Anda di halaman 1dari 20

PERCOBAAN 3

EFEK ANALGESIK

A. LATAR BELAKANG
Obat analgesik merupakan obat yang sudah di kenal luas. Analgesik banyak digunakan
untuk menurunkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran pasien. Obat analgesic ini banyak
dijual sebagai kemasan tunggal maupun kemasan kombinasi dengan bahan obat lain. Obat ini
tergolong sebagai obat bebas sehingga mudah ditemukan di apotik toko obat maupun warung
pinggir jalan.
Penggunaan Obat Analgesik ini mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit
tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat
kesadaran. Obat Analgesik ini tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna. Oleh karena
itu, pasien berhak mengetahui obat yang mana saja yang memberi potensi analgesic dan berhak
mengetahui obat analgesic yang member potensi paling baik dalam menurunkan rasa nyeri.

B. PERMASALAHAN
Bagaimana efek analgesic obat nyeri bila dilakukan pengujian dengan metode rangsang
kimia?

C. MANFAAT
Dengan melakukan uji analgesic ini, dapat mengetahui obat mana yang dapat
menurunkan nyeri dan yang mana yang tidak. Dan dapat mengetahui potensi obat paling besar
untuk menurunkan rasa nyeri tanpa harus menghilangkan kesadaran pasien.

D. TUJUAN
Memahami efek analgesic beberapa obat pereda nyeri dengan metode rangsang kimia.

E. PENELAAHAN PUSTAKA
Analgesik adalah istilah kimia untuk zat-zat yang dapat menurunkan rasa sakit. Efek
penghilang rasa sakit dimunculkan dengan mereduksi kepekaan fisik dan emosional individu
serta memberikan penggunanya rasa nyaman (Amriel, 2007).
Analgesik nonopiat (analgesic non narkotik) termasuk obat AINS. Nonopiat mengurangi
nyeri dengan cara bekerja di ujung saraf perifer pada derah luka dan menurunkan tingkat
mediator inflamasi yang dihasilkan di daerah luka. Nonopiat digunakan untuk nyeri ringan
hingga sedang, kecuali ada kontraindikasi khusus (Berman, Snyder, Kezier, Glenora, 2009).
Analgesik opiate (analgesic narkotik) adalah obat obat yang daya kerjanya meniru opioid
endogen dengan memperpanjang aktivitas dari reseptor reseptor opioid. Tubuh dapat mensintesis
zat zat opioidnya sendiri, yakni zat-zat endorphin, yang juga bekerja melalui reseptor opioid.
Endofrin bekerja dengan menduduki reseptor nyeri di system saraf pusat, hingga perasaan nyeri
dapat diblokir. Tetapi bila analgetika tersebut digunakan terus-meneus, pembentukan reseptorreseptor baru distimulasi dan produksi endorphin di ujung saraf otak dirintangi. Akibatnya
terjadilah kebiasaan dan ketagihan (Tjay, Rahardja, 2007).
Metode rangsangan zat kimia (siegmunci) menggunakan senyawa kimia yang dapat
menimbulkan rasa nyeri sepertiasam asetat, HCL 2%, 5-hidroksi triptamin, fenibenzokuinon,
bradikinin dan lain-lain. Senyawa tesebut diberikan secara intraperitonial 30 menit sebelum
diberikan obat. Reaksi nyeri diperlihatkan oleh hewan antara lain menggeliat, mengeser-geserkan
perut pada alas kandang. Jumlah geliat langsung diamati selama 30 menit dengan selang waktu 5
menit (Darmono, S., 2011).
Parasetamol merupakan analgesic non narkotik dan juga zat antipiretik. Pada umumnya
dianggap sebagai anti nyeri yang aman. Reabsorpsinya dari usus cepat dan praktis tuntas, secara
rectal lebih lambat. Dalam hati diuraikan menjadi metabolit-metabolit toksik yang diekskresikan
dengan kemih sebagai konjugat-glukuronida dan sulfat (Tjay, Rahardja, 2007).

