Anda di halaman 1dari 56

BAB I

LANDASAN TEORI
A. MEDIS
1. Pengertian
a. Gastroentritis (GE) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus
yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (capital
selekta,edisi 3.1999).
b. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih
banyak dari biasanya (normal 100 200 ml per jam tinja), dengan tinja
berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai
frekuensi yang meningkat (Smeltzer dan Bare, 2001, hal 1093).
c. Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau
bentuk tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya
d. Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang
disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang
patogen (Whaley & Wongs,1995).
e. Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari
(Suhariyono, 2003).

Dari

kelima

pengertian

diatas

penulis

dapat

menyimpulkan

bahwa

Gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang
memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang
disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.

2. Anatomi Fisiologi
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus)
adalahsistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan,
mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam
aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau
merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.

Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan,


lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus.Sistem pencernaan juga
meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas,
hati dan kandung empedu.

Gambar 1. System Pencernaan


a. Mulut
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada
hewan. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian
awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus.Mulut
merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut
dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang
terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari
manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di
hidung dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau.
Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh
gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih
mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian
dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai
mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya
lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung.
Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.

b. Tenggorokan (Faring)
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal
dari bahasa yunani yaitu Pharynk.Didalam lengkung faring terdapat tonsil
(amandel) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit
dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan
antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan
rongga hidung, didepan ruas tulang belakang.
Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan
perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan
rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium
Tekak terdiri dari; Bagian superior =bagian yang sangat tinggi dengan
hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian
inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut
nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak
dengan ruang gendang telinga,Bagian media disebut orofaring,bagian ini
berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laring gofaring
yang menghubungkan orofaring dengan laring

c. Kerongkongan (Esofagus)
Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui
sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan
berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik.
Sering juga disebut esofagus(dari bahasa Yunani: i, oeso - "membawa",
dan , phagus - "memakan").
Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut
histologi.Esofagus dibagi menjadi tiga bagian:
1) bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka)
2) bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus)
3) serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus)

d. Lambung
Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang
keledai.Terdiri dari 3 bagian yaitu
1) Kardia.
2) Fundus.
3) Antrum.
Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot
berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup.
Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi
lambung ke dalam kerongkongan.Lambung berfungsi sebagai gudang
makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan
dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3
zat penting :
1) Lendir
Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam
lambung.Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan
kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung.
2) Asam klorida (HCl)
Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang
diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung
yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi
dengan cara membunuh berbagai bakteri.
3) Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)

e. Usus halus (usus kecil)


Usus halus atau usus keciladalah bagian dari saluran pencernaan yang
terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan
pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena
porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air
(yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna).

Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna


protein, gula dan lemak.Lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah
dalam), lapisan otot melingkar (M sirkule), lapisan otot memanjang (M
Longitidinal) dan lapisan serosa (Sebelah Luar).Usus halus terdiri dari tiga
bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan
usus penyerapan (ileum).
1) Usus dua belas jari
Usus dua belas jari atau duodenumadalah bagian dari usus halus yang
terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong
(jejunum).
Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus,
dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz.
Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak
terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari
yang normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari
terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu.
Nama duodenum berasal dari bahasa Latinduodenum digitorum, yang
berarti dua belas jari.
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari
(duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan
masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang
bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan
sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.
2) Usus Kosong (jejenum)
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah
bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum)
dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh
usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus
kosong dan usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan
mesenterium.
Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat
jonjot usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus.

Secara histologis dapat dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni
berkurangnya kelenjar Brunner. Secara hitologis pula dapat dibedakan
dengan usus penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri.
Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan
secara makroskopis.
Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti "lapar" dalam
bahasa Inggris modern. Arti aslinya berasal dari bahasa Laton, jejunus,
yang berarti "kosong".
3) Usus Penyerapan (illeum)
Usus penyerapan atau ileumadalah bagian terakhir dari usus halus. Pada
sistem pencernaanmanusia,ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan
terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus
buntu.
Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan
berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.

f. Usus Besar (Kolon)


Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu
dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus
besar terdiri dari :
1) Kolon asendens (kanan)
2) Kolon transversum
3) Kolon desendens (kiri)
4) Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna
beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.Bakteri di dalam
usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K.
Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta
antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus
besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya
lendir dan air, dan terjadilah diare.

g. Usus Buntu (sekum)


Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, "buta") dalam istilah anatomi
adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian
kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia,
burung, dan beberapa jenis reptil.Sebagian besar herbivora memiliki sekum
yang besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang
sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.

h. Umbai Cacing (Appendix)


Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu.Infeksi
pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis
yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di
dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen).Dalam
anatomi manusia, umbai cacing atau dalam bahasa Inggris, vermiform
appendix (atau hanya appendix) adalah hujung buntu tabung yang
menyambung dengan caecum.Umbai cacing terbentuk dari caecum pada
tahap embrio.
Dalam orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa
bervariasi dari 2 sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap,
lokasi ujung umbai cacing bisa berbeda - bisa di retrocaecal atau di
pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum.Banyak orang
percaya umbai cacing tidak berguna dan organ vestigial (sisihan), sebagian
yang lain percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam sistem
limfatik.Operasi membuang umbai cacing dikenal sebagai appendektomi.

i. Rektum dan anus


Rektum (Bahasa Latin: regere, "meluruskan, mengatur") adalah sebuah
ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan
berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sementara feses.Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat
yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens.

Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul
keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum
karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf
yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak
terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di mana
penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk
periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.Orang
dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan
anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot
yang penting untuk menunda BAB.
Anusmerupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah
keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan
sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot
sphinkter.Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar
- BAB), yang merupakan fungsi utama anus.

j. Pankreas
Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi
utama yaitu menghasilkan enzimpencernaan serta beberapa hormon penting
seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posteriorperut dan
berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari).
Pankraes terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu :
1)

Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan

2)

Pulau pankreas, menghasilkan hormon

Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan


melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas
akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah
protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan
dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai
saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium
bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan
asam lambung.

k. Hati
Hati merupakan sebuah organ yang terbesar di dalam badan manusia dan
memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan
pencernaan.Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan
memiliki beberapa fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen,
sintesis protein plasma, dan penetralan obat.Dia juga memproduksi bile,
yang penting dalam pencernaan.Istilah medis yang bersangkutan dengan
hati biasanya dimulai dalam hepat- atau hepatik dari kata Yunani untuk hati,
hepar.
Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan
pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke
dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada
akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta.Vena porta terbagi
menjadi pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk
diolah. Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah
darah diperkaya dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi
umum.

l. Kandung empedu
Kandung empedu (Bahasa Inggris: gallbladder) adalah organ berbentuk
buah pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan
tubuh untuk proses pencernaan.
Pada manusia, panjang kandung empedu adalah sekitar 7-10 cm dan
berwarna hijau gelap - bukan karena warna jaringannya, melainkan karena
warna cairan empedu yang dikandungnya. Organ ini terhubungkan dengan
hati dan usus dua belas jari melalui saluran empedu. Empedu memiliki 2
fungsi penting yaitu:
1) Membantu pencernaan dan penyerapan lemak
2) Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama
haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan
kelebihan kolesterol

10

3. Etiologi
Menurut Brunner & Suddarth 2002 terdapat beberapa etiologi pada penderita
gastrointestinal akut yaitu :
a. Makanan yang terkontaminasi racun atau karena makanan yang sudah basi.
b.Infeksi kuman
c. Malabsorpsi garam empedu.
d.Penyakit inflamasi usus(enteritis regional, colitis ulseratif) terutama
menyebabkan diare kronik dengan darah atau mucus
e. Akibat obat obatan laksatif, dan garam berlebihan

4. Pathogenesis dan Patofisiologi


a. Pathogenesis menurut Ngastiyah (2008) yaitu:
1) Gangguan osmotic
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik meninggi dalam rongga usus. Isi rongga
usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya
sehingga timbul gastroenteritis.
2) Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit kedalam rongga usus dan
selanjutnya timbul gastroenteritis karena terdapat peningkatan isi
rongga usus.
3) Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan sehingga timbul gastroenteritis. Sebaliknya
bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh
berlebihan, selanjutnya timbul pula gasteoenteritis.

