungguh
berusaha melindungi masyarakat umum sebagai konsumen karena masih banyak
produsen menciptakan produk baru yang berbahaya bagi konsumen tanpa inspeksi
pemerintah.
Jika dilihat menurut UUD, PT. Megasari Makmur sudah melanggar beberapa
pasal, yaitu:
1. Pasal 4, Hak Konsumen
-

Ayat 1: hak atas kenyamanan, jeamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi


barang / jasa

Ayat 3 : hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang / jasa
PT. Megasari Makmur tidak pernah member peringatan kepada konsumen tentang

adanya zat-zat berbahaya di dalam produk mereka. Akibat nya kesehatan konsumen
dibahayakan dengan alas an mengurangi biaya produksi HIT.

18

2. Pasal 7, Kewajiban Pelaku Usaha


-

Ayat 2 : memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi
dan jaminan barang / jasa serta member penjelasan penggunaan, perbaikan dan
pemeliharaan

PT. Megasari Makmur tidak pernah menberi indikasi penggunaan pada produk
mereka, dimana seharusnya apabila sebuah kamar disemprot dengan pertisida, harus
dibiarkan selama setengah jam sebelum boleh dimasuki lagi.
3. Pasal 8
-

Ayat 1 : pelaku usaha dilarang memproduksi/memperdagangkan barang/jasa


yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan

PT. Megasari Makmur tetap meluncurkan produk mereka walaupun produk HIT
tersebut tidak memenuhi standard an ketentuan yang berlaku bagi barang tersebut.
Seharusnya, produk HIT tersebut sudah ditarik dari peredaran agar tidak terjadi halhal yang tidak di inginkan, tetapi mereka tetap menjual walaupun sudah ada korban
dari produknya.
4. Pasal 19
-

Ayat 1 : "pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, dan kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang / jasa yang
dihasilkan atau di perdagangkan

Ayat 2 : ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa
pengembalian uang atau penggantian barang/jasa yang sejenis atau setara

19

nilainya, atau perawatan kesehatan dan pemberian santunan yang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
-

Ayat 3 : pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 hari setelah
tanggal transaksi

Menurut pasal tersebut PT. Megasari Makmur harusmembarikan ganti rugi kepada
konsumen karena telah merugikan para konsumen.

Kesimpulan
Pelanggaran etika bisnis itu dapat melemahkan daya saing hasil industry di pasar
internasional. Ini bias terjadi sikap para pengusaha kita. Lebih extreme bila pengusaha
Indonesia menganggap remeh etika bisnis yang berlaku secara umum dan tidak mengikat
itu. Kencendrungan makin banyaknya pelanggaran etika bisnis membuat ke prihatinan
banyak pihak. Pengabdian etika bisnis dirasakan akan membawa kerugian tidak saja buat
masyarakat, tetapi juga bagi tatanan ekonomi nasional. Disadari atau tidak, para
pengusaha yang tidak memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan nama mereka
sendiri dan Negara.
Seperti pada kasus PT Megarsari Makmur (produk HIT) masalah yang terjadi
dikarenakan kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai kandungan-kandungan apa
saja yang terkandung dalam produk tersebut.