Parasetamol (Marzuki, Amirullah, Fitriana, 2010)

Asetosal (asam asehilsalisilat, aspirin, aspro) adalah obat antinyeri dan antidemam tertua
(1880). Sebagai obat rema (NSAIDS) asetosal juga memiliki daya antiradang tetapi dalam dosis
tinggi (3-4 kali sehari 1 gram). Hanya harus waspada untuk rangsangan terhadap selaput lendir
lambung yang dapat timbul pada dosis ini (Tan H.T., Kirana R., 2010)

struktur asetosal (Yodhian, 2008)

Analgesic bekerja pada sintesis prostaglandin. Sintesis prostaglandin dihalangi oleh


penghambatan pada siklooksigenase, satu enzim kunci pada reaksi berantai asam arakidonat.
Siklooksigenase ada 2 bentuk iso (COX-1 dan COX-2), yang berbeda dalam distribusinya di
jaringan dan regulasinya. Prinsip kerjanya sama untuk senyawa dalam golongan ini. Perbedaanya
terletak pada afinitas enzim dan tipe inhibitor untuk masing masing obat:
-

Irreversible (asam asetil salisilat)

Cepat, reversible dan kompetitif (diklofenak dan fenilbutazon)

Cepat, reversible dan tidak kompetitif (parasetamol)

(Schmitz, 2009).

F. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS


Analgesic merupakan zat kimia yang memiliki kemampuan untuk menurunkan rasa sakit
dengn cara mereduksi kepekaan fisik dan emosional individu. Analgesic digolongkan menjadi
dua golongan, yaitu golongan nonopiat (analgesic non narkotik) dan opiate (analgesic narkotik).
Analgesic nonopiat mengurangi rasa nyeri dengan cara bekerja di ujung saraf perifer pada daerah
luka dan digunakan hanya untuk nyeri ringan hingga sedang. Analgesic opiate memiliki daya

kerja seperti opioid endogen dengan memperpanjang aktivitas dari reseptor opioid yang bekerja
menduduki reseptor nyeri di system saraf. Namun bila analgesic opiate digunakan terus dapat
menyebabkan stimulasi reseptor baru terhambat dan akibatnya mengalami kecanduan.
Metode rangsangan zat kimia menggunakan senyawa kimia yang dapat memberikan efek
nyeri seperti HCL 2%. Senyawa tersebut diberikan secara intraperitonial 30 menit sebelum
diberikan obat. Reaksi yang diperlihatkan seperti tubuh menggeliat geliat.
Parasetamol adalah jenis obat analgesic non narkotik dan dianggap sebagai antinyeri
yang aman. Penguraian di hati relative cepat menjadi metabolit toksik yang diekskresikan
dengan kemih berupa konjugat.
Struktur parasetamol :

Asetosal merupakan obat anti nyeri dan memiliki daya antiradang namun dalam dosis
tinggi. Namun perlu diperhatikan adalah rangsangan yang terjadi terhadap selaput lendir
lambung yang ditimbulkan oleh dosis yang tinggi.

struktur asetosal

Analgesic bekerja pada sintesa prostaglandin yang dihalangi oleh penghambatan yang
dilakukan oleh siklooksigenase. Siklooksigenase memiliki dua macam, yaitu iso COX-1 dan iso
COX-2, dan perbedaannya ada pada regulasi dan distrusinya di jaringan. Memiliki prinsip kerja
yang sama namun berbeda pada afinitas enzimnya serta tipe pada inhibitor untuk masing masing
obat.

G. METODE PENELITIAN

a. Jenis Penelitian : Eksperimental


b. Alat dan Bahan :

Hewan uji mencit

Larutan CMC Na 1% p.o.

Suspensi asetosal 0.5% dalam CMC 1% dosis 10.1 mg/kg BB (dosis manusia)

Suspensi parasetamol 1% dalam CMC 1% dosis 7.14 mg/kg BB (dosis manusia)

Larutan steril asam astetat 1%

Spuit injeksi (0.1 1 ml)

Jarum oral (ujung tumpul)

Beaker glass dan stopwatch

c. Cara Kerja:
Setiap kelompok mendapat 3 mencit

Mencit I (control) diberi larutan CMC 1% p.o.


