Anda di halaman 1dari 13

A.

Judul : Reaksi Eksoterm dan Endoterm

B. Tujuan Percobaan

Peserta didik dapat menyusun sistem tertutup agar dapat menentukan jenis reaksi.
Peserta didik dapat membedakan antara reaksi eksoterm dan endoterm berdasarkan
perubahan suhu reaksi
Peserta didik dapat menentukan jenis reaksi berdasarkan perubahan suhu yang terjadi.

C. Dasar Teori

Dalam termokimia, zat-zat yang disebut sistem adalah zat-zat yang kita reaksikan
dalam tabung reaksi, sedangkan di luar zat-zat pereaksi disebut lingkungan. Untuk mempelajari
sistem, kita dapat melangsungkan suatu reaksi dalam dua kondisi, yaitu terbuka dan tertutup.
Sistem terbuka artinya hal-hal yang kita pelajari berada di bawah tekanan udara luar yang relatif
konstan dan nilainya berkisar 1 atm. Contoh sistem terbuka adalah penguapan air laut,
pengaratan berbagai macam logam, usia terbentuknya buah pada tanaman tertentu, dan lain-lain.
Sistem tertutup disebut juga sistem terisolasi, artinya sistem yang dilakukan dalam ruang
tertutup. Dalam sistem tertutup, volume sistem relatif konstan, sedangkan tekanannya akan
berubah. (Shidiq Premono. 2009.)

Pada kondisi tekanan tetap, panas yang diserap atau diterima sistem disebut dengan
entalpi. Kita tak dapat mengukur entalpi secara langsung, tetapi yang diukur adalah perubahan
entalpi (H). Perubahan entalpi adalah banyaknya kalor yang dilepaskan atau yang diserap oleh
sistem pada tekanan tetap (H = q). Reaksi kimia ketika terjadi dalam suatu wadah yang terbuka,
pada umumnya akan mengalami pertambahan energi atau kehilangan energi dalam bentuk panas.
Jika suatu reaksi yang terjadi dalam sistem menghasilkan panas, maka terasa panas bila sistem
disentuh. Perubahan entalpi (H), menunjukkan selisih antara entalpi sistem sebelum reaksi dan
setelah reaksi berlangsung (H = H akhir H awal). (Nenden Fauziah. 2009.)

Entalpi merupakan sifat ekstensif dari materi maka bergantung pada jumlah mol zat.
Perubahan energi pada suatu reaksi yang berlangsung pada tekanan tetap disebut perubahan

entalpi dengan satuan Joule dan kilo Joule. Berdasarkan perubahan entalpi, dikenal dua macam
reaksi yaitu reaksi eksoterm dan reaksi endoterm.

1. Reaksi Eksoterm
Pada reaksi eksoterm energi panas atau kalor berpindah dari sistem ke lingkungan. Entalpi sistem
sebelum reaksi lebih besar daripada sesudah reaksi atau H pereaksi > H hasil reaksi. Perubahan
entalpi sistem menjadilebih kecil dari 0 atau H = - .
2. Reaksi Endoterm
Reaksi endoterm kebalikan dari reaksi eksoterm. Pada reaksi endoterm sistem meyerap panas
dari lingkungan. Entalpi sistem sesudah reaksi lebih besar daripada sebelum reaksi: H pereaksi <
H hasil reaksi. Perubahan entalpi sistem menjadi lebih besar dari 0 atau H = +. (Siti Kalsum.
2009.)

Salah satu ciri khas reaksi eksoterm adalah selama proses reaksi berlangsung, suhu
sistem naik. Sedangkan salah satu ciri khas reaksi endoterm adalah selama reaksi berlangsung
terjadi penurunan suhu sehingga untuk kembali dalam keadaan suhu awal, sistem harus
menyerap kalor.
(Unggul Sudarmo. 2013.)

