Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA TANAH
PENGAMBILAN CONTOH TANAH

Oleh :
Raden Fahmi Husaini
NIM A1H012033

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Pengambilan sampel tanah merupakan tahapan terpenting di dalam program
uji tanah. Analisis kimia dari contoh tanah yang diambil diperlukan untuk

mengukur kadar hara, menetapkan status hara tanah dan dapat digunakan sebagai
petunjuk

penggunaan

pupuk

dan

kapur

secara

efisien,

rasional

dan

menguntungkan. Namun, hasil uji tanah tidak berarti apabila contoh tanah yang
diambil tidak mewakili areal yang dimintakan rekomendasinya dan tidak dengan
cara benar. Oleh karena itu, pengambilan contoh tanah merupakan tahapan
terpenting di dalam program uji tanah.
Tanah terdapat di mana-mana, tetapi kepentingan orang terhadap tanah
berbeda-beda. Seorang ahli pertambangan menganggap tanah sebagai sesuatu
yang tidak berguna karena menutupi barang-barang tambang yang dicarinya.
Semua bahan yang digali kecuali batu-batunya dinamakan tanah. Demikian pula
seorang ahli jalan menganggap tanah adalah bagian permukaan bumi yang lembek
sehingga perlu dipasang batu-batu di permukaannya agar menjadi kuat. Dalam
kehidupan sehari-hari tanah diartikan sebagai wilayah darat di mana di atasnya
dapat digunakan untuk berbagai usaha misalnya pertanian, peternakan,
mendirikan bangunan, dan lain-lain.
Dalam pertanian, tanah diartikan lebih khusus yaitu sebagai media
tumbuhnya tanaman darat. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur
dengan sisa-sisa bahan organik dan organisme (vegetasi atau hewan) yang hidup
di atasnya atau di dalamnya. Selain itu di dalam tanah terdapat pula udara dan air.
Air dalam tanah berasal dari air hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak
meresap ke tempat lain. Di samping percampuran bahan mineral dengan bahan
organik, maka dalam proses pembentukan tanah terbentuk pula lapisan-lapisan
tanah atau horison-horisan. Oleh karena itu, dalam definisi ilmiahnya tanah (soil)
adalah kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam
horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan

udara, dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman. Tanah (soil) berbeda
dengan lahan (land) karena lahan meliputi tanah beserta faktor-faktor fisik
lingkungannya seperti lereng, hidrologi, iklim, dan sebagainya.
Ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah beserta faktorfaktor pembentuknya, klasifikasi tanah, survai tanah, dan cara-cara pengamatan
tanah di lapangan disebut pedologi. Dalam hal ini tanah dipandang sebagai suatu
benda alam yang dinamis dan tidak secara khusus dihubungkan dengan
pertumbuhan tanaman. Walaupun demikian, penemuan-penemuan dalam bidang
pedologi akan sangat bermanfaat pula dalam bidang pertanian maupun non
pertanian seperti pembuatan bangunan.
Apabila tanah dipelajari dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman
disebut edaphologi. Dalam hal ini dipelajari sifat-sifat tanah dan pengaruhnya
terhadap pertumbuhan tanaman, serta usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk
memperbaiki sifat-sifat tanah bagi pertumbuhan tanaman seperti pemupukan,
pengapuran, dan lain-lain.
Dengan meningkatnya pengetahuan manusia tentang tanah, maka ilmu tanah
menjadi ilmu yang sangat luas, sehingga untuk dapat mempelajari dengan baik
perlu pengelompokkan lebih lanjut ke dalam bidang-bidang yang lebih khusus.
1.

B.Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahuicara pengembalian

contoh utuh dan contoh tanah terganggu.


2. Mengambil contoh tanah biasa atau tanah terganggu untuk analisa
kimia dan kestabilan agregat tanah (agregat stability).