Mencit II diberi suspensi asetosal p.o.
Mencit III diberi suspensi parasetamol p.o.
Setelah 15 menit, seluruh mencit disuntik asam asetat 50 mg/kg BB i.p.
Beberapa menit kemudian, mencit akan menggeliat (perut kejang dan kaki ditarik ke
belakang). Dicatat jumlah kumulatif geliat yang timbul setiap selang waktu 5 menit
selama 60 menit
Dibuat kurva mean jumlah kumulatif geliat masing-masing perlakuan terhadap waktu

Dihitung persen daya analgetik dengan rumus:


% daya analgetik = 100 (o/k x 100) dimana:
o

: jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi obat analgesic

: jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi CMC (control)

Dibandingkan daya analgetik asetosal dan parasetamol

H. TATA CARA ANALISIS HASIL

CMC 1%
C = 1%
= 1 g / 100 ml
= 10 mg / ml
D manusia = 10.1 mg / kg BB
D manusia 70 kg = 707 mg / kg BB
Konversi manusia 70 kg ke mencit 20 g = 0.0026
Mencit 20g = 0.0026 x 707 mg / kg BB
= 1.8382 mg / 20 g BB
Bobot mencit = 29.4 gram
Dosis =

x 1.8382

= 2.702 mg / 29.4 gram BB


D x BB = C x V
2.702 mg / 29.4 g BB x 29.4 g = 10 mg/ml x V
V = 0.2702 ml
= 0.27 ml

Asetosal
C = 0.5 %
= 0.5 g / 100 ml
= 5 mg/ml
D manusia = 10.1 mg/kg BB
D manusia 70 kg = 707 mg/kg BB
Konversi manusia 70 kg ke mencit 20 g = 0.0026
D mencit 20 g = 0.0026 x 707
= 1.8382 mg / 20 g BB

Bobot mencit II = 27.7 gram

Dosis =

x 1.8382

= 2.545 mg / 27.7 g BB
D x BB = C x V
2.545 mg / 27.7 g BB X 27.7 g = 5 mg/ml x V
V = 0.509 ml
= 0.51 ml

Paracetamol
C = 1%
= 10 mg/ml
D manusia = 7.14 mg/kg BB
D manusia 70 kg = 499.8 mg/kg BB
Konversi ke mencit 20 g = 0.0026 x 499.8 mg/kg BB
= 1.299 mg / 20 g BB
Bobot mencit III = 29.8 gram
Dosis =

x 1.299

= 1.935 mg / 29.8 g BB
D x BB = C x V
1.935 mg / 29.8 g x 29.8 g = 10 mg/ml x V
V = 0.1935 ml
= 0.19 ml

Asam Asetat
C=1%
= 10 mg/ml
D = 50 mg/kg BB
= 0.05 mg/g BB
Bobot mencit I = 29.4 gram
D x BB = C x V
0.05 mg/g x 29.4 g = 10mg/ml x V

V = 0.147 ml
= 0.15 ml
Bobot mencit II = 27.7 gram
D x BB = C x V
0.05 mg/g x 27.7 g = 10 mg/ml x V
V = 0.1385 ml
= 0.14 ml
Bobot mencit III = 29.8 gram
D x BB = C x V
0.05 mg/g x 29.8 g = 10 mg/ml x V
V = 0.149 ml
= 0.15 ml

I. HASIL DAN PEMBAHASAN

Senyawa

Menit

Hasil
CMC

Rata

Rata

Asetosal

Rata

Rata

Rata

Rata

Geliat

Rata

Rata

Geliat

Rata

Rata

Rata

Rata

II

Jml

III IV

Jml

II III IV

Kum
0-5

5-10

12 26

10-15

II

Jml

III IV

Kum
0

1.75

1.75

11.25 11.25 37 0

14

13

14

5 12 35

15.25

17

20 21 12

13.25

20 0

19 10.25 24.25 9 12 33 25 19.75 36.75

15-20

19 13 11

10.75 35.25 16 0

15

7.75

32

23 15 13.75

20-25

16 10

8.75

44

15 0

15

7.5

39.5

22 12

11.5

62

25-30

10

49

15 0

44.5

17

8.5

70.5

30-35

53

10 0

48.5

13

5.25

75.75

35-40

3.75

56.75

2.5

51

11

82.75

40-45

2.75

59.5

12 0

3.75

54.75 6

4.25

87

45-50

2.5

62

2.75

57.5

3.25

90.25

50-55

65

2.25

59.75 3

3.25

93.5

55-60

66

1.5

61.25 1

2.25

95.75

24.5

Kum

% daya analgetik asetosal = 100 (o/k x 100)


= 100 (

x 100)

= 7.2 %
% daya analgetik parasetamol = 100 (o/k x 100)
= 100 (
= - 45.07 %

x 100)