D. Alat dan Bahan


Percobaan 1

Alat
Termometer
Batang pengaduk
Tabung reaksi
Wadah plastik (gelas)
Spatula
Pipet

Bahan
Larutan asam sitrat 0,5 M
Baking soda
Kristal barium hidroksida oktahidrat
Kristal ammonium klorida
Pita magnesium
Padatan CaO
Larutan HCl 3 M
Larutan HCl 1 M

Jumlah
10 ml
2 spatula
4 spatula
2 spatula
Satu potong
1 spatula
10 ml
10 ml

Percobaan 2

Alat
Termometer
Batang pengaduk
Tabung reaksi
Spatula
Pipet

Bahan
Kristal NaOH
Padatan urea
Padatan CaCO3
Padatan NH4Cl
Kristal barium hidroksida oktahidrat
Larutan HCl 1M
Aquades

Jumlah
1 spatula
1 spatula
1 spatula
2 spatula
2 spatula
5 ml
15 ml

E. Cara Kerja
Kegiatan 1

1. Memasukkan 10 ml larutan asam sitrat 0,5M dalam kalorimeter kemudian mengukur


suhu awalnya.
2. Mencampurkan 2 spatula baking soda ke dalam laritan tersebut lalu aduk.
3. Mengukur suhu akhir setelah reaksi.
Kegiatan 2

1. Mencampurkan 4 spatula kristal barium hidroksida oktahidrat dengan 2 spatula padatan


amonium klorida dalam kalorimeter.
2. Mengaduk campuran.
3. Mengukur suhu tertinggi/terendah yang dicapai setelah reaksi.
Kegiatan 3

1. Memasukkan 10ml larutan HCl 3M ke dalam kalorimeter dan mengukur suhunya.


2. Memasukkan pita magnesium yang sudah diampelas.
3. Mengukur suhu tertinggi/terendah yang dicapai setalah reaksi.
Kegiatan 4

1. Mengukur suhu awal dari 10 ml larutan NaOH 1M.


2. Mengukur suhu awal dari 10 ml larutan HCl 1M.
3. Mencampurkan kadua larutan tersebut dalam kalorimeter.

4. Mengukur suhu tertinggi/terendah yang dicapai setelah reaksi.

Kegiatan 5

1. Memasukkan 50 ml air dalam kalorimeter.


2. Mengukur suhu air.
3. Memasukkan 1 spatula padatan CaO dan mengaduk sampai larut semua.
4. Mengukur suhu tertinggi/terendah yang dicapai setelah reaksi.
Kegiatan 6

1. Mengisi tabung reaksi dengan 5ml aquades.


2. Mengukur suhunya sebagai t0. Kemudian menambahkan 1 spatula padatan NaOH,
kemudian mengocok larutan sampai terlarut.
3. Setelah larut, mengukur kembali suhunya(sebagai t1), mencatat perubahan suhunya
sebagai data pengamatan.
Kegiatan 7

1. Mengisi tabung reaksi dengan 5ml aquades.


2. Mengukur suhunya sebagai t0. Kemudian menambahkan 1 spatula padatan urea,
kemudian mengocok larutan sampai terlarut.
3. Setelah larut, mengukur kembali suhunya(sebagai t1), mencatat perubahan suhunya
sebagai data pengamatan.
Kegiatan 8

1. Mengisi tabung reaksi dengan 5ml aquades.


2. Mengukur suhunya sebagai t0. Kemudian menambahkan 10 tetes larutan H2SO4
pekat, kemudian mengocok larutan sampai terlarut.
3. Setelah larut, mengukur kembali suhunya(sebagai t1), mencatat perubahan suhunya
sebagai data pengamatan.
Kegiatan 9

1. Memasukkan 5 ml larutan HCl 1 M ke tabung reaksi dan mengukur suhunya (sebagai


t0).
2. Menambahkan 1 spatula CaCO3, mengukur suhunya (sebagai t1).
3. Mencatat perubahan suhunya sebagai data pengamatan.
Kegiatan 10

1. Memasukkan 2 spatula padatan NH4Cl, dan mengukur suhunya t0.


2. Menambahkan 2 spatula padatan Ba(OH)2 . 8H2O, kemudian mengaduk dan
mengukur suhunya sebagai t1.
3. Mencatat perubahan suhunya sebagai data pengamatan.