20

Contoh 5 : Masalah Etika Bisnis Praktek


Monopoli yang Tidak Sehat
TEMPO Interaktif, Jakarta: Perkara dugaan pelanggaran praktek monopoli yang
dilakukan PT Carrefour Indonesia memasuki tahap baru. Hasil rapat pleno Komisi
Pengawas Persaingan Usaha memutuskan perkara dugaan monopoli yang dilakukan
Carrefour dilanjutkan ke pemeriksaan lanjutan.
Hasil pemeriksaan pendahuluan semakin memperkuat dugaan pelanggaran
sehingga perkara dilanjutkan, ujar Direktur Komunikasi Komisi Pengawas Persaingan
Usaha, Djunadi saat dihubungi Tempo, Rabu (13/5).
Selain itu pelanggaran pasal yang dikenakan juga bertambah dari sebelumnya dua
pasal menjadi empat pasal Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Keempat pasal tersebut antara lain, pasal 17 tentang penguasaan produksi,
pemasaran dan jasa; pasal 20 tentang penetapan harga rendah untuk menyingkirkan
pesaing; pasal 25 tentang penyalahgunaan posisi dominan; dan pasal 28 tentang
peleburan badan usaha yang menimbulkan monopoli.
Ketua tim pemeriksa KPPU Dedie S. Martadisastra menuturkan, penambahan
pasal ini dimungkinkan karena adanya data-data baru yang didapat dari pemeriksaan
pendahuluan. Kami telah memanggil pemasok, Departemen Perdagangan, dan
Carrefour. Hasilnya justru semakin memperkuat bukti pelanggaran, kata dia.
Langkah ini juga dilakukan karena tidak ada perubahan perilaku yang dilakukan
Carrefour dalam batas pemeriksaan pendahuluan yang berakhir Rabu (13/5) ini.

21

Djunaidi menjelaskan, dalam pemeriksaan lanjutan, KPPU tidak hanya berwenang


meminta keterangan dari pihak terkait, tapi juga memeriksa dokumen termasuk
persyaratan pedagangan (trading term) yang ditetapkan Carrefour kepada pemasok. Isu
hukumnya lebih komprenensif, pembuktian bukan sekedar klarifikasi tapi lebih
mendetail, tutur Djunaidi.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha memperkarakan akuisisi Carrefour dengan
dugaan tindakan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat berdasarkan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. Pasca akuisisi dengan PT Alfa Retailindo,
Carrefour menguasai pasar retail 48,38 persen, meningkat dari sebelumnya 37,98 persen.
Carrefour juga menguasai 66,73 persen pasar pemasok dari sebelumnya 44,72 persen.
Melonjaknya pangsa pasar tersebut membuat perusahaan itu leluasa menetapkan biaya
tinggi kepada pemasok.

22

Contoh 6 : Kasus Permasalahan Etika Bisnis XXX


Air, Maskapai yang Paling Sering Terlambat
XXX Air menduduki peringkat teratas maskapai yang paling sering terlambat atau
delay pada periode Januari-November 2011. Hasil itu didasarkan pada daftar maskapai
penerbangan komersil penerbangan yang dirilis Kementerian Perhubungan dan data
Direktorat Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara, Senin (9/1)
Dari

data

tersebut

angka

ketepatan

waktu

penerbangan

(on

time

performance/OTP) yang diraih XXX Air rata-rata sebesar 66,78 persen. Peringkat kedua
maskapai yang sering terlambat adalah ABC Airlines dengan angka 68,43 persen diikuti
FGH Air (69,87 persen), KLM (71,09 persen) dan MNO Air (72,08 persen).
Adapun, maskapai yang dinilai paling tepat waktu adalah JKL dengan angka
ketepatan waktu rata-rata 84,36%. Selain itu, Direktorat Angkutan Udara Ditjen
Perhubungan Udara juga mengeluarkan data maskapai yang paling sering melakukan
pembatalan penerbangan.
Peringkat teratas diduduki ABC Airlines dengan angka rata-rata 9,21 persen
penerbangannya dibatalkan. Kemudian diikuti FGH Air (4,11 persen), JKL (0,82 persen),
XXX (0,73 persen), MNO Air (0,54 persen) dan KLM (0,16 persen).
Seperti diketahui, untuk mengurangi delay atau keterlambatan penerbangan,
Kementerian Perhubungan telah memberlakukan Peraturan Menteri Perhubungan
(Permenhub) No.77/2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut, di antaranya soal
kompensasi tunai bagi maskapai yang delay lebih dari empat jam kepada setiap
penumpangnya.

23

Keterlaluan, XXX Air Harus Dihukum!