50.5

Pembahasan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengenal efek analgesic dengan metode

rangsang kimia. Analgesic adalah obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri dengan cara
meningkatkan nilai ambang nyeri tanpa menekan kesadaran. Analgesic dibagi menjadi dua
golongan besar yaitu analgesic narkotik dan analgesic non narkotik. Analgesic narkotik
mempunyai daya penghilang rasa nyeri yang sangat besar dengan efek ketagihan sedangkan
analgesic non narkotik berefek melalui mekanisme kerja yang menghambat biosintesis
prostaglandin dan tidak menimbulkan efek ketagihan.
Analgesic narkotik merupakan turunan opium dari tumbuhan papaver samniferum atau
dari senyawa sintetik. Analgesic narkotik digunakan untuk merasakan nyeri sedang hebat dan
nyeri yang berasal dari organ visceral. Bekerja pada reseptor opiod pada susunan sara pusat,
memiliki efek analgesic yang kuat dan dapat menyebabkan ketergantungan.
Analgesic non narkotik adalah analgesic yang berasal dari golongan antiinflamasi non
steroid (AINS) yang menghilangkan nyeri ringan sedang. Mekanismenya dengan menghambat
sintesis prostaglandin yang menstimulasi SSP, efek analgesiknya lebih rendah dari analgesic
narkotik bekerja pada saraf perifer dan tidak menyebabkan ketergantungan.
Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Rangsang yang cukup
untuk menimbulkan rasa nyeri adalah kerusakan jaringan atau gangguan metabolisme jaringan.
Nyeri merupakan suatu bentuk peringatan akan adanya bahaya kerusakan jaringan pengalaman
sensoris. Pada nyeri akut disebabkan oleh stimulus noksius yang diperantarai oleh system
sensorik nosiseptif. System ini berjalan mulai dari perifer melalui medulla spinalis, batang otak,
thalamus dan korteks serebri. Apabila telah terjadi kerusakan jaringan, maka system nosisepti
akan bergeser fungsinya dari fungsi protektif menjadi fungsi yang membantu jaringan rusak.
Menurut tempat kejadiannya nyeri dibagi menjadi 2, yaitu nyeri somatic dan nyeri
visceral. Nyeri somatic dibagi menjadi dua, yaitu nyeri permukaan dan nyeri dalam. Nyeri
permukaan apabila rangsang bertempat dalam kulit dan nyeri dalam bila nyeri berasal dari otot,
persendian, tulang dan jaringan ikat.

Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya member tanda tentang adanya
ganguan ditubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri disebabkan
rangsang mekanis atau kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat
yang disebut mediator nyeri.
Mekanisme dari rangsang nyeri diterima oleh reseptor khusus, yang merupakan ujung
saraf bebas, secara fungsional dibedakan 2:
a. Mekanoreseptor

: suatu reseptor yang meneruskan rangsang nyeri permukaan

melalui serabut A-delta bermielin


b. Termoreseptor

: suatu reseptor yang meneruskan nyeri kedua melalui serabut-

serabut C yang tak bermielin.


Mekanisme nyeri adalah mediator nyeri seperti prostaglandin, serotonin dari jaringan
yang rusak lepas kemudian mediator- mediator tersebut akan merangsang reseptor nyeri diujung
saraf perifer atau tempat lain selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke ousat nyeri di korteks
serebri oleh sara sensoris melalui sumsum tulang belakang dan thalamus kemudian terjadi nyeri.
Pada percobaan dengan menggunakan rangsang kimia bahan yang digunakan yaitu CMC,
asetosal, parasetamol, dan asam asetat.
Asam asetat digunakan untuk memberikan rasa nyeri pada mencit. Pemberian sediaan
asam asetat akan merangsang prostaglandin untuk menimbulkan rasa nyeri akibat adanya
kerusakan jaringan atau inlamass. Prostaglandin menyebabkan sensititisasi reseptor nyeri
terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi sehingga prostaglandin dapat menimbulkan keadaan
hiperalgesia(peningkatan sensitivitas terhadap nyeri yang bersifat abnormal), kemudian mediator
kimiawi seperti bradikidin dan histamine merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata.
Asetosal adalah golongan analgetika non narkotik dan asetosal merupakan turunan asam
salisilat. Asetosal merupakan hasil esterifikasi gugus hidroksil fenolik asam salisilat dengan
asam asetat, sehingga dicapai penerimaan tubuh local yang lebih kuat bagi kerja analgesic,
antipiretik dan antiflagistik. Asetosal merupakan golongan obat NSAIDs (obat anti inflamasi non
steroid) yang bekerja dengan menghamnbat enzim siklo-oksigenasi, sehingga dapat menggangu
perubahan asam arakidonat menjadi endoperoksida (PGG2/ PGH). PGH akan memproduksi