II. TINJAUAN PUSTAKA


Tanah adalah bagian dari kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan
organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi, karena
tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air
sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga
menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga
menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat,
tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.
Contoh tanah adalah suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu
bagian tubuh tanah (horizon/lapisan/solum) dengan cara-cara tertentu disesuaikan
dengan sifat-sifat yang akan diteliti secara lebih detail di laboratorium. Contoh
tanah adalah suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian tubuh
tanah (horison/lapisan/solum) dengan cara-cara tertentu disesuaikan dengan sifatsifat yang akan diteliti secara lebih detail di laboratorium.

Pengambilan contoh tanah dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu


pengambilan contoh tanah secara utuh dan pengambilan contoh tanah secara tidak
utuh. Sebagaimana dikatakan di muka bahwa pengambilan contoh tanah
disesuaikan dengan contoh tanah dalam keadaan agregat utuh sifat-sifatnya, ada
tiga macam pengambilan contoh tanah, yaitu:
1.

Contoh tanah utuh yang diperlukan untuk analisis penetapan berat isi, ukuran

2.

pori, dan permeabilitas.


Contoh tanah dalam keadaan agregat utuh untuk penetapan kemantapan

3.

agregat dan kemantapan agregat ukuran.


Contoh tanah terganggu yang diperlukan untuk penetapan kadar lengas,
tetapan atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar air, pH tanah,
kandungan bahan organik, dan juga kandungan unsur hara tanah seperti Ptersedia, total N, dan lain-lain.
Untuk penetapan sifat kimia tanah misalnya kandungan hara (N, P, K, dll),

kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa dan lain-lain, digunakan juga
contoh tanah terganggu.
Pengambilan contoh tanah sangat mempengaruhi tingkat kebenaran hasil
analisa di laboratorium. Metode atau cara pengambilan contoh tanah yang tepat
sesuai dengan jenis analisa yang akan dilakukan merupakan persyaratan yang
perlu diperhatikan. Pengambilan contoh tanah untuk analisis fisik tanah
diperlukan tiga macam contoh tanah, yaitu :
1. Contoh tanah utuh untuk penetapan-penetapan kerapatan limbak, susunan
2.

pori tanah, pH dan permeabilitas.


Contoh tanah dengan agregat utuh untuk penetapan kemantapan agregat dan

3.

nilai Cole.
Contoh tanah biasa atau contoh tanah terganggu untuk penetapan-penetapan
kadar air, tekstur dan konsistensi.

Pengangkutan contoh tanah terutama untuk penetapan kerapatan limbak, pH


dan permeabilitas harus hati-hati. Guncangan-guncangan yang dapat merusak
struktur tanah harus dihindarkan. Dianjurkan untuk menggunakan peti khusus
yang besarnya disesuaikan dengan ukuran dan jumlah tabung. Waktu
penyimpanan perlu diperhatikan. Contoh tanah yang terlalu lama dalam ruang
yang panas akan mengalami perubahan, karena terjadi pengerutan dan aktifitas
jasad mikro. Sebaiknya contoh tanah disimpan dalam ruangan yang lembab
(kelembaban relatif kurang lebih 90% dan suhu kurang lebih 18% dengan variasi
cukup kecil).
Pengambilan sampel tanah digunakan untuk suatu metode analisis tanah.
Analisis tanah dilakukan terhadap suatu sampel. Tanah yang diambil di lapangan
dengan metode tertentu sesuai tujuan yang diharapkan.
Dalam praktikum mata kuliah fisika tanah dilakukan pengambilan dua
sampel tanah, yaitu :
1.

Sampel tanah utuh


Sampel tanah utuh merupakan sampel tanah yang diambil dengan
menggunakan ring. Hal ini dilakukan agar mendapatkan sampel tanah yang
kondisinya sesuai dengan kondisi di lapangan. Selanjutnya sampel tanah utuh
ini digunakan untuk menganalisis sifat fisik tanah yaitu untuk menentukan

2.

nilai bulk density dan kadar air lapang.