11

b. Patofisiologi

(http:/nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengangastroenteristis)
Berdasarkan cairan yang hilang tingkat dehidrasi terbagi menjadi:
a. Dehidrasi ringan, jika kekurangan cairan 5% atau 25 ml/kg/bb.
b. Dehidrasi sedang, jika kekurangan cairan 5-10% atau 75 ml/kg/bb.
c. Dehidrasi berat, jika kekurangan cairan 10-15% atau 125 ml/kg/bb.

12

Gastroenteritis dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri secara langsung
atau oleh efek dari nurotoxin yang diproduksi oleh bakteria.Infeksi ini
menimbulkan peningkatan produksi air dan garam ke dalam lumen usus dan
juga peningkatan motilitas, yang menyebabkan sejumlah besar makanan yang
tidak dicerna dan cairan dikeluarkan.Dengan gastroenteritis yang hebat,
sejumlah besar cairan dan elektrolit dapat hilang, menimbulkan dehidrasi,
hyponatremi dan hipokalemia (Long, 1996).Selain itu juga gastroenteritis yang
akut maupun yang kronik dapat meyebabkan gangguan gizi akibat kelaparan
(masukan kurang, pengeluaran bertambah), hipoglikamik, dan gangguan
sirkulasi darah.

5. Tanda & Gejala


Menurut Suriadi dan Rita Yuliani 2001 tanda dan gejala dari diare adalah :
a. Diare.
b. Muntah.
c. Demam.
d. Nyeri Abdomen
e. Membran mukosa mulut dan bibir kering
f. Fontanel Cekung.
g. Lemah.
h. Kehilangan berat badan
i. Tidak nafsu makan
j. Pucat

6. Komplikasi
Menurut Suriadi dan Rita Yuliani 2001 komplikasi dari diare adalah :
a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia

13

g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.


Dari komplikasi Gastroentritis,tingkat dehidrasi dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
1) Dehidrasi ringan
Kehilangan cairan 2 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor
kulit kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.
2) Dehidrasi Sedang
Kehilangan cairan 5 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor
kulit jelek, suara serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam.
3) Dehidrasi Berat
Kehilangan cairan 8 - 10 % dari bedrat badan dengan gambaran
klinikseperti tandatanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran
menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.

7. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Doenges, Marilynn E, 2000 Pemeriksaan Diagnostik dari diare adalah
a. Diferensial : menentukan adanya anemia, leucopenia, limfositosis.
b. Elektrolit : ketidakseimbangan termasuk penurunan kalium, natrium, dan
klorida.
c. Fungsi tiroid : Kadar tiroksin (T4) biasanya normal, namun sirkulasi kadar
tridotironin (T3) mungkin rendah.
d. Fungsi hipofisis : Respon TSH terhadap TRF tak normal pada anorexia
nervosa
e. Metabolisme kortisol : Dapat meningkat.
f. Tes sekresi hormone Lutenizing : Pola sering mirip gadis pra pubertas
g. Gula Darah: Mungkin rendah
h. Kimia lain : AST (SGOT) meningkat
i. Urinalisa dan fungsi ginjal : BUN dapat meningkat, adanya keton
menunjukkan kelaparan, penurunan urin 17 ketosteroid
j. Pemeriksaan tinja.
k. Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan.

14

8. Penatalaksanaan Medik
Menurut Suddarth & Brunner, 2002 Penatalaksanaan Medik dari diare adalah :
a. Menginstruksikan pasien untuk menghindari alkohol dan makanan sampai
gejala berkurang
b.Bila diet mengandung gizi dianjurkan pada pasien yang mampu makan
melalui mulut
c. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral.
d.Bila gastritis di akibatkan oleh mencerna makanan yang sangat asam atau
alkali, pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralisirasian agen
penyebab.
e. Terapi pendukung mencakup intubasi, analgesic dan sedative, antasida serta
cairan intravena
f. Endoscopy fiberoptik mungkin diperlukan untuk mengangkat gangren /
jaringan perforasi.

9. Prognosis
Dengan penggantian Cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan
terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius hasilnya
sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. Seperti
kebanyakan penyakit, morbiditas dan mortalitas ditujukan pada anak-anak dan
pada lanjut usia. Di Amerika Serikat, mortalits berhubungan dengan diare
infeksius < 1,0 %.

10. Pencegahan
a. Tetap memberikan nutrisi yang cukup selama diare, terutama pada anak
dengan gizi yang kurang. Minuman dan makanan jangan dihentikan lebih
dari 24 jam, karena pulihnya mukosa usus tergantung dari nutrisi yang
cukup.Bila tidak makalah ini akan merupakan faktor yang memudahkan
terjadinya diare
b. Air susu ibu dan susu formula serta makanan pada umumnya harus
dilanjutkan pemberiannya selama diare

15

c. Pada anak lebih besar makanan yang direkomendasikan meliputi tajin


(beras, kentang, mi, dan pisang) dan gandum (beras, gandum, dan cereal).
Makanan yang harus dihindarkan adalah makanan dengan kandungan
tinggi, gula sederhana yang dapat memperburuk diare seperti minuman
kaleng dan sari buah apel. Juga makanan tinggi lemak yang sulit ditoleransi
karena karena menyebabkan lambatnya pengosongan lambung.
d. Pemberian susu rendah laktosa atau bebas laktosa
(www.dr-rocky.com/layout-artikel-kesehatan/42-diare-akut-pada-anak)

B. KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Untuk kasus gastroenteritis, pengkajian yang dilakukan meliputi:
a. Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, tempat tanggal lahir, nama orang tua,
pekerjaan dan pendidikan.
b. Riwayat kesehatan yang lalu
Penyakit yang pernah diderita, apakah sebelumnya pernah menderita
gastroenteritis atau penyakit lain, kebiasaan hidup, riawayat alergi dan lainlain.
c. Riwayat kesehatan saat sakit
1) Keluhan utama: Keluhan yang sering ditemukan adalah BAB encer
lebih dari empat kali sehari, warna feses kuning kehijauan, hijau, bentuk
mukoid dan mengandung darah.
2) Riwayat perjalanan penyakit: beberapa lama penyakit diderita, hal-hal
yang meringankan dan memperberat penyakit.
3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan.
d. Riwayat kehamilan dan persalinan ibu
Kehamilan dengan gawat janin, diabetes mellitus, malnutrisi, intrauteri,
infeksi intra-natal, persalinan dengan ada komplikasi, persalinan dengan
tindakan karena ada komplikasi, penolong persalinan.
e. Riwayat penyakit keluarga
Ada riwayat penyakit gastroenteritis

16

f. Riwayat alergi juga penting karena dapat juga menjadi indicator


penyakit terutama obat.
g. Riwayat pemberian imunisasi
Imunisasi lengkap atau tidak.
h. Pengkajian fisik
1) Tanda-tanda vital: tekanan darah menurun akibat ketidakseimbangan
cairan elektrolit, suhu meningkat, nadi cepat, lemah, respirasi meningkat
akibat asidosis metabolic.
2) Keadaan penyakit
Penyakit akut bila tidak segera ditangani dapat mengakibatkan dehidrasi
yang ditandai depresi fontanel anterior, mata cekung, turgor kulit buruk,
selaput lendir kering, tidak ada air mata bila menangis, sehingga klien
dapat jatuh kedalam syok hipovolemik dan dapat meyebabkan kematian.
3) Keadaan umum klien
Mula-mula jatuh pada dehidrasi ringan yang apabila tidak segera diatasi
maka akan jatuh pada dehidrasi sedang dan berat, yang diawali
kelemahan fisik.
4) Sistem integument
Eksoriasi bokong akibat tinja asam, turgor kulit baik dan bila jatuh pada
tahap dehidrasi berat maka turgor kulit buruk.
5) Sistem hemotologi
Hiponatremia

atau

hipernatremia

akibat

kekurangan

natrium,

hipokalemia atau hiperkalemia akibat kekurangan kalium, asidosis


metabolic.
6) Sistem pernapasan
Respiratori meningkat akibat adanya asidosis metabolic apabila jatuh
pada dehidrasi berat.
7) Sistem gastrointestinal
Nyeri atau kram abdomen, dehidrasi abdomen, hiperperistaltik usus
8) Pola fungsi kesehatan
Pola fungsi kesehatan dapat di kaji melalui pola Gordon dimana
pendekatan ini memungkinkan perawat untuk mengumpulkan data