prostaglandin, sehingga secara tidak langsung obat analgesic menghambat pembekuan


prostaglandin. Asetosal mengasetilasi gugus aktif serin dari enzim siklo-oksigenase untuk
menghambat dibentuknya prostaglandin dimana prostaglandin merupakan senyawa yang
berperan saat nyeri muncul akibat terjadi kerusakan jaringan.
Mekanisme reaksi asetosal sebagai analgesic dengan sebagian hidrolisa menjadi asam
salisilat selama absorbs dan didistribusikan ke seluruh jaringan dan cairan tubuh dengan kadar
tertinggi pada plasma, hati, korteks ginjal, jantung, dan paru-paru. Untuk proses ekskresi,
asetosal di eliminasi oleh ginjal dalam asam salisilat dan oksidasi serta konjugasi metabolitnya.
Asetosal mempunyai bentuk serbuk, kristal, dan mudah menguap, berwarna putih dan
berbau seperti cuka. Asetosal memiliki kelarutan yang agak sukar larut dalam air, tetapi mudah
larut dalam etanol 95%, larut kloroform, dan dalam eter. Asetosal mempunyai pemerian hablur,
tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau atau hamper tidak berbau, dan rasanya asam.
Paracetamol adalah derivate p-aminofenol yang memunyai sefat antipiretik / analgesic.
Paracetamol dapat digunakan sebagai penurun panas badan yang disebabkan oleh virus atau yang
lainnya, meringankan gejala nyeri dengan intensitas sedang hingga ringan. Paracetamol memiliki
sifat antipiretik, analgesic, dan antiinflamasi. Paracetamol mempunyai pemerian serbuk hablur,
putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit. Paracetamol larut dalam air mendidih dan dalam NaOH,
mudah larut dalam etanol.
Paracetamol dapat menghambat sintesis PG dan bradikinin yang menstimulasi ujung
syaraf perifer dengan membawa impuls nyeri ke system saraf pusat (SSP, sehingga menghambat
terjadinya perangsangan reseptor nyeri karena mempunyai mekanisme kerja menghambat
berbagai reaksi in-vitro. Paracetamol dapat menghambat biosintesis prostaglandin apabila
lingkungan paracetamol mempunyai efek anti-inflamasi yang rendah karena lokasi peradangan
biasanya mengandung banyak peroksida yang dihasilkan oleh leukosit.
Mekanisme reaksi paracetamol

yaitu mengurangi produksi prostaglandin dan

mengganggu enzim cyclooksigenase (COX). Paracetamol menghambat COX pada system syaraf
pusat yang tidak efektif dan sel endothelial dan bukan pada sel kekebalan dengan peroksida
tinggi. Kemampuan menghambat kerja enzim COX yang dihasilkan otak inilah yang membuat

paracetamol dapt mengurangi rasa sakit kepala dan dapat menurunkan demam tanpa efek
samping.
Pada percobaan kali ini, digunakan tiga kelompok mencit, yaitu mencit control yang
diberi larutan CMC Na 1% secara peroral, mencit perlakuan yang diberi suspensi asetosal dalam
CMC 1% secara peroral, dan mencit perlakuan yang diberi paracetamol secara peroral. Yang
berperan sebagai control negatif adalah CMC Na 1%, sebagai control positif adalah asetosal dan
paracetamol sebagai zat uji yang akan diuji efek analgesiknya, sedangkan asam asetat berfungsi
sebagai penginduksi rasa nyeri pada mencit.
Larutan CMC Na 1% berperan sebagai control negatif dan suspending agent. Control
negatif seharusnya tidak memiliki efek analgesic. CMC dijadikan sebagai suspending agent
karena asetosal sukar larut dalam air, sehingga dengan penambahan CMC tegangan antarmuka
asetosal dengan air dapat diturunkan dan dapat bercampur. Dilakukan uji terhadap control
negatif, untuk memastikan apakah CMC sebagai pelarut tidak mempunyai efek analgesic.
Penggunaan CMC yang dimasukkan dalam tubuh mencit, dosisnya setara dengan dosis
paracetamol dan asetosal yang ditujukan agar volume cairan dalam tubuh mencit bertambah
setara dengan mencit perlakuan.
Suspending asetosal 0,5% dalam CMC 1% berperan sebagai control positif yang
diberikan pada mencit perlakuan secara peroral. Asetosal merupakan analgesic non-narkotik
dedngan mekanisme penghambatan nyeri melalui inhibisi biosintesis prostaglandin disebabkan
terjadinya asetilasi pada gugus aktif serin COX2, dengan demikian jumlah produksi
prostaglandin dapat ditekan. Asetosal dapat meredakan nyeri dengan intensitas rendah yang
berasal dari struktur integument dan bukan dari viscera. Senyawa salisilat meredakan nyeri
melalui kerja perifer, efek langsung terhadap SSP juga mungkin terlibat.
Paracetamol berperan sebagai zat uji yang diberikan kepada mencit perlakuan secara
peroral. Paracetamol merupakan obat yang berkhasiat analgesic antipiretik. Merupakan zat anti
nyeri yang lebih aman untuk medikasi dibanding asetosal, termasuk ke dalam analgesic non
narkotik karena tidak menghilangkan kesadaran ketika kerjanya. Paracetamol merupakan obat
pengganti asetosal, akan tetapi aktivitas anti radangnya lemah sehingga bukan obat yang berguna
untuk menangani kondisi radang. Mekanisme aksi paracetamol adalah inhibisi biosintesis