Sampel tanah terganggu
Sampel tanah terganggu merupakan sampel tanah yang diambil langsung
menggunakan bor atau sekop yang selanjutnya dikeringanginkan. Sampel
tanah terganggu ini digunakan untuk menentukan kadar air kering udara dan
juga untuk sifat fisik dan kimia tanah.

III. METODOLOGI
A. Alat dan Bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Tanah di lahan
Cangkul
Plastik
Label
Spidol
Ring sample
Timbangan analitis
Penggaris
Pisau
Papan kayu

1.

B. Prosedur Kerja
Pengambilan contoh tanah utuh
1.1 Meratakan dan membersihkan lapisan tanah yang akan diambil dari
rerumputan, kemudian meletakan tabung kuningan tegak lurus diatas
1.2

tanah tersebut.
Menggali tanah hingga kedalaman tertentu (5-10 cm) disekitar calon

1.3

tabung tembaga diletakan, kemudian meratakan tanah dengan pisau.


Meletakan tabung diatas permukaan tanah secara tegak lurus dengan
permukaan tanah, kemudian dengan menggunakan balok kayu yang
diletakan diatas permukaan tabung, tabung ditekan sampai tiga per

1.4

empat bagian masuk ke dalam tanah.


Meletakan tabung lain diatas tabung pertama dan menekan sampai 1 cm

1.5
1.6

masuk ke dalam tanah.


Memisahkan tabung bagian atas dari tabung bagian bawah.
Menggali tabung menggunakan sekop. Dalam menggali ujung sekop

1.7

harus lebih dalam dari ujung tabung agar tanah dibawah ikut terangkat.
Mengiris kelebihan tanah begian atas dengan hati-hati hingga
permukaan tanah sama dengan permukaan tabung, kemudian tutup
tabung dengan penutupnya. Setelah itu, memotong kelebihan tanah
bagian bawah dengan cara yang sama dan menutup tabung kembali.

1.8
2.

Mencantumkan label diatas tutup tabung bagian atas yang berisi

informasi kedalaman, tanggal dan lokasi pengambilan contoh tanah.


Pengambilan contoh tanah terganggu dan agregat utuh
2.1 Membersihkan lapisan tanah yang akan diambil dari rerumputan dan
2.2

sampah.
Menggali bongkahan tanah yang agregatnya masih utuh dengan hati
hati kemudian memasukan kedalaman kantong plastik yang sudah

2.3

diesediakan.
Mencantumkan label diatas tutup tabung bagian atas yang berisi
informasi kedalaman, tanggal dan lokasi pengambilan contoh tanah.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A.Hasil
Tabel 1. Pengambilan contoh tanah utuh
Ring
Jari-jari
Tinggi
Volume
(kelompok)
(cm)
(cm)
(cm3)
1(4)
2,4
5,4
97,66
2(5)
4,6
4,9
325,57
3(6)
4,5
5
317,92

Berat ring +
kap (gr)
34,92
59,6492
59,67599

Tabel 2. Pengambilan contoh tanah terganggu


Pengamatan
Sampel
Lapisan I
Lapisan II
Kedalaman
30
60
Warna
5R2/2
10R2/2
Struktur
Liat
Liat
Keterasaan
Lunak
Lunak
Kerikil
Sedikit
Agak banyak
Perakaran
Tidak ada
Tidak ada

