Anda di halaman 1dari 2

Pemeriksaan Fisik

TB paru sering menimbulkan gejala klinis yang dapat dibagi menjadi 2 yaitu gejala
respiratorik dan gejala sistematik. Gejala respiratorik seperti batuk, batuk darah, sesak
napas, nyeri dada, sedangkan gejala sistemik seperti demam, keringat malam, anoreksia,
penurunan berat badan dan malaise.
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang
cukup berat tergantung dari luasnya lesi. Kadang pasien terdiagnosis pada saat medical
check up. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit, maka mungkin pasien tidak
ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi akibat adanya iritasi bronkus, dan
selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak keluar.
Pada awal perkembangan penyakit sangat sulit menemukan kelainan pada pemeriksaan
fisik. Kelainan yang dijumpai tergantung dari organ yang terlibat. Kelainan paru pada
umumnya terletak di daerah lobus superior terutama di daerah apeks dan segmen
posterior. Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai antara lain suara napas bronkial,
amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diapragma dan
mediastinum.
Pemeriksaan Thorax
Tujuan:
a. Untuk mengetahui bentuk, kesimetrisan, ekspansi paru
b. Untuk mengetahui frekuensi, irama pernafasan
c. Untuk mengetahui adanya nyeri tekan, adanya massa, peradangan, edema, taktil
fremitus.
d. Untuk mengetahui batas paru dengan organ disekitarnya
e. Mendengarkan bunyi paru / adanya sumbatan aliran udara
Tindakkan:
a. Ispeksi
Amati kesimetrisan dada ka.ki, amati adanya retraksi interkosta, amati gerkkan paru.
Amati klavikula dan scapula simetris atau tidak.
b. Palpasi
Palpasi ekspansi paru:
- Berdiri di depan klien dan taruh kedua telapak tangan pemeriksa di dada dibawah
papilla, anjurkan pasien menarik nafas dalam, rasakkan apakah sama paru ki.ka.
- Berdiri deblakang pasien, taruh telapak tangan pada garis bawah scapula/setinggi costa
ke-10, ibu jari ka.ki di dekatkan jangan samapai menempel, dan jari-jari di regangkan
lebih kurang 5 cm dari ibu jari. Suruh pasien kembali menarik nafas dalam dan amati
gerkkan ibu jari ka.ki sama atau tidak.
Palpasi Taktil vremitus posterior dan anterior:
- Meletakkan telapak tangan kanan di belakang dada tepat pada apex paru/stinggi supra
scapula (posisi posterior)
- Menginstrusikkan pasien untuk mengucapkkan kata Sembilan-sembilan (nada
rendah)
- Minta klien untuk mengulangi mengucapkkan kata tersebut, sambil pemeriksa

mengerakkan ke posisi ka.ki kemudian kebawah sampai pada basal paru atau setinggi
vertebra thoraxkal ke-12
- Bandingkan vremitus pada kedua sisi paru
- Bila fremitus redup minta pasien bicara lebih rendah
- Ulangi/lakukkan pada dada anterior
c. Perkusi
- Atur pasien dengan posisi supinasi
- Untuk perkusi anterior dimulai batas clavikula lalu kebawah sampai intercosta 5
tentukkan batas paru ka.ki (bunyi paru normal : sonor seluruh lapang paru, batas paru
hepar dan jantung: redup)
- Jika ada edema paru dan efusi plura suara meredup.
d. Auskultasi
- Gunakkan diafragma stetoskop untuk dewasa dan bell pada anak
- Letakkan stetoskop pada interkostalis, menginstruksikkan pasien untuk nafas pelan
kemudian dalam dan dengarkkan bunyi nafas: vesikuler/wheezing/creckels.
Untuk yang diduga menderita TB paru, diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari
yaitu sewaktu pagi sewaktu (SPS). Berdasarkan panduan program TB nasional,
diagnosis TB paru pada orang dewasa ditegakkan dengan dijumpainya kuman TB (BTA).
Sedangkan pemeriksaan lain seperti foto thorax, biakan dan uji kepekaan dapat
digunakan sebagai penunjang diagnosis sesuai dengan indikasinya dan tidak dibenarkan
dalam mendiagnosis TB jika diagnosis dibuat hanya berdasarkan pemeriksaan foto
thorax.