F. Data Pengamatan
Percobaan 1
Suhu awal (oC)

Percobaan

Suhu Akhir (oC)

Perubahan Suhu (oC)

30

24

-6

22

16

-6

27

35

29

29,5

0,5

29

27,5

-1,5

Percobaan 2
No

Zat yang dicampur

Suhu (oC)
T0

Jenis Reaksi
T

T1

Eksoterm/ Endoterm

Aquades + NaOH

28

30

Eksoterm

Aquades + Urea

28

29

Eksoterm

Aquades + H2SO4

28

35

Eksoterm

HCl + CaCO3

29

30

Eksoterm

NH4Cl + Ba(OH)2.8 H2O

28

17

-11

Endoterm

G. Pembahasan

Dalam percobaan ini, kami melakukan percobaan reaksi eksoterm dan endoterm dengan
tujuan agar dapat menyusun sistem tertutup agar dapat menentukan jenis reaksi dan menentukan
/ membedakan antara reaksi eksoterm dan endoterm berdasarkan perubahan suhu reaksi.

Dalam percobaan pertama, kami memasukkan 10ml larutan asam sitrat (C6H8O7) 0,5 M
ke dalam kalorimeter dan mengukur suhu awalnya dengan termometer, dan didapati hasil
pengukuran suhu awalnya sebesar 30 oC. Kemudian kami mencampurkan 2 sendok (spatula)
baking soda (NaHCO3) ke dalam kalorimeter yang berisi asam sitrat tadi. Setelah asam sitrat dan
baking soda bereaksi, diperoleh hasil pengukuran suhu akhirnya sebesar 24 oC, sehingga terjadi
penurunan suhu sebesar 6 oC. Oleh karena itu reaksi larutan asam sitrat dengan baking soda
merupakan reaksi endoterm. Dari reaksi tersebut juga menghasilkan gas CO2, air, dan larutan
NaC6H5O7 yang disertai dengan penyerapan kalor sebesar 78,8 kJ/mol.
Dalam percobaan kedua, kami mencampurkan 4 sendok (spatula) kristal barium
hidroksida oktahidrat (Ba(OH)2.8 H2O) dengan 2 sendok (spatula) kristal amonium klorida
(NH4Cl) dalam kalorimeter. Dari pengukuran suhu menggunakan termometer, didpati hasil
pengukuran yaitu terjadinya penurunan suhu sebesar 6 oC, dengan pengukuran suhu awal 22 oC
dan suhu akhirnya 16 oC. Oleh karena itu reaksi kristal barium hidroksida oktahidrat dengan
kristal amonium klorida merupakan reaksi endoterm. Dari reaksi tersebut juga menghasilkan gas
ammonia, air, dan padatan BaCl2 yang disertai penyerapan kalor sebesar 162 kJ/mol.
Dalam percobaan ketiga, kami memasukkan 10ml larutan HCl 3M dalam kalorimeter
dan mengukur dengan termometer, dan hasil pengukuran suhu awalnya adalah 27 oC. Lalu kami
memasukkan sepotong pita magnesium yang sudah diampelas. Setelah larutan asam klorida dan
pita megnesium bereaksi, diperoleh hasil pengukuran suhu akhirnya sebesar 35 oC, sehingga
terjadi kenaikan suhu sebesar 8 oC. Oleh karena itu reaksi larutan HCl dengan pita magnesium
merupakan reaksi eksoterm. Dari reaksi tersebut menghasilkan larutan MgCl2 dan gas hidrogen
yang disertai pelepasan kalor sebesar 440 kJ/mol.

Dalam percobaan keempat, kami mengukur suhu awal dari 10ml larutan NaOH 1M
menggunakan termometer, dan hasil pengukuran suhu awalnya adalah 29 oC. Kemudian kami
juga mengukur suhu awal dari 10ml larutan HCl 1M menggunakan termometer, dan hasil
pengukuran suhu awalnya adalah 29 oC. Kemudian kami mencampurkan kedua larutan tersebut
dalam kalorimeter. Setelah larutan NaOH dan larutan HCl bereaksi, diperoleh hasil pengukuran
suhu akhirnya sebesar 29,5 oC, sehingga terjadi kenaikan suhu sebesar 0,5 oC. Oleh karena itu
reaksi larutan NaOH dengan larutan HCl merupakan reaksi eksoterm. Dari reaksi tersebut
menghasilkan larutan NaCl dan air yang disertai dengan pelepasan kalor sebesar 55,84 kJ/mol.