B. PEMBAHASAN

Berat ring +
kap + tanah(gr)
171,47
173,25
178,68

Lapisan III
90
5YR2/2
Liat
Lunak
Banyak
Sedikit

Tanah merupakan suatu sistem lapisan kerak bumi yang tidak padu dengan
ketebalan beragam berbeda dengan bahan-bahan dibawahnya, yang juga tidak
baku dalam hal warna, bangunan fisik, struktur, susunan kimiawi, sifat biologi,
proses kimia ataupun reaksi reaksi (Marbun, 1940).
Definisi tanah menurut Foth adalah bahan mineral yang tidak pepat
(unconsolidated) pada permukaan tanah yang dipengaruhi oleh factor-faktor
genetic dan lingkungan, yaitu: iklim,organisme serta topografi yang semuanya
berlangsung pada suatu periode. Tanah itu adalah tubuh alam (natural body) yang
terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam (natural
forces) terhadap bahan-bahan alam (natural material) dipermukaan bumi.(Hakim,
1986).
Menurut buku The Nature and Properties of soils bahwa tanah itu
merupakan suatu tubuh alam atau gabungan tubuh alam yang dapat dianggap
sebagai hasil alam bermatra tiga yang merupakan paduan antara gaya pengrusakan
dan pembangunan, yang dalam hal ini pelapukan dan pembusukan bahan-bahan
organik adalah contoh-contoh proses perusakan, sedang pembentukan mineral
baru seperti lempung tertentu serta lapisan-lapisan khusus merupakan prosesproses pembangunan ( Brady, 1947).
Gaya-gaya atau kegiatan-kegiatan tersebut menyebabkan bahan-bahan di
alam membentuk tanah. Sifat-sifat khusus tanah sangat beraneka dari tempat ke
tempat, seperti yang berkembang di iklim tropika dengan yang di iklim ugahari
(dingin).

Tanah merupakan suatu sistem yang ada dalam suatu keseimbangan


dinamis dengan lingkungannya (lingkungan hidup atau lingkungan lainnya).
Tanah tersusun atas 5 komponen yaitu:
a. Partikel mineral, berupa fraksi anorganik, hasil perombakan bahan-bahan
batuan dan anorganik yang terdapat di permukaan bumi.
b. Bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang dan
berbagai hasil kotoran binatang.
c. Air
d. Udara tanah, dan
e. Kehidupan jasad renik.
Perbedaan perbandingan komponen-komponen diatas akan menyebabkan adanya
perbedaan antara tanah yang satu dengan tanah yang lainnya.

Gambar 1. Kompsisi volume tanah


Gambar diatas menunjukan secara umum kompsisi volume tanah atas
bertekstur lempung berdebu yang optimal bagi pertumbuhan tanaman. Menurut
BRADY (1947) 50% berupa ruang pori (udara dan air), sedang fasa padat
menduduki volume sekitar 45% bahan mineral dan 5% bahan organik. Pada
kelembaban optimum bagi pertumbuhan tanaman maka 50% ruang pori itu akan
terbagi atas 25% udara dan 25% air. Udara dan air dalam tanah itu keadaannya

demikian goyang, perbandingannya

menentukan keserasian pertumbuhan

tanaman.
Sampel tanah utuh merupakan sampel tanah yang diambil dengan
menggunakan ring. Hal ini dilakukan agar mendapatkan sampel tanah yang
kondisinya sesuai dengan kondisi di lapangan. Selanjutnya sampel tanah utuh ini
digunakan untuk menganalisis sifat fisik tanah yaitu untuk menentukan nilai bulk
density dan kadar air lapang. Tanah utuh atau tanah tidak terganggu di lapangan
adalah tanah yang benar-benar utuh tidak terganggu oleh faktor luar seperti
tumbukan air hujan, sehingga dalam pengambilannya benar-benar diperlukan
kehati-hatian agar tanah yang diperoleh benar-benar utuh atau tidak terganggu.
Sampel tanah terganggu adalah sampel tanah yang dapat diambil dengan
menggunakan skop, spatula, atau bor tanah mineral yang selanjutnya
dikeringanginkan dan digunakan untuk mengukur parameter seperti pH, Kapasitas
Tukar Kation (KTK), kadar air kering udara, kadar nitrogen, C-organik, fosfat,
dan unsur-unsur tertentu serta tekstur tanah (kandungan pasir, debu, dan liat atau
lempung).
Teknik pengambilan contoh tanah agregat utuh (bongkah) yaitu dengan
menggunakan cangkul untuk menggali kedalaman yaitu sekitar 0-20 cm. Biasanya
engambilan dilakukan di dua tempat yaitu lokasi 1 dan lokasi 2. Namun pada
praktikum kali ini hanya dilakukan di satu tempat. Kestabilan agregat terganggu
antara lain akibat pencangkulan atau pengambilannya yang menyebabkan tanah
sebagian pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Sehingga proses pengambilan
harus dilakukan sehati-hati mungkin agar diperoleh agregat-agregat tanah yang
utuh.