17

secara sistematis dengan cara mengevaluasi pola fungsi kesehatan dan


memfokuskan pengkajian fisik pada masalah khusus.
9) Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Kaji persepsi keluarga terhadap kesehatan dan upaya-upaya keluarga
untuk mempertahankan kesehatan.Termasuk juga penyakit anak
sekarang ini dan upaya yang diharapkan.
10) Pola nutrisi metabolic
Kaji pola nutrisi anak dan bagaimana dengan pemberian ASI.Klien
mengalami gangguan nafsu makan, mual, muntah dan diare.
11) Pola eliminasi
Kaji pola eliminasi feses dan urin, berapa frekuensinya dan bagaimana
sifatnya, BAB lebih empat kali sehari, BAK tak terkaji, berat jenis urine
tinggi, oliguria.
12) Pola istirahat-tidur
Gangguan tidur biasanya disebabkan oleh badan panas atau demam,
BAB yang sering.
13) Pola kognitif perceptual
Pola ini sulit dan tak bisa dikaji/dilakukan
14) Pola peran hubungan
Kaji siapa yang mengasuh bayi.Klien sering digendong karena rewel.
15) Pola aktivitas dan latihan
Kaji tingkat perkembangan atau tumbuh kembang sesuai dengan usia.
16) Pola reproduksi
Tidak bisa di kaji pada bayi, tapi dapat dilihat dari cara orang tua
memperlakukan anaknya sesuai dengan jenis kelamin (pakaian, alat
permainan).
17) Pola koping dan toleransi terhadap stress.
Untuk mengkaji pola ini sulit karena bahasa untuk bayi tidak dimengerti
(menangis).
18) Pola keyakinan
Kajian tentang pola keyakinan ini lebih banyak pada bagian bagaimana
pola keyakinan orang tua klien.

18

2. Diagnose Keperawatan yang mungkin muncul


Menurut (Brunner & Suddarth, 2002)
a. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan mencerna makan.
c. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB
yang berlebihan.
d. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakit,prognosis dan pengobatan.
f. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang
baru, prosedur yang menakutkan

3. Rencana Asuhan Keperawatan


No

Diagnosa

Tindakan Keperawatan

Rasional

Keperatan
Tujuan dan

Tindakan

Kriteria
1.

Defisit

volume Setelah

cairan

dan dilakukan

elektrolit
dari

1. Kaji

kurang tindakan
kebutuhan keperawatan

adanya 1. keseimbangan

dehidrasi

cairan

(penurunan

pertahankan

turgor

selama

episode
Karena

kulit,

sulit

di

tubuh berhubungan diharapkan

tacikardi, nadi

akut.

dengan

lemah,

feses di dorong

penurunan

melalui

usus

natrium

terlalu

cepat

serum, haus).

untuk

cairan
berlebihan

output kekurangan
yang volume
dapat

cairan
terpenuhi

dengan kriteria:
-

Membrane

memungkinkan

mukosa

absorbsi

lembab.

haluaran

Intake

dan 2. Mencatat

air;

melebihi asupan

19

out

put

seimbang.
-

dan 2. Mengetahui

output

kesimbangan

Turgor kulit

antara intake dan


3. Diskusikan

baik.
-

intake

Mata

tidak

cara

untuk

output klien dan


mengetahui

cekung.

menghentikan

banyak

Menunjukkan

muntah.

pergantian cairan
yang

perubahan
keseimbanga

4. Berikan

perlukan.

cairan

n cairan

di

3. Memberitahukan

parenteral

bahwa

akibat

sesuai

muntah

cairan

indikasi

akan kehilangan
lebih

banyak

lagi.
4. memperbaiki
kehilangan
cairan.
2.

Resiko

gangguan Setelah

integritas

1. Observasi

kulit dilakukan

1. Area

kemerahan,

meningkat

ini

berhubungan

tindakan

pucat,

risikonya untuk

dengan

keperawatan

ekskoriasi.

kerusakan

iritasi,frekwensi

diharapkan

BAB
berlebihan.

2. Gunakan

yang gangguan
inutegritas
dapat

kulit

memerlukan

krim kulit dua

pengobatan lebih

kulit

kali

intensif.

diatasi

dan

dengan kriteria:
-

dan

sehari

setelah 2. Melicinkan kulit

mandi.

dan menurunkan

pasien 3. Tekankan

gatal.

tetap utuh

pentingnya

tidak

masukan

mengalami

nutrisi

kerusakan

cairan

3. Perbaiki

nutrisi

dan hidrasi akan


atau

memperbaiki
kondisi kulit.

20

kulit

adekuat.

4. Dorong
mandi

dua 4. sering

mandi

hari satu kali,

menyebabkan

pengganti

kekeringan kulit

mandi

tiap

hari.
3.

Perubahan

nutrisi Setelah

kurang

dari dilakukan

kebutuhan

tubuh tindakan

berhubungan
dengan
makanan
adekuat

1. Hindari

keperawatan

pemberian

dalam

diet

dan protein dan

dengan

pisang, apel,

masukan diharapkan

dan

tak nutrisi terpenuhi


dengan kriteria:
-

1. Diet ini rendah

rendah elektrolit

roti

bakar.

2. mengetahui

2. Kaji dan catat

perkembangan

menunjukkan

respon

nafsu

makan

peningkatan

terhadap

klien

dan

BAB

pemberian

memantau

mencapai

makan

peningkatan
masukan oral.

yang
diharapkan
-

energy

3. berikan klien 3. mencegah

Dapat

makan

menghabiska

dengan

diet

lambung

lunak,

diet

dapat mengiritasi

porsi

kekosongan

makanan

dengan porsi

yang

kecil

dihidangkan.

sering.

yang

lambung

tapi

4. Gali masalah 4. untuk


dan prioritas

memperbaiki

anggota

kepatuhan

keluarga.

terhadap
program

21

terapiutik

4.

Kurang

Setelah

1. Tentukan

pengetahuan

dilakukan

persepsi

tingkat

berhubungan

tindakan

keluarga

pengetahuan

dengan kurangnya keperawatan

tentang

dasar

informasi

proses

proses penyakit

penyakit.

dan pengobatan.

tentang diharapkan

penyakit,prognosis

kurang

dan pengobatan.

pengetahuan
keluarga

tentang

ulang 2. pengetahuan

proses

dasar

penyakit,

akurat

kriteria:

penyebab

memberikan

keluarga

yang

kesempatan

mengerti

menimbulkan

keluarga

tentang

gejala.

membuat

diatasi

dapat

2. Kaji

1. mengetahui

dengan

untuk

penyakit dan

keputusan

pengobatan.

tentang

keluarga

penyakitnya.

berpartisipasi

yang

3. Kaji

ulang 3. memungkinkan

dalam

obat,

tujuan,

pemahaman dan

pengobatan

frekwensi,

dan

dosis

perawatan

kemungkinan

kerja

keluarga

efek samping.

dalam program.

dapat
dan

meningkatkan
sama

menunjukkan
kemampuan

4. Tekankan

4. Menurunkan

untuk

pentingnya

penyebaran

merawat

perawatan

bakteri

pasien,

kulit

resiko

khususnya

tehnik.

Cuci

dirumah

tangan

yang

bersih

dan

seperti

kulit.

dan
iritasi

22

perawatan
perineal.
5.

Gangguan

rasa Setelah

nyaman

nyeri dilakukan

berhubungan
dengan

1. Kaji

rasa nyeri.

tindakan

mempermudah
dalam

distensi keperawatan

abdomen.

tingkat 1. Untuk

2. Atur

posisi

pengibatan.

diharapkan nyeri

yang nyaman 2. Mengurangi

dapat

bagi klien.

teratasi

nyeri.

dengan kriteria:
-

Nyeri

3. Beri kompres 3. Untuk

berkurang

hangat

Pasien

daerah

distensi

terlihat rilek

abdoment.

abdomen.