Dalam percobaan kelima, kami memasukkan 50 ml air dalam kalorimeter dan


mengukur suhu awalnya menggunakan termometer, dan diperoleh hasil pengukuran sebesar 29
o

C. Kemudian memasukkan 1 sendok (spatula) padatan CaO ke dalam kalorimeter yang telah

berisi air tadi dan mengaduknya sampai larut. Setelah padatan CaO terlarut, diperoleh hasil
pengukuran suhu akhirnya sebesar 27,5 oC, sehingga terjadi penurunan suhu sebesar 1,5 oC. Oleh
karena itu reaksi padatan CaO dengan air merupakan reaksi eksoterm. Dari reaksi tersebut
menghasilkan padatan Ca(OH)2 yang disertai pelepasan kalor sebesar 65,21 kJ/mol.
Dalam percobaan keenam, kami mengisi tabung reaksi dengan 5ml aquades dan
mengukur suhu awalnya dengan termometer, dan didapati hasil pengukuran suhu awalnya
sebesar 28 oC. Lalu kami menambahkan satu sendok (spatula) padatan NaOH ke dalam tabung
reaksi. Setelah padatan NaOH terlarut, diperoleh hasil pengukuran suhu akhirnya sebesar 30 o C,
sehingga terjadi kenaikan suhu sebesar 2 oC. Oleh karena itu reaksi padatan NaOH dengan air
merupakan reaksi eksoterm. Dari reaksi pelarutan padatan NaOH disertai pelepasan kalor sebesar
44,51 kJ/mol.

Dalam percobaan ketujuh, kami mengisi tabung reaksi dengan 5ml aquades dan
mengukur suhu awalnya dengan termometer, dan didapati hasil pengukuran suhu awalnya
sebesar 28 oC. Lalu kami menambahkan satu sendok (spatula) padatan urea ke dalam tabung
reaksi. Setelah padatan urea terlarut, diperoleh hasil pengukuran suhu akhirnya sebesar 29 oC,
sehingga terjadi kenaikan suhu sebesar 1oC. Tetapi sebenarnya ketika reaksi padatan urea dengan

aquades diukur menggunakan sistem terisolasi, reaksi mengalami penurunan suhu bukan
kenaikan, hal ini mungkin disebabkan oleh kalorimeter yang digunakan berupa wadah plastik
yang merupakan sistem terbuka sehingga masih terjadi pertukaran energi (kalor) antara sistem
dan lingkungan. Oleh sebab itu, ketika kami melakukan pengukuran suhu sistem tidak akurat
(perubahan suhu naik 1oC). Dari reaksi pelarutan padatan urea disertai penyerapan kalor sebesar
15 kJ/mol.

Dalam percobaan kedelapan, kami mengisi tabung reaksi dengan 5ml aquades dan
mengukur suhu awalnya dengan termometer, dan didapati hasil pengukuran suhu awalnya
sebesar 28 oC. Lalu kami menambahkan 10 tetes larutan H2SO4 pekat ke dalam tabung reaksi
yang berisi aquades tadi. Setelah aquades dan larutan H2SO4 bereaksi, diperoleh hasil
pengukuran suhu akhirnya sebesar 35

C, sehingga terjadi kenaikan suhu sebesar 7 oC. Oleh

karena itu, reaksi aquades dengan larutan H2SO4 merupakan reaksi eksoterm. Dari reaksi
tersebut, larutan H2SO4 terionisasi menjadi ion H3O+ dan HSO4- disertai dengan pelepasan kalor
sebesar 71,76 kJ/mol.

Dalam percobaan kesembilan, kami memasukkan 5ml larutan HCl 1M ke dalam tabung
reaksi dan mengukur suhu awalnya menggunakan termometer, dan didapati hasil pengukuran
suhu awalnya sebesar 29

C. Lalu kami menambahkan 1 sendok (spatula) CaCO3 ke dalam

tabung reaksi. Setelah larutan HCl dan padatan CaCO3 bereaksi, diperoleh hasil pengukuran suhu
akhirnya sebesar suhu akhirnya 30 o C, sehingga terjadi kenaikan suhu sebesar 1 o C. Oleh karena
itu reaksi larutan HCl dengan padatan CaCO3 merupakan reaksi eksoterm. Dari reaksi tersebut
menghasilkan gas karbondioksida, air, dan larutan CaCl2 yang disertai pelepasan kalor sebesar
15,04 kJ/mol.

