Anda di halaman 1dari 3

Analisis Evolusi Struktur pada Regional Pulau Jawa

Roishe Miyafto Prabowo1


21100113120004
1

Teknik Geologi Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Abstrak
Pulau Jawa merupakan pulau yang terkompleks dalam susunan geologi di-indenesia. Yang dimana pulau jawa terletak pada
koordinat 1101620 - 110 3029 Bujur Timur dan 6 5534 - 7 0704 Lintang Selatan dengan luas daerah sekitar 391,2 Km2
Dalam hal ini menunjukkan kondisi wilayah pulau jawa merupakan daerah yang tergolong dari iklim tropis. Sedangkand dari interpretasi
melalui citra satelit yang dimana daerah tersebut terdapat adanya berbukit yang sangat terjal, adanya suatu jenis patahan yang dapat
mengindikasi banyaknya struktur geologi dipulau jawa. Selain itu pulau jawa yang merupakan daerah yang terkena pergerakkan lempeng
secara subdiksi khususnya diwilayah selatan ini menyebabkan ditemukan batuan yang berada diwilayah bawah laut ikut treangkat yang
dimana akibat dari zona malange didaerah selatan tersebut. Serta ditemukan litologi batuan yang sama pada daerah tenggara pulau
kalimatan yang terletak dizona meratus hal ini mengindikasikan bahwa pergerkan lempeng tersebut mengalami evolusi subdiksi dari
pergekkan lempeng eurasi dengan hindia-austalia.
Pada daerah pualu jawa diabagi atas tiga bagian yakni bagian zona remabang, kendang, kadeam dan Madura yang diama daerah
mengalami tiga jenis pemebentukan.
Keywords: Type your keywords here, separated by semicolons ;

Pendahuluan
Paper ini disajikan sebagai sarana media informasi
yang dapat memabantu pembaca untuk membahas tentang
sejarah evolusi pulau jawa menurut interpretasi penulis
tersendiri. Selain itu juga sebagai tugas dari pratikum
penulis dalam acara bentang alam struktrural.
Tinjauan Pustaka
Pulau Jawa merupakan pulau yang berada diwiliyah
adminstrasi daerah negara republik indonesia yang dimana
daerah ini secara administratif terbagi atas beberapa
provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, DI Yogyakarta.
Secara ilmu geologi pulau jawa terbagi atas beberapa
jenis yakni adanya sktuktur primer dan struktur sekunder,
yang dimana struktur primer adalah dari jenis litologi pada
daerah jawa sedangkan struktur yang mengenai proses
berikutnya contohnya berupa patahan yakni berupa jenis
yang batuan yang telah mengalami deformasi sehingga
batuan menerima tegasan yang dimana tegasan membuat
resistensi batuan ini menjadi melemah sehingga menjadi
patah yang disebut dengan patahan. Setelah terjadi patahan
maka dengan gaya gravity massa batuan yang densitasnya
tinggi akan turun atau densittasnya rendah akan naik hal ini
yang disebut dengan sesar. Dan pada litologi yang dimana
batuan bersifat brittle atau hanya dapat menyimbangi

densitas atau tegasan yang berasal dari batuan sehingga


menyebabkan terjadi deformasi yang membentuk seperti
perlapisan yang memiliki bentuk tersendri.
Tektonik adalah suatu gaya yang dimana bergeraknya
salah satu lempeng pada permukaan bumi sehingga
menyebabkan adanya tiga kemungkinan pergerakkan
tersebut diantaranya ialah pergerekkan yang saling
menunjam yang disebut dengan konvergen, sedangkan
yang saling menjauh disebut dengan konvergen dan yang
terakhir adalah trnasform yakni berupa pergerakan lempeng
yang saling bertemu lalu mengeser ke kanan atau kiri dan
tidak saling bertumbukan.
Metodologi
Didalam penulisan paper ini penulis memperoleh dan
menganalisa dari berbgai sumber yakni melalui bidang
studi pustaka. Yang dimana awalnya penulis membaca
referensi-referensi yang berkaitan dengan masalah yang
akan dibahas, lalu penulis mencoba memahami dari
referensi-referensi yang telah dibaca dan menganalisa
tentang masalah tersebut menurut pehamanan penulis
sendiri.
Selain itu penulis juga meminta pendapat tentang
masalah yang akan dipaper sesuai pada bidangnya masingmasing. Dengan cara meminta pendapat bagaimana tentang
permasalahan ini.