prostaglandin pada system syaraf pusat dengan inhibisi COX (siklooksigenase) yang berperan
dalam pembentukan asam arachidonat dan prostaglandin H2.
Setelah administrasi CMC, asetosal maupun paracetamol pada mencit secara per oral,
mencit didiamkan selama 15 menit dengan tujuan agar obat dapat di absorbsi dan didistribusikan
secara merata ke seluruh tubuh sehingga menimbulkan efek yang diinginkan. Pendiaman
dilakukan selama 15 menit karena pemberian obat secara per oral membutuhkan waktu yang
cukup lama untuk mencapai onset.
Selanjutnya ketiga mencit diberi larutan steril asam asetat 1% yang diberikan secara
intraperitonial. Pemberian secara intraperitonial dimaksudkan agar asam asetat dapat
memberikan efek yang lebih cepat. Apabila asam asetat diinjeksikan sebelum obat, maka
ditakutkan terjadi kemungkinan efek asam asetat sudah habis ketika obat mulai berefek. Asam
asetat merupakan penginduksi rasa nyeri karena asam asetat memberikan suasana asam dengan
meningkatkan jumlah ion H+ yang ada di lambung. pH cairan tubuh adalah 7,4 dengan adanya
pelepasan ion H+ akan menyebabkan penurunan pH sampai dibawah 6. Hal ini menyebabkan
rasa nyeri meningkat pada kenaikan konsentrasi ion H+ yang dapat menyebabkan asidosis dan
menyebabkan rasa nyeri pada lambung. Hal ini dapat terlihat pada mencit yang menggeliat,
artinya mencit merasakan nyeri pada lambungnya dan untuk mengurangi rasa nyeri, mencit
mengejangkan perutnya (respon terhadap nyeri).
Dalam percobaan ini efek dari obat dapat dilihat dari jumlah geliat mencit yang
ditimbulkan akibat pemberian asam asetat. Pergerakan menggeliat ini diartikan peregangan, yaitu
menarik kakinya ke belakang dan kejang pada perut. Pengamatan geliat ini dilakukan setiap 5
menit selama 60 menit mulai dilakukan setelah mencit diberi asam asetat. Asam asetat diberikan
secara intraperitonial sedangkan senyawa analgesic non narkotik yang digunakan (Asetosal,
Paracetamol) diberikan secara peroral. Dengan pemberian secara kombinasi ini, diharapkan
ketika rasa yang ditimbulkan oleh asam asetat muncul, maka efek analgesic juga timbul.
Seandainya asam asetat diberikan sebelum pemberian obat analgesic, maka waktu obat
menimbulkan efek tidak dapat diamati, sedangkan jika asam asetat diberikan bersamaan dengan
obat analgesic dikhawatirkan sebelum rasa nyeri timbul. Obat sudah berada di bawah konsentrasi
efek minimal (KEM) sehingga tidak dapat menimbulkan efek. Asam asetat dapat berfungsi
sebagai inductor nyeri karena asam asetat dapat menimbulkan suasana asam karena adanya ion