Dalam percobaan kesepuluh, kami memauskkan 2 sendok spatula padatan NH4Cl ke


dalam tabung reaksi dan mengukur suhu awalnya menggunakan termometer, dan didapati hasil
pengukuran suhu awalnya sebesar 28 oC. Lalu kami menambahkan 2 sendok spatula padatan
Ba(OH)2.8H2O ke dalam tabung reaksi. Setelah padatan NH4Cl dan padatan Ba(OH)2.8H2O
bereaksi, diperoleh hasil pengukuran suhu akhirnya sebesar 17

, sehingga terjadi penurunan

suhu sebesar 11 o C. Oleh karena itu reaksi kristal barium hidroksida oktahidrat dengan kristal

amonium klorida merupakan reaksi endoterm. Dari reaksi tersebut menghasilkan gas amonia, air
dan padatan BaCl2 yang disertai penyerapan kalor sebesar 162 kJ/mol.
H. Mejawab Pertanyaan
Percobaan 1
1. Manakah yang termasuk reaksi eksoterm?

Reaksi larutan HCl dengan pita magnesium yang sudah diampelas


2HCl(aq) + Mg(s) MgCl2(aq) + H2(g) H = 440 kJ

Reaksi larutan NaOH 10 ml 1 M dengan larutan HCl 10 ml 1 M


NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l) H = 55,84 kJ/mol

Reaksi air dengan padatan CaO


CaO(s) + H2O(l) Ca(OH)2 H = 65,21 kJ/mol

2. Manakah yang termasuk reaksi endoterm?

Reaksi larutan asam sitrat dengan baking soda

C6H8O7 (aq) + 3NaHCO3 (s) 3H2O(l) + 3CO2(g) + NaC6H5O7 (aq) H = +78,8 kJ

Reaksi barium hidroksida oktahidrat dengan ammonium klorida


2NH4Cl(s) + Ba(OH)2.8 H2O(s) 2NH3(g) + 10 H2O(l) + BaCl2(s) H = +162
kJ

3. Tuliskan reaksi setara untuk setiap kegiatan!


a) 2HCl(aq) + Mg(s) MgCl2(aq) + H2(g)
b) NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l)
c) CaO(s) + H2O(l) Ca(OH)2 H = 65,21 kJ/mol
d) C6H8O7 (aq) + 3NaHCO3 (s) 3H2O(l) + 3CO2(g) + NaC6H5O7 (aq)
e) 2NH4Cl(s) + Ba(OH)2.8 H2O(s) 2NH3(g) + 10 H2O(l) + BaCl2(s)
4. Hitung perubahan entalpi yang terjadi pada setiap reaksi!
a) 2HCl(aq) + Mg(s) MgCl2(aq) + H2(g) H = 440 kJ
b) NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l) H = 55,84 kJ/mol