Skala nyeri 0

Pasien

pada

bisa 4. Kolaborasi

berjalan

dengan dokter

kemana-

dalam

mana.

pemberian

mengurangi

4. Program
pengobatan.

therafi
analgetik
sesuai
indikasi
6.

Cemas

Setelah

berhubungan

dilakukan

1. Kaji

dengan perpisahan tindakan


dengan

orang keperawatan

tua,prosedur yang diharapkan


menakutkan.

cemas
teratasi

dapat
dengan

kecemasan

mengatasi cemas

klien.

klien.

2. Gunakan

rasa

terapiutik,

pada kilen dan

kontak mata,

keluarga

dan

tubuh.

menunjukkan

2. Memberikan

komunikasi

kriteria:
Pasien

tingkat 1. Mempermudah

sikap

nyaman

23

tanda-tanda
-

3. Membantu untuk

kenyamanan.

keluarga

mengurangi

Cemas

dalam setiap

tingkat

berkurang

tindakan.

kecemasan

Pasien
menunjukkan

3. Libatkan

keluarga.
4. Anjurkan

tanda-tanda

pada keluarga

distress fisik

untuk

yang

mendampingi

minimal.

klien.

Keluarga
dapat
berpartisifasi
dalam
perawatan
pasien sebaik
mungkin.

selalu

4. Memberikan
motivasi klien.

24

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

Tanggal: 18 Desember 2013, Jam 11.30 WIB


Nama Mhs. : Ketut Sanjaya
Tempat Praktik: RS.Bethesda

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Nama

: An. K

Tanggal lahir/umur

: 21 November 2011 / 2 Th 28 Hr

Nama Ayah/Ibu

: Ibu W

Pekerjaan Ayah/Ibu

: Wiraswasta

Agama

: Kristen

Pendidikan

: Belum sekolah

Suku/budaya

: Jawa/ Indonesia

Alamat

: Teruman Bantul

Tgl. Masuk/jam : 18 Desember 2013


Ruang/kamar
No RM

: Galilea III/ 11B


: 00809XXX

Diagnose Kerja/ medis : GEA

2. Keluhan Utama
Ibu pasien mengatakan sejak kemarin pasien diare dan muntah terus-menerus
sebanyak 5x. Alasan Utama Saat masuk Rumah Sakit karena pasien diare dan ingin
mendapatan pengobatansecara tepat.

25

Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang:


Pasien mengalami diare dan muntah terus-menerus sebanyak 5x tanggal 17
desember 2013. Karena ibumerasakhawatir dengan keadaan anaknya maka pasien
dibawa ke RS. Bethesda Yogyakarta tanggal 18 Desember 2013 tanpa memberikan
pengobatan apa-apa selamaDirumah.

3. Riwayat Kehamilan Dan Kelahiran


a. Prenatal.
-

Umur kehamilan : 32 Minggu

Kehamilan direncanakan

Kesehatan Ibu : Pre-eklamsi ketika hamil

Penambahan BB : 10 Kg

Obatobat yang diminum: Zat besi, Asam Folat

b. Natal.
-

Penolong: dokter

Tempat melahirkan: rumah sakit

BB : 2000 gr, PB: tidak terkaji karena ibu pasien lupa, LD: tidakterkaji,LK:
tidak terkaji

Cara melahirkan: spontan

Komplikasi waktu lahir tidak ada.

c. Postnatal.
-

Lamanya di rumah sakit 3 hari

Masalah yang berhubungan dengan pernapasan/makanan: tidak ada

Perawatan pendukung : Inkubator

BBL: 2000 gr, BB waktu pulang: 2250 gr

4. Riwayat Kesehatan Lalu


Sebelumnya pasien tidak pernah dirawat di RS, pasien tidak pernah mengalami
kecelakaan, pasien juga tidak pernah dioperasi atau menggunakan obat-obatan,
pasien tidak mengalami alergi obat, pasien mendapatkan imunisasi dasar lengkap

26

Umur
0-1 bulan

Jenis Imunisasi
BCG, POLIO 1

2 bulan

DPT/HB 1, POLIO 2

3 bulan

DPT/HB 2, POLIO 3

4 bulan

DPT/HB 3, POLIO 4

9 bulan

CAMPAK

5. Riwayat Tumbuh Kembang


Pada An.K Usia 2 Tahun
Perkembangan Psikoseksual (Freud) Pada An. K Usia 2 Th.
a. Fase Oral (0 sampai 11 bulan)
Pada masa bayi An.K melaui tahap perkembangan ini dengan baik karena ia
mampu menghisap, menggigit, mengunyah, & Mengucap.
b. Fase anal (1 sampai 3 tahun)
Selama fase ini An. K sudah mampu melakukan toilet training usia 1,5 tahun
tetapi masih dengan bantuan dari ibu.
Perkembangan Kognitif (Piaget)
a. Tahap sensoris-motorik (0 sampai 2 tahun)
Pada fase ini An.K mampu menunjukkan perkembangannya dengan baik karena
An.K menagis ketika merasa lapar, dan berhenti menangis ketika ibunya
bersenandung atau menyanyi. An.K juga sering menirukan hal-hal yang
dilihatnya dari media elektronik (TV), maupun dari lingkungannya
Perkembangan Psikososial (Erikson)
a. Percaya versus tidak percaya (0 sampai 1 tahun)
Pada fase ini An.K percaya pada apa yang diucapkan oleh ibu dan bapaknya.
b. Otonomi versus rasa malu dan ragu (1 sampai 3 tahun)
Selama fase ini An.K merasa malu ketika berkomunikasi dengan orang lain,
termasuk dengan perawat.

27

6. Riwayat Keluarga :
Genogram
Kakek

Nenek

Kakek

Ayah

Nenek

Ibu

Pasien

Keterangan:
: Kakek
: Nenek

: Ayah
: Ibu

: Pasien
: Tinggal serumah

Pasien berusia 2th 28 hr. Saat ini pasien menderita sakit dengan diagnosa medis
GEA. Dalam silsilah keluarga tidak ada yang menderita penyakit keturunan atau
jenis penyakit yang lain. Pasien tinggal serumah dengan kedua orang tuannya.

7. Riwayat Sosial
a. Yang mengasuh: orang tua sendiri
b. Hubungan dengan anggota keluarga: ibu & ayah
c. Hubungan dengan teman sebaya: baik, ketika bertemu dengan teman sebayanya
An.K mau ikut bermain.
d. Pembawaan/tingkah laku secara umum: baik, meski terkadang malu ketika
bertemu dengan orang-orang baru.
e. Kebiasaan bermain: pagi & sore hari
f. Keinginan bermain: cukup baik, hanya bila ia sudah kenal dengan orang itu
g. Lingkungan rumah: baik, dan mendukung proses perkembangan An.K sesuai
dengan usianya

28

8. Kebutuhan Dasar
a. Pola Nutrisi
-

Sebelum Sakit: An.K makan 3x sehari sesuai porsinya

ASI/Formula: sudah tidak menyusu lagi

Berhenti menetek: usia 1minggu

Vitamin: tidak diberikan vitamin tambahan

Makanan yang disukai: semua jenis makanan

Selera makan: baik

Alat makan yang digunakan: piring, sendok, gelas.

Jam makan pagi jam 06.00 WIB, makan siang jam 12.00 WIB, makan
malam jam 18.00 WIB

Masalah makan: tidak ada.

Alergi makanan: tidak ada.

b. Pola tidur
-

Kebiasaan sebelum tidur: bermain bersama ayah dan ibu

Tidur siang jam 11.00 WIB

Tidur malam 20.00 WIB

c. Eliminasi
-

BAB : Frekwensi: sedikit,/waktu: pagi//warna: kuning tengguli/konsistensi:


padat/ tidak ada keluhan waktu BAB.

BAK: Frekwensi: sedikit, jumlah: 200 ml/waktu: pagi dan siang hari, warna:
kuning jernih, konsistensi: jernih, tidak ada keluhan sewaktu BAK.