H+. Suasana asam ini menyebabkan penurunan pH darah (menjadi + 6) sehingga akan
mengiritasi jaringan.
Menurut teori, yang paling efektif dalam menekan rasa nyeri adalah Asetosal >
Paracetamol > CMC. Jumlah geliat yang diberi CMC adalah yang paling besar, karena CMC
dalam percobaan sebagai control negatif yang tidak memiliki efek analgesic sehingga tidak
dapat mengurangi rasa nyeri yang dialami oleh mencit. Paracetamol memiliki daya analgesic
yang lebih ringan dari Asetosal karena Asetosal merupakan analgesic yang kuat sehingga pada
mencit yang diberi asetosal jumlah geliatnya paling sedikit. Dari data, diperoleh rata-rata jumlah
kumulatif geliat mencit yang diberi CMC, asetosal dan paracetamol berturut-turut adalah 66 ;
61,25 ; 95,75. Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa efek analgesic paracetamol < CMC <
asetosal. Dari data jumlah kumulatif ini, kekuatan daya analgesic dengan teori tidak sesuai
karena mungkin adanya perbedaan kondisi biologis masing-masing mencit.
Setelah diperoleh data jumlah geliat mencit rata-rata untuk tiap perlakuan, selanjutnya
dilakukan perhitungan % daya analgesic = 100 (0/k x 100%), dimana 0 = jumlah kumulatif
geliat mencit yang diberi obat analgesic, k= jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi CMC
(Kontrol).
Didapat % daya analgesic asetosal sebesar 7,2% dan % daya analgesic paracetamol
sebesar -45,07%. Menurut % daya analgesic ini telah sesuai dengan teori. Seharusnya
berdasarkan teori daya analgsik asetosal lebih besar daripada daya analgesic paracetamol. Hal ini
dikarenakan paracetamol merupakan analgesic yang ringan, sedangkan asetosal merupakan
analgesic yang lebih kuat. Seharusnya asetosal memberikan daya analgesic yang lebih kuat,
ditandai dengan sekamin sedikitnya geliat mencit dibanding CMC dan paracetamol.
Metode rangsang kimia memiliki kelebihan yaitu mudah dilakukan, sederhana, hasilnya
reprodusibel dan relative murah. Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah tidak spesifik
untuk uji analgesic (misalnya untuk obat-obat steroid dapat juga digunakan untuk uji-uji yang
lain misalnya antiinflamasi, sehingga hasil yang didapat belum tentu daya analgesic obat ini juga
dapat menunjukkan hasil positif (jika obat memiliki efek antihistamin), sehingga apabila suatu
senyawa ditemukan positif terhadap rangsang kimia, perlu dilanjutkan dengan uji analgesic yang

lain sebelum disimpulkan. Dengan kata lain metode rangsang kimia digunakan untuk metode
penelitian awal atau sebagai dugaan awal untuk menilai potensi suatu obat.
Mekanisme terjadinya nyeri:
Fosfolipida (Membran sel)

Kartikosteroid

-----------------

Fosfolipase

Asam Arachidonat

Siklooksigenase

Lipooksigenase

Endoperoksida

Asam hidroperoksida

O2

COX 1

COX 2

COX 1

COX 2

Leukotrien LTA

LTB 4

LTC 4 LTD 4 LTE 4

Tromboxan

prostaglandin

prostaglandin

(TX A2)

(PGl 2)

(PGE 2/F2)

Pada sel mengalami kerusakan, maka akan dilepaskan beberapa mediator kimia.
Diantara mediator inflamasi, prostaglandin adalah mediator dengan peran terpenting. Enzim
yang dilepaskan saat ada rangsang mekanik maupun kimia adalah prostaglandin endoperoksida
sintase (PGHS) atau siklooksigenase (COX) yang memiliki dua sisi katalitik. Sisi yang pertama
adalah sisi aktif siklooksigenase, yang akan mengubah asam arakhidonat menjadi endoperoksid
PGG2. Sisi yang lainnya adalah sisi aktif peroksidase, yang akan mengubah PGG2 menjadi
endoperoksid lain yaitu PGH2. PGH2 selanjutnya akan diproses membentuk PGs, prostasiklin
dan tromboksan A2, yang ketiganya merupakan mediator utama proses inflamasi. COX terdiri
dari dua isoform yaitu COX-1 dan COX-2. COX-1 memiliki fungsi fisiologis, mengaktivasi
produksi prostasiklin, dimana saat prostasiklin dilepaskan oleh endotel vascular, maka berfungsi
sebagai anti trombogenik dan jika dilepaskan oleh mukosa lambung bersifat sitoprotektif. COX-1
di trombosit, yang dapat menginduksi produksi tromboksan A2, menyebabkan aagresi trombosit
yang mencegah terjadinya pendarahan yang semestinya tidak terjadi. Induksi COX-2
menghasilkan PGF2 yang menyebabkan terjadinya kontraksi uterus pada akhir kehamilan
sebagai awal terjadinya persalinan. Pada obat, paracetamol hambatan biosintesis prostaglandin
hanya terjadi bila lingkungannya rendah kadar peroksida seperti di hipotalamus.
Asetosal memiliki daya analgesic paling kuat karena asetosal terikat lebih kuat pada
siklooksigenase jika ddibandingkan dengan paracetamol maka prostaglandin yang tersintesis
jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan asetosal karena daya inhibisi paracetamol yang lebih
lemah.