Pemerintah harus memberikan hukuman kepada XXX Air karena seringnya
melakukan delay. Pemerintah harus tegas meminta XXX Air melakukan perbaikan dalam
upaya meningkatkan keselamatan penumpang dan ketepatan jadwal penerbangan.
Hal itu ditegaskan Direktur Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK),
FW. Dia menuturkan, kejadian delay XXX Air sebenarnya bukan kabar baru lagi, tanpa
sebab yang jelas dan seringkali absurd. Selalu masalah teknis untuk persiapan pesawat
terbang sebelum take off. Memang ada kepentingan keselamatan penumpang kalau dibuat
logikanya. Namun, tingkat delay XXX Air membuat orang seringkali membuat
stereotype bahwa XXX Air is Delay. Apalagi delay sampai di atas 7 jam, tentu bukan
waktu yang singkat. Lalu, mengapa maskapai tidak mencari inisiatif dengan
menggunakan pesawat lain, atau mengalihkan penumpang kepada maskapai lainnya,
kata FW, hari ini.
Hal itu dikemukakan FW terkait delay yang dialami penumpang Lion Air pada
Senin (21/5) lalu. Para penumpang XXX Air JT 231 IT harus menunggu di atas 7 jam di
terminal keberangkatan domestik Bandara Internasional Polonia, Medan, sebelum
diterbangkan ke Padang, Sumatera Barat. Penerbangan mereka tertunda karena kaca
depan pesawat yang akan mereka tumpangi pecah. Dijadwalkan pesawat XXX Air rute
Medan-Padang itu seharusnya berangkat sekitar pukul 06.30 WIB. Namun, penerbangan
baru bisa dilakukan sekitar pukul 15.00 setelah perbaikan pesawat rampung.
Menurut FW, jika XXX Air tidak punya pesawat cadangan, sudah sangat patut
maskapai tersebut diberi sanksi yang lebih berat lagi. Karena sudah sedemikian berani
bermain-main dengan pelayanan ratusan atau bahkan ribuan manusia di waktu yang lain.

24

Apalagi kalau itu dilakukan demi mencapai efesiensi perusahaan untuk memperoleh
keuntungan sebesar-besarnya, ungkapnya.
FW mengatakan, dalam banyak kasus, XXX Air tidak proaktif memberikan
informasi mengenai jadwal yang tertunda. Padahal, informasi jadwal penerbangan adalah
moment of truth bagi pelanggan. Meskipun banyak yang sudah menanyakan pada saat
check in, namun menurutnya tetap saja tidak ada informasi yang jelas. Hanya pada saat
orang-orang mulai gerah dan ingin marah, akhirnya XXX Air memberikan informasi
yang tetap saja direvisi karena tidak sesuai jadwal, sebutnya.
FW menambahkan, belajar dari kasus itu, tindakan tegas harusnya dilakukan oleh
pemerintah kepada maskapai XXX Air akibat terus menurunnya layanannya akhir-akhir
ini. XXX Air diharuskan melakukan perbaikan dalam upaya meningkatkan keselamatan
dan ketepatan jadwal penerbangan. Untuk itu, komitmen perusahaan XXX Air harus
lebih berpihak kepada penumpangnya. Kalau tidak, maka upaya mengurangi produksi
dengan mengistirahatkan (stand by) pesawatnya perlu ditempuh kembali, bebernya.
Hal itu dikatakan FW, karena jika merujuk data, XXX Air sangat sering delay
sampai-sampai sempat dinobatkan sebagai Juara Delay pada 2011. Pada Agustus
2011, Dinas Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah mengumumkan bahwa
persentasi ketepatan waktu terbang (ontime departures) XXX Air hanya mencapai 67
persen. Akibat XXX Air ketagihan delay, maskapai itu pun telah dijatuhi sanksi dari oleh
Kementerian Perhubungan dengan wajib mengistirahatkan 13 pesawatnya, pada Juli
2011. Maksud hukuman tersebut antara lain adalah agar jumlah pilot dengan jumlah
armada pesawat yang ada bisa lebih proporsional, tandasnya.