Toilet training: waktu mulai dilatih: usia 1,5 Th. Tercapai: usia 2 Th.

d. Pola Kebersihan Diri (mandi 2x sehari, gosok gigi pagi & malam hari, cuci
rambut setiap kali mandi, potong kuku seminggu sekali, mata bersih, telinga
bersih tidak ada serumen)
e. Aktifitas Bermain: suka main mobil-mobilan dan robot-robotan.

9. Keadaan Saat Ini


a. Status nutrisi: Jenis makanan: bubur biasa,frekuensi 3x sehari, jumlah satu
porsi, keluhan: sering memuntahkan makanan, kurang nafsu makan
b. Status cairan: Jenis: RL, Kaen3B.

29

c. Eliminasi :
-

BAB : Frekwensi: 4-6x dalam sehari, waktu: tidak tentu, warna: kuning,
konsistensi: encer keluhan: tidak ada.

BAK: Frekwensi: 150 cc, waktu: tidak tentu, warna: kuning jernih,
konsistensi: cair, tidak ada keluhan waktu BAK.

d. Kebiasaan sebelum tidur: ditemani ibu dan diajak berbicara


-

Tidur siang 11.00

Tidur malam 18.30

e. Pola Kebersihan diri (mandi 2x sehari, gosok gigi: tidak, cuci rambut,: tidak,
kuku besih, mata pupil isokor kiri & kanan 3 mm, telinga: bersih)
f. Aktivitas: tidak melakukan aktivitas.
g. Data psikologis : gelisah, takut, sedih, diam.
h. Data Spiritual: i. Data Intelektual: -

10. Pemeriksaan Fisik


a. Pengukuran pertumbuhan : BB= 16,5 Kg
b. Pengukuran tanda vital
Suhu : 36,30C, Diukur di Axila. Nadi: 124 x permenit/reguler, diukur
diradialis.Pernapasan : 23 x permenit reguler, tipe pernapasan perut.
c. Tingkat Kesadaran (kantitatif/kualiatif)
Composmentis, respon verbal : menangis tetapi dapat dihibur, skor: 4.
d. Keadaan umum : pasien tampak sakit ringan karena hanya terpasang infuse.
e. Kulit (Warna: sawo matang, tekstur: kenyal, turgor: elastis, tidak ada lesi)
f. Kepala( Bentuk: simetris, bersihan, rambut berwarna hitam, lurus, & pendek.
g. Mata: cekung, an ikterik, an anemi, pupil isokor.
h. Telinga: simetris, bersih, tidak ada serumen, membram tympani utuh,
memantulkan reflek cahayapolitzer pada saat penyinaran dengan pen light.
i. Hidung: simetris, tidak ada polip, tidak ada serumen, mukosa berwarna
kemerahan

30

j. Mulut/gigi: tidak berbau, mukosa bibir kering, uvula ditengah, tonsil T1 tidak
ada kelainan sepertipalato skisis/ labio palato skisis, gigi bersih & berwarna
putih, tidak ada yang berlubang.
k. Leher/tengkuk: tidak ada tanta-tanda pembengkakan kelenjar tiroid/paratiroid,
tidak terjadi pembesaran kelenjar getah bening.
l. Dada
-

Paru paru: suara napas vesikuler, tidak ada suara napas tambahan

Jantung: iktus cordis teraba debarannya kuat, tidak terjadi pembesaran


jantung, suara jantung: BJ I: lup, BJ II: dup.

m. Abdomen
Bentuk perut simetris, tidak ada lesi, tidak ada nyri tekan, peristaltic usus 12 x
permenit bunyinya keras dan panjang.
n. Genito urinaria
Anus : kemerahan, ada luka lecet, tidak ada hemoroid, fissure, fistula, atau
tanda keganasan.
o. Punggung
Tidak terdapat kelainan bentuk punggung seperti spinabifida.
p. Ekstremitas
Tidak ada pembengkakan pada daerah pretibia,& dorsum pedis.Tidak
mengalami hambatan dalam bergerak.Tidak terjadi clubbing finger pada ujung
jari tangan.

11. Tingkat Perkembangan An. K usia 2 th


a. Kemandirian dan bergaul

b.

Membuka pakain (P)

Menyuapi boneka (P)

Memakai baju (P)

Gosok gigi dengan bantuan (P)

Cuci dan mengeringkan tangan (P)

Motor/gerak halus
-

Menara dari 4 kubus (P)

Menara dari 5 kubus (P)

31

c. Bicara bahasa dan kognitif


-

Menunjuk 2 gambar (P)

Kombinasi kata (P)

Menyebut 1 gambar (P)

Bagian badan (P)

Menunjuk 4 gambar (P)

Bicara sebagian dimengerti (P)

Menyebut 4 gambar (F)

Mengetahui 2 kegiatan (F)

Berbicara semua dimengerti (F)

d. Motor/gerak kasar
-

Menendang bola kedepan (P)

Melompat (P)

Melempar bola tangan keatas (P)

Hasil pemeriksaan DDST: meragukan/ questionable

12. Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik


Tangal 18 desember 2013
Pemeriksaan Hematologi

Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Hemoglobin

16

Hematokrit

46,7

H%

36,0-46,0

Leukosit

23,8

L ribu/mmk

140,0-440,0

Trombosit

762

H ribu/mmk

140-440

gr%

Nilai normal
12,00-18,00

32

13. Obat-Obatan
Cefixime Syr 2x cth
Lacto B 2x 1
Narfos 2x amp
Analisa Obat
No

Nama Obat

Indikasi

Kontraindikasi

Efek Samping

Implikasi
Keperawatan

Cefixime

untuk pengobatan

Penderita

Shock,

Hati-hati

Syrup

infeksi yang

dengan riwayat

hipersensitivitas terhadap

disebabkan oleh

shock atau

seperti rash,

reaksi

mikroorganisme

hipersensitif

urtikaria,

hipersensitif,

Escherichia coli.

akibat beberapa

eritema.

karena

bahan dari

reaksi-reaksi

sediaan ini.

seperti shock
dapat terjadi.

Lacto B

Pengobatan diare

Tidak ada

Tidak ada

Perhatikan

dan pencegahan

umur pasien

intoleransi

dan berikan

laktosa.

obat

sesuai

dosis
3

Narfoz

Untuk untuk

Jangan

Yang biasanya

Jelaskan

menangani mual

diberikan

terjadi adalah

efeksamping

dan muntah

kepada

sakit kepala,

dari

penderita yang

sensasi

narfoz

hipersensitif

kemerahan atau

kepada

atau alergi

hangat pada

keluarga

terhadap

kepala dan

pasien

Ondansetron.

epigastrium.

supaya

obat

keluarga
pasien tidak
panik.

33

14. Rencana Program Tindakan


Infus RL setelah itu diganti dengan Kaen 3B, PDL, Pemeriksaan Feses Rutin
15. Analisa Data
No.
1

Data

Masalah

DS:
-

Orang

Kekurangan volume
tua

mengatakan

Penyebab
Diare

pasien cairan
anaknya

diare dari kemarin.


DO:
-

Turgor kulit elastik

Wajah pucat

Mukosa bibir kering

Badan lemas

BAB sudah 4x dengan


konsistensi encer.

Bising usus 12x per


menit bunyinya keras
dan panjang.

DS:
-

Orang

Nutrisi kurang dari


tua

mengatakan

pasien
anaknya

muntah dan tidak nafsu


makan
DO:
-

Pasien muntah 2x

Bubur yang diberikan


hanya dimakan sedikit

Pasien diare

kebutuhan tubuh

Muntah, Anoreksia

34

DS: -

Anxietas sedang

Perubahan lingkungan

DS:-

Resiko kerusakan

Ekskresi, lembap

DO:

integritas kulit

DO:
-

Pasien rewel

Menangis terus

Gelisah

Minta digendong
ibunya

Ingin main keluar

Pasien memakai popok

Pasien BAB & BAK


dipopok

Bokong pasien lembab


karena feses yang encer
dan urinyang ada
dalam popok

DS:
-

Orang tua pasien


mengungkapkan
kekhawatirannya
terhadap kondisi
anaknya

DO:
-

Orang tua pasien


terlihat cemas

Orang tua pasien


menanyakan apakah
diare anaknya bisa
segera disembuhkan.