Pembahasan
Jalur
penunjaman
Kapur-Paleosen
yang
ditunjukkan oleh singkapan batuan Komplek Melange Luk
Ulo-Karangsambung (Asikin, 1974; Hamilton, 1979;
Suparka, 1988; Parkinson et al., 1998) mempunyai arah
umum struktur TL-BD yang mengarah ke arah Pegunungan
Meratus di ujung tenggara Kalimantan. Pulunggono dan
Martodjojo (1994) mengenali tiga arah struktur utama di
Pulau Jawa: Arah timurlaut-baratdaya atau Pola Meratus,
arah utara-selatan atau Pola Sunda, dan arah timur-barat
atau Pola Jawa .
Disamping tiga arah struktur utama ini, masih
terdapat satu arah struktur utama lagi, yakni arah baratlauttenggara yang disebut Pola Sumatra (Satyana, 2007). Pola
Meratus dominan di kawasan lepas pantai utara,
ditunjukkan oleh tinggian-tinggian Karimunjawa, Bawean,
Masalembo dan Pulau Laut (Guntoro, 1996). Di Pulau
Jawa arah ini terutama ditunjukkan oleh pola struktur
batuan Pra-Tersier di daerah Luk Ulo, Kebumen Jawa
Tengah. Pola Sunda yang berarah utara-selatan umum
terdapat di lepas pantai utara Jawa Barat dan di daratan di
bagian barat wilayah Jawa Barat. Arah ini tidak nampak di
bagian timur pola Meratus. Pola Jawa yang berarah timurbarat merupakan pola yang mendominasi daratan Pulau
Jawa, baik struktur sesar maupun struktur lipatannya. Di
Jawa Barat pola ini diwakili oleh Sesar Baribis, serta sesar
sungkup dan lipatan di dalam Zona Bogor. Di Jawa Tengah
sesar sungkup dan lipatan di Zona Serayu Utara dan
Serayu Selatan mempunyai arah hampir barat-timur.
Di Jawa Timur pola ini ditunjukkan oleh sesarsesar sungkup dan lipatan di Zona Kendeng. Struktur Arah
Sumatra terutama terdapat di wilayah Jawa Barat dan di
Jawa Tengah bagian timur struktur ini sudah tidak nampak
lagi. Struktur arah barat-timur atau Arah Jawa, di cekungan
Jawa Timur ternyata ada yang lebih tua dari Miosen Awal,
dan disebut Arah Sakala (Sribudiyani et al., 2003). Struktur
Arah Sakala yang utama adalah zona sesar RMKS
(Rembang-Madura-Kangean-Sakala)
dan
merupakan
struktur yang menginversi cekungan berisi Formasi PraNgimbang yang berumur Paleosen sampai Eosen Awal
sebagai endapan tertua. Sebagian besar batuan tertua di
Jawa, yakni yang berumur Pra-Tersier sampai Paleogen dan
dianggap sebagai batuandasar Pulau Jawa, tersingkap
di wilayah Jawa
Bagian
timur.
Mereka
tersingkap
di
Komplek Melange Luk Ulo-Karangsambung, Kebumen
(Asikin, 1974; Suparka, 1988); Nanggulan, Kulonprogo
(Rahardjo et al., 1995); dan Pegunungan Jiwo, BayatKlaten (Sumarso dan Ismoyowati, 1975; Samodra dan
Sutisna, 1997). Sedangkan untuk batuan yang lebih muda,
yakni yang berumur Neogen, telah banyak penelitian
dilakukan terhadapnya (Van Bemmelen, 1949; Marks,

1957; Sartono, 1964; Nahrowi et al, 1978; Pringgoprawiro, 1983; De Genevraye dan Samuel, 1972; SoeriaAtmadja et al., 1994). Pada umumnya penelitian geologi
Tersier ini menyepakati fenomena struktur atau
tektonik yang berarah umum timur-barat sebagai hasil
interaksi lempeng dengan zona tunjaman di selatan Jawa
dan searah dengan arah memanjang Pulau Jawa.

Kesimpulan
Struktur daerah jawa merupakan dari suatu zona
tumbukkan dari kedua lempeng yakni lempeng hindiaaustralia dengan lempeng eurasia yang dimana lempeng
eurasia sebagai lempeng benua sehingga terjadi zona yang
saling tarik menarik dengan bergerakkan yang berlawanan
akibat dari terjadi zona subduksi sehingga pada bagian
selatan pulau jawa terjadi zona Malange(bancuh atau
batuan campur aduk). Sehingga dapat dikatakan struktur
pulau jawa ini sangat kompleks.
Referensi
[1] Noor, Djauhari.2009. Geologi Perancaanan. Graha Ilmu: Yogyakarta

Lampiran

Gambar 1: Kerangka tektonik Pulau Jawa (modifikasi dari


Baumann, 1982; dan Simandjuntak dan Barber 1996).

Gambar 5: Pola struktur Pulau Jawa (Martodjojo & Pulunggono,


1994) (RMKS = Rembang-Madura-Kangean-Sakala).
Gambar 1: Elemen-elemen tektonik di wilayah tepi tenggara
Daratan Sunda (Sundaland) (Hamilton, 1979).

Gambar 3: Jalur magmatik Tersier Pulau Jawa (Soeria-Atmadja


et al., 1994).

Gambar 4: Jalur subduksi Kapur sampai masa kini di Pulau Jawa


(Katili 1975, dalam Sujanto et al., 1977).