Sedangkan pada tanah terganggu menggunakan metode komposit. Metode


komposit adalah metode pengambilan contoh tanah pada beberapa titik
pengambilan pada suatu areal/bentang lahan yang relatif homogen, kemudian
contoh-contoh tersebut disatukan, dicampur, dan dianalisis. Asumsi metode ini
yaitu hasil analisinya memberikan hasil analisis yang sama jika contoh tanah yang
membentuk komposit tersebut diambil secara satu per satu atau di setiap titik atau
individual. Tekniknya yaitu mengambil contoh tanah pada suatu areal atau
bentang lahan yang relatif homogen, disatukan dan dicampur hingga merata,
kemudian contoh tanah dianalisis. Analisis contoh tanah memerlukan contoh
tanah yang berbeda, tergantung pada tujuan analisis.
Contoh tanah untuk uji tanah sebaiknya merupakan contoh tanah komposit
yaitu contoh tanah campuran dari contoh- contoh tanah individu. Contoh tanah
komposit harus mewakili bentuk lahan yang akan dikembangkan atau digunakan
untuk tujuan pertanian. Contoh tanah individu diambil dari lapisan olah atau
lapisan perakaran. Satu contoh komposit mewakili hamparan yang homogen 1015 ha. Untuk lahan miring dan bergelombang 1 contoh tanah komposit terdiri dari
campuran 10-15 contoh tanah individu. Sebelum pengambilan contoh tanah, perlu
diperhatikan keseragaman areal/ hamparan. Areal yang akan diambil contohnya
diamati dahulu keadaan topografi, tekstur, warna tanah, pertumbuhan tanaman,
input (pupuk, kapur, bahan organik, dan sebagainya), dan rencana dapat
ditentukan 1 hamparan yang sama (homogen/ mendekati sama). Hamparan tanah
yang homogen tidak mencirikan perbedaan- perbedaan yang nyata, antara lain

warna tanah dan pertumbuhan tanaman kelihatan sama. Contoh tanah komposit
diambil pada tanah yang homogen dan dominan pada suatu hamparan.
Perbedaan antara tanah utuh, tanah tidak utuh/terganggu, dan agregat utuh
yaitu :
1. Contoh tanah utuh (undisturbed soil sample) untuk penetapan kerapatan isi,
kerapatan jenis partikel, dan ruang pori total, pF, dan permeabilitas. Contoh
tanah utuh merupakan contoh tanah yang diambil dari lapisan tertentu dalam
2.

keadaan tidak terganggu.


Contoh tanah tidak utuh/terganggu digunakan untuk analisis berbagai macam
sifat fisik dan kimia tanah, seperti penetapan kadar air tanah, tekstur,
kandungan bahan organik, pH, dan kandungan unsur hara tanah seperti P

3.

tersedia, total N, dan lain-lain.


Contoh tanah dengan agregat utuh atau bongkah untuk penetapan nilai cole
dan kemantapan agregat. Contoh tanah agregat utuh adalah contoh tanah
berupa bongkahan alami yang kokoh dan tidak mudah pecah.
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dihasilkan data pada

pengambilan contoh tanah utuh yaitu nilai jari-jari pada ring satu 2,4 cm, 4,6 cm,
dan 4,5 cm. dengan tinggi rig 5,4 cm, 4,9 cm, dan 5 cm sehingga didapatkan
volume 97,66 cm3, 325, 57 cm3,dan 317,92 cm3. Dengan berat ring dan kap yaitu
34,92 gr, 59,6492 gr, dan 59,67599 gr. Setelah dilakukan penggambilan tanah utuh
datanya berubah menjadi 171,47 gr, 173,25 gr, dan 178, 68 gr. Dengan data
tersebut dapat digunakan untuk penetapan angka berat volume, distribusi pori
pada berbagai tekanan dan permeabilitas tanah. Perbedaan hasil pengukuran
disebabkan karena ring yang digunakan untuk mengambil tanah utuh memiliki
ukuran yang berbeda-beda. Sedangkan pada pengambilan contoh tanah terganggu