25

Komentar:
Menurut saya XXX Air sudah melanggar hak para penumpangnya untuk
mendapatkan pelayanan yang baik. Karena akibat keterlambatan penerbangan tidak
terbayangkan berapa kerugian yang diterima oleh ratusan penumpang, baik secara materil
maupun imateril. Oleh karena itu pantas jika XXX Air harus mengstirahatkan pesawatpesawatnya untuk mendapatkan perawatan yang baik sehingga dapet memenuhi
kewajibannya pada para penumpang, karena alasan utama keterlambatan penerbangan
karena masalah teknis pada pesawat. Saran yang bisa saya berikan adalah agar XXX Air
lebih memperhatikan fasilitas penunjang penerbangan dan segera menginformasikan
kepada penumpang berapa lama pesawat akan mengalami keterlambatan sehingga
penumpang bisa memilih keputusan apa yang harus dilakukan karena keterlambatan
tersebut sehingga tidak membiarkan penumpang menunggu tanpa kepastian pesawat akan
berangkat.

26

Contoh 7 : Masalah Etika Bisnis Gaji TKI di


Malaysia yang Tidak Dibayarkan

Kasus tenaga kerja Indonesia (TKI) yang menghadapi permasalahan di Malaysia,


pada 2012 terbanyak masih soal gaji yang tidak dibayarkan oleh majikannya. Kasus
berikutnya adalah soal disharmoni dalam pekerjaan, eksploitasi ataupun pemberhentian
secara sepihak. Data KBRI KualaLumpur menyebutkan bahwa kasus gaji tidak dibayar
sebanyak 1001 kasus, disharmoni 275 kasus, eksploitasi 51 kasus, PHK sepihak 13 kasus
dan kasus ketidaksesuaian pekerjaan mencapai 174 kasus.
Kasus lainnya yang dihadapi oleh para TKI adalah kekerasan fisik sebanyak 57
kasus, perdagangan manusia (59 kasus), sakit atau stress (52 kasus), terlantar/ilegal (90
kasus), tindak pidana kriminal (16 kasus), meninggal dunia (50 kasus) ataupun
kecelakaan (15 kasus).Jika ditotal pada 2012 secara keseluruhan kasus TKI bermasalah
itu mencapai 1865 kasus dengan rincian, kasus terkait pekerjaan sebanyak 1514 kasus
dan kasus non pekerjaan (non labour cases) sekitar 351 kasus. Atase ketenagakerjaan
KBRI Kuala Lumpur, Agus Triyanto menjelaskan para TKI bermasalah tersebut memang
perlu diberikan bantuan terutama menguruskan agar majikannya itu membayarkan hak
gaji para TKI tersebut.
"Kami membantu memfasilitasi penyelesaian kasus mereka dengan melakukan
pertemuan dengan majikan agar memberikan hak gaji para TKI yang bekerja kepadanya,"
kata Agus.Namun demikian, prosesnya agak panjang dan apabila kasus tersebut sudah
masuk ke tingkat mahkamah (pengadilan) maka bisa berbulan-bulan penanganannya.

27

Menurut dia, kasus-kasus TKI yang menghadapi permasalahan itu disebabkan


banyak faktor dan bermula dari pola rekrutmen yang belum sepenuhnya terarah.Misalnya
pada persiapan kemampuan para pekerja yang tidak maksimal, tempat penampungan
untuk sekedar menunggu pemberangkatan, kurang pembekalan kemampuan bekerja dan
latar belakang pendidikan yang rendah (bahkan ada yang buta huruf).Agus menjelaskan
penyebab timbulnya masalah TKI di luar negeri mencakup soal rekrutmen, pelatihan dan
dokumentasi yang tidak sesuai perundang-undangan yang berlaku.