c) CaO(s) + H2O(l) Ca(OH)2 H = 65,21 kJ/mol


d) C6H8O7 (aq) + 3NaHCO3 (s) 3H2O(l) + 3CO2(g) + NaC6H5O7 (aq) H = +78,8 kJ
e) 2NH4Cl(s) + Ba(OH)2.8 H2O(s) 2NH3(g) + 10 H2O(l) + BaCl2(s) H = +162 k
Percobaan 2
1. Gejala apakah yang teramati saat terjadinya reaksi pada masing-masing percobaan di atas ?
a) NaOH(s) Na+(aq) + OH(aq) H = 44,51 kJ/mol
Setelah padatan NaOH terlarut dalam air, suhu sistem menjadi naik yaitu dari 280C-300C
(eksoterm).
b) CO(NH2)2(s) CO(NH2)2(aq) H = +15 kJ/mol
Setelah padatan urea terlarut dalam air, suhu sistem seharusnya menurun karena merupakan
reaksi endoterm. Dan terjadi perubahan warna dari bening menjadi putih butek.
c) H2SO4 (aq) H3O+(aq) + HSO4-(aq) H = 71,76 kJ/mol
Setelah larutan asam sulfat dicampur dengan air, suhu sistem menjadi naik dari 280C-350C
(eksoterm).
d) 2HCl(aq) + CaCO3(s) H2O(l) + CO2(g) + CaCl2(aq) H = 15,04 kJ
Setelah HCl direkasikan dengan CaCO3, suhu sistem menjadi naik dari 290C-300C (eksoterm)
dan juga disertai terbentuknya gas CO2.
e) 2NH4Cl(s) + Ba(OH)2.8 H2O(s) 2NH3(g) + 10 H2O(l) + BaCl2(s) H = +162 kJ
Setlah padatan NH4Cl dan padatan Ba(OH)2.8 H2O beraksi, maka suhu sistem turun dari
280C-170C (endoterm) dan juga terbentuk gas NH3.
2. Kelompokkan reaksi-reaksi di atas kedalam reaksi eksoterm atau endoterm !
Endoterm
CO(NH2)2(s) CO(NH2)2(aq) H = +15 kJ/mol
2NH4Cl(s) + Ba(OH)2.8 H2O(s) 2NH3(g) + 10 H2O(l) + BaCl2(s) H = +162 kJ
Eksoterm

NaOH(s) Na+(aq) + OH(aq) H = 41,8 kJ/mol


H2SO4 (aq) H3O+(aq) + HSO4-(aq) H = 71,76 kJ/mol
2HCl(aq) + CaCO3(s) H2O(l) + CO2(g) + CaCl2(aq) H = 15,04 kJ
3. Tuliskan ciri-ciri dari rekasi eksoterm dan endoterm !
Ciri-ciri
Suhu sistem
H
Perpindahan energi
Kalor
Hp dan Hr

Eksoterm

Endoterm

Naik

Turun

Dari sistem ke lingkungan

Dari lingkungan ke sistem

Lepas kalor

Terima kalor

Hp < Hr

Hp > Hr

4. Gambarkan diagram tingkat energy dari reaksi-reaksi di atas !


a) NaOH(s) Na+(aq) + OH(aq) H = 41,8 kJ/mol
Entalpi (H)

NaOH(s)
H = 41,8 kJ/mol

Na+(aq) + OH(aq)

b) CO(NH2)2(s) CO(NH2)2(aq) H = +15 kJ/mol


Entalpi (H)

CO(NH2)2(aq)
H = +15 kJ/mol
CO(NH2)2(s)

c) H2SO4 (aq) H3O+(aq) + HSO4-(aq) H = 71,76 kJ/mol


Entalpi (H)

H2SO4 (aq)

H = 71,76 kJ/mol
P

H3O+(aq) + HSO4(aq)

d) 2HCl(aq) + CaCO3(s) H2O(l) + CO2(g) + CaCl2(aq) H = 15,04 kJ/mol


Entalpi (H)

2HCl(aq) + CaCO3(s)
H = 15,04 kJ

H2O(l) + CO2(g) + CaCl2(aq)

e) 2NH4Cl(s) + Ba(OH)2.8 H2O(s) 2NH3(g) + 10 H2O(l) + BaCl2(s) H = +162 kJ/mol


Entalpi (H)

2NH3(g) + 10 H2O(l) + BaCl2(s)


H = +162 kJ
2NH4Cl(s) + Ba(OH)2.8 H2O(s)

I. Kesimpulan
Reaksi eksoterm adalah reaksi yang suhu sistemnya mengalami kenaikan suhu,
mengalami pelepasan kalor, dan perpindahan energi dari sistem ke lingkungan.
Sedangkan reaksi endoterm adalah reaksi yang suhu sistemnya mengalami penurunan
suhu, mengalami penyerapan kalor, dan perpindahan energi dari lingkungan ke sistem.

J. Daftar Pustaka

Fauziah, Nenden. 2009. Kimia 2: SMA dan MA Kelas XI IPA. Jakarta: Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional
Kalsum, Siti. 2009. Kimia 2 SMA dan MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional
Premono, Shidiq. 2009. Kimia SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional
Sudarmo, Unggul. 2013. Kimia untuk SMA/MA kelas XI. Jakarta: Erlangga