digunakan untuk mengukur sifat fisik tanah berupa warna tanah dan struktur
tanah, kemudian digunakan untuk mengidentifikasi kekerasan tanah, ketersediaan
kerikil dan akar dalam tanah. Pada kedalaman 30 cm diperoleh bahwa warna
tanah adalah 5 R2/2 dengan struktur liat dan lunak dengan sedikit kerikil dan tidak
ada perakaran. Sedangkan pada kedalaman 60 cm merupakan tanah liat dan lunak
dengan warna tanah 10 R2/2 serta terdapat agak banyak batu dan tidak ada
perakaran. Pada lapisan 90 cm merupakan tanah liat dan lunak dengan warna
tanah 5 YR2/2 terdapat banyak batu dan sedikit perakaran. Dari hasil pengamatan
tersebut diketahui bahwa diatas tanah yang diambil tanahnya tidak terdapat bekas
tenaman ditandai dengan tidak adanya perakaran pada kedalaman 30 cm,dan 60
cm. Sedangkan pada kedalam 90 cm terdapat sedikit perakaran yang merupakan
akar tanaman di sekitar agregat tanah.
Kendala kendala yang dihadapi saat praktikum adalah lahan yang di
gunakan ditumbuhi rumput sehingga pada proses pengambilan contoh tanah
mengalami kesulitan karen perakaran rumput yang sudah panjang masuk kedalam
tanah, serta di dalam tanah tersebut mengandung banyak batuan yang menyulitkan
proses pada saat praktikum.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A.Kesimpulan

1. Sampel tanah utuh merupakan sampel tanah yang diambil dengan


menggunakan ring. Hal ini dilakukan agar mendapatkan sampel tanah
yang kondisinya sesuai dengan kondisi di lapangan. Selanjutnya sampel
tanah utuh ini digunakan untuk menganalisis sifat fisik tanah yaitu untuk
menentukan nilai bulk density dan kadar air lapang.
2. Sampel tanah terganggu adalah sampel tanah yang dapat diambil dengan
menggunakan skop, spatula, atau bor tanah mineral yang selanjutnya
dikeringanginkan dan digunakan untuk mengukur parameter seperti pH,
Kapasitas Tukar Kation (KTK), kadar air kering udara, kadar nitrogen, Corganik, fosfat, dan unsur-unsur tertentu serta tekstur tanah (kandungan
pasir, debu, dan liat atau lempung).

B.Saran
Sebaiknya praktikum acara pengambilan contoh tanah diperbanyak alat
penunjang praktikumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Baver, L.D. 1961. Soil Physics. John Wiley & Sons Inc. New york.
Foth, Henry D. 1988. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Foth, Henry D. 1995. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Foth, Henry D. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Gusmiati, 2012. Pengamatan Tanah Dengan Indera. UNSOED. Purwokerto.
Hakim, Nurhajati dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. UNILA, Lampung.
Hakim, Nurhajati dkk. 1996. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. UNILA, Lampung.
Hardjowigeno, S. 1992. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akapress. Jakarta.
Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Pressindo.
Hardjowigeno, S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akapress. Jakarta.
Hariwidjaja, O. 1980. Pengantar Fisika Tanah. Departemen Ilmu Tanah Institut
Pertanian Bogor. hlm. 62.
Kartasapoetra, Sutedjo. 1991. Pengantar Ilmu Tanah.Jakarta : Rineka Cipta
Poerwowidodo. 1991. Genesa Tanah, Proses Genesa dan Morfologi. Fahutan.
Institut Pertanian Bogor.
Syarief, Saifuddin.1989. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Bandung.
Time Life. 1996. Bumi dan Permukaanya. Jakarta : Tira Pustaka.