Perubahan koping
keluarga

Krisis situasional

35

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Tanggal: 18 Desember 2013
1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (diare) ditandai dengan:
DS: Orang tua pasien mengatakan anaknya diare dari kemarin.
DO: Turgor kulit elastik, Wajah pucat, Mukosa bibir kering, Badan lemas, BAB
sudah 4x dengan konsistensi encer, Bising usus 12x per menit bunyinya
keras dan panjang.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mencerna makanan ditandai dengan:
DS: Orang tua pasien mengatakan anaknya muntah dan tidak nafsu makan
DO: Pasien muntah 2x, Bubur yang diberikan hanya dimakan sedikit, Pasien
diare
3. Ansietas sedang b.d perubahan lingkungan ditandai dengan:
DS: DO: Pasien rewel, Menangis terus, Gelisah, Minta digendong ibunya, Ingin main
keluar
4. Ketidakefektifan koping keluarga b.d krisis situasional
DS: Orang tua pasien mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi
anaknya
DO: Orang tua pasien terlihat cemas, Orang tua pasien menanyakan apakah
diare anaknya bisa segera disembuhkan.
5. Resiko kerusakan integritas kulit dengan factor resiko adanya ekskresi bersifat
cair dan kondisi lembab.

Tanda Tangan

Ketut Sanjaya

36

C. PERENCANAAN KEPERAWATAN

Nama Pasien

: An.K

Ruangan

: Galilea III (Anak)

Tanggal

: 18 Desember 2013

Nama Mahasiswa

: Ketut Sanjaya

No

Diagnosa Keperawatan dan Data


Penunjang

Tujuan dan Kriteria


1.

Tgl 18-12-13, Pukul 12.00 WIB


Kekurangan

volume

cairan

Rasional

Tindakan Keperawatan
Tindakan

Tgl 18-12-13, Pukul 12.03 WIB


b.d Setelah

dilakukan

Tgl 18-12-13, Pukul 12.07 Tgl 18-06-11, Pukul 12.10

tindakan WIB

WIB

kehilangan cairan aktif (Diare)

keperawatan selama 1x24 jam, 1. Pantau tanda vital setiap 1. Tanda

ditandai dengan:

diharapkan

DS :

pasien adekuat dengan criteria

volume

cairan

Orang tua pasien mengatakan hasil:

4-6 jam untuk mendeteksi

membantu

demam

mengidentifikasi

2. Lihat membrane mukosa,

Kadar elektrolit sesuai usia

kaji

DO :

Membrane mukosa lembab

pengisian kapiler

Turgor kulit tidak elastic

Turgor kulit elastic

Mukosa bibir kering

Haluaran

Badan lemas

Wajah pucat

anaknya diare dari kemarin.

1ml/Kg/Jam

urin

turgor

3. Pantau
sebesar

vital

kulit

masukan

dan

volume

intravaskuler, dan dapat


manandakan

dan

haluaran cairan anak


4. Berikan sejumlah kecil
minuman jernih

fluktuasi

dapat

adanya

infeksi atau tidak


2. Indicator
sirkulasi

keadekuatan
perifer

hidrasi seluler

dan

37

BAB sudah 4x dengan konsistensi

5. Berikan obat Lacto B 3. Asupan


2x1sachet

encer
-

Bising

usus

12x

per

menit

6. Beri obat Cefixime Syrup


2x cth

bunyinya keras dan panjang

7. Pasang infuse RL 500 ml


30 tetes per menit

dan

cairan

haluaran

menentukan

status hidrasi anak dan


menjadi pedoman dalam
terapi

penggantian

cairan
4. Menurunkan

iritasi

gaster/muntah

untuk

meminimalkan
kehilangan cairan
5. Utuk mengobati diare
6. Untuk

pengobatan

infeksi yang disebabkan


oleh mikroorganisme E.
Coli
7. Menjaga keseimbangan
cairan dan elektrolit
2.

Tgl 18-12-13, Pukul 12.13 WIB

Tgl 18-12-13, Pukul 08.17 WIB

Ketidakseimbangan nutrisi kurang Setelah


dari

kebutuhan

tubuh

dilakukan

Tgl 18-12-13, Pukul 12.20 Tgl 18-12-13, Pukul 12.23

tindakan WIB

WIB

b.d keperawatan selama 1x24 jam, 1. Observasi keadaan pasien, 1. Mual-muntah

ketidakmampuan mencerna makanan diharapkan kebutuhan nutrisi

apakah ada mual muntah

menyebabkan

dapat
tidak

38

ditandai dengan:

pasien terpenuhi dengan criteria

DS :

hasil:

nafsu makan

2. Timbang BB setiap hari

2. Untuk

Orang tua pasien mengatakan -

Berat badan stabil 9,8 Kg 3. Anjurkan pada keluarga

anaknya muntah dan tidak nafsu

15,5 Kg
-

makan
DO :

Ada

untuk

nafsu

makan

atau

Pasien muntah 2x

Bubur

yang

diberikan

hanya

makanan

mengatasi

masalah mual & muntah

memberikan 3. Untuk
sedikit

tapi

sering

Nafsu makan meningkat

mengetahui

apakah ada penurunan


BB atau tidak

Dapat menghabiskan porsi 4. Kolaborasi dengan ahli 4. Agar kebutuhan nutrisi


gizi untuk jenis diet

yang dihidangkan

pasien terpenuhi

5. Beri obat Narfoz 2x amp 5. Untuk mempertahankan

dimakan sedikit

3.

atau tidak nafsu makan

Mukosa bibir kering

sesuai program bila terjadi

Pasien diare

mual, muntah

nutrisi yang adekuat

Tgl 18-12-13, Pukul 12.27 WIB

Tgl 18-12-13, Pukul 12.30 WIB

Ansietas sedang b.d perubahan

Setelah

lingkungan

keperawatan selama 2x24 jam, 1. Gunakan pendekatan yang 1. Tercipta

ditandai dengan :

diharapkan

DS : -

terjadi dengan criteria:

DO :

Pasien

dilakukan

tindakan WIB

kecemasan

tidak

Tgl 18-12-13, Pukul 12.33 Tgl 18-12-13, Pukul 12.37

tidak

menyenangkan
2. Sentuh,

lagi

WIB

peluk,

hubungan

saling percaya
& 2. Untuk

memberi

berbicara dengan pasien

nyaman dan mengurangi

sebanyak mungkin

stres

Pasien rewel

memperlihatkan

Menangis terus

distres fisik atau emosional

Gelisah

pengalihan sensorik yang

pertumbuhan

Minta digendong ibunya

sesuai dengan tingkat dan

perkembangan

tanda

rasa

3. Lakukan

stimulasi

dan 3. Untuk

meningkatkan
dan
yang

39

Ingin main keluar

kondisi

perkembangan

optimal

anak
4. Anjurkan keluarga untuk 4. Agar

pasien

merasa

tetap berada disamping

tidak

sendiri

pasien

mengurangi cemas

dan

CATATAN PERKEMBANGAN

Nama Pasien

: An.K

Ruangan

: Galilea III (Anak)

Diagnosa Medis : GEA


NO

DIAGNOSA

WAKTU

PERKEMBANGAN

TANDA

KEPERAWATAN
1

DX I
Kekurangan

TANGAN
18-12-2013

volume 11.30

I:
-

Menerima

pasien

baru

cairan b.d kehilangan

dari ruang IGD dengan

cairan aktif (diare)

diagnose medis GEA


-

KU:
lemah,

rewel,

mukosa

bibir kering, turgor kulit


elastic
-

Terapi infuse RL 500 ml


30 tetes per menit.