J. KESIMPULAN
Prinsip dari metode rangsang kimia adalah pengamatan terhadap perubahan perilaku
mencit setelah disuntik dengan zat penimbul rasa nyeri. Dari data percobaan, didapat % daya
analgesic asetosal sebesar 7,2%, lebih besar daripada % daya analgesic paracetamol sebesar
45,07%. Hal ini sesuai dengan teori.

DAFTAR PUSTAKA

Amriel, Reza I., Psikologi Kaum Muda Pengguna Narkoba, Penerbit Salemba Humanika,
Jakarta, hal. 53.
Berman, Audrey, Snyder, Shirlee J., Kozier, Lalbaia, 2009, Buku Ajar Praktik Klinis Kozier Erb,
Ed. 5, Penerbit Kedokteran EGC, hal. 427.
Darmono, S., 2011, Farmakologi Eksperimental, Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 65-67.
Marzuki, Ismail, Amirullah, Fitriana, 2010, Kimia dalam Perawatan, Penerbit Pustaka As Salam,
Sulawesi, hal. 201.
Schmitz, A., 2009, Farmakologi dan Toksikologi, Buku Kedokteran EGC, hal 304.
Tan, H., Kirana R., 2010, Obat-Obat Sederhana Untuk Gangguan Sehari-hari, Media
Komputindo, Jakarta, hal. 110.
Tjay, T.H., Rahardja, K., 2007, Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek
Sampingnya, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, hal. 318,319.
Yodhran, Leilani, F., 2008, Kumpulan Kuliah Farmakologi FK Universitas Sriwijaya, Ed. 2,
Penerbit Kedokteran EGC, Jakarta, hal. 499.

TUGAS AKHIR LAPORAN


1. a.
Ya, metode rangsang kimia terbukti tidak spesifik untuk pengujian efek analgesic. Hal ini
disebabkan obat yang memiliki positif analgesic pada metode ini belum tentu memiliki
sifat analgesic dan perlu dilakukan pengujian lebih bervariasi dan memiliki simpangan
yang terlalu besar. Hal ini dikarenakan pengamatan geliat sangat subyektif sehungga
terjadi perbedaan yang cukup besar. Ada pula kasus dimana pemberian obat analgesic
malah meicu terjadinya geliat. Hal ini berlawanan dengan teori seharusnya dimana obat
analgesic akan mengurangi rasa nyeri dan geliat.
b.
Berdasarkan teori, urutan geliat yang paling banyak adalah larutan CMC, parasetamol,
dan asetosal. Asetosal dalam percobaan tidak menimbulkan geliat sama sekali karena
asetosal bekerja dengan menghambat proses biosintesis prostaglandin melalui adanya
proses asetilasi gugus autikserin pada siklooksigenase 2 dimana asetosal ini merupakan
obat analgesic derivate asam salisilat yang cenderung antipiretik kuat. Paracetamol juga
dapat menghambat biosintesis prostaglandin apabila lingkungannya mempunyai kadar
peroksida yang rendah seperti di hipotalamus sehingga paracetamol mempunyai efek
anti-inflamasi yang rendah karena lokasi peradangan biasanya mengandung banyak
peroksida yang dihasilkan oleh leukosit.

2. Kelebihan:
- Mudah dan sederhana
- Hasil yangreprodusibel
Kekurangan:
- Tidak spesifik untuk steroid karena dapat digunakan untuk uji lain.