28

Contoh 8 : Kasus Etika Bisnis Indomie di Taiwan

Akhir-akhir ini makin banyak dibicarakan perlunya pengaturan tentang perilaku


bisnis terutama menjelang mekanisme pasar bebas. Kasus Indomie yang mendapat
larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut mengandung bahan pengawet yang
berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie
adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut
biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada Jumat (08/10/2010)
pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari
peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak
memasarkan produk dari Indomie.
Kasus Indomie kini mendapat perhatian Anggota DPR dan Komisi IX akan segera
memanggil Kepala BPOM Kustantinah. Kita akan mengundang BPOM untuk
menjelaskan masalah terkait produk Indomie itu, secepatnya kalau bisa hari Kamis ini,
kata Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa
(12/10/2010). Komisi IX DPR akan meminta keterangan tentang kasus Indomie ini bisa
terjadai, apalagi pihak negara luar yang mengetahui terlebih dahulu akan adanya zat
berbahaya yang terkandung di dalam produk Indomie.
A Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang
terkandung di dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam
benzoat) adalah bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan
lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk
produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%. Ketua BPOM
29

Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus
Indomie ini. Kustantinah menjelaskan bahwa benar Indomie mengandung nipagin, yang
juga berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan tersebut. tetapi kadar kimia yang
ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk dikonsumsi, lanjut
Kustantinah. Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi
yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per kilogram dalam
makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa
mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker.
Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius
Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang
regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan
anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi
di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus
Indomie ini.

30

Contoh 9 : Kasus Permasalahan Etika Bisnis


Telkomsel dan XL
Salah satu contoh problem etika bisnis yang marak pada tahun kemarin adalah
perang provider celullar antara XL dan Telkomsel. Berkali-kali kita melihat iklan-iklan
kartu XL dan kartu as/simpati (Telkomsel) saling menjatuhkan dengan cara saling
memurahkan tarif sendiri. Kini perang 2 kartu yang sudah ternama ini kian meruncing
dan langsung tak tanggung-tanggung menyindir satu sama lain secara vulgar. Bintang
iklan yang jadi kontroversi itu adalah SULE, pelawak yang sekarang sedang naik daun.
Awalnya Sule adalah bintang iklan XL. Dengan kurun waktu yang tidak lama
TELKOMSEL dengan meluncurkan iklan kartu AS. Kartu AS meluncurkan iklan baru
dengan bintang sule. Dalam iklan tersebut, sule menyatakan kepada pers bahwa dia sudah
tobat. Sule sekarang memakai kartu AS yang katanya murahnya dari awal, jujur. Perang
iklan antar operator sebenarnya sudah lama terjadi. Namun pada perang iklan tersebut,
tergolong parah. Biasanya, tidak ada bintang iklan yang pindah ke produk kompetitor
selama jangka waktu kurang dari 6 bulan. Namun pada kasus ini, saat penayangan iklan
XL masih diputar di Televisi, sudah ada iklan lain yang menjatuhkan iklan lain dengan
menggunakan bintang iklan yang sama.
Dalam kasus ini, kedua provider telah melanggar peraturan-peraturan dan prinsipprinsip dalam Perundang-undangan. Dimana dalam salah satu prinsip etika yang diatur di
dalam EPI, terdapat sebuah prinsip bahwa Iklan tidak boleh merendahkan produk
pesaing secara langsung maupun tidak langsung. Pelanggaran yang dilakukan kedua
provider ini tentu akan membawa dampak yang buruk bagi perkembangan ekonomi,

31

bukan hanya pada ekonomi tetapi juga bagaimana pendapat masyarakat yang melihat dan
menilai kedua provider ini secara moral dan melanggar hukum dengan saling bersaing
dengan cara yang tidak sehat. Kedua kompetitor ini harusnya professional dalam
menjalankan bisnis, bukan hanya untuk mencari keuntungan dari segi ekonomi, tetapi
harus juga menjaga etika dan moralnya dimasyarakat yang menjadi konsumen kedua
perusahaan tersebut serta harus mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat.

32

Contoh 10 : Kasus Etika Bisnis PT.


Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom)

PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) optimis dapat menyelesaikan dengan


baik pembangunan backbone serat optik Mataram Kupang (Mataram-Kupang Cable
System) sepanjang 1.041 km meski ada penundaan peresmian dimulainya proyek
tersebut. Demikian dinyatakan Vice President Public and Marketing Communication
Telkom, Eddy Kurnia.
Peresmian

dimulainya

proyek

Mataram-Kupang

Cable

System

semula

dijadwalkan pada 12 Oktober 2009 oleh President Susilo Bambang Yudhoyono. Namun
karena jadwal Presiden yang begitu padat, rencana peresmian sedang dijadwal ulang.
Seperti disampaikan Sekjen Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar, Minggu (11/10),
sejatinya peresmian akan dilakukan pada Senin (12/10). Namun karena ada beberapa hal
teknis yang belum selesai, maka diundur.
Diungkapkan Basuki, berdasarkan informasi yang diterimanya proses tender
untuk vendor yang dimiliki Telkom belum selesai. Saya dengar tinggal tiga vendor.
Tetapi ini tidak bisa main tunjuk langsung. Saya setuju jika mengikuti peraturan saja.
Lebih baik ditunda ketimbang mencari terobosan dalam tender tetapi bermasalah nanti di
mata hukum, jelas Basuki Yusuf Iskandar.
Ditegaskan Eddy Kurnia, penundaan peresmian proyek yang juga dikenal sebagai
bagian dari Proyek Palapa Ring tersebut sama sekali tidak akan mengganggu jadwal
proyek secara keseluruhan yang ditargetkan selesai pada tahun 2010. Telkom akan terus

33

fokus

menyiapkan

sebaik

mungkin

segala

sesuatunya,

baik

proses

maupun

penggelarannya, ujarnya.
Palapa Ring merupakan megaproyek pembangunan tulang punggung (backbone)
serat optik yang diinisiasi oleh Pemerintah (Cq. Menkominfo), terdiri dari 35.280
kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer serat optik
bawah tanah (inland cable). Kabel backbone yang terdiri dari 7 cincin (ring) melingkupi
33 provinsi dan 460 kabupaten di Kawasan Timur Indonesia.
Telkom memandang penundaan peresmian dimulainya proyek Palapa Ring
sebagai peluang untuk lebih menyempurnakan dan mereview kembali keseluruhan
pelaksanaan proyek tersebut sehingga seluruh proses tidak ada yang tertinggal. Mengenai
waktu peresmian proyek Mataram Kupang Cable System tersebut, Telkom akan
mengikuti jadwal yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dalam hal event ini, Telkom dalam
posisi ikut saja, artinya kapan saja Pemerintah berkeinginan memulai, kami siap, tegas
Eddy Kurnia.
Mataram-Kupang Cable System merupakan bagian dari proyek pembangunan
backbone di KTI yang mencakup Mataram-Kupang, Manado-Sorong, dan FakfakMakassar. Proyek Mataram Kupang Cable System merupakan inisiatif Telkom untuk
mendukung percepatan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang
diharapkan selesai akhir September 2010.
Backbone serat optik Mataram Kupang (Mataram Kupang Cable System),
memiliki 6 Landing Point di kota Mataram, Sumbawa Besar, Raba, Waingapu dan
Kupang, serta 810 Km darat dengan 15 node di kota Mataram, Pringgabaya, Newmont,

34

Taliwang, Sumbawa Besar, Ampang, Dompu, Raba, Labuhan Bajo, Ruteng, Bajawa,
Ende, Maumere, Waingapu, dan Kupang.
Percepatan pembangunan backbone Mataram Kupang didorong oleh perubahan
mendasar pada layanan Telkom. Bila pada masa lalu layanan Telkom lebih banyak
berbasis voice, maka dewasa ini telah berubah menjadi TIME (Telecommunication,
Information, Media dan Edutainment), jelas Edy Kurnia. Ia meyakini KTI sebagaimana
wilayah lain di Indonesia sangat memerlukan layanan TIME untuk lebih memajukan
wilayahnya.

35