Obat-obatan:
Berikan Lacto B 1x1
sachet
Berikan Cefixime Syr

12.00

1x cth
-

Pemeriksaan

lab

Ket: Negatif
-

TTV:
S: 37,50C

12.30

N: 124x per menit


RR: 24x permenit

40

PDL

41

Memberikan

obat

oral

lacto B 1sachet
Obat sudah diberikan
E:
DS:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknyadiare
DO: pasien lemah, rewel,
mukosa bibirkering, turgor
kulit

elastic,

BABdengan

konsistensi encer.
2

DX II

18-12-2013

I:

Ketidakseimbangan

11.30

nutrisi

kurang

kebutuhan

tubuh

dari

Menerima

pasien

baru

dari ruang IGD dengan

b.d

diagnose medis GEA

ketidakmampuan

mencerna makanan

KU:
lemah,

rewel,

mukosa

bibir kering, turgor kulit


elastic
-

Terapi infuse RL 500 ml


30 tetes per menit

Obat-obatan:
Berikan Narfoz 1x

12.00

amp secara I.V


-

TTV:
S: 37,50C
N: 124x per menit
RR: 24x permenit

Memberikan

obat

I.V

Narfoz amp
Obat sudah diberikan

42

12.30

Memberi

minum

dan

makan siang
E:
DS:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknya muntah


DO: pasien muntah 2x, pasien
lemah, rewel, mukosa bibir
kering, turgor kulit elastic.
3

DX III

18-12-2013

I:

Ansietas sedang b.d

11.30

perubahan lingkungan

Menerima

pasien

baru

dari ruang IGD dengan


diagnose medis GEA
-

KU:
Kesadaran:
komposmentis,

Pasien

lemah, rewel, menangis


terus, minta digendong
ibunya, ingin main keluar.
11.50

Melakukan

komunikasi

terapeutik terhadap pasien


sesuai

tahap

perkembangannya
-

Melakukan
kepada

pendekatan

pasien

dengan

cara yang menyenangkan


E:
DS: 12.00

DO: pasien masih rewel, dan


menangis

ketika

menghampirinya,

perawat
pasien

digendong sama ibunya.

43

DX I
Kekurangan

19-12-2013
volume 14.00

S:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknya masih

cairan b.d kehilangan

diare

cairan aktif (diare)

O:

BAB

2x

dengan

konsistensi encer
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi;
- Pantau masukan dan
haluaran cairan anak
- Berikan obat Lacto B
1x1sachet
- Beri

obat

Cefixime

Syrup 1x cth
I:
14.00

Mengobservasi
sedang,

KU:

Kesadaran:

composmentis, tangan kiri


terpasang infuse, infuse
14.15

mengalir dengan lancar.


-

Mengukur TTV:
S: 370C
N: 120x permenit
RR: 20x permenit

Balance cairan
CM= 750 cc
CK= 300 cc

15.30

BC= + 450 cc
-

18.00

Memandikan

pasien

ditempat tidur
-

Memberi obat oral

Lacto B 1sachet
Obat sudah diberikan

44

20.00

Cefixime Syr cth


Obat sudah diberikan

E:
DS:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknya masih


diare
DO: pasien masih lemah,
rewel, mukosa bibir kering,
turgor kulit elastic, BAB
dengan konsistensi encer.
5

DX II

19-12-2013

S:

Ketidakseimbangan

14.00

mengatakan anaknya masih

nutrisi

kurang

kebutuhan

tubuh

dari

orang

tua

pasien

muntah

b.d

O: pasien muntah 2x

ketidakmampuan

A: masalah belum teratasi

mencerna makanan

P: lanjutkan intervensi;
- Observasi
pasien,

keadaan
apakah

ada

mual, muntah, atau


tidak nafsu makan
- Timbang BB setiap hari
- Berikan

obat

I.V

Narfoz 1x amp
- Anjurkan

pada

keluarga

untuk

memberikan makanan
sedikit tapi sering
- Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk jenis diet
I:
14.10

Mengobservasi
sedang,

KU:

Kesadaran:

45

composmentis, tangan kiri


terpasang infuse. infuse
mengalir dengan lancar.
14.15

Mengukur TTV:
S: 370C
N: 120x permenit,
RR: 20x permenit,

15.30

Memandikan

pasien

ditempat tidur
18.00

Memberi obat I.V Narfoz


amp
Obat sudah diberikan

19.00

20.00

Menghidangkan makanan
untuk pasien

20.15

Mengganti infus

E:
DS:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknya masih


muntah
DO: pasien muntah 2x, pasien
lemah, rewel, mukosa bibir
kering, turgor kulit elastic
6

DX III

19-12-2013

S: -

Ansietas sedang b.d

14.00

O: pasien masih takut dengan

perubahan lingkungan

perawat
A: masalah belum teratasi
14.30

P: lanjutkan intervensi
Gunakan

pendekatan

yang menyenangkan
Sentuh,
berbicara

peluk,

&

dengan

46

pasien

sebanyak

mungkin
Lakukan stimulasi dan
pengalihan

sensorik

yang sesuai dengan


tingkat dan kondisi
perkembangan anak
Anjurkan
untuk

keluarga
tetap

berada

disamping pasien
15.00

I:
-

Pasien masih takut saat


didekati perawat

Perawat tetap melakukan


pedekatan terhadap pasien

E:
15.30

DS:DO: pasien minta digendong


ibunya

saat

ada

perawat,

pasien tidak mau jauh dari


ibunya
7

DX I
Kekurangan

20-12-2013
volume 21.00

S:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknya sudah

cairan b.d kehilangan

tidak diare.

cairan aktif (diare)

O:

BAB

1x

dengan

konsistensi padat
A: masalah teratasi
P: lanjutkan intervensi;
- Pantau masukan dan
haluaran cairan anak
- Berikan obat Lacto B
1sachet

47

- Beri

obat

Cefixime

Syrup cth
I:
21.15

Mengobservasi
sedang,

KU:
kesadaran:

composmentis, tangan kiri


masih terpasang infus
21.30

- Mengganti infuse

24.00

- Menghitung

balance

cairan
CM= 600 cc
CK= 300 cc
BC= + 300 cc
E:
02.30

DS:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknya sudah


tidak diare
DO: pasien tidur nyenyak,
BAB pasien konsistensinya
padat.
8

DX II

20-12-2013

S:

Ketidakseimbangan

21.00

mengatakan anaknya sudah

nutrisi

kurang

kebutuhan

tubuh

dari
b.d

orang

tua

pasien

tidak muntah.
O: pasien tidak muntah

ketidakmampuan

A: masalah teratasi

mencerna makanan

P: lanjutkan intervensi;
- Timbang BB
- Berikan

obat

I.V

Narfoz 1x amp
- Anjurkan pada
keluarga untuk
memberikan makanan

48

sedikit tapi sering


- Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk tambahan
makanan

yang

mengandung

tinggi

karbohidrat & tinggi


protein
I:
21.15

Mengobservasi
sedang,

KU:
kesadaran:

composmentis, tangan kiri


masih terpasang infus
21.30

Mengganti infuse

24.00

Memberi obat I.V Narfoz


amp
Obat sudah diberikan

02.30
E:
DS:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknya sudah


tidak muntah dan ada nafsu
makan
DO: pasien tidur nyenyak,
pasien tidak Muntah
9

DX III

20-12-2013

S:-

Ansietas sedang b.d

21.00

O: Pasien sudah tidak takut

perubahan lingkungan

lagi ketikadidekati perawat,


pasien

sudah

ngobrol.
A: Masalah teratasi
P: Stop intervensi

maudiajak

49

21.10

I:
-

Melakukan

komunikasi

yang baik dengan pasien


21.30

E:
DS:DO:

pasien

mau

berkomunikasi

dengan

perawat, pasien sudah tidak


takut dengan perawat.
10

DX I
Kekurangan

21-12-2013
volume 06.00

S:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknya sudah

cairan b.d kehilangan

tidak lagi diare

cairan aktif (diare)

O: BAB 1x dengan
konsistensi padat
A: masalah teratasi
P: Rencana pulang
I:
06.10

Mengobservasi
sedang,

KU:
kesadaran:

composmentis,

masih

terpasang infuse dilengan


kiri,

infuse

mengalir

dengan lancar.
06.15

Mengukur TTV:
S: 370C
N: 120x permenit
RR: 20x permenit,

06.20

Mengukur balance cairan


CM= 500 cc
CK= 120 cc
BC= + 380 cc

50

06.30

Memandikan

pasien

ditempat tidur
06.40

E:
DS:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknya sudah


sehat
DO: anak bermain dengan
orang

tuanya,

Kebutuhan

cairan pasien terpenuhi.


11

DX II

21-12-2013

S:

Ketidakseimbangan

06.00

mengatakan anaknya sudah

nutrisi

kurang

kebutuhan

tubuh

dari

orang

tua

pasien

tidak lagi muntah

b.d

O: pasien tidak muntah

ketidakmampuan

A: masalah teratasi

mencerna makanan

P: Rencana pulang

06.10

I:
-

Mengobservasi
sedang,

KU:
kesadaran:

composmentis,

masih

terpasang infuse dilengan


kiri,
06.15

infuse

mengalir

dengan lancar.
-

Mengukur TTV:
S: 370C
N: 120x permenit,

06.20

RR: 20x permenit,


-

06.30

Memandikan

pasien

ditempat tidur
-

Menghidangkan makanan

51

06.40

E:
DS:

orang

tua

pasien

mengatakan anaknya sudah


sehat dan nafsu makannya
baik
DO: anak bermain dengan
orang

tuanya.

kebutuhan

nutrisi anak terpenuhi.

52

BAB III
PEMBAHASAN

Dalam bab ini menguraikan tentang perbandingan antara teori dengan kasus dari setiap
proses keperawatan yang dilakukan kemudian dianalisis oleh penulis. Praktikum klinik
yang diadakan tanggal 16 - 21 Desember 2013, penulis mendapatkan kasus GEA pada
An. K sebagai pasein diruang galilea 3 RS Bethesda Yogyakarta. Dalam kasus ini
penulis melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan mengunakan tahap-tahap
proses keperawatan.

A. Pengkajian
Langkah-langkah pengakajian dilakukan untuk mencegah masalah keperawatan
yang terjadi pada klien.Penulis telah melakukan pengkajian dengan menggunakan
beberapa metode yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi.
Manifestasi klinis pada pasien dengan GEA adalah
-

Diare.

Muntah.

Demam.

Nyeri Abdomen

Membran mukosa mulut dan bibir kering

Fontanel Cekung.

Lemah.

Kehilangan berat badan

Tidak nafsu makan

Pucat

Sedangkan saat dilakukan pengkajian pada tanggal 18 Des 2013 pada An. K
ditemukan data senjang yaitu; diare, muntah, lemah, pucat, tidak nafsu makan.

B. Diagnosa keperawatan
Dalam penyusunan disesuaikan dengan masalah yang sewaktu dilakukan
pengkajian,

karena

diagnosa

keperawatan

merupakan

keputusan

perawat

53

menganalisa data dan merumuskan respon klien terhadap masalah kesehatan, baik
masalah potensial maupun actual.
Diagnosa mungkin muncul pada GEA adalah
1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (diare)
2. Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

b.d

ketidakmampuan mencerna makanan


3. Ansietas b.d perubahan lingkungan
4. Ketidakefektifan koping keluarga b.d krisis situasional
5. Resiko kerusakan integritas kulit dengan factor resiko adanya ekskresi
bersifat cair dan kondisi lembab
Sedangkan dalam asuhan keperawatan pada klien An. K dengan GEA pada
tanggal 18 Desember 2013 21 Desember 2013 diruang galilea 3 RS Bethesda
Yogyakarta didapatkan 3 diagnosa keperawatan antara lain:
1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (diare)
2. Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

b.d

ketidakmampuan mencerna makanan


3. Ansietas b.d perubahan lingkungan
C. Rencana keperawatan
Dilakukan penulisan perencanaan dengan menyesuaikan teori NANDA 20122014. Semua tindakan yang terdapat dalam 3 diagnosa sudah di tuliskan dalam
NCP dan dapat terlaksana dengan baik.

D. Pelaksanaan
Implementasi dilakukan selama tiga hari karena pasien beserta keluarga sudah
diperbolehkan untuk pulang.Pelaksanaan asuhan keperawatan pada kasus sesuai
dengan teori yang ada.

E. Evaluasi
1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (diare) sudah teratasi
karena pasien sudah tidak lagi mengalami dehidrasi.

54

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan


mencerna makanan teratasi sebagian karena BB pasien belum kembali normal,
tetapi pasien sudah tidak muntah lagi dan ada nafsu makan.
3. Ansietas b.d perubahan lingkungan sudahteratasi karena pasien sudah tidak
takut lagi dengan perawat dan mau berkomunikasi dengan perawat

F. Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu dokumen yang berisi data lengkap, nyata dan tercatat
bukan hanya tentang tingkat kesakitan klien tetapi juga jenis dan kualitas pelayanan
kesehatan yang diberikan (Fisbach, 1991).Dokumentasi keperawatan dilakukan
secara sistematis

dalam

suatu format

yang telah disetujui

dan dapat

dipertanggungjawabkan.
Dokumentasi terhadap asuhan keperawatan yang diberikan kepada An.

dilakukan setiap kali selesai melakukan proses keperawatan mulai dari data
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implemantasi, dan evaluasi.
Dalam pelaksanaannya dilakukan pada format yang telah disediakan dari institusi
pendidikan maupun pada catatan perawat pada buku status diruangan yang
dilakukan dengan prinsip dokumentasi yaitu :
1. Tanda tangan dan nama penulis
2. Hari, tanggal, jam pada saat melakukan tindakan keperawatan
3. Jika ada penulisan yang salah dicoret dan di tandatangani oleh penulis yang
melakukan tindakan

G. Faktor pendukung dan faktor penghambat


1. Faktor pendukung dalam penyusunan laporan ini adalah adanya kerjasama
perawat ruangan, alat-alat yang memadai dalam penulis melakukan asuhan
keperawatan, studi dokumentasi yang lengkap dan kerjasama dari klien.
2. Faktor penghambat dalam penyusunan laporan ini adalah keterbatasan waktu
yang dimiliki penulis dalam melakukan asuhan keperawatan karena kasus baru
diberikan setelah dinas hari ke-3 ini dikarenakan ada banyak teman

yang

praktik disana dan mempunyai kasus kelolaan tetapi jumlah pasiennya hanya
sedikit.

55

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (diare) diangkat sebagai
diagnosa karena pasien mengalami dehidrasi
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mencerna makanan diangkat sebagai diagnosa karena terjadi mual muntah pada
pasien dan adanya penurunan berat badan
3. Ansietas sedang b.d perubahan lingkungan diangkat sebagai diagnosa karena pasien
takut berada dilingkungan yang baru serta takut dengan perawatnya.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari adapun hasil yang diperoleh
yaitu:
1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (diare) sudah teratasi karena
pasien sudah tidak lagi mengalami dehidrasi.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mencerna makanan teratasi sebagian karena BB pasien belum kembali normal,
tetapi pasien sudah tidak muntah lagi dan ada nafsu makan.
3. Ansietas sedang b.d perubahan lingkungan sudah teratasi karena pasien sudah tidak
takut lagi dengan perawat dan mau berkomunikasi dengan perawat.

B. Saran
1. STIKES Bethesda
Melanjutkan kegiatan dan pertahankan kualitas pengajaran pada mahasiswa.
2. Ruang Galilea 3 RS Bethesda Yogyakarta
Pertahankan kualitas pelayanan dan kualitas tenaga keperawatan.

56

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Sudarth.( 2002 ). Buku ajar keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Carpenito, Lindya.J. (2001). Patofisiologi. Jakarta: EGC

Doenges, Marilyn. E. (2000).Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC

Nursalam.(2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan.Jakarta: Salemba Medika

Price Anderson dkk.(1997). Konsep Klinis Proses-proses penyakit. Jakarta: EGC

Speer, Morgan Kathbleen. (2007). Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik Dengan


Clicical Phatway.Edisi 3. Jakarta: EGC

Tjokronegoro Arjatmo dkk.(2001). Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI

Wong, Donna L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatric.Edisi 6. Jakarta: EGC

Wong, Donna.L. (2003). Pedoman Klinis Keperawatan Anak. Jakarta: EGC